Anda di halaman 1dari 77

RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT

PEKERJAAN PEMBANGUNAN AREA PARKIR KENDARAAN


DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

RKS STRUKTUR
RKS ARSITEKTUR
RKS MEKANIKAL ELEKTRIKAL

DISUSUN OLEH:

TIM PERENCANA ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

BOGOR
TAHUN ANGGARAN 2018
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

BAB 1
SYARAT-SYARAT TEKNIS YANG BERSIFAT UMUM

PASAL 1
KETENTUAN UMUM
1. Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan dengan baik dan benar serta penuh dengan
tanggung jawab dan teliti sesuai dengan ketentuan Kontrak;
2. Seluruh cara dan prosedur yang diikuti, termasuk semua pekerjaan sementara yang
akan dilaksanakan, semuanya harus mendapat persetujuan dari Pengawas Lapangan.
3. Dalam pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus mentaati peraturan-peraturan
pemerintah dan peraturan daerah yang berlaku yang berhubungan dengan pekerjaan
ini.

PASAL 2
LOKASI DAN LINGKUP PEKERJAAN
1. Lokasi pekerjaan yang akan dilaksanakan adalah di Istana Kepresidenan Bogor.
2. Lingkup pekerjaan dimaksud adalah Pekerjaan Pembangunan Area Parkir Kendaraan
di Istana Kepresidenan Bogor.

PASAL 3
RENCANA KERJA
1. Selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sejak tanggal Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK),
Kontraktor harus menyerahkan kepada Direksi untuk mendapat persetujuannya antara
lain:
a. Rencana kerja atau jadwal waktu pelaksanaan dalam bentuk Bar Chart atau
kurva S yang lengkap dan terperinci, meliputi seluruh pekerjaan seperti dimaksud
dalam Dokumen Kontrak.
b. Keterangan lengkap mengenai organisasi dan personalia yang akan
melaksanakan tugas pekerjaan.
c. Jadwal pengerahan tenaga kerja.
d. Jadwal penyediaan bahan bangunan dan peralatan serta perlengkapan lainnya.
2. Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan sesuai dengan rencana kerja yang telah
diajukan tersebut di atas. Kelalaian dalam menyerahkan rencana kerja tersebut di atas,
dapat menyebabkan ditundanya permulaan pekerjaan. Akibat dari penundaan
pekerjaan ini menjadi tanggung jawab Kontraktor.

[Date] 1
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

PASAL 4
TANGGUNG JAWAB KONTRAKTOR TERHADAP PEKERJAAN
1. Semua pelaksanaan pekerjaan harus mendapat persetujuan dari Pengawas Lapangan,
tidak berarti bahwa Kontraktor melepaskan tanggung jawab yang tercantum dalam
Kontrak.
2. Tanah tempat pekerjaan dalam keadaan pada waktu penawaran termasuk segala
sesuatu yang berada dalam batas-batas yang ditentukan, diserahkan tanggung jawab
kepada Kontraktor. Namun demikian, semua benda yang ditemukan di Lapangan
tersebut, tetap menjadi milik Pemberi Tugas (Bouwheer/Owner).
3. Kontraktor harus mengisi /menimbun kembali semua lobang-lobang dan bekas
galian-galian yang dibuatnya setelah selesai pekerjaan atau tidak diperlukan lagi
untuk pekerjaan, serta harus bersih dari segala sampah/kotoran dan bahan-bahan yang
tidak diperlukan lagi.
4. Pemberi Tugas maupun Pengawas Lapangan berhak untuk mengadakan inspeksi
kesetiap bagian pekerjaan, termasuk apabila pekerjaan tersebut dikerjakan di bengkel
Kontraktor atau Sub Kontraktor. Dalam hal ini Kontraktor harus memberi informasi,
bantuan dan fasilitas lain yang diperlukan dalam pemeriksaan secara teliti dan
lengkap.
5. Kontraktor bertanggung jawab terhadap ketertiban pekerja serta kendaraan-
kendaraannya dan bersedia memelihara atau memperbaiki segala kerusakan-
kerusakan yang mungkin terjadi, baik di dalam lokasi proyek maupun di luarnya,
sehingga kembali seperti semula.
6. Pada waktu penyerahan pertama, seluruh pekerjaan harus diserahkan dalam keadaan
sempurna/selesai, termasuk pembongkaran pekerjaan-pekerjaan sementara,
pembersihan halaman dan sekitarnya sesuai dengan keinginan Pengawas Lapangan.

PASAL 5
SETTING OUT
1. Untuk menentukan posisi dan ketinggian bangunan di lapangan, Kontraktor harus
melakukan pengukuran di lapangan secara teliti dan benar sesuai dengan referensi
benchmark atau titik tetap di lapangan seperti ditunjukkan dalam gambar atau atas
petunjuk Pengawas Lapangan.
2. Pengukuran untuk penentuan posisi dilakukan dengan peralatan yang mempunyai
presisi tinggi dengan metode triangulasi dan hasilnya disampaikan ke Pengawas
Lapangan untuk mendapatkan persetujuan.
3. Dalam hal terdapat perbedaan antara rencana dalam gambar dengan hasil pengukuran
yang dilaksanakan Kontraktor di lapangan, maka sebelum melanjutkan pekerjaan
yang mungkin dipengaruhi perbedaan tersebut, Kontraktor harus melaporkan hal ini
kepada Pengawas Lapangan untuk mendapatkan keputusan dan dinyatakan dalam
Berita Acara.

[Date] 2
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

4. Keputusan akan hasil pengukuran oleh Kontraktor akan didasarkan atas keamanan
konstruksi dan kelancaran operasional.

PASAL 6
DAERAH KERJA DAN JALAN MASUK
1. Kontraktor akan diberikan daerah kerja untuk pelaksanaan pekerjaan ini. Lokasi
tersebut dapat diperoleh dengan cara dipinjamkan berdasarkan ketentuan yang
berlaku dan harus membatasi operasinya di lapangan yang betul-betul diperlukan
untuk pekerjaan tersebut.
2. Tata letak yang meliputi jalan masuk, lokasi penyimpanan bahan bangunan dan jalur
pengangkutan material dibuat oleh Kontraktor dengan persetujuan Pengawas
Lapangan.

PASAL 7
MATERIAL
1. Material yang akan dipakai dalam pekerjaan-pekerjaan ini diutamakan produksi
dalam negeri yang memenuhi persyaratan yang ditentukan.
2. Jika Kontraktor mengajukan bahan lain yang akan digunakan selain yang disyaratkan,
maka mutunya minimal harus sama dengan yang disyaratkan dalam dokumen lelang.
Sebelum pemesanan bahan harus diberitahukan pada Pengawas Lapangan yang
meliputi jenis, kualitas dan kuantitas bahan yang dipesan untuk mendapat
persetujuan.
3. Penumpukan material harus pada tempat yang baik agar mutu dari material dapat
terjaga.

PASAL 8
KODE, STANDAR, SERTIFIKAT DAN LITERATUR DARI PABRIK
Kontraktor harus menyediakan di lapangan antara lain foto copy persyaratan, standar
bahan, katalog, rekomendasi dan sertifikat serta informasi lainnya yang diperlukan untuk
semua material yang digunakan dalam proyek ini serta petunjuk pemasangan barang-
barang tersebut harus mengikuti prosedur yang direkomendasikan oleh pabrikan.

PASAL 9
LALU LINTAS
Dalam melaksanakan pekerjaan dan pengangkutan bahan-bahan untuk keperluan
pekerjaan, Kontraktor harus berhati-hati sedemikian sehingga tidak mengganggu
kelancaran operasional atau menimbulkan kerusakan terhadap jalan yang telah ada dan
prasarana lainnya. Bila terjadi kerusakan, Kontraktor berkewajiban untuk
memperbaiki/mengganti.

[Date] 3
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

PASAL 10
CUACA
Pekerjaan harus diberhentikan apabila cuaca tidak mengizinkan yang mengakibatkan
penurunan mutu suatu pekerjaan.

PASAL 11
SHOP DRAWING DAN AS BUILT DRAWING
1. Shop Drawing
Shop drawing adalah gambar-gambar, daftar bengkokan besi, diagram-diagram,
daftar elemen bangunan dan detail gambar, yang disiapkan oleh Kontraktor yang
memberikan penjelasan pekerjaan pembangunan dengan sebaik-baiknya. Kontraktor
tidak dapat menuntut akan kerusakan atau perpanjangan waktu karena keterlambatan
sebagai akibat perbaikan Gambar Kerja. Kontraktor bertanggung jawab akan adanya
kesalahan yang terdapat dalam shop drawing tersebut.
2. As Built Drawing
Apabila terdapat perbedaan antara gambar-gambar dengan pelaksanaan pekerjaan
(atas persetujuan Pengawas Pekerjaan Lapangan), maka segera setelah pelaksanaan
bagian pekerjaan tersebut harus membuat as built drawing. Setelah seluruh pekerjaan
selesai dilaksanakan, Kontraktor diwajibkan membuat gambar-gambar dari seluruh
pekerjaan termasuk perubahan-perubahan yang dilaksanakan di lapangan. Gambar-
gambar as built drawing dibuat dengan menggunakan software Auto Cad dan dicetak
rangkap 4 (empat) serta file as built drawing diserahkan kepada Pengawas pekerjaan.

PASAL 12
LAPORAN PEKERJAAN DAN FOTO-FOTO
1. Laporan Pekerjaan
a. Kontraktor diwajibkan melaksanakan pekerjaannya sesuai dengan rencana,
perubahan-perubahan yang mungkin terjadi harus mendapat persetujuan terlebih
dahulu dari Pemberi Tugas.
b. Kontraktor harus membuat laporan harian, mingguan dan bulanan.
c. Di dalam laporan harian harus tercantum keadaan cuaca, bahan yang masuk,
jumlah pekerja/karyawan, catatan-catatan tentang perintah-perintah dari Pemberi
Tugas/Direksi atau wakilnya dan hal-hal lain yang dianggap perlu.
d. Jumlah pekerja setiap hari dicatat menurut golongan dan upah. Daftar pekerja ini
setiap waktu dapat diperiksa oleh Pemberi Tugas, dan ia berhak mengadakan
penelitian tentang produktivitas pekerjaan tersebut. Setiap akhir pekan
Kontraktor harus menyampaikan laporan mingguan kepada Pemberi Tugas
tentang kemajuan pekerjaan dalam minggu yang bersangkutan, meliputi

[Date] 4
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

persediaan bahan di tempat proyek, penambahan, pengurangan atau perubahan


pekerjaan, jumlah/macam dan harga satuan bahan-bahan yang masuk dan
kejadian-kejadian penting lainnya yang terjadi dalam proyek yang
mempengaruhi pelaksanaan proyek.
e. Setiap akhir bulan, Kontraktor harus melaporkan kemajuan pekerjaan secara
terperinci dan besarnya persentase terhadap keseluruhan/bagian, disamping
dokumentasi foto berwarna ukuran postcard yang menunjukkan kemajuan
pekerjaan beserta peralatan yang dipakai dan lain-lain foto ditempel pada album
dengan keterangan-keterangan serta tanggal gambar-gambar diambil. Kontraktor
harus mengirimkannya kepada Pemberi Tugas sebanyak 3 (tiga) set album atas
biaya kontraktor.
2. Foto-Foto
Kontraktor diharuskan mengadakan pengambilan foto di lapangan, yang berkenaan
dengan kemajuan tahap pekerjaan, detail-detail yang akan ditutup, adanya bencana
dan sebagainya. Hasil cetakan foto tersebut harus disampaikan pada Pengawas
Lapangan sebanyak 3 (tiga) set atas biaya Kontraktor.

[Date] 5
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

BAB 2
SYARAT-SYARAT TEKNIS YANG BERSIFAT KHUSUS

PASAL 1
LINGKUP PEKERJAAN
1. Pekerjaan Pembangunan Area Parkir Kendaraan di Istana Kepresidenan Bogor
meliputi pekerjaan:
a. Pekerjaan Persiapan, Pembersihan Lapangan dan Administrasi
b. Pekerjaan Bongkaran
c. Pekerjaan Tanah Dan Pasir
d. Pekerjaan Struktur Beton
e. Pekerjaan Struktur Baja
f. Pekerjaan Atap
g. Pekerjaan Saluran dan Instalasi Air
h. Pekerjaan Lainnya
2. Persyaratan yang disebutkan berikut ini akan berlaku secara umum untuk semua
pekerjaan, kecuali untuk pekerjaan-pekerjaan yang disyaratkan secara khusus.

PASAL 2
PEKERJAAN PERSIAPAN, PEMBERSIHAN LAPANGAN DAN ADMINISTRASI
1. Survey Lokasi
a. Survey lokasi merupakan kegiatan yang sama-sama dilakukan oleh Pemberi
Tugas, Pengawas Lapangan dengan Kontraktor untuk melihat kondisi lapangan
dan mencari kesesuaian antara rancangan asli yang ditunjukkan gambar dengan
kebutuhan aktual lapangan.
b. Kontraktor harus menyediakan peralatan untuk melakukan survey lokasi dan
melakukan pengukuran awal di lapangan.
2. Peralatan Kerja dan Mobilisasi
a. Kontraktor harus mempersiapkan dan mengadakan peralatan kerja dan peralatan
bantu yang akan digunakan dilokasi proyek sesuai dengan lingkup pekerjaan
serta memperhitungkan segala biaya pengangkutan.
b. Kontraktor harus menjaga ketertiban dan kelancaran selama perjalanan alat-alat
berat yang menggunakan jalanan umum agar tidak mengganggu lalu lintas.
c. Pemberi Tugas/Pengawas Lapangan berhak memerintahkan untuk menambah
peralatan atau menolak peralatan yang tidak sesuai atau tidak memenuhi
peralatan.

[Date] 6
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

d. Bila pekerjaan telah selesai, Kontraktor diwajibkan untuk segera menyingkirkan


alat-alat tersebut, memperbaiki kerusakan yang di akibatkannya dan
membersihkan bekas-bekasnya.
3. Patok-Patok Referensi, Bowplank dan Pengukuran
a. Pengawas Lapangan akan menetapkan 2 (dua) benchmark sebagai referensi
yang ditetapkan di lapangan. Bila benchmark belum ada, maka Kontraktor
berkewajiban membuat benchmark sesuai petunjuk Pengawas Lapangan.
b. Kontraktor harus/wajib membuat bouwplank dan memasang patok-patok
pembantu, sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan untuk menjamin ketelitian,
bentuk, posisi, arah elevasi dan lain-lain, yang harus dipelihara keutuhan
letak dan ketinggiannya selama pekerjaan berlangsung
c. Sebelum pekerjaan dimulai, patok-patok pembantu, bouwplank harus disetujui
Pengawas Lapangan. Patok-patok dan referensi lainnya tidak boleh disingkirkan
sebelum diperintahkan oleh Pengawas Lapangan.
4. Izin-Izin
Kontraktor harus mengurus dan memperhitungkan biaya untuk membuat izin-izn
yang diperlukan dan berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan, antara lain: izin
penerangan/listrik, izin pengambilan material, izin pembuangan, izin pemakaian
jalan, izin penggunaan bangunan serta izin-izin lain yang diperlukan sesuai dengan
ketentuan/peraturan daerah setempat.
5. Penjelasan RKS dan Gambar
a. Untuk melaksanakan Pekerjaan ini, berlaku dan mengikat pula : Gambar Kerja
yang dibuat oleh Konsultan Perencana dan disahkan oleh Pemberi Tugas
termasuk pula Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing) yang diselesaikan
oleh Kontraktor dan sudah disahkan dan disetujui oleh Konsultan Pengawas
maupun Direksi.
b. Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS), Gambar dan Berita Acara
Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing).
c. Berita Acara Penunjukan.
d. Surat Keputusan tentang Penunjukan Kontraktor.
e. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).
f. Jadwal Pelaksanaan (Tentative Time Schedule) yang telah disetujui oleh
Konsultan Pengawas/Direksi, dan Kontraktor wajib meneliti semua gambar
kerja, Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS); termasuk tambahan dan
perubahannya dalam Berita Acara Penjelasan Pekerjaan yang dibantu Konsultan
Pengawas/Direksi.
6. Perbedaan Gambar
a. Bila Gambar Kerja tidak sesuai dengan Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS),
maka yang mengikat/berlaku adalah Gambar.

[Date] 7
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

b. Bila suatu Gambar tidak cocok dengan Gambar yang lain dalam satu disiplin
kerja, maka gambar yang mempunyai skala yang lebih besar yang
berlaku/mengikat.
c. Bila ada perbedaan antara Gambar Kerja Arsitektur dengan Struktur, maka yang
berlaku/mengikat adalah Gambar Kerja Arsitektur sepanjang tidak mengurangi
segi Konstruksi.
7. Gambar Detail Pelaksanaan (Shop Drawing)
a. Gambar Detail Pelaksanaan atau Shop Drawing adalah Gambar Kerja yang
wajib dibuat Kontraktor berdasarkan Gambar Kerja Dokumen yang telah
disesuaikan dengan keadaan lapangan.
b. Kontraktor wajib membuat Shop Drawing untuk detail-detail khusus yang
belum tercakup lengkap dalam Gambar Kerja Dokumen, maupun yang diminta
oleh Konsultan Pengawas/Direksi dan/atau Konsultan Perencana.
c. Dalam Shop Drawing ini harus dicantum Konsultan Pengawas/Direksi dan
digambarkan semua data yang diperlukan termasuk pengajuan contoh jadi
dari semua bahan, keterangan produk, cara pemasangan dan/atau spesifikasi/
persyaratan khusus sesuai dengan spesifikasi pabrik yang belum tercakup secara
lengkap didalam Gambar Kerja Dokumen maupun Rencana Kerja dan Syarat-
syarat (RKS).
d. Kontraktor wajib mengajukan Shop Drawing kepada Konsultan
Pengawas/Direksi dan Konsultan Perencana untuk mendapatkan persetujuan
tertulis bagi pelaksanaan.
e. Kontraktor tidak dibenarkan mengubah atau mengganti ukuran-ukuran
yang tercantum didalam Gambar Kerja Dokumen tanpa sepengetahuan
Konsultan Pengawas/Direksi.
f. Segala akibat yang terjadi adalah tanggung jawab Kontraktor, baik dari segi
biaya maupun waktu pelaksanaan.
8. Jadwal Pelaksanaan
Sebelum mulai pelaksanaan pekerjaan di lapangan, Kontraktor wajib membuat
rencana kerja pelaksanaan dan bagian-bagian pekerjaan berupa Bar Chart dan Kurva
S, Bahan dan Tenaga, dan mengkoordinasikan hasilnya kepada Konsultan
Pengawas/Direksi sehingga pelaksanaan pekerjaan terkendali dan tidak mengganggu
kelancaran proyek secara keseluruhan dan kelancaran kegiatan di sekitar lokasi
pekerjaan.

PASAL 3
PEKERJAAN BONGKARAN
1. Kontraktor wajib melakukan pekerjaan pembongkaran secara rapih dan seminimal
mungkin timbul kerusakan pada material dari bangunan eksisting yang dibongkar
seperti rangka kolom, rangka atap, dan paving block.

[Date] 8
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

2. Untuk pembongkaran pohon-pohon dapat dilakukan dengan penebangan pohon yang


kemudian dibuang keluar area proyek.
3. Semua material hasil pembongkaran rapih harus diserahkan kepada Pemberi Tugas dan
disusun rapih di tempat penyimpanan material sesuai rekomendasi Pemberi Tugas.
4. Semua material hasil pembongkaran harus disimpan dan lindungi dari paparan air
hujan dan cuaca.

PASAL 4
PEKERJAAN TANAH
1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi pelaksanaan galian dan urugan tanah serta urugan pasir
dengan penyelesaian dan pembentukan galian atau urugannya harus mengikuti
kemiringan/elevasi dan ukuran-ukuran sesuai gambar rencana.
b. Pekerjaan tanah halaman dan tanah untuk struktur. Pekerjaan ini meliputi
pekerjaan pengupasan (stripping) dan perataan (grading) tanah pada daerah/area
yang diatasnya akan didirikan bangunan, jalan dan perkerasan.
2. Pekerjaan Penggalian
a. Pekerjaan ini meliputi penggalian tanah untuk pondasi dan tie beam seperti
tercantum dalam Gambar Kerja. Galian tanah dilaksanakan untuk pembuatan
lubang pondasi, lubang tie beam, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang menurut
kondisinya memerlukan adanya galian tanah.
b. Galian tanah dilaksanakan setelah Kontraktor bersama-sama Pengawas Lapangan
menetapkan as-as + elevasi yang akan dilakukan galian pada papan bouwplank.
3. Pekerjaan Pengurugan
Pekerjaan ini meliputi pengurugan dan pemadatan tanah untuk penimbunan galian
tanah dalam rangka pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Pengurugan tanah untuk
peninggian lantai dan lain-lain seperti tercantum dalam Gambar Kerja.
4. Pekerjaan Pemadatan
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan memadatkan kembali tanah yang selesai diurug
dalam rangka pelaksanaan pekerjaan konstruksi dan peninggian untuk pembentukan
tanah/peninggian lantai.
5. Pekerjaan Pembentukan Muka Tanah
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan pembentukan tanah dimana bangunan akan didirikan
dan tanah disekitarnya sesuai dengan ketinggian atau kedalaman seperti tercantum
dalam Gambar Kerja.
6. Persyaratan Bahan
a. Tanah
1) Tanah dari dalam tapak atau tanah dari luar tapak; dan

[Date] 9
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

2) Tanah untuk pengurugan, pemadatan, dan pembentukan muka tanah harus


tanah asli bukan tanah humus, bebas dari kapur, bekas bongkaran, lumpur
maupun unsur-unsur lain yang dapat mengurangi kualitas pekerjaan.
b. Alat pelaksanaan pekerjaan untuk pembongkaran, penggalian, pengurugan dan
pemadatan.
c. Pekerjaan Penggalian
1) Tanah humus digali dan dipisahkan dari lapisan tanah dibawahnya.
Pengupasan (stripping) dengan kedalaman rata-rata 10 cm dan akan
digunakan sebagai lapisan penutup untuk urugan tanah subur atau sekeliling
bangunan atau ditempatkan langsung berdekatan fungsi tersebut;
2) Sisa tanah humus harus diambil dan dibuang keluar halaman. Pembuangan
dan pengangkutan adalah menjadi tanggung jawab Kontraktor. Biaya
apapun untuk pembuangan dan pengangkutan dianggap sudah termasuk
dalam seluruh kontrak;
3) Semua penggalian harus dikerjakan sesuai dengan panjang, kedalaman,
kemiringan dan lingkungan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan
seperti dinyatakan dalam gambar.
4) Persetujuan terhadap tempat pengambilan tanah untuk memenuhi keperluan
pengurugan seluruhnya harus dari kualitas yang sama dan hanya dapat
dipakai jika ada persetujuan dari Konsultan Pengawas/Direksi terlebih
dahulu.
5) Galian tanah dilaksanakan untuk semua galian pondasi dan semua pasangan
lainnya di bawah tanah seperti sloof dan lainnya harus dilakukan sesuai
rencana gambar.

