Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Luka bakar merupakan trauma yang berdampak paling berat terhadap fisik maupun
psikologis, dan mengakibatkan penderitaan sepanjang hidup seseorang, dengan angka
mortalitas dan morbiditas yang tinggi (Yefta, 2003).
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan
sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi. (Smeltzer, suzanna,
2002)
Kegawatan psikologis tersebut dapat memicu suatu keadaan stress pasca trauma atau
post traumatic stress disorder (PTSD) (Brunner dan Suddarth, 2010).
Pada beberapa negara, luka bakar masih merupakan masalah yang berat, perawatannya
masih sulit, memerlukan ketekunan dan membutuhkan biaya yang mahal serta waktu yang
lama. Perawatan yang lama pada luka bakar sering membuat pasien putus asa dan
mengalami stress, gangguan seperti ini sering menjadi penyulit terhadap kesembuhan
optimal dari pasien luka bakar. Oleh karena itu pasien luka bakar memerlukan
penanganan yang serius dari berbagai multidisiplin ilmu serta sikap dan pemahaman dari
orang-orang sekitar baik dari keluarga maupun dari tenaga kesehatan sangat penting bagi
support dan penguatan strategi koping pasien untuk menerima serta beradaptasi dalam
menjalani perawatan lukanya juga untuk mengurangi stres psikologis sehingga
mempercepat penyembuhan luka (Maghsoudi, 2010).
RSUP. Dr.Sardjito selama tahun 2014 terdapat 49 pasien luka bakar dengan angka
kematian 34%, rata-rata setiap bulannya terdapat 4-5 pasien baru dengan luka bakar derajat
II – III dan luas antara 20 – 90 % yang dirawat di unit Luka Bakar membutuhkan lama
dirawat /length of stay (LOS) untuk penyembuhan lukanya rata rata 1 bulan, untuk kasus-
kasus tertentu bisa sampai sekitar 6 bulan sampai 1 tahun (Register Unit Luka Bakar RSUP.
Dr.Sardjito, 2014). Angka kejadian gangguan stres paska trauma di RS Cipto
Mangunkusumo adalah 16,2%, paska rawat inap 21,1% dan pada rawat inap 10,7% (Yefta
2003).
Dalam proses penyembuhan luka bakar, perlambatan penyembuhan luka (delayed
healing) dapat terjadi bila sel inflamasi dan sel imunitas yang diperlukan pada fase
inflamasi, proliferasi dan maturasi tidak dapat bekerja secara optimal. Respon inflamasi
dan imun tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya stres psikologis (Yefta,
2003 dan Dealey, 2005). Pengaruh stres psikologis dalam penyembuhan luka sebagai
berikut; stres psikologis yang buruk seperti stres, ansietas, dan depresi menunjukkan
penurunan efisiensi sistem imun dan berlanjut pada terhambatnya penyembuhan luka
(Dealey, 2005 dan Handayani, 2010).
Salah satu terapi nonfarmakologis untuk penanganan stres psikologis dengan SEFT
terapi. SEFT (Spiritual Emotional freedom Technique) merupakan terapi yang mampu
menurunkan stres psikologis seperti ketakutan yang berlebihan secara signifikan pada
penderita gangguan fobia spesifik (Zainul, 2011).
Dengan SEFT terapi pasien menjadi rileks dan pikiran menjadi lebih tenang. Relaksasi
yang diciptakan tersebut dapat menstimulasi hipotalamus untuk menstimulasi kelenjar

1
pituitari menurunkan sekresi ACTH dan diikuti dengan penurunan kadar glukokortikoid
dan kortisol yang berperan dalam mengatur respon inflamasi, respon imun, dan pengaturan
kadar gula darah yang merupakan faktor-faktor internal ini sangat
berpengaruh dalam proses penyembuhan luka (Kozier, 1995).

B. Rumusan Masalah
1. Apa Definisi dari Luka Bakar?
2. Jelaskan Etiogi dari Luka Bakar!
3. Apa saja Manifestasi Klinis dari Luka Bakar?
4. Apa yang dapat dilakukan untuk pemeriksaan Penunjang pada Luka Bakar?
5. Apa saja Penatalaksanaan Luka Bakar?
6. Bagaimana cara Perhitungan Luas Luka Bakar?
7. Apa saja Masalah yang Lazim Muncul?
8. Bagaimana cara Perawatan Luka Bakar?
9. Bagaimana Proses Penyembuhan Luka Bakar?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dalam penulisan Laporan ini, yaitu:
1. Mahasiswa mampu menjelaskan apa itu Luka Bakar.
2. Mampu menjelaskan Etiologi dari Luka Bakar.
3. Mampu mengetahui dan mengenali manifestasi klinis Luka Bakar.
4. Mampu untuk melakukan pemeriksaan Penunjang pada Luka Bakar.
5. Mampu menerapkan Penatalaksanaan Luka Bakar.
6. Mampu menghitung Luas Luka Bakar.
7. Mampu Mengidentifikasi masalah yang Lazim Muncul.
8. Mampu merawat Luka Bakar.
9. Mampu menjelaskan Proses Penyembuhan Luka Bakar.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Luka bakar adalah kerusakan jaringan tubuh terutama kulit akibat trauma panas,
elektrik, kimia dan radiasi (Smith, 1998).
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh. Panas
tersebut dapat dipindahkan melalui konduksi dan radiasi elektro magnetic. (Effendi. C,
1999)
Luka bakar adalah rusak atau hilangnya jaringan yang disebabkan kontak dengan
sumber panas seperti kobaran api di tubuh (flame), jilatan api ketubuh (flash), terkena air
panas (scald), tersentuh benda panas (kontak panas), akibat sengatan listrik, akibat bahan-
bahan kimia, serta sengatan matahari (sunburn) (Moenajat, 2001).
Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan
sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi. (Smeltzr, susanna,
2002)
Luka bakar adalah kerusakan pada kulit diakibatkan oleh panas, kimia atau radio aktif
(Wong, 2003).
Jadi luka bakar adalah kerusakan pada kulit yang disebabkan oleh panas, kimia, elektrik
maupun radiasi.

Untuk mempermudah penilaian dalam memberikan terapi dan perawatan, luka bakar
diklasifikasikan bedasarkan penyebab, kedalaman luka, dan keseriusan luka, yakni:
1. Berdasarkan penyebab
a. Luka bakar karena air panas
-basah (air panas, minyak)
-kering (uap, metal, api)
b. Luka bakar karena bahan kimia
Asam kuat seperti Asam Sulfat
Basa kuat seperti Natrium Hidroksida
c. Luka bakar karena listrik
Voltage tinggi, petir
d. Luka bakar karena radiasi
X-ray
e. Luka bakar karena suhu rendah (frost bite)
2. Berdasarkan kedalaman luka bakar
a. Luka bakar derajat I
b. Luka bakar derajat II
- Derajat II dangkal (superficial)
- Derajat II dalam (deep)
c. Luka bakar derajat III
d. Luka bakar derajat IV
3. Berdasarkan tingkat keseriusan luka
American Brun Association menggolongkan luka bakar menjadi tiga kategori:
a. Luka bakar Mayor
3
b. Luka bakar Moderat
c. Luka bakar Minor
4. Ukuran luas luka bakar
Dalam menentukan ukuran luas luka bakar kita dapat menggunakan beberapa
metode yaitu :
a. Rule of nine
- Kepala dan leher : 9%
- Dada depan dan belakang : 18%
- Abdomen depan dan belakang : 18%
- Tangan kanan dan kiri : 18%
- Paha kanan dan kiri : 18%
- Kaki kanan dan kiri : 18%
- Genital : 1%
b. Diagram
Penentuan luas luka bakar secara lebih lengkap dijelaskan dengan diagram Lund
dan Browder sebagai berikut :

