Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Apotek adalah saranan pelayanan kefrmasian tempat dilakukan pratek

kefarmasian oleh apoteker. Apoteker merupakan tenaga ahli yang mempunyai

kewenangan di bidang ke farmasiaan yang berhubungan langsung dengan pasien

sebagai informasi obat. (Republik Indonesian,2017)

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang sedang berkembang.

Penyelenggaraan pembangunan dalam berbagai bidang, khususnya bidang

kesehatan, agar terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-

tingginya sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang

produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam mewujudkan derajat kesehatan yang

setinggi-tingginya bagi masyarakat, diperlukan pemanfaatan sumber daya

kesehatan yang optimal, satu diantaranya adalah sarana kesehatan, yaitu tempat

diselenggarakannya upaya kesehatan. (Presiden RI, 2009)

Salah satu sarana kesehatan, yaitu apotek, merupakan suatu tempat untuk

melakukan pekerjaan/ pelayanan kefarmasian, penyaluran sediaan, dan perbekalan

kesehatan lainnya kepada masyarakat. Kegiatan pelayanan kefarmasian pada

awalnya hanya berfokus pada pengelolaan obat sebagai komoditi. Saat ini,

pelayanan kefarmasian yang dilakukan dalam apotek telah mengalami pergeseran

orientasi dari obat ke pasien yang mengacu kepada pharmaceutical care

(Direktorat Jendral Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2006)

Pelayanan kesehatan di apotek dapat berjalan secara optimal dengan

adanya sumber daya manusia yang kompeten, yakni tenaga teknis kefarmasian.
Dalam pengelolaan apotek, tenaga teknis kefarmasian senantiasa harus memiliki

kemampuan menyediakan dan memberikan pelayanan yang baik, mengambil

keputusan yang tepat, kemampuan berkomunikasi antar profesi, kemampuan

mengelola SDM secara efektif, selalu belajar sepanjang karier, dan membantu

memberi pendidikan dan memberi peluang untuk meningkatkan pengetahuan.

(Direktorat Jendral Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2006).

Mengingat pentingnya peran seorang tenaga teknis kefarmasian dalam

penyelenggaraan kegiatan kefarmasian di apotek, maka calon S1 Farmasi perlu

dibekali pengetahuan dan pemahaman dalam penerapan peran tenaga teknis

kefarmasian di apotek. Dengan demikian, Program S1 Farmasi Univrsitas Sains

Cut Nyak Dhien Langsa telah bekerja sama dengan apotek kimia farma ahmad

yani Langsa dalam menyelenggarakan Kuliah Kerja Praktek (KKP) yang

berlangsung selama 1 bulan. KKP tersebut dilaksanakan pada periode 01 oktober

– 02 November 2018. Dengan adanya latihan praktek kerja tenaga teknis

kefarmasian ini, diharapkan calon S1 Farmasi dapat memahami serta menghayati

peran dan tanggung jawab seorang tenaga teknis kefarmasian di apotek, selain itu

juga dapat menambah pengetahuan serta meningkatkan keterampilan dalam

pekerjaan kefarmasiannya.

1.2 Tujuan Kuliah Kerja Praktek (KKP)

Adapun tujuan Kuliah Kerja Pratek(KKP) di apotek yaitu:

a.Untuk memahamin manajemen di apotek kimia farma ahmad yani

b.Untuk mengetahuin tugas pokok dan peran tenaga teknis kefarmasian di

apotek kimia farma


c.Untuk mengetahuin pelaksanaan pelayanan kefarmasian di apotek kimia

farma

1.3 Manfaat Kuliah Kerja Pratek (KKP)

Adapun manfaat Kuliah Kerja Pratek (KKP) di apotek yaitu:

1. Mengetahui, memahami tugas dan tanggung jawab apoteker dalam

mengelola apotek.

2. Mendapatkan pengalaman praktik mengenai pekerjaan kefarmasian di

apotek.

