Anda di halaman 1dari 13

ARTIKEL SOSIOLOGI HUKUM

Resume Buku : Mengenal Sosiologi Hukum


Karangan :
Prof. DR. Soerjono Soekanto, S.H.,M.A

Disusun Oleh :
AFREIDO SUJARWO
NIM : 1510115165

UNIVERSITAS PANCA BAKTI PONTIANAK


BAB I
PENDAHULUAN

A. PENGANTAR
Manusia, sejak lahir telah dilengkapi dengan naluri untuk hidup bersama
dengan orang lain, karena itu akan timbul suatu hasrat untuk hidup teratur, yang mana
teratur menurut seseorang belum tentu teratur buat orang lain sehingga akan
menimbulkan suatu konflik. Keadaan tersebut harus dicegah untuk mempertahankan
integrasi dan integritas masyarakat. Dari kebutuhan akan pedoman tersebut lahirlah
norma atau kaedah yang hakekatnya muncul dari suatu pandangan nilai dari perilaku
manusia yang merupakan patokan mengenai tingkah laku yang dianggap pantas dan
berasal dari pemikiran normatif atau filosofis, proses tersebut dinamakan Sosiologi.
Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan pola perilaku masyarakat dengan
adanya proses pengkhususan atau spesialisasi maka tumbuhlah suatu cabang sosiologi
yaitu Sosiologi hukum yang merupakan cabang dari ilmu ilmu-ilmu hukum yang
banyak mempelajari proses terjadinya norma atau kaedah (hukum) dari pola perilaku
tertentu.
BAB II
SEJARAH PEMBENTUKAN DAN PERKEMBANGAN SOSIOLOGI HUKUM

A. PENGANTAR
Anzilotti, pada tahun 1882 seorang pakar dari Itali yang permatakali
memperkenalkan istilah Sosiologi hukum, yang lahir dari pemikiran di bidang filsafat
hukum, ilmu hukum maupun sosiologi, sehingga sosiologi hukum merupakan refleksi
inti dari pemikiran disiplin-disiplin tersebut. Pengaruh filsafat hukum dan ilmu-ilmu
hukum masih terasa hingga saat ini yang berupa masukan faktor-faktor dari berbagai
aliran atau mahzab-mahzab yaitu :
Aliran/Mahzab Faktor-Faktor Yang Relevan
Aliran hukum alam 1. Hukum dan moral
(Aristoteles, Aquinas, 2. Kepastian hukum dan keadilan yang dianggap
Grotnis) sebagai tujuan dan syarat utama dari hukum
Mahzab Formalisme 1. Logika Hukum
2. Fungsi keajegan dari hukum
3. Peranan formil dari penegak/petugas/pejabat
hukum
Mahzab kebudayaan dan 1. Kerangka kebudayaan dari hukum, hubungan
sejarah antara hukum dengan sistem nilai-nilai.
2. Hukum dan perubahan-perubahan sosial
Aliran Utiliatarinism dan 1. Konsekuensi sosial dari hukum
Sociological Jurisprudence 2. Penggunaan yang tidak wajar dari pembentukan
(Bentham, Ihering, Ehrlich undang-undang
dan Pound) 3. Klasifikasi tujuan dan kepentingan warga dan
masyarakat serta tujuan sosial.
Aliran Sociological 1. hukum sebagai mekanisme pengendalian sosial
Jurisprudence dan Legal 2. Faktor politik dan kepentingan dalam hukum
Realism (Ehrlich, Pound, 3. Stratifikasi sosial dan hukum
Holmes, Llewellyn, Frank) 4. hubungan antara hukum tertulis/resmi dengan
kenyataan hukum/hukum yang hidup.
5. hukum dan kebijaksanaan umum
6. Segi perikemanusiaan dari hukum
7. Studi tentang keputusan pengadilan dan pola
perikelakuan (hakim).
Sosiologi hukum sebenarnya merupakan ilmu tentang kenyataan hukum yang
ruang lingkupnya adalah : Dasar Sosial dari hukum, atas dasar anggapan bahwa
hukum timbul serta tumbuh dari proses sosial lainnya.Efek Hukum terhadap gejala
sosial lainnya dalam masyarakat.Apabila yang dipersoalkan adalah perspektif
penelitiannya, maka dapat dibedakan :
a. Sosiologi hukum teoritis, yang bertujuan untuk menghasilkan
generalisasi/abstraksi setelah pengumpulan data, pemeriksaan terhadap
keteraturan-keteraturan sosial dan pengembangan hipotesa-hipotesa.
b. Sosiologi hukum empiris, yang bertujuan untuk menguji hipotesa-
hipotesa dengan cara mempergunakan atau mengolah data yang
dihimpun didalam keadaan yang dikendalikan secara sistematis dan
metodologis.
Dari uraian tersebut, kesimpulannya adalah bahwa dalam kerangka akademis
maka penyajian sosiologi hukum dimaksudkan sebagai suatu usaha untuk
memungkinkan pembentukan teori hukum yang bersifat sosiologis.

B. SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI HUKUM


1. Pengaruh Dari Filsafat Hukum
Pengaruhnya yang khas adalah dari istilah ‘Law In Action’, yaitu
beraksinya atau berprosesnya hukum. Menurut Pound, bahwa hukum adalah
suatu proses yang mendapatkan bentuk dalam pembentukan peraturan
perundang-undangan dan keputusan hakim atau pengadilan. Dengan maksud
yaitu kegiatan untuk menetralisasikan atau merelatifkan dogmatif hukum. Juga
hukum sebagai sarana untuk mengarahkan dan membina masyarakat.
2. Ilmu Hukum (Hans Kelsen)
Ajaran Kelsen “The Pure Theory of Law” (Ajaran Murni Tentang
Hukum), mengakui bahwa hukum dipengaruhi oleh faktor-faktor politisi
sosiologis, filosofis dan seterusnya. Kelsen juga mengemukakan bahwa setiap
data hukum merupakan susunan daripada kaedah-kaedah (stufenbau), yang
berisikan hal-hal sebagai berikut :
a. Suatu tata kaedah hukum merupakan sistem kaedah-kaedah hukum
secara hierarkis.
b. Susunan kaedh-kaedah hukum yang sangat disederhanakan dari tingkat
terbawah keatas, adalah :
1) Kaedah-kaedah individuil dari badan-badan pelaksana hukum
terutama pengadilan.
2) Kaedah-kaedah umum didalam undang-undang atau hukum
kebiasaan.
3) Kaedah daripada konstitusi
c. Sahnya kaedah hukum dari golongan tingkat yang lebih rendah
tergantung atau ditentukan oleh kaedah yang termasuk golongan
tingkat yang lebih tinggi.
3. Sosiologi (Pengaruh ajaran-ajaran Durkheim dan Weber)
Durkheim berpendapat bahwa hukum sebagai kaedah yang bersanksi,
dimana berat ringan sanksi tergantung pada sifat pelanggaran, anggapan serta
keyakinan masyarakat tentang baik buruknya perikelakuan tertentu, peranan
sanksi tersebut dalam masyarakat. Setiap kaedah hukum mempunyai tujuan
berganda yaitu :
a. menetapkan dan merumuskan kewajiban-kewajiban
b. menetapkan dan merumuskan sanksi-sanksi.
Sedangkan ajaran-ajaran yang menarik dari Max Weber adalah tipe-
tipe ideal dari hukum yang sekaligus menunjukkan suatu perkembangan yaitu
:
a. hukum irrasionil dan materiel, dimana pembentuk undang-undang dan
hakim mendasarkan keputusan-keputusannya semata-mata pada nilai-
nilai emosional tanpa mengacu pada suatu kaedah hukum.
b. hukum irrasionil dan formil, dimana pembentuk undang-undang dan
hakim berpedoman pada kaedah-kaedah yang didasarkan pada wahyu
dan ramalan-ramalan.
c. hukum irrasionil dan materiel dimana keputusan para pembentuk
undang-undang dan hakim didasarkan ada kitab suci, idiologi atau
kebijaksanaan penguasa.
d. hukum irrasionil dan formil, dimana hukum dibentuk atas dasar
konsep-konsep dari ilmu hukum
BAB III
RUANG LINGKUP SOSIOLOGI HUKUM

