Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM

KIMIA ANORGANIK 1
“Sifat Periodisitas Spesies (Lanjutan)”

Disusun Oleh:

Kelompok : 6 (Enam)
Anggota : 1. Rindah Meijustika (06101181621008)
2. Johan Chandra (06101181621051)
3. Ariska Wulan Febrianti (06101181621059)
4. Annisa Filantropie (06101281621016)
5. Agriany Tarigan (06101281621023)

Dosen Pembimbing : Drs. M. Hadeli L, M.Si


Maefa Eka Haryani, S.Pd., M.Pd.

PENDIDIKAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2018
I. Percobaan ke : 2 (dua)
II. Judul Percobaan : Sifat Periodisitas Spesies (Lanjutan)
III. Tujuan Percobaan :
 Tujuan Umum
Mahasiswa memahami adanya kemiripan atau keteraturan sifat-sifat spesies.
 Tujuan Khusus
Setelah melakukan kegiatan laboratories, mahasiswa dapat menentukan
kemiripan sifat kelarutan senyawa halida perak.
IV. Dasar Teori
Pengujian halogenalkana

Larutan perak nitrat bisa digunakan untuk menentukan halogen apa yang
terdapat pada sebuah halogenalkana. Cara yang paling efektif adalah dengan
melakukan sebuah reaksi substitusi yang mengubah halogen menjadi sebuah ion
halida, dan selanjutnya menguji ion halida tersebut dengan larutan perak nitrat.

Reaksi

Halogenalkana dipanaskan dengan sejumlah larutan natrium hidroksida


dalam sebuah campuran etanol dengan air. Apapun akan larut dalam campuran ini
sehingga reaksi bisa berlangsung dengan baik.

Atom halogen dilepaskan sebagai ion halida:

Reaksi ini tidak harus berlangsung sampai selesai. Uji dengan perak nitrat
cukup sensitif untuk mendeteksi ion-ion halida dalam konsentrasi yang cukup
kecil.

Campuran diasamkan dengan menambahkan asam nitrat. Penambahan


asam nitrat ini akan mencegah terjadinya reaksi antara ion-ion hidroksida yang
tidak-bereaksi dengan ion-ion perak yang akan ditambahkan. Selanjutnya larutan
perak nitrat ditambahkan.

Berbagai endapan bisa terbentuk dari reaksi antara perak dan ion-ion halida:
ion dalam campuran endapan yang terbentuk

Cl- endapan putih

Br- endapan krim pucat pasi

I- endapan kuning pucat pasi

Menentukan jenis endapan

Warna endapan-endapan yang terbentuk cukup sulit untuk dibedakan,


khususnya jika endapan yang terbentuk sedikit. Anda bisa menentukan endapan
apa yang terbentuk dengan menambahkan larutan amonia.

endapan hampir tidak berubah dengan penambahan larutan amonia


AgBr encer, tapi larut dalam larutan amonia pekat menghasilkan larutan
tidak berwarna

Untuk membandingkan kereaktifan-kereaktifan halogenalkana, berbagai


halogenalkana diperlakukan dengan sebuah larutan perak nitrat dalam sebuah
campuran etanol dengan air. Tidak ada lagi zat lain yang ditambahkan. Setelah
beberapa lama, endapan-endapan muncul ketika ion-ion halida (yang dihasilkan
dari reaksi-reaksi halogenalkana) bereaksi dengan ion-ion perak yang ada. Selama
prosedur ini berlangsung pada kondisi-kondisi yang terkontrol (jumlah zat yang
sama, suhu yang sama dan seterusnya), maka waktu yang diperlukan untuk
pembentukan endapan dapat menjadi petunjuk tentang kereaktifan halogenalkana
– semakin cepat endapan terlihat, semakin reaktif halogenalkana tersebut. Ada dua
cara pembentukan ion halida, tergantung pada jenis halogenalkana yang ada –
yakni halogenalkana primer, sekunder dan tersier. Untuk halogenalkana pimer,
reaksi utama yang terjadi adalah antara halogenalkana dengan air dalam pelarut.

Halogenalkana tersier terionisasi sampai tingkatan yang sangat kecil.

Sedangkan halogenalkana sekunder bisa mengalami kedua reaksi di atas.

Membandingkan laju-laju reaksi sesuai dengan jenis halogen

Untuk perbandingan laju reaksi ini, jenis halogenalkana yang digunakan


harus konstan (baik primer, sekunder atau tersier), hanya gugus halogennya yang
diubah-ubah. Sebagai contoh, anda bisa membandingkan lamanya waktu yang
diperlukan untuk menghasilkan sebuah endapan dari beberapa halogenalkana
primer berikut:

Sesuai dengan sifat-sifat halogen masing-masing, akan jelas bahwa waktu


yang diperlukan untuk terbentuknya endapan perak bromida akan tergantung pada
berapa banyak zat yang digunakan dan pada suhu berapa reaksi berlangsung.
Tetapi pola hasilnya selalu sama.

Sebagai contoh:

 Senyawa iodo primer agak cepat menghasilkan endapan.


 Senyawa bromo primer memerlukan waktu yang lebih lama untuk
menghasilkan endapan.
 Senyawa kloro primer kemungkinan tidak akan membentuk endapan, kecuali,
dalam jangka waktu yang cukup lama.
Orde kereaktifan mencerminkan kekuatan ikatan karbon-halogen. Ikatan
karbon-iodin merupakan ikatan yang paling lemah dan ikatan karbon-klorin
merupakan yang paling kuat dari ketiga ikatan pada gambar di atas. Agar ion
halida terbentuk, ikatan karbon-halogen harus diputus. Semakin lemah ikatan,
semakin mudah memutus ikatannya.

Membandingkan laju reaksi antara halogenalkana primer, sekunder dan


tersier

Untuk melakukan perbandingan ini, atom halogen tidak diubah-ubah.


Biasanya digunakan bromida karena memiliki laju reaksi sedang.

Sebagai contoh, anda bisa membandingkan kereaktifan dari senyawa-


senyawa berikut:

Lagi-lagi, waktu yang diperlukan akan bervariasi sesuai dengan kondisi


reaksi, tapi polanya akan selalu sama. Sebagai contoh:

 Halida tersier menghasilkan sebuah endapan hampir secara spontan.


 Halida sekunder menghasilkan sedikit endapan setelah beberapa detik.
Semakin lama endapan semakin menebal.
 Halida primer biasanya memerlukan waktu yang cukup lama untuk
menghasilkan sebuah endapan.
Penjelasan tentang perbedaan laju reaksi halogenalkana primer, sekunder
dan tersier ini lebih sulit karena diperlukan pemahaman mendalam tentang
mekanisme-mekanisme yang terlibat dalam reaksi. Perbedaan ini mencerminkan
perubahan cara menghasilkan ion halida ketika kita berpindah dari halogenalkana
primer ke tersier terus ke sekunder.

V. Alat dan Bahan


Alat:
1. Sentrifuge
2. Tabung Reaksi
Bahan:
1. Larutan Perak Nitrat 0,1 M
2. Larutan Kalium Klorida 1,0 M
3. Larutan Kalium Bromida 1,0 M
4. Laruran Kalium Iodida 1,0 M
5. Larutan Ammonia Pekat (2 M)

VI. Prosedur Percobaan


1. Buatlah endapan perak klorida dengan mencampurkan 5 ml larutan perak
nitrat 0,1 dengan 0,5 ml larutan kalium klorida 1,0 M dalam sebuah tabung
sentrifuga. Diamkan tabung itu selama satu menit, kemudian pusingkan.
Buanglah cairan yang berada di atas endapan, kemudian tambahkan kepada
endapan tersebut larutan ammonia pekat tetes demi tetes hingga tidak ada
lagi perubahan yang nyata.
2. Lakukan seperti halnya (1) tetapi sebagai ganti larutan kalium klorida
gunakan larutan kalium halida lainnya.

