Anda di halaman 1dari 40

STEEL TRUSS WITHOUT VERTICAL MEMBERS

Proposal
Diajukan untuk mengikuti lomba National Steel Truss Inovation Contest
“RITTER 1” Universitas Tadulako Tahun 2017

Diusulkan oleh :
Reki Karunia 3336130522 / 2013
Rian Jariadi 3336160112 / 2016
Rosyida Hutami 3336160035 / 2016

JURUSAN TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
CILEGON
2017
ii
iii
iv
v
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat limpahan rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan proposal tepat pada waktunya. Proposal ini
berjudul Steel Truss Without Vertical Members dalam rangka mengikuti lomba
National Steel Truss Inovation Contest “RITTER 1” Universitas Tadulako Tingkat
Nasional Tahun 2017.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak
yang terkait dalam penyusunan serta memberi arahan dalam penyusunan proposal ini.
Penulis menyadari bahwa proposal ini masih belum sempurna sehingga kritik
dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan penulisan proposal ini
sangat dibutuhkan.
Semoga proposal ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca
pada umumnya.

Cilegon, Maret 2017

Penulis

vi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................................................i


DATA DIRI PESERTA .............................................................................................ii
REKAPITULASI DATA DIRI .................................................................................iv
HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................................v
KATA PENGANTAR ...............................................................................................vi
DAFTAR ISI..............................................................................................................vii
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................... viii
DAFTAR TABEL......................................................................................................ix
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang .........................................................................................1
1.2.Rumusan Masalah ....................................................................................2
1.3.Tujuan ......................................................................................................2
1.4.Manfaat ....................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Dasar Teori .............................................................................................4
2.2. Spesifikasi Material ................................................................................16
2.3. Analisis Struktur Rancangan Kuda-Kuda ...............................................17
2.4. Spesifikasi Sambungan dan Dimensi ......................................................21
2.5. Gambar CAD kuda-kuda lengkap dengan detail sambungan di gambar
pada kertas A3 ........................................................................................28
2.6. Rancangan Anggaran Biaya....................................................................29
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan .............................................................................................30
3.2. Pembahasan ............................................................................................30
DAFTAR PUSTAKA

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Struktur Rangka Batang ......................................................................3


Gambar 2.2. Truss Diagonal ....................................................................................4
Gambar 2.3. Truss Segitiga ......................................................................................4
Gambar 2.4. Truss Paduan Tipe 1 ............................................................................5
Gambar 2.5. Truss Paduan Tipe 2 ............................................................................5
Gambar 2.6. Truss Paduan Tipe 3 ............................................................................6
Gambar 2.7. Truss Koplanar ....................................................................................6
Gambar 2.8. Reaksi Konkuren Tak-Stabil ...............................................................8
Gambar 2.9. Reaksi Pararel Tak-Stabil
Gambar 2.10. Truss Paduan Tak-Stabil
Gambar 2.11. Proses Pembentukan Profil Baja .......................................................9
Gambar 2.12. Jenis Bentuk Penampang Baja Ringan ..............................................10
Gambar 2.13. Struktur Kuda-Kuda Baja Ringan .....................................................11
Gambar 2.14. Tekuk Lokal dari Hat-Shaped Beam
Gambar 2.15. Effect of Straining Beyond the Elastic Range ...................................12
Gambar 2.16. Effect of Strain Aging After Strain Haerdening ................................13
Gambar 2.17. Fracture .............................................................................................14
Gambar 2.18. Paku Keling .......................................................................................15
Gambar 2.19. Pemasangan Baut ..............................................................................16
Gambar 2.20. Steel Truss Without Vertical Members 3D ........................................28
Gambar 2.21. Rencana Desain Kuda-kuda ..............................................................28

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Analisa Hasil Gaya Aksial dengan Metode Titik Buhul ..........................20
Tabel 2.2. Kebutuhan Baut Pada Sambungan ...........................................................25

