Anda di halaman 1dari 70

Makalah Halusinasi

Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi syarat salah satu tugas mata
kuliah Keperawatan Jiwa II.

Dosen:
Andria Pragholapati, S. Kep., Ners.,M.Kep
Disusun:
Kelompok 3, Kelas b

1. A. Helmi Kurniawan AK.1.16.001


2. Dalilatul Mufarihah A AK.1.16.010
3. Lisnasari AK.1.16.032

PROGRAM STUDY SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BHAKTI KENCANA BANDUNG
2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,


karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas
makalah yang berjudul “Makalah Halusinasi”.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat saran,
dorongan, serta keterangan-keterangan dari berbagai pihak yang merupakan
pengalaman yang tidak dapat diukur secara materi, namun dapat membukakan
mata penulis bahwa sesungguhnya pengalaman dan pengetahuan tersebut adalah
guru yang terbaik bagi penulis.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari masih terdapat banyak


kekurangan yang dibuat baik sengaja maupun tidak sengaja, dikarenakan
keterbatasan ilmu pengetahuan dan wawasan serta pengalaman yang penulis
miliki. Untuk itu kami mohon maaf atas segala kekurangan tersebut dan tidak
menutup diri terhadap segala saran dan kritik serta masukan yang bersifat
kontruktif bagi penulis.

Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bandung, 01 Oktober 2018

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ...................................................................... 2
1.4 Manfaat Penulisan .................................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI
2.1 Konsep Dasar Gangguan Jiwa ................................................. 3
2.2 Asuhan Keperawatan Secara Teori .......................................... 4
2.2.1 Pengkajian .................................................................... 4
2.2.2 Diagnosis ...................................................................... 19
2.2.3 Identifikasi hasil............................................................ 20
2.2.4 Perencanaan .................................................................. 23
2.2.5 Implementasi................................................................. 30
2.2.6 Evaluasi ........................................................................ 58
BAB III TINJAUAN KASUS
3.1 Pembahasan Kasus Video 1...................................................... 60
3.2 Pembahasan Kasus Video 2...................................................... 62
3.3 Pembahasan Kasus Video 3...................................................... 65
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan .............................................................................. 66
4.2 Saran ......................................................................................... 66
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 67

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Menurut WHO (World Health Organization), masalah gangguan
jiwa di dunia ini sudah menjadi masalah yang semakin serius. Paling tidak,
ada satu dari empat orang di dunia ini mengalami gangguan jiwa. WHO
memperkirakan ada sekitar 450 juta orang di dunia ini ditemukan mengalami
gangguan jiwa. Berdasarkan data statistik, angka pasien gangguan jiwa
memang sangat mengkhawatirkan (Yosep, 2007).

Menurut UU Kesehatan Jiwa No.3 Tahun 1966, Kesehatan Jiwa adalah


suatu keadaan yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual,
emosional secara optimal dari seseorang dan perkembangan ini selaras
dengan dengan orang lain. Sedangkan menurut American Nurses Associations
(ANA) keperawatan jiwa merupakan suatu bidang khusus dalam praktek
keperawatan yang menggunakan ilmu perilaku manusia sebagai ilmu dan
penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai caranya untuk
meningkatkan, mempertahankan, memulihkan kesehatan jiwa.

Di Rumah Sakit Jiwa di Indonesia, sekitar 70% halusinasi yang dialami


oleh pasien gangguan jiwa adalah halusinasi pendengaran, 20% halusinasi
penglihatan, dan 10% adalah halusinasi penghidu, pengecapan dan perabaan.
Angka terjadinya halusinasi cukup tinggi. Halusinasi adalah penyerapan
(persepsi) panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar yang dapat
meliputi semua panca indera dan terjadi disaat individu sadar penuh (Depkes
dalam Dermawan dan Rusdi, 2013)

Halusinasi pendengaran adalah klien mendengar suara-suara yang tidak


berhubungan dengan stimulasi nyata yang orang lain tidak mendengarnya
(Dermawan dan Rusdi, 2013). Sedangkan menurut Kusumawati (2010)
halusinasi pendengaran adalah klien mendengar suara-suara yang jelas
maupun tidak jelas, dimana suara tersebut bisa mengajak klien berbicara atau
melakukan sesuatu.

1
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana konsep pada gangguan jiwa?
2. Bagaimana asuhan keperawatan secara teori pada klien halusinasi?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan
mempermudah mahasiswa dalam mempelajari halusinasi yang dialami oleh
klien dengan gangguan jiwa.

1.5 Manfaat Penulisan


1. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami konsep pada gangguan
jiwa
2. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami asuhan keperawatan
secara teori pada klien halusinasi

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Gangguan Jiwa


Orang sering berinteraksi terhadap kata psikosis dengan ketakutan dan
ketidakpastian. Psikosis (gangguan jiwa) diartikan sebagai keadaan jiwa yang
tidak berhubungan dengan realitas. Selama episode gangguan jiwa, orang tersebut.
Tidak menyadari yang dialami orang lain tentang hal yang sama dan ajaib
mengapa orang lain tidak bereaksi dengan cara yang sama.
Tujuan keseluruhan dari asuhan keperawatan adalah untuk membantu klien
mengenali gangguan jiwanya dan mengembangkan strategi untuk mengelola
gejala dan mencapai pemulihan. Penting untuk diingat bahwa gangguan jiwa
adalah penyakit otak neurobiologis kompleks yang memengaruhi kemampuan
seseorang untuk memahami dan memproses informasi. Perilaku yang
berhubungan dengan gangguan jiwa sulit dipahami, biasanya parah, dan bisa
berlangsung lama.
2.1.1 Rentang respons neurobiologis
Rentang respon neurobiologis meliputi kontinum dari respons
adaptif, seperti pemikiran logis dan persepsi yang akurat ke respon
maladaptif seperti distorsi pemikiran dan halusinasi.

Adaptif Mal Adaptif

- Pikiran logis - Kadang-kadang - Waham


- Persepsi akurat proses pikir - Halusinasi
- Emosi konsisten terganggu - Kerusakan proses
dengan - Ilusi emosi
pengalaman - Emosi berlebiahan - Perilaku tidak
- Perilaku cocok - Perilaku yang tidak terorganisasi
- Hubungan sosial biasa - Isolasi sosial
harmonis - Menarik diri

3
2.2 Asuhan Keperawatan Secara Teori
2.2.1 Pengkajian
Skizofrenia adalah salah satu dari gangguan jiwa. Gangguan jiwa
lainnya termasuk gangguan skizofreniform, gangguan skizoafektif,
gangguan waham, gangguan psikotik singkat, dan gangguan psikotik
induksi zat (American Psychiatric Association, 2013). Gangguan jiwa
kadang-kadang hadir dalam gangguan jiwa lain, seperti depresi dengan ciri
psikotik, episode manik dari gangguan bipolar, gangguan stres pasca
trauma, delirium, dan gangguan mental organik.
Kata skizofrenia adalah kombinasi dari dua kata yunani, istizein,
“untuk membagi”, dan phren, “pikiran”. Skizofrenia tidak mengacu pada
“kepribadian ganda,” seperti dalam gangguan kepribadian ganda, dimana
identitas hadir secara terpisah, tapi dengan keyakinan bahwa telah terjadi
perpecahan antara aspek kepribadian yaitu kognitif dan emosional.
Salah satu cara mengelompokkan daftar gejala skizofrenia adalah
sebagai gejala positif (perilaku normal yang berlebihan) dan gejala negatif
(perilaku normal yang berkurang). Model ini menggabungkan gejala
positif dan negatif skizofrenia serta aspek-aspek lain, termasuk gejala
kognitif, gejala suasana hati, dan beberapa disfungsi sosial dan
okupasional yang umum pada skizofrenia.
Pengkajian melibat pemahan cara dimana otak memproses informasi
dari indera dan respons perilaku yang dihasilkan. Perilaku ini akan disusun
dalam kategori berikut:
1. Kognitif
2. Persepsi
3. Emosi
4. Perilaku dan gerakan
5. Sosialisasi

4
Gejala Positif Gejala negatif
waham, halusinasi, gangguan afek datar, alogia,
pemikiran, bicara kacau, avolition/apatis,
perilaku bizar, afek tidak anhedonia/sosialitasi, defisit
tepat. perhatian

Disfungsi sosial / kerja


Pekerjaan/aktivitas,
hubungan interpersonal,
perawatan diri,
mortalitas/morbiditas

Gejala Kognitif
Gejala Suana hati
Perhatian, memori, fungsi
eksekutif; abtraksi, Distoria, bunuh diri,
pembentukan konsep, keputusasaan.
pemecahan masalah,
pengambilan keputusan

Gambar 17-2 kelompok gejala utama dari skizofrenia (Dimodifikasi dari


Eli Lilly: schizophrenia and related disorders; a comprehensive review and
bibliography slide kit, indianapolis, 1996,Lilly, neuroscience).

1. Perilaku
1) Kognitif
Kognitif adalah tindakan atau proses mengetahui, kognitif melibatkan
kesadaran dan penilaian yang memungkinkan otak untuk memproses
informasi dengan cara menyediakan akurasi, penyimpanan, dan

5
pengambilan. Orang dengan skizofrenia sering tidak dapat menghasilkan
pemikiran logis yang kompleks atau mengungkapkan kalimat yang
koheren karena neurotransmisi pada sistem pengolahan informasi otak
yang rusak. Defisit kognitif sering hadir pada klien yang secara klinis
beresiko tinggi gangguan jiwa sebelum timbulnya gangguan jiwa (Carrion
et al.2011).
2) Persepsi
Persepsi adalah identifikasi dan interpretasi stimulus bedasarkan informasi
yang diterima melalui penglihatan, suara, rasa, sentuhan, dan penciuman.
Masalah persepsi adalah gejala pertama yang sering terjadi pada banyak
penyakit otak.
Halusinasi adalah distorsi persepsi palsu yang terjadi pada respons
neurobiologis maladaptif. Klien sebenarnya mengalami distorsi sensori
sebagai hal yang nyata dan merespons nya. Pada halusinasi, tidak ada
stimulus internal dan eksternal yang di identifikasi. Halusinasi dapat
muncul dari salah satu panca indra, seperti dijelaskan pada tabel 17-1

Modalitas Sensoris yang Terlibat dalam Halusinasi


Indera Karakteristik
Pendengaran Mendengar kegaduhan atau suara,
paling sering dalam bentuk suara. Suara
yang berkisar dari kegaduhan atau suara
sederhana, suara berbicara tentang
klien, menyelesaikan percakapan antara
dua orang atau lebih tentang orang yang
berhalusinasi. Pikiran mendengar
dimana klien mendengar suara-suara
yang berbicara pada klien dan perintah
yang memberitahu klien untuk
melakukan sesuatu, kadang-kadang

6
berbahaya.

Pengliahatan Rangsangan visual dalam bentuk


kilatan cahaya, gambar geometris,
tokoh kartun, atau adegan atau
bayangan rumit dan kompleks.
Bayangan dapat menyenangkan atau
menakutkan, seperti melihat monster.
Penciuman Mencium tidak enak, busuk, dan tengik
seperti darah, urin, atau feses; kadang-
kadang bau menyenangkan. Halusinasi
penciuman biasanya berhubungan
dengan stroke, tumor, kejang, dan
demensia.
Gustatory Merasakan tidak enak, kotor dan busuk
seperti darah, urin, atau feses.
Perabaan Mengalami nyeri atau ketidaknyamanan
tanpa stimulus yang jelas. Merasa
sensasi listreik dari tanah, benda mati,
atau orang lain.
Kenestetik Merasa fungsi tubuh seperti denyut
darah melaluui pembuluh darah dan
arteri, mencernna makanan, atau
membentuk urin.
Kinestetik Sensasi gerakan sambil berdiri tak
bergerak.

Sekitar 70% dari orang dengan skizoprenia yang mengalami


halusinasi, meskipun halusinasi paling sering dikaitkan dengan
skizofrenia. Halusinasi juga dapat terjadi pada klien dengan penyakit
manik depresif atau delirium, gangguan mental organik, atau gangguan

7
penyalah gunaan zat. Hal ini penting untuk memahami bahwa halusinasi
dan waham dapt terjadi pada penyakit yang mengganggu fungsi otak.
Perawat harus membedakan antara halusinas pendengaran yang
terjadi pada skizofrenia dan sensory and auditory yang sering terjadi pada
orang-orang dengan gangguan stres terjadi pada orang-orang dengan
gangguan stres pasca trauma, gangguan identitas disosiatif, atau gangguan
kepribadian borderline, dan korban trauma dan pelecehan.
Kategori lain dari perilaku persepsi melibatkan integrasi sensorik
dan termasuk pengakuan nyeri, tanda-tanda neurologis yang lembut,
pengenalan kanan/kiri, serta pengakuan dan persepsi wajah. Gejala-gejala
tesebut berhubungan dengan persepsi yang umum pada skizofrenia.
Gangguan integritasi sensorik yang sering menyebabkan tindakan yang
disengaja merugikan diri.
Pengetahuan bahwa lobus parietalis adalah bagian utama yang
mengakui adanya nyeri membantu perawat mengenali gejala berbasis
neurobiologis. Pengakuan nyeri viseral melibatkan integraasi rangsangan
dari sumsum tulang belakang melalui batang otak, diencephalon, dan
korteks menggunakan sirkuit umpan balik yang rumit. Orang dengan
skizofrenia umumnya memiliki pengakuan nyeri viseral yang buruk dan
harus memiliki penilaian yang mendalam tentang keluhan fisik.
Hal ini tidak biasa bagi orang-orang dengan skizofrenia untuk
berfikir mereka hanya mengalami pilek yang buruk dan didiagnosis
sebagai pneumonia. Sayangnya, kebutuhan fisik klien yang mengalami
gangguan jiwa sering diabaikan atau diacuhkan oleh individu, serta oleh
sistem perawatan kesehatan.
Persepsi integrasi sensosrik meliputi standar pemeriksaan neurologis
di bawah kategori tanda-tanda ringan, yang berarti mewakili defisit
neuorologis di lokasi yang belum ditentukan tetapi konsisten dengan
cedera otak pada lobus frontal atau pariental. Istilah-istilah ini mengacu
pada kemampuan untuk mengidentifikasi objek dengan sentuhan.

