Anda di halaman 1dari 27

UNIVERSITAS JEMBER

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN FRAKTUR FEMUR


DI RUANG SERUNI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. SOEBANDI
JEMBER

OLEH:
Nishrina Dini Kurniawati, S. Kep
NIM 182311101059

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
OKTOBER, 2018
A. Konsep Teori tentang Penyakit

1. Review Anatomi Fisiologi


Tulang femur merupakan tulang pipa terpanjang dan terbesar didalam
tulang kerangka pada bagian pangkal yang berhubungan dengan asetabulum
membentuk kepala sendi yang disebut kaput femoris. Disebelah atas dan bawah
dari kolumna femoris terdapat laju yang disebut trokanter mayor dan trokanter
minor. Dibagian ujung membentuk persendian lutut, terdapat 2 buah tonjolan yang
disebut kondilus lateralis, diantara kedua kondilus ini terdapat lekukan tempat
letaknya tulang tempurung lutut (patella)yang disebut fosa kondilus.

Gambar 1. Anatomi tulang femur


Sistem muskular pada tulang femur, yaitu otot anterior, otot medial, dan
otot posterior, diantaranya :
1) Otot anterior femur
a) Quardriceps femoris
b) Rektus femoris
c) Vastus lateralis
d) Vastus medialis
e) Vastus intermedius
f) Pectineus
g) Sartorius
h) Iliopsoas
2) Otot medial femur
a) Adduktor longus
b) Adduktor brevis
c) Adduktor magnus
d) Gracilis
e) Osturator eksternus
3) Otot posterior femur Gambar 2. Anatomi otot femur

a) Semimembranousus
b) Semitendinosus
c) Bisep femoris
Sistem persyarafan yang berada pada tulang femur (Moffat & Faiz, 2002),
antara lain:
1. Syaraf anterior femur, yaitu nervus femoralis adalah saraf yang mensuplai
otot fleksor paha dan kulit pada paha anterior, regia panggul, dan tungkai
bawah atau nervus yang menginnervasi muskulus anterior.
2. Syaraf medial femur, yaitu nervus obturatorius adalah saraf perifer utama
dari ekstremitas bawah yang berfungsi menginnervasi muskulus adduktor
3. Syaraf posterior femur, yaitu nervus iskiadikus adalah saraf yang terbesar
dalam tubuh manusia yang mempersarafi regio cruralis dan pedis serta
otot-otot bagian di bagian dorsal regio femoris, seluruh otot pada crus dan
pedis, serta seluruh persendian pada ekstremitas inferior.
Sistem perdarahan pada tulang femur, antara lain:
1. Arteri digluteal dan posterior daerah paha
a. Arteri glutealis
b. Arteri glutealis inferior
c. Arteri pudenda interna
2. Arteri anterior dan medial paha
a. Arteri femoralis
b. Arteri profunda femoris
c. Arteri femoralis sirkumfleksa lateral
d. Arteri femoralis medial sirkumfleksa
e. Arteri obturtor
3. Vena pada tulag femur
a. Vena saphena besar
b. Vena femoralis

2. Definisi Fraktur
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis
dan luasnya (Brunner & Suddarth, 2001). Fraktur dapat terjadi di berbagai tempat
dimana terdapat persambungan tulang maupun tulang itu sendiri. Salah satu
contoh dari fraktur adalah yang terjadi pada tulang femur. Fraktur femur atau
patah tulang paha adalah rusaknya kontinuitas tulang pangkal paha yang
disaebabkan oleh trauma langsung, kelelahan otot, dan kondisi tertentu, seperti
degenerasi tulang atau osteoporosis (Muttaqin, 2008). Sedangkan trochanter
fraktur yaitu fraktur yang terjadi tepat dibawah leher femur. Patah tulang ini lebih
sering diperbaiki dengan bedah fiksasi dibanding dengan jenis fraktur femur
lainnya.
Gambar 3. Anatomi femur

