Anda di halaman 1dari 134

DAMPAK KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KEDELAI

TERHADAP KINERJA DAN KESEJAHTERAAN


KONSUMEN DAN PRODUSEN KEDELAI DI INDONESIA

DEVI SETIABAKTI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER
INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi yang berjudul Dampak


Kebijakan Pengembangan Kedelai Terhadap Kinerja dan Kesejahteraan
Konsumen dan Produsen Kedelai di Indonesia adalah benar karya saya dengan
arahan dari Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada
perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya
yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam
teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka dibagian akhir disertasi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada
Institut Pertanian Bogor.

Bogor, November 2013

Devi Setiabakti
NRP. H363090171
RINGKASAN

DEVI SETIABAKTI, Dampak Kebijakan Pengembangan Kedelai Terhadap


Kinerja dan Kesejahteraan Konsumen dan Produsen Kedelai di Indonesia.
Dibimbing oleh DEDI BUDIMAN HAKIM, WILSON H LIMBONG dan
HANDEWI P SALIEM.

Kedelai merupakan tanaman palawija yang kaya akan protein dan memiliki
arti penting sebagai sumber protein nabati untuk peningkatan gizi masyarakat.
Permintaan kedelai yang terus meningkat tidak dapat diimbangi oleh produksi
dalam negeri, padahal Indonesia pernah mencapai swasembada kedelai pada tahun
1992, namun kemudian produksi dalam negeri terus menurun sampai tahun 2010
sehingga dilakukan impor yang cukup besar. Besarnya impor kedelai juga dipicu
oleh perubahan kebijakan tata niaga kedelai, yakni dengan diberlakukannya pasar
bebas mengakibatkan banjirnya kedelai impor dengan harga murah. Kedelai impor
telah membuat para petani enggan untuk menanam kedelai. Hal ini terjadi karena
kedelai lokal kalah bersaing dengan kedelai impor dari segi harga maupun kualitas.
Dengan demikian petani merasa tidak mendapatkan insentif untuk menanam
kedelai sehingga kesejahteraannya turun, apalagi tidak ada jaminan harga pada saat
panen raya.
Tujuan penelitian secara umum adalah menganalisis dampak kebijakan
pengembangan kedelai terhadap perubahan penawaran dan permintaan,
kesejahteraan konsumen dan produsen kedelai di Indonesia. Metode, Data yang
digunakan adalah time series dari tahun 1981 sampai 2010. Data dianalisis dengan
pendekatan ekonometrika dengan model persamaan simultan. Parameter diestimasi
dengan metode two stage least squares (2SLS) yang menggunakan program
SAS/ETS (Statistical Analysis System/Econometric Time Series) R 9.1.
Kesimpulan: Produksi kedelai di Indonesia sangat dipengaruhi oleh harga
kedelai di tingkat petani, harga sarana produksi terutama pupuk urea dan benih
kedelai, upah tenaga kerja serta jumlah impor kedelai. Faktor-faktor ini
berpengaruh melalui perubahan peningkatan luas areal panen dan produktivitas
kedelai. Luas areal panen kedelai sangat responsif terhadap perubahan harga atau
upah tenaga kerja pertanian baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
Sedangkan produktivitas kedelai kurang responsif terhadap faktor-faktor
pembentuknya. Satu dari hasil simulasi kebijakan adalah peningkatan harga kedelai
di tingkat petani sebesar 35 persen sangat efektif untuk meningkatkan
kesejahteraan bagi produsen atau petani kedelai. Meningkatnya kesejahteraan
produsen kedelai ini karena adanya peningkatan luas areal panen kedelai sehingga
akan meningkatkan produksi kedelai.
Implikasi kebijakan: Untuk meningkatkan produksi kedelai sebaiknya
pemerintah merumuskan kebijakan yang akan memberikan manfaat baik kepada
produsen maupun konsumen. Kebijakan yang dilakukan secara partial hanya akan
menguntungkan satu pihak saja. Untuk mendorong petani agar mau meningkatkan
produksinya, kebijakan pemerintah selain memberikan bantuan berupa subsidi
sarana produksi juga harus dibarengi oleh adanya jaminan harga ketika terjadi
panen raya, karena pada saat ini posisi tawar petani sangat rendah.

Kata Kunci : Fluktuasi harga, kesejahteraan produsen, produksi kedelai


SUMMARY

DEVI SETIABAKTI, Impact of Soybean Development Policy on Performance and


Soybean Consumer and Producer Welfare in Indonesia. Supervised by DEDI
BUDIMAN HAKIM, WILSON H LIMBONG and HANDEWI P SALIEM.

Soybean is one of the major food commodities. It is a food crop that is rich
in protein and it has an important role as a plant nutrients protein source that can
improve people’s nutrition. Soybean demand that keeps increasing cannot be
complied with domestic production, instead of the fact that Indonesia used to be a
self-relying soybean country in 1992. However, the production then decreased
gradually until 2010, so finally it must be imported greatly. The big amount of
imported soybean is enhanced by the change of soybean business, namely the
existence of free trade so that there is a lot of imported soybean with reasonable
prices. Imported soybean has made farmers reluctant to grow soybean seeds. This
is because local soybean is not competitive enough to imported soybean, seen from
the viewpoint of price as well as quality. Farmers feel they do not have any
incentive for growing soybean, so that their welfare becomes lower, especially
when there is no guarantee during the great harvest.
The general objective of this research is analyzing impact of soybean
development policy on supply, demand changes and soybean consumer and
producer welfare in Indonesia. Methods: The survey was conducted on time-series
datas between 1981 to 2010. Data were analyzed using a simultaneous equation
model and parameter was estimated using the two stage least squares (2SLS)
method that applies SAS/ETS (Statistical Analysis System/Econometric Time
Series) program Versi 9.1 for Windows.
Conclusions: Soybean production in Indonesia is strongly influenced by the
price of soybeans at the farm level, prices of production facilities especially urea
fertilizers and soybean seeds, labor wage and soybean imports in which these
factors are influential through changes in the increase of crop acreage and soybean
productivity. Soybean crop area width is very responsive to changes in prices or
wages of agricultural labor both in short term and long term while soybean
productivity is less responsive to its constituent factors. One of simulation policies
was to increase soybean price in producer level at 35 percent, it would stimulate
farmers to increase harvested area, soybean production and farmers welfare.
Implications of Policies to increase soybean production, the government
should formulate policies that will provide benefits to both producers and
consumers. Policies that are partially formulated will not benefit both parties, but
only one party. To encourage farmers to increase their production, government
policies must not only provide a subsidy of production facilities but also give
guarantees in price during harvest time because at this time the bargaining power
of farmers is very low. Price protection policy is aiming at output price stability
that will determine the farmers’ income, which in turn will change their welfare.

Keywords : Price fluctuated, producer welfare, soybean production


© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2013
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan
pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan
kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan
kepentingan IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis


ini dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
DAMPAK KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KEDELAI
TERHADAP KINERJA DAN KESEJAHTERAAN
KONSUMEN DAN PRODUSEN KEDELAI DI INDONESIA

DEVI SETIABAKTI

Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
pada
Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013
Penguji pada Ujian Tertutup : Dr.Ir. M. Parulian Hutagaol, MS
Dr.Ir. Harianto, MS

Penguji pada Ujian Terbuka : Dr.Ir. Hermanto, MS


Dr.Ir. Sri Hartoyo, MS
Judul Disertasi : Dampak Kebijakan Pengembangan Kedelai Terhadap
Kinerja dan Kesejahteraan Konsumen dan Produsen
Kedelai di Indonesia
Nama Mahasiswa : Devi Setiabakti
NRP : H363090171

Program Studi : Ilmu Ekonomi Pertanian

Disetujui oleh
Komisi Pembimbing

Dr.Ir. Dedi Budiman Hakim, MEc


Ketua

Prof.Dr.Ir. Wilson H. Limbong, MS Dr.Ir. Handewi Purwati Saliem, MS


Anggota Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana IPB,


Ilmu Ekonomi Pertanian,

Dr.Ir. Sri Hartoyo, MS Dr.Ir. Dahrul Syah, MSc. Agr

Tanggal Ujian: 25 September 2013 Tanggal Lulus:


Judul Disertasi : Dampak Kebijakan Pengembangan Kedelai Terhadap
Kinerja dan Kesejahteraan Konsumen dan Produsen
Kedelai di Indonesia
Nama Mahasiswa Devi Setiabakti

NRP H363090171

Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian

Disetujui oleh
Komisi Pembimbing

~~
Dr.Ir. Dedi Budiman Hakim, MEc
Ketua

ProfDr.Ir. Wilson H. Limbong, MS Dr.Ir. Handewi Purwati Saliem, MS


Anggota Anggota

Ketua Program Studi


Ilmu Ekonomi Pertanian,

Dr.Ir. Sri Hartoyo, MS

2013 Tanggal Lulus: D1 NOV 2013


Tanggal Ujian: 25
PRAKATA

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Alloh SWT, karena atas ridho
dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan disertasi ini yang berjudul “Dampak
Kebijakan Pengembangan Kedelai Terhadap Kinerja dan Kesejahteraan Konsumen
dan Produsen Kedelai di Indonesia”. Penyusunan disertasi ini merupakan salah
satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Ekonomi
Pertanian Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Disertasi ini merupakan
kajian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan harga kedelai yang
akan berdampak terhadap kinerja perkedelaian di Indonesia yang digambarkan
oleh perubahan jumlah permintaan dan penawaran kedelai serta analisis perubahan
kesejahteraan konsumen dan produsen kedelai.
Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Tim Komisi
Pembimbing yang diketuai oleh Bapak Dr.Ir. Dedi Budiman Hakim, MEc dan
anggota Bapak Prof.Dr.Ir. Wilson H. Limbong, MS dan Ibu Dr.Ir. Handewi Purwati
Saliem, MS yang telah memberikan banyak ilmu, bimbingan dan arahan baik
dalam substansi materi, teori dan redaksi serta sistimatika berfikir.
Terima kasih pula atas motivasi dan dukungan semangatnya untuk terus
maju dalam menyelesaikan studi yang kami rasakan cukup berat, khususnya
kepada Kepala Pusat Pengembangan dan Pendidikan Pertanian - Badan
Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian Kementrian Pertanian yang telah
memberikan kesempatan dan biaya untuk pendidikan di Sekolah Pascasarjana IPB,
Sekretaris Direktorat Jenderal Tanaman yang telah memberikan izin belajar, Ketua
Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian yang selalu mengingatkan dan memotivasi
penulis dalam menyelesaikan disertasi, Tim Penguji Prelim 2 (Dr.Ir. M. Parulian
Hutagaol, MS, Dr.Ir. Sri Hartoyo, MS dan Dr.Ir. Ana Fariyanti, MS), Tim Penguji
Ujian Tertutup (Dr.Ir. M. Parulian Hutagaol, MS, Dr.Ir. Harianto, MS, Dr.Ir. Sri
Hartoyo, MS dan Dr. Muhamad Firdaus, SP.,MSi selaku moderator) yang telah
memberikan masukkan, Tim Penguji Ujian Terbuka (Dr.Ir. Hermanto, MS, Dr.Ir.
Sri Hartoyo, MS dan Dr. Meti Ekayani, S.Hut, MSc. dan Dr.Ir. Yusman Syaukat,
MS selaku moderator). Terima kasih pula kami sampaikan kepada seluruh Staf
Administrasi Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian dan rekan-rekan EPN
Angkatan 2009 atas bantuan dan kerjasamanya. Kepada istriku Dedeh Rosidah dan
anak-anakku tercinta, Sarah Fauziyah, Hibban Mubarak dan Nisrina Mardiyah
terima kasih atas dorongan dan doanya. Demikian juga terima kasih kepada
ayahanda Almarhum H. Endang Rukmana dan ibunda Hj. Emi Halimah serta H.
Taufik Rosyidin dan Almarhumah Hj. Nuratiah atas pengorbanan dan doa restunya.
Tiada gading yang tak retak, begitupun dengan disertasi ini. Namun inilah
karya maksimal yang dapat kami persembahkan, dengan harapan semoga karya ini
dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Bogor, November 2013

Penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL xii

DAFTAR GAMBAR xiii


DAFTAR LAMPIRAN xiii
1. PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 4
Tujuan dan Kegunaan Penelitian 6
Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian 7
Kebaruan dan Kontribusi Penelitian 7
2. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORITIS

Program Pengembangan Kedelai di Indonesia 8


Konsumsi Kedelai 9
Harga dan Pemasaran Kedelai di Indonesia 11
Sarana Produksi Usahatani Kedelai 13
Impor Kedelai Nasional 13
Struktur Perdagangan Kedelai 14
Kebijakan Kedelai Nasional 15
Kesejahteraan Ekonomi Kedelai 16
Efisensi Alokatif 18
Tinjauan Studi Terdahulu 19
Kerangka Konseptual Penelitian 22
Produksi Kedelai 23
Konsumsi/Permintaan Kedelai 25
Penawaran Kedelai 25
Elastisitas 26
Impor Kedelai Indonesia 27
Dampak Kebijakan Ekonomi Dalam Pengembangan Kedelai 27
Kebijakan Harga 29
Kebijakan Subsidi Sarana Produksi 30
Kebijakan Tarif Impor 31
3. METODOLOGI

Model Ekonometrika industri Kedelai di Indonesia 32


Produksi Kedelai Indonesia 33
Harga Kedelai Domestik 33
Permintaan Kedelai 34
Persediaan Kedelai 34
Penawaran Kedelai 34
Impor Kedelai Indonesia 35
Harga Kedelai Impor Indonesia 35
Ekspor Kedelai Amerika 35
Harga Ekspor Kedelai Amerika 35
Prosedur Analisis Data 36
Identifikasi Model 36
Metode Pendugaan Model 37
Validasi Model 37
Simulasi Model 38
Perhitungan Perubahan Kesejahteraan 40
Pengukuran Efisiensi Alokatif 41
Waktu dan Lokasi Penelitian 42
Jenis dan Sumber Data 42
4. KINERJA MODEL PASAR KEDELAI DI INDONESIA

Hasil Pendugaan Model 42


Luas Areal Panen Kedelai 43
Produktivitas Kedelai 45
Harga Kedelai di Tingkat Petani 46
Harga Kedelai di Pedagang Besar 48
Permintaan Kedelai Nasional 49
Persediaan Kedelai Nasional 50
Impor Kedelai Indonesia 51
Harga Kedelai Impor Indonesia 52
Ekspor Kedelai Amerika 54
Harga Ekpor Kedelai Amerika 55
Validasi Model 57
Hasil Validasi Model 57

5. DAMPAK PERUBAHAN FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL


TERHADAP PENGEMBANGAN KEDELAI DI INDONESIA
Simulasi Historis Periode Tahun 1998-2010 59
Simulasi 1 : Peningkatan Harga Kedelai Petani 35 Persen 59
Simulasi 2 : Peningkatan Harga Pupuk Urea 60 Persen 60
Simulasi 3 : Peningkatan Harga Benih Kedelai 25 Persen 61
Simulasi 4 : Swasembada Plus 62
Simulasi 5 : Kombinasi Kebijakan Ekstensifikasi dan
Intensifikasi Usahatani Kedelai 63
Simulasi 6 : Penetapan Tarif Impor Kedelai 0 Persen 64
Simulasi 7 : Penetapan Tarif Impor Kedelai 27 Persen 65
Masa Depan Kinerja Kedelai Periode 2011-2017 66
Peramalan Tanpa Alternatif Kebijakan 66
Simulasi 1 : Peningkatan Harga Kedelai Petani 35 Persen 67
Simulasi 2 : Penurunan Harga Pupuk Urea 20 Persen 69
Simulasi 3 : Penurunan Harga Benih Kedelai 20 Persen 70
Simulasi 4 : Swasembada Plus 71
Simulasi 5 : Kombinasi kebijakan Ekstensifikasi dan
Intensifikasi Usahatani Kedelai 72
Simulasi 6 : Penetapan Tarif Impor 27 Persen 73
Simulasi 7 : Penurunan Produksi Ked Amerika 20 Persen 74
Rekapitulasi Hasil Simulasi 75
Rekapitulasi Simulasi Historis Tahun 1998-2010 75
Rekapitulasi Simulasi Peramalan Tahun 2011-2017 77
Dampak Kebijakan Terhadap Perubahan Kesejahteraan 79
Analisis Dampak Kebijakan Terhadap Perubahan Indikator
Kesejahteraan Periode Tahun 1998-2010 79
Analisis Dampak Kebijakan Terhadap Perubahan Indikator
Kesejahteraan Periode Tahun 2011-2017 82
Analisis Efisiensi Alokatif Usahatani Kedelai 84
6. KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KEDELAI DI INDONESIA

Analisis Kebijakan 86
Rumusan Kebijakan Pengembangan Kedelai 88
7. SIMPULAN, IMPLIKASI KEBIJAKAN DAN SARAN

Simpulan 91
Implikasi Kebijakan 92
Saran 93
DAFTAR PUSTAKA 93

LAMPIRAN 99
DAFTAR TABEL

1.Potensi Industri Kecil Pengolahan Kedelai Tahun 2011 1


2. Perkembangan Luas Panen, Provitas dan Produksi Kedelai
Tahun 1999-2010 8
3. Kebutuhan Kedelai per Tahun Bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM)
Pengolah Kedelai 9
4. Neraca Konsumsi dan Produksi Kedelai di Indonesia Tahun 1996-2008 10
5. Proyeksi Konsumsi Kedelai di Indonesia Tahun 2012-2025 11
6. Perkembangan Impor Kedelai Tahun 2000-2010 13
7. Analisis Kesejahteraan Dampak Penetapan Harga 30
8. Analisis Kesejahteraan Dampak Subsidi Sarana Produksi 31
9. Analisis Kesejahteraan Dampak Pengenaan Tarif Impor 32
10. Hasil Pendugaan Model Kinerja Kedelai di Indonesia 43
11. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Luas Areal Panen 44
12. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Produktivitas Kedelai 45
13. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Harga Kedelai Petani 46
14. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Harga Ked Pedagang Besar 48
15. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Permintaan Kedelai Nasional 49
16. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Persediaan Kedelai Nasional 50
17. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Impor Kedelai Indonesia 51
18. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Harga Ked Impor Indonesia 53
19 Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Ekspor Kedelai Amerika 55
20. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Harga Ekspor Ked Amerika 56
21. Hasil Validasi Model Pengembangan Kedelai di Indonesia 58
22. Hasil Simulasi Historis Peningkatan Harga Kedelai Petani 35 Persen 59
23. Hasil Simulasi Historis Peningkatan Haraga Pupuk Urea 60 Persen 60
24. Hasil Simulasi Historis Peningkatan Harga Benih Kedelai 25 Persen 61
25. Hasil Simulasi Historis Swasembada Plus 62
26. Hasil Simulasi Historis Kombinasi Kebijakan Ekstensifikasi dan
Intensifikasi Usahatani Kedelai 63
27. Hasil Simulasi Historis Penetapan Tarif Impor Kedelai 0 Persen 64
28. Hasil Simulasi Historis Penetapan Tarif Impor Kedelai 27 Persen 65
29. Rangkuman Hasil Simulasi Peramalan Tanpa Kebijakan 66
30. Hasil Simulasi Peramalan Peningkatan Harga Ked Petani 35 Persen 68
31. Hasil Simulasi Peramalan Penurunan Harga Pupuk Urea 20 Persen 69
32. Hasil Simulasi Peramalan Penurunan Haraga Benih Kedelai 20 Persen 70
33. Hasil Simulasi Peramalan Swasembada Plus 71
34. Hasil Simulasi Peramalan Kombinasi Kebijakan Ekstensifikasi dan
Intensifikasi Usahatani Kedelai 72
35. Hasil Simulasi Peramalan Penetapan Tarif Impor 27 Persen 74
36. Hasil Simulasi Peramalan Penurunan Prod Ked Amerika 20 Persen 75
37. Rekapitulasi Dampak Simulasi Kebijakan Historis Tahun 1998-2010 76
38. Rekapitulasi Dampak Simulasi Peramalan Kebijakan Tahun 2011-2017 78
39. Dampak Simulasi Kebijakan Terhadap Perubahan Kesejahteraan
Tahun 1998-2010 80
40. Dampak Simulasi Kebijakan Terhadap Perubahan Kesejahteraan
Tahun 2011-2017 82
41. Hasil Analisis Efisiensi Alokatif Usahatani Kedelai di Indonesia 85
DAFTAR GAMBAR
1. Perkembangan Produksi dan Konsumsi Kedelai Tahun 1999-2010 4

2. Harga Eceran Bulanan Kedlai Lokal dan Paritas Impor Thn 2008-2011 5
3. Rantai Pemasaran Kedelai di Indonesia 12
4. Surplus Produsen 16
5. Surplus Konsumen 17
6. Kerangka Konseptual Penelitian 23
7. Dampak Penetapan Harga Terhadap Surplus Konsumen dan Produsen 29
8. Dampak Subsidi Sarana Produksi Terhadap Surplus Konsumen dan
Produsen 30
9. Dampak Penerapan Tarip Impor Terhadap Surplus Konsumen dan
Produsen 31
10. Kerangka Model Ekonometrika Kinerja Kedelai di Indonesia 36

DAFTAR LAMPIRAN
1. Data Dasar yang Digunakan dalam Penelitian 99

2. Program Pendugaan Model Kinerja Kedelai di Indonesia 102


3. Hasil Pendugaan Model Kinerja Perkedelaian di Indonesia 104
4. Hasil Validasi Model 109
5. Hasil Peramalan Peubah Eksogen Tahun 1998-2010 111
6. Hasil Peramalan Peubah Endogen Tahun 2011-2017 115
7. Hasil Analisis Efisiensi Alokatif 116
1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sektor pertanian masih memegang peranan strategis dalam pembangunan


perekonomian nasional, dimana peran ini dapat digambarkan melalui kontribusi
yang nyata dalam pembentukan kapital, penyediaan lapangan pekerjaan, sumber
devisa negara dan sumber pendapatan serta pelestarian lingkungan melalui praktek
usahatani yang ramah lingkungan. Salah satu peran strategis pertanian adalah
pemenuhan kebutuhan pangan bagi penduduk Indonesia yang berjumlah 237,64
juta jiwa (2010) dengan laju pertumbuhan sebesar 1,25 persen per tahun, dimana
tugas ini merupakan tugas yang tidak ringan. Pada kondisi tersebut Kementrian
Pertanian selama lima tahun kedepan menempatkan beras, jagung, kedelai, daging
sapi dan gula sebagai lima komoditas pangan utama (Kementerian Pertanian,
2010).
Kedelai salah satu komoditas pangan utama, merupakan tanaman palawija
yang kaya akan protein dan memiliki arti penting sebagai sumber protein nabati
untuk peningkatan gizi masyarakat. Menurut Direktorat Gizi (2001), biji kedelai
mengandung gizi yang cukup tinggi, terutama proteinnya yang mendekati protein
susu sapi (+ 35-38 %). Pemanfaatan kedelai disamping sebagai sumber protein dan
lemak juga mengandung vitamin dan mineral serta merupakan sumber serat
sehingga dapat digunakan sebagai makanan penurun kolesterol dan dapat
mencegah penyakit jantung serta dapat berfungsi sebagai antioksidan juga dapat
mencegah penyakit degenaratif seperti diabetes melitus dan kanker (Astawan,
2009). Oleh karena itu, kebutuhan kedelai akan meningkat seiring dengan
kesadaran masyarakat tentang makanan sehat dan pertambahan jumlah penduduk.
Produk kedelai sebagai bahan olahan pangan berpotensi dan berperan dalam
menumbuh kembangkan industri kecil dan menengah bahkan sebagai komoditas
ekspor. Industri Kecil dan Menengah (IKM) pengolah kedelai berjumlah sekitar
92,4 ribu unit usaha, yang terdiri dari IKM tempe sebanyak 56,76 ribu unit usaha,
tahu sebanyak 28,60 ribu unit usaha dan sisanya IKM kecap dan tauco serta aneka
olahan kedelai lainnya. IKM kedelai menyerap tenaga kerja sebanyak lebih kurang
273 ribu orang, dengan nilai produksi total sebesar Rp. 1,74 triliun (Ditjen Industri
Kecil dan Menengah, 2011). Secara rinci hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Potensi Industri Kecil Pengolahan Kedelai Tahun 2011


No Jenis Industri Perusahaan Tenaga Kerja Nilai Produksi
(Unit Usaha) (Orang) (Juta Rp)
1 Tempe 56.762 151.279 695.716
2 Tahu 28.609 99.462 831.645
3 Kecap 1.506 8.596 101.894
4 Tauco 2.086 5.107 38.851
5 Aneka Olahan Lain 3.430 8.529 72.886
Jumlah 92.393 272.973 1.740.992
Sumber : Ditjen Industri Kecil dan Menengah-Kementerian Perindustrian (2011)
Permintaan kedelai yang terus meningkat tidak dapat dipenuhi oleh produksi
dalam negeri, padahal Indonesia pernah mencapai swasembada kedelai pada tahun
1992, namun kemudian produksi dalam negeri terus menurun sehingga dilakukan
impor yang cukup besar. Menurunnya produksi kedelai dalam negeri ini antara lain
disebabkan oleh rendahnya produktivitas, dimana produktivitas kedelai di
Indonesia selama dua belas tahun terakhir hanya berkisar antara 12,01–13,73
ku/ha. Sementara potensi hasil dari berbagai varietas berkisar antara 20,00 – 35,00
ku/ha. Senjang hasil ini terjadi karena para petani belum menerapkan sepenuhnya
teknologi budidaya kedelai terutama dalam penggunaan benih unggul (Ditjen
Tanaman Pangan, 2012). Pemerintah hingga kini telah melepas sebanyak 73
varietas unggul kedelai dimana 19 varietas unggul tersebut berpotensi hasil antara
21,60–35,00 ku/ha (Ditjen Tanaman Pangan, 2010).
Dari perbedaan produktivitas tersebut, pemerintah melalui Kementrian
Pertanian khususnya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan berupaya meningkatkan
produksi kedelai dimana salah satu strateginya adalah melalui peningkatan
produktivitas. Disisi lain rendahnya produksi kedelai ini juga disebabkan oleh
menurunnya areal panen kedelai. Data menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan
luas panen kedelai dari tahun 1999 sebesar 1,15 juta ha menjadi 0,66 juta ha pada
tahun 2010 atau terjadi penurunan sebesar 43,6 persen selama dua belas tahun.
Hal lain yang menyebabkan rendahnya produksi kedelai adalah rendahnya
penggunaan teknologi budidaya kedelai terutama penggunaan input produksi yaitu
pupuk. Mahalnya harga pupuk yang mengakibatkan para petani tidak mampu
membeli pupuk tersebut sehingga tidak dapat meningkatkan produksi kedelai.
Diharapkan dengan adanya subsidi harga pupuk maka daya beli petani kedelai
akan meningkat. Dengan asumsi jumlah anggaran tetap, harga pupuk rendah maka
para petani dapat membeli pupuk lebih banyak sehingga dengan penggunaan
pupuk yang lebih banyak akan meningkatkan produksi kedelai. Peningkatan
produksi ini akan meningkatkan pendapatan/kesejahteraan petani.
Besarnya impor kedelai juga dipicu oleh perubahan kebijakan tata niaga
kedelai yakni dengan diberlakukannya pasar bebas mengakibatkan meningkatnya
kedelai impor dengan harga murah. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya minat
petani untuk melaksanakan usahatani kedelai karena insentif yang diterima rendah.
Rendahnya produksi ini diduga selain disebabkan oleh harga kedelai impor yang
murah juga berkaitan dengan efisiensi penggunaan input produksi.
Disisi lain struktur pasar kedelai internasional lebih bersifat pasar
oligopolistik, sehingga negara importir seperti Indonesia sangat beresiko tinggi
terhadap instabilitas pasokan dan harga kedelai impor. Hal ini menjadi sangat
penting apabila dikaitkan dengan peran kedelai sebagai salah satu pangan utama
yang merupakan sumber protein bagi masyarakat Indonesia. Walaupun Indonesia
mengimpor kedelai, yang harus dihindari adalah sifat ketergantungan kepada impor
yang besar pada satu negara seperti Amerika Serikat. Karena Amerika Serikat
sering menggunakan instrumen impor untuk menekan negara yang tidak sejalan
dengan politik dan kepentingannya (Nuryanti dan Kustiari, 2007).
Peningkatan impor kedelai terjadi sejak liberalisasi perdagangan yang
dilakukan pemerintah atas tekanan dari International Monetary Fund pada tahun
1998, sehingga ketergantungan impor kedelai meningkat lebih dari dua kali lipat,
padahal pengusahaan komoditas kedelai ini telah menyerap 2,5 juta rumah tangga
di Indonesia (Sawit, 2003). Dengan demikian peningkatan impor kedelai telah
meningkatkan jumlah petani yang kehilangan usahataninya karena tidak mampu
bersaing dengan kedelai impor. Besarnya impor kedelai ini juga menyebabkan
kehilangan devisa yang cukup besar (Ditjen Tanaman Pangan, 2010).
Produksi kedelai di Indonesia selama 8 tahun (2000 – 2007) terus menurun
dengan rata-rata penurunan sebesar 6,80 persen. Pada tahun 2000 produksi
mencapai 1,02 juta ton dengan luas panen 0,82 juta ha dan produktivitas sebesar
12,34 kuintal/ha, tahun 2007 produksinya hanya 0,59 juta ton dengan luas areal
panen 0,46 juta ha dan produktivitas sebesar 12,91 kuintal/ha. Namun pada tahun
2008-2009 produksi kedelai mulai meningkat masing-masing sebesar 30,91 persen
dan 24,59 persen dimana kenaikan ini antara lain didorong dengan membaiknya
harga kedelai dunia dan dilaksanakannya program peningkatan produksi kedelai.
Pada tahun 2010 kebutuhan kedelai domestik sebanyak lebih kurang 2,65 juta ton
dengan laju pertumbuhan 2,3 persen setiap tahun, sedangkan produksi dalam
negeri pada tahun 2010 hanya 0,91 juta ton atau baru memenuhi 34,21 persen dari
total kebutuhan, selebihnya dipenuhi dari impor (Ditjen Tanaman Pangan, 2010).
Sementara itu, kapasitas produksi pangan nasional termasuk kedelai tumbuh
lambat bahkan stagnan karena adanya kompetisi dalam pemanfaatan sumber daya
lahan dan air serta stagnasi pertumbuhan produktivitas dan tenaga kerja pertanian.
Ketidak seimbangan pertumbuhan permintaan dan kapasitas produksi nasional ini
mengakibatkan penyediaan pangan nasional termasuk kedelai yang berasal dari
impor cenderung meningkat. Ketergantungan terhadap pangan impor ini sering
diterjemahkan sebagai ketidakmandirian dalam penyediaan pangan nasional
(Saliem et al, 2003).
Permintaan kedelai impor selama kurun waktu 1999-2002 terus meningkat
dengan laju 14 persen per tahun. Sebaliknya produksi kedelai dalam negeri selama
kurun waktu yang sama menurun dengan laju 12 persen. Besarnya permintaan dan
besarnya pemenuhan dari impor adalah merupakan tantangan sekaligus peluang
bagi pengembangan agribisnis kedelai. Kecenderungan meningkatnya impor
kedelai menunjukan bahwa pasar kedelai dalam negeri di masa yang akan datang
memiliki prospek yang cukup baik (Kusbini, 2010). Indonesia sebagai negara
agraris dengan lahan yang cukup luas seharusnya mampu mengembangkan
produksi kedelai nasional untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga tidak
tergantung kepada impor (Ditjen Tanaman Pangan, 2007). Upaya pengembangan
kedelai di Indonesia untuk memenuhi permintaan pasar domestik harus dikaitkan
dengan pasar kedelai dunia, karena apabila terjadi perubahan-perubahan di pasar
dunia akan mempengaruhi pasar kedelai domestik.
Tekanan kedelai impor semakin besar ketika Pemerintah melalui Kepmen
Perindustrian dan Perdagangan No. 406/MPP/Kep/II/1997 menghapus tata niaga
kedelai yang semula hanya dilakukan oleh Bulog menjadi importir umum sesuai
kemauan WTO dan IMF dengan alasan untuk membantu pengusaha kecil dan
menengah untuk memperoleh bahan baku kedelai. Kebijakan ini kelihatan baik
namun dengan besarnya impor kedelai dan tidak adanya bea masuk (0 persen)
mengakibatkan pemasukan atau pendapatan negara berkurang dan harga kedelai di
pasar domestik menjadi murah sehingga berdampak terhadap penurunan produksi
kedelai dalam negeri. Disamping itu negara pengekspor kedelai terbesar dunia
seperti Amerika, menyediakan subsidi ekspor, sehingga mendorong para importir
kedelai di Indonesia untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.
Kedelai impor telah membuat para petani enggan untuk menanam kedelai. Hal
ini terjadi karena kedelai lokal kalah bersaing dengan kedelai impor dari segi harga
maupun kualitas. Dengan demikian petani merasa tidak mendapatkan insentif
untuk menanam kedelai, apalagi tidak ada jaminan harga pada saat panen raya.
Implikasinya adalah terjadi penurunan produksi kedelai dalam negeri sehingga
Indonesia semakin bergantung kepada kedelai impor. Persoalannya selama ini,
petani kedelai domestik terjebak dalam jaringan perdagangan importir kedelai yang
membuat harga kedelai tidak menentu. Saat petani kedelai panen, selalu bersamaan
dengan membanjirnya kedelai impor di pasaran sehingga harga jatuh dan akibatnya
petani enggan menanam kedelai. Impor kedelai ini perlu diawasi secara serius agar
tujuannya tercapai, yaitu menstabilkan harga dan yang lebih utama adalah
membuat petani kembali bergairah untuk menanam kedelai.
Dalam usahatani kedelai ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar bisa
mencapai produksi yang optimal untuk memperoleh keuntungan maksimal,
diantaranya adalah penggunaan faktor input produksi. Oleh karena itu alokasi
penggunaan faktor input produksi yang optimal perlu dilakukan untuk mencapai
efisiensi khususnya efisiensi alokatif sehingga diperoleh keuntungan maksimal.

Perumusan Masalah

Dalam rangka perdagangan bebas yang mengharuskan penghapusan tarif,


quota dan subsidi akan mempengaruhi jumlah permintaan dan penawaran kedelai
sehingga mempengaruhi harga kedelai dunia. Perubahan harga kedelai dunia pada
akhirnya akan mempengaruhi keputusan produsen dalam mengalokasikan
anggarannya serta mempengaruhi keputusan konsumen dalam mengkonsumsi
kedelai. Perubahan dalam sistem perdagangan dunia terutama perubahan aturan
yang telah disepakati bersama antara negara-negara yang tergabung dalam WTO
harus dilaksanakan secara bijak agar stabilitas pasar kedelai dalam negeri tetap
terjamin, serta kesejahteraannya baik produsen maupun konsumen meningkat.
Adanya kesenjangan antara produksi dan konsumsi kedelai dalam negeri
selama kurun waktu 12 tahun terakhir menyebabkan meningkatnya impor kedelai
dengan laju pertumbuhan sekitar 14 persen per tahun. Senjang antara produksi dan
konsumsi ini dapat dilihat pada Gambar 1.

Sumber : Kementrian Perdagangan RI (2011)

Gambar 1. Perkembangan Produksi dan Konsumsi Kedelai Tahun 1999-2010


Dari grafik di atas terlihat bahwa produksi kedelai sepanjang tahun tidak dapat
memenuhi kebutuhan atau konsumsi masyarakat, sehingga dilakukan impor Ditjen
Tanaman Pangan (2007), menyatakan bahwa laju pertumbuhan produksi kedelai di
Indonesia cukup rendah, hal ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut : 1)
penerapan teknologi budidaya kedelai yang rendah, karena mahalnya harga input
produksi seperti benih bermutu, pupuk, pestisida dan terbatasnya modal petani; 2)
harga jual kedelai petani rendah, karena kualitasnya kurang baik sehingga
menyebabkan konsumen terutama industri yang menggunakan bahan baku kedelai
akan membeli kedelai impor yang berkualitas lebih baik; 3) kurangnya partisipasi
pihak swasta dalam pengembangan kedelai, hal ini terlihat sampai saat ini belum
ada investor yang mau membangun perkebunan kedelai, dan 4) kemitraan antara
petani dan pengusaha (industri) kedelai masih sedikit.
Kurangnya kemitraan dan dukungan dari pengusaha terutama dalam
penyediaan sarana produksi khususnya benih unggul menyebabkan turunnya minat
para petani untuk menanam kedelai sehingga beralih ke tanaman lain yang lebih
menguntungkan. Disamping itu juga sulitnya para petani kedelai untuk dapat akses
ke sumber biaya. Hal ini disebabkan rumitnya persyaratan dan tingginya tingkat
suku bunga yang mendekati tingkat suku bunga komersial (Kusbini, 2010).
Diharapkan dengan adanya kredit dari pemerintah dengan suku bunga rendah dapat
merangsang para petani dan investor berminat untuk berusahatani kedelai yang
pada akhirnya dapat meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. Disisi lain
produktivitas kedelai yang masih rendah ini bila dibandingkan dengan potensi
yang dapat dihasilkan diduga berkaitan dengan efisiensi penggunaan input.
Produksi yang efisien akan menyebabkan penurunan biaya produksi dan akan
meningkatkan pendapatan petani serta daya saing komoditas tersebut.
Hal lain yang menyebabkan petani tidak tertarik berusahatani kedelai adalah
karena adanya perbedaan harga, dimana harga kedelai impor lebih murah
dibanding dengan harga kedelai petani (lokal). Perbedaan harga kedelai lokal dan
kedelai impor pada tahun 2008 – 2011 dapat dilihat pada Gambar 2.

Sumber : Kementrian Perdagangan RI, 2011.

Gambar 2. Harga Eceran Bulanan Kedelai Lokal dan Paritas Impor Tahun 2008-2011
Dari grafik diatas terlihat bahwa harga eceran bulanan kedelai lokal jauh
diatas harga kedelai impor, sehingga konsumen dan produsen tahu tempe akan
membeli kedelai impor karena harganya yang lebih murah dan kualitasnya lebih
baik. Disisi lain kondisi keuangan negara mengharuskan melakukan penghematan
devisa, sehingga hal ini akan menjadikan beban bagi perekonomian nasional,
namun secara ekonomi impor kedelai ini akan menguntungkan pihak konsumen.
Sementara itu kebijakan yang pernah dilakukan oleh Pemerintah untuk
mempertahankan produksi dan menstabilkan harga adalah instrumen kebijakan
harga kedelai melalui penetapan harga dasar (floor price) yang dimulai sejak tahun
1979/80 sampai akhir tahun 1991 dan setiap tahun ditetapkan melalui Inpres pada
tanggal 1 Nopember kecuali untuk tahun 1991 yang ditetapkan sebulan lebih awal.
Harga dasar kedelai dimulai pada tingkat Rp 210 per kg dan berakhir pada tingkat
Rp 500 per kg selama kurun waktu 12 tahun tersebut (Siregar, 2003). Upaya untuk
meningkatkan minat petani dalam melakukan usahatani kedelai, kebijakan
pemerintah yang harus dilakukan salah satunya adalah menerapkan harga
pembelian pemerintah (HPP) yang telah diusulkan ke DPR, dimana upaya ini
bertujuan agar para petani mendapatkan kepastian harga jual (CIC, 2010).
Kebijakan lain yang masih harus dilakukan adalah kebijakan makro dalam tata
niaga kedelai. Tarif impor masih diperbolehkan sampai 27 persen perlu
diberlakukan untuk menumbuhkan agribisnis kedelai dalam negeri disamping itu
perlu diberlakukan importir produsen kedelai (Ditjen Tanaman Pangan, 2011).
Dilain pihak juga belum diberlakukannya Peraturan Pemerintah No. 69 Tahun
1999 tentang pelabelan bahan pangan transgenik. Upaya-upaya yang dilakukan ini
pada dasarnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dari
pengusahaan komoditas kedelai, dimana ukurannya adalah surplus baik produsen
maupun konsumen.
Dari uraian tersebut diatas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam
penelitian ini adalah :
1. Bagaimana jumlah permintaan dan penawaran kedelai di Indonesia.
2. Faktor-faktor apa yang berpengaruh terhadap perubahan luas areal panen,
produktivitas dan penawaran kedelai di Indonesia.
3. Bagaimana dampak kebijakan pengembangan kedelai khususnya kebijakan
impor kedelai terhadap kinerja kedelai di Indonesia yang mempengaruhi
kesejahteraan konsumen dan produsen kedelai.
4. Bagaimana tingkat efisiensi penggunaan input budidaya kedelai khususnya
efisiensi alokatif.
5. Alternatif kebijakan apakah yang perlu ditempuh oleh pemerintah di masa yang
akan datang untuk mengantisipasi akibat negatif dari impor kedelai.

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Berdasarkan permasalahan diatas, maka tujuan penelitian ini secara umum


selain mengestimasi tingkat efisiensi penggunaan input produksi usahatani kedelai
juga untuk menganalisis dampak dari kebijakan pengembangan kedelai terhadap
perilaku penawaran dan permintaan serta kesejahteraan konsumen dan produsen
kedelai di Indonesia yang berkaitan dengan swasembada kedelai sehingga dapat
mengurangi kedelai impor. Sedangkan secara khusus tujuannya adalah :
1. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah permintaan dan
penawaran kedelai di Indonesia.
2. Menganalisis respon luas areal panen, produktivitas dan penawaran kedelai
terhadap perubahan harga.
3. Mengevaluasi dampak kebijakan pengembangan kedelai khususnya impor
kedelai terhadap kinerja perdagangan kedelai di Indonesia yang berpengaruh
terhadap kesejahteraan konsumen dan produsen kedelai.
4. Menganalisis tingkat efisiensi alokatif usahatani kedelai.
5. Merumuskan kebijakan yang perlu ditempuh pemerintah di masa yang akan
datang dalam upaya mengantisipasi dampak negatif dari impor kedelai.
Hasil penelitian, diharapkan dapat bermanfaat terutama untuk memperkaya
ilmu dan pengetahuan tentang kedelai juga mampu menjawab tantangan dunia
perkedelaian Indonesia serta dapat berguna bagi : (1) Pemerintah, yaitu sebagai
masukan untuk merumuskan kebijakan guna pengembangan komoditas kedelai; (2)
Pelaku usaha, dapat memanfaatkan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
produksi kedelai dalam melakukan usaha kedelai dan (3) Peneliti lain, dapat
digunakan sebagai bahan pembanding bagi penelitian sejenis.

Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini difokuskan pada :


1. Analisis dampak kebijakan pengembangan kedelai terutama kebijakan impor
kedelai terhadap perilaku permintaan dan penawaran kedelai, yang akan
mempengaruhi kesejahteraan konsumen dan produsen kedelai di Indonesia.
2. Analisis faktor-faktor penyebab rendahnya produksi kedelai sehingga tidak
dapat memenuhi permintaan dalam negeri.
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah :
1. Data dan informasi yang tersedia hanya konsumsi kedelai untuk industri tahu,
tempe dan kecap, sedangkan data untuk industri lain yang menggunakan bahan
baku kedelai seperti industri susu kedelai, industri minyak goreng, industri
makanan ringan dan industri lainnya kurang lengkap
2. Tidak melakukan agregasi negara pengekspor dan pengimpor kedelai karena
datanya kurang lengkap.

Kebaruan dan Kontribusi Penelitian

Kebaruan penelitian ini adalah selain menganalisis kebijakan pengembangan


kedelai yang merupakan lanjutan dari penelitian terdahulu dengan data terbaru juga
mengalisis tingkat efisiensi alokatif dan faktor-faktor penyebab rendahnya
produksi kedelai dalam negeri yang mengakibatkan petani enggan berusahatani
kedelai.
Kontribusi hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada
pemerintah khususnya Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementrian Pertanian
dalam penyusunan program pengembangan kedelai di Indonesia sehingga dapat
mendorong para petani untuk berusahatani kedelai.
2 TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORITIS

Program Pengembangan Kedelai di Indonesia

Kedelai memiliki nilai guna yang cukup tinggi, karena dapat dimanfaatkan
sebagai bahan pangan, pakan dan bahan baku industri. Kedelai mengandung
protein lebih dari 40 persen dan kandungan lemak antara 10–15 persen sehingga
sampai saat ini kedelai masih merupakan bahan pangan sumber protein nabati yang
murah. Total kebutuhan kedelai untuk pangan mencapai 95 persen dari total
kebutuhan kedelai di Indonesia (Adisarwanto, 2005). Kedelai yang merupakan
tanaman cash crop dibudidayakan di lahan sawah dan lahan kering. Sekitar 60
persen areal pertanaman kedelai terdapat di lahan sawah dan sisanya 40 persen di
lahan kering yang tersebar di seluruh Indonesia. Luas areal tanaman kedelai
mencapai puncaknya pada tahun 1992 yaitu 1,67 juta hektar. Namun sejak tahun
2000 areal tanam kedelai terus menurun dan pada tahun 2010 hanya 0,7 juta hektar.
Penurunan areal tanam ini berkaitan dengan meningkatrnya kedelai impor sehingga
nilai daya saing usahatani kedelai dalam negeri menurun (Badan Litbang
Pertanian, 2005). Produksi kedelai di Indonesia pada periode 1980–2010
cenderung berfluktuasi dengan rata-rata pertumbuhan sekiitar 2,67 persen per
tahun. Menurut data BPS tahun 2010, produksi kedelai sebesar 905,02 ribu ton
atau turun 69,50 ribu ton (7,13 persen) dibandingkan tahun 2009. Penurunan ini
disebabkan terjadinya penurunan luas areal tanam (Pusdatin Pertanian, 2010).
Upaya peningkatan produksi kedelai terus dilakukan oleh pemerintah baik
dengan cara intensifikasi maupun ekstensifikasi guna memenuhi kebutuhan dalam
negeri dan untuk mewujudkan swasembada. Bahkan Menteri Pertanian akan
memberikan insentif kepada petani kedelai melalui penetapan HPP yang telah
disetujui oleh Komisi IV DPR-RI, tanpa adanya insentif bagi petani akan sulit
meningkatkan produksi kedelai nasional karena produktivitasnya yang rendah
(CIC, 2010). Menurut Alimoeso (2008), bahwa peningkatan produksi kedelai dapat
dilakukan dengan cara : 1) perluasan areal tanam, 2) peningkatan produktivitas, 3)
pengamanan produksi dan 4) memperkuat kelembagaan. Luas tanam, provitas dan
produksi kedelai tahun 1999-2010 dapat dilhat pada Tabel 2.

Tabel 2. Perkembangan Luas Panen, Provitas dan Produksi Kedelai Tahun 1999-2010

Tahun Luas Tanam (Ha) Provitas (Ku/Ha) Produksi (Ton)


1999 1.208.633 12,01 1.382.848
2000 865.708 12,34 1.017.634
2001 712.790 12,18 826.932
2002 571.748 12,36 673.056
2003 553.136 12,75 671.600
2004 593.413 12,80 723.483
2005 652.618 13,01 808.353
2006 609.561 12,88 747.611
2007 482.072 12,91 592.534
2008 620.504 13,13 775.710
2009 758.931 13,48 974.512
2010 712.363 13,67 905.015
Sumber : BPS dan Ditjen Tanaman Pangan - Kementrian Pertanian (2011)
Dari tabel diatas terlihat bahwa produksi kedelai di Indonesia tahun 1999
sampai 2003 mengalami penurunan seiring dengan menurunnya luas areal tanam.
Namun pada tahun 2004 sampai dengan 2010 meningkat walaupun berfluktuasi.
Perkembangan produksi kedelai di Indonesia sangat dipengaruhi oleh berbagai
faktor baik teknis, ekonomis maupun sosio kultur masyarakat, sedangkan faktor-
faktor yang mempengaruhi pengembangan kedelai oleh para petani antara lain
adalah : potensi sumber daya alam, ketersediaan teknologi, dukungan pemerintah
yang dalam hal ini adalah penyuluhan, penyediaan sarana produksi dan
permodalan, penanganan panen dan pasca panen serta pemasaran hasil.

Konsumsi Kedelai

Kedelai merupakan sumber protein nabati bagi sebagian besar penduduk


Indonesia. Data Susenas 2009 (BPS, 2010), bahwa angka kecukupan protein
masyarakat Indonesia adalah 54,35 gram/hari/kapita, atau sedikit melebihi dari
nilai kosumsi yang dianjurkan yaitu 50 gram/hari/kapita. Hasil survey juga
menunjukkan bahwa lebih dari 75 persen konsumsi protein penduduk Indonesia
berasal dari kedelai yang diolah menjadi tempe dan tahu (Subagio, 2010). Industri
pengolahan tempe dan tahu menyerap biji kedelai sekitar 98,53 persen. Secara rinci
perkembangan IKM dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Kebutuhan Kedelai per Tahun Bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM)
Pengolah Kedelai (Ton)
Jenis Industri Industri Kecil Industri Rumah Total
Tangga
Tempe 329.325 837.936 1.167.261
Tahu 148.120 523.026 671.146
Kecap 15.825 5.238 21.063
Tauco 1.680 4.655 6.335
Kebutuhan Total 494.950 1.370.855 1.865.805
Kebutuhan per hari 1.980 9.572 11.552
Sumber : Ditjen Industri Kecil dan Menengah-Kementerian Peridustrian (2011)

Dengan demikian, kedelai merupakan bahan pangan yang sangat dibutuhkan


oleh penduduk Indonesia yang jumlahnya mencapai lebih dari 2 juta ton per tahun,
sehingga apabila terjadi lonjakan harga kedelai maka harga tempe dan tahupun
akan meningkat. Dengan asumsi pendapatan tetap maka daya beli masyarakat akan
menurun terhadap produk olahan kedelai, dimana penurunan konsumsi tempe dan
tahu ini akan menyebabkan kerawanan gizi.
Konsumsi kedelai terdiri dari konsumsi langsung dan tidak langsung.
Konsumsi tidak langsung adalah kedelai yang diolah lebih lanjut menjadi produk
tertentu untuk dikonsumsi, sedangkan konsumsi langsung adalah kedelai yang
langsung dikonsumsi oleh masyarakat yang dapat dihitung dengan mengalikan
konsumsi kedelai per kapita dengan jumlah penduduk. Secara rata-rata selama
periode 1993–2009 konsumsi langsung kedelai adalah sekitar 0,8 kg per kapita per
tahun. Angka konsumsi ini cenderung terus meningkat dengan laju kenaikan
sekitar 3,13 persen setiap tahunnya. Sementara untuk konsumsi produk olahan
kedelai yang berupa tempe dan tahu pada periode yang sama konsumsi per
kapitanya masing-masing sekitar 7,01 kg/tahun dan 6,53 kg/tahun. Konsumsi
tempe dan tahu cenderung meningkat setiap tahunnya dengan laju pertumbuhan
sekitar 2,12 persen untuk tempe dan 2,37 persen untuk tahu (Pusdatin Pertanian,
2010). Neraca konsumsi dan produksi kedelai tahun 1996-2008 dapat dilihat pada
Tabel 4.