VII. Hasil Pengamatan

Kelarutan
Pelarut AgCl AgBr AgI
Endapa
Endapan Larutan Endapan Larutan Larutan
n
Air Putih Tidak Tidak
Abu-abu Kuning Tidak Larut
kekuningan Larut Larut
Amonia Putih Tidak Tidak Larut(keruh
Abu-abu Kuning
Pekat kekuningan Larut Larut sedikit)

VIII. Persamaan Reaksi


(1) Ag+(aq) +Cl-(aq) AgCl(s) putih
AgCl(s) + H2O(l) AgOH(s) + HCl(aq)
AgCl(s) + 2NH3(aq) Ag(NH3)2Cl(aq)
(2) Ag+(aq) + Br-(aq) AgBr(s) abu-abu
AgBr(s) + H2O(l) AgOH(s) + HBr(aq)
AgBr(s) + 2NH3(aq) Ag(NH3)2Br(aq)
(3) Ag+(aq) + I-(aq) AgI(s) kuning
AgI(s) + H2O(l) AgOH(s) + HI(aq)
AgI(s) + 2NH3(aq) Ag(NH3)2I(aq)

IX. Pembahasan
Pada percobaan ini berjudul sifat periodisitas spesies. Tujuan dari
dilakukannya percobaan ini adalah agar praktikan memahami adanya kemiripan
atau keteraturan sifat-sifat spesies dan setelah melakukan kegiatan tersebut,
praktikan dapat menentukan kemiripan sifat-sifat kelarutan senyawa halida perak.
Pada dasarnya, proses melarut adalah proses menyebarnya partikel-partikel zat
yang dilarutkan ke dalam pelarut. Proses melarut akan terjadi apabila gaya tarik-
menarik antarpartikel dalam pelarut atau dalam zat terlarut itu sendiri . Untuk
spesies ionik, proses pelarutannya terjadi karena spesies ini terurai menjadi kation
dan anion yang masing-masing terikat relatif cukup kuat oleh molekul pelarutnya.
Jika suatu zat dapat terlarut ke dalam pelarut dengan jumlah yang relatif besar,
maka dapat dikatakan bahwa kelarutan zat tersebut besar dan sebaliknya. Kecilnya
kelarutan suatu spesies ionik dapat diinterpretasikan sebagai rendahnya konstanta
hasil kali kelarutan (konsentrasi) ion-ionnya. Sifat kecenderungan golongan
halogen dapat ditunjukkan oleh karakteristik kelarutan halida perak.
Pada percobaan ini dilakukan tiga kali percobaan menggunakan KCl,
KBr,dan KI, yang pertama dilakukan adalah mencampurkan 5 ml larutan perak
nitrat 0,1 M dengan 0,5 ml larutan kalium klorida 1 M. Kemudian, campuran
larutan tersebut didiamkan selama satu menit. Selanjutnya dipusingkan dengan
menggunakan sentrifuge. Setelah itu, buanglah cairan yang berada di atas
endapan. Kemudian, tambahkan pada endapan tersebut larutan amonia pekat tetes
demi tetes hingga tidak ada lagi perubahan yang nyata. Pada percobaan kali ini
menggunakan 2 pelarut yaitu amonia pekat dan pelarut air. Untuk percobaan
kedua dan tiga prosedur nya masih sama dengan percobaan yang kesatu hanya
berbeda larutannya saja. Sebelum itu, kita mengetahui bahwa banyak sekali reaksi
yang digunakan dalam analisis anorganik kualitatif melibatkan pembentukan
endapan. Endapan adalah zat yang memisahkan diri sebagai suatu fase padat
keluar dari larutan. Endapan dapat berupa kristal atau kristalin atau koloid dan
dapat dikeluarkan dari larutan dengan penyaringan / pemusingan (Vogel, 1985:
72). Kelarutan atau S suatu endapan menurut definisi adalah sama dengan
konsentrasi molar dari larutan jenuhnya (Vogel, 1985: 72). Kelarutan sangat erat
hubungannya dengan hasil kali kelarutan suatu larutan dan erat pula hubungannya
dengan endapan yang terjadi pada percobaan kali ini. Dalam beberapa hal struktur
fisik, dan karenanya kelarutan, endapan pada saat pengendapan tidaklah sama
dengan kelarutan endapan yang lama atau telah distabilkan, ini mungkin
disebabkan oleh proses yang dikenal sebagai ’pematangan’ yang merupakan
semacam rekristalisasi atau mungkin karena perubahan benar-benar dari struktur
kristal (Vogel, 1985: 74). Jadi, lamanya larutan tersebut diendapkan atau pun
dipusingkan akan sangat berpengaruh pada hasil percobaan.

