Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Pengertian
Empiema adalah terkumpulnya cairan purulen (pus) didalam rongga
pleura.Pada awalnya,cairan pleura encer dengan jumlah leukosit rendah,tetapi sering
kali menjadi stadium fibropurulen dan akhirnya sampai pada keadaan dimana paru-
paru tertutup oleh membran eksudat yang kental.Meskipun empiema sering kali
disebabkan oleh komplikasi dari infeksi pulmonal, namun tidak jarang penyakit ini
terjadi karena pengobatan yang terlambat.
Empiema adalah suatu keadaan dimana di dalam rongga pleura terdapat
nanah(pus) sebagai akibat dari infeksi bakteri akut, akibat traumatik dari luar atau
akibat komplikasi penyakit paru lain yang tidak terkontrol.
Empiema adalah akumulasi pus diantara paru dan membran yang
menyelimutinya (ruang pleura) yang dapat terjadi bilamana suatu paru terinfeksi. Pus
ini berisi sel sel darah putih yang berperan untuk melawan agen infeksi (sel sel
polimorfonuklear) dan juga berisi protein darah yang berperan dalam pembekuan
(fibrin). Ketika pus terkumpul dalam ruang pleura maka terjadi peningkatan tekanan
pada paru sehingga pernapasan menjadi sulit dan terasa nyeri. Seiring dengan
berlanjutnya perjalanan penyakit maka fibrin-fibrin tersebut akan memisahkan pleura
menjadi kantong kantong (lokulasi). Pembentukan jaringan parut dapat membuat
sebagian paru tertarik dan akhirnya mengakibatkan kerusakan yang permanen.

B. Anatomi Fisiologi Pleura


Paru kanan normalnya terdiri dari tiga lobus (atas, tengah, dan bawah) dan
merupakan 55% bagian paru. Paru kiri normalnya terdiri dari dua lobus (atas dan
bawah). Pada lobus atas paru kiri pada bagian bawahnya terdapat lingula yang
merupakan analog dari lobus tengah paru kanan. Paru mengalami perkembangan yang
hebat, saat lahir, bayi memiliki 25 juta alveoli ; jumlah ini bertambah menjadi 300
juta setelah dewasa. Pertumbuhan paling sering terjadi saat usia 8 tahun. Pertumbuhan
tercepat pada usia 3 – 4 tahun. Pleura adalah membran tipis terdiri dari 2 lapisan
yaitu pleura viseralis dan parietalis. Secara histologis kedua lapisan ini terdiri dari sel
mesotelial, jaringan ikat, dan dalam keadaan normal, berisikan lapisan cairan yang
sangat tipis. Membran serosa yang membungkus parekim paru disebut pleura
viseralis, sedangkan membran serosa yang melapisi dinding toraks, diafragma, dan
mediastinum disebut pleura parietalis. Rongga pleura terletak antara paru dan dinding
thoraks. Rongga pleura dengan lapisan cairan yang tipis ini berfungsi sebagai pelumas
antara kedua pleura. Kedua lapisan pleura ini bersatu pada hilus paru. Dalam hal ini,
terdapat perbedaan antara pleura viseralis dan parietalis, diantaranya pleura viseralis
memiliki ciri ciri permukaan luarnya terdiri dari selapis sel mesotelial yang tipis <
30mm, diantara celah-celah sel ini terdapat sel limfosit, di bawah sel-sel mesotelial ini
terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit, di bawahnya terdapat lapisan
tengah berupa jaringan kolagen dan serat-serat elastik, lapisan terbawah terdapat
jaringan interstitial subpleura yang banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari
arteri pulmonalis dan arteri brakhialis serta pembuluh limfa, menempel kuat pada
jaringan paru, fungsinya untuk mengabsorbsi cairan pleura.
Volume cairan pleura selalu konstan, dipengaruhi oleh tekanan hidrostatik
sebesar 9 mmHg , diproduksi oleh pleura parietalis, serta tekanan koloid osmotik
sebesar 10 mmHg yang selanjutnya akan diabsorbsi oleh pleura viseralis.

