Anda di halaman 1dari 13

KEPOLISIAN DAERAH SUMATERA UTARA

RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK III TEBING TINGGI


Jl. Pahlawan No. 17 Tebing Tinggi 20633

PELAYANAN PENANGANAN, PENYIMPANAN DAN


PENGGUNAAN BAHAN LIMBAH BERBAHAYA DAN DAFTAR B3
DAN LIMBAHNYA

RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK III TEBING TINGGI


TAHUN 2018
BAB I
DEFENISI
I. Pengertian
Bahan berbahaya dan beracun (B3) adalah bahan yang karena sifatnya,
konsentrasinya dan jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung
yang dapat mencemarkan atau merusak lingkungan hidup, dan dapat
membahayakan lingkungan kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta
makhluk hidup lainnya. Pengelolaan bahan dan limbah berbahaya adalah
kegiatan yang menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan,
menggunakan dan atau membuang B3. Penyimpanan B3 adalah teknik
penempatan B3 untuk menjaga kualitas dan kuantitas B3 atau mencegah
dampak negatif B3 terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia dan mahluk
hidup lainnya. Pengemasan B3 adalah kegiatan mengemas, mengisi atau
memasukkan B3 ke dalam suatu wadah atau kemasan, menutup dan
menyegelnya. Pengangkutan B3 adalah kegiaatan pemindahan B3 dari suatu
tempat ketempat lain dengan menggunakan sarana angkutan. Dengan
meningkatnya kegiatan pembangunan dibidang kesehatan terdapat
kecenderungan semakin meningkat pula penggunaan bahan berbahaya dan
beracun, untuk mencegah terjadinya dampak yang dapat merusak lingkungan
hidup, kesehatan pekerja, pasien dan pengunjung diperlukan pengelolaan
bahan berbahaya dan beracun secara terpadu sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Umumnya Rumah Sakit melakukan pengelolaan bahan-bahan dan barang
berbahaya dengan hati-hati dan mengikuti peraturan-peraturan sesuai dengan
persyaratan keselamatan dan kesehatan kerja yang ada. Pesatnya kebutuhan
manusia dalam bidang kesehatan menyebabkan semakin banyaknya bahan
dan barang berbahaya yang dibutuhkan, oleh karena itu dibutuhkan ketelitian
didalam pengelolaannya. Keutuhan bungkusan harus dijaga selama dalam
pengangkutan dan pengolahan bahan dan barang berbahaya sehingga tidak
mencelakai petugas. Disamping hal tersebut penanganan limbah bahan
berbahaya juga harus dijaga sehingga tidak mencemari lingkungan sekitar
rumah sakit.
Umumnya Rumah Sakit memakai bahan-bahan kimia dan barang
berbahaya lainnya untuk melakukan pengobatan, sehingga memerlukan
penanganan khusus dalam penyimpanan, pengelolaan bahan dan barang
berbahaya, diantaranya harus mengetahui identifikasi potensial bahaya yang
dapat ditimbulkan, Sistem pengangkutan, penyimpanan dan pembuangan,
pengendalian barang-barang rusak dan kadaluwarsa serta cara pembuangan
dan penyimpanannya. Untuk itulah diperlukan pelatihan untuk menangani
pengelolaan bahan dan barang berbahaya kepada seluruh pekerja Rumah
Sakit yang sering berhubungan dengan B3 bagian terkait (gudang,
laboratorium, instalasi radiodiagnostik dan instalasi farmasi).
II. Tujuan
Tujuan Umum
Meningkatkan keselamatan pasien, pekerja dan pengunjung di Rumah sakit
Bhayangkara Tk III Tebing Tinggi

Tujuan Khusus
Tujuan dari pelaksanaan keselamatan pasien (patient safety) adalah :
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien, pekerja dan pengunjung di
Rumah Sakit Bhayangkara Tk III Tebing Tinggi
2. Terciptanya lingkungan yang bersih dan tidak terkontaminasi dengan bahan
berbahaya dan beracun
3. Terpilah-pilanya antar limbah medis dan non medis
4. Tidak terjadi pencemaran atau kerusakan lingkungan hidup akibat
pembuangan limbah bahan berbahaya yang sembarangan.
5. Menurunnya Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) di Rumah Sakit
Bhayangkara Tk III Tebing Tinggi. Terlaksananya program pengelolaan
bahan dan limbah berbahaya sehingga tidak terjadi pengulangan Kejadian
Tidak Diharapkan (KTD) di Rumah Sakit Bhayangkara Tk III Tebing Tinggi.
BAB II
RUANG LINGKUP