Lokasi Usia (tahun)


0-1 1-4 5-9 10-15 Dewasa
Kepala 19 17 13 10 7
Leher 2 2 2 2 2
Dada dan Perut 13 13 13 13 13
Punggung 13 13 13 13 13
Pantat Kiri 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
Pantat Kanan 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
Kelamin 1 1 1 1 1
Lengan Atas Kanan 4 4 4 4 4
Lengan Atas Kiri 4 4 4 4 4
Lengan Bawah Kanan 3 3 3 3 3
Lengan Bawah Kiri 3 3 3 3 3
Tangan Kanan 2.,5 2,5 2,5 2,5 2,5
Tangan Kiri 2,5 2,5 2,5 2,5 2,5
Paha Kanan 5,5 6,5 8,5 8,5 9,5
Paha Kiri 5,5 6,5 8,5 8,5 9,5
Tungkai Bawah Kanan 5 5 5,5 6 7
Tungkai Bawah Kiri 5 5 5,5 6 7
Kaki Kanan 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5
Kaki Kiri 3,5 3,5 3,5 3,5 3,5

B. Etiologi
Disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh melalui konduksi atau
radiasi elektromagnetik.
Bedasarkan perjalanan penyakitnya luka bakar dibagi menjadi 3 fase, yaitu :

4
1. Fase akut
Pada fase ini problema yang ada berkisar pada gangguan saluran napas karena
adanya cedera inhalasi dan gangguan sirkulasi. Pada fase ini terjadi gangguan
keseimbangan sirkulasi cairan dan elektrolit akibat cedera termis bersifat sistemik.
2. Fase sub akut
Fase ini berlangsung setelah shock berakhir. Luka terbuka akibat kerusakan jaringan
(kulit dan jaringan dibawahnya) menimbulkan masalah inflamasi, sepsis dan
penguapan cairan tubuh disertai panas atau energi.
3. Fase lanjut
Fase ini berlangsung setelah terjadi penutupan luka sampai terjadi maturasi.
Masalah pada fase ini adalah timbulnya penyulit dari luka bakar berupa parut
hipertrofik, kontraktur, dan deformitas lainnya.

C. Manifestasi Klinis
1. Bedasarkan kedalaman luka bakar
a. Luka bakar derajat I
- Kerusakan terjadi pada lapisan epidermis.
- Kulit kering, hiperemi berupa eritema.
- Tidak dijumpai bulae.
- Nyeri karena ujung-ujung saraf sensorik teriritasi.
- Penyembuhan terjadi spontan dalam waktu 5-10 hari.
b. Luka bakar derajat II
- Kerusakan meliputi epidermis dan sebagian dermis, berupa reaksi
inflamasi disertai proses eksudasi.
- Dijumpai bulae.
- Nyeri karena ujung-ujung saraf teriritasi.
- Dasar luka berwarna merah atau pucat, sering terletak lebih tinggi diatas
kulit normal.
- Penyembuhan dalam 21 - 28 hari tergantung komplikasi infeksi.
Luka bakar derajat II ini dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu :
Derajat II dangkal (superficial)
- Kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis.
- Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea
masih utuh.
- Bula mungkin tidak terbentuk beberapa jam setelah cedera, dan luka bakar
pada mulanya tampak seperti luka bakar derajat I dan mungkin terdiagnosa
sebagai derajat II superficial setelah 12-24 jam
- Ketika bula dihilangkan, luka tampak berwarna merah muda dan basah.
- Penyembuahan terjadi spontan dalam waktu 10-14 hari.
Derajat II dalam (deep)
- Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis
- Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea
sebagian besar masih utuh.
- dijumpai bula, akan tetapi permukaan luka biasanya tanpak berwarna merah
muda dan putih segera setelah terjadi cedera karena variasi suplay darah

5
dermis (daerah yang berwarna putih mengindikasikan aliran darah yang
sedikit atau tidak ada sama sekali, daerah yg berwarna merah muda
mengindikasikan masih ada beberapa aliran darah ) (Moenadjat, 2001).
- Penyembuhan terjadi lebih lama, tergantung epitel yang tersisa. Biasanya
penyembuhan terjadi lebih dari sebulan.
- Jika infeksi dicegah, luka bakar akan sembuh dalam 3 -9 minggu
c. Luka bakar derajat III
- Kerusakan meliputi seluruh lapisan dermis dan lapisan yang lebih dalam
- Organ-organ kulit seperti folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea
mengalami kerusakan.
- Tidak dijumpai bulae.
- Kulit yang terbakar berwarna abu-abu dan pucat. Karena kering letaknya
lebih rendah dibanding kulit sekitar.
- Terjadi koagulasi protein pada epidermis dan dermis yang dikenal sebagai
eskar.
- Tidak dijumpai rasa nyeri dan hilang sensasi, oleh karena ujung-ujung saraf
sensorik mengalami kerusakan atau kematian.
- Penyembuhan terjadi lama karena tidak terjadi proses epitelisasi spontan dari
dasar luka.

2. Bedasarkan tingkat keseriusan luka


American Burn Association menggolongkan luka bakar menjadi tiga kategori :
a. Luka bakar mayor
- Luka bakar dengan luas lebih dari 25% pada orang dewasa dan lebih dari
20% pada anak-anak.
- Luka bakar fullthickness lebih dari 20%.
- Terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan perineum.
- Terdapat trauma inhalasi dan multiple injuri tanpa memperhitungkan. derajat
dan luasnya luka.
- Terdapat luka bakar listrik bertegangan tinggi.

b. Luka bakar moderat


- Luka bakar dengan luas 15-25% pada orang dewasa dan 10-20% pada anak-
anak.
- Luka bakar fullthickness kurang dari 10%.
- Tidak terdapat luka bakar pada tangan, muka, mata, telinga, kaki, dan
perineum.
c. Luka bakar minor
Luka bakar minor seperti yang didefinisikan oleh Trofino (1991) dan Griglak
(1992) adalah :
- Luka bakar dengan luas kurang dari 15% pada orang dewasa dan kurang.
dari 10% pada anak-anak.
- Luka bakar fullthickness kurang dari 2%.
- Tidak terdapat luka bakar di daerah wajah, tangan, dan kaki.
- Luka tidak sirkumfer.

6
- Tidak terdapat trauma inhalasi, elektrik, fraktur.