C. KLASIFIKASI
Empiema dibagi menjadi dua stadium :
a. Empiema akut
Terjadi akibat infeksi sekunder dari tempat lain, bukan primer dari pleura.Bila
pada stadium ini dibiarkan beberapa minggu, maka akan timbul toksemia ,anemia,
dan clubbing finger.Jika pus tidak segera dikeluarkan akan timbul fistel
bronkopleural.
b. Empiema kronis
Batas tegas antara empiema akut dan kronis sukar ditentukan.Disebut kronis
jika empiema berlangsung selama lebih dari 3 bulan.Pada stadium ini,jika klien
menerima terapi antimikroba, manifestasi klinis akan dapat dikurangi.
D. Penyebab
a. Infeksi yang berasal dari dalam paru :
 Pneumonia
 Abses paru
Bronkiektasis
TBC paru
Aktinomikosis paru
Fistel Bronko-Pleura
b. Infeksi yang berasal dari luar paru :
Trauma Thoraks
Pembedahan thorak
Torasentesi pada pleura
Sufrenik abses
Amoebic liver abses
c. Penyebab lain dari empiema adalah :
1. Stapilococcus
Staphylococcus adalah kelompok dari bakteri-bakteri, secara akrab dikenal
sebagai Staph, yang dapat menyebabkan banyak penyakit-penyakit sebagai akibat
dari infeksi beragam jaringan-jaringan tubuh. Bakteri-bakteri Staph dapat
menyebabkan penyakit tidak hanya secara langsung oleh infeksi (seperti pada
kulit), namun juga secara tidak langsung dengan menghasilkan racun-racun yang
bertanggung jawab untuk keracunan makanan dan toxic shock syndrome. Penyakit
yang berhubungan dengan Staph dapat mencakup dari ringan dan tidak
memerlukan perawatan sampai berat/parah dan berpotensi fatal.
2. Pnemococcus
Pneumococcus adalah salah satu jenis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi
serius seperti radang paru-paru (pneumonia),meningitis (radang selaput otak) dan
infeksi darah (sepsis).Sebenarnya ada sekitar 90 jenis kuman pneumokokus, tetapi
hanya sedikit yang bisa menyebabkan penyakit gawat. Bentuk kumannya bulat-
bulat dan memiliki bungkus atau kapsul. Bungkus inilah yang menentukan apakah
si kuman akan berbahaya atau tidak.
E. Manifestasi Klinik
Tanda dan gejala empiema secara umum adalah :
 Demam
 Keringat malam
 Nyeri pleural
 Dispnea
 Anoreksia dan penurunan berat badan
 Auskultasi dada, ditemukan penurunan suara napas
 Perkusi dada, suara flatness
 Palpasi , ditemukan penurunan fremitus
Tanda gejala empiema berdasarkan klasifikasi empiema akut dan empiema kronis
a. Emphiema akut:
 Panas tinggi dan nyeri pleuritik.
 Adanya tanda-tanda cairan dalam rongga pleura.
 Bila dibiarkan sampai beberapa minggu akan menimbulkan toksemia, anemia, dan
clubbing finger .
 Nanah yang tidak segera dikeluarkan akan menimbulkan fistel bronco-pleural.
 Gejala adanya fistel ditandai dengan batuk produktif bercampur dengan darah dan
nanah banyak sekali.
b. Emphiema kronis:
 Disebut kronis karena lebih dari 3 bulan.
 Badan lemah, kesehatan semakin menurun.
 Pucat, clubbing finger.
 Dada datar karena adanya tanda-tanda cairan pleura.
 Terjadi fibrothorak trakea dan jantung tertarik kearah yang sakit.
 Pemeriksaan radiologi menunjukkan cairan.

