Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Selama masa kehamilan, ibu dan janin adalah unit fungsi yang tak
terpisahkan. Apa yang dikonsumsi oleh ibu akan ditransfer ke janin.
Kesehatan ibu hamil adalah persyaratan penting untuk fungsi optimal dan
perkembangan kedua bagian unit tersebut yaitu ibu dan janin. Menjaga
asupan gizi menjadi hal penting bagi bumil (Ibu Hamil) agar ibu dan janin
sehat hingga hari kelahiran.
Selama kehamilan sangat sering kali ibu hamil mengalami gangguan
kesehatan sehingga membutuhkan obat. Akan tetapi ada beberapa Obat-
obatan yang dapat menyebabkan efek yang tidak dikehendaki pada janin
selama masa kehamilan. Selama ini banyak ibu hamil menggunakan obat dan
suplemen pada periode organogenesis sedang berlangsung sehingga risiko
terjadi cacat janin lebih besar. Beberapa obat dapat memberi risiko bagi
kesehatan ibu, dan dapat memberi efek pada janin juga. Selama trimester
pertama, obat dapat menyebabkan cacat lahir (teratogenesis), dan risiko
terbesar adalah kehamilan 3-8 minggu. Selama trimester kedua dan ketiga,
obat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan secara
fungsional pada janin.
Karena banyak obat yang dapat melintasi plasenta, maka penggunaan
obat pada wanita hamil perlu berhati-hati. Plasenta merupakan sarana transfer
apa yang dikonsumsi ibu kepada janin. Dalam plasenta obat mengalami
proses biotransformasi, mungkin sebagai upaya perlindungan dan dapat
terbentuk senyawa antara yang reaktif, yang bersifat
teratogenik/dismorfogenik. Obat-obat teratogenik atau obat-obat yang dapat
menyebabkan terbentuknya senyawa teratogenik dapat ditransfer ke janin dan
merusak atau mengganggu janin.
Kesehatan ibu saat kehamilan sangat menentukan perkembangan janin.
Berbagai macam penyakit mulai ringan hingga berat bisa saja terjadi. Tidak
jarang untuk menghilangkan rasa sakit yang ditimbulkan pada akhirnya ibu

1
mengkonsumsi berbagai obat. Namun banyak obat-obatan yang dikonsumsi
ibu dapat masuk dalam plasenta dan mempengaruhi janin. Oleh karena itu,
baik pemberian dan pembelian obat perlu dilakukan dengan hati-hati.
Ada kalanya, ibu hamil yang mengalami infeksi memerlukan
penggunaan antibiotik sebagai pilihan obat. Sebagian antibiotik pada semua
fase kehamilan aman dikonsumsi, sebagian lagi dikontraindikasikan pada
fase tertentu, dan ada juga yang dikontraindikasikan untuk semua fase
kehamilan.
Sebuah studi yang dipublikasikan di American Journal of Obstetrics
and Gynecology, melaporkan, sekitar 46 persen ibu yang terlibat dalam studi
menggunakan beberapa jenis antibiotik selama kehamilan atau selama proses
melahirkan. Bayi-bayi yang terpapar dengan obat-obatan ini mengalami
penurunan kemampuan melawan infeksi. Selain itu, hampir 50 persen dari
bayi-bayi ini kebal terhadap ampicillin, spektrum antibiotik yang banyak
digunakan.
Ibu hamil sebaiknya menghindari antibiotik yang diresepkan untuk
mengatasi tuberculosis, infeksi saluran pernafasan dan jerawat. Obat-obatan
yang digunakan untuk mengatasi tuberculosis bisa menyebabkan ketulian
pada anak. Selain itu, beberapa jenis antibiotik tersebut bisa menghitamkan
gigi bayi Anda.
Kehamilan akan mempengaruhi pemilihan antibiotik. Umumnya
penisilin dan sefalosporin dianggap sebagai preparat pilihan pertama pada
kehamilan, karena pemberian sebagian besar antibiotik lainnya berkaitan
dengan peningkatan risiko malformasi pada janin. Bagi beberapa obat
antibiotik, seperti eritromisin, risiko tersebut rendah dan kadang-kadang
setiap risiko pada janin harus dipertimbangkan terhadap keseriusan infeksi
pada ibu.
Beberapa jenis antibiotika dapat menyebabkan kelainan pada janin. Hal
ini terjadi karena antibiotika yang diberikan kepada wanita hamil dapat
mempengaruhi janin yang dikandungnya melalui plasenta. Antibiotika yang
demikian itu disebut teratogen. Definisi teratogen adalah suatu obat atau zat
yang menyebabkan pertumbuhan janin yang abnormal. Kata teratogen berasal

2
dari bahasa Yunani teras, yang berarti monster, dan genesis yang berarti asal.
Jadi teratogenesis didefinisikan sebagai asal terjadinya monster atau proses
gangguan proses pertumbuhan yang menghasilkan monster.
Besarnya reaksi toksik atau kelainan yang ditimbulkan oleh antibiotika
dipengaruhi oleh besarnya dosis yang diberikan, lama dan saat pemberian
serta sifat genetik ibu dan janin.

1.2. Rumusan Masalah


1. Apakah faktor - faktor yang dapat mempengaruhi efek pada janin?
2. Bagaimanakah farmakokinetika obat selama kehamilan?
3. Bagaimanakah pengaruh obat pada janin?
4. Bagaimanakah efek antibiotik pada kehamilan?
5. Bagaimanakah indeks keamanan kehamilan antibiotik?
6. Bagaimanakah reaksi interaksi obat?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui faktor - faktor yang dapat mempengaruhi efek pada
janin
2. Untuk mengetahui farmakokinetika obat selama kehamilan
3. Untuk mengetahui pengaruh obat pada janin
4. Untuk mengetahui efek antibiotik pada kehamilan
5. Untuk mengetahui indeks keamanan kehamilan antibiotik
6. Untuk interaksi obat

3
BAB II
ISI

2.1. Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Efek Pada Janin


Beberapa jenis obat dapat menembus plasenta dan mempengaruhi janin
dalam uterus, baik melalui efek farmakologik maupun efek teratogeniknya.
Secara umum faktor-faktor yang dapat mempengaruhi masuknya obat ke
dalam plasenta dan memberikan efek pada janin adalah:
1. Sifat fisikokimiawi dari obat.
2. Kecepatan obat untuk melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin
3. Lamanya pemaparan terhadap obat.
4. Obat didistribusikan ke jaringan-jaringan yang berbeda pada janin.
5. Periode perkembangan janin saat obat diberikan.
6. Efek obat jika diberikan dalam bentuk kombinasi
Kemampuan obat untuk melintasi plasenta tergantung pada sifat
lipofilik dan ionisasi obat. Obat yang mempunyai lipofilik tinggi cenderung
untuk segera terdifusi ke dalam serkulasi janin. Contoh, tiopental yang sering
digunakan pada seksio sesarea, dapat menembus plasenta segera setelah
pemberian, dan dapat mengakibatkan terjadinya apnea pada bayi yang
dilahirkan. Obat yang sangat terionisasi seperti misalnya suksinilkholin dan
d-tubokurarin, akan melintasi plasenta secara lambat dan terdapat dalam
kadar yang sangat rendah pada janin. Kecepatan dan jumlah obat yang dapat
melintasi plasenta juga ditentukan oleh berat molekul. Obat-obat dengan berat
molekul 250-500 dapat secara mudah melintasi plasenta, tergantung pada
sifat lipofiliknya, sedangkan obat dengan berat molekul > 1000 sangat sulit
menembus plasenta. Kehamilan merupakan masa rentan terhadap efek
samping obat, khususnya bagi janin. Salah satu contoh yang dapat
memberikan pengaruh sangat buruk terhadap janin jika diberikan pada
periode kehamilan adalah talidomid, yang memberi efek kelainan kongenital
berupa fokomelia atau tidak tumbuhnya anggota gerak. Untuk itu, pemberian
obat pada masa kehamilan memerlukan pertimbangan yang benar-benar
matang.

