Anda di halaman 1dari 9

Mengatasi Kesedihan Saat Buah

Hati Berpulang
Juli 19, 2013
ilafadilasari TIPS Tinggalkan komentar

Angka kematian bayi hingga saat ini masih tinggi. Bayi adalah makluk kecil yang masih mudah terkena
serangan penyakit. Dia bisa meninggal karena penyakit bawaan, atau penyakit yang diderita setelah
lahir. Dulu, aku tidak pernah menduga bahwa anakku akan meninggal dalam usia yang teramat muda, 2
bulan 10 hari. Meskipun saat itu seorang perawat yang menyambut anakku di ruang UGD mengatakan,
untung anaknya cepat dibawa ke rumah sakit, kalau enggak “bisa lewat”…. Aku hanya tersenyum
mendengar kata-katanya. Aku yakin sekali, sebagai anak manusia, bayiku tidak akan mudah begitu saja
mati. Dia punya daya tahan, apalagi dia tidak memiliki penyakit bawaan.
Bayiku yang bernama Alvin Rafa saat itu menderita batuk, yg dlm bahasa kedokteran disebut
“Bronchohiolitis”. Sekujur tubuhnya, mulai dari badan, muka, hingga bibir, membiru bila batuknya akan
datang. Dan malam itu, kubawa dia ke rumah sakit karena napasnya tiba-tiba sesak. Mukanya, terutama
pelipis dan kening, kulihat membiru. Napasnya tersengal-sengal.

Itu adalah kali kedua Alvin dilarikan ke rumah sakit. Sebelumnya dia sempat pula dirawat di rumah sakit
itu karena pada suatu tengah malam, kudapati dia seperti orang tengah mendengkur keras. Suaranya
memenuhi ruangan, bahkan rumah kecil kami. Alvin saat itu menderita batuk, dan sudah dua kali ke
dokter. Waktu itu Alvin sempat dirawat lima hari di ruang Neonatal Care Unit.

Ketika pulang dari RS, kulihat belum ada perubahan. Alvin yang saat itu berusia 40 hari, masih batuk.
Ketika kutanyakan pada dokter yang merawat, untuk menyembuhkan batuk pada bayi memang
membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar tiga bulan. Aku sempat heran ketika itu, karena saat kami
pulang dari RS, tidak ada obat yang diberikan, ataupun resep yang musti ditebus.

Ketika Alvin dilarikan ke RS untuk kedua kalinya itu (selang 18 hari kemudian, dan dalam jangka waktu
itu kami sempat membawanya dua kali ke dokter spesialis), ternyata Alvin tak boleh lagi masuk ruang
NICU, karena usianya sudah lebih dari 40 hari. Dia harus dirawat di ruang anak. Tapi saat itu ruang anak
sedang penuh. Jadilah kami keliling rumah sakit pada tengah malam itu, dengan menyewa ambulance.
Ada rumah sakit yang menyatakan sedang tidak ada dokter praktek, ada yang menyatakan tidak ada
ruang ICU anak, dsb.

Singkat cerita, akhirnya kami diterima di sebuah rumah sakit swasta. Dokter yang memeriksanya
menyarankan agar Alvin masuk ruang ICU alias Intensive Care Unit. Sampai disini, aku masih saja
berprasangka baik. Kukira dia harus masuk ICU karena semua aktivitas organ tubuhnya harus dipantau
secara prima, karena dia masih bayi, dan tidak bisa menyatakan apa yang sedang dikeluhkan.

Untuk bisa dirawat di ruang ICU, kami harus membayar Rp 4 juta sebagai jaminan. Kebetulan saat itu
suamiku membawa uang Rp 1 juta. Sisanya, yang Rp 3 juta, kami berjanji akan membayarnya dalam
tempo dua hari, setelah menandatangani surat pernyataan kesanggupan di atas materai.
Ternyata Alvin melepas nyawanya di ruang ICU tersebut. Setelah dirawat selama delapan hari, Alvin
kritis, lalu meninggal. Aku kaget bukan kepalang. Tak percaya. Oh, itukah yang namanya takdir. Takdir
adalah sebuah ketetapan tuhan, meskipun tak masuk akal.