F. Patofisiologi
Akibat invasi basil piogeneik ke pleura, maka akan timbulah peradangan akut yang
diikuti dengan pembentukan eksudat serous. Dengan sel polimorphonucleus (PMN) baik
yang hidup maupun yang mati dan meningkatnya kadar protein, maka cairan menjadi
keruh dan kental. Adanya endapan – endapan fibrin akan membentuk kantung–kantung
yang melokalisasi nanah tersebut.
Sekresi cairan menuju celah pleura normalnya membentuk keseimbangandengan
drainase oleh limfatik subpleura. Sistem limfatik pleura dapatmendrainase hampir 500
ml/hari. Bila volume cairan pleura melebihi kemampuanlimfatik untuk mengalirkannya
maka, efusi akan terbentuk.
Efusi parapnemonia merupakan sebab umum empiema. Pneumonia mencetuskan
respon inflamasi. Inflamasi yang terjadi dekat dengan pleura dapat meningkatkan
permeabilitas sel mesotelial, yang merupakan lapisan sel terluardari pleura. Sel mesotelial
yang terkena meningkat permeabilitasnya terhadap albumin dan protein lainnya. Hal ini
mengapa suatu efusi pleura karena infeksi kaya akan protein. Mediator kimia dari proses
inflamasi menstimulasi mesotelial untuk melepas kemokin, yang merekrut sel inflamasi
lain. Sel mesotelial memegang peranan penting untuk menarik neutrofil ke celah pleura.
Pada kondisi normal, neutrofil tidak ditemukan pada cairan pleura. Neutrofil ditemukan
pada cairan pleura hanya jika direkrut sebagai bagian dari suau proses inflamasi. Netrofil,
fagosit, mononuklear, dan limfosit meningkatkan respon inflamasi dan
mengeleluarkanmediator untuk menarik sel-sel inflamator lainya ke dalam pleura.
Efusi pleura parapneumoni dibagi menjadi 3 tahap berdasarkan patogenesisnya, yaitu
efusi parapneumoni tanpa komplikasi, dengan komplikasi dan empiema torakis. Efusi
parapneumoni tanpa komplikasi merupakan efusi eksudat predominanneutrofil yang
terjadi saat cairan interstisiil paru meningkat selama pneumonia.Efusi ini sembuh dengan
pengobatan antibiotik yang tepat untuk pneumonia. Efusi parapneumonikomplikasi
merupakan invasi bakteri pada celah pleura yang mengakibatkan peningkatan jumlah
neutrofil, asidosis cairan pleura dan peningkatan konsentrasi LDH. Efusi ini sering
bersifat steril karena bakteri biasanya dibersihkan secara cepat dari celah
pleura.Pembentukan empiema terjadi dalam 3 tahap, yaitu :
1. Fase eksudatif : Selama fase eksudatif, cairan pleura steril berakumulasisecara cepat
ke dalam celah pleura. Cairan pleura memiliki kadar WBC dan LDH yang rendah,
glukosa dan pH dalam batas normal. Efusi ini sembuh dengan terapi antibiotik,
penggunaan chest tube tidak diperlukan.
2. Fase fibropurulen : invasi bakteri terjadi pada celah pleura, dengan akumulasi leukosit
PMN, bakteri dan debris. Terjadi kecendrungan untuk lokulasi, pH dan kadar glukosa
menurun, sedangkan kadar LDH menngkat.
3. Fase organisasi : Bentuk lokulasi. Aktivitas fibroblas menyebabkan pelekatan pleura
visceral dan parietal. Aktivitas ini berkembang dengan pembentukan perlengketan
dimana lapisan pleura tidak dapat dipisahkan. Pus, yang kaya akan protein dengan sel
inflamasi dan debris berada pada celah pleura. Intervensi bedah diperlukan pada tahap
ini.
Gambaran bakteriologis efusi parapneumoni dengan kultur positif berubah seiring
berjalannya waktu. Sebelum era antibiotik, bakteri yang umumnya didapatkan adalah
Streptococcus pneumoniae danstreptococci hemolitik. Saat ini, organisme aerob lebih
sering diisolasi dibandingkan organisme anaerob. Staphylococcus aureus dan S
pneumoniae tumbuh pada 70 % kultur bakteri gram positif aerob. Bakteriologi suatu efusi
parapneumoni berhubungan erat dengan bakteriologi pada proses pneumoni. Organisme
aerob gram positif dua kali lebih sering diisolasi dibandingkan organisme aerob gram
negatif. Klebsiela, Pseudomonas, dan Haemophilus merupakan 3 jenis organisme aerob
gram negatif yang paling sering diisolasi.
Bacteroides danPeptostreptococcus merupakan organisme anaerob yang paling sering
diisolasi. Campuran bakteri aerob dan anaerob lebih sering menghasilkan suatu empiema
dibandingkan infeksi satu jenis organisme. Bakteri anaerob telah dikultur 36 sampai 76 %
dari empiema. Sekitar 70 % empiema merupakan suatu komplikasi dari pneumoni. Pasien
dapat mengeluh menggigil, demam tinggi, berkeringat, penurunan nafsu makan, malaise,
dan batuk. Sesak napas juga dapat dikeluhkan oleh pasien.

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Radiologi

a. Foto thoraks PA dan lateral didapatkan gambaran opacity yang menunjukan


adanya cairan dengan atau tanpa kelaina paru. Bila terjadi fibrothoraks , trakhea di
mediastinum tertarik ke sisi yang sakit dan juga tampak adanya penebalan.
b. Cairan pleura bebas dapat terlihat sebagai gambaran tumpul di sudut kostofrenikus
pada posisi posteroanterior atau lateral.
c. Dijumpai gambaran yang homogen pada daerah posterolateral dengan gambaran
opak yang konveks pada bagian anterior yang disebut dengan D-shaped shadow
yang mungkin disebabkan oleh obliterasi sudut kostofrenikus ipsilateral pada
gambaran posteroanterior.
d. Organ-organ mediastinum terlihat terdorong ke sisi yang berlawanan dengan
efusi.
e. Air-fluid level dapat dijumpai jika disertai dengan pneumotoraks, fistula
bronkopleural.

2. Pemeriksaan pus
Aspirasi pleura akan menunjukan adanya pus di dalam rongga dada(pleura). Pus
dipakai sebagai bahan pemeriksaan sitologi , bakteriologi, jamur dan amoeba. Untuk
selanjutnya, dilakukan jkultur (pembiakan) terhadap kepekaan antobiotik.
3. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) :
a. Pemeriksaan dapat menunjukkan adanya septa atau sekat pada suatu empiema
yang terlokalisir.
b. Pemeriksaan ini juga dapat membantu untuk menentukan letak empiema yang
perlu dilakukan aspirasi atau pemasangan pipa drain.
4. Pemeriksaan CT scan :
a. Pemeriksaan CT scan dapat menunjukkan adanya suatu penebalan dari pleura.
b. Kadang dijumpai limfadenopati inflamatori intratoraks pada CT scan
5. Sinar x.
Mengidentifikasi distribusi stuktural, menyatakan
absesluas/infiltrate,empiema(strafilokokus). infiltrat menyebar atau
terlokalisasi(bacterial).
6. GDA /nadi oksimetri.
Tidak normal mungkin terjadi,tergantung pada luas paru yang terlibat dan penyakit
paru yang ada.
7. Tes fungsi paru.
Dilakukan untuk menentukan penyebab dipsnea, untuk menentukan apakah fungsi
abnormal adalah obstruksi atau restriksi,untuk memperkirakan derajat disfungsi.
8. Pemeriksaan Gram/kultur sputum dan darah
Dapat diambil dengan biopsy jarum,aspirasi transtrakeal,bronkoskopi fiberoptik atau
biopsy pembukaan paru untuk mengatasi organisme penyebab.Lebih dari satu tipe
organisme ada: bakteri yang umum meliputi diplokokus pneumonia,strafilokokus
aureus,A-hemolitik streptokokus,haemophilus influenza:CMV.Catatan: kultur sputum
dapat tak mengidentifikasi semua organisme yang ada,kultur darah dapat
menunjukkan bakterimia sementara.
9. EKG latihan,tes stress
Membantu dalam mengkaji derajat disfungsi paru perencanaan/ evaluasi program
latihan.

H. Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan Empiema adalah sebagai berikut :
a. Pengosongan nanah
Dilakukan pada abses untuk mencegah efek toksiknya.
1. Closed drainase-tube toracostorry water sealed drainase dengan indikasi :
 Nanah sangat kental dan sukar diaspirasi
 Nanah terus terbentuk setelah dua minggu
 Terjadinya Piopneumothorak
WSD dapat juga dibantu dengan penghisapan negatif sebesar 10-20 cmH2O.Jika
setelah 3-4 minggu tidak ada kemajuan, harus ditempuh cara lain seperti pada
empiema kronis.
2. Drainase terbuka (open drainage)
Dilakukan dengan menggunakan kateter karet yang besar, oleh karena disertai
juga dengan reseksi tulang iga.Open drainage ini dikerjakan pada empiema
kronis,hal ini bisa terjadiakibat pengobatan yang lambat atau tidak
adekuat,misalnya aspirasi yang terlambat/ tidak adekuat, drainase tidak adekuat
atau harus sering mengganti/ membersihkan drain.
b. Antibiotik
Antibiotik harus segera diberikan begitu diagnosis ditegakkan dan dosisnya
harus adekuat. Pemilihan antibiotik didasarkan pada hasil pengecatan gram dan
apusan nanah.Pengobatan selanjutnya bergantung pada hasil kultur dan
sensivitasnya.Antibiotika dapat diberikan secara sistematik atau topikal.Biasanya
diberikan Penicillin.
c. Penutupan rongga Empiema
Pada empiema menahun seringkali rongga empiema tidak menutup karena
penebalan dan kekakuan pleura.Pada keadaan demikian dilakukan pembedahan
(dekortikasi) atau torakoplasti.
1. Dekortikasi
Tindakan ini termasuk operasi besar, dilakukan dengan indikasi :
 Drain tidak berjalan baik karena banyak kantong-kantong.
 Letak empiema sukar dicapai oleh drain.
 Empiema totalis yang mengalami organisasi pada pleura viseralis.

2. Torakplasti
Alternatif torakplasti diambil jika empiema tidak kunjung sembuh karena adanya
fistel bronkopleural atau tidak mungkin dilakukan dekortikasi.Pada pembedahan
ini segmen tulang iga dipotong subperiosteal.Dengan demikian dinding thorak
jatuh kedalam rongga pleura karena tekanan atmosfir.
d. Pengobatan kausal
Misalnya pada subfrenik abses dengan drainase subdiafragmatika, terapi spesifik pada
amoebiasis dan sebagainya.
e. Pengobatan tambahan
Perbaiki keadaan umum, fisioterapi untuk membebaskan jalan nafas.
Penanggulangan empiema tergantung dari fase empiema, yaitu :
1. Fase I (Fase Eksudat)
Dilakukan drainase tertutup (WSD) dan dengan WSD dapat dicapai tujuan diagnostik
terapi dan prevensi, diharapkan dengan pengeluaran cairan tersebut dapat dicapai
pengembangan paru yang sempurna
2. Fase II (Fase Fibropurulen)
Pada fase ini penanggulangan harus lebih agresif lagi yaitu dilakukan drainase terbuka
(reseksi iga/ "open window") . Dengan cara ini nanah yang ada dapat dikeluarkan dan
perawatan luka dapat dipertahankan. Drainase terbuka juga bertujuan untuk
menunggu keadaan pasien lebih baik dan proses infeksi lebih tenang sehingga
intervensi bedah yang lebih besar dapat dilakukan. Pada fase II ini VATS surgery
sangat bermanfaat, dengan cara ini dapat dilakukan empiemektomi dan/ atau
dekortikasi.

3. Fase III (Fase Organisasi)


Dilakukan intervensi bedah berupa dekortikasi agar paru bebas mengembang atau
dilakukan obliterasi rongga empiema dengan cara dinding dada dikolapskan
(Torakoplasti) dengan mengangkat iga-iga sesuai dengan besarnya rongga empiema,
dapat juga rongga empiema disumpel dengan periosteum tulang iga bagian dalam dan
otot interkostans (air plombage), dan disumpel dengan otot atau omentum (muscle
plombage atau omental plombage).

