Anda di halaman 1dari 31

PERCOBAAN I

OPTIMASI METODE ANALISA OBAT

I. TUJUAN
1. Memahami langkah- langkah analisa obat di dalam darah.
2. Mampu melakukan validasi metode analisis obat di dalam darah.

II. DASAR TEORI


Dalam proses terapi, terdapat beberapa faktor yang menentukan yaitu:
diagnosa penyakit secara akurat, status klinik jelas, dan penentuan obat tepat. Di
sinilah pokok pentingnya biofarmasetika yang erat hubungannya dengan penentuan
obat yang tepat. Biofarmasetika adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan
antara sifat fisikokimia formulasi dengan bioavailabilitas obat (Shargel & Andrew,
2005:85).
Analisa obat biasanya dilakukan oleh laboratorium kimia klinik
ataulaboratorium farmakokinetik klinik.Metode yang digunakan oleh laboratorium
analitik bergantung pada beberapa faktor seperti fisikokimia obat, kosentrasi yang
diukur, jumlah dan sifat contoh biologis (serum dan urin). Laboratorium hendaknya
mempunyai suatu standar prosedur penyelenggarakan untuk tiap teknik analisis obat
dan mengikuti cara-cara pelaksanaan laboratorium yang baik. Lebih lanjut, metode
analisis yang digunakan untuk penetapan kadar obat dalam serum hendaknya lebih
sahih, berkenaan dengan hal-hal berikut: spesifitas, linearitas, kepekaan, ketepatan,
ketelitian dan stabilitas (Shargel & Andrew, 2005).
Spektrofotometri adalah salah satu metode tradisional yang masih digunakan
untuk banyak obat yang memiliki spektrum absorbsi khas. Banyak obat baru yang
kompleks dengan sifat dan ikatan-ikatan kimiawi tidak lazim yang sering dapat
diukur dengan spektrofotometri setelah ekstraksi dari serum atau cairan biologis lain.
Obat kemudian dimasukkan ke dalam suatu pelarut atau diderivatkan atau diturunkan
sedemikian rupa sehingga puncak absorbsi menjadi maksimum (Sacher, 2004: 600).
Validasi metode analisis merupakan suatu tahapan penting dalam penjaminan
mutu analisis kuantitatif. Validasi menurut United State Pharmacopeia (USP)
dilakukan untuk menjamin bahwa metode analisis yang digunakan bersifat akurat,
spesifik, reproduksibel, dan tahan pada kisaran analit yang akan dianalisis. Sementara
itu menurut ISO/IEC: 17025 (2005), validasi metode analisis ditujukan untuk
1
menjamin bahwa metode analisis memenuhi spesifikasi yang dpaat diterima sesuai
dengan tujuan yang diharapkan (Gholib, 2012: 468).
Prosedur analisis memberikan dekrispsi yang tepat bagaimana suatu analisis
dilakukan.Tahap-tahap penting untuk melakukan tiap uji analisis harus dijelaskan
secara terperinci. Metode lengkap harus menjelaskan:
1. Mutu dan sumber baku pembanding untuk senyawa yang sedang dianalisis
2. Prosedur yang digunakan untuk menyiapkan larutan baku pembanding
3. Mutu semua pereaksi yang digunakan dalam penetapan kadar dan metode
pembuatannya
4. Prosedur dan keadaan yang digunakan untuk pengoperasian semua perlengkapan
yang diperlukan dalam penetapan kadar tersebut
5. Metodologi yang digunakan untuk kalibrasi penetapan kadar dan metodologi yang
digunakan untuk pemrosesan sampel tersebut sebelum analisis (David G.,2007: 8).
Parameter Validasi Metode Analisis. Validasi ditujukan untuk menjamin
bahwa metode analisis memenuhi spesifikasi yang dapat diterima sesuai dengan
tujuan yang diharapkan. Hal ini dilakukan untuk menjamin bahwa setiap pengukuran
serupa dengan yang dilakukan dimasa yang akan datang dengan menghasilkan nilai
terhitung (calculated value) yang cukup dekat atau sama dekat dengan nilai
sebenarnya. (true value) dari jumlah analit dalam sampel.

Presisi

Akurasi

Batas Deteksi

Batas Kuantifikasi
Validasi Metode
Spesifitas

Linearitas dan Rentang

Kekasaran (Ruggedness)

Ketahanan (Robutness)

Gambar 1. Delapan Tahap Metode Validasi menurut USP

2
Parameter-parameter sebagaimana diatas akan diurai satu persatu dibawah ini:
1. Presisi
Merupakan ukuran keterulangan metode analisis dan biasanya diekspresikan
sebagai simpangan baku relatifatau relative standard deviation (RSD) dari
sejumlah sampel. Sesuai ICH, presisi harus dilakukan pada 3 tingkatan yang
berbeda yaitu:
a. Keterulangan (repeatability) yaitu presisi pada kondisi percobaan yang sama
(berulang) baik orangnya, peralatannya, tempatnya, maupun waktunya. Dua
pilihan pengujian telah diizinkan penggunaannya oleh ICH untuk mengamati
keterulangan, yaitu: (1) Suatu pengukuran sebanyak 9 kali (minimal) yang
mencakup kisaran yang telah digunakan dalam prosedur analisis (misalkan
dengan 3 konsentrasi yang berbeda pada kisaran konsentrasi tertentu (80%;
100%; dan 120% dari konsentrasi analit); dengan masing-masing dilakukan
replikasi sebanyak 3 kali), atau (2) Suatu pengukuran sebanyak 6 kali
(minimal) pada konsentrasi 100% dari konsentrasi uji.
b. Presisi antara (intermediate precison), yakni presisi pada kondisi percobaan
yang salah satunya berbeda, baik orangnya, peralatannya, tempatnya, maupun
waktunya. Banyaknya presisi antara yang dilakukan tergantung pada keadaan
yang mana suatu prosedur akan diperluas. Parameter-parameter yang diamati
untuk presisi antara meliputi: variasi antar hari, variasi analisis, dan variasi
peralatan.
c. Ketertiruan (reproducibility) mengukur presisi antara laboratorium
sebagaimana dalam studi-studi kolaboratif atau studi uji banding antar
laboratorium dan atau uji profisiensi. Parameter ini harus dipertimbangkan
dalam standarisasi prosedur analisis (termasuk juga prosedur-prosedur dalam
Farmakope dan transfer metode antar laboratorium yang berbeda). Untuk
melakukan validasi karakteristik ini, studi-studi yang sama harus dilakukan di
laboratorium lain dengan menggunakan lot sampel homogen yang sama dan
desain percobaan yang sama. Dokumentasi presisi seharusnya mencakup:
simpangan baku, simpangan baku relatif (RSD) atau koefisien variasi (CV),
dan kisaran kepercayaan sebagaimana dipersyaratkan oleh ICH. Adapun nilai
100 𝑥 𝑆𝐷
RSD dirumuskan dengan RSD = ; yang mana 𝑥̅ merupakan rata-rata,
𝑥̅

