Anda di halaman 1dari 12

Penyakit Kulit Umum di Praktik Pediatrik

Puncet Anand1, Anuj Dhyani2,*


Residen Senior, Dept. of Pediatrics, ESI Medical College and Hospital, Faridabad

Abstrak
Penyakit kulit merupakan alasan umum bagi pasien anak untuk mendatangi praktek
dokter. Di India, infeksi dan infestasi merupakan masalah kulit yang paling umum. Sebagian
besar penyakit ini dapat ditangani sendiri oleh dokter anak. Pengetahuan dasar mengenai
tanda dan gejala, diagnosis banding serta penatalaksanaan terhadap masalah kulit tersebut
diperlukan untuk menghindari keterlambatan dalam perawatan dan komplikasi lanjutan.
Pendahuluan
Penyakit kulit merupakan alasan umum bagi pasien anak untuk mendatangi praktek
dokter. Di India, infeksi dan infestasi merupakan masalah kulit yang paling umum. Sebagian
besar penyakit ini dapat ditangani sendiri oleh dokter anak. Pengetahuan dasar mengenai
tanda dan gejala, diagnosis banding serta penatalaksanaan terhadap masalah kulit tersebut
diperlukan untuk menghindari keterlambatan dalam perawatan dan komplikasi lanjutan.
Diagnosis yang akurat membutuhkan pemeriksaan dan evaluasi yang cermat serta
pengetahuan tentang terminologi maupun morfologi dermatologis agar diagnosis banding
dapat dieliminasi.4 Lesi kulit dapat bersifat primer maupun sekunder.

Lesi Kulit Primer


Istilah primer mengacu kepada lesi yang paling representatif terhadap penyakit,
sehingga lesi yang paling pertama muncul belum tentu merupakan lesi primer.
Lesi primer dapat berupa :
Makula : lesi datar dengan tepi berbatas tegas, berukuran <1cm
Papula : lesi dengan tepi berbatas tegas, teraba menonjol, bersifat padat, tidak mengandung
pus, berukuran diameter <1cm
Patch : lesi datar, terdapat perubahan warna kulit pada tepi lesi, berukuran >1cm.
Plak : lesi berupa peninggian permukaan kulit, permukaan rata dan luasnya >1cm.
Nodul : lesi menonjol, teraba padat, diameter berukuran 0,5-2cm. Lesi berada pada lapisan
dermis dan dapat meluas ke jaringan subkutan.
Urtikari : lesi yang menonjol dengan batas yang tidak jelas, ditandai dengan edema yang
bersifat lokal, superfisial dan sementara.
Vesikel : lesi sirkumskripta, menonjol berisi cairan, diameter ≤1cm
Bula : lesi seperti vesikel dengan diameter >1cm
Pustul : Vesikel yang berisi pus
Abses : Lesi berbatas, mononjol dengan diameter >1cm, berisi pus.

