Anda di halaman 1dari 17

I.

Konsep Negara Hukum Indonesia

Hukum menurut E. Utrecht, adalah himpunan petunjuk hidup, perintah - perintah


dan larangan, yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat, dan seharusnya ditaati
oleh anggota masyarakat yang bersangkutan, oleh karena pelanggaran petunjuk hidup
tersebut, dapat menimbulkan tindakan oleh pemerintah atau penguasa tersebut.

Dalam Undang - Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 1 ayat (3) yang berbunyi :
“Negara Indonesia adalah negara hukum”. Secara sederhana yang dimaksud negara
hukum adalah negara yang penyeleggaraan kekuasaan pemerintahannya didasarkan atas
hukum. Di dalamnya negara dan lembaga - lembaga lain dalam melaksanakan tindakan
apapun harus dilandasi oleh hukum dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum.
Dalam negara hukum, kekuasaan menjalankan pemerintahan berdasarkan kedaulatan
hukum (supremasi hukum) dan bertujuan untuk menyelenggarakan ketertiban hukum.
Yang mana dalam melaksakan hukum harus memperhatikan tiga hal yaitu keadilan
hukum, kemanfaatan hukum serta kepastian hukum.

Dengan demikian hukum tidak hanya sekedar formalitas atau prosedur dari
kekuasaan belaka. Apabila negara berdasarkan hukum maka pemerintahan negara itu
harus berdasar atas suatu konstitusi atau undang - undang dasar sebagai landasan
penyelenggaraan pemerintahan. Konstitusi negara merupakan sarana pemersatu bangsa.
Hubungan antar warga negara dengan negara, hubungan antar lembaga negara dan
kinerja masing - masing elemen kekuasaan berada pada satu sistem aturan yang
disepakati dan dijunjung tinggi.

Secara tertulis hukum Indonesia adalah Undang - Undang Dasar 1945 (biasa kita
singkat UUD 1945). UUD 1945 merupakan penjabaran dari nilai - nilai yang terdapat
pada Pancasila. Pancasila sebagai dasar negara digunakan untuk mengatur
penyelenggaraan negara yang meliputi bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya,
dan pertahanan keamanan. Hal ini jelas terlihat Pancasila sebagai dasar negara tercantum
dalam alenia keempat Pembukaan UUD 1945, sebagai landasan konstitusional.

Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia mempunyai arti bahwa


Pancasila merupakan kristalisasi pengalaman – pengalaman hidup perjalanan sejarah
bangsa Indonesia sehingga terbentuk sikap, watak, perilaku, tata nilai, moral, etika dan
pada akhirnya bermuara dalam bingkai pandangan hidup bangsa. Dengan kata lain,
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia dipergunakan sebagai petunjuk

1
arah bagi bangsa Indonesia di dalam semua kegiatan atau aktivitas segala bidang
kehidupan.

Pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia, berfungsi dan berperan dalam memberikan
gerak atau dinamika kehidupan serta membimbing kearah tujuan untuk mewujudkan
masyarakat Pancasila. Pancasila menjiwai setiap tingkah laku dalam bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.

Pancasila sebagai kepribadian bangsa Indonesia, bahwa sikap, perbuatan, dan


tingkah laku kita sesuai dengan sila - sila Pancasila. Kepribadian inilah ciri khas yang
membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa lain.

Pancasila sebagai perjanjian luhur seluruh rakyat Indonesia yaitu keputusan PPKI
pada tanggal 18 Agustus 1945 yang menetapkan secara konstitusional Pancasila sebagai
dasar negara Republik Indonesia. Pancasila telah mendapat persetujuan dari wakil -
wakil rakyat, menjelang dan sesudah proklamasi kemerdekaan Indonesia, bukan karena
sekedar ia telah ditemukan kembali dari kandungan kepribadian dan cita - cita bangsa
Indonesia yang terpendam sejak berabad - abad yang lalu, melainkan karena Pancasila
telah mampu membuktikan kebenarannya setelah diuji oleh sejarah perjuangan bangsa.

Menurut Oemar Seno Adji, bahwa negara Indonesia memiliki ciri - ciri yang khas.
Sehingga Pancasila harus diangkat sebagai dasar pokok dan sumber hukum, sehingga
negara hukum Indonesia dapat dinamakan negara hukum Pancasila. Salah satu ciri
pokoknya adalah adanya jaminan terhadap kebebasan beragama (freedom of religion)
dalam konotasi yang positif. Artinya tidak ada tempat bagi atheism atau propaganda anti
agama. Ciri berikutnya adalah tiadanya pemisahan yang kaku dan mutlak antara agama
dan negara.

Jadi jelaslah bahwa konsep hukum negara Indonesia adalah Pancasila. Pancasila
yang merupakan pandangan hidup bangsa Indonesia, menjiwai bangsa Indonesia dalam
setiap tingkah laku masyarakatnya, kepribadian bangsa Indonesia, perjanjian luhur
seluruh rakyat Indonesia dan Pancasila sebagai dasar dan sumber hukum negara
Indonesia. Sehingga dasar - dasar penyelenggaraan negara yang disusun dalam UUD
1945 tidak boleh bertentangan dengan Pancasila.