D. Pemeriksaan penunjang
Menurut Doenges, 2000, diperlukan pemeriksaan penunjang pada luka bakar yaitu :
1. Laboratorium : Hb (Hemoglobin) turun menunjukkan adanya pengeluaran
darah yang banyak sedangkan peningkatan lebih dari 15% mengindikasikan adanya
cedera. Pada Ht (Hematokrit) yang meningkat menunjukkan adanya kehilangan
cairan sedangkan Ht turun dapat terjadi sehubungan dengan kerusakan yang
diakibatkan oleh panas terhadap pembuluh darah.
2. Leukosit : Leukositosis dapat terjadi sehubungan dengan adanya infeksi
atau inflamasi
3. GDA (Gas Darah Arteri) : Untuk mengetahui adanya kecurigaaan cedera inhalasi.
Penurunan tekanan oksigen (PaO2) atau peningkatan tekanan karbon dioksida
(PaCO2)
mungkin terlihat pada retensi karbon monoksida.
4. Elektrolit Serum : Kalium dapat meningkat pada awal sehubungan dengan cedera
jaringan dan penurunan fungsi ginjal, natrium pada awal mungkin menurun karena
kehilangan cairan, hipertermi dapat terjadi saat konservasi ginjal dan hipokalemi
dapat terjadi bila mulai diuresis.
5. Natrium Urin : Lebih besar dari 20 mEq/L mengindikasikan kelebihan cairan,
kurang dari 10 mEqAL menduga ketidak adekuatan cairan.
6. Alkali Fosfat : Peningkatan Alkali Fosfat sehubungan dengan perpindahan
cairan interstisial atau gangguan pompa, natrium.
7. Glukosa Serum : Peninggian Glukosa Serum menunjukkan respon stress
8. Albumin Serum : Untuk mengetahui adanya kehilangan protein pada edema
cairan
9. Rontgen : Foto Thorax, dan lain-lain.
10. EKG : Untuk mengetahui adanya tanda iskemia miokardial atau
distritmia
11. CVP : Untuk mengetahui tekanan vena sentral, diperlukan pada luka
bakar lebih dari 30% dewasa dan lebih dari 20% pada anak.
12. BUN atau Kreatinin : Peninggian menunjukkan penurunan perfusi atau fungsi
ginjal, tetapi kreatinin dapat meningkat karena cedera jaringan
13. Loop aliran volume : Memberikan pengkajian non-invasif terhadap efek atau
luasnya cedera

E. Penatalaksanaan
Pertolongan pertama
1. Segera hindari sumber api dan mematikan api pada tubuh, misalnya dengan
menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar untuk menghentikan pasokan
oksigen pada api yang menyala.
2. Singkirkan baju, perhiasan dan benda-benda lain yang membuat efek torniket,
karena jaringan yang terkena luka bakar akan segera menjadi oedem.
3. Setelah sumber panas dihilangkan rendam daerah luka bakar dalam air atau
menyiramnya dengan air mengalir selama sekurang-kurangnya lima belas menit.

7
Akan tetapi, cara ini tidak dapat dipakai untuk luka bakar yang lebih luas karena
bahaya yang terjadinya hipotermi. Es tidak seharusnya diberikan langsung pada luka
bakar apapun.

1. Evaluasi awal

Prinsip penanganan pada luka bakar sama seperti penangan pada luka akibat trauma
yang lain, yaitu dengan ABC (Airway Breathing Circulation) yang diikuti dengan
pendekatan khusus pada komponen spesifik luka bakar pada survey sekunder. Saat
menilai Airway, perhatikan apakah terdapat luka bakar inhalasi. Biasanya
ditemukan sputum karbonat, rambut atau bulu hidung yang gosong, luka bakar
pada wajah, oedem oropharyngeal, perubahan suara, perubahan status mental. Bila
benar terdapat luka bakar inhalasi lakukan intubasi endotracheal tube. Meskipun
perdarahan dan trauma intrakavitas merupakan prioritas utama dibandingkan luka
bakar, perlu diperkirakan untuk meningkatkan jumlah cairan pengganti. Anemnesis
secara singkat dan cepat harus dilakukan pertama kali untuk menentukan
mekanisme dan waktu terjadinya trauma. (Wim de Jong).

2. Resusitasi cairan

Perawatan awal pasien yang terkena luka bakar, pemberian cairan intravena
yang adekuat harus dilakukan, akses intravena yang adekuat harus ada, terutama
pada bagian ekstremitas yang tidak terkena luka bakar.

Tujuan utama dari resusitasi cairan adalah untuk menjaga dan menggembalikan
perfusi jaringan tanpa menimbulkan edema. Kehilangan cairan terbesardan
terbesar adalah pada 4 jam pertama terjadinya luka dan akumulasi maksimum
edema adalah pada 24 jam pertama setelah luka bakar. Prinsip dari pemberian
cairan pertama kali adalah pemberian garam ekstraseluler dan air yang hilang pada
jaringan yang terbakar, dan sel-sel tubuh. Pemberian cairan paling sering adalah
dengan Ringer laktat untuk 48 jam setelah terkena luka bakar. Output urin yang
adekuat adalah 0.5 sampai 1.5Ml/kgBB/Jam.

Formula yang terkenal untuk resusitasi cairan adalah formula parkland: 24 jam
pertama: Cairan Ringer laktat: 4ml/kgBB/% luka bakar

- Contohnya pria dengan berat 80 kg dengan luas luka bakar 25% membutuhkan
cairan : (25) x (80 kg) x(4 ml) = 8000 ml dalam 24 jam pertama.
- ½ jumlah cairan 4000 ml diberikan dalam 8 jam, ½ jumlah cairan sisanya 4000 ml
diberikan dalam 16 jam berikutnya.

Cara lain adalah cara Evans:

1. Luas luka bakar dalam % x berat badan dalam kg = jumlah NaCL/24jam


2. Luas luka bakar dalam % x berat badan dalam kg = jumlah plasma/24jam (nomor 1 dan
2 pengganti cairan yang hilang akibat oedem. Plasma untuk mengganti plasma yang

8
keluar dari pembuluh dan meninggikan tekanan osmosis hingga mengurangi
perembesan keluar dan menarik kembali cairan yang telah keluar)
3. 2000 cc Dextrose 5% / 24 jam (untuk mengganti cairan yang hilang akibat penguapan)
Separuh dari jumlah cairan 1+2+3 diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan
dalam 16 jam berikutnya. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan hari
pertama. Dan hari ketiga diberikan setengah jumlah cairan hari kedua.

Cara lain yang banyak dipakai dan lebih sederhana adalah menggunakan Rumus
Baxter yaitu : % x BB x 4 cc.
Separuh dari jumlah cairan ini diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan
dalam 16 jam berikutnya. Hari pertama terutama diberikan elektrolit yaitu larutan
RL karena terjadi defosot ion Na. Hari kedua dibrikan setengah cairan hari pertama.
Contoh : seorang dewasa dengan BB 50 kg dan luka bakar seluas 20 % permukaan
kulit akan diberikan 50 x 20 % x 4 cc = 4000 cc yang diberikan hari pertama dan 2000
cc pada hari kedua.
Kebutuhan kalori pasien dewasa dengan mnggunakan formula curreri adalah : 25
kcal/kgBB/hari ditambah dengan 40 kcal/ 5 luka bakar/hari. (James H. Holmes)

Penggantian Darah
Luka bakar pada kulit menyebabkan terjadinya kehilangan sejumlah sel darah merah
sesuai dengan ukuran dan kedalaman luka bakar. Karena plasma predominan hilang pada 48
jam pertama setelah terjadinya luka bakar, tetapi relative polisitmia terjadi pertama kali.
Oleh sebab itu, pemberian sel darah merah dalam 48 jam pertama tidak dianjurkan, kecuali
terdapat kehilangan darah yang banyak dari tempat luk. Setelah proses eksisi luka bakar
dimulai, pemberian darah biasanya diperlukan.