I. Fokus Pengkajian Keperawatan


A. Pengkajian
1. Identitas
Nama,Umur, Suku/ bangsa, Agama, Alamat, Pendidikan, Pekerjaan
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama : nyeri pada dada pleuritik
b. Riwayat kesehatan sekarang : yaitu panas tinggi dan nyeri pada dada pleuritik.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya tanda-tanda cairan dalam rongga
pleura. Bila stadium ini dibiarkan sampai beberapa minggu maka akan timbul
toksemia, anemia, dan clubbing finger.
c. Riwayat kesehatan masa lalu : pernah mengalami radang paru-paru
(pneumonia), ,meningitis (radang selaput otak) dan infeksi darah (sepsis).
d. Riwayat kesehatan keluarga : pernah terinfeksi bakteri Staphylococcus atau
Pneumococcus
e. Riwayat lingkungan : rumah yang kumuh, kotor, dekat dengan sampah,
f. Riwayat psikososial : stres psikologik sehingga menurunkan imunitas tubuh.
3. Dasar Data Pengkajian Pasien
1. Pernapasan
Gejala : Nafas pendek, batuk menetap dengan produksi sputum stiap hari,
dispnea
Tanda : Takipnea, dispnea, batuk, pengembangan pernafasan tak simetri,
perkusi pekak,penurunan fremits, bunyi nafas menurun/ tak ada
secara bilateral atau uni lateral
2. Makanan / cairan
Gejala : mual, muntah, ketidakmampuan untuk makan karena distress
pernafasan, kehilangan nafsu makan.
Tanda : Turgor kulit buruk,kering, kehilangan tonus, berkeringat
3. Eliminasi
BAB dan BAK teratur
4. Aktivitas
Gejala : Keletihan, kelelahan, dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap
aktivitas atau latihan
Tanda : Keletihan, gelisah, kelemhan umum/ kehilangan massa otot,
takikardia, dispnea, nyeri
5. Istirahat dan Tidur
Gejala : Keletihan, kelelahan, dispnea pada saat istirahat atau respon terhadap
aktivitas atau latihan
Tanda : Keletihan, gelisah, pucat, lemah
6. Berpakaian
Gejala :Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan bantuan
melakukan aktivitas sehari-hari
Tanda: pakaian pasien tidak pernah diganti, keluarga tampak memakaikan
klien pakaian
7. Rasa nyaman
Data : nyeri, sesak.
Tanda : gelisah, meringis.
8. Rasa Aman
Gejala : Riwayat reaksi alergi atau sensitive terhadap zat atau factor-faktor
lingkungan adanya/ berulangnya infeksi.
9. Kebersihan Diri
Gejala :Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan bantuan
melakukan aktivitas sehari-hari
Tanda : kebersihan buruk, bau badan.
10. Komuikasi dan Hubungan dengan orang lain
Gejala : Hubungan ketergantungan, kegagalan dukungan dari/terhadap
pasangan/ orang terdekat, penyakit lama atau ketidakmampuan
membaik.
Tanda : ketidakmampuan untuk membuat/ mempertahankan suara karena
distress pernafasan, kelalaian hubungan dengan anggota keluarga lain.
11. Beribadah
Gejala: Klien lebih sering melakukan ibadah karena ingin sembuh dari
penyakitnya
Tanda: wajah tampak lebih tenang
12. Bekerja
Gejala: Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan bantuan
melakukan aktivitas sehari-hari
Tanda : ketidakmampuan untuk membuat/ mempertahankan suara karena
distress pernafasan, tidak bisa melakukan aktivitas dengan normal
13. Rekreasi
Gejala: Penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan bantuan
melakukan aktivitas sehari-hari
Tanda : ketidakmampuan untuk membuat/ mempertahankan suara karena
distress pernafasan, tidak pernak berekreasi dan lebih memilih untuk
tinggal di rumah
14. Belajar
Gejala :Penggunaan/penyalahgunaan obat pernapasan, kegagalan untuk
membaik
Tanda: kondisi semakin memburuk karena menggunakan erbagai obat untuk
menyembuhkan diri
4. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum : demam, berkeringat, pucat, compos mentis, ketakutan,
gelisah, penurunan BB, dispnea, lemah.
b. Pemeriksaan TTV, RR : >24 x/mnt, Nadi : >100 x/mnt, TD : >120/70
mmHg Suhu : >36,5 oC
c. Pemeriksaan kepala dan leher : batuk produktif, pernafasan cuping hidung.
d. Pemeriksaan dada : nyeri pleuritik, penggunaan otot bantu pernafasan, perkusi
dada ditemukan suara flatness, palpasi ditemukan penurunan fremitus,
auskultasi dada ditemukan penurunan suara napas, funnel chest.
e. Pemeriksaan abdomen : peristaltic usus < 8 x/mnt
f. Pemeriksaan ekstremitas : clubbing finger

J. Fokus Intervensi Keperawatan


1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d peningkatan produksi sputum, obesitas.
2. Ketidakefektifan pola napas b.d dispnea, ansietas, posisi tubuh.
3. Gangguan pertukaran gas b.d perubahan membrane kapiler-alveolar,
ketidakseimbangan perfusi-ventilasi.
4. Nyeri pleuritik b.d empiema
5. Hypertermi b.d infeksi saluran pernapasan.
6. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, intoleransi makanan,
hilangnya nafsu makan, mual/ muntah.
7. Ansietas b.d nyeri pleuritik, dan ketidaktahuan.
8. Intoleransi aktivitas b.d perubahan respon pernapasan terhadap aktivitas.

