Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MAKALAH

“ARGENTOMETRI”

DISUSUN OLEH

NAMA KELOMPOK

 NALDI EFENDI (160204047)


 ASRON EDWARD SIANIPAR (160204050)
 RENDI FERNIAWAN (160204043)

Kampus II Program Studi Kimia


FAKULTAS MATEMATIKA, ILMU PENGETAHUAN ALAM DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH RIAU
PEKANBARU
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan saya berbagai
macam nikmat, sehingga aktivitas hidup yang saya jalani akan selalu membawa keberkahan, baik
kehidupan di alam dunia ini maupun kehidupan akhirat kelak, sehingga semua cita-cita serta
harapan yang ingin saya capai menjadi lebih mudah dan penuh manfaat.
Terima kasih sebelum dan sesudahnya saya ucapkan kepada dosen serta teman-teman
sekalian yang telah membantu, baik bantuan berupa moril maupun materil, sehingga makalah ini
dapat terselesaikan dalam waktu yang telah ditentukan.
Saya menyadari di dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan serta
banyak kekurangannya baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal yangpengkonsolidasian
kepada dosen serta teman-teman sekalian, untuk itu besar harapan saya jika ada kritik maupun
saran dari dosen maupun teman-teman sekalian yang membangun untuk lebih menyempurnakan
makalah-makalah saya.
Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini ialah mudah-mudahan apa yang
saya susun memberikan manfaat baik untuk pribadi, teman-teman, serta orang lain yang ingin
mengambil atau menyempurnakan lagi atau mengambil hikmah dari judul ini (argentometri)
sebagai tambahan dalam referensi yang telah ada.

Pekanbaru, 10 Januari 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ………………………………………………………………………………
B. Rumusan Masalah ……………………………………………………………………………
C. Tujuan ……………………………………………………………………………………….
D. Manfaat ……………………………………………………………………………………..

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Titrasi Pengendapan …………………………………………………………….
B. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan Dalam Titrasi Pengendapan ………………..
C. Macam-macam Metode Dalam Titrasi Pengendapan (Argentometri) ………………………

1. Metode Mohr
2. Metode Volhard
3. Metode Fajans

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Titrasi pengendapan merupakan titrasi yang melibatkan pembentukan endapan dari
garam yang tidak mudah larut antara titran dan analit.
Hal dasar yang diperlukan dari titrasi jenis ini adalah pencapaian keseimbangan pembentukan
yang cepat setiap kali titran ditambahkan pada analit, tidak adanya interferensi yang menggangu
titrasi, dan titik akhir titrasi yang mudah diamati.
Salah satu jenis titrasi pengendapan yang sudah lama dikenal adalah melibatkan reaksi
pengendapan antara ion halida (Cl-, I-, Br-) dengan ion perak Ag+. Titrasi ini biasanya disebut
sebagai Argentometri yaitu titrasi penentuan analit yang berupa ion halida (pada umumnya)
dengan menggunakan larutan standar perak nitrat (AgNO3). Titrasi argentometri tidak hanya
dapat digunakan untuk menentukan ion halida akan tetapi juga dapat dipakai untuk menentukan
merkaptan (tioalkohol), asam lemak, dan beberapa anion divalent seperti ion fosfat PO43- dan ion
arsenat AsO43-.
Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut antara
titran dengan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi penentuan NaCl dimana
ion Ag+ dari titrat akan bereaksi dengan ion Cl- dari analit membentuk garam yang tidak mudah
larut AgCl.
Ketajaman titik ekiuvalen tergantung dari kelarutan endapan yang terbentuk dari reaksi
antara analit dan titrat. Endapan dengan kelarutan yang kecil akan menghasilkan kurva titrasi
argentometri yang memiliki kecuraman yang tinggi sehingga titik ekuivalen mudah ditentukan,
akan tetapi endapan dengan kelarutan rendah akan menghasilkan kurva titrasi yang landai
sehingga titik ekuivalen agak sulit ditentukan. Hal ini analog dengan kurva titrasi antara asam
kuat dengan basa kuat dan antara asam lemah dengan basa kuat. Untuk lebih jelasnya kita akan
membahas lebih lanjut tentang titrasi pengendapan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan titrasi pengendapan?
2. Jelaskan faktor-faktor yang menpengaruhi kelarutan dalam titrasi pengendapan?
3. Jelaskan macam-macam metode dalam titrasi pengendapan (argentometri)?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan titrasi pengendapan.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan dalam titrasi pengendapan.
3. Untuk mengetahui macam-macam metode dalam titrasi pengendapan.

