Anda di halaman 1dari 8

A.

Masalah dan stressor psikososial


Hal-hal yang dapat menimbulkan gangguan keseimbangan (homeostasis)
sehingga membawa lansia kearah kerusakan / kemerosotan (deteriorisasi) yang
progresif terutama aspek psikologis yang mendadak, misalnya bingung, panik,
depresif, apatis dsb. Hal itu biasanya bersumber dari munculnya stressor psikososial
yang paling berat, misalnya kematian pasangan hidup, kematian sanak keluarga dekat,
terpaksa berurusan dengan penegak hukum, atau trauma psikis.
Ada beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa lansia.
Faktor-faktor tersebut hendaklah disikapi secara bijak sehingga para lansia dapat
menikmati hari tua mereka dengan bahagia. Adapun beberapa faktor yang dihadapi
para lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah sebagai berikut:
a. Penurunan Kondisi Fisik
b. Penurunan Fungsi dan Potensi Seksual
c. Perubahan Aspek Psikososial
d. Perubahan yang Berkaitan Dengan Pekerjaan
e. Perubahan Dalam Peran Sosial di Masyarakat
f. Penurunan Kondisi Fisik
Setelah orang memasuki masa lansia umumnya mulai dihinggapi adanya
kondisi fisik yang bersifat patologis berganda (multiple pathology), misalnya tenaga
berkurang, energi menurun, kulit makin keriput, gigi makin rontok, tulang makin
rapuh, dsb. Secara umum kondisi fisik seseorang yang sudah memasuki masa lansia
mengalami penurunan secara berlipat ganda. Hal ini semua dapat menimbulkan
gangguan atau kelainan fungsi fisik, psikologik maupun sosial, yang selanjutnya dapat
menyebabkan suatu keadaan ketergantungan kepada orang lain.
Dalam kehidupan lansia agar dapat tetap menjaga kondisi fisik yang sehat,
maka perlu menyelaraskan kebutuhan-kebutuhan fisik dengan kondisi psikologik
maupun sosial, sehingga mau tidak mau harus ada usaha untuk mengurangi kegiatan
yang bersifat memforsir fisiknya. Seorang lansia harus mampu mengatur cara
hidupnya dengan baik, misalnya makan, tidur, istirahat dan bekerja secara seimbang.
Faktor psikologis yang menyertai lansia antara lain :
a. Rasa tabu atau malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia
b. Sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi
dan budaya
c. Kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya
d. Pasangan hidup telah meninggal
B. Dukungan sosial
Supratiknya (1995) menyatakan bahwa Penerimaan diri adalah memiliki
penghargaan yang tinggi terhadap diri sendiri, atau tidak bersikap sinis terhadap diri
sendiri, penerimaan diri berkaitan dengan kerelaan membuka diri atau
mengungkapkan pikiran, perasaan, dan reaksi terhadap orang lain. Individu yang
mampu menerima dirinya adalah individu yang dapat menerima kekurangan dirinya
sebagaimana kemampuannya untuk menerima kelebihannya. Hal tersebut sesuai yang
diungkapkan oleh Kurniawan (2013) dimana kemampuan penerimaan diri yang
dimiliki seseorang berbeda-beda tingkatannya. Sebab kemampuan tersebut
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain usia, latar belakang pendidikan, pola
asuh orang tua, dan dukungan sosial.
Sarason dan Sarason (Smet, 1994) mengemukakan bahwa dukungan sosial
adalah dukungan yang didapat dari keakraban sosial (teman, keluarga, anak ataupun
orang lain) berupa pemberian informasi, nasehat verbal atau non verbal, bantuan
nyata atau tidak nyata, tindakan yang bermanfaat sosial dan efek perilaku bagi
penerima yang akan melindungi diri dari perilaku yang negatif.
