Anda di halaman 1dari 52

1

lBAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)

telah diubah visinya dari mewujudkan Norma Keluarga Kecil Bahagia

dan Sejahtera (NKKBS) menjadi visi untuk mewujudkan “Keluarga

Berkualitas Tahun 2015”. Keluarga yang berkualitas adalah keluarga

yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal,

berwawasan kedepan dan bertanggung jawab, harmonis dan bertaqwa

kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam paradigma baru program

keluarga berencana, misinya sangat menekankan pentingnya

menghormati hak-hak reproduksi, sebagai upaya untuk meningkatkan

kualitas keluarga yang baik (Wiknjosastro, 2010).

Berdasarkan visi dan misi tersebut, Program Keluarga Berencana

Nasional mempunyai konstribusi penting dalam upaya meningkatkan

kualitas penduduk. Konstribusi pelaksanaan Program Keluarga

Berencana Nasional tersebut dapat dilihat dari pelaksanaan program

Making Pregnancy Safer dimana pesan kunci program ini adalah

bahwa setiap kehamilan harus merupakan kehamilan yang diinginkan

(Hartanto, 2010).

Pencegahan kematian dan kesakitan ibu merupakan alasan utama

diperlukannya pelayanan Keluarga Berencana. Masih banyak alasan

1
2

lain, misalnya membebaskan wanita dari rasa khawatir terhadap

terjadinya kehamilan yang tidak di inginkan. Banyak perempuan

mengalami kesulitan didalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi.

Hal ini tidak hanya terbatasnya metode yang tersedia tetapi juga oleh

ketidak tahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode

kontrasepsi tersebut. Berbagai faktor harus dipertimbangkan termasuk

efek samping, konsekuensi kegagalan, efektivitas, keterbatasan, yang

dapat menggunakan maupun yang tidak dapat menggunakan

(Prawirohardjo, 2010).

Sampai saat ini belum ada kontrasepsi yang ideal. Ciri kontrasepsi

yang ideal ditentukan oleh beberapa faktor antara lain : dapat

dipercaya, tidak menimbulkan efek yang mengganggu kesehatan,

daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan, tidak menimbulkan

gangguan sewaktu koitus, tidak memerlukan motivasi terus menerus,

mudah pelaksanaannya, murah dan mudah diterima oleh pasangan

yang bersangkutan (Dutta, 2010).

Daya guna kontrasepsi terdiri atas daya guna teoritis (theoretical

effectiveness) dan daya guna pemakaian (use effectiveness). Daya

guna teoritis merupakan kemampuan suatu cara kontrasepsi untuk

mengurangi terjadinya suatu kehamilan yang tidak diinginkan apabila

cara tersebut digunakan terus menerus dan sesuai dengan petunjuk

yang diberikan. Sedang daya guna pemakaian merupakan

kemampuan suatu cara kontrasepsi dalam keadaan sehari-hari dimana

2
3

pemakaiannya dipengaruh oleh faktor-faktor seperti tidak hati-hati,

kurang taat pada peraturan dan sebagainya (Wiknjosastro, 2010).

Secara nasional dari 12.000 akseptor KB pada tahun

2011, 2500 akseptor IUD (20,83%), akseptor Pil 4500 (37,5%),

suntik 3500 (29,2%), susuk 1250 (10,4%) dan kontap 250 (2,1%). Di

Malang akseptor KB pil kombinasi meningkat ini terlihat dari besarnya

pengguna pil kombinasi yaitu 47,5 % pengguna dari 1700 akseptor KB

(Kusumah, 2012).

Sampai saat ini kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) menjadi

pilihan pertama untuk ibu yang masih menyusui namun belum ingin

kontrasepsi mantap. Selain keluhan yang minimal, IUD tidaklah

berpengaruh terhadap ASI karena bekerja secara lokal di dalam rahim.

IUD adalah alat kontrasepsi yang fleksibel, alat yang terbuat dari

plastik yang dimasukkan kedalam rahim dan mencegah kehamilan

dengan cara mengganggu lingkungan rahim, yang menghalangi

terjadinya pembuahan maupun implantasi (Sujiyatini, 2010)

Efektivitas kehamilan dengan menggunakan IUD terjadi 0,3-0,8

per 100 wanita pada satu tahun pengguna pertama, IUD juga memiliki

keuntungan yang sangat efektif, bekerja dengan cepat setelah

dimasukkan kedalam rahim, dan bekerja dalam jangka panjang.

Kerugian yang ditimbulkan IUD dapat terjadi infeksi panggul,

dismenhorea, perforasi, KET daan IUD dapat lepas dengan sendirinya

(Sujiyatini, 2010)

3
4

Menurut World Health Organisation (WHO), tahun 2011 hampir

380 juta pasangan menjalankan keluarga berencana dan 25-35 juta

diantaranya terutama di negeri berkembang menggunakan kontrasepsi

AKDR. Data akseptor alat kontrasepsi IUD di Daerah Sulawesi Selatan

tahun 2010 sebesar 25,62% dari keseluruhan pasangan usia subur

(Pikas,2012).

Data pengguna akseptor IUD yang didapatkan di Rumah Sakit

Khusus Daerah Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar pada tahun tahun

2012 sebanyak 342 orang, tahun 2013 sebanyak 293 orang, dan

mengalami peningkatan pada tahun 2014 sebanyak 407 orang

pengguna IUD.

Meningkatnya pengguna IUD karena mulainya digerakkan

sosialisasi pada ibu tentang keuntungan penggunaan IUD, dan adanya

program dari BKKBN untuk memberikan penyuluhan maupun

pemanfaatan kader dalam menjaring ibu agar menggunakan

kontrasepsi non hormonal selain kontrasepsi mantap (Fitri, 2013).

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Hardiana (2013), tentang

hubungan pengetahuan dengan penggunaan kontrasepsi IUD di RS

Siwa Kabupaten Wajo. Hasil uji statistik didapatkan nilai p= 0,02

dengan derajat kebebasan 5. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah

terdapat hubungan antara pengetahuan dengan penggunaan

kontrasepsi IUD.

4
5

Kegagalan kontrasepsi IUD ini akibat dari pengetahuan akseptor

yang kurang baik, karena informasi yang diberikan pada ibu kurang

utamanya pada tenaga kesehatan, serta banyaknya isu yang ada

diluar (Speroff, 2008).

Atas dasar pemikiran inilah, maka peneliti merasa tertarik untuk

melakukan penelitian tentang Hubungan pengetahuan dan dukungan

suami terhadap penggunaan Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di

Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah. Maka

dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut “Bagaimanakah

Hubungan pengetahuan dan dukungan suami terhadap penggunaan

kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) di RSKD Ibu dan Anak Siti

Fatimah Makassar”?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk memperoleh hubungan pengetahuan dan dukungan

suamit terhadap penggunaan kontrasepsi Intra Uterine Device

(IUD) di Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu dan Anak Siti Fatimah

Makassar tahun 2015.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui apakah ada hubungan pengetahuan

terhadap penggunaan kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD).