D. Manfaat
1. Sehingga mempermudah mengetahui apa yang dimaksud dengan titrasi penendapan.
2. Sehingga mempermudah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan dalam titrasi
pengendapan.
3. Sehingga mempermudah mengetahui macam-macam metode dalam titrasi pengendapan.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Titrasi Pengendapan


Titrasi pengendapan atau Argentometri adalah penetapan kadar zat yang didasarkan atas
reaksi pembentukan endapan dari komponen zat uji dengan titran larutan titer perak nitrat.
Pada argentometri, ion perak memegang peranan penting dalam pembentukan endapan,
cara ini dipakai untuk penetapan kadar ion halida, anion yang dapat membentuk endapan garam
perak, atau untuk penetapan kadar perak tersebut.
Reaksi yang menghasilkan endapan dapat digunakan untuk analisis secara titrasi jika
reaksinya berlangsung cepat, dan kuantitatif serta titik akhir dapat dideteksi. Beberapa reaksi
pengendapan berlangsung lambat dan mengalami keadaan lewat jenuh. Tidak seperti gravimetri,
titrasi pengendapan tidak dapat menunggu sampai pengendapan berlangsung sempurna. Hal yang
penting juga adalah hasil kali kelarutan harus cukup kecil sehingga pengendapan bersifat
kuantitatif dalam batas kesalahan eksperimen. Reaksi samping tidak boleh terjadi demikian juga
kopresipitasi. Keterbatasan pemakaian cara ini disebabkan sedikit sekali indikator yang sesuai.
Semua jenis reaksi diklasifikasi berdasarkan tipe indikator yang digunakan untuk melihat titik
akhir.
Berdasarkan jenis indikator dan teknik titrasi yang dipakai, maka titrasi Argentometri
dapat dibedakan atas Argentometri dengan metode Mohr, Volhard, atau Fajans. Selain
menggunakan jenis indikator di atas, maka kita juga dapat menggunakan metode potensiometri
untuk menentukan titik ekivalen.
Indikator K2CrO4 digunakan pada titrasi antara ion halida dan ion perak, dimana kelebiha
ion Ag akan beraksi dengan CrO42- membentuk perak kromat yang berwarna merah bata (cara
+

Mohr) pada titik ekivalen : Ekivalen Ag+ = ekivalen Cl-


Indikator ion Fe3+ dapat digunakan pada titrasi antara ion perak dan ion SCN-, dimana
kelebihan ion SCN- akan bereaksi dengan ion Fe3+ yang memberikan warna merah. Atau dapat
juga digunakan pada titrasi antara ion halida dengan ion perak berlebihan, dan kelebihan ion
perak dititrasi dengan ion tiosianat (cara Volhard).

B. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kelarutan Dalam Titrasi Pengendapan


Faktor-faktor yang mempengaruhi titrasi pengendapan adalah :
1. Temperatur, kelarutan bertambah dengan naiknya temperatur.
2. Sifat pelarut. Garam anorganik lebih larut dalam air, berkurangnya kelarutan di dalam pelarut
organik dapat digunakan sebagai dasar pemisahan dua zat.
3. Efek ion sejenis. Kelarutan endapan dalam air berkurang, jika larutan tersebut mengandung satu
dari ion-ion penyusun endapan.
4. Ion-ion lain. Endapan berrtambah kelarutannya bila dalam larutan terdapat garam-garam yang
berbeda dengan endapan.
5. Pengaruh pH. Larutan garam dari asam lemah tergantung pada pH larutan.
6. Pengaruh hidrolisis. Jika garam dari asam lemah dilarutkan dalam air, akan menghasilkan
perubahan (H+), kation dari spesies garam mengalami hidrolisis sehingga menambah
kelarutannya.
7. Pengaruh kompleks. Kelarutan garam yang sedikit larut merupakan fungsi konsentrasi zat lain
yang membentuk kompleks dengan kation garam tersebut.

