Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH FARMASI FISIK II

”DIFUSI”

OLEH

KELAS : C

KELOMPOK : III

 AFDAL NASARUDDIN (O1A114127)

 MURSYIDAH APRIATIN (O1A117111)

 SELVI HASTIANINGSIH (O1A117122)

 WAODE SITTI AYU NURTATI (O1A117131 )

 ANDI ARJUN PRATAMA (O1A117135)

 HASRI AININ HIKBAR (O1A117147 )

 IKRA AGUSTINA (O1A117150)

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat karunia-Nya
penulis mampu menyelesaikan makalah dengan judul Difusi. Makalah ini
merupakan tugas mata kuliah Farmasi Fisik. Melalui makalah yang berjudul
Difusi diharapkan dapat menunjang nilai penulis di dalam mata kuliah Farfis.
Selain itu, dengan hadirnya makalah ini dapat memberikan informasi yang dapat
menjadi pengetahuan baru bagi pembaca mengenai difusi serta aplikasi yang
nyata dalam dunia farmasi. Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima
kasih kepada dosen pembimbing serta kepada seluruh pihak yang terlibat di dalam
penulisan makalah Difusi. Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dan
kekurangan di dalam penulisan makalah ini. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif untuk kesempurnaan makalah ini
di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat.

Kendari, 17 November 2018

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Apoteker dan pakar-pakar kimia dalam bidang farmasi senantiasa


merancang sediaan obat supaya mampu menrancang terobosan baru dalam
menciptakan suati produk yang berkualitas, baik dari segi kesetabilan obat
maupun efek yang ditimbulkan. Sudah sepantasnya. Sebagai seorang
farmasis kita harus selalu menggali informasi terkini mengenai teknologi
obat dari berbagai segi. Diantara semua sifat dan reaksi yang penting untuk
kita ketahui bersama yang paling kami soroti disini yaitu mengenai disolusi
dan difusi suatu zat. Dimana ini merupakan suatu tahapan yang yang sangat
berperan penting dalam menentukan hasil suatu efek obat dalam tubuh
manusia.Partikel obat terlarut akan diabsorpsi pada laju rendah atau bahkan
tidak diabsorpsi seluruhnya. Dengan demikian absorpsi obat tersebut menjadi
tidak sempurna.

Senyawa-senyawa yang relatif tidak dapat dilarutkan mungkin


memperlihatkan absorpsi yang tidak sempurna, atau tidak menentu sehingga
menghasilkan respon terapeutik yang minimum. Daya larut yang ditingkatkan
dari senyawa-senyawa ini mungkin dicapai dengan menyiapkan lebihbanyak
turunan yang larut, seperti garam dan ester dengan teknik seperti mikronisasi
obat atau kompleksasi. Melihat pentingnya tentang disolusi dan difusi dalam
suatu sediaan maka dibuatah makalah ini sebagai suatu manfaat dan
pengetahuan bagi para farmasis.
1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :


1. Untuk megetahui pengertian difusi
2. Untuk mengetahui stadey state difusi
3. Untuk mengetahui prosedur dan peralatan difusi
4.Untuk mengetahui pelepasan obat secara difusi
5. Untuk mengetahui difusi dalam sistem biologik
6. untuk mengetahui termodinamik
7. Untuk mengetahui hukum fick II
8. Untuk mengetahui ekologi difusi

1.3 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan difusi ?
2. Bagaimana stadey state difusi ?
3. Bagaiman prosedur dan peralatan difusi ?
4.Bagaimana pelepasan obat secara difusi ?
5. Bagaimana difusi dalam sistem biologik ?
6. Bagaimana termodinamik ?
7. Bagaimana hukum fick II ?
8. Bagaimana ekologi difusi ?
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Difusi

Difusi adalah perpindahan partikel (molekul, ion, dan atom) dari area
dengan konsentrasi tinggi ke area dengan konsentrasi rendah. Hal ini disebut
menuruni gradien konsetrasi (James dkk., 2006). Difudi merupakan suatu
proses perpindahan massa molekul suatu zat yang dibawa oleh gerakan
molekuler secara acak dan berhubungan dengan adanya perbedaan
konsentrasi larutan aliran melalui suatu batas, misalnya suatu membran
polimer (Martin dkk., 1993).Difusi juga merupakan bergeraknya molekul
lewat pori-pori. Larutan akan bergerak dari konsentrasi tinggi ke arah larutan
berkonsentarasi rendah. Tekanan hidrostatik pembuluh darah juga mendorong
air masuk berdifusi melewati pori-pori tersebut. Jadi difusi tergantung
perbedaan konsentrasi dan tekanan hidrostatik.