C. Aspek hubungan sosial
Lilian Troll (1994, 200 dalam Santrock, 2006) menemukan bahwa lansia yang dekat
dengan keluarganya mempunyai kecenderungan lebih sedikit untuk stres dibanding
lansia yang hubungan nya jauh. Berikut adalah 3 aspek hubungan sosial pada lansia,
yaitu hubungan pertemanan (Friendship), dukungan sosial (social support) dan
integrasi sosial ( social integration)
a. Friendship
Laura Carstensen (1998) menyimpulkan bahwa orang cenderung mencari teman dekat
dibanding teman baru ketika mereka semakin tua. Penelitian membuktikan bahwa
lansia perempuan yang tidak memiliki teman baik kurang puas akan hidupnya
dibanding mempunyai teman baik.
b. Sosial Support dan Sosial Integration
Menurut penelitian, dukungan sosial dapat membantu manusia mengatasi masalahnya
secara efektif. Dukungan sosial juga dapat meningkatkan kesehatan fisik dan mental
pada lansia (Bioschop&Others, 2004 Erber, 2005; Prunchnop&Rosenbaum,2003
dalam Santrock, 2006). Dukungan sosial berhubungan dengan pengurangan gejala
penyakit dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri akan perawatan
kesehatan. Teori antonucci (1990, dalam Santrock 1999) menyimpulkan bahwa
interaksi sosial dengan orang-orang yang menyediakan dukungan sosial memberikan
pandangan yang lebih positif mengenai dirinya kepada orang-orang tua tersebut.
Dukungan sosial juga mempengaruhi kesehatan mental dari para orang tua tersebut.
Para orang tua yang mengalami depresi memiliki jaringan sosial yang kecil,
mengalami masalah dalam berintegrasi dengan anggota keluarga dalam jaringan
sosial yang mereka miliki, dan sering mengalami pengalaman kehilangan dalam hidup
mereka.
c. Integrasi Sosial
Integrasi sosial memainkan peranan yang sangat penting pada kehidupan lansia.
Kondisi kesepian terisolasi secara sosial akan menjadi faktor yang berisiko bagi
kesehatan lansia. Sebuah studi menemukan bahwa dengan menjadi bagian dari
jaringan sosial, hal ini akan berdampak pada lamanya masa hidup, terutama pada laki-
laki
D. Sikap sosial pada lansia
Pendapat klisen tentang usia lanjut mempengaruhi yang besar terhadap
sikapsosial baik terhadap usia lanjut maupun terhadap orang berusia lanjut. Dan
karena kebanyakan pendapat klise tersebut tidak menyenangkan, maka sikap sosial
tampak cenderung menjadi tidak menyenangkan. Seperti yang diungkapkan oleh
Bernett, “ Adalah sulit untuk mengungkapkan usia lanjut atau sulit juga mengunyah
daya tarik seksual dalam kondisi demikian.
Arti penting tentang sikap sosial terhadap usia lanjut yang tidak
menyenangkan mempengaruhi cara mereka memperlakukan orang usia lanjut. Sikap
sosial yang tidak menyenangkan terhadap usia lanjut, dalam kebudayaan Amerika
dewasa ini hampir bersifat universal, tetapi mereka cenderung menjadi kelompok
rasial yang kuat diantara kelompok rasial dan kelas tertentu dibanding kelompok lain
1) Lansia Mempunyai Status Kelompok Minoritas
Lansia harus memaikan peranan baru . dinegara untuk efisiensi, kekuatan,
kecepatan dan kemenarikan bentuk fisik sangat dihargai, mengakibatkan orang
usia lanjut dianggap tidak berguna lagi. Kerena mereka tidak dapat bersaing
dengan orang yang lebih mudah dalam berbagai bidang tertentu dimana kriteria
nilai sangat diperlukan dan sikapsosial terhadap mereka tidak menyenangkan.
Lansia diharapkan untuk mengurangi peran aktifnya dalam urusan
masyarakat dan sosial. Demikian juga halnya dalam dunia usaha dan
profesionalisme. Hal ini mengakibatkan pengurangan jumlah kegiatan yang dapat
dilakukan pada lansia, perubahan peran seperti sebaiknya dilakukan atas dasar
keinginan seseorang, jadi bukan atas dasar tekanan yang datang dari kelompok
sosial. Tetapi pada kenyataannnya pengurangan dan perubahan peran ini banyak
terjadi karena tekanan sosial.