Lesi Sekunder
Lesi sekunder menunjukkan perubahan evolusioner yang timbul kemudian dalam
perjalanan penyakit.
Krusta: sisa-sisa serum, darah, pus, atau eksudat yang mengering menutupi area kerusakan
atau kehilangan epidermis. Krusta berwarna kuning saat terbentuk oleh serum yang
mengering, hijau atau hijau-kekuningan saat terbentuk oleh eksudat purulen, dan merah
gelap atau cokelat saat terbentuk oleh serum eksudat yang mengandung darah.
Skuama: terbentuk dari suatu akumulasi dari terlepasnya lapisan stratum korneum sebagai
akibat dari keratinisasi abnormal dan pengelupasan kulit dari keratinosit yang sudah
melewati stratum korneum.
Fisura: retakan kering atau lembab, berbentuk linear, sering kali nyeri yang timbul di
permukaan kulit akibat dari kekeringan kulit dan inflamasi yang berlangsung lama,
penebalan serta hilangnya elastisitas dari integumen.
Erosi: lesi vesikuler atau bulosa lembab, mengalami sedikit depresi yang mana sebagian
atau seluruh epidermis telah hilang. Akibat erosi tidak mengenai dermis atau jaringan
subkutan di bawahnya, penyembuhan terjadi tanpa terbentuk jaringan parut.
Ekskoriasi: kehilangan kulit superfisial akibat trauma atau abrasi (biasanya akibat diri
sendiri) disebabkan oleh garukan, gesekan, atau gosokan pada permukaan kutis.
Ulkus: nekrosis dari epidermis dan sebagian atau seluruh dermis dan/atau jaringan subkutan
dibawahnya.
Atrofi: perubahan kutis yang mengakibatkan depresi pada epidermis, dermis atau
keduanya. Atrofi epidermis ditandai oleh epidermis yang tipis, hampir translusens,
hilangnya penanda kulit normal, dan berkerut saat didorong oleh tekanan dari lateral atau
saat dicubit pada area yang atrofi. Pada atrofi dermis kulit mengalami depresi.
Likenifikasi: penebalan dari epidermis dengan disertai timbulnya lipatan kulit yang
berlebihan akibat garukan atau gosokan kronis pada lesi yang gatal.
Scar: perubahan kulit fibrotik yang permanen yang berkembang setelah adanya kerusakan
pada dermis.
Kulit bayi baru lahir cukup bulan normalnya lunak dan lembut. Deskuamasi kulit
neonatus terjadi 24 hingga 36 jam setelah persalinan. Deskuamasi saat kelahiran adalah
suatu fenomena abnormal dan merupakan penanda post maturitas, anoksia intrauterin, atau
iktiosis kongenital.
Akrosianosis adalah perubahan warna menjadi kebiruan pada ekstremitas, yang mana
diakibatkan oleh peningkatan tonus arteriol perifer, mengarah kepada vasospasme, dilasi
sekunder dan pengumpulan darah di pleksus vena, mengakibatkan penampilan sianosis pada
area kulit yang terlibat.
Kutis Marmorata timbulnya corakan retikuler kebiruan pada kulit yang terlihat di batang
tubuh dan ekstremitas dari bayi dan anak-anak usia muda. Fenomena ini, sebuah respons
fisiologis terhadap kedinginan dengan hasil dilasi dari kapiler dan venula kecil, biasanya
menghilang saat bayi dihangatkan kembali. Apabila corakan tidak hilang dengan
penghangatan, kondisi lainnya harus dipertimbangkan, termasuk syok, sepsis dan
hipotiroidisme.8
Sklerema neonatorum adalah sebuah pengerasan seperti lilin pada kulit dan jaringan
subkutan yang difus dan cepat meluas yang terjadi pada bayi prematur atau bayi yang lemah
pada beberapa minggu awal kehidupan. Gangguan ini, biasanya berkaitan dengan kondisi
yang mendasari seperti sepsis dari infeksi lain, penyakit jantung kongenital, distres
pernapasan, diare atau dehidrasi.
Perbedaan dari epidermis dan adneksanya, terutama pada bayi prematur, adalah
sering kali tidak lengkap pada saat kelahiran. Sebagai hasilnya, tingginya insiden fenomena
retensi keringat dapat dilihat pada bayi baru lahir. Ditandai oleh erupsi vesikuler dengan
kemudian maserasi dan obstruksi dari duktus ekrin. Kristal miliaria (sudamina), yang
mengandung vesikel pinpoint superfisial jernih tanpa adanya areola inflamatorik; miliaria
rubra (prickly heat), menunjukkan obstruksi kelenjar keringat lebih dalam dan ditandai
dengan papul, vesikel, atau papulovesikel eritematosa kecil tersendiri. Insidensi miliaria
lebih banyak pada beberapa minggu awal kehidupan disebabkan karena maturitas relatif
dari duktus ekrin, yang membantu penutupan pori-pori dan retensi keringat. Pengobatan
mengarah kepada menghindari suhu panas dan kelembapan yang berlebihan. Penggunaan
pakaian katun dengan berat rendah dan mandi suhu dingin adalah pengobatan yang
dibutuhkan.9 Penggunaan emolien harus dihindari, terutama pada iklim hangat dan lembab
atau pada musim dingin saat bayi diliputi pakaian tebal.
MILIA: kista retensi kecil umumnya timbul pada wajah bayi baru lahir sekecil 1-2 mm,
berupa papul putih atau kuning. Terutama menonjol pada pipi, hidung, dagu, dan dahi, dapat
muncul beberapa atau banyak serta sering kali berkelompok. Biasanya menghilang secara
spontan selama 3 sampai 4 minggu awal kehidupan dan dengan demikian tidak memerlukan
pengobatan.
Erythema Toxicum Neonatorum
Erythema Toxicum Neonatorum (ETN), adalah sebuah erupsi kulit idiopatik,
asimpomatik, jinak, dapat sembuh sendiri, pada bayi baru lahir cukup bulan. Lesi terdiri
atas makula, papula, dan pustul eritematosa atau kombinasi ketiganya, dan dapat terjadi di
bagian tubuh manapun, terutama di dahi, wajah, batang tubuh, dan ekstremitas, menyisakan
telapak tangan dan telapak kaki, mungkin dapat disebabkan karena tidak adanya folikel
pilosebasea pada area-area tersebut. Pemeriksaan sitologi dari hapusan pustul dengan
pewarnaan Wright atau Giemsa mengungkap predominasi eosinofil.9