NO MASALAH TUJUAN INTERVENSI RASIONAL


KEPERAW-
ATAN
1 Ketidakefekti Setelah 1. Kaji frekuensi atau 1. Takipnea pernapasan
fan bersihan diberikan kedalaman pernapasan dangkal dan gerakan dada
jalan napas asuhan selama dan gerakan dada tak simetris sering terjadi
b.d 3x24 jam karena ketidaknyamana
peningkatan diharapakan gerakan. Gerakan dinding
produksi dapat: dada dan cairan paru
sputum, a. 2. Auskultasi area 2. Penurunan aliran darah
obesitas. Mengidentifikas paru, catat area terjadi pada area konsolidasi
i/menunjukkan penurunan/tak ada dengan cairan. Bunyi napas
perilaku aliran udara dan bunyi bronchial (normal pada
mencapai napas adventisius, bronkus) dapat terjadi juga
bersihan jalan missal krekels mengi. pada area konsolidasi.
napas. Krekels, rongkhi, dan mengi
b. Menunjukkan terdengar pada inspirasi dan
jalan napas atau ekspirasi pada respon
paten dengan terhadap pengumpulan
bunyi napas cairan, secret kental, dan
bersih, tidak ada spasme jalan napas/obstruksi
dispnea, 3. Penghisapan sesuai 3. Merangsang batuk atau
sianosis. dengan indikasi pembersihan jalan napas
c. secara mekanik pada pasien
Mendemonstrasi yang tak mampu melakukan
kan batuk efektif karena batuk tak efektif atau
4. Berikan cairan penurunan tingkat kesadaran
sedikitnya 2.500 4. Cairan (khususnya yang
ml/hari, tawarkan air hangat) memobilisasi dan
hangat mengeluarkan sekret.
Ajarakan metode
batuk efektif dan 5. Batuk tidak terkontrol
terkontrol akan melelahkan klien
Pemeriksaan sputum
pasien di laboratorim 6. Sputum yang di periksa
guna untuk mengetahui
adanya penyakit lain
2 Ketidakefekti Setelah 1. 1. Kaji frekuensi,
1. 1. Berguna dalam
fan pola diberikan kedalaman evaluasi derajat distress
napas b.d asuhan selama pernapasan. Catat pernapasan dan atau
dispnea, 3x24 jam penggunaan otot kronisnya proses
ansietas, diharapkan aksesori, napas bibir, penyakit
posisi tubuh. pasien dapat: ketidakmampuan
a. Menunjukkan bicara 5. 2. Bunyi napas
pola pernapasan
2. mungkin redup karena
efektif, 2. 2. Auskultasi bunyi penurunan aliran udara
dibuktikan napas, catat area atau area konsolidasi.
dengan status penurunan aliran Adanya mengi
pernapasan yang udara dan atau bunyi mengindikasikan
tidak berbahaya tambahan spasme bronkus /
: ventilasi dan tertahannya secret
status tanda vital 6. 3. Penurunan tekanan
b. Menunjukkan vibrasi diduga ada
status 3. 3. Palpasi fremitus pengumpulan cairan
pernapasan: atau udara terjebak
ventilasi tidak
3. 4. Anjurkan klien 4. Salah satu faktor
terganggu, untuk tidak penyebab
ditandai dengan memikirkan hal-hal hiperventilasi
indicator yang menyebabkan adalah ansietas
gangguan ansietas
sebagai berikut
c. Kedalaman
4. 5. Pertimbangkan 5. Meningkatkan
inspirasi penggunaan kantung kemampuan kontrol
dankemudahan kertas saat ekspirasi individu terhadap
bernapas. latih individu proses ekspirasi
d. Ekspansi dada bernapas perlahan dan
simetris. efektif
e. Tidak adanya
penggunaanotot6. 6. Pemberian
6. 6. Agar pernapasan
bantu. oksigen dapat berjalan dengan
f. Bunyi napas baik
tambahan tidak
ada. 7. Jaga posisi agar
7. 7. Posisi semifowler
g. Napas pendek tetap semifowler dapat mempermudah
tidak ada pasien dalam bernafas
efektif