3. Epidemilogi
Kasus fraktur femur merupakan yang paling sering yaitu sebesar 39%
diikuti fraktur humerus (15%), fraktur tibia dan fibula (11%), dimana penyebab
terbesar fraktur femur adalah kecelakaan lalu lintas yang biasanya disebabkan
oleh kecelekaan mobil, motor, atau kendaraan rekreasi (62,6%) dan jatuh dari
ketinggian (37,3%) dan mayoritas adalah pria (63,8%). Insiden fraktur femur pada
wanita adalah fraktur terbanyak kedua (17,0 per 10.000 orang per tahun) dan
nomer tujuh pada pria (5,3 per orang per tahun). Puncak distribusi usia pada
fraktur femur adalah pada usia dewasa (15 - 34 tahun) dan orang tua (diatas 70
tahun) (Desiartama dan Aryana, 2017).
Berdasarkan catatan medis dari semua pada pasien rawat inap di
Departemen Ortopedidan Traumatology RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama 1
Januari 2013-31 Desember 2016. Dari 972 data, 112 subjek dengan fraktur femur.
Kasus yang paling umum dari fraktur,terjadi pada usia 15-24 dengan 40 kasus
(36%). Sebagian besar kasus didominasi oleh jenis kelamin pria (72%). Fraktur
femur yang terbagi dalam beberapa klasifikasi misalnya saja pada fraktur
trochanter femur ini banyak terjadi pada wanita tua dengan usia lebih dari 60
tahun dimana tulang sudah mengalami osteoporotik, trauma yang dialami oleh
wanita tua ini biasanya ringan (jatuh terpeleset di kamar mandi) sedangkan pada
penderita muda ditemukan riwayat mengalami kecelakaan. Sedangkan fraktur
batang femur, fraktur suprakondilar, fraktur interkondilar, fraktur kondilar femur
banyak terjadi pada penderita laki – laki dewasa karena kecelakaan ataupun jatuh
dari ketinggian. Sedangkan fraktur batang femur pada anak terjadi karena jatuh
waktu bermain dirumah atau disekolah.

4. Etiologi
Pada dasarnya tulang bersifat relatif rapuh, namun cukup mempunyai
kekuatan dan daya pegas untuk menahan tekanan. Penyebab fraktur batang femur
antara lain (Muttaqin, 2011):
1) Fraktur femur terbuka
Fraktur femur terbuka disebabkan oleh trauma langsung pada paha.
2) Fraktur femur tertutup
Fraktur femur tertutup disebabkan oleh trauma langsung atau kondisi
tertentu, seperti degenerasi tulang (osteoporosis) dan tumor atau
keganasan tulang paha yang menyebabkan fraktur patologis.
Penyebab fraktur secara fisiologis merupakan suatu kerusakan jaringan
tulang yang diakibatkan dari kecelakaan, tenaga fisik, olahraga dan trauma dapat
disebabkan oleh: cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang
sehingga tulang patah secara spontan dan cedera tidak langsung berarti pukulan
langsung berada jauh dari lokasi benturan. Secara patologis merupakan suatu
kerusakan tulang yang terjadi akibat proses penyakit dimana dengan trauma dapat
mengakibatkan fraktur, hal ini dapat terjadi pada berbagai keadaan diantaranya:
tumor tulang, osteomielitis, scurvy (penyakit gusi berdarah) serta rakhitis
(Mansjoer, 2011).

5. Klasifikasi
Klasifikasi fraktur femur berdasarkan tempat terjadinya antara lain:
a. Fraktur Collum Femur
Fraktur collum femur merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan pada
wanita usia 60 tahun ke atas disertai dengan tulang yang mengalami osteoporosis.
Fraktur ini terjadi karena kecelakaan lalu lintas maupun jatuh dari tempat tinggi,
seperti terpleset dikamar mandi ketika panggul dalam keadaan fleksi dan rotasi.

Gambar 1. A. Fraktur impaksi. B. Fraktur leher femur. C. Fraktur leher femur


dengan perubahan letak.

Kaput femur mendapat aliran darah dari tiga sumber sebagai berikut:

1. Pembuluh darah intramedular di dalam leher femur


2. Pembuluh darah servikal asenden dalam retinakulum kapsul sendi
3. Pembuluh darah dari ligamen berputar

Pada saat terjadi fraktur, pembuluh darah intramedular dan pembuluh


darah retinakulum selalu mengalami robekan apabila terjadi pergeseran fragmen.
Fraktur transervikal adalah fraktur yang bersifat intrakapsuler dan mempunyai
kapasitas yang sangat rendah dalam penyembuhan karena adanya kerusakan
pembuluh darah, periosteum yang rapuh, serta hambatan dari cairan sinovial.
Komplikasi lebih sering terjadi pada fraktur dengan lokasi lebih ke proksimal. Hal
ini disebabkan karena vaskularisasi yang jelek dan redukti yang tidak akurat,
fiksasi yang tidak adekuat, serta lokasi fraktur adalah intra-artikular.
b. Fraktur Subtrochanter Femur
Fraktur subtrokhanter femur adalah fraktur dimana garis patahnya berada
5 cm distal dari trokhenter minor. Fraktur ini dibagi menjadi beberapa klasifikasi
antara lain:
1. Tipe 1: garis fraktur satu level dengan trokhenter minor
2. Tipe 2: garis patah berada 1-2 inci di bawah dari batas atas tronkhenter
minor
3. Tipe 3: garis patah berada 2-3 inci di distal dari batas atas trokhenter
minor
c. Fraktur Batang Femur
1. Tertutup
Hilangnya kontinuitas tulang paha tanpa disertai dengan kerusakan
jaringan kulit yang disebabkan oleh trauma langsung atau kondisi tertentu, seperti
degenerasi tulang (osteoporosis) dan tumor atau keganasan tulang paha yang
menyebabkan fraktur patologis.
2. Terbuka
Fraktur femur terbuka apabila terdapat terbagi dalam tiga derajat, yaitu:
1). Derajat I: adanya luka kecil yang diakibatkan tusukan fragmen tulang
dari dalam menembus keluar
2). Derajat II: luka lebih besar (>1 cm) disebabkan karena benturan
3). Derajat III: luka lebih luas dari derajat II, jaringan lunak banyak yang
ikut rusak (otot, saraf, pembluh darah).
d. Fraktur Supracondyler Femur