2) Jenis Kegiatan Yang Mulai Dihentikan
Berhentinya seseorang dalam pekerjaan bisa terjadi secara sukarela atau
terpaksa. Dalam hal ini pengunduran diri secara suka rela, mereka menganggap
bahwa jenis kegiatan itu sudah tidak cocok dengan kebutuhan mereka. Seperti
minat terhadap orang lain berkurang sampai minat sosial mereka dibatasi oleh
kondisi keluarga yang ada sekarang. Semakin terisolir dari kegiatan sosial,
semakin tidak berkembang dan kecil kesempatan lansia untuk tetap
mempertahankan aktualisasinya. Sebagai akibatnya, mereka menjadi bosan pada
orang lain, padahal sikap seperti ini menjadikan mereka terisolir dari kegiatan
sosial.
E. Sumber Kontak Sosial
Ada sumber dalam masyarakat yang berbeda, yang dapat dimanfaatkan oleh
lansia untuk melakukan kontak sosial dimasa tuanya, yang secara garis besar dapat
dibedakan menjadi 3 sumber yang sangat dipengaruhi oleh lansia :
1. Persahabatan pribadi yang akrab
Persahabatan pribadi yang akrab dengan para anggota dari kelompok jenis
kelamin yang sama ( pria dengan wanita atau wanita dengan wanita) yang dibina
ulang sejak masa dewasa atau pada awal tahn pernikahannya, sering terhenti
apabila salah satunya mati, atau pindah tempat tinggal sehingga menjadi jauh,
dalam hal seperti ini nampaknya seorang lansia tidak mampu lagi menetapkan
jenis persahabatan lain yang semacam itu.
2. Kelompok Persahabatan
Kelompok ini terbentuk dari pasangan-pasangan yang bersatu yang dibentuk pada
waktu mereka masih muda kerena mereka mempunyai minat dan kesenangan ini
antara lain bisa berasal dari perkumpulan usaha para suami atau karena para istri
dengan keluarga mempnyai timbal balik yang sama atau dalam bentuk organisasi
masyarakat.pada saat pria sudah mulai pensiun serta kegiatan para wanita dalam
rumah tangga dan masyarakat mulai berkurang , anggota kelompok persahabatan
juga berkurang dan secara bertahap mulai menghilang.
3. Kelompok atau perkumpulan
Apabila peranan kepemimpinan dalam kelompok atau perkumpulan formal
diambil oleh anggota yang lebih muda dan apabila perencanaan kegiatan terutama
berorientasi pada minat yang lebih muda itu, orang usia lanjut tidak diperlukan
lagi dalam organisasi semacam ini dan ada kecenderungan menghentikan
keanggotaan mereka dalam perkumpulan tersebut.
F. Pelayanan sosial pada masyarakat
Pelayanan berbasis keluarga dan masyarakat sudah mulai dikembangkan,
seperti dalam pelayanan home care, ASLUT maupun JSLU. Keterlibatan masyarakat
dalam pelayanan sosial lanjut usia semakin progresif, khususnya yang digerakkan
oleh perkumpulan lanjut usia dan perkumpulan perempuan seperti PKK dan Dasa
Wisma. Partisipasi ini biasanya diwadahi dalam kegiatan Pos Yandu Lanjut Usia,
Senam dan kegiatan keagamaan. Kegiatan ini lebih banyak difasilitasi oleh lembaga
pemerintah yang menjalankan tugas pokok dan fungsi di bidang pelayanan kesehatan.
Program pelayanan sosial belum banyak memfasilitasi perkumpulan lanjut
usia di tingkat grass root yang berakar dan diinisasi oleh warga masyarakat itu sendiri.
Bahkan program seperti ASLUT dan JSLU mengembangkan LKS sendiri dan
dilengkapi dengan pendamping dalam melakukan pelayanan, dimana para
pendamping dan pengelola LKS ini lebih banyak didominasi oleh orang-orang yang
dekat dengan aparat desa, atau malahan aparat desa itu sendiri. Penyelenggara
pelayanan sosial baru memfasilitasi KOMDA lanjut usia di tingkat Propinsi,
sementara perkumpulan di akar rumput belum banyak diberdayakan. Perkumpulan
lanjut usia ini merupakan potensi dan sumber yang memiliki daya ungkit untuk men-
scaling-up program pelayanan sosial lanjut usia. Pemerintah dengan sejumlah
keterbatasannya sulit untuk menjangkau lanjut usia yang membutuhkan pelayanan.