Dermatitis Seboroik: adalah kondisi umum, dapat sembuh sendiri dari kulit kepala, wajah,
telinga, batang tubuh, dan area intertriginosa ditandai dengan skuama berminyak,
kemerahan, fisura, dan tangisan kadang-kadang. Sering kali muncul pada bayi dengan
dermatitis skuama pada kulit kepala dinamakan cradle cap yang dapat menyebar hingga
wajah, termasuk ke dahi, telinga, bulu mata, dan hidung. Predileksinya pada area dengan
densitas kelenjar sebasea tinggi dan hubungan aktivitas dengan peningkatan level hormonal
selama tahun pertama kehidupan10 dan remaja mengarahkan keterkaitan pada sebum dan
kelenjar sebasea. Dermatitis seboroik pada remaja dan masa dewasa telah berperan pada
Pytirosporum oval.11 Pengangan dermatitis seboroik termasuk anti jamur topikal
(ketokonazol), steroid topikal dan keratolitik.12

Dermatitis Popok: terjadi akibat kombinasi faktor-faktor, yang terpenting adalah kontak
dengan urin dan feses yang memanjang, maserasi kulit, dan, pada banyak kasus, infeksi
sekunder dengan bakteri atau Candida Albicans. 13 Tiga tipe paling sering dermatitis popok
seperti dermatitis chafing, dermatitis kontak iritan dan candidiasis popok.

Chaffing dermatitis: umumnya timbul pada area dimana friksi paling sering muncul
(bagian dalam permukaan paha, genitalia, pantat, dan abdomen). Erupsi muncul sebagai
kemerahan ringan dan skuama serta cenderung untuk mengeras dan menghilang cepat. Tipe
ini merespon secara cepat terhadap penggantian popok yang rutin dan kebersihan yang baik.
Dermatitis kontak iritan popok: biasanya melibatkan permukaan konfeksi dari pantat,
vulva, perineal area, abdomen bawah, dan proksimal paha, dengan menyisakan lipatan
intertriginosa. Gangguan ini dapat dikaitkan dengan kontak dengan enzim proteolitik dalam
feses dan senyawa iritan seperti sabun, detergen, dan preparat topikal. Faktor lain yang
signifikan ternyata adalah suhu panas berlebihan, kelembagaan, dan retensi keringat terkait
dengan lingkungan lokal hangat yang dihasilkan oleh popok.