C. Macam-macam Metode Dalam Titrasi Pengendapan (Argentometri)


1. Metode Mohr
Titrasi Mohr terbatas untuk larutan dengan nilai pH antara 6 – 10. Dalam larutan yang
lebih basa perak oksida akan mengendap. Dalam larutan asam konsentrasi ion kromat akan
sangat dikurangi, karena HCrO4 hanya terionisasi sedikit sekali. Lagi pula hidrogen kromat
berada dalam kesetimbangan dengan dikromat :
2 H+ + 2 CrO42-  2 HCrO4  Cr2O72- + H2O
Mengecilnya konsentrasi ion kromat akan menyebabkan perlunya menambah ion perak
dengan sangat berlebih untuk mengendapkan perak kromat, dan karenanya menimbulkan galat
yang besar. Pada umumnya garam dikromat cukup dapat larut.
Metode Mohr dapat juga diterapkan untuk titrasi ion bromida dengan perak, dan juga ion
sianida dalam larutan yang sedikit agak basa. Efek adsorpsi menyebabkan titrasi ion iodida dan
tiosianat tidak layak. Perak tak dapat dititrasi langsung dengan ion klorida, dengan menggunakan
indikator kromat. Endapan perak kromat yang telah ada sejak awal, pada titik kesetaraan melarut
kembali dengan lambat. Tetapi, orang dapat menambahkan larutan klorida standar secara
berlebih, dan kemudian menitrasi balik, dengan menggunakan indikator kromat.
Kegunaan metode Mohr yaitu untuk penetapan kadar Klorida atau Bromida. Prinsip
penetapannya larutan klorida atau bromida dalam suasana netral atau agak alkalis dititrasi
dengan larutan perak nitrat menggunakan indikator kromat. Apabila ion klorida atau bromida
telah habis diendapkan oleh ion perak, maka ion kromat akan bereaksi dengan ion perak
membentuk endapan perak kromat yang berwarna coklat merah sebagai titik akhir titrasi.
Larutan standarnya yaitu larutan perak nitrat menggunakan indikator larutan kalium kromat.
Reaksinya:
NaCl + AgNO₃  AgCl(endapan) + NaNO₃
AgNO₃ + KCrO₄  Ag\CrO4(endapan) + KNO₃
Titik akhir titrasi terjadi perubahan warna pada endapan menjadi merah coklat
(Ag2CrO₄). Titrasi harus dilakukan pada suasana netral atau sedikit alkalis karena:
1. Dalam suasana asam endapan AgCrO₄ akan larut karena terbentuk perak dikromat (Ag₂Cr₂O₇).
2. Dalam suasana basa perak nitrat akan bereaksi dengan ion hidroksida membentuk endapan perak
hidroksida.
AgNO₃ + NaOH  AgOH(endapan) + NaNO₃

Gangguan pada titrasi ini antara lain disebabkan oleh:


1. Ion yang akan mengendap lebih dulu dari AgCl, misalnya: F, Br, CNSˉ
2. Ion yang membentuk kompleks dengan Ag⁺, misalnya: CNˉ, NH₃ diatas Ph 7
3. Ion yang membentuk kompleks dengan Clˉ, misalnya: Hg²⁺
4. Kation yang mengendapkan kromat, misalnya: Ba²⁺
Hal yang harus dihindari: cahaya matahari langsung atau sinar neon karena larutan perak
nitrat peka terhadap cahaya (reduksi fotokimia).