ix
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia merupakan negara yang masih berkembang dan oleh sebab itu
tingkat perkembangan konstruksinya dari tahun ke tahun mengalami kenaikan
yang signifikan. Baja merupakan salah satu bahan baku pokok dalam pelaksanaan
konstruksi.
Menurut Setiawan, 2008 dalam buku Perencanaan Struktur Baja dengan
Metode LRFD material besi sudah digunakan sekitar tahun 4000 SM untuk
digunakan sebagai peralatan-peralatan sederhana. Material ini dibuat dalam
bentuk besi tempa yang diperoleh dengan memanaskan bijih-bijih besi dengan
menggunakan arang. Sekitar akhir abad ke-18 dan permulaan abad ke-19, besi
tuang dan besi tempa sudah mulai banyak digunakan untuk pembuatan struktur
jembatan. Jembatan Lengkung Coalbrookdale (Inggris) merupakan jembatan
pertama yang terbuat dari besi tuang dan pada abad ke-19 muncul material baru
yang dinamakan dengan baja yang merupakan logam paduan antara besi dan
karbon. Material baja mengandung kadar karbon yang lebih sedikit daripada besi
tuang dan mulai digunakan dalam konstruksi-konstruksi berat salah satunya
adalah konstruksi kuda-kuda.
Saat ini baja banyak digunakan sebagai material konstruksi kuda-kuda
terutama baja ringan karena ketersediaan pohon (kayu) saat ini sudah sangat
menipis yang diakibatkan penebangan secara besar-besaran. Akan tetapi jika
ditinjau dari segi ekonomisnya untuk konstruksi bangunan kecil yang
menggunakan material baja, memerlukan anggaran yang tinggi untuk harga
materialnya maupun pengerjaannya. Oleh karena itu dibutuhkannya inovasi kuda-
kuda yang dapat menekan permasalahan tersebut dan tentunya kualitasnya
sebanding bahkan lebih kuat dari konstruksi kuda-kuda yang diterapkan pada
umumnya.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik mengkaji lebih dalam
tentang inovasi kuda-kuda baja ringan tanpa batang vertical.

1
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis merumuskan masalah sebagai
berikut :
1. Apa keunggulan kuda-kuda yang berbahan baku baja ringan bila
dibandingkan dengan kuda-kuda yang berbahan baku kayu?
2. Berapakah nilai efesiensi dari inovasi kuda-kuda ini?

1.2. Tujuan
Adapun tujuannya dibuat proposal ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa saja keunggulan kuda-kuda yang berbahan baku baja
ringan bila dibandingkan dengan kuda-kuda yang berbahan baku kayu?
2. Untuk mengetahui apa saja berapakah nilai efesiensi dari inovasi kuda-kuda
ini?

1.4. Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan proposal ini adalah sebagai berikut :
1.Bagi Mahasiswa
Menjadikan motivasi belajar dan bahan kajian untuk mengembangkan pola
berpikir sehingga dapat lebih memahami materi belajar yang sedang dipelajari
yang berkaitan dengan materi keteknik sipilan pada umumnya dan struktur pada
khususnya.
2. Bagi Penulis
Sebagai motivasi untuk dapat menghasilkan suatu inovasi yang dapat
bermanfaat bagi banyak orang di masa yang akan datang.
3. Bagi Penulis Lain
Sebagai bahan kajian untuk penelitian lebih lanjut.
3. Bagi Pekerja Konstruksi atau Instansi Terkait
Dengan adanya penulisan ini maka dapat memberikan suatu inovasi teknologi
baja terbaru guna dapat mengefisienkan pekerjaan konstruksi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Dasar Teori

2.1.1. Rangka Batang (Truss)


Sebuah struktur rangka batang adalah sebuah susunan struktur yang
tersusun dari bagian struktur dua-gaya yang tersambung bersama-sama ke
sebuah tatanan dari segitiga-segitiga dengan berbagai macam bentuk. Struktur
rangka batang dapat digunakan untuk menghubungkan sebuah jarak sepanjang
yang diinginkan dan terutama digunakan secara umum untuk bangunan dengan
bentang lantai serta atap yang besar dan juga digunakan untuk jembatan-
jembatan yang panjang. Apabila sebagian besar dari elemen-elemen struktur
dan susunan-susunan struktur umumnya ditutupi dengan plafon, lantai dan
dinding dengan tujuan dramatisasi dan estetika, rangka-rangka batang
seringkali dengan sengaja dibiarkan terbuka demi mendapatkan suatu tampilan
arsitektural pada sebuah struktur.

Gambar 2.1. Struktur Rangka Batang

Idealnya, beban-beban rangka batang diterapkan hanya pada titik


sambungan dari bagian struktur yang disebut titik kumpul (joint). Rangka-
rangka batang dibangun dengan konstruksi sedemikian rupa sehingga sumbu
memanjang dari tiap-tiap bagian struktur yang bertemu di titik kumpul dan tiap-
tiap titik kumpul itu dapat ditinjau sebagai sistem gaya yang kongruen. Rangka-

3
rangka batang diasumsikan untuk berperilaku seperti sebuah sendi yang
menyambungkan semua bagian struktur dan beban-beban apapun yang
diterapkan pada tiap-tiap titik kumpul yang biasanya dikenal sebagai
sambungan sendi. Walaupun mungkin diperlukan banyak pengunci (fastener)
untuk membentuk sebuah titik kumpul rangka batang tunggal yang besar, fakta
bahwa semua beban yang tersambung adalah kongruen menghasilkan bagian
struktur yang diasumsikan mentransfer momen-momen yang dapat diabaikan
di antara bagian struktur itu sendiri pada sambungan-sambungan sendi yang
teridealisasi. (Dishongh, 2003)

2.1.2. Klasifikasi dari Truss Koplanar


2.1.2.1. Truss Sederhana
Untuk mencegah keruntuhan, kerangka kerja dari suatu truss harus tegar.
Jelas, rangka empat-batang ABCD pada Gambar 2.2 akan runtuh jika tidak ada
rangka diagonal, seperti AC yang ditambahkan untuk menopang. Kerangka
kerja paling sederhana yang tegar atau stabil adalah suatu kerangka segitiga.
Akibatnya, suatu truss sederhana dibuat dengan memulai dengan suatu elemen
dasar segitiga, seperti ABC pada Gambar 2.3 dan menghubungkan dua anggota
bagian (AD dan BD) untuk membentuk suatu elemen tambahan. Kemudian hal
ini terlihat seolah-olah setiap elemen tambahan dari dua anggota bagian
ditempatkan di atas truss, jumlah sambungan bertambah satu tambahan.
(Hibbeller, 2002)

Gambar 2.2. Truss Diagonal Gambar 2.3. Truss Segitiga

4
2.1.2.2. Rangka Batang Paduan
Sebuah truss dibentuk dengan menghubungkan dua atau lebih truss
sederhana bersama-sama. Sering kali tipe truss ini digunakan beban-beban
yang bekerja pada suatu rentang yang besar karena hal ini lebih murah untuk
mengkonstruksi suatu truss paduan yang agak lebih ringan daripada suatu truss
tunggal sederhana yang berat.
Terdapat tiga cara truss-truss sederhana tersebut disambungkan bersama
untuk membentuk sebuah truss paduan.
Tipe 1 : truss-truss bisa dihubungkan oleh sebuah sambungan biasa dan batang.
Suatu contoh yang diberikan pada Gambar 2.4, dengan truss yang diarsir ABC
dihubungkan ke truss yang diarsir CDE seperti cara ini.

Gambar 2.4. Truss Paduan Tipe 1

Tipe 2 : truss-truss bisa disambungkan dengan tiga batang seperti pada kasus
truss yang diarsir ABC dihubungkan ke truss yang lebih besar DEF seperti pada
gambar 2.5.

Gambar 2.5. Truss Paduan Tipe 2

5
Tipe 3 : truss-truss bisa disambungkan di mana batang-batang dari truss
sederhana yang besar, yang disebut dengan truss utama telah digantikan dengan
truss sederhana disebut dengan truss-truss sekunder. Satu contoh yang
ditunjukan pada Gambar 2.6 yaitu anggota bagian yang ditandai dengan garis
terputus-putus dari truss utama ABCD telah diganti dengan truss-truss
sekunder yang diarsir. Jika truss ini menyangga beban atap, penggunaan truss
sekunder bisa menjadi lebih ekonomis karena anggota-anggota bagian dengan
garis putus-putus bisa dibebani oleh pembengkokan berlebih sedangkan truss
sekunder dapat menghantarkan beban dengan lebih baik. (Hibbeller, 2002)

Gambar 2.6. Truss Paduan Tipe 3

2.1.2.3. Truss Kompleks


Suatu truss kompleks merupakan sesuatu yang tidak dapat diklasifikasikan
baik sebagai truss sederhana ataupun paduan. (Hibbeller, 2002)

Gambar 2.7. Truss Koplanar

6
2.1.2.4. Keterdeminasian
Untuk setiap persoalan dalam analisis truss, harus disadari baha jumlah
total variabel yang tak diketahui meliputi gaya-gaya pada sebuah batang truss
b dan jumlah total reaksi penopang eksternal r. Jika anggota bagian truss
merupakan anggota bagian truss merupakan anggota bagian gaya aksial
langsung yang terletak pada bidang yang sama, sistem gaya yang bekerja pada
setiap sambungan merupakan gaya koplanar dan konkuren. Akibatnya,
kesetimbangan rotasi atau momen secara otomais dipenuhi pada sambungan
(atau pin) dan hal ini hanya perlu untuk memenuhi ∑ 𝐹𝑥 = 0 dan ∑ 𝐹𝑦 = 0
dalam menjamin keseimbangan translasi atau gaya. Karena itu, hanya dua
persamaan keseimbangan dapat dituliskan untuk setiap sambungan dan jika
terdapat sejumlah sambungan (j), jumlah total sambungan yang tersedia untuk
penyelesaian adalah 2j. Dengan membandingkan secara sederhana jumlah total
nilai tak-diketahui (b + r) dengan jumlah total persamaan keseimbangan yang
tersedia karena itu cukup mungkin untuk menspesifikasi kedeterminasian baik
untuk truss sederhana, paduan ataupun kompleks, maka :
b + r = 2j statis tertentu ................................... (2.1)
b + r > 2j statis tak tentu .................................. (2.2)
Pada khususnya, derajat tak-kedeterminasian dispesifikasikan dengan selisih
dalam bilangan (b + r) – 2j. (Hibbeller, 2002)