- Perawatan Luka Bakar


Setelah keadaan umum membaik dan telah dilakukan resusitasi cairan, selanjutnya
dilakukan perawatan luka. Perawatan tergantung pada karakteristik dan ukuran dari luka:
1. Luka bakar derajat I, merupakan luka ringan dengan sedikit hilangnya barier pertahanan
kulit. Luka seperti ini tidak perlu di balut, cukup dengan pemberian salep antibiotik
untuk mengurangi rasa sakit dan melembabkan kulit. Bila perlu dapatdiberi NSAID
(Ibuprofen Acetaminophen) untuk mengatasi rasa sakitdan pembekakan.
2. Luka bakar derajat II (superficial), perlu perawatan luka setiap harinya, pertama-tama
luka diolesi dengan salep antibiotik, kemudian dibalut dengan perban katun dan dibalut
lagi dengan perban elastik,. Pilihan lain luka dapat ditutup dengan penutup luka
sementara yag terbuat dari bahan alami (Xenograft (pig skin) atau Allograft (homograft,
cadaver skin) atau bahan sintesis (opsite, biobrane, transcyte, integra).
3. Luka derajat II (dalam) dan luka derajat III, perlu dilakukan eksisi awal dan cangkok
kulit (early exicision and grafting)

- Nutrisi
Penderita luka bakar membutuhkan kuantitas dan kualitas yang berbeada dari orang
normal karena umumnya penderita luka bakar mengalami keadaan hipermetabolik. Kondisi
yang berpengaruh dan dapat memperberat kondisi hipermetabolik yang ada adalah:
1. Umur, jenis kelamin, status gizi penderita, luas permukaan tubuh, masa bebas lemak.
9
2. Riwayat penyakit sebelumnya seperti DM, penyakit hepar berat, penyakit ginjal dan
lain-lain.
3. Luas dan derajat luka bakar
4. Suhu dan kelembaban ruangan (mempengaruhi kehilangan panas melalui evaporasi).
5. Aktivitas fisik dan fisioterapi.
6. Penggantian balutan.
7. Rasa sakit dan kecemasan.
8. Penggunaan obat-obat tertentu dan pembedahan.

Dalam menentukan kebutuhan kalori basal pasien yang paling ideal adalah dengan
mengatur kebutuhan kalori secara langsung menggunakan indirekk kalorimetri karena alat
ini telah memperhitungkan beberapa faktor seperti BB, jenis kelamin, luas luka bakar, luas
permukaan tubuh dan adanya infeksi. Untuk menghitung kebutuhan kalori total harus
ditambahkan faktor stress sebasar 20-30%. Tapi alat ini jarang tersedia di rumah sakit. Yang
sering di rekomendasikan adalh perhitungan kebutuhan kalori basal dengan Formula Harris
Benedick yang melibatkan faktor BB, TB dan umur. Sedangkan untuk kebutuhan kalori
total perlu dilakukan modifikasi formula dengan menambahkan faktor aktivitas fisik dan
faktor stress.

Pria : 66,5 + (13,7 x BB) + (5 x TB) – (6.8 x U) x AF x FS


Wanita : 65,6 + (9,6 x BB) + (1,8 x TB) – (4,7 x U) x AF x FS

Early Exicision and Grafting (E&G)


Dengan metode ini eschar di angkat secara operatif dan kemudian luka ditutup dengan
cangkok kulit (autograft atau allograft), setelah terjadi penyembuhan, graft akan terkelupas
dengan sendirinya. E&G dilakukan 3-7 hari setelah terjadi luka, pada umumnya tiap harinya
dilakukan eksisi 20% dari luka bakar kemudian dilanjutkan pada hari berikutnya. Tapi ada
juga ahli bedah yang sekaligus melakukan eksisi pada seluruh luka bakar, tapi cara ini
memiliki resiko yang lebih besar yaitu dapat terjadi hipotermi, atau terjadi perdarahan
masive akibat eksisi. Metode ini mempunyai beberapa keuntungan dengan penutupan luka
dini., mencegah terjadinya infeksi pada luka. (James H. Holmes)

Esharotomy
Luka bakar grade III yang melingkar pada ekstremitas dapat menyebabkan iskemik
distal progesif, terutama apabila terjadi edema saat resusitasi cairan, dan saat adanya
pengerutan kopeng. Iskemi dapat menyebabkan gangguan vaskuler pada jari-jari tangan dan
kaki. Tanda dini iskemi adalah nyeri, kemudian kehilangan daya rasa sampai baal pada
ujung-ujung distal. Juga luka bakar menyeluruh pada bagian thorax atau abdomen dapat
menyebabkan gangguan respirasi, dan hal ini dapat dihilangkan dengan escharotomy.
Dilakukan insisi memanjang yang membuka keropeng sampai penjepitan bebas. (James H.
Holmes)

Antimikroba
Dengan terjadinya luka mengakibatkan hilangnya barier pertahanan kulit
sehingga memudahkan timbulnya koloni bakteri atau jamur pada luka. Bila jumlah
kuman sudah mencapai 105 organisme jaringan, kuman tersebut dapat menembus ke
10
dalam jaringan yang lebih dalam kemudian menginvasi ke pembuluh darah dan
mengakibatkan infeksi sistemik yang dapat menyebabkan kematian. Pemberian
antimikroba ini dapat secara topikal atau sistemik. Pemberian secara topikal dapat dalam
bentuk salep atau cairan untuk merendam. Contoh antibiotik yang sering dipakai : Salep :
Silver sulfadiazine, Mafenide acetate, Silver nitrate, Povidone-iodine, Bacitracin (biasanya
untuk luka bakar grade I), Neomycin, Polymiyxin B, Nysatatin, mupirocin, Mebo.

Antibiotik
Pemberian antibiotik ini dapat secara topikal atau sistemik. Pemberian secara topikal
dapat dalam bnetuk salep atau cairan untuk merendam. Contoh antibiotik yang sering dipakai
berupa salep antara lain: Silver sulfadiazine, Mefenide acetatae, Sulver nitrate, povidone-
iodine, Bacitratin (biasanya untuk luka bakar grade I), Neomycinn, Polymiyxin B, Nysatatin,
Mupirocin, Mebo.

MEBO/MEBT (Moist Expised Burn Ointment/Therapy)


Merupakan Broad spectrum Ointment, suatu preparat herbal, menggunakan zat alami tanpa
kimiawi. Terdiri dari:
1. Komponen pengobatan: beta sitosterol, bacalilin, berberine, yang mempunyai efek
Analgesik, anti-inflamasi, anti-infeksi, pada luka bakar dan mampu mengurangi
pembentukan jaringan parut.
2. Komponen nutrisi: amino acid, fatty acid dan amylose, yang memberikan nutrisi untuk
regenerasi dan perbaikan kulit yang terbakar.