A. PENDEKATAN INSTRUMENTAL
Menurut Adam Podgorecki bahwa sosiologi hukum merupakan suatu disiplin
teoritis dan umum yang mempelajari keteraturan dari berfungsinya hukum untuk
mendapatkan prinsip-prinsip hukum dan ketertiban yang disadari secara rasionil dan
didasarkan pada diagnosis yang mempunyai dasar yang mantap untuk menyajikan
sebanyak mungkin kondisi-kondisi yang diperlukan agar hukum dapat berlaku secara
efisien. Maka secara studi instrumental bahwa hukum merupakan suatu sarana bagi
pembuat keputusan, terutama dalam masyarakat sosialis dimana perubahan-perubahan
diatur melalui undang-undang.

B. PENDEKATAN HUKUM ALAM DAN KRITIK PENDEKATAN


POSITIVISTIK
Lain halnya dengan Philip Selznick, beliau beranggapan bahwa pendekatan
instrumental merupakan titik atau tahap menengah dari perkembangan atau
pertumbuhan sosiologi hukum. Tahap selanjutnya akan tercapai apabila ada otonomi
dan kemandirian intelektual yang selalu siap untuk menelaah arti dari Legalitas agar
dapat menentukan wibawa moral dan untuk menjelaskan peranan ilmu sosial dalam
menciptakan masyarakat yang didasarkan pada keadilan. Adanya legalitas
menimbulkan dugaan bahwa kekuasaan yang dilaksanakan oleh pejabat-pejabat
umum merupakan kekuasaan yang sah. Hukum memberikan patokan agar diskresi
dapat dibatasi akan tetapi juga menghendaki kebebasan agar mencapai keadilan bagi
para warga masyarakat.
Namun menurut Jerome H. Skolnick bahwa legalitas bukan suatu faktor yang
penting yang harus terpadu didalam kehidupan berorganisasi, karena sosiolog terlebih
dahulu harus mempelajari kondisi-kondisi yang menyebabkan warga masyarakat
menganggap bahwa peraturan yang berlaku benar-benar merupakan hukum serta
bagaimana warga masyarakat menafsirkan peraturan-peraturan tersebut dan
mentrasnformasikan prinsip-prinsinya kedalam lembaga-lembaga sosial.
Namun menurut Black, pendekatan positivistik akan dapat mengatasi
kelemahan-kelemahan pendekatan alam, yang memiliki dasar-dasar sebagai berikut :
1. Dengan ilmu pengetahuan hanya dapat diketahui gejala-gejala dan bukan
esensinya. Oleh karena itu maka kegiatan untuk menemukan konsep hukum
yang benar bukanlah merupakan kegiatan ilmiah.
2. Suatu idea ilmiah senantiasa memerlukan acuan empiris sehingga idea
keadilan misalnya yang tidak mempunyai dasar empiris tidak mempunyai
tempat didalam sosiologi hukum.
3. Pandangan-pandangan menilai tidak dapat diketemukan dalam dunia empiris,
ilmu pengetahuan tidak dapat menilai kenyataan yang dihadapinya..
Jadi menurut Black bahwa pusat perhatian dari sosiologi hukum adalah
pengembangan teori umum tentang hukum.

C. PENDEKATAN PARADIGMATIK
Menurut Thomas S.Khun, yang menyebut sebagai paradigma dominan,
mencakup unsur-unsur kepercayaan, nilai-nilai, aturan-aturan, cara-cara dan dugaan-
dugaan yang dipunyai warga masyarakat tertentu. Oleh karena itu pokok-pokok
pendekatan paradigmatik adalah :
1. Sosiologi hukum bertugas untuk mempelajari dan mengkritik
paradigma-paradigma yang ada yang menjadi pedoman kalangan
profesi hukum dan norma-norma hukum yang menjadi dasar sistem
hukum masyarakat.
2. Mempelajari kenyataan hukum, mengidentifikasikan perbedaan antara
kenyataan dengan paradigma yang berlaku dan mengajukan
rekomendasi untuk mengadakan perubahan pada perilaku atau norma.
3. Mengajukan paradigma-paradigma yang baru.
BAB IV
PARADIGMA SOSIOLOGI HUKUM
Sejak masa lalu, tidak akan mungkin dapat merumuskan apa definisi hukum
dikarenakan ruanglingkupnya sangat luas, itu semua tergantung dari bagaimana masyarakat
mengartikan atau memberi arti pada hukum, terlepas apakah itu benar atau keliru. Arti yang
diberikan pada hukum adalah sebagai berikut :
1. Hukum sebagai ilmu pengetahuan, yakni pengetahuan yang tersusun secara sistematis
atas dasar kekuatan pemikiran.
2. Hukum sebagai disiplin, yakni suatu sistem ajaran tentang kenyataan atau gejala-
gejala yang dihadapi.
3. Hukum sebagai kaedah, yakni pedoman atau patokan sikap tindak atau perikelakuan
yang pantas atau diharapkan.
4. Hukum sebagai lembaga sosial (Social Institution) yang merupakan himpunan dari
kaedah-kaedah dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok
didalam kehidupan masyarakat.
5. Hukum sebagai tatanan hukum, yakni struktur dan proses perangkat kaedah-kaedah
hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu serta berbentuk tertulis.
6. Hukum sebagai petugas, yakni pribadi-pribadi yang merupakan kalangan yang
berhubungan erat dengan penegakan hukum.
7. Hukum sebagai keputusan penguasa, yakni hasil proses diskresi yang menyangkut
pengambilan keputusan yang didasarkan pada hukum akan tetapi juga didasarkan
pada penilaian pribadi.
8. Hukum sebagai proses pemerintahan yaitu proses hubungan timbalbalik antara unsur-
unsur pokok dari sistem kenegaraan.
9. Hukum sebagai sarana sistem pengendalian sosial yang mencakup segala proses baik
yang direncanakan maupun tidak, yang bertujuan untuk mendidik, mengajak atau
bahkan memaksa warga-warga masyarakat agar mematuhi kaedah-kaedah dan nilai.
10. Hukum sebagai sikap tindak atau perikelakuan ajeg, yaitu perikelakuan yang diulang-
ulang dengan cara yang sama yaitu bertujuan untuk mencapai kedamaian.
11. Hukum sebagai jalinan nilai-nilai yaitu jalinan dari konsepsi-konsepsi abstrak dalam
diri manusia tentang apa yang dianggap baik dan yang dianggap buruk
12. Hukum sebagai seni.
Menurut Marc Galanter, bahwa suatu paradigma berfungsi sebagai lensa, melalui mana
seseorang akan dapat menelaah gejala hukum secara seksama.
BAB V
SOSIOLOGI HUKUM DI INDONESIA

A. SOSIOLOGI HUKUM DAN HUKUM ADAT


Apabila hukum adat diidentikkan dengan hukum kebiasaan, maka
identifikasinya terutama dilakukan secara empiris atau dengan metode induktif.
Apabila hukum adat yang tercatat maka pengujiannya dilakukan secara empiris. Teori
ter Haar yang dikenal dengan nama “Beslissingen Leer” bertitik tolak pada anggapan
bahwa timbulnya dan terpeliharanya hukum adat terjadi karena :
1. keputusan para pejabat hukuk dan,
2. keputusan warga-warga masyarakat.
Intinya, teori-teori atau konsepsi-konsepsi hukum adat tersebut dapat
ditonjolkan hal-hal sebagai berikut :
1. Pengembangan ilmu hukum adat dan penelitian hukum adat membuka
jalan bagi tumbuhnya teori-teori hukum yang ersifat sosiologis.
2. Studi hukum adat merupakan suatu jembatan yang menghubungkan
pendekatan yuridist murni dengan pendekatan sosiologis murni.

B. SOSIOLOGI HUKUM DAN PERGURUAN TINGGI


Sosiologi hukum telah dikuliahkan sejak zaman Rechtshogeschool walaipun
tidak secara kontinyu. Dan telah dikuliahkan di Universitas di Indonesia sejak tahun
1978 di beberapa universitas seperti Universitas Indonesia, Universitas Padjadjaran,
Universitas Sriwijaya dan lainnya. Bagi suatu perguruan tinggi hukum yang penting
adalah bahwa kriteria untuk menentukannya adalah kriteria yuridis karena yang
memerlukannya adalah pendidikan hukum. Bedanya dengan materi sosiologi pada
fakultas lain adalah bahwa pada fakultas hukum yang diperlukan adalag pemanfaatan
ilmu sosiologi dan hasil penelitiannya untuk kepentingan teori dan praktek hukum,
bukan sebagai objek studi sosiologis.

C. PENELITIAN SOSIOLOGI HUKUM


Dalam penelitian sosiologis asumsi dasarnya adalah bahwa kemungkinan
besar terdapat perbedaan antara hukum positif tertulis dengan hukum yang hidup
(yang merupakan fakta). Apabila telah diteliti selanjutnya adalah menelaah proses-
proses hukum dan sosial lainnya dengan menganalisa dari kerangka sebab akibat.
Dalam hal ini peneliti dapat melakukan hal-hal sebagai berikut :
1. mengadakan identifikasi terhadap keajegan-keajegan daripada
kausalitas yang ada.
2. menguji hipotesa-hipotesa melalui penelitian yang bersifat
eksplanatoris.
Dengan mempergunakan alat pengumpul data adalah studi dokumenter,
pengamatan dan wawancara dan pengolahan data melalui metode kwalitatif dan atau
kwantitatif yang diperoleh melalui survey, studi kasus ataupun eksprimen.
Penelitian-penelitian sosiologi hukum yang dilakukan oleh fakultas hukum
negeri di indonesia cendrung untuk :
1. mengadakan identifikasi terhadap hukum tidak tertulis
2. mengadakan identifikasi terhadap faktor yang mempengaruhi
efektivitas hukum tertulis
3. mengukur efektivitas hukum tertulis.

D. PUBLIKASI
Tulisan mengenai masalah-masalah sosiologi hukum yang diterbitkan masih langka.
Beberapa diantaranya adalah :
1. Mayor Polak, J.B.A.F. Pengantar Sosiologi: Pengetahuan Hukum Politik.
Djakarta; Penerbit Bhratara, 1967.
2. Satjipto Raharjo. Hukum, Masyarakat dan Pembangunan. Bandung: Penerbit
Alumni, 1976
3. Soedjono, D. Pokok-Pokok Sosiologi sebagai Penunjang Studi Hukum.
Bandung : Penerbit Alumni, 1978.
BAB VI
PENUTUP
Kesimpulan sementara dari menurut Prof. Soerjono ini adalah bahwa dengan
mendalami sosiologi hukum maka dapat diperoleh :
1. Kemampuan untuk memahami hukum dalam konteks sosial.
2. Kemampuan untuk menganalisa dan konstruksi terhadap efektivikasi hukum
dalam masyarakat baik sebagai sarana pengendalian sosial maupun sebagai
sarana untuk merubah masyarakat.
3. Kemampuan mengadakan evaluasi terhadap efektivitas hukum dalam
masyarakat.