Anda di halaman 1dari 11

Batasan dan Pengertian Ekosistem Pesisir dan Lautan

Sistem menyeluruh dari organisme dan lingkungan fisikalnya membentuk suatu ekosistem.
Suatu ekosistem pada dasarnya tersusun oleh dua organisme fungsional utama yang disebut
outotrof dan heterotrof. Autotrof adalah organisme yang dapat menggunakan bahan
unorganik sebagai sumber makanannya seperti tumbuhan hijau dan bakteri yang dapat
membentuk substansi yang kompleks. Heterotrof adalah binatang atau bakteria yang
tergantung senyawa organik yang dihasilkan oleh binatang atau tumbuhan sebagai bahan
makanannya; organisme tersebut tidak dapat menghasilkan makanannya sendiri dengan
fotosintesis.

Suatu ekosistem pada umumnya tersusun oleh empat penyusun, yaitu :

1. Bahan abiotik : air, udara, dan unsur – unsur seperti P,N2 dan O2
2. Prosedur (penghasil) : tumbuhan hijau (seperti fitoplankton) yang dapat melakukan
proses fotosintesis
3. Konsumen (Pemakan) : sebagian besar binatang ; zooplankton yang memakan
fitoplankton sebagai bahan untuk energinya
4. Pembusuk (penghancur) : bakteria yang mampu menghancurkan (membusukkan)
senyawa organik menjadi renik sehingga tersedia sebagai bahan makanan bagi
tumbuhan dan bakteria.

Peranan dari organisme yang terdapat dalam suatu ekosistem pada dasarnya dideskripsikan
menurut habitatnya. Habitat adalah suatu wilayah geografis yang ditempati oleh tumbuhan
atau binatang, misalnya pesisir, eustaria dan laut lepas pantai. Wilayah geografis yang
terdapat di pesisir dan lautan itu sangat bervariasi, sehingga dengan demikian ekosistem
pesisir dan lautan itu juga beraneka ragam.

Atas dasar pengertian yang tersebut di atas dapat diformilasikan ekosistem pesisir dan lautan.
Ekosistem pesisir adalah suatu ekosistem yang terdapat pada lingkungan wilayah pesisir
dengan ciri organisme dalam mintakat neritik dan litoral.

Pengertian wilayah pesisir adalah suatu jalur saling pengaruh antara darat dan laut, yang
memliki ciri geosfer yang khusus, arah kedarat dibatasi oleh pengaruh sifat fisik laut dan
sosial ekonomi bahari, sedangkan arah ke laut dibatasi oleh pengaruh proses alami serta
akibat kegiatan manusia terhadap lingkungan darat (BAKOSURTANAL, 1990)
Batas wilayah pesisir arah ke daratan tersebut di tentukan oleh :

1. Pengaruh sifat fisik air laut, yang ditentukan berdasarkan seberapa jauh pengaruh
pasang air laut, seberapa jauh flora yang suka akan air akibat pasang tumbuh (water
louwing vegetation) dan seberapa jauh pengaruh air laut ke dalam air tanah tawar;
2. Pengaruh kegiatan bahari (sosial), seberapa jauh konsentrasi ekonomi bahari (desa
nelayan) sampai kearah selatan.

Wilayah pesisir atas dasar genesisnya dapat dibedakan menjadi satuan bentang lahan seperti
di bawah ini :