Fraktur suprakondiler fragmen bagian distal yang sering menjadi dislokasi


ke posterior. Hal ini disebabkan karena adanya tarikan dari otot-otot
gastroknemius. Fraktur suprakondiler disebabkan oleh trauma langsung kaena
kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya aksial dan stres valgus atau varus dan
disertai dengan gaya rotasi.

6. Patofisiologi/Patologi
Pada dasarnya penyebab fraktur itu sama yaitu trauma, tergantung dimana
fraktur tersebut mengalami trauma, begitu juga dengan fraktur femur ada dua
faktor penyebab fraktur femur, faktor-faktor tersebut diantaranya, fraktur
fisiologis merupakan suatu kerusakan jaringan tulang yang diakibatkan dari
kecelakaan, tenaga fisik, olahraga, dan trauma dan fraktur patologis merupakan
kerusakan tulang terjadi akibat proses penyakit dimana dengan trauma minor
dapat mengakibatkan fraktur (Rasjad, 2007).
Fraktur ganggguan pada tulang biasanya disebabkan oleh trauma
gangguan adanya gaya dalam tubuh, yaitu stress, gangguan fisik, gangguan
metabolik dan patologik. Kemampuan otot mendukung tulang turun, baik
yang terbuka ataupun tertutup. Kerusakan pembuluh darah akan mengakibatkan
pendarahan, maka volume darah menurun. COP atau curah jantung menurun maka
terjadi perubahan perfusi jaringan. Hematoma akan mengeksudasi plasma dan
poliferasi menjadi edema lokal maka terjadi penumpukan didalam tubuh.
Disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang
kemungkinan dapat terjadi infeksi terkontaminasi dengan udara luar dan
kerusakan jaringan lunak yang akan mengakibatkan kerusakan integritas kulit.
Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma gangguan
metabolik, patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. Baik fraktur terbuka
atau tertutup akan mengenai serabut syaraf yang dapat menimbulkan gangguan
rasa nyaman nyeri. Selain itu dapat mengenai tulang sehingga akan terjadi
masalah neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas
fisik terganggu. Pada umumnya pada pasien fraktur terbuka maupun tertutup
akan dilakukan immobilitas yang bertujuan untuk mempertahankan fragmen yang
telah dihubungkan tetap pada tempatnya sampai sembuh.
a. Tahapan Bone Healing
Setiap tulang yang mengalami cedera, misalnya fraktur karena kecelakaan,
akan mengalami proses penyembuhan. Fraktur tulang dapat mengalami proses
penyembuhan dalam 5 tahap yaitu:
1. Fase hematoma
Apabila tejadi fraktur pada tulang panjang, maka pembuluh darah kecil
yang melewati kanalikuli dalam system haversian mengalami robekan
dalam daerah fraktur dan akan membentuk hematoma diantara kedua sisi
fraktur. Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum. Periosteum akan
terdorong dan mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang terjadi
sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah kedalam jaringan lunak.
Osteosit dengan lakunannya yang terletak beberapa millimeter dari daerah
fraktur akan kehilangan darah dan mati, yang akan menimbulkan suatu
daerah cincin avaskular tulang yang mati pada sisi – sisi fraktur segera
setelah trauma. Waktu terjadinya proses ini dimulai saat fraktur terjadi
sampai 2 – 3 minggu.
2. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal
Pada saat ini terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu
reaksi penyembuhan. Penyembuhan fraktur terjadi karena adanya sel – sel
osteogenik yang berproliferasi dari periosteum untuk membentuk kalus
eksterna serta pada daerah endosteum membentuk kalus interna sebagi
aktivitas seluler dalam kanalis medularis. Apabila terjadi robekan yang
hebat pada periosteum, maka penyembuhan sel berasal dari diferansiasi sel
– sel mesenkimal yang berdiferensiasi kedalam jaringan lunak. Pada tahap
awal dari penyembuhan fraktur ini terjadi penambahan jumlah dari sel –
sel osteogenik yang memberi penyembuhan yang cepat pada jaringan
osteogenik yang sifatnya lebih cepat dari tumor ganas. Jaringan seluler
tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma suatu daerah fraktur.
Setelah beberapa minggu, kalus dari fraktur akan membentuk suatu massa
yang meliputi jaringan osteogenik. Pada pemeriksaan radiologist kalus
belum mengandung tulang sehingga merupakan suatu daerah radioluscen.
Pada fase ini dimulai pada minggu ke 2 – 3 setelah terjadinya fraktur dan
berakhir pada minggu ke 4 – 8.
3. Fase pembentukan kalus (Fase union secara klinis)
Setelah pembentukan jaringan seluler yang tumbuh dari setiap fragmen sel
dasar yang berasal dari osteoblast dan kemudian pada kondroblast
membentuk tulang rawan. Tempat osteoblas diduduki oleh matriks
interseluler kolagen dan perlekatan polisakarida oleh garam – garam
kalsium pembentuk suatu tulang yang imatur. Bentuk tulang ini disebut
moven bone. Pada pemeriksaan radiolgis kalus atau woven bone sudah
terlihat dan merupakan indikasi radiologik pertama terjadinya
penyembuhan fraktur.
4. Fase konsolidasi (Fase union secara radiology)
Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan – lahan
diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang
menjadi struktur lamellar dan kelebihan kalus akan di resorpsi secara
bertahap.
Pada fase 3 dan 4 dimulai pada minggu ke 4 – 8 dan berakhir pada minggu
ke 8 – 12 setelah terjadinya fraktur.
5. Fase remodeling
Bilamana union telah lengkap, maka tulang yang baru akan membentuk
bagian yang meyerupai bulbus yang meliputi tulang tetapi tanpa kanalis
medularis. Pada fase remodeling ini perlahan – lahan terjadi resorpsi
secara osteoklastik dan tetapi terjadi osteoblastik pada tulang dan kalus
eksterna secara perlahan – lahan menghilang. Kalus intermediet berubah
menjadi tulang yang kompak dan berisi system haversian dan kalus
bagian dalam akan mengalami peronggaan untuk membentuk susmsum.
Pada fase terakhir ini, dimulai dari minggu ke 8 – 12 dan berakhir sampai
beberapa tahun dari terjadinya fraktur.

7. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala fraktur femur (Arif & Kusuma, 2013) terdiri atas:
a. Tidak dapat menggunakan anggota gerak.
b. Nyeri pembengkakan.
c. Terdapat trauma (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian, atau jatuh di
kamar mandi pada orang tua, penganiayaan, tertimpa benda berat,
kecelakaan kerja, trauma olah raga).
d. Gangguan fungsio anggota gerak.
e. Deformitas.
f. Kelainan gerak.
g. Pemendekan tulang
Terjadi pada fraktur panjang karena kontraksi otot yang melekat di atas
dan dibawah tempat fraktur. Leg length discrepancy (LLD) atau perbedaan
panjang tungkai bawah adalah masalah ortopedi yang biasanya muncul di
masa kecil, di mana dua kaki seseorang memiliki panjang yang tidak sama.
Penyebab dari masalah Leg length discrepancy (LLD), yaitu osteomielitis,
tumor, fraktur, hemihipertrofi, di mana satu atau lebih malformasi vaskular
atau tumor (seperti hemangioma) yang menyebabkan aliran darah di satu sisi
melebihi yang lain. Pengukuran Leg length discrepancy (LLD) terbagi
menjadi, yaitu true leg length discrepancy dan apparent leg length
discrepancy.True leg length discrepancy adalah cara megukur perbedaan
panjang tungkai bawah dengan mengukur dari spina iliaka anterior superior ke
maleolus medial dan apparent leg length discrepancy adalah cara megukur
perbedaan panjang tungkai bawah dengan mengukur dari xiphisternum atau
umbilikus ke maleolus medial (Brunner & Suddarth, 2001).

h. Krepitus tulang (derik tulang)


Krepitasi tulang terjadi akibat gerakan fragmen satu dengan yang lainnya
(Brunner & Suddarth, 2001).
i. Pembengkakan dan perubahan warna tulang
Pembengkakan dan perubahan warna tulang terjadi akibat trauma dan
perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini terjadi setelah beberapa jam
atau hari (Brunner & Suddarth, 2001).

8. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan rontgen : menetukan lokasi, luasnya fraktur, trauma, dan jenis
fraktur.
b. Scan tulang, temogram, CT scan/MRI :memperlihatkan tingkat keparahan
fraktur, juga dan mengidentifikasi kerusakan jaringan linak.
c. Arteriogram : dilakukan bila dicurigai adanya kerusakan vaskuler.
d. Hitung darah lengkap : Ht mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau
menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada
multipel trauma) peningkatan jumlah SDP adalah proses stres normal
setelah trauma.
e. Kretinin : trauma otot meningkatkan beban tratinin untuk klien ginjal.
f. Profil koagulasi : perubahan dapat terjadi pada kehilingan darah, tranfusi
mulpel atau cedera hati (Lukman & Ningsih, 2009).

9. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan umum
1) Fraktur biasanya menyertai trauma, penting terhadap pemeriksaan
airway,breathing and sirculation
2) Bila tak ada masalah lagi, lakukan anamnesa, dan pemeriksaan secara
terperinci
3) Waktu terjadinya kecelakaan penting ditanyaakan untuk mengetahui
berapa lama sampai di RS, mengingat golden period (1-6 jam)
4) Bila > 6 jam, komplikasi infeksi semakin >, anamnesis dan pemeriksaan
fisik secara singkat, lengkap.
5) Lakukan foto radiologi, pemesangan bidai untuk menurunkan rasa sakit,
dan memepermudah proses pembutan foto.
b. Penatalaksaan Kedaruratan
1) Segera setelah cedera, bila dicurigai adanya fraktur, penting untuk
mengimobilisasi bagian tubuh segera sebelum dipindahkan.
2) Bila pasien cedera harus dipindahkan dari keadaan sebelum dapat
dilakukan pembidaian, ekstermitas harus dijaga angulasi, gerakan fragmen
fraktur dapat menyebakan nyeri, kerusakan jaringan lunak dan perdarahan
lanjut.
3) Peredaran di distal cedera harus dikaji untuk menentukan kecukupan
nutrisi.
4) Pada fraktur terbuka, tutup dengan kasa steril untuk mencegah infeksi
yang terjadi.
5) Pada bagian gawat darurat, pasien dievaluasi dengan lengkap. Pada sisi
cedera , ekstermitas sebisa mungkin dijaga jangan sampai digerakkan
untuk mencegah kerusakaan lebih lanjut
c. Penatalaksanaan lanjut
Ada beberapa prinsip dasar yang harus dipertimbangkan pada saat
menangani fraktur :

1) Rekognisi
Pengenalan riwayat kecelakaan, patah atau tidak, menentukan perkiraan yang
patah, kebutuhan pemeriksaan yang spesifik, kelainan bentuk tulang dan
ketidakstabilan, tindakan apa yang harus cepat dilakukan misalnya pemasangan
bidai.
2) Reduksi
Reduksi adalah uasaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen-fragmen
tulang yang patah sedapat mungkin kembali lagi seperti letak asalnya. Upaya
untuk memanipulasi fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara
optimal. Reduksi fraktur dapat dilakukan dengan reduksi tertutup, traksi, atau
reduksi terbuka.Reduksi fraktur dilakukan sesegera mungkin untuk mencegah
jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema
dan perdarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin sulit
bila cedera sudah mulai mengalami penyembuhan

Cara penanganan secara reduksi :


a. Pemasangan gips
Untuk mempertahankan posisi fragmen tulang yang fraktur.
b. Reduksi tertutup (closed reduction external fixation)
Menggunakan gips sebagai fiksasi eksternal untuk memper-tahankan
posisi tulang dengan alat-alat : skrup, plate, pen, kawat, paku yang
dipasang di sisi maupun di dalam tulang. Alat ini diangkut kembali
setelah 1-12 bulan dengan pembedahan.
3) Debridemen
Untuk mempertahankan/memperbaiki keadaan jaringan lunak sekitar fraktur
pada keadaan luka sangat parah dan tidak beraturan.
4) Rehabilitasi
Memulihkan kembali fragmen-fragmen tulang yang patah untuk
mengembalikan fungsi normal.
5) Retensi (imobilisasi)
Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali
seperti semula secara optimal. Setelah fraktur direduksi,fragmen tulang harus
diimobilisasi, atau dipertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar sampai
terjadi penyatuan. Imobilisasi dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau
interna. Metode fiksasi eksterna meliputi pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu,
pin, danteknik gips atau fiksator eksterna. Implant logam dapat digunakan untuk
fiksasi interna yang berperan sebagai bidai interna untuk mengimobilisasi fraktur.
Fiksasi eksterna adalah alat yang diletakkan diluar kulit untuk menstabilisasikan
fragmen tulang dengan memasukkan duat atau tiga pin metal perkutaneus
menembustulang pada begian proksimal dan distal dari tempat fraktur dan pin ters
ebut dihubungkan satu sama lain dengan menggunakan eksternal bars. Teknik ini
terutama atau kebanyakan digunakan untuk fraktur pada tulang tibia, tetapi juga
dapat dilakukan pada tulang femur, humerus dan pelvis.
B. Clinical Pathway

Trauma (langsung/ tidak langsung) Fraktur patologis

Fraktur (terbuka atau tertutup)

B1 B2 B3 B4 B5 B6
A.
Kehilangan
B. integritas tulang Perubahan fragmen tulang, Fraktur terbuka ujung
kerusakan pada jaringan dan tulang menembus otot
pembuluh darah dan kulit
C.
Ketidaksetabilan
D. posisi Perdarahan lokal
luka
fraktur
E. apabila organ
fraktur digerakkan
F.
Fragmen tulang yang
G. Hematoma pada Gangguan integritas
patah menusuk organ
daerah fraktur kulit
sekitar