PASAL 5
PEKERJAAN KONSTRUKSI BETON
1. Umum
a. Semua bahan-bahan yang akan dipakai dalam pejkerjaan ini harus
memenuhi ketentuan-ketentuan umum yang berlaku di Indonesia.
b. Kode-kode dan standar-standar berikut harus diperhatikan:
Standart Nasional Indonesia:
SNI 1726-2012 : Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur
Bangunan dan Non Gedung
SNI 1727-2013 : Beban minimum untuk perancangan bangunan gedung dan
struktur lain
SNI 2847-2013: Persyaratatan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung
c. Dalam pekerjaan ini beton yang digunakan adalah beton siap pakai atau
Readymix Concrete, diproduksi oleh Produsen Pioneer/Adimix/Holcim atau
yang setaranya dengan mutu beton K-350 dan K-500. Pelaksana pekerjaan tidak

[Date] 10
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

dibenarkan mencampur beton di lapangan kecuali untuk pekerjaan beton yang


dipersyaratkan (Sitemix).
Pekerjaan Beton ini dilaksanakan pada :
1) Pekerjaan Strauss Pile dengan mutu K-500;
2) Pekerjaan Pondasi Pile Cap dengan mutu K-350;
3) Pekerjaan Plat Lantai Dasar, Plat Lantai 1 dan Plat Lantai Ramp dengan
mutu K-350;
4) Pekerjaan Balok Lantai dan Ramp dengan mutu K-350; dan
5) Pekerjaan Kolom Pedestal dengan mutu K-350.
d. Baja Tulangan harus memenuhi syarat berikut:
1) Besi Tulangan yang direkomendasikan untuk digunakan adalah yang
diproduksi oleh Produsen Delco Prima (DP), Interworld Steel (IS), Master
Steel (MS) atau yang setaranya;
2) Besi untuk tulangan beton yang akan digunakan dalam pekerjaan ini adalah
baja dengan mutu U-24 dan mutu U-37 (minimum yield-strees 3700 kg/cm2)
dengan diameter seperti ditetapkan dalam Gambar Kerja;
3) Untuk baja tulangan dengan diameter lebih besar dari 16 mm harus dari
jenis baja ulir (deformed bar), sedangkan untuk diameter yang lebih kecil
dapat dipakai baja polos;
4) Setiap pengiriman sejumlah besi tulangan ke lokasi proyek harus dalam
keadaan baru dan disertai dengan sertifikat dari pabrik pembuat, dan bila
Pengawas Lapangan memandang perlu, contoh akan diuji di lab atas
beban Kontraktor. Jumlah akan ditentukan kemudian sesuai kebutuhan;
5) Penyimpanan atau penumpukan harus sedemikian rupa sehingga baja
tulangan terhindat dari pengotoran-pengotoran, minyak, udara lembab
lingkungan yang dapat mempengaruhi atau mengakibatkan baja berkarat,
dan lain-lain pengaruh luar yang mempengaruhi mutunya, terlindung atau
ditutup dengan terpal-terpal sebelum dan setelah pembengkokan. Baja
tulangan ditumpuk di atas balok-balok kayu agar tidak
langsung berhubungan dengan tanah.
2. Bekisting
a. Bahan bekisting untuk pekerjaan ini dapat menggunakan bekisting dari kayu
dan plywood untuk pekerjaan beton bertulang seperti yang tertera dalam gambar.
b. Untuk mendapatkan bentuk penampang, ukuran beton seperti dalam gambar
konstruksi bekisting harus dikerjakan dengan baik, lurus, rata, teliti dan kokoh.
c. Pekerjaan bekisting harus sedemikian rupa hingga bekisting terjamin rapat dan
adukan tidak merembes keluar.
d. Sebelum pengecoran dimulai, bagian dalam dari bekisting harus bersih dari
kotoran serta tidak ada genangan air yang mengakibatkan turunnya mutu beton.

[Date] 11
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

Untuk menjamin bahwa bagian dalam bekisting benar-benar bersih dan tidak ada
genangan air dapat digunakan kompressor.
e. Finishing beton bertulang dalam arti penambalan-penambalan sejauh mungkin
dihindari dan bila terpaksa dilakukan, harus dilakukan sesuai petunjuk Pengawas
Lapangan.
3. Tulangan
a. Gambar rencana kerja untuk baja tulangan, meliputi rencana pemotongan,
pembengkokan, sambungan, penghentian, diajukan oleh Kontraktor kepada
Pengawas Lapangan untuk mendapatkan persetujuan terlebih dahulu sebelum
pelaksanaan. Semua detail harus memenuhi persyaratan seperti yang
dicantumkan dalam Gambar Kerja dan syarat-syarat yang harus diikuti menurut
Peraturan beton Bertulang Indonesia berdasarkan SNI 2847-2013.
b. Diameter-diameter pengenal harus sama seperti persyaratan dalam Gambar Kerja
dan bila mana diameter tersebut akan diganti maka jumlah luas tulangan
persatuan lebar beton minimal harus sama dengan luas penampang rencana
semula dan persyaratan jarak minimal antara tulangan menurut Peraturan beton
Bertulang Indonesia berdasarkan SNI 2847-2013 dipenuhi. Sebelum melakukan
perubahan-perubahan, Kontraktor harus mendapat persetujuan terlebih dahulu
dari Pengawas Lapangan.
c. Semua pembengkokan tulangan harus dilakukan sebelum penyetelan atau
penempatan. Tidak diperkenankan membengkokkan tulangan bila sudah
ditempatkan kecuali apabila hal ini terpaksa dan mendapat persetujuan Pengawas
Lapangan.
d. Penulangan baja sebelum ditempatkan, keseluruhan harus dibersihkan dari karat
yang lepas dari flaky, millscale, lapisan atau bahan lain yang dapat
menghancurkan atau mengurangi pelekatan dengan beton.
e. Tebal selimut beton untuk memberi perlindungan pada baja tulangan harus sesuai
dengan gambar rencana.
f. Tulangan harus ditempatkan dengan teliti pada posisi sesuai rencana dan harus
dijaga jarak antara tulangan dan bekisting untuk mendapatkan tebal selimut beton
(beton deking) minimal sesuai persyaratan. Untuk itu Kontraktor harus
mempergunakan penyekat (spacer), dudukan (chairs) dari balok-balok dengan
mutu minimal sama dengan beton yang bersangkutan. Semua tulangan harus
diikat dengan baik dan kokoh sehingga dijamin tidak bergeser pada waktu
pengecoran. Kawat pengikat yang berlebihan harus dibengkokkan ke arah dalam
beton.
g. Sebelum melakukan pengecoran, semua tulangan harus terlebih dahulu diperiksa
untuk memastikan jumlah dan ukurannya, ketelitian untuk penempatan
nya, kebersihan, dan untuk mendapatkan perbaikan bilamana perlu. Tulang yang
berkarat harus dibersihkan atau diganti bilamana dianggap Pengawas Lapangan

[Date] 12
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

akan merugikan atau melemahkan konstruksi. Pengecoran tidak diperkenankan


apabila belum diperiksa dan disetujui secara tertulis oleh Pengawas Lapangan.
h. Khusus untuk selimut beton, dudukkan harus cukup kuat dan jaraknya
sedemikian sehingga tulangan tidak melengkung dan beton penutup tidak kurang
dari yang disyaratkan. Toleransi yang diperkenankan untuk penyimpangan
atau deviasi terhadap bidang horizontal atau vertikal adalah 5 mm.
i. Tidak ada bagian logam/tulangan atau alat digunakan untuk menyambungkan
atau untuk menjaga penulangan dalam posisi yang sebenarnya akan dibiarkan
tetap diantara selimut beton yang telah ditentukan.
j. Untuk semua tulangan kecuali sengkang harus merupakan tulangan ulir tidak
diperkenankan tulangan polos.
4. Pengecoran Beton
a. Pekerjaan pengecoran beton harus dilaksanakan sekaligus dan harus dihindarkan
penghentian pengecoran (cold joint) kecuali bila sudah diperhitungkan pada
tempat-tempat yang aman dan sebelumnya sudah mendapat persetujuan
Pengawas Lapangan. Kontraktor harus sudah mempersiapkan segala sesuatunya
untuk pengamanan pelindung dan lain-lain yang dapat menjamin kontinuitas
pengecoran.
b. Untuk mendapatkan campuran beton yang baik dan merata, Kontraktor harus
memakai beton siap pakai/Readymix Concrete yang mempunyai kapasitas yang
cukup untuk melayani volume pekerjaan yang direncanakan.
c. Bilamana perlu Kontraktor diperkenankan untuk menggunakan concrete pump,
gerobak-gerobak dorong untuk mengangkut adukan ke tempat yang akan di cor.
pengangkutan beton tidak diperkenankan dengan menggunakan ember-ember.
d. Sebelum pengecoran dimulai, semua peralatan, material, serta tenaga yang
diperlukan sudah harus siap dan cukup untuk suatu tahap pengecoran sesuai
dengan rencana yang sebelumnya disetujui Pengawas Lapangan. Tulangan,
jarak, bekisting dan lain-lain, harus dijaga dengan baik sebelum dan selama
pelaksanaan pengecoran.
e. Segera setelah beton dituangkan ke dalam bekisting, adukan harus dipadatkan
dengan concrete vibrator yang kemampuannya harus mencukupi. Penggetaran
harus dijaga sedemikian agar tidak terjadi pemisahan (segresi) antara komponen
adukan beton. Penggetaran dengan concrete vibrator dapat dibantu dengan
perojokan, apabila dengan concrete vibrator tidak mungkin dilakukan dan harus
mendapatkan persetujuan dari Pengawas Lapangan terlebih dahulu.
f. Vibrator-vibrator internal berfrekuensi tinggi pada masing-masing tipe
pneumatic elektrik ataupun hidrolik harus digunakan untuk pemadatan beton
dalam seluruh kedudukan. Vibrator-vibartor tersebut harus dari jenis
yang disetujui oleh Pengawas Lapangan dengan frekuensi minimum
7000 getaran per menit dan harus mampu mempengaruhi campuran secara tepat

[Date] 13
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

dan memiliki 25 mm slump jarak sekurang-kurangnya 500 mm dari vibrator


tersebut. Vibrator tidak boleh mengenai cetakan, tulangan baja dan juga tidak
boleh digunakan untuk mengalir kan beton atau menyemprotkannya
kedalam tempatnya. Vibrator tidak boleh terlalu lama ditempatkan
di suatu tempat yang dapat menyebabkan pemisahan beton tersebut.
g. Penuangan beton melebihi ketinggian lebih dari 1,5 meter atau pengendapan
yang terlalu banyak pada suatu titik atau menariknya sepanjang cetakan tidak
diperkenankan.
h. Pengecoran harus menerus dan hanya boleh berhenti di tempat-tempat yang
diperhitungkan aman dan telah direncanakan terlebih dahulu dan sebelumnya
mendapatkan persetujuan dari Pengawas Lapangan. Penghentian maksimum 2
jam. Untuk menyambung pengecoran-pengecoran sebelumnya harus dibersihkan
permukaannya dan dibuat kasar agar sempurna sambungannya dan sebelum
adukan beton dituangkan, permukaan yang akan disambung harus disiram
dengan air semen dengan campuran semen dan air adalah 1:0,5. Untuk
penghentian pengecoran lebih dari 5 jam, bidang yang akan disambung/dicor
harus terlebih dahulu dioles dengan additive/epoxy resin.
i. Segera setelah pengecoran selesai, selama waktu pengerasan, beton
harus dirawat/ dilindungi dengan cara menggenanginya dengan air bersih
atau ditutup dengan karung-karung yang senantiasa dibasahi dengan air terus-
menerus selama paling tidak 10 hari setelah pengecoran.
j. Apabila cuaca meragukan, sedangkan Pengawas Lapangan tetap menghendaki
agar pengecoran tetap harus berlangsung, maka pihak Kontraktor diwajibkan
menyediakan alat pelindung seperti terpal yang cukup untuk melindungi tempat
atau bagian yang sudah maupun yang akan di cor. Pengecoran tidak diijinkan
selama hujan lebat atau ketika suhu udara naik di atas 320C.
k. Untuk setiap jumlah 5 m3 pengecoran, Kontraktor diwajibkan mengambil
contoh (sample) untuk pemeriksaan kekuatan tekan silinder, pemeriksaan slump
test, dengan prosedur sebagaimana ditentukan dalam SNI Peraturan Beton
Bertulang 2847-2013 atau ketentuan lain yang berlaku.
l. Silinder beton yang diambil selama pengecoran harus diuji kekuatan tekan
karakteristiknya di laboratorium yang telah disetujui Pengawas Lapangan atas
biaya Kontraktor dan hasilnya dilaporkan secara tertulis kepada Pengawas
Lapangan untuk dievaluasi. Bilamana hasil pengujian menunjukkan mutu beton
kurang dari yang disyaratkan, maka Kontraktor diwajibkan untuk mengajukan
kepada Pemberi Tugas dan Pengawas Lapangan rencana dan mengadakan
perkuatan/penyempurnaan konstruksi dengan biaya Kontraktor.
m. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa mutu beton kurang dari nilai
Karakteristik yang disyaratkan, maka Kontraktor harus mengambil core-sample
dari bagian-bagian konstruksi. Jumlah core-sample untuk tiap pemeriksaan

[Date] 14
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

adalah 3 (tiga) buah, dan selanjutnya kekuatannya akan diperiksa di


laboratorium dengan petunjuk Pemberi Tugas dan/atau Pengawas Lapangan atas
biaya Kontraktor. Hasilnya akan dievaluasi Pengawas Lapangan dan apabila
ternyata nilai yang diperoleh membahayakan konstruksi, Kontraktor harus
melakukan perbaikan dengan biaya Kontraktor.
5. Perawatan Beton
a. Seluruh beton harus dilindungi selama proses pengerasan terhadap efek-efek
yang ditimbulkan oleh sinar matahari dan angin, kelembaban dan pengeringan
yang cepat yang dapat menyebabkan pengeringan, gangguan pada proses hidrasi
dan perubahan terhadap mutu beton setelah pengecoran, permukaan horizontal
selesai diratakan dan/atau pada waktu pemindahan dari cetakan.
b. Perlindungan dapat dilakukan dengan penyiraman “springkling” dengan air pada
permukaan beton, menutup permukaan dengan plastik atau karung basah atau
penyemprotan permukaan dengan curing compound.
c. Perawatan dengan uap bertekanan tinggi, uap dengan tekanan atmosfir, panas
dan lembab atau proses-proses lainnya yang bisa diterima hanya dilakukan untuk
memeprcepat pencapaian kekuatan serta mengurangi waktu perawatan dengan
persetujuan dari Pengawas Lapangan.

PASAL 6
PEKERJAAN KONTRUKSI BAJA
1. Material
a. Acuan
Spesifikasi, peraturan dan standar berikut yang diacu pada standar ini adalah:
1) Standar Nasional Indonesia:
SNI 1729-2015 : Spesifikasi Untuk Bangunan Gedung Baja Struktural
2) ASTM International
ASTM-307, ASTM-325, ASTM-5.1, ASTM A6/A6M, ASTMA568/A568M
2. Material Baja Struktural
a. Seluruh material baja yang digunakan adalah baja dengan tegangan leleh
minimal 2400 kg/cm² (ASTM-36 atau baja BJ-37). Khusus untuk bolt structural
digunakan baja mutu tinggi (ASTM-325) dan untuk bagian lainnya digunakan
bolt biasa (ASTM-307).
b. Material Baja untuk Balok dipergunakan Balok Kastela, dan untuk kolom
dipergunakan Kolom King Cross, Produsen Profil Baja yang direkomendasi
oleh perencana adalah Pabrik Baja Gunung Garuda. Material baja harus bersih
dari karat dan kotoran lainnya.
c. Las yang digunakan adalah electrode yang sesuai dengan ASTM-5.1.
d. Laporan uji material atau laporan uji yang dibuat oleh pabrikator atau
laboratorium pengujian harus merupakan bukti yang memadai sesuai dengan

[Date] 15
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

salah satu standar ASTM yang tercantum di Pasal A3.1a. Untuk profil struktur
canai-panas, pelat, dan batang tulangan, pengujian tersebut harus dilakukan
sesuai dengan ASTM A6/A6M. Untuk lembaran, pengujian tersebut harus
dilakukan sesuai dengan ASTM A568/A568M. Untuk penampang tabung dan
pipa, pengujian tersebut harus dilakukan sesuai dengan persyaratan standar
ASTM yang berlaku yang tertera di atas untuk bentuk-bentuk produk tersebut.

3. Pekerjaan persiapan
a. Material baja yang ke lokasi harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak
terjadi kontak langsung antara baja dan tanah.
b. Sebelum dipasang material baja yang mengalami deformasi harus dibetulkan
terlebih dahulu dengan cara yang tidak merusak bahan. Bila perbaikan dilakukan
dengan pemanasan, temperatur tidak boleh lebih 650° C.
4. Pemotongan, Tekuk dan Pelubangan
a. Pemotongan material baja dilakukan dengan cara mekanik yaitu gergaji,
grinding, atau pemotongan otomatis dengan gas. Deformasi dan kerusakan akibat
pemotongan harus dibetulkan dan dihaluskan.
b. Pekerjaan tekuk untuk material baja dilakukan dengan pemanasan dibawah 650°
C.
c. Pekerjaan pelubangan untuk bolt dilakukan dengan bor atau dengan pons.
Kotoran disekitar lubang bolt harus dibersihkan. Letak lubang bolt harus akurat
dan berhubungan satu dengan lain pada titik pertemuan batang. Toleransi
ketelitian lubang bolt diijinkan sampai 1mm.
5. Bolt, Mur dan Ring
a. Sebelum Pelaksanaan, bidang kontak pada sambungan harus bersih dari karat,
debu, minyak, pernis atau lapisan lain.
b. Bila permukaan kepala bolt atau mur membentuk kemiringan dengan baja antara
1/20 atau lebih diputar dengan persetujuan Pemberi Tugas/Pengawas Lapangan.
c. Pengencangan dilakukan dengan memutar mur. Hanya jika tidak bias dihindari
kepala bolt boleh diputar dengan persetujuan Pemberi Tugas/Pengawas
Lapangan.
d. Bolt pada sambungan yang dikombinasikan dengan las dikencangkan terlebih
dahulu sebelum pengelasan dilakukan.
6. Pengelasan
a. Pengelasan hanya boleh dilakukan oleh Tukang Las yang berpengalaman yang
memiliki sertifikat pengelasan. Pengelasan tidak boleh dilakukan bila kondisi
cuaca hujan, berangin kencang dan permukaan kotor.
b. Ukuran dan panjang las tidak boleh kurang atau lebih dari yang ditentukan dalam
gambar tanpa persetujuan Pemberi Tugas/Pengawas Lapangan.

[Date] 16
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

c. Base metal dengan tebal kurang dari 3 mm tidak boleh digunakan untuk
pengelasan yang bersifat struktural.
d. Permukaan yang akan dilas harus rata dan bebas dari kotoran, material lepas dan
lain-lain.
e. Semua bahan las (filler metal) yang telah diambil dari tempat aslinya harus
dilindungi dan disimpan dengan baik sehingga sifat-sifat yang berhubungan
dengan pengelasan tidak berubah. Elektroda dalam keadaan basah dan tidak
dibenarkan untuk digunakan. Elektrode tipe low hydrogen harus dikeringkan
terlebih dahulu menurut petunjuk dari pabrik sebelum digunakan.
f. Bagian las yang cacat harus dihilangkan tanpa merusak base metal. Penambahan
las untuk mengganti yang dibuang harus dilakukan dengan menggunakan
elektroda dengan ukuran yang lebih kecil dibandingkan elektroda yang
digunakan untuk pengelasan utama dan tidak boleh berdiameter lebih dari 4mm.
Cacat base metal atau las lemah harus dibetulkan dengan membuang dan
mengganti seluruh las atau dengan petunjuk sebagai berikut:
g. Overlap atau cembung yang berlebihan yaitu dengan membuang weld metal yang
berlebihan.
h. Las terlalu cekung, under seize atau under cutting yaitu dengan menambah las.
i. Las keropos, kemasukan kotoran, pencampuran base dan weld metal yang tak
sempurna yaitu dengan membuang dan melakukan las ulang.
j. Retak las atau base metal yaitu dengan membuang retak dan perkuat dengan
metal 50mm pada ujung-ujung retak dan lakukan pengelasan ulang.

PASAL 7
PENGENDALIAN KUALITAS DAN PENJAMINAN KUALITAS
1. Membahas mengenai persyaratan umum untuk pengendalian kualitas, penjaminan
kualitas dan pengujian non-destruktif untuk sistem baja struktur dan elemen baja
komponen struktur komposit untuk bangunan gedung dan struktur lainnya.
2. Ruang Lingkup
Pengendalian kualitas (PK) seperti disyaratkan dalam bab ini harus disediakan oleh
fabrikator dan erektor. Penjaminan kualitas seperti disyaratkan dalam bab ini harus
disediakan melalui lainnya bila diperlukan oleh pihak yang berwenang, peraturan
bangunan gedung yang berlaku, pembeli, pemilik, atau Insinyur yang memiliki
izin bekerja sebagai perencana. Pengujian Non Destruktif (PND) harus
dilakukan oleh instansi atau perusahaan yang bertanggung jawab untuk penjaminan
kualitas, kecuali seperti diizinkan dalam Pasal ini.
3. Program Pengendalian Kualitas Fabrikasi dan Erektor
Fabrikator dan erektor harus menetapkan dan mempertahankan prosedur
pengendalian kualitas dan melakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa
pekerjaan yang dilakukan menurut spesifikasi ini dan dokumen konstruksi.

[Date] 17
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

Prosedur identifikasi material harus memenuhi persyaratan Code of Standard


Practice, dan harus dimonitor oleh fabrikator Pemeriksa Pengendalian Kualitas
(PPK).
Fabrikator PPK harus memeriksa yang berikut sebagai persyaratan minimum,
sebagaimana berlaku:
a. Pengelasan di bengkel, pembautan kekuatan tinggi, dan detail-detail
menurut Pasal diatas.
b. Pemotongan di bengkel dan permukaan jadi menurut Pasal diatas.
c. Pemanasan di bengkel untuk pelurusan, camber dan pembengkokan menurut
Pasal diatas.
d. Toleransi untuk fabrikasi di bengkel menurut Pasal 6 dari Code of
Standard Practice.
Erektor PPK harus memeriksa yang berikut sebagai persyaratan minimum,
sebagaimana berlaku:
a. Pengelasan lapangan, pembautan kekuatan tinggi, dan detail-detail menurut Pasal
diatas.
b. Pengecoran dek baja dan angkur berkepala baja dan pengikatan menurut Pasal
diatas.
c. Permukaan pemotongan medan menurut Pasal diatas.
d. Pemanasan di medan untuk pelurusan menurut Pasal diatas.
e. Toleransi untuk ereksi lapangan menurut Pasal diatas dari Code of Standard
Practice.

PASAL 8
DOKUMEN FABRIKATOR DAN EREKTOR
1. Penyerahan Dokumen Konstruksi Baja
Fabrikator atau erektor harus menyerahkan dokumen yang berikut untuk diperiksa
oleh Insinyur Profesional Bersertifikat atau IPB/EOR yang ditunjuknya, menurut
Pasal 4 atau A4.4 Code of Standard Practice, sebelum fabrikasi atau ereksi,
sebagaimana berlaku:
a. Gambar Kerja, kecuali Gambar Kerja yang telah dilengkapi oleh orang lain
b. Gambar ereksi, kecuali gambar ereksi yang telah dilengkapi oleh orang lain
2. Dokumen Tersedia untuk Konstruksi Baja
Dokumen yang berikut harus tersedia dalam bentuk elektronik atau dicetak untuk
diperiksa oleh Insinyur Profesional Bersertifikat atau IPB/EOR yang ditunjuknya
sebelum fabrikasi atau ereksi yang berlaku, kecuali disyaratkan lain dalam dokumen
kontrak disampaikan:
a. Untuk elemen baja struktural utama, kopi laporan uji material menurut SNI
1729:2015 Pasal A3.1.