Rumah sakit harus mengidentifikasi dan mengendalikan secara aman bahan


dan limbah berbahaya sesuai dengan rencana agar setiap orang yang kontak
langsung maupun tidak langsung dengan bahan berbahaya tersebut dapat
melakukan tindakan untuk pengendaliannya mengingat masalah penanganan bahan
dan limbah berbahaya di lingkungan Rumah Sakit Bhayangkara Tk III Tebing Tinggi
merupakan masalah yang perlu ditangani segera di Rumah Sakit Bhayangkara Tk III
Tebing Tinggi maka diperlukan panduan pelayanan rumah sakit tentang penanganan
bahan dan limbah berbahaya yang merupakan acuan bagi Rumah Sakit
Bhayangkara Tk III Tebing Tinggi untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Adapun
ruang lingkup dari panduan pelayanan pengelolaan bahan dan limbah berbahaya di
Rumah Sakit Bhayangkara Tk III Tebing Tinggi sebagai berikut:
1. Panduan ini diterapkan kepada semua unit kerja yang ada di lingkungan
Rumah Sakit Bhayangkara Tk III Tebing Tinggi, terutama pada unit kerja yang
sering berhubungan dengan B3 (Farmasi, Laboratorium, Instalasi
Radiodiagnostik dan Gudang).
2. Pelaksanaan panduan ini adalah Para Tenaga Kesehatan Medis (Perawat,
Farmasi, Bidan) dan Para Tenaga Non Medis (Staf Administrasi) dan Staf
pendukung yang bekerja di Rumah sakit
3. Ruang lingkup K3 meliputi upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan atau
gangguan kesehatan pekerja rumah sakit termasuk pasien atau pengunjung
dan lingkungan sekitar rumah sakit.
4. Adapun batasan operasional mencakup :
a. Kategori Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3)
b. Sistem Pengangkutan, Penyimpanan Dan Pembuangan
c. Pemindahan dan Penggunaan B3
d. Pengendalian Barang-Barang Rusak Dan kadaluwarsa
e. Pembuangan Dan Penyimpanan
f. Jenis- Jenis limbah berbahaya di Rumah Sakit.
5. Daftar terbaru Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dilingkungan Rumah Sakit
Bhayangkara Tk III Tebing Tinggi adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Daftar Nama Bahan Berbahaya dan Beracun
N Nama Bahan – Bahan Sifat Lokasi
o Berbahaya
1. Film Racun Instalasi
Radiodiagnostik
2. Isoflurane Racun Instalasi Farmasi,
Instalasi Bedah
3. Psikotropik Racun Instalasi Farmasi,
Instalasi Bedah
4. Narkotika Racun Instalasi Farmasi,
Instalasi Bedah
5. Alkohol Mudah terbakar R.Perawat, Instalasi
Farmasi,
Laboratorium,
Instalasi Bedah
6. Spiritus Mudah terbakar Laboratorium

7. Natrium Klorida Iritasi dan Instalasi Farmasi,


Korosif Instalasi Bedah
8. Hidrogen peroksida Iritasi dan Laboratorium,
korosif Instalasi Bedah
9. Formalin Tablet Racun HD, Instalasi
Farmasi, Instalasi
Bedah
10. Formalin Cair Racun HD, Instalasi
Farmasi, Instalasi
Bedah
11. Oksigen tekan Mudah terbakar Ruang Oksigen

12. Udara Tekan Mudah terbakar Ruang Oksigen

13. Nitrous Oxide Mudah terbakar Ruang Oksigen

14. BBola Lampu Racun Ruangan Setiap


Lantai
15. Freon AC Racun dan Instalasi
Mudah Terbakar Pemeliharaan
Sarana
16. Oli Kotor Racun Genset

17. Baclin Racun Setiap Lantai/ CS


Center
18. Tensimeter air raksa Racun Ruang Rawatan

19. Spuit Tajam TPS

20. Cangkang Ampule/ Vial Tajam TPS


BAB III
TATA LAKSANA

Tata laksana penanganan masalah bahan dan limbah berbahaya di lingkungan


Rumah Sakit Bhayangkara Tk III Tebing Tinggi adalah sebagai berikut:
3.1 Penanganan Bahan Barbahaya Dan Beracun
1. Kategori Bahan Berbahaya dan Beracun
Secara rinci, klasifikasi bahan berbahaya dan beracun (B3) diatur dalam PP
No.74 Th 2001 tentang pengelolaan B3, klasifikasi tersebut sebagai berikut :
 Mudah meledak (explosive)
 Pengoksida (oxiding)
 Berbahaya (harmful)
 Korosif (corrosive)
 Bersifat iritasi (irritant)
 Beracun (toxic)
 Karsinogenik
 Teratogenik
 Berbahaya bagi lingkungan