4
2.1.1. Perpindahan obat lewat plasenta
Perpindahan obat lewat plasenta umumnya berlangsung secara
difusi sederhana sehingga konsentrasi obat di darah ibu serta aliran
darah plasenta akan sangat menentukan perpindahan obat lewat
plasenta. Seperti juga pada membran biologis lain perpindahan obat
lewat plasenta dipengaruhi oleh hal-hal dibawah ini. :
a. Kelarutan dalam lemak
Obat yang larut dalam lemak akan berdifusi dengan mudah
melewati plasenta masuk ke sirkulasi janin. Contohnya , thiopental,
obat yang umum digunakan sebagai obat anestesi dapat
menyebabkan apnea (henti nafas) pada bayi yang baru dilahirkan.

b. Derajat ionisasi
Obat yang tidak terionisasi akan mudah melewati plasenta.
Sebaliknya obat yang terionisasi akan sulit melewati membran
Contohnya suksinil kholin dan tubokurarin yang juga digunakan
pada seksio sesarea, adalah obat-obat yang derajat ionisasinya tinggi,
akan sulit melewati plasenta sehingga kadarnya di di janin rendah.
Contoh lain yang memperlihatkan pengaruh kelarutan dalam lemak
dan derajat ionisasi adalah salisilat, zat ini hampir semua terion pada
pH tubuh akan melewati akan tetapi dapat cepat melewati plasenta.
Hal ini disebabkan oleh tingginya kelarutan dalam lemak dari
sebagian kecil salisilat yang tidak terion. Permeabilitas membran
plasenta terhadap senyawa polar tersebut tidak absolut. Bila
perbedaan konsentrasi ibu-janin tinggi, senyawa polar tetap akan
melewati plasenta dalam jumlah besar.

c. Ukuran molekul
Obat dengan berat molekul sampai dengan 500 Dalton akan
mudah melewati pori membran bergantung pada kelarutan dalam
lemak dan derajat ionisasi. Obat-obat dengan berat molekul 500-
1000 Dalton akan lebih sulit melewati plasenta dan obat-obat dengan
berat molekul >1000 Dalton akan sangat sulit menembus plasenta.

5
Sebagai contoh adalah heparin, mempunyai berat molekul yang
sangat besar ditambah lagi adalah molekul polar, tidak dapt
menembus plasenta sehingga merupakan obat antikoagulan pilihan
yang aman pada kehamilan.

d. Ikatan protein.
Hanya obat yang tidak terikat dengan protein (obat bebas)
yang dapat melewati membran. Derajat keterikatan obat dengan
protein, terutama albumin, akan mempengaruhi kecepatan melewati
plasenta. Akan tetapi bila obat sangat larut dalam lemak maka ikatan
protein tidak terlalu mempengaruhi, misalnya beberapa anastesi gas.
Obat-obat yang kelarutannya dalam lemak tinggi kecepatan
melewati plasenta lebih tergantung pada aliran darah plasenta. Bila
obat sangat tidak larut di lemak dan terionisasi maka
perpindahaannya lewat plasenta lambat dan dihambat oleh besarnya
ikatan dengan protein. Perbedaan ikatan protein di ibu dan di janin
juga penting, misalnya sulfonamid, barbiturat dan fenitoin, ikatan
protein lebih tinggi di ibu dari ikatan protein di janin. Sebagai contoh
adalah kokain yang merupakan basa lemah, kelarutan dalam lemak
tinggi, berat molekul rendah (305 Dalton) dan ikatan protein plasma
rendah (8-10%) sehingga kokain cepat terdistribusi dari darah ibu
ke janin.

2.1.2. Metabolisme obat di plasenta dan di janin


Dua mekanisme yang ikut melindungi janin dari obat disirkulasi
ibu adalah.Plasenta yang berperan sebagai penghalang semipermiabel
juga sebagai tempat metabolisme beberapa obat yang melewatinya.
Semua jalur utama metabolisme obat ada di plasenta dan juga terdapat
beberapa reaksi oksidasi aromatik yang berbeda misalnya oksidasi
etanol dan fenobarbital. Sebaliknya , kapasitas metabolisme plasenta ini
akan menyebabkan terbentuknya atau meningkatkan jumlah metabolit
yang toksik, misalnya etanol dan benzopiren. Dari hasil penelitian
prednisolon, deksametason, azidotimidin yang struktur molekulnya
6
analog dengan zat-zat endogen di tubuh mengalami metabolisme yang
bermakna di plasenta.
Obat-obat yang melewati plasenta akan memasuki sirkulasi janin
lewat vena umbilikal. Sekitar 40-60% darah yang masuk tersebut akan
masuk hati janin, sisanya akan langsung masuk ke sirkulasi umum
janin. Obat yang masuk ke hati janin, mungkin sebagian akan
dimetabolisme sebelum masuk ke sirkulasi umum janin, walaupun
dapat dikatakan metabolisme obat di janin tidak berpengaruh banyak
pada metabolisme obat maternal.

2.1.3. Kerja obat teratogenik.


Teratogen adalah kerja yang menimbulkan kerusakan janin
dan khususnya cacat termasuk dalam efek samping obat terberat
(Mutscler, 1991).
Teratogenesis meliputi gangguan perkembangan normal baik
pada embrio maupun janin didalam rahim, menyebabkan kondisi
abnormal pada bayi yang baru lahir. Gangguan ini dapat terjadi
dalam berbagai bentuk dan karenanya tidak ada mekanisme umum
yang mendasari jenis respon ini. Bahan-bahan teratogenik dapat
berupa obat-obatan yang dikonsumsi selama kehamilan, bahan-
bahan pencemar lingkungan, bahan-bahan kimia di tempat kerja
(Timbrell, 1996).
Kerentanan suatu embrio atau janin terhadap suatu teratogen
bersifat variabel (tidak tetap), tergantung pada tahap perkembangan
dimana pemaparan itu terjadi untuk abnormalitas-abnormalitas yang
nyata. Periode kritis organogenesis merupakan yang paling rentan
terhadap kerentanan (Timbrell, 1996).
Organogenesis yang merupakan segregasi (pemisahan) sel-sel,
kelompok-kelompok sel dan jaringan-jaringan membentuk
primordia yang nantinya akan menjadi organ-organ, terutama
bersifat sensitif terhadap teratogen meskipun tidak semata-mata
demikian. Diferensiasi histologis terjadi secara bersamaan dengan

7
organogenesis dan berlanjut setelahnya, dan saat itu mulai terjadi
pembentukan fungsi. Kedua tahap ini dapat menyebabkan cacat,
meskipun umumnya cacat struktural yang nyata (Timbrell, 1996).
Menurut Katzung, suatu zat atau senyawa dianggap
teratogenik, jika proses zat tersebut:
a) Menghasilkan rangkaian malformasi yang khas, mengindikasikan
selektivitas organ tertentu.
b) Memberikan efeknya pada tahap pertumbuhan jenis tertentu, yaitu
selama organogenesis organ target dalam periode waktu yang
terbatas.
c) Memperlihatkan insiden yang tergantung dosis (Katzung, 1998).