2. Metode Volhard
Metode Volhard pertama kali diperkenalkan oleh Jacobus Volhard, ahli kimia dari
Jerman pada tahun 1874. Dengan metode ini, larutan standar AgNO3 berlebih ditambahkan ke
dalam larutan yang mengandung ion halogen (misalnya Cl-). Kelebihan ion Ag+ dalam suasana
asam dititrasi dengan standar garam tiosianat (KSCN atau NH4SCN) menggunakan indikator
larutan Fe3+. Sampai titik ekiuvalen, terjadi reaksi antara titran dan Ag+ membentuk endapan
putih. Kelebihan titran menyebabkan reaksi dengan indikator membentuk senyawa kompleks
tiosianato ferrat (III) yang berwarna merah.
Kegunaannya untuk penetapan kadar perak atau garamnya, penetapan kadar halida (Cl,
Br, I). Prinsip penetapan kadar perak ditetapkan dengan cara titrasi langsung. Larutan standarnya
larutan tiosianat (KCSN atau NH₄CNS). Indikator menggunakan besi (III) amonium sulfat. Titik
akhir titrasinya terbentuk kompleks besi (III) tiosianat Fe(CNS)²⁺ yang larut, berwarna merah.
Reaksinya:
Ag⁺ + NH₄CNS  AgCNS(endapan putih) + NH₄⁺
Jika Ag⁺ sudah habis, maka kelebihan 1 tetes NH₄CNS + Fe³⁺  Fe(CNS)²⁺ + NH₄⁺
Titrasi Ag dengan NH4CNS dengan garam Fe (III) sebagai indikator adalah contoh
metode Volhard, yaitu pembentukan zat berwarna di dalam larutan. Selama titrasi, AgCNS
terbentuk sedangkan titik akhir tercapai bila NH4CNS yang berlebih bereaksi dengan Fe (III)
membentuk warna merah gelap (FeCNS)2+. Jumlah tiosianat yang menghasilkan warna harus
sangat kecil. Jadi kesalahan pada titik akhir harus sangat kecil, dengan cara mengocok larutan
dengan kuat pada titik akhir tercapai, agar Ag yang teradsorpsi pada endapan dapat didesorpsi.
Pada metode Volhard untuk menentukan ion klorida, suasana haruslah asam karena pada suasana
basa Fe3+ akan terhidrolisis. AgNO3 yang ditambahkan berlebih ke larutan klorida tentunya tidak
bereaksi. Larutan Ag tersebut kemudian di titrasi balik dengan menggunakan Fe (III) sebagai
indikator, tetapi cara ini menghasilkan suatu kesalahan karena AgCNS kurang larut
dibandingkan AgCl. Sehingga :
AgCl + CNS-  AgCNS + Cl-
Akibatnya lebih banyak NH4CNS diperlukan sehingga kandungan Cl- seakan-akan lebih
rendah. Kesalahan ini dapat dikurangi dengan mengeluarkan endapan AgCl sebelum titrasi balik
berlangsung atau menambahkan sedikit nitrobenzen, sehingga melindungi AgCl dari reaksi
dengan tiosianat tetapi nitrobenzen akan memperlambat reaksi. Hal ini dapat dihindari jika
Fe(NO3)3 dan sedikit NH4CNS yang diketahui ditambahkan dulu ke larutan bersama-sama HNO3,
kemudian campuran tersebut dititrasi dengan AgNO3 sampai warna merah hilang.

3. Metode Fajans
Titrasi argentometri dengan cara fajans adalah sama seperti pada cara Mohr, hanya
terdapat perbedaan pada jenis indikator yang digunakan. Indikator yang digunakan dalam cara
ini adalah indikator absorbsi seperti cosine atau fluonescein menurut macam anion yang
diendapkan oleh Ag+. Titrannya adalah AgNO3 hingga suspensi violet menjadi merah. pH
tergantung pada macam anion dan indikator yang dipakai. Indikator absorbsi adalah zat yang
dapat diserap oleh permukaan endapan dan menyebabkan timbulnya warna. Pengendapan ini
dapat diatur agar terjadi pada titik ekiuvalen antara lain dengan memilih macam indikator yang
dipakai dan pH. Sebelum titik ekiuvalen tercapai, ion Cl- berada dalam lapisan primer dan
setelah tercapai ekiuvalen maka kelebihan sedikit AgNO3 menyebabkan ion Cl- akan digantikan
oleh Ag+ sehingga ion Cl- akan berada pada lapisan sekunder.