II. Prinsip – Prinsip Negara Hukum Formal dan Material


Salah satu ciri penting dalam negara yang meganut konstitusionalisme yang hidup
pada abad ke-19 adalah sifat pemerintahannya yang pasif, artinya pemerintah hanya

2
sebagai wasit atau pelaksana dari berbagai keinginan rakyat yang dirumuskan para
wakilnya di parlemen. Di sini peranan negara lebih kecil daripada peranan rakyat karena
pemerintah hanya menjadi pelaksana (tunduk pada) keinginan - keinginan rakyat yang
diperjuangkan secara liberal untuk menjadi keputusan parlemen.

Jika dikaitkan dengan Trias Politik dalam konsep Montesquieu, tugas pemerintah
terbatas pada tugas eksekutif, yaitu melaksanakan undang - undang yang dibuat oleh
parlemen. Tugas pemerintah hanyalah melaksanakan apa yang telah di putuskan oleh
parlemen. Menurut Mirriam Budiarjo, pada abad ke -19 masih dikuasai gagasan bahwa
pemerintah hendaknya tidak turut campur dalam urusan warga negaranya kecuali dalam
hal menyangkut kepentingan umum seperti bencana alam, hubungan luar negeri dan
pertahanan negara. Aliran ini disebut liberalisme yang dirumuskan dalam dalil The least
government is the best government (pemerintahan yang paling sedikit mengatur adalah
pemerintahan yang baik).

Negara dalam pandangan ini adalah negara yang memiliki ruang gerak sempit.
Negara mengurus hal - hal sedikit sedangkan yang banyak terutama dalam kepentingan
ekonomi diserahkan pada warga secara liberal. Negara hanya mempunyai tugas pasif,
yaitu baru bertindak apabila hak - hak warga negara dilanggar atau ketertiban keamanan
umum terancam. Konsepsi negara demikian adalah negara hukum dalam arti sempit atau
disebut negara hukum formil, negara hukum klasik. Negara dalam pandangan ini hanya
dianggap sebagai Negara Penjaga Malam (Nachtwachterstaat).

Jadi negara hukum formil adalah negara hukum dalam arti sempit yaitu negara yang
membatasi ruang geraknya dan bersifat pasif terhadap kepentingan rakyat negara. Negara
tidak campur tangan secara banyak terhadap urusan dan kepentingan warga negara.
Urusan ekonomi diserahkan pada warga, artinya bahwa pemerintah membiarkan warga
mengurus kepentingan ekonominya secara mandiri sehingga dengan sendirinya
perekonomian negara akan sehat.

Negara hukum formil dikecam banyak pihak karena mengakibatkan kesenjangan


Ekonomi Yang amat mencolok terutama setelah Perang Dunia Kedua. Gagasan bahwa
pemerintah dilarang campur tangan dalam urusan warga baik dalam bidang ekonomi dan
sosial lambat laun berubah menjadi gagasan bahwa pemerintah bertanggung jawab atas
kesejahteraan rakyat dan karenanya harus aktif mengatur kehidupan ekonomi dan sosial.

3
Untuk itu pemerintah tidak boleh pasif atau berlaku seperti penjaga malam melainkan
harus aktif melakukan upaya-upaya membangun kesejahteraan rakyat.

Gagasan baru ini disebut dengan Welfare State atau Negara Kesejahteraan. Sebagai
konsep hukum, negara yang muncul adalah Negara Hukum Materiil atau negara Hukum
dalam arti luas. Dalam negara hukum materiil atau dapat disebut negara hukum modern,
pemerintah diberi tugas membangun kesejahteraan umum diberbagai lapangan
kehidupan.untuk itu pemerintah diberi kewenagan atau kemerdekaan untuk turut campur
dalam urusan warga negara. Pemerintah diberi Freises Ermessen, yaitu kemerdekaan
yang dimiliki pemerintah untuk turut serta dalam kehidupan ekonomi sosial dan
keleluasaan untuk tidak terikat pada produk legislasi perlemen.

Konsep negara hukum materiil (modern), pemerintah bisa bertindak lebih luas dalam
urusan dan kepentingan publik jauh melebihi batas-batas yang pernah diatur dalam
konsep negara hukum formil. Pemerintah (eksekutif) bahkan bisa memiliki kewenagan
legislatif. Kewenangan ini meliputi tiga hal, pertama, adanya hak inisiatif yaitu hak
mengajukan rancangan undang - undang bahkan membuat peraturan perundang -
undangan yang sederajat dengan undang - undang tanpa terlebih dahulu persetujuan
parlemen, meskipun dibatasi kurun waktu tertentu. Kedua, hak delegasi, yaitu membuat
peraturan perundang-undangan dibawah undang-undang, dan ketiga driot ermesen (
menafsirkan sendiri aturan - aturan yang masih “enunsiatif” / dalam arti tidak menutup
kemungkinan untuk mengatur bentuk - bentuk lain yang lebih rinci sesuai dengan
kebutuhan).

Jadi, Negara hukum materiil (negara hukum modern) adalah negara yang
pemerintahannya memiliki keleluasaan untuk turut campur tangan dalam urusan warga
dengan dasar bahwa pemerintah ikut bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat.
Negara bersifat aktif dan mandiri dalam upaya membangun kesejahteraan rakyat.