Ini beberapa tip mengatasi kesedihan yang pernah kualami.

1. Apapun penyebabnya, takdirlah penentunya


Sakit memang, harus menerima kenyataan itu. Tapi apa boleh buat, kalau tuhan sudah berkehendak,
atas nama takdir, semua bisa terjadi. Mengikhlaskan memang sulit, tapi perlahan-lahan harus
diupayakan. Sering bergeraknya waktu, rasa sedih perlahan akan terkikis, asalkan kita bisa melakukan
hal-hal yang positif. Jangankan kita manusia biasa, nabi Muhammad pun meneteskan air mata ketika
puteranya meninggal.

2. Selalu ingat kepada Allah


Seperti dikatakan di atas, semua adalah kehendak tuhan. Meskpun pedih, usahakan untuk tidak
membanding-bandingkan nasib kita dengan orang lain, baik itu saudara, teman, ataupun tetangga. Setiap
orang ada jalan hidup dan suratan masing-masing. Ada kalimat teman saya yang sangat membekas di
hati, yaitu: Kita adalah orang-orang rugi yang diuntungkan. Rugi karena kita dipisahkan dari orang yang
dicintai. Diuntungkan karena tidak semua orang mendapat rahmat seperti itu. Jadi, tetaplah selalu
mengingat dan mendekatkan diri pada Allah. Buatlah hati-Nya luluh dengan ketegaran hati anda
menghadapi musibah. Rajinlah sholat termasuk sholat sunat, wirid, dan membaca Al Qur’an.

Pengalaman saya, shalat berjamaah di masjid, membuat hati terasa lapang. Karena saat itu akan
muncul perasaan, bahwa tidak hanya saya yang mengharapkan rahmat dan kasih sayang Allah, tapi juga
puluhan atau bahkan ratusan umat manusia lainnya yang sedang bersama-sama saya sholat berjamaah.
Saya sampai menangis saat mendengar takbir menggema ketika sholat hari raya di lapangan, tak lama
setelah kematian Alvin. Ah, betapa kecilnya umat manusia, kata benak saya ketika itu. Hingga tak aneh,
anakku bisa diambil-Nya.

3. Anak yang meninggal adalah tabungan (pahala) bagi orang tuanya di akherat.
Dulu sebelum anak meninggal, aku tak pernah mendengar kalimat itu. Maka ketika ada seorang kawan
yang menyatakannya, aku sempat terkesima. Benarkah? Dan setelah kucari-cari, ternyata sumbernya
kuat juga. Diantaranya diriwayatkan Bukhari-Muslim, Rasulullah saw pernah berkata pada seorang
perempuan. “Tiada di antara kalian perempuan yang ditinggal mati tiga anak-anaknya kecuali ketiga anak
tersebut menjadi penghalang (hijab) bagi perempuan itu dari api neraka. Seorang perempuan bertanya,
“Kalau dua orang anak?” Jawab Rasul, “(Ya) dan dua orang anak.”

Hadis di atas hanya menyebutkan sampai dua orang anak saja. Bagaimana kalau satu anak saja yang
meninggal? Seandainya waktu itu ada perempuan lagi yang menanyakan “Bagaimana jika yang
meninggal satu anak saja?”, kemungkinan besar Rasul juga akan mengiyakan. Artinya bilangan dua itu
tidak menjadi batas. Dalam kontek yang sama, dalam hadist lain yang diriwayatkan al-Nasa’iy, Rasulullah
berkata : “Tidakkah menggembirakanmu, bahwa kamu kelak akan melihat anakmu membukakan pintu
sorga dan berjalan menjemputmu?”.
Dalam lain, Riwayat Muslim, diceritakan ada seorang bernama Abu Hissan, yang dua anak laki-lakinya
meninggal. Abu Hissan ini dekat dengan Abu Hurairah, hingga ia menganggap Abu Hurairah itu sebagai
juru bicara Rasul yang senantiasa membawa kabar dari tentang Rasul. Setelah musibah meninggalnya
dua anaknya itu, Abu Hissan meminta Abu Hurairah agar memberinya hadist-hadist Rasulullah yang
menghibur orang-orang yang lagi berduka cita karena keluarganya meninggal.

