Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Kekeringan


Berdasarakan Undang Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan bencana mendefinisikan kekeringan sebagai ketersediaan air yang
jauh dibawah kebutuhan air untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi
dan lingkungan. Adapun yang dimaksud kekeringan di bidang pertanian adalah
kekeringan yang terjadi di lahan pertanian yang ada tanaman (padi, jagung, kedelai,
dan lain-lain) yang sedang dibudidayakan (Adiningsih, 2014 dalam Lilis 2017).

Kekeringan sebenarnya adalah berkurangnya air untuk tujuan tertentu.


Kekeringan didefinisikan sebagai sebagai suatu periode tertentu yang curah
hujannya kurang dari jumlah tertentu, definisi kekeringan juga tiga faktor yang
mempengaruhi kekeringan yaitu hujan, jenis tanaman yang diusahakan dan faktor
tanah (Wisnubroto dan Soekandarmodjo, 1999 dalam Lilis, 2017).

Faktor-faktor yang mempengaruhi kekeringan antara lain:

a. Hujan
Tipe hujan di suatu daerah menentukan kemungkinan ada tidaknya
kekeringan di daerah itu, hujan dengan curah hujan yang cukup dan terbagi merata
tidak akan dirasakan sebagai penyebab kekeringan. Kekeringan dapat terjadi kalau
hujan banyak terjadi tidak merata atau menyimpang dari normal.
b. Jenis tanaman
Jenis tanaman khususnya tanaman pangan mempunyai jumla kebutuhan air
yang diperlukan sendiri-sendiri, baik jumlah keseluruhan maupun jumlah
kebutuhan air dalam setiap tingkat pertumbuhannya. Tanaman akan mengalami
kekeringan jika jenis tanaman yang ditanam mempunyai jumlah kebutuhan air
setiap tingkat pertumbuhan tidak sesuai dengan pola agihan hujan yang ada.
c. Tanah
Tanah adalah material gembur yang menyelimuti permukaan bumi
yang mampu menjadi media tumbuh tanaman berakar pada kondisi lingkungan

3
alami. Tanah sangat menentukan kemungkinan terjadinya kekurangan air yang
mengakibatkan besar kecilnya kekeringan. Perbedaan fisik tanah akan menentukan
cepat lambatnya atau besar kecilnya kemungkinan terjadinya kekeringan.
Parameter yang mendominasi pada tanah yaitu jenis tanah serta solum tanah. Usaha
12 untuk memperbesar kemampuan tanah dalam menyimpan air yaitu dengan
memperbaiki sifat fisik tanah (Widiyartanto, 2004 dalam Lilis 2017)
2.2. Dampak Kekeringan Lahan
Terdapat beberapa tipe kekeringan yang penyebabnya sesuai dengan tipe
bencana tersebut, kekeringan meteorologis merupakan kekeringan yang
berhubungan dengan kurangnya curah hujan yang terjadi berada di bawah kondisi
normal dalam suatu musim. Kekeringan hidrologis merupakan kekeringan akibat
kurangnya pasokan air permukaan dan air tanah, sedangkan kekeringan pertanian
berhubungan dengan kekurangan kandungan air didalam tanah sehingga tidak
mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada periode waktu tertentu
sehingga dapat mengurangi biomassa dan jumlah tanaman.

Kekeringan akan berdampak pada kesehatan manusia, tanaman serta hewan.


Kekeringan menyebabkan pepohonan akan mati dan tanah menjadi gundul yang
pada musim hujan menjadi mudah tererosi dan banjir. Dampak dari bahaya
kekeringan mengakibatkan bencana berupa hilangnya bahan pangan akibat
tanaman pangan dan ternak mati, petani kehilangan mata pencaharian, banyak
orang kelaparan dan mati, sehingga berdampak terjadinya urbanisasi (Widiyartanto,
2004 dalam Lilis 2017)

2.3. Kriteria dan Penentuan Skoring untuk Daerah Rawan Kekeringan


Pada dasarnya dalam menentukan daerah rawan kekeringan dapat ditentukan
dengan berbagai macam meotde. Setiap Daerah dapat berbeda beda menggunakan
parameter dalam menentukan tingkat rawan kekeringan, karena tidak ada aturan
baku dalam penentuannya. Dalam penelitian ini penulis untuk menentukan daerah
rawan kekeringan digunakan satuan medan sebagai satuan analisis. Tumpang susun
(Overlay) tersusun didasari antara lain:
a. Peta Curah Hujan

4
b. Peta Jenis Tanah
c. Peta Kelerengan
d. Peta Penggunaan Lahan
e. Peta Kelembaman Udara
Klasifikasi rawan kekeringan menggunakan (Scoring) variable medan yang
berpengaruh terhadap tingkat kerawanan kekeringan tersebut.
Berikut adalah kriteria yang diperlukan dalam Identifikasi Bencana Rawan
Kekeringan berdasarkan BNPB Kalimantan Selatan, yakni dapat dilihat dari
parameter-parameter yang digunakan sebagai berikut:
Parameter skoring tingkat kerawanan kekeringan:

Tabel 2.1 Kriteria Curah Hujan

No Intensitas Curah Hujan (mm/tahun) Skor


1 >3500 10
2 3000 – 3500 20
3 2500 – 3000 30
4 2000 – 2500 40
5 1500 – 2000 50
6 1000 – 1500 60
7 <1000 70
(Sumber: BNPB Kalimantan Selatan)

Tabel 2.2 Kriteria Jenis Tanah

No Jenis Tanah Skor


t1 Podsolik Merah Kuning LatoLito 10
t2 Latasol 20
t3 Podsolik Merah Kuning dan Laterik 30
t4 Alluvial, Organosol Glei Humus 40
(Sumber: BNPB Kalimantan Selatan)

Tabel 2.3 Kriteria Kelerengan

5
No Kemiringan (%) Skor
1 0-2% 10
2 2-7% 20
3 7-14% 30
4 14-21% 40
5 >21% 50
(Sumber: BNPB Kalimantan Selatan)

Tabel 2.4 Penggunaan Lahan

No Jenis Lahan Skor


p1 Sungai, danau, waduk, rawa, tambak 10
p2 Hutan lahan, Hutan Tanaman, Hutan Rawa, Hutan 20
Mangrove
p3 Kebun Campuran, Perkebunan 30
p4 Pemukiman, Sawah, Pertanian Lahan Kering 40
p5 Lahan Terbuka, Pertambangan 50
(Sumber: BNPB Kalimantan Selatan)

Tabel 2.5 Kelembaman Udara

No Nilai Kelembaman (%) Skor


1 88 – 95 % 10
2 82 – 88 % 30
3 76 – 82 % 50
(Sumber: BMKG)

Untuk menetukan interval kelas dalam analisis tingkat kekeringan suatu


daerah dapat digunakan rumus sebagai berikut:
∑𝑡 − ∑𝑟
𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑣𝑎𝑙 𝐾𝑒𝑙𝑎𝑠 =
𝑛

Dimana:

∑t = jumlah skor tertinggi

6
∑r = jumlah skor terendah

n = jumlah kelas

berdasarkan besarnya pengaruh variable tersebut terhadap proses bencana


kekeringan. Tingkat kerawanan kekeringan dibedakan menjadi tiga kelas yaitu:
1. Tidak berpotensi rawan kekeringan
2. Berpotensi rawan kekeringan
3. Sangat berpotensi rawan kekeringan

Dari kriteria-kriteria beserta kelas tingkat kerawanan di atas, maka dapat


interval kelasnya sebagai berikut:
260−50
Interval kelas = = 70
3

Maka dengan interval kelas tersebut kelas kerawanan dapat dibagi sebagai
berikut:
 50 – 120 Daerah tidak berpotensi rawan kekeringan
 121 – 191 Daerah berpotensi rawan kekeringan
 192 – 262 Daerah sangat berpotensi rawan kekeringan
2.4. Pengertian Peta
Peta adalah gambaran sebagian atau seluruh muka bumi baik yang terletak di
atas maupun di bawah permukaan dan disajikan pada bidang datar pada skala dan
proyeksi tertentu (secara matematis). Karena dibatasi oleh skala dan proyeksi maka
peta tidak akan pernah selengkap dan sedetail aslinya (bumi), karena itu diperlukan
penyederhanaan dan pemilihan unsur yang akan ditampilkan pada peta. ( Modul
Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar, 2007 )

Namun menurut para ahli tentang peta adalah sebagai berikut :


1. ICA (International Carthographic Assotiation) : Peta
adalah gambaran ataurepresentasi unsur-unsur ketampakan abstrak
yang dipilih dari permukaan bumi yangada kaitannya dengan
permukaan bumi atau benda-benda angkasa, yang padaumumnya
digambarkan pada suatu bidang datar dan diperkecil/diskalakan.

7
2. Ariyono Prihandito (1988) : Peta merupakan gambaran permukaan
bumi denganskala tertentu, digambar pada bidang datar melalui
sistem proyeksi tertentu.

3. Erwin Raisz (1948) : Peta adalah gambaran konvensional dari


ketampakan muka bumi yang diperkecil seperti ketampakannya
kalau dilihat vertikal dari atas, dibuat pada bidang datar dan
ditambah tulisan-tulisan sebagai penjelas.

4. Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional (BaKoSurTaNal)


: Peta merupakan wahana bagi penyimpanan dan penyajian data
kondisi lingkungan, merupakan sumber informasi bagi para
perencana dan pengambilan keputusan pada tahapan dan tingkatan
pembangunan.

2.5. SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS


Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS) yang
selanjutnya akan disebut SIG merupakan sistem informasi berbasis komputer yang
digunakan untuk mengolah dan menyimpan data atau informasi geografis (Aronoff,
1989).

Secara umum pengertian SIG sebagai berikut:

” Suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data
geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk
memasukan, menyimpan,memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi,
mengintegrasikan, menganalisa dan menampilkan data dalam suatu informasi
berbasis geografis ”.

SIG akan selalu diasosiasikan dengan sistem yang berbasis komputer,


walaupun pada dasarnya SIG dapat dikerjakan secara manual, SIG yang berbasis
komputer akan sangat membantu ketika data geografis merupakan data yang besar
(dalam jumlah dan ukuran) dan terdiri dari banyak tema yang saling berkaitan.

8
SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada
suatu titik tertentu di bumi,menggabungkan-nya, menganalisa dan akhirnya
memetakan hasilnya. Data yang akan diolah pada SIG merupakan data spasial yaitu
sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasiyang memiliki sistem
koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Sehingga aplikasi SIG dapat
menjawab beberapa pertanyaan seperti; lokasi, kondisi, trend, pola dan pemodelan.
Kemampuaninilah yang membedakan SIG dari sistem informasi lainnya.

Telah dijelaskan diawal bahwa SIG adalah suatu kesatuan sistem yang terdiri
dari berbagai komponen, tidak hanya perangkat keras komputer beserta dengan
perangkat lunaknya saja akan tetapi harus tersedia data geografis yang benar dan
sumberdaya manusia untuk melaksanakan perannya dalam memformulasikan dan
menganalisa persoalan yang menentukan keberhasilan SIG. ( Modul Pelatihan
ArcGIS Tingkat Dasar, 2007 )

2.2.1 Data Spasial


Sebagian besar data yang akan ditangani dalam SIG merupakan data spasial
yaitu sebuah data yang berorientasi geografis, memiliki sistem koordinat tertentu
sebagai dasar referensinya dan mempunyai dua bagian penting yang membuatnya
berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi (spasial) dan informasi deskriptif
(attribute) yang dijelaskan berikut ini :

1. Informasi lokasi (spasial), berkaitan dengan suatu koordinat baik


koordinat geografi (lintang dan bujur) dan koordinat XYZ, termasuk
diantaranya informasi datum dan proyeksi.
2. Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non spasial, suatu lokasi
yang memiliki beberapa keterangan yang berkaitan dengannya,
contohnya : jenis vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan sebagainya.

Secara sederhana format dalam bahasa komputer berarti bentuk dan kode
penyimpanan data yang berbeda antara file satu dengan lainnya. Dalam SIG, data
spasial dapat direpresentasikan dalam dua format, yaitu:

9
1. Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke dalam
kumpulan garis, area (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan
berakhir pada titik yang sama), titik dan nodes (merupakan titik
perpotongan antara dua buah garis).

Gambar 2.2 : Data Vektor

(Sumber Gambar : Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar, 2007 )


Keuntungan utama dari format data vektor adalah ketepatan dalam
merepresentasikan fitur titik, batasan dan garis lurus. Hal ini sangat berguna untuk
analisa yang membutuhkan ketepatan posisi, misalnya pada basisdata batas-batas
kadaster. Contoh penggunaan lainnya adalah untuk mendefinisikan hubungan
spasial dari beberapa fitur. Kelemahan data vektor yang utama adalah
ketidakmampuannya dalam mengakomodasi perubahan gradual. ( Modul Pelatihan
ArcGIS Tingkat Dasar, 2007 )

2. Data raster (atau disebut juga dengan sel grid) adalah data yang
dihasilkan dari sistem Penginderaan Jauh. Pada data raster, obyek
geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang disebut
dengan pixel (picture element).

10
Gambar 2.3 : Data Raster

(Sumber Gambar : Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar, 2007 )

Pada data raster, resolusi (definisi visual) tergantung pada ukuran pixel-nya.
Dengan kata lain, resolusi pixel menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan
bumi yang diwakili oleh setiap pixel pada citra. Semakin kecil ukuran permukaan
bumi yang direpresentasikan oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster
sangat baik untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual,
seperti jenis tanah, kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah dan sebagainya.
Keterbatasan utama dari data raster adalah besarnya ukuran file; semakin tinggi
resolusi grid-nya semakin besar pula ukuran filenya dan sangat tergantung pada
kapasistas perangkat keras yang tersedia.

Masing-masing format data mempunyai kelebihan dan kekurangan.


Pemilihan format data yang digunakan sangat tergantung pada tujuan penggunaan,
data yang tersedia, volume data yang dihasilkan, ketelitian yang diinginkan, serta
kemudahan dalam analisa. Data vektor relatif lebih ekonomis dalam hal ukuran file
dan presisi dalam lokasi, tetapi sangat sulit untuk digunakan dalam komputasi
matematik. Sedangkan data raster biasanya membutuhkan ruang penyimpanan file
yang lebih besar dan presisi lokasinya lebih rendah, tetapi lebih mudah digunakan
secara matematis. ( Modul Pelatihan ArcGIS Tingkat Dasar, 2007 )

2.6. ArcGIS
ArcGIS adalah salah satu perangkat lunak SIG yang memiliki versi desktop.
Perangkat lunak ini memiliki banyak fungsional, exstension yang sudah

11
terintegrasi, dan juga mengimplementasikan konsep basis data spasial; khususnya
geodatabase (baik personal maupun multi-user). ArcGis dekstop memiliki 4
aplikasi dasar, yaitu :

1. Arcglobe , adalah sebuah aplikasi yang digunakan untuk


menampilkan peta-peta secara 3D ke dalam bola dunia dan dapat
dihubungkan langsung dengan internet. Aplikasi ini umumnya
dirancang untuk digunakan dengan dataset yang sangat besar dan
memungkinkan untuk visualisasi yang tidak terputus untuk data raster
dan fitur peta lainnya. View dalam arcglobe didasarkan pada pandangan
global, dengan semua data diproyeksikan ke proyeksi cube global dan
ditampilkan pada berbagai tingkat detail ( LODs ).

2. ArcScene , adalah sebuah aplikasi yang digunakan untuk


mengolah dan menampilkan peta-peta ke dalam 3D. ArcCatalog
digunakan untuk menjelajah (browsing), mengatur (organizing),
membagi (distribution) dan menyimpan (documentation) data – data
SIG. Secara sederhana, fungsi dari ArcCatalog ialah manajemen data.

3. ArcCatalog , merupakan bagian dari ArcGis yang


digunakan untuk menjelajah (browsing), mengatur (organizing),
membagi (distribution) dan menyimpan (documentation) data data SIG.
Secara sederhana, fungsi dari ArcCatalog ialah manajemen data.

4. ArcMap , merupakan modul utama di dalam ArcGis yang


digunakan untuk membuat (create), menampilkan (viewing), memilih
(query), editing, composing dan publishing peta. ( Pengenalan ArcGis,
2014 )

2.7. Mango Map


Mango Map adalah aplikasi pemetaan berbasis web berbasis cloud yang
memungkinkan pengguna untuk dapat mengubah data geospasial mereka ke peta
web interaktif menarik. Pengguna membuka kekuatan melalui visualisasi yang
mengesankan sementara memungkinkan para pemangku kepentingan dan

12
pengambil keputusan yang menggunakan peta untuk eksplorasi data melalui
seperangkat alat intuitif. Pada aplikasi Mango Map ini terdapat beberapa tools
pendukung yang memudahkan user dalam mengakses peta, diantaranya:

1. Query tool : tools yang memudahkan pengguna dalam mengakses


record – record dari satu tabel atau lebih yang mempunyai atribut
sesuai kriteria tertentu.
2. Atribute search : memudahkan pengguna dalam mencari informasi
yang dibutuhkan, dilakukan dengan memasukan kata kunci.
(Rahman, 2015)

2.8. Weebly
Menurut Dedi Mulyadi (2010) adalah salah satu situs web gratis yang sangat
mudah untuk digunakan siapa saja (pemula atau professional). Weebly sangat
cocok bagi mereka yang bergerak dalam bidang pendidikan, kesehatan, fotografi,
salon kecantikan, pecinta binatang, penggemar otomotif, musisi, toko online,
blogger dan lain – lain. Dengan menggunakan weebly anda tidak memerlukan
pengetahuan tentang HTML, PHP, Java Script, CSS ataupun MySQL, untuk
mendesain halaman website anda hanya cukup men-drag dan drop elemen – elemen
yang telah disediakan. Kemudian anda mengisi konten-nya sesuai kebutuhan.
Didalam Weebly anda bisa leluasa menggunakan elemen – elemen yang bisa anda
gunakan dalam menciptakan web yang powerfull baik untuk Ecommerce, Gallery
foto peta/Google Map, membuat quiz, Polling/jejak pendapat, audio dan video dan
lain – lain, anda bisa melihat semua contoh contoh penggunaan elemen yang ada di
weebly diwebsite ini. (Rahman, 2015)

13