Tabel 4. Neraca Konsumsi dan Produksi Kedelai di Indonesia Tahun 1996-2008


Tahun Konsumsi Produksi Neraca
(Ton) (Ton) (Ton)
1996 2.182.590 1.517.180 -665.410
1997 1.794.537 1.356.890 -437.647
1998 1.649.000 1.305.640 -343.360
1999 1.166.574 1.382.848 216.274
2000 2.048.138 1.017.634 -1.030.508
2001 1.200.598 826.932 -373.668
2002 1.832.027 673.056 -1.158.967
2003 1.675.973 671.600 -1.004.373
2004 1.562.901 723.483 -839.421
2005 1.707.176 808.353 -898.826
2006 1.844.193 747.611 -1.097.583
2007 2.000.000 592.534 -1.407.619
2008 2.292.000 775.710 -1.516.290
Sumber : BPS, P2HP dan BKP Kementrian Pertanian (2009)

Dari tabel diatas terlihat bahwa konsumsi kedelai cenderung meningkat dari
tahun ke tahun, namun produksi kedelai dalam negeri tidak dapat memenuhinya
sehingga setiap tahunnya terjadi kekurangan. Untuk memenuhi permintaan ini
dilakukan impor. Perkembangan industri tempe, tahu, kecap, susu segar, minyak
goreng dan bungkil serta pakan ternak akan mendorong peningkatan konsumsi
kedelai nasional selain pertambahan jumlah penduduk. Kesadaran masyarakat
tentang makanan yang bergizi terutama sebagai sumber protein dan peningkatan
jumlah penduduk serta pengembangan industri pengolahan kedelai menyebabkan
konsumsi kedelai menjadi tinggi. Konsumsi kedelai pada tahun-tahun mendatang
diperkirakan akan terus meningkat, sehingga diperlukan berbagai upaya untuk
memenuhinya, namun diharapkan tidak tergantung kepada kedelai impor. Proyeksi
konsumsi kedelai di Indonesia tahun 2012 sampai dengan tahun 2025 dapat dilihat
pada Tabel 5.
Tabel 5. Proyeksi Konsumsi Kedelai di Indonesia Tahun 2012 – 2025

Konsumsi Proyeksi Pertumbuhan Total


Tahun (kg/kap/thn) Penduduk Penduduk Konsumsi
(000 jiwa) (%) (000 ton)
2012 9,97 253.402 1,40 2.525
2013 10,07 256.874 1,37 2.585
2014 10,17 260.316 1,34 2.646
2015 10,27 263.726 1,31 2.708
2016 10,37 267.102 1,28 2.770
2017 10,47 270.440 1,25 2.833
2018 10,58 273.740 1,22 2.896
2019 10,68 276.997 1,19 2.960
2020 10,79 280.210 1,16 3.024
2021 10,90 283.377 1,13 3.089
2022 11,01 286.494 1,10 3.154
2023 11,12 289.559 1,07 3.219
2024 11,23 292.571 1,04 3.286
2025 11,34 295.526 1,01 3.352
Sumber : Badan Litbang Pertanian (2005)

Harga dan Pemasaran Kedelai di Indonesia

Perkembangan harga kedelai baik harga produsen maupun konsumen di


Indonesia menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat. Pada periode 1983-
2008 rata-rata pertumbuhan harga kedelai di tingkat produsen dan konsumen
adalah 12,27 persen dan 15,52 persen per tahun. Harga kedelai baik di tingkat
produsen maupun konsumen tahun 2008 mengalami kenaikan yang cukup tinggi
dibandingkan dengan harga tahun sebelumnya. Harga produsen tahun 2007 sebesar
Rp. 4.588,- naik menjadi Rp. 6.212,- pada tahun 2008 atau mengalami peningkatan
sebesar 35,40 persen. Sementara harga konsumen mengalami kenaikan dari Rp.
4.847,- pada tahun 2007 menjadi Rp. 7.788,- pada tahun 2008 atau meningkat
sebesar 60,68 persen (Pusdatin Pertanian, 2010).
Menurut data FAO (2009), harga produsen kedelai di Indonesia berada pada
level tinggi apabila dibandingkan dengan 5 negara penghasil kedelai terbesar
dunia. Secara rata-rata, harga produsen kedelai di Indonesia pada periode 2004-
2008 adalah sebesar 462,40 US $ per ton, sedangkan harga kedelai dunia pada
periode yang sama adalah sebesar 312,71 US $ per ton untuk kedelai kualitas 1.
Disparitas harga yang cukup jauh ini berdampak terhadap harga kedelai impor
yang sangat rendah sehingga kedelai dalam negeri sulit untuk bersaing. Bahkan
sampai sekarang ini kedelai dalam negeri masih kalah bersaing dengan kedelai
impor (Aji dalam Pearson et al, 2005). Hubungan antara pasar dunia dan pasar
nasional bersifat hirarkis, dalam arti pasar dunia merupakan pasar sentral
(pemimpin) sementara pasar nasional merupakan pasar cabang. Dalam konteks ini
harga ditingkat importir menjadi acuan dalam menentukan harga ditingkat
pedagang besar, dimana harga ditingkat pedagang besar dijadikan acuan dalam
menentukan harga ditingkat pengecer. Dengan demikian harga kedelai ditingkat
petani ditentukan oleh pedagang pengumpul desa yang mengacu pada harga
kedelai impor. Jika harga kedelai impor murah maka harga kedelai petani juga
murah sehingga tidak akan bisa menutupi biaya usahataninya.
Pada bulan Juni 2011 harga kedelai lokal (dalam negeri) secara umum rata-
rata sebesar Rp. 8.768,-/kg sementara harga kedelai impor sebesar Rp. 6.894,-/kg
(Carolina dan Himawan, 2011). Dari segi persaingan harga pasar, harga kedelai
impor jauh lebih murah, dimana hal ini merupakan disinsentif bagi petani dalam
menanam kedelai. Selama harga kedelai impor masih rendah maka arus impor
semakin deras dan harga kedelai dalam negeri akan turun, sehingga para petani
tidak berminat mengusahakan kedelai.
Kedelai pada umumnya dikonsumsi dalam bentuk olahan, oleh sebab itu
pemasarannya dimulai dari sentra produksi ke industri pengolahan melalui para
pedagang yang berakhir di konsumen akhir. Selain dari petani, kedelai di pasar
domestik juga berasal dari impor. Kedelai impor umumnya dibeli oleh koperasi
(KOPTI) yang selanjutnya dipasarkan kepada para perajin tempe dan tahu (Badan
Litbang Pertanian, 2005). Secara umum rantai pemasaran kedelai dapat dilihat
pada Gambar 3.

Sumber : Badan Litbang Pertanian (2005)

Gambar 3. Rantai Pemasaran Kedelai di Indonesia

Dari gambar diatas terlihat bahwa kedelai petani dibeli oleh pedagang
pengumpul yang berada di desa yang kemudian dijual ke padagang grosir di
tingkat kecamatan dan kabupaten atau juga dijual ke pedagang grosir dari propinsi
lain yang sterusnya dijual ke pengolah. Dalam pemasaran kedelai, petani umumnya
berada pada posisi tawar yang rendah, sehingga harga kedelai lebih banyak
ditentukan oleh pedagang.
Sarana Produksi Usahatani Kedelai

Penyediaan sarana produksi berupa benih, pupuk dan pestisida serta alat dan
mesin pertanian (alsintan) memiliki peranan yang cukup penting dalam proses
peningkatan produksi kedelai. Rendahnya produksi di tingkat petani disebabkan
karena sebagian besar petani belum menggunakan sarana produksi yang memadai
terutama benih dan pupuk. Sarana produksi untuk usahatani kedelai merupakan
komponen biaya yang dikatagorikan sebagai variable cost (Kumenaung, 2002).
Penghapusan subsidi pupuk dan pestisida pada tahun 1998 menyebabkan
harga pupuk dan pestisida meningkat tajam yang mengakibatkan usahatani kedelai
tidak menguntungkan. Meningkatnya harga sarana produksi dan alsintan akan
menaikkan biaya produksi yang pada akhirnya menurunkan tingkat keuntungan
petani kedelai. Apabila biaya untuk berusahatani kedelai tetap, sementara harga
sarana produksi naik maka akan menurunkan penggunaan sarana produksi tersebut
dan berdampak kepada penurunan produksi. Sebaliknya penurunan harga sarana
produksi akan menurunkan biaya produksi sehingga akan meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan petani melalui peningkatan produksi

Impor Kedelai Nasional

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri


olahan kedelai akan menigkatkan jumlah kebutuhan kedelai domestik. Tingginya
kebutuhan kedelai ini tidak dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri kendati
pemerintah telah mencanangkan swasembada kedelai namun sampai saat ini
Indonesia masih melakukan impor. Hal ini mengakibatkan pemenuhan kebutuhan
bahan baku untuk pembuatan tempe dan tahu masih harus dipenuhi dari impor.
Perkembangan impor kedelai berfluktuasi dan cenderung meningkat setiap
tahunnya. Tingginya impor kedelai ini menunjukkan bahwa untuk pemenuhan
kebutuhan dalam negeri masih sangat tergantung kepada impor dimana rasio
ketergantungan impor kedelai berkisar antara 60-75 persen (Kusbini, 2010).
Perkembangan impor kedelai tahun 2000-2010 dapat dilihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Perkembangan Impor Kedelai Tahun 2000-2010 (Ton)


Tahun Kebutuhan Produksi Impor
2000 2.295.228 1.017.634 1.277.594
2001 1.965.351 826.932 1.138.419
2002 2.038.308 673.056 1.365.252
2003 1.864.317 671.600 1.192.717
2004 1.839.275 723.483 1.115.792
2005 1.894.531 808.353 1.086.178
2006 1.879.755 747.611 1.132.144
2007 2.004.123 592.534 1.411.589
2008 1.944.725 775.710 1.169.015
2009 2.295.377 974.512 1.320.865
2010 2.645.520 905.015 1.740.505
Sumber : Produksi (BPS), Kebutuhan dan Impor BKP dan Ditjen PPHP–Kementan (2011)
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa impor kedelai berfluktuatif namun
cenderung meningkat. Pada tahun 2002 sampai tahun 2005 impor kedelai
menurun. Pada tahun 2009 ada kenaikan impor kedelai dibandingkan tahun
sebelumnya sebesar 11,64 persen (Pusdatin Pertanian, 2010). Data lain
menunjukkan pada tahun 2010 (sampai bulan Juli) tercatat volume impor kedelai
Indonesia adalah sebesar 1,13 juta ton dengan nilai impor sebesar 537 juta US $
(Kementrian Perdagangan, 2011). Penurunan impor kedelai dapat dilakukan
dengan instrumen kebijakan terpadu yaitu kebijakan fiskal, moneter dan kebijakan
perdagangan internasional. Oleh karena itu penurunan impor dengan konsumsi
yang tetap diharapkan mampu meningkatkan produksi domestik.

Struktur Perdagangan Kedelai

Dimensi dari struktur perdagangan adalah derajat konsentrasi penjual dan


pembeli, diferensiasi produk, barriers to entry and exit serta pengetahuan pasar.
Yang dimaksud struktur disini adalah mengacu pada struktur pasar yang
digambarkan sebagian besar oleh konsentrasi penguasaan pasar didalam pasar
tersebut. Dalam konteks ini, yang termasuk dalam struktur antara lain jumlah dan
ukuran perusahaan dalam industri tersebut, tingkat konsentrasi, hambatan masuk
bagi perusahaan baru, diferensiasi produk, diversifikasi atau konglomerasi, dan
integrasi vertikal (Carlton and Perloff, 2000). Secara kuantitatif, kita mengukur
struktur pasar berdasarkan rasio konsentrasi. Istilah konsentrasi atau derajat tingkat
konsentrasi mengacu pada kepemilikan atau kontrol proporsi yang besar dari
beberapa kumpulan atau aktivitas sumber daya ekonomi. Penguasaan pasar
(market share) adalah indikator utama dari posisi suatu perusahaan dalam pasar.
Semakin kecil market share, semakin besar tekanan bersaing perusahaan tersebut.
Rasio konsentrasi dari beberapa perusahaan besar menentukan horisontalnya
market power dari perusahaan besar di dalam pasar. Rasio konsentrasi adalah
penguasaan pasar dari perusahaan besar yang umumnya didasarkan pada dua,
empat atau delapan perusahaan besar. Ini juga merupakan indikator langsung dari
derajat tingkat oligopoli (Sheperd, 1997). Jika banyaknya penjual di pasar hanya
satu, maka disebut monopoli. Jika ada beberapa penjual, maka disebut oligopoli.
Secara teori atau prakteknya, karakter, intensitas dan efektivitas dari kompetisi
antar perusahaan akan dipengaruhi oleh rasio konsentrasi (Bain, 1968).
Konsentrasi menyiratkan derajat tingkat dari market power (Suvanichwong
1977 dalam Sayaka, 2003). Kekuatan pasar (market power) adalah kemampuan
suatu perusahaan untuk mempengaruhi dengan kuat kuantitas dan harga di pasar.
Ini juga merupakan share perusahaan dari total penerimaan output industri yang
bervariasi dari 0 sampai 100 persen. Suatu perusahaan dengan market share kurang
dari 10 persen dapat dikatakan tidak memiliki market power. Market power
muncul jika share perusahaan mencapai 15 persen dan dapat dikatakan monopoli
jika mencapai 25 sampai 30 persen (Sheperd, 1997). Untuk market share lebih dari
40 sampai 50 persen, maka market power secara relatif kuat. Dari waktu ke waktu
market power suatu perusahaan dapat berubah-ubah tergantung market sharenya.
Sementara itu, market share mempunyai hubungan yang positif dengan
profitabilitas, dimana market share yang semakin meningkat akan meningkatkan
profitabilitas (Sheperd, 1997).
Kebijakan Kedelai Nasional

Kedelai salah satu bahan pangan strategis karena merupakan komoditas


palawija yang dimasukan dalam kebijakan pengadaan pangan, yaitu melalui upaya
peningkatan produksi untuk mencapai swasembada. Pemilihan kedelai didasarkan
pada kemampuannya diolah menjadi berbagai produk makanan dengan harga yang
relatif murah dan mudah dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Kebijakan
pemerintah dalam rangka meningkatkan produksi kedelai adalah melalui : (1)
intensifikasi, yaitu upaya peningkatan produksi melalui subsidi input dan
penggunaan teknologi bibit unggul; (2) ekstensifikasi, yaitu upaya peningkatan
produksi melalui perluasan areal tanam, baik pada lahan sawah maupun pda lahan
kering dan (3) Penetapan harga dasar, dimaksudkan untuk menciptakan harga dasar
yang kompetitif bagi petani sehingga termotivasi meningkatkan produksinya
(Kumenaung, 2002).
Berbagai kebijakan harga yang dilakukan pemerintah antara lain : kebijakan
pemerintah yang berkaitan dengan tata niaga kedelai adalah Surat Kepmen
Perindustrian dan Perdagangan No. 406/MPP/Kep/11/1997, yang berlaku mulai
tanggal 1 Januari 1998, dimana impor kedelai yang semula hanya dilakukan oleh
Bulog dialihkan kepada importir umum. Hal ini sesuai dengan keinginan WTO dan
IMF dengan alasan untuk membantu pengusaha kecil dan menengah dalam
memperoleh bahan baku kedelai (Hadi dan Wiryono, 2005). Kebijakan ini memacu
peningkatan impor kedelai terutama dari USA, Argentina dan Brazil sehingga
menurunkan minat para petani untuk berusahatani kedelai yang pada akhirnya
menurunkan produksi kedelai domestik.
Surat Kepmen Keuangan No. 444/KMK.01/1998 tentang perubahan tarif bea
masuk dan penyempurnaan klasifikasi atas impor beberapa produk tertentu.
Terhitung mulai tanggal 29 September 1998, tarif bea masuk kedelai impor yang
semula 5 persen diubah menjadi 0 persen. Kebijakan ini memperburuk kondisi
petani kedelai dalam negeri, karena harga kedelai di tingkat petani cukup rendah.
Disisi lain kebijakan ini sangat menguntungkan industri pengolah kedelai karena
harga kedelai impor sangat murah dengan kualitas dan pasokan yang lebih
terjamin. Kepmen Perindag No.146/MPP/Kep/4/1999 tentang Perubahan Lampiran
Kepmen Perindag No.558/MPP/Kep/ 12/1998 tentang Ketentuan Umum Dibidang
Ekspor terhitung mulai tanggal 22 April 1998 komoditas kedelai bebas diekspor.
Berdasarkan Kepmen Perdagangan dan Koperasi No. 503 dan 504/Kp/XII/1982
Keppres No. 103, Keppres No. 50 tahun 1995 dan Kepmen Perindag No.
230/MPP/Kep/7/1997 tanggal 4 Juli 1997 dengan tujuan pengendalian stok, harga
dan mutu maka impor kedelai hanya dapat dilakukan oleh Bulog. Dengan
ditetapkannya Kepmen Perindag No. 406/MPP/Kep/II/1997 tentang Perubahan
Lampiran Kepmen Perindag No. 230/MPP/Kep/7/1997 dan terbitnya Keppres No.
19 tahun 1998 maka kedelai dibebaskan dari tata niaga impor dan dapat dilakukan
oleh importir umum. Sejak diterbitkannya Keppres No. 19 tahun 1998 tentang
Perubahan atas Keppres No. 50 tahun 1995 tentang Bulog sebagaimana telah
diubah dengan Keppres No. 45 tahun 1997, tugas Bulog tidak lagi melaksanakan
pengadaan kedelai dan untuk menghabiskan stok kedelai Bulog diperkenankan
melakukan penyaluran. Berdasarkan Kepmen Keuangan No. 444/KMK.01/1998
tanggal 29 September 1998 tentang Perubahan Tarif Bea Masuk dan
Penyempurnaan Klasifikasi atas Impor Beberapa Produk Tertentu, diputuskan
bahwa untuk kedelai bea masuknya menjadi nol persen.
Kesejahteraan Ekonomi Kedelai

Dalam perekonomian, para pelaku pasar dikelompokkan menjadi produsen


dan konsumen. Adanya intervensi pemerintah melalui suatu kebijakan dapat
berpengaruh pada pelaku pasar tersebut, yang dampaknya bisa positif bisa negatif,
sehingga akan mempengaruhi kesejahteraannya. Untuk mengukur perubahan
kesejahteraan pelaku pasar akibat adanya suatu kebijakan menurut Krugman dan
Obsfeld (2003), adalah dengan melihat perubahan surplus produsen dan surplus
konsumen. Ellis (1992), menyatakan bahwa surplus produsen dan surplus
konsumen merupakan alat praktis untuk mengukur perubahan kesejahteraan yang
timbul akibat dari pemberlakuan suatu kebijakan pemerintah.
Surplus produsen merupakan ukuran keuntungan yang diperoleh produsen
karena perbedaan antara harga yang diterima secara aktual dengan harga dimana
produsen bersedia menjual produknya pada tingkat penjualan tertentu (Sugiarto et
al, 2005). Misalnya, bila produsen kedelai bersedia menjual produknya dengan
harga Rp.6.000.- per kilogram, namun ternyata harga di pasar sebesar Rp.8,000.-
per kilogram, maka produsen tersebut dikatakan meraih surplus produsen sebesar
Rp.2.000.- dari penjualan satu unit produknya. Secara konseptual surplus produsen
dapat dijelaskan pada Gambar 4.

Sumber : Ellis (1992).

Gambar 4. Surplus Produsen

Penawaran produsen untuk suatu komoditi ditunjukkan dengan kurva S,


dimana sumbu vertikal adalah harga per unit dan sumbu horizontal adalah jumlah
unit komoditi. Kurva S berslope positif, artinya semakin tinggi harga komoditi,
semakin banyak produk yang ditawarkan. Secara teoritis, dalam jangka pendek
kurva penawaran merupakan kurva marginal cost (MC) yang terletak di atas kurva
average variable cost (AVC) (Sugiarto, et al. 2005). Area di bawah kurva
penawaran merupakan total variable cost (TVC), ketika beroperasi pada titik
tertentu. Jika dijumlahkan seluruh MC untuk memproduksi sejumlah output
(misalnya Q1), maka hasilnya sama dengan TVC untuk berproduksi sebanyak Q 1
(Ellis, 1992). Pada Gambar 4a keseimbangan pasar pada titik A, dimana harga
pasar per unit sebesar P1 dan jumlah yang ditawarkan sebanyak Q 1 unit, sehingga
penerimaan produsen sebesar P1*Q1 yaitu seluas daerah P1AQ10.
Total penerimaan dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu area di bawah kurva
penawaran (area b) yang mewakili TVC untuk memproduksi sebanyak Q 1 dan area
di atas kurva penawaran tetapi di bawah garis harga keseimbangan (area a), yang
merupakan keuntungan yang diperoleh dengan menjual produk sebanyak Q1 pada
harga P1. Keuntungan tersebut adalah surplus produsen yang merupakan profit
ditambah dengan biaya tetap yang harus dibayarkan untuk faktor produksi tetap.
Jadi surplus produsen merupakan area di atas kurva penawaran dan di bawah garis
harga keseimbangan (Just, et al. 1982).
Jika pemerintah mengeluarkan kebijakan yang menyebabkan bergesernya titik
keseimbangan (misalnya dari titik A ke titik B pada Gambar 4b), maka harga
keseimbangan meningkat dari P1 menjadi P 2 per unit dan jumlah penawaran
meningkat dari Q1 menjadi Q2. Kebijakan ini menyebabkan surplus produsen
meningkat sebesar luas area c + e. Perubahan surplus produsen seluas area c + e itu
terdiri dari dua komponen yaitu luas area segi empat (area c) dan luas area segitiga
(area e). Luas area c diperoleh dari perkalian antara besarnya perubahan harga
dengan jumlah produksi sebelum adanya perubahan (Q1), sedangkan luas area e
merupakan setengah dari jumlah perkalian antara besarnya perubahan harga
dengan perubahan jumlah produksi.
Surplus konsumen merupakan konsep yang mirip dengan surplus produsen.
Surplus konsumen menunjukkan keuntungan yang diperoleh konsumen, karena
membeli suatu produk (Sugiarto et al, 2005). Keuntungan diperoleh karena adanya
perbedaan antara harga yang dibayar secara aktual oleh konsumen dengan harga
yang bersedia dibayarnya (willingness to pay). Misalnya, jika konsumen sanggup
membayar satu kilogram kedelai dengan harga Rp. 10.000.- per kilogram, namun
ternyata di pasar dapat dibeli dengan harga aktual sebesar Rp. 8.000,- per kilogram,
maka konsumen dikatakan memperoleh surplus sebesar Rp. 2.000.- dari setiap
kilogram kedelai yang dibelinya. Konsep surplus konsumen dapat dijelaskan
dengan menggunakan Gambar 5.

Sumber: Ellis, 1992 (dimodifikasi)

Gambar 5. Surplus Konsumen

Dari gambar diatas terlihat, kurva D menunjukkan permintaan pasar terhadap


suatu produk. Kurva D berslope negatif yang berarti semakin rendah harga produk,
semakin banyak permintaan konsumen dan sebaliknya. Misalnya titik
keseimbangan terjadi di titik A pada kurva permintaan (Gambar 5a), dimana
jumlah yang diminta sebanyak Q1 dengan harga P1. Jumlah yang dibayar
konsumen untuk mendapat Q1 sebesar P1Q1 (yaitu seluas area d + e). Secara
umum, jumlah yang dibayarkan konsumen seluas daerah di bawah kurva
permintaan yang dibatasi oleh garis harga keseimbangan pasar dan jumlah yang
diminta pada harga tersebut. Untuk memperoleh produk sebanyak Q2, konsumen
bersedia membayar P2 per unit, sehingga jumlah total yang bersedia dibayar
sebesar P2*Q2, namun secara aktual konsumen membayar sesuai dengan harga
pasar yaitu sebesar P1 per unit atau secara keseluruhan hanya sebesar P1*Q2. Oleh
karena itu, maka konsumen akan mendapat keuntungan sebesar (P 2-P1) per unit,
sehingga secara total mendapat keuntungan sebesar (P2-P1)*Q2 atau sebesar luas
area b. Luas area b disebut sebagai surplus konsumen yang diperoleh sebagai
akibat dari adanya perbedaan antara harga yang bersedia dibayar untuk
memperoleh barang sebanyak Q2 dengan harga aktual yang dibayar konsumen.
Generalisasi dapat dilakukan dengan mengacu pada setiap harga yang berada
di atas harga pasar. Ketika harga sebesar P3 per unit, konsumen tidak bersedia
membeli atau jumlah yang diminta sama dengan nol. Kemudian, konsumen baru
bersedia membeli untuk jumlah yang lebih banyak, ketika harga secara berturut-
turut menurun dari P3 ke arah harga keseimbangan P1. Oleh karena itu, total
surplus konsumen yang diperoleh jika titik keseimbangan terjadi pada titik A
adalah sebesar area a + b + c. Hal ini menunjukkan bahwa surplus konsumen
merupakan area di bawah kurva permintaan dan di atas garis harga keseimbangan
(Just et al, 1982). Area ini mewakili perbedaan antara jumlah uang yang bersedia
dibayar oleh konsumen untuk memperoleh Q1, dengan jumlah aktual yang dibayar
konsumen.
Jika suatu kebijakan menyebabkan harga keseimbangan meningkat dari P1
menjadi P2 (Gambar 5b), sehingga tercapai titik keseimbangan baru pada titik B,
maka jumlah yang diminta konsumen sebanyak Q2. Dalam hal ini, konsumen
merasa dirugikan (kesejahteraannya menurun), karena mendapat jumlah lebih
sedikit dengan harga lebih mahal, dibandingkan dengan sebelum adanya kebijakan
tersebut. Besarnya perubahan kesejahteraan konsumen dapat diukur dengan
melihat perubahan surplus konsumen. Berdasarkan Gambar 5b, kenaikan harga
telah menurunkan surplus konsumen sebesar luas area b + c, dimana surplus
konsumen setelah adanya kebijakan berkurang menjadi hanya sebesar luas area a.

Efisiensi Alokatif

Seorang produsen mempunyai tujuan dalam usahatani yang dijalankannya


untuk meningkatkan produksi dan memperoleh keuntungan. Dalam efisiensi,
asumsi yang digunakan adalah mencapai keuntungan maksimum dengan biaya
yang minimum. Kedua tujuan ini adalah penentu bagi seorang petani atau produsen
untuk mengambil keputusan dalam usahataninya. Seorang petani yang rasional
akan bersedia meningkatkan input selama nilai tambah yang dihasilkan oleh
tambahan input tersebut sama atau lebih besar dari tambahan biaya yang
diakibatkan oleh tambahan input itu. Perbandingan output dengan input yang
digunakan dalam suatu usahatani dikenal dengan istilah efisiensi.
Menurut Farrell (1957) dalam Coelli, et al. (1998) bahwa efisiensi terdiri
dari efisiensi teknis dan efisiensi alokatif. Efisiensi teknis adalah kemampuan suatu
perusahaan untuk mendapatkan output maksimum dari penggunaan suatu set input.
Efisiensi teknis berhubungan dengan kemampuan suatu perusahaan untuk
berproduksi pada kurva frontier isoquant. Sedangkan efisiensi alokatif adalah
kemampuan suatu perusahaan untuk menggunakan input pada proporsi yang
optimal pada harga dan teknologi yang tetap atau kemampuan perusahaan untuk
menghasilkan sejumlah output pada kondisi minimisasi rasio biaya dari input.
Dengan kata lain, efisiensi alokatif atau efisiensi harga, mengukur tingkat
keberhasilan petani dalam usahanya untuk mencapai keuntungan maksimum yang
dicapai pada saat nilai produk marjinal setiap faktor produksi yang diberikan sama
dengan biaya marjinalnya atau menunjukkan kemampuan perusahaan untuk
menggunakan input dengan proporsi yang optimal pada setiap tingkat harga input
dan teknologi yang dimiliki. Efisiensi alokatif erat kaitannya dengan keberhasilan
petani untuk mencapai keuntungan maksimum dalam jangka pendek, dimana
efisiensi yang dicapai dengan mengkondisikan nilai produk marjinal (MVP) sama
dengan harga input (Px) (Beattie dan Taylor, 1996). Secara matematik rumusnya
sebagai berikut :

π = TR – TVC
= Pq.Q - Σ Pxi . Xi
= P q . A f( X i , Z i ) - ΣPxi . Xi
π maksimum jika δπ/δxi = 0,
sehingga : Pq. MPxi = Pxi
MVP = Pxi = MFC atau MVPxi/Pxi = 1
dimana : π = keuntungan
Pq = harga output
Px = harga faktor produksi (input)
Xi = faktor produksi (input) variabel ke i
Zi = faktor produksi (input) tetap
MVP = marginal value product
MFC = marginal faktor cost
Q = jumlah produksi

Menurut Nicholson (2002), bahwa efisiensi alokatif dapat tercapai jika


perbandingan antara nilai produktivitas marjinal masing-masing input (VMPxi)
sama dengan harga inputnya (Pxi) atau indeks efisiensi harga (ki) = 1. Bila ki > 1
maka usahatani belum mencapai efisiensi alokasi sehingga faktor produksi perlu
ditambah, sedangkan bila ki < 1 maka penggunaan faktor produksi terlalu
berlebihan dan perlu dikurangi agar mencapai kondisi optimal. Prinsip ini
merupakan konsep yang konvensional yang didasarkan pada asumsi bahwa petani
menggunakan teknologi yang sama dan petani menghadapi harga yang sama.

Tinjauan Studi Terdahulu

Studi mengenai kebijakan ekonomi kedelai telah dilakukan oleh beberapa


peneliti terdahulu, baik yang meyangkut aspek produksi, konsumsi maupun
perdagangan dengan berbagai kebijakannya. Beberapa hasil penelitian, antara lain
Budhi dan Aminah (2010) menyatakan bahwa dalam upaya mendukung
swasembada kedelai, Indonesia telah menemukan seperangkat teknologi yang
cukup menjanjikan yaitu berupa varietas kedelai yang memiliki produkstivitas
tingggi, teknologi untuk meningkatkan spektrum pengembangan, ekstensifikasi
lahan masih memungkinkan untuk dilakukan, upaya penyediaan benih bermutu
serta penerapan bea masuk kedelai impor sampai batas 27 persen.
Mengingat kemampuan produksi dalam negeri masih rendah, sementara
permintaan kedelai terus meningkat dimana impor tidak dapat dihindari maka
upaya peningkatan produksi dalam negeri semakin penting. Upaya ini merupakan
tantangan yang tidak mudah karena kebijakan untuk melindungi petani dalam
negeri semakin tidak sesuai dengan kesepakatan perdagangan bebas. Walaupun
demikian, pemerintah masih dapat menganjurkan kepada petani untuk bertanam
kedelai agar produksi domestik meningkat sekaligus dapat memberikan
keuntungan yang tinggi (Sudaryanto, et al. 2004). Sementara itu Sejati et al.
(2009), yang menyatakan bahwa untuk memberikan keuntungan dalam usahatani
kedelai maka kelayakan operasional peningkatan tarif bea masuk impor untuk
kedelai perlu dipertimbangkan, dimana untuk mencapai keuntungan usahatani
maka untuk kedelai impor dikenakan tarif sebesar 35 persen. Hal ini karena sistem
pemasaran domestik yang masih kurang efisien, sasaran yang diharapkan dapat
tidak tercapai dan menguntungkan pihak pemburu rente.
Dalam pengembangan kedelai di Indonesia masih dihadapkan dengan
beberapa kendala. Menurut Badan Litbang Pertanian (2000), yang menyatakan
bahwa ada dua hal pokok yang masih menjadi kendala dalam pengembangan
kedelai nasional yaitu : biaya produksi nasional yang lebih mahal dibandingkan
biaya produksi pada tingkat dunia, sehingga pada tingkat petani diperlukan
terobosan teknologi yang mampu menekan ongkos produksi dan meningkatkan
produktivitas, kemudian pengembangan daerah produksi baru hendaknya diikuti
oleh kesiapan lembaga pemasaran dan infrastruktur yang dapat mendorong minat
petani. Sedangkan menurut Rusastra (2000), bahwa struktur insentif
pengembangan kedelai diluar Jawa secara ekonomi memiliki keunggulan
komparatif, namun menerima proteksi yang lebih sedikit. Pada pola perdagangan
substitusi impor yang secara ekonomi lebih efisien juga menerima insentif lebih
sedikit dibandingkan dengan pola perdagangan orientasi ekspor yang tidak
memiliki keunggulan komparatif.
Dalam upaya meningkatkan produksi kedelai, hasil penelitian Hartoyo (1994),
menunjukan bahwa : (1) terdapat keterkaitan berproduksi antara yang satu dengan
tanaman lainnya (join teknologi), oleh karena itu analisis penawaran tanaman
pangan harus dilakukan secara simultan dengan multi output, (2) elastisitas
penawaran padi, jagung, kedelai, kacang tanah dan ubi kayu terhadap output
tanaman lain dan harga input adalan inelastis, (3) elastisitas permintaan pupuk dan
tenaga kerja terhadap harga input sendiri, harga input lain dan harga output adalah
inelastis, (4) berbagai skenario kebijakan dengan elastisitas penawaran output dan
permintaan input dapat ditunjukan bahwa pengurangan subsidi pupuk dan
pengurangan pengeluaran irigasi di Jawa tidak banyak menyebabkan penurunan
penawaran output tanaman pangan, (5) penurunan subsidi pupuk tidak akan
menyebabkan terjadi penurunan produksi dan pendapatan petani, dan (6) usaha
untuk meningkatkan penawaran sekaligus meningkatkan pendapatan petani dapat
dilakukan dengan menaikan harga komoditi pertanian melalui penetapan harga
dasar, disamping itu merelokasi investasi pemerintah dari investasi yang tidak
memberikan tambahan penerimaan ke investasi perbaikan infrastuktur pedesaan.
Hal ini juga didukung oleh Hadipurnomo (2000), bahwa intensifikasi produksi
lebih berpengaruh untuk wilayah potensial pengembangan kedelai di Jawa
dibandingkan diluar Jawa. Harga output dan harga input lebih respon terhadap
luas areal diwilayah potensial diluar Jawa dan di Jawa. Hal ini menunjukan
perbedaan karakteristik antara pengembangan kedelai di Jawa dan luar Jawa.
Pengaruh peubah penjelas untuk persamaan luas areal dan produktivitas cenderung
serupa di Jawa dan di luar Jawa, karena itu peneliti melakukan disagregasi luas
areal dan produktivitas di Jawa dan luar Jawa, dimana faktor harga berpengaruh
signifikan terhadap produksi kedelai nasional.
Hal lain yang berpengaruh terhadap harga adalah peningkatan infrastruktur
yang akan mengurangi biaya transportasi. Tavora (2008), menyatakan bahwa
peningkatan infrastruktur di Brazil telah mengurangi biaya transportasi sebesar 15
persen dan meningkatan pendapatan petani sebesar 6,9 persen serta mengurangi
harga di negara-negara importir kedelai sebesar 1,7–2,2 persen, serta meningkatkan
ekspor kedelai sebesar 9,8 persen. Sementara Chambers dan Plato (2004),
menyatakan bahwa perluasan areal tanam kedelai telah meningkatkan produksi di
Amerika Selatan dan meningkatkan pasokan kedelai dunia serta mempengaruhi
harga kedelai Amerika Serikat, dimana setiap kenaikan 1 persen produksi kedelai
di Amerika Selatan akan menurunkan harga kedelai Amerika Serikat rata-rata 1,5
persen.
Disisi lain untuk meningkatkan kegairahan para petani agar mau berusahatani
kedelai adalah dengan adanya jaminan harga. Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian Radjadin (1998) yang menyatakan, bahwa kegairahan petani menanam
kedelai, dominan didorong oleh faktor harga yang akan menentukan pendapatan
mereka. Apabila harga dapat dikendalikan stabil meningkat maka ketergantungan
terhadap impor secara bertahap dapat diatasi. Sedangkan menurut Oktaviani
(2002), mengatakan bahwa pengendalian harga oleh pemerintah ditingkat domestik
pada kedelai dengan perubahan kebijakan yang ada sulit untuk dilakukan. Hal yang
mungkin dilakukan oleh pemerintah adalah penetapan tarif impor dengan tetap
memperhatikan adanya kemungkinan retaliasi dari negara pengekspor dan
mengikuti kesepakatan yang telah disetujui pemerintah dalam kerjasama regional,
dimana penetapan tarif impor juga harus memperhitungkan dampaknya pada
produsen dan konsumen. Namun disisi lain apabila dilakukan penetapan tarif
impor maka kesejahteraan konsumen akan menurun. Hal ini sejalan dengan hasil
penelitian Anderson dan Martin (2006), yang menyatakan bahwa penghapusan
semua tarif impor dan subsidi untuk komoditi pertanian dapat menurunkan
kesejahteraan produsen sebesar 20 persen terutama untuk negara-negara
berkembang.
Mensah dan Wohlgenant (2007), menyatakan bahwa pengenalan dan adopsi
teknologi benih baru dapat meningkatkan keunggulan kompetitif dari petani
Amerika Serikat melalui hasil yang lebih tinggi dan bisa menghemat biaya
produksi, sehingga peningkatan produksi kedelai ini akan meningkatkan suplai
kedelai di pasar dunia yang akan menguntungkan konsumen karena harga kedelai
menjadi lebih murah.
Nurung (2005) di Bengkulu Utara, yang menganalisis karakteristik petani dan
keragaan, fungsi keuntungan dan efisiensi usahatani kedelai dan jagung dengan
regresi linear berganda, menunjukkan bahwa berdasarkan karakteristik dan pola
usahatani kedelai dan jagung terlihat adanya kecenderungan petani lebih memilih
mengelola usahatani jagung dibandingkan kedelai setelah adanya pengaruh
kenaikan harga input-output. Sedangkan bibit dan pupuk Urea paling berpengaruh
terhadap pendapatan usahatani kedelai dan jagung. Peningkatan jumlah
penggunaan bibit dan pupuk Urea dapat meningkatkan pendapatan masing-masing
usahatani tersebut. Sedangkan pupuk KCl, jumlah tanggungan keluarga dan luas
lahan usahatani walaupun berpengaruh terhadap peningkatan pendapatan usahatani
kedelai dan jagung namun kontribusinya masih kecil. Pada usahatani kedelai
efisiensi penggunaan input dapat dicapai apabila ditambah jumlah penggunaan
bibit, pupuk Urea, pupuk SP36, pupuk KCl dan herbisida serta dikurangi jumlah
penggunaan tenaga kerja. Kemudian untuk mencapai efisiensi pada usahatani
jagung, perlu penambahan jumlah penggunaan bibit, pupuk Urea dan pupuk SP36,
namun harus dikurangi jumlah penggunaan pupuk KCl, herbisida dan tenaga kerja.

Kerangka Konseptual Penelitian

Kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :


Pertambahan jumlah penduduk Indonesia setiap tahunnya terus meningkat
yang menyebabkan permintaan kedelai baik untuk konsumsi maupun industri terus
meningkat sedangkan di sisi lain yaitu produksi kedelai rendah sehingga tidak
dapat memenuhi permintaan kedelai yang terus meningkat. Sementara itu pasar
kedelai dunia mengalami distorsi, khususnya oleh negara-negara utama penghasil
kedelai sehingga menyebabkan harga kedelai dunia rendah. Untuk memenuhi
permintaan kedelai yang cukup tinggi dan harga kedelai dunia yang rendah maka
dilakukan impor. Dengan adanya impor kedelai menyebabkan harga kedelai di
dalam negeri rendah. Rendahnya harga kedelai di pasar domestik meningkatkan
konsumsi dan industri yang berbahan baku kedelai.
Namun disisi lain rendahnya harga kedelai impor ini mengakibatkan daya
saing kedelai domestik yang dihasilkan oleh petani kedelai menjadi turun atau
rendah. Dengan rendahnya harga kedelai ini akan menyebabkan disinsentif bagi
petani kedelai dalam negeri sehingga petani kurang bergairah dalam berusahatani
kedelai yang pada akhirnya akan menurunkan produksi kedelai. Disamping itu juga
rendahnya produksi kedelai disebabkan oleh areal tanam yang sempit karena ada
persaingan dengan komoditi pangan yang lain. Pada kondisi seperti ini maka
pemerintah melakukan intervensi melalui kebijakan-kebijakan untuk mengatur
harga kedelai dan juga menekan impor kedelai untuk mendorong para petani
kedelai dalam negeri agar bergairah kembali untuk mengusahakan kedelai
sehingga produksinya meningkat yang pada akhirnya dapat memenuhi permintaan
kedelai domestik yang cukup tinggi. Secara rinci kerangka konseptual dapat dilihat
pada Gambar 6.
Distorsi Pasar Kedelai Dunia

Luas Lahan Kedelai Jumlah Penduduk


Rendah Harga Kedelai Dunia Meningkat
Rendah

Produksi Kedelai Permintaan Kedelai


Domestik Rendah Tinggi

Impor Kedelai

Insentif Petani
Kedelai Rendah
Harga Kedelai
Rendah
Daya Saing Kedelai Industri dan Konsumsi
Domestik Rendah Kedelai Meningkat

Kebijakan
Pemerintah

Gambar 6. Kerangka Konseptual Penelitian

Produksi Kedelai

Menurut Snodgrass dan Wallace (1980), produksi adalah kegiatan


transformasi dari dua atau lebih input (sumberdaya) menjadi satu atau lebih
produk. Transformasi sebagai upaya mengubah dengan cara mengkombinasikan
sejumlah input menjadi bentuk dan fungsi yang berbeda. Konsep dari fungsi
produksi adalah total produktivitas atau output dengan menggunakan variasi
jumlah input dalam proses produksi. Menurut Semaoen (1996), fungsi produksi
adalah hubungan antara produk dan input yang dinyatakan bahwa maksimum
produk (keluaran) yang dapat diproduksi dengan menggunakan kombinasi input
faktor produksi. Input variabel dalam proses produksi komoditas pertanian antara
lain adalah tenaga kerja, pupuk, benih, pestisida dan yang lainnya, yang dapat
dibeli sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Sedangkan faktor input tetap adalah
faktor yang lain yang tidak diperoleh dalam jangka waktu satu analisis seperti
lahan, infrastruktur dan layanan penyuluhan juga faktor eksogen yang tidak bisa
dikendalikan seperti cuaca (Sadoulet dan De Janvry, 1995).
Secara umum dalam teori ekonomi menyatakan bahwa produksi atau jumlah
keluaran suatu komoditas pertanian (Q) merupakan fungsi dari penggunaan
beberapa input utama, yaitu luas areal tanam (A) dan produktivitas (Y), dimana
produktivitas ini meliputi : jumlah modal (K), jumlah tenaga kerja (L), serta input
yang lainnya seperti jumlah benih (B), pupuk (P) dan teknologi (T). Fungsi
produksi ini dapat berbentuk linier, kuadratik maupun Cobb-Douglas, dimana
fungsi produksi dengan keuntungan maksimum dapat dirumuskan sebagai fungsi
permintaan faktor-faktor produksi dimana permintaan faktor-faktor produksi ini
menjelaskan fungsi penawaran produk komoditas tersebut.
Kajian produksi kedelai pada penelitian ini megacu pada model penyesuaian
Nerlove seperti yang telah dilakukan oleh Sahara dan Gunawati (2002) dan
Kariyasa (2003). Model penyesuaian Nerlove ini merupakan salah satu model
estimasi yang juga banyak digunakan terutama untuk melihat kasus-kasus yang
terkait dengan permintaan produk pertanian. Salah satu keunggulan dari model ini
adalah kemampuannya untuk memperhitungkan kesenjangan (lag) waktu antara
saat adanya permintaan dengan ketersediaan produk-produk pertanian tersebut. Hal
ini menjadi penting sebab disadari bahwa seringkali peningkatan permintaan tidak
terjadi pada waktu yang bersamaan dengan saat panen. Akibatnya, ada dinamika
perbedaan antara permintaan jangka pendek (short term) dengan jangka panjang
(long term). Menurut model ini produksi kedelai merupakan persamaan identitas
yaitu hasil perkalian antara luas areal tanam dengan produktivitas sehingga
dirumuskan sebagai berikut :
Q = A*Y ......................................................................... (2.17)
dimana : Q = produksi (ton)
A = luas areal tanam (ha)
Y = produktivitas (ton/ha)
Menurut asumsi Nerlove, respon areal tanam kedelai yang direncanakan dapat dirumuskan
sebagai berikut :
At = a0 + a1Hkt + a2Zt ....................................................... (2.18)
At – At-1 = μ(At – At-1) ....................................................... (2.19)
dimana μ adalah koefisien penyesuaian parsial, Hkt adalah harga kedelai dan Zt
adalah peubah lainnya yang menentukan respon areal. Koefisien μ yang bernilai
antara 0 < μ < 1 merupakan pengukur kecepatan penyesuaian areal aktual sebagai
respon terhadap faktor yang mempengaruhi areal yang direncanakan (Labys, 1973)
Jika persamaan (2.18) disubstitusikan ke persamaan (2.19) maka :
At = a0μ + a1μHkt + a2μZt + (1-μ)At-1 .................................. (2.20)
Untuk memudahkan estimasi maka aiμ didefinisikan sebagai bi sehingga
persamaan tersebut ditransformasikan menjadi :
At = b0 + b1Hkt + b2Zt + b3At-1 + εt ...................................... (2.21)
Sementara itu untuk menentukan respon produktivitas kedelai (Y) dengan
pendekatan Nerlove, peubah areal tanam dimasukan menjadi faktor penentu :
Yt = c0 + c1Hkt + c2At + c3Zt .................................................. (2.22)
Yt – Yt-1 = β(Yt – Yt-1) ........................................................... (2.23)
dimana β adalah koefisien penyesuaian parsialnya.
Jika persamaan (2.22) disubstitusikan ke persamaan (2.23) maka persamaan
produktivitas kedelai menjadi :
Yt = c0β + c1βHkt + c2βZt + (1-β)Yt-1 .................................... (2.24)
Apabila ditransformasikan persamaan pendugaannya, maka akan menjadi :
Yt = d0 + d1Hkt + d2At + d3Zt + d4Yt-1 + ε ............................. (2.25)
Konsumsi/Permintaan Kedelai

Fungsi permintaan kedelai diturunkan dari fungsi utilitas konsumen dengan


pembatas anggaran belanja konsumen tersebut. Oleh karena itu fungsi permintaan
kedelai untuk konsumsi juga dapat diturunkan dari fungsi kegunaan konsumen
kedelai. Fungsi utilitas konsumen kedelai dapat dirumuskan sebagai berikut :
U = f(Ck, Cnk) ....................................................................... (2.26)
dimana U adalah tingkat utilitas konsumen, Ck adalah jumlah konsumsi kedelai
dan Cnk jumlah konsumsi non kedelai, dengan asumsi konsumen yang rasional
akan selalu beurusaha memaksimumkan kepuasannya dalam mengkonsumsi
barang tersebut pada tingkat harga dan pendapatan tertentu. Pada tingkat harga
kedelai Pk, harga non kedelai Pnk dan pendapatan konsumen Y, maka dapat
dituliskan fungsi anggaran konsumen sebagai berikut :
Y = Pk * Ck + Pnk * Cnk .......................................................... (2.27)
Dari persamaan (2.26) dan (2.27) dapat dirumuskan fungsi kepuasan yang akan
dimaksimumkan dengan formula fungsi Lagrange (L) dan Lagrange multiplier (λ)
sebagai berikut :
L = u(Ck, Cnk) + λ (Y - Pk * Ck - Pnk*Cnk) ................................ (2.28)
Apabila syarat pertama dan kedua terpenuhi maka fungsi utilitas dimaksimumkan sebagai berikut :
Ck’ – λ*Pk = 0 atau Ck’ = λ*Pk .......................................... (2.29)
Cnk’ - λ*Pnk = 0 atau Cnk’ = λ*Pnk ..................................... (2.30)
Y – Pk*Ck – Pnk*Cnk = 0 ....................................................... (2.31)
dimana Ck’ adalah marginal utility dari konsumsi kedelai, sedangkan Cnk’ adalah
marginal utility dari konsumsi non kedelai. Dengan mensubstitusikan persamaan
(2.30) dan (2.31) maka akan diperoleh :

......................................................... (2.32)
Persamaan 2.16 menunjukkan bahwa kepuasan konsumen dalam mengkonsumsi
sejumlah barang akan maksimum jika utulitas marjinal dibagi dengan harga harus
sama bagi kedua komoditi tersebut. Dari persamaan (2.31) dan (2.32) diketahui bahwa
Pk, Pnk dan Y merupakan peubah eksogen yang mempengaruhhi permintaan kedelai, sehingga
fungsi permintaan kedelai dapat dirumuskan sebagai berikut :
d (2.33)
Q = d(Pk, Pnk, Y) ............................................................
Persamaan (2.33) menunjukkan bahwa jumlah permintaan kedelai merupakan
fungsi dari harga kedelai, harga komoditi lain dan pendapatan konsumen.