2. Identifikasi Potensial Bahaya


a. Identifikasi dan penilaian resiko dilaksanakan oleh petugas yang
berkompeten (Petugas terkait, Gudang, Laboratorium, Instalasi
Radiodiagnostik dan Instalasi Farmasi)
b. Penentuan penanganan bahan/ material dilaksanakan secara manual atau
mekanis ditetapkan berdasarkan hasil identifikasi

3. Sistem Pengangkutan, Penyimpanan Dan Pembuangan


a. Sistem pengangkutan bahan material yang diterima untuk pembongkaran
dari pengangkutan kedalam gudang dilakukan secara manual yang
dilaksanakan dengan perlakuan yang benar guna menghindari tumpahan
atau ceceran.
b. Pemindahan ini dilakukan dengan tenaga manusia dengan
mempergunakan alat bantu berupa troli. Pemindahan secara mekanis
pada umumnya tidak dilakukan mengingat berat bahan yang diangkut
tidaklah terlalu berat
c. Penyimpanan
 Sediakan tempat penyimpanan khusus untuk masing-masing bahan
kimia dan kembalikan bahan kimia ke tempat itu setelah digunakan
 Simpan bahan dan peralatan di lemari dan rak khusus penyimpanan.
 Amankan rak dan unit penyimpanan lainnya. Pastikan rak memiliki
bibir pembatas di bagian depan agar wadah tidak jatuh. Idealnya,
tempatkan wadah cairan pada baki logam atau plastik yang bisa
menampung cairan jika wadah rusak
 Hindari menyimpan bahan kimia diatas bangku, kecuali bahan kimia
yang sedang digunakan
 Jangan menyimpan bahan pada rak yang tingginya lebih dari 5 kaki
(~1,5 m)
 Hindari menyimpan bahan berat dibagian atas
 Jaga agar pintu keluar, koridor, area dibawah meja atau bangku,
serta area peralatan keadaan darurat tidak dijadikan tempat
penyimpanan peralatan dan bahan
 Labeli semua wadah bahan kimia dengan tepat. Letakkan nama
pengguna dan tanggal penerimaan pada semua bahan yang dibeli
untuk membantu kontrol inventaris
 Simpan cairan yang mudah terbakar di lemari penyimpanan cairan
yang mudah terbakar yang disetujui
 Jangan memaparkan bahan kimia yang disimpan kepanas atau sinar
matahari langsung
 Simpan bahan kimia dalam kelompok-kelompok bahan yang sesuai
secara terpisah yang disortir berdasarkan abjad. Untuk mendapatkan
gambaran metode pengodean warna untuk penyusunan bahan kimia
 Ikuti semua tindakan pencegahan terkait penyimpanan bahan kimia
yang tidak sesuai
 Berikan tanggungjawab untuk fasilitas penyimpanan dan
tanggungjawab lainnya diatas kepada satu penanggungjawab utama
dan satu orang cadangan. Kaji tanggungjawab ini minimal setiap
tahun.
d. Pembuangan Dan Penyimpanan
 Barang bekas yang dinyatakan tidak dapat dipergunakan lagi harus
disimpan sesuai ketentuan yang berlaku, ditempatkan secara khusus
dan tercatat agar tidak dipergunakan lagi
 Khusus wadah bekas bahan B3 harus di beri label dengan jelas
sesuai sifat bahan tersebut (beracun, iritasi, korosif dan lain-lain
 Wadah bekas bahan kimia cair disimpan dan tidak dibenarkan
dipakai untuk kegiatan lain
 Penanganan limbah padat dan limbah cair sesuai dengan Peraturan
Perundangan yang berlaku (Peraturan Lingkungan Hidup).

4. Pemindahan Dan Penggunaan


a. Dalam pengambilan bahan material dari gudang untuk dipergunakan di
lokasi kerja harus memperhatikan aspek K3 (menghindari tumpahan,
kebocoran, ceceran dan kerusakan) sesuai dengan petunjuk pedoman
teknis yang berlaku
b. Petugas pelaksana yang menangani pemindahan dan penggunaan harus
memperhatikan aspek K3 kalau perlu harus mempergunakan APD, alat
bantu yang memadai dan apabila terjadi tumpahan atau ceceran pada
pemindahan harus ditangani sesuai dengan instruksi kerja dan pedoman
kerja yang berlaku.