Efek pengobatan:
1. Menghilangkan nyeri luka bakar.
2. Mencegah perluasan nekrosis pada jaringan terluka.
3. Mengeluarkan jaringan netroktik dengan mencairkannya.
4. Membuat lingkungan lembab pada luka, yang dibutuhkan selama perbaikan jaringan
kulit tersisa.
5. Kontrol infeksi dengan membuat suasana yang jelek untuk pertumbuhan kuman bukan
dengan membunuh kuman.
6. Merangsang pertumbuhan PRCs (potential regenerative cell) dan stem cell untuk
penyembuhan luka dan mengurangi terbentuknya jaringan parut.
7. Mengurangi kebutuhan untuk skin graft.

Prinsip penanganan luka bakar dengan MEBO:

1. Makin cepat diberi MEBO, hasilnya lebih baik (dalam 4-12 jam setelah kejadian).
2. Biarkan luka terbuka
3. Kelembaban yang optimal pada luka dengan MEBO
4. Pemberian salep harus teratur dan terus menerus tiap 6-12 jam dibersihkan dengan kassa
steril jangan dibiarkan kulit terbuka tanpa salep >2-3 menit untuk mencegah penguapan

11
cairan di kulit dan microvascular menyebabkan thrombosit merusak jaringan
dibawahnya yang masih vital.
5. Pada pemberian jangan sampai kesakitan atau berdarah, menimbulkan perlukaan pada
jaringan hidup tersisa.
6. Luka jangan sampai maserasi maupun kering
7. Tidak boleh menggunakan desinfektan, saline atau air untuk Wound debridement.

Flowchart dari Penanganan Luka Bakar

1. Earlier period (1-6 hari); Blister dipungsi, kulitnya dibiarkan utuh. Beri MEBO pada
luka setebal 0,5-1 mm. Ganti dan beri lagi MEBO tiap 6 jam, hari ke 3-5 kulit penutup
bulla diangkat.
2. Liquefaction period (6-15 hari); Angkat zat cair yang timbul diatas luka, bersihkan
dengan kassa, beri MEBO lagi setebal 1 mm.
3. Preparative period (10-21 hari); Bersihkan luka seperti sebelumnya. Beri MEBO dengan
ketebalan 0,5-1 mm ganti dan beri lagi MEBO tiap 6-8 jam.
4. Rehabilitation; Bersihkan luka yang sembuh dengan air hangat. Beri MEBO 0,5 mm 1-
2 kali/hari. Jangan cuci luka yang sudah sembuh berlebihan. Lindungi luka yang sembuh
dari sinar matahari.

Kontrol rasa sakit


Terapi farmakologi yang digunakan biasanya dari golongan opioid dan NSAID.
Preparat anestesi seperti ketamin, N2O (nitrosis oxide) digunakan pada prosedur yang
dirasakan sangat sakit seperti saat ganti balut. Dapat juga digunakan obat psikotropik seperti
anxiolitik, tranquilizer dan anti depresan. Penggunaan benzodiazepin bersama opioid dapat
menyebabkan ketergantungan dan mengurangi efek dari opioid. (James H. Holmes)

PERMASALAHAN PASCA LUKA BAKAR


Setelah sembuh dari luka, masalah berikutnya adalah jaringan parut yang dapat
berkembang menjadi cacat berat. Kontraktur kulit dapat mengganggu fungsi dan
menyebabkan kekakuan sendi atau menimbulkan cacat estetik yang buruk sekali
sehingga diperlukan juga ahli ilmu jiwa untuk mengembalikan kepercayaan diri.
Permasalahan-permasalahan yang ditakuti pada luka bakar:
 Oliguria dan anuria
 Oedem paru
 ARDS (Adult Respiratory Distress Syndrome )
 Anemia
 Kontraktur
 Kematian

G. Masalah yang Lazim Muncul


1. Ketidakefektifan pola nafas b.d deformitas dinding dada, keletihan otot-otot
pernafasan, hiperventilasi
2. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (evaporasi akibat luka bakar)

12
3. Penurunan curah jantung b.d penurunan volume sekuncup jantung, kontraktilitas
dan frekuensi jantung
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d hipermetabolisme da
kebutuhan bagi kesembuhan luka
5. Kerusakan integritas kulit b.d luka bakar terbuka
6. Nyeri akut b.d saraf yang terbuka, kesembuhan luka, dan penanganan luka bakar
7. Gangguan citra tubuh b.d perubahan pada penampilan tubuh (trauma)
8. Resiko ketidakefektifan perfusi ginjal b.d menurunnya sirkulasi darah keginjal
(hipoksia keginjal)
9. Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak
10. Resiko infeksi b.d hilangnya berier kulit dan terganggunya respon imun
11. Defesiensi pengetahuan b.d proses penanganan luka bakar
12. Ansietas b.d perubahan pada status kesehatan dan pola interaksi

H. Dischange planing
1. Jangan menaruh es batu, margarine, atau air es langsung pada bagian kulit yang
mengalami luka bakar karena bisa mengakibatkan kerusakan lebih lanjut
2. Mempertahankan status nutrisi yang normal
3. Oleskan krim antibiotika atau salep khusus luka bakar sesuai anjuran dokter
4. Tutupi luka bakar dengan kassa steril
5. Cucilah tangan dengan sabun dan air sebelum mengganti kassa pembalut
6. Jangan memecahkan dan menggaruk lepuhan luka bakar agar luka tidak terinfeksi
7. Bersihkan luka bakar dengan kassa steril secara berkala
8. Awasi luka bakar secara berkala terhadap tanda-tanda infeksi
9. Singgirkan pakaian atau kain yang melekat pada kulit yang mengalami luka bakar
dengan merendamnya didalam larutan salin
10. Jelaskan penggunaan obat dan cara penanganan luka bakar

I. Proses Penyembuhan Luka


Berdasarkan klasifikasi lama penyembuhan bisa dibedakan menjadi dua yaitu: akut
dan kronis. Luka dikatakan akut jika penyembuhan yang terjadi dalam jangka waktu 2–
3 minggu. Sedangkan luka kronis adalah segala jenis luka yang tidak tanda-tanda untuk
sembuh dalam jangka lebih dari 4–6 minggu.
Pada dasarnya proses penyembuhan luka sama untuk setiap cedera jaringan lunak.
Begitu juga halnya dengan kriteria sembuhnya luka pada tipa cedera jaringan luka baik
luka ulseratif kronik, seperti dekubitus dan ulkus tungkai, luka traumatis, misalnya
laserasi, abrasi, dan luka bakar, atau luka akibat tindakan bedah.Luka dikatakan
mengalami proses penyembuhan jika mengalami proses fase respon inflamasi akut
terhadap cedera, fase destruktif, fase proliferatif, dan fase maturasi. Kemudian disertai
dengan berkurangnya luasnya luka, jumlah eksudat berkurang, jaringan luka semakin
membaik. Tubuh secara normal akan merespon terhadap luka melalui proses
peradangan yang dikarakteristikan dengan lima tanda utama yaitu bengkak, kemerahan,
panas, nyeri dan kerusakan fungi. Proses penyembuhannya mencakup beberapa fase
(Potter & Perry, 2005) yaitu: 20