[Date] 18
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

b. Untuk pengecoran dan penempaan baja, copy dari laporan uji material
menurut SNI 1729:2015 Pasal A3.2.
c. Untuk pengencang, copy sertifikasi pabrik menurut SNI 1729:2015 Pasal A3.3.
d. Untuk pengencang dek, copy lembaran data produk pabrik atau data katalog.
Lembaran data harus menjelaskan produk, pembatasan penggunaan, dan
direkomendasikan atau instruksi pemasangan tipikal.
e. Untuk batang angkur dan batang berulir, copy laporan uji material menurut
SNI 1729:2015 Pasal A3.4.
f. Untuk material habis pakai las, kopi sertifikat pabrik menurut SNI 1729:2015
Pasal A3.5.
g. Untuk angkur batang berkepala, kopi sertifikasi pabrik menurut SNI 1729:2015
Pasal A3.6.
h. Lembaran data produk pabrik atau data katalog untuk pengelasan logam
pengisi dan fluks boleh digunakan. Lembaran data harus menjelaskan produk,
pembatasan penggunaan, direkomendasikan atau parameter pengelasan tipikal,
dan gudang dan persyaratan eksposur, termasuk pembakaran, jika berlaku.
i. Spesifikasi Prosedur pengelasan (SPP).
j. Catatan kualifikasi prosedur (CKP) untuk spesifikasi prosedur pengelasan
(SPP) yang tidak prakualifikasi menurut AWS D1.1/D1.1M atau AWS
D1.3/D1.3M, yang berlaku.
k. Catatan kualifikasi kinerja petugas pengelasan (CKKPP) dan catatan kontinuitas
l. Fabrikator atau erektor, yang berlaku, manual pengendalian kualitas yang
tertulis harus minimum meliputi:
1) Prosedur kontrol material;
2) Prosedur pemeriksaan; dan
3) Prosedur ketidaksesuaian.
m. Fabrikator atau erektor yang berlaku, kualifikasi pemeriksa pengendalian
kualitas.
3. Pemeriksaan dan Personil Pengujian Nondestruktif
a. Kualifikasi Pemeriksa Pengendali Kualitas
Personal pemeriksa pengelasan penjaminan kualitas (JK) harus memenuhi syarat
terhadap keyakinan fabrikator atau program JK erektor yang berlaku, dan sesuai
salah satu dari yang berikut:
1) Pembantu pemeriksa pengelasan atau lebih tinggi seperti didefinisikan
dalam AWS B5.1, Standard for the Qualification of Welding Inspectors, atau
2) Memenuhi syarat berdasarkan ketentuan AWS D1.1/D1.1M subpasal 6.1.4
Petugas pemeriksa pembautan JK harus memenuhi syarat berdasarkan
pelatihan yang didokumentasikan dan memiliki pengalaman dalam
pemeriksa an pembautan struktur.
b. Kualifikasi Pemeriksa Penjamin Kualitas

[Date] 19
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

Pemeriksa pengelasan penjaminan kualitas (PK) harus memenuhi syarat


terhadap keyakinan praktik yang ditulis badan JK, dan sesuai salah satu dari
yang berikut:
1) Pemeriksa pengelasan (PP) atau pemeriksa pengelasan senior (PPS),
seperti didefinisikan dalam AWS B5.1, Standard for the Qualification
of Welding Inspectors, kecuali pembantu pemeriksa pengelasan diizinkan
untuk digunakan di bawah pengawasan langsung pemeriksa pengelasan,
yang berada di tempat dan tersedia saat pemeriksaan las sedang dilakukan,
atau
2) Memenuhi syarat berdasarkan ketentuan AWS D1.1/D1.1M
Petugas pemeriksa pembautan JK harus memenuhi syarat berdasarkan
pelatihan yang didokumentasikan dan memiliki pengalaman dalam
pemeriksa an pembautan struktur.
c. Kualifikasi Personil PND
1) Personil penguji nondestruktif, untuk PND selain visual, harus memenuhi
syarat sesuai praktik yang ditulis pemiliknya, harus memenuhi atau melebihi
kriteria AWS D1.1/D1.1M Structural Welding Code – Steel;
2) American Society for Nondestructive Testing (ASNT) SNT-TC-1A,
Recommended Practice for the Qualification and Certification of
Nondestructive Testing Personnel, atau
3) ASNT CP-189, Standard for the Qualification and Certification of
Nondestructive Testing Personnel.

PASAL 8
PERSYARATAN MINIMUM UNTUK PEMERIKSAAN BANGUNAN BAJA
STRUKTURAL
1. Pengendalian Kualitas
Tugas pemeriksaan PK harus dilakukan oleh fabrikator atau erektor pemeriksa
pengendalian kualitas (PPK) yang sesuai, menurut Pasal tesebut diatas.
Tugas dalam Tabel N5.4-1 sampai N5.4-3 dan Tabel N5.6-1 sampai N5.6-3 didaftar
untuk PK pemeriksaannya dilakukan oleh PPK untuk memastikan bahwa
pekerja an yang dilakukan sesuai dokumen konstruksi. Untuk pemeriksaan PM,
dokumen konstruksi yang berlaku adalah Gambar Kerja dan gambar ereksi, dan
spesifikasi, peraturan dan standar yang diacu yang berlaku.
Catatan: PPM tidak perlu mengacu gambar desain dan spesifikasi proyek.
The Code of Standard Practice, dalam Pasal diatas juga mensyaratkan transfer dari
informasi dari Dokumen Kontrak (gambar desain dan spesifikasi proyek) kepada
ketelitian dan Gambar Kerja dan gambar ereksi yang lengkap dan akurat,
memungkinkan pemeriksaan PK harus berdasarkan pada bengkel dan gambar ereksi
saja.

[Date] 20
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

2. Penjaminan Kualitas
Pemeriksaan Penjaminan Kualitas (JK) dari bagian-bagian yang difabrikasi harus
dibuat di pabrik fabrikator. Pemeriksa Penjaminan Kualitas (PJK) harus
menjadwalkan pekerjaan ini untuk meminimalkan gangguan terhadap pekerjaan
fabrikator. Pemeriksaan JK dari sistem baja terereksi harus dibuat di lokasi projek.
Pemeriksa Penjaminan Kualitas harus menjadwal pekerjaan ini untuk
meminimalkan gangguan pada pekerjaan erektor tersebut.
Pemeriksa Penjaminan Kualitas harus meninjau kembali laporan uji material dan
sertifikasi seperti tercantum untuk kesesuaian dengan dokumen pelaksanaan.
Tugas dalam Tabel N5.4-1 sampai N5.4-3 dan N5.6-1 sampai N5.6-3 didaftar untuk
JK yang pemeriksaannya dilakukan oleh PJK untuk memastikan bahwa pekerjaan
yang dilakukan sesuai dokumen pelaksanaan. Bersamaan dengan pengajuan laporan
tersebut kepada pihak yang berwenang, peraturan bangunan yang berlaku atau
pemilik, badan JK harus menyerahkan ke fabrikator dan erektor:
a. Laporan pemeriksaan; dan
b. Laporan pengujian nondestruktif
3. Pemeriksaan Terkoordinasi
Bila tugas yang tercatat dilakukan oleh PK dan JK, diperbolehkan
mengkoordinasikan fungsi pemeriksaan antara PPK dan PJK sehingga fungsi
pemeriksaan dilakukan oleh hanya satu pihak. Bila JK bergantung pada fungsi
pemeriksaan yang dilakukan oleh PK, persetujuan Insinyur Profesional Bersertifikat
dan pihak yang berwenang diperlukan.
4. Pemeriksaan Pengelasan
Pengamatan pelaksanaan pengelasan dan inspeksi visual dalam-proses dan las
lengkap akan menjadi metode utama untuk mengkonfirmasi bahwa material,
prosedur dan pengerjaan sesuai dengan dokumen konstruksi. Untuk baja struktural,
semua ketentuan AWS D1.1/D1.1M Structural Welding Code – Steel for statically
loaded structures harus berlaku.
Catatan: Pasal J2 dari spesifikasi ini berisi pengecualian untuk AWS D1.1/D1.1M.
Minimum, tugas inspeksi pengelasan harus sesuai Tabel N5.4-1, N5.4-2 dan N5.4-3.
Dalam tabel-tabel ini, tugas-tugas inspeksi sebagai berikut:
O – Observasi dengan cara acak. Pelaksanaan tidak perlu ditunda menunggu inspeksi
ini.
L – Lakukan cara pemeriksaan ini untuk setiap joint atau komponen struktur yang
di las.

TABEL N5.4-1 – Tugas-tugas Inspeksi Sebelum ke Pengelasan


Tugas-tugas Inspeksi Sebelum ke Pengelasan PK JK
Spesifikasi prosedur pengelasan (SPP) tersedia L L

[Date] 21
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

Sertifikasi pabrik untuk material las habis pakai yang tersedia L L


Identifikasi material (tipe/mutu) O O

Sistem identifikasi pengelas1 O O


Fit-up dari las tumpul (termasuk geometri joint)
Persiapan joint
Dimensi (pelurusan, bukaan root, muka root, bevel)
Kebersihan (kondisi permukaan baja)
Mengelas titik (kualitas dan lokasi las titik) O O
Tipe/jenis pendukung dan penyesuaian (jika bisa diterapkan)

Konfigurasi dan finish dari lubang akses O O


Fit-up dari las sudut
Dimensi (pelurusan, celah pada root)
Kebersihan (kondisi permukaan baja)
Mengelas titik (kualitas dan lokasi las titik) O O

Memeriksa peralatan las O O


1 Fabrikator atau erektor, yang sesuai, harus mempertahankan suatu O -

sistem di mana seorang tukang las yang telah mengelas joint atau
komponen struktur dapat diidentifikasi. Cap, jika digunakan, harus
tipe tegangan rendah.

TABEL N5.4-2 – Tugas-tugas Pemeriksaan Selama Pengelasan


Tugas-tugas Pemeriksaan Selama Pengelasan PK JK
Penggunaan tukang las yang di kualifikasi O O

Pengontrolan dan penanganan material habis pakai pengelasan


Pengepakan O O
Tanpa pengelasan
Pengontrol di atas las titik di retak
paparan O O
Kondisi lingkungan
Kecepatan angin di dalam batas O O
WPS diikuti dan temperatur
Pengendapan
Pengaturan pada peralatan pengelasan
Kecepatan perjalangan
Material las yang dipilih
Tipe gas pelindung/laju alir
Dilakukan
Teknik pemanasan lebih dahulu
pengelasan O O
Temperatur
Interpass daninterpass dipertahankan
pembersihan akhir (minimum/maksimum)
Posisi yang
Melewati tepat (F, V, H,dalam
masing-masing OH) batasan profil

Melewati masing-masing memenuhi persyaratan kualitas O O

[Date] 22
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

TABEL N5.4-3 – Tugas-tugas Pemeriksaan Setelah Pengelasan


Tugas-tugas Pemeriksaan Setelah Pengelasan PK JK
Las-las dibersihkan O O
Ukuran, panjang dan lokasi las-las L L
Las-las memenuhi kriteria penerimaan secara visual
Larangan retak
Las/fusi dasar-logam
Penampang melintang kawah
Profil las
Ukuran las L L
Undercut
Porositas
Arc strikes L P

Daerah-k 1 P P
Pendukung dihapus dan las tab dihapus (jika diperlukan) P P
Aktivitas perbaikan P P
Penerimaan dan penolakan dokumen dari joint atau P P
komponen struktur yang di las
1 Bila pengelasan pelat pengganda, pelat menerus atau pengaku telah
dilakukan dalam daerah-k, memeriksa secara visual daerah-k badan untuk retak di
dalam 3 in.
(75 mm) dari las tersebut.

[Date] 23
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

BAB 3
SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN PONDASI TIANG BOR & KONTROLING
PEKERJAAN PONDASI BORED PILE

7.1. Umum
7.2. Pekerjaan yang terkait
7.2.1. Pekerjaan pembesian
7.2.1.1.Standar dan referensi Pekerjaan pembesian harus disesuaikan dengan edisi terakhir
dari peraturan, standar atau spesifikasi berikut :
Standart Nasional Indonesia:
SNI 1726-2012 : Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur
Bangunan dan Non Gedung
SNI 1727-2013 : Beban minimum untuk perancangan bangunan gedung dan
struktur lain
SNI 2847 – 2013 : Persyaratatan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung

ACI Internasional
 A36/A36M-08 Standard Specification for Carbon Structural Steel (Standar
Spesifikasi untuk Baja Struktural Karbon)
 A53/A53M-10 Standard Specification for Pipe, Steel, Black and Hot-Dipped,
ZincCoated, Welded and Seamless (Standar Spesifikasi untuk Pipa, Baja, Baja,
Black and Hot-Dipped, Dengan Lapisan Bahan Seng, Dengan Las dan Tanpa
Sambungan)
 A184/184M-06 Standard Specification for Welded Deformed Steel Bar Mats for
Concrete Reinforcement (Standar Spesifikasi untuk Anyaman Batang Tulangan
Baja Ulir Las untuk Tulangan Beton)
 A242/242M-04 Standard Specification for High-Strength Low-Alloy Structural
Steel (2009) (Standar Spesifikasi untuk Baja Struktural Campuran Rendah
Kekuatan Tinggi)
 A307-10 Standard Specification for Carbon Steel Bolts and Studs, 60,000 psi
Tensile Strength (Standar Spesifikasi untuk Baut dan Stud Baja Karbon, Kekuatan
Tarik 420 Mpa)
7.2.1.2. Percobaan-percobaan dan Pemeriksaan (Test and Inspections)
1. Setiap pengiriman harus berasal dari sumber yang telah disetujui dan harus disertai
surat keterangan percobaan dari pabrik (manufactures test certificate).
2. Selain seperti yang disyaratkan pada SNI 2847.2013 setiap jumlah pengiriman 20
ton baja tulangan harus diadakan pengujian produk minimal 4 contoh yang terdiri
dari 3 benda uji untuk uji tarik, dan 1 benda uji untuk uji lengkung untuk setiap
diameter batang baja tulangan.

[Date] 24
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

3. Semua pengujian tersebut diatas meliputi uji tarik dan lengkung, harus dilakukan
dilaboratorium Lembaga Uji Konstruksi BPPT (LUK BPPT) Serpong.
4. Segala macam kotoran, karat, cat, minyak atau bahan-bahan lain yang merugikan
terhadap kekuatan rekatan harus dibersihkan.
5. Tulangan harus ditempatkan dan dipasang cermat dan tepat dan diikat dengan kawat
dari baja lunak.
6. Sambungan mekanik harus diuji dengan percobaan tarik.
7. Sebelum pengecoran beton, lakukan pemeriksaan pekerjaan pembesian, termasuk
jumlah, ukuran, jarak, selimut beton, lokasi dari sambungan kait dan panjang
penjangkaran dari penulangan baja.
7.2.1.3. Bahan-Bahan/Produk
1. Tulangan Sediakan tulangan ulir mutu U-40, sesuai dengan SNI 2847.2013-84 dan
tulangan polos mutu U-24, sesuai dengan SNI 2847.2013-84 seperti dinyatakan
pada gambar-gambar struktur. Tulangan dengan diamater < 10 mm harus baja lunak
dengan tegangan leleh 2400 kg/cm2. Tulangan dengan diamater 10 mm harus baja
tegangan tarik tinggi, batang berulir dengan tegangan leleh 2400 kg/cm2.
2. Penunjang/dudukan penulangan (bar support). Dudukan tulangan haruslah tahu
beton yang dilengkapi dengan kawat pengikat yang ditanamkan atau Individual
High Chairs.
3. Bolstern, chairs, spacers dan perlengkapan-perlengkapan lain untuk mengatur jarak.
a. Pakailah besi dudukan tulangan menurut rekomendasi CRSI (Concrete
Reinforcing Steel Institute).
b. Jangan memakai kayu, bata atau bahan-bahan lain yang tidak direkomendasi.
c. Untuk pelat diatas tanah, pakai penunjang dengan lapisan pasir atau horizontal
runners dimana bahan dasar tidak akan langsung menunjang batang kursi
(chair legs) atau pakai lantai kerja yang rata.
4. Kawat pengikat dibuat dari baja lunak.
7.2.1.4. Persiapan Pekerjaan/Perakitan Tulangan
1. Pembengkokan dan pembentukan. Pemasangan dan pembengkokan tulangan harus
sedemikian rupa sehingga posisi dari tulangan sesuai dengan rencana dan tidak
mengalami perubahan bentuk maupun tempat selama pengecoran berlangsung.
2. Pembuatan dan pemasangan tulangan sesuai dengan SNI 2847.2013.
3. Toleransi pembuatan dan pemasangan tulangan disesuaikan dengan persyaratan SNI
2847.2013 atau ACI 315.
7.2.1.5. Pengiriman, penyimpanan dan penanganannya
1. Pengiriman tulangan ke lapangan dalam kelompok ikatan ditandai dengan
etiket/label yang mencantumkan ukuran batang, panjang dan tanda pengenal.
2. Pemindahan tulangan harus hati-hati untuk menghindari kerusakan.
7.2.1.6. Pelaksanaan Pemasangan Tulangan, Pembengkokan dan Pemotongan
1. Persiapan

[Date] 25
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

a. Pembersihan Sebelum pengecoran beton, tulangan harus bebas dari kotoran,


lemak,kulit giling (mill steel) dan karat lepas, serta bahan-bahan lain yang
mengurangi daya lekat. Bersihkan sekali lagi tonjolan pada tulangan atau pada
sambungan konstruksi untuk menjamin rekatannya.
b. Pemilihan/seleksi Tulangan yang berkarat harus ditolak dari lapangan
2. Pemasangan Tulangan
a. Umum Sesuai dengan yang tercantum pada gambar dan SNI 2847.2013
koordinasi dengan bagian lain dan kelancaran pengadaan bahan serta tenaga
perlu diadakan untuk menghindari keterlambatan.
b. Pemasangan Tulangan harus dipasang sedemikian rupa diikat dengan kawat
baja, hingga sebelum dan selama pengecoran tidak berubah tempatnya.
c. Pembengkokan Tulangan, sesuai dengan SNI 2847.2013. - Batang tulangan
tidak boleh dibengkok atau diluruskan dengan cara-cara yang merusak tulangan
itu sendiri misalnya dipanaskan. - Batang tulangan yang diprofilkan, setelah
dibengkok dan diluruskan kembali tidak boleh dibengkok lagi dalam jarak 60
cm dari bengkokan sebelumnya. - Batang tulangan yang tertanam sebagian di
dalam beton tidak boleh dibengkok atau diluruskan di lapangan. Membengkok
atau meluruskan batang tulangan harus dilakukan dalam keadaan dingin,
kecuali apabila pemanasan diijinkan oleh perencana. Apabila pemanasan
dijinkan, batang tulangan dari baja lunak (polos atau diprofilkan) dapat
dipanaskan sampai kelihatan merah padam tetapi tidak boleh mencapai suhu
lebih dari 850 C.
d. Toleransi pada pemotongan dan pembengkokan tulangan.
1) Batang tulangan harus dipotong dan dibengkok sesuai dengan yang
ditunjukan dalam gambar-gambar rencana dengan oleransitoleransi yang
disyaratkan oleh perencana. Apabila tidak ditetapkan oleh perencana, pada
pemotongan dan pembengkokan tulangan ditetapkan toleransi-toleransi
seperti tercantum dalam ayat-ayat berikut.
2) Terhadap panjang total batang lurus yang dipotong menurut ukuran dan
terhadap panjang total dan ukuran intern dari batang yang dibengkokan
ditetapkan toleransi sebesar ± 25 mm, kecuali mengenai yang ditetapkan
dalam ayat (3) dan (4). Terhadap panjang total batang yang diserahkan
menurut sesuatu ukuran ditetapkan toleransi sebesar + 50 mm dan -25 mm.
3) Terhadap jarak turun total dari batang yang dibengkok ditetapkan toleransi
sebesar ± 12 mm untuk jarak lebih dari 60 cm. d. Terhadap ukuran luar dari
sengkang, lilitan dan ikatan-ikatan ditetapkan toransi sebesar Ø 6 mm.
3. Las bila diperlukan atau disetujui, pengelasan tulangan beton harus sesuai dengan
reinforcing steel welding code (AWS D 12.1.). Pengelasan tidak boleh dilakukan
pada bengkokan disuatu batang.

[Date] 26
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

7.2.2. Pekerjaan Beton


7.2.2.1. Standar dan Referensi Pekerjaan beton harus disesuaikan dengan edisi terakhir dari
SNI 2847.2013: Peraturan Beton Indonesia.
7.2.2.2. Beton Ready-mixed
1. Beton ready-mixed haruslah berasal dari perusahaan ready mixed yang disetujui,
pengukuran, pencampuran dan pengiriman sesuai dengan:
 C29/C29M-09 Standard Test Method for Bulk Density (“Unit Weight”) and Voids
in Aggregate [Metoda Uji Standar untuk Berat Volume (”Berat Satuan”) dan
Rongga dalam Agregat]
 C31/C31M-09 Standard Practice for Making and Curing Concrete Test
Specimens in the Field [Standar Praktis untuk Pembuatan dan Perawatan
Spesimen Uji Beton di Lapangan]
 C33/C33M-08 Standard Specification for Concrete Aggregates [Standar
Spesifikasi untuk Agregat Beton]
 C39/C39M-09a Standard Test Method for Compressive Strength of Cylindrical
Concrete Specimens [Metoda Uji Standar untuk Kekuatan Tekan Spesimen Beton
Silinder]
 C94/C94M-09a Standard Specification for Ready-Mixed Concrete [Standar
Spesifikasi untuk Beton Ready-Mix]
 C150/C150M-09 Standard Specification for Portland Cement [Spesifikasi
Standar untuk Semen Portland]
 C172-08 Standard Practice for Sampling Freshly Mixed Concrete [Standar
Praktis untuk Pengambilan Sampel Beton yang Baru Dicampur]
 C172-08 Standard Practice for Sampling Freshly Mixed Concrete [Standar
Praktis untuk Pengambilan Sampel Beton yang Baru Dicampur]
 C192/C192M-07 Standard Practice for Making and Curing Concrete Test
Specimens in the Laboratory [Standar Praktis untuk Pembuatan dan Perawatan
Spesimen Uji Beton di Laboratorium]
2. Adukan beton harus dibuat sesuai dengan perbandingan campuran yang sesuai
dengan yang telah diuji dilaboratorium dan disetujui. Kekuatan beton minimum yang
dapat diterima adalah berdasarkan hasil pengujian yang diadakan dilaboratorium.
3. Temperatur beton yang diijinkan dari campuran beton tidak boleh melampaui 35 C.
4. Menambahkan bahan tambahan pada plant harus sesuai dengan instruksi yang
diberikan dari pabrik. Bahan tambahan harus sesuai dengan SNI 2847.2013 ataupun
ACI- C1017/C1017M-07.
5. Air tidak boleh ditambahkan selama pengangkutan beton.
6. Truk-truk harus dilengkapi dengan alat untuk mengukur air yang akurat dan alat
untuk menghitung putaran.
7. Mulailah operasi pemutaran dalam waktu 30 menit sesudah semen dan agregat
dituang ke dalam mixer.