Penggunaan obat pada saat perkembangan janin dapat


mempengaruhi struktur janin pada saat terpapar. Thalidomid adalah
contoh obat yang besar pengaruhnya pada perkembangan anggota
badan (tangan, kaki) segera sesudah terjadi pemaparan. Pemaparan ini
akan berefek pada saat waktu kritis pertumbuhan anggota badan yaitu
selama minggu ke empat sampai minggu ke tujuh
kehamilan. Mekanisme berbagai obat yang menghasilkan efek
teratogenik belum diketahui dan mungkin disebabkan oleh multifaktor.
a. Obat dapat bekerja langsung pada jaringan ibu dan juga secara tidak
langsung mempengaruhi jaringan janin.
b. Obat mungkin juga menganggu aliran oksigen atau nutrisi lewat
plasenta sehingga mempengaruhi jaringan janin.
c. Obat juga dapat bekerja langsung pada proses perkembangan
jaringan janin, misalnya vitamin A (retinol) yang memperlihatkan
perubahan pada jaringan normal. Dervat vitamin A (isotretinoin,
etretinat) adalah teratogenik yang potensial.
d. Kekurangan substansi yang esensial diperlukan juga akan berperan
pada abnormalitas. Misalnya pemberian asam folat selama
kehamilan dapat menurunkan insiden kerusakan pada selubung saraf
, yang menyebabkan timbulnya spina bifida.

8
Paparan berulang zat teratogenik dapat menimbulkan efek
kumulatif. Misalnya konsumsi alkohol yang tinggi dan kronik pada
kehamilan , terutama pada kehamilan trimester pertama dan kedua akan
menimbulkan fetal alcohol syndrome yang berpengaruh pada sistem
saraf pusat, pertumbuhan dan perkembangan muka.
Obat-obat yang bersifat teratogenik adalah asam lemah, misalnya
talidomid, asam valproat, isotretinoin, warfarin. Hal ini diduga karena
asam lemah akan mengubah pH sel embrio. Dan dari hasil penelitian
pada hewan menunjukkan bahwa pH cairan sel embrio lebih tinggi dari
pH plasma ibu, sehingga obat yang bersifat asam akan tinggi kadarnya
disel embrio.

2.2. Farmakokinetika Obat Selama Kehamilan


2.2.1. Absorpsi
Pada awal kehamilan akan terjadi penurunan sekresi asam
lambung hingga 30-40%. Hal ini menyebabkan pH asam lambung
sedikit meningkat, sehingga obat-obat yang bersifat asam lemah akan
sedikit mengalami penurunan absorpsi. Sebaliknya untuk obat yang
bersifat basa lemah absorpsi justru meningkat. Pada fase selanjutnya
akan terjadi penurunan motilitas gastrointestinal sehingga absopsi obat-
obat yang sukar larut (misalnya digoksin) akan meningkat, sedang
absopsi obat-obat yang mengalami metabolisme di dinding usus, seperti
misalnya klorpromazin akan menurun.
2.2.2. Distribusi
Pada keadaan kehamilan, volume plasma dan cairan ekstraseluser
ibu akan meningkat, dan mencapai 50% pada akhir kehamilan. Sebagai
salah satu akibatnya obat-obat yang volume distribusinya kecil,
misalnya ampisilin akan ditemukan dalam kadar yang rendah dalam
darah, walaupun diberikan pada dosis lazim. Di samping itu, selama
masa akhir kehamilan akan terjadi perubahan kadar protein berupa
penurunan albumin serum sampai 20%. Perubahan ini semakin
menyolok pada keadaan pre-eklamsia, di mana kadar albumin turun

9
sampai 34% dan glikoprotein meningkat hingga 100%. Telah diketahui,
obat asam lemah terikat pada albumin, dan obat basa lemah terikat pada
alfa-1 glikoprotein. Konsekuensi, fraksi bebas obat-obat yang bersifat
asam akan meningkat, sedangkan fraksi bebas obat-obat yang bersifat
basa akan menurun. Fraksi bebas obat-obat seperti diazepam, fenitoin
dan natrium valproat terbukti meningkat secara bermakna pada akhir
kehamilan.
2.2.3. Eliminasi
Pada akhir masa kehamilan akan terjadi peningkatan aliran darah
ginjal sampai dua kali lipat. Sebagai akibatnya, akan terjadi
peningkatan eliminasi obat-obat yang terutama mengalami ekskresi di
ginjal. Dengan meningkatnya aktivitas mixed function oxidase, suatu
sistem enzim yang paling berperan dalam metabolisme hepatal obat,
maka metabolisme obat-obat tertentu yang mengalami olsidasi dengan
cara ini (misalnya fenitoin. fenobarbital, dan karbamazepin) juga
meningkat, sehingga kadar obat tersebut dalam darah akan menurun
lebih cepat, terutama pada trimester kedua dan ketiga. Untuk itu, pada
keadaan tertentu mungkin diperlukan menaikkan dosis agar diperoleh
efek yang diharapkan.

2.3. Pengaruh Obat Pada Janin


Pengaruh buruk obat terhadap janin dapat bersifat toksik, teratogenik
maupun letal, tergantung pada sifat obat dan umur kehamilan pada saat
minum obat. Pengaruh toksik adalah jika obat yang diminum selama masa
kehamilan menyebabkan terjadinya gangguan fisiologik atau biokimiawi dari
janin yang dikandung, dan biasanya gejalanya baru muncul beberapa saat
setelah kelahiran. Pengaruh obat bersifat teratogenik jika menyebabkan
terjadinya malformasi anatomik pada petumbuhan organ janin. Pengaruh
teratogenik ini biasanya terjadi pada dosis subletal. Sedangkan pengaruh obat
yang bersifa letal, adalah yang mengakibatkan kematian janin dalam
kandungan. Secara umum pengaruh buruk obat pada janin dapat beragam,
sesuai dengan fase-fase berikut :

10
1. Fase implantasi, yaitu pada umur kehamilan kurang dari 3 minggu. Pada
fase ini obat dapat memberi pengaruh buruk atau mungkin tidak sama
sekali. Jika terjadi pengaruh buruk biasanya menyebabkan kematian
embrio atau berakhirnya kehamilan (abortus).
2. Fase embional atau organogenesis, yaitu pada umur kehamilan antara 4-
8 minggu. Pada fase ini terjadi diferensiasi pertumbuhan untuk terjadinya
malformasi anatomik (pengaruh teratogenik). Berbagai pengaruh buruk
yang mungkin terjadi pada fase ini antara lain :
a. Gangguan fungsional atau metabolik yang permanen yang biasanya
baru muncul kemudian, jadi tidak timbul secara langsung pada saat
kehamilan. Misalnya pemakaian hormon dietilstilbestrol pada trimester
pertama kehamilan terbukti berkaitan dengan terjadinya
adenokarsinoma vagina pada anak perempuan di kemudian hari (pada
saat mereka sudah dewasa).
b. Pengaruh letal, berupa kematian janin atau terjadinya abortus
c. Pengaruh subletal, yang biasanya dalam bentuk malformasi anatomis
pertumbuhan organ, seperti misalnya fokolemia karena talidomid.
3. Fase fetal, yaitu pada trimester kedua dan ketiga kehamilan. Dalam fase
ini terjadi maturasi dan pertumbuhan lebih lanjut dari janin. Pengaruh
buruk senyawa asing terhadap janin pada fase ini tidak berupa malformasi
anatomik lagi. tetapi mungkin dapat berupa gangguan pertumbuhan, baik
terhadap fungsi-fungsi fisiologik atau biokimiawi organ-organ. Demikian
pula pengaruh obat yang dialami ibu dapat pula dialami janin, meskipun
mungkin dalam derajat yang berbeda. Sebagai contoh adalah terjadinya
depresi pernafasan neonatus karena selama masa akhir kehamilan, ibu
mengkonsumsi obat-obat seperti analgetika-narkotik; atau terjadinya efek
samping pada sistem ekstrapiramidal setelah pemakaian fenotiazin.