Dermatitis popok kandida: muncul sebagai sebuah eritema kemerahan luas yang
menyebar pada pantat, abdomen bagian bawah, dan bagian dalam dari paha. Karakteristik
termasuk peninggian tepi, marginalisasi tajam disertai skuama putih di perbatasan, dan lesi
satelit pustuvesikuler pinpoint (tanda diagnostik). Bayi yang punya C. Albicans di usus
bagian bawah, dan dari fokus inilah feses terinfeksi menunjukkan sumber primer dari erupsi
popok kandidat.
Dermatitis Seboroik pada area popok mungkin dapat disadari oleh plak berwarna merah
cerah seperti salmon, berminyak dengan skuama kekuningan dan predileksi pada area
intertriginosa. Keterlibatan yang tidak disengaja pada kulit kepala, wajah, leher dan area
post aurikuler dan fleksural membantuk menegakkan diagnosis.
Pityriasis Alba adalah gangguan kulit umum yang ditandai oleh makula hipopigmentasi
simtomatis biasanya pada wajah, leher, batang tubuh bagian atas, dan ekstremitas
proksimal. Lesi individual bervariasi dengan diameter mulai dari 1 cm atau lebih dan bisa
terdapat skuama halus. Melembabkan secara efektif selama bulan-bulan kering dapat
membantu mencegah pengulangan dari pityriasis alba pada musim panas selanjutnya.
Intertrigo adalah dermatitis inflamasi superfisial. Sebagai hasil dari gesekan, panas dan
kelembagaan, area yang terkena menjadi eritematosa dalam pola berbatas tegas,
termaserasi, dan sering terinfeksi oleh bakteri atau candida, atau pada remaja akibat
dermatofita.
Bintik Mongolian lesi makula rata, berwarna cokelat gelap hingga abu-abu atau biru
kehitaman, sering kali tidak berbatas tegas, berukuran besar dan berlokasi pada area
lumbosakral, pantat, dan kadang-kadang di tungkai bawah, punggung, panggul, dan bahu
pada bayi normal. Bintik mongolian muncul pada saat kelahiran, cenderung memudar
selama 2 hingga 3 tahun kehidupan, dan hanya beberapa yang bertahan hingga masa dewasa.
Pyoderma adalah infeksi kulit superfisial oleh bakteri, yang termasuk impetigo, folikulitis,
furunkel, ektima, dan beberapa yang lainnya.
Impetigo adalah infeksi kulit bakterial yang paling sering dijumpai, yang disebabkan oleh
Streptococcus pyogenes6,7. Impetigo sering pada bayi dan anak-anak. Terjadi dengan dua
bentuk klinis, impetigo non-bulosa atau impetigo kontagiosa dan impetigo bulosa.
Walaupun impetigo kontagiosa dapat terjadi pada seluruh permukaan tubuh, bagian yang
terekspos, terutama wajah dan ekstremitas sering kali terlibat. Dimulai dengan papul atau
pustul 1 sampai 2 mm yang dengan cepat berkembang menjadi vesikel atau bula beratap
tipis dikelilingi oleh lingkaran tipis eritema. Vesikel ruptur dengan mudah dan melepaskan
cairan kekuningan, tipis dan berawan yang akhirnya mengering, membentuk krusta
berwarna seperti madu, penanda dari impetigo nonbulosa.
Impetigo bulosa terjadi pada wajah dan area intertriginosa yang lembab. Secara klinis,
muncul sebagai bula berdinding tipis, lemah, subkorneum yang cepat ruptur meninggalkan
erosi lembab dan eritematosa dikelilingi oleh ciri khas berupa sisa pinggiran dinding bula.
Impetigo juga dapat berkembang pada eksim atopi atau lesi skabies yang sebelumnya telah
