Anda di halaman 1dari 10

tikuspaula

Sabtu, 18 Juni 2011

Upaya - Upaya Umum Pengendalian Wabah

Suatu wabah penyakit menular dapat dikendalikan dengan :

1.Menghilangkan atau mengurangi sumber infeksi

2.Memutuskan rantai penularan

3.Melindungi polulasi dengan resiko terkena penyakit.

Mungkin diperlukan beberapa waktu sebelum sifat – sifat penyebab penyakit diketahui secara tuntas dan
oleh karenanya tindakan pengendalian wabah secara spesifik, misalnya imunisasi mereka yang dengan
risiko sakit dan pengobatan terhadap pembawa kuman,akan tertunda. Berdasarkan pertimbangan
tersebut, langkah pertama dalam keadaan darurat adalah memutuskan rantai penularan,mengingat
penyelidikan epidemiologik dengan cepat akan memberikan indikasi cara penularan yang berlangsung
cara penularan tersebut meliputi:

1.Penularan dari orang ke orang,baik secara langsung maupun tak langsung

2.Penularan dari satu sumber yang sama

3.Kombinasi keduanya

Upaya-upaya perlindungan yang harus di tempuh dalam berbagai jenis wabah akan dibahas lebih lanjut.
Upaya perlindungan tambahan yang diperlukan setelah kuman penyebab penyakit diketahui disajikan
pada lampiran 3 untuk masing-masing penyakit.

Dalam keadaan-keadaan darurat, upaya-upaya pengendalian mungkin memerlukan sedikit improvisasi


jika peralatan yang dibutuhkan tidak dapat disediakan dalam waktu singkat. Masalah ini tidak terlalu sulit
jika prinsip-prinsip yang harus diikuti telah dipahami dengan baik.

tikuspaula di 08.48

Berbagi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Beranda

Lihat versi web

Mengenai Saya

Foto saya

tikuspaula

Lihat profil lengkapku

Diberdayakan oleh Blogger.

PENGENDALIAN DAN PENCEGAHAN WABAH

Selamat membaca, dan semoga ilmu ini bemanfaat bagi kita semua.

Definisi Wabah :

1)Berdasarkan KBBI : Wabah berarti penyakit menular yang berjangkit dengan cepat, menyerang
sejumlah besar orang di daerah yang luas.

2)UU RI No 4 th. 1984 tentang wabah penyakit menular : Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu
penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari
pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka .

3)Benenson, 1985 : Wabah adalah terdapatnya penderita suatu penyakit tertentu pada penduduk suatu
daerah, yang nyata-nyata melebihi jumlah yang biasa

4)Last 1981 : Wabah adalah timbulnya kejadian dalam suatu masyarakat, dapat berupa penderita
penyakit, perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, atau kejadian lain yang berhubungan dengan
kesehatan, yang jumlahnya lebih banyak dari keadaan biasa.

5)Soemirat, 2000 : Keadaan dimana didapat frekuensi penyakit melebihi frekuensi biasa, atau dalam
waktu yang singkat terdapat penyakit yang berlebih. Atau dalam rumus : Xi > Xr + 2SD Dimana : a)Xi =
angka sakit saat I b)Xr = angka rata-rata tahun yang lalu, untu periode waktu yang sama c)SD = standar
deviasi untuk periode tersebut.

6)Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan


Lingkungan Pemukiman 1981 : Wabah adalah peningkatan kejadian kesakitan atau kematian yang telah
meluas secara cepat, baik jumlah kasusnya maupun daerah terjangkit.
Alasan menyelidiki kemungkinan wabah : 1)Mengadakan penanggulangan dan pencegahan
2)Kesempatan mengadakan penelitian dan pelatihan 3)Pertimbangan Program 4)Kepentingan Umum,
Politik dan Hukum.

Langkah-Langkah Investigasi Wabah :

Langkah 1: Persiapan Investigasi di Lapangan :

tiga kategori:

a)Investigasi (pengetahuan ilmiah yang sesuai, perlengkapan dan alat)

b)administrasi (prosedur administrasi

c)Konsultasi (peran masing-masing petugas yang turun ke lapangan).

Langkah 2: Memastikan adanya Wabah : Menentukan apakah jumlah kasus yang ada sudah melampaui
jumlah yang diharapkan. Dilakukan dengan membandingkan jumlah yang ada saat itu dengan jumlahnya
beberapa minggu atau bulan sebelumnya, atau dengan jumlah yang ada pada periode waktu yang sama
di tahun-tahun sebelumnya.

Langkah 3: Memastikan Diagnosis :

Tujuan dalam pemastian diagnosis adalah

1)Untuk memastikan bahwa masalah tersebut telah didiagnosis dengan patut

2)Untuk menyingkirkan kemungkinan kesalahan laboratorium yang menyebabkan peningkatan kasus


yang dilaporkan.

Ketentuanya :

a)Semua temuan klinis harus disimpulkan dalam distribusi frekuensi :Distribusi ini penting untuk
menggambarkan spektrum penyakit, menentukan diagnosis, dan mengembangkan definisi kasus

b)kunjungan terhadap satu atau dua penderita.

Langkah 4a: Membuat Definisi Kasus : Definisi kasus meliputi kriteria klinis dan terutama dalam
penyelidikan wabah dibatasi oleh waktu, tempat dan orang. Bila penyakitnya belum terdiagnosis,
diagnosis kerja dibuat berdasarkan gejala-gejala yang paling banyak diderita, sedapat mungkin yang
dapat menggambarkan proses penyakit yang pathognomonis, dan cukup spesifik.

Level Kasus :

a)Kasus Pasti (Confirmed): Harus disertakan pemeriksaan lab hasil +


b)Kasus Mungkin (Probable): Harus memenuhi semua ciri klinis penyakit, tanpa pemeriksaan lab

c)Kasus Meragukan (Possible): Biasanya hanya memenuhi sebagian gejala klinis saja.

Langkah 4b: Menemukan dan Menghitung Kasus : dikumpulkan informasi berikut ini dari setiap kasus:

a)Data indentifikasi → nama, alamat, nomor telepon

b)Data demografi-- umur, jenis kelamin, ras, dan pekerjaan

c)Data klinis

d)Faktor risiko = harus dibuat khusus untuk tiap penyakit

e)Informasi pelapor untuk mencari informasi tambahan atau memberikan umpan balik.

Langkah 5: Epidemiologi Deskriptif : Studi tentang kejadian penyakit atau masalah lain yang berkaitan
dengan kesehatan pada populasi. Umumnya berkaitan dengan ciri-ciri dasar seperti umur, jenis kelamin,
pekerjaan, status sosial ekonomi, dan lokasi geografiknya. Berdasarkan :Orang, Tempat, Waktu.
(Memafaatkan kurva epidemi).

Langkah 6: Membuat hipotesis :

Formulasikan hipotesis :

a)meliputi sumber agen penyakit

b)cara penularan (dan alat penularan atau vektor)

c)dan pemaparan yang mengakibatkan sakit.

Hipotesis dapat dikembangkan dengan cara:

a)Mempertimbangkan apa yang diketahui tentang penyakit itu:

-Apa reservoir utama agen penyakitnya?

-Bagaimana cara penularannya?

-Bahan apa yang biasanya menjadi alat penularan?

-Apa saja faktor yang meningkatkan risiko tertular?

b)Wawancara dengan beberapa penderita

c)mengumpulkan beberapa penderita untuk mencari kesamaan pemaparan

d)Kunjungan rumah penderita

e)Wawancara dengan petugas kesehatan setempat


f)Epidemiologi diskriptif

Langkah 7: Menilai Hipotesis : Dalam penyelidikan lapangan, hipotesis dapat dinilai dengan salah satu
dari dua cara ini:

1)Dengan membandingkan hipotesis dengan fakta yang ada, atau

2)Dengan analisis epidemiologi untuk mengkuantifikasikan hubungan dan menyelidiki peran kebetulan.

Langkah 8: Memperbaiki Hipotesis dan mengadakan Penelitian tambahan :

1)Penelitian Epidemiologi : epidemiologi analitik

2)Penelitian Laboratorium dan Lingkungan : Pemeriksaan serum , Pemeriksaan tempat pembuangan


tinja.

Langkah 9: Melaksanakan Pengendalian dan Pencegahan : pengendalian seharusnya dilaksanakan


secepat mungkin. upaya penanggulangan biasanya hanya dapat diterapkan setelah sumber wabah
diketahui. Pada umumnya, upaya pengendalian diarahkan pada mata rantai yang terlemah dalam
penularan penyakit. Upaya pengendalian mungkin diarahkan pada agen penyakit, sumbernya, atau
reservoirnya.

Langkah 10: Menyampaikan Hasil Penyelidikan : Penyampaian hasil dapat dilakukan dengan dua cara:

(1) Laporan lisan pada pejabat setempat, dilakukan di hadapan pejabat setempat dan mereka yang
bertugas mengadakan pengendalian dan pencegahan

(2) laporan tertulis.

Penyampaian hasil penyelidikan :

1)Laporan harus jelas, meyakinkan, disertai rekomendasi yang tepat dan beralasan

2)Sampaikan hal-hal yang sudah dikerjakan secara ilmiah; kesimpulan dan saran harus dapat
dipertahankan secara ilmiah

3)Laporan lisan harus dilengkapi dengan laporan tertulis, bentuknya sesuai dengan tulisan ilmiah
(pendahuluan, latar belakang, metodologi, hasil, diskusi, kesimpulan, dan saran)

4)Merupakan cetak biru untuk mengambil tindakan

5)Merupakan catatan dari pekerjaan, dokumen dari isu legal, dan merupakan bahan rujukan apabila
terjadi hal yang sama di masa datang.
Laporan Tertulis :

a. Pendahuluan (gambaran peristiwa)

b.Latar belakang (geografis, politis, ekonomis, demografis, historis)

c.Uraian tentang investigasi yang dilakukan (alasan, metode, sumber informasi)

d.Hasil investigasi (fakta, karakteristik kasus, angka serangan, tabulasi, kalkulasi, kurva, pemeriksaan
laboratorium, kemungkinan sumber infeksi, suspek suatu sumber penularan, dan lain-lain)

e.Analisis data dan simpulan

f.Uraian tentang tindakan (penanggulangan)

g. Uraian dampak, terdiri dari ; *)Populasi: è akibat kesehatan, hukum, ekonomis, **)Tindakan
penanggulangan terhadap ***)Populasi èstatus kekebalan, cara hidup ****)Reservoir è jumlah, distribusi
*****)Vektor è jumlah, distribusi ******)Penemuan penyebab menular baru

h.Saran (perbaikan prosedur surveilens dan penang-gulangan di masa depan

Memastikan Adanya Wabah : Menentukan apakah jumlah kasus yang ada sudah melampaui jumlah yang
diharapkan. Dilakukan dengan membandingkan jumlah yang ada saat itu dengan jumlahnya beberapa
minggu atau bulan sebelumnya, atau dengan jumlah yang ada pada periode waktu yang sama di tahun-
tahun sebelumnya.

Sumber Informasi : Sumber informasi bervariasi bergantung pada situasinya,

Ketentuanya :

a)Untuk penyakit yang harus dilaporkan, digunakan catatan hasil surveilens

b)Untuk penyakit/ kondisi lain, digunakan data setempat yang tersedia

c)Bila data lokal tidak ada, dapat digunakan rate dari wilayah di dekatnya atau data nasional

d)Boleh juga dilaksanakan survei di masyarakat untuk menentukan kondisi penyakit yang biasanya ada.

Pseudo Epidemik : Bila jumlah kasus yang dilaporkan melebihi jumlah yang diharapkan, kelebihan ini
tidak selalu menunjukkan adanya wabah. Peningkatan yang demikian disebut Pseudo Epidemik,
contohnya:

1)Perubahan cara pencatatan dan pelaporan penderita


2)Adanya cara diagnosis baru

3)Bertambahnya kesadaran penduduk untuk berobat

4)Adanya penyakit lain dengan gejala yang serupa

5)Bertambahnya jumlah penduduk yang rentan.

Kriteria Untuk Menentukan KLB :

1)Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal di suatu daerah

2)Adanya peningkatan kejadian kesakitan atau kematian dua kali atau lebih dibandingkan jumlah
kesakitan atau kematian yang biasa terjadi pada kurun waktu sebelumnya (jam, hari, minggu)
bergantung pada jenis penyakitnya

3)Adanya peningkatan kejadian kesakitan secara terus menerus selama 3 kurun waktu (jam, hari,
minggu) berturut-turut menurut jenis penyakitnya.

Deskripsi Wabah : Deskripsi wabah didasarkan atas data dari ketiga kategori : 1)Who → atribut
orang/host 2)Where → atribut tempat 3)When → atribut waktu yang diperoleh melalui wawancara
dengan penderita.

Kategori who/atribut orang : Ciri Inang: a)Umur ; Umur merupakan salah satu faktor yang menentukan
penyakit, karena mempengaruhi: -Daya tahan tubuh. -Pengalaman kontak dengan penyakit. b)Jenis
Kelamin; Ras/ suku; dsb. Faktor-faktor ini digambarkan apabila diduga ada perbedaan risiko diantara
golongan-golongan dalam faktor tsb. Di negara-negara multirasial, gambaran penderita berdasarkan ras
sering ditampilkan. Adanya perbedaan cara hidup, tingkat sosial ekonomi, kekebalan, dsb. Lingkungan
pergaulan yang memungkinkan kontak dengan sumber penyakit c)Berdasarkan pemaparan: Pekerjaan,
Rekreasi, Penggunaan obat-obatan. Kedua kelompok (berdasarkan ciri inang atau pemaparan)
mempengaruhi kepekaan dan risiko pemaparan. Ciri lain yang juga diselidiki: jenis penyakit dan kejadian
wabah.

Kategori where/atribut tempat : Memberikan informasi tentang luasnya wilayah yang terserang.
Menggambarkan pengelompokkan atau pola lain ke arah penyebab. Berupa: Spot map atau area map.
a)Spot map: peta sederhana yang berguna untuk menggambarkan tempat para penderita tinggal,
bekerja, atau kemungkinan terpapar. b)Area map: menunjukkan insidens atau distribusi kejadian pada
wilayah dengan kode/ arsiran. Mencantumkan angka serangan (rate) untuk masing-masing wilayah.

Kategori when/atribut waktu : Atribut waktu didapat dengan menanyakan kapan terjadi penyakit.
Periode inkubasi terutama bisa didapat dari atribut waktu ini.
Kurva Epidemi : Gambar perjalanan suatu letusan, berupa histogram dari jumlah kasus berdasarkan
waktu timbulnya gejala pertama.Apabila atribut orang dan waktu dikombinasikan maka bisa diperoleh
kurva insidensi epidemi (wabah). Manfaat Kurva Epidemi : a)Mendapatkan Informasi tentang perjalanan
wabah dan kemungkinan kelanjutan b)Bila penyakit dan masa inkubasi diketahui, dapat memperkirakan
kapan pemaparan terjadi à memusatkan penyelidikan pada periode tersebut c)Kesimpulan pola kejkejg

dan jumlah orang yang terpapar tak beraturan besarnya

3)Continuous common source epidemic : Periode pemaparan yang memanjang menyebabkan kasus
bertambah secara bertahap. kurve membentuk plateu (datar)

4)Propagated epidemic : Penularan dari orang ke orang. Berpuncak banyak. Berjarak 1 masa inkubasi.

Masa Inkubasi : Waktu antara masuknya agen penyakit sampai timbulnya gejala pertama. Cara
menghitung masa inkubasi.

Contoh: Sepuluh orang menderita diare akibat keracunan makanan yang diperkirakan terjadi pada saat
makan siang, tanggal 1 Maret 1997, jam 13.00.

Saat timbulnya gejala pertama adalah sebagai berikut:

1)tanggal 1 Maret jam 24.00

2)tanggal 1 Maret jam 18.30

3)tanggal 2 Maret jam 01.00

4)tanggal 1 Maret jam 21.00

5)tanggal 1 Maret jam 16.00

6)tanggal 1 Maret jam 19.00

7)tanggal 1 Maret jam 19.00

8)tanggal 1 Maret jam 20.00

9)tanggal 1 Maret jam 19.00

10)tanggal 1 Maret jam 18.00.

Tentukan masa inkubasi terpendek, terpanjang, dan median masa inkubasi?

Jawaban : Masa inkubasi terpendek adalah 3 jam (kasus no. 5) dan yang terpanjang 12 jam (kasus no. 3).
Penyelesaian : Median kelompok ini terletak pada penderita no. 5 1/2 ( berasal dari (n +1)/2 , yang dalam
hal ini (10 + 1)/2, Sehingga median masa inkubasinya adalah jarak antara, jam 13.00 ke jam ( 19.00 +
19.00 ) / 2 = 19.00 yaitu 6 jam.

Manfaat diketahuinya masa inkubasi :

1)Bila penyakit belum diketahui, informasi tentang masa inkubasi bersama diagnosis penyakit dapat
mempersempit differential diagnosis

2)Untuk memperkirakan saat terjadinya penularan. Rumus Median untuk data berkelompok : Median =
B + [(Pm – f) / (fm – f)] x i ; B=batas atas dari kelas dibawah kelas median, Pm=posisi median, f=frekuensi
kumulatif dari kelas dibawah median, fm=frekuensi kumulatif dari kelas median, I = besarnya interval
kelas.

Pengendalian Wabah : Pengendalian seharusnya dilaksanakan secepat mungkin. Upaya penanggulangan


biasanya hanya dapat diterapkan setelah sumber wabah diketahui. Pada umumnya, upaya pengendalian
diarahkan pada mata rantai yang terlemah dalam penularan penyakit. Upaya pengendalian mungkin
diarahkan pada agen penyakit, sumbernya, atau reservoirnya.

Alternatif pengendalian wabah :

1)Pengendalian sumber agent :

a)Pengobatan penderita

b)Isolasi penderita

c)Pengendalian reservoir hewan

d)Deteksi kasus secara aktif

2)Hilangkan transmisi (putus mata rantai) :

a)Higiene perseorangan

b)Pengendalian vektor

c)Desinfeksi, sterilisasi

d)Cegah penjalaran

3)Tingkatkan kekuatan host :


a)Imunisasi

b)Sanitasi lingkungan

c)Perlindungan

d)Profilaksis kimiawi

e)Nutrisi.

Pencegahan Wabah :

Tujuan : mencegah agar wabah tidak terulang lagi. Usaha pencegahan dikategorikan menjadi empat:

1)Pencegahan primordial : Tujuan : untuk mencegah timbulnya pola hidup berisiko tinggi. Contoh:
olahraga teratur, mencegah gaya hidup merokok, mencegah pencemaran udara, mencegah pola makan
tinggi lemak.

2)Pencegahan primer : Tujuan : mencegah agar penyakit tidak terjadi dengan mengendalikan agent dan
faktor determinan. Contoh : Pemberian suplemen vitamin A pada anak-anak secara rutin dan berkala,
Pemberian semua keperluan dasar yang memenuhi syarat kesehatan.

3)Pencegahan sekunder : Tujuan : mengurangi keparahan penyakit dengan melakukan diagnosis dan
pengobatan dini. Untuk penyakit tertentu dilakukan penapisan atau screening. Kriteria untuk melakukan
screening: a)Penyakit (Parah, Prevalensi tinggi pada fase awal, Perjalanan penyakit telah dimengerti
betul, Periode antara sakit ringan dan sakit keras cukup lama) b)Diagnosis (Fasilitas tersedia, Cara
pengobatan dapat diterima masyarakat dan efektif) c)Pengujian (Sensitif dan spesifik, Mudah, murah,
aman, Dapat diterima dan dipercaya).

(4)Pencegahan tersier : Tujuan : mencegah terjadinya cacat, Contoh : Pengobatan penderita, Rehabilitasi
penderita.