[Date] 27
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

8. Beton harus dituangkan seluruhnya di lapangan proyek dalam waktu satu setengah
jam atau sebelum truk mixer mencapai 300 putaran yang mana yang lebih dulu,
setelah semen dan agregat dituang kedalam mixer.
7.2.2.3. Pengadukan Beton pada Batching Plant Beton dari bahan-bahan dan desain mixes
disini harus mengikuti pengukuran, pencampuran dan pengadukan sesuai SNI 2847.2013
1. Batching - Proporsi dari campuran diukur berdasarkan berat dan memakai tempat
yang cocok, harus disediakan alat timbang. - Mekanisme timbangan harus akurat. -
Air harus ditambahan kedalam mixer dari suatu reservoir yang terpisah.
7.2.2.4. Pengangkutan dan Pengiriman Beton
1. Pengangkutan dan pengiriman beton harus sesuai dengan SNI 2847.2013.
2. Pengangkutan dan pengiriman beton juga harus mengikuti hal-hal berikut:
a. Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ke tempat pengecoran harus
dilakukan dengan cara-cara sedemikian agar dapat dicegah pemisahan dan
kehilangan bahan-bahan.
b. Cara pengangkutan adukan beton harus lancar sehingga tidak terjadi perbedaan
waktu yang mencolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor.
c. Beton harus diangkut dari tempat mengaduk ke tempat pengecoran sesegera dan
sepraktis mungkin dan memakai metoda penanganan untuk menghindari pemisah
an bahan (segregations).
7.2.2.5. Pengecoran Beton
1. Beton harus dicor sesuai persyaratan dalam SNI 2847.2013.
2. Tinggi jatuh dari beton yang dicor jangan melebihi 2m bila tidak disebutkan lain.
3. Beton yang telah mengeras sebagian atau yang telah dikotori benda asing tidak boleh
dituang kedalam struktur.
7.2.2.6. Perawatan dan Perlindungan Beton
1. Perawatan (curing)
a. Secara umum harus memenuhi persyaratan di dalam SNI 2847.2013. - Segera
setelah pengecoran beton harus dicuring.
b. Beton setelah dicor harus dilindungi terhadap proses pengeringan yang belum
pada saatnya dengan cara mempertahankan kondisi dimana kehilangan
kelembaban adalah minimal dan suhu yang konstan dalam jangka waktu yang
diperlukan untuk proses hidrasi semen serta pengerasan beton.
2. Masa perawatan dan cara perawatan, perawatan beton dimulai segera setelah
pengecoran beton selesai dilaksanakan dan harus berlangsung terus-menerus selama
paling sedikitdua minggu jika tidak ditentukan lain. Suhu beton pada awal
pengecoran harus dipertahankan tidak melebihi 35 C.

[Date] 28
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

7.2.3. Pekerjaan Pondasi Tiang Bor


7.2.3.1. Lingkup Pekerjaan
1. Pekerjaan yang termasuk meliputi:
a. Penentuan titik-titik posisi tiang di lapangan sesuai dengan gambar rencana. -
Mobilisasi dan demobilisasi alat.
b. Penyediaan peralatan.
c. Pengadaan regu kerja.
d. Pengerjaan tiang bor pada area dengan ukuran diameter 300 mm dengan panjang
tiang 5 m dari cut off level.
7.2.3.2. Bahan-Bahan/Produk Bahan-bahan untuk tiang bor
1. Beton
a. Mutu beton yang dipakai adalah fc 50 Mpa (silinder) pada 28 hari.
b. Slump haruslah antara 12 cm sampai 16 cm.
2. Penulangan
a. Tulangan haruslah bersih dari kotoran, gemuk, karat, dan bahan-bahan lain yang
dapat menurunkan lekatan beton. Pada waktu pabrikasi/persiapan penulangan
untuk tulangan yang lurus atau bengkokan mengikuti SNI 2847.2013 kecuali
ditentukan lain oleh Konsultan Perencana.
b. Pekerjaan penulangan haruslah mengikuti rencana penulangan, menghindari
pergeraka ataupun perubahan bentuk dari tulangan pada waktu pengecoran beton.
c. Tulangan polos atau berulir haruslah mempunyai mutu minimum U-24 (untuk
tulangan polos) atau U-40 (untuk tulangan berulir) atau seperti dicantumkan pada
gambar struktur.
d. Tulangan utama untuk tiang dengan panjang kurang dari 12 m haruslah terdiri
dari satuan tulangan tanpa sambungan. Untuk tiang lebih panjang dari 12 m,
tulangan utama haruslah disambung dengan panjang sambungan 40 (empat
puluh) kali diameter tulangan.
e. Sambungan dengan las hanya boleh dilakukan apabila disetujui oleh perancang
struktur dan sesuai dengan A184/184M-06. Kawat pengikat haruslah terbuat dari
baja lunak dan tidak dilapis zinc.
3. Bahan untuk Beton
a. Bahan:
Semen portland haruslah dihasilkan dari 1 (satu) pabrik dan sesuai dengan
persyaratan SNI 2847.2013.
Aggregat halus (pasir) dan aggregat kasar Jenis dan persyaratan haruslah sesuai
dengan persyaratan SNI 2847.2013. Pasir/aggregat halus harus bersih, tajam,
baik dan bebas dari bahan-bahan organik.
Gravel haruslah keras, bersih, tidak berpori dan tidak terdiri dari alkali aktif.

[Date] 29
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

Air mutu air tidak boleh mengandung minyak, nitrat alkali, bahan-bahan organik
yang dapat mempengaruhi beton, tulangan dan jaring kawat baja. Air harus lulus
test laboratorium.
b. Campuran bahan beton (admixture) trial mix harus diadakan sebelumnya dan
mutu beton harus sesuai dengan SNI 2847.2013.
4. Percobaan dari mutu beton
a. Percobaan kekuatan beton harus dibuktikan dengan percobaan silinder beton
ukuran 150 x 300 mm sesuai dengan SNI 2847.2013.
b. Masa jenis (density) dari campuran beton harus diuji dengan percobaan slump
dimana nilai slump harus diantara 12-16 cm. Nilai slump yang direkomendasikan
adalah 12 cm.
5. Ketebalan minimum dari selimut beton.
a. Kecuali ditentukan lain, ketebalan dari selimut beton haruslah 75 mm.
b. Perhatian khusus harus diberikan sedemikian agar selimut beton tidak kurang
dari 75 mm.
6. Pengecoran beton.
Beton harus dicor mengikuti metode pelaksanaan.
7.2.3.3. Pelaksanaan Tahapan pengerjaan atau pelaksanaan tiang bor haruslah mengikuti
urutan berikut:
1. Pengeboran
a. Pengeboran harus dilakukan dengan alat pengebor yang disetujui dan dilengkapi
dengan buckets dan auger. Perlengkapan ini harus mampu untuk mengebor dan
menembus lensa lapisan kedap air, batuan besar (boulders), shales, stiff clays,
gravel, dan pasir.
b. Bila kondisi tanah yang dibor tidak stabil, sehingga cenderung longsor atau aliran
air tanah masuk ke pile shaft, maka kontraktor harus memasang casing Baja
sementara dengan tebal minimum 6 mm dan dengan diameter tidak boleh kurang
dari diameter tiang bor yang diperlukan untuk mengatasinya. Sambungan casing
haruslah kedap air. Pemilihan penggunaan casing penuh atau sebagian,
sepenuhnya tanggung jawab kontraktor. Apabila untuk mencabut casing dipakai
metoda alat penggetar (vibrator), maka harus dipasang tulangan tambahan.
c. Dalam mengatasi kelongsoran, selain menggunakan casing sementara, sebagai
pilihan dapat juga digunakan metoda dengan penggunaan bahan bentonite. Level
campuran bahan bentonite didalam lubang bor harus dijaga agar tetap berada
diatas level air tanah. Hal tersebut harus dilakukan sampai pengeboran mencapai
lapisan pendukung.
d. Data pengeboran terdiri dari dalamnya pengeboran, klasifikasi jenis tanah yang
berasal dari lubang bor dan setiap gangguan yang terjadi selama pelaksanaan
pengeboran haruslah dibuat selengkap mungkin.

[Date] 30
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

e. Pelaksanaan pengeboran harus dilakukan sampai mencapai kedalaman seperti


yang disyaratkan.
f. Segala macam endapan dan longsoran dari dasar lubang bor yang akan
mempengaruhi hasil dari tiang bor harus dikeluarkan sampai bersih.
2. Penulangan beton: Mutu tulangan beton yang akan dipakai haruslah sebagai berikut:
a. Persyaratan umum untuk penulangan beton harus sesuai dengan standar-standar
yang berlaku.
b. Untuk tulangan polos dengan diameter lebih kecil sama dengan 12mm dipakai
mutu U-24; untuk tulangan deform dengan diameter lebih besar 12mm dipakai
mutu U-40.
c. Penyediaan anyaman tulangan sesuai dengan desain baik dalam hal diameter,
jumlah maupun jarak tulangan. Tulangan yang telah disiapkan tersebut haruslah
dalam kondisi baik, tanpa tanda-tanda karat pada waktu diperlukan.
d. Anyaman tulangan harus ditunjang dengan kuat secara sentris diluar lubang bor
supaya tidak terjadi gerakan/pergeseran pada waktu pengecoran.
e. Selimut beton minimum harus 7.5 cm.
f. Tulangan tiang bor harus sesuai dengan gambar desain, jenis, ukuran dan panjang
dari setiap bagian dari elemen tulangan.
3. Pembetonan
a. Persyaratan umum untuk pekerjaan beton harus sesuai dengan standar-standar
yang berlaku.
b. Pengukuran, pengadukan, pengangkutan dan pengecoran beton harus sesuai
dengan SNI 2847.2013.
c. Untuk setiap tiang bor, harus diambil 3 (tiga) buah contoh silinder. Satu untuk
percobaan 7 hari, satu untuk 14 hari dan satu lagi untuk percobaan 28 hari.
Percobaan beton harus dilakukan dilaboratorium resmi yang diakui.
d. Persyaratan mutu beton adalah K-500 (silinder) pada umur beton 28 hari dengan
slump minimum 120 mm dan maximum 160 mm. Maksimum waktu pengikatan
4 jam.
e. Pengecoran tiang bor harus sesegera mungkin pada hari yang sama.
f. Selama pengecoran beton, perlu diperhatikan waktu tunggu antara mixer yang
satu dengan berikutnya lebih kecil dari yang disyaratkan untuk waktu pengikatan
awal dari beton.
g. Pipa tremie yang dipakai harus mempunyai diameter minimum 20 cm dan corong
penerima harus mempunyai kapasitas sedikitnya sama dengan pipa yang
bersangkutan.
h. Pipa tremie harus dipasang pada posisi sedemikian agar dasar dari pipa
sedikitnya 1.50 m dibawah permukaan beton pada setiap tahap dari pembetonan.
i. Selama pembetonan, sebelum setiap bagian dari pipa tremie dicabut dan dilepas,
kepala tiang harus diukur levelnya.

[Date] 31
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

j. Pipa harus mencapai dasar dari tiang bor. Sambungan tiang harus memakai quick
acting coupling agar setiap bagian dapat dilepas seperti disyaratkan tanpa
keterlambatan. Sambungan harus dibuat kedap air.
k. Ujung atas pipa harus dihubungkan dengan corong dengan ukuran yang memadai
untuk panjang pipa yang dipakai dan untuk jumlah beton yang akan dituang.
Pengaturan untuk menaikkan atau menurunkan corong dan pipa harus diawasi.
l. Sliding Plug sumbat yang dapat meluncur (seperti jaring kawat/ kawat ayam
yang dibungkus lembaran plastik harus ditempatkan lebih dulu yang akan
terdorong turun kedasar pipa oleh berat campuran beton yang dituang pertama
untuk mencegah tercampurnya adukan beton dengan air didalam pipa.
m. Perlengkapan sounding harus diadakan untuk memeriksa level dari permukaan
beton dan memastikan bahwa pipa tertanam pada kedalaman yang memadai
untuk mempertahankan kekedapan udara dan menjaga aliran beton.
n. Corong harus dibebani dengan teratur dan menerus tanpa penundaan untuk
mempertahankan pengaliran (campuran beton) dan mencegah pipa dari
penyumbatan. Dengan pemeriksaan yang teliti beton harus mengalir bila pipa
berangsur-angsur dinaikkan. Apabila diperlukan menghentak pipa untuk
menghentikan beton, maka perhatian yang cukup perlu diberikan untuk
mencegah kecelakaan akibat tercabutnya dasar pipa dengan resiko terganggunya
kekedapan beton.
o. Pada kejadian terganggunya kekedapan beton, harus diambil (dicatat) data dari
kedalaman yang terganggu tersebut dan pipa harus diisi kembali dengan
memakai sliding plug (sumbat yang dapat meluncur) dan diperhatikan untuk
menghindari menghamburnya air dari pipa.
p. Pipa tremie harus tetap terpasang sampai ujung atas pengecoran berada 1m diatas
level cut off sehingga beton akan berada 75 mm dari level yang disyaratkan
setelah lapisan permukaan yang jelek dipotong dan dibuang.
q. Volume sebenarnya dari beton yang dipakai harus didata dan
diperiksa/dicocokan dengan perhitungan volume yang disyaratkan untuk
mendeteksi kemungkinan pengecilan atau pembesaran penampang tiang bor.
r. Segera setelah pengecoran beton selesai, level atas dari tiang percobaan harus
didata dan dihubungkan kesuatu bench mark.
4. Toleransi Pelaksanaan
a. Kecuali jika ada pengeboran yang miring, lubang harus dibor vertikal dan bila
terjadi kemiringan maka toleransi kemiringan yang diijinkan adalah 1:80.
b. Posisi titik bor tidak boleh bergeser/menyimpang lebih dari 7,5 cm dari lokasi
yang ditentukan pada semua arah pada cut off level.
c. Deviasi dari level permukaan pondasi dari transfered bench mark terdekat adalah
20 cm.

[Date] 32
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

d. Bila ternyata toleransi tersebut tidak dipenuhi maka wajib dilakukan pekerjaan
perbaikan/penambahan.
5. Tahapan pekerjaan tiang. Apabila lima atau lebih tiang bor harus dilaksanakan dalam
satu kelompok, tiang yang ditengah harus dilaksanakan lebih dulu, diikuti tiang
berikutnya dari tengah ke arah luar, urutan pengerjaan tiang haruslah sesuai.
Pengerjaan tiang didekat tiang yang baru dikerjakan tidak boleh dilakukan sebelum
lewat 7 (tujuh) hari atau pada jarak minimum 6 m.
6. Pemotongan kepala tiang dan penyambungannya.
a. Pada waktu pengerjaan tiang telah selesai, kontraktor bila perlu harus memotong
kepala tiang diatas level yang disyaratkan seperti ditunjukkan pada gambar dan
meninggalkan minimum sepanjang 40 diameter dari tulangan untuk
disambungkan kedalam pile cap (pur).
b. Segera setelah pekerjaan tiang selesai, kontraktor harus menggali dan memotong
tiang lagi bila diperlukan dan segera diikuti dengan memeriksa level dan
memberikan detail yang akurat dari hasil posisi tiang dibandingkan dengan posisi
yang diberikan pada gambar layout tiang.
7. Bahan-bahan galian Bahan-bahan galian dari lubang bor dan pur harus dibuang keluar
site ketempat yang telah ditentukan.
8. Pengurugan kembali back filling Kontraktor tiang bor harus mengurug kembali dan
memadatkan kekosongan antara ujung atas tiang bor dan permukaan tanah, dengan
pasir atau bahan lain yang disetujui. Pengurugan kembali harus dilakukan sedikitnya
2 (dua) hari setelah pengerjaan tiang bor selesai.
9. Meluruskan kembali tulangan beton pada waktu pekerjaan merapikan kepala tiang
bor, kontraktor harus membengkokan dan meluruskan kembali tulangan bor pile
tersebut.
10. Tiang-tiang yang ditolak Setiap tiang bor yang tidak terlaksana dengan betul sesuai
dengan spesifikasi harus ditolak.
a. Tiang-tiang dapat ditolak karena alasan-alasan seperti: mengecilkan diameter
tiang bor (elevasi pipa tremie yang terbenam kurang dari 1.5 m dibawah elevasi
beton), perlengkapan rusak, pengiriman beton tidak tepat waktu sehingga
menggangu karena pengecoran melampaui waktu pengikatan, kegagalan pada
percobaan pembebanan, mutu beton tidak sesuai dan lain sebagainya.
b. Alasan-alasan untuk mencurigai tiang-tiang antara lain: membiarkan lubang bor
semalaman, kedalaman lubang bor lebih besar daripada waktu dibersihkan,
waktu tunggu antara tiap tahapannya terlalu lama.
7.2.3.4 Kontroling Pekerjaan Pondasi Bored Pile dalam setiap pekerjaan konstruksi harus
dilakukan suatu pengwasan terhadap bagian-bagian pekerjaan yang terdapat dalam proyek
konstruksi tersebut dan dalam penerapannya bisa dilakukan dengan beberapa cara baik
infeksi secara langsung atau menganalisis suatu progres atau pengawasan pekerjaan melalui
diagram atau bartchart yang sudah dibuat. Kontraktor spesialisasi bored pile melakukan

[Date] 33
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Struktur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

pengawasan pekerjaannya menggunakan bar chart dan pilling record dimana fungsi dari
media tersebut berbeda namun memiliki tujuan yang sama yaitu sebagai kontroling
terhadap suatu pekerjaan agar tercapainya standar biaya, mutu dan waktu sesuai yang
direncanakan.
7.2.3.5 Bar chart adalah diagram alur pelaksanaan pekerjaan yang dibuat untuk
menentukan waktu penyelesaian pekerjaan yang dibutuhkan.
Hal-hal yang dimunculkan dalam bar chart adalah:
1. Jenis pekerjaan
2. Durasi waktu pelaksanaan pekerjaan
3. Alur pekerjaan Berikut bar chart yang digunakan dalam pekerjaan pondasi bored pile
dalam proyek.

[Date] 34
PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

BAB 1
PEKERJAAN PERSIAPAN

1.1. PERAPIHAN DAN PEMBERSIHAN LOKASI


Setelah saluran pekerjaan-pekerjaan finishing, telah selesai dikerjakan dengan baik
maka:
1. Kontraktor harus membersihkan dan mengangkat segala kotoran-kotoran sisa-sisa
bahan yang tidak terpakai ke tempat lain.
2. Kontraktor harus membongkar keet, bedeng-bedeng, los-los kerja, titik-titik
reference dan lain-lain yang sudah tidak terpakai lagi.
3. Menjaga kebersihan kerapihan dan memperbaiki segala kerusakan-kerusakan
sampai pada penyerahan kedua (terakhir).
4. Pembersihan juga harus dilakukan pada bagian-bagian yang sudah terbangun
ditahap sebelumnya, terutama pada lantai dasar (dinding luar, lantai, kolom, atap,
dan lain-lain).
1.2. PAGAR PEMBATAS PROYEK
Pagar pembatas proyek didirikan pada batas-batas yang mengelilingi tapak proyek
setinggi + 2 m dari bahan kayu lapis (triplek 6 mm) dengan rangka kaso dan diberi
banner dengan gambar yang telah disetujui oleh Pemberi Tugas. Pagar harus berdiri
kokoh.
1.3. PENGAMANAN PROYEK
1. Pengamanan proyek terdiri dari security yang bertugas untuk mengamankan keluar
masuk barang dan keamanan lingkungan proyek.
2. Peralatan K3 berguna untuk persediaan jika ada yang sakit atau kecelakaan kecil di
dalam hari-hari proyek berjalan.
1.4. PEKERJAAN PEMBONGKARAN
Adapun yang dimaksud dengan pekerjaan pembongkaran adalah pekerjaan
membongkar semua bagian yang ditunjuk dalam gambar dan memperbaiki bahan
bangunan yang rusak. Adapun pekerjaan ini meliputi pembongkaran lantai con block,
rangka kolom, atap, instalasi Mekanikal Elektrikal, Sanitair dan bagian-bagian yang
ditunjukkan pada gambar denah bongkaran.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 11
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

BAB 2
PEKERJAAN DINDING

2.1. PEKERJAAN DINDING


1. Pelaksanaan
Dinding harus dipasang (uitzet) dan didirikan menurut masing-masing ukuran
ketebalan dan ketinggian yang disyaratkan seperti yang ditunjukkan dalam gambar,
dan Kontraktor harus memasang piket (uitzet), lobang-lobang dan sebagainya
dengan alat uitzet yang disetujui.
2. Semua unit harus betul-betul kering kalau mau dipakai, hanya ujung-ujungnya
dibasahi jika dianggap perlu untuk mengatur pengisapan. Blok-blok atau bata
dipasang dengan adukan pengikat sambungan-sambungan yang terus lurus dan rata.
Dalam pemasangan tembok tidak boleh meneruskan disuatu bagian lebih dari satu
meter tingginya.
3. Mengorek sambungan
Semua sambungan harus dikorek paling sedikit 0,5 cm agar finish dinding dapat
melekat dengan baik.
4. Perlindungan
Dalam mendirikan dinding yang kena udara terbuka selama waktu-waktu hujan
lebat, harus diberi perlindungan dengan menutup bagian atas dari tembok dengan
sesuatu yang sesuai.
5. Perawatan
Dinding tembok harus dibasahi terus menerus selama paling sedikit 7 hari setelah
didirikan.
6. Angkur-angkur dan pengikat lainnya
Antara sambungan dinding dengan kolom, pondasi dan lain-lain, harus dipasang
angkur besi yang telah dibersihkan daripada setiap gerak kulit ozid besi, karat dan
debu bangunan. Beton harus dikasarkan dengan alat yang sesuai pada sambungan
vertikal dengan dinding agar adukan tembok dapat merekat.

2.2. PEKERJAAN DINDING BATU BATA


2.2.1. Lingkup Pekerjaan
a. Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat
bantu yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini sehingga diperoleh hasil
pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
b. Pekerjaan pasangan batu bata ini meliputi pekerjaan dinding bangunan dan seluruh
detail yang disebutkan/ditunjukkan dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan
Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas.
2.2.2. Persyaratan Bahan

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 22
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

a. Batu bata yang dipasang adalah dari mutu terbaik, cetakan fabrikasi, produk lokal
dan yang disetujui Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas. Syarat-syarat
batu bata harus memenuhi ketentuan-ketentuan dalam NI-10.
b. Batu bata/batu merah yang digunakan ukuran 5x12x22 cm dengan mutu terbaik,
siku dan sama ukuran, sama warna serta disetujui Konsultan Konsultan
Pengawas/Pemberi Tugas.
c. Semen Portland yang digunakan harus dari satu merk produk, mutu memenuhi
syarat-syarat dalam NI-8.
d. Pasir aduk harus memenuhi NI-3 Pasal 14 ayat 2.
e. Air untuk adukan pasangan, harus air yang bersih, tidak mengandung
lumpur/minyak /asam basa serta memenuhi PUBI-1982 Pasal 9.
2.2.3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Bahan-bahan yang digunakan sebelum dipasang, terlebih dahulu harus diserahkan
contoh-contohnya kepada Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas.
b. Seluruh dinding dari pasangan batu bata/bata merah, dengan aduk campuran 1 PC :
5 PS, kecuali pasangan batu bata semen trasram/rapat air.
c. Untuk dinding semen trasram/rapat air dengan adukan campuran 1 PC : 3 PS, yakni
pada dinding dari atas permukaan sloof/balok/pondasi sampai minimum 20 cm di
atas permukaan lantai setempat ruang dalam, sampai dengan 50 cm pada dinding
berbatasan dengan luar, dan sampai setinggi minimal 180 cm untuk daerah yang
lain di atas permukan lantai setempat dan untuk sekeliling dinding ruang-ruang
basah (wastafel, kamar mandi) serta pasangan batu bata di bawah permukaan tanah
jika ada.
d. Sebelum digunakan batu bata harus direndam air dalam bak atau drum hingga
jenuh.
e. Setelah bata terpasang, naad/siar-siar harus dikerok sedalam 1 cm dan dibersihkan
dengan sapu lidi dan setelah kering permukaan pasangan disiram air.
f. Dinding batu bata yang akan diplester harus dibasahi dengan air terlebih dahulu dan
siar-siar dibersihkan.
g. Pemasangan dinding batu bata dilakukan bertahap, setiap tahap maksimum 24 lapis
perharinya, serta diikuti dengan cor kolom praktis. Bidang dinding batu bata tebal
½ batu yang luasnya maksimal 9 m2 harus ditambahkan kolom dan balok penguat
praktis dengan kolom ukuran 13 x 13 cm, dari tulangan pokok 4 diameter minimal
10 mm, beugel diameter 6 mm jarak 20 cm, jarak antara kolom satu dengan yang
lain dibuat maksimal 3 (tiga) meter.
h. Pelubangan akibat pembuatan perancah pada pasangan bata merah sama sekali
tidak diperkenankan.
i. Bagian pasangan bata yang berhubungan dengan setiap bagian pekerjaan beton
harus diberi penguat stek-stek besi beton diameter 10 mm jarak 75 cm, yang
terlebih dahulu ditanam dengan baik pada bagian pekerjaan beton dan bagian yang

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 33
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

tertanam dalam pasangan bata sekurang- kurangnya 30 cm, kecuali bila satu dan
lain hal ditentukan lain oleh Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas.
j. Tidak diperkenankan memasang bata merah yang patah lebih dari dua atau lebih.
k. Pasangan dinding batu bata tebal ½ batu harus menghasilkan dinding finish setebal
15 cm setelah diplester (lengkap acian) pada kedua belah sisinya. Pelaksanaan
pasangan harus cermat, rapi dan benar-benar tegak lurus terhadap lantai serta
merupakan bidang rata.
l. Pasangan batu bata semen trasram bawah permukaan tanah lantai harus diberi pen
dengan adukan 1 PC : 3 PS.
m. Pasangan batu bata dapat diterima/diserahkan apabila deviasi bidang pada arah
diagonal dinding seluas 9 m2 tidak lebih dari 0,5 cm (sebelum diaci/diplester).
Adapun toleransi terhadap as dinding yang diizinkan maksimal 1 cm (sebelum
diaci/diplester).