3 Gangguan Setelah 1. Pantau perubahan


1. Perubahan frekuensi
pertukaran diberikan tanda vital jantung atau TD
gas b.d asuhan selama menunjukkan bahwa
perubahan 3X24 jam pasien mengalami
membrane diharapkan nyeri, khususnya bila
kapiler- pasien dapat: alasan lain untuk
alveolar, a. Menyatakan perubahan tanda vital
ketidakseimb nyeri telah terlihat.
angan hilang/terkontro
perfusi- b. Menunjukkan Jika tidak dapat Meningkatkan
ventilasi. rileks, berjalan, tetapkan kemampuan ekspansi
istirahat/tidur, suatu aturan untuk paru. Jika klien dalam
dan peningkatan turun dari tempat posisi duduk,
aktivitas dengan tidur, duduk di kursi kemampuan ekspansi
tepat. beberapa hari sekali paru akan meningkat.
c. Mencapai
fungsi paru yang Bantu reposisi, setiap Membantu drainase
maksimal. jam jika mungkin postural, mencega
d. Mengutarakan depresi jaringan paru
pentingnya atau dada untuk
latihan paru pernapasan.
setiap hari
Dorong klien untuk
4. Meningkatkan
melakukan latihan ekspansi paru dan
napas dalam dan asupan oksigen
latihan batuk kedalam paru dan
terkontrol 5 kali setiap sistem peredaran darah.
jam
4 Nyeri Setelah Kaji Karakteristik Nyeri dada, biasanya
pleuritik b.d diberikan nyeri, misal tajam, dada dalam beberapa
empiema asuhan constan, ditusuk. derajat pada pneumonia
keperawatan Selidiki perubahan seperti pericarditis dan
selama 3x24 jam karakter/ lokasi/ endokarditis.
diharapkan intensitas nyeri
pasien dapat:
a. Menunjukkan Pantau :Suhu setiap 4 Untuk mengidentifikasi
nyeri: efek jam, Hasil kemajuan-kemajuan
merusak, pemeriksaan SDP, atau penyimpangan dari
dibuktikan Hasil kultur sputum sasaran yg diharapkan
dengan indikator 3.
berikut : Berikan tindakan Tindakan tersebut akan
untuk memberikan meningkatkan relaksasi
1. Penurunan rasa nyaman
penampilan
peran/ hubungan Berikan analgetik Analgesik membantu
interpersona sesuai dengan anjuran mengontrol nyeri
2. Gangguan untuk mengatasi nyeri dengan memblok jalan
kerja, kepuasaan pleuritik jika perlu dan rangsang nyeri. Nyeri
hidup/ evaluasi pleuritik yg berat sering
kemampuan keefektifannya. kali memerlukan
untuk analgetik narkotik
mengendalikan untuk mengontrol nyeri
diri. lebih efektif
3. Penurunan 5. Hal tersebut
konsentrasi merupakan tanda
4. Terganggunya berkembagnya
tidur. komplikasi
5. Penurunan
5. Konsul pada dokter
nafsu makan. jika nyeri dan demam
6. Antibiotik diperlukan
tetap ada atau untuk mengatasi
mungkin memburuk. infeksi, efek maksimum
6. Berikan antibiotik dapat dicapai jika kadar
sesuai dengan anjuran obat dalam darah
dan evaluasi konsisten dan dapat
keefektifannya dipertahankan. Interaksi
satu obat dgn yg lain
dpt mengurangi
keefektifan pengobatan

5 Hypertermi Setelah Pantau suhu minimal


1. Untuk
b.d infeksi diberikan 2 jam sekali mengidentifikasi
saluran asuhan kemajuan-kemajuan
pernapasan. keperawatan atau penyimpangan dari
selama 3x24 jam sasaran yg diharapkan.
diharapkan Pantau:tekanan darah,
pasien dapat: nadi, pernapasan,
2. Perubahan frekuensi
a. Pasien akan aktifitas kejang, warna jantung atau TD
termoregulasi, kulit menunjukkan bahwa
dibuktikan pasien mengalami
dengan suhu Berikan obat nyeri, khususnya bila
kulit dalam antipiretik sesuai alasan lain untuk
rentang normal. dengan anjuran dan perubahan tanda vital
b. Nadi dan evaluasi telah terlihat.
pernapasan keefektifannya. 3. Hal tersebut
dalam rentang merupakan tanda
yang Lakukan tindakan- berkembangnya
diharapkan. tindakan untuk komplikasi.
c. Perubahan mengurangi demam
4. Gunakan matras
warna kulit tidak seperti, gunakan dingin memungkinkan
ada. matras dingin. terjadinya pelepasan
panas secara konduksi
dan evaporasi
(penguapan).
6 Perubahan Setelah 1. Pantau : persentase
1. Untuk
nutrisi kurang diberikan jumlah makanan yg mengidentifikasi
dari asuhan dikonsumsi setiap kali kemajuan-kemajuan
kebutuhan keperawatan makan, timbang BB atau penyimpangan dari
tubuh b.d selama 3x24 jam setiap hari, Hasil sasaran yg diharapkan
anoreksia, maka pasien pemeriksaan : protein
intoleransi diharapkan: total, albumin dan
makanan, a. Menunjukkan osmalalitas.
hilangnya peningkatan 2.
nafsu makan, berat badan
3. Berikan perawatan
mual/ menuju tujuan mulut tiap 4 jam jika
2. Bau yg tidak
muntah. yang tepat sputum tercium bau menyenangkan dapat
b. Menunjukkan busuk. Pertahankan mempengaruhi nafsu
perilaku/perubah kesegaran ruangan makan.
an pola hidup
untuk Berikan makanan
meningkatkan dengan porsi sedikit Makanan porsi sedikit
dan atau tapi sering yg mudah tapi sering memerlukan
mempertahanka dikunyah jika ada lebih sedikit energy
n berat yang sesak napas berat
tepat. Rujuk kepada ahli gizi
untuk membantu Ahli gizi ialah
memilih makanan yg spesialisasi dlm hal
dapat memenuhi nutrisi yg dpt
kebutuhan nutrisi membantu pasien
selama sakit panas. memilih makanan yg
memenuhi kebutuhan
kalori dan kebutuhan
nutrisi sesuai dgn
keadaan sakitnya, usia,
TB & BB. Kebanyakan
pasien lebih suka
mengkonsumsi
makanan yg merupakan
pilihan sendiri.

7 Ansietas b.d Setelah 1. Jelaskan tujuan


1. Mengorientasikan
nyeri diberikan tarapi pada klien program trapi,
pleuritik, dan asuhan membantu
ketidaktahua keperawatan menyadarkan klien
n. selama 3x24 jam untuk memperoleh
pasien control
diharapkan: Ajarkan tindakan
2. Pengontrolan dipsnea
a. untuk membentu melalui diet seimbang,
Menungkapkan mengontrol dispnea istirahat cukup dan
perasaan aktifitas yang dapat
ansietas ditolerans
b. Ajarkan klien
3. Latihan napas dengan
Memperagakan melakukan latihan spirometri insentif ,
teknik bernapas napas latihan efek paru atau
untuk latihan posterior paru
mengurangi atau latihan area iga
dipsnea lateral bawah
Ajarkan dan evaluasi Memfasilitasi
teknik drainase pengeluaran sekret
postural 5.
Jelaskan bahayanya Mencegah infeksi, baik
infeksi dan cara skunder maupun primer
menurunkan resiko yang mungkin
diakibatkan oleh
gangguan napas
Ajurkan klien untuk Mencegah komplikasi
melaporkan gejala yang tidak terpantau
penting dengan segera atau gejala yang
dianggap normal oleh
klien

Ajarkan atau opserfasi


7. Mencegah
penggunaan nebulizer penggunaan inhaler
atau inhaler dosis melebihi dosis
terukur

8 Intoleransi Setelah 1. Jelaskan aktifitas


aktivitas b.d diberikan dan factor yang dapat
perubahan asuhan meningkatkan
respon keperawatan kebutuhan oksigen
pernapasan selama 3x24 jam
terhadap pasien Ajarkan program
aktivitas. diharapkan: hemat energi
a. Memeragakan Buat jadwal aktifitas
metode batuk, harian, tingkatkan
bernapas, dan secara bertahap
penghematan Ajarkan teknik nafas
energi yang efektif
efektif. Pertahankna terapi
b. oksigen tambahan
Mengidentifikas Kaji respon abnormal
i tingkat aktifitas setelah aktifitas
yang dapat di Beri waktu istirahat
capai atau di yang cukup
pertahankan
secara realistis.
DAFTAR PUSTAKA

Morton, Gallo, Hudak, 2012. Keperawatan Kritis Volume 1 dan 2 Edisi 8. EGC , Jakarta.
Price, Sylvia A. Dkk.2010. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6
Volume 1. EGC, Jakarta
Smeltzer, Suzanna C. 2012. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan Suddarth
Edisi 8 Volume 2. EGC, Jakarta.
T. Heather Herdman. Ph D, RN. Nanda Internasional Diagnosis Keperawatan Definisi dan
Klasifikasi 2012-2014. EGC. Jakarta
Dr. Ikawati, Zullies,Apt. 2011. Farmakoterapi Penyakit Sistem pernfasan. Yogyakarta :
Pustaka Adipura.
Somantri, Irman.2012.Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem
Pernafasan.Jakarta:Salemba Medika.
F. Pathway
te
Invasi streptococcus dan Invasi basil piogenik
pneumococus di paru ke pleura

Peradangan akut diikuti


pembetukan eksudat serous

Sel polimorphonucleus Kadar protein


(PMN)

Cairan keruh dan


kental

Ada endapan Port de entry Resiko Infeksi


fibrin kuman

Membentuk kantung yang


melokalisasi nanah

Menembus Menembus dinding Terputusnya kontinuitis


bronkus toraks dan keluar jaringan kulit
melalui kulit
Fistel Empiema
Bronkopleura nessensiatis

EMPIEMA AKUT EMPIEMA KRONIS

Hipersekret Infeksi bakteri Nafsu makan Penatalaksanaan


meningkat stafilococus menurun yang kurang

dypsnea PK Hipoxemia
Peningkatan MK: Ketidakseimbangan MK: Kurang
produksi pus Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan
MK: Nyeri pleura pengetahuan,
Ronchi Tubuh tentang kondisi,
Peningkatan pengobatan,
pertumbuhan pencegahan
MK: Ketidakefektifan
bersihan jalan nafas
MK: Resiko
terjadinya infeksi