5. Pengendalian Barang-Barang Rusak Dan kadaluwarsa


Bahan-bahan yang diindentifikasi telah mengalami kerusakan dan
kadaluwarsa di tempatkan di tempat yang aman secara khusus, tidak dapat
dipergunakan, tercatat dan penanganannya harus sesuai dengan instruksi
kerja

3.2 Penanganan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun di Rumah Sakit


A. Limbah Padat Medis
 Pengumpulan limbah medis padat dari setiap ruangan penghasil limbah
menggunakan troli khusus yang tertutup. Penyimpanan limbah medis
padat harus sesuai iklim tropis yaitu pada musim hujan paling lama 48
jam dan pada musim kemarau paling lama 24 jam.
 Tempat pewadahan limbah medis padat terbuat dari bahan yang kuat,
cukup ringan, tahan karat, kedap air, dan mempunyai permukaan yang
halus pada bagian dalamnya, misal fiberglass.

B. Limbah Infeksius dan benda tajam


 Tahap persiapan
 Petugas ruangan membuang sampah sesuai dengan jenis sampah
tersebut ke wadah yang sudah ditentukan, sampah non medis untuk
hijau, sampah medis infeksius untuk warna kuning.
 Petugas Cleaning Service mengangkut sampah-sampah tersebut ke
tempat penampungan sampah sementara/ tempat penyimpanan
sementara (TPS).
 Selama masa pengangkutan ke TPS dijaga agar tidak mencemari
lingkungan.
 Pengawasan dan pemeliharaan fasilitas dilakukan oleh bagian
Cleaning Service.
 Pembuangan sampah infeksius:
 Petugas Cleaning Service mempersiapkan dan memakai alat
pelindung diri (APD) seperti: masker, sarung tangan, plastik warna
kuning, tong wadah tertutup
 Keluarkan sampah infeksius dari wadahnya kemudian dimasukkan
kedalam plastik warna kuning
 Bila plastik warna kuning telah terpenuhi ¾ kantong lalu diikat kuat
dengan tali
 Angkat sampah infeksius dengan trolly barang melalui lift ke tempat
penyimpanan sementara disekitar are parkiran Rumah Sakit
 Letakkan sampah infeksius di tempat penyimpanan sementara
dengan wadah terikat dan tertutup
 Cuci trolly dan tangan dengan cairan pembersih
 Pemusnahan limbah infeksius:
 Petugas Cleaning Service mempersiapkan dan memakai alat
pelindung diri (APD) seperti: masker, sarung tangan, plastik warna
kuning, tong wadah tertutup
 Masukkan kantongan plastik kuning (sampah) infeksius ke dalam
kotak kardus lalu di isolatif
 Angkat kotak sampah infeksius ke atas trolly barang.
 Trolly didorong menuju mobil pengangkut untuk dikirim ke PT. Arah
Enviromental Indonesia

C. Limbah Farmasi
 Limbah farmasi diserahkan ke TPS untuk diangkut ke jasa PT . Arah
Enviromental Indonesia

D. Limbah Radioaktif
 Limbah padat radioaktif dibuang sesuai dengan persyaratan teknis dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku (PP No.27 Th.2002) dan
kemudian diserahkan kepada BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional)
untuk penanganan lebih lanjut atau dikembalikan kepada negara
distributor.
 Semua jenis limbah medis termasuk limbah radioaktif tidak boleh
dibuang ke tempat pembuangan akhir sampah domestik (landfill)
sebelum dilakukan pengolahan terlebih dahulu sampai memenuhi
persyaratan.
 Cara yang biasa dilakukan untuk menangani limbah radioaktif adalah
membuangnya atau menyingkirkannya, dengan perlindungan yang
ketat agar sifat-sifat radioaktivitasnya tidak membahayakan lingkungan,
dengan cara menanam kedalam tanah yang dibangun khusus untuk itu.
Sifat radioaktivitasnya akan menurun dengan sendirinya sesuai dengan
waktu paruhnya.

E. Limbah Bahan Kimiawi


 Limbah berbahaya yang komposisinya berbeda harus dipisahkan untuk
menghindari reaksi kimia yang tidak diinginkan
 Limbah kimia berbahaya dalam jumlah besar tidak boleh ditimbun
karena dapat mencemari air tanah
 Limbah kimia desinfektan dalam jumlah besar tidak boleh di kapsulisasi
karena sifatnya yang korosif dan mudah terbakar
 Limbah padat bahan kimia berbahaya cara pembuangannya harus
dikonsultasikan terlebih dahulu kepada instansi yang berwenang.