Lantas Abu Hurairah berkata (dengan terjemah bebas begini), ” Anak-anak kecil mereka adalah anak-
anak kecilnya sorga.” Maksudnya, anak-anak yang meninggal masih kecil akan menjadi penghuni sorga,
dan tak akan meninggalkannya. “Salah satu mereka (anak-anak kecil penghuni sorga itu) akan menemui
orang tuanya. (Setelah ketemu) dia memegangi kuat-kuat baju orang tuanya, tak akan melepaskannya
sampai Allah memasukkannya bersama kedua orang tuanya ke dalam sorga.” Hadits-hadis ini aku kutif
dari situs www.pesantrenvirtual.com
Tentu saja yang namanya tabungan atau celengan, bukanlah penentu segalanya. Dia hanya sebagai
penolong saja. Andai pahala kita di dunia ini cukup memadai, ditambah pahala dari sang tabungan, maka
kita akan sangat terbantu untuk lolos dari api neraka. Lain halnya bila dosa kita terlalu banyak, bantuan
dari sang tabungan, tentu belum bisa membantu. Kita masih harus dipanggang lebih dulu di api neraka.
Hikmah hadist tersebut, tingkatkanlah amal ibadah anda, karena anda sudah punya “modal” di akherat.
Ayo, jangan kecewakan anak anda yang sudah menunggu disana!

4. Sampaikan uneg-uneg anda pada orang terdekat yang mengerti anda.


Ini sangat penting, untuk melepaskan beban di pikiran anda agar tersalurkan secara positif. Tidak pada
semua orang anda bisa menumpahkan perasaan itu. Pilihlah dan kenali pribadi dan sejauh mana
kedekatan dengan anda. Orang dekat itu bisa suami, ibu kandung, adik atau kakak kandung, dsb. Semua
orang yang bertemu dengan anda pasti akan mengatakan supaya anda ikhlas, sabar, tawakal, dsb.Tapi
kebanyakan kata-kata itu klise belaka (hiks, sori), sekedar untuk menyatakan simpati atau bahkan basa
basi.

Hingga tak jarang, mendengar kata-kata itu membuat kita justru menjadi jengkel dan marah, seolah kita
tidak mengerti agama (hehe). Dulu, saya bisa bebas berkata-kata pada ibu saya, yang selama 40 hari
pertama saya minta mendampingi saya di rumah (ibu saya tinggal di kampung). Selama 40 hari itu
bahkan saya tidur dengan ibu saya. Kami sering membahas kebiasaan dan rutinitas yang dilakukan saat
sang bayi masih ada.

Apapun yang saya katakan, selalu disambut ibu saya dengan ringan dan tawa. Kadang kami nangis
bersama, tapi kemudian tertawa bersama, menertawakan kecengengan itu. “Udah ah, jangan nangis,
ingat kan ada bukunya, Laa Tahzan, Laa Tahzan,” begitu kata ibu saya, menyebut judul sebuah buku
agama yang artinya “Jangan Bersedih”, yang amat saya suka. Ibu saya pernah berkata, bahwa
kesedihannya dua kali lipat dari kesedihan saya. Kalau saya, kesedihan hanya karena karena
memikirkan anak. Sedangkan ibu, sedih memikirkan cucu, dan memikirkan anaknya (saya). Saya
bersama ibu jadi rajin membaca buku agama, untuk saling menguatkan hati.