Nyeri
Aliran darah ke daerah Port de entry kuman
distal berkurang atau
H. Kompartemen terhambat
I.
sindrom, keterbatasan Resiko infeksi
J. aktifitas
Warna jaringan pucat, Gangguan
K. nadi lemah, sianosis, perfusi jaringan
Defisit perawatan
L. kesemutan
diri

Kerusakan
neuromuskular
Resiko
avascular Gangguan fungsi
necrosis organ distal
Syndrome disuse
C. Konsep Asuhan Keperawatan
Hambatan
1. Pengkajian mobilitas fisik
Pada tahap pengkajian dapat dilakukan anamnesa/wawancara terhadap pasien
dengan fraktur femur yaitu :

a. Identitas pasien
a) Nama : Nama pasien
b) Usia : Usia lebih dari 60 tahun dimana tulang sudah
mengalami osteoporotik, penderita muda ditemukan riwayat
mengalami kecelakaan, fraktur batang femur pada anak terjadi
karena jatuh waktu bermain dirumah atau disekolah
c) Suku : Suku pasien
d) Pekerjaan : Pekerjaan pasien
e) Alamat: Alamat pasien
b. Riwayat keperawatan
a) Riwayat perjalanan penyakit
1. Keluhan utama klien datang ke RS atau pelayanan kesehatan :
nyeri pada paha
2. Apa penyebabnya, waktu : kecelakaan atau trauma, berapa
jam/menit yang lalu
3. Bagaimana dirasakan, adanya nyeri, panas, bengkak dll
4. Perubahan bentuk, terbatasnya gerakan
5. Kehilangan fungsi
6. Apakah klien mempunyai riwayat penyakit osteoporosis
b) Riwayat pengobatan sebelumnya
1. Apakan klien pernah mendapatkan pengobatan jenis
kortikosteroid dalam jangka waktu lama
2. Apakah klien pernah menggunakan obat-obat hormonal,
terutama pada wanita
3. Berapa lama klien mendapatkan pengobatan tersebut
4. Kapan klien mendapatkan pengobatan terakhir

c. Pemeriksaan fisik berfokus pada ektremitas bawah dan kekuatan otot


a) Look/inspeksi
1) Bandingkan dengan bagian yang sehat
2) Perhatikan posisi anggota gerak secara keseluruhan
3) Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan
4) Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan
fraktur tertutup atau terbuka
5) Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan pemendekan
6) Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-organ
lain
7) Keadaan vaskularisasi
b) Feel/palpasi
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya
mengeluh sangat nyeri. Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1) Nyeri tekan
2) Krepitasi
3) Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma
4) Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui
adanya perbedaan panjang tungkai
c) Move/gerakan
1) Periksa pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan
secara aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang
mengalami trauma
2) Pada penderita dengan fraktur, setiap gerakan akan menyebabkan nyeri
hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh dilakukan secara kasar,
disamping itu juga dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak
seperti pembuluh darah dan saraf
3) Move untuk melihat apakah ada krepitasi bila fraktur digerakkan, tetapi ini
bukan cara yang baik dan kurang halus. Krepitasi timbul oleh pergeseran
atau beradunya ujung-ujung tulangkortikal. Pada tulang spongiosa atau
tulang rawan epifisis tidak terasa krepitasi.
4) Memeriksa seberapa jauh gangguan fungsi, gerakan-gerakan yang tidak
mampu dilakukan, range of motion dan kekuatan serta kita melakukan
pemeriksaan untuk melihat apakah ada gerakan tidak normal atau tidak.
Gerakan tidak normal merupakan gerakan yang tidak terjadi pada sendi,
misalnya pertengahan femur dapat digerakkan. Ini adalah bukti paling
penting adanya fraktur yang membuktikan adanya putusnya kontinuitas
tulang sesuaidefinisi fraktur. Hal ini penting untuk membuat visum,
misalnya bila tidak ada fasilitas pemeriksaan rontgen.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan diskontinuitas tulang.
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan muskuloskeletal.
c. Kerusakan integritas jaringan berhubungan dengan kerusakan akibat
trauma.
d. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya port de entry akibat trauma
fisik.
e. Gangguan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan suplai oksigen
tidak adekuat
f. Resiko avaskuler nekrosis head femur berhubungan dengan rusaknya
aliran darah ke tulang.
g. Resiko dislokasi fraktur head femur berhubungan dengan kesalahan
pergerakan pasien pos operasi.
h. Syndrome disuse berhubungan dengan ketidakmauan pasien melakukan
pelatihan rehabilitasi exercise.
3. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Tujuan dan Kriteria Intervensi Rasional
Keperawatan Hasil
1. Nyeri akut NOC : Pain level and Pain NIC : Pain management 1. Membantu dalam
1. Lakukan pengkajian nyeri
berhubungan Control menentukan status nyeri
Kriteria Hasil : secara komprehensif
dengan pasien dan menjadi data
a. Klien mampu
(PQRST)
diskontinuitas dasar untuk intervensi dan
mengontrol nyeri (tahu
tulang. monitoring keberhasilan
penyebab nyeri dan
2. Lakukan manajemen nyeri
intervensi
mampu menggunakan
sesuai skala nyeri misalnya 2. Meningkatkan rasa nyaman
teknik non
pengaturan posisi fisiologis dengan mengurangi sensasi
farmakologik untuk 3. Ajarkan tentang teknik non
tekan pada area yang sakit
mengurangi nyeri) farmakologik seperti teknik 3. Peningkatan suplai oksigen
b. Mampu mengenali
nafas dalam pada area nyeri dapat
nyeri (skala, intensitas,
membantu menurunkan
4. Ajarkan metode distraksi
frekuensi)
nyeri
c. Klien menyatakan rasa
4. Pengalihan rasa nyeri
nyaman setelah nyeri
dengan cara distraksi dapat
berkurang
meningkatkan respon
pengeluaran endorphin
untuk memutus reseptor
5. Evaluasi keefektifan kontrol rasa nyeri
5. Mengetahui seberapa efektif
nyeri
tindakan yang telah
6. Kolaborasi dengan tim medis
diberikan
seperti pemberian analgesik 6. Mempertahankan kadar
obat dan menghindari
puncak periode nyeri
2. Resiko infeksi NOC: immune status NIC : Control Infection (6540)
Kriteria hasil: 1. Untuk mencegah terjadinya
berhubungan 1. Monitor tanda dan gejala
a. klien bebas dari tanda
infeksi
dengan adanya infeksi sistenik dan lokal,
infeksi
port de entry akibat b. jumlah lekosit dalam Monitor kerentanan terhadap 2. Mengurangi faktor
pemasangan batas normal infeksi predisposisi menyebarkan
2. Batasi jumlah pengunjung
trauma fisik. infeksi
3. Mencuci tangan mampu
3. Intruksikan pengunjung
mengurangi kuman
untuk mencuci tangan dan
menggunakan baju yang
4. Nutrisi yang baik, cairan
diperbolehkan masuk
yang cukup, serta istirahat
ruangan
yang cukup dapat
4. Tingkatkan intake nutrisi meningkatkan sistem imun
tubuh sehingga mencegah
terjadinya infeksi.