8
Kotak 17-5 menampilkan beberapa tanda-tanda neurologis ringan
dan berat pada skizofrenia yang harus dinilai dengan hati-hati selama
evaluasi awal pada setiap klien. Maslaah dalam fungsi ini berkontribusi
terhadap kesulitan tindakan motorik halus tangan, dan klien mungkin
tampak canggung. Masalah dengan diskriminasi benar/salah juga
berkontribusi terhadap kurangnya koordinasi dan kemampuan untuk
melaksanakan arah yang melibatkan konsep benar dan salah.
Kesalahan identifikasi dan persepsi pada wajah dapat berkontribusi
terhadap timbulnya rasa takut, agresivitas, penarikan dari interaksi, dan
permusuhan. Gejala ini juga melibatkan pengakuan diri dan sering
dirasakan ketika klien menolak untuk melihat cermin atau menghindari
kontak mata.
Kotak 17-5
Disfungsi korteks prefontal pada skizofrenia
Tanda Neurologis Ringan
- Astreognosis: Ketidakmampuan untuk mengenali objek dengan
indera peraba (misalnya, membedakan nikel dari seperpun)
- Agraphesthesia: ketidakmampuan untuk mengenali angka atau
huruf ditelusuri pada kulit
- Dysdiadochokinesia: penurunan kemampuan untuk melakukan
gerakan halus, gerakan bolak-balik (misalnya, mengubah tangan
ke atas dan mengidap kebawah dengan cepat)
- Berkedut otot ringan, choreiform dan ticlike gerakan, meringis.
- Gangguan keterampilan motorik halus dan motorik nada normal.
- Peningkatan tingkat mata berkedip
- Abnormal smooth pursuit eye movem (SPEMs): kesulitan
mengikuti gerakan benda.
Tanda Neurologis Berat
- Hilangnya fungsi, kelemahan, refleks berkurang, kelumpuhan
yang disebabkan kecelakaan serebrosvakuler, tumor, luka trauma,
dll.

9
a) Faktor lingkungan dapat merangsang halusinasi.
Secara umum, objek yang reflektif, seperti layar televisi, bingkai
foto, dan lampu neon, dapat berkontribusi untuk halusinasi visual.
Halusinasi pendengaran dapat disebabkan oleh kebisingan yang
berlebihan dan dengan kekurangan sensorik. Perawat harus menyadari
rangsangan lingkungan dan respons klien atau kurangnya respons.
Klien mungkin menarik diri dari rangsanagan sensorik dalam upaya
untuk mengurangi respons sensorik. Sekitar 90% dari orang-orang
yang mengalami halusinasi juga mengalami waham, sedangkan hanya
35% dari mereka yang mengalami waham juga memiliki halusinasi.
Sekitar 20% dari klien telah bercampur halusinasi sensorik, biasanya
pendengaran dan visual.

3) Emosi
Emosi dijelaskan dalam hal susunan hati dan afek. Susunan hati
adalah nada perasaan yang luas dan berkelanjutan yang dapat dialami
selama beberapa jam atau selama bertahun-tahun dan memengaruhi
pandangan dunia seseorang. Afek mengacu pada perilaku seperti tangan
dan gerakan tubuh, ekspresi wajah, dan nada suara yang dapat diamati
ketika seseorang mengekpresikan dan mengalami perasaan dan emosi.
Istilah yang terkait dengan afek meliputi luas, terbatas, tumpul,
datar, dan tidak pantas. Apa yang dianggap normal sangat bervariasi
antara budaya. Afek luas atau terbatas biasanya dianggap berada dalam
kisaran normal, sedangkan afek tumpul, datar, atau tidak sesuai
merupakan gejala dari suatu masalah mendasar. Gangguan afek mengacu
pada ekspresi emosi, bukan pengalaman emosi. Klien menggambar gejala
afektif dalam contoh berikut:
a. “Saya ingat mencoba untuk tersenyum selama 3 tahun, tapi wajah
saya tidak bekerja.”

10
b. “Wajah saya kaku seperti jari-jari anda jika anda akan meningkat
mereka ke tongkat es loli selama 3 bulan dan kemudian mencoba
untuk menggunakannya untuk benang jarum.”
Klien menggambarkan kegagalan dengan gejala afektif karena orang
lain menganggap bahwa mereka tidak mengalami emosi apapun.
Akibatnya, klien sering salah menilai sehingga muncul bosan,
ketidaktertarikan, atau tidak termotivasi. Emosi mengacu pada suasana hati
dan afek yang terhubung ke ide-ide tertentu. Emosi dihasilkan dari
interaksi aktivitas saraf antara hipotalamus, struktur limbik (amigdala dan
hipokampus), dan pusat-pusat korteks yang lebih tinggi. Hipotalamus,
selain berfungsi hormonal, juga merupakan pusat koordinasi emosional.
Emosi dapat hiperekspresi (terlalu banyak) atau hipoekspresi (terlalu
dekat). Orang dengan skizofrenia umumnya memiliki gejala
hipoekspresi. Beberapa klien merasa bahwa mereka tidak lagi memiliki
perasaan apapun dan mereka mengalami penurunan kemampuan untuk
merasakan keintiman dan kedekatan. Masalah emosi yang biasanya
terlihat pada skizofrenia adalah sebagi berikut:
a. Alextimia : kesuliatan penamaan dan menggambarkan emosi
b. Anhedonia : ketidakmampuan atau penurunan kemampuan untuk
mengalami kesenangan, kegembiraan, keintiman, dan kedekatan.
c. Apatis : kurangnya perasaan, emosi, minat, atau kekhawatiran.
Selain masalah dengan emosi dan afek, orang dengan skizofrenia
juga dapat mengalami gangguan suasana hati. Diagnosis gangguan
skizofrenia di tetapkan pada klien yang memenuhi kriteria diagnostik
untuk skizofrenia serta mereka dengan gangguan bipolar atau depresi
berat.

4) Perilaku dan gerakan


Definisi perilaku dan gerakan “normal” didasarkan pada budaya,
kesesuaian usia, dan penerimaan sosial. Respons maladaptif neurobiologis
menyebabkan perilaku dan gerakan yang aneh, tidak sedap dipandang

11
membingungkan, sulit untuk mengelola, disfungsional, dan
membingungkan orang lain. Dengan eksplorasi, banyak perilaku dapat
dijelaskan dan gerakan dapat dipahami. Beberapa masuk akal berdasarkan
informasi yang diberikan oleh klien atau penyakit neurobiologis klien.
Perilaku maladaptif pada skizofrenia meliputi penampilan yang
buruk, kurangnya ketekunan di tempat kerja atau sekolah, avolition,
perilaku berulang atau stereotip, agresi, agitasi, dan negativisme.
Kemerosotan dalam penampilan meliputi berpakain kusut dan kotor,
penampilan jorok dan berantakan, perawatan pribadi yang buruk atau tidak
tidak berhias, dan kurangnya kebersihan pribadi. Sekumpulan gejala
tersebut merupakan sinyal bagi keluarga bahwa ada sesuatu yang terjadi
pada seseorang yang mereka cintai.
Kurangnya ketekunan din tempat kerja atau sekolah biasanya
menyertai penurunan peanmpilan. Ketika masalah dalam fungsi otak
muncul, tampaknya keterampilan kognitif untuk”hubungan pendek,” dan
seseorang tidak dapat lagi menjalankan tugas-tugas rutin. Kemunduran
akan berlanjut, klien sering terlibat dalam prilaku repetitif atau stereotip.
Hal ini terlihat mirip dengan perilaku obsesif-kompulsif tetapi terkait
dengan makna pribadi daripada pikiran. Contohnya meliputi makn
makanan dengancara tertentu, mengenakan pakaian tertentu saaja, dan
melakukan hal yg lainnya.
Istilah agresi, agitasi dan potensi kekerasan sering digunakan untuk
menggambarakan seseorang dengan skizofrenia. Namun, orang yang
mengalami gangguan jiwa tidak selalu melakukan kekerasan. Mereka
yang menjadi perilaku kekerasan biasanya berhenti minum obat atau telah
menyalahgunakan zat.

5) Sosialisasi
Sosialisasi adalah kemampuan untuk membentuk hubungan kerjasama
dan saling tergantung dengan orang lain. Hali ini ditempatkan terakhir
diantara lima fungsi otak utama karena masalah dengan fungsi lainnya

12
harus dipahami untuk menghargai konsekuensi hubungan respons
neurobiologis maladaptif. Masalah sosial seringkali merupakan sumber
utama keprihatinan bagi keluarga dan penyedia layanan kesehatan, karena
efek nyata dari penyakit sering lebih menonjol dari gejala yang
berhubungan dengan kognisi dan persepsi.
Masalah sosial dapat mengakibatkan penyakit secara langsung
maupun tidak langsung. Efek langsung terjadi ketika gejala mencegah
orang lain dari bersosialisasi dalam norma-norma sosial budaya diterima
atau ketika motivasi memburuk, sehingga terjadi penarikan sosialisasi dan
isolasi dari kegiatan hidup. Perilaku langsung yang menyebabkan masalah
ini meliputi ketidakmampuan untuk berkomunikasi koheren, hilangnya
dorongan dan ketertarikan, penurunan keterampilan sosial, keberhasilan
pribadi yang buruk, dan paranoia.
Efek tidak langsung pada sosialisasi adalah konsekuensi sekunder dari
penyakit. Contohnya adalah harga diri rendah berhubungan dengan
prestasi akademik dan sosial yang buruk. Ketidaknyamanan sosial yang
signifikan dan isolasi yang lebih mungkin terjadi. Masalah khusus dalam
pengembangan hubungan meliputi ketidaktepatan sosial, tidak tertarik
pada kegiatan rekreasi, perilaku seksual yang tidak pantas, dan penarikan
terkait stigma oleh teman-teman, keluarga, dan rekan-rekan.
Ketidaktepatan hubungan sosial langsung dengan defisit kognitif dan
menghasilkan perilaku seperti tiba-tiba mulai berdoa atau
mengumandangkan azan dengan suara keras di depan umum, BAB/BAK
di depan umum, berdiri di tengah jalan dan mencoba untuk mengarahkan
lalu lintas, berpakaian aneh, dan terluibat dalam percakapan intim dengan
orang asing. Ketidaktepatan sosial sering melibatkan perilaku seksual
aneh, seperti mastrubasi publik, berjalan telanjang di jalan, atau
melakukan kegiatan seksual yang tidak pantas.
Stigma juga menyajikan hambatan utama dalam mengembangkan
hubungan dan memengaruhi kualitas hidup. Stigma merupakan penyebab
utama dari isolasi sosial orang dengan skizofrenia, dan sering menyebar ke

13
seluruh keluarga, yang mungkin memiliki masalah yang berasal dari rasa
malu mengalami penyakit dalam keluarga (Marcussen et al, 2010;
McCann et al, 2011). Mereka mungkin menghindari berbicara tentang hal
itu, atau jika mereka ingin berbicara, mereka mungkin tidak tahu
bagaimana untuk memulainya. Stigma dan penolakan dapat mencegah
mereka berbicara.