5. Bukan anda sendiri yang mengalaminya


Seperti disebutkan pada awal tulisan ini, angka kematian bayi itu masih tinggi. Artinya, kasus kematian
bayi bukan sesuatu yang langka. Ada banyak orang tua yang mengalami hal sama dengan anda,
kehilangan sang buah hati. Bahkan ada kalanya kehadiran sang buah hati itu setelah sudah bertahun-
tahun ditunggu. Ketika dia hadir, duka itupun menyergap. Berkacalah pada pengalaman orang lain. Dulu
ketika aku dirundung duka, aku banyak bertemu, baik secara langsung maupun melalui media jejaring
sosial, dengan teman-teman yang senasip. Ternyata banyak sekali orang, termasuk teman dekat, yang
mengalami kejadian seperti saya, bahkan kejadiannya lebih tragis.

Waktu itu aku beberapa kali menulis status di facebook tentang anak yang berpulang. Ternyata banyak
menanggapi, dan menyatakan kejadian itu pernah pula menimpa mereka. Misalnya ada orang kawan
lama yang mengatakan dua anaknya–yang pertama dan kedua– meninggal, ada yang dua kali
keguguran lalu punya anak dan meninggal. Ada pula yang anaknya tiga orang meninggal, bahkan ada
pula yang empat anaknya meninggal. Tentu, “berkeluh kesah” dengan orang tua seperti mereka sangat
banyak mendapat masukan, bagaimana cara mereka mengisi hari-hari penuh duka dan mengatasi
kesedihan.

6. Jangan saling menyalahkan


Kehilangan buah hati adalah kesedihan yang sangat dalam bagi kedua orang tuanya. Terlebih lagi bagi
sang ibu, yang sudah mengandung selama sembilan bulan. Dan bisa jadi, si ibu menjalani kehamilan
yang tidak sehat, seperti harus mual muntah yang berkepanjangan, tubuh selalu lemas, pendarahan,
flek-flek, dan sebagainya, sehingga harus istirahat di tempat tidur (bedrest).. Kehamilan yang lemah, lalu
berakhir dengan meninggalnya sang anak, tentu membuat jiwa makin terguncang.

Tidak perlu saling menyalahkan diantara orang tua. Misal, ibu menyalahkan si bapak, karena dianggap
kurang perhatian pada anak semasa hidup, lambat membawanya ke rumah sakit, atau tidak mampu
membiayai pengobatan yang mahal. Si bapak jangan pula menyalahkan ibu dengan kalimat tidak becus
merawat bayi, kurang menjaga kesehatan selama hamil, atau bahkan tidak menghendaki si anak lahir ke
dunia. Semua tudingan itu akan semakin menyakitkan hati masing-masing, penuh penyesalan yang tak
berkesudahan, hingga memperpanjang masa duka.

Saya sering mendengar bagaimana kematian anak justru makin merekatkan hubungan suami istri dalam
suatu keluarga. Teman saya, seorang laki-laki, mengaku semakin cinta dan sayang pada istrinya ketika
seorang anak mereka meninggal. Dia mendampingi sang istri pada hari-hari penuh duka, menguatkan
hati, sehingga cintapun semakin kuat. Padahal sebelumnya, teman saya ini kerap “melirik” perempuan
lain.

Atau menurut pengakuan teman saya seorang perempuan, bahwa dia dan suami sebenarnya menikah
tanpa didasari cinta. Teman saya itu punya pacar, dan mereka sudah hampir mereka. Keduanya kerap
bertengkar, karena masing-masing adalah pribadi yang keras. Tapi sejak anak sulung mereka meninggal,
pribadi mereka masing-masing menjadi melunak, saling membutuhkan, dan makin merekatkan kasih
sayang. Setiap kali ada pertengkaran dan terlontar rasa ingin bercerai, mereka langsung ingat, bahwa
mereka telah “disatukan” oleh rasa kehilangan buah hati yang amat menyakitkan.

7. Berikanlah semua perabotan bayi anda pada orang lain


Perabotan bayi seperti baju, celana, bedong, popok, kaus tangan, kaus kaki, perlak, selimut, dan
sebagainya, amat sangat menyiksa untuk dipandang bila sang buah hati telah tiada. Pikiran akan
melayang kemana-mana melihat perabotan yang tidak ada lagi “pemiliknya”. Begitu pula bila ada pakaian
yang belum sempat dikenakan, baik hadiah dari orang lain atau beli sendiri, kelak akan ada pikiran:
harusnya anakku cantik atau ganteng sekali, saat memakai baju ini atau baju itu. Semua perabotan itu
akan mengingatkan pada kenangan yang amat pahit.