dan SD adalah standar deviasi serangkaian data. Sementara itu, nilai SD

3
∑(𝑥−𝑥̅ )2
dihitung dengan √ ; yang mana X adalah nilai dari masing-masing
𝑁−1

pengukuran; 𝑥̅ merupakan rata-rata dari pengukuran; N adalah banyaknya


data; dan N-1 merupakan derajat kebebasan (Gholib, 2012: 473-475)

2. Ketepatan (akurasi)
Akurasi merupakan ketepatan metode analisis atau kedekatan antara nilai
terukur dengan nilai yang diterima baik nilai konvensi, nilai sebenarnya, atau nilai
rujukan. Akurasi diukur sebagai banyaknya analit yang diperoleh kembali pada
suatu pengukuran dengan melakukan spiking pada suatu sampel.Untuk pengujian
senyawa obat, akurasi diperoleh dengan membandingkan hasil pengukuran dengan
bahan rujukan standar (standard reference material, SRM) .
3. Batas Deteksi (limit of detection, LOD)
Batas deteksididefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam sampel
yang masih dapat dideteksi, meskipun tidak selalu dapat dikuantifikasi. LOD
(Limit of Detection)merupakan batas uji yang secara spesifik menyatakan bahwa
analit di atas atau dibawah nilai tertentu. Definisi batas deteksi yang paling umum
digunakan pada kimia analisis adalah bahwa batas deteksi merupakan kadar analit
yang memberikan respon blanko (yb) ditambah dengan 3 simpangan bakublanko
(3Sb).
4. Batas Kuantifikasi (limit of quantification, LOQ)
Batas kuantifikasi didefinisikan sebagai konsentrasi analit terendah dalam
sampel yang dapat ditentukan dengan presisi dan akurasi yang dapat diterima pada
kondisi operasional metode yang digunakan. Sebagaimana LOD, LOQ juga
diekspresikan sebagai konsentrasi (dengan akurasi dan presisi juga dilaporkan).
Kadang-kadang rasio signal to noise (S/N)= 10:1 digunakan untuk menentukan
LOQ.
5. Spesifisitas dan selektifitas
Spesifisitas adalah kemampuan untuk mengukur analit yang dituju secara
tepat dan spesifik dengan adanya komponen-komponen lain dalam matriks sampel
seperti ketidakmurnian, produk degradasi, dan komponen matriks.
ICH membagi spesifisitas dalam beberapa kategori, yakni uji identifikasi dan
uji kemurnian atau pengukuran. Untuk tujuan identifikasi, spesifisitas ditunjukkan
dengan kemampuan suatu metode analisis untuk membedakan antar senyawa yang

4
mempunyai struktur molekul yang hampir sama. Untuk tujuan uji kemurnian dan
tujuan pengukuran kadar, spesifisitas ditunjukkan oleh daya pisah 2 senyawa yang
berdekatan (sebagaimana dalam kromatografi).
Selektivitas adalah suatu level yang mana suatu metode analisis dapat
mengkuantifikasi analit secara akurat dengan adanya pengganggu dibawah kondisi
uji yang telah ditentukan untuk matriks sampel yang akan dianalisis.
6. Linearitas
Linearitas merupakan kemampuan suatu metode untuk memperoleh hasil-hasil
uji yang secara langsung proposional dengan konsentrasi analit pada kisaran yang
diberikan linearitas suatu metode merupakan ukuran seberapa baik kurva kalibrasi
yang menghubungkan antara respon dengan konsentrasi (X). Linearitas dapat
diukur dengan melakukan pengukuran tunggal pada konsentrasi yang berbeda-
beda. Data yang diperoleh selanjutnya di proses dengan metode kuadrat terkecil,
untuk selanjutnya ditentukan nilai kemiringan (slope) nya, intersep, dan koefisien
korelasi (r).
7. Kekasaran (ruggedness)
Kekasaran merupakan tingkat reproduksibilitas hasil yang diperoleh di bwah
kondisi yang bermacam-macam yang diekspresikan sebagai persen standar deviasi
relatif (% RSD). Kondisi-kondisi ini meliputi laboratorium, analis, alat, reagen,
dan waktu percobaan yang berbeda.
8. Ketahanan (robutness)
Ketahanan merupakan kapasitas metode untuk tetap tidak terpengaruh oleh
adanya variasi parameter metode yang kecil. Ketahanan dievaluasi dengan
melakukan variasi parameter-parameter metode seperti: persentase pelarut organik,
pH, kekuatan ionik, suhu, dan sebagainya (Gholib, 2012: 480-483)