13
a. Fase Inflamatori
Fase ini terjadi segera setelah luka dan berakhir 3–4 hari. Dua proses utama terjadi
pada fase ini yaitu hemostasis dan fagositosis. Hemostasis (penghentian perdarahan)
akibat vasokonstriksi pembuluh darah besar di daerah luka, retraksi pembuluh darah,
endapan fibrin (menghubungkan jaringan) dan pembentukan bekuan darah di daerah
luka. Scab (keropeng) juga dibentuk dipermukaan luka. Scab membantu hemostasis dan
mencegah kontaminasi luka oleh mikroorganisme.
Dibawah scab epithelial sel berpindah dari luka ke tepi. Sel epitel membantu sebagai
barier antara tubuh dengan lingkungan dan mencegah masuknya mikroorganisme.
Suplai darah yang meningkat ke jaringan membawa bahan-bahan dan nutrisi yang
diperlukan pada proses penyembuhan. Pada akhirnya daerah luka tampak merah dan
sedikit bengkak. Selama sel berpindah lekosit (terutama neutropil) berpindah ke daerah
interstitial. Tempat ini ditempati oleh makrofag yang keluar dari monosit selama lebih
kurang 24 jam setelah cidera/luka.
Makrofag ini menelan mikroorganisme dan sel debris melalui proses yang disebut
fagositosis. Makrofag juga mengeluarkan faktor angiogenesis (AGF) yang merangsang
pembentukan ujung epitel diakhir pembuluh darah. Makrofag dan AGF bersama-sama
mempercepat proses penyembuhan. Respon inflamatori ini sangat penting bagi proses
penyembuhanRespon segera setelah terjadi injuri akan terjadi pembekuan darah untuk
mencegah kehilangan darah. Karakteristik fase ini adalah tumor, rubor, dolor, calor,
functio laesa. Lama fase ini bisa singkat jika tidak terjadi infeksi.

b. Fase Proliferatif
Fase kedua ini berlangsung dari hari ke–4 atau 5 sampai hari ke–21. Jaringan
granulasi terdiri dari kombinasi fibroblas, sel inflamasi, pembuluh darah yang baru,
fibronectin and hyularonic acid. Fibroblas (menghubungkan sel-sel jaringan) yang
berpindah ke daerah luka mulai 24 jam pertama setelah terjadi luka. Diawali dengan
mensintesis kolagen dan substansi dasar yang disebut proteoglikan kira-kira 5 hari
setelah terjadi luka. Kolagen adalah substansi protein yang menambah tegangan
permukaan dari luka. Jumlah kolagen yang meningkat menambah kekuatan permukaan
luka sehingga kecil kemungkinan luka terbuka. Kapilarisasi dan epitelisasi tumbuh
melintasi luka, meningkatkan aliran darah yang memberikan oksigen dan nutrisi yang
diperlukan bagi penyembuhan.

c. Fase Maturasi
Fase maturasi dimulai hari ke–21 dan berakhir 1 –2 tahun. Fibroblas terus
mensintesis kolagen. Kolagen menyalin dirinya, menyatukan dalam struktur yang lebih
kuat. Bekas luka menjadi kecil, kehilangan elastisitas dan meninggalkan garis putih.
Dalam fase ini terdapat remodeling luka yang merupakan hasil dari peningkatan
jaringan kolagen, pemecahan kolagen yang berlebih dan regresi vaskularitas luka.
Terbentuknya kolagen yang baru yang mengubah bentuk luka serta peningkatan
kekuatan jaringan. Terbentuk jaringan parut 50–80% sama kuatnya dengan jaringan
sebelumnya. Kemudian terdapat pengurangan secara bertahap pada aktivitas selular
dan vaskularisasi jaringan yang mengalami perbaikan (Syamsul hidjayat, 2005).

14
J. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka
a. Usia
Sirkulasi darah dan pengiriman oksigen pada luka, pembekuan, respon
inflamasi,dan fagositosis mudah rusak pada orang terlalu muda dan orang tua,
sehingga risiko infeksi lebih besar. Kecepatan pertuumbuhan sel dan epitelisasi pada
luka terbuka lebih lambat pada usia lanjut sehingga penyembuhan luka juga terjadi
lebih lambat (DeLauna & Ladner, 2002).
b. Nutrisi
Diet yang seimbang antara jumlah protein, karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin
yang adekuat diperlukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap patogen
dan menurunkan risiko infeksi. Pembedahan, infeksi luka yang parah, luka bakar
dan trauma, dan kondisi defisit nutrisi meningkatkan kebutuhan akan nutrisi.
Kurang nutrisi dapat meningkatkan resiko infeksi dan mengganggu proses
penyembuhan luka. Sedangkan obesitas dapat menyebabkan penurunan suplay
pembuluh darah, yang merusak pengiriman nutrisi dan elemen-elemen yang lainnya
yang diperlukan pada proses penyembuhan. Selain itu pada obesitas penyatuan
jaringan lemak lebih sulit, komplikasi seperti dehisens dan episerasi yang diikuti
infeksi bisa terjadi (DeLaune & Ladner, 2002).
c. Oksigenasi
Penurunan oksigen arteri pada mengganggu sintesa kolagen dan pembentukan
epitel, memperlambat penyembuhan luka. Mengurangi kadar hemoglobin (anemia),
menurunkan pengiriman oksigen ke jaringan dan mempengaruhi perbaikan jaringan
(Delaune & Ladner, 2002).
d. Infeksi
Bakteri merupakan sumber paling umum yang menyebabkan terjadinya infeksi.
Infeksi menghematkan penyembuhan dengan memperpanjang fase inflamasi, dan
memproduksi zat kimia serta enzim yang dapat merusak jaringan (Delaune &
Ladner, 2002). Resiko infeksi lebih besar jika luka mengandung jaringan nekrotik,
terdapat benda asing dan suplai darah serta pertahanan jaringan berkurang (Perry &
Potter, 2005).
e. Merokok
Merokok dapat menyebabkan penurunan kadar hemoglobin dan kerusakan
oksigenasi jaringan. Sehingga merokok menjadi penyulit dalam proses
penyembuhan luka (DeLaune & Ladner, 2002).
f. Diabetes Melitus
Menyempitnya pembuluh darah (perubahan mikrovaskuler) dapat merusak perkusi
jaringan dan pengiriman oksiken ke jaringan. Peningkatan kadar glukosa darah
dapat merusak fungsi luekosit dan fagosit. Lingkungan yang tinggi akan kandungan
glukosa adalah media yang bagus untuk perkembangan bakteri dan jamur (DeLaune
& Ladner, 2002).
g. Sirkulasi
Aliran darah yang tidak adekuat dapat mempengaruhi penyembuhan luka hal ini
biasa disebabkan karena arteriosklerosis atau abnormalitas pada vena (DeLaune &
Ladner, 2002.

15
h. Steroid
Steroid dapat menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera
dan menghambat sintesa kolagen. Obat obat antiinflamasi dapat menekan sintesa
protein, kontraksi luka, epitelisasi dan inflamasi (DeLaune & Ladner, 2002).
i. Antibiotik
Penggunaan antibiotik jangka panjang dengan disertai perkembangan bakteri yang
resisten, dapat menigkatkan resiko infeksi (Delaune & Ladner, 2002).