Karena itu, “enyahkanlah” semua perabotan itu dari pandangan anda, atau bahkan dari rumah anda.
Memberikan pada orang lain yang lebih membutuhkan, akan lebih terasa menyenangkan. Bukankah
untuk sementara anda tidak membutuhkan perabotan itu. Atau berikan sebagian saja, perabotan yang
kecil-kecil. Lemari pakaian atau boks bayi, bisa saja tetap anda simpan untuk anak yang akan lahir
berikutnya. Atau bisa saja tidak memberikan pada siapapun semua perabotan bayi anda, dengan syarat
simpanlah pada tempat yang cukup kukuh dan tidak mudah anda buka-buka, terutama pada tiga bulan
pertama kehilangan tersebut.

Saya dulu memberikan semua perabotan Alvin, termasuk pakaian yang belum pernah dia pakai. Apalagi
saat Alvin lahir, kakaknya, Aliza, masih berusia 1,7 tahun. Dia masih membutuhkan banyak bedong
sebagai alas ngompol saat tidur di malam hari. Bayangkan, bila Aliza memakai bedong yang biasa
dikenakan Alvin, bagaimana perasaan saya melihatnya. Tapi lemari pakaian pemberian adik saya, boks
bayi, dan bath up bayi, tidak saya berikan pada orang lain.

8. Simpanlah segala sesuatu yang berkaitan dokumen bayi anda


Mungkin anda masih membutuhkan kenangan terhadap bayi yang meninggal, dengan asumsi, nanti bila
kesedihan sudah mereda, anda ingin kembali melihatnya. Kenangan itu bisa berupa foto, video, akta
kelahiran, surat keterangan kelahiran, atau hasil rontgen saat di rumah sakit. Simpanlah semua dokumen
itu rapat-rapat, atau bila perlu, titipkan terlebih dahulu pada keluarga lain. Nanti bila emosi dan kesedihan
anda sudah stabil, anda bisa mengambilnya lagi sebagai kenangan.

9. Persibuk diri dengan aktivitas, jangan mengurung diri


Berbahagiakan bagi ibu yang bekerja atau mempunyai pekerjaan di luar rumah. Pekerjaan bisa menjadi
hiburan yang amat besar. Ibu bisa bersosialisasi dengan rekan-rekan kerja, mengeluarkan energi negatif
kesedihan menjadi energi positif di tempat kerja. Fokuskanlah pikiran pada pekerjaan yang bertumpuk-
tumpuk, atau tambahlah beban kerja anda. Tentu saja dengan tetap memperhitungkan aspek kesehatan.

Misal, bila anda seorang pegawai yang kerja hingga pukul dua sore, tak ada salahnya di rumah
melanjutkan pekerjaan lain lagi dengan membuat bisnis membuat kue, katering, bertanam bunga, dan
sebagainya, yang tentunya sesuai minat dan kemampuan.

Bila anda hanya seorang ibu rumah tangga, carilah pekerjaan yang dapat mengisi waktu anda secara
padat. Ada teman saya yang ikut bisnis online dari rumah. Keinginannya yang kuat untuk menghilangkan
kesedihan membuatnya amat serius menekuni pekerjaan itu, hingga dia terbilang sukses dalam bisnis
tersebut. Dalam tempo dua tahun, penghasilannya justru mengalahkan gaji suaminya yang seorang PNS
golongan menengah.

Sedang saya sendiri, saat ditinggal Alvin, memfokuskan diri menulis buku, dan memikirkan materi buku
itu setiap hari siang dan malam. Saking sibuknya, pada hari ke 120, saya baru sadar, kalau peringatan
100 hari Alvin sudah lewat. Padahal rencananya kami akan menggelar Yasinan dan mengundang para
tetangga. Alhamdulillah, buku setebal 300 halaman lebih itu, bisa saya selesaikan dan terbit dalam tempo
enam bulan.
Tidak ada salahnya anda dan suami berjalan-jalan, berlibur, rekreasi ke kota lain, menginap di cottage
atau hotel, untuk menyenang-nyenangkan hati. Intinya, jangan sampai mengurung diri dan larut dalam
lamunan. Banyak ibu yang stres hingga sakit berkepanjangan, bahkan ada pula yang kemudian
menyusul sang bayi, karena tidak mampu mengatasi kesedihan.