2. Etiologi
1) Faktor Predisposisi
Skrizofrenia adalah gangguan perkembangan saraf otak. Tidak ada
satu hal yang menyebabkan skizofrenia. Skizofrenia adalah hasil akhir
dari interaksi kompleks antara ribuan gen dan banyak faktor risiko
lingkungan. Tidak ada penyebab tunggal dari skizofrenia.
a. Genetik
Genetik memainkan peran pada skizofrenia tetapi sulit untuk
memisahkan pengaruh genetik dan lingkungan. Tujuan dari
penelitian genetik adalah untuk memetakan kerentanan genetik
yang dapat mengembangkan skizofrenia dan kemudian
mengembangkan tindakan genetik sebagai modalitas tritmen.
Faktor resiko yang paling utama untuk mengembangkan
skizofrenia adalah memiliki tingkat pertama hubungan dengan
skizofrenia. Penelitian keluarga, kembar dan adopsi telah
menunjukan peningkatan risiko penyakit pada orang dengan tingkat
pertama hubungan (orang tua, saudara, keturunan) atau tingkat
kedua hubungan (kakek nenek, bibi, paman, sepupu, dan cucu)
dengan skizofrenia (gottesman et al, 2010).
Skizofrenia disebabkan oleh interaksi berbagi mekanisme
biologis, lingkungan, dan pengalaman. Anak-anak yang memiliki
orang tua biologis dengan skizofrenia dan di adopsi pada saat lahir
oleh sebuah kelurga tanpa kejadian gangguan memiliki risiko yang

14
sama seperti jika orang tua biologis mereka telah mengangkat
mereka.

b. Neurobiologi
Studi menunjukan kelainan anatomi, fungsional, dan
neurokimia dalam kehidupan dan otak postmortem orang dengan
skizofrenia. Penelitian menunjukan bahwa korteks prefontal dan
konteks limbik mungkin tidak sepenuhnya berkembang pada otak
orang dengan skizofrenia. Dua hasil penelitian neurobilogis yang
paling konsisten dengan skizofrenia adalah penurunan volume otak
dan perubahan sistem neurotransmiter.
Penuruna volume otak pada grey matter dan white matter
(akson ssaraf) (arnsten, 2011). Hal ini di sebabkan kerusakan
mielisasi yang terjadi pada usia 6 tahun dan pada usia 13 tahun
serta berhubungan dengan teori pemangkasan neuron abnormal
selama masa remaja, (farudi dan mirnics, 2011).
Perhatian khusus telah difokuskan pada hal hal berikut
a. Koretks frontal, terlibat dalam gejala negatif skizofrenia
b. Sistim limbik (dalam lobus temporal), terlibat dalam gejala
positif skizofrenia
c. Sistem neurotransmiter, menghubungkan, daerah ini, khusunya
dopamin dan serotonin, dan yang terbaru adalah glutamat
Perilaku psikotik mungkin berhubungan dengan lesi otak di
daerah frontal, temporal dan limbik dan diregulasi sistem
neurotransmiter yang mehubungkan daerah ini.
c. Teori virus dan infeksi
Pencarian virus dan skizofrenia telah berlangsung lama
(moreno et al, 2011). Bukti menunjukan bahwa paparan virus
influenza pada saat prenatal, terutama pada saat trimester pertama,
mungkin menjadi salah satu faktor etiologi skizofrenia pada
beberapa orang, (brown dan derkits, 2010). Teori ini didukung oleh

15
fakta bahwa lebih banyak orang denganskizofrenia lahir dimusim
dingin atau awal musim semi dan perkotaan. Menunjukan potensi
dampak musim dan tempat lahir terhadap risiko skizofrenia.
Infeksi virus lebih sering terjadi pada tempat-tempat yang
ramai serta dimusim dingin dan awal musim semi. Infeksi virus
dapat terjadi intra uterin atau pada anak usia dini anak yang rentan.
Penelitian telah menemukan bahwa wanita dengan tingkat antibody
toksoplasma memiliki risiko lebih tinggi secara signifikan
mengembangkan gangguan spektrum skizofrenia (pedersen et al,
2011).

2) Stresor Presipitasi
a. Biologis
Salah satu stressor yang mungkin adalah gangguan dalm
umpan balik otak yang mengatur jumlah informasi yang dapat di
proses pada waktu tertentu. Pengolahn informasi normal terjadi dalam
serangkaian aktivitas saraf yang telah ditetapkan. Rangsangan visual
an pendengaran awalnya diskrining dan disaring oleh talamus serta
dikirim untuk di proses oleh lobus prontal. Jika terlalu banyak
informasi yang dikirim sekaligus atau jika informasi tersebut rusak
lobus frontal mengirimkan pesan yang berlebihan pada ganglia
basalis. Ganglia basalis pada gilirannya mengirim pesan ketalamus
untuk memperlambat transmisi pada lobus frontal.
Penurunan fungsi lobus frontal menggangu kemampuan untuk
melakukan umpan balik ini. Kemampuan untuk mengatur ganglia
basalis menjadi menurun dan akhirnya transmisi pesan melambat dan
transmisi ke lobus frontal tidak pernah terjadi, hasilahnya adalah
pengolahan informasi berlebihan dan respons neurobilogis.
Stressor biologis lain yang mungkin adalah mekanisme gating
yang tidak normal mungkin terjadi pada skizofrenia. Gatting adalah
proses listrik yang melibatkan elektrolit. Hal ini berhubungan dengan

16
hambatan dan rangsangan pada potensial aksi saraf serta umpan balik
yang terjadi dalm sistem saraf yang berhubungan dengan transmisi
saraf. Penuruna gating diyunjukan dengan ketidak mampuan
seseorang untuk menyeleksi rangsangan yang ada (alsene dan bachsi,
2011).
b. Gejala Pemicu
Stres tertentu sering mendahului episode baru dari penyakit.
Kata pemicu digunakan untuk menggambarkan stres tersebut. Pemicu
umum respons neurobiologis berkaitan dengan kesehatan, lingkungan,
sikap, dan perialku. Klien dengan skizofrenia dapat belajar mengenal
pemicu yang biasanya direspons sangat reaktif dan mereka dapat
diajarkan untuk menghindarinya, jika mungkin dan menghubungi
perawat untuk membantu mereka jika tidak dapat mengatasinya.

3. Penilaian Terhadap Stresor


1) Model diatesis stres
Model diatesis stress menyampaikan bahwa gejala skizofrenia
berkembang berdasarkan pada hubungan antara jumlah stress yang dialami
oleh seseorang dan amabang batas toleransi stress internal. Model ini
penting karena hal tersebut mengintegrasikan faktor biologis, psikologis,
dan sosial budaya. (liberman et al 1994).
Meskipun tidak ada penelitian ilmiah yang menunjukan bahwa stress
menyebabkan skizofrenia adalah gangguan yang tidak hanya
menyebabkan stress, tetapi lebih menjadi lebih buruk oleh stress (van os et
al, 2010). Stres adlah penilain seseorang terhadap stresor dan masalah
yang terkait dengan koping terhadap stress yang dapat memprediksi
munculnya kembali gejala.
2) Sumber Koping
Gangguan jiwa adalah penyakit menakutkan dan sangat
menjengkelkan yang membutuhkan penyesuaian oleh klien dan keluarga.
Sumberdaya keluarga seperti pemahaman orang tua tentang penyakit,

17
ketersedian keuangan, ketersedian waktu, dan tenaga, dan kemampuan
untuk memberikan dukungan yang berkelanjutan, memengaruhi jalannya
penyesuaian setelah gangguan jiwa terjadi terdiri dariempat tahapdan dapat
berlangsung dari 3-6 tahun (moller,2011).
a. Disonansi kognitif (gangguan jiwa aktif), Disonansi kognitif
melibatkan pencapaian keberhasilan farmakologi untuk menurunkan
gejala dan menstabilkan gangguan jiwa aktif dengan memilih
kenyataan dari ketidaknyataan setelah episode pertama. Hal ini dapat
memakan waktu 6-12 bulan.
b. Pencapaian wawasan (attaining insight), permulaan wawasan terjadi
dengan kemampuan melakukan pemeriksaan terhadap kenyataan yang
dapat dipercaya. Hal ini memakan waktu 6-18 bulan dan tergnatung
pada keberhasilan pengobatan dan dukungan yang berkelanjutan.
c. Kognitif yang konstan (sabilitas disegala aspek kehidupan), kognitif
konstan, termasuk melanjutkan hubungan interpersonal yang normal
dan kembali terlibat dalam kegiatan yang sesuai dengan usia yang
berkaitan dengan sekolah dan bekerja. Fase ini berlangsung 1-3 tahun.
d. Bergerak menuju prestasi kerja atau tujuan pendidikan (kebiasaan
kehidupan/ ordinarines), tahapini termauk kemampuan untuk secara
konsisten terlibat dalam kegiatan harian yang sesuai dengan usia
hidup yang merefleksikan tujuan sbelum gangguan jiwa. Fase ini
berlangsung minimal 2 tahun.
3) Mekanisme Koping
Pada fase gangguan jiw aktif, klien menggunakan beberapa mekanisme
pertahanan yang tidak disadari sebagai upaya untuk melindungi diri dari
pengalaman menakutkan yang disebabkan oleh penyakit mereka.
a. Regresi, berhubungan dengan masalah dalam proses informasi dan
pengeluaran sejumalh besar tenaga dalam upaya untuk mengelola
ansietas, menyisakan sedikit tenaga untuk aktivitas sehari-hari.

18
b. Proyeksi adalah upaya untuk menjelaskan persepsi yang
membingungkan dengan menetapkan tanggung jawab kepada orang
lain atau sesuatu.
c. Menarik diri, berkaitanj dengan masalah membangun kepercayaan dan
keasikan dengan pengalam internal.
d. Pengingkaran, sering digunakan oleh klien dan keluarga. Mekanisme
koping sam dengan penolakan yang terjadi setiap kaliseseorang
menerima informasi yang menyebabkan rasa takut dan asietas (saks,
2009).

Pada proses penyesuaian dengan keadaan setelah gangguan jiwa,


klien aktif menggunakan mekanisme koping adaptif. Mekanisme
koping termasuk strategi koping kognitif, emosional, interpersonal,
fisiologis, dan spiritual yang dapat berfungsi sebagai dasar untuk
perumusan tindakan keperawatan. Konseluing suportif juga diketahui
dapat meningkatkan koping (rudick dan martins, 2009).

2.2.2 Diagnosis
1. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan memperhitungkan tingkat fungsional, stres
dan sitem pendukung klien dan harus di prioritaskan sesuai dengan
tahapan penyakit klien, (krisis, akut, perawatan, atau promosi
kesehatan). Diagnosis keperawatan yang berhubungan dengan respons
neurobiologis.
Diagnosis keperawatan utama NANDA Internasional nanda-1
meliputi hambatan komunikasi verbal, hambatan interaksi sosial, dan
risiko gangguan identitas pribadi.
2. Diagnosis Medis
Diagnosis medeis terkait dengan respons neurobiologis mal adaftif
termasuk skizofrenia, gangguan bentuk skizofrenia, gangguan
skizofrenia, gangguan waham, dan gangguan psikotik singkat.

19
2.2.3 Identifikasi Hasil
Hasil yang diharapkan untuk perawatan klien dengan respons
neurobiologis maladaptif adalahsebagai berikut : klien akan hidup, belajar,
dan bekerja pada tingkat maksimum yang mungkin untuk sukses, yang
diidentifikasikan oleh individu.
Pencegahan kekambuhan dan tindakan dini merupakan komponen
kunci dari keberhasilan yang sukses. Kekambuhan adalah kemablinya
gejala yang cukup parah yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pemantauan gejala secara menyeluruh dapat mencegahnya. Perencanaan
tindakan yang terapeutik termasuk kepada tujuan yang berkaitan dengan
diagnosis dan tingkat kesehatan.
Tujuan jangka pendek mengidentifikasi tahapan yang akan
membawa klien mencapai hasil yang diharapkan. Contohnya sebagai
berikut :
a. Klien akan memulai pembicaraan setidaknya dengan satu orang setiap
hari.
b. Klien akan berpartisipasi dalam kelompok pendidikan perawatan dan
pengobatan mingguan.
c. Klien akan mengidentifikasi obat-obatan dan menggambarkan dosis
yang ditentukan, efek yang diharapkan, efek samping yang kin, dan
tindakn yang di ambil jika pertanyaan muncul.
d. Klien belajar keterampilan untuk mengendalikan tanda dan gejala
penyakit yang dialami.
e. Klien akan terlibat dalam gaya hidup sehat.
f. Klien akan menggambarkan kondisi kehidupan yang lebih disukai
dengan perencanaan pulang dari rumah sakit.
g. Klien akan berlatih keterampoilan hidup masyarakat.

20
Penyesuaian pasca gangguan jiwa : komponen prs dan tema
Tabel 17-2
perawatan klien
Disonansi Wawasan Konstansi Kebiasaan
kognitif (insight) kognitif
Komponen Rasa malu Belajar Pentingnya Mampu
emosional Rasa takut bagaimana memiliki berfikir
Kehilangan menghadapi pengalaman tentang masa
percaya diri hidup saat ini positif awal masuk depan
Frustasi RS. Mencapai
Tidak dapat tujuan hidup
menangani Seseorang berada memilki
stres disana untuk saya. temapt sendiri
untuk hidup
Sesuatu yang
harus dilakukan
untuk waktu saya

Lingkungan
tritmen yang
terasa aman.

Tidak memiliki
banyak waktu
senggang.

Berada disekitar
orang.

Memiliki harapan
akan menjadi
lebih baik

21
Komponen Takut Mencoba Sesuatu untuk Meneglola
Kognitif mengatakan untuk mencari mengalihkan gejala saya
sesuatu yang tahu pikiran perhatian saya dari Menyelesaika
salah Melakukan gejala n pendidikan
kebingungan pemeriksaan Menerima bahwa Dapat bekerja
realitas saya memerlukan
dirisendiri tritmen
Mampu Kembali kepada
mengontrol yang biasa saya
gejala kerjakan
Mulai terbiasa Berfikit positif
dengan situasi Belajar bahwa
Menyadari saya bukan satu
keterbatasan satunya dengan
skizofrenia
Memiliki krontrol
dalam tritmen
saya
Komponen Sulit untuk Berkomunikasi Memiliki Melakukan
interperso pergi dengan orang seseorang yang apa yang
nal ketempat lain mendengarkan orang lain
umum dan saya lakukan
berada Seseorang untuk
disekitar diajak bicara
orang orang tentang saya
kehilangan Pengakuan pada
teman konselor
Orang harus jujur
dengan realitas
Memiliki orang
orang yang

22
menjelaskan hal-
hal
Seseorang untuk
diajak bicara
tentang hal hal
umum
Memiliki bantuan
yang tersedia
ketika saya
pertama kali sakit
Komponen Menggunakan Mengambil Obat yang tepat
Fisik semua tenaga waktu untuk Merawat tubuh
saya menstabilkan saya
Menggunakan dari episode Memiliki rutinitas
obat dan pertama
alkohol
Komponen Berdoa
spiritual

2.2.4 Perencanaan
Perawatan sering diberikan di rumahsakit ketika seseorang berada
dalam krisis atau tahap akut penyakit. Tujuan keseluruhan adalah untuk
membantu klien mencapai stabilitas sebagai dasar pemuliahan.
Perencanaan pulang dimulai pada saat masuk karena kebutuhan
psikososial klien dengan respons neurobiologhis mal adaptif sangat
kompleks. Semua sumberdaya klien harus dievaluasi. Sumber daya
keluarga sangat penting, karena keluarga adalah penyedia perawatan untuk
sebagian besar klien dengan skizofrenia (Moller-Leimkuhler dan Wiesheu,
2011).

