Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tubuh adalah bagian utama dari penampilan fisik yang merupakan cermin
diri dari seseorang. Tubuh dapat dilihat dan sangat mudah dinilai oleh diri
sendiri bahkan orang lain. Menurut Breakey tubuh adalah representasi diri
yang pertama dan paling mudah untuk dilihat. Hal tersebut mendorong
seseorang termasuk remaja untuk memiliki tubuh yang ideal. Pernyataan
Breakey di atas didukung dengan fakta yang menunjukan bahwa remaja
dengan keinginan untuk diakui pada masa pencarian jati diri membutuhkan
hubungan sosial dan dapat diterima dalam hubungan sosial tersebut. Dangan
fakta ini, remaja menjadi sosok yang sangat memperhatikan penampilannya.
Khususnya pada remaja putri, remaja putri lebih kurang puas dengan keadaan
tubuhnya (Muhsin A, 2014).

Wanita pada umumnya memiliki kebutuhan yang relatif lebih besar untuk
selalu tampil cantik dan menarik di hadapan orang lain. Anggapan tersebut
membuat cantik dan menarik dengan tubuh ideal bagi seorang wanita adalah
penting, dan berkurang atau menurunnya kecantikan fisik adalah sesuatu hal
yang tidak diharapkan. Memasuki masa dewasa awal banyak perubahan
terjadi pada tubuh wanita diantaranya jaringan lemak tubuh yang akan terus
bertambah hingga akhir usia 20 tahun, serta kekuatan dan kesehatan otot yang
mulai menunjukkan tanda penurunan sekitar umur 30 tahun. Agar keinginan
tersebut dapat terpenuhi, wanita wajib merawat tubuh dan penampilan fisik
secara keseluruhan karena bentuk tubuh dan berat badan adalah permasalahan
yang paling disorot di masyarakat. Keinginan atau niat untuk melakukan
sebuah proses, cara, dan perbuatan merawat serta pemeliharaan tubuh yang
bertujuan untuk menjaga kecantikan wajah, kulit, dan bentuk tubuh disebut
dengan intensi melakukan perawatan tubuh. (Suseno dan Dewi, 2014).

1
Remaja pada umumnya sedang memasuki tahap gambaran pribadi yang
menunjukkan kepedulian terhadap bentuk tubuh mereka sesuai dengan citra
tubuh “body image” yang diinginkan. Body imageialah perilaku atau tindakan
yang mengarah pada evaluasi penilaian individu tersebut terhadap penampilan
fisiknya, serta pengalaman individu yang berupa persepsi atau pemikiran
terhadap bentuk dan berat tubuh yang dimilikinya.Kepedulian terhadap body
image di kalangan remaja sangat kuat, terlebih pada kelompok remaja awal
yang sedang mengalami masa pubertas daripada kelompok remaja akhir.
Remaja yang memasuki masa pubertas akan mengalami perubahan hormonal
dengan menunjukkan tanda-tanda yang berupa perubahan fisik, kematangan
seksual dan emosi. Hal yang paling mudah terlihat oleh diri remaja itu sendiri
dan orang lain disekitarnya adalah perubahan fisik, karena perubahan fisik
terlihat secara nyata. Remaja perempuan yang mengalami ketidakpuasan
terhadap tubuhnyaternyata lebih banyak jika dibandingkan dengan remaja
laki-laki, sebab lemak tubuh pada perempuan akan mengalami peningkatan
dan membuat tubuhnya semakin jauh dari bentuk tubuh yang ideal pada saat
mulai memasuki masa remaja, sedangkan para remaja laki-laki massa
ototnyameningkat dan cenderung lebih puas dengan tubuhnya Hasil penelitian
yang dilakukan di India pada sebagian remaja menunjukkan adanya 12,5%
remaja laki-laki dan 40,8% remaja perempuan mengalami body image yang
negatif (Wati dan Sumarmi, 2017).

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi

Body Dysmorphic Disorder (BDD) adalah preokupasi mengenai kerusakan


atau kecacatan dalam penampilan fisik dan menyebabkan distress dan
penurunan fungsi sosial. Nilai-nilai sosial dan media massa sangat
mempengaruhi citra tubuh dan pada akhirnya turut mempengaruhi citra diri.
Kebanyakan orang memiliki kekhawatiran yang terkait dengan penampilan;
namun, kekhawatiran ini dianggap patologis ketika mengganggu fungsi sosial
atau pekerjaan. BDD menyebabkan penderitaan atau kerusakan yang
signifikan dalam kesehatan jiwa pasien (Nurlita dan Lisiswanti, 2016).

Penderita gangguan dismorfik tubuh menyakini bahwa defek atau


preokupasi bagian tubuh yang dikeluhkan sangat penting, membutuhkan
perhatian dan perawatan secara intensif untuk menanganinya, sehingga
individu yang mengalami gangguan dismorfik tubuh memonitor
penampilannya, memiliki obsesi dan kompulsi terhadap defek atau preokupasi
bagian tubuh yang dikeluhkannya. Penderita gangguan dismorfik tubuh
mengalami distorsi kognitif, hal tersebut tidak hanya sebagai representasi
simbolis dari konflik psikis tertentu tetapi sebagai sebuah fantasi kebenaran
untuk mewakili pemenuhan keinginan ataupun kebutuhan yang dirasakannya.
Distorsi kognisi merupakan kesulitan berpikir logis sehingga menimbulkan
gangguan pada kapasitas pemahaman. Penderita gangguan dismorfik tubuh
mengalami kesulitan berpikir logis karena terpengaruh oleh pemikiran
subyektivitas dan menyakininya dengan keyakinan yang kuat, meskipun
penanafsiran atau persepsi yang disimpulkan tidak sesuai dengan fakta atau
kondisi empiric.Distorsi memiliki beberapa karakteristik antara lain; self
Critical ,Self Blame,Hopelessness,Helplessness, Preoccupation With Danger
(Lestari, 2017).

3
Body Dysmorphic Disorder cenderung berkembang saat memasuki usia
remaja sekitar 16-17 tahun, dengan onset rata-rata pada usia 15 tahun.Seorang
individu mulai memperhatikan penampilannya pada usia 12 atau 13 tahun, dan
sikapnya yang demikian akan terus berkembang untuk menentukan kriteria
diagnostik. Beberapa individu memungkinkan mengalami onset mendadak
dari BDD.Kondisi dapat juga terjadi pada orang dewasa yang lebih tua yang
terlalu peduli dengan penampilan penuaan mereka.Berlangsungnya BDD
biasanya berlangsung secara terus menerus.Kelainan ini sedikit lebih banyak
dialami oleh perempuan (2,4%) dibandingkan laki-laki (2,2%) dari jumlah
pasien dewasa di Amerika Serikat (Nurlita dan Lisiswanti, 2016).

2.2 Epidemiologi

BDD (body dismorfik disorder) mempengaruhi 2,4% dari populasi umum


dan dilaporkan mempengaruhi sebanyak 7-15% dari mereka yang menjalani
operasi guna kepentingan kosmetik. Prevalensi BDD tampaknya secara
signifikan lebih tinggi diantara orang yang menerima perawatan dermatology
yaitu setinggi 11,9% dalam suatu study. Orang dengan BDD yang memilih
untuk menjalani operasi plastik pada umumnya senang dengan hasil operasi
kemudian mengalami permasalahan dengan bagian tubuh lainnya. Mereka
sering dihantui oleh pikiran tentang pasca operasi. (Veale D. Neziroglu F,
2010)

2.3 Etiologi

Hingga saat ini penyebab pasti BDD masih belum ditemukan, namun
penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada sejumlah faktor resiko pada orang
yang mengalami BDD.

a. Intimidasi
Intimidasi yang terjadi pada saat masa kanak kanak atau saat remaja
tentang penampilan dapat menyebabkan BDD. Hal ini dikarenakan dengan
adanya intimidasi maka seseorang akan lebih memperhatikan

4
penampilannya dan akan berusaha mengubahnya agar dapat diterima oleh
masyarakat atau kelompok yang mengintimidasinya.
b. Kepercayaan diri yang rendah
Dengan adanya kepercayaan diri yang rendah maka penderita BDD akan
terpaku pada salah satu aspek tubuh yang akan ditonjolkan agar dapat
memunculkan kepercayaan diri pada penderitanya.
c. Takut sendiri atau terisolasi
Kekhawatiran akan kesendirian menjadi salah satu penyebab BDD. Rasa
khawatir yang berlebihan akan kehilangan teman yang disenangi membuat
penderita BB mengembangkan pola piker yang dapat menyebabkan BDD.
Pasien percaya bahwa perlu melihat cara tertentu untuk mempertahankan
teman atau menemukan pasangan.
d. Perfeksionis atau bersaing dengan orang lain
Penderita BDD mencoba tampil secara fisik “sempurna” atau secara
teratur membandingkannya dengan penampilan orang lain.
e. Genetika
Beberapa bukti menunjukkan bahwa BDD lebih sering terjadi pada orang-
orang yang anggota keluarga juga memiliki BDD.
f. Depresi atau kecemasan
Orang dengan gangguan kecemasan mental lainnya, khususnya depresi
dan kecemasan juga cenderung memiliki BDD. (Challis, 2013).

2.4 Patofisiologi

Mekanisme penyebab body dysmorphic disorder (BDD) masih sedikit


yang diketahui. Terdapat bukti yang menyebutkan adanya hubungan dengan
keluarga yang tinggal satu rumah dan hubungan genetic dari penderita yang
obsessive – compulsive disorder (castle et al., 2006).

Beberapa studi lainnya telah meneliti peran kausal untuk gangguan dalam
transmisi serotonergic. Hal ini didasarkan pada bukti yang menggambarkan
efektivitas SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) dalam pengobatan
BDD (Castle et al., 2006). Dan penelitian dari Grant dan Phillips (2005),
pemberian escitalopram dengan dosis 30 mg / hari pada pasien BDD
menunjukkan perbaikan gejala, kemudian setelah pemberian obat tersebut
dihentikan, gejala dari BDD muncul kembali. Dengan ini menunjukkan bahwa

5
terjadi disregulasi serotonin terkait dengan munculnya BDD (Grant dan
Phillips, 2005). Sebuah studi menunjukkan bahwa SSRI mengurangi gejala
halusinasi, dan bahwa halusinasi tersebut kembali setelah pemberian dosis
SSRI dikurangi. System visual otak dimodulasi oleh serotonin dan terjadinya
suatu deficit sehingga menyebabkan halusinasi visual dan somatic (Yaryura et
al., 2013).

2.5 Gejala Klinis

Manifestasi atau gejala yang muncul tergantung dari persepsi tiap


penderita Body Dysmorphic Disorder (BDD). Penderita BDD beranggapan
bahwa mereka dapat mengubah atau memperbaiki beberapa aspek dari
penampilan fisik mereka meskipun pada umumnya mungkin telah
bernampilan normal atau bahkan sangat menarik. Penderita BDD
menyebabkan mereka percaya bahwa mereka tidak dapat berinteraksi dengan
orang lain krena takut ejekan dan hinaan tentang penampilan mereka. Hal ini
yang dapat menyebabkan orang dengan gangguan ini untuk mulai
mengasingkan diri atau mengalami kesulitan dalam situasi social. Mereka bisa
menjadi introvert dan enggan untuk mencari bantuan karena mereka takut
bahwa mencari bantuan akan memaksa mereka untuk menghadapi
ketidakamanan dan ketidaknyamanan diri mereka. Penderita BDD percaya
bahwa memperbaiki cacat merupakan satu – satunya tujuan hidup mereka
(Phillips, 2005 dan veale, 2010).

Bentuk-bentuk perilaku yang mengindikasikan Body Dysmorphic


Disorder (BDD) (menurut Phillips, 2005 ; Castle et al., 2006 ; Veale 2010)
adalah sebagai berikut :

a. Pikiran obsesif tentang cacat penampilan yang dirasakan

6
b. Perilaku obsesif dan kompulsif terkait dengan cacat penampilan yang
dirasakan

c. Gejala gangguan depresi mayor

d. Delusi pikiran dan keyakinan terkait dengan cacat penampilan yang


dirasakan.

e. Penarikan social dan keluarga, fobia social, kesepian dan isolasi social

f. Keinginan bunuh diri

g. Kecemasan, mungkin serangan panic

h. Perasaan malu yang kuat

i. Kepribadian avoidant : ketergantungan pada orang lain, seperti teman,


pasangan ataupun keluarga

j. Ketidakmampuan untuk bekerja atau ketidakmampuan untuk fokus karena


keasyikan dengan penampilan

k. Perfeksionisme (menjalani operasi kosmetik dan berperilaku seperti


menggunakan pelembab yang berlebihan)

l. Mempunyai sikap obsesi terhadap selebritis atau model yang


mempengaruhi idealitas penampilan fisiknya

Catatan : setiap jenis modifikasi tubuh dapat mengubah penampilan


seseorang. Ada banyak jenis modifikasi tubuh yang tidak termasuk operasi /
bedah kosmetik. Modifikasi tubuh (perilaku) mungkin akan tampak
kompulsif, berulang, atau terfokus pada satu atau lebih pada area yang
dipandang individu sebagai cacat (Veale, 2010)..

2.6 Diferensial Diagnosis

7
Diagnosis Banding Gangguan Dismorfik Tubuh

1. Hipokondriasis (Hadisukanto G, 2010)

Hipokondriasis didefinisikan sebagai orang yang berpreokupasi


dengan ketakutan atau keyakinan menderita penyakit yang serius. Pasien
dengan hipokondriasis memiliki interpretasi yang tidak realistis maupun
akurat tentang gejala atau sensasi fisik, meskipun tidak ditemukan
penyebab medis. Preokupasi pasien menimbulkan penderitaan bagi dirinya
dan mengganggu kemampuannya untuk berfungsi secara baik dibidang
sosial, interpersonal maupun pekerjaan.

Epidemiologi , prevalensi hipokondriasis 4-6% dari populasi


pasien medic umum, dan kemungkinan tertinggi adalah 15%. Awitan dari
gejala dapat terjadi pada segala usia, namun yang tersering adalah usia 20-
30 tahun.

Etiologi hipokondriasis disebabkan pasien memiliki skema kognitif


yang salah.Pasien menginterpretasikan sensasi fisik yang mereka rasakan
secara berlebihan

Gambaran klinis. Pasien hipokondriasis yakin bahwa mereka


menderita penyakit serius yang belum bisa didetaksi, dan mereka sulit
diyakinkan yang sebaliknya. Mereka mempertahankan keyakinan bahwa
dirinya mengidap suatu penyakit, dan dengan berjalannya waktu
keyakinanya beraslih ke penyakit lain. Keyakinannya bertahan meskipun
hasil laboratorium negative. Jinaknya perjalanan penyakit yang dicurigai,
dan penentraman dari dokter. Meskipun demikian peyakinan tersebut tidak
sampai bertaraf waham. Hipokondriasis seringkali disertai dengan gejala
depresi, atau berkomerbid dengan gangguan depresi atau gangguan cemas.

2. Gangguan Obsesif Kompulsif

8
Gangguan kepribadian obsesif kompulsif adalah adanya preokupasi
pada keteraturan, kesempurnaan, serta kontrol mental dan interpersonal.
Kepribadian obsesif konpulsif adalah seorang yang perfeksionis, terfokus
berlebih pada detail, aturan, jadwal dan sejenisnya. Obsesi adalah pikiran,
impuls dan ide yang mengganggu dan berulang yang muncul dengan
sendirinya dan tidak dapat dikendalikan, sedangkan kompulsi adalah
perilaku atau tindakan mental repetitif dimana seseorang merasa didorong
untuk melakukannya dengan tujuan untuk mengurangi ketegangan yang
dihasilkan pikiran-pikiran obsesif atau untuk mencegah terjadinya suatu
bencana.
Epidemiologi prevalensi Gangguan Obsesif Kompulsif berkisar
antara 2-3% populasi, pada remaja lebih banyak terjadi pada laki laki.
Penyebabnya adalah multifaktorial meliputi faktor biologi, faktor perilaku
dan faktor psikososial.
Etiologi dari gangguan obsesif kompulsif :
1. Genetik (keturunan). Mereka yang mempunyai anggota keluarga yang
mempunyai sejarah penyakit ini kemungkinan beresiko mengalami OCD
(Obsesif Compulsive Disorder).
2. Organik, masalah organik seperti terjadi masalah neurologi dibagian -
bagian tertentu pada otak juga merupakan satu faktor bagi OCD.
3. Kepribadian. Mereka yang mempunyai kepribadian obsesif lebih
cenderung mendapat gangguan OCD. Ciri-ciri mereka yang memiliki
kepribadian ini ialah seperti terlalu mementingkan aspek kebersihan,
seseorang yang terlalu patuh pada peraturan.
4. Pengalaman masa lalu.
5. Gangguan obsesif-kompulsif erat kaitan dengan depresi atau riwayat
kecemasan sebelumnya.
6. Konflik, Mereka yang mengalami gangguan ini biasanya menghadapi
konflik jiwa yang berasal dari masalah hidup. Contohnya hubungan
antara suami-istri, di tempat kerja, keyakinan diri.

9
Gejala obsesi yang paling banyak terjadi berkaitan dengan pola
gejala kontaminasi, keraguan patologis, pikiran mengganggu dan simetri.
Kekhawatiran tersebut sukar dihindari karena terjadi pada hampir segala
aktivitas sehari-hari. 1,2. Gejala utama yang ditunjukkan adalah adanya
pikiran obsesif dan tindakan kompulsif yang bersifat egodistonik.3 Secara
klinis aktivitas kompulsi tidak berhubungan secara realistis dengan tujuan
yang ada atau jelas berlebihan seperti mengupayakan kesempurnaan
dengan melakukannya berulang-ulang dan memakan waktu (Puspitosari,
2012).

2.7 Diagnosis

Kriteria diagnosis DMS-IV untuk gangguan dismorfik tubuh


mengharuskan suatu preokupasi dengan kecacatan dalam penampilan yang
tidak nyata (dikhayakan) atau penekanan yang berlebihan (overemphasis)
terhadap kecatatan ringan. Preokupasi menyebabkan penderitaan emosional
bermakna pada pasien atau jelas mengganggu kemampuan pasien untuk
berfungsi dalam bidang yang penting.( Kaplan H.I,2010)

A. Preokupasi mengenai defek khayalan terhadap penampilan jika terdapat


sedikit anomali fisik, kepedulian orang tersbut sangat berlebihan

B. Preokupasi ini menimbulkan penderitaan yang secara klinis bermakna atau


hendaya dalam fungsi sosial, pekerjaan dan area fungsi penting lain

C. Preokupasi ini tidak lebih mungkin disebabkan oleh gangguan jiwa lain
(contoh : ketidakpuasan akan bentuk tubuh dan ukuran pada anoreksia
nervosa)

Kriteria diagnostik (DSM-5) Spesifik DSM-5 kriteria untuk Body Dismorfik


Disorder adalah sebagai berikut (American Psychiatric Association, 2013) :

A. Preokupasi pada satu atau lebih bagian tubuh yang mengalami kekurangan
atau kecacatan yang tidak terlihat atau terlihat normal bagi orang lain

10
B. Dalam suatu waktu pada saat terjadinya penyakit, seseorang berperilaku
berulang (berkaca, berdandan berlebihan, mengorek kulit) atau perilaku
mental (membandingkan penampilan dengan orang lain) sebagai
tanggapan terhadap kekhawatiran terhadap penampilan.

C. Preokupasi ini menyebabkan gangguan yang secara klinis bermakna dan


hendaya dalam fungsi sosial, perkerjaan dan area fungsi penting lain.

D. Preokupasi ini tidak diakibatkan oleh kekhawatiran akan lemak tubuh atau
berat badan pada individu dengan gangguan makan

2.8 Hubungan Body Dismorfik Disorder dengan Psikiatri Lain

Pada BDD biasanya memiliki obsesi yang menyebabkan kecemasan yang


signifikan dan mungkin juga mengembangkan menjadi penyakit kompulsif.
BDD berhubungan erat dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) salah satu
studi menemukan bahwa 24% individu dengan BDD juga menderita gangguan
obsesif-konvulsif. Kelainan BDD sama dengan gangguan Obsesif-kompulsif
(OCD), dan gangguan makan ,namun juga bisa muncul degan sendirinya. Jika
pada gangguan makan maka akan sibuk dengan berat badan dan bentuk badan
keseluruha, pada BDD hanya sibuk pada beberapa bagian tubuh saja yang
diangap mereka menjadi suatu kecacatan, dengan gangguan obsesif-konfulsif
akan timbul pikiran, ketakutan, dan kecemasan yang tidak dapat dikendalikan
yaitu kecemasan yang dihasilkan dari pikiran diri sendiri.

Ada beberapa tanda-tanda umum obsesif kekhawatiran tentang tubuh,


pada BDD akan sering menghabiskan waktu beberapa jam sehari untuk
berfikiran negatif tentang penampilan, seperti kekhawatiran tentang satu
daerah tertentu dari tubuh ataupun beberapa bagian tubuh. Area kecemasan
yang umum termasuk :

1. Fiture wajah, seperti hidung, mata, rambut, dagu, kulit, bibir

2. Area tertentu ditubuh, seperti payudara, alat kelamin

11
3. Merasa tubuh tidak seimbang atau kurang simetris

4. Merasa bahwa salah satu fitur tubuh tidak proporsional dengan bentuk
tubuh yang lain

Pada BDD beberapa ada yang mengalami masalah makan tetapi tidak
semua orang dengan masalah makan memiliki BDD. Perilaku kompulsif yang
umum, perilaku kompulsif untuk menangani kecemasan yang dirasakan
tentang penampilan. Perilaku kompulsif yang umum meliputi :

1. Menggunakan make-up berat saat didepant umum

2. Menata rambut secara kompulsif

3. Obsesif memeriksa penampilan di cermin atau bahkan menghindarinya


sama sekali

4. Mengubah postur tubuh dengan menggunakan pakain tertentu untuk


menyamarkan bentuk tubuh

5. Selalu membandingkan diri dengan model ataupun orang lain

6. Melakukan operasi plastic atau melakukan perawatan medis lain untuk


mengubah bentuk tubuh yang menjadi perhatiannya (Gray SW & Zide
MR, 2015).

2.9 Tata Laksana

1.Cognitive behavior therapy (CBT) / Terapi perilaku Kognitif

Terapi perilaku kognitif merupakan bentuk terapi yang bertujuan untuk


megidentifikasi hubungan antara pikiran, perasaan dan perilaku. Bisa
dilakukan dengan satu pasien satu terapis, atau bisa dilakukan dalam
kelompok. Untuk gangguan BDD, CBT akan fokus pada sikap umum
terhadap citra tubuh dan penampilan fisik kekhawatiran tentang penampilan,
membantu mengurangi kecemasan tentang tubuh secara bertahap, dan
membantu menghadapi obsesi contohnya (Nurlita D, 2016) :

12
1. Menghadapi situasi dimana biasanya pada gangguan BDD berfikiran
secara obsesif bagian dari penampilan yang menyangkut untuk
mengatasi lebih baik situasi dari waktu ke waktu.

2. Membantu menghindari perilaku kompulsif seperti bercermin setiap saat.

Teknik CBT ini perlu diatasi dengan hati-hati agar tidak menimbulkan
tambahan kecemasan dan kesusahan, jadi sangat penting untuk
memahami teknik pengobatan ini dan merasa nyaman dengan terapis.

2. Farmakoterapi

Jika CBT tidak berhasil dalam perawatan BDD, dapat diberikan obat anti
depresan. Tujuan dari terapi farmakologi adalah untuk mengurangi gejala,
morbiditas dan mencegah komplkasi. Biasanya yang digunakan adalah
golongan serotonin specific reuptake inhibitor (SSRI) seperti fluoxetin
(Prozac), fluvoxamine (faverin), paroxetine (seroxat), escitalopram
(cipralex), dan sertaline (lustral), apabila golongan SSRI tidak efektif
maka langkah selanjutnya adalah mencoba obat anti depresan yang lain
antidepresan trisiklik, benzodiazepine, neuroleptik.

3. Kesehatan mental dan perawatan sosial masyarakat

Jika perawatan awal tidak membantu,maka mungkin dapat dirujuk ke


komunitas tim kesehatan mental yang mana akan lebih teliti dalam melihat
kebutuhan kesehatan dan perawatan sosial potensial (Challis S, 2013).

2.10 Prognosis

Tahap awal untuk mengobati pasien dengan BDD yaitu dengan terapi
non-farmakologis dengan cara menginterfensi psikologi pasien. Terapi yang
dikenal dalam menangani pasien tersebut yaitu dengan pendekatan
Cognitive-Behavioral Therapy (CBT). Penelitian yang ada menunjukkan
bahwa terapi kognitif-perilaku (CBT) mungkin berpengaruh untuk BDD
(Nurlita & Lisiswanti, 2016).

13
Salah satu tantangan ketika merawat pasien dengan CBT adalah bahwa
banyak dari mereka yang kurang termotivasi untuk pengobatan, karena
wawasan yangburuk (misalnya, tidak menerima bahwa mereka memiliki
penyakit jiwa diobati atau percaya bahwa mereka perlu perawatan kosmetik
daripada pengobatan kesehatan mental) (Nurlita & Lisiswanti, 2016).

Jadi tatalaksana yang paling tepat untuk BDD adalah terapi dengan
pendekatan cognitive-behavioral teraphy sehingga pasien memiliki motivasi
untuk sembuh dari gangguan tersebut. Sehingga tatalaksana ini penting untuk
kesembuhan pasien dari gangguannya. Prognosis pada gangguan ini sangat
bergantung pada psikoterapi pasien, jika psikoterapi berjalan baik dan lancar
maka prognosis akan membaik tapi jika psikoterapi gagal maka prognosisnya
akan buruk (Nurlita & Lisiswanti, 2016).

14
BAB III

KESIMPULAN

1. Body Dysmorphic Disorder (BDD) adalah preokupasi mengenai kerusakan


atau kecacatan dalam penampilan fisik dan menyebabkan distress dan
penurunan fungsi sosial. Penderita gangguan dismorfik tubuh menyakini
bahwa defek atau preokupasi bagian tubuh yang dikeluhkan sangat
penting, membutuhkan perhatian dan perawatan secara intensif untuk
menanganinya.

2. Manifestasi klinis dari penderita BDD beranggapan bahwa mereka dapat


mengubah atau memperbaiki beberapa aspek dari penampilan fisik mereka
meskipun pada umumnya mungkin telah bernampilan normal atau bahkan
sangat menarik. Penderita BDD percaya bahwa memperbaiki cacat
merupakan satu – satunya tujuan hidup mereka.

3. Tatalaksana dari body dismorfik disorder diantaranya, Cognitive behavior


therapy (CBT) / Terapi perilaku Kognitif. CBT akan fokus pada sikap
umum terhadap citra tubuh dan penampilan fisik kekhawatiran tentang
penampilan, membantu mengurangi kecemasan tentang tubuh secara
bertahap, dan membantu menghadapi obsesi. Jika CBT tidak berhasil
dalam perawatan BDD, dapat diberikan obat anti depresan. golongan
serotonin specific reuptake inhibitor (SSRI) seperti fluoxetin (Prozac),
fluvoxamine (faverin), paroxetine (seroxat), escitalopram (cipralex), dan
sertaline (lustral), antidepresan trisiklik, benzodiazepine, neuroleptik.

4. Prognosis pada gangguan ini sangat bergantung pada psikoterapi pasien,


jika psikoterapi berjalan baik dan lancar maka prognosis akan membaik.

15
DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Association. Obsessive-Compulsive and Related


Disorders. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth
Edition. 5th ed. Arlington, Va: American Psychiatric Association; 2013.

Castle, D. J.,Rossell S., Kyrios M. 2006. Body Dysmorphic Disorder. Psychiatr


Clin N Am 29 (2006), 52 –538

Challis S, Understanding Body Dysmophic Disorder, National Association for


Mental Health, London; 2013

Grant, J. E., Phillips, K. A. 2006. Recognizing and Treating Body Dysmorphic


Disorder. Ann Clin Psychiatry. 2005; 17(4): 205-210

Gray SW, Zide MR. Empowerment Series Psycopathology: A Competency-


based Assessment model for social workers, USA: Cengage Learning;
2015

Hadisukanto G. Ganngguan Somatoform. Dalam: Elvira SD, Hadisukanto G,


penyunting. Buku ajar psikiatri. Jakarta: Badan penerbit FKUI, 2010.
Hal. 265-79.

Lestari S. 2017. Karakteristik distorsi kognisi pada remaja putri penderita


gangguan dismorfik tubuh. Universitas Airlangga.

Muhsin A. 2014. Studi Kasus Ketidakpuasan Remaja Putri Terhadap Keadaan


Tubuhnya (Body Image Negative Pada Remaja Putri).

Nurlita Dessy, Lisiswanti Rika. 2016. Body Dysmorphic Disorder. Journal :


Majority Volume 5 No. 5.

Phillips KA, Diaz SF. Gender differences in body dysmorphic disorder. J Nerv
Ment Dis. 2005 Sep. 185(9):570-7.

Puspitosari. W. A., 2012, Cognitive and Behavior Therapy for Compulsive


Obsessive Disorder, Mutiara Medika, Vol. 9 No. 2:73-79

Suseno AO., Dewi KS. 2014. Relationship Between Body Dissatisfaction With
Intentions Of Body Treatments In Early Adult Women Faculty of
Psychology, Diponegoro University.

16
Tandy. E., Sukamto. M. E., 2013, Hypnotherapy to Reduce Body Dysmorphic
Disorder in an Adolescent Girl. Anima Indonesian Psychological
Journal, Vol. 28, No. 4, 210-218

Vashi NA. Beauty and Body Dysmorphic Disorder; A Clinician’s Guide. New
York: Springer, 2010.

Veale D, Neziroglu F. Body Dysmorphic Disorder: A Treatment Manual.


United Kingdom: Willey-Blackwell; 2010

Veale, D. 2010. Cognitive-behavioral Therapy for Body Dysmorphic Disorder.


Advances in Psychiatric Treathment. 2010. Vol. 7, pp. 125-132

Wati KD., Sumarmi S. 2017. Citra Tubuh Pada Remaja Perempuan Gemuk dan
Tidak Gemuk. 399

Yaryura, JA, Tobias JA, Neziroglu F, Torres M, Gallegos M. 2013.


Neuroanatomical Correlates and Somatosensorial Disturbances in Body
Dysmorphic Disorder. CNS Spectr. 2013;7(6):432-434.

17