Perkumpulan lanjut usia menjadi mitra yang strategis dalam menjalankan program
pelayanan sosial yang secara luas dapat menjangkau lebih banyak lanjut usia.
Deteksi dini kasus-kasus keterlantaran dapat dilakukan oleh komunitas,
demikian pula data yang akurat juga bisa diperloleh dari komunitas. Upaya-upaya
promotif juga bisa dilakukan oleh komunitas dengan lebih baik, misalnya melalui
gerakan hidup sehat bagi lanjut usia dan pra lanjut usia serta kegiatan rekayasa sosial
yang ramah terhadap lanjut usia.
G. Pelayanan sosial
Panti Sosial merupakan salah satu lembaga yang memberikan pelayanan sosial
bagi lansia yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Tujuan didirikannya menurut Sri
Salmah (2010:3), adalah untuk meningkatkan taraf kesejahteraan bagi lansia agar
mereka dapat menikmati hari tua dengan suasana aman, tentram, sejahtera lahir dan
batin. Upaya yang dilakukan pemerintah melalui Panti Sosial untuk mencapai tujuan
itu adalah dengan memberikan bantuan pelayanan bagi lansia agar mereka dapat
menikmati sisa hidup dengan sejahtera. Adapun bentuk-bentuk pelayanan sosial
lansia, antara lain:
1. Pelayanan Sosial Dalam Panti
2. Pelayanan Sosial Luar Panti
3. Pelayanan Sosial Perlindungan dan Aksesibilitas
4. Pelayanan Sosial Kelembagaan(Direktorat Jenderal Rehabilitasi Sosial, 2011).
H. Posyandu lansia
Upaya yang dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah dan memberdayakan
lansia yaitu bersifat promotif, preventif, curatif, dan rehabilitatif.
Upaya tersebut harus menggunakan strategi dan serta mengontrol hubungan baik
secara individu, maupun kelompok. Dapat di katakana upaya tersebut membutuhkan
kekuatan yang dinamis yang tidak saja dilakukan oleh keluarga, namun juga pihak
yang terkait seperti masa yarakat dan juga pemerintah melalui dinas terkait. Kegiatan
masyarakat dalam memberdayakan lansia, antara lain melalui Posyandu Lansia.
Posyandu lansia merupakan program yang disediakan pemerintah, khususnya Dinas
Kesehatan yang kemudian dikoordinasi oleh puskesmas pada tiap-tiap kecamatan
untuk selanjutnya dikelola dan diselenggarakan oleh organisasi atau kelompok
layanan sosial masyarakat. Pengelola dan kader-kader yang berada di kelompok
tersebut berasal dari partisipasi masyarakat. Data Dinas Kesehatan pada tahun 2013
menunjukkan Jumlah posyandu lansia yang ada di Indonesia semuanya berjumlah
71.533 yang baru tersebar di 15 provinsi, dan jumlah terbanyak berada di Provinsi
Jawa Timur yang berjumlah 52.450 program posyandu lansia.
I. Tunawisma lansia
Tunawisma pada lansia adalah orang atau lansia yang tidak mempunyai tempat
tinggal tetap dan berdasarkan berbagai alasan harus tinggal di bawah kolong
jembatan, taman umum, pinggir jalan, pinggir sungai, stasiun kereta api, atau berbagai
fasilitas umum lain untuk tidur dan menjalankan kehidupan sehari-hari. Sebagai
pembatas wilayah dan milik pribadi, tunawisma sering menggunakan lembaran
kardus, lembaran seng atau aluminium, lembaran plastik, selimut, kereta dorong pasar
swalayan, atau tenda sesuai dengan keadaan geografis dan negara tempat tunawisma
berada.Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seringkali hidup dari belas
kasihan orang lain atau bekerja sebagai pemulung.
Tunawisma pada lansia di bagi menjadi tiga, yaitu:
1) Tunawisma biasa, yaitu mereka mempunyai pekerjaan namun tidak mempunyai
tempat tinggal tetap.
2) Tunakarya, yaitu mereka yang tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mempunyai
tempat tinggal tetap.