3. Mendapatkan pengetahuan manajemen praktis di apotek.

4. Meningkatkan rasa percaya diri untuk menjadi apoteker yang profesio

1.4 Waktu dan Tempat KKP

Waktu pelaksanaan pada tanggal 01 Oktober 2018 sampai dengan 02

November 2018 yang bertempat di Apotek Kimia Farma Ahmad Yani.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA UMUM APOTEK

2.1 Apotek

2.1.1 Definisi Apotek

Pengertian Apotek

Menurut Keputusan Menkes RI No.1332/Menkes/SK/X/2002 Apotek

merupakan suatu tempat tertentu untuk melakukan pekerjaan kefarmasian dan

penyaluran obat kepada masyarakat.

Definisi apotek menurut PP 51 Tahun 2009. Apotek merupakan suatu

tempatatau terminal distribusi obat perbekalan farmasi yang dikelola oleh

apoteker sesuai standar dan etika kefarmasian..

2.1.2 Tugas dan Fungsi Apotek

Apotek memiliki tugas dan fungsi sebagai berikut :

1. Tempatn pengabdian profesi seorang Apoteker yang telah mengucapkan

sumpah jabatan.

2. Sarana farmasi untuk melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencam-

puran dan penyerahan obat atau bahan obat.

3. Sarana penyaluran perbekalan farmasi dalam menyebarkan obat-obatan

yang diperlukan masyarakat secara luas dan merata.

2.2 Peran Tenaga Teknis Kefarmasian di Apotek

Menurut PP 51 Tahun 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian, Tenaga Tknis

Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apotker dalam menjalani pekerjaan

kefarmasian, yang terdiri atas Sarjana Farmasi, Ahli Madya Farmasi, Analis Farmasi,
dan Tenaga Mnengah Farmasi/Asisten Apoteker. Pelayanan Kefarmasian adalah

bentuk pelayanan dan bentuk tanggung jawab langsung profesi apoteker dalam

pekerjaan kefarmasian untuk menigkatkan kualitas hidup pasien (Menkes RI,2004).

Menurut PP 51 tahun 2009 pelayanan kefarmasian adalah suatu pelayanan

langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan

farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk menigkatkan mutu

kehidupan pasien.

Bentuk pekerjaan kefarmasian yang wajib dilaksanakan oleh seorang

Tenaga Teknis Kefarmasian (menurut Keputusan Menteri Kesehatan

RI No.1332/MENKES/X/2002adalah sebagai berikut:

1. Melayani resep dokter sesuai dengan tanggung jawab dan standart

profesinya.

2. Memberi informasi yang berkaitan dengan penggunaan/pemakaian obat.

3. Menghormati hak pasien dan menjaga kerahasiaan idntitas serta data

kesehatan pasien.

4. Melakukan pengelolaan apotek.

5. Pelayanan informasi mengenai sediaan farmasi.

Rekan-rekan sejawat PAFI, begitu banyak peran yang kita sumbangkan

dalam dunia kesehatan terutama dibidang pengobatan, akan tetapi masih saja

dipandang sebelah mata oleh profesi kesehatan lainya. Masyarakat pada umumnya

masih belum begitu mengenal profesi kita, masih sering kita disamakan dengan

bidan/perawat.

Merupakan sebuah tantangan bagi kita semua untuk lebih mengenalkan

profesi Tenaga Teknis Kefarmasian pada masyarakat, sehingga masyarakat akan

menjadikan kita sebagai tempat rujukan untuk memperoleh informasi mengenai


obat. sebagai generasi muda sudah menjadi tugas kita untuk membuat sebuah

perubahan. Satu hal lagi, teruslah berjuang untuk memajukan PAFI.