10. Tidur di “ruang terbuka” membuat lebih leluasa bernapas


Pada hari-hari pertama kematian anak anda, cobalah untuk tidur di tempat terbuka dan luas. Misal di
ruang tengah rumah, ruang tamu, dan sebagainya. Tidur dalam kamar yang sempit, apalagi terkunci dan
tertutup rapat, membuat pikiran bisa sumpek dan otak seolah terkunci dalam kesedihan. Dulu aku selama
beberapa hari tidak bisa tidur kamar, dan merasa sangat nyaman tidur di ruang tengah rumah orang tua
saya. Kebetulan rumah orang tua di kampung (Alvin dimakamkan di kampung), cukup besar. Aku tidur
bersama ibu di “ruang terbuka” itu. Sedangkan Aliza dan papanya tidur di kamar.

Itulah sedikit tip dan trik mengatasi kesedihan saat buah hati berpulang, yang pernah ku alami. Tentu
masih banyak cara lain yang bisa menghibur hati, tergantung situasi dan kondisi anda Intinya, yang
paling utama adalah memfokuskan fikiran bahwa semua itu adalah kehendak tuhan yang tidak bisa
dilawan. Bila pikiran itu anda yakinkan dalam hati, apapun cara anda melepaskan diri dari duka, pasti
akan berujung bahagia. Ingatlah, anak hanyalah titipan tuhan. Kapan saja Dia mau mengambilnya, tidak
memerlukan persetujuan anda. Kuatkan hati anda agar lulus dari ujian yang sangat berat itu, karena
sesungguhnya ujian adalah cara tuhan menyeleksi kadar keimanan dan menambah kebahagiaan
hambanya.