III. Ciri – Ciri Negara Hukum

Dua belas ciri pokok Negara Hukum yang berlaku di zaman sekarang menurut Prof.
Dr. Jimly Asshiddiqie, SH merupakan pilar – pilar utama yang menyangga berdiri
tegaknya suatu negara modern sehingga dapat disebut sebagai Negara Hukum (The Rule
of Law, ataupun Rechtsstaat) dalam arti sebenarnya, yaitu :

4
1. Supremasi Hukum (Supremacy of Law) :

Adanya pengakuan normatif dan empirik akan prinsip supremasi hukum, yaitu
bahwa semua masalah diselesaikan dengan hukum sebagai pedoman tertinggi. Dalam
perspektif supremasi hukum (supremacy of law), pada hakikatnya pemimpin tertinggi
negara yang sesungguhnya, bukanlah manusia, tetapi konstitusi yang mencerminkan
hukum yang tertinggi. Pengakuan normative mengenai supremasi hukum adalah
pengakuan yang tercermin dalam perumusan hukum dan/atau konstitusi, sedangkan
pengakuan empirik adalah pengakuan yang tercermin dalam perilaku sebagian
terbesar masyarakatnya bahwa hukum itu memang ‘supreme’. Bahkan, dalam
republik yang menganut sistem presidential yang bersifat murni, konstitusi itulah
yang sebenarnya lebih tepat untuk disebut sebagai ‘kepala negara’. Itu sebabnya,
dalam sistem pemerintahan presidential, tidak dikenal adanya pembedaan antara
kepala Negara dan kepala pemerintahan seperti dalam sistem pemerintahan
parlementer.

2. Persamaan dalam Hukum (Equality before the Law) :

Adanya persamaan kedudukan setiap orang dalam hukum dan pemerintahan,


yang diakui secara normative dan dilaksanakan secara empirik. Dalam rangka prinsip
persamaan ini, segala sikap dan tindakan diskriminatif dalam segala bentuk dan
manifestasinya diakui sebagai sikap dan tindakan yang terlarang, kecuali tindakan-
tindakan yang bersifat khusus dan sementara yang dinamakan ‘affirmative actions’
guna mendorong dan mempercepat kelompok masyarakat tertentu atau kelompok
warga masyarakat tertentu untuk mengejar kemajuan sehingga mencapai tingkat
perkembangan yang sama dan setara dengan kelompok masyarakat kebanyakan yang
sudah jauh lebih maju. Kelompok masyarakat tertentu yang dapat diberikan
perlakuan khusus melalui ‘affirmative actions’ yang tidak termasuk pengertian
diskriminasi itu misalnya adalah kelompok masyarakat suku terasing atau kelompok
masyarakat hukum adapt tertentu yang kondisinya terbelakang. Sedangkan kelompok
warga masyarakat tertentu yang dapat diberi perlakuan khusus yang bukan bersifat
diskriminatif, misalnya, adalah kaum wanita ataupun anak-anak terlantar.

3. Asas Legalitas (Due Process of Law) :

Dalam setiap Negara Hukum, dipersyaratkan berlakunya asas legalitas dalam


segala bentuknya (due process of law), yaitu bahwa segala tindakan pemerintahan

5
harus didasarkan atas peraturan perundang - undangan yang sah dan tertulis.
Peraturan perundang-undangan tertulis tersebut harus ada dan berlaku lebih dulu atau
mendahului tindakan atau perbuatan administrasi yang dilakukan. Dengan demikian,
setiap perbuatan atau tindakan administrasi harus didasarkan atas aturan atau “rules
and procedures” (regels). Prinsip normatif demikian nampaknya seperti sangat kaku
dan dapat menyebabkan birokrasi menjadi lamban. Oleh karena itu, untuk menjamin
ruang gerak bagi para pejabat administrasi negara dalam menjalankan tugasnya,
maka sebagai pengimbang, diakui pula adanya prinsip ‘frijsermessen’ yang
memungkinkan para pejabat administrasi negara mengembangkan dan menetapkan
sendiri ‘beleid-regels’ atau ‘policy rules’ yang berlaku internal secara bebas dan
mandiri dalam rangka menjalankan tugas jabatan yang dibebankan oleh peraturan
yang sah.

4. Pembatasan Kekuasaan :

Adanya pembatasan kekuasaan Negara dan organ - organ Negara dengan cara
menerapkan prinsip pembagian kekuasaan secara vertikal atau pemisahan kekuasaan
secara horizontal. Sesuai dengan hukum besi kekuasaan, setiap kekuasaan pasti
memiliki kecenderungan untuk berkembang menjadi sewenang-wenang, seperti
dikemukakan oleh Lord Acton: “Power tends to corrupt, and absolute power
corrupts absolutely”. Karena itu, kekuasaan selalu harus dibatasi dengan cara
memisah - misahkan kekuasaan ke dalam cabang - cabang yang bersifat “checks and
balances” dalam kedudukan yang sederajat dan saling mengimbangi dan
mengendalikan satu sama lain. Pembatasan kekuasaan juga dilakukan dengan
membagi - bagi kekuasaan ke dalam beberapa organ yang tersusun secara vertical.
Dengan begitu, kekuasaan tidak tersentralisasi dan terkonsentrasi dalam satu organ
atau satu tangan yang memungkinkan terjadinya kesewenang - wenangan.

