Anda di halaman 1dari 6

PERGESERAN BUDAYA

participatory culture

Budaya partisipatif adalah konsep yang bertentangan dengan budaya


konsumen - dengan kata lain budaya di mana individu tidak hanya bertindak
sebagai konsumen, tetapi juga sebagai kontributor atau produsen. Istilah ini
paling sering diterapkan pada produksi atau pembuatan beberapa jenis media
yang diterbitkan.

Evolusi dari zine, acara radio, proyek kelompok, dan gosip ke blog, podcast, wiki, dan jejaring sosial
telah berdampak pada masyarakat. Dengan layanan web seperti eBay, Blogger, Wikipedia,
Photobucket, Facebook, dan YouTube, maka tidak mengherankan jika budaya telah menjadi lebih
partisipatif. Implikasi pergeseran bertahap dari produksi ke produksi sangat besar, dan akan
mempengaruhi inti budaya, ekonomi, masyarakat, dan demokrasi.

Ini dikarenakan mobiltas dan interaktivitas masa kini berkembang pesat. Mobilitas yaitu mudahnya
pengaksesan sosial media dengan cara menggunakan berbagai macam gadget. Sedangkan
interaktivitas yaitu fitur-fitur yang mengasyikan yang membuat kita lebih interaktivitas dengan gadet.

Kita sering kali lebih lama bersosialisasi dengan dunia digital dari pada berinteraksi langsung secara
tatap muka.

Dalam dunia digital kita dapat menunjukkan identitas kita ataupun melihat identitas orang lain,
identitas itu berupa nama, foto, hobby, dan lain sebagainya di dalam sosial media.

Untuk mengakses dunia digital, kita dapat menggunakan berbagai macam gadget. Contoh gadget
yang sering digunakan oleh masyarakat adalah laptop, hp, dan tablet.

Teknologi informasi-komunikasi sebenarnya memberikan peluang bagi maksimalisasi manfaat berupa


partisipasi masyarakat karena efesiensi dan efektifitas yang dihasilkannya. Namun demikian, banyak
tantangan dan permasalahan yang akan muncul apabila tidak dipersiapkan sejak dini. Sebagaimana
yang lazim dikatakan para pakar teknologi informasi-komunikasi, kehadiran internet, misalnya,
memang memberikan multi-efek kepada para penggunannya, tetapi semua kembali kepada kearifan
dalam menggunakannya. Meskipun demikian, penyelenggara negara wajib memfasilitasi dan
mendorong lahirnya kesadaran informasi warga negara sehingga mereka benar-benar bisa
memaksimalkan teknologi informasi-komunikasi untuk kepentingan akses informasi publik. Apabila
fungsi tersebut tidak berjalan, maka ketersediaan teknologi informasi-komunikasi sampai ke level
lokal hanya akan memunculkan permasalahan.
MEDIA CONVERGENCY

Konvergensi Media Menurut Ahli

Seiring berkembangnya pola komunikasi masa, banyak studi yang telah dilakukan untuk menangkap fenomena ini, khususnya
mengenai konvergensi media. Definisi dan penjelasan konvergensi media telah diberikan dalam oleh para ahli. Sebelumnya
para ahli telah mengemukakan efek dari media masa. Berikut beberapa pendapat ahli terkenal mengenai konvergensi media

1. Konvergensi Media menurut Henry Jenkins


Di tahun 2006, Henry Jenkins mendefinisikan konvergensi media sebagai aliran konten di beberapa platform media, kerjasama
industri dengan media dan kegiatan migrasi media. Fenomena ini terjadi akibat kemunculan teknologi digital dan media baru.
(Baca juga: Teori Media Baru)

Kedua hal ini memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan informasi di beberapa platform sekaligus. Beliau juga
menjelaskan bahwa konvergensi media juga berarti kemampuan media untuk mengirimkan berbagai bentuk konten kepada
masyarakat. Contohnya, sebuah PC ataupun laptop kini sudah mampu digunakan untuk mendapatkan informasi berita,
menonton film, berkirim email, komunikasi suara dan lainnya. Ini adalah contoh bagaimana satu media dapat digunakan untuk
berbagai macam aktivitas termasuk menjalankan berbagai macam konten informasi. Jenkins mengatakan bahwa konvergensi
media akan terlalu terjadi seiring dengan perubahan teknologi dan gaya hidup manusia. (Baca juga: Teori Efek Media Massa)

Informasi akan mengalir lebih cepat dan fleksibel dengan adanya konvergensi media. Dengan adanya konvergensi teknologi,
satu gadget mampu melakukan banyak hal seperti bertelepon, mengirim email, menonton video, membaca buku dan lainnya.
Konvergensi ini juga mempengaruhi ekonomi masyarakat itu sendiri.