Sebuah Hiburan Bagi Saudara-Saudaraku Yang


Tertimpa Musibah

3 Yang menilai
Sebuah Hiburan
Sekali lagi, kita diuji oleh Allah ta’ala dengan musibah gempa yang mengguncang Sumatera Barat dan sekitarnya.
Telah diberitakan sampai saat ini korban yang tewas mencapai 551 orang dan korban luka-luka mencapai 3435
orang (detik.com) dan jumlah ini bisa bertambah seiring ditemukannya ratusan korban yang masih terkubur dalam
reruntuhan bangunan. Sehingga akhirnya, entah berapa banyak seorang ibu yang kehilangan anaknya, berapa banyak
seorang anak yang kehilangan ibunya, dan berapa banyak seorang yang kehilangan orang-orang yang dicintainya,
berapa banyak rumah dan harta yang lenyap rata dengan bumi. Hanya bersabar dan pasrah kepada Allahazza wa
jalla saja yang mampu kita lakukan, dan sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan hanya kepada-Nya kita akan
kembali.
Melalui tulisan yang sederhana ini, penulis ingin menghibur saudara-saudaraku sesama muslim yang sedang ditimpa
musibah disana dengan hadits-hadits Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yang menyebutkan berita-berita gembira
dikarenakan musibah yang diujikan oleh Allah kepadanya. Hal ini sebagaimana Nabi shallallahu’alaihi wa
sallam yang pernah menghibur seseorang yang ketika itu sedang ditimpa musibah atau ditinggal mati oleh orang-
orang yang dicintainya didunia. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga pernah bersabda,
”Tidaklah seorang mukmin bertakziah (menghibur) saudaranya atas suatu musibah yang menimpanya melainkan
Allah ta’ala akan memakaikan perhiasan kemuliaan pada hari kiamat kepadanya”. (HR. Ibnu Majah, dihasankan
oleh an-Nawawi[1] dan Al-Albani[2])
Semoga tulisan ini menjadi penghibur duka dan lara bagi kaum muslimin….
1. Surga bagi yang bersabar menerima musibah sejak pertama kali
Dari Abu Umamah, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, ia bersabda:
“Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: ‘Wahai anak adam, jika engkau bersabar dan mengharap pahala sejak
pertama kali tertimpa musibah maka Aku tidak rela memberikan pahala untukmu selain surga’” (HR. Ibnu
Majah. Al-Bushiri berkata: “Sanad hadits ini shahih, dan perawinya tsiqaat”, Al-Albani berkata: “Hadits ini hasan”)
2. Dihapuskannya dosa-dosa karena duka dan lara atas musibah yang ditimpanya
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
”Tidaklah rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit dan juga kesedihan yang menimpa seorang mukmin,
bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya”. (HR.
Muslim (IV/1993))
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda,
”Tidaklah seorang muslim termasuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya karena hal itu satu
derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya karena hal itu”. (HR. Muslim (IV/1991))
3. Surga bagi yang ditinggal mati oleh 2 atau 3 anaknya
Dari Abu Hurairoh radliyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda kepada wanita
Anshar:
“Tidaklah salah seorang di antara kalian ditinggal mati oleh tiga orang anaknya, kemudian ia bersabar dan
mengharap pahala atasnya, melainkan ia pasti masuk surga”. Lalu, salah seorang dari mereka bertanya: “Juga dua
orang wahai Rasulullah ?” Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam menjawab: “Juga dua orang” (HR. Muslim)
Dari Abu Hasan ia berkata:
”Aku berkata kepada Abu Hurairoh: ’Sesungguhnya dua anakku telah meninggal, maka adakah satu hadits dari
Rasulullah yang dapat engkau sampaikan, untuk menghibur hati kami dari kematian anggota keluarga kami ?’ Ia
berkata: ’Ya, anak-anak kecil mereka adalah anak-anak kecil penghuni surga’. Abu Hasan melanjutkan, ’Abu
Hurairoh berkata: ’Setiap dari mereka akan bertemu bapaknya’[3] lalu ia meraih bajunya[4] sebagaimana aku
meraih bajumu ini, dan ia tidak melepaskannya[5] sampai Allah memasukkannya beserta bapaknya ke dalam
surga”. (HR. Muslim)[6]
4. Surga bagi yang ditinggal mati oleh seorang anak yang dicintainya
Dari Mu’awiyyah bin Qurroh, dari ayahnya, ia berkata:
”Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan membawa anaknya. Nabi shallallahu’alaihi
wa sallam bersabda: ’Apakah engkau mencintainya ?’ Ia menjawab: ’Semoga Allah menyayangimu sebagaimana
aku menyayanginya’. Kemudian anak itu meninggal dunia. Sehingga Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pun
tidak pernah melihatnya kembali. Maka beliaupun menanyakan tentang keadaannya. (Ketika diberitahu dia
meninggal) Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda (menghibur ayahnya): ”Tidakkah engkau merasa
senang jika engkau mendatangi salah satu pintu surga sementara engkau mendapatkan dirinya di tempat itu dan
berusaha membukakan pintunya untukmu ?” (HR. An-Nasai, dishahihkan oleh Al-Albani[7])
Dari Abu Hurairoh radliyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Allah berfirman: ‘Tidak ada balasan di sisi-Ku bagi hamba-Ku yang beriman apabila Aku mencabut nyawa orang
yang dicintainya dari penduduk dunia kemudian ia bersabar dengan mengharap balasan pahala, melainkan (aku
balas dengan) surga’”. (HR. al-Bukhori)[8]
Ibnu Hajar mengatakan: “Ibnu Baththal menggunakan hadits ini sebagai dalil yang menunjukkan bahwa mereka
yang ditinggal pergi oleh seseorang anaknya sama dengan orang yang ditinggalkan oleh tiga orang anaknya. Begitu
pula halnya dengan dua orang anak”.[9]
5. Surga bagi yang ditinggal oleh orang-orang yang dicintainya dari penduduk dunia.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda di atas, Nabi bersabda:


“Allah berfirman: ‘Tidak ada balasan di sisi-Ku bagi hamba-Ku yang beriman apabila Aku mencabut nyawa orang
yang dicintainya dari penduduk dunia kemudian ia bersabar dengan mengharap balasan pahala, melainkan (aku
balas dengan) surga’”. (HR. al-Bukhori)[10]
6. Berdo’a atas musibah yang ditimpanya, niscaya akan diganti dengan yang lebih baik.
Berdoa-lah, insyaAllah kita akan mendapatkan yang lebih baik dari musibah yang telah mengambil anak-anak kita,
suami atau istri kita, dan harta benda kita, lihatlah musibah yang telah dialami oleh Ummu
Salamah radliyallahu’anha ketika terkena musibah ditinggal oleh suami tercintanya Abu Salamah.
Ummu Salamah radhiallahu ‘anha mengisahkan: Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
“Barang siapa ditimpa musibah, selanjutnya ia berkata:….
ْ ‫ون اللَّ ُه َّم أْ ُج ْر نِ ْي فِ ْي ُم ِص ْيبَ ِت ْي َوأ َ ْخ ِل‬
‫ف ِل ْي َخ ْي ًرا ِم ْن َها ِإنَّا ِ َّلِلِ َو ِإنَّا‬ ِ ‫ِإلَ ْي ِه َر‬
َ ُ‫اجع‬
Niscaya Allah melimpahkan pahala kepadanya dalam musibah yang menimpanya itu dan menggantikannya dengan
yang lebih baik dari apa yang telah sirna darinya.” Dan tatkala suamiku Abu Salamah meninggal dunia, akupun
mengucapkan ucapan itu, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ternyata
Allah menggantikanku dengan yang lebih baik dari Abu Salamah, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
(HR. al-Bukhari)
Penutup
Akhirnya, marilah kita beristighfar dan bertaubat, kembali kepada Allah ta’ala, karena tidaklah berbagai macam
musibah ditimpakan kepada kaum muslimin di Indonesia melainkan karena berbagai dosa dan kemaksiatan yang di
lakukannya. Allah ta’ala berfirman,
‫س َبتْ أ َ ْيدِي ُك ْم َويَ ْعفُو ع َْن َكثِير‬ َ َ ‫َو َما أ‬
َ ‫صابَ ُك ْم ِم ْن ُم ِصي َبة فَبِ َما َك‬
“Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah
mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Qs. Asy-Syuura: 30)
Oleh karena itu, marilah kita semua kembali kepada Allah, mantauhidkan Allah, jauhi kesyirikan, menyerulah
kepada yang ma’ruf dan mencegah kemunkaran, melaksanakan sholat lima waktu dan jangan menunda-nunda,
menunaikan zakat, meninggalkan praktek riba’, meninggalkan korupsi dan penggelapan uang milik negara/ umum,
meninggalkan judi dan segala bentuk turunannya, meninggalkan praktek sex bebas (zina), dan hendaknya kita
senantiasa beramal shalih yaitu ikhlas hanya kepada Allah dan meneladani Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.
Ingatlah firman Allah ta’ala yang memperingatkan kita agar bertaubat kepada-Nya setelah menimpakan azab kepada
suatu kaum yang fasiq,
“Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang
lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).(QS. As-Sajadah: 21)
Allah ta’ala juga berfirman,
“Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu
kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi). Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya. (QS. Az-Zumar:
54-55)
Semoga Allah memberi kita semua hidayah dan petunjuk yang lurus, dan istiqomah di atasnya…..amiin
Surabaya, 4 Oktober 2009 (15 Syawal 1430 H)
Oleh. Maramis Setiawan
Referensi:
 62 Amalan Pembuka Pintu Surga, oleh ’Abdullah bin ’Ali al-Ju’aitsin, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i
 Doa dan Wirid, oleh Ust. Yazid bin Abdul Qadir Jawwas, penerbit: Pustaka Imam Syafi’i
 Al-Quran dan Terjemahnya