4. Metode Liebig
Pada metode ini titik akhir titrasinya tidak ditentukan dengan indikator, akan tetapi
ditunjukkan dengan terjadinya kekeruhan. Ketika larutan perak nitrat ditambahkan kepada
larutan alkali sianida akan terbentuk endapan putih, tetapi pada penggojokan larut kembali
karena terbentuk kompleks sianida yang stabil. Jika reaksi telah sempurna, penambahan larutan
perak nitrat lebih lanjut akan menghasilkan endapan perak sianida. Titik akhir ditunjukkan oleh
terjadinya kekeruhan yang tetap. Kesukaran dalam memperoleh titik akhir yang jelas disebabkan
karena sangat lambatnya endapan melarut pada saat mendekati ititk akhir.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
1. Titrasi pengendapan atau Argentometri adalah penetapan kadar zat yang didasarkan atas reaksi
pembentukan endapan dari komponen zat uji dengan titran larutan titer perak nitrat.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi titrasi pengendapan adalah : suhu, sifat pelarut, ion sejenis,
aktivitas ion, pH, hidrolisis, hidroksida logam, dan pembentukan senyawa kompleks.
3. Macam-macam metode dalam titrasi larutan pengendapan yaitu :
a. Metode Mohr
Titrasi Mohr terbatas untuk larutan dengan nilai pH antara 6 – 10. Dalam larutan yang lebih
basa perak oksida akan mengendap. Dalam larutan asam konsentrasi ion kromat akan sangat
dikurangi, karena HCrO4 hanya terionisasi sedikit sekali.
Kegunaan metode Mohr yaitu untuk penetapan kadar Klorida atau Bromida. Prinsip
penetapannya larutan klorida atau bromida dalam suasana netral atau agak alkalis dititrasi
dengan larutan perak nitrat menggunakan indikator kromat.
b. Metode Volhard
Metode Volhard pertama kali diperkenalkan oleh Jacobus Volhard, ahli kimia dari Jerman
pada tahun 1874. Dengan metode ini, larutan standar AgNO3 berlebih ditambahkan ke dalam
larutan yang mengandung ion halogen (misalnya Cl-). Kelebihan ion Ag+ dalam suasana asam
dititrasi dengan standar garam tiosianat (KSCN atau NH4SCN) menggunakan indikator larutan
Fe3+.
c. Metode Fajans
Metode ini dipakai untuk penetapan kadar halida dengan menggunakan indikator adsobsi.
Jika AgNO3 ditambahkan ke NaCl yang mengandung zat berpendar fluor, titik akhir ditentukan
dengan berubahnya warna dari kuning menjadi merah jingga. Jika didiamkan, tampak endapan
berwarna, sedangkan larutan tidak berwarna disebabkan adanya adsobsi indikator pada endapan
AgCl. Warna zat yang terbentuk dapat berubah akibat adsorpsi pada permukaan.
DAFTAR PUSTAKA

Harjadi W, (1993), Ilmu Kimia Analitik Dasar, PT Gramedia, Jakarta.


Khopkar, (1990), Konsep Dasar Kimia Analitik, Universitas Indonesia,
Jakarta. Day RA. Jr dan Al Underwood.1992. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Kelima. Jakarta :
Erlangga
A.L.Underwood. 1989. Analisa Kuantitatif Edisi Keempat. Jakarta : Erlangga
DayRA.Jr dan Al Underwood.1992. Analisis Kimia Kuantitatif: Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga