Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN KASUS

HERNIA INGUINALIS LATERALIS

Oleh:
Rachmat Fauza
NIM 16173248

Dokter Pembimbing
Dr. Djeni Bidjantoro Sp.B , Sp.BA

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ABULYATAMA ACEH


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH MEURAXA
KOTA BANDA ACEH
2017
DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN .................................................................................


DAFTAR ISI .............................................................................................. 1
I. PENDAHULUAN ....................................................................... 2
Batasan ……………………………………………………….. 4
Klasisikasi ……………………………………………………. 3
Etiologi ………………………………………………………. 8
Diagnosis ……………………………………………………… 8
Diagnosis Banding ……………………………………………. 11
Penatalaksanaan ………………………………………………. 12
Komplikasi …………………………………………………… 23
Prognosis …………………………………………………….. 23
II. LAPORAN KASUS ……………………………………………. 24
III. KEPUSTAKAAN ....................................................................... 31

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Anatomi
Hernia merupakan protusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau
bagian yang lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut
menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding
perut. Hernia terdiri dari cincin, kantong dan isi hernia.

Gambar 1. Anatomi anterior

2
Gambar 2. Anatomi posterior

1.2 Klasifikasi
1. Berdasarkan terjadinya:
a. Hernia kongenital:
- Hernia kongenital sempurna: karena adanya defek pada tempat-tempat
tertentu.
- Hernia kongetital tak sempurna: bayi dilahirkan normal (kelainan
belum tampak) tetapi mempunyai defek pada tempat-tempat tertentu
(predisposisi) dan beberapa bulan setelah lahir akan terjadi hernia
melalui defek tersebut karena dipengaruhi oleh kenaikan tekanan intra
abdominal.
b. Hernia akuisita

3
2. Berdasarkan klinis:
a. Hernia reponibilis: bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri
atau mengejan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, tidak ada
keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus. Dapat direposisi tanpa operasi.
b. Hernia irreponibilis: organ yang mengalami hernia tidak dapat kembali ke
cavum abdominal kecuali dengan bantuan operasi. Tidak ada keluhan rasa
nyeri atau tanda sumbatan usus. Jika telah mengalami perlekatan organ
disebut hernia akreta.
c. Hernia strangulata: hernia dimana sudah terjadi gangguan vaskularisasi
viscera yang terperangkap dalam kantung hernia (isi hernia). Pada keadaan
sebenarnya gangguan vaskularisasi telah terjadi pada saat jepitan dimulai,
dengan berbagai tingkat gangguan mulai dari bendungan sampai nekrosis.
d. Hernia inkarserata: isi kantong terperangkap, terjepit oleh cincin hernia, tidak
dapat kembali ke dalam rongga perut, dan sudah disertai tanda-tanda ileus
mekanis (usus terjepit sehingga aliran makanan tidak bisa lewat).
3. Berdasarkan arah hernia:
a. Hernia eksterna:
Hernia yang penonjolannya dapat dilihat dari luar karena menonjolnya ke arah
luar, misalnya:
- Hernia inguinalis medialis (15%) dan lateralis (60%)
- Hernia femoralis
- Hernia umbilicalis
- Hernia epigastrika
- Hernia lumbalis
- Hernia obturatoria
- Hernia semilunaris
- Hernia parietalis
- Hernia ischiadica

4
Gambar 3. Hernia eksterna

Gambar 4.

5
b. Hernia interna:
Jika isi hernia masuk ke dalam rongga lain, misalnya ke cavum thorax, bursa
omentalis, atau masuk ke dalam recessus dalam cavum abdomen.
Pada cavum abdominalis:
- Hernia epiploica Winslowi
- Hernia bursa omentalis
- Hernia mesenterika
- Hernia retro peritonealis
Pada cavum thorax:
Hernia diafragmatika traumatika
Hernia diafragmatika non-traumatika:
 Kongenital: misalnya hernia Bochdalek dan hernia Morgagni
 Akuisita: misalnya hernia hiatus esophagus

Hernia Regio Inguinalis

1.1 Definisi.
Hernia inguinalis adalah hernia yang paling sering kita temui. Menurut
patogenesisnya hernia ini dibagi menjadi dua, yaitu hernia inguinalis lateralis (HIL)
dan hernia inguinalis medialis (HIM). Ada juga yang membagi menjadi hernia
inguinalis direk dan hernia inguinalis indirek. Meskipun terapi terbaik pada hernia ini
adalah sama yaitu herniotomi dan herniorafi, tapi penting untuk mengetahui
perbedaannya karena akan mempengaruhi pada teknik operasinya nanti.
Hernia inguinalis lateralis timbul karena adanya kelemahan anulus intenus
sehingga organ-organ dalam rongga perut (omentum, usus) masuk ke dalam kanalis
inguinalis dan menimbulkan benjolan di lipat paha sampai skrotum. Sedangkan
hernia ingunalis medialis timbul karena adanya kelemahan dinding perut karena suatu
sebab tertentu. Biasanya terjadi pada segitiga hasselbach. Secara anatomis intra

6
operatif antara HIL dan HIM dipisahkan oleh vassa epigastrika inferior. HIL terletak
di atas vassa epigastrika inferior sedang HIM terletak di bawahnya

a. Kanalis inguinalis
Kanalis inguinalis dibatasi di kraniomedial oleh annulus internus yang
merupakan bagian terbuka dari fascia transversalis dan apponeurosis m.
transverses abdominis. Di medial bawah, di atas tuberkulum pubikum kanal
ini dibatasi dibatasi oleh annulus inguinalis eksternus, bagian terbuka dari
appoeurosisi m. obliges eksternus. Atapnya adalah apponeurosis m. obliges
eksternus , dan di dasarnya terdapat ligamentum inguinale. Kanal berisi tali
sperma pada laki –laki dan ligamentum rotundum pada perempuan

7
1.2 Etiologi
Secara fisiologis, kanalis inguinalis merupakan kanal atau saluran yang normal.
Pada fetus, bulan kedelapan dari kehamilan terjadi descensus testiculorum. Penurunan
testis yang sebelumnya terdapat di rongga retroperitoneal, dekat ginjal, akan masuk
kedalam skrotum sehingga terjadi penonjolan peritoneum yang dikenal sebagai
processus vaginalis peritonei. Pada umumnya, ketika bayi lahir telah mengalami
obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanal tersebut. Biasanya
obliterasi terjadi di annulus inguinalis internus, kemudian hilang atau hanya berupa
tali. Tetapi dalam beberapa hal sering belum menutup yang hasilnya ialah terdapatnya
hernia didaerah tersebut.
Setelah dewasa kanal tersebut telah menutup. Namun karena daerah tersebut
ialah titik lemah, maka pada keadaan yang menyebabkan peningkatan tekanan
intraabdomen kanal itu dapat terbuka kembali dan timbul hernia inguinalis akuisita.
Sementara di usia ini seseorang lebih produktif dan melakukan banyak aktivitas.
Sehingga penyebab hernia pada orang dewasa ialah sering mengangkat barang berat,
juga bisa oleh karena kegemukan, atau karena pola makan yang tinggi lemak dan
rendah serat sehingga sering mengedan pada saat BAB.
Hernia pada orang tua terjadi karena faktor usia yang mengakibatkan semakin
lemahnya tempat defek. Biasanya pada orang tua terjadi hernia medialis karena
kelemahan trigonum Hesselbach. Namun dapat juga disebabkan karena penyakit-
penyakit seperti batuk kronis atau hipertrofi prostat.

1.3 Diagnosis
1. Anamnesis
Keluhan biasanya berupa benjolan di lipat paha yang hilang timbul, muncul
terutama pada waktu melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan tekanan intra-
abdomen seperti mengangkat barang atau batuk, benjolan ini hilang pada waktu
berbaring atau dimasukkan dengan tangan (manual). Terdapat faktor-faktor yang
berperan untuk terjadinya hernia. Dapat terjadi gangguan passage usus (obstruksi)

8
terutama pada hernia inkarserata. Nyeri pada keadaan strangulasi, sering penderita
datang ke dokter atau ke rumah sakit dengan keadaan ini.
2. Pemeriksaan Fisik
Ditemukan benjolan lunak di lipat paha di bawah ligamentum inguinale di medial
vena femoralis dan lateral tuberkulum pubikum. Benjolan tersebut berbatas atas tidak
jelas, bising usus (+), transluminasi (-).
Gejala/tanda Obstruksi usus pada hernia Nekrosis/gangren pada
inkarserata hernia strangulata
Nyeri Kolik Menetap
Suhu badan Normal Normal/meninggi
Denyut nadi Normal/meninggi Meninggi/tinggi sekali
Leukosit Normal Leukositosis
Rangsang peritoneum Tidak ada Jelas
Sakit Sedang/berat Berat sekali/toksik
Tabel 1. Hernia inkarserata dengan obstruksi usus dan hernia strangulata yang menyebabkan
nekrosis atau ganggren

Teknik pemeriksaan

Hernia yang melalui annulus inguinalis abdominalis (lateralis/internus) dan


mengikuti jalannya spermatid cord di canalis inguinalis serta dapat melalui annulus
inguinalis subcutan (externus) sampai scrotum. Mempunyai LMR ( Locus Minoris
Resistentie Secara klinis HIL dan HIM dapat dibedakan dengan tiga teknik
pemeriksaan sederhana yaitu finger test, Ziemen test dan Tumb test. Cara
pemeriksaannya sebagai berikut :

9
Pemeriksaan Finger Test :

1. Menggunakan jari ke 2 atau jari ke 5.


2. Dimasukkan lewat skrortum melalui anulus
eksternus ke kanal inguinal.
3. Penderita disuruh batuk:

 Bila impuls diujung jari berarti Hernia


Inguinalis Lateralis.
 Bila impuls disamping jari Hernia
Inguinnalis Medialis.

Gambar 6

Pemeriksaan Ziemen Test :

1. Posisi berbaring, bila ada benjolan masukkan


dulu (biasanya oleh penderita).
2. Hernia kanan diperiksa dengan tangan
kanan.
3. Penderita disuruh batuk bila rangsangan
pada :

 jari ke 2 : Hernia Inguinalis Lateralis.


 jari ke 3 : hernia Ingunalis Medialis.
 jari ke 4 : Hernia Femoralis.

Gambar 7

10
Pemeriksaan Thumb Test :

 Anulus internus ditekan dengan ibu jari dan penderita disuruh mengejan
 Bila keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis medialis.
 Bila tidak keluar benjolan berarti Hernia Inguinalis Lateralis.

1.4 Diagnosis Banding


1. Limfadenitis yang disertai tanda radang lokal umum dengan sumber infeksi di
tungkai bawah, perineum, anus, atau kulit tubuh kaudal dari tingkat umbilikus.
2. Lipoma kadang tidak dapat dibedakan dari benjolan jaringan lemak
preperitoneal pada hernia femoralis.
3. Abses dingin yang berasal dari spondilitis torakolumbalis dapat menonjol di
fosa ovalis.

11
Untuk membedakannya perlu diketahui bahwa munculnya hernia erat
hubungannya dengan aktivitas seperti mengedan, batuk, dan gerak lain yang disertai
dengan peninggian tekanan intra-abdomen, sedangkan penyakit lain seperti
limfadenitis femoralis tidak berhubungan dengan aktivitas demikian

1.5 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan

1. Konservatif

Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian


penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi.

a. Reposisi

Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis strangulate, kecuali pada pasien
anak-anak. reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia
membentuk corong sedangkan tangan kanan mendorongnya kearah cincin hernia
dengan tekanan lambat tapi menetap sampai terjadi reposisi. Pada anak-anak
inkarserasi lebih sering terjadi pada umur dibawah dua tahun. Reposisi spontan lebih
sering dan sebaliknya gangguan vitalitas isi hernia jarang terjadi jika dibandingkan
dengan orang dewasa. Hal ini disebabkan oleh cincin hernia yang lebih elastis
dibandingkan dengan orang dewasa. Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak
dengan pemberian sedative dan kompres es diatas hernia. Bila usaha reposisi ini
berhasil anak disiapkan untuk operasi pada hari berikutnya. Jika reposisi hernia tidak
berhasil dalam waktu enam jam harus dilakukan operasi segera. Pada tindakan
reposisi ini posisi penderita dapat dilakukan denagn posisi seperti pada gambar :

12
Gambar 11 : Reposisi dengan posisi trendelenburg

b. Bantalan penyangga ( sabuk Truss)

Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang telah


direposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harus dipakai seumur hidup.

Namun cara yang berumur lebih dari 4000 tahun ini masih saja dipakai sampai
sekarang. Sebaiknya cara ini tidak dinjurkan karena mempunyai komplikasi, antara

13
lain merusak kulit dan tonus otot dinding perut didaerah yang tertekan sedangkan
strangulasi tetap mengancam. Pada anak-anak cara ini dapat menimbulkan atrofitestis
karena tekanan pada funikulus spermatikus yang mengandung pembuluh darah dari
testis

2. Operatif
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang
rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar
operasi hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.
a. Herniotomi
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya.
Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi,
kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong.

Indikasi :

1. Hernia Inkarserata / Strangulasi (cito)


2. Hernia Irreponabilis ( urgen, 2 x 24 jam)
3. Hernia Reponabilis dilakukan atas indikasi sosial : pekerjaan (elektif)
4. Hernia Reponabilis yang mengalami incarserasi (HIL,Femoralis)

Prinsip semua hernia harus dioperasi, karena dapat menyebabkan inkarserasi /


strangulasi. Herniotomy pada dewasa lebih dulu faktor-faktor penyebab harus
dihilangkan dulu, misal BPH harus dioperasi sebelumnya.

Tehnik Operasi

 Incisi inguinal 2 jari medial SIAS sejajar ligamentum inguinale ke tuberculum


pubicum
 Incisi diperdalam sampai sampai nampak aponeurosis MOE : tampak crus
medial dan lateralis yang merupakan anulus eksternus

14
 Aponeurosis MOE dibuka kecil dengan pisau, dengan bantuan pinset
anatomis dan gunting dibuka lebih lanjut ke kranial sampai anulus internus
dan ke kaudal sampai membuka annulus inguinalis eksternus. Hati2 dengan
N.Ilioinguinalis dan N.Iliohypogastrik. M.cremaster disiangi sampai nampak
funiculus spermaticus
 Funiculus dibersihkan dicantol dengan kain kasa dibawa ke medial, sehingga
nampak kantong peritoneum
 Peritoneum dijepit dengan 2 bh pinset kemudian dibuka selanjutnya usus
didorong ke cavum abdomen dengan melebarkan irisan ke proksimal sampai
leher hernia, kantong sebelah distal dibiarkan
 Leher hernia dijahit dengan kromik dan puntung ditanamkan di bawah
conjoint tendo dan digantungkan
 Selanjutnya dilakukan hernioplasty secara :

Ferguson

Funiculus spermaticus ditaruh disebelah dorsal MOE dan MOI abdominis. MOI
& transversus dijahitkan pada ligamentum inguinale dan meletakkan funiculus di
dorsalnya. kemudian aponeurosis MOE dijahit kembali, sehingga tidak ada lagi
canalis inguinalis.

Bassini
MOI dan transversus abdominis dijahitkan pada ligamentum inguinal, Funiculus
diletakkan disebelah ventral, aponeurosis MOE tidak dijahit, sehingga canalis
inguinalis tetap ada. Kedua musculus berfungsi memperkuat dinding belakang canalis
sehingga LMR hilang.

15
Gambar 13:
Teknik bassini

Halsted
Dilakukan penjahitan MOE, MOI dan m.transversus abdominis, untuk
memperkuat / menghilangkan LMR. Funiculus spermaticus diletakkan di subcutis
Cara Ferguson dan Bassini dilakukan pada orang dewasa. Cara Halsted dilakukan
pada orang tua, supaya dinding perut lebih kuat.

 Kemudian luka ditutup lapis demi lapis

1. Aponeurosis MOE jahit simpul dengan cromic catgut


2. Subcutan fat dijahit simpul dengan catgut

16
3. Kulit dijahit dengan zyde secara simpul

Tehnik operasi Herniotomi – Herniorafi Lichtenstein

Hernia inguinalis lateralis dan medialis:

1. Penderita dalam posisi supine dan dilakukan anestesi umum, spinal


anestesi atau anestesi lokal.
2. Dilakukan insisi oblique 2 cm medial sias sampai tuberkulum pubikum
3. Insisi diperdalam sampai tampak aponeurosis MOE (Muskulus Obligus
Abdominis Eksternus)
4. Aponeurosis MOE dibuka secara tajam
5. Funikulus spermatikus dibebaskan dari jaringan sekitarnya dan dikait pita
dan kantong hernia di identifikasi
6. Isi hernia dimasukan ke dalam cavum abdomen, kantong hernia secara
tajam dan tumpul sampai anulus internus
7. Kantong hernia diligasi setinggi lemak preperitonium , dilanjutkan dengan
herniotomi
8. Perdarahan dirawat, dilanjutkan dengan hernioplasty dengan mesh
9. Luka operasi ditutup lapis demi lapis

Komplikasi
Durante Operasi

 Lesi funiculus spermaticus


 Lesi usus, vu, vasa epigastrica inferior, vasa iliaca ekterna
 Putusnya arteri Femoralis

Post Operasi

 Hematom, Infeksi, Wound dehisiensi


 Atropi testes
 Hydrocele
 Rekurens

17
b. Hernioplasti
Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus
dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting
artinya dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal
berbagai metode hernioplasti seperti memperkecil anulus inguinalis internus dengan
jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan
pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m. oblikus internus abdominis yang
dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut
metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa m. transversus abdominis,
m.oblikus internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc Vay. Bila
defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintesis
seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek.

Shouldice
Menurut Abrahamson (1997) prinsip dasar tehnik Shouldice adalah Bassini
multi layer, di klinik khusus hernia Shouldice digunakan kawat baja no 32 atau 34
untuk menjahit defek dinding posterior kanal inguinal. Tetapi penggunaan benang
monofilamen sintetis non absorbsi lebih biasa dipakai diluar Toronto. Adapun
tahapan hernioplasty menurut Shouldice:
Langkah pertama:
Setelah dilakukan insisi garis kulit sampai fasia, dengan preparasi saraf
ilioinguinal dan iliohipogastrika, bebaskan funikulus dari fasia transversalis sampai
ke cincin interna, membuang kantong dan ligasi setinggi mungkin.
Dilanjutkan dengan memotong fasia transversalis dan membebaskan lemak pre
peritoneal.

18
Gambar 14

Gambar 15

Langkah berikutnya dilakukan rekonstruksi dinding belakang inguinal dengan


jahitan jelujur membuat suatu flap dari tepi bawah fasia ke bagian belakang flap
superior, usahakan titik jahitan tidak segaris dengan jarak 2-4 mm. Bagian flap

19
superior yang berlebih dijahitkan kembali pada lapisan dibawahnya dengan jelujur
membentuk lapisan ke dua (gambarA). Demikian seterusnya.

Gambar 16

dengan menjahit tendon konjoin ke ligamentum inguinal membentuk lapisan ke tiga


(gambar B). Kemudiaan penjahitan aponeorosis obliqus eksterna membentuk lapisan
ke empat (gambar C).
Bagian flap superior yang berlebih dijahitkan kembali pada lapisan
dibawahnya dengan jelujur membentuk lapisan ke dua (gambarA). Demikian
seterusnya dengan menjahit tendon konjoin ke ligamentum inguinal membentuk
lapisan ke tiga (gambar B). Kemudiaan penjahitan aponeorosis obliqus eksterna
membentuk lapisan ke empat (gambar C).

20
Lichtenstein Tension free
Tehnik pemasangan mesh pada Lichtenstein seperti berikut (Wexler, 1997) :
Dilakukan terlebih dahulu herniotomi.
1. Letakkan bahan mesh ukuran 10x5 cm diletakkan di atas defek, disebelah
bawah spermatik kord.
2. Dilakukan penjahitan dengan benang non absorbsi 3-0 ke arah :
- Medial : perios tuberkulum pubikum.
- Lateral : melingkari spermatik kord.
- Superior : pada konjoin tendon.
- Inferior : pada ligamentum inguinal.

Gambar 17 : setelah pemasangan mesh

Karena penjahitan pada tehnik Shouldice dilakukan cara jelujur tidak terputus
pada titik yang berbeda kesegarisannya menyebabkan tarikan yang terjadi menyebar
dan terdistribusi dibanyak titik sehingga rasa nyeri menjadi tidak dominan disatu
tempat. Hal inilah yang menyebabkan keluhan rasa nyeri pasca operasi menjadi lebih
ringan dibanding tehnik konvensional lainnya (Abrahamson, 1997).
Penggunaan material sintetis sebagai penutup defek miopektineal dinding
belakang kanalis inguinal memerlukan persyaratan tertentu, prostesis yang dipakai

21
harus cukup kuat sebagai penyangga, tidak bersikap alergen, mempunyai potensi
untuk menimbulkan respon inflamasi dan cepat berintegrasi dengan jaringan sekitar.
Agar integrasi menjadi solid, prostesis berupa anyaman yang berpori sehingga
jaringan tumbuh diantara pori-pori tersebut. Polypropylene mesh dikategorikan
memiliki sifat tersebut serta mampu bersifat permanen sehingga tidak diperbolehkan
kontak langsung dengan organ visera karena akan menimbulkan perlengketan serta
obstruksi atau pembentukan fistula. Saat ini polypropylen mesh dipilih sebagai
prostesis baku dalam petatalaksanaan hernio plasty (Wexler, 1997).
Hernioplasty dengan polypropylene mesh mencegah terjadinya peregangan
sewaktu rekonstruksi dinding belakang kanalis inguinal sehingga perasaan nyeri
pasca operasi dapat berkurang dengan nyata. Diikuti pemulihan dan kembali kepada
aktivitas rutin yang lebih dini, serta pencegahan rekurensi jangka panjang. Pemulihan
dan kemampuan kerja setelah operasi ternyata sangat dipengaruhi oleh rasa sakit
(Callesen, 1999). Bax (1999) melaporkan dengan polypropylene mesh lebih dari 60%
pekerja kasar dan lebih dari 90% pekerja kantoran telah dapat bekerja dalam 10 hari.
Ismail (2000) melaporkan 74 % penderita telah kembali mengemudikan mobil dalam
10 hari, 49 % diantaranya dalam 7 hari.
Untuk mencegah rekurensi jangka panjang penggunaan material harus cukup
lebar untuk menutup seluruh defek miopektineal (dengan ukuran 10 x 5 cm), tidak
terjadi lipatan-lipatan, melingkari bagian dari spermatik kord di daerah kanalis
inguinal interna

1.3 Komplikasi
Komplikasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi hernia. Isi
hernia dapat tertahan di dalam kantong hernia pada hernia irreponibilis, hal ini terjadi
jika hernia terlalu besar atau terdiri dari omentum, organ ekstraperitoneal, atau hernia
akreta. Di sini tidak timbul gejala klinik kecuali berupa benjolan.
Dapat pula terjadi isi hernia tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadi hernia
strangulata yang menimbulkan obstruksi usus yang sederhana. Jepitan cincin hernia

22
akan menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada permulaan terjadi
bendungan vena sehingga terjadi oedem organ atau struktur di dalam hernia dan
transudasi ke dalam kantong hernia. Timbulnya oedem menyebabkan jepitan pada
cincin hernia makin bertambah sehingga akhirnya peredaran darah jaringan
terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong hernia akan berisi transudat
berupa cairan serosanguinus. Kalau isi hernia terdiri dari usus, dapat terjadi perforasi
yang akhirnya dapat menimbulkan abses lokal, fistel, atau peritonitis jika terjadi
hubungan dengan rongga perut.
Hernia inguinalis dapat menjadi inkarserata dan strangulata. Mual, muntah,
dan nyeri abdomen yang berat dapat terjadi pada hernia strangulata. Hernia
strangulata merupakan suatu kondisi yang mengancam jiwa (gawat darurat) yang
membutuhkan pembedahan segera.

1.4 Prognosis
Prognosis biasanya cukup baik bila hernia diterapi dengan baik. Angka
kekambuhan setelah pembedahan kurang dari 3%.

23
BAB II
LAPORAN KASUS

IDENTITAS PENDERITA
Nama : Tn.Hengky
Umur : 46 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Alamat : Wonosari, Mangli
Agama : Islam
Suku bangsa : Madura
Tanggal MRS : 12 September 2012
Tanggal pemeriksaan : 13 September 2012
Tanggal KRS : 14 September 2012

ANAMNESIS
Keluhan Utama : keluar benjolan di lipatan paha kanan
Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien mengatakan kurang lebih 1 tahun yang lalu
muncul benjolan dari lipatan paha kanannya, awalnya
benjolan tersebut kecil. Jika pasien berdiri dan mengejan
benjolan tersebut keluar, namun saat berbaring dapat
masuk lagi.. Benjolan tidak pernah nyeri dan tidak pernah
merah. Nafsu makan pasien baik, berat badan tidak
pernah menurun. Pasien sering mengejan saat BAB,
karena konsistensi yang keras. BAB biasanya 2 hari
sekali. Sejak 1 hari yang lalu benjolan tidak dapat
dimasukkan lagi. Pasien tidak merasa mual, tidak muntah,
tidak mengalami gangguan BAB (BAB seperti biasanya)
dan masih bisa kentut.

24
Riwavat Penyakit Dahulu :Pasien menyangkal mempunyai riwayat batuk lama, DM,
tumor/kanker. Pasien tidak mempunyai riwayat
hipertensi.
Riwayat Penyakit Keluarga : tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama
seperti pasien.
Riwayat Pengobatan :-
Riwayat Sosial : pasien bekerja sebagai seorang kuli bangunan dan
sering mengangkat beban berat

PEMERIKSAAN FISIK
Rabu, 12 September 2012 (H1)
KU : sedang Kesadaran: Composmentis
VS : TD : 120/80 x/menit RR : 20 x/menit
N : 88 x/menit tº : 36,4ºC
Status generalis:
Kepala:
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Hidung : tidak ada secret/bau/perdarahan
Telinga : tidak ada secret/bau/perdarahan
Mulut : bibir tidak sianosis, tidak ada pigmentasi, mukosa tidak pucat.
Leher:
Dalam batas normal
Thoraks:
Cor:
I: ictus cordis tidak tampak
P: ictus cordis teraba di ICS IV MCLS
P: batas jantung ICS IV PSL dekstra sampai ICS V MCL sinistra
A: S1S2 tunggal

25
Pulmo:
I: Simetris, tidak ada retraksi
P: Fremitus raba normal
P: Sonor
A: Vesikuler +/+, Ronkhi -/- Wheezing -/-
Abdomen:
I: flat
A: bising usus (+) normal
P: tympani
P: soepel, H/L tidak teraba, tidak ada nyeri tekan
Ekstremitas:
Akral hangat + + Oedem - -
+ + - -
Status Lokalis:
Regio inguinalis D :
Inspeksi: terdapat benjolan di bawah lig.inguinale, diameter 8 cm x 4 cm,
permukaan rata, warna sesuai warna kulit, tidak kemerahan.
Palpasi: tidak teraba hangat, kenyal, batas atas tidak jelas, tidak dapat
dimasukkan, transluminasi (-), tidak nyeri.
Auskultasi : bising usus (+).

Massa (+) diameter


± 8cmx4c,kenyal,
mobile, nyeri (-
)hiperemi(-)
,transluminasi (-)

26
ASSESMENT
Hernia inguinalis lateralis dextra inkarserata

PLANNING
-Infus RL 1000 cc/24 jam
-injeksi Ceftiaxon 1x2 gr
-injeksi Antrain 1x1 ampul
-pro herniotomi

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hasil Laboratorium (12 september 2012):
Hematologi
Hb : 15,2 gr/dl (13,4-17,7 gr/dL)
Lekosit : 18,0 x 109 /L (4,3-10,3 x 109/L)
Hematokrit : 34% (38-42%)
Trombosit : 371 x 109 /L (150-450 x 109/L)
Faal Hati
SGOT : 25 u/L (10-35 u/L)
SGPT : 28 u/L (9-43 u/L)

Faal Ginjal
Serum Kreatinin : 1,4 mg/dL (0,6-1,3mg/dl)
BUN : 65 mg/dL (6-20 mg/dl)
Urea : 139 (10-50 mg/dl)
As. Urat : 8,2 (3,4-7 mg/dl)

27
LAPORAN OPERASI HERNIOTOMY + HERNIOPLASTY (Rabu,12
September 2012)

Kamis, 13 September 2012 (H3)


S: flatus (+)
O: KU: sedang Kesadaran: Composmentis
VS : TD : 120/70 x/menit RR : 20 x/menit
N : 92 x/menit tº : 36,5ºC

Status generalis:
Thorak: cor : S1S2 tunggal
Pulmo: vesikuler +/+ , Rh -/-, Wh -/-
Abdomen: I: flat

28
A: bising usus (+) normal
P: tympani
P: soepel, nyeri tekan (-)
Ekstremitas:
Akral hangat + + Oedem - -
+ + - -
Status lokalis: regio inguinalis D:
Luka operasi tertutup verband, rembesan darah (+), nyeri (-)

Verban (+), nyeri


(+) darah (+) pus (-)

A: Hernia inguinalis lateralis dextra inkarserata post hernioraphy (H1)


P: -inf RL : D5 = 1:1
-injeksi cefrtiaxon 2x1 gr
-injeksi antrain 3x1 ampul
-injeksi ranitidin 3x1 ampul
-mobilisasi mika miki nanti malam duduk lalu jalan
- MSS lalu diet bebas

Jumat, 14 September 2012(H3)


S: Perut kembung
O: KU: cukup Kesadaran: Composmentis
VS : TD : 110/80 x/menit RR : 20 x/menit
N : 80 x/menit tº : 36,4ºC
Status generalis:

29
Thorak: cor : S1S2 tunggal
Pulmo: vesikuler +/+ , Rh -/-, Wh -/-
Abdomen: I: flat
A: bising usus (+) normal
P: tympani
P: soepel, nyeri tekan (-)
Ekstremitas:
Akral hangat + + Oedem - -
+ + - -
Status lokalis: regio inguinalis S:
Luka operasi tertutup verband, rembesan darah (-), nyeri (-)

Verban (+), nyeri


(+) darah (-) pus (-)

A: Hernia inguinalis lateralis dextra inkarserata post hernioraphy(H2)


P: - inf RL : D5 = 1:1
-injeksi cefrtiaxon 2x1 gr
-injeksi antrain 3x1 ampul
-injeksi ranitidin 3x1 ampul
-mobilisasi duduk lalu jalan
- diet TKTP
Pasien minta pulang paksa

30
DAFTAR PUSTAKA

Brunicardi, F.C, et al. 2006. Schwartz’s Manual of Surgery. United States of


America: The McGraw-Hill Companies.

Grace, P.A. 2002. Surgery at a Glance Second Edition. United Kingdom: Blackwell
Publishing Company.

Dugdale, David C, et al. 2008. Femoral Hernia.


http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001136.htm

Sari, D.K, et al. 2005. Chirurgica. Yogyakarta: Tosca Enterprise.

Sjamsuhidajat, Wim de Jong. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi Revisi. Jakarta:
EGC.

31