ANALISIS BAHAN
1. Paracetamol

N-(4-Hydroxyphenyl)acetamide
5
C8H9NO2
BM = 151.2
Pemerian : serbuk hablur, putih; tidak berbau; rasa sedikit pahit.
Kelarutan : sangat sukar larut dalam air dingin, tetapi mudah larut dalam air
hangat; larut dalam etanol, metanol, dimetilformamida, etilen
klorida, aseton, dan etil asetat; sangat sukar larut dalam kloroform;
sukar larut dalam eter; praktis tidak larut dalam petroleum eter,
pentana, dan benzene (Anthony C dkk, 2003)
Ph : 3,8 -6,1
pka : 9,5
Farmakologi : Parasetamol dapat bekerja sebagai antipiretik dan analgesik
ringan bersama dengan aktivitas antiinflamasi. Efeknya
berhubungan dengan inhibitor dari sintesis prostaglandin.
Dalam hal ini parasetamol mempunyai selektivitas terhadap
jaringan lebih baik daripada aspirin dan obat antiinflamasi
non steroid.
Farmakokinetik : Parasetamol diabsorbsi dari saluran cerna dengan mengukur
konsentrasi puncak plasma  10-60 menit setelah pemberian
secara oral. Parasetamol didistribusikan pada sebagian besar
jaringan tubuh parasetamol melewati plasenta dan terdapat
dalam air susu. Ikatan protein plasma hilang pada
konsentrasi terapetik tetap meningkat dengan peningkatan
konsentrasi t ½ eliminasi parasetamol adalah bervariasi 1-3
jam. Parasetamol dimetabolisme terutama dihati dan
diekskresi lewat urin sebagai glukoronida dan konjugat
sulfat kurang dari 5 % yang diekskresikan dalam bentuk
tidak berubah. Sebagian kecil metabolit hidroksilasi (N
acetil p-benzoquinoneimine) yang biasanya diproduksi
dalam jumlah kecil yang fungsi oksidasinya terjadi di hati
dan ginjal didetoksifikasi oleh konjugasi dengan glutation
yang diakumulasi mengikuti dosis yang berlebih di
parasetamol dan menyebabkan kerusakan jaringan (Sean C,
2009).

6
2. Diklofenak

Derivat-fenilasetat ini (1974) termasuk NSAID yang terkuat daya


antiradangnya dengan efek samping yang kurang kuat dibandingkan dengan obat
lainnya (indometasin,piroxicam). Resorpsinya dari usus cepat dan lengkap, tetapi BA-
nya rata-rata 55% akibat FPE besar. Efek analgesiknya dimulai setelah 1 jam, secara
rectal dan intramuskuler lebih cepat, masing-masing setelah 30 dan 15 menit .
Penyerapan garam-K (cataflam) lebih pesat daripada garam-Na. PP-nya diatas 99%
plasma t½ nya k.l. 1 jam . Ekskresi melalui melalui kemih berlangsung untuk 60%
sebagai metabolit dan untuk 20% dengan empedu dan tinja.
Diklofenak Na (Voltaren , Neurofenac) dan diklofenak K (Cataflam),
mempunyai aktivitas antirematik, antiradang dan analgesic-antipiretik, digunakan
terutama untuk mengurangi rasa nyei akibat keradangan pada berbagai keadaan
rematik dan kelainan degenerative pada system otot rangka. Diklofenak diabsorbsi
secara cepat dn sempurna dalam lambung, kadar plasma tertinggi dicapai 2 jam
setelah pemberian oral, dengan waktu paro eliminasi 3-6 jam. Dosis : 25-50 mg 3 dd
(Siswandono,2008)
3. Heparin

Heparin adalah sediaan steril mengandung polisakaridosulfat seperti yang


terdapat dalam jaringan hewan yang menyusui, mempunyai sifat khas pembekuan
darah. Potensi tiap mg tidak kurang dari 110 UI, dihitung terhadap zat yang telah
dikeringkan dan tidak kurang dari 90% dan tidak lebih dari 110% dari jumlah yang
tertera pada etiket.

7
Pemerian : serbuk;putih atau putih kuning gading ; agak higroskopis.
Kelarutan : Larut dalam 2.5 bagian air.

Khasiat : Anti koagulan (Depkes RI,1979:280)

Farmakokinetik
Absorpsi : Heparin tidak diabsorpsi secara oral, karena itu diberikan secara
Sub kutan atau Intravena. Pemberian secara Sub kutan
bioavaibilitasnya bervariasi, mula kerjanya lambat 1-2 jam tetapi
masa kerjanya lebih lama, sedangkan secara intravena awitan
kerjanya cepat, puncaknya tercapai dalam beberapa menit, dan
lama kerjanya singkat.
Metabolisme : Heparin cepat dimetabolisme terutama di hati. Masa paruhnya
tergantung dari dosis yang digunakan, suntikan IV 100, 400,atau
800 unit/kgBB memperlihatkan masa paruh masing-masing kira-
kira 1, 2 ½ dan 5 jam.
Ekskresi : Heparin diekskresi dalam bentuk utuh melalui urin

III. ALAT DAN BAHAN


Alat :
1. Labu takar
2. Beker glass
3. Mikropipet
4. Tabung reaksi
5. Pipet ukur 1ml, 5 ml
6. Pipet volume
7. Filler
8. Vortex-mixer
9. Sentrifuge
10. Ependroff
11. Spektrofotometer
Bahan :
1. Natrium diklofenak
2. Paracetamol

8
3. Asamtrikloroasetat (TCA) 5 %
4. Asamtrikloroasetat (TCA) 20%
5. Natrium nitrit 0.1%
6. Natrium nitrit 10 %
7. Asam sulfamat 0.5 %
8. Asam sulfamat 15%
9. N(1-nfatil) etilendiamin 0.1%
10. HCl 6N
11. Heparin
12. NaOH 0,1 %
13. NaOH 10 %
Hewan Uji : Tiap kelompok @ 2 Tikus

IV. SKEMA KERJA


Natrium Diklofenak
1. Pembuatan larutan stok Natrium diklofenak 500 ppm

Ditimbang 50 mg serbuk Na Diklofenak

Di ad pada labu takar 100 mL


Digojong hingga homogen

Larutan stok Na diklofenak 500 ppm atau 500µg/ml

2. Pembuatan Kurva Baku Internal


300 µl darah yang telah ditambah heparin

Ditambahkan 300 µl
stok Na Diklofenak

Kadar larutan baku : 0 (blangko),6 μg/ml,10 μg/ml,14


μg/ml,16 μg/ml,18 μg/ml dan 22 μg/ml

Dicampur homogen

Ditambah 1,0 ml TCA


5% dengan vortexing

Kurva Baku Internal

9
3. Pemrosesan sampel darah in Vivo (sebagai blangko)

.
300 µl darah yang mengandung antikoagulan
Ditambahkan TCA 5% 1,0 ml dengan
vortexing

Blangko

4. Pembuatan Larutan Baku

Kurva baku internal dan blangko

Disentrifuge (5-10 menit, 2500 rpm)