2.3 Instalasi Farmasi di Apotek

2.3.1 Pengololaan Pembekalan Farmasi di Apotik

1. Perencanaan

Perencanaan adalah prediksi kebutuhan sediaan farmasi dan perbekalan

kesehatan. Adapun ketentuan-ketentuan perencanaan adalah :

a. Doelmatig adalah pengadaan persediaan berupa Perbekalan Farmasi, ALKES

dan PKRT yang harus sesuai dengan tujuan atau rencana sebelumnya.

b. Rechmatig adalah pengadaan persedian yang harus sesuai dengan hak atau

kemampuan.

c. Wetmatig adalah pengadaan persediaan yang harus sesuai dengan

ketentuan yang berlaku.

Penerapan pelaksanaan perencanaan di Apotek Intan memakai cara

Konsumsi yaitu dengan melihat obat yang sering keluar dalam Resep dokter dan

dengan mempertimbangkan penyakit yang sering terjadi.

2. Pengadaan

Pengadaan adalah obat-obat yang persediaannya sudah mulai habis atau

menipis kemudian dituliskan dalam buku Defecta yang merupakan catatan

sediaan yang akan dipesan pada PBF.

3. Penerimaan

Penerimaan obat merupakan salah satu tanggung jawab Apoteker dan

Karyawan yang bertujuan untuk menghindari kesalahan pemesanan.Penerimaan


obat harus disesuaikan dengan Surat Pesanan (SP) dengan menyamakan segala hal

yang terdapat dalam obat yang telah dipesan.

4. Penyimpanan

Penyimpanan perbekalan farmasi diatur berdasarkan :

a. Penggolongan Obatyaitu :

 Obat Bebas

 Obat Bebas Terbatas

 Obat Tradisional

 Kosmetik

 ALKES dan PKRT.

b. Bentuk Sediaan

 Liquida : Potio, Tetes Mata, Inheler

 Semisolid : Salep, Krim, Gel, Ointment

 Solid : Tablet, Kaplet, Kapsul

c. Alphabetis

d. Kelas Terapi

Tujuan penyimpanan ini adalah untuk menghindari kesalahan

pengambilan obat karena nama dan kemasan yang hampir sama.

e. Berdasarkan Suhu

f. Metode FIFO, FEFO, dan LIFO

 First In First Out (FIFO) adalah penyimpanan obat berdasarkan

obat yang datang lebih dulu dan dikeluarkan lebih dulu.

 First Expired First Out (FEFO) adalah penyimpanan obat

berdasarkan obat yang memiliki tanggal kadaluarsa lebih cepat

maka dikeluarkan lebih dulu.


 Last In First Out (LIFO) adalah penyimpanan obat berdasarkan

obat yang terakhir masuk dikeluarkan terlebih dahulu.

g. Untuk obat Narkotik dan Psikotropik harus disimpan di lemari khusus

dua pintu dengan ukuran 40×80×100 cm dilengkapi kunci ganda.

5. Pendistribusian

Pendistribusian obat di Apotek bisa dialurkan dari Pabrik sebagai

Produksi kemudian PBF sebagai Penyalur lalu Apotek sebagai Pelayanan

dan Pasien sebagai Konsumen.

Sebuah Pabrik farmasi tidak diperbolehkan untuk menjual

langsung produk obat jadi kepada konsumen.

Obat Narkotik dan Psikotropik hanya bisa dipesan melalui Pabrik

Kimia Farma dan PBF Kimia Farma.

6. Pencatatan

Pencatatan adalah suatu kegiatan dimana setiap obat yang masuk

atau keluar harus dicatat dalam buku pembelian atau buku pendapatan.

Dalam buku pembelian berisi semua catatan pembelian obat yang

sudah dipesankan dan disesuaikan dengan faktur. Dalam buku pendapatan

berisi semua catatan pengeluaran obat.

Pengeluaran obat Narkotik dan Psikotropik dicatat dalam Buku

Register Narkotik dan Psikotropik dengan mencatatkan nama serta alamat

pasien, nama obat, jumlah obat yang keluar, tanggal keluar obat dan dokter

yang memberikan resep.