5
6

b. Untuk mengetahui apakah ada hubungan dukungan suami

terhadap penggunaan kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD).

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Aplikatif

Sebagai bahan masukan dan informasi bagi instansi utamanya

bidan di Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu dan Anak Siti Fatimah

Makassar dalam menentukan kebijakan dan langkah dalam

mengatasi rendahnya tingkat penggunaan kontrasepsi Intra Uterine

Device (IUD).

2. Manfaat Pengembangan Ilmu Pengetahuan

Dapat menjadi masukan bagi institusi dalam penelitian tentang Intra

Uterine Device (IUD) dan merupakan pengalaman berharga bagi

peneliti dalam memperluas wawasan pengetahuan serta

pengembangan diri melalui penelitian.

6
7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Keluarga Berencana

1. Pengertian Keluarga Berencana

a. Keluarga Berencana adalah gerakan untuk membentuk

keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi

kelahiran. Itu bermakna adalah perencanaan jumlah keluarga

dengan pembatasan yang bisa dilakukan dengan penggunaan

alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran seperti

kondom, spiral, IUD, dan sebagainya (Prawirohardjo, 2010).

b. Keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu

atau pasangan suami istri untuk mendapatkan objek-objek,

menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur interval

dan mengontrol waktu kapan ingin punya anak serta berapa

jumlah yang diinginkan (Hartanto, 2010).

2. Tujuan Keluarga Berencana

Menurut Hartanto (2010), tujuan keluarga berencana yaitu:

a. Mendapat objek-objek tertentu

Misalnya : Konseling jenis alat kontrasepsi, keuntungan, dan

kerugian sesuai dengan alat kontrasepsi yang

digunakan

b. Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan

c. Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan

7
8

d. Mengatur interval diantara kehamilan

e. Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan

umur suami istri

f. Menentukan jumlah anak dalam keluarga

Menurut Biran Afandi, tujuan keluarga berencana terdiri dari

tujuan umum dan khusus yaitu :

a. Tujuan Umum

Meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak serta

keluarga dalam rangka mewujudkan keluarga kecil yang

bahagia dan sejahtera.

b. Tujuan Khusus

1) Meningkatkan kesadaran masyarakat atau keluarga

menggunakan alat kontrasepsi.

2) Menurunkan jumlah kelahiran bayi

3) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat atau keluarga

penjaringan kelahiran.

B. Tinjauan Umum Tentang Kontrasepsi

1. Pengertian Kontrasepsi

a. Kontrasepsi adalah suatu usaha untuk mengukur jumlah dan

jarak anak yang diinginkan (Taufik, 2010).

b. Kontrasepsi adalah suatu tekhnik yang dipakai, alat-lat, obat,

cara perhitungan, cara operasi untuk penjarangan dan

pembatasan kehamilan (BKKBN, 2007).

8
9

c. Kontrasepsi adalah menolak konsepsi atau pertemuan

antara sel telur perempuan yang telah matang dan sperma

laki-laki atau sel mani (Depkes RI, 2010).

d. Kontrasepsi adalah tindakan yang membantu individu atau

pasangan suami istri untuk mendapatkan objek-objek,

menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur interval

dan mengontrol waktu kapan ingin punya anak serta berapa

jumlah yang diinginkan (Hartanto, 2010)

2. Cara Kerja Kontrasepsi

Menurut Prawirohardjo (2010) tentang cara kerja kontrasepsi

dibedakan menjadi 3 yaitu :

a. Mengusakan agar tidak terjadi ovulasi.

b. Melumpuhkan sperma

c. Menghalangi pertemuan sel telur dengan sperma.

3. Jenis Kontrasepsi Berdasarkan Metode (Hartanto, 2010).

Metode kontrasepsi bekerja dengan dasar mencegah sperma laki-

laki mencapai dan membuahi telur wanita, kontrasepsi dapat

kembali atau permanen. Jenis kontrasepsi berdasarkan metode :

Pada umumnya cara / metode kontrasepsi dapat dibagi menjadi :

9
10

a. Metode Sederhana.

1) Tanpa alat / obat

a) Misalnya : Senggama terputus , pantang berkala , system

suhu basal, perpanjangan masa laktasi dan pembilasan

masa senggama.

2) Dengan alat / obat

Misalnya : Kondom, diafragma/ cap. Spermatisid , crem, jelly

dan cairan berbusa dan tablet berbusa ( Vaginal tablet )

b. Metode Efektif

1) Suntikan KB :

a) Depoprovera yang mengandung medroxy progesterone

acetate 150 mgr.

b) Cyclofem yang mengandung medroxy progesterone

acetate 50 mgr dan komponen estrogen.

2) Susuk KB (implant):

Setiap kapsul susuk KB mengandung 36 mgr levonorgestrel.

3) Pil KB :

Progesteron only pil , Pil KB kombinasi mengandung

hormone estrogen dan progesterone.

4) IUD / AKDR ( copper T , Medusa, Seven copper)

c. .Metode Kontrasepsi Mantap :

1) Tubektomi pada Wanita

2) Vasektomi pada Pria.

10
11

C. Tinjauan Umum Tentang Alat Kontrasepsi Intra Uterine Device


(IUD)
1. Pengertian Intra Uterine Device (IUD)

a. Intra Uterine Device (IUD) adalah alat kontrasepsi yang

fleksibel dan terbuat dari plastik yang dimasukkan kedalam

rahim dengan mencegah kehamilan dengan cara

mengganggu lingkungan sekitar rahim (Sujiyatini, 2010).

b. Intra Uterine Device (IUD) adalah suatu alat untuk mencegah

kehamilan yang efektif, aman dan reversible yang terbuat dari

plastik atau logam kecil yang dimasukkan kedalam uterus

melalui kanalis servikalis (WHO, 2010).

c. Intra Uterine Device (IUD) merupakan suatu alat kontrasepsi

yang dimasukkan kedalam rahim tebuat dari bahan

polyethylene dilengkapi denganbenang nylon sehingga mudah

dikeluarkan dari dalam rahim (BKKBN, 2010).

d. Intra Uterine Device (IUD) adalah alat kontrasepsi yang

dimasukkan kedalam rahim yang bentuknya bermacam-

macam terdiri dari plastik, ada yyang diteliti sebagai tembaga

(Suratun, 2008).