3) Tunakarya cacat, yaitu mereka yang tidak mempunyai pekerjaan dan tidak
mempunyai tempat tinggal, juga mempunyai kekurangan jasmani dan rohani:
a. Dampak dari Tunawisma pada lansia
Salah satu penyebab mengapa tunawisma pada lansia di Permasalahkan yaitu karena
kebanyakan Para tunawisma tinggal di permukiman kumuh dan liar, menempati zona-
zona publik yang sebetulnya melanggar hukum, biasanya dengan mengontrak petak-
petak di daerah kumuh di pusat kota atau mendiami stren-stren kali sebagai pemukim
liar.
Selain itu adanya para tunawisma pun, pemandangan indah suatu kota menjadi
terganggu dan tidak tertib. Hal tersebut berhubungan dengan pekerjaan para
tunawisma seperti, menjadi pengemis, pemulung sampah, pengamen, dan lian-lain
sehingga sangat mengganggu kesejahteraan suatu kota tersebut.
b. Penanganan yang dilakukan terhadap Tunawisma pada lansia
Permasalahan tunawisma pada lansia sampai saat ini merupakan masalah yang tidak
habis-habis, karena berkaitan satu sama lain dengan aspe-aspek kehidupan. Namun
pemerintah juga tidak habis-habisnya berupaya untuk menanggulanginya. Dengan
berupaya menemukan motivasi melalui persuasi dan edukasi terhadap tunawisma
supaya mereka mengenal potensi yang ada pada dirinya, sehingga tumbuh keinginan
dan berusaha untuk hidup lebih baik.

Kebijakan yang dilakukan pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah (Pemda) selama


ini cenderung kurang menyentuh stakeholdernya, atau pihak-pihak yang terkait
dengan permasalahan dalam peraturan. Salah satu contoh penanganan Mengenai
tunawisma pada lansia yang dilakukan oleh pemda DKI Jakarta pada tahun 2007 yaitu
telah membuat Peraturan Daerah tentang ketertiban umum.

J. Keperawatan lanjut usia di masyarakat


Seseorang yang melakukan perawatan pada lansia haruslah memiliki keahlian
memahami bahwa manusia adalah unik terlebih lagi lansia. Merawat lansia bukanlah
hal mudah seperti halnya merawat bayi dan anak-anak. Mereka membutuhkan
perhatian khusus dan perawatan yang tepat. Mereka juga rentan terhadap kecelakaan
seperti jatuh, salah meminum obat dan lain-lain. Beberapa lansia di Indonesia tak
jarang luput dari perhatian keluarga di rumah. Sementara di sisi lain beberapa
lembaga seperti rumah jompo dan pusat rehabilitasi tak mampu lagi menampung
lansia.
Perawat dalam menangani masalah lansia akan berperan sebagai Care
Giver/Pemberi Asuhan kepada lansia yaitu tindakan pengkajian, perencanaan tidakan,
pelaksanaan, dan evaluasi perawatan individu dan perawatan secara menyeluruh
sesuai dengan wewenang keperawatan. Salah satu wewenang perawat dalam
memberikan perawatan lansia adalah menyediakan fasilitas Long-Term Care (LTC)
yang di mana perawata mampu memberi bantuan untuk melakukan aktivitas sehari-
hari (ADL), misalnya berjalan, bangun dari kursi, mandi, sikat gigi, berpakaian,
buang air, makan, dan lain-lain.
Selain itu, dalam LTC perawat juga mampu memberikan dukungan psikologis
kepada lansia masalah yang juga sering dialami oleh lansia yaitu kurangnya dukungan
psikologis dari lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar. Perawat akan memenuhi
kenyamanan lansia, mempertahankan fungsi tubuh, serta membantu lansia
menghadapi kematian dengan tenang dan damai melalui ilmu dan teknik keperawatan
pada lansia (Maryam, 2008).
Selain dukungan psikologis, perawat juga mampu memberikan dukungan secara
spiritual dengan baik (Atapada, huriah, & pratama, 2016). Semua bentuk pelayanan
holistik ini merupakan peran perawat sebagai Care giver. Seorang Care giver harus
mampu mengelola kesejahteraan fisik, mental, emosional, spiritual, dan sosial pasien
terlebih lagi para lansia. Tugas pokok care giver adalah untuk memastikan bahwa
pasien sedang dalam keadaan baik tanpa memandang suku, bangsa, agama, status, ras,
dan sejenisnya.