7. Pelaporan

Pelaporan obat Narkotik dan Psikotropik dilaporkan setiap 1 bulan

sekali ke Dinas Kesehatan (DINKES) yang dilakukan oleh Apoteker.


8. Pemesanan

Pemesanan obat bebas dan obat bebas terbatas dilakukan

menggunakan Surat Pesanan (SP) yang ditandatangani oleh APA yang

terdiri dari 2 rangkap Surat Pesanan.

Pemesanan obat Narkotika menggunakan 4 rangkap Surat Pesanan

(SP) diantaranya untuk PBF, Dinas Kesehatan, BPOM dan Arsip Apotek.

Khusus untuk Narkotik ditandatangani oleh APA dan dilengkapi dengan

nama jelas, nomor izin kerja, stempel Apotek.

Pemesanan obat Psikotropik menggunakan Surat Pesanan (SP)

2 rangkap diantaranya untukPBF dan Arsip Apotek.

2.3.2 Pelayanan Farmasi Klinis di Apotek

Farmasi Klinis merupakan praktek kefarmasian yang berorientasi kepada

pasien lebih dari orientasi kepada produk. Istilah farmasi klinik mulai muncul

pada tahun 1960-an di Amerika, yaitu suatu disiplin ilmu farmasi yang

menekankan fungsi farmasis untuk memberikan asuhan kefarmasian

(pharmaceutical care) kepada pasien, bertujuan untuk meningkatkan outcome

pengobatan.

Farmasi klinis merupakan praktek kefarmasian yang berorientasi kepada

pasien lebih dari orientasi kepada produk.

Tujuan farmasi klinis adalah memaksimalkan efek terapeutik,

meminimalkan risiko, dan meminimalkan biaya serta menghormati pilihan pasien.

Pekerjaan utama seorang farmasi klinis adalah berinteraksi dengan profesi

keseharan lain (misalnya dokter dan perawat), mewawancara dan menilai

kesesuaian kondisi kesehatan pasien terhadap pengobatannya, membuat


rekomendasi terapeutik yang spesifik, memantau tanggapan pasien terhadap terapi

obat, menjaga kesejahteraan pasien (khususnya dalam kaitannya dengan efek onat

yang tidak dikehendaki), mengkonsultasi pasien, dan memberi informasi obat.

Pelayanan farmasi klinis dapat bermanfaat untuk mengidentifikasi masalah

penting yang terkait dengan obat, mengurangi kejadian, menyempurnakan

pendidikan dan kepatuhan pasien, menyempurnakan peresepan, meyempurnakan

hasil klisis, meyempurnakan efektifitas klinis, meyempurnakan efektifitas biaya,

dan mempersingkat masa tinggal di rumah sakit.

* Pelayanan farmasi klinis di Apotek:

Kegiatan farmasi klinik yang dapat mempengaruhi penggunaan yang benar

obat-obatan pada tiga tingkatan yang berbeda: sebelum, selama dan sesudah resep

ditulis.

1. Sebelum resep

 Uji klinis

 Formularium

 Informasi Obat

 Apoteker klinis memiliki potensi untuk menerapkan dan mempe-

ngaruhi kebijakan narkoba, yakni, membuat keputusan yang layak obat

untuk dipasarkan, mana obat yang harus dimasukkan dalam

formularium nasional dan lokal, yang kebijakan resep dan pedoman

pengobatan harus dilaksanakan.

 Apoteker klinis juga aktif terlibat dalam uji klinis pada tingkat yang

berbeda: berpartisipasi dalam komite etika, studi pemantauan,

dispensasi dan persiapan obat yang diteliti.


2. Selama resep

 Kegiatan Konseling

 Apoteker klinis dapat mempengaruhi sikap dan prioritas resep dalam

memilih perawatan yang benar.