3. Kerusakan NOC : Wound Healing NIC : Incision site care 1. Mengetahui faktor pencetus
integritas jaringan Kriteria hasil : 1. Kaji lokasi kerusakan kulit kerusakan integritas
berhubungan a. Integritas permukaan dan ketahui penyebab
dengan kerusakan kulit kembali kerusakan
b. Melaporkan adanya 2. Menentukan seberapa
akibat trauma.
penrubahan sensasi kerusakan kulit yang terjadi
2. Tentukan kondisi kerusakan
3. Mengetahui tanda tanda
nyeri pada tempat luka
kulit saat ini
c. Mampu awal infeksi
3. Monitor area yang rusak dari
mendemonstrasikan
perubahan warna,
rencana untuk 4. Mengurangi tingkat
kemerahan, bengkak,
penyembuhan kulit kesakitan yang dirasakan
perubahan suhu, nyeri atau
dan mencegah trauma pasien
tanda infeksi lainnya.
berulang
5. Pemberian salep atau obat
d. Mampu menjelaskan 4. Hindari tekanan pada area
untuk mengobati kerusakan
langkah-langkah untuk yang sakit
kulit yang terjadi akibat
penyembuhan
fraktur
5. Kolaborasi untuk pemberian
salep atau obat topical
lainnya

4. Gangguan NOC: joint movement dan NIC: exercise therapy


1. Mengetahui seberapa
mobilitas fisik mobility level (ambulation)
a. Peningkatan aktivitas 1. Kaji kemampuan fungsional kekuatan otot pasien
berhubungan
pasien otot
dengan kerusakan 2. Mencegah terjadinya
b. Memperagakan 2. Atur posisi tiap 2 jam,
muskuloskeletal dekubitus
penggunaan alat bantu (supinasi, sidelying) terutama
untuk mobilisasi pada bagian yang sakit 3. Mencegah terjadinya
3. Mulai ROM. Aktif/pasif untuk
kekakuan otot
semua ekstremitas . Anjurkan
latihan meliputi latihan otot
quadriceps/gluteal ekstensi, 4. Memposisikan tulang tetap
jari dan telapak tangan serta pada posisi anatomis
kali. sehingga tidak terjadi
4. Tempatkan bantal di bawah
abnormalitas pada posisi
aksila sampai lengan bawa
tulang
5. Mengetahui keadaan tulang
yang mengalami fraktur,
5. Observasi sisi yang sakit mencegah terjadinya balutan
seperti warna, edema, atau yang terlalu ketat sehingga
tanda lain seperti perubahan sirkulasi oksigen terambat
sirkulasi.
6. Melatih klien untuk
mobilisasi