Berdasarkan percobaan yang kami dapatkan setelah melakukan praktikum


adalah pada endapan perak klorida yang berwarna putih kekuningan, amonia
pekat dan air tidak dapat melarutkan endapan tersebut sehingga larutan tidak larut
dan menghasilkan endapan putih kekuningan. Kemudian pada endapan perak
bromida yang berwarna abu-abu, baik amonia ataupun air tidak dapat melarutkan
endapan tersebut dan menghasikan endapan berwarna abu-abu. Dan yang terakhir
pada endapan perak iodida yang berwarna kuning, pada pelarut amonia pekat
dapat melarutkan atau melarutkan hanya sedikit endapan tersebut, lain halnya
dengan pelarut air, larutannya sukar larut dan menghasilkan endapan berwarna
kuning. Berdasarkan teori, kebanyakan klorida larut dalam air, endapan perak
klorida larut dalam air dingin, akan tetapi lebih mudah larut dalam air mendidih
dibandingkan air dingin (Vogel, 1985: 345). Yang digunakan dalam percobaan ini
adalah air dingin sehingga endapan perak nitrat larut dalam air namun tidak
secepat dengan air panas. Kemudian, endapan perak klorida yang putih yang tak
larut dalam air dan asam nitrat encer, tetapi larut pada amonia encer (Vogel, 1985:
346). Yang digunakan pada percobaan ini adalah larutan amonia pekat. Yang
pertama adalah larutan amonia pekat dan hasil yang didapat endapan perak nitrat
tersebut dapat larut. Selanjutnya, endapan larutan perak bromida yang berwarna
abu-abu yang sangat sedikit larut dalam larutan amonia encer, tetapi mudah larut
dalam amonia pekat dan larut pula pada larutan natrium tiosulfat (Vogel, 1985:
348). Dan yang terakhir pada larutan perak iodida,warna endapan yang dihasilkan
berwarna kuning , pada larutan ini pada larutan amonia pekat sedikit larut berbeda
dengan pelarut air yang tidak dapat melarutkan endapan tersebut.

X. Kesimpulan
1. Suatu zat dapat terlarut ke dalam pelarut dengan jumlah yang relatif besar,
maka kelarutan zat tersebut besar dan sebaliknya.
2. Lamanya waktu pengendapan serta konsentrasi larutan yang digunakan sangat
berpengaruh pada hasil percobaan.
3. Endapan dapat berupa kristal atau kristalin atau koloid dan dapat dikeluarkan
dari larutan dengan penyaringan atau pemusingan
4. Pada AgCl endapan berwarna putih kekuningan, pada AgBr endapan berwana
abu-abu dan pada AgI endapan berwarna kuning.
5. Pada endapan AgBr seharusnya larut pada amonia pekat, tetapi tidak dengan
praktikum yang kami lakukan.
6. Penggunaan amonia yang bukan merupakan amonia pekat menghasilkan data
yang kurang akurat.
7. Pada AgBr yang larut ialah pada pelarut amonia pekat, berbeda dengan AgI dan
AgCl yang larut pada amonia encer.
DAFTAR PUSTAKA

Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: Universitas


Indonesia.

Dyano,G.2012. Sifat Periodisitas Spesies. (Online).


https://www.scribd.com/document/129424280/sifat-periodisitas-spesies.
(Diakses pada tanggal 13 September 2018).

Gulo,F., dan Desi.2014. Panduan Praktikum Kimia Anorganik I. Inderalaya:


Universitas Sriwijaya.

Utami, B. 2011. Sifat-Sifat Periodik Unsur: Keelektronegatifan dan Afinitas


Unsur. (Online). http://www.Chem-is-try.org/. (Diakses pada tanggal 13
September 2018).

Setiono, dkk. 1985. Vogel. Jakarta: PT Kalman Media Pusaka.


Lampiran

Larutan KCl sebelum dimasukkan Larutan KCl setelah dimasukkan


didalam sentrifuga didalam sentrifuga.
(Ket:menggunakan 2pelarut
Pelarut air dan amoniak pekat).
Larutan KI sebelum dimasukkan Larutan KI setelah dimasukkan
didalam sentrifuga. didalam sentrifuga.
(Ket:menggunakan 2pelarut
Pelarut air dan amoniak pekat).

Larutan KBr sebelum Larutan KBr setelah


didalam sentrifuga. didalam sentrifuga.
(Ket:menggunakan 2pelarut
Pelarut air dan amoniak pekat).