2.4. Antibiotik Pada Kehamilan


Infeksi pada saat kehamilan tidak jarang terjadi, mengingat secara
alamiah risiko terjadinya infeksi pada periode ini lebih besar, seperti misalnya
infeksi saluran kencing karena dilatasi ureter dan stasis yang biasanya muncul

11
pada awal kehamilan dan menetap sampai beberapa saat setelah
melahirkan. Dalam menghadapi kehamilan dengan infeksi, pertimbangan
pengobatan yang harus diambil tidak saja dari segi ibu, tetapi juga segi janin,
mengingat hampir semua antibiotika dapat melintasi plasenta dengan segala
konsekuensinya. Berikut akan dibahas antibiotika yang dianjurkan maupun
yang harus dihindari selama kehamilan, agar di samping tujuan terapetik
dapat tercapai semaksimal mungkin, efek samping pada ibu dan janin dapat
ditekan seminimal mungkin.

2.4.1. Penisilin
Obat-obat yang termasuk dalam golongan penisilin dapat dengan
mudah menembus plasenta dan mencapai kadar terapetik baik pada
janin maupun cairan amnion. Penisilin relatif paling aman jika
diberikan selama kehamilan, meskipun perlu pertimbangan yang
seksama dan atas indikasi yang ketat mengingat kemungkinan efek
samping yang dapat terjadi pada ibu.
 Ampilisin:
Segi keamanan baik bagi ibu maupun janin relatif cukup terjamin.
Kadar ampisilin dalam sirkulasi darah janin meningkat secara lambat
setelah pemberiannya pada ibu dan bahkan sering melebihi kadarnya
dalam sirkulasi ibu. Pada awal kehamilan, kadar ampisilin dalam
cairan amnion relatif rendah karena belum sempurnanya ginjal janin,
di samping meningkatnya kecepatan aliran darah antara ibu dan
janin pada masa tersebut. Tetapi pada periode akhir kehamilan di
mana ginjal dan alat ekskresi yangi lain pada janin telah matur,
kadarnya dalam sirkulasi janin justru lebih tinggi dibanding ibu.
Farmakokinetika ampisilin berubah menyolok selama kehamilan.
Dengan meningkatnya volume plasma dan cairan tubuh, maka
meningkat pula volume distribusi obat. Oleh sebab itu kadar
ampisilin pada wanita hamil kira-kira hanya 50% dibanding saat
tidak hamil. Dengan demikian penambahan dosis ampisilin perlu
dilakukan selama masa kehamilan.

12
 Amoksisilin :
Pada dasarnya, absorpsi amoksisilin setelah pemberian per oral jauh
lebih baik dibanding ampisilin. Amoksisilin diabsorpsi secara cepat
dan sempurna baik setelah pemberian oral maupun parenteral.
Seperti halnya dengan ampisilin penambahan dosis amoksisilin pada
kehamilan perlu dilakukan mengingat kadarnya dalam darah ibu
maupun janin relatif rendah dibanding saat tidak hamil. Dalam
sirkulasi janin, kadarnya hanya sekitar seperempat sampai sepertiga
kadar di sirkulasi ibu.
Dosis Penisilin
Dosis penisilin untuk tiap pasien berbeda-beda. Dosis biasanya
ditentukan dokter berdasarkan beberapa faktor, yaitu:
 Gangguan medis yang dialami pasien.
 Kekuatan penisilin yang diberikan.
 Jumlah jadwal meminum penisilin setiap hari.
 Waktu jeda antar jadwal konsumsi penisilin yang diperlukan.
Peringatan:
 Wanita yang sedang merencanakan kehamilan, sedang hamil,
atau menyusui, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum
mengonsumsi atau menggunakan penisilin.
 Harap berhati-hati bagi pasien yang memiliki riwayat berbagai
alergi seperti asma, eksim, dan riwayat urtikaria, masalah
perdarahan, tekanan darah tinggi, gagal jantung, gangguan ginjal,
cystic fibrosis, mononukleosis, fenilketonuria, dan gangguan
usus.
 Jika Anda sedang menjalankan diet rendah garam, pastikan
memberi tahu dokter. Beberapa obat golongan penisilin
mengandung garam cukup tinggi dan bisa memberikan gangguan
pada orang dengan kondisi tertentu.
 Konsultasikan dengan dokter jika sedang mengkonsumsi pil
kontrasepsi yang mengandung estrogen. Karena penisilin dapat
menurunkan efektivitas pil KB

13
 Penisilin bisa menyebabkan hasil tes pengukuran kansungan gula
dalam urine menjadi tidak akurat
 Jika terjadireaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

2.4.2. Sefalosporin
Sama halnya dengan penisilin, sefalosporin relative aman jika
diberikan pada trimester pertama kehamilan. Kadar sefalosporin dalam
sirkulasi janin meningkat selama beberapa jam pertama setelah
pemberian dosis pada ibu, tetapi tidak terakumulasi setelah pemberian
berulang atau melalui infus. Sejauh ini belum ada bukti bahwa pengaruh
buruk sefalosporin seperti misalnya anemia hemolitik dapat terjadi pada
bayi yang dilahirkan oleh seorang ibu yang mendapat sefalosporin pada
trimester terakhir kehamilan.
Antibiotic sefalosporin termasuk kategori B untuk kehamilan,
yaitu studi pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya
resiko terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita
hamil.
Beberapa efek samping yang mungkin muncul akibat
mengosumsi sefalosporin, antara lain adalah:
 Mual atau muntah
 Diare
 Gatal-gatal dan ruam pada kulit
 Infeksi jamur
 Penurunan jumlah sel darah putih dan trombosit

2.4.3. Tetrasiklin
Seperti halnya penisilin dan antibiotika lainnya, tetrasiklin dapat
dengan mudah melintasi plasenta dan mencapai kadar terapetik pada
sirkulasi janin. Jika diberika pada trimester pertama pada kehamilan,
tetrasiklin menyebabkan terjadinya deposisi tulang in utero, yang pada
akhirnya akan menimbulkan gangguan pertumbuhan tulang, terutama
pada bayi prematur. Meskipun hal ini bersifat tidak menetap
(reversibel) dan dapat pulih kembali setelah proses remodelling, namun
sebaiknya tidak diberikan pada periode tersebut. Jika diberikan pada
14
trimester kedua hingga ketiga kehamilan, tetrasiklin akan
mengakibatkan terjadinya perubahan warna gigi (menjadi kekuningan)
yang bersifat menetap disertai hipoplasia enamel. Mengingat
kemungkinan risikonya lebih besar dibanding manfaat yang diharapkan
maka pemakaian tetrasiklin pada wanita hamil sejauh mungkin harus
dihindari.
 Dosis tetracycline
Tetracycline diberikan dengan dosis berikut :
Dosis untuk kerentanan infeksi
Dewasa : 250-500 mg setiap 6 jam. Maksimal : 4 g / hari.
Anak usia ≥12 tahun maksimal : 2 g / hari.
Dosis untuk jerawat
Dewasa : 250-500 mg / hari, diberikan sebagai dosis tunggal atau
dosis terbagi, setidaknya 3 bulan.
Dosis untuk sipilis
Dewasa : 4 x sehari 500 mg. Obat diberikan selama 15 hari.
Dosis untuk brucellosis
Dewasa : 4 x sehari 500 mg. Obat diberikan selama 3 minggu
dikombinasikan dengan streptomisin.
Dosis untuk Gonorea
Dewasa : 4 x sehari 500 mg. Obat diberikan selama 7 hari.
Untuk infeksi berat, dosis dapat ditingkatkan sampai 2 kalinya.
Penderita gangguan hati, dosis maksimal 1 g / hari.
Penggunaan oleh wanita hamil
 FDA (badan pengawas obat dan makanan amerika serikat)
mengkategorikan tetracycline kedalam kategori D dengan
penjelasan sebagai berikut :
Terbukti beresiko terhadap janin manusia berdasarkan bukti-bukti
empiris yang didapatkan dari investigasi, pengalaman marketing
maupun studi terhadap manusia. Namun jika potensi keuntungan
bisa dijamin penggunaan obat pada ibu hamil bisa dilakukan
meskipun potensi risiko sangat besar. Antibiotik yang mengandung

15
tetracycline mampu menghambat perkembangan gigi dan tulang
janin. Jika tidak benar-benar dibutuhkan, penggunaan antibiotik ini
selama kehamilan sebaiknya tidak dilakukan.
 Efek samping dari obat tetracycline sebagai berikut berikut:
sakit kepala parah, pusing, penglihatan kabur
demam, menggigil, nyeri tubuh, gejala flu
lecet parah, kulit mengelupas, dan ruam merah pada kulit
urin lebih sedikit dari biasanya atau tidak sama sekali
pucat atau kulit menguning, urin berwarna gelap, demam, linglung
atau badan terasa lemas; sakit parah di perut bagian atas yang
menyebar ke punggung, mual dan muntah, detak jantung cepat
hilang nafsu makan, sakit kuning (menguningnya kulit atau mata)
mudah memar atau perdarahan, kelelahan yang tidak biasa. Efek
samping yang tidak serius, termasuk: luka atau bengkak di dubur
atau area genital mual ringan, muntah, diare, atau sakit perut bercak
putih atau luka di dalam mulut atau bibir Anda pembengkakan lidah,
kesulitan menelan; atau gatal pada vagina atau bokon. Tidak semua
orang mengalami efek samping berikut ini. Mungkin ada beberapa
efek samping yang tidak disebutkan di atas.

2.4.4. Aminoglikosida
Aminoglikosida dimasukkan dalam kategori obat D, yang
penggunaannya oleh wanita hamil diketahui meningkatkan angka
kejadian malformasi dan kerusakan janin yang bersifat ireversibel.
Pemberian aminoglikosida pada wanita hamil sangat tidak dianjurkan.
Selain itu aminoglikosida juga mempunyai efek samping nefrotoksik
dan ototoksik pada ibu, dan juga dapat menimbulkan kerusakan ginjal
tingkat seluler pada janin, terutama jika diberikan pada periode
organogeneis. Kerusakan saraf kranial VIII juga banyak terjadi pada
bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mendapat aminoglikosida pada
kehamilan.

Peringatan:

16
Konsultasikan kepada dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan
dosis yang tepat mengenai aminoglikosida, terutama bagi: Ibu hamil,
aminoglikosida terdapat di kategori D, yaitu ada bukti positif mengenai
risiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh
mungkin lebih besar dari risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi
yang mengancam jiwa.

2.4.5. Kloramfenikol
Pemberian kloramfenikol pada wanita hamil, terutama pada
trimester II dan III, di mana hepar belum matur, dapat menyebabkan
angka terjadinya sindroma Grey pada bayi, ditandai dengan kulit
sianotik (sehingga bayi tampak keabuabuan), hipotermia, muntah,
abdomen protuberant, dan menunjukkan reaksi menolak menyusu, di
samping pernafasan yang cepat & tidak teratur, serta letargi.
Kloramfenikol dimasukkan dalam kategori C, yaitu obat yang karena
efek farmakologiknya dapat menyebabkan pengaruh buruk pada janin
tanpa disertai malformasi anatomik. Pengaruh ini dapat bersifat
reversibel. Pemberian kloramfenikol selama kehamilan sejauh mungkin
dihindari, terutama pada minggu-minggu terakhir menjelang kelahiran
dan selama menyusui.
Efek Samping
Efek samping yang paling serius dari kloramfenikol (chloramphenicol)
adalah anemia aplastik, meskipun jarang tetapi secara umum sangat
fatal bila terjadi. kloramfenikol (chloramphenicol) juga menyebabkan
tertekannya sumsum tulang belakang selama pemakaian, dan bisa
menyebabkan leukemia (kanker darah atau kanker sumsum tulang)
pada pemakaian dalam jangka waktu lama. pemberian secara Intravena
bisa menyebabkan sindrom abu-abu pada bayi baru dilahirkan ataupun
bayi prematur. efek lain kloramfenikol (chloramphenicol) adalah
hipersensitivitas, ruam,urtikaria, mual, muntah, diare, sakit kepala dan
super infeksi.
Toleransi terhadap kehamilan
Studi pada reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk pada janin.
tidak ada studi yang memadai dan terkendali dengan baik pada manusia,
17
namun jika potensi manfaat penggunaan obat lebih tinggi pemberian
pada ibu hamil dapat diberikan meski terdapat potensi resiko
Perhatian
Kloramfenikol (chloramphenicol) terdeteksi ikut keluar bersama ASI,
sehingga jika memungkinkan pemakaian kloramfenikol
(chloramphenicol) selama menyusui sebaiknya dihindari. Hati-hati
memberikan kloramfenikol (chloramphenicol) kepada wanita hamil,
pasien dengan fungsi ginjal yang buruk, neonatus, dan bayi prematur.
Pemakaian dengan jangka waktu lama perlu dilakukan pemeriksaan
hematologik berkala. Hati-hati terhadap kemungkinan super infeksi
dengan jamur dan bakteri.
Interaksi obat
Kloramfenikol (chloramphenicol) berinteraksi dengan obat-obat
seperti: dikumarol, fenitoin,tolbutamid,fenobarbital dan sejenisnya
Dosis
kloramfenikol (chloramphenicol) diberikan dengan dosis : dewasa,
anak dan bayi> 2 minggu : 50 mg/kg BB/hari dalam 3-4 dosis; bayi
dibawah 2 minggu : 25 mg/kg BB/hari dalam 4-6 dosis; bayi prematur:
25 mg/kg BB/hari dalam2 dosis

2.4.6. Sulfonamida
Obat-obat yang tergolong sulfonamida dapat melintasi plasenta
dan masuk dalam sirkulasi janin, dalam kadar yang lebih rendah atau
sama dengan kadarnya dalam sirkulasi ibu. Pemakaian sulfonamida
pada wanita hamil harus dihindari, terutama pada akhir masa
kehamilan. Hal ini karena sulfonamida mampu mendesak bilirubin dari
tempat ikatannya dengan protein, sehingga mengakibatkan terjadinya
kern-ikterus pada bayi yang baru dilahirkan. Keadaan ini mungkin akan
menetap sampai 7 hari setelah bayi lahir.
Sulfonamida atau sulfa adalah golongan obat yang berfungsi
untuk mengatasi infeksi bakteri dengan cara mengganggu sintesis asam
folat di dalam bakteri. Asam folat merupakan nutrisi penting yang

18
digunakan oleh sel hidup, baik manusia maupun bakteri untuk
membentuk asam nukleat, DNA, dan RNA. Manusia umumnya
memperoleh asam folat dari makanan sedangkan bakteri harus
membuat sendiri asam folat untuk memenuhi kebutuhan sel. Jika proses
pembentukan asam folat diganggu oleh antibiotik sulfa, bakteri tidak
bisa membentuk asam nukleat, DNA, dan RNA sehingga tidak bisa
berkembang biak.
Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat akan
menggunakan obat golongan sulfonamida adalah
Sulfa dapat menyebabkan penyakit kuning pada bayi baru lahir.
Oleh karena itu, sulfa dalam bentuk gabungan sulfamethoxazole dan
trimethoprim tidak boleh diberikan kepada ibu hamil (terutama pada
trimester ketiga).

 Sulfa juga diekskresi melalui ASI, sehingga tidak boleh diberikan


untuk ibu menyusui.

 Sulfa dapat menyebabkan kulit lebih sensitif terhadap cahaya


matahari. Oleh karena itu, pasien yang sedang menjalani pengobatan
menggunakan obat golongan ini disarankan untuk menghindari
paparan sinar matahari atau menggunakan tabir surya.

 Jika memiliki alergi terhadap sulfa dalam bentuk gabungan


sulfomethoxazole dan trimethoprim, konsultasikan kepada dokter
untuk mempertimbangkan pemberian obat ini.

 Hati-hati penggunaan antibiotik sulfa pada penderita alergi, asma,


serta gangguan fungsi tiroid, hati, dan ginjal.