23
Perawatan klien dalam tahap pemeliharaan terjadi dirumah atau
dilingkungan masyarakat. Fokus dari tahap ini adalah untuk membantu
pemulihan. Harapan merupakan elemen penting dalam proses ini karena
mendapatkan kembali harapan dapat menjadi titik balik dalam pemulihan
seseorang (lysaker et a, 2010). Komponen pemulihan yang pneting adalah
belajar mengidentifikasi faktor presipitasi dan gejala awal. Pemulihan
yang sukses juga melibatkan identifikasi teknik manajemen gejala yang
mengurangi potensin kekambuhan dan menjaga stabilitas.
Penting bagi perawat untuk menyadari bahwa, meskipun treatmen
yang efektif untuk skizofrenia tersedia, banyak orang yang mengalami
penyakit otak yang serius seperti ini tidak diterima, Dengan demikian
perawat memiliki tanggung jawab yang signifikan untuk klien,keluarga,
dan masyarakat untuk mendidik, mengadvokasi, mempromosikan strategi
treatmen yang efektif untuk penyakit neurobiologis.
Tahap promosi kesehatan dimulai ketika stabilitas telah dicapai.
Tujuannya adalah untuk bersama-sama mengembangkan dan menerapkan
teknik manajemen gejala yang dapat mencegah kekambiuhan dan
meningkatkan pemuliahan. Ketika klien dan kelurga menyadari bahwa
pemuliahn dan pencegahan kekambuhan memungkinkan, maka mereka
menjadi berdaya dan dapat menikmati bahwa kualita hidup klien adalah
yang utama bukan terkendalinya penyakit.

Tabel 17-3 Diagnosis Keperawatan dan Istilah Medis Terkait


Respons Neurobiologis Maladaptif
Istilah diagnosis Contoh perluasan diagnosis
nanda-i
Hambatan Gangguan komunikasi verbal berhubungan
komunikasi verbal dengan gangguan fikiran formal yang dibuktikan
oleh asosiasi longgar
Hambatan interaksi Gangguan interaksi sosial berhubungan dengan

24
sosial keterampilan sosial tidak memadai, yang
dibuktikan oleh prilaku seksual yang tidak pantas
terhadap anggota baik laki laki ataupun
perempuan
Risiko hambatan Risiko hubungan identitas pribadi berhubungan
identitas pribadi dengan disfungsi otak fisiologis, yang dibuktikan
dengan laporan lisan “mendengar suara suara yng
mengatakan hal hal buruk tentang saya”
keyakinan seseorang di aniaya dan berfikir dan
berbicara yang terbatas.

1. Intervensi Gangguan Sensori Persepsi Halusinasi


Tujuan Kriteria evaluasi Intervensi
Pasien mampu: Setelah.... x pertemuan, SP 1
- Mengenali pasien dapat - Bantu pasien
halusinasi menyebutkan: mengenal halusinasi
yang - Isi, waktu, frekuensi, (isi, waktu
dialaminya situasi pencetus, terjadinya, frekuensi,
- Mengontrol perasaan. situasi pencetus,
halusinasiny - Mampu meperagakan perasaan saat terjadi
a cara dalam halusinasi)
- Mengikuti mengontrol - Latih mengontrol
program halusinasi. halusinasi dengan
pengobatan cara menghardik.
Tahapan tindakanya
meliputi:
- Jelaskan cara
menghardik
halusinasi
- Peragakan cara

25
menghardik
- Minta pasien
memperagakan
ulang
- Pantau penerapan
cara ini, beri
penguatan perilaku
pasien.
- Masukkan dalam
jadwal kegiatan
pasien

Setelah.... x pertemuan, SP 2
pasien mampu: - Evaluasi kegiatan
- Menyebutkan yang lalu (SP 1)
kegiatan yang sudah - Latih berbicara/
dilakukan bercakap dengan
- Memperagakan cara orang lain saat
bercakap-cakap halusinasi muncul
dengan orang lain - Masukkan dalam
jadwal kegiatan
pasien.
Setelah... x peertemuan SP 3
pasien mampu: - Evaluasi kegiatan
- Menyebutkan yang lalu (SP 1 & 2)
kegiatan yang - Latih kegiatan agar
sudah dilakukan halusinasi tidak
- Membuatn jadwal muncul
kegiatan sehari-
hari dan mampu Tahapannnya :

26
memperagakanya - Jelaskan pentingnya
aktivitas yang teratur
untuk mengatasi
halusinasi
- Diskusikan aktivitas
yang biasa dilakukan
oleh pasien.
- Latih pasien
melakukan aktivitas
- Susun jadwal
aktivitas sehari-hari
sesuai dengan
aktivitas yang telah
dilatih ( dari bangun
pagi sampai tidur
malam)
- Panatau pelaksanaan
jadwal kegiatan,
berikan penguatan
terhadap perilaku
yang (+)
Setelah... x peertemuan SP 4
pasien mampu: - Evaluasi kegiatan
- Menyebutkan yang lalu (SP 1, 2 &
kegiatan yang 3)
sudah dilakukan - Tanyakan program
- Menyebutkan pengobatan
manfaat dari - Jelaskan pentingnya
program penggunaan obat
pengobatan pada gangguan jiwa
- Jelaskan akibat bila

27
tidak digunakan
sesuai program
- Jelaskan akibat bila
putus obat
- Jelaskan cara
mendapatkan
obat/berobat
- Jelaskan pengobatan
(5 B)
- Latih pasien minum
obat
- Masukkan dalam
jadwal harian pasien.
Keluarga Setelah... x pertemuan SP 1
mampu: keluarga mampu - Identifikasi masalah
- Merawat menjelaskan tentang keluarga dalam
pasien di halusinasi merawat pasien
rumah dan - Jelaskan tentang
menjadi halusinasi :
sistem 1. Pengertian
pendukung halusinasi
yang efektif 2. Jenis halusinasi
untuk pasien yang dialami
pasien
3. Tanda dan
gejala halusinasi
4. cara merawat
pasien
halusinasi (cara
berkomunikasi,
pemberian obat,

28
dan pemberian
aktifitasi kepada
pasien)
5. Sumber-sumber
pelayanan
kesehatan yang
bisa dijangkau
6. Bermain peran
cara merawat
7. Rencana
tindakan lanjut
keluarga jadwal
keluarga untuk
merawat pasien
Setelah .... x pertemuan SP 2
keluarga mampu: - Evaluasi
- menyebutkan kempampuan
kegiatan yang keluarga (SP 1)
sudah dilakukan - Latih keluarga
- Memperagakan merawat pasien
cara merawat - RTL keluarga/
pasien jadwal keluarga
untuk merawat
pasien.
Setelah .... x pertemuan SP 3
keluarga mampu: - Evaluasi
- Menyebutkan kemampuan
kegiatan yang keluarga ( SP 2 )
sudah dilakukan - Latih keluarga
- Memperagakan merawat pasien

29
cara merawat - RTL keluarga /
pasien serta jadwal merawat
mampu membuat pasien
RTL
Setelah .... x pertemuan SP 4
keluarga mampu: - Evaluasi
- Menyebutkan kemampuan
kegiatan yang keluarga
sudah dilakuakan - Evaluasi kemapuan
- Melaksanakan pasien
follow up rujukan - RTL keluarga
- Follow up
- Rujukan

2.2.5 Implementasi
Tindakan harus berfokus pada berbagai tritmen psikososial dan
biologis serta melibatkan klien, kelurga dan pelaku rawat jika
memungkinkan. Rencana pemulihan harus mencangkup tindakan yang
diarahkan untuk mengurangi gejala penyakit; mengurangi beban penyakit
dan tritmen; dan meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, fungsi oftimal,
dan kualitas hidup.
Penting untuk di ingat bahwa ketidak mampuan dan sumberdaya
klien terkait dengan jenis dan lokasi disfungsi otak. Oleh karena itu
penting untuk mengkaji status kesehatan jiwa secara hati-hati guna
mengidentifikasi kekuatan seseorang. Sebagai contoh beberapa orang
dengan respons neourobiologis maladaftif sangat cerdas tetapi tidak
mampu mengekspresikan diri dengan baik. Contoh lain mungkin artistik
berbakat tetapi tidak terampil berkomunikasi secara verbal. Eksplorasi
daerah daerah kekuatan membantu perawat dalam perencanaan tindakan
keperawatan individual. Modalitas yang dipilih harus didasarkan pada

30
faktor faktor predisposisi. Stresor presipitasi, sumber koping, mekanisme
koping, dan respons klien.
Masalah utama yang berkaitan dengan kognisi, persepsi, emosi,
perilaku dan gerakan serta sosialisasi memberika kesulitan yang bermakna
bagi orang dengan skizoprenia dan mempengaruhi pelaksanaan rencana
asuhan keperawatan.
1. Tindakan Pada Fase Krisis dan Akut
Respons Neurolobiologhis yang tidak stabil memerlukan observasi
dan monitoring kesehatan, prilaku, dan sikap yang konstan. Tindakan
keperawatan pada tahap ini harus fokus pada pemulihan respons
neurobiologis adaptif sambil memberikan keselamatan dan
kesejahteraan klien.
2. Strategi Prilaku untuk Orang dengan Gangguan Jiwa

No Wilayah Kesulitan Tindakan Keperawatan


1. Ansietas 1. Ajarkan klien gejala yang berkaitan
dengan ansietas.
2. Bantu klien mengidentifikasi apa
yang memicu ansietas.
3. Bantu klien menggunakan teknik
managemen untuk mengatasi
ansietas.
4. Kaji apakah ansietas adalah pemicu
kambuh, dan jika demikian, buat
rencana untuk menurunkan ansietas
pada tingkat sedang.
2. Depresi 1. Ajarkan klien gejala yang berkaitan
dengan depresi.
2. Bantu klien menggunakan teknik
managemen gejala untuk mengatasi
depresi.

31
3. Kaji apakah depresi merupakan
pemicu kambuh, jika demikian, buat
rencana untuk mengurangi depresi
sementara, masih dalam tahap
ringan, karena ada korelasi yang
tinggi antara depresi dan mampu
melakukan aktivitas sehati-hari.
3. Ketidakmampuan 1. Tinjau pengalaman baik positif
untuk belajar dari maupun negatif.
pengalaman 2. Identifikasi yang berhasil dalam
membantu klien mencapai tujuan
yang diinginkan dan apa yang tidak
berhasil.
4. Masalah dengan 1. Analisis setiap pengalaman untuk
penalaran sebab- melihat apa yang baik dan apa yang
akibat tidak.
2. Bantu penalaran klien untuk
membuat urutan peristiwa yang
mengarah ke hasil dalam setiap
pengalaman.
5. Kesulitan mengkaji 1. Latihan dapat membantu dalam
perjalanan waktu memberlakukan sebelum kejadian
terjadi.
2. Ajarkan klien bagaimana
menggunaka jam untuk memberitahu
waktu.
3. Ajarkan klien untuk menggunakan
isyarat lingkungan, seperti matahari
akan turun, atau program radio
tertentu, untuk mengarahkan ke

32
waktu dalam hari.

4. Bantu klien membuat dan mengelola


kalender kegiatan yang dijadwalkan.
6. Pemikiran Konkret 1. Sadari bahwa klien melihat setiap
masalah memiliki suatu solusi.
2. Ajarkan klien untuk melihat solusi
lain yang mungkin untuk masalah.
3. Sadarilah bahwa klien sering berfikir
hanya da satu cara untuk melakukan
tugas.
4. Buat cara-cara alternatif untuk
mendekati situasi.
7. Kesulitan 1. Ajarkan klien untuk membedakan
mengatakan latar antara informasi penting dan tidak
belakang dari penting.
informasi yang 2. Ajarkan klien untuk fokus hanya
datang pada informasi penting
3. Bantu klien belajar untuk
menghindari atau meminimalkan
kebingungan yang disebabkan oleh
stimulasi berlebih dari kebisingan
dan banyak orang.
8. Pengolahan 1. Berikan waktu bagi klien untuk
Informasi melambat memproses dan menanggapi
informasi.
2. Meminimalkan ansietas
meningkatkan kesulitan pemrosesan
informasi.
3. Tunjukan minat yang tulus dalam

33
mencoba memahami apa yang
dikatakan klien.
4. Jelas dan sederhana ketika
berkomunikasi dengan klien.

9. Kesulitan memilih 1. Ajarkan klien untuk mengidentifikasi


informasi yang akan seseorang yang nyaman berbicara
dibagikan tentang penyakit yang dialami.
2. Ajarkan klien untuk menemui
seseorang jika gejala mulai muncul.
3. Beritahu klien bahwa anda mengerti
penyakitnya dan seseorang yang
nyaman untuk diajak bicara.
10. Kesulitan 1. Gunakan teknik mendengar aktif
komunikasi untuk memahami klien.
2. Minta penjelasan tentang apa yang
sedang dicoba klien untuk
memberitahu anda.
3. Dengarkan tema.
4. Carilah validasi dari klien apa yang
dikomunikasikan.
5. Bantu klien dengan kosakata yang
diperlukan.
6. Gunakan arti harfiah dari kata-kata.
7. Biarkan klien mendengarkan kembali
apa yang dia dengar.
8. Bantu klien memahami kata-kata dan
frase yang digunakan.
11. Masalah 1. Bantu klien mengidentifikasi dan

34
mengekspresikan memprioritaskan kebutuhan.
kebutuhan 2. Bantu klien mengekspresikan
kebutuhannya dengan cara lain yang
dapat dimengerti.
3. Bermain peran percakapan dan
praktik bernegosiasi dengan orang
lain.
12. Konsep harga diri 1. Bantu klien mengidentifikasi dan
rendah memaksimalkan kekuatan dan
karakteristik positif.
2. Gunakan bermain peran untuk
menangani situasi umum yang
dihadapi klien.
3. Beri umpan balik positif ketika klien
menangani situasi dengan baik.
4. Analisis masalah untuk menentukan
bagaimana hal itu dapat lebih baik
ditangani.
13. Isolasi paksa karena 1. Maksimalkan pemahaman klien
stigma tentang penyakit.
2. Ajarkan klien untuk meminimalkan
prilaku stigma bila memungkinkan.
3. Identifikasi komentar yang sulit
untuk ditangani.
4. Ajarkan cara untuk menangani
stigma dan komentar kasar.
5. Kembangkan cerita-cerita yang lucu.
6. Bermain peran dengan perawat.
14. Kesulitan dengan 1. Tinjau situasi yang bermasalah
persepsi dan dan dengan klien.

35
interpretasi 2. Daftar dan kaji proses pikir dalam
rangsangan sensorik menafsirkan peristiwa.
3. Bantu klien menguji realitas dan
membingkai interpretasi masalah.
4. Perkuat proses positif dan produktif.

15. Miskin rentang 1. Bantu klien membagi-bagi tugas


perhatian dan menjadi lebih ringan, dengan
kesulitan langkah-langkah berurutan.
menyelesaikan 2. Bantu klien fokus pada satu tugas,
tugas-tugas. satu langkah pada satu waktu.
3. Jangan menekankan menyelesaikan
tugas.
4. Berikan petunjuk untuk klien satu
langkah pada satu waktu.
16. Prilaku sosial yang 1. Identifikasi proses pikir klien yang
tidak pantas menyebabkan prilaku.
2. Tanyakan klien tentang prilaku.
3. Bantu mengoreksi persepsi yang
tidak akurat.
4. Bantu klien mengidentifikasi hasil
yang tidak diinginkan dari prilaku.
5. Ajarkan keterampilan sosial yang
tepat.
17. Kesulitan dengan 1. Bantu klien menentukan hasil yang
mengambil diinginkan.
keputusan 2. Bantu klien memprioritaskan tujuan
dan mengkategorikan tujuan jangka
pendek atau jangka panjang.

36
3. Bantu klien membentuk rencana
untuk pencapaian setiap tujuan.
4. Bantu langkah konkrit untuk
mencapai tujuan yang diinginkan.
5. Pastikan bahwa langkah-langkah
kecil yang dapat dicapai oleh klien
dan kongruen dengan budaya dan
nilai-nilai.

3. Mengelola Halusinasi
Sekitar 70% dari halusinasi adalah halusinasi pendengaran, 20%
adalah visual, dan 10% sisanya adalah halusinasi pengecapan, taktil,
penciuman, kinestetik, atau kenestetik. Tindakan keperawatan terapeutik
untuk halusinasi melibatkan pemahaman karakteristik halusinasi dan
mengidentifikasi tingkat ansietas. Tujuan dari tindakan keperawatan pada
klien yang halusinasi adalah membantu mereka maningkatkan kesadaran
gejala halusinasi sehingga mereka dapat membedakan antara dunia
gangguan jiwa dan dunia realitas yang dialami oleh orang lain tanpa
skizofrenia. Langkah pertama untuk mencapai tujuan ini adalah
komunikasi fasilitatif. Sayangnya, pasien yang mengalami gejala ini sering
dihindari, ditertawakan, atau diabaikan bila gejala halusinasi muncul.
Belajar tentang seseorang yang berhalusinasi mambantu menghindari
hambatan komunikasi ketika gejala-gejala ini dapat menciptakan
penolakan. Halusinasi akan berlanjut dan mungkin meningkat jika perawat
tidak mempelajari tentang gejala halusinasi. Perawat dapat terlibat dalam
perencanaan apa yang harus dikatakan bahwa mereka lupa tentang
pentingnya mendengarkan. Mendengarkan dan mengamati adalah kunci
keberhasilan tindakan dengan orang yang berhalusinasi.
Halusinasi menjadi sangat nyata bagi orang yang mengalami
halusinasi. Seseorang yang berhalusinasi mungkin tidak memiliki cara

37
untuk mengetahui apakah persepsi ini adalah nyata, dan biasanya klien
tidak mengecek ulang pengalamannya. Ketidakmampuan untuk
memandang realitas secara akurat membuat hidup menjadi sulit. Oleh
karena itu, halusinasi dapat dianggap sebagai masalah yang membutuhkan
solusi. Hal ini paling baik dilakukan ketika orang dapat berbicara dengan
bebas tentang halusinasi.
Perawat harus mampu berbicara tentang halusinasi karena merupakan
tanda-tanda yang berguna sebagai tanda gejala saat ini dalam pemantauan
gangguan jiwa. Klien harus nyaman menceritakan kepada perawat tentang
tentang gejala yang dialami.
Klien sering belajar untuk tidak mendiskusikan pengalaman mereka
yang tidak biasa kepada siapa pun karena mereka telah menerima
tanggapan negatif dari orang-orang yang berfikir ide-ide mereka aneh.
Pengalaman halusinasi dapat menyusahkan klien yang tidak memiliki
siapa pun untuk berbicara tentang mereka. Mampu berbicara tentang
halusinasi seseorang adalah pengalaman sangat meyakinkan dan validasi
diri. Diskusi dapat terjadi hanya dalam suasana yang tulus dan penuh
perhatian.
Seseorang yang tidak pernah mengakami halusinasi akan mengalami
kesulitan untuk memahami bahwa orang tersebut tidak memiliki kontrol
atas halusinasinya. Orang-orang dengan gangguan jiwa tidak memiliki
kontrol diri langsung terhadap kerusakan otak yang menyebabkan
halusinasi. Kondisi ini menyebabkan mereka tidak dapat mengontrol
halusinasinya. Mengabaikan halusinasi dapat meningkatkan kebingungan
otak yang sudah kacau dengan ide-ide pikiran yang terputus.
Jika orang dengan halusinasi dibiarkan sendirian untuk memilah
realitas tanpa masukan dari penyedia layanan kesehatan yang terpercaya,
gejala dapat menjadi luar biasa. Berkomunikasi pada saat halusinasi sangat
bermanfaat. Kejujuan, kesejatian, dan keterbukaan merupakan dasar untuk
komunikasi yang efektif selama halusinasi.

38
Modulasi stimulasi sensorik ke tingkat optimal adalah teknik lain yang
digunakan untuk membantu klien mangurangi kebingungan persepsi
(Buffum et al, 2009). Beberapa klien deng stimulasi lingkungan yang
minimal dapat mengurangi halusinasi, sedangkan yang lain menemukan
bahwa kebisingan dapat mendistraksi dan membantu meredam halusinasi.
Hal ini penting untuk mengetahui bagaimana pengalaman masa lalu klien
dalam mengatasi halusinasinya.
4. Tingkat Intensitas Halusinasi
Tingkat Karakteristik Prilaku Klien yang
Diamati
Tahap 1: Klien yang mengalami 1. Menyeringai atau
Tingkat halusinasi merasakan tertawa yang
ansietas sedang emosi yang terus tampaknya tidak
yang memberi menerus, seperti pantas
rasa nyaman. ansietas, kesepian, rasa 2. Menggerakan bibir
Halusinasi bersalah, dan ketakutan, tanpa membuat suara
umumnya dan mencoba untuk 3. Gerakan mata yang
menyenangkan. fokus pada pikiran cepat
menghibur untuk 4. Respons verbal
mengurangi ansietas. diperlambat seolah-
Klien mengakui bahwa olah sibuk
pikiran dan pengalaman 5. Diam dan sibuk
sensorik berada dalam
kendali sadar jika
ansietas dapat dikelola.
Tidak Gangguan Jiwa
(Nonpsychotic).
Tingkat II: Pengalaman indrawi 1. Peningkatan tanda-
Tingkat menjijikan dan tanda sistem saraf
ansietas berat menakutkan. Klien yang otonom dari ansietas,

39
yang mengalami halusinasi seperti peningkatan
menyalahkan. mulai merasa kehilangan denyut jantung,
Halusinasi kendali dan mungkin pernafasan, dan
umumnya mencoba untuk tekanan darah
menjijikan menjauhkan diri dari 2. Rentang perhatian
sumber yang dirasakan. mulai menyempit
Klien mungkin merasa 3. Disibukan dengan
malu dengan pengalaman sensorik
pengalaman sensorik dan dan mungkin
menarik diri dari orang kehilangan
lain. Hal ini masih kemampuan untuk
mungkin untuk membedakan
mengarahkan klien halusinasi dari
dengan realitas. kenyataan.
Gangguan Jiwa Ringan
(Mildly Psychotic).
Tahap III: Klien yang mengalami 1. Arah yang diberikan
Tingkat halusinasi menyerah oleh halusinasi lebih
ansietas berat untuk melawan diikuti daripada
yang pengalaman dan ditolak.
mengontrol. menyerah pada 2. Kesulitan
Pengalaman halusinasi. Isi halusinasi berhubungan dengan
sensorik menjadi dapat menjadi menarik. dengan orang lain
mahakuasa. Klien mungkin 3. Rentang perhatian
mengalami kesepian jika hanya beberapa detik
pengalaman sensoriknya atau menit
berakhir. Gangguan Jiwa 4. Gejala fisik dari
(Psychotic). ansietas yang parah,
seperti berkeringat,
tremor,
ketidakmampuan

40
untuk mengikuti
petunjuk.
Tahap IV: Pengalaman sensorik 1. Perilaku dilanda teror,
Tingkat dapat menjadi seperti panik
ansietas panik mengancam jika tidak 2. Potensi kuat untuk
yang mengikuti perintah. bunuh diri atau
menaklukan. Halusinasi dapat pembunuhan
Halusinasi berlangsung selama 3. Aktivitas fisik yang
umumnya berjam-jam atau berhari- mencerminkan isi
menjadi rumit hari jika tida ada halusinasi, seperti
dan terjalin tindakan terapeutik. kekerasan, agitasi,
dengan waham. Gangguan Jiwa Berat menarik diri, atau
(Severely Psychotic). katatonia
4. Tidak dapat
merespons lebuh dari
satu orang
5. Tidak dapat
merespons petunjuk
yang kompleks.

Perintah halusinasi adalah halusinasi yang memberi tahu klien untuk


mengambil beberapa tindakan khusus, seperti membunuh diri sendiri atau
menyakitu orang lain. Kondisi halusinasi ini berpotensi bahaya. Perintah
halusinasi dapat menyebabkan seseorang melakukan tindakan berbahaya,
seperti memotong bagian tubuh atau menyerang seseorang dengan
instruksi suara. Takut yang disebabkan oleh halusinasi yang menakutkan
juga dapat menyebabkan perilaku berbahaya, seperti melompat keluar
jendela. Tindakan keperawatan pada halusinasi ini sangat penting karena
keseriusan potensi gejala ini.

41
Tindakan selama fase akut halusinasi membutuhkan kesabaran dan
kemampuan untuk menghabiskan waktu dengan klien. Empat prinsip dasar
berikut ini sangat membantu selama fase akut yaitu:
1) Pertahankan kontak mata
2) Berbicara secara sederhana dan dengan suara yang sedikit lebih keras
dari biasanya
3) Panggil klien dengan nama panggilannya
4) Gunakan sentuhan yang sesuai
Klien memerlukan validasi sensorik untuk mengesampingkan proses
sensorik abnormal yang terjadi di otak. Tindakan tradisional sering
berfokus untuk mengisolasi klien. Mengisolasi seseorang selama fase
kebingungan sensorik sering memperkuat halusinasinya dan gangguan
jiwanya dan bukan merupakan tindakan yang direkomendasikan. Seperti
pada waham, konsistensi adalah unsur penting untuk keberhasilan rencana
tindakan keperawatan (Gerlock et al, 2010)

5. Strategi untuk Merawat Klien yang Mengalami Halusinasi


1) Membangun hubungan saling percaya
Jika anda merasa cemas atau takut, klien akan merasa cemas atau takut
juga. Bersabarlah tunjukan penerimaan, dan gunakan keterampilan
mendengar aktif.
2) Mengkaji gejala halusinasi, termasuk duration, intensitas dan frekuensi
a. Amati petunjuk prilaku yang menunjukan adanya halusinasi
b. Amati petunjuk yang mengidentifikasi tingkat intensitas dan durasi
halusinasi.
c. Membantu klien mencatat jumlah halusinasi yang dialami setiap
hari.
3) Fokus pada gejala dan minta klien untuk jelaskan apa yang terjadi
Memberdayakan klien dengan membantu klien memahami gejala yang
dialami atau ditunjukan.
4) Bantu klien mengelola halusinasi

42
a. Mendorong pemantauan diri dari apa yang membuat suara-suara
yang lebih baik atau lebuh buruk.
b. Sarankan aktivitas, seperti mendengarkan musik, tetap sibuk,
dengan menggunakan teknik relaksasi.
5) Mengidentifikasi apakah menggunakan obat atau alkohol
a. Tentukan apakah orang tersebut menggunakan alkohol atau obat-
obatan (obat dengan resep, atau jalan)
b. Menentukan apakah hal tersebut mungkin bertanggung jawab
dalam memperburuk halusinasi.
6) Jika ditanya, arahkan apakah tidak mengalami rangsangan sama
a. Menanggapi dengan membiarkan klien tahu apa yang sebenarnya
terjadi di lingkungan.
b. Jangan berdebat dengan klien tentang perbedaan persepsi.
c. Ketika halusinasi terjadi, jangan meninggalkan seseorang sendirian.
7) Menyarankan dan memperkuat penggunaan hubungan interpersonal
sebagai teknik manajemen gejala
a. Dorong klien untuk berbicara dengan seseorang yang dipercaya
akan memberikan umpan balik mendukung dan korektif.
b. Membantu klien dalam memobilisasi dukungan soaial.
8) Bantu klien menjelaskan dan membandingkan halusinasi di masa lalu
dan saat ini
a. Tentukan apakah halusinasi klien memiliki pola.
b. Dorong klien untuk mengingat ketika halusinasi pertama dimulai.
c. Perhatikan isi halusinasi, mungkin memberikan petunjuk untuk
memprediksi perilaku.
d. Waspada terutama untuk halusinasi perintah yang mungkin
memaksa klien untuk bertindak dengan cara tertentu.
e. Dorong klien untuk menggambarkan pikiran masa lalu dan
sekarang, perasaan, dan tindakan yang berkaitan dengan halusinasi.
9) Bantu klien mengidentifikasi kebutuhan yang mungkin tercermin
dalam isi halusinasi

43
a. Mengidentifikasi kebutuhan yang dapat memicu halusinasi
b. Fokus pada kebutuhan klien yang tidak terpenuhi, dan
mendiskusikan hubungan antara kebutuhan dan munculnya
halusinasi.

10) Tentukan dampak gejala klien dengan kegiatan hidup harian


a. Memberikan umpan balik mengenai respons koping umum dan
aktivitas sehari-hari klien.
b. Membantu klien mengenali gejala, pemicu gejala, dan strategi
manajemen gejala.

6. Psikofarmakologi
Psikofarmakologi adalah bagian utama dari tritmen pengobatan untuk
respons neurobiologis maladaptif. Pengobatan meliputi antipsikotik tipikal
dan atipikal; indikasi pengobatan, efek samping dan reaksi yang
merugikan. Obat-obatan dengan gejala spesifik dan memberikan respons
yang lebih baik dengan sedikit efek samping akan meningkatkan
kepatuhan dan keberhasilan klien.
1) Terapi Perilaku Kognitif
Terapi perilaku kognitif/ cognitive behaviolar therapy (CBT)
efektif sebagai tambahan untuk pengobatan antipsikotik dan perbaikan
pendekatan, seperti latihan keterampilan sosial dalam pengelolaan
gejala sisa skizofrenia kronis (Kingdom et al, 2008; Pinninti et al,
2010).
CBT adalah metode untuk mengubah proses berfikir, prilaku, dan
emosi klien. Menerapkan CBT menggunakan pendekatan psikoedukasi
sebagai tambahan asuhan keperawat yang rutin dapat mengurangi
gejala positif yang umum dari gangguan jiwa seperti halusinasi dan
waham pada klien dengan skizofrenia kronis. CBT meningkatkan
koping klien dengan skizofrenia melalui kepatuhan klien yang lebih
besar dan manajemen pengendalian gejala.

44
Teknik CBT meliputi pengembangan kepercayaan, meningkatkan
strategi koping, uji realitas, dan bekerja dengan reaksi afektif dan
prilaku disfungsional dengan gejala gangguan jiwa. Empat prinsip
CBT untuk menangani gangguan jiwa adalah sebagai berikut:
a. Normalisasi: penjelasan gangguan jiwa dan bagaimana orang dapat
mengalami gejala yang sama dalam situasi yang ekstrim.
b. Universalitas: pemahaman bahwa banyak orang memiliki
pengalaman yang sama dengan klien.
c. Hubungan kolaborasi terapeutik: klien dianggap bukan sebagai
penerima pasif tetapi sebagai kolaborator aktif dalam tritmen.
d. Fokus pada tujuan hidup: membuat tritmen berarti bagi klien.

Teknik perilaku kognitif lainnya termasuk terapi peningkatan


kognitif dan remediasi kognitif. Mereka secara khusus fokus pada
peningkatan defisit kognitif dengan menargetkan fungsi neuropsikologi
tertentu (Eack et al, 2009). Kebanyakan program remediasi kognitif
menggunakan tiga pendekatan dasar:

a. Strategi kompensasi yang didasarkan pada gagasan bahwa ada cara


alternatif untuk melakukan tugas.
b. Strategi adaptif yang mengacu pada perubahan lingkungan
daripada individu.
c. Latihan dan praktik strategi yang menganggap bahwa paparan
berulang dari kegiatan yang akan meningkatkan keterampilan
dibutuhkan untuk melakukan tugas.

2) Obat Antipsikotik

Nama Generik Rentang Dosis Harian


Dewasa (mg/day)
Obat Atipikal
Aripiprazole 5-30

45
Asenapine 10-20
Clozapine 100-900
Iloperidone 12-24
Lurasidone 40-80
Olanzapin 5-12
Quetiapine 150-750
Risperidone 1-6
Ziprasidone 40-160

Obat Tipikal
Chlorpromazine 200-1000
Fluphenazine 2-60
Fluphenazine decanoate 12,5-50 setiap 2-4 minggu
Haloperidole 2-20
Haloperidole decanoate 5-300 setiap 3-4 minggu
Loxapine 20-100
Mesoridazine 75-300
Molindone 50-225
Perphenazine 8-23
Pimozide 2-6
Prochlorperazine 5-10
Thioridazine 200-800
Thiothixene 5-30
Trifluoperazine 5-20

7. Tindakan dalam Tahap Pemeliharaan


Tindakan keperawatan yang berfokus pada pendidikan manajemen
dan mengendalikan diri dari gejala dan mengeidentifikasi gejala yang
berhubungan dengan kekambuhan sangat berguna dalam tahap
pemeliharaan. Pendidikan klien harus melibatkan pelaku rawat bila

46
memungkinkan. Rencana pendidikan keluarga untuk memahami dunia
gangguan jiwa. Klien dan keluarga juga harus diajarkan lima tahap klasik
kekambuhan.
Tahap kekambuhan. Dua dari lima tahap kekambuhan tidak
melibatkan gejala yang menunjukan gangguan jiwa. Hal ini penting,
karena tindakan selama dua tahap ini sangat penting. Dalam dua tahap
pertama, klien dapat mencaridan menggunakan umpan balik konstruktif.
Tahap 1: Kewalahan berlebihan (overextension). Dalam tahap ini
klien mengeluh merasa kewalahan. Gejala ansietas yang intensif, dan
memerlukan tenaga yang besar untuk mengatasinya. Klien
menggambarkan perasaan berlebihan beban atau tidak mampu
berkonsentrasi atau menyelesaikan tugas dan cenderung melupakan kata-
kata di tengah kalimat. Gejala lain dari overextension mencangkup upaya
peningkatan upaya jiwa untuk melakukan aktivitas sehari-hari, penurunan
efisiensi kinerja, dan mudah terdistraksi
Tahap 2: Pembatasan kesadaran (Restricted consciousness). Gejala
ansietas sebelumnya bergabung dengan gejala depresi. Depresi lebih
intens dari variasi suasana hati sehari-hari. Dimensi tambahan adalah
muncul rasa bosan, apatis, obsesif, dan fobia. Somatisasi mungkin terjadi.
Klien tampaknya menarik diri dari kejadian sehari-hari dan membatasi
stimulasi eksternal sebagai cara untuk melindungi kehilangan kontrol.
Tahap 3: Rasa malu (Disinhibition). Penampilan pertama ciri
gangguan jiwa yang terjadi pada tahap ini. Gejala dapat mirip dengan
hipomania dan biasanya termasuk munculnya halusinasi dimana klien
tidak lagi mampu mengendalikannya, mekanisme pertahanan sebelumnya
yang berhasil cenderung menjadi gagal.
Tahap 4: Disorganisasi Psikotik (Psychotic Disorganization). Pada
tahap ini gejala gangguan jiwa jelas terjadi. Halusinasi semakin intensif
dan klien akhirnya kehilangan kontrol. Tahap ini ditandai dengan tiga
tahap yang berbeda:

47
1) Klien tidak lagi mengakui lingkungan atau orang-orang yang akrab
dan mungkin menuduh anggota keluarga menjadi penipu. Estrim
agitasi mungkin terjadi. Fase ini disebut Perusakan Lingkungan
Eksternal.
2) Klien kehilangan identitas pribada dan dapat menunjukan dirinya
sebagai orang ketiga. Situasi ini disebut Perusakan Diri Sendiri.
3) Fragmentasi total, atau kehilangan kemampuan secara total dalam
membedakan realitas dari gangguan jiwanya, dapat disebut gangguan
jiwa berat. Klien kehilangan seluruh kemampuan kontrol diri. Rawat
inap biasanya diperlukan pada saat ini, dan anggota keluarga harus
meminta aparat penegak hukuk untuk membawa klien ke rumah sakit.
Jika hal ini terjadi, akan sangat menghancurkan dan memalukan baik
bagi klien maupun keluarga.

Tahap 5: Resolusi Psikotik (Psychotic Resolution). Tahap ini biasanya


terjadi di rumah sakit. Klien umumnya minum obat dan masih mengalami
gangguan jiwa, tetapi gejala lebih “tenang”. Klien mungkin akan
mengikuti instruksi dengan cepat seperti robot dan sering terlihat bingung.
Sayangnya, banyak pasien yang direncanakan pulang pada tahap ini
karena mereka komplain atau mereka tidak lagi memiliki asuransi.
Tindakan keperawatan untuk perawatan diri, pengendalian gejala,
sosialisasi, kepatuhan obat, dan pendidikan keluarga sangat diperlukan.

8. Rencana Pendidikan Keluarga

ISI AKTIVITAS EVALUASI


INSTRUKSIONAL
Jelaskan 1. Memperkenalkan Peserta akan
gangguan jiwa peserta dan pemimpin. menggambarkan
2. Sampaikan tujuan karakteristik
kelompok gangguan jiwa.
3. Tentukan terminologi

48
yang berhubungan
dengan gangguan jiwa.
Identifikasi 1. Jelaskan tentang teori Peserta akan
penyebab gangguan jiwa. membahas hubungan
gangguan jiwa 2. Menggunakan alat antara anatomi otak,
bantu audiovisual untuk biokimia otak, dan
menjelaskan anatomi neurotransmiter
otak, biokimia otak, utama, dan
dan neurotransmiter perkembangan
utama. gangguan jiwa.
Menggambarkan 1. Sampaikan jenis dan Peserta akan
hubungan tahap ansietas. mengidentifikasi dan
antara ansietas 2. Bahas langkah-langkah menggambarkan
dan gangguan dalam mengurangi dan tahap ansietas dan
psikotik. menyelesaikan ansietas. cara-cara untuk
mengurangi atau
mengatasinya.
Menganalisis 1. Menggambarkan Peserta akan
dampak hidup karakteristik halusinasi. menunjukan cara
dengan 2. Menujukan cara untuk yang efektif untuk
Halusinasi. berkomunikasi dengan berkomunikasi
seseorang yang dengan orang yang
berhalusinasi. memiliki halusinasi.
Menggambarkan 1. Bantu peserta Peserta akan
karakteristik menggambarkan menjelaskan prilaku
kambuh dan pengalaman mereka yang
peran yang sendiri tentang kambuh. mengindikasikan
sesuai dengan 2. Membahas topik kekambuhan yang
regimen terapi. tentang manajemen akan datang dan
gejala dan pentingnya membahas

49
mematuhi regimen pentingnya
terapeutik. manajemen gejala
dan kepatuhan tengan
regimen terapi.
Menganalisis 1. Diskusi komponen Peserta akan
perilaku yang kesehatan. menganalisis
mempromosikan 2. Kaitkan kesehatan pengaruh menjaga
kesehatan. untuk unsur-unsur kesehatan pada
manajemen gejala. terjadinya gejala.
Membahas cara 1. Memimpin diskusi Peserta akan
adaptif untuk kelompok terfokus menjelaskan cara
mengatasi pada penangulangan untuk memodifikasi
psikosis. prilaku dan masalah gaya hidup untuk
sehari-hari dalam hidup menciptakan
dengan psikosis lingkungan yang
2. Mengusulkan cara rendah stres.
untuk menciptakan
lingkungan yang
rendah stres.

9. Pengelolaan Kekambuhan
Kunci untuk pengelolaan kekambuhan adalah kesadaran timbulnya
prilaku yang menunjukan kambuh. Sekitar 70% dari klien dan 90% dari
keluarga mampu melihat gejala kekambuhan penyakit, dan hampir semua
klien tahu kapan gejala sedang meningkat.
Sebuah fase prodromal terjadi sebelum kambuh. Fase frodromal
adalah waktu antara timbulnya gejala dan kebutuhan untuk perawatan.
Fase prodromal terjadi paling singkat seminggu atau selama satu bulan.
Perawat sangat penting untuk berkolaborasi dengan klien, keluarga, dan
staf lain mengenai terjadinya kekambuhan.

50
Mengidentifikasi serta mengelola prilaku dan gejala akan membantu
untuk mengurangi jumlah dan tingkat keparahan kekambuhan. Pendidikan
tentang hal tersebut pada klien fan keluarga adalah tindakan yang hemat
biaya dan dapat memberi mereka kontrol atas hidup mereka serta
mengurangi jumlah dan panjang rawat inap. Banyak penelitian telah
menunjukan penurunan tingkat kekambuhan akibat tindakan psikoedukasi
tersebut (Glynn et al, 2010).
Alat seperti Moller-Murphy Symptom Managenent Assessment (MM-
SMAT) dapat membantu laporan tentang gejala yang dialami klien,
kesulitan dalam aktivitas sehari-hari, maslah dengan obat-obatan, dan cara
mengelola gejala. Setelah klien dapat memvalidasi pengalamannya, maka
mereka diberdayakan untuk mengelola gejala daripada memiliki gejala
yang memerintah hidup mereka.

10. Teknik Manajemen Gejala


Kategori 1: Distraksi
1) Mendengarkan musik
2) Konsentrasi pada hobi
3) Nonton tv
4) Baca
5) Berjalan-jalan/ pergi berenang
6) Gunakan humor
7) Tari
8) Pergi ke pesta atau konser
9) Bernyanyi/ memainkan alat musik
10) Bekerja
11) Menulis

Kategori 2: Berjuang Kembali

1) Berbicara dengan diri sendiri (Self-talk)


2) Jangan memperhatikan pikiran

51
3) Hardik kembali suara-suara
4) Cobalah untuk berfikir positif
5) Hindari situasi yang menyebabkan gejala-gejala menjadi lebih buruk.
6) Lakukan latihan (memecahkan masalah insiden menjengkelkan

Kategori 3: Isolasi

1) Tetap dirumah
2) Pergi ke tempat tidur
3) Cobalah untuk hidup dengan gejala

Kategori 4: Upaya untuk merasa lebih baik

1) Berdoa
2) Makan
3) Ambil obat sesuai resep
4) Gunakan relaksasi/meditasi
5) Mandi
6) Gunakan herbal
7) Memeluk bantal

Kategori 5: Mencari Bantuan

1) Berbicara dengan anggota keluarga/ teman-teman


2) Pergi ke rumah sakit/ ruang gawat darurat
3) Pergi ke pusat kesehatan jiwa masyarakat
4) Berbicara dengan dokter/perawat
5) Berbicara dengan manajer kasus/ terapis.

11. Tindakan pada Tahap Promosi Kesehatan


Pendidikan di fase promosi kesehatan berfokus pada pencegahan
kekambuhan dan manajemen gejala melalui keterlibatan klien dalam
melakukan gaya hidup sehat. Metode pendidikan klien harus sederhana,
jelas, dan dengan petunjuk konkret termasuk pengulangan dan demonstrasi
kembali, akan sangan membantu. Salah satu kunci mencegah kekambuhan

52
adalah mengidentifikasi gejala pemicu dan strategi untuk mengelola
mereka.
12. Tindakan perawat untuk mencegah kambuh
1) Mengidentifikasi gejala yang menandakan kambuh
2) Mengidentifikasi gejala pemicu
3) Memilih teknik manajemen gejala
4) Mengidentifikasi strategi koping untuk gejala pemicu.
5) Mengidentifikasi sistem pendukung apabila terjadi kekambuhan di
masa depan.
6) Dokumen tertulis rencana tindakan, dan kuncinya adalah dukungan
dari orang-orang
7) Memfasilitasi integrasi ke dalam keluarga dan masyarakat.

Penelitian menunjukan bahwa struktur rogram yang berorientasi pada


mulihan dan tindakan dini episode khusus pada gangguan jiwa yang baru
pertama kali memberikan perbaikan yang signifikan dalam fungsi dan
koping. Empat program dengan kurikulum dan peserta manual terstuktur
telah dikembangkan dan memiliki tujuan utama untuk merehabilitasi klien
atau membantu keluarga mengatasi gangguan jiwa kronis dengan lebih
efektif.

1. Program tiga Rs. Rehabilitasi psikiaatri (Three Rs Paychiatric


Rehabilitation Program) untuk klien dengan gangguan jiwa konis dan
keluaragnnya (Moller dan Murphy, 1997, Meller dan Rice, 2006).
Tiga komponen dalam program ini adalah kambuh, pemulihan, dan
rehabilitasi. Tujuan dari program ini adalah untuk mengajarkan klien
menggunakan model kesehatan untuk mengelola penyakit mereka dan
mengintegrasikannya kembali ke masyarakat. Program ini
dikembangkan oleh perawat spesialis jiwa, program ini telah
menghasilkan penuruan secara signifikan lama rawat inap di antaranya
peserta.

53
2. Program Pelatiahan Keteampilan Liberman (Liberman’s SkillTraining
Program) bertujuan melakukan rehabilitasi klien dengan mengajarkan
keterampilan hidup (Liberman et al, 1994), klien diajarkan melalui
serangkaian modul terstuktur yang mengajarkan stategi mengatasi
efek perubahan hidup.
3. Program pendidikan Keluarkan MeFarlane (McFarlane’s Family
Education Program) bertujuan untuk mengajarkan keluarga tentang
skizofrenia dan membantu mereka mengatasi penyakit (McFarlane,
1992). Hal ini adalah satu-satunnya program yang khusus untuk
keluarga dan menggunakan tenaga professional yang khusus dilatih
untuk melakukan program.
4. Keluarga untuk keluarga (Family-to-Family) adalah program
swabantu untuk keluarga orang dengan gangguan jiwa kronis. Hal ini
adalah program tertulis yang menggunakan anggota keluarga yang
dilatih untuk memfasilitasi program.
Pada tahap promosi kesehatan, mempromosikan gaya hidup kesehat
merupakan tindakan keperawatan yang penting. Aktifitas fisik harus
didorong Program kelompok terstuktur dapat efektif untuk orang dengan
skizofrenia, termasuk program berjalan dan control diet untuk individu
atau kelompok (Beebe dan Smith, 2010, Beebe at al, 2010 Weber,m2010).
Klien juga harus dibantu untuk berhenti merokok dan mengajurkan makan
makanan yang sehat (Cabassa et al, 2010). Ringkasan Rencan Tritmen
Keperawatan untuk klien dengan rsdpos neurobiologis maladaptive
disajikan pada table 17-9.

Tabel 17-9 Ringkasan Rencana Tindakan Keperawan


Respons Neurobiologis Maladaptif
Diagnosis Keperawatan : Risiko ganguan identitas personal
Hasil yang diharapkan : klien akan hidup, belajar dan bekerja pada
tingkat kesuksesan yang maksimal, seperti yang didefinisikan oleh
individu.

54
Tujuan jangka
Tindakan Rasional
pendek
Klien akan Mulai kontrak hubungan Pembentukan hubungan
berpartisipasi, perawat-klien yang telah saling percaya
dalam disepakati bersama oleh merupakan dasar untuk
pertemuan perawat dank lien, kontrak mengembangkan
singkat yang singkat (5 sampoai 10 komunikasi terbuka.
dijadwalkan menit). Sering kontak Seorang klien dengan
secara rutin dengan klien. proses piker terganggu
dengan perawat. Secara konsisten tidak bias mentolerir,
mendekati klien pada interaksi terganggu dan
waktu yang dijadwalkan. fungsi terbaik adalah
Perpanjang lamanya sesi pada lingkungan yang
secara bertahap terstuktur.
berdasarkan kesepakatan
dengan klien.
Tujukan sikap peduli dan
perhatian Validasi makna
komunikasi dengan klien
mengidetifikasi perbedaan
antara realitas dan proses
piker internal.
Klien akan Memberikan informasi Memahami dasar
mengidentifikasi tentang penyebab fisiologi untuk gangguan
dan menjelaskan gangguan jiwa. proses piker membantu
oengaruh Diskusikan hubungan klien mengenal gejala
penyakit otak antara prilaku klien dan dan merasa
pada proses fungsi otak. mengendalikan penyakit.
berfikir Melibatkan orang lain Orang lain yang
yang signifikan dalam sesi signifikan dapat

55
pendidikan. memberikan dukungan
dan penungjan stigma
jika mereka diberitahu
tentang penyakit.
Klien akan Bantu klien dan orang lain Kambuh dapat diprediksi
mengidentifikasi yang penting jika klien dapat keluarga
tanda-tanda mengidentifikasi prilaku selalu waaspada terhadap
kekambuhan yang yang berkaitan tanda-tanda peringatan.
yang akan dengan gangguan proses Tindakan dini
dating dan piker yang memungkinkan klien
menjelaskan mengidentifikasikan untuk mengontrol
tindakan yang ancaman kekambuhan. perjalan penyakit.
harus diambil Identifikasi sumber daya Anggota keluarga dapat
untuk mencegah masyarakat, dan rencana membantu klien
kambuh. bersama diarahkan untuk mengidentifikasi gejala
pencegahan kambuh. dan memberikan
dukungan untuk mencari
bantuan.
Klien akan Jelaskan teknik Banyak klien dengan
menjelaskan manajemen gejala yang psikosis terus memiliki
teknik telah digunakan oleh klien waham setelah fase akut
manajemen gejal lain. penyakit telah berlalu.
ayang sangat Mintalah klien untuk Klien dapat berfungsi
membantu menggambarkan teknik lebih baik jika mereka
dalam hidup yang digunakan untuk mempelajari cara-cara
dengan mengelola gejala. untuk mengelola gejala.
penyakit. Dorong klien untuk Gelaja manajemen diri
mengendalikan penyakit mempromosikan
dengan menggunakan pemberdayaan pribadi.
teknik manajeman gejala. Eliminasi zat yang

56
Diskusikan keuntungan mengganggu fungsi SSP
dari terlibat dalam gaya yang sehat meningkatkan
hidup sehat. kognis dan persepdi.
Klien akan Mulai control hubungan Klien yang memiliki
terlibat dalam perawat-klien yang telah respons neurobiologis
hubungan saling disepakati bersama oleh maladapat sering
percaya dengan perawat dank lien. mengalami kesulitan
perawat. Tetapkan tujuan bersama mempercayai orang lain.
yang berkaitan dengan Kesulitan dengan
interaksi social. pengelolaahan informasi
Banguan kepercayaan menyebabkan masalah
dengan konsisten dengan menafsirkan
memenuhi unsur-unsur komunikasi orang lain.
yang terbuka dan jujur.
Klien akan Dorong klien untuk Klien mungkin tidak
membahas menggambarkan pola menyadari karakteristik
tujuan pribadi hubungan saat ini. hubungan interpersonal
yang berkaitan Diskusikan hubungan salng memuaskan.
dengan interaksi pengalaman masa lalu . Umpan balik yang jujur
social. Identifikasi masalah yang dari perawat dapat
berhubungan dengan membantu klien
interaksi social. mengidentifikasi alas an
Ekplorasi tujuan. untuk masalah masa lalu.
Pengetahuan tentang
tujuan hubungan klien
mengarah ke
pengembangan
perubahan prilaku yang
realistis.
Klien akan Berbagi pengalaman Identifikasi prilaku

57
mengidentifikasi tentang prilaku klien bermasalah yang
prilaku yang dengan situasi social. membantu klien dan
mengganggu perawat merubah sasaran
hubungan social.
Klien akan Diskusikan perubahan Praktik akan membantu
mempraktikkan prilaku yang mungkin kenyamanan klien
alternative akan memfasilitasi dengan prilaku baru.
prilaku social pembentukan hubungan Umpan balik
dengan perawat. social. memberikan penguatan
Bermain peran prilaku untuk perubahan
alternative keberhasilan prilaku.
Memberikan umpan balik.
Klien akan Diskusikan pengalaman Klien akan
memilih satu berlatih prilaku baru membutuhkan umpan
orang dan dengan orang lain. balik yang berkelanjutan
melatih Membahas cara-cara dan dukungan terkait
keterampilan menjaga hubungan. dengan mempertahankan
interaksi social. perubahan prilaku.

2.2.6 Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan yang diberikan kepada klien meng
memiliki respons neurobiologis maladatif termasuk mendapat dari klien
dan keluarga. Oleh karena skizofrenia adalah penyakit serius, jangka
panjang, perawat sering epindik. Kekambuhan tidak boleh ditafsirkan
sebagai kegagalan tindakan keperawatan, tetapi harus dipertimbangkan
dalam konstek situasi kehidupan klien. Untuk mengevaluasi tindakan
eperawatan, pertanyaan-pertanyaan berikut mungkin dapat ditanyakan :

1) Apakah kelompok gejala utama penyakit membaik?


2) Apakah beban tritmen berkurang, dengan efek samping yang terbatas
dan resiko kesehatan jangka panjang?

58
3) Apakah beban penyakit telah menurun dengan peningkatan
keterampilan adaptif dan fungsional seta beban keluarga yang
minimal?
4) Apakah kesehatan dan kebugaran telah dipromosikan?
5) Apakah klien mampu menggambarkan prilaku yang terkait dngan
timbulnya kekambuhan?
6) Apakah klien mem pu mengidentifikasi dan menjelaskan obat yang
diserepkan, alas an untuk mengambil obat, frekuensi mangambil obat,
dan efek samping yang mungkin timbul?
7) Apakah klien berpartisipasi dalam berhubungan dengan orang lain?
8) Apakah keluarga klien menyadari karakteristik penyakit dan
mendukung klien?
9) Apakah klien dan keluarga diinformasikan tentang sumber daya yang
tersedia di masyarakat, seperti program rehabilitasi, penyedia layanan
kesehatan jiwa, program pendidikan, dan kelompok-kelompok
pendukung, dan apakah mereka mengganggu?

BAB III
PEMBAHASAN

59
3.1 Pembahasan Kasus Video 1 (Kick Andy Mereka Bilang Aku Gila 1)

Hana adalah seorang mahasiswi jurusan periklanan disalah satu


universitas swasta dan ia juga berprofesi sebagai pelukis. Ia mengidap
gangguan jiwa yaitu skizofrenia. Ia mulai mengetahui bahwa ia mengidap
penyakit itu sejak dibangku SMP, saat itu ia disangka mengalami kesurupan.
Karena saat itu ia merasa ingin bunuh diri dan ingin dibunuh oleh ibunya. Ia
sering mengalami halusinasi dari mahluk hitam. Dan ketika saat
halusinasinya itu datang, ia selalu merekamnya dengan laptopnya yang selalu
standby menyala. Ia melakukan itu agar ia mengetahui bagaimana perilaku ia
saat mengalami halusinasinya yang katanya seperti orang kesurupan. Pada
saat itu ia jarang berada di rumah, karena ketika dirumah ia merasa ketakutan,
ia sering mendengar bisikan dan membuat ia tidak nyaman berada di rumah
sampai saat ini, dan memilih tinggal sendiri di luar. Karena kelakuan hana
yang aneh orang tuanya mengusir dia dari rumah. Tanpa sepeser uang yang ia
punya, sehingga mengharuskannya ia untuk mengamen. Sering merasa
kelaparan, tidur di mushola, pos hansip, ketika dibangunkan hansip ia merasa
bingung harus pergi kemana, berlindung kemana, ketika sedang ketakutan,
karena sesungguhnya ia memerlukan sebuah pelukan dari kedua orang
tuanya. Ia hidup dijalanan selama 2 minggu. Halusinasi pendengaran yang
sering ia dengar adalah suara gemuruh, suara langkah kaki, seperti ada yang
mengintai. Hana sering mendengar bisikan bunuh diri tidak terhitung. Seperti
ketika ia sedang dikondangan tiba-tiba ada perasaan ingin bunuh diri. Ia
pulang sendiri dan merasa sangat depresi padahal tanpa ada masalah apapun.
Dan ia bisa berubah menjadi apapun tanpa terkendali.

Namun itu adalah cerita masa lalu, sekarang mahasiwa jurusam


periklanan di universirtas swasata itu sudah mulai pulih. Hana mengidap
skizofrenia sejak duduk dibangku SD. Sekarang ia mulai mencari cara
untuk mengurangi kegelisahannya itu, lewat menggambar, dan menulis.
Hana yang berprofesi sebagai prelance designer mulai percaya diri untuk

60
bergaul dengan orang banyak. Hana, banyak mengasilkan karya dan
memiliki cita-cita untuk memamerkan karyanya kepada masyarakat luas.

3.1.1 Faktor Predisposisi


Faktor predisposisi yang melatar belakangi kasus sejak Hana
dibangku SMP, saat itu ia disangka sering mengalami kesurupan.
3.1.2 Faktor Presipitasi
Ketika ia sedang dikondangan tiba-tiba ada perasaan ingin bunuh
diri. Ia pulang sendiri dan merasa sangat depresi padahal tanpa ada
masalah apapun.
3.1.3 Teknik Pemulihan (Rehabilitasi)
Teknik pemulihan pada kasus ini cara hana untuk mengurangi
kegelisahannya itu, lewat menggambar, dan menulis. Hana yang
berprofesi sebagai prelance designer mulai percaya diri untuk
bergaul dengan orang banyak. Hana, banyak mengasilkan karya
dan memiliki cita-cita untuk memamerkan karyanya kepada
masyarakat luas.
3.1.4 Diagnosa Keperawatan Jiwa
1. Gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran dan
penglihatan.
2. Isolasi Sosial
3. Resiko Bunuh Diri

3.2 Pembahasan Kasus Video 2 (Kick Andy Mereka Bilang Aku Gila 2)
Lilik Suwardi adalah seorang penulis buku yang berjudul
“Gelombang Lautan Jiwa” buku tentang psikomemoar, yang mengisahkan
perjalanan hidupnya selama mengidap gangguan jiwa yaitu Skizofrenia. Ia
pertama kali didiagnosa Skizofrenia pada tahun 1999 sejak kelas satu
SMA sering mengalami hal-hal serasa diteror oleh orang lain, dan
ketakutan ketika bertemu orang lain. Bahkan ketika makan pun ia merasa
ketakutan, dan harus menunggu waktu magrib saat suasana sepi, makan
pun tanpa menggunakan sendok karena ketika mendengar sendok

61
berdenting bisa memicu halusinasi lainnya. Halusinasi yang sering muncul
dan paling menyiksa adalah halusinasi pendengaran dan kadang-kadang
disertai halusinasi visual/ penglihatan. Suara itu selalu menghantuinya,
seperti mengejeknya terus-menerus hingga membuatnya depresi, dan
sampai membuat ia tidak bisa mengendalikan hidupnya bahkan sempat
menggelandang dijalanan. Penyebab ia memiliki halusinasi adalah karena
ia merasa dirinya tidak bisa berbuat banyak, sehingga ketika ia memiliki
posisi tertentu, ketika membuat suatu karya sedikit demi sedikit, langkah
awal penanganannya dengan membangun dan meningkatkan harga
dirinya.
Sekarang Lili Suwardi sudah mulai pulih dan bergabung dengan
sebuah komunitas Sehat Jiwa, dikomunitas ini ia mengabdikan dirinya
sebagai seorang sukarelawan, ia merasa nyaman aktif dikomunitas tersebut
karena menurutnya itu merupakan tempat bekerja tanpa merasa distigma.
Penanganan gangguan jiwa di daerah Cianjur masih di kerangkeng
atau dipasung yang dianggap sebagai solusi terbaik menurut keluarga dan
masyarakat karena bisa membahayakan dirinya dan juga orang lain.
Sampai saat ini Lilik terus berusaha membuat buku lainnya sambil
berusaha terus melangkah untuk membantu orang-orang yang bernasib
sama sepertinya.
Pengalaman Lilik ketika kecil ia pernah bermain korek api hingga
dihukum oleh ibunya tidak boleh main keluar dan dikurung di dalam
rumah, dan saat itu ia mulai merasa depresi dan mulai berkhayal bahwa
teman-temannya berada ditiap sudut-sudut rumahnya, pada saat itu ia
mulai merasa tidak butuh lagi seorang teman karena sudah punya teman
khayalan yang selalu menemani disetiap saat, ia sering mengobrol dengan
teman khayalannya ketika ia sendiri mulai pada saat itulah Lilik di sebut
orang gila.
3.2.1 Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi pada kasus ini adalah Pengalaman Lilik ketika
kecil ia pernah bermain korek api hingga dihukum oleh ibunya

62
tidak boleh main keluar dan dikurung di dalam rumah, dan saat itu
ia mulai merasa depresi dan mulai berkhayal bahwa teman-
temannya berada ditiap sudut-sudut rumahnya, pada saat itu ia
mulai merasa tidak butuh lagi seorang teman karena sudah punya
teman khayalan yang selalu menemani disetiap saat, ia sering
mengobrol dengan teman khayalannya ketika ia sendiri mulai pada
saat itulah Lilik di sebut orang gila. Dan juga karena ia merasa
dirinya tidak bisa berbuat banyak.
3.2.2 Faktor Presipitasi
Yang menjadi faktor presipitasi yaitu ketika dia mendengar
dentingan sendok da piring bisa memicu halusinasi pendengaran
maupun penglihatan.
3.2.3 Teknik Pemulihan (Rehabilitasi)
Teknik pemulihanya yaitu dengan rutin berkonsultasi dengan
dokter spesialis kejiwaan, dimana penanganan awalnya ketika ia
memiliki posisi tertentu, ketika membuat suatu karya sedikit demi
sedikit, langkah awal penanganannya dengan membangun dan
meningkatkan harga dirinya.
3.2.4 Diagnosa Keperawatan Jiwa
Ganggua persepsi sensori: halusinasi pendengaran dan penglihatan.

3.3 Pembahasan Video 3 (Kick Andy Mereka Bilang Aku Gila 5 & 6)
Arya Yudistira Syuman adalah seorang guru balet disekolah balet
Sumber Citra Jakarta dan koreografer, yang merupakan anak dari Farida
Utoyo penari balet dan koreografer terkenal di Indonesia. Yudi mengidap
gangguan jiwa yang cukup serius yaitu Skizofrenia. Ia mengenal dunia tari
dari sang ibu, bahkan untuk memperdalam seni tari Yudi sempat menimba
ilmu hingga ke negeri Jerman, tidak kuat dengan besarnya tekanan hidup
di Jerman menjadi titik awal untuk kemunduran baginya karena kompetisi
yang ketat diperparah dengan putus cinta sehingga membuat Yudi semakin
kacau. Hal itulah sebagai awal ia mengidap skizofrenia, ia sering

63
mendengar suara-suara aneh di telinganya seperti “Kamu anak jahat” yang
membuat ia percaya bahwa ia memang jahat dan merasa sudah tidak
berhak lagi untuk hidup di dunia karena merasa ia orang terburuk serta
berbagai pikiran negatif juga kerap menghantuinya, ia merasa orang-orang
disekitarnya berbicara hal buruk tentang dirinya, ia seperti tidak dapat
membedakan antara yang nyata dan tidak nyata bahkan pada tahun 1995
Yudi sudah mulai menarik diri dari lingkungan sekitar dan sering
mengurung diri di kamar. Meski kini telah berangsur pulih ia tetap
melakukan autohipnosis guna menenangkan diri sambil sesekali
berkonsultasi dengan seorang psikiater.
Menurut ibu Farida, sebelumnya ia tidak mengetahui bahwa anaknya
mengidap penyakit seperti itu karena kelakuannya aneh dan sering
mengamuk, akhirnya dibawa ke psikiater dari sana ibunya mengetahui
bahwa Yudi didiagnosis Skizofrenia. Tantangan terbesar selama 13
sebagai seorang ibu menemani Yudi antara kambuh dan tidak kambuh
yaitu karena Yudi adalah anaknya, yang tentu sebagai orang tua tidak mau
anaknya seperti itu, dan sangat menyedihkan, ketika ia kambuh, bisa saja
menyakiti ibunya, tapi sang ibu mengerti dengan kondisinya dan selalu
mendukung Yudi.
Hingga saat ini Yudi masih sering minum obat, karena masih sering
kambuh, dan rutin melakukan hipnosis guna menyingkirkan pikiran-
pikiran negatif yang cenderung berkomentar.
3.3.1 Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi pada kasus ini adalah ketika Yudi sempat
menimba ilmu hingga ke negeri Jerman, tidak kuat dengan
besarnya tekanan hidup di Jerman menjadi titik awal untuk
kemunduran baginya karena kompetisi yang ketat.
3.3.2 Faktor Presipitasi
Yang menjadi faktor presipitasi yaitu diperparah dengan putus cinta
sehingga membuat Yudi semakin kacau. ketika bertemu dengan

64
orang lain ia merasa orang-orang disekitarnya berbicara hal buruk
tentang dirinya.
3.3.3 Teknik Pemulihan (Rehabilitasi)
Autohipnosis guna menenangkan diri sambil sesekali berkonsultasi
dengan seorang psikiater. Dan selalu adanya dukungan dari
keluarga terutama ibunya.
3.3.4 Diagnosa Keperawatan Jiwa
1. Ganggua sensori persepsi: halusinasi pendengaran.
2. Isolasi Sosial
3. Resiko Bunuh Diri

65
BAB IV

PETUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas mengenai halusinasi dan pelaksanaan asuhan


keperawatan terhadap pasien halusinasi, maka dapat diambil beberapa
kesimpulan sebagai berikut :
1. Saat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi
ditemukan adanya perilaku menarik diri sehingga perlu dilakukan
pendekatan secara terus menerus, membina hubungan saling percaya
yang dapat menciptakan suasana terapeutik dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan yang diberikan.
2. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien khususnya dengan
halusinasi, pasien sangat membutuhkan kehadiran keluarga sebagai
sistem pendukung yang mengerti keadaaan dan permasalahan dirinya.
Disamping itu perawat / petugas kesehatan juga membutuhkan
kehadiran keluarga dalam memberikan data yang diperlukan dan
membina kerjasama dalam memberi perawatan pada pasien. Dalam hal
ini penulis dapat menyimpulkan bahwa peran serta keluarga merupakan
faktor penting dalam proses penyembuhan klien.

4.2 Saran
Sebagai seorang perawat, kita harus benar-benar kritis dalam
menghadapi kasus halusinasi yang terjadi dan kita harus mampu
membedakan resiko halusinasi tersebut dan bagaimana cara
penanganannya.

66
DAFTAR PUSTAKA

Stuart, Gail W. 2016. Prinsip dan Praktik Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart.

Singapore: Elsevier Inc.

Direja, Ade Herman Surya. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawat Jiwa.

Yogyakarta: Nuha Medika.

67