Energi untuk proses difusi adalah energi kinetik yang normal


ditimbulkan akibat pergerakan suatu bahan.Difusi yang melewati membran
sel dibagi menjadi dua subtipe yaitu difusi sederhana dan difusi fasilitasi.
Difusi sederhana artinya pergerakan kinetik molekol atau ion melewati
membran sel tidak bereaksi dengan protein carier yang ada di membran sel.
Kecepatan difusi sederhana ditentukan dari jumlah substansia yang ada,
kecepatan gerakan kinetik bahan, jumlah dan ukuran dari pori pada membran
sel yang akan dilewati oleh bahan itu. Difusi fasilitas memerlukan interaksi
bahan dengan carier protein yang ada di membran sel. Carier protein akan
membawa bahan untuk melewati membran sel dengan mengikat bahan itu
secara kimia. Pada difusi sederhana proses difusi terjadi melalui dua jalan
yaitu melalui lapisan lipid jika zat itu terlarut dalam lemak, dan melalui
saluran (chanel) air/protein
Kecepatan difusi ditentukan oleh jumlah zat yang tersedia, kecepatan
gerak kinetik dan jumlah celah pada membran sel. Difusi sederhana ini dapat
terjadi melalui dua cara:

a. Melalui celah pada lapisan lipid ganda, khususnya jika bahan berdifusi
terlarut lipid.
b. Melalui saluran licin pada beberapa protein transpor.

Difusi obat berbanding lurus dengan konsentrasi obat, koefisien difusi,


viskositas dan ketebalan membran. Di samping itu difusi pasif dipengaruhi
oleh koefisien partisi, yaitu semakin besar koefisien partisi maka semakin
cepat difusi obat.Difusi pasif merupakan bagian terbesar dari proses trans-
membran bagi umumnya obat. Tenaga pendorong untuk difusi pasif ini
adalah perbedaan konsentrasi obat pada kedua sisi membran sel. Menurut
hukum difusi Fick, molekul obat berdifusi dari daerah dengan konsentrasi
obat tinggi ke daerah konsentrasi obat rendah.
Faktor-faktor yang mempengaruhidifusi :
a. Suhu; makintinggidifusimakincepat
b. BM makinbesardifusimakinlambat
c. Kelarutandalam medium; makinbesardifusimakincepat
d. Perbedaan konsentrasi; makin besar perbedaan konsentrasi antara dua
bagian, makinbesarprosesdifusi yang terjadi.
e. Jaraktempatberlangsungnyadifusi; makindekatjaraktempatterjadinya
difusi, makincepatprosesdifusi yang terjadi.
f. Area tempatberlangsungnya difusi; makin luas area difusi, makin cepat
proses difusi.

2.2 Stadey State Difusi

Keadaan tunak (steady state) adalah kondisi sewaktu sifat-sifat suatu


system tidak berubah dengan berjalannya waktu atau dengan kata lain adalah
konstan. Stadey state merupakan perpindahan massa secara difusi yang
dirumuskan dalam hukum Fick I, yaitu memberikan aliran (laju difusi melalui
satuan luas) dalam aliran padakeadaan tunak.

𝑑𝑀
J=
𝑆. 𝑑𝑡

Sejumlah M Benda yang mengalir melalui satu satuan penampang


melintang S, dari suatu pembatas dalam suatu satuan waktu t dikenal sebagai
aliran dengan simbol J(Martin dkk., 1993).

Fluks, berbandinglurusdengangradienkonsentrasi, dC/dx:

𝑑𝐶
𝐽 = −𝐷
𝑑𝑥

D = koefisien difusi (cm2/det)

C = konsentrasi(g/cm3)

x = jarak(cm)

Tanda negatif pada persamaan menandakan bahwa difusi terjadi


dalam arah yang berlawanan dengan kenaikan konsentrasi (arahx positif).
Jadi difusi terjadi dalam arah penurunan konsentrasi difusan fluks selalu
bernilaipositif. Difusi akan berhenti jika tidak terdapat lagi gradien
konsentrasi (jika dC/dx= 0).

2.3 Prosedur dan Peralatan Difusi

Sel dengan konstruksi sederhana diduga paling baik untuk pekerjaan


difusi. sel tersebut dari gelas atau plastik terang yang mudah dirakit dan
dibersihkan, memberikan kemudahan untuk melihat cairan dan pengaduk
yang berputar. alat – alat seperti itu dilengkapi termosstat konvensional dan
di lengkapi dengan alat untuk mengumpulkan sampel dan uji secara otomatis.
kompartemen sebelah atas atau kompartemen donor diisi dengan larutan obat.
larutan reseptor dipompo dari tempat yang lebih rendah. sampel dikumpulkan
dalam suatu tabung didalam alat pengumpul fraksi otomatis, kemudian
berturut-turut di tentukan kadarnya secara spektrofotometri (Martin dkk.,
1993).

