Anda di halaman 1dari 2

Jakarta, CNN Indonesia -- Tanggal 31 Desember banyak dinanti orang untuk merayakan

pergantian tahun.

Ini adalah saat di mana orang-orang sangat menantikan tengah malam demi melihat
matahari terbenam terakhir di tahun 2018 dan matahari terbit pertama di 1 Januari
2019.

Namun pernahkah Anda berpikir mengapa Tahun Baru dirayakan setiap tanggal 1
Januari? Bagaimana itu semua terjadi?

Lihat juga:

Negara Pertama dan Terakhir yang Merayakan Tahun Baru

Mengutip History, penetapan 1 Januari menjadi hari pertama awal tahun baru terjadi
sejak zaman Romawi.

Awalnya, kalender Romawi hanya memiliki 10 bulan dan 304 hari. Setiap tahun baru
dimulai pada vernal equinox. Tradisi ini diciptakan oleh Romulus, pendiri Roma pada
abad ke-8 sebelum masehi.

Namun seorang raja sesudahnya, Numa Pompilius menambahkan bulan Januarius dan
Februarius ke dalam penanggalan tersebut. Hanya saja, selama berabad-abad,
perhitungan kalender ini ternyata tak selaras dengan matahari.

Hal inilah yang membuat Kaisar Julius Caesar akhirnya memutuskan untuk
mengubahnya. Dia mencoba untuk berkonsultasi dan para astronom dan
matematikawan terkemuka di masa itu. Setelah diperbaiki, Julies Caesar pun
memperkenalkan kalender Julian -kalender yang selaras dengan matahari.

Kalender ini mirip dengan kalender Gregorian yang lebih modern dan sudah dipakai
di sebagian besar negara di dunia sekarang ini.

Penetapan 1 Januari sebagai hari pertama tahun baru ini dilakukan sebagai bagian dari
reformasinya Caesar. Di tanggal ini juga ditandai sebagai hari di mana pejabat politik
tertinggi terpilih di Roma mulai menjabat dan bekerja selama setahun.

Caesar membuat tanggal 1 Januari sebagai hari pertama awal tahun sebagai upaya
untuk menghormati nama dewa yang sama dengan bulan tersebut, Janus. Janus sendiri
adalah dewa yang memiliki dua muka sekaligus dewa permulaan di Romawi.

Kedua wajahnya ini melambangkan kemampuannya untuk melihat ke masa lalu dan
dam masa depan. Di masa itu, orang-orang Romawi merayakan tahun baru dan hari
raya dewa Janus dengan bertukar hadiah satu sama lain. Tak cuma itu, mereka juga
menghias rumah mereka dengan cabang pohon laurel dan menghadiri pesta.

Namun saat itu, Julius Caesar, dikutip dari Live Science, masih tak bisa membakukan
hari pertama awal tahun, karena beberapa daerah masih menggunakan tanggal di
bulan Maret dan September sebagai hari tahun baru mereka.

Perayaan tahun baru masih terus bergeser-geser setiap waktu, bahkan pernah di hari
yang sama seperti hari Natal.

Lihat juga:

10 Resolusi Tahun Baru 'Anti Muluk-muluk'

Pada Abad pertengahan di Eropa, perayaan tahun baru dianggap sebagai hari
penyembahan berhala, sehingga hari libur pun dipindahkan ke tanggal lain yang lebih
religius, termasuk tanggal 25 Desember dan tanggal 25 Maret, Pesta kabar gembira.

Akhirnya Paus Gregorius XIII menetapkan kalender Gregorian pada tahun 1582. Di
masa itu, hari awal tahun baru kembali dipulihkan dan ditetapkan tiap 1 Januari. (chs)