1. Rentang Pasut (Tidal Flat) : yaitu daerah di wilayah pesisir yang berawal atau
berlumpur, tertutup air pada waktu air laut pasang.
2. Gisik (beach) : yaitu daerah pesisir yang brada pada pertemuan daratan denga air laut,
lerengnya landai, material pembentuknya kasar belum memadat, umumnya pasir,
kerakal dan shingle.
3. Beting Gesik (beach ridge) : yaitu daerah yang berujud gumuk memanjang,
materialnya kasar yang berbatasan dengan gisik yang berbentuk oleh pengaruh
gelombang.
4. Lereng terjal di laut (Sea Cliff) : yaitu daerah berbatu dengan lereng terjal yang
terbentuk oleh gelombang
5. Teras Marin : yaitu suatu kenampakan di tepi laut yang dicirikan oleh kegiatan lereng
yang relatif datar / dan dibatasi oleh takikan yang lebih curam. Teras Marin terbnetuk
oleh proses abrasi yang cukup lama setelah terjadi perubahan muka air laut.
6. Delta : yaitu suatu bentang lahan yang terbentuk di muara sungai baik di poerairan
laut maupun danau ; delta terbentuk antara lain diakibatkan dasar muara sungai yang
stabil dan dangkal, sedimen yang terbawa sungai cukup besar, perairan laut cukup
tenang (gelombang dan arus tidak terlampau kuat).
7. Gumuk pasir (Sand dunes) : adalah suatu bentang lahan yang dicirikan oleh bukit
rendah (gumuk) yang tersusun oleh pasir, yang pembentukannya oleh proses Aeolin
(angin).

Ekosistem pesisir kadang – kadang cirinya yang menonjol bukan lingkungan fisiknya, tetapi
justru organisme yang mendominasi pada lingkungan fisik tersebut. Salah satu contoh adalah
hutan mangrove dan terumbu karang. Dalam hal hutan mangrove dan terumbu karang
tersebut maka tumbuhan mangrove karang yang mencirikan ekosistemnya.

Ekosistem laut (an) adalah suatu ekosistem perairan laut di laut ekosistem pesisir, yang
dicirikan oleh kondisi organisme perairan, pelagic oseanik dan bentik batial, abisal dan
handal. Perairan laut pelagic oseanik adalah perairan di laut dangkalan kontinen (continental
sheif), yang mempunyai variasi geografis besar demikian juga kedalamannya. Distribusi
temperatur dan salinitas dalam perairan laut pelagic oseanik relatif konstan, sedangkan
distribusi penyinaran sangat bervariasi.

Perairan bentik betial mempunyai kedalaman atara 200 – 2.000 m, dasarnya berbatu atau
berlumpur, abisal kedalamanny6a 2000 – 6000 m dan hadal kedalamannya lebih dari 6.000
m.

Faktor – faktor yang berpengaruh terhadap ekologis kelautan perlu diketahui dalam
membicarakan ekosistem pesisir dan kelautan (an). Hubungan antara organisme di perairan
laut dengan lingkungan harus memperhatikan faktor – faktor : penyinaran matahari,
temperatur air, salinitas, tekanan, kadar CO2,O2, nutrisi, pH, dan kedalaman.

Faktor – faktor tersebut terutama digunakan untuk mengetahui tingkat proses fotosintesis dan
resfirasi yang daapt digunakan untuk analisis siklus biogeokhemik. Topografi dasar lautan itu
sangat bervariasi dari suatu tempat ke tempat lain dan dari waktu ke waktu. Secara garis beras
topografi dasar laut (an) itu dibedakan menjadi :

a. Tepian Kontinen: Tepian kontinen tersusun oleh dangkalan kontinen (shelf) lereng
kontinen, tanjakan dan igir.

1. Dangkalan (paparan) kontinen : adalah lanjutan dari topografi dan geologi dataran
daerah yang berbatasan berada di bawah muka air laut, kedalamannya kurang dari 200
m, lereng landai (0,4%), lebar 50 – 70 km. Pada dangkalan kontinen proses abrasi dan
sedimentasi aktif.
2. Takikan dangkalah : adalah daerah peralihan dari dangkalan ke lereng kontinen,
kedalamannya berkisar antara 10 – 500 m, reratanya 200 m, relatif umumnya kurang
dari 20 m.
3. Lereng kontinen : lanjutan dari dangkalan kontinen mempunyai lereng 3 – 6 %, proses
pengendapan aktif.
4. Tanjakan kontinen : daerah ini mempunyai lereng secara gradual menurun hingga
mencapai basin lautan.

b. Dasar Basin Lautan: Dasar Basin Lautan sering disebut dengan daratan abisal, daratan
abisal mempunyai gradien yang sangat kecil 1 : 1000 hingga 1 : 10.000. pada dataran abisal
umumnya tempat bermuara “canon” sehingga sering timbul bentukan yang menyerupai kipas.
Meskipun sebagian besar topografinya datar, tetapi banyak juga bertopografi bergumuk
(hummocky) yang diakibatkan oleh extrusi dan gunung api dasar laut.

c. Igir dan Lembah Dasar Laut: Kenampakan yang dijumpai di dasar laut antara lain :

1. Igir : Igir umumnya berlereng yang relatif terjal lebarnya dapat mencapai 1.500 –
2.000 km. Igir bawah laut dapat merupakan system rangkaian gunung api bawah laut.
Pada sistem dan lembah memanjang (rift valley).
2. Palung (trenches) : bagian laut yang terdalam seperti saluran, yang seakan – akan
memisahkan dua benua, seperti di Lautan India (selatan Pulau Jawa) kedalamannya
mencapai 7.700 m.
3. Pulau Kontinen : yaitu masa dataran yang terpisah dengan benuanya (kontinennya).
4. Atol (pulau terumbu karang).
5. Seamount” dan “Guyot”.
6. Jalur kepulauan (seperti di Indonesia).

Ket : Seamount adalah gunung api yang muncul dari dasa lautan, tetapi belum muncul ke
permukaan laut, seamount berlereng curam, puncak runcing, ketinggian dapat mencapai
1.000 m, sedangkan “guyot” mempunyai puncak datar.

Bentang Lahan Pasir: Pada bentang lahan pasir (Coaltal Landscape) sebenarnya mencakup
perairan laut yang disebut dengan pantai (shore). Pantai (shore) adalah suatu wilayah yang
meluas dari titik terrendah pada saat surut, arah ke dataran hingga mencapai batas efektif dari
gelombang. Garis pantai (shore line) itu berubah – ubah sesuai dengan kedudukan pada saat
pasang surut, pengaruh gelombang dan arus laut.

Sifat Fisik Air Laut: Gelombang, arus, dan pasut adalah sifat fisik air laut yang bersifat
dinamis. Gelombang, arus dan pasang surut yang terjadi pada suatu daerah di perairan laut
telah berlangsung lama, sehingga organisme yang terdapat di daerah tersebut telah
beradaptasi. Karakteristik gelombang, arus dan pasang surut dapat dicari di berbagai
literature kelautan dan karakteristik fisik air laut yang bersifat internal misalnya penyinaran,
suhu, salinitas, tenahan, CO2, O2, pH dan kedalaman.

Penyinaran: Intensitas sinar penting dalam kehidupan di perairan laut, ternyata intensitas
sinar yang dapat masuk ke dalam air itu berbeda – beda. Sinar merah yang mencakup
maksimum 1 % dari dari sinar dapat mencapai kedalaman 55 m, sinar kuning – hijau dan
violet 1 % daya tembusnya 95 m dan sinar biru 1 % mencapai kedalam 150 m. Sinar untuk
fotosintesis maksimum dapat mencapai 250 m di laut, di pantai yag airnya jernih dapat
mencapai 50 m dan apabila keruh hanya beberapa sentimeter saja. Seperti yang telah
diuraikan berdasarkan penyinaran sinar matahari perairan laut dibedakan menjadi : (1)
eufotik, (2) disfotik dan (3) afotik. Di bawah kedalaman 2.500 meter sinar matahari sudah
tidak mencukupi untuk proses biologis. Sinar matahari yang masuk ke dalam air tidak dapat
menyebabkan kenaikan suhu, akibatnya akan menimbulkan arus konveksi. Arus konveksi
yang terjadi akan berpengaruh terhadap kehidupan dari perairan laut. Seberapa besar
pengaruh arus konveksi terhadap kehidupan laut.

Suhu Air Laut: Suhu air laut permukaan dengan di bawah permukaan menunjukkan
perbedaan. Selisih suhu harian lebih kurang 0,3oC untuk lautan, sedangkan di pantai dapat
mencapai 3oC. Perbedaan suhu air laut untuk berbagai lokasi itu berbeda – beda. Untuk
daerah lintang tinggi perbedaan suhu tidak begitu besar. Misalnya di daerah lintang rendah di
permukaan 25oC di dasar pada kedalaman 2.500 m dengan suhu 5oC. Perbedaan suhu selain
dapat menyebabkan densitas akan mempengaruhi nutrisi yang dikandungnya, umumnya di
permukaan itu terbatas sedangkan di bawah permukaan melimpah.

Salinitas: Salinitas secara keseluruhan hampir homogen (35%), kecuali pada daerah yang
mendapat pasokan air tawar atau evaporasi yang kuat. Akibat dari salinitas air laut yang
tinggi menyebabkan hewan (ikan) di air laut bersifat isotonic (lebih konstan), sedangkan ikan
di air tawar hipotonik.

Tekanan Air: Tekanan hidrostatik menjadi factor pengontrol kehidupan di laut. Setiap turun
10 m tekanan bertambah 1 atmosfer. Di dasar laut tekanan dapat mencapai 1.000 atmosfer.
Atas dasar variasi tekanan air maka kehidupan laut bervariasi menurut kedalamannya.

CO2

Karbon dioksida di air laut bervariasi, di dalam air dapat membentuk asam karbonat dan
apabila bereaksi dengan Ca dapat membentuk batu gamping. Ketersediaan CO2 akan
menentukan proses fotosintesis, apabila CO2 naik dapat menyebabakan kematian bagi
binatang laut.

Nutrisi
Nutrisi seperti fosfat dan nitrit penting untuk pertumbuhan dan reproduksi bagi semua
organisme di laut. Fosfat dapat membentuk adenosin tri fosfat yang penting untuk
pertumbuhan.

Kehidupan di perairan laut atas dasar daya gerak dan habitatnya dapat dibedakan menjadi :

1. Plankton: Plankton adalah organisme mikroskopik di perairan yang mengapung,


berpindah-pindah terbawa arus. Kebanyakan plankton hidup di perairan dangkal,
karena hidup hari fotosintesis. Plankton dapat dibedakan menjadi fitoplankton dan
zooplankton.
2. Fitoplankton: Contoh dari Fitoplankton adalah diatomea (SiO2) yang senang pada
perairan dingin dan flagelata yang senang pada air hangat. Coccithopores memiliki
kulit CaCO3, sargasum sejenis plankton yang hidup tanpa akar, melayang – layang di
dalam air.
3. Zooplankton: “Jelly Fish”, “Arrow Worm” copepod dapat hidup dalam berbagai
kondisi salinitas, sinar, arus dan cadangan nutrisi. Zooplankton dapat dibedakan
menjadi holoplankton (terus – menerus tenggelam) dan mesoplankton (kadang –
kadang tenggelam)
4. Benthos: Adalah organisme yang hidup di dasar laut. Atas dasar model kehidupanya
dapat dibedakan menjadi sesil (diam, permanen), merayap (kepiting) dan membuang
liang (kerang).
5. Nekton: Adalah binatang yang dapat berenang (ika, hiu, dan mamalia0
6. Tumbuhan Laut: Eel Grass”, ganggang biru-hijau, ganggang hijau, ganggang merah,
ganggang coklat, diatemoa, dan flagelata.
7. Binatang Laut: Variasi binatang laut lebih banyak, menurut bentuk, ukuran, morfologi
dan kedalamannya. Contoh – contohnya : foraminifera, radioloria, porifera,
“coelenterates”, moluska, branciopoda, “brryozoon”, cacing laut, antropoda, ikan laut,
reptil, burung, mamalia, dan bacteria laut.

Asas dan Prinsip Pengelolaan Lingkungan


Pembangunan yang dilakukan selama ini dibanyak negara-negara di dunia telah
menghasilkan 2 dampak penting yaitu Dampak Positif dan Dampak Negatif. Dampak Positif
berupa kemajuan di berbagai bidang seperti kemajuan di bidang teknologi,
produksi,manjemen, dan informasi , yang kesemuanya telah meningkatkan kualitas hidup
manusia. Dampak Negatif berupa pecemaran dan kerusakan lingkungan, baik darat, air,
maupun udara yang menimbulkan berbagai petaka lingkungan, seperti hujan asam,
pemanasan global, penyakit kanker, paru-paru, kulit dsbnya.

Kegiatan industri yang membentuk limbah, seperti industri kimia menghasilkan zat-zat
buagan bahan berbahaya dan beracun (B-3). Kegiatan pertambangan, berupa terjadinya
perusakan instalasi, kebocoran, pencemaran udara dan rusaknya lahan bekas pertambangan.
Kegiatan Transportasi, berupa kepulan asap yang mengakibatkan naiknya suhu udara di kota,
kebisingan kendaraan bermotor, dan tumpahan BBM dari kapal tangker. Kegiatan pertanian,
akibat dari residu pemakaian zat-zat kimiah (Herbisida, insektisida, pestisida, fungisida,
pupuk anorganik).

Diadakan Konferensi PBB tentang Lingkungan Hidup Manusia tanggal 5-16 Juni 1972.
Hasilnya antara lain: Deklarasi Tentang Lingkugan Hidup Manusia, terdiri dari Preamble dan
26 asas yang lazim disebut dengan Stockholm Declaration. Rencana Aksi Lingkungan Hidup
Manusia (Action Plan) terdiri dari 109 rekomendasi termasuk 18 rekomendasi tentang
perencanaan pengelolaan Pemukiman Manusia.

Deklarasi Rio de Janeiro, tanggal 3- 14 Juni 1992 menghasilkan antara lain :

27 Prinsip fundamental tentang lingkugan dan pembangunan.

Prinsip-prinsip kehutanan yang merupakan konsensus Internasional terdiri dari 16 Pasal yang
mencakup aspek pengelolaan, aspek konservasi, aspek pemanfaatan dan pengembangan.
Prinsip ini tidak mengikat secara hukum dan berlaku bagi semua jenis dan tipe hutan.

Keterkaitan (interdependency), permasalahan lingkungan dan pembagunan tidak lagi


mengenal batas-batas wilayah negara, karena permasalahan tersebut saling keterkaitan, oleh
karena itu penyelesaiannya perlu dilakukan dengan pendekatan lintas sektoral dan antar
negara.

Berkelanjutan (sustainability), berbagai pengenbangan berbagai sertor seperti pertanian,


kehutanan, industri energi, perikanan, inveatasi, perdagangan, bantuan ekonomi memerlukan
bantuan sumber daya alam yang harus dilestarikan kemampunnya untuk menunjang proses
pembangunan secara berkelanjutan. Untuk itu perlu dikembangkan kebijakan pembangunan
yang berwawasan lingkungan

Pemerataan (Eguaity), Desakan kemiskinan dapat mengakibatkan eksploitasi sumberdaya


alam secara berlebihan sehingga perlu diikhtiarkan kesempatan secara merata untuk
memperoleh sumber daya alam bagi pemenuhan kebutuhan pokok, seperti tanah, air dll.

Security dan Risiko Lingkungan, Perlombaan persenjataan dapat memperbesar potensi


kerusakan lingkungan. Begitu pula cara-cara pembangunan tanpa mempehitungkan dampak
negatif terhadap lingkungan dapat memperbesar risiko lingkungan.
Penduduk dan Komunikasi, Penduduk dan komunikasi lingkungan perlu ditingkatkan
diberbagai tingkatan lapisan masyarakat.

Kerjasama Internasional, pola kerjasama Internasional dipengaruhi oleh pendekatan


pengembangan sektoral, sedangkan pertimbangan lingkungan kurang diperhitungkan. Karena
itu perlu dikembangkan kerjasama yang lebih mampu menanggapi pembangunan
berwawasan lingkungan.

Hukum Lingkungan

Menurut Moenadjat,Hukum Lingkungan dibedakan dalam hukum lingkungan Klasik dan


Modern.

Hukum lingkungan Klasik adalah hukum yang menetapkan ketentuan dan norma-norma
dengan tujuan terutama sekali untuk menjamin pengunaan dan eksploitasi sumber-sumber
daya lingkungan dengan berbagai akal dan kepandaian manusia guna mencapai hasil
semaksimal mungkin dan dalam jangka waktu yang sesingkat-singkatnya .

Menjamin adanya kepastian dalam penggunaan dan eskploitasi sumber daya lingkungan atau
dapat juga dikatakan orientasinya adalah kapitalis.

Bergerak pada bidang bidang (sektor) tertentu atau bersifat sektoral, serba kaku, dan sukar
berubah.

Hukum Lingkungan Modern adalah menetapkan aturan dan norma-norma guna mengatur
perbuatan masusia, dengan tujuan untuk melindungi lingkungan dari kerusakan dan
kemerosotan mutunya demi untuk menjamin kelestarian fungsinya agar dapat secara
langsung terus-menerus dugunakan oleh generasi sekarang maupun yang akan datang.
Memberikan perlindungan terhadap lingkungan, dengan demikian hukum lingkungan modern
bersifat utuh dan menyeluruh atau komprehensif, integral dan luwes.

Drupsteen
Hukum lingkungan adalah hukum yang berhubungan dengan lingkungan alam(natuurlijk
milieu) dalam arti seluas-luasnya.

Ruang lingkupnya ditentukan oleh ruang lingkup pengelolaan lingkungan. Dengan demikian
hukum lingkungan merupakan instrumentarium yuridis bagi pengelolaan lingkungan. Oleh
karena pengelolaan lingkungan lebih dominan dilakukan oleh pemerintah, maka hukum
lingkungan merupakan hukum publik.

Dasar pertimbangan:
Bahwa kualitas LH yang semakin menurun telah mengancam kelangsungan hidup manusia
dan mahluk hidup lainnya sehingga perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan LH yang
sungguh-sungguh dan konsisten oleh semua pemangku kepentingan.

Bahwa pemanasan global yang semakin meningkat mengakibatkan perubahan iklim sehingga
memperparah penurunan kualitas lingkungan hidup karena itu perlu dilakukan perlindungan
dan pengelolaan lingkungan hidup.
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan dan mahluk
hidup, termasuk manusia dan prilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan
perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lain.

Perlindungan dan pengelolaan LH adalah upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk
melestarikan fungsi lingkungan hidup dan mencegah terjadinya pencemaran dan/atau
lerusakan lingkungan hidup yang meliputi perencanaan, pemanfaatan, pengendalian,
pemeliharaan, pengawasan dan penegakan hukum

Pembangunan berkelanjutan adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek
lingkungan hidup, sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin
keutuhan lingkungan hidup dan keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup
generasi masa kini dan generasi masa depan.

Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) adalahperencanaan


tertulis yang memuat potensi, masalah lingkungan hidup, upayaperlindungan dan
pengelolaannya dalam waktu tertentu.

Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan yang utuh
menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas
danproduktifitas lingkungan hidup.

Pelestariang fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara


kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.

Daya Dukung LH adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan


manusia dan mahluk hidup lain, dan keseimbangan antar keduanya.

Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat,
energi, dan atau komponen lain yang masuk atau dimasukan kedalamnya.

Kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis,
menyeluruh dan partisipatif, untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan
telah memjadi dasar dan terintegrasi dalam pembangunan suatu wilayah dan atau
kebijakan,rendana dan atau program.

AMDAL adalah kajian mengenai dampak pentingsuatu usaha dan/atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang penyelenggaraan dan atau kegiatan.

UKL-UPL pengelolaan dan pemantauan terhadap usaha dan atau kegiatan yang tidak
berdampak penting terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan
keputusan tentang penyelenggaraan kegiatan dan atau usaha.

Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar mahluk hidup, zat, energi, atau
komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya
dalam suatu sumberdaya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup.
Pencemaran lingkungan hidup adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi
dan/atau komponen lain kedalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga
melampaui baku mutu lingkungan hidup yang telah ditentukan.

Kreteria baku mutu kerusakan lingkungan adalah ukuran batas perubahan sifat fisik, kimia,
dan atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang oleh lingkungan hidup untuk dapat
tetap melestarikan fungsinya.

Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan orang yang menimbulkan perubahan langsung
ataupun tudak langsung terhadap sifat fisik, kimia,dan/atau hayati lingkungan hidup sehingga
melampaui kreteria baku kerusakan lingkungan hidup.

Kerusakan lingkungan hidup adalah perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat
fisik, kimia, dan/atau hayati lingkungan hidup yang melampaui kreteria baku kerusakan
lingkungan hidup.

Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antar dua pihak atau lebih yang timbul dari
kegiatan berpotensi dan/atau telah berdampak pada lingkungan hidup.

Beberapa asas pengelolaan lingkungan antara lain : Tanggungjawab Negara; Kelestarian dan
keberlanjutan; Keserasian dan keseimbangan; Keterpaduan; Manfaat; Kehati-hatian;
Keadilan; Ekoregion ; Keanakaragaman hayati; Pencemar membayar; Partisipatif ; Kearifan
Lokal ; Tata kelola pemerintahan yang baik dan; Otonomi daerah,

Yang dimaksud dengan tanggung jawab negara adalah :

 Negara menjamin pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat sebesar-
besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat,baik generasi kini maupun yang
akan datang.
 Negara menjamin hak warga negara atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
 Negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam yang
menimbulkan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

Yang dimaksud dengan asas kelestarian dan keberlanjutan adalah bahwa setiap orang
memikul kewajiban dan tanggung jawab terhadap generasi mendatangdan terhadap sesama
dalam satu generasi dengan melakukan upaya pelestarian daya dukung ekosistem dan
memperbaiki kualitas lingkungan hidup.

Yang dimaksud dengan asas keserasian dan keseimbangan adalah bahwa pemanfaatan
lingkungan hidup harus memperhatikan berbagai aspek seperti kepentingan ekonomi, sosial,
budaya, dan perlindungan dan pelestarian ekosistem.

Yang dimaksud dengan asas keterpaduan adalah bahwa perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup dilakukan dengan memadukan berbagai unsur atau menyinergikan berbagai
komponen terkait.

Asas manfaat adalah bahwa segala usaha dan atau pembangunan yang dilaksanakan
disesuaikan dengan potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup untuk peningkatan
kesejahteraan rakyat harkat manusia selaras dengan lingkungannya.
Asas kehati-hatian adalah bahwa ketidakpastian suatu usaha dan atau kegiatan karena
keterbatasan penguasaan iptek bukan merupakan alasan untuk menundalanhkah-langkah
minimalisasi atau menghindari ancaman terhadap pencemaran atau kerusakan lingkungan.

Yang dimaksud dengan asas keadilan adalah bahwa perlindungan dan pengelolaan ligkungan
hidupharus mencerminkan keadilan secara proporsional bagisetiap warga negara baik lintas
daerah, lintas generasi dan lintas gender.

Yang dimaksud dengan asas ekoregion adalah bahwa perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup harus memperhatikan karakteristik sumberdaya alam , ekosistem, kondisi
geografis budaya masyarakat setempat,dan kearifan lokal.

Yang dimaksud dengan asas keanekaragaman hayati adalah bahwa perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup harus memperhatikan upaya terpadu untuk mempertahankan
keberadaan dan keragaman, dan keberlanjutan SDA nabati dan hewani yang bersama dengan
unsur non hayati disekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem.

Yang dimaksud dengan asas pencemar membayar adalah bahwa setiap penanggung jawab
usaha dan atau kegiatan yang menimbulkan pencemaran dan atau kerusakan lingkungan
lingkunhan hidup wajib menanggung biaya pemulihan lingkungan.lingkungan

Yang dimaksud dengan asas partisifatif adalah bahwa setiap anggota masyarakat didorong
untuk berkenan berperan aktif dalam proses pengmbilan keputusan dan pelaksanaan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup baik secara langsung maupun tidak
langsung.

Yang dimaksud dengan kearipan tradisional adalah bahwa dalam melakukan perlindungan
lingkungan hidup harus memperhatikah nilai- nilai luhur yang berlaku dalam tata kehidupan
masyarakat.

Yang dimaksud dengan asas tata kelola pemerintahan yang baik adalah bahwa perlindungan
dan pengelolaan LH dijiwai oleh prinsif partisifasi, transparansi dan akuntabilitas, efisiensi
dan keadilan.

Yang dimaksud dengan asas otonomi daerah adalah bahwa pemerintah dan pemerintah
daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan dibidang perlindungan dan pengelolaan LH
dengan memperhatikan keshususan dan keragaman daerah dalam bingkai negara Kesatuan
RI.