ada (impetiginisasi sekunder).
Folikulitis adalah infeksi superfisial stafilokokus dari ostium folikular, yang melibatkan
kulit kepala, pantat, dan perineum. Folikulitis timbul sebagai papul simtomatis, superfisial
dan eritematosa serta pustul dengan eritema di sekitar lesi terpusat pada folikel rambut.
Tidak seperti folikulitis, furunkel adalah infeksi dalam yang melibatkan folikel rambut dan
jaringan lunak sekitarnya membentuk nodul atau abses kenyal. Anak dengan folikulitis dan
furunkel tidak punya gejala konstitusi.
Penanganan pioderma: untuk infeksi superfisial lokal, mupirocin topikal atau asam fusidat
dapat digunakan. Untuk lesi multipel dan infeksi yang lebih dalam, antibiotik sistemik
disarankan untuk periode 7-10 hari. Antibiotik yang digunakan seperti
cloxacilin/dicloxacillin 50-100 mg/kg/hari 4 kali sehari; cephalexin 25-50 mg/kg/hari 3-4
kali sehari; amoxycillin/asam clavulanic (40 mg amoxycillin/kg/hari) 2-3 kali sehari.
Kegagalan respons terhadap antibiotik menunjukkan organisme resisten methicillin, yang
diobati dengan klindamisin, vankomisin, atau trimetoprhim/sulfamethoxazole6,7
SSSS adalah suatu istilah untuk menggambarkan suatu penyakit yang menimbulkan
gelembung-gelembung di kulit yang disebabkan oleh S. aureus penghasil epidermolytic
(atau exfoliative/ pengelupasan kulit) toxin (ET). Patogenesis terjadinya SSSS berkaitan
dengan produksi ET, yang mana terdapat dua serotipe yang berpengaruh pada manusia,
ETA dan ETB. Mekanisme patogenik dari ETA dan ETB telah dijabarkan secara jelas, dan
keduanya telah terbukti menarget desmoglein-1, suatu molekul adhesi antara sel ke sel yang
ditemukan di desmosom dari epidermis superfisial. SSSS secara umum dimulai dengan
infeksi lokal pada konjungtiva, mars, regio perioral, perineum, atau umbilikus. Pemisahan
dari kulit keras perioral sering kali meninggalkan fisura/retakan melingkar di sekeliling
mulut, mengakibatkan penampakan karakteristik tampilan wajah pada SSSS. Infeksi lain
yang dapat menjadi asal mula SSSS termasuk pneumonia, artritis septik, endokarditis, atau
piomiositis. Demam, malaise, letargi, iritabilitas, dan kesulitan makan dan minum
berkembang kemudian, dan erupsi keseluruhan pun dimulai. Ruamnya ditandai oleh eritema
yang berkembang menjadi gelembung/bula besar superfisial yang rapuh, yang dapat ruptur
dengan mudah, meninggalkan kulit terbuka, mengelupas, kemerahan dan lunak. Erupsi
tersebut paling terlihat pada lipatan fleksural namun dapat melibatkan seluruh permukaan
kulit. Tanda Nikolsky (pergerakan maju dari lapangan tepi bula yang diakibatkan oleh
tekanan lembut pada tepi bula) positif. Ciri utama yang paling membantu membedakan dari
TEN adalah keterlibatan mukosa, termasuk pada mulut, konjungtiva, trakea, dan mukosa
genital, yang mana lebih sedikit pada SSSS. Harus diingat bahwa mayoritas bula pada SSSS
adalah steril, karena bula-bula tersebut disebabkan oleh penyebaran toksin bakteri secara
hematogen dan bukan merupakan bakterinya sendiri. Pengobatan SSSS ditujukan pada
eradikasi dari stafilokokus penghasil toksin, yang mana akan menghentikan produksi toksin.

Penisilin resisten penisilinase, sefalosporin generasi pertama atau kedua, atau


klindamisin ketiganya adalah pilihan awal yang dapat digunakan, dengan modifikasi
berdasarkan pemeriksaan sensitivitas.
Skabies adalah sebuah investasi umum yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei
varietas hominis. Tungau tersebut ditularkan melalui kontak dekat langsung. Gejala paling
awal dari skabies adalah pruritus nokturnal, yang mana dapat bermanifestasi sebagai
iritabilitas/kegelisahan berlebihan/ekstrim pada bayi. Wajah, telapak tangan dan telapak
kaki menjadi lokasi yang terkena terutama pada anak-anak berusia lebih muda, sementara
pinggang, pergelangan tangan, pergelangan kaki, rongga interdigitalis, penis dan areola
sering menjadi lokasi investasi skabies pada anak-anak yang lebih tua. Keberagaman lesi
primer dan sekunder seperti papul, nodul, terowongan, dan vesikopustul terjadi pada
skabies. Dari semuanya itu, terowongan dan nodul adalah lesi spesifik pada skabies.
Terowongan terletak tepat dibawah stratum korneum dan terdiri dari lesi linear atau
serpiginosa(bergelombang) berwarna keputih-putihan dengan sebuah titik hitam pada
ujungnya, yang menunjukkan lokasi tungau betina. Skabies berbentuk nodular ditandai
dengan nodul cokelat kemerahan yang sangat gatal yang umumnya terlihat di batang tubuh,
aksila dan genital. Lesi dapat menetap selama beberapa bulan bahkan setelah terjadi
penyembuhan dari skabies. Diagnosis biasanya didasarkan gambaran klinis.
Kutu Kepala biasanya menyerang anak berusia antara 3 dan 12 tahun melalui kontak
langsung kepala dengan kepala. Rasa gatal di kulit kepala adalah gejala utama dan mungkin
terdapat lesi papul kemerahan dengan ekskoriasi serta infeksi bakteri sekunder.
Limfadenopati oksipital dan servikal mungkin didapatkan. Diagnosis dibuktikan dengan
adanya telur kutu atau kutu di kulit kepala dan di rambut kepala. Telur kutu berwarna putih
kelabu-abuan berukuran 1 mm, berbentuk lonjong yang menempel kuat pada batang rambut.
Telur kutu dapat digerakkan di sepanjang batang rambut berlawanan dengan ketombe yang
berwarna kekuningan dan berbentuk tidak beraturan serta dapat dipindahkan ke segala
arah14. Pilihan penanganannya adalah krim permetrin 1%, yang harus diberikan pada rambut
yang setengah basah, diikuti dengan mencuci rambut setelah 10 menit. Pemberian berulang
biasanya direkomendasikan setelah 1 atau 2 minggu. Ivermectin oral dapat digunakan pada
anak berusia lebih dari 5 tahun14,15. Seperti halnya pada skabies, semua perabotan rumah
atau orang yang mungkin berkontak harus ditangani juga.
Tinea kapitis, infeksi dermatofita yang paling sering, biasanya didapatkan pada gadis pra-
pubertas (3-7 tahun). Lebih dari 90% infeksi disebabkan oleh Trichophyton tonsurans16, 17.
T. Capitis (grey patch) muncul dengan adanya suatu wilayah alopesia tunggal atau multipel
dengan tanda-tanda inflamasi papul, pustul, krusta dan pengelupasan kulit. Rambut pada
area tersebut dapat dengan mudah dicabut. T. Capitis Black dot ditandai dengan area
alopesia dengan titik-titik hitam kecil di area tersebut. Titik-titik hitam tersebut
menunjukkan ujung patahan dari endotriks batang rambut yang terinfeksi (T. violaceum).
Kerion, tipe inflamasi parah, menunjukkan adanya alopesia dengan pembengkakan luas,
dan pustul atau eksudasi.

Tinea versikolor adalah kondisi kulit umum yang terjadi pada anak-anak berusia
lebih tua dan remaja muda serta disebabkan oleh Malassezia furfur. Kondisi ini sering kali
ditemukan pada negara tropis dengan tingkat kelembagaan tinggi. Timbul dengan adanya
makula-makula berjumlah banyak yang mengalami hipopigmentasi dan pengelupasan kulit
pada dada bagian atas, punggung dan bagian atas proksimal dari ekstremitas. Pemeriksaan
potasium hidroksida dengan menggunakan kerokan kulit menunjukkan hifa pendek tidak
bercabang dan sel-sel ragi. Pilihan pengobatan yang tersedia termasuk losion selenium
sulfida 2.5%, imidazole, siklopiroks lamin dan preparat sulfur. Ketokonazol oral atau
flukonazole oral 400 mg dapat juga digunakan. Penanganan mencakup juga edukasi orang
tua terkait sifat jinak dari kondisi penyakit ini.

Dermatitis atopi atau eksim adalah suatu gangguan inflamasi kulit kronik yang sering
berulang. Karakteristik khusus dermatitis atopi adalah kulit kering (xerosis) dan pruritus.
Dermatitis atopi biasanya dimulai pada beberapa minggu atau bulan pertama kehidupan.
Fase klinis dari dermatitis atopi terbagi menjadi 3 kelompok, berdasarkan pada onset dan
distribusi dari lesi; masa bayi, masa anak-anak dan fase dewasa18, 19
. Pada fase bayi,
dermatitis ini biasanya dimulai pada wajah dan kemudian dapat menyebar ke batang tubuh.
Bayi yang terkena dermatitis atopi akan menjadi gelisah atau sering menggaruk terkait
adanya rasa gatal yang terus menerus. Hal ini ditandai dengan papul-papul eritem simetris,
vesikel, edema, eksudasi/oozing dan terbentuknya krusnya. Aspek ekstensor dari
ekstremitas mulai terkena pada usia sekitar 8 bulan saat bayi mulai dapat merangkak.
Dermatitis atopi infantil biasanya tidak mengenai daerah popok dan selangkangan. Pada
fase anak-anak, lesi menjadi kronis dan terjadi likenifikasi dengan predileksi di area
fleksural (fossa cubiti dan poplitea). Pada area wajah, peri-oral dan per-orbita juga dapat
memperlihatkan dermatitis kronis dan likenifikasi. Perubahan pigmentasi mungkin dapat
ditemukan pada anak-anak. Penanganannya termasuk emolien topikal dan kortikosteroid
topikal.20 Antihistamin sering digunakan untuk penanganan pruritus.

Penyakit Eksantematosa
Varisela (Chickenpox): Virus Varisela-zoster (VVZ) adalah anggota dari keluarga virus
herpes, dan merupakan agen penyebab baik dari varisela (chickenpox) dan herpes zoster.
Sekali terkena, VVZ akan menetap di dalam ganglia sensori dalam bentuk laten dan akan
mengalami reaktivasi intermiten pada suatu waktu dengan distribusi dermatomal,
menghasilkan herpes zoster. Pasien dianggap dapat menularkan sampai setidaknya 5 hari
setelah onset dari ruam atau sampai semua lesi yang timbul telah kering dan membentuk
krusta. Varisela primer dimulai dengan gejala prodromal berupa demam, menggigil,
malaise, sakit kepala, arthralgia (nyeri sendi), dan myalgia. Setelah 24 hingga 48 jam, lesi
kulit paling awal akan menjadi lebih terang warnanya, dimulai sebagai makula atau papul
kemerahan yang berkembang secara cepat menjadi fase vesikuler. Lesi yang telah
berkembang penuh digambarkan sebagai “titik embun pada daun bunga mawar”. Lesi
varisela muncul pertama kali di kulit kepala, wajah, atau batang tubuh dan kemudian
menyebar ke ekstremitas. lesi yang lebih tua akan membentuk krusta, dan lesi baru terus
berkembang, menghasilkan temuan patognomonik (khas) dimana lesi dari berbagai tahap
berbeda dapat dilihat muncul bersamaan di satu waktu. Lesi dari varisela akan sembuh
dengan meninggalkan bekas luka dan hipopigmentasi, terutama di lokasi lesi awal.
Penggunaan rutin agen antivirus untuk varisela pada anak yang sehat tidak dianjurkan.
Terapi antivirus oral haruslah dipertimbangkan, bagaimanapun juga, untuk individu
sehat yang memiliki risiko sedang atau berat terhadap penyakit, seperti pada mereka yang
berumur lebih dari 12 tahun (terutama yang belum di vaksinasi), mereka dengan gangguan
kulit atau paru kronis, dan mereka yang mengonsumsi kortikosteroid (jangka pendek,
intermiten, atau yang disemprotkan untuk inhalasi). Saat digunakan untuk pengobatan
varisela selain pada pasien sehat, terapi antivirus harus segera diberikan dalam jangka waktu
24 jam setelah timbulnya ruam kulit.
Campak disebabkan oleh virus rantai tunggal ribonucleic acid (RNA) yang termasuk dalam
famili Paramyxoviridae. Infeksi dimulai di epitel nasofaring dan lebih jarangnya di
konjungtiva. Penyebaran dari campak utamanya melalui droplet pernapasan dan lebih
umumnya akibat aerosol berpartikel kecil. Masa inkubasinya sekitar 10-14 hari. Dari lokasi
awal infeksi, virus akan masuk ke pembuluh limfe dan pembuluh limfatik serta
menggandakan diri di dalam sistem retikuloendotelial yang kemudian menimbulkan
viremia. Virus kemudian menyebar ke beberapa jaringan limfoid dan organ-organ lain,
termasuk kulit, hati, dan traktus gastrointestinal. Imunitas campak meliputi respons
diperantarai oleh sel, respons humoral, dan respons mukosa. Antibodi campak bertanggung
jawab terhadap perlindungan dari infeksi di masa depan atau infeksi ulangan. Campak
secara klasik muncul dengan adanya demam dan batuk, koriza, dan konjungtivitis. Tanda
khas adalah enanthem (ruam di mukosa), Koplik Sports, sering kali timbul saat periode
prodromal dan muncul dengan papul menonjol berwarna abu-abu keputihan hingga
eritematosa tersebar di mukosa pipi. Tanda tersebut dimulai di wajah terutama di dahi, garis
tepi rambut, dan di belakang telinga, serta menyebar ke arah bawah ke batang tubuh dan
ekstremitas. Lesinya berupa makula dan papul eritematosa hingga ungu kemerahan yang
dapat berkonfluensi (menyatu satu sama lain) dan memudar dengan urutan yang sama
seperti saat kemunculan awal, meninggalkan makula berwarna seperti tembaga dan kulit
yang mengelupas.
Untuk menyimpulkan, beberapa penyakit yang sudah dijelaskan ini menyebabkan
sebagian besar kunjungan ke dokter praktik anak. Pengetahuan mengenai beberapa kondisi
kulit anak ini dapat mengurangi rujukan yang tidak perlu dan kecemasan yang dapat
ditimbulkan terkait kondisi anak tersebut.

Referensi

1. Sardana K, Mahajan S, Sarkar R, Mendiratta V, Bhushan P, Koranne RV, et al. The


spectrum of skin disease among Indian children. Pediatr Dermatol. 2009;26:6–13.
2. Karthikeyan K, Thappa DM, Jeevankumar B. Pattern of pediatric dermatoses in a
referral center in South India. Indian Pediatr. 2004;41:373–7.
3. Sacchidanand S, Sahana MS, Asha GS, Shilpa K. Pattern of pediatric dermatoses at a
referral centre. Indian J Pediatr. 2012. doi:10.1007/s12098-013-0904-8.
4. Paller AS, Mancini AJ. Hurwitz Clinical Pediatric Dermatology. 5th edition. Elsevier.
5. Ramam M, Satish DA, Thomas J, Parikh DA. Skin diseases in children. In
Parthasarathy A, Menon PSN, Nair MKC, Lokeshwar MR, Srivastava RN, Bhave SY
et al, eds. IAP Textbook of Pediatrics, 1st edn. New Delhi, Jaypee Brothers Medical
Publishers (P) Ltd 1999;814- 820.
6. Sardana K, Manchanda V, Rajpal M, Garg VK, Chauhan DS. Bacterial pyoderma in
children and therapeutic options including management of community-acquired
methicillin resistant Staphylococcus aureus. Int J Dermatol. 2007;46:309–13.
7. Hay RJ. Scabies and pyodermas–diagnosis and treatment. Dermatol Ther.
2009;22:466–74.
8. Gleason CA, Devaskar SU. avery’s disease of newborn.9th edition. Elsevier
publications.
9. Zuniga R, Nguyen T. Skin conditions: common skin rashes in infants. FP Essent. 2013
Apr;407:31-41.
10. Henderson CA, Taylor J, Cunliffe WJ. Sebum excretion rates in mothers and neonates.
Br J Dermatol 2000;142(1):110–11.
11. Faergemann J. Pityrosporum infections. J Am Acad Dermatol 1994;31(3 Pt 2):S18–20.
12. Poindexter GB, Burkhart CN, Morrell DS. Therapies for pediatric seborrheic
dermatitis. Pediatr Ann 2009;38:333– 8.
13. Odio M, Friedlander SF. Diaper dermatitis and advances in diaper technology. Curr
Opin Pediatric 2000; 12(4):342–6.
14. Diamantis SA, Morrell DS, Burkhart CN. Pediatric infestations. Pediatr Ann.
2009;38:326–32.
15. Currie BJ, McCarthy JS. Permethrin and ivermectin for scabies. N Engl J Med.
2010;362:717–25.
16. Pomeranz AJ, Sabnis SS. Tinea capitis: Epidemiology, diagnosis and management.
Paediatr Drugs. 2002;4:779– 83.
17. Kelly BP. Superficial fungal infections. Pediat Rev. 2012;33:e22–37.
18. Eichenfield LF, Ellis CN, Mancini AJ, Paller AS, Simpson EL. Atopic dermatitis:
Epidemiology and pathogenesis update. Semin Cutan Med Surg. 2012;31:S3–5.
19. Krafchik BR. Atopic dermatitis. In: Schachner LA, Hansen RC, eds. Pediatric
Dermatology. New York: Mosby Elsewier; 2011. pp. 851–6.
20. Blume-Peytavi U, Metz M. Atopic dermatitis in children: Management of pruritus. J
Eur Acad Dermatol Venereol. 2012;26:S2–8.