Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Perilaku individu dalam setiap segi kehidupan memberikan pengaruh bagi keadaan di sekitarnya.
Dalam berorganisasi khususnya organisasi pemerintah, hal ini menjadi hal yang sangat penting karena
ini merupakan bekal dasar yang harus dimiliki oleh seorang individu saat berada di dalam suatu
lingkungan, selain itu hal ini pun menjadi sangat penting karena menyangkut kehidupan bangsa dan
warga negara.

Ethical Governance ( Etika Pemerintahan ) adalah ajaran untuk berperilaku yang baik dan benar
sesuai dengan nilai-nilai keutamaan yang berhubungan dengan hakikat manusia. Dalam Ethical
Governance ( Etika Pemerintahan ) terdapat juga masalah kesusilaan dan kesopanan ini dalam aparat,
aparatur, struktur dan lembaganya. Etika pemerintahan tidak terlepas dari filsafat pemerintahan.
filsafat pemerintahan adalah prinsip pedoman dasar yang dijadikan sebagai fondasi pembentukan dan
perjalanan roda pemerintahan yang biasanya dinyatakan pada pembukaan UUD negara.

Good governance merupakan tuntutan yang terus menerus diajukan oleh publik dalam perjalanan roda
pemerintahan. Good governance dapat diartikan bahwa good governance harus menjunjung tinggi
nilai-nilai luhur yang hidup dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara yang berhubungan
dengan nilai-nilai kepemimpinan. Good governance mengarah kepada asas demokrasi dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Pencapaian visi dan misi secara efektif dan efisien. Mengacu
kepada struktur dan kapabilitas pemerintahan serta mekanisme sistem kestabilitas politik dan
administrasi negara yang bersangkutan.

1.2. Rumusan Masalah

a. Bagaimana pengaruh etika dalam pemerintahan di Dinas Koprasi Usaha Kecil Menengah dan
Perdagangan (DISKUKMP)?

b. Bagaimana peranan pemimpin/kepala Dinas terhadap kinerja pegawai?

1.3. Tujuan dan Manfaat

a. Untuk mengetahui pengaruh etika pemerintahan di Dinas Koprasi Usaha Kecil Menengah dan
Perdagangan (DISKUKMP).

b. Untuk mengetahui peranan pemimpin terhadap kinerja pegawai.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Etika

Istilah “etika” berasal dari bahasa yunani kuno. Kata yunani kuno ethos dalam bentuk tunggal
mempunyai banyak arti tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, akhlak,
watak, perasaan, sikap, cara berfikir . dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adalah: adat kebiasaan.
Dan arti terahir inilah yang menjadi latar belakang bagi terbentuknya istilah “etika” yang oleh filusuf
yunani besar aristoteles (384-322 s.M.)

Dalam pengertian sempit, etika sama maknanya dengan moral, yaitu adat istiadat atau kebiasaan.
Akan tetapi, etika juga merupakan bidang studi filsafat atau ilmu tentang adat atau kebiasaan.

Berikut beberapa pengertian yang berkaitan denagan etika:

a. Etika: (etik) sistem dari prinsip-prinsip moral, dapat juga berupa rules of conduct, kode sosial
(sicial code), etika kehidupan. Dapat berartijuga ilmu pengetahuan tentang moral, atau cabang filsafat

b. Ethos: (jiwa) karakteristik dari masyarakat tertentu atau kebudayaan tertentu


(community,society).

c. Esprit: (semangat) semangat d,crops, loyalitas, dan cinta pada kesatuan, kelompok, masyarakat,
pemerintah dan lain-lain

d. Rule :(ketentuan dan peratuaran) ketentuan-ketentuan dalam setiap pergaulan masyarakat yang
memberi pedoman atau pengawasan tentang benar dan salah

e. Norma : merupakan standar kriteria pola, patokan yang mantap dari masyarakat atau
pemerintah.

f. Moral : pengertian tentang benar atau salah, prinsip-prinsip yang berhubungan benar dan salah.

2.2. Pengertian Pemerintahan

Pemerintahan dalam arti luas adalah pemerintah/ lembaga-lembaga Negara yang menjalankan segala
tugas pemerintah baik sebagai lembaga eksekutif, legislative maupun yudikatif. Dengan segala fungsi
dan kewenganya .Pengertian Pemerintah Secara etimologi, pemerintah bersala dari perkataan
perintah, Pamudji ( 1995 : 23 ) mengartikan kata – kata tersebut sebagai berikut :

1. Perintah adalah perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu.

2. Pemerintah adalah kekuasaan memerintah sesuatu ngara ( daerah negara atau badan yang
tertinggi yang memerintah suatu negara ).