2.4. Pelepasan Obat

Pemgelepasandaribentuk-
bentuksediaandankemudianabsorpsidalamtubuhdikontrololehsifatfisikakimiad
ariobatdanbentuk yang diberikan, sertasifat-sifatfisikakimiadanfisiologisdari
system biologis.Keonsentrasiobat, kelarutandalam air, ukuranmolekul, bentuk
Kristal, ikatan protein, danpKaadalahfaktor-faktorfisikakimia yang
harusdipahamiuntukmendesain system pemberian yang
menunjukkankarakteristikterkontrolataukarakteristikpengelepasanterkendaliat
ausustained-release (Martin dkk., 1993).

Sistem matrik merupakan teknik yang paling banyak digunakan karena


sangat mudah penerapannya. Umumnya, obat berada dalam proses yang lebih
kecil agar matriks memberikan perlindungan yang lebih besar dan obat
berdifusi keluar secara lambat. Matrik etil selulosa adalah matrik yang tidak
larut didalam air (hidrofob) dan memberi rintangan untuk penetrasi cairan ke
dalam matrik, juga difusi obat akan menjadi lambat. Selain sebagai matrik,
etil selulosa juga dapat berfungsi sebagai pengikat, sehingga dapat
menghasilkan tablet keras dengan kerapuhan yang rendah, biasanya juga
menunjukkan pelepasan obat yang kecil. Kecepatan pelepasan tergantung
pada kemampuan medium air untuk melarutkan molekul obat, didifusikan
keluar dari tablet melalui saluran-saluran yang dibentuk dalam matrik
tersebut, sehingga diharapkan dapat memperlambat pelepasan obat.

Mekanisme pelepasan difusi adalah suatu proses dimana matrik yang


dilindungi oleh suatu membran yang tidak larut, sehingga laju pelepasan obat
diatur oleh permeabilitas membran atau matrik dan matrik sulit terkikis oleh
medium. Sedangkan mekanisme pelepasan erosi adalah suatu matrik akan
mengalami pengikisan karena adanya komponen penyusun tablet yang
terlarut sehingga tablet hancur dan zat aktif dilepaskan (Wibowo dkk., 2011).

2.5. Difusi dalam Sistem Biologik

Absorbsi obat gastrointestinal (lambung/usus) obat melalui membran


hidup menurut dua kelas transpor utama, yaitu pasif dan aktif. Perpindahan
pasif melalui difusi biasa yang dikemudikan oleh perbedaan konsentrasi obat
pada kedua sisi membran tersebut. Transpor aktif memerlukan sumber energi
seperti enzim untuk mengangkut obat menyebrang membran. Transpor dapat
berlangsung dari daerah yang berkonsentrasi tinggi melalui kerja pompa
(pumping action) dari sistem transpor biologis.

Obat-obatan umumnya merupakan asam lemah atau basa lemah,


kemudian sifat ionis dari obat serta kompartemen biologis dan membran
mempunyai suatu pengaruh penting dari proses perpindahaan tersebut.
Berikut persamaan dari Henderon-Hasselback (hlm. 456, Jilid 1) untuk suatu
asam lemah:

(A−)
pH= pKa + log(𝐻𝐴)(Martin dkk., 1993).
2.6. Termodinamik

Termodinamika berasal dari dua kata yaitu thermal (yang berkenaan


dengan panas) dan dinamika (yang berkenaan dengan pergerakan).
Termodinamika didefenisikan sebagai usaha untuk mengubah panas menjadi
tenaga. Sistem termodinamika didefenisikan sebagai besaran atau ukuran
sesuatu atau suatu area yang dipilih untuk dianalisis.

Hukum termodinamika pertama merupakan salah satu kaidah alam


yang paling mendasar yaitu prinsip kekekalan energi (energy conservation
principle). Kaidah tersebut menyatakan bahwa energi dapat berubah dari satu
bentuk ke bentuk lainnya, tetapi jumlah energinya tetap sama. Secara
matematis dinyatakan bahwa energi dari suatu sistem sama dengan selisih
antara energi masuk dan keluar.