F. Limbah dengan Kandungan logam berat


 Limbah dengan kandungan mercuri atau kadmium tidak boleh dibakar
atau diinsenerasi karena berisiko mencemari udara dengan uap
beracun dan tidak boleh dibuang ke landfill karena dapat mencemari air
tanah
 Cara yang disarankan adalah dikirim ke negara yang mempunyai
fasilitas limbah dengan kandungan logam berat tinggi. Bila tidak
memungkinkan, limbah dibuang ke tempat penyimpanan yang aman
sebagai pembuangan akhir untuk limbah industri berbahaya. Cara lain
yang paling sederhana adalah dengan kapsulisasi kemudian dilanjutkan
dengan landfill. Bila hanya dalam jumlah kecil dapat dibuang dengan
limbah biasa.

G. Limbah Cair
 Saluran pembuangan limbah harus menggunakan sistem saluran
tertutup, kedap air dan limbah harus mengalir dengan lancar, serta
terpisah dengan saluran air hujan
 Rumah sakit memiliki instalasi pengolahan limbah cair sendiri yang
memenuhi persyaratan teknis
 Memasangang alat pengukur debit limbah cair untuk mengetahui debit
harian limbah yang dihasilkan
 Air limbah dari dapur harus dilengkapi penangkap lemak dan saluran air
limbah harus dilengkapi/ ditutup dengan grill
 Air limbah yang berasal dari laboratorium harus diolah di Instalasi
Pengolahan Air Limbah (IPAL)
 Frekuensi pemeriksaan kualitas limbah cair terolah (efluent) dilakukan
setiap bulan sekali untuk swapantau
 Rumah sakit yang menghasilkan limbah cair yang mengandung atau
terkena zat radioaktif. pengelola-annya dilakukan sesuai ketentuan
BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional)
H. Limbah Gas
Semua limbah berbentuk gas yang berasal dari kegiatan pembakaran
di rumah sakit seperti insinerator, dapur, perlengkapan generator, anastesi
dan pembuatan obat sitostatika tata laksana limbah gas:
 Monitoring limbah gas berupa NO2, SO2, logam berat, dan dioksin
dilakukan minimal satu kali setahun
 Melakukan penghijauan dengan menanam pohon yang banyak
memproduksi gas oksigen dan dapat menyerap debu. Dalam
mendorong pengelolaan lingkungan rumah sakit yang ramah
lingkungan (Green Hospital).
BAB IV
PENCATATAN (DOKUMENTASI) DAN PELAPORAN

1. Tim Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) menyusun dokumen


(kebijakan, panduan, SPO dll) terkait penanganan, penyimpanan dan
penggunaan bahan dan limbah berbahaya.
2. Setiap Bahan Berbahaya dan Beracun yang ada Di Rumah Sakit Bhayangkara
Tk III Tebing Tinggi harus mempunyai MSDS.
3. Memberi simbol tanda berbahaya di daerah-daerah yang beresiko.
4. Pada kasus dimana ada tumpahan cairan bahan berbahaya maka staf rumah
sakit yang mengetahui baik lewat laporan pasien/ mengetahui sendiri, maka
harus segera melapor kebagian yang mampu menanganinya. Kemudian dibuat
laporannya oleh bagian yang bersangkutan ke Tim MFK
5. Tim MFK menganalisa laporan Pekerja/ Unit dan melaporkannya ke pihak yang
berwenang dan kemudian melaporkannya ke Kepala Rumah Sakit.
6. Melakukan pelatihan penanganan, penyimpanan dan penggunaan bahan dan
limbah berbahaya setiap tahunnya
7. Melakukan evaluasi Kegiatan Tim MFK setiap akhir tahun.
BAB V
PENUTUP

Dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan di


rumah sakit maka pelaksanaan kegiatan penanganan, penyimpanan dan penggunaan
bahan dan limbah berbahaya di Rumah Sakit Bhayangkara Tk III Tebing Tinggi
sangatlah penting. Melalui kegiatan ini diharapkan terjadi penekanan/ penurunan
kejadian yang tidak diharapkan dan dapat meminimalisirkan kerugian baik material
maupun spiritual sehingga dapat lebih meningkatkan kepercayaan masyarakat dan
kepuasan pasien yang dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Tk III Tebing Tinggi.