2. Konvergensi Media Menurut Flaw


Seorang ahli bernama Flow merumuskan teori tentang konvergensi media. Menurutnya, konvergensi media terdiri dari tiga
poin penting, yang terdiri dari computing & information technology, communication network, dan digital content. Teori ini
menerangkan bahwa konvergensi media sangat berkaitan erat dengan perubahan industri, dimana industri menjadi lebih
dinamis dan bergantung pada teknologi. Perubahan ini dapat berupa perubahan media informasi, perubahan cara melakukan
komunikasi, perubahan media cetak dan perubahan penggunakan media digital. (Baca juga: Literasi Media)

Pelaku pasar akan memandang konvergensi media sebagai peluang untuk mengembangkan produk mereka. Perusahaan di
bidang hiburan sebagai contoh akan mencoba mengintegrasikan berbagai macam konten dalam produk maupun jasanya.
Sebuah perusahaan pertelevisian, misalnya, bisa saja mengembangkan produk lain seperti radio, portal website, video games
dan lainnya. Konvergensi media dan konvergensi teknologi mampu mengubah gaya hidup seseorang yang nantinya
mengubah cara berpikir para pelaku industri.

Baca juga:

 Filsafat Ilmu Komunikasi


 Semiotika Komunikasi
 Psikologi Komunikasi
 Prinsip – prinsip komunikasi
 Hambatan-hambatan Komunikasi

Konvergensi Teknologi
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, konvergensi media memiliki kaitan yang kuat dengan konvergensi teknologi.
Menurut Burnett dan Marhsall, konvergensi media merupakan penggabungan media, industri telekomunikasi dan segala
bentuk media komunikasi ke dalam bentuk digital. Mereka menyebutkan bahwa konvergensi media erat kaitannya dengan
proses digitalisasi. (Baca juga: Peran Media Komunikasi Politik)

Ahli lain, yakni Grand dan Wilkinson berpendapat bahwa konvergensi media memiliki pengaruh yang besar dari dua jenis
teknologi yakni teknologi digital dan jaringan komputer. Konvergensi teknologi sendiri terjadi akibat beberapa sebab. Poin
utama dalam konvergensi teknologi adalah perubahan teknologi analog menjadi digital. Perubahan analog ke digital ini
didorong oleh beberapa hal, sebagai berikut:

 Terdapat kemajuan teknologi digital sehingga biaya yang dibutuhkan menjadi semakin murah.
 Biaya pembangunan infrastruktur jaringan digital menjadi lebih rendah.
 Media yang tumbuh dengan cepat. Media juga semakin dinamis.
 Pertumbuhan pengguna yang tinggi. Semakin berkembangnya teknologi dan cepatnya arus informasi, maka
penggunaan media juga meningkat. (Baca juga: Komunikasi Massa)

Keempat diatas merupakan faktor utama yang mendorong terjadinya proses digitalisasi, khususnya dalam hal media.

DIGITAL DIVIDE

Digital divide mempunyai arti sebagai kesenjangan (gap) antara individu,


rumah tangga, bisnis, (atau kelompok masyarakat) dan area geografis pada tingkat
sosial ekonomi yang berbeda dalam hal kesempatan atas akses teknologi informasi
dan komunikasi/TIK (information and communication technologies/ ICT) atau
telematika dan penggunaan internet untuk beragam aktivitas. Jadi, digital divide atau
“kesenjangan digital” sebenarnya mencerminkan beragam kesenjangan dalam
pemanfaatan telematika dan akibat perbedaan pemanfaatannya dalam suatu negara
dan/atau antar Negara.

Perkembangan teknologi banyak mempengaruhi beragam tatanan kehidupan


masyarakat. Pada dasarnya, telematika dinilai sangat penting tak saja karena potensi
generiknya sebagai productivity tool dalam penciptaan nilai tambah tetapi juga
enabling tool bagi (hampir) semua masyarakat. Karenanya, kesenjangan dalam hal ini
berpotensi melahirkan persoalan kesenjangan baru dalam masyarakat atau
memperparah persoalan kesenjangan yang ada, terutama di negara berkembang atau
kelompok masyarakat/ daerah yang relatif tertinggal. Digital divide atau senjang
digital mengacu pada kesenjangan atau jurang yang menganga di antara mereka yang
dapat mengakses teknologi informasi (TI) dan mereka yang tidak dapat melakukannya.
Ketakseimbangan ini bisa berupa ketakseimbangan yang bersifat fisik (tidak
mempunyai akses terhadap komputer dan perangkat TI lain) atau yang bersifat
keterampilan yang diperlukan untuk dapat berperan serta sebagai warga digital. Jika
pembagian mengarah ke kelompok, maka senjang digital dapat dikaitkan dengan
perbedaan sosial-ekonomi (kaya/miskin), generasi (tua/muda), atau geografis
(perkotaan/pedesaan). Sejalan dengan berkembangnya dan makin tidak
terpisahkannya Internet dengan TI, maka digital divide mencakup juga
ketakseimbangan akses terhadap dunia maya.

KESENJANGAN TEKNOLOGI
Kesenjangan Teknologi dinilai masih tinggi Indonesia. Efeknya arus
informasi ke daerah yang infrastrukturnya masih minim menjadi susah.
Pemerataan informasi pun menjadi terhambat.

Pemusatan kemajuan teknologi di pulau Jawa masih menjadi permasalahan.


Jika di Jawa khususnya di kota besar akses internet mudah di dapat, hal itu
tidak terjadi di Indonesia bagian timur.

Namun jika Kesenjangan Teknologi dapat diminimalisir akan menjadi


angka kemajuan di daerah meningkat? Tulisan ini akan mengulas tentang
apa itu Kesenjangan Teknologi, penyebabnya, usaha apa saja yang sudah
dilancarkan untuk menyelesaikannya, dan telaah kritis untuk penyelesaian
kebijakan kesenjangan itu sendiri.

Kesenjangan Teknologi dan Usaha Pemerintah

Secara istilah kita bisa memaknai Kesenjangan Teknologi sebagai


kesenjangan ekonomi dan sosial terkait akses, penggunaan, atau dampak
teknologi informasi dan komunikasi (TIK).[1]

Untuk mengurangi kesenjangan ini pemerintah sudah melakukan langkah


seperti membangun infrastruktur yang berkaitan secara langsung. Salah
satunya pembangunan proyek Palapa Ring. Pemerintah mempunyai target
pada 2019 nanti seluruh ibukota kabupaten dan kotamadya terhubung
dengan layanan jaringan pita lebar atau broadband. Rudiantara, Menteri
Komunikasi dan Informatika mengatakan pembangunan Palapa Ring ini
sangat penting untuk mengecilkan kesenjangan layanan berbasis digital
antara Pulau yang ada di Jawa dengan di luar Jawa. Dengan adanya proyek
ini, maka layanan broadband diharapkan dapat dinikmati wilayah seluruh
Indonesia.[2]

Sedangkan pada pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Cina pada


tahun 2016, Presiden Jokowi mengatakan sedang menggenjot
pertumbungan infrastruktur salah satunya di bidang Teknologi. Untuk
mencapai hal itu Jokowi mengajak negara maju untuk membantu negara
berkembang seperti Indonesia dalam menaikkan infrastrukturnya.[3]

Dengan pernyataan pemangku kebijakan di atas, bisa dikatakan Indonesia


sekarang ini sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan
infrastruktur di bidang Teknologi. Namun tentu pembangunan ini baru
akan terasa 2–3 tahun mendatang.

Akan tetapi rencana itu tidaklah luput dari kritik. Upaya pengurangan
Kesenjangan Teknologi tidaklah cukup dengan pembangunan infrastruktur
saja. Pada pertemuan World Summit on the Information Society yang
diselenggarakan oleh PBB telah merumuskan solusi integratif dan
berkelanjutan dalam mengatasi problem kesenjangan digital, yakni dengan
membangun infrastruktur TIK, membentuk masyarakat informasi, dan
edukasi TIK.[4]

Pemerintah tidak bisa hanya bicara pembangunan infrastruktur saja untuk


mengurangi Kesenjangan Teknologi. Namun juga mesti berbicara
masyarakat yang sadar akan informasi dan teredukasi ketika berhadapan
dengan Teknologi. Salah satu masyarakat yang sadar akan pentingnya
teknologi sudah membuat gerakan. Diantaranya Gerakan DEMIT, adalah
salah satu inisiatif yang digerakkan masyarakat desa melalui
pengembangan inovasi teknologi informasi berbasis open source. Gerakan
ini sukses menggerakkan lebih dari 300 desa di seluruh Indonesia untuk
berpartisipasi dan terlibat aktif pembahasan RUU Desa di akhir tahun 2014
silam melalui video conference. Hingga saat ini, DEMIT terus
mengkonsolidasikan diri sebagai entitas pembangunan masyarakat desa.
Selain itu, salah satu inovasi yang cemerlang lainnya adalah program 1000
web desa gratis dengan domain Desa.id yang semakin gencar belakangan
ini.[5]

Tentu pemerintah tidak bisa berdiam sendiri saja berserah diri pada
kelompok swadaya masyarakat. Mesti ada integrasi dengan bidang lain
seperti pendidikan agar kemajuan teknologi dapat memberikan efek positif.

Mengkaji Ulang Kebijakan Penyelesaian Kesenjangan Teknologi

Yang patut perlu kritisi juga adalah penyelesaian Kesenjangan Teknologi


tidak bisa serta merta menyelesaikan persoalan masyarakat seperti
kemiskinan dan ketidakadilan. Perbedaan tingkat pemakaian dan
penerapan teknologi terletak pada soal-soal sosial, ekonomi, dll., dan bukan
pada soal-soal teknologi itu sendiri. Karena itu pula, seperti halnya tingkat
penggunaan dan investasi dalam teknologi amat berbeda karena perbedaan
faktor sosial dan ekonomi, demikian juga kita bisa menduga bahwa tingkat
pemanfaatan dan distribusi manfaatnya juga berbeda karena faktor-faktor
tersebut. Selanjutnya, gagasan kesenjangan teknologi itu punya
konsekuensi ekonomi-politik yang tidak sederhana karena ia justru satu
menjadi salah satu senjata ideologi pasar bebas. Negara-negara miskin
(seperti Indonesia), harus siap menjadi ‘tempat pembuangan limbah’
teknologi, entah teknologi lama ataupun teknologi baru. Alasannya
sederhana. Negara-negara maju produsen teknologi komunikasi dan
informasi butuh pasar karena daya serap pasar mereka sendiri terbatas.
Karena itu, selain menghembuskan gaya-hidup modern yang
karakteristiknya harus dibalut teknologi komunikasi keluaran terbaru (bagi
kelas menengah ke atas), jargon digital divide itu menjadi sarana ampuh
untuk membuang teknologi komunikasi yang sudah usang ke negara miskin
untuk ‘pengentasan kemiskinan’. Dari total pasar teknologi komunikasi saat
ini yang sebesar 2,071 triliun Euro (sekitar 1 triliun dolar AS) itu, AS
menguasai 32,4%, Eropa 30,5%, Jepang 12,3%, “Macan Asia” (Hong Kong,
Singapura, Korsel dan Taiwan) 3,1%. Sisanya yang sekitar 21% dibagi oleh
penduduk dunia lainnya.6

Lagi-lagi kita mengkaji bagaimana pemerintah Indonesia ini berpijak. Posisi


Indonesia yang tergabung pada ekonomi pasar bebas cenderung tidak
menyelesaikan permasalah masyarakat. Berdasarkan data di atas, dengan
dalih penyelesaian kesenjangan teknologi malah negara seperti Indonesia
menjadi pasar bagi negara maju yang teknologinya sudah lebih dahulu
terdepan.

Kesimpulan

Informasi yang serba bebas seolah menjadi syarat lahirnya era globalisasi.
Teknologi menjadi kunci lahirnya era ini. Di sisi lain Teknologi memang
menjanjikan kehadiran kebebasan Informasi bagi yang mampu
memanfaatkan. Namun jika tidak mampu untuk bersaing ia akan
dimanfaatkan oleh kubu yang lebih kuat.

Kuncinya ada di pemerintah kita bagaimana agar kita tetap mampu


bersaing secara teknologi namun tetap berdaulat. Salah satu caranya yakni
dengan melakukan pemberdayaan masyarakat akan fungsi-fungsi
Teknologi. Untuk itu edukasi di bidang Teknologi memang dirasa penting
selain membangun infrastrukturnya.