2.1.2.5. Kestabilan
Jika b + r < 2j, suatu truss alan menjadi tak stabil sehingga truss akan
runtuh karena terdapat suatu jumlah batang-batang atau rekasi-reaksi yang tak
cukup untuk mengekang semua sambungan. Suatu truss dapat juga menjadi tak-
stabil jika truss statis tertentu atau tak-statis tertentu. Pada kasus ini kestabilan
akan ditentukan dengan inspeksi atau dengan suatu analisis gaya. (Hibbeller,
2002)
a. Kestabilan Eksternal
suatu struktur menjadi tak stabil secara eksternal jika reaksi-reaksinya
merupakan konkuren atau pararel. Sebagai contoh terdapat pada Gambar 2.8

7
dan Gambar 2.9 adalah tak-stabil secara eksternal karena reaksi-reaksi
penopang memiliki garis-garis kerja yang konkuren atau pararel.

Gambar 2.8. Reaksi Konkuren Gambar 2.9. Reaksi Pararel


Tak-Stabil Tak-Stabil

b. Kestabilan Internal
Kestabilan internal dari suatu truss sering dapat diperiksa dengan inspeksi
yang hati-hati dari susunan-susunan anggota bagiannya. Jika anggota bagian
dapat ditentukan bahwa setiap sambungan diikat tetap sehingga anggota bagian
tidak dapat bergerak dalam pengertian sebagai “benda kaku” terhadap
sambungan-sambungan lain, kemudian truss akan menjadi stabil. Amati bahwa
suatu truss sederhana akan selalu stabil secara internal karena hakikat
konstruksinya memerlukan permulaan dari elemen dasar segi tiga dan
menambah elemen-elemen berturut-turut, masing-masing mengandung dua
anggota bagian tambahan dan satu sambungan.
Untuk menentukan kestabilan internal dari suatu truss paduan, perlu untuk
mengidentifikasi cara truss sederhana dihubungkan bersama. Sebagai contoh,
truss pada Gambar 2.10 merupakan truss tak-stabil karena truss sederhana
bagian ABC dihubungkan ke truss sederhana bagian luar DEF menggunakan
tiga batang yaitu AD, BE dan CF yang konkuren pada titik O. Selanjutnya
sebuah beban eksternal dapat dipakai pada sambungan A, B atau C dan
menyebabkan truss sedikit berotasi.

Gambar 2.10. Truss Paduan Tak-Stabil

8
2.1.3. Baja Ringan (Cold Frame)
Profil struktur baja cold formed steel (CFS) adalah komponen yang
berkualitas struktural dari lembaran baja yang dibentuk model tertentu dengan
proses press-braking atau roll forming. Suhu tidak diperlukan dalam proses
pembentukan (tidak seperti baja hot-rolled), oleh sebab itu disebut cold-formed.
Biasanya baja cold-formed merupakan komponen yang tipis, ringan, mudah
untuk diproduksi, dan murah dibandingkan baja hot-rolled. Variasi dari
ketebalan baja memungkinkan untuk berbagai keperluan penerapan struktural
dan non-struktural. (Mutawalli, 2007)

Gambar 2.11. Proses Pembentukan Profil Baja

2.1.4. Rangka Atap Baja Ringan


Rangka atap (roof truss) adalah sistem struktur yang berfungsi untuk
menopang/ menyangga penutup atap, dengan elemen-elemen pokok yang
terdiri dari: kuda-kuda (truss), usuk/ kasau (rafter), dan reng (roof batten).
Truss merupakan struktur rangka batang (kuda-kuda) sebagai penyangga utama
rangka atap, yang terdiri dan batang utama luar (chords) dan batang dalam
(webs), dan yang berfungsi untuk menahan gaya aksial (tarik dan tekan),
maupun momen lentur. Profil baja ringan yang beredar di pasaran Indonesia
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1) Profil C, ketebalan 0,75 mm dan 1 mm, digunakan pada fabrikasi kudakuda
(truss), dan usuk (rafter).
2) Profil A dengan ketebalan antara 0,4 mm sampai 0,7 mm (idealnya 0,55
mm), yang biasa digunakan sebagai reng. (Rahmat, 2010)

9
Gambar 2.12. Jenis Bentuk Penampang Baja Ringan

Dalam perakitan dan pemasangan struktur rangka atap baja ringan, perlu
diperhatikan ketentuan pemilihan dan pemasangan alat sambung agar diperoleh
sistem struktur yang stabil, kuat, dan tidak merusak lapisan anti karat. Alat
sambung yang digunakan biasanya berupa baut (screw) khusus, yang terbuat
dan baja mutu tinggi, dan telah dilengkapi lapisan anti karat (coating), seperti
halnya elemen-eleman struktur ringan yang digunakan. Hal ini harus
diperhatikan karena beberapa alasan :
1) Untuk menjamin stabilitas kekuatan dan kekakuan struktur, maka diperlukan
alat sambung dengan kekuatan dan kekakuan yang minimal sama dengan
elemen/ komponen utama sistem struktur.
2) Alat sambung harus dilapisi dengan lapisan anti karat yang sama dengan
elemen/ komponen struktur, karena jika terjadi korosi pada baut, maka akan ada
resiko penjalaran korosi pada elemen/ komponen struktur baja ringan itu
sendiri. Biasanya spesifikasi baut yang memenuhi persyaratan untuk
digunakan pada struktur rangka atap baja ringan adalah Jenis Self Drilling
Screw (SDS), adapun baut yang digunakan untuk usuk (rafter) adalah SDS Tipe
12- 14×20 HEX dan baut untuk digunakan untuk menyambung reng Tipe 10-
16×26 HEX. (Ismawan, 2001)

10
Gambar 2.13. Struktur Kuda-Kuda Baja Ringan

2.1.5. Kekakuan Elemen Tekan


2.1.5.1. Pelenturan (Yielding)
Kekuatan dari kekakuan elemen tekan seperti tekan pada tepi dari
penampang hat akan ditentukan oleh pelenturannya jika rasio lebar terhadap
tebal (w/t) relatif kecil. Sebaliknya bila rasio w/t relatif besar maka tekuk lokal
terjadi pada level tegangan yang lebih rendah dari yield point. (Setiawan, 2008)

Gambar 2.14. Tekuk Lokal dari Hat-Shaped Beam

2.1.5.2. Elastic Local Buckling Stress of Plates


Sebuah plat persegi dengan tumpuan sederhana mengalami tekan yang
merata dalam satu arah akan tertekuk dalam dua arah seperti yang ditunjukan
dalam Gambar 2.14. Meksipun demikian untuk elemen individual biasanya
memiliki panjang yang lebih besar dari lebar.
Tegangan tekuk kritis dari plat empat persegi panjang dapat dihitung dengan
menggunakan Persamaan 2.3. (Setiawan, 2008)
𝑘𝜋 2 𝐸
𝑓𝑐𝑟 = 𝑤 ........................................................ (2.3)
12 (1−𝜇 2 )( )2
𝑡

11
2.1.5.3. Buckling of plates in the Inelastic Range
Ketika tegangan tekan pada plat dalam satu arah melampaui batas
proporsional dari baja, maka plat baja akan bersifat anisotropic. Untuk
menghitung tegangan tekuk kritis untuk tekuk plastis dari plat yaitu dengan
menggunakan Persamaan 2.4. (Setiawan, 2008)
𝑘𝜋 2 √𝐸𝐸𝑡
𝑓𝑐𝑟 = 𝑤 ........................................................ (2.4)
12 (1−𝜇 2 )( )2
𝑡

2.1.5.4. Ductility (Daktilitas)


Daktilitas dapat didefinisikan sebagai banyaknya permanent strain. Untuk
baja A36 misalanya, mempunyai daktilitas sebanyak strain sampai batang patah.
Daktilitas merupakan hal penting karena ia mengijinkan locally high stress
(konsentrasi tegangan) untuk didistribusikan. Prosedur perencanaan selalu
didasarkan atas ultimate strength behaviour yang membutuhkan kesatuan
daktilitas yang besar, terutama untuk memperbaiki tegangan-tegangan dekat
lubang atau perubahan yang mendadak pada bentuk batang seperti untuk
perencanaan sambungan. (Oentoeng, 1999)

2.1.5.4. Strain Hardening

Gambar 2.15. Effect of Straining Beyond the Elastic Range


Diagram di atas merupakan Engineering stress strain curve, menunjukan
kelakuan baja secara idealisasi. Selama pembebanan hanya sampai 𝜎1, bila beban
dilepaskan maka batang akan kembali ke keadaan semula (kembali ke titik O) atau
batang dalam keadaan elastis. Bila beban telah melampaui yield point dan sampai

12
ke titik A beban dilepas, maka ada strain yang tinggal (residual strain) sebesar
OB, dalam keadaan ini kapasitas daktalitasnya berkurang menjadi sebesar BF.
Pembebanan kembali memperlihatkan kelakuan seperti stress strain pada mula-
mula, tetapi dengan permulaan terletak di titik B sehingga daerah plastis yang
mendahului strain hardening juga berkurang. Jika batang dibebani lagi (mulai dari
B) hingga mencapai titik C pembebasan beban kemudian akan mengikuti garis
strip-strip CD sampai titik D. Sebagai pengaruh strain hardening, menunjukan
titik leleh (yield point) C dengan 𝜎1 yang lebih besar dari 𝜎1 mula-mula. Titik C
adalah strain hardening yield point. Dalam hal ini kapasitas daktilitas tinggal
sebesar DF. Tampak bahwa proses pembebanan di luar batas elastisitas
menyebabkan perubahan pada daktilitasnya. (Oentoeng, 1999)

2.1.5.5. Strain Aging

Gambar 2.16. Effect of Strain Aging After Strain Haerdening


Tampak bahwa pertambahan dalam strength diperoleh dengan biaya
daktilitasnya. Dengan hilangnya yield point yang orisinil (yield point C) terbentuk
yield point yang baru (yield point C’) disertai tegangan yang konstan dari daerah
plastis baru. Setelah pembebasan beban hingga mencapai titik D dan dibirkan
beberapa waktu dengan pembebanan kembali, maka akan didapatkan data-data
berlainan seperti yang digambarkan oleh titik D, C dan E. Strain aging
menghasilkan tambahan kenaikan yield point, memperbaharui daerah plastis

13
dengan stress yang konstan dan memberikan daerah strain hardening yang baru
dengan stress (tegangan) yang menanjak. (Oentoeng, 1999)

2.1.5.6. Fracture (Retak)


Jika temperatur berkurang maka yield stress dan tensile strength dari baja
konstruksi pada umumnya menjadi naik. Sebaliknya, daktilitas akan berkurang
dengan berkurangnya temperatur.
Biasanya pada temperatur di bawah mana benda uji mengalami tensile
stress (tegangan tarik) dapat mengakibatkan retakan. Di sini tampak hanya sedikit
atau tidak ada sama sekali deformasi plastis. Hal ini berlawanan dengan terjadinya
shear failure yang biasanya didahului oleh sejumlah deformasi.

Gambar 2.17. Fracture


Fracture yang terjadi oleh cleavage biasanya ditunjukan sebagai brittle
failures dan ditandai oleh penyebaran retak-retak pada kecepatan yang sangat
tinggi. Di sini kenyataan adanya plastic flow yang hanya sedikit dan sering tampak
fracture surface nya ysng merupakan granular kecuali pada bagian yang tipis
sepanjang tepinya. (Oentoeng, 1999)

2.1.6. Alat Sambung


Pada konstruksi baja dipakai beberapa macam alat sambung, yaitu :
 Paku Keling (Rivet)
Bentuk baku paku keling dapat dilihat pada Gambar 2.18. Untuk cara
pemasangannya yaitu bahan baku dipanaskan hingga memijar kemudian dimasukan
ke dalam lubang dan ditekan sehingga terbentuk bagian kepala dari paku keling,

14
selama proses penekanan ini paku keling akan memenuhi ruang lubang sehingga m
paku menjadi sama dengan m lubang setelah itu dibiarkan sampai dingin, selama
pendinginan inin terjadi pengerutan pada paku keling sehingga terjadi clamping force
sehingga paku keling mempunyai share resistance. Besar clamping force yang terjadi
untuk masing-masing palu keling tidak sama sehingga sulit untuk dapat dimasukan
ke dalam perhitungan. Selain itu juga ada pemasangan paku keling yang dilakukan
dalam keadaan dingin (tanpa pemanasan). Paku keling yang dipasang dalam keadaan
dingin tidak mempunyai clamping force.

Gambar 2.18. Paku Keling

Jarak-jarak pemasangan yang ada di PPBBI ialah untuk baut yang dan yang
untuk paku keling tidak tidak disebutkan. Pada prinsipnya pemasangan baut lebih
membutuhkan tempat berhubungan tempat berhubung dengan alat-alat
pemasangannya. Oleh karena itu jarak untuk pemasangan paku keling disamakan
dengan jarak pemasangan baut.
Pemasangan paku keling/baut dengan jarak yang lebih besar dapat
menyebabkan bagian yang dikeling/dibaut menjadi cembung sehingga sambungan
jadi mudah berkarat. Alat sambung yang dipasang hanya sebagai pelengkap saja
dapat agak longgar, asal bagian sambungan sudah dilapisi dengan bahan tahan karat
(misalnya meni dan sebagainya). Zat-zat yang dapat menjadi penyebab karat antara
lain : udara lembab, air, embun, uap asam dan sebagainya. (Oentoeng, 1999)

 Baut Sekrup
Baut sekrup lebih mahal daripada paku keling, yang lebih baik adalah baut
sekrup hitam. Keuntungan dari pemakaian baut ialah mudah pemasangannya
sehingga sehingga ongkos pemasangannya lebih murah bila dibandingkan dengan
ongkos pemasangan paku keling. Pada pemasangan paku keling dibutuhkan tenaga
yang memang ahli yang cukup banyak karena pemasangan paku keling memakan

15
waktu yang jauh lebih lama dari pemasangan baut dan juga baut sekrup mudah
diganti dan mudah dilepas sehingga dapat dipindah-pindahkan. Sedangkan
kekurangan dari pemakaian baut ialah tidak baik untuk dipakai pada konstruksi yang
mengalami beban bertulang. Oleh karena itulah pada jembatan dipakai paku keling.
Dalam praktek umunya dipakai baut sektrup pada pekerjaan bangunan
gedung, walaupun sebenarnya sambungan dengan baut ini tidak dapat dianggap rigid
berdasarkan teori-teori baru. Kenyataan dalam praktek sampai saat ini di Indonesia
masih selalu menggunakan sambungan dengan baut pada pekerjaan bangunan
gedung. Pemasangan baut pada sayap dari suatu profil di mana umumnya bidang
sebelah dalam dari sayap terdapat miring, perlu dipakai pertolongan pelat alas yang
terbentuk baji supaya mendapat bidang yang rata pada mur. (Oentoeng, 1999)

Gambar 2.19. Pemasangan Baut

 Menyambung Dua Batang yang Tidak Sama Ukuran Penampangnya (Las)


Hal ini biasanya terjadi pada sambungan titik simpul dari batang-batang tepi
suatu rangka batang. Untuk menghindari adanya eksentrisitas dari garis kerja batang
yang berbeda (untuk menghindari adanya momen sekunder), cara nya adalah dengan
meletakan kedua batang tersebut sedemikian rupa sehingga garis kerja gayanya
berada dalam satu garis lurus. (Oentoeng, 1999)

2.2. Spesifikasi Material


Material yang digunakan dalam perencanaan kuda-kuda ini menggunakan jenis
material baja siku sama kaki dengan tegangan leleh (Fy) sebesar 280 MPa, tegangan
putus (Fu) sebesar 410 MPa, tegangan ijin sebesar 166,6 MPa, modulus elastisitasnya
sebesar 200.000 Mpa serta memilki dimensi 30mm x 30mm x 2mm. Pada sambungan
antar batang kuda kuda plat yang digunakan adalah plat baja multigrip yang mampu

16
menahan gaya lateral tiga arah dengan standar teknisnya yaitu galvabond Z275,
modulus elastisitasnya 250 Mpa dan kuat tekannya sebesar 150 Mpa. Alat sambung
antar elemen rangka atap yang digunakan adalah baut menakik sendiri (self drilling
screw) dengan kelas ketahanan korosi minimum kelas II, panjang (termasuk kepala
baut) sepanjang 16 mm, kepadatan alur sebesar 16 alur/inci, diameter bahan dengan
alur sepanjang 4,80 mm dan diameter bahan tanpa alur sepanjang 3,80 mm, untuk
kekuatan mekanikalnya memiliki gaya geser 5,10 kN/baut, gaya aksial 8,60 kN dan
gaya torsi 6,90 kN.

2.3. Analisis Struktur Rancangan Kuda-Kuda


2.3.1. Reaksi Peletakan

∑ 𝑀𝐶 = 0 ...................................................................................................... (2.4)
RAV . 1,2 m – 0,5 ton . 0,6 m =0
1,2 m . RAV = 0,3 ton/m
RAV = 0,25 ton

∑ 𝑀𝐴 = 0 ...................................................................................................... (2.5)
- RCV . 1,2 m + 0,5 ton . 0,6 m =0
- 1,2 m . RAC = - 0,3 ton/m
RAC = 0,25 ton

∑ 𝑉 = 0 ......................................................................................................... (2.6)
RAV + RAC – 0,5 ton =0
0,25 ton + 0,25 ton – 0,5 ton =0
0 =0 ( Cek Aman )

17
2.3.2. Gaya Aksial Batang dengan Metode Titik Buhul
 Titik Buhul di A

∑𝑉 =0
RAV + F1 =0
0,25 ton + sin 45o . F1 =0
0,25 ton + 0,7 . F1 = 0 0,25
F1 = - 0, 707 ton (Tekan)

∑𝐻 =0
F1H + F2 =0
- 707,107 ton . cos 45o + F2 =0
- 707,107 ton . 0,7 + F2 =0
F2 = 0,5 ton (Tarik)

 Titik Buhul di C
∑𝑉 =0
RCV + F7V =0
0,25 ton + sin 45o . F7 =0
0,25 ton + 0,7 . F7 = 0 0,25
F7 = - 0, 707 ton (Tekan)

∑𝐻 =0
F7H + F5 =0
- 707,107 ton . cos 45o + F5 =0
- 707,107 ton . 0,7 + F5 =0
F5 = 0,5 ton (Tarik)

18
 Titik Buhul di B

∑𝑉 =0
F4 sin 45o + F6 sin 45 o =0
F4 . 0,7 + F6 . 0,7 = 0..............................................................(2.7)

∑𝐻 =0
-F2 + F5 + F6 cos 45o + F4 cos 45 o =0
- 500 + 500 + F6 . 0,7 - F4 . 0,7 =0
F6 . 0,7 - F4 . 0,7 = 0..........................................(2.8)
F4 . 0,7 + F6 . 0,7 =0
F6 . 0,7 - F4 . 0,7 =0
1,4 F4 =0
F4 =0
F6 =0