K. FOKUS INTERVENSI KEPERAWATAN


1. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kerusakan jaringan (Wong, 2003)
Tujuan : pasien menunjukkan penyembuhan luka.
Intervensi :
a. Cukur rambut 2 inchi dari daerah luka segera setelah terjadi luka bakar.
b. Bersihkan luka dan daerah sekitar
c. Jaga pasien agar tidak menggaruk dan memegang luka
d. Berikan tehnik distraksi pada pasien
e. Pertahankan perawatan luka untuk mencegah kerusakan epitel dan granulasi.
f. Berikan kalori tinggi, protein tinggi dan makanan kecil
g. Berikan vitamin tambahan dan mineral-mineral
h. Tutup daerah terbakar untuk mencegah nekrosis jaringan
i. Monitor vital sign untuk mengetahui tanda infeksi

2. Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan barier kulit, kerusakan respon imun,
prosedur invasif. (Effendi. C, 1999).
Tujuan : Menunjukkan tidak ada infeksi
Intervensi :
a. Laksanakan dan pertahankan kontrol infeksi sesuai kebijakan ruang
b. Pertahankan tehnik cuci tangan yang hati-hati bagi perawatan dan pengunjung
c. Pakai sarung tangan ketika merawat luka untuk meminimalkan terhadap agen
infeksi.
d. Ambil eksudat, krusta untuk mengurangi sumber infeksi.
e. Cegah kontak pasien dengan orang yang mengalami ISPA / infeksi kulit.
f. Berikan obat antimikrobial dan penggantian. balutan pada luka.
g. Monitor vital sign untuk mencegah sepsis

3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan


metabolisme, katabolisme, kehilangan nafsu makan (Wong, 2003)
Tujuan : nutrisi terpenuhi sesuai dengan kebutuhan tubuh
Intervensi :
a. Berikan perawatan oral
b. Berikan tinggi kalori, tinggi protein dan makanan kecil untuk mencegah
kekurangan protein dan memenuhi kebutuhan kalori.
c. Timbang BB tiap minggu untuk melengkapi status nutrisi
d. Catat intake dan output
e. Monitor diare dan konstipasi untuk mencegah intoleransi terhadap makanan

16
4. Gangguan volume cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan permeabilitas kapiler yang mengakibatkan cairan elektrolit dan protein
masuk ke ruang interstisiel (Wahidi, 1996).
Tujuan : Gangguan keseimbangan cairan dapat teratasi
Intervensi :
a. Observasi inteke dan output setiap jam.
b. Observasi tanda-tanda vital
c. Timbang berat badan
d. Ukur lingkar ektremitas yang terbakar tiap sesuai indikasi
e. Kolaborasi dengan tim medis dalam. pemberian cairan lewat infus
f. Awasi pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, Elektrolit, Natrium urine random)

17
F. PATOFISIOLOGI

Bahan Kimia Termis Radiasi Listrik Petir

Luka Bakar

Biologis Psikologis Gangguan Citra Tubuh


Defisiensi Pengetahuan
Ansietas

Pada Wajah Di Ruang Tertutup Kerusakan Kulit

Kerusakan Mukosa Keracunan Gas Penguapan Masalah


Keperawatan:
Resiko Infeksi
Oedema Laring CO Mengikat Hb Peningkatan Gangguan rasa
Pembuluh Darah Nyaman Kerusakan
Integritas Kulit
Obstruksi Jalan Nafas Hb Tidak Mampu Ekstravasasi cairan
Mengikat O2 (H2O2, Elektrolit,

Gagal Nafas Hipoksia Otak Tekanan Osmotik


Menurun

Ketidakefektifan Masalah
Pola Nafas Keperawatan: Cairan Intravaskular Hipovolemia dan
Kekurangan Volume Menurun Hemokonsentrasi
cairan, Resiko
Ketidakefektifan
perfusi jaringan otak Gangguan Sirkulasi
Makro

Ganggun Perfusi Gangguan Sirkulasi


Organ Penting

Gangguan Perfusi
Gagal Fungsi Hepar Daya Tahan Tub Imun

Laju Metabolisme
18 Meningkat
Hipoksia Hepatik Pelepasan Hepar Glukogenolisis
Katekolamin

Hambatan Neurologi
Gg Neurologi Ketidakseimbangan
Pertumbuhan
Nutrisi Kurang dari
Kebutuhan Tubuh
Penurunan Curah Kebocoran Kapiler Kardiovaskuler
Jantung

Gagal Jantung

Sel Otak mati Hipoxia Otak

Resiko Penurunan
Perfusi Jaringan
Otak

Fungsi Ginjal Hipoxia Sel Ginjal Ginjal

Resiko Dilatasi Lambung GI Traktus


Ketidakefektifan
Perfusi Ginjal

MULTI SISTEM
ORGAN FAILURE

19
20
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
Kasus
Anak By ( 2 tahun ) dibawa ke Instalasi Gawat Darurat karena mengalami luka
bakar. Menurut ibu pasien By, saat ibu berada didapur untuk masak, anak By sedang
bermain didapur, tiba-tiba ibu terpleset lantai rumah dan air panas yang ada diketel
mengenai punggung pasien. Pada awalnya pasien pertama kali dibawa ke poliklinik.
Setelah itu pasien dirujuk kerumah sakit dan akhirnya pasien dirawat. Oleh dokter yang
memeriksa anak didiagnosa luka bakar sedang dengan prosentasi 22 %. Bagian badan anak
yang mengalami luka bakar grade II dan paling parah adalah di daerah leher. Pasien akan
dilakukan operasi skingraph. Anak By selalu menjerit jerit saat dilakukan wound care.

1. PENGKAJIAN
A. BIODATA
1. Identitas Klien
Nama : An.By
Umur : 2 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Suku / Bangsa : Jawa / Indonesia
Pendidikan :-
Pekerjaan :-
Status : Anak
No. Register : 62614
Diagnosa Medis : Combustio

2. Identitas Penanggungjawab
Nama : Tn. S
Umur : 28 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Hub. Dengan pasien : Orangtua
Pekerjaan : Wiraswasta
Pendidikan : SLTP
Agama : Islam
Alamat : Cirebon
21
Keluhan Utama : Merasa panas pada punggung

B. STATUS KESEHATAN
a. Riwayat Penyakit Sekarang
- Ibu klien mengatakan pada saat masak di dapur, anak sedang bermain tiba-tiba
terpelesat dilantai dan air panas yang ada diketel mengenai punggung anak, anak
dibawa ke IGD dengan keadaan kulit keabu-abuan, pucat dan dijumpai bulae dari
leher sampai bokong.

- Status Luka bakar


 Luka bakar total 22%, dileher 4% derajat 2, dipunggung 13%, bokong 5%
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan belum pernah masuk ke rumah sakit.
c. Riwayat Keluarga
Klien mengatakan tidak ada keluarga yang mempunyai riwayat DM, Hipertensi, Asma,
dan TBC.