Diambil beningan 1,0 ml

Ditambah 5,0 mL NaOH 0,1 N

Dibaca nilai absorban larutan dengan


spektrofotometer pada panjang gelombang maksimal

5. Validasi Metode Penetapan Kadar Na Diklofenak


a. Mencari panjang gelombang maksimum

Larutan Na Diklofenak kadar 10 dan 16 μg/ml

Diukur serapannya pada panjang


gelombang 260-280 nm

Dibuat kurva hubungan antara resapan vs waktu pengukuran


dan ditetapkan waktu resapan tetap

10
b. Mencari Kurva Baku

Larutan Na Diklofenak dalam darah dengan kadar 6


μg/ml,10 μg/ml,14 μg/ml,16 μg/ml,18 μg/ml dan 22 μg/ml

Diukur pada λ maks yang


diperoleh

Dibuat kurva hubungan antara


resapan terhadap kadar masing-
masing

Persamaan garis menggunakan kuadrat terkecil y = bx + a


dan dihitung nilai r dari grafik tersebut

c. Mencari harga perolehan kembali, kesalahan acak, dan kesalahan


sistemik

Larutan Na Diklofenak dalam darah dengan kadar 10 μg/ml,


14 μg/ml, dan 22 μg/ml

Dibuat replikasi 2 kali

Dihitung kadar Na diklofenak

Dihitung harga perolehan kembali,


kesalahan acak
Berdasarkan kuva baku Na Diklofenak ditentukan kadar
masing-masing

Dihitung kadar rata-rata dan simpangan bakunya

11
Paracetamol
1. Pembuatan larutan stok Paracetamol

Ditimbang 100 mg serbuk Paracetamol

Di ad pada labu takar 100 mL


Digojong hingga homogen

Larutan stok Paracetamol 1000 ppm atau 1000µg/ml

2. Pembuatan Kurva Baku Internal


500 µl darah yang telah ditambah heparin

Ditambahkan 500 µl
stok Paracetamol

Kadar larutan baku : 0 (blangko),100, 200, 300, 400,


500, 600, 700 μg/ml

Dicampur homogen

Ditambah 2,0 ml TCA


20% dengan vortexing

Kurva Baku Internal

12
3. Pemrosesan sampel darah in Vivo (sebagai blangko)

1,0 ml plasma yang mengandung antikoagulan

Ditambah 2,0 ml TCA 20%


Disentrifugasi selama 10 menit
2500 rpm
Supernatan jernih dituang
ke labu takar 10,0 ml
Ditambah 0,5 ml HCl 6 N
Ditambah 1,0 ml NaNO2 10%
Dihomogenkan
Didiamkan 15 menit

Ditambahkan 1 ml as. Sulfamat 15%dengan hati–hati

Ditambah 3,5 ml NaOH 10%


Di ad dengan aquadest
Didiamkan 15 menit ditempat
dingin
dibaca intensitas warnanya pada spektrofotometer pada λ
435 nm

4. Menetapkan λ larutan PCT dengan resapan max


larutan obat dengan dengan kadar 100, 300, dan 500 µg/ml

diukur intensitas warnanya dari λ 380 – 580 nm

5. Membuat kurva baku Paracetamol


Larutan PCT pada kadar 100 – 700 µg/ml

Diukur absorbansinya pada maximum


Diukur absorbansinya pada λ maksimum

Dibuat kurva hubungan antara absorbansi terhadap kadar masing-masing

Dibuat persamaan garis (y = bx + a) dan dihitung nilai r


dari grafik tsb
13
6. Mencari harga perolehan kembali, kesalahan acak, dan kesalahan sistemik

Larutan Paracetamol dalam darah dengan kadar 100 μg/ml,


300 μg/ml, dan 500 μg/ml

Dibuat replikasi 2 kali

Dihitung kadar Paracetamol

Dihitung harga perolehan kembali,


kesalahan acak
Berdasarkan kuva baku Paracetamol ditentukan kadar
masing-masing

Dihitung kadar rata-rata dan simpangan bakunya

V. DATA PENGAMATAN
NATRIUM DIKLOFENAK
Data menetapkan panjang gelombang maks

Konsentrasi (µg/ml) Absorbansi


9,1 0,047
14,56 0,089

Data kurva baku Na-Diklofenak


Konsentrasi (µg/ml) Absorbansi a : - 0,1328
9,10 0,030 b : 0,0163
12,74 0,055 r: 0,9814
14,56 0,101
y = 0,0163. X – 0,1328
16,38 0,135
20,02 0,201

14
Kurva Baku Na-diklofenak
Konsentrasi Vs Absorbansi
0.25

0.2 y = 0.0163x - 0.1328


Absorbansi R² = 0.9818
0.15

0.1 Series1
Linear (Series1)
0.05

0
0 5 10 15 20 25
Konsentrasi

PERHITUNGAN

Konsentrasi larutan stok Na-diklofenak :


0,5 𝑚𝑔⁄ 500𝜇𝑔⁄
𝑚𝑙 → 𝑚𝑙
Penimbangan Na-diklofenak :
Kertas + Na-diklofenak: 0,5208 g
Kertas + sisa : 0,4753 g
Na-diklofenak : 0,0455 g

Konsentrasi stok sebenarnya


45,5 𝑚𝑔 𝑚𝑔 𝜇𝑔
= ⁄𝑚𝑙 = 455 ⁄𝑚𝑙
100𝑚𝑙

Deret baku Koreksi kadar


𝜇𝑔
10 ⁄𝑚𝑙
V1 . C1 = V2 . C2 V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 500 = 550 . 10 11. 455 = 550 . C2


𝜇𝑔
V1 = 11 µl C2 = 9,10 ⁄𝑚𝑙
Darah : 539µl
𝜇𝑔
14 ⁄𝑚𝑙
V1 . C1 = V2 . C2 V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 500 = 550 . 14 15,4. 455= 550 . C2

15
V1 = 15,4 µl 𝜇𝑔
C2 = 12,74 ⁄𝑚𝑙
Darah : 534,6µl
𝜇𝑔
16 ⁄𝑚𝑙
V1 . C1 = V2 . C2 V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 500 = 550 . 16 17,6. 455 = 550 . C2


𝜇𝑔
V1 = 17,6 µl C2 = 14,56 ⁄𝑚𝑙
Darah : 532,4µl
𝜇𝑔
18 ⁄𝑚𝑙
V1 . C1 = V2 . C2 V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 500 = 550 . 18 19,8. 455 = 550 . C2


𝜇𝑔
V1 = 19,8 µl C2 = 16,38 ⁄𝑚𝑙
Darah : 530,2µl
𝜇𝑔
22 ⁄𝑚𝑙
V1 . C1 = V2 . C2 V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 500 = 550 . 22 24,2.455 = 550 . C2


𝜇𝑔
V1 = 24,2 µl C2 = 20,02 ⁄𝑚𝑙
Darah : 525,8µl

a. Recovery Na-diklofenak pada λ = 225,5nm


𝜇𝑔
 9,10 ⁄𝑚𝑙
1. 0,010 = 0,0163. X – 0,1328
𝜇𝑔
X = 8,76 ⁄𝑚𝑙
2. 0,008 = 0,0163. X – 0,1328
𝜇𝑔
X = 8,64 ⁄𝑚𝑙
𝜇𝑔
 12,74 ⁄𝑚𝑙

1. 0,073 = 0,0163. X – 0,1328

𝜇𝑔
X = 12,63 ⁄𝑚𝑙

2. 0,063 = 0,0163. X – 0,1328

𝜇𝑔
X = 12,01 ⁄𝑚𝑙

16
𝜇𝑔
 20,02 ⁄𝑚𝑙
1. 0,170 = 0,0163. X – 0,1328
𝜇𝑔
X = 18,58 ⁄𝑚𝑙

2. 0,163 = 0,0163. X – 0,1328

𝜇𝑔
X = 18,15 ⁄𝑚𝑙

b. % Recovery
𝜇𝑔
 Konsentrasi 9,10 ⁄𝑚𝑙
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
1. % Recovery = 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑥 100%
8,76 µ𝑔/𝑚𝑙
% Recovery = 9,10 𝑥 100% = 96,26%
µ𝑔/𝑚𝑙
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
2. % Recovery = 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑥 100%
8,64 µ𝑔/𝑚𝑙
% Recovery = 9,10 𝑥100% = 94,94%
µ𝑔/𝑚𝑙
𝜇𝑔
 Konsentrasi 12,74 ⁄𝑚𝑙
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
1. % Recovery = 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑥 100%
12,63 µ𝑔/𝑚𝑙
% Recovery = 12,74 µ𝑔/𝑚𝑙 𝑥 100% = 99,14%
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
2. % Recovery = 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑥 100%
12,01 µ𝑔/𝑚𝑙
% Recovery = 12,74 𝑥100% = 94,27%
µ𝑔/𝑚𝑙
𝜇𝑔
 Konsentrasi 20,02 ⁄𝑚𝑙
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
1. % Recovery = 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑥 100%
18,58 µ𝑔/𝑚𝑙
% Recovery = 20,02 𝑥 100% = 92,81%
µ𝑔/𝑚𝑙
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
2. % Recovery = 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑥 100%
18,15 µ𝑔/𝑚𝑙
% Recovery = 20,02 𝑥100% = 90,66%
µ𝑔/𝑚𝑙

17
c. Kesalahan sistematis
𝜇𝑔
 Konsentrasi 9,10 ⁄𝑚𝑙
1. Kesalahan sistematis = 100% - P
Kesalahan sistematis = |100% - 96,26% | = 3,74%
2. Kesalahan sistematis = 100% - P
Kesalahan sistematis = |100% - 94,94% | = 5,06%

𝜇𝑔
 Konsentrasi 12,74 ⁄𝑚𝑙
1. Kesalahan sistematis = 100% - P
Kesalahan sistematis = |100% - 99,14% | = 0,86%
2. Kesalahan sistematis = 100% - P
Kesalahan sistematis = |100% - 94,27% | = 5,73%

𝜇𝑔
 Konsentrasi 20,02 ⁄𝑚𝑙
1. Kesalahan sistematis = 100% - P
Kesalahan sistematis = |100% - 92,81% | = 7,19%
2. Kesalahan sistematis = 100% - P
Kesalahan sistematis = |100% - 90,66% | = 9,34%

d. Kesalahan acak
𝜇𝑔
 Konsentrasi 9,10 ⁄𝑚𝑙
Rata-rata = 8,70
SD = 0,08
𝑆𝐷
Kesalahan acak = 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑥100%
0,08
= 8,70 𝑥100%

= 0,91%
𝜇𝑔
 Konsentrasi 12,74 ⁄𝑚𝑙
Rata-rata = 12,32
SD = 0,44
𝑆𝐷
Kesalahan acak = 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑥100%
0,44
= 12,32 𝑥100%

18
= 3,57%
𝜇𝑔
 Konsentrasi 20,04 ⁄𝑚𝑙
Rata-rata = 18,37
SD = 0,30
𝑆𝐷
Kesalahan acak = 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑥100%
0,30
= 18,37 𝑥100%

= 1,63%

PARACETAMOL
Data menetapkan panjang gelombang maks
Konsentrasi (µg/ml) Absorbansi
102,2 0,122
306,6 0,456
511,0 1,07

Data kurva baku parasetamol


Konsentrasi (µg/ml) Absorbansi a : - 0,0782
204,40 0,250 b : 0,0015
306,60 0,305 r: 0,9612
408,80 0,626 y = 0,0015. X – 0,0782
511,00 0,764
613,20 0,806

19
Kurva Baku PCT
Konsentrasi Vs Absorbansi
1
0.9 y = 0.0015x - 0.0782
0.8 R² = 0.9612
0.7
Absorbansi

0.6
0.5
Series1
0.4
0.3 Linear (Series1)
0.2
0.1
0
0 200 400 600 800
Konsentrasi

PERHITUNGAN
Konsentrasi larutan stok parasetamol :
1000𝑚𝑔⁄ 1𝑚𝑔⁄ 1000𝜇𝑔⁄
𝑚𝑙 → 𝑚𝑙 → 𝑚𝑙
Penimbangan parasetamol :
Kertas + parasetamol : 0,5767 g
Kertas + sisa : 0,4745 g
Parasetamol : 0,1022 g

Konsentrasi stok sebenarnya


102,2 𝑚𝑔 𝑚𝑔 𝜇𝑔
= ⁄𝑚𝑙 = 1022 ⁄𝑚𝑙
100𝑚𝑙

Deret baku Koreksi kadar

20
𝜇𝑔
200 ⁄𝑚𝑙
V1 . C1 = V2 . C2 V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 1000 = 500 . 200 100. 1022 = 500 . C2

V1 = 100 µl C2 = 204,4 µl

Darah : 400 µl
𝜇𝑔
300 ⁄𝑚𝑙
V1 . C1 = V2 . C2 V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 1000 = 500 . 300 150. 1022= 500 . C2

V1 = 150 µl C2 = 306,6 µl

Darah : 350 µl
𝜇𝑔
400 ⁄𝑚𝑙
V1 . C1 = V2 . C2 V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 1000 = 500 . 400 200. 1022 = 500 . C2

V1 = 200 µl C2 = 408,8 µl

Darah : 300 µl
𝜇𝑔
500 ⁄𝑚𝑙
V1 . C1 = V2 . C2 V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 1000 = 500 . 500 250. 1022 = 500 . C2

V1 = 250 µl C2 = 511 µl

Darah : 250 µl
𝜇𝑔
600 ⁄𝑚𝑙
V1 . C1 = V2 . C2 V1 . C1 = V2 . C2

V1 . 1000 = 500 . 600 300.1022 = 500 . C2

V1 = 300 µl C2 = 613,2 µl

Darah : 200 µl

a. Data recovery

21
λ max parasetamol = 252,5 nm

Konsentrasi Absorbansi 1 Absorbansi 2


𝜇𝑔
102,2 ⁄𝑚𝑙 0,073 0,070

𝜇𝑔
306,6 ⁄𝑚𝑙 0,350 0,285
𝜇𝑔
511.0 ⁄𝑚𝑙 0,624 0,577

Recovery paracetamol pada λ = 252,5nm


𝜇𝑔
 102,2 ⁄𝑚𝑙
1. 0,073 = 0,0015 X – 0,0782
𝜇𝑔
X = 100,80 ⁄𝑚𝑙
2. 0,070 = 0,0015 X – 0,0782
𝜇𝑔
X = 98,80 ⁄𝑚𝑙
𝜇𝑔
 306,6 ⁄𝑚𝑙
1. 0,350 = 0,0015 X – 0,0782
𝜇𝑔
X = 285,4667 ⁄𝑚𝑙
2. 0,285 = 0,0015 X – 0,0782
𝜇𝑔
X = 242,1333 ⁄𝑚𝑙
𝜇𝑔
 511,0 ⁄𝑚𝑙
1. 0,624 = 0,0015 X – 0,0782
𝜇𝑔
X = 468,1333 ⁄𝑚𝑙
2. 0,577 = 0,0015 X – 0,0782
𝜇𝑔
X = 436,80 ⁄𝑚𝑙

e. % Recovery
𝜇𝑔
 Konsentrasi 102,2 ⁄𝑚𝑙
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
3. % Recovery = 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑥 100%
100,80 µ𝑔/𝑚𝑙
% Recovery = 𝑥 100% = 98,63%
102,2 µ𝑔/𝑚𝑙
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
4. % Recovery = 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑥 100%

22
98,80 µ𝑔/𝑚𝑙
% Recovery = 102,2 𝑥100% = 96,67%
µ𝑔/𝑚𝑙
𝜇𝑔
 Konsentrasi 306,6 ⁄𝑚𝑙
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
3. % Recovery = 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑥 100%
285,4667 µ𝑔/𝑚𝑙
% Recovery = 𝑥 100% = 93,11%
306,6 µ𝑔/𝑚𝑙
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
4. % Recovery = 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑥 100%
242,1333 µ𝑔/𝑚𝑙
% Recovery = 𝑥100% = 78,97%
306,6 µ𝑔/𝑚𝑙
𝜇𝑔
 Konsentrasi 511,0 ⁄𝑚𝑙
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
3. % Recovery = 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑥 100%
468,1333 µ𝑔/𝑚𝑙
% Recovery = 𝑥 100% = 91,61%
511,0 µ𝑔/𝑚𝑙
𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑢𝑘𝑢𝑟
4. % Recovery = 𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ𝑛𝑦𝑎 𝑥 100%
436,80 µ𝑔/𝑚𝑙
% Recovery = 𝑥100% = 85,48%
511,0 µ𝑔/𝑚𝑙

f. Kesalahan sistematis
𝜇𝑔
 Konsentrasi 102,2 ⁄𝑚𝑙
3. Kesalahan sistematis = 100% - P
Kesalahan sistematis = |100% - 98,63% | = 1,37%
4. Kesalahan sistematis = 100% - P
Kesalahan sistematis = |100% - 96,67% | = 3,33%

𝜇𝑔
 Konsentrasi 306,6 ⁄𝑚𝑙
3. Kesalahan sistematis = 100% - P
Kesalahan sistematis = |100% - 93,11% | = 6,89%
4. Kesalahan sistematis = 100% - P
Kesalahan sistematis = |100% - 78,97% | = 21,03%

𝜇𝑔
 Konsentrasi 511,0 ⁄𝑚𝑙
3. Kesalahan sistematis = 100% - P
Kesalahan sistematis = |100% - 91,61% | = 8,39%

23
4. Kesalahan sistematis = 100% - P
Kesalahan sistematis = |100% - 85,48% | = 14,52%

g. Kesalahan acak
𝜇𝑔
 Konsentrasi 102,2 ⁄𝑚𝑙
Rata-rata = 99,80
SD = 1,41
𝑆𝐷
Kesalahan acak = 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑥100%
1,41
= 99,80 𝑥100%

= 1,42%
𝜇𝑔
 Konsentrasi 306,6 ⁄𝑚𝑙
Rata-rata = 263,79
SD = 30,64
𝑆𝐷
Kesalahan acak = 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑥100%
30,64
= 263,79 𝑥100%

= 11,61%
𝜇𝑔
 Konsentrasi 511,0 ⁄𝑚𝑙
Rata-rata = 452,36
SD = 22,15
𝑆𝐷
Kesalahan acak = 𝑟𝑎𝑡𝑎−𝑟𝑎𝑡𝑎 𝑥100%
22,15
= 452,36 𝑥100%

= 4,90%

24
VI. PEMBAHASAN
Selama tahap optimasi, serangkaian kondisi awal yang muncul pada tahap
pertama pengembangan metode harus dimaksimalkan. Validasi metode analisa
merupakan suatu tahapan penting dalam penjaminan mutu analisis kuantitatif.
Validasi metode menurut United States Pharmacopeia (USP)dilakukan untuk
menjamin bahwa metode analisis bersifat akurat, spesifik,reprodusibel, dan tahap
pada kisaran analit yang akan dianalisis. Untuk itu, pada praktikum ini dilakukan percobaan
optimasi metode analisa obat dengan menggunakan sampel Na diklofenak dan Paracetamol.
Untuk Metode Analisis natrium diklofenak dan Parasetamol dilakukan
optimasi dengan metode penetapan kadar Bratton-Marshall, dimana metode ini
merupakan cara yang umum digunakan untuk menetapkan kadar senyawa-senyawa
yang mempunyai gugus amin aromatis, termasuk di dalamnya paracetamol dan
natrium diklofenak. Sampel Na diklofenak adalah golongan obat non steroid dengan aktivitas anti
inflamasi, analgesik dan antipiretik. Aktivitas diklofenak dengan jalan menghambat enzim siklo-
oksigenase sehingga pembentukan prostaglandin terhambat. Sedangkan paracetamol merupakan
obat golongan NSAID yang memiliki aktivitas antipiretik dan analgetik.
Dalam praktikum ini dilakukan langkah-langkah yang perlu dikerjakan untuk
optimasi analisis,meliputi:
1) Penentuan jangka waktu larutan obat yang memberikan resapan tetap(operating
time)
2) Penetapan panjang gelombang larutan obat yang memberikan resapan maksimal
(λ maks)
3) Pembuatan kurva baku
4) Perhitungan nilai perolehan kembali, kesalahan acak, dan kesalahan sistemik.
Penentuan operating time pada praktikum ini bertujuan untuk mengetahui
jangka waktu larutan obat dalam memberikan resapan tetap. Selanjutnya dilakukan
penetapan panjang gelombang untuk mengetahui panjang gelombang larutan obat
yang memberikan resapan maksimal. Larutan obat yang digunakan dalam praktikum
ini yaitu natrium diklofenak dan parasetamol. Perlunya dilakukan pencarian panjang
gelombang maksimal karena pada panjang gelombang maksimal mempunyai
kepekaan yang maksimum untuk mengantisipasi terjadinya perubahan absorbsi yang
besar akibat adanya perubahan konsentrasi larutan yang dianalisis. Berdasarkan hasil
percobaan diperoleh panjang gelombang maksimal untuk Natrium diklofenak adalah
225,5 nm dan Paracetamol adalah 252,5 nm.
25
Pada prosedur penetapan kadar Na diklofenak digunakan sampel darah tikus. Darah
diambil dari ekor tikus yang banyak terdapat pembuluh darah. Kemudian darah
ditempatkan pada ependroff yang didalamnya telah ditetesi heparin. Fungsi dari
heparin disini adalah untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah atau sebagai
zat antikoagulan. Jika sampel darah yang diambil mengalami koagulasi atau
menggumpal maka yang akan keluar adalah serumnya, sedangkan yang digunakan
untuk pemeriksaan adalah plasma darah karena obat akan berinteraksi dengan protein
plasma untuk membentuk suatu kompleks obat-makromolekul yang sering disebut
ikatan obat-protein, dengan kata lain maka percobaan tidak dapat dilakukan bila darah
mengalami penggumpalan.
Mekanisme kerja heparin adalah meningkatkan efek antitrombin III dan
menginaktivasi trombin (demikian juga dengan faktor koagulan IX, X, XI, XII dan
plasmin) dan mencegah konversi fibrinogen menjadi fibrin. Akibatnya tidak terbentuk
benang-benang fibrin dan darah menjadi encer.

Gambar Mekanisme kerja Heparin

Kemudian sampel darah tersebut divortex dan selanjutnya dibuat deret baku internal (0
μg/ml, 6 μg/ml, 10 μg/ml, 16 μg/ml, 18 μg/ml dan 22 μg/ml). Deret baku tersebut kemudian
ditambah TCA yang bertujuan untuk mengendapkan seluruh protein darah dan komponen lainnya

26
sehingga didapatkan plasma darah. Campuran tersebut kemudian disentrifugasi dengan kecepatan
2500 rpm selama 10 menit. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan beningan plasma yang akan
diukur absorbansinya mengunakan spektrofotometer uv dengan λ max 225,5 nm. Dari data yang
diperoleh dibuat kurva hubungan antara konsentrasi dan absorbansi kemudian dihitung persamaan
regresi linearnya. Persamaan regresi linear yang didapat adalah y = 0,0163X – 0,1328 dengan nilai r
= 0,9814. Persamaan ini selanjutnya digunakan untuk menentukan konsentrasi dari data absorbansi
yang diperoleh.
Langkah akhir dari optimasi metode analisis adalah penentuan % recovery, kesalahan
sistemik dan kesalahan acak. Dari hasil percobaan didapatkan % recovery semua konsentrasi deret
baku memenuhi persyaratan (75-90 % atau lebih) yaitu konsentrasi 9,1 ppm : 96,26 % dan 94,94 % ;
konsentrasi 12,74 ppm : 99,14 % dan 94,27 % ; konsentrasi 20,02 ppm : 92,81 % dan 90,66 %.
Begitu pula dengan kesalahan acak dan sistemik yang juga memenuhi persyaratan (< 10 %). Untuk
kesalahan sistemik dengan konsentrasi 9,1 ppm yaitu 3,74 % dan 5,06 % ; konsentrasi 12,74 ppm
yaitu 0,86 % dan 5,73 % ; konsentrasi 20,02 ppm yaitu 7,19 % dan 9,34 %. Sedangkan kesalahan
acak yang diperoleh untuk konsentrasi 9,1 ppm yaitu 0,91 % ; konsentrasi 12,74 ppm yaitu 3,57 % ;
konsentrasi 20,02 ppm yaitu 1,63 %.
Pada prosedur penetapan kadar paracetamol digunakan sampel darah tikus. Plasma darah
diperoleh dengan mengambil sampel darah dan ditampung dalam ependroff yang berisi heparin.
Penggunaan heparin dilakukan agar sampel darah yang ditampung tidak menggumpal (sebagai anti
koagulan). Kemudian sampel darah tersebut divortex dan selanjutnya dibuat deret baku internal (0
μg/ml, 100 μg/ml, 200 μg/ml, 300 μg/ml, 400 μg/ml, 500 μg/ml, 600 μg/ml, 700 μg/ml). Deret
baku tersebut kemudian ditambah TCA yang bertujuan untuk mengendapkan seluruh protein darah
dan komponen lainnya sehingga didapatkan plasma darah. Campuran tersebut kemudian
disentrifugasi dengan kecepatan 2500 rpm selama 10 menit. Hal ini dimaksudkan untuk
mendapatkan supernatan plasma. Pengambilan supernatan ini dilakukan untuk
mengambil obat yang bebas dari protein plasma karena obat yang terikat pada
protein plasma tidak akan aktif secara farmakologik sehingga tidak memiliki efek
terapeutik atau dengan kata lain akan dapat menyebabkan data hasil pengamatan
tidak valid. Setelah pengambilan supernatan, kemudian supernatan ditambah HCl dan
NaNO2. Penambahan HCl dan NaNO2 berfungsi untuk membentuk garam diazonium dalam
suasana asam. Tetapi garam diazonium yang terbentuk tidak tahan pada suhu kamar karena akan
terurai menjadi senyawa fenol dan nitrogen sehingga pada percobaan ini digunakan suhu < 15 oC
dengan merendamnya dalam air es. Reaksinya sebagai berikut :

27
NaNO2 + HCl NaCl + HNO2
O

OH NH C CH3 + HNO2 + HCl

Parasetamol O

OH N C CH3 + NH2 + 2H20

N
Garam diazonium

Setelah didiamkan selama 15 menit sampel ditambahkan asam sulfamat 15 % yang


bertujuan untuk mengikat gas NO2 yang terbentuk dari reaksi diazotasi, sebab adanya gas NO2 ini
akan mengganggu serapan/absorbansi analit. Kemudian ditambahkan NaOH 10% sebanyak 3,5
ml kedalamnya. Hal ini bertujuan untuk memperpanjang gugus kromofor sehingga warna yang
terbentuk semakin jelas dan dapat terbaca absorbansinya dengan valid. Campuran yang didapat
akan diukur absorbansinya mengunakan spektrofotometer uv dengan λ max 252,5 nm. Dari
data yang diperoleh dibuat kurva hubungan antara konsentrasi dan absorbansi kemudian dihitung
persamaan regresi linearnya. Persamaan regresi linear yang didapat adalah y = 0,0015X – 0,0782
dengan nilai r = 0,9612. Persamaan ini selanjutnya digunakan untuk menentukan konsentrasi dari
data absorbansi yang diperoleh.
Langkah akhir dari optimasi metode analisis adalah penentuan % recovery, kesalahan
sistemik dan kesalahan acak. Dari hasil percobaan didapatkan % recovery semua konsentrasi deret
baku memenuhi persyaratan (75-90 % atau lebih) yaitu konsentrasi 102,2 ppm : 98,63 % dan
96,67 % ; konsentrasi 306,6 ppm : 93,11 % dan 78,97 % ; konsentrasi 511,0 ppm : 91,61 % dan
85,48 %. Sedangkan pada kesalahan sistemik dan kesalahan acak didapatkan konsentrasi yang
tidak memenuhi persyaratan (< 10 %). Untuk kesalahan sistemik dengan konsentrasi 102,2 ppm
yaitu 1,37 % dan 3,33 % ; konsentrasi 306,6 ppm yaitu 6,89 % dan 21,03 % ; konsentrasi 511,0
ppm yaitu 8,39 % dan 14,52 %. Sedangkan kesalahan acak yang diperoleh untuk konsentrasi
102,2 ppm yaitu 1,42 % ; konsentrasi 306,6 ppm yaitu 11,61 % ; konsentrasi 511,0 ppm yaitu 4,90
%.

28
VII.KESIMPULAN
1. Panjang gelombang maksimum Natrium Diklofenak 225,5 nm dan Paracetamol 252,5 nm.
2. Persamaan garis linier pada Natrium Diklofenak y=0,0163 x – 0,1328 dengan nilai
r=0,9814 dan Paracetamol y=0,0015 x – 0,0782 dengan r=0,9612.
3. % Recovery Natrium Diklofenak dan Paracetamol keduanya memenuhi
persyaratan dengan hasil rata-rata secara bertutut-turut 94,68% dan 90,75%.
4. Kesalahan sistemik Natrium Diklofenak dan Paracetamol keduanya memenuhi
persyaratan dengan hasil rata-rata secara bertutut-turut 5,32% dan 9,25%.
5. Kesalahan acak Natrium Diklofenak dan Paracetamol keduanya memenuhi
persyaratan dengan hasil rata-rata secara bertutut-turut 2,04% dan 5,97%.
6. Dari ketiga parameter diatas dapat disimpulkan bahwa metode penetapan kadar Natrium
diklofenak dan Paracetamol valid.

29
VIII. DAFTAR PUSTAKA
E. F. Reynolds, James. 1982. Martindale The Extra Pharmacopoeia Twenty Eighth
Edition. London: Pharmaceutical Press
Gholib, Ibnu Gandjar dkk. 2012. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Joenoes, N. Zaman. 2006. Ars Prescribendi Resep yang Rasional Edisi ke-3. Surabaya:
Airlangga University Press.
Lachman, L, H.A Liebermen., Joseph L.K. 2007. Teori dan Praktek Farmasi Industri 2
Edisi Ke-3. Jakarta: UI Press.
Moffat, Anthony C. 2003. Clacke’s Isolation and Identification of Drugs.
London:Pharmaceutical Press.
Shargel, L. & Andrew B.C.YU. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan.
Surabaya: Airlangga University Press.
Tjay, Tan Hoan dan Rahardja, Kirana. 2008. Obat – Obat Penting. Jakarta : Gramedia.
Watson, David G.2005. Buku Ajar untuk Mahasiswa Farmasi Praktisi Kimia Farmasi
Edisi II. Jakarta : EGC

30
Mengetahui, Semarang, 23 September 2014
Dosen Pengampu Praktikan

Andriani Noerlita Ningrum, M.Sc., Apt Santi Oktafialdhe S.


1041211161

Sari Trisnawati
1041211162

Silvy Alifia
1041211169

Siti Wanda Kistanti


1041211171

Rinda Ayu Herawati


1041311182

Sari R. Djahilape
1041311184

31