 Monitor apoteker klinis, mendeteksi dan mencegah interaksi obat yang

berbahaya, efek samping kesalahan pengobatan iklan melalui evaluasi

profil resep ‘.

 Apoteker klinis memberikan perhatian khusus terhadap dosis obat

yang perlu pemantauan terapeutik.

 Apoteker masyarakat juga dapat membuat keputusan resep langsung,

ketika obat bebas dikonseling

3. Setelah resep

 Konseling

 Penyiapan perumusan pribadi

 Evaluasi Penggunaan narkoba

 Hasil penelitian

 Studi Pharmacoeconomic

 Setelah resep ditulis, apoteker klinis memainkan peran kunci dalam

berkomunikasi dan konseling pasien.

 Apoteker dapat meningkatkan pasien ‘kesadaran perawatan mereka,

memantau respon pengobatan, memeriksa dan meningkatkan pasien

sesuai dengan obat mereka.

 Sebagai anggota dari tim multidisiplin, apoteker klinis juga

menyediakan perawatan terpadu dari ‘rumah sakit kepada masyarakat’


dan sebaliknya, menjamin kesinambungan informasi tentang risiko dan

manfaat dari terapi obat.

4. Pelayanan informasi obat (PIO)

Pelayanan informasi obat merupakan kegiatan yang dilakukan oleh

apoteker dalam pemberian informasi mengenai obat yang tidak memihak,

dievaluasi dengan kritis dan dengan bukti terbaik dalam segala aspek penggunaan

obat kepada profesi kesehatan lain, pasien atau masyarakat. Informasi mengenai

obat termasuk obat resep, obat bebas dan herbal. Informasi meliputi dosis, bentuk

sediaan, formulasi khusus, rute dan metoda pemberian, farmakokinetik,

farmakologi, terapeutik dan alternatif, efikasi, keamanan penggunaan pada ibu

hamil dan menyusui, efek samping, interaksi, stabilitas, ketersediaan, harga, sifat

fisika atau kimia dari obat dan lain-lain. Kegiatan pelayanan informasi obat di

apotek meliputi:

1) menjawab pertanyaan baik lisan maupun tulisan

2) membuat dan menyebarkan buletin/ brosur/ leaflet, pemberdayaan

masyarakat (penyuluhan)

3) memberikan informasi dan edukasi kepada pasien

4) memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada mahasiswa farmasi yang

sedang praktik profesi

5) melakukan penelitian penggunaan obat

6) membuat atau menyampaikan makalah dalam forum ilmiah

7) melakukan program jaminan mutu.


Pelayanan informasi obat harus didokumentasikan untuk membantu

penelusuran kembali dalam waktu yang relatif singkat dengan menggunakan

formulir sebagaimana terlampir.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam dokumentasi pelayanan informasi

obat:

1) Topik pertanyaan

2) Tanggal dan waktu pelayanan informasi obat diberikan

3) Metode pelayanan informasi obat (lisan, tertulis, lewat telepon)

4) Data pasien (umur, jenis kelamin, berat badan, informasi lain seperti

riwayat alergi, apakah pasien sedang hamil/ menyusui, data laboratorium)

5) Uraian pertanyaan

6) Jawaban pertanyaan

7) Referensi

8) Metode pemberian jawaban (lisan, tertulis, pertelepon) dan data apoteker

yang memberikan pelayanan informasi obat.

5. Pelayanan kefarmasian di rumah (home pharmacy care)

Apoteker sebagai pemberi layanan diharapkan juga dapat melakukan

pelayanan kefarmasian yang bersifat kunjungan rumah, khususnya untuk

kelompok lansia dan pasien dengan pengobatan penyakit kronis lainnya. Jenis

pelayanan kefarmasian di rumah yang dapat dilakukan oleh apoteker, meliputi :

1) Penilaian/ pencarian (assessment) masalah yang berhubungan dengan

pengobatan

2) Identifikasi kepatuhan pasien


3) Pendampingan pengelolaan obat dan/ atau alat kesehatan di rumah, misalnya

cara pemakaian obat asma, penyimpanan insulin

4) Konsultasi masalah obat atau kesehatan secara umum

5) Monitoring pelaksanaan, efektifitas dan keamanan penggunaan obat

berdasarkan catatan pengobatan pasien .