Penawaran Kedelai

Penawaran suatu barang adalah jumlah barang yang ditawarkan kepada


konsumen pada harga, tempat dan waktu tertentu (Rosyidi, 2003). Penawaran
kedelai merupakan fungsi dari berbagai peubah yang mempengaruhinya.
Henderson dan Quandt (1980); Varian (1993); Nicholson (1995), menyatakan
bahwa fungsi penawaran suatu barang dapat diturunkan dengan cara
memaksimumkan fungsi keuntungan. Pada tingkat perusahaan, bila
disederhanakan fungsi produksi suatu barang adalah fungsi dari berbagai input
yang digunakan untuk menghasilkan barang tersebut. Misalnya, jika input diwakili
oleh capital dan labour, maka pada tingkat penggunaan teknologi tertentu,
persamaan fungsi produksi suatu barang adalah :
Q = f (K, L) ………………………………………..………(2.34)
dimana :Q = jumlah produksi (unit)
K = jumlah capital yang digunakan (unit)
L = jumlah labour yang digunakan (unit)
Jika PK dan PL adalah harga faktor produksi K dan L, maka fungsi biayanya yaitu
TC = PK * K + PL * L + FC ………………………………… (2.35)
dimana: TC = biaya produksi total (Rp)
FC = biaya tetap (Rp)
Total penerimaan adalah perkalian antara jumlah barang yang diproduksi
dengan harganya. Jika harga barang per unit sebesar PQ, maka total penerimaan
dari produksi barang diperoleh dengan mengalikan PQ dengan persamaan (2.35),
TR = PQ * f (K, L) ……………………………………………. (2.36)
Bila keuntungan merupakan selisih antara total penerimaan dengan total
biaya, maka keuntungan diperoleh dengan mengurangi persamaan (2.35) dengan
persamaan (2.36) sebagai berikut :
π = PQ * f (K, L) – (PK * K + PL * L + FC) …………………. (2.37) Untuk
memaksimumkan fungsi keuntungan, harus memenuhi first order
condition, dimana turunan parsial pertama terhadap setiap faktor produksi sama
dengan nol, seperti persamaan berikut :
∂π/∂K = PQ * ∂f/∂K – PK = 0, atau PQ * fK = PK ………….... (2.38)
∂π/∂L = PQ * ∂f/∂L – PL = 0, atau PQ * fL = PL …………..………. (2.39)
dimana : fK = produk marjinal dari faktor produksi K
fL = produk marjinal dari faktor produksi L
Persamaan (2.38) dan (2.39) menunjukkan bahwa pada saat keuntungan
maksimum, nilai produk marjinal setiap faktor produksi sama dengan harga faktor
produksi itu sendiri. Kondisi ini menggambarkan tingkat penggunaan input K dan
L yang optimal pada tingkat harga input P K dan P L serta harga output PQ. Dengan
demikian, tingkat penggunaan input K dan L yang optimal adalah :
K = f (PQ, PK, PL) …………………………………………… (2.40)
L = f (PQ, PK, PL) ……………………………………………. (2.41)
Dengan mensubstitusi persamaan (2.40) dan (2.41) ke dalam persamaan (2.34),
maka fungsi penawaran suatu barang dalam kondisi optimal adalah :
Q* = f (PQ, PK, PL) ………………………………………….… (2.42)
Dari persamaaan (2.42) diketahui bahwa penawaran suatu barang merupakan
fungsi dari harga input dan harga output (produk).

Elastisitas

Dalam analisis ekonomi pengukuran kuantitatif tentang responsifnya


permintaan ataupun penawaran terhadap perubahan harga dapat dilakukan dengan
perhitungan elastisitas. Dengan demikian maka elastisitas adalah angka yang
menunjukkan presentase perubahan dimana tanda diabaikan, karena hanya
menunjukkan arah perubahan dari peubah. Apabila koefisien elastisitas lebih besar
dari satu, maka perubahan satu persen dari suatu peubah mengakibatkan perubahan
lebih besar dari satu persen peubah lainnya, ini dikategorikan elastis. Apabila
koefisien elastisitas lebih kecil dari satu, maka perubahan satu persen dari suatu
peubah akan mengakibatkan perubahan kurang dari satu persen peubah lainnya.
Perubahan satu persen dari suatu peubah mengakibatkan perubahan satu persen
peubah lainnya, ini adalah netral atau unitary elasticity. Untuk model yang
dinamis, dapat dihitung elastisitas jangka pendek dan jangka panjangnya (Gujarati,
1995). Bila suatu fungsi dinyatakan seperti persamaan berikut :
Yt = b0 + b1Xt + b2Yt-1 ......................................................... (2.43)
Maka elastisitas jangka pendek (ESR) dan jangka panjang (ELR) dapat dihitung
dengan menggunakan rumus berikut :
ESR = Yt / Xt * t / t................................................... (2.44)
ELR = ESR / 1 – b2............................................................. (2.45)
dimana : b2 = koefisien dugaan variabel endogen
t = rata-rata peubah eksogen

t
= rata-rata peubah endogen

Impor Kedelai Indonesia

Permintaan suatu komoditas dari suatu negara (impor) merupakan kelebihan konsumsi yang
tidak dapat diproduksi (Labys, 1973). Suatu negara mengimpor komoditas tertentu, karena
produksinya relatif lebih kecil dibandingkan konsumsinya. Impor kedelai Indonesia didefinisikan
sebagai berikut :
MIKt = KKIt – PKIt – SKIt ............................................................ (2.46)
dimana : MIKt = Jumlah impor kedelai periode t
KKIt = Jumlah konsumsi kedelai periode t
PKIt = Jumlah produksi kedelai periode t
SKIt = Persediaan kedelai periode t
Fungsi permintaan impor dapat diturunkan dari fungsi konsumsinya sehingga
permintaan impor dipengaruhi oleh harga impor, nilai tukar, pendapatan dan
kebijakan negara pengimpor (Lindert dan Kindleberger, 1982). Fungsi permintaan
impor tersebut kedelai dirumuskan sebagai berikut :
MIK= m(Pm, I, Er, Xt) ............................................................... (2.47)
dimana : Pm = Harga kedelai impor Er = Nilai tukar
I = Tingkat pendapatan Xt = Faktor lainnya

Dampak Kebijakan Ekonomi Dalam Pengembangan Kedelai

Dalam kegiatan perekonomi, konsumen selalu ingin memaksimumkan


utilitasnya, sehingga akan berharap harga komoditi yang murah dan terjangkau
oleh daya belinya. Sedangkan produsen akan berusaha memaksimumkan
keuntungan. Kedua hal ini berlawanan arah sehingga dibutuhkan peran pemerintah
untuk mengatur kedua kepentingan tersebut agar terjadi mekanisme alokasi sumber
daya yang efisien. Untuk komoditas pertanian dimana Indonesia sebagai negara
agraris maka kebijakan yang pernah dilakukan dapat dievaluasi sehingga mampu
diukur dampak ekonominya secara luas terhadap produsen, konsumen dan
pemerintah. Selain itu, kaitannya dengan perdagangan dunia pemerintah dapat pula
mengintervensi pasar komoditas dengan tujuan untuk melindungi konsumen dan
produsen domestik. Pada skala internasional kebijakan perdagangan termuat dalam
Undang-Undang No. 7/1994 tentang Persetujuan WTO. Indonesia sebagai salah
satu negara anggota diwajibkan memenuhi semua aturan WTO termasuk perjanjian
pertanian (Agreement on Agriculture/AoA) yang didalamnya mengatur : 1) akses
pasar; 2) subsidi domestik dan 3) subsidi ekspor. Sejak awal, negara berkembang
telah menyadari bahwa AoA bersifat disinsentif bagi kebijakan pembangunan
pertanian di negara-negara berkembang. Hal ini terlihat dari : 1) akses pasar ke
negara maju relatif sulit bagi negara berkembang karena memiliki tarif rate yang
jauh lebih tinggi; 2) dengan kekuatan kapital yang dimiliki, negara-negara maju
telah menyediakan subsidi ekspor produk pertaniannya dan 3) dalam AoA tidak
terdapat fleksibilitas yang memadai bagi negara-negara berkembang untuk
melakukan penyesuaian tarif sejalan dengan perkembangan masalah dan
perdagangan komoditas pertanian di negaranya (Malian, 2004). Di sisi lain,
lingkungan strategis eksternal berupa liberalisasi perdagangan secara langsung
maupun tidak langsung diduga berpengaruh terhadap kinerja ketahanan pangan
nasional. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa sebagian besar negara maju masih
memberikan proteksi yang cukup tinggi pada sektor pertanian, sementara
Indonesia sesuai kesepakatatan WTO telah menerapkan kebijakan pada berbagai
komoditas pertanian termasuk kedelai yang mengarah pada pasar bebas.
Kurnia dan Erwidodo (2011), menyatakan bahwa pada prakteknya, negara-
negara anggota GATT telah menerapkan berbagai hambatan non tarif (non tariff
border) tanpa pembatasan yang efektif atas produksi domestik atau memelihara
akses minimal impor, dimana hal ini dilakukan tanpa dasar hukum (justifikasi)
yang jelas. Akibatnya terdapat proliferasi hambatan perdagangan terhadap produk
pertanian, termasuk larangan impor (import bans). Dengan demikian, isu
liberalisasi perdagangan yang dirasakan oleh sebagaian besar negara berkembang
termasuk Indonesia adalah masalah ketidakadilan pasar (unfair trade) (Saliem, et
al. 2004). Hal ini didukung oleh Tambunan (2007) yang menyatakan bahwa
Indonesia tidak termasuk pada kelompok negara yang sangat diuntungkan oleh
liberalisasi perdagangan, ini memberi kesan bahwa daya saing global Indonesia
tergolong rendah.
Penilaian terhadap penerapan kebijakan ekonomi maupun kebijakan
perdagangan internasional difokuskan pada dampak yang ditimbulkan. Pendekatan
secara teori ekonomi adalah dengan mengukur dampak kebijakan terhadap
kesejahteraan masyarakat. Konsep yang umum digunakan adalah kesejahteraan
ekonomi, dengan cara mengukur surplus konsumen menggunakan kurva
permintaan, sedangkan pengukuran terhadap surplus produsen dapat didekati
dengan kurva penawaran yang merefleksikan kurva biaya produksi marjinal.
Konsep surplus konsumen pada awalnya dikembangkan oleh Dupuit pada tahun
1833 kemudian dikembangkan oleh Alfred Marshall. Surplus konsumen digunakan
untuk mengukur tingkat kesejahteraan konsumen pada waktu mereka melakukan
transaksi pembelian komoditas yang diartikan sebagai perbedaan antara keinginan
marjinal seorang konsumen untuk membayar dengan harga yang berlaku di pasar.
Sedangkan konsep surplus produsen adalah bilamana seorang produsen mau
menyediakan komoditas pada harga yang ditentukan oleh biaya marjinal
produksinya, dimana kurva biaya marjinal sama dengan kurva penawaran.
Kelemahan pengukuran surplus konsumen dengan kurva permintaan biasa, tidak
memperhitungkan efek pendapatan karena perubahan harga sehingga tidak secara
lengkap menggambarkan bagaimana keinginan konsumen untuk membayar atau
menerima sebagaimana digambarkan konsep variasi kompensasi dan variasi
ekuivalen. Selanjutnya pengukuran terhadap perubahan surplus produsen dan
surplus konsumen sebagai dampak penerapan kebijakan pemerintah umumnya
mengasumsikan bahwa hanya ada satu agregat demand dan agregat supply, satu
komoditas yang diperdagangkan. Akibatnya apabila terjadi perubahan dalam
perekonomian karena penerapan kebijakan ataupun perubahan faktor eksternal
maka dampaknya adalah perubahan pada kesejahteraan konsumen, produsen dan
perubahan penerimaan pemerintah.

Kebijakan Harga

Instrumen kebijakan harga pada komoditi kedelai adalah penetapan harga


dasar (floor price) yang dimulai pada tahun 1979/1980 dan berakhir pada tahun
1991. Selama berlakunya harga dasar kedelai yang dimulai dari Rp. 210,- per kg
pada tahun 1979/1980 kemudian meningkat menjadi Rp. 500,- per kg pada tahun
1991. Pembentukan harga komoditas ditentukan oleh mekanisme pasar yang
merupakan interaksi kekuatan permintaan dan penawaran. Intervensi pemerintah
dalam mekanisme pasar dilakukan melalui kebijakan harga dengan tujuan
optimalisasi output ekonomi dengan distribusi pendapatan yang adil. Penetapan
kebijakan subsidi harga merupakan salah satu alternatif kebijakan pemerintah
dalam membantu petani, hal ini dapat dijelaskan pada Gambar 7.

Sumber : Just, et al. (1982)

Gambar 7. Dampak Penetapan Harga Terhadap Surplus Konsumen dan Produsen

Keseimbangan pasar terjadi pada titik potong permintaan dan penawaran yaitu
pada titik E (Equilibrium), pada harga Pe dengan kuantitas Qe. Penetapan subsidi
harga (floor price) maka harga menjadi P1, akan menggeser paralel kurva D
menjadi D1 sehingga dan keseimbangan yang baru terjadi pada titik E1 dengan
kuantitas sebesar Q1. Realitas yang terjadi di pasar adalah konsumen mengurangi
konsumsi sebesar QeQ1, sedangkan produsen menambah pasokan sebesar QeQ 2
akibatnya terjadi kelebihan penawaran sebesar q1q2. Kebijakan ini akan efektif bila
pemerintah mampu menyediakan dana untuk membeli kelebihan penawaran
sebesar q1q2. Pada tingkat penawaran q1 terjadi kehilangan sosial sebesar c,e,f.
Kebijakan ini akan efektif bila keseimbangan yang baru terjadi pada titik E1,
melalui pergeseran paralel kurva permintaan D ke D1, dengan kata lain diharapkan
terjadi ekspansi ekonomi karena peningkatan volume transaksi tanpa kehilangan
sosial. Analisis kesejahteraan dampak dari penetapan harga dapat dilihat pada
Tabel 7.

Tabel 7. Analisis Kesejahteraan Dampak Penetapan Harga


Kesejahteraan Awal Akhir Perubahan
Konsumen Surplus a+b+c a+g -b–c+g
Produsen Surplus d+e b+c+d+e+f b+c+f
Pemerintah 0 -f-g -f–g
Kesejahteraan Bersih 0

Kebijakan Subsidi Sarana Produksi

Pemberian subsidi sarana produksi pernah dilakukan pemerintah terhadap


petani kedelai, pada kisaran 10–20 persen. Namun karena keterbatasan dana
kebijakan ini ditiadakan. Sesungguhnya pemberian subsidi pupuk dan subsidi
benih akan mempengaruhi biaya produksi dan penggunaan input akan optimal,
sehingga dapat meningkatkan produksi. Pemberian subsidi secara grafis akan
menggeser kurva penawaran ke kanan dari S ke S 1, yang mengakibatkan kenaikan
volume sebesar q1, selanjutnya menurunkan harga ke p1 dan ini akan
mempengaruhi surplus produsen dan surplus konsumen seperti Gambar 8.

Sumber : Just, et al. (1982)

Gambar 8. Dampak Subsidi Sarana Produksi Terhadap Surplus Konsumen dan Produsen

Posisi awal, pada harga Pe produksi sebesar qe pada titik keseimbangan E.


Pemberian subsidi sarana produksi akan meningkatkan produktivitas karena
intensifikasi, sehingga menaikan produksi kedelai, secara grafis terjadi pergeseran
paralel kurva S ke bawah menjadi S1 dan terjadi keseimbangan baru pada titik E 1
dengan harga P1 dan produksi sebesar q1. Analisis kesejahteraan dampak dari
subsidi sarana produksi dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Analisis Kesejahteraan Dampak Subsidi Sarana Produksi
Kesejahteraan Awal Akhir Perubahan
Konsumen Surplus a a+b+d+f +b+d+f
Produsen Surplus b+c c+g+h -b+g+h
Pemerintah 0 -f-h -f–h
Kesejahteraan Bersih +d +g

Kebijakan Tarif Impor

Tarif merupakan kebijakan perdagangan yang paling umum, yaitu sejenis


pajak yang dikenakan atas barang-barang yang diimpor maupun diekspor dengan
tujuan selain untuk memperoleh pendapatan bagi pemerintah juga sebagai bentuk
perlindungan terhadap sektor-sektor tertentu di dalam negeri. Tarif impor adalah
pengenaan pungutan (pajak) terhadap barang atau komoditas yang memasuki suatu
negara. Pengenaan pungutan berupa bea masuk biasanya tanpa pembatasan
kualitas komoditas impor. Pada dasarnya pemberlakuan tarif impor bertujuan
melindungi produksi komoditas sejenis dalam negeri dari persaingan dengan
komoditas impor (Infant Industry), selain itu tarif impor juga merupakan sumber
pendapatan negara. Nopirin (1990) menyatakan bahwa penerapan kebijakan tarif
maupun non tarif akan berdampak pada perubahan kesejahteraan produsen,
konsumen dan penerimaan pemerintah.
Untuk mengetahui dampak pemberlakuan tarif impor kedelai terhadap surplus
produsen, surplus konsumen dan penerimaan pemerintah, digunakan pendekatan
parsial (partial equilibrium approach). Ada 4 (empat) implikasi yang akan terjadi
dari penerapan tarif (Salvatore, 1996), yaitu : (1) surplus produsen, (2) surplus
konsumen, (3) penerimaan pemerintah dan (4) biaya proteksi atau dampak sosial
yaitu kerugian yang harus ditanggung oleh perekonomian akibat pengalihan
sebagian sumberdaya domestik untuk memproduksi kedelai dibandingkan dengan
kondisi yang lebih efisien apabila diimpor. Dampak penerapan tarif secara grafis
disajikan pada Gambar 9.

Sumber : Nicholson (2002)

Gambar 9. Dampak Penerapan Tarif Impor Terhadap Surplus Konsumen dan Produsen
Dari gambar diatas terlihat bahwa dengan adanya impor kedelai maka
keseimbangan perdagangan bebas terjadi di titik E1 dengan harga Pw dan jumlah
yang diminta sebesar Q2. Pengenaan tarif impor sebesar t akan meningkatkan
harga menjadi Pt (Pw + t). Pada harga ini menyebabkan kuantitas yang diminta
turun dari Q2 menjadi Q4. Sementara produksi domestik meningkat dari Q1
menjadi Q3. Total kuantitas impor turun dari Q1-Q2 menjadi Q3-Q4. Pengenaan
tarif impor ini berdampak kepada kesejahteraan, dimana surplus konsumen
berkurang sebesar area PtE2E1Pw. Area sebesar ini sebagian ditransfer kepada
surplus produsen, sebagian menjadi pendapatan negara dan sebagian lagi menjadi
kerugian beban baku (DWL). Analisis kesejahteraan dampak pengenaan tarif
impor seperti pada Tabel 9.

Tabel 9. Analisis Kesejahteraan Dampak Pengenanan Tarif Impor


Kesejahteraan Awal Akhir Perubahan
Konsumen Surplus a+b+c+d+e+f a+b -c-d-e–f
Produsen Surplus g c+g +c
Pemerintah 0 +e +e
Kesejahteraan Bersih -d-f

3 METODOLOGI

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian, studi pustaka dan logika


berpikir yang digunakan dalam menganalisis dampak kebijakan ekonomi dalam
upaya pengembangan kedelai di Indonesia digunakan banyak variabel yang saling
mempengaruhi. Variabel-variabel yang saling berkaitan tersebut menjadi dasar
dalam perancangan model yang digunakan yang berkenaan dengan permintaan dan
penawaran agregat kedelai. Kerangka pemikiran dampak kebijakan ekonomi
terhadap kinerja kedelai di Indonesia menunjukkan hubungan antar aspek-aspek
dalam pengembangan industri kedelai. Keragaan industri komoditas kedelai di
Indonesia dicirikan oleh keterkaitan antara penawaran, permintaan dan harga
kedelai sehingga model ekonometrika yang dirumuskan adalah model dinamis
dalam bentuk persamaan simultan. Kemudian dilakukan prosedur analisis untuk
memperoleh nilai parameter penduga tersebut yang meliputi jenis dan sumber data,
metode pendugaan, uji statistik yang digunakan termasuk kriteria validasi, metode
aplikasi model dan analisis simulasi. Pada studi ini keragaan industri kedelai di
Indonesia ada dua pola yaitu (a) pasar kedelai domestik dan (b) pasar kedelai
dunia. Antara keduanya terintegrasi oleh kegiatan impor dan ekspor.

Model Ekonometrika Industri Kedelai di Indonesia

Model ekonometrika adalah suatu pola khusus dari model aljabar, yaitu suatu
unsur yang sifatnya stochastic yang mencakup satu atau lebih peubah pengganggu
(Intriligator, 1998). Model ekonometrika industri kedelai terdiri dari persamaan
struktural dan persamaan identitas. Persamaan struktural merupakan representasi
dari peubah-peubah endogen dan peubah eksogen yang secara operasional
UTKPt

U1,2

menghasilkan tanda dan besaran nilai penduga parameter sesuai dengan harapan
teoritis secara apriori.

Produksi Kedelai Indonesia

Sesuai dengan model penyesuaian Nerlove, produksi kedelai bukan persamaan


struktural tetapi hanya persamaan identitas yang merupakan hasil perkalian antara
luas areal panen dengan produktivitas kedelai. Areal panen kedelai diduga
dipengaruhi oleh harga kedelai, karena harga kedelai yang tinggi akan
mempengaruhi keputusan petani untuk menanam kedelai. Demikian sebaliknya
bila harga kedelai tahun lalu rendah, petani tidak berminat untuk menanam kedelai
tahun ini, karena keputusan petani untuk menanam kedelai membutuhkan waktu
untuk merespon harga. Faktor lain yang mempengaruhi luas areal panen kedelai
adalah harga jagung, harga pupuk urea, harga benih kedelai dan luas areal panen
tahun lalu dan peubah trend. Bentuk persamaannya sebagai berikut :
LAPKt = a0 + a1HKDPt-1 + a2HRJGt + a3HPURt + a4HBKDt + a5LLAPKt-1 + U1
Hipotesis : a1 > 0 ; a2, a3, a4 < 0 ; 0 < a5 < 1
Sedangkan produktivitas kedelai diduga dipengaruhi oleh harga pupuk urea,
harga benih kedelai dan upah tenaga kerja pertanian, dengan bentuk persamaannya
sebagai berikut :
YSKDt = b0 + b1HPURt + b2HBKDt + b3UTKPt + U2
Hipotesis : b1 > 0 ; b2 , b3 < 0

Bentuk persamaan produksi kedelai adalah :


PROKt = LAPKt * YSKDt
dimana : LAPKt = Luas areal tanam kedelai (ha)
YSKDt = Produktivitas kedelai (ton/ha)
PROKt = Produksi kedelai (ton)
HKDPt-1 = Lag harga kedelai di tingkat produsen (Rp/Kg)
HPURt = Harga pupuk urea (Rp/Kg)
HRJGt = Harga jagung (Rp/Kg)
HBKDt = Harga benih kedelai (Rp/Kg)
= Upah tenaga kerja (Rp/HOK)
LATKt-1 = Lag Luas areal panen kedelai (ha)
= Peubah pengganggu (error term)

Harga Kedelai Domestik

Harga kedelai domestik di tingkat pedagang besar merupakan fungsi


penawaran domestik, harga kedelai impor dalam rupiah, permintaan kedelai
nasional dan harga kedelai di tingkat pedagang besar tahun lalu. Sedangkan harga
kedelai di tingkat petani merupakan fungsi dari produksi kedelai domestik, harga
kedelai impor, permintaan kedelai nasional dan harga kedelai tingkat petani tahun
lalu. Bentuk persamaanya sebagai berikut :
HKPBt = c0 + c1SNKDt + c2HKDMt + c3DKDNt + c4HKPBt-1 + U3
HKDPt = d0 + d1PROKt + d2HKDMt + d3DKDNt + d4HKDPt-1 + U4
Hipotesis : c1, d1 < 0 ; c2, c3, c4, d2 > 0 dan 0 < d4 < 1

dimana : HKPBt = Harga kedelai di pedagang besar (Rp/ton)


HKDPt = Harga kedelai di tingkat petani periode t (Rp/ton)
SNKDt = Penawaran kedelai nasional (Ton)
DKDNt = Permintaan kedelai nasional (Ton)
HKDMt = Harga kedelai impor (US$/Ton)
HKDPt-1= Harga kedelai petani tahun lalu (Rp/ton)
U3,4 = Peubah pengganggu (error term)

Permintaan Kedelai

Permintaan kedelai nasional diduga dipengaruhi oleh harga kedelai di


pedagang besar, jumlah penduduk dan pendapatan per kapita. Persamaan
permintaan kedelai dapat dirumuskan sebagai berikut :

DKDNt = e0 + e1HKPBt + e2JPOPt + e3GPCI + U5


Hipotesis : e2, e43 > 0 ; e1 < 0

dimana : DKDNt = Permintaan kedelai nasional (ton)


JPOPt = Jumlah penduduk (000 jiwa)
GPCIt = Pendapatan per kapita (000 Rp)

Persediaan Kedelai

Perubahan persediaan (stok) kedelai nasional diduga dipengaruhi oleh


produksi kedelai nasional, impor kedelai, permintaan kedelai nasional dan
persediaan kedelai tahun lalu, dengan persamaan sebagai berikut :

SKDIt = f0 + f1PROKt + f2MKDIt + f3DKDNt + f4SKDIt-1 +


U6 Hipotesis : f3 < 0 ; f1, f2, f4 > 0
dimana : SKDIt = Persediaan kedelai Indonesia (ton)
MKDIt = Kedelai impor Indonesia (ton)

Penawaran Kedelai

Berdasarkan persamaan jumlah produksi, impor dan persediaan kedelai maka


penawaran kedelai adalah penjumlahan produksi, impor dan persediaan kedelai
tahun sebelumnya yang dirumuskan dalam bentuk persamaan berikut :

SNKDt = PROKt + MKDIt + SKDIt


Impor Kedelai Indonesia

Impor kedelai Indonesia diduga dipengaruhi oleh produksi kedelai nasional,


permintaan kedelai, harga kedelai impor dan produksi kedelai Amerika dengan
persamaan berikut :

MKDIt = g0 + g1PROKt + g2DKDNt + g3HKDMt + g4PKDAt +


U7 Hipotesis : g1, g3 < 0 ; g2, g4 > 0

dimana : MKDIt = Kedelai impor Indonesia (ton)


PKDAt = Produksi kedelai Amerika (ton)

Harga Kedelai Impor Indonesia

Harga kedelai impor di Indonesia terbentuk dari integrasi pasar dan harga
kedelai dunia (harga kedelai USA), selain itu juga dipengaruhi oleh tarif impor dan
konsentrasi rasio perusahaan pengimpor kedelai, dengan persamaan sebagai
berikut :

HKDMt = h0 + h1(HXKAt * NTRPt)+ h2TMKDt + h3CR4t + U8


Hipotesis : h1, h2, h3 > 0

dimana : HKDMt = Harga kedelai impor (Rp/Kg)


HXKAt = Harga ekspor kedelai USA (US$/ton)
TMKDt = Tarif impor kedelai di Indonesia (%)
CR4t = Konsentrasi rasio importir

Ekspor Kedelai Amerika

Eksportir kedelai utama dunia adalah Amerika dimana kedelai Amerika


merupakan fungsi dari harga ekspor, produksi kedelai di Amerika dan lag ekspor
kedelai Amerika dengan bentuk persamaan sebagai berikut :

XKDAt = m0 + m1HXKAt + m2PKDAt + m3XKDAt-1 +


U13 Hipotesisnya adalah : m1, m2, m3 > 0

dimana : XKDAt = Ekspor kedelai Amerika (Ton)


PKDAt = Produksi kedelai Amerika (ton)
XKDAt-1 = Ekspor kedelai di Amerika tahun lalu (ton)

Harga Ekspor Kedelai Amerika

Harga ekspor kedelai Amerika dipengaruhi oleh persentase perubahan jumlah


impor dunia, perubahan jumlah ekspor dunia dan lag harga ekspor kedelai
Amerika, dengan bentuk persamaannya sebagai berikut :
HXKAt = n0 + n1MKDWt + n2PKDAt + n3HXKAt-1 + U14
Hipotesisnya adalah : n1 > 0 ; n2 < 0 dan 0 < n3 < 1

dimana : HXKAt = Harga ekspor kedelai Amerika (US$/ton)


MKDWt = Impor kedelai dunia (Ton)

Kerangka model atau alur kinerja kedelai dalam penelitian ini dapat dilihat
pada Gambar 10.

Pendapatan
Per Kapita
Indonesia

GPCI
Impor
Penrmintaan Jumlah Kedelai
Dunia
Kedelai Populasi
MKDW
Nasisonal JPOP
DKDN

Lag Harga
Penawaran Ekspor
Stok Kedelai Ekspor Kedelai Kedelai
Kedelai Indonesia Amerika
Indonesia SKDI Amerika LHXKA
SNKD XKDA

Impor Kedelai Produksi Harga Ekspor


Harga Indonesia Kedelai
Kedelai

Jagung Amerika
MKDI Amerika
Indonesia PKDA
HXKA
HRJG
Harga Benih
Kedelai
HBKD Provitas Kedelai
Luas Areal Panen Produksi Kedelai Indonesia
KedelaiIndonesia Indonesia YSKD
LAPK PROK Harga Pupuk
Urea
HPUR
Upah Tenaga
Harga Kedelai Kerja Pertanian
Impor
UTKP

Tharga Kedelai HKDM


Di Pedagang Besar Tarif Impor
HKPB Harga Kedelai
Kedelai Indonesia
Tingkat Petani/Produsen TMKD
HKDP

Consentrasi
Lag Luas Areal Lag Harga Kedelai Lag Harga Kedelai Nilai Tukar Rasio Perusahaan

Panen Kedelai Pedagang Besar Tingkat Petani Rupiah


CR4
LLAPK LHKPB LHKDP NTRP

Keterangan:
= variabel eksogen

= variabel endogen

Gambar 10. Kerangka Model Ekonometrika Kinerja Kedelai di Indonesia

Prosedur Analisis Data

Identifikasi Model

Identifikasi model ditentukan berdasarkan order condition sebagai syarat


keharusan dan rank condition sebagai syarat kecukupan. Menurut Koutsoyianis
(1977), untuk mengidentifikasi model persamaan struktural berdasarkan order
condition digunakan rumusan (K – M) > (G – 1), dimana : K = Total peubah
endogen dan peubah predetermined dalam model, M = Jumlah peubah endogen
dan eksogen dalam satu persamaan, G = Jumlah seluruh persamaan. Dengan
ketentuan :
(K – M) > (G – 1) : persamaan teridentifikasi secara berlebih (overidentified)
(K – M) = (G – 1) : persamaan teridentifikasi secara tepat (exactly identified)
(K – M) < (G – 1) : persamaan tidak teridentifikasi (unidentified)
Hasil identifikasi untuk setiap persamaan struktural haruslah exactly identified
atau overidentified untuk dapat menduga parameter-parameternya. Kendati suatu
persamaan memenuhi order condition, mungkin saja persamaan tersebut tidak
teridentifikasi. Karena itu, dalam proses identifikasi diperlukan suatu syarat perlu
sekaligus syarat cukup yang ditentukan oleh rank condition yang menyatakan
suatu persamaan teridentifikasi jika dan hanya jika dimungkinkan untuk
membentuk minimal satu determinan bukan nol pada order (G – 1) dari parameter
struktural peubah yang tidak termasuk dalam persamaan tersebut (Koutsoyiannis,
1977).

Metode Pendugaan Model

Apabila hasil identifikasi model menunjukkan bahwa seluruh persamaan


teridentifikasi secara berlebih (overidentified) maka metode estimasi yang tepat
digunakan adalah 2SLS (Two Stages Least Squares) (Pindick dan Rubinfeld,
1991). Penerapan metode 2SLS ini dapat menghasilkan estimasi yang konsisten,
lebih sederhana dan lebih mudah. Untuk mengetahui apakah pengaruh secara
bersama-sama dari peubah penjelas signifikan atau tidak, maka dilakukan
pengujian dengan menggunakan uji F. Sedangkan untuk mengetahui signifikan
atau tidaknya pengaruh secara sendiri-sendiri dari masing-masing peubah penjelas
terhadap peubah endogennya diuji dengan menggunakan uji t pada tingkat
signifikansi tertentu.

Validasi Model

Validasi model dimaksudkan untuk mengetahui apakah model yang


dirumuskan itu cukup layak atau valid untuk digunakan dalam menganalisis
dampak kebijakan impor kedelai terhadap kinerja kedelai di Indonesia. Kriteria
yang biasa digunakan dalam menilai layak atau valid tidaknya suatu model
ekonometrik diantaranya adalah root mean square error (RMSE), root mean
squares percent error (RMSPE) dan Theil inequality coefficient (U) (Pindick dan
Rubinfeld, 1991), yang dapat ditulis masing-masing sebagai berikut :
s a
dimana, Yt adalah nilai Yt simulasi/prediksi, Yt adalah nilai Yt aktual dan T
adalah jumlah observasi dalam simulasi.

dimana U dapat didekomposisi menjadi :


1
----- Σ (Yts – Yta)2 = (Ys – Ya)2 + (σs – σa)2 + 2(1 – ρ)σsσa
N
s a
dimana Y dan Y adalah rata-rata untuk nilai prediksi dan nilai aktual, ζs dan ζa
adalah standar deviasi untuk nilai prediksi dan nilai aktual, ρ adalah koefisien
korelasi. Proporsi dari U (proportions of inequality) dapat dinyatakan sebagai
berikut:

M
dimana, U adalah proporsi bias yang menjelaskan seberapa jauh rata-rata nilai
M
prediksi menyimpang dari rata-rata nilai aktual dan nilai U yang diharapkan
S
adalah yang mendekati nol; U adalah proporsi varians yang menjelaskan seberapa
S
jauh variasi nilai prediksi menyimpang dari nilai variasi nilai aktual dan nilai U
C
yang diharapkan adalah yang mendekati nol; U adalah proporsi kovarians yang
mengukur kesalahan peramalan yang tidak sistematis (unsystematic error).
M S
Distribusi ketimpangan (U) yang ideal atas ketiga sumber tersebut adalah U = U
C
= U = 1 (Pyndick dan Rubinfeld, 1991).

Simulasi Model

Secara umum, tujuan dari simulasi adalah untuk mengetahui dampak


perubahan peubah eksogen terhadap peubah endogen dalam model. Simulasi
model dilakukan dengan berbagai alasan, misalnya untuk pengujian dan evaluasi
model, analisis kebijakan historis dan untuk peramalan (Pindyck dan Rubinfeld,
1991). Analisis simulasi kebijakan akan digunakan untuk menerangkan perilaku
produksi, permintaan dan penawaran kedelai serta dampaknya terhadap
kesejahteraan masyarakat.
Pada penelitian ini simulasi model dilakukan untuk mengevaluasi kebijakan
dan perubahan faktor eksternal dengan menggunakan simulasi historis (ex-post
simulation) dan simulasi peramalan (ex-ante forecast). Simulasi tersebut adalah :
1. Peningkatan harga kedelai petani
Rendahnya harga kedelai di pasaran sangat merugikan petani karena dengan
harga yang murah ini tidak akan bisa menutupi biaya usahataninya. Petani
kedelai untuk mendapatkan keuntungan yang layak dari usahataninya paling
tidak harus mendapat margin minimal sebesar 35 persen dari total
pendapatannya. Untuk itu simulasi peningkatan harga kedelai petani sebesar 35
persen akan bermanfaat bagi perumusan kebijakan di masa depan.
2. Penghapusan Subsidi Pupuk Urea dan Benih Kedelai
Pada saat terjadi krisis moneter tahun 1997, pemerintah didesak oleh IMF
untuk menghapuskan subsidi sektor pertanian. Tahun 1998, pemerintah mulai
menghapus subsidi sektor pertanian khususnya pupuk urea dan benih.
Penghapusan subsidi pupuk urea ini mengakibatkan harga pupuk di pasaran
meningkat antara 40 sampai 80 persen dengan rata-rata kenaikan sekitar 60
persen (Imron, 2007). Oleh karena itu simulasi dampak penghapusan subsidi
pupuk atau peningkatan harga pupuk urea terhadap kinerja sektor pertanian
khususnya kedelai sebesar 60 persen akan bermanfaat.
Demikian pula penghapusan subsidi benih telah meningkatkan harga benih di
pasaran yang berkisar antara antara 15 sampai 40 persen, sehingga simulasi
peningkatan harga benih sebesar 20 persen diharapkan akan memberikan
manfaat bagi pengembangan kedelai di Indonesia.
3. Pemberian Subsidi Pupuk Urea dan Benih Kedelai
Awal tahun 2007 timbul wacana untuk memberikan subsidi kembali bagi sektor
pertanian, mengingat di beberapa negara maju sektor pertaniannya mendapat
subsidi. Berdasarkan pertimbangan tersebut serta terjadinya kenaikan harga
pupuk dan benih kedelai di pasaran dari tahun ke tahun maka pemerintah akan
memberikan subsidi harga input kembali, khususnya pupuk urea dan benih
kedelai. Untuk itu simulasi subsidi pupuk urea dan benih kedelai sebesar
masing-masing 20 dan 25 persen cukup bermanfaat.
4. Kebijakan Swasembada Plus
Dengan semakin besarnya jumlah permintaan kedelai maka impor kedelai
Indonesia akan meningkat dari tahun ke tahun sehingga diperlukan cadangan
devisa yang cukup besar. Sementara itu Indonesia masih mempunyai jutaan
hektar lahan kering yang cukup potensial untuk pengembangan kedelai seperti
di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Papua serta masih cukup tinggi untuk
meningkatkan produktivitas kedelai yang ada. Disisi lain untuk menarik minat
petani mengusahakan kedelai subsidi input masih cukup relefan untuk
dilakukan oleh pemerintah. Oleh karena itu simulasi kebijakan swasembada
plus yang merupakan kombinasi kebijakan impor kedelai sebesar 10 persen dan
kebijakan subsidi pupuk urea 25 persen serta kebijakan subsidi harga benih
kedelai 20 persen akan memberikan manfaat bagi perumusan kebijakan di
masa depan.
5. Kombinasi Kebijakan Ekstensifikasi dan Intensifikasi Usahatani Kedelai Untuk
mempercepat pencapaian upaya swasembada kedelai agar dapat memenuhi
permintaan dalam negeri, selain membatasi impor kedelai juga dapat dilakukan
dengan cara perluasan areal tanam kedelai yang diiringi dengan bantuan atau
subsidi sarana produksi terutama pupuk urea dan benih kedelai. Peningkatan
luas areal tanam kedelai setiap tahunnya berfluktuasi. Rata-rata peningkatan
luas areal tanam kedelai berkisar antara 7 sampai 20 persen. Untuk itu simulasi
peningkatan luas areal tanam kedelai sebesar 25
persen yang dibarengi dengan subsidi input produksi berupa penurunan harga
pupuk dan benih kedelai masing sebesar 25 dan 20 persen diharapkan dapat
membantu dalam perumusan kebijakan di masa yang akan datang.
6. Penetapan Tarif Impor Kedelai sebesar 0 persen dan 27 persen
Dalam pelaksanaan perdagangan bebas yang mengharuskan penghapusan tarif
akan mempengaruhi penawaran dan permintaan kedelai. Harga kedelai impor
sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya tarif impor. Jika tarif besar maka harga
kedelai akan naik dan sebaliknya. Oleh sebab itu simulasi penetapan tarif
impor sebesar 0 dan 27 persen akan memberi gambaran dalam merumuskan
kebijakan untuk pengembangan kedelai di Indonesia. Besarnya tarif impor 27
persen ini masih dalam batasan yang disepakati oleh WTO yang tertuang dalam
AoA.
7. Penurunan Produksi Kedelai Amerika sebesar 20 persen
Kebijakan pemerintah Amerika untuk menggunakan etanol sebagai energi
alternatif yang berasal dari jagung telah mengurangi luas areal tanam kedelai
sehingga produksi kedelai turun. Earth Policy Institute (2011), menyatakan
data areal tanam kedelai akibat konversi energi ini telah berkurang dari 30 juta
hektar menjadi 26 juta hektar sehingga produksi kedelai Amerika turun sebesar
19 persen. Hal ini berdampak kepada berkurangnya pasokan kedelai dunia
terutama Indonesia karena sebagian besar kedelai impor Indonesia berasal dari
Amerika. Simulasi penurunan produksi kedelai Amerika sebesar 20 persen
akan bermanfaat untuk merumuskan kebijakan dalam pengembangan kedelai di
Indonesia.

Perhitungan Perubahan Kesejahteraan

Indikator untuk mengukur perubahan kesejahteraan konsumen dan produsen


akibat adanya kebijakan pengembangan kedelai adalah surplus produsen dan
surplus konsumen serta perubahan cadangan devisa negara. Analisis perubahan
surplus dan pengeluaran devisa dihitung dengan menggunakan rumus berikut
(Sinaga, 1989).
1. Surplus Produsen
SP = QSd (Hd – Hs) ± 0.5 (QSd – QSs) (Hd – Hs)
2. Surplus Konsumen
SK = QDd (Hd – Hs) ± 0.5 (QDd – QDs) (Hd – Hs)
3. Penerimaan Negara
Gov = (MKs * HMKs * TMKDs) – (MKd * HMKd * TMKDd)
4. Perubahan dalam Pengeluaran Devisa
Dev = (MKs * HMKs) – (MKd * HMKd)

dimana : SP = surplus produsen H = harga


SK = surplus konsumen MK = jumlah impor
Dev = pengeluaran devisa HMK = harga impor
QS = jumlah penawaran d = dasar
QD = jumlah permintaan s = simulasi
Pengukuran Efisiensi Alokatif

Efisiensi alokatif atau efisiensi harga, mengukur tingkat keberhasilan petani


dalam usahanya untuk mencapai keuntungan maksimum yang dicapai pada saat
nilai produk marjinal setiap faktor produksi yang diberikan sama dengan biaya
marjinalnya atau menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menggunakan input
dengan proporsi yang optimal pada setiap tingkat harga input dan teknologi yang
dimiliki. Efisiensi alokatif suatu usahatani dapat ditentukan melalui fungsi
produksinya dan didasarkan pada asumsi bahwa petani menggunakan teknologi
yang sama. Efisiensi alokatif terjadi jika nilai produk marginal sama dengan biaya
oportunitas (harga pasar) dari input yang bersangkutan atau indeks perbandingan
nilai produk marginal dengan biaya oportunitas dari input sama dengan satu.
NPMx = Px …………………………………………………… (3.1)
NPMx  1= k …….…………………………………………… (3.2)
Px
dimana : NPMx = Nilai produk marginal x
Px = Harga x
Untuk mendapatkan NPM sama atau tidak dengan Px maka digunakan uji t
dengan syarat sebagai berikut:
ki = NPM i ……………………………………………………. (3.3)
Px i
t-hitung = ki 1)

Sei .ki
t hitung > t tabel ........... berbeda nyata; tolak Ho dan terima H1
t hitung  t tabel .......... tidak berbeda nyata; tolak H1 dan terima H0
dimana:
H0 artinya k = 1 artinya NPMi = Pxi ........................... efisien
H1 artinya k  1 artinya NPMi  Pxi .......................... belum efisien

Dalam penelitian ini untuk mendapatkan nilai k, secara matematik menggunakan


rumus berikut (Soekartawi, 1995).

bY .Py / X  Px atau MVP  Px (3.4)


.........................................................

dimana :
b = Elastisitas produksi Y = Output rata-rata
X = Input rata-rata Py = Harga output rata-rata
P = Harga input rata-rata
x
MVP = Marginal value product

Pada kenyataannya NPMx tidak selalu sama dengan Px, yang sering terjadi
adalah NPMx/Px > 1, artinya penggunaan input x belum efisien. Untuk mencapai
efisien, input x perlu ditambah; NPMx/P x<1, artinya penggunaan input x belum
efisien. Untuk mencapai efisien, input x perlu dikurangi.
Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2011 s/d Juli 2012 di
Jakarta, yang diawali dengan penyusunan proposal, pengumpulan data, pengolahan
data, analisis dan penyusunan disertasi.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang
diperoleh dari instansi-instansi terkait, yaitu Kementrian Pertanian, Kementrian
Perdagangan, Kementrian Perindustrian, Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen
Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Ditjen Bea dan Cukai, BPS, Bulog,
Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN), ESCAP-CGPRT Bogor, PSEKP
Bogor dan Dewan Kedelai Nasional serta dari laporan atau publikasi lainnya.

4 KINERJA MODEL PASAR KEDELAI DI INDONESIA

Pada bab 4 ini disajikan dan dibahas hasil analisis pendugaan (estimasi) dan
validasi terhadap peubah-peubah dalam model persamaan struktural kinerja kedelai
sebagai fenomena ekonomi kedelai di Indonesia. Pembahasan dimulai dengan
penjelasan secara umum terhadap hasil analisis implikasi ekonomi dari tanda dan
2
besar (sign and size), nilai koefisien determinasi (R ), nilai F hitung, t hitung dan
hasil uji korelasi serial (DW dan Dh). Selain itu juga dibahas elastisitas dari
beberapa variabel penting. Parameter diestimasi dengan metode two stage least
squares (2SLS) dengan menggunakan program SAS Versi 9.1. Data yang
digunakan adalah data deret waktu (time series) selama 30 tahun (tahun 1981-
2010). Data dasar dan hasil perhitungannya dapat dilihat pada lampiran 1-7.

Hasil Pendugaan Model

Model ekonometrika dalam penelitian ini berupa model simultan dinamis


yang dibangun dari 12 persamaan yang terdiri dari 10 persamaan struktural dan 2
persamaan identitas. Jumlah seluruh variabel adalah 39 (termasuk variabel lag).
Hasil identifikasi model dengan metode order condition menunjukkan bahwa
seluruh persamaan dalam model adalah over identified. Peubah-peubah eksogen
yang dimasukkan dalam persamaan struktural mempunyai tanda yang sesuai
dengan harapan, khususnya dilihat dari teori ekonomi. Kriteria-kriteria statistik
yang digunakan dalam hasil estimasi model adalah cukup meyakinkan. Dari 10
persamaan struktural ada 7 persamaan (70 persen) yang memiliki nilai koefisien
determinasi diatas 80 persen, 3 persamaan (30 persen) memiliki nilai koefisien
determinasi antara 70 – 80 persen.
Hasil analisis statistik dengan uji F menunjukkan seluruh persamaan struktural
sangat nyata pada taraf 1 persen. Hal ini berarti bahwa secara bersama-sama setiap
peubah eksogen dalam setiap persamaan (model) berpengaruh nyata terhadap
peubah endogennya. Sedangkan untuk nilai statistik t (t hitung) yang digunakan
untuk menguji apakah masing-masing peubah penjelas berpengaruh nyata terhadap
peubah endogennya, dalam penelitian ini digunakan tiga level  (taraf nyata) yang
fleksibel untuk setiap persamaan struktural yaitu (a) 5 persen ( = 0,05), (b) 10
persen ( = 0,10) dan (c) 15 persen ( = 0,15).
Bila dilihat dari nilai statistik DW dan Dh, secara umum tidak mengalami
masalah serial korelasi, kecuali persamaan harga kedelai di pedagang besar
(HKPB) yaitu sebesar 1,02 (DW) atau 2,86 (Dh). Menurut Pindyck dan Rubinfeld
(1991), masalah serial korelasi hanya mengurangi efisiensi pendugaan parameter,
dan serial korelasi tidak menimbulkan bias parameter regresi sehingga hasil
pendugaan model dapat dinyatakan cukup representatif dalam menggambarkan
fenomena ekonomi perkedelaian di Indonesia. Secara umum hasil pendugaan
model dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Hasil Pendugaan Model Kinerja Kedelai di Indonesia


Variabel Endogen F Value Prob>F 2-
R Adj DW Dh
R2

Luas Areal Panen Kedelai 29,57 0,0001 0,865 0,836 2,05 -0,98
Produktivitas Kedelai 62,78 0,0001 0,883 0,869 1,46
Harga Kedelai Tingkat Petani 296,03 0,0001 0,980 0,977 1,99 0,10
Harga Kedelai Pedagang Besar 601,78 0,0001 0,990 0,988 1,02 2,86
Permintaan Kedelai Nasional 17,23 0,0001 0,764 0,748 1,95
Persediaan Kedelai Indonesia 23,74 0,0001 0,798 0,765 2,18 -0,85
Impor Kedelai Indonesia 153,29 0,0001 0,998 0,997 1,57
Harga impor Kedelai Indonesia 16,71 0,0001 0,667 0,627 1,56
Ekspor Kedelai Amerika 40,68 0,0001 0,899 0,895 1,95 0,89
Harga Ekspor Kedelai Amerika 42,62 0,0001 0,864 0,816 1,98 0,59

Berdasarkan kriteria-kriteria diatas dengan periode pengamatan yang cukup


panjang maka hasil estimasi model dinilai cukup representatif dalam menangkap
fenomena ekonomi yang akan berpengaruh terhadap kesejahteraan petani dan
konsumen kedelai di Indonesia. Selain itu model dapat digunakan untuk
melakukan simulasi dalam mencapai tujuan penelitian dan dijadikan dasar dalam
membuat arah kebijakan pengembangan kedelai di Indonesia.

Luas Areal Panen Kedelai

Luas areal panen kedelai berkaitan dengan produksi dan produktivitas, dimana
luas areal panen kedelai di Indonesia dari tahun 1981 – 1992 menunjukan trend
yang meningkat. Bahkan pada tahun 1992 merupakan tahun dimana luas areal
penen kedelai menjadi yang tertinggi yaitu sebesar 1.664.182 hektar atau
mengalami peningkatan sebesar 105,46 persen dari tahun 1981 (809.978 hektar).
Namun semenjak tahun 1992 terjadi penurunan luas areal panen yang cukup berarti
dari tahun ke tahun, atau terjadi penurunan sebesar 60,29 persen pada tahun 2010
menjadi 660.823 hektar.
Berdasarkan analisis dari model yang digunakan, maka luas areal panen
kedelai di Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu harga riil kedelai di
tingkat petani, harga riil jagung, harga riil pupuk urea, harga riil benih kedelai dan
luas areal panen kedelai tahun sebelumnya. Hasil pendugaan peubah yang
mempengaruhi luas areal panen kedelai di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Persamaan Luas Areal Panen
Peubah Koefisien t-hitung Elastisitas Nama
Dugaan ESR ELR Peubah
Int 278,799 2,20 Intersep
HKDP 0,123 1,40 (c) 0,211 0,240 Harga Riil Kedelai Petani
HRJG 0,145 0,73 Harga Riil Jagung
HPUR -0,322 -1,85 (b) -0,297 -0,440 Harga Riil Pupuk Urea
HBKD -0,025 -0,61 Harga Riil Benih Kedelai
LLAPK 0,765 7,45 (a) LAPK tahun lalu
R-sq : 0,865 F-hit : 29,57 Prob F < 0,0001 DW : 2,05 Dh : -0,198
Keterangan : (a) nyata pada  = 0,05 ; (b) nyata pada  = 0,10
(c) nyata pada taraf  = 0,15

2
Pada tabel diatas terlihat bahwa nilai koefisien determinasi (R ) dari model
luas areal panen kedelai adalah sebesar 0,865. Hal ini berarti 86,50 persen
keragaman luas areal panen dapat dijelaskan oleh keragaman peubah-peubah
eksogen di dalam model, yaitu peubah harga riil kedelai di tingkat petani (HKDP),
harga riil jagung (HRJG), harga riil pupuk urea (HPUR), harga riil benih kedelai
(HBKD) dan luas areal panen kedelai tahun lalu (LLAPK). Sedangkan sisanya
sebesar 13,50 persen dijelaskan oleh faktor lain diluar model.
Hasil uji statistik F (F hitung) menunjukkan bahwa peubah-peubah eksogen
dalam model secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata terhadap luas areal
panen kedelai pada taraf  satu persen. Sedangkan hasil uji staistik t (t hitung)
menunjukkan bahwa peubah harga kedelai di tingkat petani berpengaruh nyata
pada taraf  lima belas persen, dengan nilai koefisien dugaan sebesar 0,123. Hal
ini berarti bahwa bila terjadi kenaikan harga riil kedelai di tingkat petani sebesar
satu rupiah akan meningkatkan luas areal panen kedelai sebesar 0,123 hektar,
demikian sebaliknya (ceteris paribus). Koefisien dugaan yang bertanda positif
menunjukkan bahwa peningkatan harga riil kedelai di tingkat petani akan
mendorong diperluasnya areal tanam. Dengan naiknya harga kedelai di tingkat
petani maka petani akan menerima harga yang lebih tinggi dan mendorong petani
untuk meningkatkan produksinya melalui perluasan areal panen sehingga dapat
menurunkan volume kedelai impor. Kondisi ini menunjukkan bahwa cukup besar
pengaruh peningkatan harga riil kedelai di tingkat petani terhadap luas areal panen
di Indonesia. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Handayani (2007) yang
menyatakan bahwa luas areal panen kedelai secara nyata dipengaruhi oleh harga
riil kedelai petani.
Harga riil jagung juga mempengaruhi luas areal panen kedelai, namun
pengaruh harga riil jagung terhadap luas areal panen kedelai bertanda positif,
artinya bahwa setiap terjadi kenaikan harga riil jagung, luas areal panen kedelaipun
akan meningkat. Hal ini terjadi karena para petani, walaupun harga riil jagung naik
masih mengusahakan tanaman kedelai yang ditanam di luar areal tanam
reguler, seperti penanaman kedelai di areal perkebunan, lahan tidur maupun lahan
perhutani. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dalam upaya peningkatan produksi
kedelai melaksanakan program kerja sama dengan berbagai instansi untuk
menanam kedelai di luar areal tanam reguler, seperti kerja sama dengan
Kementrian Negara BUMN dan PT. Perhutani melalui Gerakan Peningkatan
Produksi Pangan Berbasis Korporasi (GP3K). Pada kerja sama ini dilakukan
penanaman kedelai di propinsi sentra seluas 125.000 hektar (Ditjen Tanaman
Pangan, 2012).
Harga riil pupuk urea berpengaruh nyata pada taraf  sepuluh persen dengan
nilai koefisien dugaan sebesar -0,322. Hal ini berarti bahwa setiap terjadi kenaikan
harga pupuk urea sebesar seribu rupiah akan menurunkan luas areal panen kedelai
sebesar 0,322 hektar. Peubah luas areal panen kedelai tahun lalu berpengaruh nyata
pada taraf lima persen. Sementara harga riil benih kedelai tidak berpengaruh nyata
terhadap luas areal panen kedelai. Hal ini diduga karena sebagian besar petani di
Indonesia menggunakan benih kedelai hasil penangkaran sendiri, bukan
menggunakan benih varietas unggul yang bersertifikat. Apabila dilihat dari nilai
elastisitasnya, luas areal panen kedelai tidak responsif (inelastis) untuk semua
peubah-peubah dalam model.

Produktivitas Kedelai

Berdasarkan analisis yang digunakan, maka produktivitas kedelai di Indonesia


dipengaruhi oleh faktor-faktor atau peubah harga riil pupuk urea, harga riil beniih
kedelai dan harga riil upah tenaga kerja pertanian kedelai di tingkat petani. Secara
rinci hasil pendugaannya dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Provitas Kedelai Indonesia

Peubah Koefisien t-hitung Elastisitas Nama


Dugaan ESR ELR Peubah
Int 8,477 27,71 Intersep
HPUR -0,001 1,48 (b) -5,178 - Harga Riil Pupuk Urea
HBKD -0,001 -1,98 (c) -0,081 - Harga Riil Benih Kedelai
UTKP -0,002 -6,48 (a) -0,345 - Upah Riil Tenaga Kerja

R-sq : 0,883 F-hit : 62,78 Prob F < 0,0001 DW : 1,46


Keterangan : (a) nyata pada  = 0,05 (b) nyata pada  = 0,10 (c) nyata pada  = 0,15

2
Dari tabel diatas terlihat nilai koefisien determinasi (R ) dari model adalah
sebesar 0,883, hal ini berarti bahwa 88,30 persen keragaman produktivitas kedelai
di Indonesia dipengaruhi oleh keragaman peubah eksogen dalam model, yakni
peubah harga riil pupuk urea (HPUR), harga riil benih kedelai (HBKD) dan upah
tenaga kerja pertanian (UTKP). Sedangkan sisanya 11,70 persen dijelaskan oleh
faktor-faktor lain diluar model.
Hasil analisis dengan uji F (F hitung), terlihat bahwa peubah-peubah eksogen
dalam model secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata terhadap
produktivitas kedelai di Indonesia pada taraf  satu persen. Sedangkan hasil uji
statistik t (t hitung), menujukkan bahwa peubah harga riil pupuk urea berpengaruh
nyata pada taraf  sepuluh persen, dan harga riil peubah benih kedelai berpengaruh
nyata pada taraf  lima belas persen. Pengaruh peubah upah tenaga kerja pertanian
sangat nyata pada taraf  lima persen.
Tanaman kedelai pada awal pertumbuhannya sangat membutuhkan unsur hara
nitrogen, dimana unsur ini sebagian besar terdapat dalam pupuk urea sehingga
tanaman kedelai akan responsif terhadap pemberian pupuk urea. Apabila harga
pupuk urea naik maka petani akan mengurangi penggunaan pupuk (asumsi biaya
usahatani tetap). Dengan berkurangnya penggunaan pupuk urea ini maka
pertumbuhan tanaman kedelai tidak optimal dan akan menurunkan
produktivitasnya sehingga produksi kedelai akan turun (ceteris paribus). Demikian
juga dengan penggunaan benih, penggunaan benih unggul dan bersertifikat akan
meningkatkan produktivitas kedelai. Jika harga benih kedelai naik maka petani
akan mengurangi penggunaan benih bermutu sehingga produktivitasnya akan turun
(ceteris paribus). Sejati, el al (2007), menyatakan bahwa dengan harga benih
unggul yang mahal akan menyebabkan petani kurang respon terhadap penggunaan
benih unggul sehingga produktivitas kedelai yang dihasilkan rendah. Adnyana dan
Kariyasa (1997), menyatakan bahwa faktor pembatas produktivitas adalah
penggunaan benih unggul bermutu, pola tanam dan introduksi teknologi termasuk
penggunaan pupuk.
Produktivitas kedelai responsif (elastis) terhadap peubah harga riil pupuk urea,
hal ini terlihat dari nilai elastisitasnya yaitu sebesar -5,178, artinya jika terjadi
kenaikkan harga pupuk urea sebesar satu rupiah akan menurunkan produkstivitas
kedelai sebesar 5,178 kg per hektar (ceteris paribus).

Harga Kedelai di Tingkat Petani

Harga kedelai di tingkat petani dipengaruhi oleh peubah-peubah produksi


kedelai domestik, harga kedelai impor, permintaan kedelai nasional dan harga riil
kedelai di tingkat petani tahun lalu. Hasil pendugaan peubah-peubah yang
mempengaruhi harga kedelai di tingkat petani dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Hasil pendugaan Peubah dan Elatisitas Harga Kedelai di Tingkat Petani
Peubah Koefisien t-hitung Elastisitas Nama
Dugaan ESR ELR Peubah
Int -352,476 -1,43 Intersep
PROK -0,048 -2,67 (a) -0,032 -0,033 Produksi Kedelai Ind.
HKDM 1,982 2,14 (a) 1,756 1,788 Harga Kedelai Impor
DKDN 0,306 2,23 (a) 0,340 0,490 Permintaan Kedelai
LHKDP 0,975 13,01 (a) HKDP tahun lalu
R-sq : 0,990 F-Hit : 601,78 Prob F < 0,0001 DW : 1,99Dh : 0,10
Keterangan : (a) nyata pada taraf  = 0,05

2
Dari tabel diatas terlihat nilai koefisien determinasi (R ) dari model adalah
sebesar 0.990, hal ini berarti bahwa 99,00 persen keragaman harga kedelai di
tingkat petani di Indonesia dipengaruhi oleh keragaman peubah eksogen dalam
model, yakni peubah produksi kedelai (PROK), harga kedelai impor (HKDM) dan
permintaan kedelai (DKDN) serta harga kedelai di tingkat petani tahun lalu
(LHKDP). Sedangkan sisanya 1.00 persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar
model.
Hasil uji staistik F (F hitung), terlihat bahwa peubah-peubah eksogen dalam
model secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata terhadap harga kedelai di
tingkat petani di Indonesia pada taraf  satu persen. Sedangkan hasil uji statistik t
(t hitung) menunjukkan bahwa peubah-peubah produksi kedelai domestik, harga
kedelai impor, permintaan kedelai nasional dan harga kedelai di tingkat petani
tahun lalu berpengaruh nyata terhadap harga kedelai di tingkat petani pada taraf 
lima persen.
Harga kedelai di tingkat petani sangat dipengaruhi oleh produksi kedelai
domestik dengan nilai koefisien dugaan sebesar -0,048, yang berarti apabila
produksi kedelai domestik naik sebesar satu ton akan menyebabkan penurunan
harga kedelai di tingkat petani sebesar 0,048 rupiah. Peningkatan produksi ini akan
menyebabkan meningkatkan penawaran kedelai di pasaran. Dengan asumsi
permintaan tetap maka penawaran yang meningkat ini akan menyebabkan harga
kedelai di tingkat petani turun, dimana hal ini sering terjadi pada saat panen raya.
Pada kondisi seperti ini seringkali merugikan para petani kedelai karena harga
yang diterima para petani rendah. Carolina dan Himawan (2011), menyatakan
bahwa harga kedelai domestik atau harga di tingkat petani sangat dipengaruhi oleh
produksi kedelai domestik. Selain itu juga harga kedelai petani dipengaruhi oleh
harga kedelai impor. Harga kedelai dunia yang cukup rendah menyebabkan impor
kedelai Indonesia meningkat tajam. Tingginya impor kedelai dengan harga yang
murah serta kualitas yang baik akan menyebabkan konsumen membeli kedelai
impor sehingga akan mempengaruhi harga kedelai domestik yang dalam hal ini
adalah kedelai para petani. Menurut Sudaryanto et al (2004), bahwa preferensi
konsumen lebih cenderung memilih kedelai impor karena kualitasnya yang lebih
baik, ukuran bijinya seragam dan relatif lebih besar serta harganya lebih murah.
Hal ini sesuai dengan hasil observasi di tingkat industri pengolahan kedelai untuk
tahu dan tempe, bahwa harga kedelai petani berdasarkan mekanisme pasar dengan
mengikuti harga kedelai impor dimana harga kedelai petani sedikit diatas harga
kedelai impor. Jika harga kedelai impor murah maka akan merugikan petani karena
kedelai hasil taninya dihargai murah sehingga tidak dapat menutupi biaya
produksinya (Handayani, 2007). Disisi lain harga kedelai di tingkat petani juga
dipengaruhi oleh jumlah permintaan kedelai nasional dengan nilai koefisien
dugaan sebesar 0,306, hal ini berarti bahwa bila jumlah permintaan meningkat
sebesar 1 ton akan menaikkan harga kedelai di tingkat petani sebesar 0,306 rupiah
dan sebaliknya (ceteris paribus).
Harga kedelai di tingkat petani responsif (elastis) terhadap perubahan harga
kedelai impor, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Hal ini terlihat
dari nilai elastisitasnya yaitu sebesar 1,756 untuk jangka pendek dan 1,788 untuk
jangka panjang, yang berarti bahwa setiap terjadi kenaikan harga kedelai impor
satu persen akan meningkatkan harga kedelai di tingkat petani sebesar 1,756 persen
untuk jangka pendek dan 1,788 untuk jangka panjang (ceteris paribus).

Harga Kedelai di Pedagang Besar

Harga kedelai di tingkat pedagang besar dipengaruhi oleh peubah-peubah


penawaran kedelai nasional, harga kedelai impor dan permintaan kedelai nasional
serta harga kedelai di tingkat pedagang besar tahun lalu. Hasil pendugaan peubah-
peubah yang mempengaruhi harga kedelai di tingkat pedagang besar dapat dilihat
pada Tabel 14.

Tabel 14. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Harga Kedelai di Pedagang Besar

Peubah Koefisien t-hitung Elastisitas Nama


Dugaan ESR ELR Peubah
Int 198,075 0,82 Intersep
SNKD -0,0604 -1,60 (b) -0,051 -0,055 Penawaran Kedelai Ind
HKDM 0,0006 3,92 (a) 0,416 0,417 Harga Kedelai Impor
DKDN 0,3915 1,43 (b) 0,320 0,526 Permintaan Kedelai Nas
LHKPB 0,5408 4,45 (a) HKPB tahun lalu
R-sq : 0,980 F-hit : 296,03 Prob F < 0,0001 DW : 1,21Dh : 2,65
Keterangan : (a) nyata pada taraf  = 0,05 (b) nyata pada taraf  = 0,10

2
Dari tabel diatas terlihat bahwa nilai koefisien determinasi (R ) dari model
adalah sebesar 0,980, hal ini berarti bahwa 98,00 persen keragaman harga kedelai
di tingkat pedagang besar di Indonesia dipengaruhi oleh keragaman peubah
eksogen dalam model, yakni penawaran kedelai nasional (SNKD), harga kedelai
impor (HKDM), permintaan kedelai nasional (DKDN) dan harga kedelai di tingkat
pedagang besar tahun lalu (LHKPB). Sedangkan sisanya 2,00 persen dijelaskan
oleh faktor-faktor lain diluar model.
Hasil analisis dengan uji staistik F (Fhitung), terlihat bahwa peubah-peubah
eksogen dalam model secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata terhadap
harga kedelai di tingkat petani di Indonesia pada taraf  satu persen. Sedangka
hasil uji statistik t (t hitung) menujukkan bahwa peubah harga kedelai impor dan
harga kedelai di tingkat pedagang besar tahun lalu berpengaruh nyata pada taraf 
lima persen. Sementara untuk peubah penawaran dan permintaan kedelai nasional
berpengaruh nyata pada taraf  sepuluh persen.
Harga kedelai di tingkat pedagang besar sangat ditentukan oleh harga kedelai
impor, apabila harga kedelai impor naik maka harga kedelai di tingkat pedagang
besarpun akan naik. Koefisien dugaan peubahnya sebesar 0,0006, hal ini berarti
setiap kenaikan harga kedelai impor satu US $ per ton akan menaikkan harga
kedelai di tingkat pedagang sebesar 0,006 US $ per ton (ceteris paribus). Selain itu
juga, jika permintaan kedelai nasional meningkat maka harga kedelai di pedagang
besar akan naik dan sebaliknya. Nilai koefisien dugaanya sebesar 0,3915, hal
berarti bahwa jika terjadi kenaikan permintaan sebesar satu ton akan menaikkan
harga kedelai di tingkat pedagang besar sebesar 0,3915 rupiah (ceteris paribus).
Sementara penawaran kedelai nasional akan mempengaruhi harga kedelai di
pedagang besar berlawanan dengan permintaan. Jika penawaran meningkat maka
harga kedelai akan turun demikian sebaliknya (ceteris paribus). Harga kedelai di
tingkat pedagang besar ini tidak responsif (inelastis) terhadap peubah
pembentuknya, karena nilai elastisitasnya yang kurang dari satu.
Permintaan Kedelai Nasional

Jumlah permintaan kedelai nasional dipengaruhi oleh peubah-peubah harga


kedelai di tingkat pedagang besar, jumlah populasi (penduduk) dan pendapatan per
kapita. Hasil pendugaannya dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Permintaan Kedelai Nasional

Peubah Koefisien t-hitung Elastisitas Nama


Dugaan ESR ELR Peubah
Int -4536,45 -4,55 Intersep
HKPB -0,374 -4,19 (a) -0,903 - Harga Ked Ped Besar
JPOP 34,985 6,08 (a) 3,142 - Jumlah Populasi
GPCI 0,4368 1,96 (a) 0,487 - Pendapatan per Kapita
R-sq : 0,764 F-hit : 17,23 Prob F < 0,0001 DW : 1,95
Keterangan : (a) nyata pada taraf  = 0,05

2
Dari tabel diatas terlihat bahwa nilai koefisien determinasi (R ) model adalah
sebesar 0,764, hal ini berarti bahwa 76,40 persen keragaman jumlah permintaan
kedelai nasional di Indonesia dipengaruhi oleh keragaman peubah eksogen dalam
model, yakni harga kedelai di tingkat pedagang besar (HKPB), jumlah populasi/
penduduk (JPOP) dan pendapatan per kapita (GPCI). Sedangkan sisanya 23,60
persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain diluar model.
Berdasarkan analisis dengan uji statistik F, terlihat bahwa peubah-peubah
eksogen dalam model secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata terhadap
permintaan kedelai nasional di Indonesia pada taraf  satu persen. Sementara hasil
uji statistik t menujukkan bahwa semua peubah yang mempengaruhi jumlah
permintaan kedelai nasional yaitu harga kedelai di tingkat pedagang besar, jumlah
populasi dan pendapatan per kapita berpengaruh nyata pada taraf  lima persen.
Jumlah permintaan kedelai nasional akan dipengaruhi oleh harga kedelai di
tingkat pedagang besar dengan nilai koefisien dugaan sebesar -0,374, hal ini berarti
jika harga kedelai di tingkat pedagang besar naik sebesar satu rupiah maka
permintaan akan turun sebesar 0,374 kg. Selain itu jumlah permintaan kedelai
nasional ditentukan juga oleh jumlah penduduk. Laju pertumbuhan penduduk akan
membawa efek terhadap bertambah cepatnya permintaan pangan serta perubahan
bentuk dan kualitas pangan dari penghasil energi kepada produk-produk penghasil
protein. Kedelai merupakan salah satu bahan makanan yang mempunyai potensi
sebagai sumber utama protein. Meskipun produk kedelai bukan merupakan bahan
pangan pokok, perkembangan secara historis dan kultural menunjukkan bahwa
sebagian besar penduduk Indonesia menggunakan produk kedelai dalam pola
makanan tradisionalnya. Perkembangan jumlah penduduk Indonesia pada periode
1981-2010 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1,36 persen per tahun. Disisi
lain permintaan kedelai juga mengalami peningkatan yaitu sebesar 7,22 persen per
tahun. Berdasarkan analisis model terlihat bahwa jumlah penduduk mempunyai
hubungan positif terhadap jumlah permintaan kedelai. Koefisien dugaan parameter
jumlah penduduk (JPOP) adalah sebesar 34,985, hal ini menunjukkan bahwa
apabila jumlah penduduk meningkat sebesar 1 orang maka permintaan kedelai
akan meningkat sebesar 34,985 kg. Jumlah permintaan kedelai nasional responsif
(elastis) terhadap jumlah penduduk, hal ini terlihat dari nilai elstisitasnya yang
lebih besar dari satu yaitu 3,142. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan
jumlah populasi satu persen akan meningkatkan jumlah permintaan kedelai
nasional sebesar 3,142 persen (ceteris paribus).

Persediaan Kedelai Nasional

Persediaan kedelai nasional Indonesia dipengaruhi oleh peubah-peubah


produksi kedelai domestik, impor kedelai Indonesia, permintaan kedelai nasional
dan persediaan kedelai nasional tahun lalu. Hasil pendugaan peubah-peubah yang
mempengaruhi persediaan kedelai nasional dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastistas Persediaan Kedelai Nasional

Peubah Koefisien t-hitung Elastisitas Nama


Dugaan ESR ELR Peubah
Int -6,245 -0,31 Intersep
PROK 0,035 1,53 (b) 5,991 6,209 Produksi Kedelai Ind
MKDI 0,379 1,69 (a) 3,632 5,849 Impor Kedelai Ind
DKDN -0,320 1,42 (b) -4,662 -6,855 Permintaan Ked. Nasional
LSKDI 0,380 2,55 (a) SKDI Tahun lalu
R-sq : 0,798 F-hit : 23,74 Prob F < 0,0001 DW : 2,18
Keterangan : (a) nyata pada taraf  = 0,05 (b) nyata pada taraf  = 0,10

2
Dari tabel diatas terlihat bahwa nilai koefisien determinasi (R ) dari model
adalah sebesar 0,798, hal ini berarti bahwa 79,8 persen keragaman persediaan
kedelai nasional di Indonesia dipengaruhi oleh keragaman peubah eksogen dalam
model, yakni produksi kedelai nasional (PROK), impor kedelai Indonesia (MKDI)
dan permintaan kedelai nasional (DKDN) serta persediaan kedelai nasional tahun
lalu (LSKDI). Sedangkan sisanya 20,2 persen dijelaskan oleh faktor lain diluar
model.
Hasil analisis dengan uji statistik F (F hitung), terlihat bahwa peubah-peubah
eksogen dalam model secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata terhadap
persediaan kedelai nasional di Indonesia pada taraf  satu persen. Sementara hasil
uji statistik t (t hitung) menujukkan bahwa peubah produksi kedelai nasional dan
permintaan kedelai berpengaruh nyata pada taraf  sepuluh persen. Sedangkan
untuk peubah impor kedelai Indonesia dan persediaan kedelai nasional tahun lalu
nyata pada taraf  lima persen.
Besar kecilnya jumlah persediaan kedelai secara nasional sangat dipengaruhi
oleh produksi kedelai nasional. Apabila produksi naik maka persediaan kedelaipun
akan meningkat. Demikian juga dengan impor kedelai Indonesia, jika impor naik
maka persediaan kedelaipun akan meningkat. Namun tidak demikian dengan
permintaan kedelai nasional, bila permintaan naik maka persediaan kedelai akan
turun. Hal ini sejalan dengan hasil perhitungan Badan Ketahanan Pangan
Kementrian Pertanian (2010), yang menyatakan bahwa persediaan atau stok
kedelai merupakan hasil penjumlahan dari produksi nasional ditambah dengan
impor kedelai Indonesia dikurangi konsumsi nasional.
Pesediaan kedelai nasional responsif (elastis) terhadap semua peubah
pembentuknya baik untuk jangka pendek maupun panjang. Hal ini terlihat dari
nilai elastisitasnya yang lebih besar dari 1 dan bernilai positif kecuali peubah
permintaan kedelai nasional. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan
permintaan kedelai nasional satu persen akan menurunkan persediaan kedelai
nasional sebesar 4,662 persen untuk jangka pendek dan 6,855 persen untuk jangka
panjang (ceteris paribus). Meningkatnya jumlah penduduk akan meningkatkan
permintaan terhadap kedelai sehingga untuk memenuhinya digunakan dari
persediaan yang ada. Hasil kajian Listiani (2006), menyatakan bahwa permintaan
kedelai yang cukup tinggi akibat peningkatan jumlah penduduk akan menguras
persediaan kedelai yang ada. Selain itu persediaan kedelai nasonal elastis terhadap
impor kedelai Indoneisa dengan nilai elstisitas sebesar 3,632 untuk jangka pendek
dan 5,849 untuk jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan
impor satu persen akan meningkatkan persediaan kedelai nasional sebesar 3,632
persen untuk jangka pendek dan 5,849 persen untuk jangka panjang (ceteris
paribus). Badan Katahanan Pangan (2007), menyatakan bahwa persediaan kedelai
nasional sangat dipengaruhi oleh kedelai impor, apabila impor tinggi maka akan
menambah persediaan kedelai nasional dan sebaliknya. Demikian juga dengan
produksi kedelai nasional, jika produksi kedelai dalam negeri meningkat maka
persediaan kedelai juga akan meningkat dan sebaliknya, sehingga persediaan
kedelai nasional elastis terhadap produksi kedelai nasional. Hal ini terlihat dari
nilai elastisitasnya sebesar 5,991 untuk jangka pendek dan 6,209 untuk jangka
panjang, yang berarti bahwa jika terjadi kenaikan produksi sebesar satu persen
akan meningkatan persediaan kedelai nasional sebesar 5,991 persen untuk jangka
pendek dan 6,209 persen untuk jangka panjang (ceteris psribus).

Impor Kedelai Indonesia

Impor kedelai Indonesia dipengaruhi oleh peubah-peubah produksi kedelai


nasional, permintaan kedelai nasional, harga kedelai impor 1 (harga kedelai impor
x nilai tukar rupiah) dan produksi kedelai Amerika. Hasil pendugaan peubah-
peubah yang mempengaruhi impor kedelai Indonesia dapat dilihat pada Tabel 17.

Tabel 17. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Impor Kedelai Indonesia

Peubah Koefisien t-hitung Elastisitas Nama


Dugaan ESR ELR Peubah
Int 11,467 0,33 Intersep
PROK -0,101 -44,90 (a) -0,053 - Produksi Ked Nasional
DKDN 0,989 61,43 (a) 1,503 - Permintaan Ked Nasional
HKDM1 -0,0001 -1,55 (b) -0,230 - Harga Kedelai Impor 1
PKDA 0,0007 1,33 (b) 0,364 - Produksi Ked Amerika
R-sq : 0,998 F-hit : 315,29 Prob F < 0,0001 DW : 1,52
Keterangan : (a) nyata pada taraf  = 0,05 (b) nyata pada taraf  = 0,10

2
Dari tabel diatas terlihat bahwa nilai koefisien determinasi (R ) dari model
impor kedelai Indonesia adalah sebesar 0,998, hal ini berarti bahwa 99,8 persen
keragaman impor kedelai Indonesia dipengaruhi oleh keragaman peubah eksogen
dalam model, yakni produksi kedelai nasional (PROK), permintaan kedelai
nasional (DKDN), harga kedelai impor 1 (HKDM1) dan produksi kedelai Amerika
(PKDA). Sedangkan sisanya 0,2 persen dijelaskan oleh faktor lain diluar model.
Hasil uji statistik F, terlihat bahwa peubah-peubah eksogen dalam model
secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata terhadap impor kedelai Indonesia
pada taraf  satu persen, sedangkan hasil uji statistik t menunjukkan bahwa peubah
produksi kedelai domestik dan permintaan kedelai nasional berpengaruh sangat
nyata pada taraf  lima persen. Sedangkan untuk peubah harga kedelai impor 1 dan
produksi kedelai Amerika berpengaruh nyata pada taraf  10 persen.
Hasil analisis menunjukkan bahwa peubah produksi kedelai domestik
memiliki nilai koefisien dugaan sebesar -0,101. Hal ini berarti jika terjadi
peningkatan produksi kedelai domestik sebesar satu satuan maka akan menurunkan
impor kedelai Indonesia sebesar 0,101 satuan (ceteris paribus). Kondisi ini terlihat
dari trend produksi kedelai Indonesia yang terus menurun sejak tahun 1992 yang
berdampak terhadap jumlah kedelai impor yang semakin meningkat setiap
tahunnya dalam upaya memenuhi kebutuhan domestik yang terus meningkat. Nilai
koefisen dugaan parameter permintaan kedelai nasional sebesar 0,989. Hal ini
berarti, jika jumlah permintaan meningkat satu ton maka impor kedelai akan
meningkat 0,989 ton, demikian sebaliknya (ceteris paribus).
Nilai koefisien dugaan peubah harga kedelai impor 1 bertanda negatif sebesar
0,0001. Sementara peubah produksi kedelai Amerika memiliki nilai dugaan sebesar
0,0007. hal ini menggambarkan bahwa apabila terjadi kenaikkan produksi kedelai
di Amerika sebesar satu persen akan meningkatkan impor sebesar 0,0007 persen.
Indonesia sebagai negara net importir kedelai, sebagian besar (50,13 persen)
kebutuhan kedelainya dipasok dari Amerika sehingga apabila terjadi perubahan
produksi di Amerika akan berdampak terhadap ketersediaan kedelai dalam negeri.
Berdasarkan nilai elastistasnya, impor kedelai nasional responsif (elastis)
terhadap perubahan permintaan kedelai nasional dengan nilai sebesar 1,503.
Artinya, jika permintaan kedelai nasional naik satu persen maka impor kedelai
Indonesia akan meningkat sebesar 1,503 persen (ceteris paribus). Jumlah
permintaan kedelai ini lebih ditujukan untuk pemenuhan permintaan industri
olahan kedelai khususnya tahu dan tempe, dimana kedelai pada kedua industri ini
merupakan faktor produksi utama, artinya bahwa kedelai yang digunakan sebagai
bahan baku tidak dapat disubtitusi oleh komoditi lain. Dengan meningkatnya
jumlah industri dan produksi tahu dan tempe akan mengakibatkan meningkatnya
permintaan kedelai.

Harga Kedelai Impor Indonesia

Harga kedelai impor Indonesia dipengaruhi oleh peubah-peubah harga kedelai


ekspor Amerika 1 (harga kedelai ekspor Amerika x nilai tukar rupiah), tarif impor
kedelai dan konsentrasi rasio perusahaan importir kedelai. Hasil pendugaan
peubah-peubahnya dapat dilihat pada Tabel 18.
Tabel 18. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Harga Kedelai Impor Indonesia

Peubah Koefisien t-hitung Elastisitas Nama


Dugaan ESR ELR Peubah
Int -262,891 -0,98 Intersep
HXKA1 0,0007 4,23 (a) 6,094 - Harga Kedelai Ekspor 1
TMKD 5,424 3,23 (a) 0,121 - Tarif Impor
CR4 4,202 1,62 (b) 1,669 - Konsentrasi Rasio Importir
R-sq : 0,766 F-hit : 16,71 Prob F < 0,0001 DW : 1,56
Keterangan : (a) nyata pada taraf  = 0,05 (b) nyata pada taraf  = 0,10

2
Dari tabel diatas terlihat bahwa nilai koefisien determinasi (R ) dari model
adalah sebesar 0,766, hal ini berarti bahwa 76,60 persen keragaman harga impor
kedelai Indonesia dipengaruhi oleh keragaman peubah eksogen dalam model,
yakni harga kedelai ekspor Amerika 1 (harga kedelai ekspor Amerika x nilai tukar
rupiah) (HXKA1), tarif impor kedelai (TMKD), konsentrasi rasio perusahaan
importir kedelai (CR4). Sedangkan sisanya 21,60 persen dijelaskan oleh faktor lain
diluar model.
Berdasarkan analisis dengan uji statistik F, terlihat bahwa peubah-peubah
eksogen dalam model secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata terhadap
harga kedelai impor Indonesia pada taraf  satu persen. Sementara hasil uji
statistik t (t hitung) menujukkan bahwa peubah harga kedelai ekspor Amerika 1
(harga kedelai ekspor Amerika x nilai tukar rupiah) dan tariff impor kedelai
berpengaruh nyata pada taraf  lima persen. Sedangkan untuk peubah konsentrasi
rasio perusahaan importir berpengaruh nyata pada taraf  sepuluh persen.
Harga kedelai impor Indonesia sangat dipengaruhi oleh peubah harga kedelai
ekspor Amerika 1 dengan nilai koefisien dugaan peubah sebesar 0,007 dimana hal
ini menunjukkan bahwa apabila terjadi kenaikkan harga kedelai ekspor Amerika
satu satuan akan meningkatkan harga kedelai impor Indonesia sebesar 0,0007
satuan. Selain itu juga harga kedelai impor ini responsif terhadap perubahan harga
kedelai ekspor Amerika. Hal ini terlihat dari nilai elastisitasnya yang lebih besar
dari satu yaitu sebesar 6,094. Artinya jika terjadi peningkatan harga kedelai ekspor
Amerika sebesar satu persen akan menaikkan harga kedelai impor Indonesia
sebesar 6,094 persen. Kondisi ini terjadi karena untuk pemenuhan permintaan
kedelai domestik sebagian besar dipenuhi dari kedelai ekspor Amerika sehingga
jika terjadi perubahan harga kedelai di Amerika akan berdampak langsung terhadap
kinerja kedelai di Indonesia.
Koefisien dugaan peubah tarif impor kedelai sebesar 5,424. Artinya bila
terjadi kenaikan tarif impor sebesar satu persen akan meningkatkan harga kedelai
impor sebesar 5,424 US $ per ton (ceteris paribus). Sementara nilai koefisien
dugaan peubah konsentrasi rasio perusahaan importir kedelai sebesar 4,202, yang
berarti bahwa jika terjadi perubahan atau kenaikkan konsentrasi rasio perusahaan
satu persen akan meningkatkan harga kedelai impor sebesar 4,202 US $ setiap
tonnya. Harga kedelai impor Indonesia ini responsif terhadap perubahan
konsentrasi rasio perusahaan importir. Hal ini terlihat dari nilai elastisitasnya
sebesar 1,669, artinya bila terjadi kenaikan satu persen konsentrasi rasio
perusahaan importir kedelai maka akan meningkatkan kenaikkan harga kedelai
impor sebesar 1,669 persen (ceteris paribus).
Perdagangan kedelai impor di Indonesia dilakukan oleh sejumlah pelaku
usaha. Berdasarkan keterangan dari Kementrian Perdagangan, importir kedelai
yang memiliki Nomor Pengenal Importir Khusus (NPIK) kedelai sampai Januari
2008 sebanyak 216 perusahaan dan dari sejumlah ini yang aktif melakukan impor
kedelai hanya 39 perusahaan (Ditjen Perdagangan Luar Negeri, 2008a). Dari ke 39
importir ini selama beberapa tahun terakhir ini hanya ada beberapa importir besar
yang menjadi pemain utama dalam perdagangan kedelai di Indonesia, yaitu PT.
Gerbang Cahaya Utama, PT. Cargill Indonesia, PT. Teluk Intan dan PT. Alam Agri
Perkasa. Prosentase impor kedelai Indonesia yang dilakukan oleh keempat
perusahaan ini adalah 64 persen PT. Gerbang Cahaya Utama, 18 persen PT. Cargill
Indonesia, 7 persen PT. Alam Agri Perkasa dan 6 persen PT. Teluk Intan (Asworo,
2008). Bila dilihat dari prosentase keempat perusahaan ini maka pelaksanaan
impor kedelai di Indonesia termasuk jenis struktur pasar oligopoli yang
membentuk kartel, dimana dominasi keempat importir ini diduga turut berperan
dalam menentukan harga kedelai selama ini. Hal ini sejalan dengan dugaan Komisi
Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU), bahwa nilai CR4 dari perusahaan tersebut
sebesar 88,66 persen dan dianggap sudah bisa terindikasikan kartel karena mereka
bisa mengatur harga di dalam negeri. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun
1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat,
perusahaan dinyatakan melakukan kartel apabila penguasaan pasarnya minimal
mencapai 50 persen. Selain itu juga impor kedelai Indonesia lebih dari separuhnya
berasal dari Amerika Serikat (USA) dimana para importir ini mendapatkan
kemudahan kredit ekspor GSM-102 yang membuat importir bisa membayar dua
sampai tiga tahun kemudian.
Dalam ilmu ekonomi, dimungkinkan terjadi kartel dalam perdagangan kedelai
jika kondisinya hanya ada empat importir besar. Mereka bisa mengatur harga
kedelai di Indonesia. Hal ini ditunjukkan ketika harga kedelai mengalami
kenaikkan setiap hari, padahal harga kedelai di luar negeri berfluktuasi. Selain itu
juga harga kedelai tetap naik walaupun para importir tersebut masih memiliki stok
kedelai yang melimpah di gudang mereka (Widianti, 2008).
Apabila dilihat dari nilai elastisitasnya maka harga kedelai impor Indonesia
untuk jangka pendek sangat responsif (elastis) terhadap harga kedelai ekspor
Amerika dan konsentrasi rasio empat perusahaan importir. Nilai elastisitas harga
kedelai ekspor Amerika adalah 6,094. Artinya jika harga kedelai ekspor Amerika
naik sebesar satu persen maka harga kedelai impor Indonesia akan meningkat
sebesar 6,094 persen. Nilai elastisitas konsentrasi rasio empat perusahan importir
adalah 1,669. Artinya jika terjadi peningkatan konsentrasi rasio empat perusahaan
importer kedelai maka harga kedelai impor akan naik sebesar 1,669 persen (ceteris
paribus).

Ekspor Kedelai Amerika

Ekspor kedelai Amerika dipengaruhi oleh peubah-peubah harga kedelai ekspor


Amerika, produksi kedelai Amerika dan ekspor kedelai Amerika tahun lalu. Hasil
pendugaan peubah-peubah yang mempengaruhi ekspor kedelai Amerika dapat
dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Ekspor Kedelai Amerika

Peubah Koefisien t-hitung Elastisitas Nama


Dugaan ESR ELR Peubah
Int -4523,52 -1,57 Intersep
HXKA 21,331 1,92 (a) 0,221 0,010 Harga Ked Ekpsor USA
PKDA 0,135 2,28 (a) 0,288 0,334 Produksi Kedelai USA
LXKDA 0,605 3,38 (a) XKDA tahun lalu
R-sq : 0,829 F-hit : 40,68 Prob F < 0,0001 DW : 1,95 Dh : 0,89
Keterangan : (a) nyata pada taraf  = 0,05

2
Dari tabel diatas terlihat bahwa nilai koefisien determinasi (R ) dari model
adalah sebesar 0,829, hal ini berarti bahwa 82,9 persen keragaman ekspor kedelai
Amerika dipengaruhi oleh keragaman peubah eksogen dalam model, yakni harga
ekspor kedelai Amerika (HXKA), produksi kedelai Amerikal (PKDA) dan ekspor
kedelai Amerika tahun lalu (LXKDA). Sedangkan sisanya 17,1 persen dijelaskan
oleh faktor-faktor lain yang tidak terdapat dalam model.
Berdasarkan analisis dengan uji staistik F (F hitung), terlihat bahwa peubah-
peubah eksogen dalam model secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata
terhadap ekspor kedelai Amerika pada taraf  satu persen. Sementara hasil uji
statistik t (t hitung) menujukkan bahwa semua peubah yang mempengaruhi ekspor
kedelai Amerika yaitu harga ekspor kedelai Amerika, produksi kedelai Amerika
dan ekspor kedelai Amerika tahun lalu berpengaruh nyata pada taraf  lima persen.
Nilai koefisien dugaan peubah harga ekspor kedelai Amerika sebesar 21,331.
Hal ini berarti bahwa setiap terjadi kenaikkan harga ekspor kedelai Amerika satu
US $ per ton akan meningkatkan jumlah ekspor kedelai Amerika sebesar 21,331
ton (ceteris paribus). Demikian juga dengan peubah produksi kedelai Amerika
yang memiliki nilai koefisien dugaan sebesar 0,135, yang berarti bahwa setiap
kenaikan produksi kedelai Amerika satu ton akan meningkatkan ekspor kedelai
Amerika sebesar 0,135 ton (ceteris paribus).
Amerika sebagai negara eksportir kedelai terbesar di dunia dengan pangsa
pasar lebih dari 52 persen merupakan negara dimana pertanian kedelainya sangat
maju sehingga produksi kedelainya sangat tinggi dan melampaui swasembada
kedelai untuk negaranya.
Berdasarkan nilai elastisitasnya maka ekspor kedelai Amerika baik untuk
jangka pendek maupun jangka tidak responsif (inelastis) terhadap faktor-faktor
pembentuknya. Hal ini karena nilai elastisitasnya kurang dari satu.

Harga Ekspor Kedelai Amerika

Harga ekspor kedelai Amerika dipengaruhi oleh peubah-peubah impor kedelai


dunia, produksi kedelai Amerika dan harga kedelai ekspor Amerika tahun lalu.
Hasil pendugaan peubah-peubah yang mempengaruhi harga ekspor kedelai
Amerika dapat dilihat pada Tabel 20.
Tabel 20. Hasil Pendugaan Peubah dan Elastisitas Harga Ekspor Kedelai Amerika

Peubah Koefisien t-hitung Elastisitas Nama


Dugaan ESR ELR Peubah
Int 123,934 3,45 Intersep
MKDW 0,004 5,31 (a) 0,733 0,742 Impor Kedelai Dunia
PKDA -0,020 -3,25 (a) 0,577 0,573 Produksi Kedelai USA
LHXKA 0,668 5,43 (a) HXKA tahun lalu
R-sq : 0,836 F-hit : 42,62 Prob F < 0,0001 DW : 1,98 Dh : 0,59
Keterangan : (a) nyata pada taraf  = 0,05

2
Dari tabel diatas terlihat bahwa nilai koefisien determinasi (R ) dari model
adalah sebesar 0,836, hal ini berarti bahwa 83,60 persen keragaman harga ekspor
kedelai Amerika dipengaruhi oleh keragaman peubah eksogen dalam model, yakni
impor kedelai dunia (MKDW), produksi kedelai Amerika (PKDA) dan harga
ekspor kedelai Amerika tahun lalu (HXKA). Sedangkan sisanya 16,40 persen
dijelaskan oleh faktor-faktor lain yang tidak terdapat dalam model.
Berdasarkan analisis dengan uji statistik F (F hitung), terlihat bahwa peubah-
peubah eksogen dalam model secara bersama-sama berpengaruh sangat nyata
terhadap harga ekspor kedelai Amerika pada taraf  satu persen. Sementara hasil
uji statistik t (t hitung) menujukkan bahwa semua peubah yang mempengaruhi
harga ekspor kedelai Amerika berpengaruh nyata pada taraf  lima persen.
Harga ekspor kedelai Amerika sangat dipengaruhi oleh impor kedelai dunia,
apabila impor atau permintaan kedelai dunia termasuk Indonesia meningkat maka
harga ekspor kedelai Amerika yang merupakan negara eksportir kedelai terbesar
dunia akan meningkat (ceteris paribus). Amerika sebagai negara penghasil kedelai
terbesar dunia memiliki pangsa pasar sebesar 52,13 persen terhadap kinerja kedelai
dunia.
Nilai koefisien dugaan peubah impor kedelai dunia sebesar 0,004, yang berarti
bahwa jika terjadi kenaikan permintaan kedelai dunia sebesar satu ton akan
meningkatkan harga kedelai ekspor Amerika sebesar 0,004 US $ per ton (ceteris
paribus). Sementara nilai koefisien dugaan peubah produksi kedelai Amerika
bertanda negatif sebesar 0,02. Hal ini berarti jika terjadi kenaikan produksi kedelai
di Amerika satu ton akan menurunkan harga ekspor kedelai Amerika sebesar 0,02
US$ per ton, demikian sebaliknya (ceteris paribus). Produksi kedelai Amerika juga
akan mempengaruhi kinerja kedelai dunia, hal ini terlihat seperti pada tahun 2008
terjadi peningkatan harga kedelai di pasar dunia, yaitu meningkat dari 400 US $
per ton hingga mencapai 600 US $ per ton. Peningkatan harga kedelai di pasar
dunia ini disebabkan oleh menurunnya produksi kedelai Amerika dan adanya
peningkatan permintaan impor dunia. Hal ini berdampak pada harga kedelai di
Indonesia karena Indonesia mengimpor kedelai sekitar 65 persen dari kebutuhan
dalam negeri dan hampir 52,13 persen berasal dari Amerika.
Harga ekspor kedelai Amerika tidak responsif (inelastis) terhadap kedua
peubahnya baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang, karena nilai
elastisitasnya lebih kecil dari satu.
Validasi Model

Evaluasi terhadap daya prediksi suatu model (model validation) sangat


diperlukan untuk mengetahui kualitas model dalam memprediksi perilaku data
aktual yang digunakan dalam suatu model. Kriteria yang sering digunakan untuk
menguji daya prediksi model adalah Root Mean Squares Percent Error (RMSPE)
dan Mean Squares Error (MSE) serta Theil’s inequality coefficient (U), dimana U-
Theil ini dapat dikomposisi menjadi proporsi bias (Um), proporsi regresi (Ur) dan
proporsi distribusi (Ud). Kriteria RMSPE yang merupakan nilai kedekatan variabel
endogen hasil pendugaan terhadap nilai aktual selama periode pengamatan
sebelum dilakukan simulasi historis dan peramalan. Sedangkan untuk melihat
kedekatan garis regresi yang terestimasi dengan data aktualnya digunakan
2
coefficient of dtermination (R ). Pada dasarnya jika nilai RMSPE dan U-Theil
2
semakin kecil dan nilai R semakin besar, kondisi tersebut mencerminkan
pendugaan model yang semakin baik. Menurut Sitepu dan Sinaga (2006), bahwa
model yang baik akan menghasilkan koefisien U-Theil mendekati nol, sebaliknya
jika mendekati satu model dianggap kurang dapat menjelaskan data yang
sebenarnya. Nilai koefisien U-Theil (U) berkisar antara 0 – 1. Jika U = 0 maka
pendugaan model sempurna, namun sebaliknya jika U = 1 maka pendugaan model
tidak sempurna.

Hasil Validasi Model

Suatu model pada hakekatnya adalah suatu representasi dari dunia nyata yang
disederhanakan, dimana model yang baik adalah model yang mampu menjelaskan
fenomena tersebut. Oleh karena itu, kriteria yang digunakan dalam validasi model
pada penelitian ini pada dasarnya mengukur sejauh mana besaran hasil dugaan
model mendekati besaran yang sebenarnya atau mendekati nilai aktual yang
dinyatakan dalam besaran error atau kesalahan. Validasi model yang digunakan
pada penelitian ini difokuskan pada besaran RMSPE dan koefisien U-Theil beserta
dekomposisinya. Hasil validasi dapat dilihat pada Tabel 21.

Tabel 21. Hasil Validasi Model Pengembangan Kedelai di Indonesia


Peubah RMS Bias Regresi Distribusi Koefisien
Endogen % Error (Um) (Ur) (Ud) U
Luas Areal Panen Kedelai 23,99 0,05 0,15 0,75 0,08
Produktivitas Kedelai 2,22 0,11 0,18 0,71 0,01
Produksi Kedelai 24,58 0,07 0,05 0,83 0,09
Harga Kedelai Tingkat Petani 20,07 0,01 0,06 0,99 0,08
Harga Kedelai Pedagang Besar 18,41 0,05 0,05 0,79 0,05
Penawaran Kedelai Nasional 11,57 0,01 0,02 0,92 0,06
Permintaan Kedelai Nasional 12,69 0,06 0,03 0,88 0,06
Persediaan Kedelai Indonesia 21,70 0,01 0,12 0,85 0,08
Impor Kedelai Indonesia 19,20 0,11 0,04 0,83 0,08
Harga impor Kedelai Indonesia 18,40 0,15 0,03 0,98 0,07
Ekspor Kedelai Amerika 13,44 0,05 0,03 0,82 0,05
Harga Ekspor Kedelai Amerika 12,92 0,11 0,07 0,85 0,05
Dari tabel diatas terlihat bahwa nilai RMSPE seluruh persamaan dalam model
lebih kecil dari 25 persen. Hal ini berarti, berdasarkan nilai RMSPE-nya model
yang dibangun cukup baik karena sebagian besar mengalami penyimpangan
kurang dari 25 persen dari nilai aktualnya.
Sementara berdasarkan nilai dari Um, Ur dan Ud terlihat bahwa seluruh
persamaan (100 persen) memiliki nilai Um dan Ur yang kurang dari 0,20, dan 11
persamaan (91,6 persen) mempunyai nilai Ud lebih besar dari 0,75, 1 persamaan
(8.4 persen) mempunyai nilai Ud sebesar 0,73. serta seluruh persamaan (100
persen) mempunyai nilai U-Theil kurang dari 0,2.
Berdasarkan kriteria tersebut diatas, model yang dibangun dalam penelitian ini
memiliki daya prediksi yang cukup baik sehingga model dapat digunakan sebagai
alat analisis dalam simulasi alternatif kebijakan dan perubahan eksternal. Dalam
penelitian ini dilakukan simulasi historis untuk periode 1998-2010 dan simulasi
peramalan untuk periode 2011-2017, sesuai dengan periode simulasi dasar hasil
validasi model.