2.2.4. Syarat-syarat Pemeliharaan


Perbaikan
Kontraktor wajib memperbaiki pekerjaan yang rusak/cacat. Perbaikan dilaksanakan
sedemikian rupa hingga tak mengganggu pekerjaan finishing lainnya.
Kerusakan yang bukan disebabkan oleh tindakan Pemberi Tugas pada waktu
pelaksanaan, maka Kontraktor wajib memperbaiki sampai dinyatakan diterima oleh
Konsultan Konsultan Pengawas/ Pemberi Tugas.
Biaya yang timbul untuk pekerjaan perbaikan menjadi tanggung jawab Kontraktor.
Pengamanan
Kontraktor wajib melakukan perlindungan terhadap pekerjaan yang telah dilaksanakan
untuk dapat dihindarkan dari kerusakan.
Biaya yang diadakan untuk pengamanan hasil pekerjaan ini menjadi tanggung jawab
Kontraktor.
2.2.5. Syarat Penerimaan
Kontraktor harus memenuhi ketentuan dan persyaratan mutu dan pelaksanaan; sesuai
dengan pengarahan serta persetujuan Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas.
Hasil pemasangan pasangan dinding, harus lurus tepat pada sudut sikunya serta tegak
lurus terhadap lantai yang ada disekitarnya, permukaan rata tidak bergelombang.
Toleransi kemiringan untuk penerimaan pasangan dinding : 1 mm/m2 luas permukaan
bidang kerja.
Pelaksanaan dinding, harus rata, sambungan satu dengan lainnya rapi.Hasil akhir harus
konstruktif yang kokoh. Penyelesaian hubungan dinding dengan perkerjaan finishing
lainnya harus rapi.

2.3. PEKERJAAN PLESTERAN DINDING


2.3.1. Lingkup Pekerjaan

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 44
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

a. Termasuk dalam pekerjaan ini adalah pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan,


peralatan dan alat-alat bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan
ini, sehingga dapat tercapainya hasil pekerjaan yang bermutu baik dan sempurna.
b. Lingkup pekerjaan ini meliputi seluruh plesteran dinding batu bata bagian dalam
dan bagian luar bangunan serta seluruh detail yang ditunjukkan dalam gambar.

2.3.2. Persyaratan Bahan


a. Semen Portland yang digunakan harus dari satu produk, mutu I dan yang disetujui
Konsultan Konsultan Pengawas serta memenuhi NI-8.
b. Pasir harus memenuhi NI-3 Pasal 14 dan PUBI 1982.
c. Air harus memenuhi NI-3 Pasal 10 - Campuran (agregate) untuk plester harus
dipilih yang benar-benar bersih dan bebas dari segala macam kotoran, harus bersih
dan melalui ayakan 1,6- 2,0 mm.
2.3.3. Syarat-Syarat Pelaksanaan
a. Pada permukaan dinding beton yang akan diplester harus dibuat kasar, sedangkan
untuk permukaan dinding bata, adukan sebelumnya harus dikerok sedalam 1 cm
untuk memberikan pegangan pada plester.
b. Seluruh plesteran dinding batu bata dengan aduk campuran 1 PC : 5 pasir, kecuali
pada dinding batu bata trasram/rapat air.
c. Pada dinding batu bata trasram/rapat air diplester dengan aduk campuran 1 PC : 3
PS (yang dilakukan pada sekeliling dinding ruang pantry, kamar mandi, WC, dan
bagian-bagian yang ditentukan/disyaratkan dalam detail gambar).
d. PS yang digunakan harus diayak terlebih dahulu dengan mata ayakan seperti yang
dipersyaratkan.
e. Material lain yang tidak terdapat dalam persyaratan di atas tetapi dibutuhkan untuk
penyelesaian/penggantian pekerjaan dalam bagian ini, harus bermutu baik dari
jenisnya dan disetujui Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas.
f. Semen Portland yang dikirim ke proyek lapangan harus dalam keadaan tertutup
atau dalam kantong yang masih disegel dan berlabel pabriknya, bertuliskan type
dan tingkatannya, dalam keadaan utuh dan tidak ada cacat.
g. Bahan harus disimpan di tempat yang kering, berventilasi baik, terlindung, dan
bersih. Tempat penyimpanan bahan harus cukup menampung kebutuhan bahan, dan
dilindungi sesuai dengan jenisnya seperti yang disyaratkan dari pabrik.
h. Semua bahan sebelum dikerjakan harus ditunjukkan kepada Konsultan Konsultan
Pengawas/Pemberi Tugas untuk mendapatkan persetujuan, lengkap dengan
ketentuan/persyaratan dari pabrik yang bersangkutan. Material yang tidak
disetujui harus diganti dengan material lain yang mutunya sesuai dengan
persyaratan tanpa biaya tambahan.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 55
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

i. Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor diharuskan memeriksa site/lapangan yang


telah disiapkan apakah sudah memenuhi persyaratan untuk dimulainya pekerjaan.
j. Bila ada kelainan dalam hal apapun antara gambar, spesifikasi dan lainnya,
Kontraktor harus segera melaporkan kepada Konsultan Konsultan
Pengawas/Pemberi Tugas. Kontraktor tidak diperkenankan melakukan pekerjaan
ditempat tersebut sebelum kelainan/perbedaan diselesaikan.
k. Tebal plesteran 1,5 cm dengan hasil ketebalan dinding finish 15 cm atau sesuai
yang ditunjukkan dalam detail gambar.
l. Ketebalan plesteran yang melebihi 2 cm harus diberi kawat ayam untuk membantu
dan memperkuat daya lekat plesteran pada bagian yang diijinkan Konsultan
Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas.
m. Untuk setiap pertemuan permukaan dalam satu bidang datar yang berbeda jenisnya,
harus diberi/dibuat nat (tali air) dengan ukuran lebar 7 mm dalamnya 5 mm, kecuali
bila ditentukan lain.
n. Plesteran halus (acian) digunakan campuran PC dan air sampai mendapatkan
campuran yang homogen, acian dapat dikerjakan sesudah plesteran berumur 8 hari
(kering betul).
o. Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga pengeringan berlangsung wajar
tidak terlalu tiba-tiba, dengan membasahi permukaan plesteran setiap kali terlihat
kering dan melindungi dari terik panas matahari langsung dengan bahan penutup
yang bisa mencegah penyerapan air secara cepat.
p. Kontraktor wajib memperbaiki/mengulang/mengganti bila ada kerusakan yang
terjadi selama masa pelaksanaan (dan masa garansi), atas biaya Kontraktor selama
kerusakan bukan disebabkan oleh tindakan Pemberi Tugas/ Pemakai.
2.3.4. Syarat Pemeliharaan
Perbaikan
a. Kontraktor wajib memperbaiki pekerjaan yang rusak/cacat.
Perbaikan dilaksanakan sedemikian rupa hingga tidak mengganggu pekerjaan
finishing lainnya.
b. Kerusakan bukan disebabkan oleh tindakan Pemberi Tugas pada waktu
pelaksanaan, maka Kontraktor wajib memperbaiki sampai dinyatakan dapat
diterima oleh Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas.
Pengamanan
Kontraktor wajib melakukan perlindungan terhadap pekerjaan yang telah dilaksanakan
untuk dapat dihindarkan dari kerusakaan. Biaya yang diadakan untuk pengamanan hasil
pekerjaan ini menjadi tanggung jawab Kontraktor.
2.3.5. Syarat Penerimaan
a. Kontraktor harus memenuhi ketentuan dan persyaratan mutu dan pelaksanaan;
sesuai dengan pengarahan serta persetujuan Konsultan Konsultan
Pengawas/Pemberi Tugas.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 66
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

b. Hasil pemasangan pasangan, plester dan acian harus lurus tepat pada sudut sikunya
serta tegak lurus terhadap lantai yang ada disekitarnya, permukaan rata tidak
bergelombang.Toleransi kemiringan untuk penerimaan pasangan dinding : 1
mm/m2 permukaan bidang kerja.
c. Pelaksanaan plesteran harus rata, sambungan satu dengan lainnya rapi.Hasil akhir
tanpa cacat dan merupakan satu kesatuan konstruktif yang kokoh. Penyelesaian
hubungan dinding panel dengan pekerjaan finishing lainnya harus rapi.

BAB 3
PEKERJAAN LANTAI

3.1. PEKERJAAN LANTAI


Pekerjaan penyelesaian lantai dilakukan dengan bahan Floor Hardener.
3.2. SEBELUM PEKERJAAN PENYELESAIAN LANTAI
Sebelum pekerjaan penyelesaian lantai dimulai, maka:
Kontraktor diwajibkan menyediakan bahan, tenaga dan peralatan yang
dipergunakan untuk pekerjaan ini.
Kontraktor diwajibkan mengadakan pengecekan kembali tentang peil dari pada
lantai dan kemiringannya harus dilaksanakan dengan baik.
Pelaksanaan:
- Dilakukan pembersihan permukaan beton.
- Meratakan beton lantai dengan menggunakan Trowel
- Pemasangan Floor Hardener ex produk SIKA.
- Test uji coba.
Pekerjaan finishing lantai tidak boleh dimulai sebelum seluruh pekerjaan atap dan
pemasangan pelapis dinding selesai dikerjakan.
Kontraktor harus memberikan contoh material terlebih dahulu untuk disetujui dan
diparaf Konsultan Perencana.
Penyelesaian finishing lantai harus mempertimbangkan adanya pekerjaan lain pada
lantai tersebut (misal under floor duct). Pekerjaan harus dikoordinasikan dengan
baik sejak pengecoran pelat lantai beton.
Kontraktor harus membersihkan permukaan yang akan dipasang Floor Hardener
lantai dari berbagai macam kotoran.

BAB 4
PEKERJAAN ATAP

4.1. LINGKUP PEKERJAAN


Meliputi pengadaan dan penyediaan semua tenaga kerja, peralatan, bahan-bahan dan
pemasangan semua langit-langit sesuai dengan gambar dan persyaratan.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 77
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

4.2. SEBELUM PEKERJAAN PEMASANGAN ATAP DIMULAI MAKA


1. Kontraktor diwajibkan mengadakan pengecekan/pemeriksaan kembali pekerjaan-
pekerjaan yang erat hubungannya dengan pekerjaan langit-langit ini, untuk ini
diwajibkan adanya kerja sama (koordinasi) yang baik dengan Sub Kontraktor lain
yang telah disetujui Konsultan Perencana.
2. Pemasangan boleh dikerjakan setelah semua pekerjaan dan peralatan-peralatan
yang terdapat di atap sudah siap dan selesai dikerjakan serta sudah ditest.
3. Kontraktor harus memberikan contoh-contoh bahan terlebih dahulu untuk disetujui
dan diparaf Konsultan Perencana.
4. Kontraktor harus menyerahkan “Shop drawing” untuk disetujui dan diparaf
Konsultan Perencana.
4.3. RANGKA ATAP
1. Lingkup Pekerjaan
Pekerjaan ini dilakukan meliputi pemasangan rangka atap dan tutup atap sesuai yang
disebutkan/ditunjukkan dalam gambar dan sesuai petunjuk Konsultan Konsultan
Pengawas/ Pemberi Tugas.
a. Persyaratan Bahan
1) Bahan rangka:
Sebagai Rangka kolom Pipa 4 Inch Medium B Fin Meni/Anti Karat, dan untuk
Rangka Atap Pipa 4 Inch Medium B Fin Meni/Anti Karat.
Bahan : Galvanized Steel
Memenuhi persyaratan SII 0137-80/SII 0884-83, JAPAN Standard : JIS
G3302. American Standard : ASTM A.525/1.526/A.527/A.528
Lapisan pelindung :min. 15 micron
2) Penutup Atap :
Digunakan Atap Zincalum yang bermutu baik produk ex. Sakura Roof atau yang
Setara, warna dari corak akan ditentukan kemudian.
2. Syarat-syarat Pelaksanaan
Rangka gording atap pipa besi medium B diameter 2 Inch dilengkapi dengan mur
dan klem, penggantung-penggantung terikat kuat pada kolom pipa besi medium B
diameter 4 Inch atau rangka baja yang ada.
Pekerjaan ini dikerjakan oleh Kontraktor yang berpengalaman dan dengan tenaga-
tenaga ahli.
Sebelum melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan untuk meneliti gambar-
gambar yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran dan peil), termasuk mempelajari
bentuk pola lay-out/penempatan, cara pemasangan, mekanisme dan detail-detail
sesuai gambar.
b. Syarat Pemeliharaan
1) Perbaikan

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 88
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

Kontraktor wajib memperbaiki pekerjaan yang rusak/cacat/kena noda. Perbaikan


dilaksanakan sesuai pengarahan Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas dan
tidak mengganggu pekerjaan finishing lainnya.
Bila kerusakan pekerjaan ini bukan oleh tindakan Pemberi Tugas pada waktu
pelaksanaan pekerjaan maka Kontraktor wajib memperbaiki pekerjaan tersebut sampai
dinyatakan dapat diterima oleh Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas. Biaya
yang ditimbulkan untuk pekerjaan perbaikan ini menjadi tanggungan Kontraktor.
2) Pengamanan
Kontraktor wajib mengadakan perlindungan/pengamanan terhadap hasil pekerjaan
plafond yang sudah terpasang.
Untuk itu Kontraktor harus mengadakan koordinasi dengan pihak pekerjaan finishing
lainnya, dengan pengarahan Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas agar
pekerjaan plafond yang telah dilaksanakan tidak terganggu atau rusak.
Biaya yang diperlukan untuk pengamanan ini menjadi tanggung jawab Kontraktor
sampai hasil pekerjaan diterima dengan baik (Serah Terima II).
c. Syarat Penerimaan
Penerimaan pekerjaan ini dapat dilaksanakan dengan memenuhi ketentuan sebagai
berikut:
1. Hasil pelaksanaan memenuhi persyaratan standard toleransi pemasangan
permukaan: penurunan 1 mm untuk luasan 1 m x 2 m pada titik tengah.
2. Hasil pekerjaan atap yang dipasang harus rapi, rata untuk seluruh permukaan tidak
terdapat flek/kotor/gompal.
3. Semua kegiatan pelaksanaan telah memenuhi persyaratan gambar perancangan,
shop drawing dan pengarahan yang diterbitkan oleh Konsultan Konsultan
Pengawas/Pemberi Tugas.

BAB 5
PEKERJAAN SANITAIR

5.1. LINGKUP PEKERJAAN


Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat-alat
bantu lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan, hingga dapat tercapai hasil pekerjaan
yang bermutu baik dan sempurna.
5.2.PERSYARATAN BAHAN
1. Kran Air untuk Mencuci Kendaraan harus memenuhi Standard dan disetujui oleh
Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas.
Type material yang digunakan untuk sistem sanitasi adalah:
a. Saluran U-Ditch Dusasbun Ukuran 30x30x120
b. Pipa PVC AW dia. 3/4 Inch set. Wavin/Ruchika 4”
c. Kran Air Tembok ITAP dia. 1/2"

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 99
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

d. Talang Air Lindap


2. Semua material harus memenuhi ukuran, standar dan didapatkan dipasaran, kecuali
bila ditentukan lain.
3. Semua peralatan dalam keadaan lengkap dengan segala perlengkapannya, sesuai
dengan yang telah disediakan oleh pabrik.
4. Barang yang dipakai adalah dari produk yang telah disyaratkan dalam uraian dan
syarat-syarat dalam buku ini.
5. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Semua bahan sebelum dipasang harus ditunjukkan kepada Direksi Konsultan
Pengawas beserta persyaratan/ketentuan pabrik untuk mendapatkan persetujuan.
Bahan yang tidak di setujui harus diganti tanpa biaya tambahan.
b. Jika dipandang perlu diadakan penukaran/penggantian bahan pengganti harus
disetujui Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas berdasarkan contoh yang
diajukan Kontraktor.
c. Sebelum pemasangan dimulai, Kontraktor harus meneliti gambar-gambar yang ada
dan kondisi di lapangan, termasuk mempelajari bentuk, pola, penempatan, cara
pemasangan dan detail-detail sesuai gambar.
d. Bila ada kelainan dalam hal apapun antara gambar Arsitektur dengan gambar
spesifikasi dan sebagainya, maka Kontraktor harus segera melaporkannya kepada
Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas.
e. Kontraktor tidak dibenarkan memulai pekerjaan disuatu tempat bila ada
kelainan/perbedaan di tempat itu sebelum kelainan tersebut diselesaikan
f. Selama pelaksanaan harus selalu diadakan pengujian/pemeriksaan untuk
kesempurnaan hasil pekerjaan.
g. Kontraktor wajib memperbaiki/mengulangi/mengganti bila ada kerusakan yang
terjadi selama masa pelaksanaan dan masa garansi, atas biaya Kontraktor, selama
kerusakan bukan disebabkan oleh tindakan Pemberi Tugas.
h. Pelaksanaan pemasangan harus menghasilkan pekerjaan yang sempurna, rapi dan
lancar dipergunakannya.
6. Syarat Pemeliharaan
a. Perbaikan
1) Setiap pasangan pekerjaan sanitair yang rusak harus diperbaiki dengan cara-
cara yang dianjurkan oleh pabriknya.
2) Perbaikan harus dilaksanakan sedemikian rupa hingga tidak mengganggu
pekerjaan finishing lainnya.
3) Apabila ada pekerjaan finishing yang rusak akibat perbaikan pekerjaan lain
maka kerusakan pekerjaan finishing tersebut harus segera diperbaiki atas biaya
Kontraktor.
b. Pengamanan

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 10
10
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

1) Selama 3 x 24 jam sesudah pekerjaan sanitair selesai terpasang, harus dibiarkan


mengering dan selama itu tidak boleh dipergunakan.
2) Sesudah pekerjaan sanitair terpasang harus dijaga terhadap kemungkinan
terkena cairan-cairan dan benda-benda lain yang mungkin bisa menimbulkan
cacat, noda-noda dan sebagainya.
Apabila hal ini terjadi Kontraktor harus memperbaiki cacat tersebut hingga pulih
kembali seperti semula atas biaya Kontraktor.
7. Standar Penerimaan
a. Setiap pekerjaan sanitair yang dipasang harus teliti pada posisinya dan rapat, tidak
bocor dan terjamin hubungan kerapiannya.
b. Setiap pekerjaan sanitair harus dipasang lengkap dengan asesoriesnya dan dapat
berfungsi dengan sempurna, tanpa cacat.

BAB 6
PEKERJAAN PENGECATAN
6.1.LINGKUP PEKERJAAN
Meliputi pengecatan untuk semua permukaan yang tersebut dalam gambar.
6.2.KETENTUAN UMUM
Semua bahan-bahan cat harus diperoleh dari agen resmi yang telah disetujui, yang jika
dikehendaki dapat memberikan seluk beluk keterangan mengenai bahan tersebut dan
prosesnya.
Semua cat harus dipergunakan dan dipulaskan betul-betul sesuai dengan instruksi
pabriknya. Juga plamir dan cat dasarnya harus dikeluarkan oleh pabrik yang sama
untuk masing-masing lapisan pemakaian. Kaleng yang diisi cat harus diaduk benar-
benar sebelum dituangkan ke ketel dan dipulaskan menurut aturan dari pabriknya.
Jangan sekali-kali mencampurkan bahan pengering atau bahan-bahan lain ke dalam cat,
jika tidak disarankan atau dikehendaki oleh pabrik cat tersebut. Kontraktor harus dapat
membuktikan bahwa bahan yang dipakai adalah asli, tidak palsu, dengan menunjukkan
surat jaminan dari pabrik, sesuai volume pekerjaan yang disupply.
6.3.DAFTAR DAN PERSYARATAN BAHAN
Setelah kontrak ditanda tangani, tidak kurang dari 2 bulan sebelum memulai pekerjaan
pengecatan. Kontraktor harus mengajukan daftar dari semua bahan-bahan yang akan ia
pakai untuk pekerjaan pengecatan dan dekorasi, kepada Direksi.
Semua bahan yang dipakai dalam pekerjaan ini meliputi plamir, cat merk setara ICI,
dan harus disetujui/diparaf Konsultan Perencana.
Bahan
Cat Tembok
Merk : Dulux Weathershield/Jotun
Warna : Ditentukan kemudian oleh Direksi/Arsitek.
Cat Dasar : Jenis Alkali, Resisting Primer A

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 11
11
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

Plamir : Jenis Acrylic Wall Filler A 931.


Pengencer : Air Bersih, maximum 20 %.
Daya Sebar : 12 m2/liter.
Pengecatan ulang : Setelah 2 jam
Pengecatan : Minimal 3 lapis atau sampai disetujui Direksi
Cat Baja
Merk : Jotun/Sieve/Nippon Paint
Warna : Ditentukan kemudian oleh Direksi/Arsitek.
Cat Dasar : Base Coat Anti Karat/Zinc Chromate
Daya Sebar : 10 m2/liter.
Pengecatan ulang : Setelah 2 jam
Pengecatan : Minimal 3 lapis atau sampai disetujui Direksi
6.4.PEMILIHAN WARNA
Semua warna harus setujui oleh Arsitek, Pemberi Tugas dan Kontraktor harus
memasukkan dalam penawarannya biaya untuk mengadakan contoh warna-warna
untuk disetujui dalam penawarannya. Perlu dibuat mock up cat dengan luas 1 m2 untuk
persetujuan Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas.
6.5.PERSIAPAN UMUM
Untuk perbaikan cat pada dinding lama, maka cat eksisting harus dikelupas terlebih
dahulu. Diamplas sehingga dipastikan permukaan dinding rata dan kering.
Sebelum meneruskan pekerjaan pengecatan dan polituran, lantai harus dicuci
seluruhnya dan dijaga agar tidak ada debu beterbangan. Semua permukaan yang akan
dicat harus dipersiapkan sesuai dengan cara yang disetujui dan diuraikan dalam bab-bab
yang relevan. Dalam pelaksanaan pekerjaan ini, harus disediakan banyak lap bersih.