6) Dokumentasi pelaksanaan pelayanan kefarmasian di rumah.

2.3.3 Indikator Pelayanan Kefarmasian di Apotek


BAB III

TINJAUAN KHUSUS APOTEK

3.1 Profil Apotek

3.1.1 Profil Apotek Kimia Farma

A. Sejarah Kimia Farma Secara Umum

Kimia Farma merupakan pioner dalam industri farmasi indonesia.

Cikalbakal perusahan dapat diruntu balik ke tahun 1917. Ketika NV chemicaline

handle rahkamp & Co.perusaha farmasi pertama di Hinda Timur didirikan sejarah

dengan ke bijakan nasionalisasi bekas perusahan-perusahan Belanda. Pada tahun

1958 pemerintah melebur sejumlah perusahaan farmasi menjadi Bhineka Kimia

Farma (PNF).Selanjutnya pada tangga 16 agustus 1971 bentuk hukumnya diubah

menjadi perseroan terbatas (PT).Kimia Farma (persero). Sejak tanggal 4 juli 2001

Kimia Farma tercatat sebagai perusahaan publik di Bursa efek jakarta dan bursa

efek surabaya.

Berbekal tradisi industri yang panjang selama lebih dari 187 tahu dan

nama yang identik dengan mutu,saat ini kimia farma telah berkembang menjadi

sebuah perusahaan pelayanan kesehatan utama di indonesia yang memainkan

peranan penting dalam pengembangan dan pembangunan bangsa dan masyarakat.

B. Sejarah Kimia Farma Ahmad Yani

Apotek kimia farma ahmad yani merupakan salah satu apotek pelayanan dari

PT kimia farma apotek dan dan terletak dijalan ahmad yani. Apotek ini berdiri

pada tanggal 7 November 2016 dengan penanggung jawab ibuk Darah Fahria

Nopa, S.Farm.Apt. Apotek kimia farma ahmad yani dilengkapin dengan sarana

kesehatan ,yaitu praktik dokter kandungan,dokter anak dan dokter tulang .selain
itu terdapat pula saranan pedukung yang dapat digunakan pasien seperti toilet dan

musholla. Apotek kimia farma ahmad yani 15 jam setiap hari

3.1.2 Logo Kimia Farma

3.1.3 Visi dan Misi Apotek kimia farma

1. Visi

Menghasilkan pertumbuhan nilai korporasi melalui usaha di bidang-

bidang (PT Kimia Farma Tbk,2011).

2. Misi

Menghasilkan pertumbuhan nilai korporasi malalui usaha bidang-bidang

(PT Kimia Farma Tbk,2011)

a.Melakukan aktifitas ysaha di bidang industri kimia dan farma,perdagangan

dan jaringan distribusi,ritel farmasi dan layanan kesehatan serta optimalisasi

aset.

b. Mengelolah perusahan secara Good Corporate Governance dan Operation

Excellence didukung oleh sember dayah manusia profesional (SDM)

profesional.

c. Memberikan nilai tambahan dan manfaat seluruh Stakeholder.


3.1.4 Tujuan apotek kimia farma

Adalah turut serta dalam melaksanakan dan menunjang kebijaksanaan

serta program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional pada

umumnya, khususnya kegiatan usaha dibidang industri kimia, farmasi, biologi,

dan kesehatan serta industri makanan dan minuman. Selain itu juga bertujuan

untuk mewujudkan PT. Kimia Farma (persero) Tbk. sebagai salah satu pemimpin

pasar (market leader) di bidang farmasi yang tangguh. PT. Kimia Farma (Persero)

Tbk. mempunyai 3 fungsi yaitu:

a. Mendukung setiap kebijaksanaan pemerintah di bidang pengadaan obat,

mengingat PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. merupakan salah satu badan

usaha milik negara dalam bidang industri farmasi.

b. Memupuk laba demi kelangsungan usaha.

c. Sebagai ”agent of development” yaitu menjadi pelopor perkembangan

kefarmasian di Indonesia.
3.1.5 Struktur Organisasi Kimia Farma A.Yani

Bisnis Manager ( BM )
Drs. Roy Mustakim.,Apt

Pharmacy Manager ( PhM )

Dara Fahria Nopa,S,Farm.,Apt

ApotekerPendamping (APING )

Siti Amelia,S.Farm.,Apt

Karyawan Asisten
Apoteker Karyawan Non Asisten
Apoteker
1. Afnidar
2. Mawaddatul Rahmi 1. Irson
3. Wan Erna
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Peran Tenaga Teksi Kefarmasian (TTK)

Tenaga kefarmasian adalah tenaga yang melakukan pekerjaan kefarmasian

yang terdiri atas apoteker dan tenaga kefarmasian.Apoteker adalah sarjana farmasi

yang yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan

apoteker.Tenaga teknis kefarmasian adalah tenaga yang membantu apoteker dalam

menjalanin pekerjaan kefarmasian yang terdiri atas sarjana farmasi; ahli madya

farmasi, analis farmasi dan tenaga menengah farmasi/asisten apoteker.

4.2Pembahasan Resep

4.2.1 Skrining Resep


1. Inscription

a. Nama dokter :Dr. HELMIZA FAHRI, Sp.OT

b. SIP dokter : Tidak ada

c. Alamat dokter : Jln. Jend A. Yani No. 140 A-B Langsa

d. No. Telp : (0641)4840761

e. Tempat dan Alamat Penulisan Resep : Apotek Kimia Farma A.Yani

2. Invocation

Tanda R/ diawal penulisan resep :Ada

3. Prescriptio/Ordonatio

a. Nama obat :

1) Goflex

2) Mexpharrn 7,5

3) Osfit

4) Osteor

b. Kekuatan obat :Tidak Ada

c. Jumlah Obat : Ada Empat

4. Signatura

a. Nama Pasien : Ada

b. Jenis Kelamin : Tidak Ada

c. Umur Pasien : Ada

d. Berat Badan :Tidak ada

e. Almat Pasien :Ada

f. Aruran Pake Pasien :Ada

g. Iter/tanda lain :Tidak Ada


5. Subscriptio

Tanda tanggan/Paraf dokter:Tidak ada

4.2.2Copy Resep

4.2.3 Indikasi-indikasi Obat dalam Resep

1. Goflex

Osteoartritis,rematoid arttritis dan keadaan yang memerlukan

terapi dengan preparat anti inflamasi.

2. Mexpharm 7,5

Terapi simptomatik jangka pendek untuk osteoararthritis

eksaserbasi akut,terapi simptomatik jangka panjang untuk arthritis

reumatoid.

3. Osfit

Suplementasi untuk membantu memelihara kesehatan tulang dan

mengurangin risiko osteoporosis.

4. Osteor

Memilahara kesehatan fungsi persendian. (ISO)

4.2.4 Cara Pakai Obat Dalam Resep

1. Goflex 1 kali sahari (Pagi)

2. Mexpharm 1 kali sehari (Sore)

3. Osfit 1 kali sehari (Pagi)

4. Osteor 1 kali sehari (Sore)


4.4.5 Pemasalahan Dalam Resep
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

5.2 Saran

Saran yang dapat disampaikan dari hasil KKP adalah sebelum

melaksanakan KKP hendaknya mahasiswa membekali diri dengan ilmu

pengatahuan.
DAFTAR PUSTAKA