C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Primary Survey
 Airway
 Pasien bernafas spontan
 Kesadaran : CM
 Bicara jelas
 Irama nafas teratur
 Breathing
 RR : 24 x/menit
 Cappilary refill normal
 Warna kulit kemerahan, abu-abu (bagian luka bakar)
 Cirkulation
 N : 112 x/menit, S : 37,8 °C
 Disability
 GCS :15 E:4, M:5, V:6
 Pupil : tidak ada ikterik
 Exposure

22
 Luka bakar total 22%, dileher 4% derajat 2, dipunggung 13%, bokong 5%
2. Secondary Survey
Status Generalis :
- Keadaan Umum : Tampak kesakitan di daerah punggung, wajah dan leher bagian
kiri.
- Kesadaran : CM

3. Pemeriksaan Head to toe


a. Kepala :
Inspeksi : Muka tampak gelisah
Palpasi : Tidak teraba adanya cairan di kepala
b. Mata :
Inspeksi : Tidak ada ikterik, konjungtiva anemis
c. Telinga :
Inspeksi : Tidak tampak kelainan
d. Hidung :
Inspeksi : Tidak ada polip
Palpasi : Tidak ada sinus
e. Mulut :
Inspeksi : mukosa bibir kering
f. Leher :
Inspeksi : adanya bulae dan luka bakar dibagian leher dengan derajat 4%
Palpasi : adanya nyeri tekan
g. Abdomen :
Inspeksi : Simetris dan tidak adanya lesi
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Auskultasi : Bising usus 9
h. Punggung :
Inspeksi : Terdapat luka bakar di Punggung 13% berwarna merah dan
dijumpai bulae
Palpasi : nyeri didaerah luka bakar
i. Ekstrimitas :
Inspeksi : tidak terdapat lesi
Ekstermitas Atas : Baik, terpasang infus sebelah kiri
Ekstermitas bawah : Baik, tidak ada odem

D. PENATALAKSANAAN MEDIS
 Rumus baxter : (% luka bakar) x (BB) x (4cc)
22% x 12 x 4 = 1056 cc
8 jam pertama 528 cc
8 jam kedua 264 cc
8 jam ketiga 264 cc
 Dilakukam operasi skingraph

23
E. ANALISA DATA
No Masalah
Data Fokus Etiologi
. keperawatan
1. Ds : Termis Kerusakan
Ibu klien mengatakan anaknya integritas kulit

terkena luka bakar didaerah leher


Luka bakar
dan punggung

biologis
Do :
- Terdapat bulae
- Kulit kering Kerusakan kulit
- Luas luka bakar 22% grade 2
- Luka bakar pada bagian Kerusakan
punggung dan leher Integritas kulit
- Dasar luka bewarna merah
2 Ds : Termis Gangguan rasa
Ibu klien mengatakan anaknya nyaman

menjerit-jerit saat melakukan


Luka bakar
wound care.

Biologis
Do :
- - Klien tampak menjerit-jerit saat
dilakukan wound care. Kerusakan kulit
- Luas luka bakar 22% grade 2
- Luka bakar pada bagian Gangguan rasa
punggung dan leher nyaman
- Terdapat bulae
- Kulit kering

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Kerusakan integritas kulit b.d luka bakar terbuka


2. Gangguan rasa nyaman b.d luka bakar terbuka

24
G. INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa NOC NIC


N
Keperawat (Nursing Outcome (Nursing Intervention Rasional
o
an Classification) Classification)
1 Kerusakan NOC NIC - Untuk
integritas - Monitor kulit akan mengetahui
Setelah dilakukan tindakan
kulit b.d adanya kemerahan tanda dan
keperawatan 2x24 jam
luka bakar - Mobilisasi pasien gejala infeksi
diharapkan kerusakan
terbuka (ubah posisi pasien) - Untuk
integritas kulit dapat
setiap dua jam sekali mencegah
teratasi dengan kriteria
- Jaga kebersihan kulit cedera
hasil sebagai berikut :
agar tetap bersih dan - Untuk
- Luka bullae tampak kering mempertahank
membaik - Oleskan lotion atau an kebersihan
- Kulit elastis minyak/baby oil pada kulit
- Grade luka bakar daerah yang tertekan - Untuk
menurun dari grade 2 ke - Ganti balutan pada menjaga
grade 1 interval waktu yang kelembaban
- Luka bakar pada bagian sesuai atau biarkan kulit
punggung dan leher luka tetap tebuka - Untuk
membaik (tidak dibalut) sesuai mempercepat
- Tidak ada kemerahan program proses
pada luka - Gunakan preparat penyembuhan
antiseptic sesuai luka
program - Untuk
- Berikan operasi mencegah
Skingraph terjadinya
penyebaran
bakteri
- Untuk
meregenerasi
jaringan kulit

25
yang
rusak/mati
2 Gangguan NOC : NIC : - Untuk
rasa - Atur lingkungan yang memberikan
Setelah dilakukan tindakan
nyaman dapat meningkatkan lingkungan
keperawatan 2x24 jam
b.d luka kenyamanan pasien yang nyaman
diharapkan kerusakan
bakar - Atur posisi pasien bagi pasien
integritas kulit dapat
terbuka senyaman mungkin, - Untuk
teratasi dengan kriteria
hindari posisi yang mencegah
hasil sebagai berikut :
menekan luka terjadinya
- Klien tampak nyaman - Anjurkan pasien penekanan
- Luas luka bakar memakai pakaian berlebih pada
berkurang lembut dan longgar area luka
- Grade luka bakar - Berikan pemahaman - Untuk
menurun dari grade 2 ke kepada pasien terkait mencegah
grade 1 penyakit yang tergoresnya
- Luka bakar pada bagian dialaminya luka oleh
punggung dan leher - Dorong keluarga pakaian
mulai membaik untuk menemani anak - Agar pasien
- Luka bullae tampak dalam proses dapat
membaik penyembuhan menerima
- Kulit elastis - Dorong pasien untuk keadaan
mengungkapkan penyakitnya
perasaaanya, - Untuk
ketakutan, persepsi memberikan
- Ajarkan klien suport kepada
menggunakan tehnik anak
relaksasi - Untuk
- Temani pasien untuk mengetahui
memberikan apa yang
keamanan dan dirasakan
kenyamanan klien

26
- Untuk
meningkatkan
kenyamanan
- Agar pasien
merasa aman
dan nyaman
selama proses
penyembuhan

27
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Luka bakar adalah kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan
sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi. (Smeltzer, suzanna,
2002). Penilaian dalam memberikan terapi dan perawatan luka bakar diklafikasikan
bedasarkan penyebab, kedalaman luka, dan keseriusan luka.
Luka bakar disebabkan oleh perpindahan energi dari sumber panas ke tubuh melalui
konduksi atau radiasi elektromagnetik. Perjalanan penyakit luka bakar dibagi menjadi 3 fase,
yaitu : fase akut, fase sub akut, dan fase lanjut.

B. Kritik dan Saran

Memberikan pengetahuan kepada mahasiswa kesehatan khususnya untuk mahasiswa


keperawatan agar mengetahui patofisiologi luka bakar, dalam hal ini meliputi pengertian,
etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, penatalaksanaan, dan perawatan pada luka bakar.

28
DAFTAR PUSTAKA

 Yefta, Moenajat. (2003) . Luka Bakar Pengetahuan Klinis Praktis. Edisi Revisi.
Jakarta: Balai
Penerbit FKUI
 Suriadi. (2007). Manajemen Luka. Romeo Grafika.Pontianak
 Brunner & Suddarth. (2010). Textbook of Medical Surgical Nursing (12th ed.). USA:
Lippincott
 Wim de Jong. 2005. Bab 3 : Luka Bakar : Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2.EGC.
Jakarta. p 66-88

29