3. Pemerintah adalah perbuatan ( cara, hal urusan dan sebagainya ) memerintah


Perbedaan pengertian “pemerintah“ dan “pemerintahan “ lazimnya disebut bahwa “ pemerintah “
adalah lembaga atau badan publik yang mempunyai fungsi untuk melakukan upaya mencapai tujuan
negara sedangkan “ pemerintahan “ dari aspek dinamikanya.

Pemerintahan dalam arti luas adalah pemerintah atau lembaga-lembaga Negara yang menjalankan
segala tugas pemerintah baik sebagai lembaga eksekutif, legislative maupun yudikatif. Dengan segala
fungsi dan kewenganya. Pengertian Pemerintah Secara etimologi, pemerintah bersala dari perkataan
perintah, Pamudji ( 1995:23 ) mengartikan kata – kata tersebut sebagai berikut :

a) Perintah adalah perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu.

b) Pemerintah adalah kekuasaan memerintah sesuatu ngara ( daerah negara atau badan yang
tertinggi yang memerintah suatu negara ).

2.3. Pengertian Etika Pemerintahan

Ethical Governance ( Etika Pemerintahan ) adalah ajaran untuk berperilaku yang baik dan benar
sesuai dengan nilai-nilai keutamaan yang berhubungan dengan hakikat manusia. Dalam Ethical
Governance ( Etika Pemerintahan ) terdapat juga masalah kesusilaan dan kesopanan ini dalam aparat,
aparatur, struktur dan lembaganya. Etika pemerintahan tidak terlepas dari filsafat pemerintahan.
filsafat pemerintahan adalah prinsip pedoman dasar yang dijadikan sebagai fondasi pembentukan dan
perjalanan roda pemerintahan yang biasanya dinyatakan pada pembukaan UUD negara.

Dalam ilmu kaedah hukum (normwissenchaft atau sollenwissenschaft) menurut Hans Kelsen yaitu
menelaah hukum sebagai kaedah dengan dogmatik hukum dan sistematik hukum meliputi Kenyataan
idiil (rechts ordeel) dan Kenyataan Riil (rechts werkelijkheid). Kaedah merupakan patokan atau
pedoman atau batasan prilaku yang “seharusnya”. Proses terjadinya kaedah meliputi : Tiruan
(imitasi) dan Pendidikan (edukasi). Adapun macam-macam kaedah mencakup, Pertama : Kaedah
pribadi, mengatur kehidupan pribadi seseorang, antara lain :

1. Kaedah Kepercayaan, tujuannya adalah untuk mencapai kesucian hidup pribadi atau hidup
beriman. meliputi : kaedah fundamentil (abstrak), contoh : manusia harus yakin dan mengabdi kepada
Tuhan YME. Dan kaedah aktuil (kongkrit), contoh : sebagai umat islam, seorang muslim/muslimah
harus sholat lima waktu.

2. Kaedah Kesusilaan, tujuannya adalah untuk kebaikan hidup pribadi, kebaikan hati nurani atau
akhlak. Contoh : kaedah fundamentil, setiap orang harus mempunyai hati nurani yang bersih.
Sedangkan kaedah aktuilnya, tidak boleh curiga, iri atau dengki.

Sudah di jelas kan bagai mana pengertian mengenai etika dan pemerintah ataupun pemerintahan. Jadi
pengertian etika pemerintahan itu sendiri adalah Ajaran untuk berperilaku yang baik dan benar sesuai
dengan nilai-nilai keutamaan yang berhubungan dengan hakikat manusia

2.4. Nilai-Nilai Etika Dalam Pemerintahan


Etika pemerintahan disebut selalu berkaitan dengan nilai-nilai keutamaan yang berhubungan dengan
hak-hak dasar warga negara selaku manusia sosial (mahluk sosial). Nilai-nilai keutamaan yang
dikembangkan dalam etika pemerintahan adalah :

Penghormatan terhadap hidup manusia dan HAM lainnya.

a) kejujuran baik terhadap diri sendiri maupun terhadap manusia lainnya (honesty).

b) Keadilan dan kepantasan merupakan sikap yang terutama harus diperlakukan terhadap orang
lain.

c) kekuatan moralitas, ketabahan serta berani karena benar terhadap godaan (fortitude).

d) Kesederhanaan dan pengendalian diri (temperance).

e) Nilai-nilai agama dan sosial budaya termasuk nilai agama agar manusia harus bertindak secara
profesionalisme dan bekerja keras.