5 DAMPAK PERUBAHAN FAKTOR INTERNAL DAN EKSTERNAL


TERHADAP PENGEMBANGAN KEDELAI DI INDONESIA

Untuk mengetahui dampak perubahan faktor internal dan eksternal terhadap


pengembangan kedelai di Indonesia maka dilihat dari kebijakan terhadap model
yang dibangun terutama terhadap peubah endogen. Kebijakan terhadap peubah
endogen yang dilakukan simulasi kebijakan dimana kebijakan tersebut dapat
berdampak positif maupun negatif terhadap masing-masing peubah endogen.
Dengan dilakukan simulasi dapat diketahui arah dan besaran perubahan dari suatu
peubah endogen dalam sistem kenerja kedelai di Indonesia, yang diakibatkan oleh
adanya intervensi atau kebijakan pemerintah. Evaluasi kebijakan dapat dilakukan
dengan membandingkan dampak yang ditimbulkan oleh kebijakan tersebut dengan
beberapa kebijakan alternatifnya.
Kebijakan alternatif atau skenario simulasi historis dilakukan untuk
mengevaluasi dampak dari kebijakan pengembangan kedelai dan kebijakan
ekonomi atau perdagangan terhadap perubahan kesejahteraan petani selaku
produsen kedelai serta perubahan kinerja kedelai di Indonesia. Kebijakan tersebut
antara lain :

Simulasi Historis Periode Tahun 1998-2010

Simulasi 1 : Peningkatan Harga Kedelai Petani 35 Persen

Petani kedelai agar kesejahteraannya meningkatkan maka keuntungan yang


harus didapat adalah sekitar 35 persen dari total penerimaan usahataninya. Untuk
menjamin kesejahteraan petani kedelai ini pemerintah harus membuat kebijakan
penetapan harga dasar pembelian kedelai. Awal tahun 2009 Pemerintah
mewacanakan kenaikan harga kedelai di tingkat petani. Kenaikan harga tersebut
akan dituangkan dalam bentuk Keppres dengan tujuan untuk meningkatkan minat
petani agar mau berusahatani kedelai sehingga dapat meningkatkan produksi
kedelai nasional dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani yang pada
akhirnya akan menekan atau mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap
kedelai impor. Simulasi peningkatan harga kedelai petani tersebut sebesar 35
persen. Rincian hasil simulasi dapat dilihat pada Tabel 22.

Tabel 22. Hasil Simulasi Historis Peningkatan Harga Kedelai Petani 35 Persen
Peubah Satuan Nilai Simulasi Perubahan
Endogen Dasar 1 Unit (%)
Produksi Kedelai 000 Ton 1011,24 1313,5 302,36 29,89
Luas Areal Panen Kedelai 000 Ha 789,7 1005,4 215,7 27,31
Produktivitas Kedelai Ku/Ha 12,82 13,01 0,19 1,4
Harga Kedelai Tingkat Petani Rp/Kg 3252,1 4390,4 1138,3 35,0
Harga Kedelai Pedagang Besar Rp/Kg 4170,4 4487,6 317,2 7,6
Penawaran Kedelai Nasional 000 Ton 2213,7 2463,2 249,5 11,27
Permintaan Kedelai Nasional 000 Ton 2138,3 2111,4 -26,9 -2,6
Persediaan Kedelai Indonesia 000 Ton 153,6 140,2 -13,4 -8,75
Impor Kedelai Indonesia 000 Ton 1130,0 810,7 -319,3 -28,26
Harga impor Kedelai Indonesia US$/Ton 323,7 323,7 0 0
Ekspor Kedelai Amerika 000 Ton 30321,5 30321,5 0 0
Harga Ekspor Kedelai Amerika US$/Ton 294,1 294,1 0 0

Dari tabel diatas terlihat bahwa hasil simulasi peningkatan harga kedelai di
tingkat petani sebesar 35 persen akan berdampak pada peningkatan produksi
kedelai sebesar 302.360 ton atau sekitar 29,89 persen. Naiknya produksi kedelai ini
sebagai akibat dari peningkatan luas areal panen sebesar 215.700 hektar atau 27,31
persen. Naiknya poduksi kedelai ini diduga karena meningkatnya harga kedelai di
tingkat petani dimana kondisi ini akan meningkatkan minat petani untuk menanam
kedelai sehingga luas areal panen dan produksi kedelai semakin meningkat
sehingga dapat menekan impor kedelai. Peningkatan produksi kedelai ini akan
menyebabkan peningkatan penawaran kedelai nasional sebesar 249.500 ton atau
sekitar 11,27 persen, namun menurunkan persediaan kedelai nasional sebesar
13.400 ton atau turun sekitar 8,75 persen. Sementara jumlah permintaan hanya
menurun sebesar 26.900 ton atau turun 2,60 persen.
Selain itu naiknya produksi kedelai menyebabkan turunnya impor kedelai
sebesar 319.300 ton atau turun sekitar 28,26 persen. Namun tidak merubah harga
kedelai impor. Peningkatan harga kedelai petani sebesar 35 persen yang
menyebabkan naiknya produksi kedelai akan menaikkan harga kedelai di tingkat
pedagang besar sebesar 317,2 rupiah per kilogram atau turun sekitar 7,6 persen.

Simulasi 2 : Peningkatan Harga Pupuk Urea Sebesar 60 Persen

Pada saat terjadi krisis moneter pada tahun 1998, pemerintah didesak IMF
untuk menghapuskan subsidi terhadap sektor pertanian. Oleh sebab itu sejak tahun
1999 pemerintah mulai menghapuskan subsidi, terutama pupuk urea.
Pengahapusan subsidi pupuk khususnya pupuk urea pada saat itu menyebabkan
harga pupuk urea meningkat tajam hingga lebih dari 60 persen. Oleh karena itu
simulasi kebijakan penghapusan subsidi pupuk cukup bermanfaat untuk dilakukan.
Hasil secara rinci dari simulasi ini dapat dilihat pada Tabel 23.

Tabel 23. Hasil Simulasi Historis Peningkatan Harga Pupuk Urea 60 Persen
Peubah Satuan Nilai Simulasi Perubahan
Endogen Dasar 2 Unit (%)
Produksi Kedelai 000 Ton 1011,24 816,6 -194,64 -19,24
Luas Areal Panen Kedelai 000 Ha 789,7 662,6 -127,1 -16,09
Produktivitas Kedelai Ku/Ha 12,82 12,33 -0,49 -3,82
Harga Kedelai Tingkat Petani Rp/Kg 3252,1 3653,8 401,70 12,35
Harga Kedelai Pedagang Besar Rp/Kg 4170,4 4333,3 162,90 3,91
Penawaran Kedelai Nasional 000 Ton 2213,7 1959,2 -254,50 -11,49
Permintaan Kedelai Nasional 000 Ton 2138,3 2077,4 -60,90 -2,84
Persediaan Kedelai Indonesia 000 Ton 153,6 157,0 3,40 2,21
Impor Kedelai Indonesia 000 Ton 1130,0 1268,2 138,2 12,23
Harga impor Kedelai Indonesia US$/Ton 323,7 323,7 0 0
Ekspor Kedelai Amerika 000 Ton 30321,5 30321,5 0 0
Harga Ekspor Kedelai Amerika US$/Ton 294,1 294,1 0 0

Dari tabel diatas terlihat bahwa peningkatan harga pupuk urea sebesar 60
persen akan menyebabkan penurunan produksi kedelai sebesar 194.640 ton atau
sekitar 19,24 persen. Turunnya produksi kedelai ini sebagai akibat dari penurunan
luas areal panen kedelai yang cukup besar, yaitu sekitar 127.100 hektar atau 146,09
persen dan penurunan produktivitas sebesar 0,49 kuintal per hektar atau sekitar
3,82 persen. Hal ini menyebabkan terjadinya kenaikkan harga kedelai di tingkat
petani sebesar 401,70 rupiah per kilogram atau 12,35 persen. Akibat dari
meningkatnya harga kedelai ini mengakibatkan pasokan atau penawaran
mengalami penurunan sebesar 254.500 ton atau 11,49 persen. Disisi lain juga
terjadi peningkatan harga kedelai di tingkat pedagang besar sekitar 162,90 rupiah
per kilogram atau 3,91 persen. Selain itu juga naiknya harga kedelai ini
mengakibatkan jumlah permintaan berkurang sebesar 60.900 ton atau sekitar 2,84
persen. Turunnya produksi kedelai ini mengakibatkan meningkatnya impor kedelai
sebesar 138.200 ton atau 12,23 persen, namun tidak menyebabkan naiknya harga
kedelai impor.

Simulasi 3 : Peningkatan Harga Benih Kedelai 25 Persen

Pemerintah semenjak tahun 1990 mengurangi subsidi terhadap sektor


pertanian termasuk benih kedelai secara bertahap. Penghapusan subsidi terhadap
benih ini akan meningkatkan harga benih di pasaran bervariasi sekitar 20 sampai
40 persen. Kondisi ini menyebabkan menurunnya daya beli petani terhadap benih.
Untuk melihat dampak dari pengurangan subsidi benih ini maka dilakukan
simulasi peningkatan harga benih kedelai sebesar 25 persen. Secara rinci dampak
dari peningkatan harga benih kedelai ini dapat dilihat pada Tabel 24.
Tabel 24. Hasil Simulasi Historis Peningkatan Harga Benih Kedelai 25 Persen

Peubah Satuan Nilai Simulasi Perubahan


Endogen Dasar 3 Unit (%)
Produksi Kedelai 000 Ton 1011,24 923,71 -87,53 -8,65
Luas Areal Panen Kedelai 000 Ha 789,7 733,7 -56,0 -7,09
Produktivitas Kedelai Ku/Ha 12,82 12,60 -0,22 -1,72
Harga Kedelai Tingkat Petani Rp/Kg 3252,1 3432,8 180,70 5,56
Harga Kedelai Pedagang Besar Rp/Kg 4170,4 4243,7 73,30 1,76
Penawaran Kedelai Nasional 000 Ton 2213,7 2105,8 -107,90 -4,87
Permintaan Kedelai Nasional 000 Ton 2138,3 2110,9 -27,40 -1,28
Persediaan Kedelai Indonesia 000 Ton 153,6 155,1 1,50 0,98
Impor Kedelai Indonesia 000 Ton 1130,0 1192,2 62,20 5,50
Harga impor Kedelai Indonesia US$/Ton 323,7 323,7 0 0
Ekspor Kedelai Amerika 000 Ton 30321,5 30321,5 0 0
Harga Ekspor Kedelai Amerika US$/Ton 294,1 294,1 0 0

Dari tabel diatas terlihat bahwa pengurangan subsidi benih atau peningkatan
harga benih sebesar 25 persen akan mengakibatkan menurunnya produksi kedelai
sebesar 87.530 ton atau sekitar 8,65 persen. Turunnya produksi kedelai nasional ini
sebagai akibat dari menurunnya luas areal panen kedelai sebesar 56.000 hektar
atau turun sekitar 7,09 persen serta turunnya produktivitas kedelai sebesar 0,22
kuintal per hektar atau turun 1,72 persen.
Menurunnya produksi kedelai ini akan mengakibatkan berkurangnya pasokan
atau penawaran kedelai sebesar 107.900 ton atau sekitar 4,87 persen.
Berkurangnya pasokan ini akan menyebabkan meningkatnya harga kedelai, baik di
tingkat petani maupun di tingkat pedagang besar. Di tingkat petani terjadi kenaikan
sebesar 180,7 rupiah per kilogram atau 5,56 persen dan di tingkat pedagang besar
terjadi peningkatan harga kedelai sebesar 73,3 rupiah per kilogram atau sekitar
1,76 persen. Dengan meningkatnya harga kedelai ini akan menurunkan jumlah
permintaan sebesar 27.400 ton kedelai atau turun sekitar 1,28 persen. Peningkatan
harga benih kedelai ini juga akan memicu peningkatan impor kedelai sebesar
62.200 ton atau sekitar 5,50 persen, namun tidak menaikkan harga kedelai impor.

Simulasi 4 : Swasembada Plus (Impor Kedelai 10 Persen, Harga Pupuk Urea


Turun 25 Persen dan Harga Benih Turun 20 Persen)

Besarnya kebutuhan akan kedelai, yang tidak bisa dipenuhi oleh produksi
domestik mengakibatkan impor kedelai yang cukup tinggi. Namun impor kedelai
yang tinggi ini menyebabkan minat petani turun dalam mengusahakan kedelai,
sehingga diperlukan berbagai upaya untuk meningkatkan produksi kedelai. Salah
satu upaya pengembangan kedelai yang dilakukan oleh pemerintah adalah
swasembada kedelai. Untuk melihat dampak dari kebijakan tersebut maka
dilakukan simulasi swasembada plus dimana simulasi ini mengkombinasikan
kebijakan impor kedelai 10 persen, harga pupuk urea turun sebesar 25 persen dan
harga benih kedelai turun sebesar 20 persen. Secara rinci dampak dari kebijakan
swasembada plus ini dapat dilihat pada Tabel 25.

Tabel 25. Hasil Simulasi Historis Swasembada Plus

Peubah Satuan Nilai Simulasi Perubahan


Endogen Dasar 4 Unit (%)
Produksi Kedelai 000 Ton 1011,24 1364,31 353,07 34,91
Luas Areal Panen Kedelai 000 Ha 789,7 1027,0 237,3 30,04
Produktivitas Kedelai Ku/Ha 12,82 13,29 0,47 3,66
Harga Kedelai Tingkat Petani Rp/Kg 3252,1 2843,9 -408,20 -12,55
Harga Kedelai Pedagang Besar Rp/Kg 4170,4 3869,2 -301,20 -7,22
Penawaran Kedelai Nasional 000 Ton 2213,7 2246,1 32,40 1,46
Permintaan Kedelai Nasional 000 Ton 2138,3 2250,8 112,50 5,26
Persediaan Kedelai Indonesia 000 Ton 153,6 147,3 -6,30 -4,10
Impor Kedelai Indonesia 000 Ton 1130,0 881,3 -248,70 -22,01
Harga impor Kedelai Indonesia US$/Ton 323,7 295,6 -28,10 -8,68
Ekspor Kedelai Amerika 000 Ton 30321,5 30321,5 0 0
Harga Ekspor Kedelai Amerika US$/Ton 294,1 294,1 0 0

Dari tabel diatas terlihat bahwa dampak dari kebijakan swasembada plus ini
akan meningkatkan produksi kedelai secara signifikan yaitu sebesar 353.070 ton
atau 34,91 persen. Peningkatan produksi ini terutama disebabkan oleh
meningkatnya luas areal panen kedelai sebesar 237.300 hektar atau 30,04 persen
dan naiknya produktivitas kedelai sebesar 0,47 kuintal per hektar atau sekitar 3,66
persen. Naiknya produksi kedelai ini akan mengakibatkan turunnya harga kedelai
di tingkat petani sebesar 408,2 rupiah/kilogram atau turun 12,55 persen.
Penurunan harga kedelai di tingkat petani ini akan memicu meningkatnya
penawaran dan jumlah permintaan kedelai domestik. Penawaran kedelai meningkat
sebesar 34.400 ton atau 1,46 persen dan permintaan meningkat sebesar 112.500 ton
atau 5,26 persen. Dampak lain dari kebijakan swasembada plus ini adalah dapat
menekan impor kedelai sampai 22,01 persen atau 248.700 ton sekaligus
menurunkan harga kedelai impor sebesar 28,10 US $ per ton atau 8,68 persen.

Simulasi 5 : Kombinasi Kebijakan Ektensifikasi dan Intensifikasi Usahatani


Kedelai (Perluasan Areal Panen 15 Persen, Harga Pupuk Urea
Turun 25 Persen dan Harga Benih Turun 20 Persen)

Dalam upaya meningkatkan produksi kedelai untuk mencapai swasembada


pemerintah melakukan kebijakan ekstensifikasi dan intensifikasi usahatani kedelai.
Simulasi kebijakan ini merupakan kombinasi dari beberapa kebijakan, yaitu
perluasan areal panen, subsidi harga pupuk urea dan subsidi harga benih kedelai.
Implementasi kebijakan ini akan berdampak cukup luas pada kinerja ekonomi
kedelai domestik, sehingga simulasi terhadap kebijakan tersebut sangat
bermanfaat. Hasil simulasi kebijakan tersebut dapat dilihat pada Tabel 26.
Tabel 26. Hasil Simulasi Historis Kombinasi Kebijakan Ekstensifikasi dan
Intensifikasi Usahatani Kedelai

Peubah Satuan Nilai Simulasi Perubahan


Endogen Dasar 5 Unit (%)
Produksi Kedelai 000 Ton 1011,24 1419,64 408,40 40,38
Luas Areal Panen Kedelai 000 Ha 789,7 1069,2 279,50 35,39
Produktivitas Kedelai Ku/Ha 12,82 13,92 1,10 8,58
Harga Kedelai Tingkat Petani Rp/Kg 3252,1 2800,0 -452,10 -13,90
Harga Kedelai Pedagang Besar Rp/Kg 4170,4 3824,8 -345,60 -8,28
Penawaran Kedelai Nasional 000 Ton 2213,7 2511,4 297,7 13,44
Permintaan Kedelai Nasional 000 Ton 2138,3 2267,4 129,1 6,04
Persediaan Kedelai Indonesia 000 Ton 153,6 146,3 -7,30 -4,75
Impor Kedelai Indonesia 000 Ton 1130,0 841,3 -288,7 -25,54
Harga impor Kedelai Indonesia US$/Ton 323,7 323,7 0 0
Ekspor Kedelai Amerika 000 Ton 30321,5 30321,5 0 0
Harga Ekspor Kedelai Amerika US$/Ton 294,1 294,1 0 0

Dari tabel diatas terlihat bahwa dampak dari kombinasi kebijakan


ekstensifikasi dan intensifikasi usahatani kedelai akan meningkatkan produksi
kedelai sebesar 408.400 ton atau 40,38 persen. Naiknya produksi kedelai ini
sebagai akibat dari meningkatnya luas areal panen sebesar 279.500 hektar atau
35,39 persen dan meningkatnya produktivitas kedelai sebesar 1,10 kuintal per
hektar atau 8,58 persen. Peningkatan produksi ini selain dapat mengurangi impor
kedelai sebesar 288.700 ton atau 25,54 persen juga menyebabkan meningkatnya
penawaran kedelai sebesar 297.700 ton atau 13,44 persen.
Seiring dengan kondisi tersebut, harga kedelai baik di tingkat petani maupun
di tingkat pedagang besar mengalami penurunan. Penurunan harga kedelai di
tingkat petani sebesar 452,10 rupiah per kilogram atau 13,90 persen, sedangkan
penurunan harga kedelai di tingkat pedagang besar sebesar 345,60 rupiah per
kilogram atau 8,28 persen. Turunnya harga kedelai ini baik di tingkat petani
maupun di tingkat pedagang besar mengakibatkan meningkatnya jumlah
permintaan kedelai sebesar 129.100 ton atau sekitar 6,04 persen. Selain itu
kebijakan kombinasi ekstensifikasi dan intensifikasi usahatani kedelai ini juga
dapat menekan impor kedelai sebesar 288.700 ton atau 25,54 persen.

Simulasi 6 : Penetapan Tarif Impor Kedelai Sebesar 0 Persen

Dengan masuknya Indonesia menjadi anggota WTO maka mau tidak mau
harus mengikuti kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat yang tercantum dalam
GATT termasuk perjanjian pertanian yang mengharuskan pembebasan segala
bentuk hambatan perdagangan internasional. Dimana salah satunya adalah
pembebasan tarif impor. Untuk melihat dampak dari pembebasan tarif ini dibuat
simulasi penetapan tarif impor kedelai sebesar 0 persen. Hasil simulasi historis
penetapan tarif impor 0 persen dapat lihat pada Tabel 27.
Tabel 27. Hasil Simulasi Historis Penetapan Tarif Impor Kedelai 0 Persen
Peubah Satuan Nilai Simulasi Perubahan
Endogen Dasar 6 Unit (%)
Produksi Kedelai 000 Ton 1011,24 966,9 -44,34 -4,38
Luas Areal Panen Kedelai 000 Ha 789,7 755,5 -34,20 -4,33
Produktivitas Kedelai Ku/Ha 12,82 12,24 -0,58 -4,52
Harga Kedelai Tingkat Petani Rp/Kg 3252,1 3089,3 -162,80 -5,01
Harga Kedelai Pedagang Besar Rp/Kg 4170,4 4002,7 -167,70 -4,02
Penawaran Kedelai Nasional 000 Ton 2213,7 2109,7 -104,0 -4,69
Permintaan Kedelai Nasional 000 Ton 2138,3 2126,2 -12,10 -0,57
Persediaan Kedelai Indonesia 000 Ton 153,6 154,5 0,9 0,58
Impor Kedelai Indonesia 000 Ton 1130,0 1164,1 34,10 3,02
Harga impor Kedelai Indonesia US$/Ton 323,7 295,9 -27,80 -8,58
Ekspor Kedelai Amerika 000 Ton 30321,5 30321,5 0 0
Harga Ekspor Kedelai Amerika US$/Ton 294,1 294,1 0 0

Dari tabel terlihat bahwa akibat dari kebijakan penetapan tarif impor sebesar 0
persen ini akan menurunkan produksi kedelai nasional sebesar 44.340 ton atau 4,33
persen. Hal ini terjadi akibat dari menurunnya luas areal panen kedelai sebesar
34.200 hektar atau 4,33 persen serta menurunnya produktivitas kedelai sebesar
0,58 kuintal per hektar atau 4,52 persen. Kondisi ini akan menurunkan penawaran
kedelai sebesar 104.000 ton atau 4,69 persen.
Akibat dari turunnya produksi kedelai domestik akan meningkatkan impor
kedelai sebesar 34.100 ton atau 3,02 persen dan menurunkan harga kedelai impor
sebesar 27,80 US $ per ton atau 8,58 persen. Meningkatnya impor kedelai serta
turunnya harga kedelai impor menyebabkan turunnya harga kedelai baik di tingkat
tingkat pedagang besar maupun di tingkat petani. Harga kedelai di tingkat
pedagang besar turun 167,70 rupiah per kilogram atau 4,02 persen serta harga
kedelai di tingkat petani turun 162,80 rupiah per kilogram atau 5,01 persen.

Simulasi 7 : Penetapan Tarif Impor Kedelai Sebesar 27 Persen

Untuk menumbuhkan agribisnis kedelai dalam negeri, kebijakan lain yang


dapat dilakukan adalah kebijakan makro dalam tata niaga kedelai. Untuk
komoditas pertanian tertentu masih diperbolehkan adanya tarif impor termasuk
komoditas kedelai, tarif impor kedelai yang masih diperbolehkan adalah sebesar 27
persen. Dalam simulasi penelitian ini ditetapkan tarif impor kedelai sebesar 27
persen, dimana dampaknya dapat dilihat pada Tabel 28.
Tabel 28. Hasil Simulasi Historis Penetapan Tarif Impor 27 Persen
Peubah Satuan Nilai Simulasi Perubahan
Endogen Dasar 7 Unit (%)
Produksi Kedelai 000 Ton 1011,24 1208,81 197,57 19,54
Luas Areal Panen Kedelai 000 Ha 789,7 939,5 149,8 18,96
Produktivitas Kedelai Ku/Ha 12,82 12,92 0,10 0,78
Harga Kedelai Tingkat Petani Rp/Kg 3252,1 3964,8 712,70 21,91
Harga Kedelai Pedagang Besar Rp/Kg 4170,4 5029,2 858,80 20,59
Penawaran Kedelai Nasional 000 Ton 2213,7 2132,15 -81,55 -3,68
Permintaan Kedelai Nasional 000 Ton 2138,3 2111,6 -26,70 -1,25
Persediaan Kedelai Indonesia 000 Ton 153,6 146,9 -6,7 -4,36
Impor Kedelai Indonesia 000 Ton 1130,0 980,8 -149,20 -13,20
Harga impor Kedelai Indonesia US$/Ton 323,7 354,6 30,90 9,56
Ekspor Kedelai Amerika 000 Ton 30321,5 30321,5 0 0
Harga Ekspor Kedelai Amerika US$/Ton 294,1 294,1 0 0

Dari tabel diatas, terlihat bahwa kebijakan penetapan tarif impor sebesar 27
persen akan mengakibatkan meningkatnya produksi kedelai sebesar 197.570 ton
atau naik sekitar 18,96 persen. Naiknya produksi kedelai ini akibat dari
meningkatnya luas areal panen kedelai sebesar 149.800 hektar atau sekitar 18,96
persen serta meningkatkan produktivitas kedelai sebesar 0,10 kuintal per hektar
atau sekitar 0,78 persen. Disisi lain dampak dari kebijakan ini adalah menurunnya
impor kedelai Indonesia sebesar 149.200 ton atau turun sekitar 13,20 persen,
namun akan menaikkan harga kedelai impor sebesar 30,90 US $ per ton atau naik
sekitar 9,56 persen. Naiknya harga kedelai impor ini akan mengakibatkan
meningkatnya harga kedelai di tingkat pedagang besar sebesar 858,80 rupiah per
kilogram atau naik sekitar 20,59 persen serta akan meningkatkan harga kedelai di
tingkat petani sebesar 712,70 rupiah per kilogram atau naik sekitar 21,91 persen.
Naiknya produksi kedelai domestik akibat penetapan tarif impor ini diduga
karena jumlah kedelai impor yang masuk ke Indonesia kecil. Dengan adanya tarif
impor ini akan menghambat laju volume kedelai impor. Berdasarkan model
ekonometrika yang telah diuaraikan sebelumnya bahwa tarif impor berpengaruh
nyata terhadap harga kedelai di tingkat pedagang besar dan harga kedelai di tingkat
pedagang besar ini akan mempengaruhi harga kedelai di tingkat petani. Naiknya
harga kedelai inilah yang mendorong minat petani untuk memperluas areal panen
kedelai sehingga produksi kedelai meningkat.
Naiknya harga kedelai ini baik di tingkat petani maupun di tingkat pedagang
besar akan mengakibatkan menurunnya penawaran dan jumlah permintaan kedelai
nasional serta persediaan kedelai Indonesia. Penawaran kedelai nasional turun
sebesar 81.550 ton atau turun sekitar 3,68 persen dan jumlah permintaan kedelai
nasional turun sebesar 26.700 ton atau turun 1,25 persen, serta persediaan kedelai
Indonesia turun sebesar 6.700 ton atau turun sekitar 4,36 persen.
Masa Depan Kinerja Kedelai Periode 2011 – 2017

Untuk mengetahui perkembangan kinerja kedelai di masa yang akan datang,


dilakukan simulasi peramalan terhadap peubah endogen dalam model penelitian
kebijakan pengembangan kedelai di Indonesia. Untuk melakukan simulasi
peramalan, sebelumnya dilakukan peramalan (forecasting) terhadap peubah-
peubah eksogen dalam model terlebih dahulu. Peramalan terhadap peubah eksogen
dilakukan dengan menggunakan metode trend linear.

Peramalan Tanpa Alternatif Kebijakan

Hasil simulasi peramalan tanpa alternatif kebijakan menunjukkan bahwa


produksi kedelai Indonesia cenderung meningkat dengan laju pertumbuhan rata-
rata 11,50 persen per tahun. Namun peningkatan produksi kedelai ini sampai tahun
2017 masih belum mampu memenuhi permintaan kedelai nasional yang terus
meningkat dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar 2,43 persen per tahun.
Secara rinci hasil peramalan tanpa altenatif kebijakan dapat dilihat pada Tabel 29.

Tabel 29. Rangkuman Hasil Simulasi Peramalan Tanpa Kebijakan


Peubah T a h u n Pertum
2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 (%)
LAPK 799,54 932,93 1060,99 1177,86 1277,65 1356,50 1412,99 10,04
YSKD 13,57 13,77 13,96 14,15 14,33 14,51 14,68 1,33
PROK 1085,06 1284,99 1482,01 1667,28 1831,74 1968,75 2075,15 11,50
HKDP 6520,37 6765,87 6981,50 7151,11 7276,13 7365,97 7433,05 2,26
HKPB 6832,09 6976,20 6883,56 6788,55 6554,53 6328,33 5984,53 -2,15
SNKD 2998,89 3131,48 3278,43 3219,82 3288,45 3381,56 3298,43 1,64
DKDN 2801,49 2991,78 3012,08 3106,87 3092,54 3199,69 3230,65 2,43
SKDI 195,15 212,21 202,23 198,87 184,33 199,23 192,36 -0,05
MKDI 1739,87 1699,28 1536,31 1430,35 1280,65 1197,73 1007,19 -8,61
HKDM 419,23 512,45 595,43 561,24 652,16 685,82 700,19 9,36
XKDA 49906,54 49440,72 49246,58 48616,58 43539,31 47072,99 42999,60 -2,26
HXKA 400,32 496,19 586,56 555,68 544,38 552,16 612,94 7,88

Dari tabel diatas terlihat bahwa tanpa alternatif kebijakan produksi kedelai
Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dengan laju pertumbuhan
11,50 persen. Meningkatnya produksi kedelai akibat dari naiknya luas areal panen
kedelai yang terjadi dari tahun ke tahun dengan laju pertumbuhan rata-rata sebesar
10,04 persen per tahun dan peningkatan produktivitas kedelai dengan laju
pertumbuhan 1.33 persen per tahun. Peningkatan produksi kedelai domestik ini
akan menyebabkan meningkatnya penawaran kedelai nasional dengan laju
pertumbuhan sebesar 1,64 persen per tahun.
Peramalan pengembangan kedelai tanpa kebijakan (peramalan peubah
endogen) ini menyebabkan turunnya impor kedelai Indonesia dengan laju
penurunan rata-rata sekitar 8,61 persen per tahun, dimana hal ini mengakibatkan
terjadinya penurunan harga kedelai di tingkat pedagang besar dengan laju
penurunan sebesar 2,15 persen per tahun. Namun tidak demikian dengan harga
kedelai di tingkat petani. Harga kedelai di tingkat petani justru mengalami
kenaikkan dengan laju pertumbuhan rata-rata 2,26 persen per tahun. Hal ini karena
jumlah permintaan akan kedelai yang terus meningkat dengan laju peningkatan
sebesar rata-rata 2,43 persen per tahun.
Sementara itu hasil peramalan terhadap kinerja pasar kedelai dunia,
mengakibatkan menurunnya ekspor kedelai dari Amerika dengan laju penurunan
sekitar 2,26 persen per tahun, namun hal ini justru meningkatkan harga ekspor
kedelai Amerika sekitar 7,88 persen per tahun.
Dengan kondisi kebijakan yang ada sekarang, berdasarkan peramalan terhadap
peubah endogen maka swasembada kedelai akan tercapai pada tahun 2022. Hal ini
terlihat dari tren kenaikkan produksi kedelai yang cukup tinggi sementara
pertumbuhan permintaan kedelai rendah, disamping itu juga pertumbuhan impor
kedelai sangat rendah atau bernilai negatif.

Simulasi 1 : Peningkatan Harga Kedelai Petani Sebesar 35 Persen

Pada awal tahun 2009 Pemerintah mewacanakan penetapan harga kedelai


melalui HPP kedelai yang telah diusulkan kepada Komisi IV DPR-RI. Hal ini akan
menaikkan harga kedelai di tingkat petani yang akan dituangkan dalam bentuk
Keppres dengan tujuan untuk meningkatkan minat petani agar mau berusahatani
kedelai sehingga dapat meningkatkan produksi kedelai nasional dan sekaligus
meningkatkan pendapatan petani dan pada akhirnya akan menekan atau
mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor. Simulasi
peningkatan harga kedelai petani tersebut sebesar 35 persen, rincian hasil simulasi
dapat dilihat pada Tabel 30.

Tabel 30. Hasil Simulasi Peramalan Peningkatan Harga Kedelai Petani 35 Persen
Peubah Satuan Nilai Simulasi Perubahan
Endogen Dasar 1 Unit (%)
Produksi Kedelai 000 Ton 1871,7 2538,5 666,8 36,52
Luas Areal Panen Kedelai 000 Ha 1321,8 1776,7 454,9 34,14
Produktivitas Kedelai Ku/Ha 14,14 14,45 0,31 2,19
Harga Kedelai Tingkat Petani Rp/Kg 7804,9 10536,5 2731,6 35,0
Harga Kedelai Pedagang Besar Rp/Kg 8660,3 10721,4 2061,1 23,79
Penawaran Kedelai Nasional 000 Ton 2992,3 3138,9 146,6 4,89
Permintaan Kedelai Nasional 000 Ton 2920,4 2912,9 -7,5 -0,26
Persediaan Kedelai Indonesia 000 Ton 112,6 120,2 7,6 6,7
Impor Kedelai Indonesia 000 Ton 1034,8 481,2 -553,6 -53,34
Harga impor Kedelai Indonesia US$/Ton 567,0 567,4 0 0
Ekspor Kedelai Amerika 000 Ton 43741,2 43741,2 0 0
Harga Ekspor Kedelai Amerika US$/Ton 437,2 437,2 0 0

Dari tabel diatas terlihat bahwa hasil simulasi peramalan kebijakan


peningkatan harga kedelai di tingkat petani sebesar 35 persen akan berdampak
pada meningkatnya produksi kedelai nasional sebesar 666.800 ton atau naik sekitar
36,52 persen, dimana peningkatan ini akibat terjadinya peningkatan luas areal
panen sebesar 454.900 hektar atau naik sekitar 34,14 persen dan kenaikkan
produktivitas kedelai sebesar 0,31 kuintal per kektar atau naik sekitar 2,19 persen.
Peningkatan produksi kedelai ini menyebabkan turunnya impor kedelai Indonesia
sebesar 553.600 ton atau turun 53,34 persen. Dampak lain dari kenaikkan harga
kedelai petani adalah meningkatnya penawaran kedelai nasional sebesar 146.600
ton atau 4,89 persen, namun akan menurunkan jumlah permintaan kedelai nasional
sebesar 7.500 ton atau turun 0,26 persen. Selain itu akibat peningkatan harga
kedelai di tingkat petani ini akan menyebabkan naiknya harga kedelai di tingkat
pedagang besar sebesar 2.061,1 rupiah per kilogram atau naik 23,79 persen.
Dengan kebijakan menaikkan harga kedelai di tingkat petani menunjukkan
adanya peningkatan luas areal panen kedelai, produksi dan harga riil kedelai
petani. Sebaliknya semakin besar persentase harga kedelai di tingkat petani maka
jumlah impor kedelai akan semakin menurun. Hal ini diduga dengan membaiknya
harga kedelai petani maka akan meningkatkan minat petani untuk menanam
kedelai karena insentif yang diterima cukup besar, sehingga luas areal panen dan
produksi kedelai akan meningkat yang mengakibatkan jumlah kedelai impor
semakin menurun. Kondisi ini menunjukkan bahwa apabila pemerintah ingin
meningkatkan produksi kedelai domestik dan meningkatkan pendapatan para
petani kedelai maka harus membuat kebijakan penentuan harga dasar kedelai,
karena kebijakan ini akan menguntungkan dari sisi petani dan penawaran kedelai.

Simulasi 2 : Penurunan Harga Pupuk Urea Sebesar 20 Persen

Pemerintah pada saat sekarang telah ini telah memberikan dorongan dalam
peningkatan produksi pertanian khususnya sub sektor tanaman pangan dengan
memberikan subsidi input terutama benih dan pupuk. Demikian juga untuk
tanaman kedelai, diharapkan dengan adanya subsidi input ini dapat meningkatkan
produksinya. Simulasi subsidi pupuk dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
penurunan harga pupuk sebesar 20 persen. Hasil simulasi peramalan penurunan
harga pupuk dapat dilihat pada Tabel 31.

Tabel 31. Hasil Simulasi Peramalan Penurunan Harga Pupuk Urea 20 Persen
Peubah Satuan Nilai Simulasi Perubahan
Endogen Dasar 2 Unit (%)
Produksi Kedelai 000 Ton 1871,7 2463,2 591,5 31,61
Luas Areal Panen Kedelai 000 Ha 1321,8 1683,0 361,2 27,34
Produktivitas Kedelai Ku/Ha 14,14 14,55 0,41 2,89
Harga Kedelai Tingkat Petani Rp/Kg 7804,9 7383,7 -421,2 -5,39
Harga Kedelai Pedagang Besar Rp/Kg 8660,3 8197,2 -463,1 -5,34
Penawaran Kedelai Nasional 000 Ton 2992,3 3043,8 51,5 1,72
Permintaan Kedelai Nasional 000 Ton 2920,4 3093,4 173,0 5,92
Persediaan Kedelai Indonesia 000 Ton 112,6 101,7 10,9 9,73
Impor Kedelai Indonesia 000 Ton 1034,8 607,6 -427,2 -41,31
Harga impor Kedelai Indonesia US$/Ton 567,0 567,0 0 0
Ekspor Kedelai Amerika 000 Ton 43741,2 43741,2 0 0
Harga Ekspor Kedelai Amerika US$/Ton 437,2 437,2 0 0
Dari tabel diatas terlihat bahwa dengan penurunan harga pupuk sebesar 20
persen akan meningkatkan produksi kedelai sebesar 591.500 ton atau meningkat
sekitar 31,61 persen. Peningkatan produksi kedelai ini disebabkan oleh
peningkatan luas areal panen sebesar 361.200 hektar atau sekitar 27,34 persen dan
peningkatan produktivitas sebesar 0,41 kuintal per hektar atau 2,89 persen. Dalam
upaya meningkatkan produksi kedelai peran pupuk khususnya pupupk urea yang
merupakan starter dalam pertumbuhan tanaman kedelai sangat diperlukan.
Kemampuan permodalan petani sangat menentukan dalam melaksanakan dosis
anjuran pemupukan yang ideal, apabila harga pupuk mahal maka kemampuan
petani dalam membeli pupuk sangat terbatas sehingga dengan murahnya harga
pupuk terutama pupuk urea akan meningkatkan daya beli petani untuk sarana
produksinya termasuk pupuk. Murahnya harga pupuk urea ini akan mendorong
petani untuk meningkatkan produksi melalui perluasan areal tanam.
Meningkatnya produksi kedelai ini akan meningkatkan penawaran kedelai
sebesar 51.500 ton atau sekitar 1,72 persen. Namun peningkatan produksi ini
mengakibatkan menurunnya harga kedelai baik di tingkat petani maupun di tingkat
pedagang besar dengan penurunan masing-masing sebesar 421,2 rupiah per
kilogram atau 5,39 persen untuk harga kedelai di tingkat petani dan sebesar 463,1
rupiah per kilogram atau 5,34 persen di tingkat pedagang besar. Sementara jumlah
permintaan kedelai secara nasional meningkat sebesar 173.000 ton atau 5,92
persen. Penurunan harga pupuk ini juga menyebabkan penurunan kedelai impor
sebesar 427.200 ton atau 41,31 persen.

Simulasi 3 : Penurunan Harga Benih Kedelai Sebesar 20 Persen

Pemerintah selain memberikan subsidi terhadap pupuk urea juga memberikan


subsidi terhadap benih kedelai. Diharapkan dengan adanya subsidi ini para petani
makin berminat mengusahakan kedelai dengan menggunakan benih kedelai unggul
yang bersertifikat. Simulasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan
menurunkan harga benih kedelai sebesar 20 persen. Hasil simulasi peramalannya
dapat dilihat pada Tabel 32.
Tabel 32. Hasil Simulasi Peramalan Penurunan Harga Benih Kedelai 20 Persen

Peubah Satuan Nilai Simulasi Perubahan


Endogen Dasar 3 Unit (%)
Produksi Kedelai 000 Ton 1871,7 2241,9 370,2 18,78
Luas Areal Panen Kedelai 000 Ha 1321,8 1516,0 194,2 14,69
Produktivitas Kedelai Ku/Ha 14,14 14,82 0,68 4,80
Harga Kedelai Tingkat Petani Rp/Kg 7804,9 7271,2 -533,7 -6,83
Harga Kedelai Pedagang Besar Rp/Kg 8660,3 8358,4 -301,9 -3,48
Penawaran Kedelai Nasional 000 Ton 2992,3 3064,3 72,0 2,4
Permintaan Kedelai Nasional 000 Ton 2920,4 3033,2 112,8 3,86
Persediaan Kedelai Indonesia 000 Ton 112,6 105,5 -7,1 -6,33
Impor Kedelai Indonesia 000 Ton 1034,8 754,3 -280,5 -27,12
Harga impor Kedelai Indonesia US$/Ton 567,0 567,0 0 0
Ekspor Kedelai Amerika 000 Ton 43741,2 43741,2 0 0
Harga Ekspor Kedelai Amerika US$/Ton 437,2 437,2 0 0

Dari tabel diatas terlihat bahwa dampak dari penurunan harga benih kedelai 20
persen ini akan meningkatkan produksi kedelai sebesar 370.200 ton atau 18,78
persen, dimana peningkatan ini karena adanya peningkatan luas areal panen
kedelai sebesar 194.200 hektar atau 14,69 persen dan peningkatan produktivitas
kedelai sebesar 0,68 kuintal per hektar atau 4,80 persen. Meningkatnya produksi
kedelai domestik sebagai akibat dari peningkatan luas areal panen dan
produktivitas ini diduga karena harga benih yang cukup murah sehingga petani
mampu membeli benih kedelai unggul bermutu. Ditjen Tanaman Pangan (2012),
menyatakan bahwa salah satu komponen yang paling mudah dan cepat menyebar
adalah benih unggul bermutu yang berdaya hasil tinggi. Oleh karena itu agar dapat
diadopsi oleh para petani maka benih unggul bermutu ini harganya harus lebih
murah sehingga dapat dibeli oleh para petani.
Peningkatan produksi kedelai nasional ini menyebabkan meningkatnya
penawaran kedelai secara nasional sebesar 72.000 ton atau 2,40 persen dan
meningkatkan persediaan kedelai nasional sebesar 7.900 ton atau 3,53 persen.
Sementara jumlah permintaan kedelai meningkat hanya sebesar 112.800 ton atau
sekitar 3,86 persen. Selain itu peningkatan produksi akibat dari penurunan harga
benih ini menyebabkan turunnya harga kedelai di tingkat petani sebesar 533,7
rupiah ker kilogram atau 6,83 persen, serta harga kedelai di tingkat pedagang besar
juga mengalami penurunan sebesar 301.90 rupiah per kilogram atau 3,48 persen.
Sealin itu juga impor kedelai Indonesia mengalami penurunan sebesar 280.500 ton
atau 27,12 persen namun tidak menurunkan harga kedelai impor. Hal ini diduga
karena impor kedelai dilakukan hanya untuk memenuhi kekurangan pasokan yang
sebagian besar telah dipenuhi oleh produksi domestik sehingga harga kedelai
impor ini tidak mengalami perubahan.
Simulasi 4 : Swasembada Plus (Impor Kedelai 10 Persen, Harga Pupuk Urea
dan Benih Turun 15 Persen)

Pemerintah sejak pertengahan tahun enam puluhan hingga kini telah


mencanangkan program swasembada kedelai, namun belum berhasil dicapai.
Seperti pada tahun 2010 kebutuhan kedelai untuk konsumsi sebesar 2,6 juta ton
sementara produksi dalam negeri baru 0,9 juta ton sehingga dilakukan impor.
Untuk itu dalam penelitian ini dilakukan simulasi swasembada plus dimana
swasembada plus ini dibuat kebijakan kombinasi antara kebijakan impor kedelai
sebesar 10 persen dan subsidi pupuk urea dan benih sebesar 20 persen. Hasil
simulasi peramalannya dapat dilihat pada Tabel 33.

Tabel 33. Hasil Simulasi Peramalan Swasembada Plus

Peubah Satuan Nilai Simulasi Perubahan


Endogen Dasar 4 Unit (%)
Produksi Kedelai 000 Ton 1871,7 2585,1 713,4 38,12
Luas Areal Panen Kedelai 000 Ha 1321,8 1741,1 419,3 31,72
Produktivitas Kedelai Ku/Ha 14,14 14,76 0,62 4,38
Harga Kedelai Tingkat Petani Rp/Kg 7804,9 6811,6 -993,3 -12,72
Harga Kedelai Pedagang Besar Rp/Kg 8660,3 8100,3 -560,0 -6,46
Penawaran Kedelai Nasional 000 Ton 2992,3 3243,5 251,2 8,39
Permintaan Kedelai Nasional 000 Ton 2920,4 3129,7 209,3 7,16
Persediaan Kedelai Indonesia 000 Ton 112,6 99,41 -13,19 -11,71
Impor Kedelai Indonesia 000 Ton 1034,8 519,7 -515,1 -48,91
Harga impor Kedelai Indonesia US$/Ton 567,0 567,0 0 0
Ekspor Kedelai Amerika 000 Ton 43741,2 43741,2 0 0
Harga Ekspor Kedelai Amerika US$/Ton 437,2 437,2 0 0

Dari tabel diatas terlihat bahwa dampak dari kebijakan swasembada plus ini
akan meningkatkan produksi kedelai sebesar 713.400 ton atau 38,12 persen.
Peningkatan produksi ini akibat dari peningkatan luas areal panen sebesar 419.300
hektar atau naik sekitar 31,72 persen dan peningkatan produktivitas sebesar 0,62
kuintal per hektar atau 4,38 persen. Walaupun kebijakan swasembada plus ini
masih belum mencapai swasembada kedelai namun kebijakan ini mampu menekan
impor kedelai sebesar 515.100 ton atau 48,91 persen. Meningkatnya produksi
kedelai domestik ini diduga karena jumlah kedelai impor cukup kecil sehingga
kedelai petani mampu memenuhi kebutuhan akan kedelai, selain itu juga karena
harga pupuk urea dan harga benih cukup murah sehingga petani mampu
meningkatkan konsumsi sarana produksi ini untuk memperluas areal panen dan
meningkatkan produktivitasnya yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi
kedelai secara nasional.
Peningkatan produksi kedelai akibat kebijakan swasembada plus ini
menyebabkan meningkatnya penawaran kedelai nasional sebesar 251.200 ton atau
8,39. Disisi lain jumlah permintaan kedelai nasional meningkat sebesar 209.300
ton atau 7,16 persen. Meningkatnya produksi kedelai domestik mengakibatkan
turunnya harga kedelai di tingkat petani sebesar 993,3 rupiah per kilogram atau
12,72 persen. Selain itu juga akan menurunkan harga di tingkat pedagang besar
sebesar 560,0 rupiah per kilogram atau 6,46 persen. Turunnya harga kedelai ini
baik di tingkat petani maupun di tingkat pedagang besar mengakibatkan
meningkatnya permintaan kedelai nasional sebesar 209.300 ton atau 7,16 persen.

Simulasi 5 : Kombinasi Kebijakan Ektensifikasi dan Intensifikasi Usahatani


Kedelai (Perluasan Areal Panen 15 Persen, Harga Pupuk Urea
Turun 25 Persen dan Harga Benih Turun 20 Persen)

Untuk pencapaian program swasembada kedelai Pemerintah juga melakukan


kegiatan ekstensifikasi dan intensifikasi usahatani kedelai. Pada penelitian ini
dilakukan kombinasi kebijakan dari perluasan areal panen kedelai sebesar 15
persen dengan subsidi pupuk urea 25 persen dan benih kedelai 20 persen. Hasil
simulasi peramalannya dapat dilihat pada Tabel 34.

Tabel 34. Hasil Simulasi Peramalan Kombinasi Kebijakan Ekstensifikasi dan


Intensifikasi Usahatani Kedelai

Peubah Satuan Nilai Simulasi Perubahan


Endogen Dasar 5 Unit (%)
Produksi Kedelai 000 Ton 1871,7 2672,5 800,8 42,80
Luas Areal Panen Kedelai 000 Ha 1321,8 1791,3 469,5 35,51
Produktivitas Kedelai Ku/Ha 14,14 14,83 0,69 4,87
Harga Kedelai Tingkat Petani Rp/Kg 7804,9 6871,3 -933,6 -11,96
Harga Kedelai Pedagang Besar Rp/Kg 8660,3 8037,8 -622,5 -7,18
Penawaran Kedelai Nasional 000 Ton 2992,3 3073,3 81,0 2,70
Permintaan Kedelai Nasional 000 Ton 2920,4 3153,0 232,6 7,96
Persediaan Kedelai Indonesia 000 Ton 112,6 84,32 -28,2 -25,11
Impor Kedelai Indonesia 000 Ton 1034,8 617,2 -417,6 -40,38
Harga impor Kedelai Indonesia US$/Ton 567,0 583,7 16,7 2,94
Ekspor Kedelai Amerika 000 Ton 43741,2 43741,2 0 0
Harga Ekspor Kedelai Amerika US$/Ton 437,2 437,2 0 0

Dari tabel diatas terlihat bahwa dampak dari kombinasi kebijakan


ekstensifikasi dan intensifikasi usahatani kedelai ini akan mengakibatkan
meningkatnya produksi kedelai sebesar 800.800 ton atau 42,80 persen.
Meningkatnya produksi kedelai ini akibat dari meningkatnya luas areal panen
kedelai sebesar 469.500 hektar atau 35,51 persen dan peningkatan produktivitas
kedelai sebesar 0,69 kuintal per hektar atau 4,87 persen. Meningkatnya produksi
kedelai ini diduga karena adanya perluasan areal panen kedelai serta murahnya
harga pupuk dan benih kedelai. Penambahan areal panen kedelai akan
meningkatkan produksi (ceteris paribus). Murahnya harga sarana produksi
khususnya pupuk urea dan benih kedelai akan meningkatkan daya beli petani
sehingga mendorong petani untuk memperluas areal panen kedelai agar
produksinya meningkat. Seiring dengan meningkatnya produksi kedelai domestik
ini impor kedelai Indonesia mengalami penurunan sebesar 417.600 ton atau 40,38
persen dan penurunan harga kedelai impor sebesar 16,7 US $ per ton atau 2,94
persen. Kondisi ini akan menyebabkan turunnya harga kedelai di tingkat pedagang
besar sebesar 622,5 rupiah per kilogram atau 7,18 persen serta berdampak terhadap
penurunan harga kedelai di tingkat petani sebesar 933,6 rupiah per kilogram atau
11,96 persen.
Peningkatan produksi kedelai domestik juga menyebabkan peningkatan
penawaran kedelai nasional sebesar 81.000 ton atau 2,70 persen dan peningkatan
jumlah permintaan kedelai nasional sebesar 232.600 ton atau 7,96 persen.
Meningkatnya jumlah permintaan kedelai ini akibat murahnya harga kedelai. Hal
ini terlihat dari hasil simulasi bahwa kombinasi kebijakan ekstensifikasi dan
intensifikasi usahatani kedelai ini akan meningkatkan produksi.

Simulasi 6 : Penetapan Tarif Impor Kedelai Sebesar 27 Persen

Indonesia sebagai negara net importir kedelai, telah mengimpor kedelai yang
cukup tinggi. Hal ini akan menurunkan minat petani dalam berusahatani kedelai
karena harga kedelai mereka tidak mampu bersaing dengan harga kedelai impor.
Agar tidak menurunkan minat petani dalam berusahatani kedelai maka harus
dibuat kebijakan perdagangan kedelai, dimana salah satunya adalah kebijakan
penetapan tarif impor sebesar 27 persen. Besaran tarif impor ini masih mengacu
pada kesepakatan WTO yang membolehkan Indonesia menggunakan tarif sebagai
alat untuk melindungi produsen kedelai domestik. Simulasi yang dilakukan pada
penelitian ini adalah kebijakan penetapan tarif impor sebesar 27 persen. Hasil
simulasi peramalannya dapat dilihat pada Tabel 35.

Tabel 35. Hasil Simulasi Peramalan Penetapan Tarif Impor Kedelai 27 Persen
Peubah Satuan Nilai Simulasi Perubahan
Endogen Dasar 6 Unit (%)
Produksi Kedelai 000 Ton 1871,7 2068,3 196,6 10,50
Luas Areal Panen Kedelai 000 Ha 1321,8 1451,9 130,1 9,84
Produktivitas Kedelai Ku/Ha 14,14 14,41 0,27 1,90
Harga Kedelai Tingkat Petani Rp/Kg 7804,9 8304,6 499,7 6,40
Harga Kedelai Pedagang Besar Rp/Kg 8660,3 8852,3 192,0 2,21
Penawaran Kedelai Nasional 000 Ton 2992,3 3065,1 72,8 2,43
Permintaan Kedelai Nasional 000 Ton 2920,4 2901,5 -18,9 -0,65
Persediaan Kedelai Indonesia 000 Ton 112,6 108,9 3,7 3,30
Impor Kedelai Indonesia 000 Ton 1034,8 868,1 -166,7 -16,12
Harga impor Kedelai Indonesia US$/Ton 567,0 635,9 68,9 12,15
Ekspor Kedelai Amerika 000 Ton 43741,2 43741,2 0 0
Harga Ekspor Kedelai Amerika US$/Ton 437,2 437,3 0 0

Dari tabel diatas terlihat bahwa kebijakan penetapan tarif impor sebesar 27
persen akan mengakibatkan meningkatnya produksi kedelai dalam negeri sebesar
196.600 ton atau 10,50 persen. Peningkatan ini karena terjadi peningkatan luas
areal panen kedelai sebesar 130.100 hektar atau 9,84 persen dan meningkatnya
produktivitas kedelai sebesar 0,27 kuintal per hektar atau 1,90 persen. Peningkatan
produksi kedelai ini menyebabkan meningkatnya penawaran kedelai nasional
sebesar 72.800 ton atau 2,43 persen dan persediaan kedelai Indonesia sebesar
3.700 ton atau sekitar 3,30 persen.
Naiknya produksi kedelai domestik akibat penetapan tarif impor ini diduga
karena dengan adanya tarif impor ini akan menekan volume kedelai impor.
Rendahnya kedelai impor ini akan mengakibatkan meningkatnya harga kedelai
dimana dengan naiknya harga kedelai inilah yang mendorong minat petani untuk
menanam kedelai, sehingga akan terjadi peningkatan luas areal panen dan produksi
kedelai secara nasional.
Selain meningkatkan produksi kedelai dalam negeri kebijakan penetapan tarif
ini juga akan menekan impor kedelai sebesar 166.700 ton atau sekitar 16,12 persen
dan meningkatkan harga kedelai baik di tingkat petani maupun di tingkat pedagang
besar. Harga di tingkat petani naik sebesar 499,7 rupiah per kilogram atau 6,40
persen, sedangkan harga di tingkat pedagang besar naik sebesar 192,0 rupiah per
kilogram atau 2,21 persen.

Simulasi 7 : Penurunan Produksi Kedelai Amerika 20 Persen

Kebijakan pemerintah Amerika yang akan menggunakan energi alternatif yang


berasal dari biji jagung telah mengurangi luas areal tanam kedelai sehingga
produksi kedelai akan turun. Kondisi ini menyebabkan Amerika sebagai negara
pengekspor kedelai terbesar dunia mengurangi volume ekspornya. Pada penelitian
ini dilakukan simulasi penurunan produksi kedelai di Amerika sebesar 20 persen.
Hasil simulasi peramalannya dapat dilihat pada Tabel 36.
Tabel 36. Simulasi Peramalan Penurunan Produksi Kedelai Amerika 20 Persen

Peubah Satuan Nilai Simulasi Perubahan


Endogen Dasar 7 Unit (%)
Produksi Kedelai 000 Ton 1871,7 2068,8 197,1 10,53
Luas Areal Panen Kedelai 000 Ha 1321,8 1451,8 130,0 9,84
Produktivitas Kedelai Ku/Ha 14,14 14,14 0 0
Harga Kedelai Tingkat Petani Rp/Kg 7804,9 8304,0 499,1 6,39
Harga Kedelai Pedagang Besar Rp/Kg 8660,3 8825,4 165,1 1,91
Penawaran Kedelai Nasional 000 Ton 2992,3 2903,2 -89,1 -2,97
Permintaan Kedelai Nasional 000 Ton 2920,4 2870,8 -49,6 -1,65
Persediaan Kedelai Indonesia 000 Ton 112,6 103,4 -9,2 -8,17
Impor Kedelai Indonesia 000 Ton 1034,8 874,8 -160,0 -15,47
Harga impor Kedelai Indonesia US$/Ton 567,0 635,9 68,9 12,15
Ekspor Kedelai Amerika 000 Ton 43741,2 43383,1 -358,1 -0,81
Harga Ekspor Kedelai Amerika US$/Ton 437,2 552,7 115,5 26,41

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa kebijakan pemerintah Amerika
menurunkan produksinya sebesar 20 persen akan mengakibatkan peningkatan
produksi kedelai Indonesia sebesar 197.100 ton atau sekitar 10,53 persen.
Peningkatan ini karena adanya peningkatan luas areal panen kedelai sebesar
130.000 hektar atau 9,84 persen. Disisi lain kebijakan ini juga akan menurunkan
impor kedelai Indonesia sebesar 160.000 ton atau 15,47 persen. Namun akan
meningkatkan harga kedelai impor sebesar 68,9 US $ per ton atau 12,15 persen.
Kondisi ini akan mengakibatkan meningkatnya harga kedelai di tingkat pedagang
besar naik sebesar 165,1 rupiah per kilogramnya atau 1,91 persen. Demikian juga
dengan harga kedelai di tingkat petani akan meningkat sebesar 499,1 rupiah per
kilogram atau 6,39 persen. Kondisi ini akan menyebabkan turunnya jumlah
permintaan kedelai nasional sebesar 49.600 ton atau 1,65 persen.
Turunnya produksi kedelai di Amerika akan menyebabkan kinerja ekspor
kedelai Amerika mengalami penurunan. Ekspor kedelai Amerika akan turun
sebesar 358.100 ton atau turun sekitar 0,81 persen. Namun harga ekspor kedelai
Amerika meningkat sebesar 115,5 US $ per ton atau 26,41 persen.

Rekapitulasi Hasil Simulasi

Rekapitulasi Simulasi Historis Tahun 1998 - 2010

Secara keseluruhan dapat dibuat rekapitulasi dampak kebijakan dalam upaya


pengembangan kedelai di Indonesia. Simulasi historis yang dilakukan seperti
dalam Tabel 48 dengan mensimulasikan tujuh skenario, yaitu kenaikan harga
kedelai di tingkat petani sebesar 35 persen (Simulasi 1), peningkatan harga pupuk
urea sebesar 60 persen (Simulasi 2), peningkatan harga benih kedelai sebesar 25
persen (Simulasi 3), swasembada plus (Simulasi 4), kombinasi kebijakan
ekstensifikasi dan intensifikasi usahatani kedelai (Simulasi 5), penetapan tarif
impor kedelai 0 persen (Simulasi 6) dan penetapan tarif impor kedelai 27 persen
(Simulasi 7). Hasil rekapitulasi dapat dilihat pada Tabel 37.

Tabel 37. Rekapitulasi Dampak Simulasi Kebijakan Historis Tahun 1998-2010


Indikator Nilai Perubahan (%)
Kesejahteraan Dasar Sim 1 Sim 2 Sim 3 Sim 4 Sim 5 Sim 6 Sim 7
Produksi Kedelai 1011,24 29,89 -19,24 -8,65 34,91 40,38 -4,38 19,54

Luas Areal Panen Kedelai 789,7 27,31 -16,09 -7,09 30,04 35,39 -4,33 18,96
Produktivitas Kedelai 12,82 1,40 -3,82 -1,72 3,66 8,58 -4,52 0,78
Harga Kedelai Tingkat Petani 3252,1 35,0 12,35 5,56 -12,55 -13,90 -5,01 21,91
Harga Kedelai Pedagang Besar 4170,4 7,6 3,91 1,76 -7,22 -8,28 -4,02 20,59
Penawaran Kedelai Nasional 2213,7 11,27 11,49 -4,87 1,46 13,44 -4,69 -3,68
Permintaan Kedelai Nasional 2138,3 -1,26 -2,84 -1,28 5,26 6,04 -0,57 -1,25
Persediaan Kedelai Indonesia 153,6 -8,75 2,21 0,98 -4,10 -4,75 0,58 -4,36
Impor Kedelai Indonesia 1130,0 -28,26 12,23 5,50 -22,01 -25,54 3,02 -13,20
Harga impor Kedelai Indonesia 323,7 0 0 0 -8,68 0 -8,58 9,56
Ekspor Kedelai Amerika 30321,5 0 0 0 0 0 0 0
Harga Ekspor Kedelai Amerika 294,1 0 0 0 0 0 0 0

Dari tabel diatas terlihat bahwa simulasi pertama yaitu kenaikan harga kedelai
di tingkat petani sebesar 35 persen akan berdampak pada kenaikan produksi
kedelai domestik sebesar 29,89 persen. Hal ini karena adanya peningkatan luas
areal panen kedelai sebesar 27,31 persen. Peningkatan produksi ini akan
meningkatkan penawaran kedelai sebesar 11,27 persen, namun jumlah permintaan
akan menurun sebesar 1,26 persen, namun menurunkan persediaan kedelai
nasional sebesar 8,75 persen. Kebijakan ini juga akan menaikkan harga kedelai di
pedagang besar sebesar 7,6 persen serta dapat menurunkan impor sebesar 28,26
persen.
Simulasi kedua yaitu peningkatan harga pupuk urea sebesar 60 persen akan
berdampak kepada penurunan produksi kedelai sebesar 19,24 persen, akibat dari
penurunan luas areal panen kedelai sebesar 16,09 persen dan penurunan
produktivitas kedelai sebesar 3,82 persen. Akibatnya akan menurunkan penawaran
kedelai nasional sebesar 11,49 persen. Namun kebijakan ini akan meningkatkan
harga kedelai baik di tingkat petani maupun pedagang besar dengan kenaikan
masing-masing sebesar 12,35 persen dan 3,91 persen, sehingga akan menurunkan
jumlah permintaan kedelai nasional sebesar 2,84 persen. Disisi lain kebijakan ini
akan meningkatkan impor sebesar 12,23 persen.
Simulasi ketiga yaitu peningkatan harga benih kedelai 25 persen akan
berdampak pada penurunan produksi kedelai sebesar 8,65 persen, akibat dari
penurunan luas areal panen kedelai sebesar 7,09 persen dan penurunan
produktivitas sebesar 1,72 persen. Akibatnya penawaran menurun sebesar 4,87
persen. Namun harga kedelai baik di tingkat petani maupun pedagang besar
mengalami kenaikkan masing-masing sebesar 5,56 persen dan 1,76 persen. Hal ini
mengakibatkan menurunnya permintaan kedelai nasional sebesar 1,28 persen.
Selain itu kebijakan ini akan meningkatkan impor kedelai sebesar 5,50 persen.
Simulasi keempat yaitu swasembada plus akan berdampak pada meningkatnya
produksi kedelai sebesar 34,91 persen, hal ini karena adanya peningkatan luas areal
panen kedelai sebesar 30,04 persen dan produktivitas kedelai sebesar 3,66 persen.
Akibatnya terjadi peningkatan penawaran kedelai sebesar 1,46 persen. Selain itu
juga mengakibatkan penurunan harga baik di tingkat petani maupun pedagang
besar masing-masing sebesar 12,55 persen dan 7,22 persen. Hal ini mengakibatkan
meningkatnya permintaan kedelai nasional sebesar 5,26 persen. Disisi lain
kebijakan dapat menurunkan impor kedelai sebesar 22,01 persen serta menurunkan
harga kedelai impor sebesar 8,68 persen.
Simulasi kelima yaitu kombinasi kebijakan ekstensifikasi dan intensifikasi
usahatani kedelai akan mengakibatkan peningkatan produksi kedelai sebesar 40,38
persen, hal ini karena adanya peningkatan luas areal panen kedelai sebesar 35,39
persen dan peningkatan produktivitas sebesar 8,58 persen. Akibatnya penawaran
meningkat sebesar 13,44 persen. Kebijakan ini juga akan menurunkan harga
kedelai baik di tingkat petani maupun pedagang besar masing-masing sebesar
13,90 persen dan 8,28 persen sehingga akan meningkatkan jumlah permintaan
kedelai sebesar 6,04 persen. Selain itu juga dapat menekan impor kedelai sebesar
25,54 persen.
Simulasi keenam yaitu penetapan tarif impor 0 persen akan berdampak
penurunan produksi kedelai domestik sebesar 4,38 persen akiibat dari penurunan
luas areal panen kedelai sebesar 4,33 persen dan penurunan produktivitas sebesar
4,52 persen, sehingga terjadi penurunan penawaran kedelai nasional sebesar 4,69
persen. Disisi lain kebijakan ini mengakibatkan meningkatnya impor kedelai
sebesar 3,02 persen, namun harga kedelai impor menurun sebesar 8,58 persen
sehingga harga kedelai di pedagang besar turun sebesar 4,02 persen dan harga
kedelai di tingkat petani turun sebesar 5,01 persen.
Simulasi ketujuh yaitu penetapan tarif impor 27 persen akan berdampak pada
peningkatan produksi kedelai sebesar 19,54 persen, hal ini karena adanya
peningkatan luas areal panen kedelai sebesar 18,96 persen dan peningkatan
produktivitas kedelai sebesar 0,78 persen. Kebijakan ini akan menurunkan impor
kedelai sebesar 13,20 persen, namun harga kedelai impor mengalami peningkatan
sebesar 9,56 persen. Akibatnya harga kedelai di tingkat pedagang besar naik
sebesar 20,59 persen yang berdampak pada peningkatan harga kedelai di tingkat
petani sebesar 21,91 persen sehingga akan menurunkan jumlah permintaan kedelai
nasional sebesar 1,25 persen.

Rekapitulasi Simulasi Peramalan Tahun 2011 - 2017

Untuk melihat dampak suatu kebijakan di masa yang akan datang, selain
dilakukan simulasi historis juga dilakukan simulasi peramalan untuk tahun 2011 –
2017. Pada penelitian ini disimulasikan tujuh skenario, yaitu kenaikan harga
kedelai di tingkat petani sebesar 35 persen (Simulasi 1), penurunan harga pupuk
urea sebesar 25 persen (Simulasi 2), penurunan harga benih kedelai sebesar 20
persen (Simulasi 3), swasembada plus (Simulasi 4), kombinasi kebijakan
ekstensifikasi dan intensifikasi usahatani kedelai (Simulasi 5), penetapan tarif
impor kedelai 27 persen (Simulasi 6) dan penurunan produksi kedelai Amerika 20
persen (Simulasi 7). Hasil rekapitulasi simulasi peramalannya dapat dilihat pada
Tabel 38.

Tabel 38. Rekapitulasi Dampak Simulasi Peramalan Kebijakan Tahun 2011-2017

Indikator Nilai Perubahan (%)


Kesejahteraan Dasar Sim 1 Sim 2 Sim 3 Sim 4 Sim 5 Sim 6 Sim 7
Produksi Kedelai 1871,7 36,52 31,61 18,78 38,12 42,80 10,50 10,53
Luas Areal Panen Kedelai 1321,8 34,14 27,34 14,69 31,72 35,51 9,84 9,84
Produktivitas Kedelai 14,14 2,19 2,89 4,80 4,38 4,87 1,90 0
Harga Kedelai Tingkat Petani 7804,9 35,0 -5,39 -6,83 -12,72 -11,96 6,40 6,39
Harga Kedelai Pedagang Besar 8660,3 23,79 -5,34 -3,48 -6,46 -7,18 2,21 1,91
Penawaran Kedelai Nasional 2992,3 4,89 1,72 2,4 8,39 2,70 2,43 -2,97
Permintaan Kedelai Nasional 2920,4 -0,26 5,92 3,86 7,16 7,96 -0,65 -1,65
Persediaan Kedelai Indonesia 112,6 6,7 9,73 -6,33 -11,71 -25,11 3,30 -8,17
Impor Kedelai Indonesia 1034,8 -53,34 -41,31 -27,12 -48,91 -40,38 -16,12 -15,47
Harga impor Kedelai Indonesia 567,0 0 0 0 0 2,94 12,15 12,15
Ekspor Kedelai Amerika 43741,2 0 0 0 0 0 0 -0,81
Harga Ekspor Kedelai Amerika 437,2 0 0 0 0 0 0 26,41

Dari tabel diatas terlihat bahwa simulasi pertama yaitu kenaikan harga kedelai
di tingkat petani sebesar 35 persen akan berdampak pada kenaikan produksi
kedelai domestik sebesar 36,52 persen. Hal ini karena adanya peningkatan luas
areal panen kedelai sebesar 34,14 persen dan peningkatan produktivitas kedelai
sebesar 2,19 persen. Peningkatan produksi ini akan meningkatkan penawaran
kedelai sebesar 4,89 persen namun jumlah permintaan akan menurun sebesar 0,26
persen. Selain itu kebijakan ini akan meningkatkan persediaan kedelai nasional
sebesar 6,7 persen dan akan meningkatkan harga kedelai di tingkat pedagang besar
sebesar 23,79 persen serta dapat menurunkan impor sebesar 53,34 persen.
Simulasi kedua yaitu penurunan harga pupuk urea sebesar 20 persen akan
berdampak pada kenaikkan produksi kedelai sebesar 31,61 persen, akibat dari
peningkatan luas areal panen kedelai sebesar 16,09 persen dan produktivitas
kedelai naik sebesar 2,89 persen. Akibatnya penawaran kedelai nasional naik
sebesar 1,72 persen. Namun kebijakan ini akan menurunkan harga kedelai baik di
tingkat petani maupun pedagang besar, masing-masing turun sebesar 5,39 persen
dan 5,34 persen. Selain itu juga kebijakan ini akan menurunkan impor kedelai
sebesar 41,31 persen.
Simulasi ketiga yaitu penurunan harga benih kedelai 20 persen akan
berdampak pada peningkatan produksi kedelai sebesar 18,78 persen, akibat dari
peningkatan luas areal panen kedelai sebesar 14,69 persen dan peningkatan
produktivitas sebesar 4,80 persen. Akibatnya penawaran meningkat sebesar 2,40
persen. Kebijakan ini juga mengakibatkan penurunan impor kedelai sebesar 27,12
persen serta akan menurunkan harga kedelai baik di tingkat petani maupun
pedagang besar, masing-masing sebesar 6,83 persen dan 3,48 persen. Hal ini
mengakibatkan meningkatnya permintaan kedelai nasional sebesar 3,86 persen.
Simulasi keempat yaitu swasembada plus akan berdampak pada meningkatnya
produksi kedelai sebesar 38,12 persen, hal ini karena adanya peningkatan luas areal
panen kedelai sebesar 31,72 persen dan produktivitas kedelai sebesar 4,38 persen.
Akibatnya terjadi peningkatan penawaran kedelai sebesar 8,39 persen. Selain itu
juga mengakibatkan penurunan harga baik di tingkat petani maupun pedagang
besar masing-masing sebesar 12,72 persen dan 6,46 persen. Hal ini mengakibatkan
meningkatnya jumlah permintaan kedelai nasional sebesar 7,16 persen. Disisi lain
kebijakan dapat menurunkan impor kedelai sebesar 48,91 persen.

Simulasi kelima yaitu kombinasi kebijakan ekstensifikasi dan intensifikasi


usahatani kedelai akan berdampak pada peningkatan produksi kedelai sebesar
42,80 persen, hal ini karena adanya peningkatan luas areal panen kedelai sebesar
35,51 persen dan peningkatan produktivitas sebesar 4,87 persen. Akibatnya
penawaran meningkat sebesar 2,70 persen. Kebijakan ini juga akan menurunkan
harga kedelai baik di tingkat petani maupun pedagang besar masing-masing
sebesar 11,96 dan 7,18 persen sehingga akan meningkatkan jumlah permintaan
kedelai sebesar 7,96 persen. Disisi lain kebijakan ini juga dapat menekan impor
kedelai sebesar 40,38 persen, namun harga kedelai impor meningkat 2,94 persen.
Simulasi keenam yaitu penetapan tarif impor 27 persen akan berdampak pada
peningkatan produksi kedelai sebesar 10,50 persen, hal ini karena adanya
peningkatan luas areal panen kedelai sebesar 9,84 persen dan peningkatan
produktivitas sebesar 1,90 persen, sehingga terjadi peningkatan penawaran kedelai
nasional sebesar 2,43 persen. Disisi lain kebijakan ini mengakibatkan menurunnya
impor kedelai sebesar 16,12 persen, namun harga kedelai impor naik sebesar 12,15
persen sehingga harga kedelai di pedagang besar naik sebesar 2,21 persen dan
harga kedelai di tingkat petani naik sebesar 6,40 persen. Akibatnya jumlah
permintaan kedelai nasional menurun sebesar 0,65 persen.
Simulasi ketujuh yaitu penurunan produksi kedelai Amerika 20 persen akan
berdampak pada peningkatan produksi kedelai domestik sebesar 10,50 persen, hal
ini karena adanya peningkatan luas areal panen kedelai sebesar 9,84 persen dan
peningkatan produktivitas kedelai sebesar 1,90 persen. Akibatnya penawaran
kedelai nasional naik sebesar 2,43 persen. Kebijakan ini juga dapat menekan impor
kedelai sebesar 16,12 persen, namun harga kedelai impor mengalami peningkatan
sebesar 12,15 persen. Akibatnya harga kedelai di tingkat pedagang besar naik
sebesar 2,21 persen yang berdampak pada peningkatan harga kedelai di
tingkat petani sebesar 6,40 persen sehingga akan menurunkan jumlah permintaan
kedelai nasional sebesar 0,65 persen.

Dampak Kebijakan Terhadap Perubahan Kesejahteraan

Dari nilai-nilai simulasi alternatif kebijakan (tabel 24 sampai tabel 38) dapat
dihitung arah dan besar perubahan nilai rata-rata indikator kesejahteraan ekonomi
untuk setiap periode dimana periode satu untuk simulasi historis tahun 1990-2010
dan periode dua untuk simulasi peramalan tahun 2011-2017.
Indikator kesejahteraan yang digunakan adalah (i) surplus produsen; (ii)
surplus konsumen; (iii) penerimaan pemerintah dan (iv) perubahan devisa.

Analisis Dampak Kebijakan Terhadap Perubahan Indikator Kesejahteraan


Periode Tahun 1998 - 2010

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui dampak suatu kebijakan terhadap


perubahan nilai rata-rata indikator kesejahteraan ekonomi pada periode tahun
1990-2010. Hasil analisis secara rinci dapat dilihat pada Tabel 39.

Tabel 39. Dampak Simulasi Kebijakan Terhadap Perubahan Kesejahteraan Tahun 1998-2010

Indikator Satuan Perubahan Kesejahteraan


Kesejahteraan Sim 1 Sim 2 Sim 3 Sim 4 Sim 5 Sim 6 Sim 7
Surplus Produsen Milyar Rp 2.378,36 -787,01 -380,51 889,95 972,84 -351,92 1.519,5
Surplus Konsumen Milyar Rp -682,53 -353,24 -154,72 627,11 716,68 359,60 -1.823,2
Penerimaan Pemerintah Milyar Rp 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1.107,3
Surplus Bersih Milyar Rp 1.695,82 -1.140,25 -535,23 1.517,06 1.689,52 7,68 803,6
Perubahan Devisa Juta US $ -103,36 44,73 20,13 -105,27 -93,45 21,32 -17,98

Keterangan :
Simulasi 1 : Kebijakan Menaikkan Harga Kedelai Petani 35 persen
Simulasi 2 : Kebijakan Menaikkan Harga Pupuk Urea 60 persen
Simulasi 3 : Kebijakan Menaikkan Harga Benih Kedelai 25 persen
Simulasi 4 : Kebijakan Swasembada Plus
Simulasi 5 : Kombinasi Kebijakan Ekstensifikasi dan Intensifikasi Usahatani Kedelai
Simulasi 6 : Penetapan Tarif Impor Kedelai sebesar 0 persen
Simulasi 7 : Penetapan Tarif Impor Kedelai sebesar 27 persen

Dari tabel diatas terlihat bahwa dampak dari kebijakan simulasi satu yaitu
kebijakan menaikkan harga kedelai petani sebesar 35 persen akan meningkatkan
surplus produsen sebesar 2.378,36 milyar rupiah namun kebijakan ini akan
menurunkan surplus konsumen sebesar 682,53 milyar rupiah sehingga surplus
bersih hanya sebesar 1.695,82 milyar rupiah. Kebijakan menaikkan harga kedelai
petani ini tidak meningkatkan penerimaan pemerintah namun akan menurunkan
penggunaan devisa negara sebesar 103,36 juta US $.
Alternatif kebijakan menaikkan harga kedelai petani ini cukup efisien untuk
meningkatkan kesejahteraan produsen atau petani kedelai di Indonesia dan dapat
meningkatkan kesejahteraan bersih walaupun dari sisi kesejahteraan konsumen
malah menurun. Sementara dari penggunaan devisa akan turun karena impor
kedelai juga turun atau ada penghematan devisa sebesar 103,36 juta US $.
Simulasi dua yaitu kebijakan menaikkan harga pupuk urea sebesar 60 persen
akan menyebabkan turunnya kesejahteraan produsen kedelai sebesar 787,01 milyar
rupiah dan menurunkan kesejahteraan konsumen sebesar 353,24 milyar rupiah
sehingga akan menurunkan kesejahteraan bersih sebesar 1.140,25 milyar rupiah.
Dari sisi perubahan devisa kebijakan ini akan meningkatkan penggunaan devisa
sebesar 44,73 juta US $.
Kebijakan meningkatkan harga pupuk urea ini merupakan kebijakan yang
tidak efisien karena akan menyebabkan menurunnya kesejahteraan baik
kesejahteran produsen maupun konsumen serta akan menurunkan cadangan devisa
akibat meningkatnya impor kedelai sebesar 44,73 juta US$.
Simulasi tiga yaitu kebijakan menaikkan harga benih kedelai 25 persen akan
menyebabkan menurunnya kesejateraan baik produsen maupun konsumen sebesar
masing-masing 380,51 milyar rupiah dan 154,72 milyar rupiah sehingga
menurunkan kesejahteraan bersih sebesar 535,23 milyar rupiah. Selain itu juga
akan meningkatkan penggunaan devisa negara sebesar 20,13 juta US $.
Kebijakan menaikkan harga benih kedelai ini merupakan kebijakan yang tidak
efisien karena akan menurunkan kesejahteraan baik produsen maupun konsumen
serta meningkatkan penggunaan devisa negara yang disebabkan oleh naiknya
impor kedelai
Simulasi empat yaitu kebijakan swasembada plus (impor kedelai sebesar 10
persen, harga pupuk urea turun 25 persen dan harga benih kedelai turun 20 persen)
akan menyebabkan meningkatnya kesejahteraan produsen atau petani kedelai
sebesar 889,95 milyar rupiah serta akan meningkatkan kesejahteraan konsumen
sebesar 627,11 milyar sehingga secara keseluruhan akan meningkatkan
kesejahteraan bersih sebesar 1.517,06 milyar. Untuk perubahan penggunaan
devisa, kebijakan ini akan menurunkan penggunaan devisa negara sebesar 105,27
juta US $ atau terjadi penghematan cadangan devisa negara.
Kebijakan swasembada plus ini cukup efisien, karena selain dapat
meningkatkan kesejahteraan produsen dan konsumen, juga dapat menurunkan
penggunaan devisa negara akibat menurunnya impor kedelai.
Simulasi lima yaitu kombinasi kebijakan ekstensifikasi dan intensifikasi
usahatani kedelai dengan perluasan areal panen kedelai, penurunan harga pupuk
urea dan penurunan harga benih kedelai masing-masing 15 persen akan
menyebabkan meningkatnya kesejahteraan atau surplus produsen dan konsumen
masing-masing sebesar 972,84 milyar rupiah dan 716,68 milyar rupiah sehingga
kesejahteraan bersih meningkat sebesar 1.689,52 milyar rupiah. Selain itu juga
dapat menurunkan penggunaan devisa sebesar 93,45 juta US $.
Kombinasi kebijakan ekstensifikasi dan intensifikasi usahatani kedelai ini
sangat efisien untuk meningkatkan kesejahteraan baik produsen atau petani kedelai
maupun konsumen. Devisa negara juga dapat dihemat karena kebijakan ini dapat
menurunkan penggunaan devisa akibat menurunnya impor kedelai.
Simulasi enam yaitu kebijakan penetapan tarif impor kedelai sebesar 0 persen
akan menyebabkan turunnya kesejahteraan produsen sebesar 351,92 milyar rupiah
sedangkan kesejahteraan konsumen meningkat sebesar 359,60 milyar sehingga
kesejahteraan bersih turun sebesar 7,68 milyar. Selain itu kebijakan ini juga akan
meningkatkan penggunaan devisa negara 21,32 juta US $.
Kebijakan penetapan tarif 0 persen ini tidak efisien jika tujuannya untuk
meningkatkan kesejahteraan petani namun untuk konsumen kesejahteraan akan
naik bila kebijakan ini dilaksanakan. Disisi lain kebijakan ini juga akan
mengurangi devisa negara akibat impor kedelai yang meningkat.
Kebijakan tujuh yaitu kebijakan penetapan tarif impor kedelai sebesar 27
persen akan menyebabkan meningkatnya kesejahteraan produsen atau petani
kedelai sebesar 1.519,5 milyar rupiah namun akan menurunkan kesejahteraan
konsumen sebesar 1.823,2 milyar rupiah. Namun disisi lain ada peningkatan
penerimaan pemerintah sebesar 1.107,3 milyar rupiah sehingga kesejahteraan
bersih menjadi 803,6 milyar rupiah. Selain itu juga penggunaan devisa negara akan
turun sebesar 17,98 juta US $.
Kebijakan penetapan tarif impor sebesar 27 persen ini cukup efisien untuk
meningkatkan kesejahteraan produsen atau petani kedelai karena selain akan
meningkatkan produksi kedelai dalam negeri juga akan menekan jumlah impor
kedelai sehingga harga kedelai impor akan naik yang berdampak pada naiknya
harga kedelai petani. Meskipun dari sisi konsumen kebijakan ini akan menurunkan
kesejahteraannya. Kesejahteraan konsumen yang mengalami penurunan ini dapat
ditingkatkan melalui subsidi harga oleh pemerintah, karena pemerintah
mendapatkan tambahan penerimaan dari pajak impor. Selain itu juga kebijakan ini
akan menghemat devisa negara akibat menurunnya impor kedelai.

Analisis Dampak Kebijakan Terhadap Perubahan Indikator Kesejahteraan


Periode Tahun 2011 - 2017

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui dampak suatu kebijakan terhadap


perubahan nilai rata-rata indikator kesejahteraan ekonomi pada periode peramalan
tahun 2011-2017. Hasil analisisnya dapat dilihat pada Tabel 40.

Tabel 40. Dampak Simulasi Kebijakan Terhadap Perubahan Kesejahteraan Tahun 2011-2017
Indikator Satuan Perubahan Kesejahteraan
Kesejahteraan Sim 1 Sim 2 Sim 3 Sim 4 Sim 5 Sim 6 Sim 7
Surplus Produsen Milyar Rp 7.773,4 1.238,6 1.577,7 2.487,4 2.775,8 1.476,90 1.471,22
Surplus Konsumen Milyar Rp -6.003,7 1.312,1 851.56 1.576,8 1.745,5 -558,90 -478,06
Penerimaan Pemerintah Milyar Rp 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 1.757,55 0,00
Surplus Bersih Milyar Rp 1.769,6 2.550,7 2.429,2 4.064,2 4.521,3 2.675,55 993,16
Perubahan Devisa Juta US $ -314,11 -242,22 -159,04 -292,06 -226,47 -34,70 -30,44

Keterangan :
Simulasi 1 : Kebijakan Menaikkan Harga Kedelai Petani 35 persen
Simulasi 2 : Kebijakan Menurunkan Harga Pupuk Urea 20 persen
Simulasi 3 : Kebijakan Menurunkan Harga Benih Kedelai 20 persen
Simulasi 4 : Kebijakan Swasembada Plus
Simulasi 5 : Kombinasi Kebijakan Ekstensifikasi dan Intensifikasi Usahatani Kedelai
Simulasi 6 : Penetapan Tarif Impor Kedelai sebesar 27 persen
Simulasi 7 : Produksi Kedelai Amerika Turun sebesar 20 persen

Dari tabel diatas terlihat bahwa dampak dari kebijakan simulasi ramalan satu
yaitu kebijakan menaikkan harga kedelai petani sebesar 35 persen akan
meningkatkan surplus produsen sebesar 7.773,4 milyar rupiah namun kebijakan ini
akan menurunkan surplus konsumen sebesar 6.003,7 milyar rupiah sehingga
surplus bersih menjadi 1.769,6 milyar rupiah. Kebijakan menaikkan harga kedelai
petani ini tidak meningkatkan penerimaan pemerintah namun akan menurunkan
penggunaan devisa sebesar 314,11 juta US $.
Alternatif kebijakan menaikkan harga kedelai petani ini cukup efisien untuk
meningkatkan kesejahteraan produsen atau petani kedelai di Indonesia walaupun
dari sisi kesejahteraan konsumen mengalami penurunan. Sementara dari
penggunaan devisa akan menurun sebesar 314,11 juta US$ karena impor kedelai
juga turun.
Simulasi peramalan dua yaitu kebijakan menurunkan harga pupuk urea
sebesar 20 persen akan menyebabkan meningkatnya kesejahteraan produsen
kedelai sebesar 1.238,6 milyar rupiah dan dapat meningkatkan kesejahteraan
konsumen sebesar 1.312,1 milyar rupiah sehingga kesejahteraan bersih meningkat
sebesar 2.550,7 milyar rupiah. Dari sisi perubahan penggunaan devisa negara
kebijakan ini akan menurunkan penggunaan devisa 242,22 juta US $.
Kebijakan menurunkan harga pupuk urea atau kebijakan subsidi pupuk urea
ini merupakan kebijakan yang cukup efisien karena akan menyebabkan naiknya
kesejahteraan baik produsen maupun konsumen serta akan menurunkan
penggunaan cadangan devisa akibat menurunnya impor kedelai.
Simulasi peramalan tiga yaitu kebijakan menurunkan harga benih kedelai 25
persen akan menyebabkan meningkatnnya kesejateraan baik produsen maupun
konsumen masing-masing sebesar 1.577,7 milyar rupiah dan 851,56 milyar rupiah
sehingga akan meningkatkan kesejahteraan bersih sebesar 2.429,2 milyar rupiah.
Serta dapat menurunkan penggunaan devisa negara 159,04 juta US $.
Kebijakan menurunkan harga benih kedelai cukup efisien karena akan
meningkatkan kesejahteraan baik produsen maupun konsumen serta dapat
menurunkan penggunaan devisa negara yang disebabkan oleh turunnya impor
kedelai.
Simulasi peramalan empat yaitu kebijakan swasembada plus akan
menyebabkan meningkatnya kesejahteraan produsen atau petani kedelai sebesar
2.478,4 milyar rupiah dan akan meningkatkan kesejahteraan konsumen sebesar
1.576,8 milyar rupiah sehingga secara keseluruhan akan meningkatkan
kesejahteraan sebesar 4.064,2 milyar rupiah. Untuk perubahan penggunaan devisa,
kebijakan ini akan menurunkan penggunaan devisa 292,06 juta US $.
Kebijakan swasembada plus ini cukup efisien, karena selain dapat
meningkatkan kesejahteraan produsen dan konsumen juga dapat menurunkan
penggunaan devisa negara akibat menurunnya impor kedelai.
Simulasi peramalan lima yaitu kombinasi kebijakan ekstensifikasi dan
intensifikasi usahatani kedelai dengan perluasan areal panen kedelai, penurunan
harga pupuk urea dan penurunan harga benih kedelai masing-masing 20 persen
akan menyebabkan meningkatnya kesejahteraan atau surplus produsen dan
konsumen masing-masing sebesar 2.775,8 milyar rupiah dan 1.745,5 milyar rupiah
sehingga kesejahteraan bersih meningkat sebesar 4.521,3 milyar rupiah. Sealin itu
juga dapat menurunkan penggunaan devisa sebesar 226,47 juta US $.
Kebijakan intensifikasi usahatani kedelai yang diiringi dengan perluasan areal
panen ini sangat efisien untuk meningkatkan kesejahteraan baik produsen atau
petani kedelai maupun konsumen. Selain itu juga devisa negara dapat dihemat
karena kebijakan ini akan menurunkan penggunaan devisa akibat menurunnya
impor kedelai.
Simulasi peramalan enam yaitu kebijakan penetapan tarif impor kedelai
sebesar 27 persen akan menyebabkan meningkatnya kesejahteraan produsen atau
petani kedelai sebesar 1.476,9 milyar rupiah namun akan menurunkan
kesejahteraan konsumen sebesar 558,9 milyar rupiah. Disisi lain kebijakan ini akan
meningkatkan penerimaan pemerintah melalui pajak impor sebesar 1.757,55
milyar rupiah sehingga kesejahteraan bersih akan meningkat menjadi 2.675,55
milyar rupiah. Selain itu juga kebijakan ini dapat menurunkan penggunaan devisa
sebesar 34,70 juta US $.
Kebijakan penetapan tarif impor sebesar 27 persen ini cukup efisien untuk
meningkatkan kesejahteraan produsen atau petani kedelai karena selain akan
meningkatkan produksi kedelai dalam negeri juga akan menekan jumlah impor
kedelai sehingga harga kedelai impor akan naik yang berdampak pada naiknya
harga kedelai petani. Meskipun dari sisi konsumen kebijakan ini akan menurunkan
kesejahteraannya. Kesejahteraan konsumen yang mengalami penurunan ini dapat
ditingkatkan melalui subsidi harga oleh pemerintah, karena pemerintah
mendapatkan tambahan penerimaan dari pajak impor kedelai. selain itu juga
kebijakan ini akan menghemat devisa negara akibat menurunnya impor kedelai.
Simulasi peramalan tujuh yaitu penurunan produksi kedelai Amerika 20
persen akibat konversi energi dengan menggunakan komoditas jagung sebagai
bahan baku untuk konversi energy (bio fuel). Penggunaan jagung ini akan
mengurangi areal tanam kedelai sehingga akan mengurangi produksi kedelai. Hal
ini akan menyebabkan meningkatnya kesejahteraan produsen atau petani kedelai
sebesar 1.471,22 milyar rupiah namun akan menurunkan kesejahteraan konsumen
sebesar 478,06 milyar rupiah, sehingga kesejahteraan bersih menjadi 993,16 milyar
rupiah. Selain itu simulasi ramalan penetapan turunnya produksi kedelai Amerika
ini juga akan menurunkan penggunaan devisa negara sebesar 30,44 juta US $,
sebagai akibat dari turunnya impor kedelai.
Kebijakan penetapan turunnya produksi kedelai Amerika sebesar 20 persen ini
cukup efisien untuk meningkatkan kesejahteraan produsen atau petani kedelai
karena selain akan meningkatkan produksi kedelai dalam negeri juga jumlah impor
kedelai akan berkurang sehingga harga kedelai impor akan naik yang berdampak
pada naiknya harga kedelai petani. Meskipun dari sisi konsumen kebijakan ini akan
menurunkan kesejahteraannya namun dari sisi penggunaan devisa akan menurun.

Analisis Efisiensi Alokatif Usahatani Kedelai

Penggunaan input yang efisien akan berpengaruh pada pertumbuhan kedelai


yang optimal sehingga pada akhirnya akan menghasilkan output yang maksimal.
Pada kenyataannya banyak petani khususnya petani kedelai dalam menggunakan
input produksinya berdasarkan kebiasaan dan kurang memperhatikan harga serta
produk marjinal. Apabila petani menggunakan input produksi secara optimal
dengan memperhatikan harga yang berlaku maka akan dicapai efisiensi alokasi
atau efisiensi harga karena biaya yang dikeluarkan adalah minimal. Efisiensi
alokatif adalah kemampuan suatu usahatani dalam menggunakan input produksi
pada proporsi yang optimal pada harga dan teknologi produksi yang tetap atau
efisiensi alokatif merupakan kemampuan produsen untuk menghasilkan sejumlah
output pada kondisi minimisasi rasio biaya dari input. Dengan kata lain, efisiensi
alokatif atau yang biasa juga disebut dengan efisiensi harga mengukur tingkat
keberhasilan petani dalam usahanya untuk mencapai keuntungan maksimum yang
dicapai pada saat nilai produk marjinal setiap faktor produksi yang diberikan sama
dengan harga input produksinya.
Dalam penelitian ini efisiensi alokatif diperoleh melalui analisis dari sisi input
produksi yang menggunakan harga input yang berlaku di setiap propinsi sentra
produksi kedelai. Fungsi produksi yang digunakan sebagai dasar analisis adalah
fungsi produksi frontier Cobb Douglass. Efisiensi penggunaan input untuk
optimasi pendapatan usahatani kedelai berdasarkan nilai produk marginal (NPMx)
dan harga input (Px). Hasil analisis efisiensi penggunaan input usahatani kedelai di
Indonesia dapat dilihat pada Tabel 41.

Tabel 41. Hasil Analisis Efisiensi Alokasi Usatani Kedelai di Indonesia

No. Variabel Parameter t hitung NPMx/Px


Estimasi
1. Intersep 4,018 1,14
2. X1 = Benih 0,168 0,63
3. X2 = Pupuk 0,232 8,79 1,515
4. X3 = Pestisida 0,132 2,43 4,376
5. X4 = Tenaga Kerja 0,305 16,00 1,774
6. X5 = Luas Lahan -0,102 -1,91
7. X6 = Alat Pertanian 0,090 1,36 6,270

Dari tabel diatas terlihat bahwa hasil analisis efisiensi alokasi usahatani
kedelai menunjukkan nilai NPMx/Px lebih besar dari 1 kecuali untuk X1 (biaya
benih) dan X5 (luas lahan) tidak signifikan karena nilai t hitungnya lebih kecil dari
t tabel. Nilai NPMx/Px yang lebih besar dari 1 ini mengindikasikan bahwa
penggunaan input produksi belum efisien. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
Tahir (2011) yang menyatakan bahwa hasil analisis efisiensi alokatif terhadap
penggunaan input pada usahatani kedelai diperoleh hasil bahwa pupuk khususnya
urea dan curahan tenaga kerja belum mencapai tingkat yang efisien. Hal ini
tercermin dari hasil pengujian nilai ki yang tidak sama dengan satu (ki >1). Dengan
demikian masih ada peluang untuk meningkatkan penerimaan dengan cara
menambah jumlah penggunaan variabel tersebut (pupuk khususnya urea dan
curahan tenaga kerja).
Untuk mencapai kondisi yang efisien secara alokatif maka input produksi
khususnya pupuk (X2), pestisida (X3), tenaga kerja (X4) dan alat pertanian (X6)
perlu ditambah. Jika input produksi ditambah maka penambahan output total yang
dihasilkan akan lebih besar dari penambahan input produksi itu sendiri, sehingga
upaya untuk optimasi pendapatan usahatani kedelai masih dapat dilakukan dengan
penggunaan input produksi yang efisien dan disesuaikan dengan kondisi lahan dan
tanaman. Dengan mengalokasikan penggunaan input produksi secara tepat sesuai
dengan harga inputnya maka akan berdampak pada peningkatan efisiensi alokatif
atau efisiensi harga. Peningkatan efisiensi alokatif ini akan menyebabkan
penurunan biaya, sehingga keuntungan petani akan meningkat.
Penyebab inefisiensi alokatif ini selain penggunaan input produksi yang
kurang atau berlebih juga informasi harga input dan output yang tidak sempurna
yang biasanya sering terjadi di sektor pertanian. Jika harga input terbuka maka
petani dapat menikmati harga yang murah atau disubsidi sehingga dapat
meningkatkan efisiensi alokatif karena petani dapat menghemat biaya yang pada
akhirnya akan meningkatkan keuntungan. Harga input produksi yang seringkali
dirasakan cukup mahal adalah harga benih unggul bermutu dan harga pupuk
sehingga penurunan kedua harga ini akan membantu meningkatkan efisiensi
alokatif dalam melakukan usahatani kedelai. Pada kondisi ini maka pemerintah
dalam membuat kebijakan harga input produksi harus terjangkau oleh para petani

6 KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KEDELAI DI INDONESIA

Analisis Kebijakan

Kedelai memiliki peran yang strategis, karena (1) menyangkut hajat hidup
sebagian besar rumah tangga petani; (2) mampu menyerap tenaga kerja mulai dari
tingkat produsen, pelaku tataniaga sampai pengusaha industri pengolahan hasil dan
industri pakan dan (3) mampu mendayagunakan potensi lahan di daerah lahan
sawah maupun lahan kering pada saat kekurangan air. Pemerintah hingga kini terus
berupaya untuk meningkatkan produksi agar tercapai swasembada kedelai yang
dicanangkan pada tahun 2014. Kebutuhan kedelai yang terus meningkat setiap
tahunnya tidak dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri sehingga dilakukan
impor yang akan menyita devisa cukup tinggi. Meningkatnya permintaan kedelai
ini antara lain disebabkan oleh (i) pertambahan jumlah penduduk; (ii)
meningkatnya daya beli masyarakat; (iii) meningkatnya kesadaran masyarakat
akan makanan bergizi dan (iv) berkembangnya industri berbahan baku kedelai.
Adanya kesenjangan antara permintaan dan produksi kedelai ini dapat ditekan
melalui dua cara, yaitu meningkatkan produksi kedelai dalam negeri dan
mensubstitusi kedelai dengan produk pertanian yang lain sebagai sumber protein
seperti ikan. Namun kemungkinan mensubstitusi kedelai (tempe dan tahu) dengan
ikan masih sulit apabila harga ikan lebih tinggi dari harga tempe dan tahu. Dalam
jangka panjang, satu-satunya cara untuk mengurangi kesenjangan itu hanya dengan
meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. Kebijakan untuk meningkatkan
produksi kedelai di Indonesia telah banyak dilakukan melalui program-program :
(i) intensifikasi, yang merupakan upaya peningkatan produksi total melalui subsidi
input produksi dan penggunaan benih unggul; (ii) ekstensifikasi, yang merupakan
upaya peningkatan produksi total melalui perluasan areal panen yang
diprioritaskan di lahan sawah irigasi, tadah hujan dan lahan marginal; serta (iii)
penetapan harga dasar untuk menciptakan harga yang layak dan menarik bagi
petani selaku produsen sehingga mereka tertarik untuk meningkatkan produksinya.
Implementasi berbagai program tersebut adalah : Bimas (Bimbingan Masal),
Inmas (Intensifikasi Masal), Inmum (Intensifikasi Umum), Insus (Intensifikasi
Khusus), Supra Insus, Opsus (Operasi Khusus), dimana program ini diterapkan
sampai tahun 1986. Kemudian diteruskan dengan kebijakan introduksi paket
teknologi baru yang tepat guna, program intensifikasi kedelai IP-300, Gema
Palagung (Gerakan Mandiripadi, Kedelai dan Jagung) melalui peningkatn indeks
pertanaman (IP) yang dilanjutkan dengan program pengembangan kedelai intensif
(Bangkit Kedelai) dan terakhir program swasembada kedelai tahun 2014. Upaya
pemerintah melalui berbagai program pengembangan kedelai ini ditujukan untuk
melepaskan diri dari ketergantungan impor kedelai. Kebijakan intensifikasi ini
telah dilakukan pemerintah secara nasional sejak tahun 1985 dan kebijakan
hargapun telah dilakukan mulai tahun 1981 sampai dengan tahun 1991 sehingga
Indonesia pada tahun 1992 pernah mencapai swasembada kedelai. Namun sejak
tahun 1992 produksi kedelai mengalami penurunan sementara permintaan terus
meningkat sehingga untuk memenuhinya dilakukan impor. Upaya-upaya
pemerintah tersebut sampai saat ini belum mampu untuk mencapai swasembada.
Kebijakan perdagangan kedelai telah dilakukan pemerintah mulai tahun 1997
melalui Bulog, dimana Bulog melakukan impor kedelai secara terbatas. Disisi lain
pemerintah melalui Bulog melakukan kebijakan perdagangan kedelai melalui
Kopti dan Non Kopti untuk menjaga stabilitas harga kedelai di pasaran dengan
tetap memperhatikan harga dasar agar para petani tetap meningkatkan produksinya
(Amang et al, 1996). Dengan pengendalian distribusi kedelai impor, Bulog mampu
mengendalikan harga di tingkat petani dan distribusinya yang dilakukan melalui
mekanisme pengendalian impor. Apabila harga kedelai impor lebih murah, Bulog
akan mengendalikan harga dengan mengurangi distribusi kedelai impor sehingga
harga kedelai domestik dapat terkendali dengan baik. Selain itu kebijakan
pemerintah melalui Bulog terhadap industri olahan kedelai adalah dengan
menetapkan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen dari harga satuan,
dimana pajak ini digeser dari produsen ke konsumen untuk menaikkan harga jual
(Amang et al, 1996). Kenaikkan harga jual produk olahan kedelai akan
mempengaruhi konsumsi yang pada akhirnya akan mempengaruhi permintaan
kedelai secara nasional.
Sebenarnya aset usahatani kedelai, baik berupa lahan pertanian maupun
sumberdaya manusianya cukup tersedia guna mendukung pengembangan kedelai.
Namun program pengembangan kedelai yang dilakukan oleh pemerintah melalui
berbagai program mulai dari insus kedelai, supra insus, opsus, bangkit kedelai
sampai program swasembada kedelai, belum mampu meningkatkan produksi
kedelai untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Untuk itu perlu
dirumuskan kebijakan yang lebih komprehensif dan kondusif oleh pemerintah agar
swasembada kedelai dapat tercapai.
Dalam kondisi pasar domestik kedelai yang sangat terbuka bagi produk
kedelai dari pasar dunia yang lebih berkualitas dengan harga yang jauh lebih murah
mengakibatkan produk kedelai dalam negeri semakin terpuruk pengembangannya.
Hal ini lebih diperparah oleh tidak adanya keberpihakan kebijkan politik pertanian
kepada para petani. Padahal masih ada ruang bagi kebijakan pembangunan sektor
pertanian yang lebih mengarah pada kebijakan insentif dan perlindungan produksi
(proteksi) dalam pengembangan kedelai secara lebih intensif dan
berkesinambungan.

Rumusan Kebijakan Pengembangan Kedelai

Rendahnya kemampuan produksi domestik dalam penyediaan kedelai bila


dibandingkan dengan permintaan, memerlukan upaya untuk memperbaiki
kesenjangan. Upaya tersebut dapat ditempuh dengan cara intensifikasi di sentra
produksi dan ekstensifikasi yang bertumpu pada potensi sumberdaya. Strategi yang
berpijak pada keunggulan sumberdaya seperti pemanfaatan lahan, tenaga kerja,
modal dan lainnya merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi
usahatani guna mengurangi impor yang pada gilirannya dapat menciptakan
keunggulan daya saing. Hal ini bisa terwujud apabila kebijakan yang sedang
berlangsung dan yang akan datang mampu memberikan dukungan demi tumbuh
dan berkembangnya usahatani kedelai. Namun demikian dalam upaya
meningkatkan pendapatan petani, penekanan tidak cukup hanya terhadap faktor
teknis agronomi tetapi juga faktor ekonomi. Keberhasilan usahatani dalam arti
tingginya produksi fisik per satuan luas usahatani tidaklah menjamin dapat
memberikan pendapatan yang tinggi pula. Faktor harga dan biaya yang diterima
petani sangat berperan dalam menentukan tingkat pendapatan dari usahatani
tersebut. Sedangkan tingkat harga sangat dipengaruhi oleh sistem pemasaran yang
ada dari mata dagang yang dipasarkan.
Jika para petani mengetahui secara pasti tingkat harga masing-masing input
dan output pada pasar yang kompetitif dan mereka bertujuan memaksimumkan
keuntungan maka secara teoritis mereka akan memproduksi setiap komoditas pada
tingkat output yang optimum. Tingkat output yang optimum tercapai pada saat
nilai produk marginal sama dengan harga input. Pada tingkatan itu dapat dikatakan
bahwa petani menggunakan sumberdaya secara efisien (Doll dan Orazem, 1984,
dan Debertin, 1986). Jika petani rasional dan menghadapi harga-harga input dan
output yang relatif sama maka para petani yang berada pada satu hamparan lahan
dengan keadaan agroekologi yang sama cenderung akan memproduksi komoditas
yang sama pada musim bersangkutan. Kenyataannya, hal itu tidak selalu terjadi
demikian.
Perumusan kebijakan pengembangan kedelai dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan produsen khususnya petani kedelai baik kebijakan insentif maupun
proteksi haruslah memperhatikan perubahan lingkungan strategis yang
mempengaruhinya baik lingkungan strategis internasional, regional, nasional
maupun wilayah/daerah (Sejati et al, 2009). Oleh karena itu untuk membuat
kebijakan pengembangan kedelai haruslah memahami permasalahan yang terjadi
mulai dari tingkat petani sampai tingkat makro serta harus mengacu kepada sasaran
strategis Kementrian Pertanian tahun 2010-2014. Sasaran strategis tersebut adalah
: (i) peningkatan produksi dan swasembada berkelanjutan; (ii) ketahanan pangan
dan gizi; (iii) peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor; (iv) peningkatan
pendapatan petani dan (v) adaptasi perubahan iklim dan kelestarian lingkungan
(Kementrian Pertanian, 2010). Dua hal yang harus diterima para petani dalam
rumusan kebijakan, yaitu perlindungan harga output dari hasil usahatani (jaminan
harga dan tarif) dan subsidi sarana produksi terutama pupuk dan benih.
Kebijakan perlindungan harga bertujuan untuk stabilitas harga output yang
akan menentukan pendapatan usahatani yang pada akhirnya akan merubah
kesejahteraan petani. Kebijakan ini untuk melindungi para petani terutama pada
saat terjadi panen raya, dimana para petani selalu berada dalam posisi tawar yang
rendah. Implementasi kebijakan ini bisa dengan cara penetapan harga pembelian
pemerintah (HPP), penetapan harga bawah (floor price) maupun harga atap
(ceiling price). Sesuai dengan hasil simulasi pada penelitian ini bahwa untuk
meningkatkan produksi kedelai salah satunya adalah dengan meningkatkan harga
kedelai di tingkat petani, walaupun kebijakan ini akan menurunkan kesejahteraan
konsumen. Kesejahteraan konsumen yang mengalami penurunan ini dapat
disubsidi oleh pemerintah. Apabila dikaitkan dengan kesepakatan dengan WTO,
kebijakan ini dapat dilakukan selama tidak mendistorsi pasar internasional dan
anggaran pemerintah untuk kebijakan ini tidak melebihi 10 persen. Dari hasil
analisis, untuk meningkatkan pendapatan petani kedelai adalah dengan kebijakan
penetapan harga kedelai di tingkat petani naik sebesar 35 persen. Kebijakan ini
akan meningkatkan kesejahteraan produsen walaupun kesejahteraan konsumen
menurun. Namun kesejahteraan bersih meningkat.
Kebijakan perdagangan yang dapat dilakukan untuk melindungi para petani
selaku produsen kedelai adalah dengan menetapkan tarif impor. Sesuai dengan
kesepakatan WTO, setiap negara diperkenankan menerapkan applied tariff
maksimal sama dengan bound tariff dalam schedule yang didaftarkan dimana
untuk Indonesia bound tariff yang terdaftar adalah 40 persen (schedule XXI).
Sementara tarif impor yang masih diperbolehkan untuk kedelai adalah 27 persen
(Ditjen Tanaman Pangan, 2011). Hal ini sesuai dengan hasil simulasi dalam
penelitian ini bahwa dengan menetapkan tarif impor sebesar 27 persen dapat
meningkatkan produksi kedelai domestik. Meningkatnya produksi kedelai dan juga
rendahnya impor kedelai akibat tarifikasi yang mendorong naiknya harga kedelai
dapat meningkatkan kesejahteraan produsen (petani) kedelai. meskipun
kesejahteraan konsumen menurun. Namun turunnya kesejahteraan konsumen ini
dapat disubsidi oleh pemerintah, karena pemerintah mendapat tambahan
penerimaan dari pajak impor.
Selain itu kebijakan perdagangan yang harus diperbaiki adalah tataniaga
kedelai, khususnya kedelai impor. Hasil analisis, salah satu penyebab menurunnya
minat petani dalam beusahatani kedelai adalah ketidak pastian harga jualnya.
Harga jual kedelai petani sangat tergantung kepada harga kedelai impor yang
dikuasai oleh perusahaan besar importir kedelai terutama oleh empat perusahaan
importir. Dimana market share keempat perusahaan ini (CR4) mencapai 88,66
persen. Besarnya market share ini sudah dikatagorikan kartel, sehingga mereka
bisa mengatur harga kedelai dalam negeri. Hal ini dapat kita lihat dari pasar kedelai
dalam negeri yang sering terjadi sejak tahun 1998 sampai saat ini, dimana harga
kedelai impor selalu mengalami kenaikan setiap hari padahal harga kedelai di pasar
dunia berfluktuasi.
Menurut Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, bahwa perusahaan dinyatakan
melakukan kartel apabila penguasaan pasarnya minimal mencapai 50 persen.
Demikian juga menurut dugaan Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU),
bahwa nilai CR4 dari perusahaan tersebut sebesar 88,66 persen dan dianggap
sudah bisa terindikasikan kartel karena mereka bisa mengatur harga kedelai dalam
negeri. Untuk itu pemerintah harus lebih berhati-hati dalam memberikan izin impor
kedelai kepada para importir besar tersebut.
Kebijakan lain untuk mendorong agar petani mau berusahatani kedelai adalah
subsidi input produksi terutama pupuk dan benih. Kebijakan ini masih sejalan
dengan kesepakatan WTO yang tertuang dalam Agreement on Agriculture (AoA)
khususnya kotak jingga (Amber Box). Subsidi dalam kelompok ini harus dikurangi
jika subsidi untuk usahatani kedelai (pupuk, benih, kredit dan mekanisasi
pertanian) melebihi 10 persen dari total nilai produksi kedelai. Seiring dengan itu,
simulasi dalam penelitian ini dicoba dengan kebijakan subsidi terhadap pupuk urea
dan benih kedelai.
Hasil simulasi dari kebijakan ini akan menyebabkan meningkatnya produksi
kedelai. Produksi kedelai yang meningkat akan menurunkan impor kedelai
sehingga harga kedelai impor akan naik. Membaiknya harga kedelai impor ini akan
berdampak terhadap naiknya harga kedelai petani sehingga dengan meningkatnya
produksi dan naiknya harga kedelai maka pendapatan petani akan meningkat
sehingga kesejahteraannya meningkat. Tetapi disisi lain dengan
meningkatnya harga kedelai akan menyebabkan konsumen kehilangan
kesejahteraanya, tetapi hal ini dapat ditekan oleh pemerintah dengan memberikan
subsidi harga untuk meningkatkan kesejahteraan konsumen yang hilang.
Kebijakan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan kedelai dalam negeri
melalui upaya swasembada kedelai berdasarkan hasil analisis akan tercapai pada
tahun 2022. Kondisi ini akan tercapai melalui peningkatan luas areal panen dan
produktivitas kedelai yang harus dilakukan sekaligus. Tanpa kebijakan kedua hal
tersebut akan sulit untuk mencapai swasembada. Hal ini karena peningkatan
produktivitas di tingkat petani yang cukup lambat sehingga akan sulit diharapakan
tanpa didukung dengan perluasan areal panen. Walaupun demikian perluasan areal
panen akan menghadapi kendala peningkatan produktivitas, mengingat bahwa
lahan yang sesuai untuk pertanaman kedelai relatif sedikit, sehingga diperlukan
rekayasa teknologi.
Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam upaya mencapai swasembada
kedelai adalah :
1. Perluasan atau penyediaan areal panen
Ketersediaan lahan merupakan faktor yang sangat menentukan dalam upaya
pencapaian swasembada kedelai. Menurut Las (2008) sumberdaya lahan
potensial untuk tanaman kedelai dengan berbagai tingkat kesesuaian
(produktivitas) di 16 propinsiutama diperkirakan lebih dari 17 juta hektar 9dari
sekitar 30 juta hektar di seluruh Indonesia), namun dengan mempertimbangkan
tata guna lahan dan penggunaannya untuk berbagai komoditas lain, lahan yang
tersedia untuk areal kedelai sekitar 5,3 juta hektar yang terdiri dari lahan sawah
2,1 juta hektar dan lahan kering 3,3 juta hektar.
2. Subsisi sarana produksi terutama benih unggul bermutu
Untuk mencapai swasembada kedelai, penyediaan benih unggul bermutu dalam
jumlah yang cukup merupakan sayarat yang harus dipenuhi. Saat ini produksi
benih kedelai masih mengandalkan pemerintah, karena perusahaan swasta
belum banyak yang tertarik untuk memproduksi benih kedelai dibandingkan
dengan benih padi dan jagung (Suyamto, 2010). Oleh karena itu dalam rangka
mempersiapkan penyediaan benih kedelai dalam jumlah besar diperlukan
strategi yang harus dipersiapkan dari sekarang.
3. Penerapan tarif impor
Penerapan tarif impor merupakan salah satu faktor penting dalam
meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. Pada prinsipnya, semakin besar
tarif impor yang ditetapkan maka akan semakin tinggi harga kedelai yang
terjadi. Dengan demikian petani akan terdorong untuk memproduksi kedelai.
Sebagai contoh, pada tahun 1992 harga kedelai mencapai Rp. 8.000,- per
kilogram sehingga para petani terdorong untuk mengembangkan kedelai yang
dampaknya produksi kedelai nasional meningkat 300 persen dari tahun 1988
yaitu sekitar 600 ribu ton (SPI, 2009).
4. Dukungan kebijakan HPP kedelai
Dukungan kebijakan HPP dan adanya jaminan pasar terutama pada saat panen
raya akan meningkatkan dorongan bagi para petani untuk mengusahakan
kedelai.
Berdasarkan nilai elastisitas hasil analisis terhadap variabel pembentuk kinerja
kedelai di Indonesia terutama untuk peningkatan produktivitas kedelai, harga
kedelai di tingkat petani dan permintaan kedelai maka kebijakan yang harus
ditempuh adalah: (1) memberikan subsidi pupuk khususnya pupuk urea, hal ini
karena produktivitas kedelai sangat responsif (elastis) terhadap perubahan harga
pupuk urea, sehingga apabila subsidi pupuk urea ini dihilangkan melalui kenaikkan
harga maka produksi dan keuntungan para petani kedelai akan menurun; (2)
penetapan tarif impor kedelai dimana harga kedelai di tingkat petani cukup
responsif (elastis) harga harga kedelai impor sehingga apabila kedelai impor
meningkat harganya melalui penetapan tarif maka harga kedelai di tingkat
petanipun akan naik; (3) permintaan kedelai secara nasional sangat responsif
(elastis) terhadap perubahan jumlah penduduk, sehingga untuk jangka panjang
mengusahakan kedelai cukup memberikan harapan bagi para petani tanpa ada rasa
khawatir tidak laku di pasaran.

7 SIMPULAN, IMPLIKASI KEBIJAKAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dari penelitian tentang


dampak kebijakan pengembangan kedelai terhadap kinerja dan kesejahteraan
konsumen dan produsen kedelai di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa :
1. Jumlah permintaan kedelai secara nasional sangat dipengaruhi oleh faktor-
faktor harga kedelai di tingkat pedagang besar, harga kedelai impor, jumlah
populasi penduduk dan pendapatan per kapita. Jumlah permintaan kedelai ini
sangat responsif terhadap perubahan jumlah penduduk. Sementara jumlah
penawaran sangat dipengaruhi oleh produksi kedelai, impor kedelai, harga
kedelai baik kedelai impor maupun kedelai domestik.
2. Harga, baik harga kedelai di tingkat petani, harga sarana produksi terutama
pupuk dan benih serta harga upah tenaga kerja sangat berpengaruh terhadap
produksi kedelai di Indonesia, dimana faktor-faktor ini berpengaruh melalui
perubahan peningkatan luas areal panen dan produktivitas kedelai. Luas areal
panen kedelai sangat responsif terhadap perubahan harga atau upah tenaga
kerja pertanian baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
3. Impor kedelai akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan petani selaku
produsen kedelai, apabila impor naik tanpa dibarengi dengan penetapan tarif
maka kesejahteraan produsen (petani) akan menurun dan sebaliknya. Namun
kebijakan impor ini akan meningkatkan kesejahteraan konsumen dan dapat
menambah penerimaan pemerintah jika diberlakukan bea masuk (tarif impor).
Kaitannya dengan impor kedelai pemerintah harus lebih berhati-hati dalam
memberikan izin kepada para importir kedelai agar harga kedelai dalam negeri
tetap stabil.
4. Usahatani kedelai di Indonesia belum efisien secara alokatif terutama untuk
input produksi pupuk, pestisida, tenaga kerja dan alat atau sarana pertanian.
Hal ini karena nilai NPMx/Px nya lebih besar dari satu. Untuk mencapai
efisien secara alokatif sehingga menguntungkan dalam usahatani kedelai maka
input produksi pupuk, pestisida, tenaga kerja dan alat pertanian harus
ditambah.
5. Peningkatan produksi kedelai domestik akan meningkatkan kesejahteraan baik
produsen maupun konsumen. Peningkatan produksi ini dapat dicapai dengan
kombinasi kebijakan ekstensifikasi dan intensifikasi usahatani kedelai yang
merupakan kombinasi dari kebijakan perluasan areal panen kedelai, subsidi
pupuk urea dan subsidi benih kedelai. Selain itu juga kebijakan ini dapat
menurunkan penggunaan devisa negara. Apabila terpaksa harus melakukan
impor maka kebijakan tunggal yang cukup efisien untuk meningkatkan
kesejahteraan khususnya petani selaku produsen kedelai adalah peningkatan
harga kedelai di tingkat petani sebesar 35 persen, meskipun kebijakan ini akan
menurunkan kesejahteraan konsumen. Selain itu kebijakan ini juga dapat
menekan penggunaan devisa negara.
6. Dengan kondisi kebijakan yang ada sekarang, berdasarkan peramalan
terhadap peubah endogen maka swasembada kedelai akan tercapai pada tahun
2022. Hal ini terlihat dari tren kenaikan produksi kedelai yang cukup tinggi
dibanding dengan pertumbuhan jumlah permintaan kedelai. Langkah-langkah
yang harus dilakukan oleh Pemerintah dalam upaya swasembada kedelai
adalah : (1) perluasan atau penyediaan areal panen; (2) penyediaan benih
unggul bermutu; (3) penetapat tarif impor kedelai dan (4) kebijakan HPP
kedelai.

Implikasi Kebijakan

1. Untuk meningkatkan produksi kedelai domestik, pemerintah harus membuat


kebijakan yang akan bermanfaat bagi petani selaku produsen maupun
konsumen. Kebijakan yang dibuat secara parsial hanya akan menguntungkan
satu pihak saja. Untuk mendorong petani agar mau meningkatkan
produksinya, kebijakan pemerintah selain memberikan bantuan berupa subsidi
sarana produksi juga harus dibarengi oleh adanya jaminan harga ketika terjadi
panen raya, karena pada saat ini posisi tawar petani sangat rendah. Kebijakan
perlindungan harga bertujuan untuk stabilitas harga output yang akan
menentukan pendapatan usahatani yang pada akhirnya akan merubah
kesejahteraan petani selaku produsen kedelai.
2. Dalam upaya pengembangan kedelai agar dapat memberikan manfaat bagi
produsen, konsumen dan dapat meningkatkan penerimaan negara serta dapat
menurunkan penggunaan devisa, pemerintah perlu menyusun grand design
industri kedelai untuk jangka panjang dengan memperhatikan perubahan
lingkungan yang mempengaruhinya baik lingkungan internasional, regional
dan nasional maupun wilayah/daerah agar kebijakan tersebut tepat sasaran,
mengingat peran kedelai yang cukup strategis, yaitu : (i) sebagai sumber
protein yang sangat diperlukan bagi peningkatan gizi masyarakat yang cukup
murah; (ii) menyangkut hajat hidup sebagian besar rumah tangga petani; (iii)
mampu menyerap tenaga kerja mulai dari tingkat produsen, pelaku tataniaga
sampai pengusaha industri pengolahan hasil dan industri pakan dan (iv)
mampu mendayagunakan potensi lahan di daerah lahan sawah maupun lahan
kering pada saat kekurangan air.
3. Peningkatan efisiensi usahatani dapat dicapai melalui kebijakan yang lebih
terfokus pada penggunaan benih kedelai unggul bermutu, pupuk, pestisida dan
alat pertanian serta tenaga kerja. Dalam penelitian ini diperoleh bahwa
penggunaan pupuk, pestisida, tenaga kerja dan alat pertanian dapat
meningkatkan efisiensi terutama efisiensi alokatif. Untuk itu upaya
peningkatan efisiensi usahatani kedelai perlu dilakukan dengan penyuluhan-
penyuluhan tentang usahatani kedelai secara berkesinambungan. Hal ini
dimaksudkan agar para petani lebih dapat menggunakan teknik budidaya
kedelai dengan baik sehingga tingkat efisiensi usahatani kedelai dapat
ditingkatkan.
4. Kaitannya dengan perdagangan bebas internasional, maka kebijakan yang
harus ditempuh adalah kebijakan yang tidak merugikan produsen kedelai
dalam negeri, namun tetap mengikuti kesepakatan-kesepakatan yang telah
dibuat oleh WTO ataupun kesepakatan perdagangan bebas di Asean-Cina.
Seperti penetapan tarif impor untuk kedelai dan pemberian subsidi masih
diperbolehkan namun tidak melampaui tarif yang telah disepakati.

Saran

1. Penelitian ini hanya membahas permintaan kedelai untuk konsumsi pangan


sehingga perlu dilakukan penelitian yang memasukkan permintaan kedelai
untuk industri pakan seperti bungkil kedelai.
2. Perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam dengan memasukkan faktor
sarana produksi yang lain selain pupuk urea dan benih sebagai peubah
eksogen dalam model agar lebih komprehensif.
3. Indonesia selain mengimpor kedelai, juga sebagai pengekspor kedelai
walaupun jumlahnya masih kecil sehingga dalam penelitian lanjutan perlu
diteliti bagaimana dampaknya terhadap kinerja industri perkedelaian.

DAFTAR PUSTAKA

Adisarwanto T. 2005. Kedelai. Budidaya Dengan Pemupukan yang Efektif dan


Pengoptimalan Peran Bintil Akar. Penebar Swadaya. Jakarta.
Aji MJ. 2005. Analisis Efisensi dan Daya Saing Sistem Usahatani Kedelai di
Jember, Jawa Timur. dalam Aplikasi Policy Analysis Matrix pada Pertanian
Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Edisi Pertama. Jakarta.
Alimoeso S. 2008. Produksi Kedelai Belum Akan Menolong. Kompas, 26 Januari
2008.

Amang B, Husein S dan Anas R. 1996. Ekonomi Kedelai di Indonesia. IPB Press.
Bogor.
Anderson K dan Martin W. 2006. Agriculture, Trade Reform and the Doha
Agendas. World Bank. Palgrave MacMillan. Washington.
Astawan M. 2009. Sehat dengan Hidangan Kacang-kacangan dan Biji-bijian.
Penebar Swadaya. Jakarta.
Asworo TH. 2008. Mungkinkah Harga Kedelai Diturunkan.
www.bisnisindonesia.com Jumat 18 Januari 2008. Diakses pada 8 April 2013,
jam 22.30 WIB.
Badan Ketahanan Pangan. 2007. Laporan Tahunan Badan Ketahanan Pangan
Tahun 2007. Badan Ketahanan Pangan. Jakarta.
Badan Litbang Pertanian. 2000. Kedelai. Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian. Bogor.
_____________________. 2005. Prospek dan Arah Pengembangan Agribisnis
Kedelai. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Kementerian
Pertanian. Jakarta.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2009. Statistik Indonesia 2009. Badan Pusat Statistik.
Jakarta.
_________________________. 2010. Statistik Indonesia 2010. Badan Pusat
Statistik. Jakarta.

Bain JS. 1968. Industrial Organization. Second Edition. John Wiley & Sons, Inc.
New York.
Beattie BR dan Taylor CR. 1996. Ekonomi Produksi. Edisi Indonesia. Gajah Mada
University Press. Yogyakarta.
Budhi GS dan Aminah M. 2010. Swasembada Kedelai: Antara Harapan dan
Kenyataan. Forum Penelitian Agro Ekonomi. Volume 28 Nomor 1. Pusat
Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor
Carlton DW dan Perloff JM. 2000. Modern Industrial Organization. Third Edition.
Addison Wesley Longman, Inc. New York.
Carolina RA dan Himawan R. 2011. Tinjauan Harga Kedelai. Kementrian
Perdagangan Republik Indonesia. Jakarta.
Chambers W dan Plato G. 2004. How Does Structure Change in the Global
Soybean Market Affect the US Price?. Electronic Outlook Report from the
Economic Research Service. United States Department of Agriculture. New
York.
[CIC] Capricorn Indonesia Consultan. 2010. Pemerintah Berencana Kenakan HPP
Kedelai. PT. CIC, Inc. Jakarta.

Coelli T, Rao DSP dan Battese GE. 1998. An Introduction to Efficiency


Productivity Analysis. Kluwer Academic Publishers. Massachusetts.
Debertin DL. 1986. Agricultural Production Economics. MacMillan Publishing
Company. New York.
Direktorat Gizi. 2001. Daftar Komposisi Bahan Makanan. Departemen Kesehatan.
Jakarta.
Ditjen Industri Kecil dan Menengah. 2011. Olahan Data Kebutuhan Kedelai untuk
Industri Kecil dan Menengah. Kementerian Perindustrian. Jakarta.
Ditjen Perdagangan Luar Negeri. 2008a. Kondisi dan Kebijakan Kedelai. Ditjen
Perdagangan Luar Negeri. Kementrian Perdagangan. Jakarta.
__________________________. 2008b. Himpunan Regulasi di Bidang Impor
Tahun 1997-2007. Ditjen Perdagangan Luar negeri. Jakarta.
Ditjen Tanaman Pangan. 2007. Pedoman Umum Percepatan Bangkit Kedelai.
Ditjen Tanaman Pangan. Departemen Pertanian. Jakarta.
____________________. 2009. Laporan Tahunan Ditjen Tanaman Pangan Tahun
2009. Ditjen Tanaman Pangan. Kementrian Pertanian. Jakarta.
____________________. 2010. Road Map Peningkatan Produksi Kedelai Tahun
2010-2014. Ditjen Tanaman. Kementrian Pertanian. Pangan. Jakarta.
____________________. 2011. Profil Kedelai Indonesia. Ditjen Tanaman Pangan.
Kementerian Pertanian. Jakarta.
____________________. 2012. Pedoman Teknis Pengelolaan Kedelai Tahun 2012.
Ditjen Tanaman Pangan. Kementerian Pertanian. Jakarta
Djunlin AN, Syafaat dan Faisal K. 2005. Perkembangan Sistem usahatani Jagung.
Ekonomi Jagung Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Departemen Pertanian. Jakarta.
Doll JP dan Orazem F. 1984. Production Economics: Theory With Application.
Grind, Inc. Columbus, Ohio.
Earth Policy Institute. 2011. http://www.earth-policy.org. Diakses pada tanggal 26
Juni 2013.
Ellis F. 1992. Agricultural Policies in DevelopingCountries. Wye Studies in
Agricultural and Rural Development. Cambridge University Press.
Cambridge.
[FAO] Food Agriculture Organization. 2009. Production Year Book. Food and
Agriculture Organization. Roma.

Gujarati DN. 1995. Basic Econometrics. Second Edition. McGraw-Hill


International. Singapore.
Hadipurnomo T. 2000. Dampak Kebijakan Produksi dan Perdagangan Terhadap
Penawaran dan Permintaan Kedelai di Indonesia. Tesis Magister Sains.
Program Pascasarjana IPB. Bogor.
Hadi PU dan Wiryono B. 2005. Dampak Kebijakan Proteksi Terhadap Ekonomi
Beras di Indonesia. Jurnal Agro Ekonomi. Volume 23 Nomor 2. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.

Handayani D. 2007. Simulasi Kebijakan Dayasaing Kedelai Lokal Pada Pasar


Domestik. Tesis Magister Sains. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor.
Henderson JM dan Quant RE. 1980. Microeconomics Theory: A Mathematical
Approach. Mebrow Hill International Editors. Singapore.
Imron A. 2007. Dampak Kebijakan Ekonomi dan Perubahan Faktor Eksternal
Terhadap Kinerja Pasar Jagung dan Produk Turunannya di Indonesia.
Disertasi. Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor
Intriligator MD, Bodkin RG dan Hsiao C. 1996. Econometrics Models,
Techniques, and Applications. Second Edition. Prentice Hall Intl, Inc. New
Jersey.

Just RE, Hueth DL dan Schmitz A. 1982. Applied Welfare Economics and Public
Policy. Prentice Hall Intl, Inc. United States of America.
Kariyasa IK. 2003. Keterkaitan Pasar Jagung, Pakan dan Daging Ayam Ras di
Indonesia. Tesis Magister Sains. Sekolah Pasca Sarjana IPB. Bogor
Kementrian Perdagangan. 2011. Bahan Rapat Koordinasi Kebijakan Kedelai.
Kementrian Perdagangan Republik Indonesia. Jakarta.
Kementrian Pertanian. 2010. Rencana Strategis Kementrian Pertanian Tahun 2010-
2014. Kementrian Pertanian. Jakarta.
Koutsoyianis A. 1973. Modern Microeconomics. Halsred Press Book Waterloo.
Ontario.
Krugman PR dan Obstfeld M. 2004. Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijakan.
Edisi Kelima (Bahasa Indonesia). PT. Indeks. Jakarta.
Kumenaung AG. 2002. Dampak Kebijakan Ekonomi dan Liberalisasi Perdagangan
Terhadap Keragaan Industri Komoditas Kedelai Indonesia. Disertasi. Sekolah
Pasca Sarjana IPB. Bogor.
Kurnia WD dan Erwidodo. 2011. Tata Perdagangan Dunia dan Upaya Indonesia
Memacu Ekspor Hasil Pertanian. Makalah Seminar: Petani dan
Pembangunan Pertanian. Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian.
Bogor.
Kusbini. 2010. Permasalahan, Tantangan dan Peluang Pencapaian Swasembada
Kedelai. Dewan Kedelai Nasional. Jakarta.
Labys WC. 1973. Dynamic Commodity Models: Specification, Estimation and
Simulation. Mass DC. Helth and Company. Lexington.
Las I. 2008. Potensi dan Inovasi Teknologi Sumberdaya Lahan Menuju
Swasembada Kedelai. http://soil-climate.or.id. Diakses tanggal 8 September
2013.
Lindert PH dan Kindleberger CP. 1982. International Economics. Richard Irwin.
California.
Malian AH. 2004. Kebijakan Perdagangan Internasional Komoditas Pertanian
Indonesia. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 2 Nomor 2. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.
Mensah EC dan Wohlgenant MK. 2005. A Market Impact Analysis of Soybean
Technology Adoption. Research in Business and Economics Journal. North
Carolina.
Nicholson W. 2002. Intermediate Microeconomics and its Application. Eight
Edition. Amherst College. Massachusetts.
Nopirin. 1990. Ekonomi Internasional. Edisi Ketiga. Balai Penerbit Fakultas
Ekonomi. Universitas Gajah Mada. Jogyakarta.
Nurung M. 2005. Analisis Keragaan, Estimasi Fungsi Keuntungan dan Efisiensi
Usahatani Kedelai dan Jagung di Propinsi Bengkulu. Jurnal Penelitian
Universitas Bengkulu. Volume IX Nomor 1. Bengkulu.
Nuryanti S dan Kustiari R. 2007. Meningkatkan Kesejahteraan Petani Kedelai
dengan Kebijakan Tarif Optimal. Makalah Seminar Nasional Dinamika
Pembangunan Pertanian dan Pedesaan: Mencari Alternatif Arah
Pengembangan Ekonomi Rakyat. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan
Kebijakan Pertanian. Bogor.
Oktaviani R. 2002. Impor Kedelai: Dampaknya Terhadap Stabilitas Harga dan
Permintaan Kedelai Dalam Negeri. Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB.
Bogor.
Pyndick RS dan Rubinfeld DL. 1998. Econometric Models and Economic
Forecast. Fourth Edition. McGraw-Hill International. Singapore.
Pusat Data dan Informasi Pertanian. 2010. Kedelai. Outlook Komoditas Pertanian
Tanaman Pangan. Kementrian Pertanian. Jakarta.
Radjadin B. 1998. Kebijakan Pengembangan Pertanian Nasional. Makalah Akhir
Program Perencanaan Nasional PPN-UI. Jakarta.
Rosegrant MW, Kasryno F, Gonzales LA, Rasahan AR dan Saefudin Y. 1987.
Price and Invesment Policies in The Indoensian Food Crop Sector.
International Food Policy Research Institute. Washington DC and Centre for
Agro Economic Research. Bogor.
Rosyidi S. 2003. Pengantar Teori Ekonomi: Pendekatan Kepada Teori Ekonomi
Mikro dan Makro. PT Radja Grafindo Persada. Jakarta.
Rusastra IW. 2000. Analisis Usahatani dan Keunggulan Komparatif. Makalah
Seminar. Pusat Penelitian Tanaman Pangan. Bogor.
Sadoulet E dan De Janvry A. 1995. Quantitative Development Policy Analysis.
1995. The John Hoopkins University Press.
Sahara D dan Gunawati ES. 2001. Analisis Permintaan Kedelai di Kabupaten
Banyumas Jawa Tengah. Fakultas Ekonomi Unsoed. Purwokerto.
Saliem HP, Mardiyanto S dan Pancar S. 2003. Perkembangan dan Prospek
Kemandirian Pangan Nasional. Jurnal Analisis Kebijakan Pertanian. Volume
1 Nomor 2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.
Bogor.
Saliem HP, Hastuti SS dan Hardono GS. 2004. Dampak Liberalisasi Perdagangan
Terhadap Kinerja Ketahanan Pangan Nasional. Jurnal Analisis Kebijakan
Pertanian. Volume 3 Nomor 2. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial
Ekonomi Pertanian. Bogor.
Salvatore D. 1996. International Economics. Fifth Edition. Prentice Hall Intl, Inc.
New Jersey.
Sayaka B. 2003. Market Structure, Conduct, and Performance of The Corn Seed
Industry in East Java, Indonesia. Dissertation. University of the Philippines,
Los Banos.
Sejati KW, Kustiari R, Rivai RS, Zakaria AK dan Nurasa T. 2009. Kebijakan
Insentif Usahatani Kedelai Untuk Mendorong Peningkatan Produksi dan
Pendapatan Petani. Laporan Hasil Penelitian. Pusat Analisis Sosial Ekonomi
dan Kebijakan Pertanian. Bogor.

Semaoen I. 1996. Teori Mikroekonomi, Pendekatan Matematik. Edisi Pertama.


Program Pascasarjana Unibraw. Malang.
Sheperd WG. 1997. The Economics of Industrial Organization : Analysis, Markets
and Policies. Fourth Edition. Prentice Hall Intl, Inc. New Jersey.
Sinaga BM. 1989. Econometrics Model of the Indonesian Hardwood Products
Industry: A Policy Simulation Analysis. Disertasi. University of the
Philippines. Los Banos
Silberberg E. 1990. The Structutre of Economics: A Mathematical Analysis. Mc.
Graw-Hill Company. Singapore.
Siregar M. 2003. Kebijakan Perdagangan dan Daya Saing Komoditas Kedelai.
Icaserd Working Paper No. 16. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial
Ekonomi Pertanian. Bogor.
Sitepu RK dan Sinaga BM. 2006. Aplikasi Model Ekonometrika. Estimasi,
Simulasi dan Peramalan Menggunakan Program SAS. Program Studi Ilmu
Ekonomi Pertanian. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Snodgrass MM dan Wallace LT. 1980. Agriculture, Economics and Management.
Second Edition. Prentice Hall Intl, Inc. New Jersey.
Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. UI Press. Jakarta
[SPI] Serikat Petani Indonesia. 2009. Pandangan Petani atas Kebijakan Pertanian
Pemerintah Tahun 2008. http://www.spi.or.id diakses tanggal 8 september
2013.
Subagio A. 2010. Strategi Pencapaian Swasembada Kedelai dengan
Pengembangan Sumber Protein Nabati Alternatif. Artikel dalam Majalah
Pangan. Volume 19 Nomor 2. Bulog. Jakarta.
Sudaryanto T, Rusastra IW dan Saptana. 2004. Perspektif Pengembangan Ekonomi
Kedelai di Indonesia. Working Paper No.28. Januari 2004. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian Bogor.
Sugiharto, Herlambang T, Brastoro, Sudjana R dan Kelana S. 2005. Ekonomi
Mikro: Sebuah Kajian Komprehensif. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Supadi. 2009. Dampak Impor Kedelai Berkelanjutan Terhadap Ketahanan Pangan.
Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Bogor.
Suyamto, 2010. Penyediaan Benih Bermutu Mendukung Swasembada Kedelai.
Sinar Tani. Tanggal 17-23 Februari 2010.
Tabor SR, Altemeier K dan Adinugroho B. 1988. Supply and Demand for
Foodcrops in Indonesia. Directorate of Foodcrops, Economics and
Postharvest Processing. Directorate General of Foodcrops. Ministry of
Agriculture. Jakarta.

Tahir AG. 2011. Analisis Usahatani dan Risiko Produksi Kedelai di Sulawesi
Selatan. Disertasi. Program Studi Ekonomi Pertanian. Program Pascasarjana
Fakultas Pertanian Universitas Gajah Mada. Jogyakarta.
Tambunan T. 2007. Implikasi Dari Globalisasi Perdagangan Bebas Dunia Terhadap
Ekonomi Nasional. Kamar Dagang dan Industri. Jakarta.
Tavora FL. 2008. Development in the World Soybean Market: a Partial
Equilibrium Trade Model. Preliminary Article for Presentation at Brazilia
Federal Senate. Brazil.
Tweeten L. 1992. Agricultural Trade: Principles and Policies. Westview Press,
Inc. 5500 Central Avenue, Boulder. Colorado.
Widianti A. 2008. Selidiki Kartel Kedelai. http:www.detik.com/detikfinance.
Diakses pada tanggal 8 April 2013.
Lampiran 1. Data Dasar Yang Digunakan Dalam Penelitian

Tahun LAPK YSKD PROK HBKD HKDP HPUR


1981 809.98 8.69 703.81 354.17 265.74 72.11
1982 607.78 8.58 521.39 317.59 306.31 81.89
1983 639.88 8.38 536.1 487.06 352.65 92.66
1984 858.89 8.96 796.38 546.62 376.41 96.24
1985 896.22 9.7 869.72 534.97 393.28 100.21
1986 1253.67 9.78 1226.65 650.3 476.46 105.57
1987 1100.41 10.55 1160.87 726.28 505.7 126.93
1988 1177.15 10.79 1270.31 826.09 524.34 135.9
1989 1197.7 10.98 1314.9 836.26 558.06 169.25
1990 1333.77 11.15 1487.21 1002.04 600.1 215.61
1991 1367.16 11.37 1554.69 913.16 634.18 227.08
1992 1664.18 11.23 1868.34 1067.19 743.21 246.62
1993 1468.32 11.63 1707.13 1186.92 790.07 263.26
1994 1406.04 11.12 1564.18 1267.26 860.43 292.48
1995 1476.29 11.37 1679.09 1285.92 1131.32 318.07
1996 1277.74 11.86 1515.94 2456.1 1071.82 376.04
1997 1118.14 12.13 1356.11 2876.99 1110.89 443.88
1998 1094.26 11.93 1304.95 2662.83 1130.38 572.56
1999 1151.08 12.01 1382.85 3060.43 1160.28 1088.4
2000 824.48 12.34 1017.63 3112.03 1284.42 1352.81
2001 678.85 12.18 826.93 3490.74 1335.09 1334.29
2002 544.52 12.36 673.06 3927.6 2035 1400.32
2003 526.8 12.75 671.6 4212.03 2462.42 1596.87
2004 565.16 12.81 723.48 6249.17 2412.5 1626.77
2005 621.54 13.01 808.35 6375.58 2725 1668.78
2006 580.53 12.88 747.61 7150.35 3157.28 1865.46
2007 459.12 12.91 592.53 8780.5 4101 2226.77
2008 590.96 13.13 775.71 8245.68 4976.07 2468.78
2009 722.79 13.48 974.51 8675.8 5598.07 2865.46
2010 660.82 13.73 905.02 8808 6297.82 3141.56
Satuan 000 Ha Ku/Ha 000 Ton Rp/Kg Rp/Kg Rp/Kg

Sumber Ditjen TP, BPS Ditjen TP,BPS Ditjen TP, BPS P2HP, BPS BPS, Deptan BPS, Deptan
Lampiran 1. Lanjutan
UTKP HKPB DKDN HKDM CR4 JPOP SNKD SKDI

3428 321.05 633.13 288.42 100 149.78 742.76 10.55


3864 345.43 469.67 244.6 100 152.47 643.19 52.19
4316 396.91 695.85 281.59 100 155.14 703.02 7.16
4742 466.78 1040.5 282.08 100 159.48 1091.87 24.37
5106 480.32 1052.08 224.42 100 162.9 1104.42 52.34
5514 569.14 1465.1 208.42 100 166.36 1546.44 81.34
6196 584.2 1302.75 215.75 100 169.85 1368.29 65.62
6882 669.3 1645.88 303.5 100 173.42 1704.08 58.24
7614 684.81 1537.62 275 100 177.25 1606.13 68.5
8026 767.37 2027.57 246.75 100 179.25 2166.75 139.17
8588 843.11 2229.45 239.58 100 182.94 2363.07 133.62
8810 847.92 2558.89 235.5 100 186.04 2689.96 128.07
9730 917.2 2431.15 255.08 100 187.54 2566.12 134.97
10738 1002.25 2364.38 251.83 100 189.68 2488.79 124.4
12474 1033.96 2290.13 259.25 100 192.71 2445.95 155.83
14002 1114.63 2263.28 304.83 100 195.52 2377.06 113.78
15398 1218.53 1972.39 295.42 100 198.68 2117.51 145.12
17205 2024.25 1649.36 243.25 90.71 201.54 1784.54 135.18
17524 2520.84 2683.07 201.67 90.71 204.78 2821.41 138.34
18779 2696.19 2293.56 211.83 90.97 208.44 2305.27 139.01
18990 2991.6 1960.24 195.83 90.71 211.06 1973.9 85.51
20563 3083.7 1983.81 212.67 90.71 213.72 2092.81 184.5
20655 3277.85 1864.32 264 90.96 214.37 1872.46 161.43
21907 3499.49 1839.28 306.5 90.71 217.07 1847.33 160.52
23392 3684.64 1894.53 274.59 74.87 219.85 1902.83 152.96
24814 4681.46 1879.76 268.65 90.53 222.75 1887.99 162.32
25907 6416.67 2004.12 384.05 88.54 225.64 2012.9 167.75
26392 7096.5 1944.73 522.83 82.8 228.52 1953.24 175.17
28814 6629.42 2295.38 436.92 75.84 231.37 2305.43 180.06
29356 6386 2645.52 449.8 71.65 237.64 2657.13 181.6
Rp/HOK Rp/Kg 000 Ton US$/Ton % Juta Jiwa 000 Ton 000 Ton

BPS BPS, P2HP BKP, BPS FAO, P2HP Bea Cukai, BPS BKP, BPS BKP, BPS
Bulog, BPS
Lampiran 1. Lanjutan

MKDI GPCI NTRP TMKD MKDW XKDA HXKA PKDA


28.4 599 631.76 30 26275.86 21859.73 284 54436
69.6 600 661.42 30 28675.86 25519.97 245 59611.1
159.75 529 909.26 10 26845.73 22728.18 261 44518.4
271.12 532 1025.94 10 25642 19535.46 278 50648
182.37 520 1110.58 10 25834.84 17565.76 222 57128
238.45 467 1282.56 10 27082.46 21379.54 203 52868
141.8 434 1643.85 10 29387.81 21328.32 204 52737
375.54 499 1685.7 10 26555.44 17901.36 269 42153
222.72 560 1770.06 10 23738.23 15189.67 263 52350
540.37 621 1842.81 10 26327.58 15466.66 232 52416
674.75 684 1950.3 10 26468.18 17610.58 227 54065
693.55 730 2026.9 10 29920.82 19880.21 222 59612
724.03 816 2087.1 10 28132.96 19511.5 237 50886
800.2 900 2160.8 5 29612.46 18126.34 240 68445
611.03 1014 2248.6 5 33319.85 22840 238 59174
747.34 1124 2342.3 5 32399.08 25960 287 64782
616.28 1052 2909.4 5 38015.1 26367.93 285 73177
344.41 459 10013.5 2.5 37205.18 20391.2 240 74599
1300.22 665 7855.2 0 39001.35 23150.31 197 72223
1277.59 773 8421.8 0 38630.46 27192.22 195 75053.8
1138.42 742 10265.64 0 44182.09 28933.83 188 78669.9
1365.25 893 9261.16 0 42690.59 27432.93 205 75008.5
1192.72 1058 8571.16 0 52961.52 31019.68 256 66781.4
1115.79 1143 9030.41 5 46502.72 25602.61 261 85013.9
1086.18 1258 9488 10 53829.21 25657.94 246 83504.9
1132.14 1586 9020 10 54248.03 28120.03 246 86998.9
1411.59 1859 9200 10 59255.85 29840.18 336 72857.7
1169.02 2172 9300 10 65109.27 33995.59 457 80748.7
1320.87 2272 9400 10 66188.8 40505.68 407 91417.3
1740.51 2946 8920 10 81364.72 42350.56 439 90605.5
000 Ton US $ Rp/US$ % 000 Ton 000 Ton US$/Ton 000 Ton

BPS, Deptan FAO, ADB BI, ADB Depdag, FAO FAO FAO FAO
BPS
Lampiran 2. Program Pendugaan Model Kinerja Kedelai di Indonesia

options nodate nonumber;


data work.soybean;
set work.soybean;

/* create data */
Prok = (LAPK*YSKD);
SNKD = (PROK + MKDI + SKDI);
llapk = lag (lapk);
lhkpb = lag (hkpb);
lhkpb = lag(hkpb);
lskdi = lag (skdi);
lxkda = lag (xkda);
lhxka = lag (hxka);
hkdm1 = (hkdm*ntrp);
hxka1 = (hxka*ntrp);

proc syslin 2sls data=work.soybean outest=kedelai_1;

endogenous
lapk yskd prok hkdp hkpb dkdn skdi mkdi hkdm xkda hxka snkd;

instruments
prok hpur hbkd utkp crhj cr4 hrjg jpop ntrp gpci gdpi tmkd snkd pkda
pkdb mkdw hxka1 hkdm1

/* persamaan struktural */
model lapk = lhkdp hrjg hpur hbkd llapk/dw;
model yskd = hpur hbkd utkp/dw;
model hkpb = snkd hkdm1 dkdn lhkpb/dw;
model hkdp = prok hkdm dkdn lhkdp/dw;
model dkdn = hkpb jpop gpci/dw;
model skdi = prok mkdi dkdn lskdi/dw;
model mkdi = prok dkdn hkdm1 pkda/dw;
model hkdm = hxka1 tmkd cr4/dw;
model xkda = hxka pkda lxkda/dw;
model hxka = mkdw pkda lhxka/dw;
identity prok = prok + 0;
identity snkd = prok + mkdi + skdi;

run;
Lampiran 2. Lanjutan

options nodate nonumber;


data work.soybean;
set work.soybean;
/* create data */
Prok = (LAPK*YSKD);
SNKD = (PROK + MKDI + SKDI);
llapk = lag (lapk);
lhkpb = lag (hkpb);
lhkpb = lag(hkpb);
lskdi = lag (skdi);
lxkda = lag (xkda);
lhxka = lag (hxka);
hkdm1 = (hkdm*ntrp);
hxka1 = (hxka*ntrp);
run;

proc simnlin out=kedelai_2 simulate dynamic stat theil;

endogenous
lapk yskd prok snkd hkdp hkpb dkdn skdi mkdi hkdm xkda hxka;

instruments
prok hpur hbkd utkp cr4 hrjg jpop ntrp gpci tmkd snkd pkda mkdw pkdb
hxka1 hkdm1;
lhkdp=lag(hkdp); lhkpb=lag(hkpb); llapk=lag(lapk);
lxkda=lag(xkda); lhxka=lag(hxka); lskdi=lag(skdi);

parm a0 278.7997 a1 0.122396 a2 0.144585 a3 -0.32156 a4 -0.02476 a5


0.765273
b0 8.47694 b1 -0.00067 b2 -0.00015 b3 0.000283
c0 198.0755 c1 -0.06035 c2 0.000638 c3 0.391454 c4 0.540851
d0 -352.476 d1 -0.04828 d2 1.982732 d3 0.306681 d4 0.974738
e0 -4536.45 e1 -0.37367 e2 34.98513 e3 0.436784
f0 -6.24524 f1 0.035157 f2 0.379139 f3 -0.32034 f4 0.380480
g0 11.46768 g1 -0.10199 g2 0.989677 g3 -0.00001 g4 0.000776
h0 -262.891 h1 0.000076 h2 5.424151 h3 4.202616
i0 -4523.52 i1 21.33120 i2 0.135954 i3 0.605753
j0 123.9349 j1 0.003991 j2 -0.00286 j3 0.668224;

lapk = a0 + a1*lhkdp + a2*hrjg + a3*hpur + a4*hbkd + a5*llapk;


yskd = b0 + b1*hpur + b2*hbkd + b4*utkp;
hkpb = c0 + c1*snkd + c2*hkdm1 + c3*dkdn + c4*lhkpb;
hkdp = d0 + d1*prok + d2*hkdm + d3*dkdn + d3*lhkdp;
dkdn = e0 + e1*hkpb + e2*jpop + e3*gpci;
skdi = f0 + f1*prok + f2*mkdi + f3*dkdn + f4*lskdi;
mkdi = g0 + g1*prok + g2*dkdn + g3*hkdm1 + g4*pkda;
hkdm = h0 + h1*hxka1 + h2*tmkd + h3*cr4; xkda = i0
+ i1*hxka + i2*pkda + i3*lxkda;
hxka = j0 + j1*mkdw + j2*pkda + j3*lhxka;
prok = lapk * yskd;
snkd = prok + mkdi + skdi;

Range tahun 1998 to 2010;

run;
Lampiran 3. Hasil Pendugaan Model Kinerja Perkedelaian di Indonesia

The SAS System


The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model LAPK
Dependent Variable LAPK
Label LAPK
Analysis of Variance

Sum of Mean
Source DF Squares Square F Value Pr > F
Model 5 3081821 616364.2 29.57 <.0001

Error 23 479348.2 20841.23


Corrected Total 28 3561169
Root MSE 144.36491 R-Square 0.86540

Dependent Mean 960.83621 Adj R-Sq 0.83613


Coeff Var 15.02492
Parameter Estimates

Parameter Standard Variable


Variable DF Estimate Error t Value Pr > |t| Label
Intercept 1 278.7997 126.8975 2.20 0.0384 Intercept

LHKDP 1 0.122396 0.087444 1.40 0.1409 LHKDP


HRJG 1 0.144585 0.197002 0.73 0.4704 HRJG
HPUR 1 -0.32156 0.173435 -1.85 0.0766 HPUR
HBKD 1 -0.02476 0.040286 -0.61 0.5449 HBKD
LLAPK 1 0.765273 0.102739 7.45 <.0001 LLAPK
Durbin-Watson 2.059952
Number of Observations 29
First-Order Autocorrelation -0.13811

The SAS System


The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model YSKD
Dependent Variable YSKD
Label YSKD
Analysis of Variance

Sum of Mean
Source DF Squares Square F Value Pr > F
Model 3 50.11764 16.70588 62.78 <.0001

Error 25 6.652887 0.266115


Corrected Total 28 56.77052
Root MSE 0.51586 R-Square 0.88281
Dependent Mean 11.55517 Adj R-Sq 0.86875
Coeff Var 4.46435
Parameter Estimates

Parameter Standard Variable


Variable DF Estimate Error t Value Pr > |t| Label
Intercept 1 8.476940 0.317413 26.71 <.0001 Intercept

HPUR 1 -0.00067 0.000453 -1.48 0.1025 HPUR


HBKD 1 -0.00015 0.000150 -0.99 0.1407 HBKD
UTKP 1 0.000283 0.000044 6.48 <.0001 UTKP
Durbin-Watson 1.464981
Number of Observations 29
First-Order Autocorrelation 0.698232
Lampiran 3. Lanjutan
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model HKPB
Dependent Variable HKPB
Label HKPB
Analysis of Variance

Sum of Mean
Source DF Squares Square F Value Pr > F
Model 4 1.2391E8 30977969 296.03 <.0001

Error 24 2511470 104644.6


Corrected Total 28 1.2642E8
Root MSE 323.48815 R-Square 0.98013

Dependent Mean 2307.94724 Adj R-Sq 0.97682


Coeff Var 14.01627
Parameter Estimates

Parameter Standard Variable


Variable DF Estimate Error t Value Pr > |t| Label
Intercept 1 198.0755 241.9559 0.82 0.4210 Intercept

SNKD 1 -0.06035 0.037832 -1.60 0.1238 SNKD


hkdm1 1 0.000638 0.000163 3.92 0.0006
DKDN 1 0.391454 0.273172 1.43 0.0824 DKDN
LHKPB 1 0.540851 0.121479 4.45 0.0002 LHKPB
Durbin-Watson 1.210708
Number of Observations 29
First-Order Autocorrelation 0.467566

The SAS System


The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model HKDP
Dependent Variable HKDP
Label HKDP
Analysis of Variance

Sum of Mean
Source DF Squares Square F Value Pr > F
Model 4 76139679 19034920 601.78 <.0001

Error 24 759147.2 31631.13


Corrected Total 28 76814028
Root MSE 177.85143 R-Square 0.99013

Dependent Mean 1693.46759 Adj R-Sq 0.98848


Coeff Var 10.50220
Parameter Estimates

Parameter Standard Variable


Variable DF Estimate Error t Value Pr > |t| Label
Intercept 1 -352.476 245.7247 -1.43 0.1644 Intercept

PROK 1 -0.04828 0.018101 -2.67 0.0135 PROK


HKDM 1 1.982732 0.927041 2.14 0.0428 HKDM
DKDN 1 0.306681 0.137830 2.23 0.0357 DKDN
LHKDP 1 0.974738 0.074930 13.01 <.0001 LHKDP
Durbin-Watson 1.997665
Number of Observations 29
First-Order Autocorrelation -0.00253
Lampiran 3. Lanjutan
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model DKDN
Dependent Variable DKDN
Label DKDN

Analysis of Variance
Sum of Mean
Source DF Squares Square F Value Pr > F

Model 3 5794495 1931498 17.23 <.0001


Error 25 2802634 112105.4
Corrected Total 28 8590391

Root MSE 334.82140 R-Square 0.76400


Dependent Mean 1871.87483 Adj R-Sq 0.63488
Coeff Var 17.88695
Parameter Estimates

Parameter Standard Variable


Variable DF Estimate Error t Value Pr > |t| Label
Intercept 1 -4536.45 997.9593 -4.55 0.0001 Intercept

HKPB 1 -0.37367 0.089250 -4.19 0.0003 HKPB


JPOP 1 34.98513 5.755641 6.08 <.0001 JPOP
GPCI 1 0.436784 0.223250 1.96 0.0617 GPCI
Durbin-Watson 1.954508
Number of Observations 29
First-Order Autocorrelation 0.484635

The SAS System


The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model SKDI
Dependent Variable SKDI
Label SKDI
Analysis of Variance

Sum of Mean
Source DF Squares Square F Value Pr > F
Model 4 55535.55 13883.89 23.74 <.0001

Error 24 14034.90 584.7876


Corrected Total 28 69997.48
Root MSE 24.18238 R-Square 0.79826

Dependent Mean 121.00241 Adj R-Sq 0.76464


Coeff Var 19.98504
Parameter Estimates

Parameter Standard Variable


Variable DF Estimate Error t Value Pr > |t| Label
Intercept 1 -6.24524 19.93449 -0.31 0.7568 Intercept

PROK 1 0.035157 0.023008 1.53 0.9136 PROK


MKDI 1 0.379139 0.224493 1.69 0.0412 MKDI
DKDN 1 -0.32034 0.225565 -1.42 0.8164 DKDN
LSKDI 1 0.380480 0.148986 2.55 0.0174 LSKDI
Durbin-Watson 2.181429
Number of Observations 29
First-Order Autocorrelation -0.09674
Lampiran 3. Lanjutan
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model MKDI
Dependent Variable MKDI
Label MKDI
Analysis of Variance

Sum of Mean
Source DF Squares Square F Value Pr > F
Model 4 6247565 1561891 315.29 <.0001

Error 24 11887.72 495.3219


Corrected Total 28 6261243
Root MSE 22.25583 R-Square 0.99810

Dependent Mean 781.50379 Adj R-Sq 0.99778


Coeff Var 2.84782
Parameter Estimates

Parameter Standard Variable


Variable DF Estimate Error t Value Pr > |t| Label
Intercept 1 11.46768 34.30696 0.33 0.7411 Intercept

PROK 1 -0.10199 0.002272 -44.90 <.0001 PROK


DKDN 1 0.989677 0.016111 61.43 <.0001 DKDN
hkdm1 1 -0.00001 6.612E-6 -1.55 0.0838
PKDA 1 0.000776 0.000593 1.31 0.1033 PKDA
Durbin-Watson 1.51712
Number of Observations 29
First-Order Autocorrelation -0.03382

The SAS System


The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model HKDM
Dependent Variable HKDM
Label HKDM
Analysis of Variance

Sum of Mean
Source DF Squares Square F Value Pr > F
Model 3 113236.6 37745.52 16.71 <.0001

Error 25 56457.35 2258.294


Corrected Total 28 169693.9
Root MSE 47.52151 R-Square 0.76630

Dependent Mean 279.17897 Adj R-Sq 0.62737


Coeff Var 17.02188
Parameter Estimates

Parameter Standard Variable


Variable DF Estimate Error t Value Pr > |t| Label
Intercept 1 -262.891 268.1917 -0.98 0.3364 Intercept

hxka1 1 0.000076 0.000018 4.23 0.0003


TMKD 1 5.424151 1.602590 3.38 0.0024 TMKD
CR4 1 4.202616 2.589112 1.62 0.1001 CR4
Durbin-Watson 1.561345
Number of Observations 29
First-Order Autocorrelation 0.320374
Lampiran 3. Lanjutan
The SAS System
The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model XKDA
Dependent Variable XKDA
Label XKDA
Analysis of Variance

Sum of Mean

Source DF Squares Square F Value Pr > F


Model 3 1.0457E9 3.4856E8 40.68 <.0001

Error 25 2.1424E8 8569454


Corrected Total 28 1.2571E9
Root MSE 2927.36293 R-Square 0.82996

Dependent Mean 24520.8359 Adj R-Sq 0.80956


Coeff Var 11.93827
Parameter Estimates

Parameter Standard Variable


Variable DF Estimate Error t Value Pr > |t| Label
Intercept 1 -4523.52 2885.156 -1.57 0.1295 Intercept

HXKA 1 21.33120 11.13224 1.92 0.0568 HXKA


PKDA 1 0.135954 0.059608 2.28 0.0313 PKDA
LXKDA 1 0.605753 0.179444 3.38 0.0024 LXKDA
Durbin-Watson 1.94508
Number of Observations 29
First-Order Autocorrelation -0.00167

The SAS System


The SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation
Model HXKA
Dependent Variable HXKA
Label HXKA
Analysis of Variance

Sum of Mean
Source DF Squares Square F Value Pr > F
Model 3 108677.6 36225.86 42.62 <.0001

Error 25 21249.45 849.9782


Corrected Total 28 129927.0
Root MSE 29.15439 R-Square 0.83645

Dependent Mean 261.58621 Adj R-Sq 0.81682


Coeff Var 11.14523
Parameter Estimates

Parameter Standard Variable


Variable DF Estimate Error t Value Pr > |t| Label
Intercept 1 123.9349 35.88583 3.45 0.0020 Intercept

MKDW 1 0.003991 0.000752 5.31 <.0001 MKDW


PKDA 1 -0.00286 0.000731 -3.91 0.0006 PKDA
LHXKA 1 0.668224 0.114398 5.84 <.0001 LHXKA
Durbin-Watson 1.983208
Number of Observations 29
First-Order Autocorrelation -0.00689
Lampiran 4. Hasil Validasi Model
The SAS System
The SIMNLIN Procedure
Model Summary
Model Variables 12

Endogenous 12
Parameters 46
Range Variable Tahun
Equations 12
Number of Statements 18
Program Lag Length 1

The SAS System


The SIMNLIN Procedure
Dynamic Simultaneous Simulation

Data Set Options


DATA= SOYBEAN
OUT= KEDELAI_2

Solution Summary
Variables Solved 12
Simulation Lag Length 1
Solution Range Tahun
First 1998
Last 2010
Solution Method NEWTON
CONVERGE= 1E-8
Maximum CC 5.62E-16
Maximum Iterations 2
Total Iterations 26
Average Iterations 2

Observations Processed
Read 14
Lagged 1
Solved 13
First 18
Last 30

Variables Solved For LAPK YSKD PROK SNKD HKDP HKPB DKDN SKDI MKDI HKDM XKDA HXKA
The SAS System

The SIMNLIN Procedure


Dynamic Simultaneous Simulation
Solution Range Tahun = 1998 To 2010
Descriptive Statistics

Actual Predicted
Variable N Obs N Mean Std Dev Mean Std Dev Label
LAPK 13 13 693.9 212.0 789.7 140.2 LAPK

YSKD 13 13 12.7323 0.5487 12.8249 0.3730 YSKD


PROK 13 13 8775.0 2400.1 1011.24 1690.9 PROK
SNKD 13 13 10130.3 2294.2 2213.60 1497.9 SNKD
HKDP 13 13 2975.0 1755.8 3252.1 1648.3 HKDP
HKPB 13 13 4229.9 1787.3 4170.4 1448.6 HKPB
DKDN 13 13 2072.1 314.5 2138.3 199.3 DKDN
SKDI 13 13 155.7 26.8529 153.6 19.9658 SKDI
MKDI 13 13 1199.6 310.4 1130.0 277.2 MKDI
HKDM 13 13 305.6 107.9 323.7 70.5609 HKDM
XKDA 13 13 29553.3 6284.4 30321.5 4125.6 XKDA
HXKA 13 13 282.5 95.2380 294.1 69.8653 HXKA
Lampiran 4. Lanjutan
Statistics of fit

Mean Mean % Mean Abs Mean Abs RMS RMS %

Variable N Error Error Error % Error Error Error R-Square


LAPK 13 95.8216 17.6615 117.8 19.5700 135.8 23.9998 0.5553

YSKD 13 0.0926 0.7954 0.2167 1.7284 0.2749 2.2200 0.7281


PROK 13 1337.5 18.5300 1564.4 20.1715 1773.0 24.5841 0.4088
SNKD 13 1265.7 14.8709 1572.9 16.8835 1779.1 20.0753 0.3485
HKDP 13 277.1 13.9144 315.3 14.5382 388.8 18.4143 0.9469
HKPB 13 -59.5089 1.6624 421.3 9.6035 564.8 11.5759 0.8918
DKDN 13 66.1640 4.5708 217.9 10.5325 275.2 12.6914 0.1704
SKDI 13 -2.1644 1.4409 17.4276 12.9602 25.0757 21.7053 0.0553
MKDI 13 -69.5476 -2.5758 173.1 15.7202 210.9 19.2089 0.5000
HKDM 13 18.1495 10.4039 42.1960 15.4973 47.5316 18.4035 0.7896
XKDA 13 768.2 4.5421 2911.4 10.6992 3408.3 13.4479 0.6814
HXKA 13 11.5357 7.1320 27.9316 10.8342 34.4665 12.9223 0.8581

The SAS System

The SIMNLIN Procedure


Dynamic Simultaneous Simulation
Solution Range Tahun = 1998 To 2010

Theil Forecast Error Statistics


MSE Decomposition Proportions

Corr Bias Reg Dist Var Covar Inequality Coef


Variable N MSE (R) (UM) (UR) (UD) (US) (UC) U1 U
LAPK 13 18441.8 0.92 0.50 0.15 0.35 0.26 0.24 0.1878 0.0891

YSKD 13 0.0755 0.90 0.11 0.18 0.71 0.38 0.51 0.0216 0.0107
PROK 13 3143394 0.88 0.57 0.05 0.38 0.15 0.28 0.1954 0.0918
SNKD 13 3165312 0.85 0.51 0.06 0.44 0.18 0.31 0.1716 0.0814
HKDP 13 151146 0.99 0.51 0.05 0.45 0.07 0.42 0.1137 0.0552
HKPB 13 319022 0.96 0.01 0.20 0.79 0.33 0.66 0.1237 0.0630
DKDN 13 75737.0 0.49 0.06 0.03 0.92 0.16 0.78 0.1314 0.0649
SKDI 13 628.8 0.41 0.01 0.12 0.88 0.07 0.92 0.1589 0.0802
MKDI 13 44475.7 0.76 0.11 0.04 0.85 0.02 0.87 0.1706 0.0880
HKDM 13 2259.3 0.95 0.15 0.43 0.43 0.57 0.29 0.1473 0.0727
XKDA 13 11616551 0.86 0.05 0.13 0.82 0.37 0.58 0.1130 0.0561
HXKA 13 1187.9 0.96 0.11 0.37 0.52 0.50 0.39 0.1161 0.0576
Theil Relative Change Forecast Error Statistics

Relative Change MSE Decomposition Proportions


Corr Bias Reg Dist Var Covar Inequality Coef
Variable N MSE (R) (UM) (UR) (UD) (US) (UC) U1 U
LAPK 13 0.0520 0.74 0.54 0.23 0.23 0.09 0.37 1.3740 0.5215

YSKD 13 0.000490 0.10 0.12 0.42 0.46 0.00 0.87 1.2361 0.5336
PROK 13 0.0542 0.75 0.57 0.20 0.23 0.07 0.36 1.3651 0.5158
SNKD 13 0.0376 0.70 0.54 0.18 0.27 0.04 0.42 1.3588 0.5260
HKDP 13 0.0394 0.63 0.59 0.11 0.29 0.01 0.40 0.9724 0.3649
HKPB 13 0.0198 0.79 0.01 0.31 0.68 0.08 0.91 0.5847 0.2695
DKDN 13 0.0235 0.65 0.04 0.00 0.95 0.18 0.78 0.7601 0.4350
SKDI 13 0.0521 0.81 0.02 0.24 0.74 0.59 0.39 0.6680 0.4514
MKDI 13 0.1914 0.95 0.08 0.60 0.31 0.75 0.16 0.5515 0.3686
HKDM 13 0.0316 0.72 0.31 0.12 0.57 0.00 0.69 0.8943 0.3973
XKDA 13 0.0160 0.49 0.09 0.18 0.73 0.01 0.91 0.9596 0.4641
HXKA 13 0.0184 0.76 0.24 0.07 0.69 0.00 0.76 0.7592 0.3574
Lampiran 5. Hasil Peramalan Peubah Eksogen Tahun 1998-2010

The SAS System


Obs Tahun _TYPE_ _LEAD_ LAPK YSKD PROK HKDP HKPB DKDN SNKD SKDI

1 1981ACTUAL 0 809.98 8.6900 7038.73 265.74 321.05 633.13 7077.68 10.550

2 1982ACTUAL 0 607.78 8.5800 5214.75 306.31 345.43 469.67 5336.54 52.190


3 1983ACTUAL 0 639.88 8.3800 5362.19 352.65 396.91 695.85 5529.10 7.160
4 1984ACTUAL 0 858.89 8.9600 7695.65 376.41 466.78 1040.50 7991.14 24.370
5 1985ACTUAL 0 896.22 9.7000 8693.33 393.28 480.32 1052.08 8928.04 52.340
6 1986ACTUAL 0 1253.67 9.7800 12260.89 476.46 569.14 1465.10 12580.68 81.340
7 1987ACTUAL 0 1100.41 10.5500 11609.33 505.70 584.20 1302.75 11816.75 65.620
8 1988ACTUAL 0 1177.15 10.7900 12701.45 524.34 669.30 1645.88 13135.23 58.240
9 1989ACTUAL 0 1197.70 10.9800 13150.75 558.06 684.81 1537.62 13441.97 68.500
10 1990ACTUAL 0 1333.77 11.1500 14871.54 600.10 767.37 2027.57 15551.08 139.170
11 1991ACTUAL 0 1367.16 11.3700 15544.61 634.18 843.11 2229.45 16352.98 133.620
12 1992ACTUAL 0 1664.18 11.2300 18688.74 743.21 847.92 2558.89 19510.36 128.070
13 1993ACTUAL 0 1468.32 11.6300 17076.56 790.07 917.20 2431.15 17935.56 134.970
14 1994ACTUAL 0 1406.04 11.1200 15635.16 860.43 1002.25 2364.38 16559.76 124.400
15 1995ACTUAL 0 1476.29 11.3700 16785.42 1131.32 1033.96 2290.13 17552.28 155.830
16 1996ACTUAL 0 1277.74 11.8600 15154.00 1071.82 1114.63 2263.28 16015.12 113.780
17 1997ACTUAL 0 1118.14 12.1300 13563.04 1110.89 1218.53 1972.39 14324.44 145.120
18 1998ACTUAL 0 1094.26 11.9300 13054.52 1130.38 2024.25 1649.36 13534.11 135.180
19 1999ACTUAL 0 1151.08 12.0100 13824.47 1160.28 2520.84 2683.07 15263.03 138.340
20 2000ACTUAL 0 824.48 12.3400 10174.08 1284.42 2696.19 2293.56 11590.68 139.010
21 2001ACTUAL 0 678.85 12.1800 8268.39 1335.09 2991.60 1960.24 9492.32 85.510
22 2002ACTUAL 0 544.52 12.3600 6730.27 2035.00 3083.70 1983.81 8280.02 184.500
23 2003ACTUAL 0 526.80 12.7500 6716.70 2462.42 3277.85 1864.32 8070.85 161.430
24 2004ACTUAL 0 565.16 12.8100 7239.70 2412.50 3499.49 1839.28 8516.01 160.520
25 2005ACTUAL 0 621.54 13.0100 8086.24 2725.00 3684.64 1894.53 9325.38 152.960
26 2006ACTUAL 0 580.53 12.8800 7477.23 3157.28 4681.46 1879.76 8771.69 162.320
27 2007ACTUAL 0 459.12 12.9100 5927.24 4101.00 6416.67 2004.12 7506.58 167.750
28 2008ACTUAL 0 590.96 13.1300 7759.30 4976.07 7096.50 1944.73 9103.49 175.170
29 2009ACTUAL 0 722.79 13.4800 9743.21 5598.07 6629.42 2295.38 11244.14 180.060
30 2010ACTUAL 0 660.82 13.7300 9073.06 6297.82 6386.00 2645.52 10995.17 181.600
31 2011FORECAST 1 718.06 13.9159 9874.91 5975.91 6174.54 2645.70 11814.33 199.396
32 2012FORECAST 2 749.97 14.0961 10409.11 5753.72 6070.85 2657.58 12397.40 204.691
33 2013FORECAST 3 757.20 14.2720 10648.31 5610.62 6086.56 2678.06 12702.84 209.986
34 2014FORECAST 4 765.30 14.4447 10953.05 5530.25 6201.16 2704.89 13073.08 215.281
35 2015FORECAST 5 791.51 14.6150 11515.84 5499.63 6383.69 2736.40 13653.09 220.576
36 2016FORECAST 6 777.73 14.7835 11566.61 5508.47 6605.13 2771.34 13783.93 225.871
37 2017FORECAST 7 731.15 14.9507 11153.76 5548.60 6843.62 2808.82 13419.16 231.167

Obs MKDI HKDM XKDA HXKA PROK2 HPUR UTKP CR4 JPOP NTRP
1 28.40 288.420 21859.73 284.000 7038.73 72.11 3428.00 100.000 149.780 631.76

2 69.60 244.600 25519.97 245.000 5214.75 81.89 3864.00 100.000 152.470 661.42
3 159.75 281.590 22728.18 261.000 5362.19 92.66 4316.00 100.000 155.140 909.26
4 271.12 282.080 19535.46 278.000 7695.65 96.24 4742.00 100.000 159.480 1025.94
5 182.37 224.420 17565.76 222.000 8693.33 100.21 5106.00 100.000 162.900 1110.58
6 238.45 208.420 21379.54 203.000 12260.89 105.57 5514.00 100.000 166.360 1282.56
7 141.80 215.750 21328.32 204.000 11609.33 126.93 6196.00 100.000 169.850 1643.85
8 375.54 303.500 17901.36 269.000 12701.45 135.90 6882.00 100.000 173.420 1685.70
9 222.72 275.000 15189.67 263.000 13150.75 169.25 7614.00 100.000 177.250 1770.06
10 540.37 246.750 15466.66 232.000 14871.54 215.61 8026.00 100.000 179.250 1842.81
11 674.75 239.580 17610.58 227.000 15544.61 227.08 8588.00 100.000 182.940 1950.30
12 693.55 235.500 19880.21 222.000 18688.74 246.62 8810.00 100.000 186.040 2026.90
13 724.03 255.080 19511.50 237.000 17076.56 263.26 9730.00 100.000 187.540 2087.10
14 800.20 251.830 18126.34 240.000 15635.16 292.48 10738.00 100.000 189.680 2160.80
15 611.03 259.250 22840.00 238.000 16785.42 318.07 12474.00 100.000 192.710 2248.60
16 747.34 304.830 25960.00 287.000 15154.00 376.04 14002.00 100.000 195.520 2342.30
Lampiran 5. Lanjutan
17 616.28 295.420 26367.93 285.000 13563.04 443.88 15398.00 100.000 198.680 2909.40
18 344.41 243.250 20391.20 240.000 13054.52 572.56 17205.00 90.710 201.540 10013.50
19 1300.22 201.670 23150.31 197.000 13824.47 1088.40 17524.00 90.710 204.780 7855.20
20 1277.59 211.830 27192.22 195.000 10174.08 1352.81 18779.00 90.970 208.440 8421.80
21 1138.42 195.830 28933.83 188.000 8268.39 1334.29 18990.00 90.710 211.060 10265.64
22 1365.25 212.670 27432.93 205.000 6730.27 1400.32 20563.00 90.710 213.720 9261.16
23 1192.72 264.000 31019.68 256.000 6716.70 1596.87 20655.00 90.966 214.370 8571.16
24 1115.79 306.500 25602.61 261.000 7239.70 1626.77 21907.00 90.710 217.070 9030.41
25 1086.18 274.590 25657.94 246.000 8086.24 1668.78 23392.00 74.870 219.850 9488.00
26 1132.14 268.650 28120.03 246.000 7477.23 1865.46 24814.00 90.530 222.750 9020.00
27 1411.59 384.050 29840.18 336.000 5927.24 2226.77 25907.00 88.540 225.640 9200.00
28 1169.02 522.830 33995.59 457.000 7759.30 2468.78 26392.00 82.800 228.520 9300.00
29 1320.87 436.920 40505.68 407.000 9743.21 2865.46 28814.00 75.840 231.370 9400.00
30 1740.51 449.800 42350.56 439.000 9073.06 3141.56 29356.00 71.650 237.640 8920.00
31 1513.91 418.156 39318.93 401.385 9874.91 3068.92 29975.47 77.691 240.037 9978.23
32 1692.25 398.641 37616.66 377.177 10409.11 3029.54 30658.55 79.442 242.570 10765.65
33 1699.21 387.170 36752.37 362.004 10648.31 3016.89 31392.25 79.596 245.202 11392.11
34 1589.81 381.034 36416.32 352.918 10953.05 3025.69 32166.25 79.157 247.906 11922.91
35 1761.21 378.436 36413.24 347.935 11515.84 3051.74 32972.33 78.497 250.662 12396.86
36 1756.66 378.185 36620.05 345.716 11566.61 3091.62 33803.95 77.755 253.455 12837.02
37 1826.58 379.490 36959.17 345.359 11153.76 3142.62 34655.89 76.983 256.276 13257.09

Obs GPCI TMKD SNKD2 PKDA MKDW XKDW hxka1 hkdm1


1 599.00 30.0000 7077.68 54436.00 26275.86 26218.98 179419.84 182212.22

2 600.00 30.0000 5336.54 59611.10 28675.86 28927.87 162047.90 161783.33


3 529.00 10.0000 5529.10 44518.40 26845.73 26592.38 237316.86 256038.52
4 532.00 10.0000 7991.14 50648.00 25642.00 25790.32 285211.32 289397.16
5 520.00 10.0000 8928.04 57128.00 25834.84 26151.67 246548.76 249236.36
6 467.00 10.0000 12580.68 52868.00 27082.46 27674.30 260359.68 267311.16
7 434.00 10.0000 11816.75 52737.00 29387.81 29198.29 335345.40 354660.64
8 499.00 10.0000 13135.23 42153.00 26555.44 26070.19 453453.30 511609.95
9 560.00 10.0000 13441.97 52350.00 23738.23 23610.52 465525.78 486766.50
10 621.00 10.0000 15551.08 52416.00 26327.58 25876.78 427531.92 454713.37
11 684.00 10.0000 16352.98 54065.00 26468.18 27191.30 442718.10 467252.87
12 730.00 10.0000 19510.36 59612.00 29920.82 29134.26 449971.80 477334.95
13 816.00 10.0000 17935.56 50886.00 28132.96 28809.45 494642.70 532377.47
14 900.00 5.0000 16559.76 68445.00 29612.46 30105.67 518592.00 544154.26
15 1014.00 5.0000 17552.28 59174.00 33319.85 31923.98 535166.80 582949.55
16 1124.00 5.0000 16015.12 64782.00 32399.08 34973.30 672240.10 714003.31
17 1052.00 5.0000 14324.44 73177.00 38015.10 39278.17 829179.00 859494.95
18 459.00 2.5000 13534.11 74599.00 37205.18 38018.99 2403240.00 2435783.88
19 665.00 0.0000 15263.03 72223.00 39001.35 40671.87 1547474.40 1584158.18
20 773.00 0.0000 11590.68 75053.80 38630.46 45597.38 1642251.00 1783989.89
21 742.00 0.0000 9492.32 78669.90 44182.09 55748.60 1929940.32 2010320.28
22 893.00 0.0000 8280.02 75008.50 42690.59 53328.25 1898537.80 1969570.90
23 1058.00 0.0000 8070.85 66781.40 52961.52 62904.24 2194216.96 2262786.24
24 1143.00 5.0000 8516.01 85013.90 46502.72 55511.20 2356937.01 2767820.67
25 1258.00 10.0000 9325.38 83504.90 53829.21 62519.50 2334048.00 2605309.92
26 1586.00 10.0000 8771.69 86998.90 54248.03 64672.23 2218920.00 2423223.00
27 1859.00 10.0000 7506.58 72857.70 59255.85 70805.64 3091200.00 3533260.00
28 2172.00 10.0000 9103.49 80748.70 65109.27 75768.25 4250100.00 4862319.00
29 2272.00 10.0000 11244.14 91417.30 66188.80 77767.71 3825800.00 4107048.00
30 2946.00 10.0000 10995.17 90605.50 81364.72 88425.63 3915880.00 4012216.00
31 2623.59 6.9873 11814.33 88326.71 74499.03 85946.43 3764033.25 3947658.78
32 2423.55 4.9237 12397.40 89761.79 71056.53 84630.56 3724648.10 3964321.09
33 2306.22 3.4646 12702.84 91196.87 69639.24 84174.47 3752612.97 4030024.88
34 2244.78 2.3905 13073.08 92631.95 69420.13 84353.81 3820911.85 4125340.59
35 2221.10 1.5616 13653.09 94067.03 69909.88 85002.78 3913365.61 4238536.39
36 2222.95 0.8889 13783.93 95502.11 70819.01 85998.84 4020285.03 4362528.43
37 2242.05 0.3157 13419.16 96937.19 71976.25 87251.41 4135867.52 4493039.40
Lampiran 5. Lanjutan
The SAS System
Obs Tahun _TYPE_ _LEAD_ LAPK YSKD PROK HKDP HKPB DKDN SNKD SKDI

1 1981 ACTUAL 0 809.98 8.69 7038.73 265.74 321.05 633.13 7077.68 10.55

2 1982 ACTUAL 0 607.78 8.58 5214.75 306.31 345.43 469.67 5336.54 52.19
3 1983 ACTUAL 0 639.88 8.38 5362.19 352.65 396.91 695.85 5529.10 7.16
4 1984 ACTUAL 0 858.89 8.96 7695.65 376.41 466.78 1040.50 7991.14 24.37
5 1985 ACTUAL 0 896.22 9.70 8693.33 393.28 480.32 1052.08 8928.04 52.34
6 1986 ACTUAL 0 1253.67 9.78 12260.89 476.46 569.14 1465.10 12580.68 81.34
7 1987 ACTUAL 0 1100.41 10.55 11609.33 505.70 584.20 1302.75 11816.75 65.62
8 1988 ACTUAL 0 1177.15 10.79 12701.45 524.34 669.30 1645.88 13135.23 58.24
9 1989 ACTUAL 0 1197.70 10.98 13150.75 558.06 684.81 1537.62 13441.97 68.50
10 1990 ACTUAL 0 1333.77 11.15 14871.54 600.10 767.37 2027.57 15551.08 139.17
11 1991 ACTUAL 0 1367.16 11.37 15544.61 634.18 843.11 2229.45 16352.98 133.62
12 1992 ACTUAL 0 1664.18 11.23 18688.74 743.21 847.92 2558.89 19510.36 128.07
13 1993 ACTUAL 0 1468.32 11.63 17076.56 790.07 917.20 2431.15 17935.56 134.97
14 1994 ACTUAL 0 1406.04 11.12 15635.16 860.43 1002.25 2364.38 16559.76 124.40
15 1995 ACTUAL 0 1476.29 11.37 16785.42 1131.32 1033.96 2290.13 17552.28 155.83
16 1996 ACTUAL 0 1277.74 11.86 15154.00 1071.82 1114.63 2263.28 16015.12 113.78
17 1997 ACTUAL 0 1118.14 12.13 13563.04 1110.89 1218.53 1972.39 14324.44 145.12
18 1998 ACTUAL 0 1094.26 11.93 13054.52 1130.38 2024.25 1649.36 13534.11 135.18
19 1999 ACTUAL 0 1151.08 12.01 13824.47 1160.28 2520.84 2683.07 15263.03 138.34
20 2000 ACTUAL 0 824.48 12.34 10174.08 1284.42 2696.19 2293.56 11590.68 139.01
21 2001 ACTUAL 0 678.85 12.18 8268.39 1335.09 2991.60 1960.24 9492.32 85.51
22 2002 ACTUAL 0 544.52 12.36 6730.27 2035.00 3083.70 1983.81 8280.02 184.50
23 2003 ACTUAL 0 526.80 12.75 6716.70 2462.42 3277.85 1864.32 8070.85 161.43
24 2004 ACTUAL 0 565.16 12.81 7239.70 2412.50 3499.49 1839.28 8516.01 160.52
25 2005 ACTUAL 0 621.54 13.01 8086.24 2725.00 3684.64 1894.53 9325.38 152.96
26 2006 ACTUAL 0 580.53 12.88 7477.23 3157.28 4681.46 1879.76 8771.69 162.32
27 2007 ACTUAL 0 459.12 12.91 5927.24 4101.00 6416.67 2004.12 7506.58 167.75
28 2008 ACTUAL 0 590.96 13.13 7759.30 4976.07 7096.50 1944.73 9103.49 175.17
29 2009 ACTUAL 0 722.79 13.48 9743.21 5598.07 6629.42 2295.38 11244.14 180.06
30 2010 ACTUAL 0 660.82 13.73 9073.06 6297.82 6386.00 2645.52 10995.17 181.60
31 2011 FORECAST 1 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00
32 2012 FORECAST 2 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00
33 2013 FORECAST 3 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00
34 2014 FORECAST 4 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00
35 2015 FORECAST 5 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00
36 2016 FORECAST 6 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00
37 2017 FORECAST 7 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00 1.00
Obs MKDI HKDM XKDA HXKA PROK2 HPUR UTKP CR4 JPOP NTRP

1 28.40 288.42 21859.73 284 7038.73 72.11 3428.00 100.000 149.780 631.76

2 69.60 244.60 25519.97 245 5214.75 81.89 3864.00 100.000 152.470 661.42
3 159.75 281.59 22728.18 261 5362.19 92.66 4316.00 100.000 155.140 909.26
4 271.12 282.08 19535.46 278 7695.65 96.24 4742.00 100.000 159.480 1025.94
5 182.37 224.42 17565.76 222 8693.33 100.21 5106.00 100.000 162.900 1110.58
6 238.45 208.42 21379.54 203 12260.89 105.57 5514.00 100.000 166.360 1282.56
7 141.80 215.75 21328.32 204 11609.33 126.93 6196.00 100.000 169.850 1643.85
8 375.54 303.50 17901.36 269 12701.45 135.90 6882.00 100.000 173.420 1685.70
9 222.72 275.00 15189.67 263 13150.75 169.25 7614.00 100.000 177.250 1770.06
10 540.37 246.75 15466.66 232 14871.54 215.61 8026.00 100.000 179.250 1842.81
11 674.75 239.58 17610.58 227 15544.61 227.08 8588.00 100.000 182.940 1950.30
12 693.55 235.50 19880.21 222 18688.74 246.62 8810.00 100.000 186.040 2026.90
13 724.03 255.08 19511.50 237 17076.56 263.26 9730.00 100.000 187.540 2087.10
14 800.20 251.83 18126.34 240 15635.16 292.48 10738.00 100.000 189.680 2160.80
15 611.03 259.25 22840.00 238 16785.42 318.07 12474.00 100.000 192.710 2248.60
16 747.34 304.83 25960.00 287 15154.00 376.04 14002.00 100.000 195.520 2342.30
17 616.28 295.42 26367.93 285 13563.04 443.88 15398.00 100.000 198.680 2909.40
Lampiran 5. Lanjutan
18 344.41 243.25 20391.20 240 13054.52 572.56 17205.00 90.710 201.540 10013.50

19 1300.22 201.67 23150.31 197 13824.47 1088.40 17524.00 90.710 204.780 7855.20
20 1277.59 211.83 27192.22 195 10174.08 1352.81 18779.00 90.970 208.440 8421.80
21 1138.42 195.83 28933.83 188 8268.39 1334.29 18990.00 90.710 211.060 10265.64
22 1365.25 212.67 27432.93 205 6730.27 1400.32 20563.00 90.710 213.720 9261.16
23 1192.72 264.00 31019.68 256 6716.70 1596.87 20655.00 90.966 214.370 8571.16
24 1115.79 306.50 25602.61 261 7239.70 1626.77 21907.00 90.710 217.070 9030.41
25 1086.18 274.59 25657.94 246 8086.24 1668.78 23392.00 74.870 219.850 9488.00
26 1132.14 268.65 28120.03 246 7477.23 1865.46 24814.00 90.530 222.750 9020.00
27 1411.59 384.05 29840.18 336 5927.24 2226.77 25907.00 88.540 225.640 9200.00
28 1169.02 522.83 33995.59 457 7759.30 2468.78 26392.00 82.800 228.520 9300.00
29 1320.87 436.92 40505.68 407 9743.21 2865.46 28814.00 75.840 231.370 9400.00
30 1740.51 449.80 42350.56 439 9073.06 3141.56 29356.00 71.650 237.640 8920.00
31 1.00 1.00 1.00 1 9874.91 3068.92 29975.47 77.691 240.037 9978.23
32 1.00 1.00 1.00 1 10409.11 3029.54 30658.55 79.442 242.570 10765.65
33 1.00 1.00 1.00 1 10648.31 3016.89 31392.25 79.596 245.202 11392.11
34 1.00 1.00 1.00 1 10953.05 3025.69 32166.25 79.157 247.906 11922.91
35 1.00 1.00 1.00 1 11515.84 3051.74 32972.33 78.497 250.662 12396.86
36 1.00 1.00 1.00 1 11566.61 3091.62 33803.95 77.755 253.455 12837.02
37 1.00 1.00 1.00 1 11153.76 3142.62 34655.89 76.983 256.276 13257.09
Obs GPCI TMKD SNKD2 PKDA MKDW XKDW hxka1 hkdm1

1 599.00 30.0000 7077.68 54436.00 26275.86 26218.98 179419.84 182212.22

2 600.00 30.0000 5336.54 59611.10 28675.86 28927.87 162047.90 161783.33


3 529.00 10.0000 5529.10 44518.40 26845.73 26592.38 237316.86 256038.52
4 532.00 10.0000 7991.14 50648.00 25642.00 25790.32 285211.32 289397.16
5 520.00 10.0000 8928.04 57128.00 25834.84 26151.67 246548.76 249236.36
6 467.00 10.0000 12580.68 52868.00 27082.46 27674.30 260359.68 267311.16
7 434.00 10.0000 11816.75 52737.00 29387.81 29198.29 335345.40 354660.64
8 499.00 10.0000 13135.23 42153.00 26555.44 26070.19 453453.30 511609.95
9 560.00 10.0000 13441.97 52350.00 23738.23 23610.52 465525.78 486766.50
10 621.00 10.0000 15551.08 52416.00 26327.58 25876.78 427531.92 454713.37
11 684.00 10.0000 16352.98 54065.00 26468.18 27191.30 442718.10 467252.87
12 730.00 10.0000 19510.36 59612.00 29920.82 29134.26 449971.80 477334.95
13 816.00 10.0000 17935.56 50886.00 28132.96 28809.45 494642.70 532377.47
14 900.00 5.0000 16559.76 68445.00 29612.46 30105.67 518592.00 544154.26
15 1014.00 5.0000 17552.28 59174.00 33319.85 31923.98 535166.80 582949.55
16 1124.00 5.0000 16015.12 64782.00 32399.08 34973.30 672240.10 714003.31
17 1052.00 5.0000 14324.44 73177.00 38015.10 39278.17 829179.00 859494.95
18 459.00 2.5000 13534.11 74599.00 37205.18 38018.99 2403240.00 2435783.88
19 665.00 0.0000 15263.03 72223.00 39001.35 40671.87 1547474.40 1584158.18
20 773.00 0.0000 11590.68 75053.80 38630.46 45597.38 1642251.00 1783989.89
21 742.00 0.0000 9492.32 78669.90 44182.09 55748.60 1929940.32 2010320.28
22 893.00 0.0000 8280.02 75008.50 42690.59 53328.25 1898537.80 1969570.90
23 1058.00 0.0000 8070.85 66781.40 52961.52 62904.24 2194216.96 2262786.24
24 1143.00 5.0000 8516.01 85013.90 46502.72 55511.20 2356937.01 2767820.67
25 1258.00 10.0000 9325.38 83504.90 53829.21 62519.50 2334048.00 2605309.92
26 1586.00 10.0000 8771.69 86998.90 54248.03 64672.23 2218920.00 2423223.00
27 1859.00 10.0000 7506.58 72857.70 59255.85 70805.64 3091200.00 3533260.00
28 2172.00 10.0000 9103.49 80748.70 65109.27 75768.25 4250100.00 4862319.00
29 2272.00 10.0000 11244.14 91417.30 66188.80 77767.71 3825800.00 4107048.00
30 2946.00 10.0000 10995.17 90605.50 81364.72 88425.63 3915880.00 4012216.00
31 2623.59 6.9873 11814.33 88326.71 1.00 1.00 3764033.25 3947658.78
32 2423.55 4.9237 12397.40 89761.79 1.00 1.00 3724648.10 3964321.09
33 2306.22 3.4646 12702.84 91196.87 1.00 1.00 3752612.97 4030024.88
34 2244.78 2.3905 13073.08 92631.95 1.00 1.00 3820911.85 4125340.59
35 2221.10 1.5616 13653.09 94067.03 1.00 1.00 3913365.61 4238536.39
36 2222.95 0.8889 13783.93 95502.11 1.00 1.00 4020285.03 4362528.43
37 2242.05 0.3157 13419.16 96937.19 1.00 1.00 4135867.52 4493039.40
Lampiran 6. Hasil Peramalan Peubah Endogen Tahun 2011-2017

The SAS System


OBS Tahun _Type_ _Mode_ _LAG_ _ERRORS_ LAPK YSKD PROK HKDP

1 2011 PREDICT SIMULATE 0 0 799.54 13.5712 1085.07 6520.37

2 2012 PREDICT SIMULATE 1 0 932.93 13.7737 1284.99 6765.87


3 2013 PREDICT SIMULATE 2 0 1060.99 13.9679 1482.01 6981.50
4 2014 PREDICT SIMULATE 3 0 1177.86 14.1552 1667.28 7151.11
5 2015 PREDICT SIMULATE 4 0 1277.65 14.3367 1831.74 7276.13
6 2016 PREDICT SIMULATE 5 0 1356.50 14.5135 1968.75 7365.97
7 2017 PREDICT SIMULATE 6 0 1412.99 14.6862 2075.15 7433.05
OBS Tahun _Type_ _Mode_ _LAG_ _ERRORS_ HKPB DKDN SNKD SKDI

1 2011 PREDICT SIMULATE 0 0 6832.09 2801.49 2998.89 195.154

2 2012 PREDICT SIMULATE 1 0 6976.20 2991.78 3131.48 212.214


3 2013 PREDICT SIMULATE 2 0 6883.56 3012.08 3278.43 202.234
4 2014 PREDICT SIMULATE 3 0 6788.55 3106.87 3219.82 198.871
5 2015 PREDICT SIMULATE 4 0 6554.53 3092.54 3288.45 184.333
6 2016 PREDICT SIMULATE 5 0 6328.33 3199.69 3381.56 199.231
7 2017 PREDICT SIMULATE 6 0 5984.53 3230.65 3298.43 192.362
OBS Tahun _TYPE_ _MODE _LAG_ _ERRORS_ MKDI HKDM XKDA HXKA

1 2011 PREDICT SIMULATE 0 0 1739.87 419.230 49906.54 400.322

2 2012 PREDICT SIMULATE 1 0 1699.28 512.452 49440.72 496.199


3 2013 PREDICT SIMULATE 2 0 1536.31 595.435 49246.58 586.567
4 2014 PREDICT SIMULATE 3 0 1430.35 561.240 48616.83 555.681
5 2015 PREDICT SIMULATE 4 0 1280.65 652.161 43539.31 544.387
6 2016 PREDICT SIMULATE 5 0 1197.73 685.821 47072.99 552.159
7 2017 PREDICT SIMULATE 6 0 1007.19 700.198 42999.60 612.940
Lampiran 7. Hasil Analisis Efisiensi Alokatif

The SAS System


The SYSLIN Procedure
Ordinary Least Squares Estimation
Model FUNG_CD
Dependent Variable Ln_Y
Label Efisiensi Price

Analysis of Variance
Sum of Mean
Source DF Squares Square F Value Pr > F

Model 6 1.210756 0.201793 71.83 0.0138


Error 2 0.005619 0.002809
Corrected Total 8 1.216374

Root MSE 0.05300 R-Square 0.99538


Dependent Mean 14.97311 Adj R-Sq 0.98152
Coeff Var 0.35399
Parameter Estimates

Parameter Standard Variable


Variable DF Estimate Error t Value Pr > |t| Label
Intercept 1 4.017890 3.529824 1.14 0.3730 Intercept

Ln_X1 1 0.167678 0.264626 0.63 0.5911 Benih Kedelai


Ln_X2 1 0.232770 0.026489 8.79 0.0127 Pupuk Urea
Ln_X3 1 0.132574 0.054564 2.43 0.1357 Pestisida
Ln_X4 1 0.304659 0.019041 16.00 0.0039 Upah Naker
Ln_X5 1 -0.10241 0.053727 -1.91 0.1969 Luas Lahan
Ln_X6 1 0.090683 0.066585 1.36 0.3063 Alat/Sarana UT
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Palembang pada tanggal 22 September 1963 dari


pasangan Bapak H. Endang Rukmana dan Hj. Emi Halimah, sebagai anak ke
empat dari tujuh bersaudara. Penulis menikah dengan Dedeh Rosidah pada tahun
1993, dan dikaruniai tiga orang anak, yaitu Sarah Fauziyah, Hibban Mubarak dan
Nisrina Mardiyah.
Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah
atas di kota Garut pada tahun 1976 - 1983. Pada tahun 1983 penulis diterima di
Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Jurusan Agronomi Program
Studi Ilmu Tanah dan lulus tahun 1989. Pada tahun 1998 penulis mengikuti
Pendidikan Program Magister dan lulus pada tahun 2000 di MMA IPB atas biaya
dari Asean Development Bank (ADB). Selanjutnya pendidikan program Doktor
diikuti penulis sejak tahun 2009 pada program studi Ilmu Ekonomi Pertanian
(EPN) IPB atas biaya dari Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian
(BPSDMP) Kementerian Pertanian.
Sejak lulus S1, penulis bekerja di PT. Astra Agro Niaga yang mengelola
kebun sawit di Balikpapan-Kaltim sampai tahun 1992. Pada tahun 1993-2002
penulis menjadi staf di Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementrian Pertanian
Tahun 2002-2004 sebagai Pimpinan Bagian Proyek Peningkatan Produksi
Tanaman Pangan di Sekretariat Direktorat Jenderal Tanaman Pangan dan pada
tahun 2005-2009 sebagai Kepala Sub Bagian Pelaporan di Sekretariat Direktorat
Jenderal Tanaman Pangan.