5. Organ - Organ Eksekutif Independen :

Dalam rangka membatasi kekuasaan itu, di zaman sekarang berkembang pula


adanya pengaturann kelembagaan pemerintahan yang bersifat “independent”, seperti
bank sentral, organisasi tentara, organisasi kepolisian dan kejaksaan. Selain itu, ada
pula lembaga-lembaga baru seperti Komisi Hak Asasi Manusia, Komisi Pemilihan
Umum, lembaga Ombudsman, Komisi Penyiaran, dan lain sebagainya. Lembaga,
badan atau organisasi - organisasi ini sebelumnya dianggap sepenuhnya berada dalam

6
kekuasaan eksekutif, tetapi sekarang berkembang menjadi independen sehingga tidak
lagi sepenuhnya merupakan hak mutlak seorang kepala eksekutif untuk menentukan
pengangkatan ataupun pemberhentian pimpinannya. Independensi lembaga atau
organ - organ tersebut dianggap penting untuk menjamin demokrasi, karena
fungsinya dapat disalahgunakan oleh pemerintah untuk melanggengkan kekuasaan.
Misalnya, fungsi tentara yang memegang senjata dapat dipakai untuk menumpang
aspirasi pro-demokrasi, bank sentral dapat dimanfaatkan untuk mengontrol sumber -
sumber keuangan yang dapat dipakai untuk tujuan mempertahankan kekuasaan, dan
begitu pula lembaga atau organisasi lainnya dapat digunakan untuk kepentingan
kekuasaan. Karena itu, independensi lembaga - lembaga tersebut dianggap sangat
penting untuk menjamin prinsip negara hukum dan demokrasi.

6. Peradilan Bebas dan Tidak Memihak :

Adanya peradilan yang bebas dan tidak memihak (independent and impartial
judiciary). Peradilan bebas dan tidak memihak ini mutlak harus ada dalam setiap
Negara Hukum. Dalam menjalankan tugas judisialnya, hakim tidak boleh
dipengaruhi oleh siapapun juga, baik karena kepentingan jabatan (politik) maupun
kepentingan uang (ekonomi). Untuk menjamin keadilan dan kebenaran, tidak
diperkenankan adanya intervensi ke dalam proses pengambilan putusan keadilan oleh
hakim, baik intervensi dari lingkungan kekuasaan eksekutif maupun legislative
ataupun dari kalangan masyarakat dan media massa. Dalam menjalankan tugasnya,
hakim tidak boleh memihak kepada siapapun juga kecuali hanya kepada kebenaran
dan keadilan. Namun demikian, dalam menjalankan tugasnya, proses pemeriksaan
perkara oleh hakim juga harus bersifat terbuka, dan dalam menentukan penilaian dan
menjatuhkan putusan, hakim harus menghayati nilai - nilai keadilan yang hidup di
tengah - tengah masyarakat. Hakim tidak hanya bertindak sebagai “mulut” undang -
undang atau peraturan perundang - undangan, melainkan juga “mulut” keadilan yang
menyuarakan perasaan keadilan yang hidup di tengah - tengah masyarakat.

7. Peradilan Tata Usaha Negara :

Meskipun peradilan tata usaha negara juga menyangkut prinsip peradilan


bebas dan tidak memihak, tetapi penyebutannya secara khusus sebagai pilar utama
Negara Hukum tetap perlu ditegaskan tersendiri. Dalam setiap Negara Hukum, harus
terbuka kesempatan bagi tiap - tiap warga negara untuk menggugat keputusan pejabat

7
administrasi Negara dan dijalankannya putusan hakim tata usaha negara
(administrative court) oleh pejabat administrasi negara. Pengadilan Tata Usaha
Negara ini penting disebut tersendiri, karena dialah yang menjamin agar warga
negara tidak didzalimi oleh keputusan - keputusan para pejabat administrasi negara
sebagai pihak yang berkuasa. Jika hal itu terjadi, maka harus ada pengadilan yang
menyelesaikan tuntutan keadilan itu bagi warga Negara, dan harus ada jaminan
bahwa putusan hakim tata usaha Negara itu benar - benar djalankan oleh para pejabat
tata usaha Negara yang bersangkutan. Sudah tentu, keberadaan hakim peradilan tata
usaha negara itu sendiri harus pula dijamin bebas dan tidak memihak sesuai prinsip
“independent and impartial judiciary” tersebut di atas.

8. Peradilan Tata Negara (Constitutional Court) :

Di samping adanya pengadilan tata usaha negara yang diharapkan


memberikan jaminan tegaknya keadilan bagi tiap - tiap warga negara, Negara Hukum
modern juga lazim mengadopsikan gagasan pembentukan mahkamah konstitusi
dalam sistem ketatanegaraannya. Pentingnya mahkamah konstitusi (constitutional
courts) ini adalah dalam upaya memperkuat sistem “checks and balances” antara
cabang - cabang kekuasaan yang sengaja dipisah - pisahkan untuk menjamin
demokrasi. Misalnya, mahkamah ini diberi fungsi untuk melakukan pengujian atas
konstitusionalitas undang - undang yang merupakan produk lembaga legislatif, dan
memutus berkenaan dengan berbagai bentuk sengketa antar lembaga negara yang
mencerminkan cabang - cabang kekuasaan negara yang dipisah - pisahkan.
Keberadaan mahkamah konstitusi ini di berbagai negara demokrasi dewasa ini makin
dianggap penting dan karena itu dapat ditambahkan menjadi satu pilar baru bagi
tegaknya Negara Hukum modern.

9. Perlindungan Hak Asasi Manusia :

Adanya perlindungan konstitusional terhadap hak asasi manusia dengan


jaminan hukum bagi tuntutan penegakannya melalui proses yang adil. Perlindungan
terhadap hak asasi manusia tersebut dimasyarakatkan secara luas dalam rangka
mempromosikan penghormatan dan perlindungan terhadap hak - hak asasi manusia
sebagai ciri yang penting suatu Negara Hukum yang demokratis. Setiap manusia
sejak kelahirannya menyandang hak-hak dan kewajiban - kewajiban yang bersifat
bebas dan asasi. Terbentuknya Negara dan demikian pula penyelenggaraan

8
kekuasaan suatu Negara tidak boleh mengurangi arti atau makna kebebasan dan hak -
hak asasi kemanusiaan itu. Karena itu, adanya perlindungan dan penghormatan
terhadap hak - hak asasi manusia itu merupakan pilar yang sangat penting dalam
setiap Negara yang disebut sebagai Negara Hukum. Jika dalam suatu Negara, hak
asasi manusia terabaikan atau dilanggar dengan sengaja dan penderitaan yang
ditimbulkannya tidak dapat diatasi secara adil, maka Negara yang bersangkutan tidak
dapat disebut sebagai Negara Hukum dalam arti yang sesungguhnya.

10. Bersifat Demokratis (Democratische Rechtsstaat) :

Dianut dan dipraktekkannya prinsip demokrasi atau kedaulatan rakyat yang


menjamin peranserta masyarakat dalam proses pengambilan keputusan kenegaraan,
sehingga setiap peraturan perundang - undangan yang ditetapkan dan ditegakkan
mencerminkan perasaan keadilan yang hidup di tengah masyarakat. Hukum dan
peraturan perundang - undangan yang berlaku, tidak boleh ditetapkan dan diterapkan
secara sepihak oleh dan/atau hanya untuk kepentingan penguasa secara bertentangan
dengan prinsip - prinsip demokrasi. Karena hukum memang tidak dimaksudkan
untuk hanya menjamin kepentingan segelintir orang yang berkuasa, melainkan
menjamin kepentingan akan rasa adil bagi semua orang tanpa kecuali. Dengan
demikian, negara hukum (rechtsstaat) yang dikembangkan bukanlah ‘absolute
rechtsstaat’, melainkan ‘democratische rechtsstaat’ atau negara hukum yang
demokratis. Dengan perkataan lain, dalam setiap Negara Hukum yang bersifat
nomokratis harus dijamin adanya demokrasi, sebagaimana di dalam setiap Negara
Demokrasi harus dijamin penyelenggaraannya berdasar atas hukum.

11. Berfungsi sebagai Sarana Mewujudkan Tujuan Bernegara (Welfare Rechtsstaat) :

Hukum adalah sarana untuk mencapai tujuan yang diidealkan bersama. Cita -
cita hukum itu sendiri, baik yang dilembagakan melalui gagasan negara demokrasi
(democracy) maupun yang diwujudkan melalui gagasan negara hukum (nomocrasy)
dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan umum. Bahkan sebagaimana cita -
cita nasional Indonesia yang dirumuskan dalam Pembukaan UUD 1945, tujuan
bangsa Indonesia bernegara adalah dalam rangka melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Negara Hukum

9
berfungsi sebagai sarana untuk mewujudkan dan mencapai keempat tujuan negara
Indonesia tersebut. Dengan demikian, pembangunan negara Indonesia tidak akan
terjebak menjadi sekedar ‘rule-driven’, melainkan tetap ‘mission driven’, tetapi
‘mission driven’ yang tetap didasarkan atas aturan.

12. Transparansi dan Kontrol Sosial :

Adanya transparansi dan kontrol sosial yang terbuka terhadap setiap proses
pembuatan dan penegakan hukum, sehingga kelemahan dan kekurangan yang
terdapat dalam mekanisme kelembagaan resmi dapat dilengkapi secara
komplementer oleh peranserta masyarakat secara langsung (partisipasi langsung)
dalam rangka menjamin keadilan dan kebenaran. Adanya partisipasi langsung ini
penting karena sistem perwakilan rakyat melalui parlemen tidak pernah dapat
diandalkan sebagai satu-satunya saluran aspirasi rakyat. Karena itulah, prinsip
“representation in ideas” dibedakan dari “representation in presence”, karena
perwakilan fisik saja belum tentu mencerminkan keterwakilan gagasan atau aspirasi.
Demikian pula dalam penegakan hukum yang dijalankan oleh aparatur kepolisian,
kejaksaan, pengacara, hakim, dan pejabat lembaga pemasyarakatan, semuanya
memerlukan kontrol sosial agar dapat bekerja dengan efektif, efisien serta menjamin
keadilan dan kebenaran.