2.5. Wujud Etika Dalam Pemerintahan

Wujud etika pemerintahan tersebut adalah aturan-aturan ideal yang dinyatakan dalam UUD baik yang
dikatakan oleh dasar negara (pancasila) maupun dasar-dasar perjuangan negara (teks proklamasi). Di
Indonesia wujudnya adalah pembukaan UUD 1945 sekaligus pancasila sebagai dasar negara
(fundamental falsafah bangsa) dan doktrin politik bagi organisasi formil yang mendapatkan legitimasi
dan serta keabsahan hukum secara de yure maupun de facto oleh pemerintahan RI, dimana pancasila
digunakan sebagai doktrin politik organisasinya

Etika pemerintahan juga dikenal dengan sebutan Good Corporate Governance. Menurut Bank Dunia
(World Bank) adalah kumpulan hukum, peraturan, dan kaidah-kaidah yang wajib dipenuhi yang
dapat mendorong kinerja sumber-sumber perusahaan bekerja secara efisien, menghasilkan nilai
ekonomi jangka panjang yang berkesinambungan bagi para pemegang saham maupun masyarakat
sekitar secara keseluruhan. Lembaga Corporate Governance di Malaysia yaitu Finance Committee on
Corporate Governance (FCCG) mendifinisikan corporate governance sebagai proses dan struktur
yang digunakan untuk mengarahkan dan mengelola bisnis dan aktivitas perusahaan ke arah
peningkatan pertumbuhan bisnis dan akuntabilitas perusahaan.

Dengan begitu Untuk penyelenggaraan Good governance tersebut maka diperlukan etika
pemerintahan. Etika merupakan suatu ajaran yang berasal dari filsafat mencakup tiga hal yaitu :

1. Logika, mengenai tentang benar dan salah.

2. Etika, mengenai tentang prilaku baik dan buruk.

3. Estetika, mengenai tentang keindahan dan kejelekan.

2.6. Mewujudkan Pemerintah yang Baik dan Sehat (Good Governance)


a) Pemerintahan yang konstitusional ( Constitutional )

b) Pemerintahan yang legitimasi dalam proses politik dan administrasinya ( legitimate )

c) Pemerintahan yang digerakkan sektor publik, swsata dan masyarakat ( public, private and
society sector )

d) Pemerintahan yang menguatkan fungsi : kebijakan publik (Public Policy ), pelayanan publik (
Public Service ), otonomi daerah ( Local Authonomy ), pembangunan (Development ), pemberdayaan
masyarakat ( Social Empowering ) dan privatisasi ( Privatization )

e) Pemerintahan yang digerakkan sektor publik, swsata dan masyarakat ( public, private and
society sector )

1) Prinsip Penegakkan Hukum,

2) Akuntabilitas,

3) Demokratis,

4) Responsif,

5) Efektif dan Efisensi,

6) Kepentingan Umum,

7) Keterbukaan,

8) Kepemimpinan Visoner dan

9) Rencana Strategis

2.7.Prinsip Negara Hukum Dalam Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan

1. Supremasi Hukum ( Suprmacy of Law )

2. Persamaan dalam hukum ( Eguality before the Law)

3. Asas Legalitas ( Due Process of Law );

4. Pembatasan Kekasaan ;

5. Organ-organ pemerintahan yng independen;

6. Peradilan yang bebas dan tidak memihak;

7. Peradilan Tata Usaha Negara(Constitutional Court );

8. Peradilan Tata Negara;

9. Perlindungan Hak asasi Manusia;

10. Bersifat Demokratis ( Democratische Rechtsaats );

11. Berfungsi sarana mewujudkan tujuan bernegara (welfare Rechtstaat);


12. Transparansi dan Kontrol Sosial.

2.8.Landasan Etika Pemerintahan Indonesia

1. Falsafah Pancasila dan Konstitusi/UUD 1945 Negara RI;

2. TAP MPR No. XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme ;

3. UU No. 28 Tahun 1999 Tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan Bebas dari Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme;

4. UU No. 43 Tahun 1999 tentang Perubahan Atas UU No. 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian ( LN No. 169 dan Tambahan LN No. 3090 );

5. UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang dirubah dengan UU No. 3 Tahun
2005 dan UU No. 12 Tahun 2008 tentang Pemerintahan Daerah ;

6. PP No. 60 tentnag Disiplin Pegawai Negeri .

2.9.Masalah Etika Dalam Pemerintah

Dewasa ini, banyak sekali kasus-kasus muncul berkaitan dengan penyelewengan etika organisasi
pemerintah. Salah satu contoh nyata yang masih saja dilakukan oleh individu dalam organisasi
pemerintah yaitu KKN.

Adapun definisi KKN yaitu suatu tindak penyalahgunaan kekayaan negara (dalam konsep modern),
yang melayani kepentingan umum, untuk kepentingan pribadi atau perorangan. Akan tetapi praktek
korupsi sendiri, seperti suap atau sogok, kerap ditemui di tengah masyarakat tanpa harus melibatkan
hubungan negara.