Hukum termodinamika kedua menyatakan bahwa selain memiliki


kuantitas, energi juga memiliki kualitas dan suatu proses yangg riil akan
berlangsung pada arah kualitas energi yang semakin menurun.
Jadiwalaupuntidakadakuantitasenergi yang hilang,
kualitasenergiselaluberkurangselamaproses( HermawandanMulia, 2015).

Kesetimbanganmekanikterjadiapabilatidakadagaya yang
takberimbangdibagiandalamsistem, danjugaantarasistemdanlingkungannya.
Dalamkesetimbangantermal, semuabagiansistembertemperatursama,
dansistemjugamemilikisuhu yang samadenganlingkungannya.
Dalamkesetimbangankimia,
suatusistemtidakmengalamiperubahanspontandalamstrukturinternalnya,
sepertireaksikimia.Sistemdalamkesetimbangankimiajugatidakmengalamiperpi
ndahanmateridarisatubagiansistemkebagiansistemlainnya,
sepertidifusiataupelarutan.Bilaketigasyaratkesetimbangantersebuttidakdipenu
hi, makasistemtermodinamikadisebutberadadalamkeadaantidaksetimbang.
2.7. HukumFick II

Suatupersamaanuntuktranspormassa yang
menekankanperubahandalamkonsentrasiterhadapwaktupadatempattertentu,
bukanpadamassa yangberdifusimelaluisatusatuanluas barrier
dalamsatuanwaktudikenalsebagaiHukumFickKedua.

Hukum
fickkeduasecaraumummenyatakansuatuperubahandalamkonsentrasidifusanter
hadapwaktu, padasetiapjarak, x,
yaknisuatualirankeadaantunak.Tetapikeadaantunakbisadigambarkan,
dalambagian-bagiandarihukumkedua.

Rumushukumfickkedua:

𝑑𝐶 𝑑²𝐶
=𝐷
𝑑𝑡 𝑑𝑥²

Keterangan:

C adalah konsentrasi permean dalam pembatas yang dinyatakan dalam


massa/cm3, D adalah koefisien difusi dari penetran ( difusan ) dalam
cm2/detik. Persamaan ini menunjukkan D tidak sama dengan nol.Konsentrasi
tidak akan konstan secara kaku, tapi agak sedikit bervariasi terhadap waktu,
dan juga dC/dt tidak benar-benar sama dengan nol. Keadaan ini disebut
keadaan kuasi-stasioner (quasi-stationary) dan akan didapat sedikit kesalahan
dengan menganggap masa tunak pada keadaan ini ( Martin dkk., 1993).
2.8. Ekologi

Menurut KBBI (2016), ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal


balik antara mahluk hidup dan (kondisi) alam sekitarnya (lingkungannya).
Proses difusi diterapkan secara luas tidak hanya dalam ilmu fisika dan kimia
tetapi juga dalam biologi, dimana sistem-sistem yang hidup seeperti koloni
binatang mengalami difusi seperti juga agregasi atau konsolidasi. Difusi
merupakan proses acak simana atom-atom dan molekul-molekul, partikel-
partikel koloid dan partikel-partikel kasar, dan bahkan anggota populasi yang
hidup berdifusi atau tersebar terhadap waktu (Martin dkk., 1993).
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang diperoleh dari difusi yaitu:

Difusi adalah suatu proses perpindahan massa molekul suatu zat yang
dibawa oleh gerakan molekuler secara acak dan berhubungan dengan adanya
perbedaan konsentrasi larutan aliran melalui suatu batas, misalnya suatu
membran polimer.Keadaan tunak (steady state) adalah kondisi sewaktu sifat-
sifat suatu system tidak berubah dengan berjalannya waktu atau dengan kata
lain adalah konstan. Stadey state merupakan perpindahan massa secara difusi
yang dirumuskan dalam hukum Fick I, yaitu memberikan aliran (laju difusi
melalui satuan luas) dalam aliran padakeadaan tunak.

Umumnya, obat berada dalam proses yang lebih kecil agar matriks
memberikan perlindungan yang lebih besar dan obat berdifusi keluar secara
lambat. Matrik etil selulosa adalah matrik yang tidak larut didalam air
(hidrofob) dan memberi rintangan untuk penetrasi cairan ke dalam matrik, juga
difusi obat akan menjadi lambat.

Hukum termodinamika pertama menyatakan bahwa energi dapat


berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya, tetapi jumlah energinya tetap
sama. Hukum termodinamika kedua menyatakan bahwa selain memiliki
kuantitas, energi juga memiliki kualitas dan suatu proses yangg riil akan
berlangsung pada arah kualitas energi yang semakin menurun. Hukum fick
kedua secara umum menyatakan suatu perubahan dalam konsentrasi difusan
terhadap waktu, pada setiap jarak, x, yakni suatu aliran keadaan tunak. Ekologi
adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara mahluk hidup dan (kondisi)
alam sekitarnya (lingkungannya).
HASIL DISKUSI

1. Jelaskan apa hubungan difusi dan termodinamika, serta hubungannya


dalam biologis ?
Jawab :
termodinamika (suhu) adalah salah satu faktor yang mempengaruhi difusi.
Semakin tinggi suhu, partikel mendapatkan energi untuk bergerak dengan
lebih cepat maka semakin tinggi pula kecepatan difusinya.
Difusi dalam sistem boilogis saling berhubungan satu sama lain.
Contohnya transport membrane dalam tubuh seperti perpindahan zat
terlarut yang terjadi di membran plasma dari area konsentrasi tinggi ke
area konsentrasi rendah (dari luar ke dalam sel ataupun sebaliknya).

Sanggahan:
Berdasarkan slide PPT, difusi menggunakan transpor aktif yang dibantu
dengan enzim. Apa maksud dari dibantu dengan enzim tersebut?
Enzim yang dimaksud berasal dari protein khusus yang memberikan jalan
kepada partikel-partikel tersebut atau membantu dalam perpindahan
partikel. Difusi khusus terjadi ketika sel ingin mengambil nutrisi atau
molekul yang hydrophilic atau berpolar dan ion. Difusi seperti ini
memerlukan protein khusus yang memberikan jalur kepada partikel-
partikel tersebut ataupun membantu dalam perpindahan partikel. Hal ini
dilakukan karena partikel-partikel tersebut tidak dapat melewati membran
plasma dengan mudah.
2. Apa hubungan termodinmika dalam bidang farmasi ?
Jawab:
Termodinamika dapat digunakan dalam bidang farmasi, khususnya dalam
pembuatan sediaan. Contohnya saat pembuatan emulsi, yang secara
termodinamik tidak setimbang. Sehingga diperlukan emulgator untuk
membuat emulsi menjadi setimbang.
3. Pada saat kapan obat terdistribusi?
Jawabannya yaitu pada proses absorbsi degan ekskresi di dalam tubuh.
Pada proses tersebut obat dapat terdistribusi/diabsorbsi dalam aliran darah
dan dkeluarkan/dieksresi melalui keringat ataupun urine.
4. Apa perbedaan aplikasi hukum fick 1 dan 2?
Jawab:
Penerapandalambidangfarmasi:
 Dissolusiobatdaritablet,serbukdangranul
 Pelepasanobatdaribasissalepatausuppositoria
 Lewatnyauapair,gas,obatatauzattambahanpadasediaanobatmelaluip
enyalut,pengemas,dindingwadahplastik,sealdantutup
 Permeasidandistribusimolekulobatpadajaringanhidup

Suatu persamaan untuk transpor massa yang menekankan perubahan


dalam konsentrasi terhadap waktu pada tempat tertentu, bukan pada massa
yang berdifusi melalui satu satuan luas barrier dalam satuan waktu dikenal
sebagai Hukum Fick Kedua.

Hukum fick kedua secara umum menyatakan suatu perubahan dalam


konsentrasi difusan terhadap waktu, pada setiap jarak, x, yakni suatu aliran
keadaan tunak. Tetapi keadaan tunak bisa digambarkan, dalam bagian-
bagian dari hukum kedua.
DAFTAR PUSTAKA

Hermawan, I., dan Mulia, 2015, Analisis Energi dan Eksergi Pengeringan Pisang
Memanfaatkan Panas dari Kondensor Ac (Air Conditioner), Jurnal
Teknovasi, Vol. 2 (2), ISSN : 2355-701X.

James, J., Baker, C., dan swain, H., 2006, Prinsip-prinsip Sainsuntuk
Keperawatan, Penerbit Erlangga : Jakarta.

KBBI, 2016, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),[online] Available at :


http://kbbi.web.id/di [Diakes 21 Juni 2016].

Martin, A., Swarbick, J., Cammarata, A., dan Chun, A. H. C,.1993, Farmasi Fisik
Dasar-Dasar Kimia Farmasidalam Ilmu Farmasetik Ed. 3,
PenerbitUniversitas Indonesia (UI-PRESS); Jakarta.

Wibowo, D, A., Siswanto, a., dan Mahardian, A. K., 2011, Formulasi Sediaan
Tablet Lepas Lambat Asporon dengan Etil Selulosa Aqualon T10
Sebagai Matrik,PHARMACY, Vol. 08 (01), ISSN : 1693-3591.