2. Menurut Mirena (2010). Macam-Macam Intra Uterine Device (IUD)

a. Penggolongan IUD :

1) Un-Medicated Device = Inert Device

= First Generatiaon Device

11
12

Misalnya : a) Grafenberg ring

b) Ota Ring

c) Margulies Coil

d) Lippes Loop

e) Saf-T-Coil

f) Delta Loop : Modified Lippes Loop D :

Lippes Loop

Ada empat macam jenisnya yaitu :

(a) Lippes Loop A : Warna benang biru, panjang 26,2 mm,

lebar 22,2 mm → Nulligravida

(b) Lippes Loop B : Warna benang hitam, panjang 25,5 mm,

lebar 27,4 mm → Primigravida

(c) Lippes Loop C : Warna benang kuning, panjang 27,5

mm, lebar 30,5 mm → Gravide III, IV

(d) Lippes Loop D : Warna benang putih,

→ Grandimulti

2) Medicated Device = Bio – Active Device

= Second Generation Device

1) Mengandung Logam:

(a) AKDR-Cupper (Cu) Generasi Pertama (First

Generation Copper Device) :

(1) CuT-200 = Tatum-T

(2) Cu-7 = Gravigard

12
13

(3) MLCu-250

Memliki jangka waktu 3 tahun.

(b) AKDR-Cu Generasi Kedua (Second Generation

Copper Device):

(1) CuT-380A = ParaGard

Memiliki jangka waktu 8-10 tahun.

(2) CuT-380Ag

(3) CuT-220C

Memiliki jangka waktu 8-10 tahun.

(4) Nova-T = Novagard

Memiliki jangka waktu 3 tahun.

(5) Delta-T = Modified CuT-220C :

Penambahan benang chromic catgut pada lengan

atas, terutama untuk insersi post-partum.

(6) MLCu-375

2) Mengandung Hormon : Progesteron atau Levonorgestrel

(a) Progestasert = Alza-T, dengan daya kerja 1 tahun.

(b) LNG-20 = Mengandung Levonorgestrel

3. Mekanisme Kerja Intra Uterine Device (IUD) (Didi, 2009).

a. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi

karena penebalan lendir serviks akibat hormone yang

dikeluarkan IUD.

b. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.

13
14

c. AKDR (Alat Kontrasepsi dalam Rahim) bekerja terutama

mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR

membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi

perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk

fertilisasi.

d. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.

e. Timbulnya reaksi radang lokal yang non spesifik di dalam cavum

uteri sehingga implantasi sel telur yang telah dibuahi terganggu.

f. Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan

terhambatnya implantasi

g. Gangguan / terlepasnya blastocyst yang telah berimplantasi di

dalam endometrium.

h. Pergerakan ovum yang bertambah cepat di dalam tuba falopi.

i. Immobilisasi spermatozoa saat melewati cavum uteri.

j. Disangka bahwa IUD juga mencegah spermatozoa membuahi

sel telur.

l. IUD yang mengandung Cu dapat meningkatkan prostaglandin

sehingga mengurangi immobilisasi sperma masuk ke tuba falopi

dimana sperma dan ovum memiliki umur dan apabila ovum tidak

dibuahi tidak akan terjadi kehamilan.

m. IUD yang mengandung progesterone menyebabkan gangguan

proses pematangan prokferatif-sekretair.

14
15

4. Efektifitas AKDR (IUD)

Efektifitas tinggi walau masih terjadi 1-3 kehamilan per 1100

wanita pertahun untuk IUD umumnya, sedang untuk Lippes Loop

2 kehamilan pertahun. Untuk second generation CU AKDR < 1

kehamilan per 100 wanita/tahun (Hartanto, 2010).

5. Indikasi pemasangan Intra Uterine Device (IUD) (Saifuddin, 2010)

a. Usia reproduktif

b. Pernah melahirkan dan mempunyai anak, serta ukuran rahim

tidak kurang dari 5 cm.

c. Menginginkan kontrasepsi jangka panjang.

d. Menyusui

e. setelah abortus dan tidak ada tanda infeksi

f. Risiko rendah IMS

g. Tidak ingin kontrasepsi hormonal

h. tidak ada kontraindikasi

6. Kontraindikasi Intra Uterine Device (IUD) (Saifuddin, 2010)

a. Kehamilan

b. Penyakit inflamasi pelvic

c. Karsinoma serviks

d. alergi terhadap tembaga

e. Ukuran uterus dengan alat periksa berada diluar batas yang

ditetapkan

15
16

7. Keuntungan Menggunakan Intra Uterine Device (IUD)

(Wiknjosastro, 2010)

a. Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi pada saat

penggunaan pada akseptor.

b. AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan, karena IUD

bereaksi setelah pemasangan dipakai.

c. Metode jangka panjang, pemakaian IUD pada ibu selama 3

tahun, 5 tahun dan 10 tahun.

d. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat,

kontrasepsi IUD digunakan selama beberapa tahun memiliki

jangka pemakaian.

e. Tidak mempengaruhi hubungan seksual, karena pengaruh

hormonal.

f. Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut

untuk hamil, karena IUD lebih aman dibanding kontrasepsi

yang lain

g. Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT-

380 A), yang disebabkan tembaga yang digunakan pada IUD

h. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI, karena tidak

mengandung hormonal

i. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah

abortus (apabila tidak terjadi infeksi), karena lebih mudah

pemasangan pada saat setelah melahirkan

16
17

j. Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih

setelah haid terartur)

k. Tidak ada interaksi dengan obat-obatan karena tidak

mengandung hormon

8. Kerugian Menggunakan Intra Uterine Device (IUD) (Widjanarko,

2009).

a. Efek samping yang umum terjadi

1) Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama

dan akan berkurang setelah 3 bulan).

2) Haid lebih lama dan banyak.

3) Pendarahan (spothing) antar menstruasi

b. Komplikasi lain

1) Merasakan sulit dan kejang selama 3 – 5 hari setelah

pemasangan.

2) Perdarahan hebat pada waktu haid yang dapat

menyebabkan Anemi.

3) Perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila

pemasangannya benar).

4) Tidak mencegas IMS (Infeksi menular seksual) termasuk

HIV / AIDS.

5) Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau

perempuan yang sering berganti pasangan.

17
18

6) Penyakit radang panggul (PRP) terjadi sesudah

perempuan dengan IMS memakai AKDR.

7) Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvic seringkali

perempuan takut selama pemasangan.

8) Sedikit nyeri dan pendarahan (spothing) terjadi segera

setelah pemasangan AKDR biasanya menghilang 1 – 2

hari.

9) AKDR tidak dapat dilepas oleh klien sendiri

10) AKDR dapat keluar tanpa diketahui.

11) Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena

fungsi AKDR untuk mencegah kehamilan normal.

12) Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari

waktu ke waktu.

13) Erosi portio

Pada saat pemasangan alat kontrasepsi yang digunakan

tidak steril dan dapat menyebabkan infeksi. IUD juga

mengakibatkan bertambahnya volume dan lamanya haid

(Darah merupakan media subur untuk berkembang

biaknya kuman menyebabkan terjadinya infeksi).

Infeksi pada masa reproduktif menyebabkan batas antara

epitel canalis cervicalis dan epitel portio berpindah, infeksi

juga dapat menyebabkan menipisnya epitel portio dan

gampang terjadi erosi pada portio (Wiknjosastro, 2010).

18
19

9. Persyaratan Pemakaian Intra Uterine Device (IUD) (Hartanto,

2010).

a. Yang dapat menggunakan

1) Usia reproduktif, usia reproduktif akseptor sebelum

pemakaian IUD

2) Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang,

ibu yang siap memakai IUD dalam jangka waktu yang

lama.

3) Menyusui dan menginginkan menggunakan kontrasepsi

untuk mencegah terjadinya kehamilan pada akseptor.

4) Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya karena

akseptor tidak menyusui bayi kemungkinan hamil lebih

besar.

5) Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya

infeksi.

6) Ibu yang tidak memiliki penyakit infeksi menular seksual.

7) Tidak menghendaki metode hormonal, akseptor yang

tidak cocok untuk pemakaian kontrasepsi hormonal.

8) Tidak menyukai untuk mengingat-ingat misalnya : minum

pil tiap hari

9) Tidak menghendaki kehamilan setelah 1 – 5 hari

senggama

10) Akseptor dengan status perokok berat

19
20

11) Ibu yang mengalami keguguran dapat menggunakan IUD

12) Ibu yang menggunakan obat-obat antibiotic dan kejang

dapat menggunakan IUD

13) Status berat badan akseptor baik yang kurus maupun

gemuk

14) Akseptor yang menyusui dapat menggunakan IUD

15) Penderita tumor jinak payudara dapat menggunakan IUD

karena tidak termasuk kontrasepsi hormonal

b. Yang tidak dapat menggunakan Intra Uterine Device (IUD)

1) Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil)

2) Pendarahan vagina yang tidak diketahui (sampai dapat

dievaluasi)

3) Sedang menderita infeksi alat genetal (vaginitis, servicitis)

4) Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering

menderita penyakit radang panggul atau abortus

5) Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak

rahim yang dapat mempengaruhi kavum uteri

6) Penyakit trofoblas yang ganas

7) Diketahui menderita TBC pelvik

8) Kanker alat genitalia

10. Waktu Penggunaan Intra Uterine Device (IUD)

a. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dapat dipastikan klien

tidak hamil.

20
21

b. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid

c. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau

setelah 6 minggu pasca persalinan, setelah 6 bulan apabila

menggunakan metode Amenorhoe Laktasi.

d. Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari)

apabila tidak ada gejala infeksi.

e. Selama 1 – 5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi.

11. Petunjuk Bagi Klien Yang Menggunakan Intra Uterine Device

(IUD)

a. Kembali memeriksakan diri setelah 4 sampai 6 minggu

pemasangan AKDR.

b. Selama bulan pertama mempergunakan AKDR, periksalah

benang AKDR secara rutin terutama setelah haid

c. Setelah bulan pertama pemasangan, hanya perlu memeriksa

keberadaan benang setelah haid apabial mengalami :

1) Kram / kejang diperut bagian bawah

2) Pendarahan (spotting)

3) Nyeri setelah senggama atau apabila pasanagan

mengalami tidak nyaman selama melakukan hubungan

seksual.

d. Copper T-380A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan,

tetapi dapat dilakukan lebih awal apabila diinginkan.

21
22

e. Kembali ke klinik apabila :

1) Tidak dapat teraba benang AKDR

2) Merasakan bagian yang keras dari AKDR (batang)

3) AKDR terlepas

4) Siklus terganggu / meleset

5) Terjadi pengeluaran cairan dari vagian yang

mencurigakan

6) Adanya infeksi

D. Tinjauan Umum Tentang Variabel yang Diteliti

1. Tinjauan Umum Tentang Pengetahuan

a. Pengertian Pengetahuan

1) Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui

(Depdikbud, 2010).

2) Pengetahuan adalah pada hakikatnya merupakan segenap

apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu, termasuk

di dalamnya adalah ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari

pengetahuan lainnya seperti seni dan agama. Pengetahuan

merupakan khasanah kekayaan mental yang secara

langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan

kita. Tiap-tiap jenis pengetahuan pada dasarnya menjadi

jenis pertanyaan tertentu yang diajukan (Sumantri, 2011).

3) Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan terjadi

setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu

22
23

objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra

manusia yaitu, indera penglihatan, pendengaran,

penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan

manusia diperoleh melalui penglihatan dan pendengaran.

Pengetahuan merupakan dasar untuk terbentuknya tindakan

seseorang (Notoatmojo, 2010).

4) Pengetahuan itu diungkapkan atas dasar keinginan untuk

diketahui semata-mata sampai memperoleh kejelasan

tentang mengapa demikian atau apa sebabnya harus

demikian (Nawawi, 2009).

b. Tingkatan pengetahuan

Tingkat pengetahuan dalam domain kognitif menurut

Notoatmodjo (2010) mempunyai 6 (enam) tingkatan yaitu :

1) Know (tahu)

Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang dipelajari

sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini

adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang

spesifik dari seluruh badan yang dipelajari atau rangsangan

yang telah diterima. Tahu merupakan tingkat pengetahuan

yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukurnya antara lain

menyebutkan, menguraikan, mengidentifikasi, menyatakan

dan sebagainya.

23
24

2) Comperhension (memahami)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan

secara benar terhadap objek atau materi, harus dapat

menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan dan sebagainya.

3) Aplikasion (Aplikasi)

Aplikasi diartikan sebagai sutu kemampuan menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi riil

(sebenarnya).

4) Analysis (analisis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi

atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih

dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada

kaitannya satu sama lain.

5) Syntesis (sintesis)

Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam

suatu bentuk keseluruhan yang baru.

6) Evaluation (evaluasi)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

Penilaian-penilaian ini didasarkan suatu kriteria yang telah

ada.

24
25

c. Kategori Dan Penilaian Pengetahuan

Cara pemberian skor pada suatu penelitian terpancang

suatu pengertian bahwa angka 100 adalah angka tertinggi

karena pada penilaian tertinggi menggunakan skala 1-100. Pada

pemberian skor nilai tertinggi adalah 100 dan terendah 0.

Kuisioner yang dibagikan pada responden berbentuk multiple

choice terdiri dari 5 butir soal setiap item dan 4 pilihan A,B,C dan

D. Jika responden mampu menjawab lebih atau sama dengan

50% dari jumlah jawaban benar maka responden dikategorikan

“Tahu”. Tetapi jika responden hanya mampu menjawab kurang

dari 50% dari jumlah pertanyaan maka responden dikategorikan

“Tidak Tahu” (Arikunto, 2010).

d. Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan melalui

wawancara atau tekhnik angket (bentuk pertanyaan tertulis) yang

menanyakan isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian.

Pertanyaan tertulis dapat berupa pilihan ganda terdiri atas

suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian

yang belum lengkap. Dan untuk melengkapinya harus memilih

satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan.

Atau multiple choice test terdiri atas bagian keterangan (stem)

dan bagian kemungkinan jawaban atau alternatife (options).

25
26

Kemungkinan jawaban terdiri atas satu jawabanyang benar yaitu

kunci jawaban dan beberapa pengecoh (distractor).

Cara pengolahan skor =skor tanpa denda, dengan rumus

(Arikunto S, 2010).

S=R

Keterangan :

S : Skor yang akan diperoleh

R : Jawaban yang benar

2. Tinjauan Umum Tentang Dukungan Suami

Dukungan suami adalah harapan atau standar perilaku yang

telah diterima oleh keluarga, komunitas dan kultur. Perilaku

didasarkan pada pola yang ditetapkan melalui sosialisasi dimulai

tepat setelah lahir. Peran diri adalah pola sikap, perilaku nilai yang

diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat

(Kurniawan, 2008).

Suami adalah pemimpin dan pelindung bagi istrinya, maka

kewajiban suami terhadap istrinya ialah mendidik, mengarahkan

serta mengertikan istri kepada kebenaran, kemudian membarinya

nafkah lahir batin, mempergauli serta menyantuni dengan baik

(Harymawan, 2007).

Berkenaan dengan peran suami tersebut dapat dijelaskan

berdasarkan teori peran suami dari Gottlieb adalah informasi verbal

26
27

dan non verbal, saran, bantuan yang nyata yang diberikan oleh

orang-orang yang akrab dengan subyek atau berupa kehadiran dan

hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau

berpengaruh pada tingkah laku penerimanya (Wijayakusuma,

2008).

Peran suami dapat diterjemahkan sebagai sikap-sikap penuh

pengertian yang ditunjukkan dalam bentuk kerja sama yang positif,

ikut membantu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, membantu

mengurus anak-anak serta memberikan dukungan moral dan

emosional terhadap karir atau pekerjaan istrinya.

a. Dukungan Suami Dalam Kesehatan Reproduksi

1) Suami Sebagai Motivator

Dalam melaksanakan Keluarga Berencana, dukungan suami

sangat diperlukan. Seperti diketahui bahwa di Indonesia,

keputusan suami dalam mengizinkan istri adalah pedoman

penting bagi si istri untuk menggunakan alat kontrasepsi.

Bila suami tidak mengizinkan atau mendukung, hanya sedikit

istri yang berani untuk tetap memasang alat kontrasepsi

tersebut. Dukungan suami sangat berpengaruh besar dalam

pengambilan keputusan menggunakan atau tidak dan

metode apa yang akan dipakai.

27
28

2) Suami Sebagai Edukator

Selain peran penting dalam mendukung mengambil

keputusan, peran suami dalam memberikan informasi juga

sangat berpengaruh bagi istri. Peran seperti ikut pada saat

konsultasi pada tenaga kesehatan saat istri akan memakai

alat kontrasepsi, mengingatkan istri jadwal minum obat atau

jadwal untuk kontrol, mengingatkan istri hal yang tidak boleh

dilakukan saat memakai alat kontrasepsi dan sebagainya

akan sangat berperan bagi isri saat akan atau telah memakai

alat kontrasepsi. Besarnya peran suami akan sangat

membantunya dan suami akan semakin menyadari bahwa

masalah kesehatan reproduksi bukan hanya urusan wanita

(istri) saja.

3) Suami Sebagai Fasilitator

Peran lain suami adalah memfasilitasi (sebagai orang yang

menyediakan fasilitas), memberi semua kebutuhan istri saat

akan memeriksakan masalah kesehatan reproduksinya. Hal

ini dapat terlihat saat suami menyediakan waktu untuk

mendampingi istri memasang alat kontasepsi atau kontrol,

suami bersedia memberikan biaya khusus untuk memasang

alat kontrasepsi, dan membantu istri menentukan tempat

pelayanan atau tenaga kesehatan yang sesuai.

28
29

a. Dukungan Suami Dalam Keluarga Berencana

Menurut BKKBN (2007) peran atau partisipasi suami dalam

Keluarga Berencana (KB) antara lain menyangkut :

1) Pemakaian alat kontrasepsi

2) Tempat mendapatkan pelayanan

3) Lama pemakaian

4) Efek samping dari penggunaan kontrasepsi

5) Siapa yang harus menggunakan kontrasepsi.

Partisipasi pria dalam kesehatan reproduksi adalah

tanggung jawab pria dalam kesehatan reproduksi terutama

dalam pemeliharaan kesehatan dan kelangsungan hidup ibu dan

anak, serta berprilaku seksual yang sehat dan aman bagi dirinya,

istri, dan keluarganya.

b. Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya peserta KB pria :

1) Kondisi lingkungan sosial budaya,

2) Pengetahuan, kesadaraan Pasangan Usia Subur (PUS) dan

keluarga dalam KB pria rendah.

3) Keterbatasan jangkauan (aksesibilitas) dan kualitas

pelayanan KB pria.

4) Dukungan politis dan operasional masih rendah di semua

tingkatan.

c. Bentuk dukungan suami terhadap istri dalam menggunakan alat

kontrasepsi meliputi:

29
30

1) Memilih kontrasepsi yang cocok, yaitu kontrasepsi yang

sesuai dengan keinginan dan kondisi istrinya.

2) Membantu istrinya dalam menggunakan kontrasepsi secara

benar seperti mengingatkan saat minum pil KB dan

mengingatkan istri untuk kontrol. Membantu mencari

pertolongan bila terjadi efek samping maupun komplikasi dari

pemakaian alat kontraspsi.

3) Mengantar istri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk

kontrol atau rujukan.

4) Mencari alternatif lain bila kontrasepsi yang digunakan saat

ini terbukti tidak memuaskan.

5) Membantu menghitung waktu subur, apabila menggunakan

metode pantang berkala.

6) Menggunakan kontrasepsi bila keadaan kesehatan istri tidak

memungkinkan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dayang

(2012) di Puskesmas Modayag Kecamatan Modayag Kabupaten

Bolaang Mongondow Timur, berdasarkan uji chi square

didapatkan nilai p: 0,001, maka ditarik kesimpulan ada hubungan

dukungan suami terhadap penggunaan kontrasepsi IUD

30
31

BAB III

KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS DAN DEFINISI


OPERASIONAL

A. Dasar Pemikiran Variabel yang Diteliti

Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu dependen

dan independen. Variabel independen merupakan variabel yang

mempengaruhi variabel dependen. Pada penelitian ini yang

merupakan variabel independen adalah pengetahuan dan dukungan

suami dan yang menjadi variabel dependen adalah penggunaan

kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD).

Pengetahuan adalah pada hakikatnya merupakan segenap apa

yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu, termasuk di dalamnya

adalah ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan lainnya

seperti seni dan agama. Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan

mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya

kehidupan kita. Tiap-tiap jenis pengetahuan pada dasarnya menjadi

jenis pertanyaan tertentu yang diajukan (Sumantri, 2011).

Dukungan suami dalam menentukan kontrasepsi sangat penting

karena suami memiliki peran untuk memfasilitasi (sebagai orang yang

menyediakan fasilitas), memberi semua kebutuhan istri saat akan

memeriksakan masalah kesehatan reproduksinya maupun pada saat

menentukan kontrasepsi yang diinginkan.

31
32

B. Kerangka Konsep

Pengetahuan

Penggunaan Kontrasepsi
Intra Uterine Device
Dukungan Suami (IUD)

Keterangan :

: Variabel independent

: Variabel dependent

C. Defenisi operasional dan kriteria objektif

1. Penggunaan kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD)

Yaitu ibu yang menggunakan kontrasepsi IUD sebagai alat

kontrasepsinya.

Kriteria objektif:

Ya : Jika menggunakan IUD

Tidak : Jika tidak menggunakan IUD

Pengetahuan ibu

2. Pengetahuan yang dimiliki ibu saat menjawab pertanyaan dari

kuesioner yang dibagikan saat penelitian berlangsung :

Kriteria objektif:

32
33

Baik : Jika ibu menjawab dengan benar ≥ 50 % dari

seluruh pertanyaan

Kurang : Jika ibu menjawab dengan benar < 50 % dari

seluruh pertanyaan

3. Dukungan Suami

Support yang diberikan keluarga untuk menentukan

kontrasepsi yang digunakan ibu yang tercatat pada saat

pendataan di RSKD Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar.

Kriteria objektif :

Ya : Jika ada dukungan suami

Tidak : Jika tidak ada dukungan suami

D. Hipotesis Penelitian

1. Hipotesis Nol ( Ho )

a. Tidak ada hubungan antara pengetahuan terhadap penggunaan

kontrasepsi IUD

b. Tidak ada hubungan antara dukungan suami terhadap

penggunaan kontrasepsi IUD

2. Hipotesis Alternatif ( Ha )

a. Ada hubungan antara pengetahua terhadap penggunaan

kontrasepsi IUD

c. Ada hubungan antara dukungan suami terhadap penggunaan

kontrasepsi IUD

33
34

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif

analitik dengan pendekatan Cross-Sectional Study adalah jenis

penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran / observasi data

variabel independen dan dependen hanya satu kali, pada satu saat

(Sugiyono, 2010).

Desain cross sectional study merupakan desain penelitian yang

menekankan pengukuran waktu pada saat observasi dan penelitian

yang dilakukan sesuai dengan data variabel independen maupun

variabel dependen, dimana berlangsung hanya satu kali pada saat

penelitian dilakukan (Budiarto, 2005).

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi

Tempat penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu

dan Anak Siti Fatimah Makassar yang Terletak di Jl. Gunung

Merapi No. 45 Makassar.

2. Waktu Penelitian

Penelitian direncanakan pada bulan 4 Juli s/d 16 Agustus 2015

34
35

C. Populasi

Populasi adalah wilayah generelisasi yang terdiri atas objek

atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti dan ditentukan untuk ditarik kesimpulannya

(Sugiyono, 2010).

Populasi dalam penelitian ini adalah semua Akseptor KB yang

datang ke Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu dan Anak Siti Fatimah

Makassar tahun 2014, sebanyak 407 orang.

D. Sampel dan Tekhnik Pengambilan Sampel

1. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti atau

sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi

(Hidayat, 2010).

Sampel pada penelitian ini adalah akseptor KB IUD yang

datang di Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu dan Anak Siti Fatimah

Makassar, sebanyak 30 orang.

2. Tekhnik Pengambilan Sampel

Pada penelitian ini menggunakan teknik nonprobability

sampling tepatnya Accidental Sampling yaitu suatu teknik

penerapan sampel dengan cara mengambil sampel secara

langsung pada saat peneliian sedang berlangsung pada saat itu

(Budiarto, 2005).

35
36

3. Kriteria Sampel

a. Kriteria inklusi

1) Semua akseptor KB IUD yang datang ke Rumah Sakit

Khusus Daerah Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar

2) Bersedia menjadi responsden pada saat penelitian

berlangsung

3) Bersedia menandatangani lembar informed consent

b. Kriteria eksklusi

1) Tidak bersedia menjadi responden

2) Bukan akseptor KB

3) Tidak termasuk dalam kriteria inklusi

E. Instrumen Penelitian

Pengumpulan data yang dilakukan dengan menggunakan tekhnik

wawancara dan melakukan pembagian kuisioner.

F. Prosedur Pengumpulan Data

1. Editing

Setelah kuisioner diisi oleh responden, peneliti melakukan

pengecekan satu persatu apakah datanya sudah lengkap atau

belum.

2. Koding

Untuk memudahkan pengolahan data, yaitu semua jawaban

dari setiap responden diberi nilai kemudian dikelompokkan dengan

menggunakan kode atau symbol berdasarkan kriteria objektif.

36
37

3. Tabulasi

Data dikelompokkan dalam satu tabel menurut sifat yang

dimiliki, kemudian data dianalisa secara statistik.

G. Analisis Data

Pengolahan data secara komputerisasi dengan menggunakan

program SPSS versi 16.0. Analisis data dilakukan secara sistimatis

antara lain

1. Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan dengan analisis distribusi frekuensi

dari setiap vaiabel

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat untuk melihat hubungan dari tiap variabel

independen dan dependen, menggunakan uji statistik chi-square

dengan tingkat kemaknaan α= 0,05 dengan rumus :

X²= (O-E) ²
E
Keterangan :

X² : Statistik chi-square

O : Frekuensi hasil observasi

E : Frekuensi yang diharapkan

Untuk menentukan derajat kebebasan (degree of freedom)

dengan menggunakan rumus df = (b-1)(K-1). Pada analisa

bivariat digunakan tabel 2x2 :

37
38

Tabel 4.1 Tabel Frekuensi

Frekuensi Total

Sampel Objek I Objek II

Sampel A A B a+b

Sampel B C D c+d

Total a+c b+d a+b+c+d

H. Etika Penelitian

1. Lembar informed consent responden

Responden ditetapkan setelah terlebih dahulu mendapatkan

penjelasan tentang kegiatan penelitian, tujuan penelitian, dampak

bagi institusi pendidikan dan rumah sakit, serta setelah responden

menyatakan setuju untuk dijadikan responden secara tertulis

melalui lembar persetujuan. Calon responden yang tidak

menyetujui untuk dijadikan responden tidak akan dipaksa.

2. Asas Kemanfaatan

Sebelum melakukan penelitian, dilakukan pertimbangan

tentang risiko dari penelitian dan mempertimbangkan seberapa

besar manfaat bagi responden. Penelitian boleh dilakukan apabila

memiliki manfaat yang lebih besar

3. Asas Keadilan

Peneliti berlaku adil pada seluruh responden tanpa

membedakan berdasarkan moral, martabat dan hak asasi

38
39

manusia, dan hak antara peneliti dan subjek berimbang satu sama

lain.

4. Anonimity (tanpa nama)

Seluruh responden yang dijadikan dalam sampel penelitian

tidak akan disebutkan namanya dalam penyajian pelaporan

penelitian.

5. Confidentiality (kerahasiaan)

Responden yang dijadikan sampel dalam penelitian akan

dirahasiakan identitas spesifiknya (nama, gambar/foto, ciri-ciri fisik)

dan hanya informasi tertentu saja yang ditampilkan

39
40

I. Alur Penelitian

ALUR PENELITIAN

Pengumpulan Data Awal : Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu


dan Anak Siti Fatimah Makassar

Populasi : Semua Akseptor KB

Sampel : Memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi

Pengumpulan Data: Kuisioner

Variabel Independen : Variabel Dependen :


Pengetahuan dan Dukungan Penggunaan Kontrasepsi IUD
Suami

Analisa Data Dengan Menggunakan Uji Chi


Square

Penyajian Hasil

Gambar 4.1 : Bagan Alur Penelitian

40
41

BAB V

HASIL PENELITIAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSKDIA Siti

Fatimah Makassar pada tanggal 4 Juli s/d 16 Agustus 2015, terdapat

30 sampel yang diteliti :

1. Karakteristik

a. Umur

Tabel 5.1
Frekuensi Pengguna Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD)
Berdasarkan Umur Di Rumah Sakit Khusus Daerah
Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar
Tahun 2015

Umur n %
Reproduksi Sehat 23 76.7
Reproduksi Tidak Sehat 7 23.3
Jumlah 30 100.0
Sumber : Data Primer

Tabel 5.1 menunjukkan dari 30 responden, berdasarkan

umur reproduksi sehat (20-35 tahun) 23 orang (76.7%) dan

reproduksi tidak sehat (<20 dan >35 tahun) yaitu 3 orang

(23.3%).

41
42

b. Paritas

Tabel 5.2
Frekuensi Pengguna Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD)
Berdasarkan Paritas Di Rumah Sakit Khusus Daerah
Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar
Tahun 2015

Paritas n %
Rendah 22 73.3
Tinggi 8 26.7
Jumlah 30 100.0
Sumber : Data Primer

Tabel 5.2 menunjukkan dari 30 responden, berdasarkan

paritas yaitu rendah sebanyak 22 orang (73.3%), tinggi

sebanyak 8 orang (26.7%).

c. Pendidikan

Tabel 5.3
Frekuensi Pengguna Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD)
Berdasarkan Pendidikan Di Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu
dan Anak Siti Fatimah Makassar
Tahun 2015

Pendidikan n %
TS 2 6.7
SD 3 10.0
SMP 7 23.3
SMA 17 56.7
PT/Sederajat 1 3.3
Jumlah 30 100.0
Sumber : Data Primer

Tabel 5.3 menunjukkan dari 30 responden, berdasarkan

pendidikan yaitu SMA 17 orang (56.7%), SMP sebanyak 7

orang (23.3%), SD sebanyak 3 orang (10,0%), tidak sekolah

42
43

sebanyak 2 orang (6.7%) dan perguruan tinggi sebanyak 1

orang (3,3%).

2. Univariat

a. Pengetahuan

Tabel 5.4
Frekuensi Pengguna Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD)
Berdasarkan Pengetahuan Di Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu
dan Anak Siti Fatimah Makassar
Tahun 2015

Pengetahuan n %
Baik 22 73.3
Kurang 8 26.7
Jumlah 30 100.0
Sumber : Data Primer

Tabel 5.4 menunjukkan dari 30 responden, berdasarkan

pengetahuan, yaitu baik sebanyak 22 orang (73,3%) dan kurang

sebanyak 8 orang (26,7%).

b. Dukungan Suami

Tabel 5.5
Frekuensi Pengguna Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD)
Berdasarkan Dukungan Suami Di Rumah Sakit Khusus Daerah
Ibu dan Daerah Siti Fatimah Makassar
Tahun 2015

Dukungan Suami n %
Ya 24 80.0
Tidak 6 20.0
Jumlah 30 100.0
Sumber : Data Primer

43
44

Tabel 5.5 menunjukkan dari 30 responden, berdasarkan

dukungan suami yaitu ada dukungan suami sebanyak 24 orang

(80.0%), tidak ada dukungan suami sebanyak 6 orang (20.0%).

d. Pengguna Kontrasepsi IUD

Tabel 5.6
Frekuensi Pengguna Kontrasepsi Intra Uterine Device (IUD) Di
Rumah Sakit Khusus Daerah Ibu dan Anak
Siti Fatimah Makassar
Tahun 2015

Penggunaan IUD n %
Akseptor IUD 25 83.3
Bukan Akseptor IUD 5 16.7
Total 30 100.0
Sumber : Data Primer

Tabel 5.6 menunjukkan dari 30 responden, berdasarkan

pengguna IUD yaitu akseptor IUD sebanyak 25 orang (80.0%),

dan bukan akseptor IUD sebanyak 5 orang (20.0%).

3. Analisis Bivariat

a. Hubungan Pengetahuan terhadapPenggunaan Kontrasepsi IUD

Tabel 5.7
Hubungan Pengetahuan terhadap Penggunaan Kontrasepsi
Intra Uterine Device (IUD) di Rumah Sakit Khusus Daerah
Ibu dan Anak Siti Fatimah Makassar
Tahun 2015

Penggunaan IUD
Akseptor Bukan
IUD Akseptor IUD Total P
Pengetahuan n % N % N %
Baik
18 81,8 4 18,2 22 100
Kurang 7 87,5 1 12,5 8 100 0.712
Jumlah 25 83,3 5 16,7 30 100
Sumber : Data Primer

44
45

Berdasarkan tabel 5.7, dapat diketahui bahwa distribusi

responden berdasarkan pengetahuan yaitu, akseptor IUD

dengan pengetahuan baik sebanyak 18 orang (81,8%), lebih

besar dibandingkan bukan akseptor IUD sebanyak 4 orang

(18,2%). Sedangkan akseptor IUD dengan pengetahuan kurang

sebanyak 7 orang (87,5%), lebih besar dibandingkan bukan

akseptor IUD sebanyak 1 orang (12,5%). Berdasarkan hasil uji

statistic dengan Chi-Square test yang dilakukan terhadap

pengetahuan dengan penggunaan kontrasepsi IUD maka

diperoleh nilai p=0,712 (p<α 0,05) maka ditarik kesimpulan

bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan terhadap

penggunaan IUD.

b. Hubungan Dukungan Suami Terhadap Penggunaan Kontrasepsi

IUD

Tabel 5.8
Hubungan Dukungan Suami terhadap Penggunaan Kontrasepsi
Intra Uterine Device (IUD) di Rumah
Sakit Khusus Daerah Ibu dan Anak
Siti Fatimah Makassar
Tahun 2015

Penggunaan IUD
Akseptor Bukan
Dukungan IUD Akseptor IUD Total P
Suami n % N % n %
Ya 23 95,8 1 4,2 24 100
Tidak 2 33,3 4 66,7 6 100 0.000
Jumlah 25 83,3 5 16,7 30 100
Sumber : Data Primer

45
46

Berdasarkan tabel 5.8, dapat diketahui bahwa distribusi

responden berdasarkan dukungan suami yaitu, akseptor IUD

dengan dukungan suami sebanyak 23 orang (95,8%), lebih

besar dibandingkan bukan akseptor IUD sebanyak 1 orang

(4,2%). Sedangkan akseptor IUD dengan tidak ada dukungan

suami sebanyak 1 orang (33,3%), lebih kecil dibandingkan

bukan akseptor IUD sebanyak 4 orang (66,3%). Berdasarkan

hasil uji statistic dengan Chi-Square test yang dilakukan

terhadap dukungan suami terhadap penggunaan kontrasepsi

IUD maka diperoleh nilai p=0,000 (p<α 0,05) maka ditarik

kesimpulan bahwa ada hubungan antara dukungan suami

dengan penggunaan IUD.