Praktek KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) di Indonesia tergolong cukup tinggi. Praktek KKN
dalam organisasi pemerintah khususnya, menjadi masalah berkaitan dengan etika organisasi
pemerintah Karena ini merupakan penyelewengan dari apa yang seharusnya dilakukan dan dimiliki
oleh seorang individu dalam organisasi pemerintah, yakni melayani rakyat dengan baik dan berusaha
memberikan yang terbaik bagi rakyat. Akan tetapi, dengan adanya peraktek KKN jelas merugikan
bangsa dan negara.

2.10. Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan (DISKUKMP)

2.10.1. Visi
Visi dari Diskukmp itu sendiri ialah terwujudnya dunia usaha yang maju, tangguh, berdaya saing dan
mandiri dalam mendukung perekonomian Kota Banjar.

2.10.2. Misi

Sedangkan misi dari Diskukmp adalah

1. Mewujudkan organisasi yang efektif dan efisien.

2. Meningkatkan proposionalisme SDM pelaku usaha

3. Meningkatkan iklim usaha yang kondusif

4. Meningkatkan pemberdayaan koperasi dan UMKM

5. Memberdayakan potensi local

2.10.3. Pengaruh Etika Pemerintahan di DISKUKMP

Etika adalah sebuah harga mati untuk seluruh aparatur Negara, karena setiap aparatur dituntut untuk
memiliki etika yang baik guna memberikan pengaruh yang baik terhadap masyarakat banyak
sehingga diharapkan dapat memajukan seluruh sumber baik sumber daya manusianya maupun sumber
daya alam suatu daerah tersebut.

Hal tersebut yang selalu di junjung tinggi oleh setiap individu di Dinas Koperasi Usaha Kecil
Menengah dan Perdagangan yang notabennya berhubungan langsung dengan SDA kota banjar. Etika
yang diterapkan di harapkan dapat memajukan perekonomian maupun potensi-potensi lainnya.

2.10.4. Peran Pemimpin/Kepala Dinas Dalam Kinerja Pegawai DISKUKMP

Agar Terciptanya Etika Pemerintahan Yang Baik

Pemimpin adalah patokan utama dalam terciptanya suatu etika dalam pemerintahan, pemimpin pula
yang menjadi penggerak agar etika tersebut tercipta dengan baik. Kepala Dinas Diskukmp dinilai
sangat kompeten dalam menjadikan etika yang baik hal tersebut dapat dilihat dari kinerja pegawai
pemerintah Diskukmp yang bekerja dengan baik sehingga PAD Kota Banjar meningkat dari aspek
Perdagangan dan Koperasi. Namun tidak dapat dipungkiri masih banyak yang perlu diperbaiki agar
dapat menjadikan Kota Banjar yang lebih baik lagi dari berbagai aspeknya.
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Ethical Governance (Etika Pemerintahan) adalah ajaran untuk berperilaku yang baik dan benar sesuai
dengan nilai-nilai keutamaan yang berhubungan dengan hakikat manusia. Dalam Ethical Governance
( Etika Pemerintahan ) terdapat juga masalah kesusilaan dan kesopanan ini dalam aparat, aparatur,
struktur dan lembaganya.

Dari uraian di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan , antara lain:

a) Rendahnya moralitas para pelaku bisnis perbankan inilah yang menjadi faktor utama terjadinya
kecurangan dan berbagai penyimpangan dalam bisnis.

b) Etika seseorang dapat mulai ditanamkan semenjak ia masih kecil, ketika dirinya masih
merupakan sosok pibadi yang lugu dan utuh

Dari penjelasan yang dijabarkan di atas dapat diambil kesimpulan Aparatur pemerintahan yang baik
dan bermoral tinggi, akan senantiasa menjaga dirinya agar dapat terhindar dari perbuatan yang tidak
baik. Suatu nilai etika harus menjadi acuan dan pedoman bertindak yang membawa akibat dan
pengaruh secara moral.

Saya memutuskan untuk membahas mengenai etika dalam pemerintah karena ini merupakan cikal
bakal terciptanya suatu sistem pemerintahan yang sukses dan tidak melenceng dari jalur norma-norma
yang ada. Alasan lain saya memilih bahasan ini ialah menguatnya fenomena korupsi-kolusi-nepotisme
dan segala bentuk penyelewengan lainnya yang telah menggerogoti institusipemeintarahhan. Baik
level pusat maupun level daerah.

Dari contoh kasus yang saya ambil yaitu di Diskukmp di tarik kesimpulan bahwa etika dalam
pemerintahan dinas tersebut sangat di junjung tinggi karena para aparatur tersebut paham betul bahwa
modal untuk memajukan kotanya ialah dengan memperbaiki dan mengutamakan etika yang baik,
karena etika yang baik dapat menjalin hubungan yang baik dan mensejahterakan masyarakatnya baik
secara perekonomian maupun secara sosialnya.