IV. Konstitusi dan Konstitusionalisme


Konstitusi adalah Undang – undang yang mengatur negara dan menetapkan
kekuasaan negara sedemikian rupa sehingga kekuasaan Pemerintah Negara efektif untuk
kepentingan rakyat dan tercegah dari penyalahgunaan kekuasaan.
Konstitusionalisme adalah gagasan bahwa kekuasaan negara harus dibatasi serta hak
– hak dasar rakyat harus dijamin dalam suatu konstitusi negara. Yang mana isi dari
konstitusi negara dapat dicirikan yaitu :
a. Konstitusi itu membatasi kekuasaan Pemerintah atau penguasa agar tidak bertindak
sewenang – wenang terhadap warganya.
b. Konstitusi itu menjamin hak – hak dasar dan kebebasan warga negara.

V. Negara Hukum Indonesia

Negara hukum adalah negara yang penyelenggaraan kekuasaan pemerintahannya


didasarkan atas hukum. Indonesia adalah negara hukum, semua peraturan baik larangan
atau tindakan harus berlandaskan hukum, kenapa demikian karena Negara Indonesia

10
mempunyai landasan yang berasaskan Pancasila dan Undang - Undang Dasar 1945 maka
dari itu baik pemerintahnya ataupun aparatnya jika ingin melakukan sesuatu harus di
bawah naungan hukum. Walaupun penegakan hukum di Indonesia lemah, tapi pada
dasarnya Indonesia memang negara hukum.

1. Landasan Yuridis Negara Hukum Indonesia


Rumusan mengenai Indonesia sebagai negara yang menganut paham kedaulatan
hukum dapat dilihat dengan adanya :
a. Adanya supremasi hukum (Pasal 1 ayat (3))
Pada pasal 1 ayat 3, Undang - Undang Dasar 1945 yang menyebutkan bahwa
“Negara Indonesia adalah Negara Hukum”. Dari landasan tersebut Indonesia
adalah negara hukum.

b. Adanya Pemisah Kekuasaan (Pasal 2 s/d Pasal 24 C UUD 1945)


Pemisah kekuasaan itu terbagi menjadi 3 yaitu, Kekuasaan Legislatif,
Kekuasaan Eksekutif, dan Kekuasaan Yudikatif. Pada dasarnya kekuasaan
tersebut mempunyai tugas masing – masing.

c. Adanya Pemerintah berdasarkan Undang-Undang (Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 9


ayat (1) UUD 1945)
Dalam pasal tersebut menyebutkan bahwa presiden itu sebagai pemegang
kekuasaan pemerintahan, sehingga presiden memegang kekuasaan eksekutif.
Namun disisi lain presiden juga berhak mengajukan RUU dan memberi grasi,
abolisi, dan amnesty. Sehingga terkesan presiden bisa mencakup semua
kekuasaan tersebut.

d. Adanya Kesamaan Dihadapan Hukum (Pasal 27 ayat (1) UUD 1945)


Dalam pasal 27 ayat (1), intinya Indonesia menjujung kesamaan kedudukan
dan hak setiap warga negaranya dihadapan hukum tanpa terkecuali.

e. Adanya Peradilan Administrasi (Pasal 24 ayat (2) UUD 1945)


Pasal 24 ayat (2) berbunyi :
“Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan
peradilan yang berada dibawahnya dalam lingkungan peradilan umum,
lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan
tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”

11
f. Adanya Jaminan Perlindungan terhadap HAM (Pasal 28 A s.d Pasal 28 J UUD
1945)
Dalam jaminan perlindungan HAM ini semua warga negara mempunyai
kebebasan dalam berpendapat, beragama, dan hidup. Namun bebas di sini
haruslah bertanggungjawab. Disisi lain HAM di Indonesia belum dilaksanakan
secara optimal hal tersebut ditandai dengan adanya diskriminasi kaum minoritas,
seperti kaum difabel dalam menempuh pendidikan dan berpolitik.

Dasar lain yang dapat dijadikan landasan bahwa Indonesia adalah negara
hukum dalam arti materiil terdapat di pasal 33 dan 34 UUD 1945, yang
menengaskan bahwa negara tururt aktif dan bertanggungjawab atas perekonomian
negara dan kesejahteraan rakyat. Kemudian juga yang tertera dalam pembukaan
UUD 1945 alenia IV yang maksudnya negara itu hendak mewujudkan keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jelas Indonesia adalah negara hukum atau
negara kesejahteraan (welfare state), maka penyelenggaraan kekuasaan di
Indonesia tidak didasarkan pada pemegang kekuasaan tetapi berdasarkan atas
hukum. Penyelenggaraan kekuasaan oleh pemegang kekuasaan atau pemerintah
dibatasi oleh aturan - aturan hukum yang berlaku di Negara Indonesia.

2. Perwujudan Negara Hukum Indonesia


Optimalisasi dari konsep negara hukum Indonesia dituangkan dalam konstitusi
negara, yaitu UUD 1945. UUD 1945 merupakan hukum dasar negara yang
menempati posisi sebagai hukum negara tertinggi dalam tertib hukum (legal order)
Indonesia. Di bawah UUD 1945 terdapat berbagai aturan hukum /perundang -
undangan yang bersumber dan berdasarkan pada UUD 1945. Peraturan perundang -
undangan di Indonesia memiliki tingkatan yang diatur dalam pasal 7 ayat (1) UU
No.12 tahun 2011, diantaranya adalah :

a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;


b. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
c. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;
d. Peraturan Pemerintah;
e. Peraturan Presiden;
f. Peraturan Daerah Provinsi; dan
g. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota

12
Sementara dasar negara, yaitu Pancasila merupakan ideologi atau cara
pandang masyarakat Indonesia. Untuk itu, Pancasila dijadikan sebagai sumber dari
segala sumber hukum yang ada di Negara Indonesia.

Berikut ini adalah beberapa prinsip yang terkandung dalam konsep Negara
Hukum Indonesia, antara lain:

a. Segala norma hukum di Indonesia bersumber pada Pancasila sebagai hukum


dasar nasional dan norma hukum ditata menurut hirarki;
b. Penyelenggaraan kekuasaan berdasarkan konstitusi;
c. Kedaulatan rakyat atau prinsip demokrat;
d. Adanya kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;
e. Adanya organisasi yang memiliki kekuasaan legislatif (pembentuk Undang -
Undang), yakni Presiden dan DPR RI;
f. Sistem pemerintahan merupakan sistem presidensil;
g. Kekuasaan kehakiman terbebas dari pengaruh kekuasaan lainnya;
h. Bertujuan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan
bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial;
i. Adanya pengakuan dan jaminan terhadap hak asasi manusia dan kewajiban
dasar manusia.

Jadi negara hukum yang berlaku di Indonesia menganut konsep rule of law,
dalam hal ini meletakkan UUD 1945 sebagai hukum tertinggi.

VI. Mahkamah Konstitusi

Mahkamah Konstitusi (disingkat MK) merupakan salah satu lembaga tinggi negara
dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang merupakan pemegang kekuasaan
kehakiman bersama - sama dengan Mahkamah Agung. Hal ini tertuang dalam Pasal 24
ayat (2) “Kekuasaan Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan
peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan agama, lingkungan
peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah
Konstitusi”. Berdasarkan Pasal 24C, Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada
tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk :

13
a. menguji undang – undang terhadap Undang – Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
b. memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan
oleh Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
c. Memutus pembubaran partai politik; dan
d. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum.

Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat DPR bahwa Presiden
dan/atau Wakil Presiden diduga telah melakukan pelanggaran hukum berupa
pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau
perbuatan tercela, dan/atau tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil
Presiden sebagaimana dimaksud dalam Undang - Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945.

Mahkamah Konstitusi berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia.


Mahkamah Konstitusi mempunyai 9 (sembilan) orang anggota hakim konstitusi yang
diajukan masing - masing tiga orang oleh Mahkamah Agung, tiga orang oleh Dewan
Perwakilan Rakyat, dan tiga orang oleh Presiden dan kemudian ditetapkan dengan
Keputusan Presiden. Hakim konstitusi terdiri atas seorang Ketua merangkap anggota,
seorang Wakil Ketua merangkap anggota, dan 7 (tujuh) orang anggota hakim konstitusi.
Ketua dan Wakil Ketua dipilih dari dan oleh hakim konstitusi untuk masa jabatan selama
3 (tiga) tahun melalui rapat. Pada saat rapat pemilihan Ketua dan Wakil Ketua
Mahkamah Konstitusi, dipimpin oleh hakim konstitusi yang tertua usianya.

VII. Cita Negara Hukum Indonesia

Dalam konstitusi ditegaskan bahwa Negara Indonesia adalah Negara Hukum


(Rechtsstaat), terkandung pengertian adanya pengakuan tehadap prinsip supremasi
hukum dan konstitusi, dianutnya prinsip pemisahan dan pembatasan kekuasaan menurut
sistem konstitusional yang diatur dalam Undang - Undang Dasar, adanya jaminan -
jaminan hak asasi manusia dalam Undang - Undang Dasar, adanya prinsip peradilan
yang bebas dan tidak memihak yang menjamin persamaan setiap warga Negara dalam
hukum, serta menjamin keadilan bagi setiap orang termasuk terhadap penyalahgunaan
wewenang oleh pihak yang berkuasa. Dengan demikian, harus diadakan jaminan bahwa
hukum itu sendiri dibangun dan ditegakkan menurut prinsip - prinsip demokrasi. Karena

14
prinsip supremasi hukum dan kedaulatan hukum itu sendiri pada pokoknya berasal dari
kedaulatan rakyat.
Hukum tidak boleh dibuat, ditetapkan, ditafsirkan dan ditegakkan dengan tangan
besi berdasarkan kekuasaan belaka (machtsstaat). Pada prinsipnya, Negara Hukum tidak
boleh ditegakkan dengan mengabaikan prinsip - prinsip demokrasi yang diatur dalam
Undang - Undang Dasar. Karena itu perlu ditegaskan pula bahwa kedaulatan berada di
tangan rakyat yang dilakukan menurut Undang - Undang Dasar (constitutional
democracy) yang diimbangi dengan penegasan bahwa negara Indonesia adalah negara
hukum yang berkedaulatan rakyat atau demokratis (democratische rechtsstaat).

VIII. Asas – Asas dan Demokrasi


Gagasan pokok atau gagasan dasar suatu pemerintahan demokrasi adalah pengakuan
hakikat manusia, yaitu pada dasarnya manusia mempunyai kemampuan yang sama
dalam hubungan sosial. Berdasarkan gagasan dasar tersebut terdapat dua asas pokok
demokrasi, yaitu:
a. Pengakuan partisipasi rakyat dalam pemerintahan. Misalnya : Pemilihan wakil - wakil
rakyat untuk lembaga perwakilan rakyat secara langsung, umum, bebas dan rahasia,
serta jujur dan adil.
b. Pengakuan hakikat dan martabat manusia. Misalnya : Adanya tindakan pemerintah
untuk melindungi HAM demi kepentingan bersama.

IX. Hubungan Negara Hukum dan Demokrasi

Demokrasi dan negara hukum adalah dua konsepsi yang saling berkaitan, yang satu
sama lainnya tidak dapat dipisahkan. Pada konsepsi demokrasi, di dalamnya terkandung
prinsip - prinsip kedaulatan rakyat (democratie) sedangkan di dalam konsepsi negara
hukum terkandung prinsip – prinsip negara hukum (nomocratie), yang masing - masing
prinsip dari kedua konsepsi tersebut dijalankan secara beriringan sebagai dua sisi dari
satu mata uang. Paham negara hukum yang demikian dikenal dengan sebutan “negara
hukum yang demokratis” (democratische rechtsstaat) atau dalam bentuk konstitusional
disebut constitutional democracy. Disebut sebagai “negara hukum yang demokratis”,
karena didalamnya mengakomodasikan prinsip - prinsip negara hukum dan prinsip -
prinsip demokrasi, yaitu :

15
1. Prinsip – prinsip Negara Hukum :
a. Asas legalitas, pembatasan kebebasan warga negara (oleh pemerintah) harus
ditemukan dasarnya dalam undang - undang yang merupakan peraturan
umum. Kemauan undang – undang itu harus memberikan jaminan (terhadap
warga negara) dari tindakan (pemerintah) yang sewenang - wenang, kolusi,
dan berbagai jenis tindakan yang tidak benar, pelaksanaan wewenang oleh
organ pemerintah harus dikembalikan dasarnya pada undang – undang
tertulis, yakni undang – undang formal;
b. Perlindungan hak – hak asasi manusia (HAM);
c. Keterikatan pemerintah pada hukum;
d. Monopoli paksaan pemerintah untuk menjamin penegakan hukum;
e. Pengawasan oleh hakim yang merdeka dalam hal organ – organ pemerintah
melaksanakan dan menegakkan aturan - aturan hukum.

2. Prinsip – prinsip Demokrasi :


a. Perwakilan politik, Kekuasaan politik tertinggi dalam suatu Negara dan dalam
masyarakat hukum yang lebih randah diputuskan oleh badan perwakilan, yang
diisi melalui pemilihan umum;
b. Pertanggungjawaban politik. Organ – organ pemerintahan dalam menjalankan
fungsinya sedikit banyak tergantung secara politik yaitu kepada lembaga
perwakilan;
c. Pemencaran kewenangan. Konsentrasi kekuasaan dalam masyarakat pada satu
organ pemerintahan adalah kesewenang – wenangan. Oleh karena itu,
kewenangan badan – badan publik itu harus dipencarkan pada organ – organ
yang berbeda;
d. Pengawasan dan kontrol (penyelenggaraan) pemerintahan harus dapat
dikontrol;
e. Kejujuran dan terbuka untuk umum;
f. Rakyat diberi kemungkinan untuk mengajukan keberatan.

Oleh karena itu, negara hukum itu harus ditopang dengan sistem demokrasi
karena terdapat korelasi yang jelas antara negara hukum yang bertumpu pada
konstituusi, dengan kedaulatan rakyat yang dijalankan melalui sistem demokrasi.
Dalam sistem demokrasi, partisipasi rakyat merupakan esensi dari sistem ini.
Akan tetapi, demokrasi tanpa pengaturan hukum akan kehilangan bentuk dan arah,

16
sementara hukum tanpa demokrasi akan kehilangan makna. Menurut Frans
Magnis Suseno, demokrasi yang bukan negara hukum, bukan demokrasi dalam
arti yang sesungguhnya. Demokrasi merupakan cara yang paing aman untuk
mempertahankan kontrol atas negara hukum.

Dengan demikian dalam negara hukum yang demokratis, hukum dibangun dan
ditegakkan menurut prinsip - prinsip demokrasi. Hukum tidak boleh dibuat,
ditetapkan, ditafsirkan, dan ditegakkan dengan "tangan besi" berdasarkan
kekuasaan semata (machtsstaat). Sebaliknya, demokrasi haruslah diatur berdasar
atas hukum (rechtsstaat) karena perwujudan gagasan demokrasi memerlukan
instrumen hukum untuk mencegah munculnya pemerosotan demokrasi
(mobokrasi), yang mengancam pelaksanaan demokrasi itu sendiri.

17