 Informasikan kepada dokter bila Anda sedang mengonsumsi


obat warfarin, cyclosporine, digoxin, methotrexate, asam valproat,
pyrimethamine, clozapin, dan leucovorin.
2.4.7. Eritromisin
Pemakaian eritromisin pada wanita hamil relatif aman karena
meskipun dapat terdifusi secara luas ke hampir semua jaringan (kecuali
otak dan cairan serebrospinal), tetapi kadar pada janin hanya mencapai
1-2% dibanding kadarnya dalam serum ibu. Di samping itu, sejauh ini
belum terdapat bukti bahwa eritromisin dapat menyebabkan kelainan

19
pada janin. Kemanfaatan eritromisin untuk mengobati infeksi yang
disebabkan oleh Chlamydia pada wanita hamil serta pencegahan
penularan ke janin cukup baik, meskipun bukan menjadi obat pilihan
pertama. Namun ditilik dari segi keamanan dan manfaatnya, pemakaian
eritromisin untuk infeksi tersebut lebih dianjurkan dibanding
antibiotika lain, misalnya tetrasiklin.
Pengaturan dosis:
Oral : Dewasa dan Anak di atas 8 tahun, 250-500 mg tiap 6 jam atau
0,5-1 g tiap 12 jam.
Infus intravena: infeksi berat pada dewasa dan anak, 50 mg/kg/hari
secara infus kontinyu atau dosis terbagi tiap 6 jam; infeksi ringan 25
mg/kg/hari bila pemberian per oral tidak memungkinkan.
Sediaan:
Erybiotic : 250 mg/kapsul; 500 mg/kaplet; 200 mg/5 ml sirop.
Erysanbe : 250 mg/kapsul; 500 mg/kaplet; 200 mg/5 ml sirop kering;
200 mg/tablet kunyah.
Erythrocin : 250 mg/kapsul; 500 mg/kaplet; 250 mg/5 ml sirop; 200
mg/tablet; 100 mg/2,5 ml sirop tetes.
· Perhatian Kehamilan: eritromisin dapat melewati plasenta tetapi
menghasilkan kadar yang rendah dalam jaringan. Gunakan jika hanya
benar-benar perlu (Kategori B).

2.4.8. Trimetoprim
Karena volume distribusi yang luas, trimetoprim mampu
menembus jaringan fetal hingga mencapai kadar yang lebih tinggi
dibanding sulfametoksazol, meskipun kadarnya tidak lebih tinggi dari
ibu. Pada uji hewan, trimetoprim terbukti bersifat teratogen jika
diberikan pada dosis besar. Meskipun belum terdapat bukti bahwa
trimetoprim juga bersifat teratogen pada janin, tetapi pemakaiannya
pada wanita hamil perlu dihindari. Jika terpaksa harus memberikan
kombinasi trimetoprim + sulfametoksazol pada kehamilan, diperlukan
pemberian suplementasi asam folet.

20
Aturan Minum Trimoteprin: Minum dan biarkan perut kosong
minimal 1 jam sebelumnya atau 2 jam setelah makan. Sebaiknya
diminum sembari makan apabila terjadi gangguan lambung.
Dosia trimotopein
Dosis Dewasa untuk Infeksi Saluran Kemih:
Infeksi tanpa komplikasi akut: 100 mg oral setiap 12 jam atau 200 mg
oral setiap 24 jam selama 10 hari
Dosis Dewasa untuk Cystitis Profilaksis:
100 mg secara oral pada waktu tidur selama 6 minggu sampai 6 bulan
Dosis Dewasa untuk Pneumocystis Pneumonia:
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan:
Pasien yang terinfeksi HIV: 15 mg/kg/hari diminum dalam 3 dosis
terbagi (selain dapson 100 mg setiap hari) selama 21 hari`

2.4.9. Nitrofurantoin
Nitrofurantoin sering digunakan sebagai antiseptik pada saluran
kencing. Jika diberikan pada awal kehamilan, kadar nitrofurantoin pada
jaringan fetal lebih tinggi dibanding ibu, tetapi kadarnya dalam plasma
sangat rendah. Dengan makin bertambahnya umur kehamilan, kadar
nitrofurantoin dalam plasma janin juga meningkat. Sejauh ini belum
terbukti bahwa nitrofurantoin dapat meningkatkan kejadian malformasi
janin. Namun perhatian harus diberikan terutama pada kehamilan
cukup bulan, di mana pemberian nitrofurantoin pada periode ini
kemungkinan akan menyebabkan anemia hemolitik pada janin.
Dosis Nitrofurantoin
Berikut ini dosis penggunaan nitrofurantoin berdasarkan golongan
usia:

Golongan usia Dosis

Infeksi saluran kemih akut: 50 mg


empat kali sehari selama 7 hariInfeksi
Dewasa dan manula saluran kemih kronis berulang: 100 mg
empat kali sehari selama 7 hariTerapi
supresi jangka panjang: 50 – 100 mg

21
sekali sehariPencegahan infeksi saluran
kemih: 50 mg empat kali sehari selama
prosedur (biasanya tindakan bedah)
hingga 3 hari setelah prosedur.

Anak-anak usia 3 bulan ke 3 mg/kg empat kali sehari selama 7


atas hari.

Pastikan Anda mengonsumsi sesuai dengan dosis indikasi dan petunjuk


dokter. Jangan minum obat ini di luar petunjuk dokter.

Peringatan:
 Bagi wanita hamil atau sedang menyusui, konsultasikan dengan
dokter sebelum menggunakan nitrofurantoin.

 Obat ini dikontraindikasikan pada orang dengan hipersensitivitas


terhadap nitrofurantoin, pasien dengan gangguan ginjal serius,
pasien dengan porfiria akut, pasien dengan defisiensi glucose-6-
phosphate dehydrogenase (G6PD), bayi berusia di bawah 3 bulan,
dan wanita hamil yang sudah mendekati waktu persalinan.
 Hati-hati jika Anda menderita gangguan di hati, ginjal, diabetes
melitus dan saraf kronis (neuropati perifer).

 Konsultasikan dengan dokter jika Anda pernah memiliki masalah


kesehatan seperti anemia, gangguan di hati, diabetes melitus,
gangguan saraf kronis (neuropati perifer), serta kekurangan asam
folat dan vitamin B.

Kenali Efek Samping dan Bahaya Nitrofurantoin


Sama seperti obat-obatan lain, nitrofurantoin juga berisiko
menyebabkan efek samping. Beberapa efek samping yang umum
terjadi setelah menggunakan obat ini adalah:
 Sakit kepala
 Perubahan warna pada wajah dan kulit menjadi kekuningan
 Rasa sakit pada dada
 Meriang dan merasa tidak enak badan

22
 Batuk atau suara serak
 Demam
 Gatal-gatal
 Rasa sakit pada persendian atau otot
 Nafas pendek hingga kesulitan bernapas
 Kesulitan menelan

2.5. Indeks Keamanan Kehamilan Antibiotik


Obat dikategorikan berdasarkan resiko terhadap sistem reproduksi dan
perkembangan janin dan besarnya perbandingan resiko dan manfaat.
1. Kategori A : Studi terkontrol pada wanita hamil tidak memperlihatkan
adanya risiko terhadap janin pada kehamilan trimester 1 (dan tidak ada
bukti mengenai risiko pada trimester selanjutnya), dan sangat rendah
kemungkinannya untuk membahayakan janin.
2. Kategori B: studi pada system reproduksi binatang percobaan tidak
memperlihatkan adanya risiko terhadap janin, tetapi studi terkontrol pada
wanita hamil belum pernah dilakukan. Atau studi terhadap reproduksi
binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping obat (selain
penurunan fertilitas) yang tidak diperlihatkan pada studi terkontrol pada
wanita hamil trimester 1 (dan tidak ada bukti mengenai risiko pada
trimester berikutnya).
3. Kategori C : studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek
samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau efek samping
lainnya) dan belum ada studi terkontrol pada wanita atau studi terhaap
wanita dan binatang percobaan tidak dapat dilakukan . obat hanya dapat
diberikan jika manfaat yang diperoleh lebih besar dari risiko yang
mungkin ditimbulkan pada janin.
4. Kategori D : terbukti menimbulkan risiko terhadap janin manusia, tetapi
besarnya manfaat yang diperoleh jika digunakan pada wanita hamil dapat
dipertimbangkan (misalnya jika obat diperlukan untuk mengatasi situasi
yang mengancam jiwa atau penyakit serius dimana obat yang lebih aman
tidak efektif atau tidak dapat diberikan)

23
5. Kategori X : studi pada binatang percobaan atau manusia telah
memperlihatkan adanya abnormalitas janin berdasarkan pengalaman pada
manusia ataupun binatang percobaan, dan besarnya risiko obat ini pada
wanita hamil jelas jelas melebihi manfaat yang mungkin diperoleh. Obat
golongan ini dikontraindikasikan bagi wanita hamil atau
wanita kemungkinan untuk hamil.

2.5.1. Antibiotik yang perlu perhatian khusus ( Tidak boleh untuk ibu
hamil dan menyusui )
1. Golongan Aminoglikosida (biasanya dalam turunan garam sulfate-
nya), seperti amikacin sulfate, tobramycin sulfate, dibekacin sulfate,
gentamycin sulfate, kanamycin sulfate, dan netilmicin sulfate.
2. Golongan Sefalosporin, seperti : cefuroxime acetyl, cefotiam diHCl,
cefotaxime Na, cefoperazone Na, ceftriaxone Na, cefazolin Na,
cefaclor dan turunan garam monohydrate-nya, cephadrine, dan
ceftizoxime Na.
3. Golongan Chloramfenicol, seperti : chloramfenicol, dan
thiamfenicol.
4. Golongan Makrolid, seperti : clarithomycin, roxirhromycin,
erythromycin, spiramycin, dan azithromycin.
5. Golongan Penicillin, seperti : amoxicillin, turunan tridydrate dan
turunan garam Na-nya.
6. Golongan Kuinolon, seperti : ciprofloxacin dan turunan garam HCl-
nya, ofloxacin, sparfloxacin dan norfloxacin.
7. Golongan Tetracycline, seperti : doxycycline, tetracyclin dan
turunan HCl-nya (tidak boleh untuk wanita hamil), dan
oxytetracyclin (tidak boleh untuk wanita hamil).

2.5.2. Obat Antibiotik Aman Bagi Kehamilan


Berikut ini beberapa contoh antibiotic yang dinyatakan aman
digunakan selama kehamilan :
1. Amoxicillin

24
2. Ampicillin
3. Clindamycin
4. Erythromycin
5. Penicillin

2.5.3. Daftar Indeks Keamanan Obat Antibiotik untuk Ibu Hamiil atau
Kehamilan dan Menyusui :
Lactation Risk Categories Pregnancy Risk Categories
 L1 (safest)  A (controlled studies show no risk)
 L2 (safer)  B (no evidence of risk in humans)
 L3 (moderately safe)  C (risk cannot be ruled out)
 L4 (possibly hazardous)  D (positive evidence of risk)
 L5 (contraindicated)  X (contraindicated in pregnancy)

Antibiotika
Generik Dagang PRC LRC
amoxicillin Larotid, Amoxil Approved B L1
Aztreonam Azactam Approved B L2
Cefadroxil Ultracef, Duricef Approved B L1
Cefazolin Ancrf, Kefzol Approved B L1
Cefotaxime Claforan Approved B L2
Cefoxitin Mefoxin Approved B L1
Cefrozil Cefzil Approved C L1
Ceftazidime, Fortaz,
Ceftrazidime Approved B L1
Taxidime
Ceftriaxone Rocephin Approved B L2
Ciprofloxacin Cipro Approved C L3
Clindamycin Cleocin Approved B L3
L1
E-Mycin, Erytab,
Erythromycin Approved B L3 early
ERYC, Ilosone
postnatal
Fleoxacin - Approved - NR
Gentamicin Garamycin Approved C L2

25
Kanamycin Kebecil, Kantrex Approved D L2
Moxalactam Moxam Approved - NR
Nitrofurantion Macrobid Approved B L2
Ofloxacin Floxin Approved C L2
Penicillin - Approved B L1
Streptomycin Streptomycin Approved D L3
Sulbactam - Approved - NR
Gantrisin, Azo-
Sulfisoxazon Approved C L2
Gantrisin
Achomycin,
Tetracyclin Sumycin, Approved D L2
Terramycin
Ticarcillin, Ticar,
Ticarcillin Approved B L1
Timentin
Trimethoprim/
Proloprim, Trimex Approved C L3
sulfamethoxazole

26
2.6. Interaksi Obat/Makanan
Interaksi obat adalah interaksi yang terjadi ketika efek suatu obat
berubah karena adanya obat lain, makanan, dan lingkungan bahan kimia
yang diberikan secara bersamaan (Stockley, 1994). Dari peristiwa ini ada
2 kemungkinan, yakni meningkatkan efek toksik atau efek samping obat
atau berkurangnya efek klinik yang diharapkan (Anonim, 2000).
Penatalaksanaan interaksi obat dapat dilakukan melalui beberapa
strategi yaitu dengan mengganti obat untuk menghindari kombinasi obat
yang berinteraksi, penyesuaian dosis untuk mengimbangi kenaikan atau
penurunan efek obat, memantau pasien atau melanjutkan pengobatan bila
interaksi tidak bermakna secara klinik. Efek dari interaksi dapat
dikelompokkan menjadi 3 yaitu major jika efek yang dihasilkan dari
interaksi obat membahayakan hidup pasien atau menyebabkan kerusakan
yang permanen, moderate jika interaksi obat mengganggu status klinik
pasien sehingga perlu terapi tambahan, dan minor jika efek yang di
hasilkan tidak membahayakan dan tidak perlu terapi tambahan (Tatro,
2001).
Berikut contoh interaksi beberapa obat kehamilan:
Amoksilin : Amoksisilin dapat diminum dengan atau tanpa makanan
karena tidak saling memengaruh
Ampisilin : Absorbsi sebagian besar dipengaruhi oleh makanan.
Pengobatan lebih baik diberikan pada saat lambung kosong, 1 jam sebelum
atau 2 jam sesudah makan.
Eritromisin : Jika diberikan bersamaan dengan antasida, konstanta
kecepatan eliminasi eritromisin dapat turun, dan berikan 2 jam sebelum
atau sesudah makan. Eritromisin estolat dan etilsuksinat, dan eritromisin
base dalam bentuk tablet lepas lambat tidak dipengaruhi oleh makanan.
Tetrasiklin : Jika diberikan bersama antasida, garam besi, maka absorpsi
dan kadar serum tetrasiklin turun. Pengatasan: tetrasiklin diberikan 1 jam
sebelum atau 2 jam setelah antasida. Jika diberikan bersama kontrasepsi oral
maka tetrasiklin mempengaruhi resirkulasi enterohepatik kontrasepsi steroid,
sehingga menurunkan efeknya. Jika

27
diminum menggunakan susu, maka tertrasiklin akan membentuk khelat yang
sulit diabsorpsi.
Trimetoprin : Trimetoprim bisa diminum saat perut kosong atau, jika perut
terasa tidak nyaman, bisa dikonsumsi dengan makanan.
Nitrofurantion : bisa dikonsumsi dengan makanan.
Penicillin V : dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan. Penicillin V
paling baik diserap oleh tubuh ketika perut kosong (1 jam sebelum makan
atau 2 jam setelah makan).
Tabel 1. Produk Obat yang Mengandung Zat Besi
Obat Dosis Pemakaian dan Pertimbangan

Fero Sulfat PO : 300-600 mg/hari dalam Hematinic ; untuk anemia


dosis terbagi. 325 mg sehari defisiensi besi pada kehamilan
cukup untuk memenuhi klien ; kontraindikasi pada
hamil yang tidak mengalami
hipersensitivitas dan tukak
defisiensi besi ; pada
peptik; mengurangi absorbsi
defisiensi besi harus
tetrasiklin, penisilinamin,
menerima 325 mg 2-3 kali
antasida; absorbsi meningkat
perhari.
jika disertai vitamin C; absorbsi
berkurang bersama telur susu,
kopi, teh, dapat mengurangi
ketersediaan zink dalam diet
Fero Glukonat PO : 200-600 mg Hematinic ; untuk anemia
defisiensi besi pada kehamilan
; kontraindikasi pada
hipersensitivitas dan tukak
peptik; mengurangi absorbsi
tetrasiklin, penisilinamin,
antasida; absorbsi meningkat
jika disertai vitamin C; absorbsi
berkurang bersama telur susu,
kopi, teh, dapat mengurangi
ketersediaan zink dalam diet

28
Fero Fumarat PO : 200 mg Hematinic ; untuk anemia
defisiensi besi pada kehamilan
; kontraindikasi pada
hipersensitivitas dan tukak
peptik; mengurangi absorbsi
tetrasiklin, penisilinamin,
antasida; absorbsi meningkat
jika disertai vitamin C; absorbsi
berkurang bersama telur susu,
kopi, teh, dapat mengurangi
ketersediaan zink dalam diet
(Sumber : Hayes dan Kee, 1993)

29
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Obat yang aman untuk ibu hamil yaitu obat yang tidak menembus
plasenta.
2. Berikut adalah faktor obat menembus plasenta :
a. Kelarutan dalam lemak.
b. Derajat ionisasi.
c. Ukuran molekul .
d. Ikatan protein.
3. Berikut beberapa contoh antibiotik yang dinyatakan aman digunakan
selama kehamilan:
a. Amoxicillin
b. Ampicillin
c. Clindamycin
d. Erythromycin
e. Penicillin
4. Berikut adalah antibiotik yang mempengaruhi janin
a. Golongan Aminoglikosida (biasanya dalam turunan garam sulfate-nya),
seperti amikacin sulfate, tobramycin sulfate, dibekacin sulfate,
gentamycin sulfate, kanamycin sulfate, dan netilmicin sulfate.
b. Golongan Sefalosporin, seperti : cefuroxime acetyl, cefotiam diHCl,
cefotaxime Na, cefoperazone Na, ceftriaxone Na, cefazolin Na, cefaclor
dan turunan garam monohydrate-nya, cephadrine, dan ceftizoxime Na.
c. Golongan Chloramfenicol, seperti : chloramfenicol, dan thiamfenicol.
d. Golongan Makrolid, seperti : clarithomycin, roxirhromycin,
erythromycin, spiramycin, dan azithromycin.
e. Golongan Penicillin, seperti : amoxicillin, turunan tridydrate dan
turunan garam Na-nya.
f. Golongan Kuinolon, seperti : ciprofloxacin dan turunan garam HCl-nya,
ofloxacin, sparfloxacin dan norfloxacin.

30
g. Golongan Tetracyclin, seperti : doxycycline, tetracyclin dan turunan
HCl-nya (tidak boleh untuk wanita hamil), dan oxytetracylin (tidak
boleh untuk wanita hamil).

31
DAFTAR PUSTAKA

· Katzung BG. 1987. Basic and Clinical Pharmacology,3rd edition. Lange


Medical Book : California.
· Speight TM. 1987. Avery’s Drug Treatment: Principles and Practice of
Clinical Pharmacology and Therapeutics, 3rd edition.ADIS press : Auckland.
· Suryawati S et al. 1990. Pemakaian Obat pada Kehamilan.Laboratorium
Farmakologi Klinik FK-UGM :Yogyakarta
· Departemen Kesehatan Republik Indonesia . 2006. Pedoman Pelayanan
Farmasi Untuk Ibu Hamil Dan Menyusui. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia : Jakarta
· Anonimus. 2011. MIMS Indonesia petunjuk konsultasi edisi 11. Medita
Indonesia : Jakarta
· http://kellymom.com/bf/can-i-breastfeed/meds/aap-approved-
meds/#Antibiotics

32
LAMPIRAN I
Soal :
1. Berikut ini yang tidak termasuk dalam factor-faktor yang dapat memengaruhi
efek pada janin adalah…
a. Efek obat jika diberikan dalam bentuk kombinasi
b. Lamanya pemaparan terhadap obat
c. Obat didistribusikan ke jaringan-jaringan yang sama pada janin
d. Periode perkembangan janin saat obat diberikan.
e. Sifat fisikokimiawi dari obat

2. Kriteria obat yang dapat secara mudah melintasi plasenta adalah…


a. Obat yang memiliki lipofilik rendah
b. Obat yang tidak terionisasi
c. Obat dengan berat molekul 1500
d. Obat dengan berat molekul 500
e. Obat dengan kadar rendah

3. Hal-hal di bawah ini yang memengaruhi perpindahan obat lewat plasenta


adalah, kecuali…
a. Kelarutan dalam lemak
b. Ikatan lemak
c. Derajat ionisasi
d. Ukuran molekul
e. Ikatan protein

4. Pada umur kehamilan kurang dari 3 minggu. Pada fase ini obat dapat memberi
pengaruh buruk atau mungkin tidak sama sekali. Jika terjadi pengaruh buruk
biasanya menyebabkan kematian embrio atau berakhirnya kehamilan
(abortus). Fase ini merupakan fase…
a. Fase implantasi
b. Fase embrional
c. Fase organogenesis

33
d. Fase fetal
e. Fase natal

5. Obat-obat yang melewati plasenta akan memasuki sirkulasi janin lewat vena
umbilikal. Sekitar ... ... ... darah yang masuk tersebut akan masuk hati dan
janin.
a. 20 – 40%
b. 40 – 60%
c. 60 – 80%
d. 80 – 100%
e. 80 – 90%

6. Mekanisme berbagai obat yang menghasilkan efek teratogenik belum


diketahui dan mungkin disebabkan oleh multi faktor.
a. Obat dapat bekerja langsung pada jaringan ibu dan juga secara tidak
langsung mempengaruhi jaringan janin.
b. Obat mungkin juga menganggu aliran oksigen atau nutrisi lewat plasenta
sehingga mempengaruhi jaringan janin.
c. Obat juga dapat bekerja langsung pada proses perkembangan jaringan
janin, misalnya vitamin A (retinol) yang memperlihatkan perubahan pada
jaringan normal. Dervat vitamin A (isotretinoin, etretinat) adalah
teratogenik yang potensial.
d. Kekurangan substansi yang esensial diperlukan juga akan berperan pada
abnormalitas. Misalnya pemberian asam folat selama kehamilan dapat
menurunkan insiden kerusakan pada selubung saraf , yang menyebabkan
timbulnya spina bifida.
e. Semua benar

7. Adapun beberapa farmakokinetika obat selama kehamilan yaitu...


a. Absorpsi
b. Distribusi
c. Eliminasi

34
d. Semua benar
e. Semua Salah

8. Efek samping yang mungkin muncul akibat mengonsumsi sefalosporin,


antara lain adalah.
a. Diare.
b. Keguguran
c. Demam
d. Batuk
e. Kesulitan menelan

9. Jenis obat yang aman dikonsumsi saat kehamilan adalah.


a. Ampicillin
b. Sefalosporin
c. Sulfonamida
d. Tetrasiklin
e. Salisilamida

10. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi efek pada janin adalah.


a. Kelarutan pada lemak
b. Lamanya pemaparan terhadap obat
c. Ukuran molekul
d. Ikatan protein
e. Gangguan fungsional

35