46
47

BAB VI

PEMBAHASAN

A. Hubungan Pengetahuan terhadap Penggunaan IUD

Pengetahuan adalah pada hakikatnya merupakan segenap apa

yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu, termasuk di dalamnya

adalah ilmu, jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan lainnya

seperti seni dan agama. Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan

mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya

kehidupan kita. Tiap-tiap jenis pengetahuan pada dasarnya menjadi

jenis pertanyaan tertentu yang diajukan (Sumantri, 2011).

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan terjadi setelah

orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yaitu, indera

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui penglihatan dan

pendengaran. Pengetahuan merupakan dasar untuk terbentuknya

tindakan seseorang (Notoatmojo, 2010).

Hasil penelitian menunjukkan dari 30 responden, bahwa

distribusi responden berdasarkan pengetahuan yaitu, akseptor IUD

dengan pengetahuan baik sebanyak 18 orang (81,8%), lebih besar

dibandingkan bukan akseptor IUD sebanyak 4 orang (18,2%).

Sedangkan akseptor IUD dengan pengetahuan kurang sebanyak 7

orang (87,5%), lebih besar dibandingkan bukan akseptor IUD

47
48

sebanyak 1 orang (12,5%). Berdasarkan hasil uji statistic dengan Chi-

Square test yang dilakukan terhadap pengetahuan dengan

penggunaan kontrasepsi IUD maka diperoleh nilai p=0,712 (p<α 0,05)

maka ditarik kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara

pengetahuan terhadap penggunaan IUD.

Secara teori bahwa hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang

ada, karena dengan pengetahuan yang baik maka akseptor akan

menggunakan IUD, dimana akseptor KB mengambil keputusan dalam

memilih alat kontrasepsi. Baiknya pengetahuan seseorang akan

memudahkan dalam memilih kontrasepsi yang akan digunakan

utamanya kontrasepsi dengan tingkat efektivitas yang tinggi, ditunjang

dengan tenaga kesehatan yang telah memberikan masukan pada

akseptor.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Lili (2013), tentang

hubungan pengetahuan akseptor KB tentang penggunaan IUD dengan

di Puskesmas Sibela Mojosongo. Hasil uji statistik didapatkan nilai

p=1.000. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah tidak terdapat

hubungan antara pengetahuan terhadap penggunaan IUD di

Puskesmas Sibela Mojosongo.

B. Hubungan Dukungan Suami terhadap Penggunaan Kontrasepsi

IUD

Dukungan suami adalah harapan atau standar perilaku yang telah

diterima oleh keluarga, komunitas dan kultur. Perilaku didasarkan pada

48
49

pola yang ditetapkan melalui sosialisasi dimulai tepat setelah lahir.

Peran diri adalah pola sikap, perilaku nilai yang diharapkan dari

seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat (Kurniawan, 2008).

Berkenaan dengan peran suami tersebut dapat dijelaskan

berdasarkan teori peran suami dari Gottlieb adalah informasi verbal

dan non verbal, saran, bantuan yang nyata yang diberikan oleh orang-

orang yang akrab dengan subyek atau berupa kehadiran dan hal-hal

yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh

pada tingkah laku penerimanya (Wijayakusuma, 2008).

Hasil penelitian menunjukkan dari 30 responden, dapat diketahui

bahwa distribusi responden berdasarkan dukungan suami yaitu,

akseptor IUD dengan dukungan suami sebanyak 23 orang (95,8%),

lebih besar dibandingkan bukan akseptor IUD sebanyak 1 orang

(4,2%). Sedangkan akseptor IUD dengan tidak ada dukungan suami

sebanyak 1 orang (33,3%), lebih kecil dibandingkan bukan akseptor

IUD sebanyak 4 orang (66,3%). Berdasarkan hasil uji statistic dengan

Chi-Square test yang dilakukan terhadap dukungan suami terhadap

penggunaan kontrasepsi IUD maka diperoleh nilai p=0,000 (p<α 0,05)

maka ditarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara dukungan suami

dengan penggunaan IUD.

49
50

Hasil penelitian yang dilakukan sejalan dengan teori yang ada,

dimana dukungan suami berperan dalam keberhasilan kontrasepsi.

Seperti suami mendukung dalam memilih kontrasepsi yang cocok,

yaitu kontrasepsi yang sesuai dengan keinginan dan kondisi istrinya.

Membantu istrinya dalam menggunakan kontrasepsi secara benar

seperti mengingatkan istri untuk kontrol. Membantu mencari

pertolongan bila terjadi efek samping maupun komplikasi dari

pemakaian alat kontraspsi. Mengantar istri ke fasilitas pelayanan

kesehatan untuk kontrol atau rujukan. Mencari alternatif lain bila

kontrasepsi yang digunakan saat ini terbukti tidak memuaskan.

Membantu menghitung waktu subur, apabila menggunakan metode

pantang berkala. Menggunakan kontrasepsi bila keadaan kesehatan

istri tidak memungkinkan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Cicilia (2012) di

Puskesmas Modayag Kecamatan Modayag Kabupaten Bolaang

Mongondow Timur, berdasarkan uji chi square didapatkan nilai p:

0,001, maka ditarik kesimpulan ada hubungan dukungan suami

dengan penggunaan kontrasepsi IUD

50
51

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di RSKDIA Siti

Fatimah Makassar, dapat ditarik kesimpulan dari hasil penelitian

yang dilakukan yaitu :

1. Tidak ada hubungan antara pengetahuan terhadap penggunaan

Intra Uterine Devices (IUD).

2. Ada hubungan antara dukungan suami terhadap penggunaan

Intra Uterine Devices (IUD).

B. Saran

1. Perlunya peningkatan pengetahuan pada akseptor KB melalui

konseling yang diberikan tentang pentingnya memakai alat

kontrasepsi, utamanya menggunakan kontrasepsi Intra Uterine

Devices (IUD) dimana tingkat kegagalannya sangat rendah.

2. Menganjurkan ibu daan suami untuk memilih kontrasepsi yang

cocok untuk ibu maupun suami, dan memotivasi suami untuk ikut

ber KB.

3. Perlu dilakukan peningkatan pada penelitian selanjutnya dengan

variabel yang berbeda

51
52

52