6. Kolaborasi dengan ahli terapi


fisik, untuk latihan aktif,
latihan dengan alat bantu dan
ambulasi pasien.
D. Discharge Planning
Perencanaan pulang dimulai pada saat pasien masuk. Menentukan status
fungsional dan dukungan sosial dengan konsultasi harus dimulai dengan segera.
Pasien dan keluarga sering cemas tentang perwatan dan mengenali dengan cepat
bahwa rawat inap akan pendek. Penempatan pada akhirnya akan bergantung pada
beberapa faktor antara lain meyakinkan pasien bahwa petugas kesehatan akan
bekerja dengan efektif untuk menentukan perencanaan pulang yang paling tepat.
Kebanyakan orang mengakui bahwa patah tulang paha adalah peristiwa yang
mengubah hidup yang akan menghasilkan perubahan sementara atau permanen
dalam gaya hidup mereka. Pada fraktur femur ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dalam perencanaan pulan, antara lain :
a. Manajemen
1) Petugas kesehatan akan memberikan beberapa obat ketika pasien
akan pulang :
a) Ketahuilah obat-obatan yang diberikan. Ketahui seperti apa
bentuknya, berapa banyak yang harus dikonsumsi setiap
waktu, seberapa sering harus dibawa, dan mengapa harus di
konsumsi.
b) Konsumsi obat seperti yang diminta oleh petugas
kesehatan.
c) Bawalah daftar obat-obatan di dompet. Sertakan obat dan
suplemen non-prescription apa pun dalam daftar.
2) Petugas kesehatan juga akan meresepkan obat untu mengurangi
rasa nyeri dan mencegah terjadinya infeksi
3) Pasien perlu melanjutkan program rehabilitasi setelah
meninggalkan rumah sakit untuk membantu pemulihan dari fraktur
tulang paha. Sebagian besar program rehabilitasi meliputi:
a) Terapi fisik untuk membantu mendapatkan kembali
kekuatan otot dan mengajari cara untuk bergerak dengan
aman
b) Terapi okupasi untuk membantu mempelajari kembali cara
melakukan aktivitas yang dapat dilakukan sebelum patah
tulang paha.
4) Jika memiliki luka post operasi , pasien mampu melakukan
perawatan luka :
a) Jaga luka tetap bersih
b) Cuci tangan sebelum melakukan perawatan luka
b. Diet, Latihan, dan Gaya Hidup
1) Ikuti rencana perawatan yang sudah ditentukan oleh petugas
kesehatan.
2) Dapatkan banyak istirahat untuk memulihkan diri. Cobalah untuk
tidur setidaknya 7 hingga 9 jam setiap malam.
3) Makan makanan sehat.
4) Minum cukup cairan untuk menjaga keseimbangan cairan, kecuali
jika diminta untuk membatasi cairan.
5) Jangan merokok. Merokok dapat menunda penyembuhan.
6) Ikuti pembatasan aktivitas, seperti tidak mengemudi atau
mengoperasikan mesin, seperti yang direkomendasikan oleh
petugas kesehatan, terutama jika mengonsumsi obat pereda nyeri.
c. Hubungi petugas kesehatan jika ada hal yang tidak diharapkan
terjadi
1) Terdapat masalah dalam melakukan aktivitas sehari – hari
2) Nyeri tidak teratasi setelah mengkonsumsi analgesik
3) Terdapat tanda infeksi pada luka pasca operasi
4) Terjadi pembengkakan, mati rasa, sensasi abnormal di kaki,
pergelangan kaki
5) Terjadi perubahan warna kulit menjadi pucat di kaki dan
pergelangan.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Sudart. (2002). Buku Ajar KeperawatanMedikal Bedah.( Alih Bahasa
Rini, MA). Jakarta EGC.
Bulechek, dkk. 2016. Nursing Interventions Classification (NIC), Edisi Keenam.
Singapore: CV Mocomedia-Elsivier Inc.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Edisi Ke 3. Jakarta : EGC
Desiartama, A. dan I. G. N. W. Aryana. 2017. Lalu lintas pada orang dewasa di
rumah sakit umum pusat sanglah denpasar tahun 2013. 6(5):1–4.
Lynda juall, Carpenito. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Editor Edisi
Bahasa Indonesia, Monica Ester (Edisi 8). Jakarta: EGC.
Mansjoer, A dkk. 2011. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 1 edisi 3. Jakarta: Media
Aesculapius
Moorhead, dkk. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC): Pengukuran
Outcomes Kesehatan, Edisi Kelima. Singapore: CV Mocomedia-Elsivier
Inc
Nanda International 2015. Diagnosis Keperawatan: definisi & Klasifikasi.
Jakarta:EGC
Potter, A. Patricia & Perry G. Anne. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan:
Konsep, Proses, dan Praktik edisi 4. Jakarta : EGC
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit. Jakarta : EGC.
Smeltzer, S.C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC