Anda di halaman 1dari 6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi testis
Testis merupakan sepasang struktur organ yang berbentuk oval dengan ukuran 4x2,5x2,5 cm
dan berat kurang lebih 20 gr. Terletak di dalam scrotum dengan axis panjang pada sumbu vertical
dan biasanya testis kiri lebih rendah diabnding kanan, Letak anatomis testis adalah caudolateral dan
craniomedial. Testis diliputi oleh tunica albuginea pada 2/3 anterior kecuali pada sisi dorsal dimana
terdapat epidiymis dan pedikel vaskuler.Sedangkan epididymis merupakan organ yang berbentuk
kurva yang terletak di sekeliling bagian dorsal dari testis.Suplai darah arteri pada testis dan
epididimis berasal dari arteri renalis.

Fungsi utama dari testis adalah memproduksi sperma dan hormone androgen terutama
testoteron.Sperma dibentuk di dalam tubulus seminiferus yang memiliki 2 jenis sel yaitu sel sertoli
dan sel spermatogenik.Diantar tubulus seminiferus inilah terdapat jaringan stroma tempat dimana
sel leydig berada.

Pada perkembangannya, testis mengalami desensus dari posisi asalnya di dekat ginjal menuju
scrotum. Terdapat beberapa mekanisme yang menjelaskan mengenai proses ini antara lain adanya
tarikan gubernakulum dan tekanan intraabdominal. Factor endocrine dan axis hypothalamus-
ptuitary-testis juga berperan dalam proses desensus testis. Antara minggu ke 12 dan 17 kehamilan,
testis mengalami migrasi transabdominal menuju lokasi di dekat cincin inguinal interna.

Jaringan ikat testis dibagi menjadi 250 lobus pada bagian anterior dan lateral testis dibungkus
oleh suatu lapisan serosa yang disebut tunica vaginalis yang meneruskan diri menjadi lapisan
parietal. Lapisan ini langsung berhubngan dengan kulit terutam skrotum. Di sebelah posterolateral
testis berhubungan dengan epididimis, terutama pada pool atas dan bawahnya.

Peredaran darah testis memiliki keterkaitan dengan peredaran darah di ginjal karena asal
embriologi ke dua organ tersebut.Pembuluh darah arteri ke testis berasal dari aorta yang
beranastomosis di funikulus spermatikus dengan arteri dan vasa deferensia yang merupakan
cabang dari arteri iliaca interna.Aliran darah dari testis kembali ke pleksus pampiniformis di
funikulus spermatikus. Pleksus ini di annulus inguinalis interna akan membentuk vena spermatika.
Vena spermatika kanan akan masuk ke dalam vena cava inferior sedangkan vena spermatika kiri
akan masuk ke vena renalis sinistra.

B. Definisi Orchitis

Orchitis merupakan reaksi inflamasi akut dari testis sekunder terhadap infeksi. Sebagian

besar kasus berhubungan dengan infeksi virus gondong, namun virus lain dan bakteri dapat

menyebabkan orchitis.Orchitis (inflamasi pada testis) dapat disebabkan oleh bakteri atau akibat

septicemia.Biasanya kedua testis terkena, dan jika terjadi bilateral kemandulan sering

diakibatkannya, steril tidak terjadi bila bersifat unilateral. (Long, 1996: 468)

C. Etiologi

Orchitis bisa disebabkan oleh sejumlah bakteri dan virus.Virus yang paling sering

menyebabkan Orchitis adalah virus gondongan (mumps).Virus lainnya meliputi Coxsackie virus,

varicella, dan echovirus. Bakteri yang biasanya menyebabkan Orchitis antara lain Neisseria

gonorhoeae, Chlamydia trachomatis, E. coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa,


Staphylococcus sp., dan Streptococcus sp. Pasien immunocompromised (memiliki respon imun yang

diperlemah dengan imunosupresif) dilaporkan terkena Orchitis dengan agen penyebab

Mycobacterium avium complex, Crytococcus neoformas, Toxoplasma gondii, Haemophilus

parainfluenzae, dan Candida albicans. (Mycyk, 2004)

D. Epidemiologi

 Kejadian orchitis diperkirakan 1 diantara 1000 laki-laki.

 4 dari 5 laki-laki prepubertal (lebih muda dari 10 tahun).

 Sebagian besar kasus berhubungan dengan epididimitis (epidiymoorchitis), dan terjadi

pada laki-laki yang aktif secara seksual lebih tua dari 15 tahun atau pada pria lebih tua

dari 50 tahun dengan hipertrofi prostat jinak (BPH).

E. Faktor resiko
Instrumentasi dan pemasangan kateter merupakan factor resiko yang umum untuk

epididimis akut.Urethritis atau prostatitis juga bisa menjadi factor resiko.Refluks urin

terinfeksi dari urethra prostatic ke epidiymis melalui saluran sperma dan vas deferens bisa

dipicu melalui valsava atau pendesakan kuat.

Uretritis gonore (gonnorheae) merupakan penyakit hubungan seksual yang

disebabkan oleh kuman neiserria gonorrheae yang menyerang uretra pada laki-laki dan

endocervix pada wanita.

F. Patofisiologi
Peradangan pada testis bisa disebabkan oleh berbagai virus ataupun bakteri. Hal ini

akan menimbulkan proses inflamasi pada testis yang meliputi kalor, rubor, dolor, tumor, dan

function laesa. Orchitis paling umum disebabkan oleh infeksi bakteri.Virus maupun
trauma.Infeksi virus (mumps) bisa menginfeksi secara hematogen, sedangkan infeksi bakteri

biasanya melalui infeksi saluran kencing atau melalui penyakit menular seksual.

G. Manifestasi klinis
Tanda dan gejala Orchitis dapat berupa demam, semen mengandung darah, keluar

nanah dari penis, pembengkakan skrotum, testis yang terkena terasa berat, membengkak,

dan teraba lunak, serta nyeri ketika berkemih, buang air besar(mengedan), melakukan

hubungan seksual. Selanglangan klien juga dapat membengkak pada sisi testis yang terkena

(Mycyk,2004). Sedangkan menurut Lemone (2004 : 1533) manifestasi Orchitis termasuk

demam tinggi, peningkatan WBCs, kemerahan skrotum secara unilateral atau bilateral,

pembengkakan, dan nyeri.

H. Pemeriksaan penunjang

 Pemeriksaan urin kultur


 Urethral smear (tes penyaringan untuk klamidia dan gonorhoe)
 Pemeriksaan darah CBC (complete blood count)
 Dopller ultrasound, untuk mengetahui kondisi testis, menentukan diagnosa dan mendeteksi
adanya abses pada skrotum
 Testicular scan
 Analisa air kemih
 Pemeriksaan kimia darah

I. Diagnosis
 Anamnesis
Sebagian besar pasien dengan orchitis datang dengan keluhan nyeri dan bengkak pada
testis.Keluhan biasanya disertai dengan demam.Keluhan tambahan berupa nyeri dan
panas saat berkemih.Kadang disertai pembesaran getah bening.
 Pemeriksaan fisik
Pada inspeksi ditemukan tanda-tanda radang pada testis yaitu: testis berwarna
kemerahan, suhu raba terasa hangat, bengkak dan nyeri saat dipalpasi.
 Laboratorium
Pada orchitis yang disebebabkan oleh bakteri dan virus terjadi peningkatan leukosit.
 Ultrasonografi

J. Differensial Diagnosis

1. Torsio Testis
Torsio testis adalah terpuntirnya funikulus spermatikus, sehingga terjadi hambatan
aliran darah ke testis, sehingga apabila 5-6 jam (golden period) tidak mendapatkan terapi
akan terjadi atrofi testis. Karena perfusi oleh vasa spermatika interna menurun. Torsio paling
sering terjadi pada usia pubertas. Torsi dimulai dari kontraksi testis sebelah kiri, dimana
testis kiri berputar berlawanan dari arah jarum jam sehingga terjadi oedem testis dan
funikulus spermatikus akibatnya terjadi iskemia.
Gambaran klinis torsio testis, biasanya pasien mengeluh nyeri hebat di daerah
skrotum, yang sifatnya mendadak dan diikuti pembengkakan pada testis.Nyeri dapat
menjalar ke daerah inguinal.
Pada pemeriksaan fisik tampak testis membengkak, letaknya lebih tinggi dan lebih
horizontal daripada testis kontralateral.Kadang-kadang pada torsio yang baru aja
terjadi.Dapat diraba adanya lilitan atau penebalan funikulus spermatikus.Keadaan ini
biasanya tidak disertai dengan demam.Pemeriksaan sedimen urine tidak menunjukkan
adanya leukosit dalam urine dan pemeriksaan darah tidak menunjukkan tanda
inflamasi.Pada torsio testis tidak didapatkan adanya aliran darah ke testis sedangkan pada
keradangan akut testis lainnya terjadi peningkatan aliran darah ke testis.
Terapi torsi testis: (1) detorsi manual, yaitu dengan mengembalikan posisi testis ke
asalnya dengan memutar testis kea rah berlawanan dengan arah torsio, dengan local anastesi
(lidokain 1%) pada funikulus spermatikus di annulus 10-20 ccbila gagal dilakukan
operasi. (2) operasi, tujuannya adalah untuk mengembalikan testis kea rah yang benar. Bila
testis viabeldilakukan orkidopeksi pada tunica dartos, dilanjutkan orkidopeksi sisi
kontralateral pada 3 tempat.Bila testis nekrosisdilakukan orkidektomi disusul orkidopeksi
sisi kontralateral.

2. Epididimitis
Epididimitis adalah reaksi inflamasi yang terjadi pada epididimis.Reaksi inflamasi ini
dapat terjadi secara akut atau kronis.Diduga reaksi inflamasi ini berasal dari bakteri yang
berada di dalam buli-buli, prostat atau uretra yang secara ascending menjalar ke
epididimis.Dapat pula terjadi refluks urine melalui duktus ejakulatorius atau penyebaran
bakteri secara hematogen atau langsung ke epididimis.Mikroba penyebab infeksi pada pria
dewasa muda (<35 tahun) yang tersering adalah chlamidia trachomatis atau neisseria
gonorhoika, sedangkan pada anak-anak dan orang tua yang tersering adalah E.coli atau
ureoplasma ureolitikum.Biasanya pasien datang dengan keluhan nyeri mendadak pada
daerah skrotum diikuti dengan bengkak pada kauda hingga caput epididimis.Tidak jarang
disertai demam, malese, dan nyeri dirasakan hingga ke pinggang.Pada pemeriksaan
menunjukkan pembengkakan pada hemiskrotum dan kadang kala pada palpasi sulit
memisahkan antara epididimis dengan testis.Reaksi inflamasi dan pembengkakan dapat
menjalar ke funikulus spermatikus pada daerah inguinal.Gejala klinis epididimitis akut sulit
dibedakan dengan torsio testis. Pada epididimitis akut jika dilakukan elevasi (pengangkatan)
testis, nyeri akan berkurang; hal ini berbeda dengan torsio testis.

3. Hidrokel
Hidrokel adalah penumpukkan cairan yang berlebihan di antara lapisan parietalis dan visceralis tunica
vaginalis. Dalam keadaan normal, cairan yang berbeda di dalam rongga itu memang ada dan berada
dalam keseimbangan antara produksi dan reabsorbsi oleh system limfatik disekitarnya.Hidrokel bisa
disebabkan oleh (1) belum sempurnanya penutupan processus vaginalis atau (2) belum sempurnanya
system limfatik di daerah skrotum dalam melakukan reabsorbsi cairan hidrokel.Keluhan utama pada
hidrokel adanya benjolan yang tidak nyeri.Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya benjolan di
kantong skrotum dengan konsistensi kistus dan pada pemeriksaan penerawangan menunjukkan adanya
transiluminasi.