BAB 7
PEKERJAAN ATAP

7.1.PEKERJAAN PENUTUP ATAP


1. Lingkup Pekerjaan
a. Menyediakan tenaga kerja, bahan-bahan, peralatan dan alat bantu lainnya yang
diperlukan dalam pelaksanaan ini sehingga dapat tercapainya hasil bermutu baik
dan sempurna.
b. Lingkup pekerjaan ini meliputi pemasangan atap genteng dan rangkanya
dipasang pada bangunan pengembangan atau yang ditunjukkan dalam gambar
oleh Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas.
2. Persyaratan Bahan
Bahan : Genteng Zincalum
Ukuran : 80 cm x 77 cm
Berat/Lembar : 1.5 kg

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 12
12
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

Warna : hitam keabu-abuan atau sesuai dengan warna genteng


eksisting
Jarak Pemasangan : Sesuai gambar
Sudut kemiringan : 12o-90o / sesuai gambar detail. Lengkung bahan dilakukan
di fabrikasi

3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Sebelum pelaksanaan dimulai, Kontraktor diwajibkan memeriksa gambar-gambar
pelaksanaan termasuk lapisan-lapisan isolasi seperti yang dinyatakan dalam gambar,
serta melakukan pengukuran-pengukuran setempat
b. Kontraktor atas dasar gambar pelaksanaan diwajibkan menyediakan shop
drawing yang memperlihatkan sambungan antara bahan yang satu dengan yang
lain, pengakhiran-pengakhiran dan lain-lainnya yang belum/tidak tercakup dalam
gambar kerja.
Penyimpanan penutup atap disimpan dalam keadaan tetap kering, tidak boleh
berhubungan dengan tanah/lantai dan sebaiknya disimpan di dalam gudang
beratap.
Sebelum dimulai pemasangan atap, permukaan semua gording atau rangka
diperiksa terlebih dahulu apakah sudah berada pada satu bidang, jika perlu
dengan mengganjal atau menyetel bagian-bagian ini terhadap rangka
penumpunya. Dalam keadaan apapun juga ganjal tidak boleh dipasang langsung
di bawah pelat kait untuk mengatur kemiringan atap.
Penyetelan yang tepat akan menjamin kekuatan antara genteng dan paku kait.
Sebaliknya penyetelan yang tidak tepat akan mengakibatkan gangguan terutama
jika jarak penyangga yang kecil.
Pada waktu pelaksanaan harus selalu diperiksa dengan seksama, untuk
menghindarkan penggeseran pada pemasangan. Untuk memperbaiki kelurusan
lembaran dapat distel dengan menarik pelat kait menjauhi atau menekannya ke
arah lembaran pada saat pemasangan.
Hasil pemasangan harus mengikuti kemiringan yang telah ditentukan agar tidak
terjadi kebocoran.
Pelaksanaan pemasangan atap zincalum harus sesuai dan mengikuti detail gambar
serta petunjuk-petunjuk Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas.
4. Syarat Pemeliharaan
1) Perbaikan
Pemasangan pekerjaan finishing atap yang tidak rapi, mengalami cacat, retak
atau rusak harus segera diperbaiki atas biaya Kontraktor.
2) Pemeliharaan

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 13
13
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

Setelah pemasangan pekerjaan finishing atap selesai, permukaan atap harus


dibersihkan sehingga diperoleh hubungan permukaan satu dengan lainnya
menjadi rapat, rapi pada posisinya.
5. Syarat Penerimaan
a. Hasil pemasangan pekerjaan finishing atap ini harus rapat pada posisinya dan
rapi.
b. Hasil pemasangan pekerjaan finishing atap harus merupakan pekerjaan yang
sempurna dan tidak boleh mengakibatkan kebocoran dan mengenai
pemasangan sealent kaca harus benar-benar diperhatikan.

7.2.PEKERJAAN TALANG
1. Lingkup Pekerjaan
Meliputi pekerjaan talang serta alat-alat perlengkapan seperti yang dinyatakan/
ditunjukkan dalam gambar.
2. Persyaratan Bahan
a. Bahan : Dari bahan metal (talang) sesuai dengan bahan atap metal
b. Bentuk/ukuran : Sesuai detail gambar
c. Ukuran : Tebal 0,55 mm (talang)
d. Standar bahan : Harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam PUBI
1982 Pasal 107 dan memenuhi ketentuan dalam ASTM B
370-74.
3. Syarat-syarat Pelaksanaan
a. Semua bahan sebelum dikerjakan, harus ditunjukkan kepada Konsultan Konsultan
Pengawas/Pemberi Tugas untuk mendapatkan persetujuan. Dilengkapi dengan
ketentuan/persyaratan pabrik yang bersangkutan. Material yang tidak disetujui
harus diganti tanpa biaya tambahan.
b. Jika dipandang perlu diadakan penukaran/penggantian, maka bahan-bahan
pengganti harus yang disetujui Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas
berdasarkan contoh yang diajukan Kontraktor.
c. Sebelum pemasangan dimulai, Kontraktor harus meneliti gambar-gambar yang ada
dan kondisi di lapangan termasuk mempelajari bentuk, pola, penempatan, cara
pemasangan dan detail-detail sesuai gambar.
d. Kecuali peralatan/bahan yang tampak pada gambar, Kontraktor tidak
diperkenankan untuk memasang bahan lain tanpa persetujuan Konsultan Konsultan
Pengawas/Pemberi Tugas.
e. Bila ada kelainan dalam hal apapun antara gambar, spesifikasi dan lainnya, maka
Kontraktor harus segera melaporkan kepada Konsultan Konsultan
Pengawas/Pemberi Tugas.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 14
14
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

f. Kontraktor tidak dibenarkan memulai pekerjaan disuatu tempat bila ada


kelainan/perbedaan di tempat itu, sebelum kelainan/perbedaan di tempat tersebut
diselesaikan.
g. Kontraktor wajib memperbaiki/mengulangi/mengganti bila ada kerusakan yang
terjadi selama masa pelaksanaan dan masa garansi, atas biaya Kontrakto, selama
kerusakan tersebut bukan disebabkan oleh tindakan Pemberi Tugas/Pemakai.
h. Semua bahan untuk pekerjaan ini harus ditinjau, diuji baik pada pembuatan,
pengerjaan maupun pelaksanaan di lapangan.
i. Bila Konsultan Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas memandang perlu adanya
pengujian maka segala biaya dan fasilitas yang dibutuhkan untuk itu menjadi
tanggung jawab Kontraktor.
j. Permukaan dasar pemasangan talang dan lisplank sopi-sopi harus rata dan talang
dipersiapkan sesuai kemiringannya terhadap lubang roof drain yang telah
dipersiapkan untuk pekerjaan tersebut.
k. Pelaksanaan pemasangan harus dikerjakan oleh ahli yang berpengalaman.
4. Syarat Pemeliharaan
a. Perbaikan
1) Setiap pekerjaan talang metal dan lisplank yang rusak harus diperbaiki dengan cara-
cara yang dianjurkan oleh pabriknya.
2) Perbaikan harus dilaksanakan sedemikian rupa hingga tidak merusak pekerjaan
finishing lainnya.
3) Apabila ada pekerjaan finishing yang rusak akibat perbaikan pekerjaan talang metal dan
lisplank ini maka kerusakan pekerjaan finishing tersebut harus segera diperbaiki.
b. Pengamanan
1) Sesudah pekerjaan talang metal dan lisplank ini
selesai terpasang, permukaannya harus
dilindungi dengan bahan pelindung yang
memadai atas biaya Kontraktor.
2) Sesudah pekerjaan atap tembaga ini terpasang
permukaannya harus dijaga terhadap
kemungkinan-kemungkinan terkena cairan-
cairan dan bahan kimia dan benda-benda lain
yang mungkin bisa menimbulkan cacat, noda-
noda dan sebagainya.
3) Apabila hal ini terjadi, Kontraktor harus
memperbaiki cacat tersebut hingga pulih
kembali seperti semula.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 15
15
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

5. Standar Penerimaan
a. Setiap pekerjaan talang metal dan lisplank sopi-sopi aluminium yang dipasang
harus tepat pada posisinya dan rapat satu sama lain dan terjamin hubungan
kerapiannya.

BAB 8
PEKERJAAN BAJA

8.1.PEKERJAAN MACAM-MACAM LOGAM FABRIKASI


1. Umum
a. Lingkup Pekerjaan
1) Pekerjaan ini meliputi pengadaan tenaga
kerja, bahan-bahan dan peralatan yang
dipergunakan untuk melaksanakan
pembuatan dan pemasangan pekerjaan
logam seperti yang ditunjukkan dalam
gambar rancanganbesi cor
2) Pekerjaan ini dilaksanakan pada tempat-
tempat atau bagian bangunan seperti yang
ditunjukkan dalam gambar rancangan dan
petunjuk Konsultan Pengawas.
b. Pemasukan
1) Data produk dari produsen pembuat
komponen yang menyebutkan tipe, finish,
ukuran dari asesoris, detail angkur.
2) Shop drawings:
Mencantumkan profil, dimensi, detail
pemasangan dan fabrikasi, ukuran dan tipe
penguat, las, asesoris, shop finish dan
metode pemasangan.
c. Penyimpanan
a. Penyimpanan serta proteksi terhadap logam
fabrikasi harus mendapatkan perhatian
yang serius guna menghindarkan material

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 16
16
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

dari korosi maupun kerusakan yang


dikarenakan oleh pergesekan daripada
penumpukan material maupun
kelengkungan akibat berat daripada berat
sendiri
b. Material logam fabrikasi harus disimpan
pada tempat yang kering, tidak
berhubungan langsung dengan tanah serta
terhindar dari kelembaban.
c. Penyimpanan logam logam fabrikasi harus
diberi penutup serta terhindar daripada
percikan air.
2. Bahan
a. Besi
 Pelat besi, pipa kotak sesuai standart
 Pipa bulat : Hot-rolled, ASTM A 501.
 Alat-alat pendukung seperti angkur, brackets sesuai standart SII / JIS
3. Fabrikasi dan Pelaksanaan
a. Dibuat sesuai shop drawing yang sudah disetujui
Konsultan Pengawas.
b. Sambungan dan tempelan bila ada, dibatasi seminimal
mungkin, harus rata dan rapat.
c. Pemotongan dengan sinar laser dan tekukan dengan
mesin untuk mendapatkan hasil yang baik dn tepat.
d. Pada bagian yang terbuka, gunakan material yang
mulus, bebas dari bercak, tidak kasar, tidak ada “trade
names” dan lain-lain.
e. Sebelum dipasang bersihkan permukaan beton dan
dinding.

BAB 9
PEKERJAAN BETON NON STRUKTURAL

9.1. PEKERJAAN BETON BERTULANG


NON STRUKTURAL
1. Pekerjaan yang dimaksud meliputi:
a. Pembuatan kolom praktis 12 x 12 cM.
b. Pembuatan balok praktis / balok lintel, meja beton, kanopi beton
dengan ukuran sesuai yang tercantum dalam gambar kerja.
9.2. PEKERJAAN BETON TUMBUK

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 17
17
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

1. Pekerjaan yang dimaksud meliputi:


a. Pembuatan lantai kerja beton tumbuk di bawah ubin pada Lantai Dasar
b. Pembuatan rabat beton luar bangunan
9.3. PERSYARATAN BAHAN
1. Besi Beton
Besi beton yang dipakai adalah besi beton polos dari mutu U-24 untuk
diameter yang lebih kecil dari 13 mm. Besi beton harus bersih dari lapisan
minyak, lemak, dan bebas dari cacat seperti serpih-serpih. Penampang besi
harus bulat serta memenuhi persyaratan NI-2. Diameter besi beton yang
dipasang harus sesuai dengan Gambar kerja.
Besi beton yang tidak memenuhi persyaratan harus segera dikeluarkan dari
lapangan kerja dalam waktu 24 jam setelah ada perintah tertulis dari
Direksi/Konsultan Pengawas. Kawat pengikat besi beton adalah baja lunak
dan tidak disepuh / dilapis seng. Diameter kawat lebih besar atau sama
dengan 0.4 mm. Kawat pengikat harus memenuhi syarat dalam NI-2 (PBI-
1971).
2. Semen setara produk Tiga Roda.
3. Pasir
Pasir yang digunakan adalah jenis PS dengan butir-butir yang tajam, keras,
bersih dari tanah dan lumpur yang tidak mengandung bahan-bahan organis.
Pasir yang dipakai harus pasir beton.
4. Koral Beton/Batu Pecah/Split
Koral beton/batu pecah/split yang dipakai harus bersih, bersudut tajam, tidak
berpori, serta mempunyai gradasi kekerasan sesuai dengan syarat-syarat NI-
2.
Penyimpanan/penimbunan koral beton / split dengan pasir harus dipisahkan
satu dengan yang lain, sehingga kedua bahan tersebut dijamin mendapatkan
perbandingan adukan beton yang disyaratkan.
5. Air
Air yang dipakai harus bebas dari lumpur, minyak, asam, bahan organic,
basa, garam dan kotoran lainnya jumlah yang dapat merusak.
6. Acuan Bekisting dan Perancah.
Papan acuan/bekisting dibuat dari Papan 3/20 atau multiplex tebal 9 mm
dengan rusuk-rusuk pengaku dan pengikat papan acuan dari kaso 5/7.
Perancah disyaratkan memakai perancah kayu atau besi, tidak diperkenankan
memakai bambu.
9.4. PERSYARATAN PELAKSANAAN
1. Pembesian
Pembuatan tulangan-tulangan untuk batang lurus atau yang dibengkokkan,
sambungan, kait-kait dan sengkang (ring), persyaratannya harus sesuai dengan NI-2 (PBI-

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 18
18
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

1971). Pemasangan dan penggunaan tulangan beton harus sesuai dengan Gambar kerja.
Tulangan beton harus diikat dengan kuat untuk menjamin agar besi-besi tersebut tidak
berubah selama pengecoran dan harus bebas dari papan acuan/bekisting atau lantai kerja
dengan memasang selimut beton dan bantalan tahu beton sesuai dengan NI-2 (PBI-1971).
2. Pekerjaan Acuan/Bekisting
Acuan harus dipasang sesuai dengan bentuk dan ukuran-ukuran yang telah
ditetapkan dalam Gambar kerja. Acuan harus dipasang sedemikian rupa dengan
perkuatan-perkuatan, sehingga cukup kokoh dan dijamin tidak berubah bentuk dan
kedudukannya selama pengecoran berlangsung. Acuan harus rapat (tidak bocor),
permukaan licin, bebas dari kotoran tahi gergaji, potongan kayu, tanah lumpur dan
sebagainya.
3. Cara Pengadukan
Cara pengadukan menggunakan beton molen. Takaran untuk Semen Portland, pasir
dan koral harus terlebih dahulu oleh Direksi/Konsultan Pengawas. Beton harus dilindungi
dari sinar matahari langsung, hingga terjadi penguapan terlalu cepat. Persiapan
perlindungan atas kemungkinan datangnya hujan harus diperhatikan.
4. Pengecoran Beton
Sebelum pelaksanaan pengecoran, Kontraktor diwajibkan melaksanakan pekerjaan
persiapan dengan membersihkan dan menyiram cetakan-cetakan sampai jenuh,
pemeriksaan ukuran-ukuran dan ketinggian, pemeriksaan, penulangan, dan penempatan
penahan jarak. Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan
Direksi/Konsultan Pengawas. Pengecoran harus dilakukan dengan menggunakan alat
penggetar beton untuk menjamin beton cukup padat dan harus dihindarkan dari terjadinya
cacat pada beton seperti keropos dan sarang-sarangnya koral/batu pecah/splityang dapat
memperlemah konstruksi. Apabila pengecoran beton akan dihentikan dan diteruskan pada
hari berikutnya, maka tempat penghentian tersebut harus disetujui Direksi/Konsultan
Pengawas. Penyambungan beton lama dengan beton baru harus memakai adukan perekat
seperti Calbond. Permukaan beton lama yang akan diteruskan pengecorannya harus
dikasarkan, dilapis dengan adukan perekat Calbond yang pembuatannya sesuai dengan
persyaratan pabrik pembuat, selanjutnya langsung dilakukan pengecoran baru.
5. Pekerjaan Pembongkaran Acuan/Bekisting
Pekerjaan pembongkaran acuan/bekisting hanya boleh dilakukan dengan ijin tertulis
dari Direksi/Konsultan Pengawas. Setelah bekisting dibuka, tidak diijinkan mengadakan
perubahan apapun pada permukaan beton tanpa persetujuan Direksi/Konsultan Pengawas.
6. Pekerjaan Pembuatan Kolom Praktis
Pemasangan kolom praktis untuk:
a. Setiap pertemuan dinding pasangan batu bata.
b. Dinding pasangan batu bata ½ batu pada bagian luar dan tepi luar bangunan setiap
luas 12 m2
c. Seperti yang tercantum dalam Gambar kerja.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 19
19
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

7. Pekerjaan Pembuatan Balok Praktis/Latei dan Ring Balok.


Pemasangan balok praktis/latei/lintel dan ring balok.
a. Di tepi atas/akhir dari dinding pasangan batu bata yang bebas sebagai ring balok.
b. Setiap luas 9 m2 pasangan dinding yang tinggi.
c. Seperti yang tercantum dalam Gambar kerja.
Penulangan beton kolom dan balok praktis sesuai dengan gambar kerja dan atau seperti
yang terurai dalam pekerjaan beton di bab lain dalam buku ini.
Pemasangan kolom praktis dan balok praktis/latei seperti yang tercantum dalam butir di
atas, terlepas apakah pekerjaan tersebut tergambar atau tidak dalam gambar kerja.
Pada setiap pertemuan dinding pasangan bata dengan kolom praktis, ring balok beton
maupun beton lainnya seperti tercantum dalam gambar kerja, harus diperkuat angker
diameter 8 mm tiap jarak 50 mM, yang terlebih dahulu telah ditanam dengan baik pada
bagian kolom dan balok praktis ini. Bagian yang tertanam dalam pasangan bata minimal
sedalam 30 cM kecuali ditentukan lain.
8. Pekerjaan Beton Tumbuk
Campuran beton tumbuk adalah 1 PC : 3 Ps : 5 Kr, dipasang pada rabat beton di luar
bangunan, dan pada bagian bawah ubin lantai ruangan dan tempat-tempat lain seperti
tercantum dalam gambar rencana. Lapisan beton tumbuk harus padat, tidak berongga,
tidak retak dan rata permukaan / waterpass dan atau seperti tercantum di dalam gambar
kerja. Tebal lapisan beton tumbuk di bawah ubin adalah 6 cM, tebal rabat beton adalah 8
cM atau sesuai dengan gambar kerja.

BAB 10
PEKERJAAN BETON NON STRUKTURAL

10.1. PERSYARATAN PELAKSANAAN PEKERJAAN


1. Pekerjaan Penentuan Titik Pengukuran / Pematokan
a. Pengukuran dan pemasangan bouwplank titik duga (0 peil) ditentukan bersama-
sama Pihak Direksi atau Konsultan Pengawas. Patok-patok berukuran minimal 5/7
cm dan papan bouwplank 3/20 dengan panjang kurang lebih 4 m dan terbuat dari
kayu. Papan patok harus keras dan tidak berubah posisinya, tanda-tanda dan sumbu
harus teliti dan jelas, dicat dengan cat menie.
b. Kontraktor harus memasang dan mengukur secara teliti patok monumen (BM)
pada lokasi tertentu sepanjang proyek, untuk memungkinkan perencanaan kembali
dan pengukuran sipat datar dari perkerasan atau penentuan titik dari pekerjaan yang
akan dilakukan. Patok permanen harus dibangun diatas tanah yang tidak akan
terganggu/ dipindahkan.
c. Kontraktor harus menentukan titik patok konstruksi yang menunjukkan garis dan
kemiringan untuk lebar perkerasan, lebar bahu dan drainase sesuai dengan
penampang melintang standar yang diberikan dalam gambar rencana dan harus

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 20
20
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

mendapatkan persetujuan dari Pihak Direksi atau Konsultan Pengawas sebelum


memulai konstruksi.
2. Penentuan Tempat Kedudukan Sumbu Saluran
As saluran yang direncanakan, dipasang di lapangan berdasarkan hasil draft
design yang telah disetujui Konsultan Pengawas dengan cara sebagai berikut:
a. Titik awal dan akhir as saluran diikatkan kepada titik-titik poligon. Masing-
masing 2 buah patok beton diletakkan ditepi daerah penguasaan jalan sebagai
titik penolong.
b. Titik-titik penting pada tikungan ditentukan di lapangan dengan memasang
patok-patok pembantu. Pada titik PI dipasang 1 (satu) patok beton.
c. Patok-patok tersebut diberi tanda dan nomor urut serta dibedakan dari patok
poligon. Alat ukur yang digunakan adalah Theodolit.
d. Level dasar saluran ditentukan sesuai gambar.
3. Toleransi

Pada proses pengukuran di lapangan tidak boleh terjadi kesalahan yang melebihi
toleransi yang diberikan:
a. Kelurusan untuk setiap panjang 30 m toleransi :  10 mm.
b. Kelurusan untuk panjang 30 m – 60 m toleransi :  15 mm.
c. Kelurusan untuk panjang  60 m toleransi :  20 mm.
d. Kemiringan melintang / memanjang toleransi :  0.1%.
e. Ketebalan struktur toleransi :  5 mm.
f. Elevasi toleransi :  5 mm.
g. Selimut beton 0 – 50 mm toleransi :  5 mm.
h. Selimut beton  50 mm toleransi :  10 mm.
4. Selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung tidak boleh mengganggu
kelancaran aktifitas disekitarnya.
5. Jaminan kualitas untuk semua bahan yang digunakan
10.2. BAHAN
1. Beton
Beton untuk pekerjaan sambungan konstruksi harus menggunakan bahan-
bahan dan campuran sesuai dengan spesifikasi berikut ini :
a. Baja Tulangan
1) Baja tulangan yang digunakan adalah baja lunak mutu U 24 (tegangan
leleh 2400 kg/cm2) atau sesuai dengan gambar.
2) Mutu baja tulangan yang digunakan harus dibuktikan dengan test
laboratorium. Jumlah benda uji minimal 3 buah untuk setiap ukuran
penampang baja tulangan. Semua biaya tes ditanggung Kontraktor.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 21
21
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

3) Konsultan Pengawas akan meminta diadakan tes laboratorium untuk


setiap bahan / material yang diragukan mutunya.
4) Baja tulangan yang tidak memenuhi syarat harus segera dikeluarkan dari
lapangan dalam waktu 24 jam, setelah ada perintah tertulis dari
Konsultan Pengawas.
5) Baja tulangan yang akan digunakan harus bersih dari minyak dan bahan
lainnya yang dapat mengurangi daya lekat antara baja tulangan dan
adukan beton.
b. Semen
1) Digunakan Portland cement jenis 1 menurut N.I.8 1965 atau type 1
menurut ASTM.C.150 dan memenuhi S.400 menurut Standard Cement
Portland yang digariskan oleh Association Cement Indonesia (N.I.8 –
172) merek yang dipilih tidak dapat di tukar-tukar dalam pelaksanaan
kecuali dengan persetujuan tertulis dari pihak Direksi atau Konsultan
Pengawasdengan pertimbangan:
a) Tidak ada stock dipasaran dari merek yang dipilih.
b) Kontraktor memberikan jaminan dengan data-data teknis bahwa mutu semen
penggantinya mempunyai kualitas yang sama.
2) Semen yang telah mengeras sebagian tidak diperkenankan untuk dipakai
sebagai bahan campuran.
3) Tempat penyimpanan semen harus diusahakan sedemikian rupa sehingga
semen terbebas dari kelembaban, untuk menghindari cepatnya semen
mengeras
c. Pasir Beton
Pasir beton harus terdiri pasir dengan butiran yang bersih dan bebas dari bahan
organik, lumpur dan sejenisnya, serta memenuhi komposisi butir serta kekerasan
sesuai dengan syarat yang tercantum dalam P.B.I.71.
d. Koral
1) Koral yang digunakan harus bersih dan bermutu baik serta mempunyai
gradasi serta kekerasan sesuai dengan syarat yang tercantum dalam
P.B.I.71.
2) Tempat menyimpan / penimbunan pasir dan koral harus dipisahkan satu
dengan yang lain sehingga dapat dijamin bahwa kedua jenis material
tersebut tidak tercampur, dengan maksud agar bisa didapatkan adukan
beton dengan komposisi material yang tepat.
e. Air
1) Air yang digunakan harus air tawar yang bersih dan tidak mengandung
minyak, garam dan bahan organik atau bahan yang merusak beton.
f. Bekisting

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 22
22
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

1) Bahan bekisting harus baik dan dipasang sesuai ukuran yang ditetapkan
dalam gambar. Jenis bahan yang dipakai harus mendapat persetujuan
dari Konsultan Pengawas.
2) Bekisting harus dipasang dengan perkuatan sehingga menjamin ukuran
dan jarak tidak berubah selama dilakukan pengecoran.
3) Sebelum pengecoran bekisting dapat dibuka / dibongkar sesuai dengan
syarat yang tercantum dalam P.B.I.1971.
g. Mutu Beton
1) Mutu beton yang digunakan adalah K350 atau sesuai gambar.
2) Mutu beton tersebut harus dibuktikan Kontraktor dengan percobaan
hancur kubus beton dari laboratorium.
3) Pengambilan contoh adukan beton (benda uji) yang akan dites di
laboratorium harus disaksikan Konsultan Pengawas.
4) Jumlah benda uji sesuai dengan ketentuan dalam P.B.I.1971, dan mutu
beton harus diperiksa untuk 3 hari, 7 hari dan 28 hari untuk setiap
macam adukan yang diambil contohnya.
5) Hasil tes laboratorium harus segera diserahkan kepada Konsultan
Pengawas.
h. Campuran beton.
1) Komposisi adukan dinyatakan dalam perbandingan berat. Untuk masing-
masing jenis material harus diadakan percobaan komposisi adukan dan
hasil dari percobaan tersebut harus segera diserahkan kepada Konsultan
Pengawas untuk dijadikan pedoman pada waktu pengecoran.
2) Slump untuk campuran beton harus disesuaikan dengan hasil percobaan
laboratorium untuk mendapatkan mutu beton yang disyaratkan dalam
P.B.I.1971.
3) Penunjukan laboratorium untuk pengetesan beton dan percobaan mutu
beton harus mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas.
2. Saluran U-ditch dan Tutup Grill Besi
Supplier pemasok U-ditch dan Tutup Grill besi harus menyertakan sertifikat yang
memuat dimensi, ketebalan, beban maksimum diatas decker yang diijinkan
ketebalan timbunan diatas decker dsb, yang memungkinkan untuk memilih U-ditch
berdasarkan beban kendaraan/timbunan yang terjadi pada jalur U-ditch terpasang.
3. Alas U-ditch dan Tutup Grill Besi
Bahan-bahan butiran untuk pembuatan alas pipa beton harus mengikuti gradasi
berikut, kecuali ditetapkan lain oleh Konsultan Perencana.
Ukuran Saringan 19.0 2.36 0.60 0.30 0.15 0.75
% Berat yang lolos 100 100-50 90-20 60-10 25-0 10-0

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 23
23
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

Bahan - bahan bitumen untuk timbunan setinggi 0.7 t (tinggi) u-ditch / box culvert
dikiri kanan harus mengikuti gradasi berikut, kecuali ditetapkan lain oleh Konsultan
Perencana.
Ukuran Saringan 75 9.5 2.36 0.60 0.075
% berat yang lolos 100 100-50 90-20 60-10 25-0
10.3. PELAKSANAAN
1. Pekerjaan galian dan yang berhubungan dengannya.
a.Galian harus dibuat sedemikian sehingga U-ditch dapat diletakkan pada
lintasan dan kedalaman yang dikehendaki, dan penggalian hanya dilakukan
pada saluran yang akan dipasang seperti pada yang diperbolehkan oleh
Konsultan Pengawas. Galian harus dikeringkan dan dijaga selama
pelaksanaan pekerjaan sehingga pekerja dapat bekerja didalamnya dengan
aman dan efisien .
b.Lebar galian harus cukup untuk dapat meletakkan pipa dan
menyambungkanya dengan baik, dan “Bedding” maupun timbunan harus
ditempatkan dan dipadatkan seperti tertera dalam gambar atau sesuai
instruksi Konsultan Pengawas. Galian harus dibuat dengan lebar extra, bila
diperlukan memasukan penyangga-penyangga galian dan peralatan-
peralatan yang diperlukan.
c. Galian harus dibuat dengan kedalaman sesuai dengan keperluan.
d.Jika dasar galian ternyata tidak stabil atau mengandung bahan-bahan tidak
stabil seperti debu-debu, sampah dan sebagainya dan dalam pandangan
Konsultan Pengawas harus disingkirkan, maka Kontraktor harus
mengadakan penggalian dan menyingkirkan bahan-bahan yang tidak stabil
tersebut. Jika menurut pendapat Konsultan Pengawas diperlukan pondasi
khusus, seperti penggantian tanah atau penimbunan dengan bahan yang
sesuai, Kontraktor harus mengerjakannya sesuai petunjuk Konsultan
Pengawas, tidak ada biaya tambahan yang diberikan untuk pekerjaan ini.
e.Galian harus diberi perkuatan jika perlu sehingga tidak runtuh, menjaga para
pekerja untuk bekerja dengan aman dan mengamankan permukaan jalan dan
bangunan–bangunan lainnya seperti yang ditunjukkan oleh Konsultan
Pengawas.
f. Sisa galian agar dibuang ke daerah yang ditunjuk oleh pihak Direksi atau
Konsultan Pengawas. Pembuangan dalam radius 1 km dari lokasi proyek
atas biaya Kontraktor. Kontraktor bertanggung jawab atas pengangkutan,
penebaran dan perapihan material buangan pada lokasi pembuangan.
g.Sisa galian juga bisa ditempatkan sementara pada area yang ditunjuk oleh
pihak Direksi atau Konsultan Pengawassebagai stock, untuk digunakan
kemudian atas permintaan pihak Direksi atau Konsultan Pengawas.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 24
24
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

h.Kontraktor bertanggung jawab penuh dan agar membuat drainase sementara


pada area konstruksi untuk menjaga agar daerah konstruksi selalu dalam
keadaan kering. Pengalihan aliran air dan semua tindakan teknis lainya agar
dilaksanakan untuk melindungi area kerja tetap dalam keadaan kering .
Kontraktor bertanggung jawab penuh atas kerusakan-kerusakan yang
ditimbulkan dalam melaksanakan hal tersebut, serta harus memperbaikinya.
Tidak ada biaya tambahan dalam hal ini.
2. Pemasangan U-ditch dan Box Culvert
a. Untuk mendapatkan keamanan dan keberhasilan pekerjaan, Kontraktor
harus menggunakan semua peralatan dan fasilitas yang telah disetujui
Konsultan Pengawas. Semua U-ditch dan box culvert harus diturunkan ke
dalam galian yang alasnya sudah diberi pasir serta pada bagian sambungan
sudah diberi lantai kerja yang levelnya sudah benar, secara hati-hati dengan
peralatan derek, tali peralatan yang memadai untuk mengamankan pipa
beton. Dalam keadaan apapun juga tidak boleh dijatuhkan kedalam galian.
Jika terjadi kerusakan, kerusakan harus segera dilaporkan kepada
Konsultan Pengawas. Konsultan Pengawas akan menginstruksikan untuk
mengadakan perbaikan atau membuang bahan-bahan yang rusak tersebut
b. Semua U-ditch dan box culvert harus diperiksa dengan teliti terhadap retak-
retak dan kerusakan-kerusakan lainnya ketika saluran berada diatas galian,
jika terjadi kerusakan U-ditch beton segera diganti sebelum pemasanganya
pada posisi terakhir. Saluran harus diletakkan dekat galian untuk diperiksa
oleh Konsultan Pengawas, yang akan menentukan perbaikan atau dibuang.
c. Untuk U-ditch beton dengan kemiringan antara 1/5 sampai dengan 1/10,
agar tidak terjadi pergeseran U-ditch, maka pada sambungan harus diberi
angkur dari beton yang ditanam pada kedalaman minimal 50cm dibawah
sambungan.
d. Saluran kotoran dan sisa lapisan (coating) harus dihilangkan dari tiap U-
ditch harus dibersihkan, kering dan bebas dari lemak, minyak sebelum pipa
dipasang.
e. Harus dijaga agar bahan-bahan lain tidak masuk ke dalam U-ditch ketika
U-ditch diletakkan. Selama pekerjaan berlangsung tidak boleh ada bahan-
bahan, peralatan, pakaian atau barang-barang lain diletakkan diatas U-ditch.
Pada waktu pemasangan U-ditch dalam galian, letak akhir harus tepat
dengan ujung U-ditch dan dipasang dengan lintasan dan sudut yang benar.
Harus dijaga agar kotoran tidak masuk kedalam ruang antara sambungan U-
ditch.
f. Pemotongan U-ditch dan Box Culvert. Apabila diperlukan pemotongan
maka harus dikerjakan dengan rapi dan teliti tanpa menyebabkan kerusakan
pada U-ditch dan lapisan ujungnya harus dibuat halus.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 25
25
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

3. Perlindungan terhadap U-ditch dan Box Culvert


Pada titik lokasi dimana terdapat crossing antara drainase dan air limbah, dan jarak
antara kedua dinding pipa kurang dari 40 cm, maka concrete juga harus dibuat
pada titik crossing tersebut, atau sesuai dengan petunjuk Konsultan Pengawas.
Tidak ada tambahan biaya pada kedua point tersebut diatas.
10.4. PELAKSANAAN PEKERJAAN BETON
1. Pengecoran
a. Pengecoran beton hanya dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis dari
Konsultan Pengawas.
b. Pengecoran harus dilakukan dengan baik, menggunakan vibrator untuk
menjamin kepadatan beton.
c. Apabila pengecoran beton akan dihentikan untuk diteruskan pada hari
berikutnya maka tempat penghentian pengecoran harus disetujui oleh
Konsultan Pengawas.
d. Pada pengecoran sambungan setelah berhenti 1 hari, maka pada permukaan
beton yang akan disambung harus diberi bahan kimia yang bersifat
merekatkan, dengan terlebih dulu mendapatkan ijin dari Konsultan
Pengawas mengenai jenis yang dipakai.
e. Setelah pengecoran, beton harus dijaga agar selalu dalam keadaan basah
selama tidak kurang dari 7 hari, untuk pengerasan yang baik.
2. Lobang-lobang Pipa Pada Beton (Wall Piper)
a. Pemasangan lobang pipa pada beton tidak boleh mengurangi kekuatan
konstruksi sesuai dengan persyaratan P.B.I 1971.
3. Baja Tulangan
a.Kontraktor harus mengusahakan agar besi tulangan yang dipasang sesuai
dengan gambar.
b.Dalam hal dimana berdasarkan pengalaman Kontraktor atau pendapatnya
terdapat kesalahan atau kekurangan atau perlu penyempurnaan pembesian,
maka:
1) Kontraktor dapat menambah ekstra besi dengan tidak mengurangi
pembesian yang tertera dalam gambar. Secepatnya hal ini
diberitahukan pada Konsultan Pengawas.
2) Jika diusulkan perubahan dari jalannya pembesian maka perubahan
tersebut hanya dapat dijalankan dengan persetujuan tertulis dari pihak
Direksi atau Konsultan Pengawas.
c.Jika Kontraktor tidak berhasil mendapatkan diameter besi yang sesuai dengan
gambar, maka dapat dilakukan penukaran diameter besi dengan diameter
terdekat dengan catatan:
1) Harus ada persetujuan dari pihak Direksi atau Konsultan Pengawas.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 26
26
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Arsitektur
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

2) Jumlah luas penampang besi persatuan panjang tidak boleh kurang dari
yang tertera dalam gambar.
3) Penggantian tidak boleh mengakibatkan keruwetan pembesian karena
overlapping yang terlalu banyak, sehingga menyulitkan pengecoran.
d.Biaya tambahan yang diakibatkan oleh penukaran diameter besi menjadi
tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya.
4. Perawatan Beton.
a. Beton harus dilindungi dari pengaruh panas, sehingga tidak terjadi
penguapan cepat.
b. Persiapan perlindungan atas kemungkinan datangnya hujan, harus
diperhatikan.
5. Tanggung jawab Kontraktor
a. Kontraktor bertanggung jawab penuh atas kualitas konstruksi sesuai
dengan ketentuan diatas dan sesuai dengan gambar konstruksi yang
diberikan. Adanya/kehadiran Konsultan Pengawas selaku wakil
pihak Direksi atau Konsultan Pengawas yang akan melihat,
mengawasi, menegur atau memberi nasehat, tidak mengurangi
tanggung jawab penuh tersebut diatas.
10.5. PEMELIHARAAN
Setelah beberapa minggu saluran digunakan, pemeliharaan baru dilakukan terutama
kebocoran-kebocoran. Bila terjadi penurunan setempat harus diperbaiki dengan cara
mengangkat u-ditch ditempat tersebut dan meneliti sebab-sebabnya. Bila kerusakan
tersebut akibat penurunan lapis dasar u-ditch, maka diperbaiki sesuai dengan petunjuk
Direksi/Konsultan Pengawas

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 27
27
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Mekanikal Elektikal
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

I. SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN LISTRIK ARUS KUAT

PASAL 1
KABEL DAYA TEGANGAN RENDAH
1.1. UMUM
Kabel daya tegangan rendah yang dipakai adalah bermacam-macam ukuran dan
type yang sesuai dengan gambar rencana (NYA, NYM, NYY), kabel daya tegangan
rendah ini harus sesuai dengan standard SII atau SPLN.
Sebelum dan sesudah dipasang, kabel TR harus ditest dengan pengujian-pengujian
sebagai berikut:
a. Test insulasi;
b. Test kontinuitas;
c. Test tahanan pantanahan.
1.2. INSTALASI DAN PEMASANGAN KABEL
a. Bahan
Semua kabel yang dipergunakan untuk instalasi listrik harus memenuhi
peraturan PUIL/LPENGAWAS. Semua kabel/kawat harus baru dan harus jelas
ditandai dengan ukurannya, jenis kabelnya, nomor dan jenis pintalannya.
Semua kawat dengan penampang 6 mm2 keatas haruslah terbuat secara dipilin
(stranded). Instalasi ini tidak boleh memakai kabel dengan penampang lebih
kecil dari 2,5 mm2, kecuali untuk pemakaian remote control.
Kecuali dipersyaratkan lain, konduktor yang dipakai adalah dari type :
1) Untuk instalasi penerangan adalahNYM/NYA dengan conduit pipa PVC.
2) Untuk kabel distribusi digunakan NYY dan penerangan taman dengan
menggunkan kabel NYFGbY.
3) Semua kabel NYY yang ditanam didalam perkerasan (tembok, jalan, beton
dll) harus berada di dalam conduit PVC calss AW yang disesuaikan dengan
ukurannya, EGA kabel trench dan harus diklem.
b. Splice/Pencabangan
Tidak diperkenankan adanya "splice" ataupun sambungan-sambungan baik
dalam Feeder maupun cabang-cabang, kecuali pada outlet atau kotak-kotak
penghubung yang bisa dicapai (acceptable).
Sambungan pada kabel circuit cabang harus dibuat secara mekanis dan harus
teguh secara electrik dengan cara "solderless connector". Jenis kabel tekanan,
jenis compression atau soldered.
Dalam membuat splice, conector harus dihubungkan pada konduktor-konduktor
dengan baik, sehingga semua konduktor tersambung, tidak ada kabel-kabel
telanjang yang kelihatan dan tidak bisa lepas oleh getaran.
Semua sambungan kabel baik didalam junction box, panel ataupun tempat
lainya harus mempergunakan connector yang terbuat dari tembaga yang

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 1
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Mekanikal Elektikal
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

diisolasi dengan porselen atau bakelit ataupun PVC, yang diameternya


disesuaikan dengan diameter kabel.
c. Bahan Isolasi
Semua bahan isolasi untuk splace, connection dan lain-lain seperti karet, PVC,
asbes, tape sintetis, resin, splice case, compostion dan lain-lain harus dari type
yang disetujui, untuk penggunaan, lokasi voltage dan lain-lain tertentu itu harus
dipasang memakai cara yang disetujui menurut anjuran perwakilan pemerintah
dan atau Manufacturer.
d. Penyambungan Kabel
1) Semua penyambungan kabel harus dilakukan dalam kotak-kotak
penyambung yang khusus untuk itu (misalnya junction box dan lain-lain).
Kontraktor harus memberikan brosur-brosur mengenai cara-cara penyambungan
yang dinyatakan oleh pabrik kepada Perencana.
2) Kabel-kabel harus disambung sesuai dengan warna-warna atau nama-
namanya masing-masing, dan harus diadakan pengetesan tahanan isolasi
sebelum dan sesudah penyambungan dilakukan.
Hasil pengetesan harus tertulis dan disaksikan oleh PENGAWAS.
3) Penyambungan kabel tembaga harus mempergunakan penyambungan-
penyambungan tembaga yang dilapisi dengan timah putih dan kuat.
Penyambungan-penyambungan harus dari ukuran yang sesuai.
4) Penyambungan kabel yang berisolasi PVC harus diisolasi dengan pipa
PVC/protolen yang khusus untuk listrik.
5) Penyekat-penyekat khusus harus dipergunakan bila perlu untuk menjaga
nilai isolasi tertentu.
6) Cara-cara pengecoran yang ditentukan oleh pabrik harus diikuti, misal
temperatur-temperatur pengecoran dan semua lubang-lubang udara harus
dibuka selama pengecoran.
7) Bila kabel dipasang tegak lurus dipermukaan yang terbuka, maka harus
dilindungi dengan pipa baja dengan tebal 0,3 mm .... maksimal 2,5 mm.
e. Saluran Pengahantar dalam Bangunan
1) Untuk instalasi penerangan di daerah tanpa menggunakan ceiling gantiung ,
saluran penghantar (conduit) dipasang diatas kabel tray/Tranking atau
ditentukan lain (ditanam dalam beton).
2) Untuk instalsi penerangan yang menggunakan ceiling gantung saluran
penghantar (conduit) dipasang diatas kabel Tray dan diletakkan diatas
ceiling dengan tidak membebani ceiling.
3) Untuk instalasi saluran penghantar diluar bangunan, dipergunakan saluran
beton, kecuali untuk penerangan taman, dipergunakan pipa galvanized
dengan diameter sesuai standarisasi. saluran beton dilengkapi dengan hand-
hole untuk belokan-belokan.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 2
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Mekanikal Elektikal
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

4) Setiap saluran kabel dalam bangunan dipergunakan pipa conduit minimum


5/8" diameternya. Setiap pencabangan ataupun pengambilan keluar harus
menggunakan junction box yang sesuai dan sambungan yang lebih dari satu
harus menggunakan terminal strip didalam junction box.
Junction box yang terlihat dipakai ex. lokal, tutup blank plate stainless steel,
type "star point" PENGAWAS, AIS, Klipsal.
5) Ujung pipa kabel yang masuk dalam panel dan junction box harus
dilengkapi dngan socket/ lock nut, sehingga pipa tidak mudah tercabut dari
panel. bila tidak ditentukan lain, makasetiap kabel yang berada pada
ketinggian muka lantai
6) sampai dengan 2 m, harus dimasukkan dalam pipa PVC dan pipa harus
diklem ke bangunan pada setiap jarak 50 cm.
f. Pemasangan Kabel dalam Tanah
1) Kabel tagangan rendah harus ditanam minimal sedalam 60 cm.
2) Kabel yang ditanam langsung dalam tanah harus dilindungi dengan bata
merah dan diberi pasir, ditanam minimal sedalam 80 cm.
3) Untuk kabel yang melewati jalan raya ditanam sedalam 100 cm dan dilapisi
pipa galvanized.
4) Kabel-kabel yang menyeberang jalur solokan, dilindungi dengan pipa
galvanized atau pipa beton yang dilapisi dengan pipa PVC type AW, kabel
harus berjarak tidak kurang dari 30 cm dari pipa gas, air dan lain-lain.
5) Galian untuk menempatkan kabel yang dipasang dalam tanah harus bersih
dari bahan-bahan yang dapat merusak isolasi kabel, seperti batu, abu,
kotoran bahan kimia dan lain sebagainya.
Alas galian (lubang) dilapisi dengan pasir kali setebal 10 cm, kemudian kabel
diletakkan diatasnya diberi bata dan akhirnya ditutup dengan tanah urug.
Penyambungan kabel dalam tanah tidak diperkenankan secara langsung, harus
mempergunakan peralatan khusus untuk penyambungan kabel dalam tanah.
6) Penanaman dan penyambungan kabel harus diberikan marking yang jelas
pada jalur-jalur penanaman kabelnya.
Agar memudahkan didalam pengoperasian, pengurutan kabel dan menghindari
kecelakaan akibat tergali/tercangkul.
7) Testing & Pengujian
Pengujian ini perlu dilakukan dengan disaksikan oleh Pengawas lapangan dan
disyahkan oleh petugas PLN stempat, dimana pengujian tersebut meliputi :
 Test kekuatan tegangan impuls
 Test tahanan isolasi
 Test kenaikan temperatur
 Continuity test

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 3
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Mekanikal Elektikal
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

PASAL 2
INSTALASI PENERANGAN

2.1. LAMPU
Lampu dan armaturnya harus sesuai dengan yang dimaksudkan, seperti yang
dilukiskan dalam gambar-gambar elektrikal.
a. Fixture lampu dengan TL 1x18 watt.
Merk : Philips, setara atau yang disetujui oleh Perencana.

2.2. SAKLAR DINDING


Saklar harus dari type untuk pemasangan rata dinding, type rocker dengan rating
250 volt, 10 ampere, single gang, double gangs atua multiple gangs (grid switch).

2.3. JUNCTION BOX UNTUK SAKLAR


a Junction Box harus dari bahan metal dengan kedalaman tidak kurang dari 35
mm.
Kotak dari metal harus mempunyai terminal pentanahan.
b Saklar dinding terpasang pada junction box metal dengan menggunakan baut,
pemasangan dengan cakar yang mengambang tidak diperbolehkan.
c Kabel Instalasi
Pada umumnya kabel instalasi penerangan dan instalasi stop kontak harus kabel
inti tembaga dengan insulasi PVC, satu inti atau lebih (NYA atau NYY).
Kabel harus mempunyai penampang minimal 2.5 mm2.
d Kode Warna insulasi kabel harus mengikuti ketentuan PUIL sebagai berikut :
 Fasa 1 : merah
 Fasa 2 : kuning
 Fasa 3 : hitam
 Netral : biru
 Tanah (ground) : hijau-kuning
Kabel harus dari merk Kabelindo, Kabel Metal atau Supreme.

2.4. PIPA INSTALASI PELINDUNG KABEL


pipa untuk instalasi penerangan dan stop kontak dengan pipa PVC, khusus
untuk listrik High Impact conduit-heavy gauge, minimum diameter 20 mm;
Seluruh instalasi rigid conduit dilengkapi dengan coupling, spacer bar saddle,
adaptor famale and male thread, male amd famale bushe, locknut dan
perlengkapan lainnya.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 4
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Mekanikal Elektikal
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

2.5. TESTING/PENGUJIAN
Testing dilakukann dengan disaksikan oleh Pengawas Lapangan yang disyahkan
oleh Lembaga yang berwenang, pengujian tersebut meliputi :
a Test ketahanan isolasi;
b Test kekuatan tegangan impuls;
c Test kenaikan temperatur;
d Test kontinuitas.
.
PASAL 3
PERSYARATAN BAHAN/MATERIAL

a. Semua material yang disupply dan dipasang oleh Kontraktor harus baru dan material
tersebut harus cocok untuk dipasang didaerah tropis.
Material-material harus dari produk dengan kualitas baik dan dari produksi yang
terbaru. untuk material-material yang disebutkan dibawah ini, maka Pemilik harus
menjamin bahwa barang tersebut adalah baik dan baru dengan jalan menujukkan surat
order pangiriman dari dealer/agen/pabrik.
1) Peralatan Lampu : armature, bola lampu, ballast.
2) Peralatan Instalasi : saklar
b. Daftar Material
Untuk semua material yang ditawarkan, maka Kontraktor wajib mengisi daftar
material yang menyebutkan Merk, Type, Kelas lengkap dengan brosur/katalog yang
dilampirkan pada waktu tender.
Tabel daftar material ini diutamakan untuk komponen-komponen yang berupa barang-
barang produksi.
c. Penyebutan Merk/Produk Pabrik
Apabila pada spesifikasi teknis ini atau pada gambar disebutkan beberapa merk
tertentu atau kelas mutu (quality performance) dari material atau komponen tertentu
terutama untuk material-material listrik utama, mak Kontraktor wajib melakukan di
dalam penawaranya material yang dalam taraf mutu/pabrik yang disebutkan itu.
Apabila nanti selama proyek berjalan, terjadi bahwa material yang disebutkan pada
tabel material tidak dapat diadakan oleh Kontraktor yang diakibatkan oleh suatu alasan
yang kuat dan dapat diterima Pemilik, Direksi Lapangan dan Perencana, maka dapat
dipikirkan panggantian merk/type dengan suatu sanksi tertentu kepada Kontraktor.
d. Produk Pabrik yang harus digunakan.
No. ITEM MERK
1. Kabel
(NYA, NYY, NYFGbY, BC) : Kabelindo, Kabel Metal, Tranka,
Supreme.
2. Saklar : Outbow set. Broco atau setaranya

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 5
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Mekanikal Elektikal
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

3. Fixture lamp : Philips, atau setaranya


Ballast low loss stsrter fitting lamp holder: Philips,
Atco
4. Kap lampu : Artolite, Philips atau setara.

SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN PLUMBING

PASAL 1
PENJELASAN LINGKUP PEKERJAAN INSATALASI PLUMBING
1.1. LINGKUP PEKERJAAN INSTALASI AIR BERSIH.
a. Pengadaan, pemasangan dan pengujian secara sempurna unit-unit peralatan
utama yang diperlukan dalam sistim penyediaan air bersih yaitu instalasi
pemipaannya beserta alat bantunya.
b. Pemasangan dan pengujian pipa-pipa distribusi kesetiap peralatan sanitasi dan
lain-lain seperti yang tercantum dalam gambar.
c. Memperbaiki semua kerusakan, semua galian yang diakibatkan baik oleh
bobokan-bobokan, galian-galian maupun oleh kecerobohan para pekerja.
d. Pengujian terhadap kebocoran dan tekanan dari sistim plumbing air bersih
secara keseluruhan dan mengadakan pengamatan sampai sistim berjalan baik,
sesuai yang dikehendaki, yaitu suatu sistim instalasi yang sempurna dan
terpadu.
e. Pengadaan, pemasangan, pengujian mutu air dan ijin-ijin dari Instansi terkait
yaitu PDAM dan lain-lain.
f. Desinfeksi
Sebelum sistem penyediaan air bersih atau bagian dari sistem ini dipakai harus
dilakukan cara desinfeksi sebagai berikut :
1) Air yang ada dalam sistem dibuang lebih dahulu
2) Sistem diisi larutan mengandung 50 mg/l chlor dan dibiarkan selama 24 jam
g. Penyediaan dan Instalasi listrik untuk masing-masing peralatan, yaitu
penyediaan sub panel dan penarikan kabel listrik kepanel induk dll.

1.2. PENGADAAN DAN PEMASANGAN PIPA PIPA :


Pengadaan dan pemasangan pipa pipa air untuk tempat cuci kendaraan.

1.3. PENGADAAN TESTING-TESTING DAN COMMISSIONING


Semua sistim pekerjaan yang terpasang; mengadakan izin-izin yang diperlukan dari
instansi-instansi yang ada hubungannya untuk mendapat surat keterangan untuk
IPB, dan mendidik operator yang akan menangani peralatan ini sehingga memahami
dan menguasai peralatan ini.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 6
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Mekanikal Elektikal
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

1.4. MELAKSANAKAN PEKERJAAN LAIN YANG BERHUBUNGAN DENGAN


LINGKUP PEKERJAAN PLUMBING INI ANTARA LAIN :
a. Pengadaan dan pemasangan semua hanger-hanger dan support untuk pemipaan,
peralatan dan lain-lain.
b. Pekerjaan testing; cleaning; flushing dan desinfection termasuk perbaikan akibat
testing.
c. Pekerjaan pembersihan tempat kerja.
d. Pengecatan semua pipa-pipa yang kelihatan.
e. Pengadaan dan pemasangan lapisan tahan karat dan goni untuk pipa yang
ditanam dalam tanah.
f. Pengadaan balok-balok yang diperlukan untuk pemasangan pipa-pipa dan
peralatannya.
g. Pengadaan shop drawing (gambar-kerja) untuk pelaksanaan dan koreksi-koreksi
RKS bila ada.
h. Membuat time schedule, net work planning; kurva's dan lain-lain yang
diperlukan.
i. Membuat as built drawing Buku petunjuk operasi dan pemeliharaan dalam
bahasa Indonesia rangkap 5 (lima).
j. Dan segala sesuatu mengenai lingkup pekerjaan ini yang kurang jelas,
kontraktor dapat menanyakan lebih lanjut kepada konsultan atau pihak lain yang
ditunjuk.
Apabila terjadi kelalaian dan kekurangan, maka kontraktor bertanggung jawab
penuh atas kerugian-kerugian yang terjadi.

PASAL 2
PENJELASAN PERSYARATAN TEKNIS PEKERJAAN AIR BERSIH
2.1. PERATURAN-PERATURAN/PERSYARATAN
Tata cara pelaksanaan dan petunjuk-petunjuk lain yang berhubungan dengan
peraturan-peraturan pembangunan yang berlaku di Republik Indonesia. Selama
pelaksanaan, kontrak harus betul-betul ditaati.
Persyaratan umum pelaksanaan pekerjaan harus sesuai dengan persyaratan dalam
pasal pekerjaan plumbing dimuka.
Kontraktor dianggap telah cukup mengerti dan mngetahui akan isi dan maksud dari
peraturan-peraturan dan syarat-syarat tersebut diatas.
2.2. UNTUK PEKERJAAN PLUMBING AIR BERSIH
Pipa plumbing air bersih ini harus menggunakan pipa dari bahan Digunakan
pipa setara Wavin/Rucika atau Vinilon Kelas AW diameter ½ inchi.
a. Fitting harus dari material dan standard yang sama dengan pipa di atas (yang
dikeluarkan oleh pabrik yang sama).

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 7
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Mekanikal Elektikal
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

b. Kran-kran/fixtures harus dipakai Kran Air Toto T23 B13 dia. 1/2" atau setaranya.

2.3. PENGGANTUNG-PENGGANTUNG, KLEM-KLEM DAN LAIN-LAIN,


DARI FLAMCO GALVANIZED SYSTEM, SISTEM PEMIPAAN AIR
BERSIH.
a. Pemasangan Penyambungan Pipa-pipa.
Pipa air bersih.
1) Untuk penyambungan/socket harus yang sesuai standar.
2) Untuk fitting-fitting sambungan harus dari jenis standard yang dikeluarkan
oleh pabrik dan disetujui. Pemberi Tugas atau Konsultan Pengawas
Lapangan.
b. Pemasangan Fixtures, Fitting dan sebagainya.
1) Semua fixtures harus dipasang dengan baik dan didalamnya bebas dari
kotoran yang akan mengganggu aliran atau kebersihan air dan harus
terpasang dengan kokoh (rigid) ditempatnya dengan tumpuan yang mantap.
Semua fixtures, fitting, pipa-pipa air pemasangannya harus rapih, kuat dalam
kedudukannya dan tidak mengganggu pada waktu pemasangan dinding
porselent dan sebagainya. Kontraktor bertanggung jawab untuk melengkapi
komponen tersebut di dalam kelengkapan jaringan instalasi diatas.
2) Untuk pipa-pipa yang tekanan airnya tinggi/ pipa induk, dipasang blok blok
dari beton dengan campuran yang kuat dan dipasang setiap ada sambungan
pipa, tee, elbow, valve dan sebagainya.
3) Pada setiap penyambungan pipa-pipa ke fixtures ataupun equipment atau
valve harus digunakan perlengkapan-perlengkapan fitting-fitting khusus
kecuali apabila fixture atau equipment tersebut telah dilengkapi dari pabrik.
4) Pada setiap pipa penyatu yang disambungkan pada tiap-tiap fixture atau
equipment harus dipasang valve sesuai dengan gambar-gambar.
c. Penggantungan/Penumpu Pipa/Klem-klem.
1) Semua pipa harus diikat/ditetapkan dengan kuat dengan penggantung atau
angker yang kokoh (rigid), agar inklinasinya tetap, untuk mencegah
timbulnya getaran.
2) Penggantung/penumpu/klem-klem harus dengan bahan yang sama yaitu
flamco galvanized system, yang difabrikasi (bukan buatan sendiri).
3) Pipa horizontal harus digantung dengan penggantung yang dapat diatur dan
harus memungkinkan adanya expansi teknis dari pipa dan mengurangi
transmisi vibrasi sampai batas minimal. Jarak maximum penggantung untuk
pipa adalah :
Bahan Diameter Jarak Tumpuan
(mm) (m)

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 8
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Mekanikal Elektikal
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

Pipa Baja < 20 1


25 - 40 2
50 - 80 3
150 4

Pipa PVC 20 - 40 1
50 1,2
65 - 125 1,5
150 2
4) Penggantung atau penumpu pipa harus disekrup/ terikat pada konstruksi
bangunan dengan insert/angker yang dipasang pada waktu pengecoran beton
atau ramset dan Fisher. Semua alat-alat penggantung harus dikerjakan
sedemikian rupa sehinga tidak merusak pipa-pipa dan tidak merusak/
menyebabkan turunnya pipa yang terpasang.
d. Perlindungan/Proteksi waktu pelaksanaan.
1) Semua pipa yang terbuka karena belum tersambung dengan equipment atau
fixtures harus ditutup dengan cap/dop atau plug, sehingga tidak
memungkinkan masuknya kotoran atau lainnya yang tidak diinginkan.
2) Sebelum pemasangan dan penyambungan, semua pipa-pipa valve, trap dan
fitting harus diperiksa dan dibersihkan dari segala kotoran yang akan
menyumbat.
3) Equipment dan fixtures harus dilindungi dari gangguan pekerjaan dan
kerusakan-kerusakan.
e. Pembersihan.
1) Semua bagian logam yang tidak terlindung dinding harus bebas dari lemak
dan kotoran-kotoran lainnya.
Untuk bagian yang dilapisi chromium untuk nikel harus digosok bersih atau
mengkilap, setelah pemasangan instalasi selesai seluruhnya.
Apabila terjadi kemacetan, pengotoran atas bagian bangunan atau finis
Arsitektural atau timbulnya kerusakan-kerusakan lainnya, yang semua atas
kelalaian kontraktor, karena tidak membersihkannya sistem pemipaan
dengan baik, maka semua perbaikannya adalah menjadi tanggungan
kontraktor.
2) Penggunaan/penumpu pipa dan peralatan-peralatan logam lainnya yang akan
tertutup oleh tembok atau bagian lainnya, misalnya pipa didalam galian
tanah, pipa menembus tembok dan sebagainya harus dilapisi dengan cat
Menie atau cat penahan karat.
3) Kontraktor harus melaksanakan pembilasan dengan desinfeksi dari seluruh
instalasi air bersih sebelum diserahkan kepada pemilik.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 9
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Mekanikal Elektikal
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

4) Desinfeksi dilakukan dengan memasukkan larutan chlorine ke pipa,


sehingga residual chlorine (sisa chlor) diujung pipa adalah 5 ppm selama 2
jam berturut-turut.
f. Pengecatan.
1) Semua pipa dari PVC yang tidak tertanam didalam tanah/tembok harus dicat
dan harus dapat dikenal dengan warna-warna cat yang warnanya sesuai
dengan color coding dan tanda arah aliran atau ditentukan oleh Konsultan,
umumnya untuk jaringan air bersih dipakai warana biru.
2) Semua pipa yang akan ditanam dalam tanah harus dilapisi, lapisan goni.
3) Semua valve harus diberi tanda yang menyebutkan nomor indentifikasi dari
jenis zat yang melewati.
g. Pengujian.
1) Setelah semua pipa dan perlengkapannya terpasang harus diuji dengan
tekanan hydrostatik selama 24 jam terus menerus tanpa terjadi penurunan
tekanan.
2) Peralatan pengujian ini harus disediakan oleh Kontraktor.
3) Pengujian harus dilakukan dengan disaksikan oleh Konsultan Pengawas
Lapangan dan Pemberi Tugas atau pihak-pihak lain yang dianggap
perlu/dikuasakan untuk itu, dan selanjutnya dibuat Berita Acaranya.
4) Testing pemipaan harus dilaksanakan sebelum pipa tertutup dengan tanah
(untuk pipa diluar gedung) atau tertutup dengan plesteran/dinding dan
sebelum langit-langit didaerah yang bersangkutan terpasang dan sebelum
fixture terpasang. Untuk sistem air kotor, air kotoran, vent dan air hujan
harus diuji terhadap kebocoran sesuai dengan petunjuk Konsultan/Pengawas
Lapangan.
5) Apabila terjadi kegagalan dalam pengujian kontraktor harus memperbaiki
bagian-bagian yang rusak dan kekurangan-kekurangan yang ada kemudian
melakukan pengujian kembali sampai berhasil dengan baik.
Daftar Material
No. Material Merk
1 Pipa PVC Wavin, Pralon, Rucika
2 Saluran U-Ditch Dusasbun
3 Talang Zincalum Pelangi, Abadi
4 Kran Toto T23 B13 dia. 1/2"

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 10
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Mekanikal Elektikal
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

PASAL 3
PENJELASAN LINGKUP PEKERJAAN INSATALASI PLUMBING
3.1. LINGKUP PEKERJAAN INSTALASI AIR BERSIH.
a. Pengadaan, pemasangan dan pengujian secara sempurna unit-unit peralatan utama
yang diperlukan dalam sistim penyediaan air bersih yaitu instalasi pemipaannya
beserta alat bantunya.
b. Pemasangan dan pengujian pipa-pipa distribusi kesetiap peralatan sanitasi dan
lain-lain seperti yang tercantum dalam gambar.
c. Memperbaiki semua kerusakan, semua galian yang diakibatkan baik oleh
bobokan-bobokan, galian-galian maupun oleh kecerobohan para pekerja.
d. Pengujian terhadap kebocoran dan tekanan dari sistim plumbing air bersih
secara keseluruhan dan mengadakan pengamatan sampai sistim berjalan baik,
sesuai yang dikehendaki, yaitu suatu sistim instalasi yang sempurna dan
terpadu.
e. Pengadaan, pemasangan, pengujian mutu air dan ijin-ijin dari Instansi terkait
yaitu PDAM dan lain-lain.
f. Desinfeksi
Sebelum sistem penyediaan air bersih atau bagian dari sistem ini dipakai harus
dilakukan cara desinfeksi sebagai berikut :
3) Air yang ada dalam sistem dibuang lebih dahulu
4) Sistem diisi larutan mengandung 50 mg/l chlor dan dibiarkan selama 24 jam
g. Penyediaan dan Instalasi listrik untuk masing-masing peralatan, yaitu
penyediaan sub panel dan penarikan kabel listrik kepanel induk dll.

3.2. PENGADAAN DAN PEMASANGAN PIPA PIPA


Pengadaan dan pemasangan pipa pipa air untuk tempat cuci kendaraan.

3.3. PENGADAAN TESTING-TESTING DAN COMMISSIONING


Semua sistim pekerjaan yang terpasang; mengadakan izin-izin yang diperlukan dari
instansi-instansi yang ada hubungannya untuk mendapat surat keterangan untuk
IPB, dan mendidik operator yang akan menangani peralatan ini sehingga memahami
dan menguasai peralatan ini.

3.4. MELAKSANAKAN PEKERJAAN LAIN YANG BERHUBUNGAN DENGAN


LINGKUP PEKERJAAN PLUMBING INI ANTARA LAIN :
1. Pengadaan dan pemasangan semua hanger-hanger dan support untuk pemipaan,
peralatan dan lain-lain.
2. Pekerjaan testing; cleaning; flushing dan desinfection termasuk perbaikan akibat
testing.
3. Pekerjaan pembersihan tempat kerja.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 11
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Mekanikal Elektikal
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

4. Pengecatan semua pipa-pipa yang kelihatan.


5. Pengadaan dan pemasangan lapisan tahan karat dan goni untuk pipa yang
ditanam dalam tanah.
6. Pengadaan balok-balok yang diperlukan untuk pemasangan pipa-pipa dan
peralatannya.
7. Pengadaan shop drawing (gambar-kerja) untuk pelaksanaan dan koreksi-koreksi
RKS bila ada.
8. Membuat time schedule, net work planning; kurva's dan lain-lain yang
diperlukan.
9. Membuat as built drawing Buku petunjuk operasi dan pemeliharaan dalam
bahasa Indonesia rangkap 5 (lima).
10. Dan segala sesuatu mengenai lingkup pekerjaan ini yang kurang jelas,
kontraktor dapat menanyakan lebih lanjut kepada konsultan atau pihak lain yang
ditunjuk.
Apabila terjadi kelalaian dan kekurangan, maka kontraktor bertanggung jawab
penuh atas kerugian-kerugian yang terjadi.

PASAL 4
PENJELASAN PERSYARATAN TEKNIS
PEKERJAAN SALURAN TERTUTUP U-DITCH

4.1. PERATURAN-PERATURAN/PERSYARATAN
Tata cara pelaksanaan dan petunjuk-petunjuk lain yang berhubungan dengan
peraturan-peraturan pembangunan yang berlaku di Republik Indonesia. Selama
pelaksanaan, kontrak harus betul-betul ditaati.
Persyaratan umum pelaksanaan pekerjaan harus sesuai dengan persyaratan dalam
pasal pekerjaan plumbing dimuka.
Kontraktor dianggap telah cukup mengerti dan mngetahui akan isi dan maksud dari
peraturan-peraturan dan syarat-syarat tersebut diatas.
4.2. UNTUK PEKERJAAN SALURAN TERTUTUP U-DITCH.
1. Pelaksanaan Saluran Drainase Beton Pracetak U-Ditch dengan merek Dusaspun
atau setaranya. Saluran Drainase pracetak berlubang didefinisikan sebagai
saluran air hujan yang dibuat dari bahan beton bertulang dengan pelubangan
sesuai desain dan kriteria yang telah ditetapkan, dibuat dengan cara proses
sistem pracetak. Saluran drainase ini berfungsi untuk mengalirkan dan atau
meresapkan air hujan dari suatu tempat ke tempat lain.
2. Saluran Drainase U-ditch adalah saluran beton pracetak yang berbentuk U dan
berukuran kecil. Saluran U-ditch ini dipasang tutup grill besi.
U-ditch berukuran 30 x 30 cm hingga 100 x 120 cm. Panjang u-ditch umumnya
1 m dan 1,2 m.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 12
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Mekanikal Elektikal
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

3. Pada rancangan saluran drainase beton pracetak ini, dimensi ukuran besar
kecilnya Ukuran dan bentuk saluran beton pracetak ini bisa dipesan ke pabrik
beton pracetak dan kemungkinan material ini ready stock.
4. Sebelum kita melakukan pemasangan saluran drainase U-ditch ini, ada beberapa
tahapan pekerjaan metode yang perlu anda siapkan. Berikut ini adalah langkah-
langkah pekerjaannya :
 Pengukuran, pengukuran ini meliputi pengukuran panjang pekerjaan dan
elevasi. Elevasi yang tertera pada shop drawing diterapkan di lapangan
dengan memasang patok-patok dan bouwplank untuk menyimpan
elevasi.
 Galian Tanah, setelah melakukan pengukuran dan memasang patok dan
titik elevasi. Sekarang lakukan penggalian tanah dengan menggunakan
alat berat backhoe. Kita juga harus mengontrol galian tanah tersebut
sesuai dengan elevasi patok yang sudah kita tandai.Dalam target kurang
lebih 1 hari pekerjaan galian tersebut selesai dan kedalaman galian
minimal 7,2 meter.
 Pembuangan tanah bekas galian, Selama pekerjaan galian tanah ini
berlangsung, kita juga harus mempersiapkan dump truck untuk
membuang tanah bekas galian. Tanah bekas yang dibuang harus sudah
direncanakan dibuang pada tempat luar area proyek. Tapi kita juga harus
menyiapkan sebagian tanah bekas tersebut untuk melakukan pengurugan
tanah kembali. Dengan demikian area saluran drainase proyek tersebut
ketika sudah selesai akan terlihat bersih.
 Urug Sirtu, tahapan setelah galian mencapai panjang 7,2 m adalah
pengurugan sirtu. 1 hari sebelum pengurugan, sirtu harus siap di sisi
galian. Untuk segmen selanjutnya sirtu didatangkan bertahap
berdasarkan kebutuhan setiap segmen galian. Ketebalan urugan sirtu
adalah 250 mm. Pengurugan menggunakan excavator dengan bantuan
tenaga manusia untuk meratakannya.
 Lantai Kerja, pada umumnya ketebalan untuk lantai kerja biasanya 50
mm dengan mutu beton K-125 atau bisa juga disebut dengan istilah B0.
Fungsi dari lantai kerja disini adalah untuk mengontrol elevasi pada
permukaan saluran drainase yang akan dipasang. Sehingga disaat beton
pracetak diturunkan elevasi sudah bisa diaplikasikan dengan baik.
 Pemasangan Beton Pracetak U-Ditch, beton Pracetak U-Ditch yang
sudah berumur lebih dari 7 hari dari fabrikasi dikirim ke lokasi dan di
stok di lokasi dekat pemasangan. Pemindahan Beton Pracetak U-Ditch
dari stock yard ke tempat pemasangan menggunakan forklift dengan
kapasitas sesuai berat material.

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 13
Spesifikasi Teknis Pekerjaan Mekanikal Elektikal
PEMBANGUNAN PARKIR KENDARAAN DI ISTANA KEPRESIDENAN BOGOR

 Kapasitan forklift yang harus disediakan adalah 2 x berat material.


Pemasangan Beton Pracetak U-Ditch menggunakan excavator atau crane
tergantung pada berat material yang diangkat. Kapasitas crane atau
excavator = 5 x berat material yang diangkat. Pemasangan dilakukan
setelah cor lantai kerja berumur minimal 1 hari. Target pemasangan
setiap hari rata-rata 6 unit.
 Di atas Beton Pracetak U-Ditch dipasang caping beam dari beton cor di
tempat, berfungsi untuk menjaga posisi beton pracetak u-dtich agar tidak
bergeser ke kiri atau ke kanan oleh desakan tanah setelah pengurugan
kembali.
Pekerjaan nat spasi antar Beton Pracetak U-Ditch ditutup dengan campuran
semen.
Daftar Material
No. Material Merk
1 Pipa PVC Wavin, Pralon, Rucika
2 Saluran U-Ditch Dusasbun
3 Talang Zincalum Pelangi, Abadi
4 Kran Toto T23 B13 dia. 1/2"

PPK Bidang 1 Istana Kepresidenan Bogor – Pembangunan Area Parkir Kendaraan [Date] 14