 Titik Buhul di D

19
∑𝐻 =0
F9 + F4 cos 45o + F3 cos 45o + F1 cos 45 o =0
F9 + 0 . cos 45o + 0,707 . cos 45o - 0,707 . cos 45o = 0
F9 + 0 . 0,7 + 0,707 . 0,7 - 0,707 . 0,7 =0
F9 + 0 + 500 - 500 =0
F9 =0

∑𝑉 =0
- F1 sin 45o – F4 + F3 sin 45 o = 0
- 0,5 - 0 + F3 . 0,7 =0
F3 = 0,707 ton (Tarik)

 Titik Buhul di F
∑𝐻 =0
- F3 cos 45o + F8 cos 45 o = 0
- 0,707 . 0,7 + F8 . 0,7 =0
F8 = 0, 707 ton (Tarik)

Tabel 2.1. Analisa Hasil Gaya Aksial dengan Metode Titik Buhul
Nomor Batang (F) Tarik (Ton) Tekan (Ton)
1 - 0, 707
2 0,5 -
3 0, 707 -
4 0 0
5 0,5 -
6 0 0
7 - 0, 707
8 0, 707 -
9 0 0

20
2.4. Spesifikasi Sambungan dan Dimensi
2.4.1. Spesifikasi Sambungan
1. Batang 1
Diketahui :
d = 4,8 mm
𝛼 = 45o
P = 707 kg
b = 3 mm

S1 = 240 x d2 x ( 1 – 0.35 . sin α )


= 240 x 4,82 x ( 1 – 0.35 . sin 45o )
= 4163.8 kg
S2 = 50 x d x b x ( 1 – 0.6 . sin α )
= 50 x 4,8 x 3 x ( 1 – 0.6 . sin 45° )
= 4147.2 kg
707
n = 41,638 = 0,170 = 2 buah

2. Batang 2
Diketahui :
d = 4,8 mm
𝛼 = 45o
P = 500 kg
b = 3 mm

S1 = 240 x d2 x ( 1 – 0.35 . sin α )


= 240 x 4,82 x ( 1 – 0.35 . sin 45o )
= 4163,8 kg
S2 = 50 x d x b x ( 1 – 0.6 . sin α )
= 50 x 4,8 x 3 x ( 1 – 0.6 . sin 45° )
= 4147,2 kg
500
n = 4147.2 = 0,121 = 2 buah

21
3. Batang 3
Diketahui :
d = 4,8 mm
𝛼 = 45o
P = 707 kg
b = 3 mm

S1 = 240 x d2 x ( 1 – 0.35 . sin α )


= 240 x 4,82 x ( 1 – 0.35 . sin 45o )
= 4163.8 kg
S2 = 50 x d x b x ( 1 – 0.6 . sin α )
= 50 x 4,8 x 3 x ( 1 – 0.6 . sin 45° )
= 4147.2 kg
707
n = 41,638 = 0,170 = 2 buah

4. Batang 4
Diketahui :
d = 4,8 mm
𝛼 = 45o
P = 0 kg
b = 3 mm

S1 = 240 x d2 x ( 1 – 0.35 . sin α )


= 240 x 4,82 x ( 1 – 0.35 . sin 45o )
= 4163.8 kg
S2 = 50 x d x b x ( 1 – 0.6 . sin α )
= 50 x 4,8 x 3 x ( 1 – 0.6 . sin 45° )
= 4147.2 kg
0
n = 41,638 = 0 = 2 buah

22
5. Batang 5
Diketahui :
d = 4,8 mm
𝛼 = 45o
P = 500 kg
b = 3 mm

S1 = 240 x d2 x ( 1 – 0.35 . sin α )


= 240 x 4,82 x ( 1 – 0.35 . sin 45o )
= 4163,8 kg
S2 = 50 x d x b x ( 1 – 0.6 . sin α )
= 50 x 4,8 x 3 x ( 1 – 0.6 . sin 45° )
= 4147,2 kg
500
n = 4147.2 = 0,121 = 2 buah

6. Batang 6
Diketahui :
d = 4,8 mm
𝛼 = 45o
P = 0 kg
b = 3 mm

S1 = 240 x d2 x ( 1 – 0.35 . sin α )


= 240 x 4,82 x ( 1 – 0.35 . sin 45o )
= 4163.8 kg
S2 = 50 x d x b x ( 1 – 0.6 . sin α )
= 50 x 4,8 x 3 x ( 1 – 0.6 . sin 45° )
= 4147.2 kg
0
n = 41,638 = 0 = 2 buah

23
7. Batang 7
Diketahui :
d = 4,8 mm
𝛼 = 45o
P = 707 kg
b = 3 mm

S1 = 240 x d2 x ( 1 – 0.35 . sin α )


= 240 x 4,82 x ( 1 – 0.35 . sin 45o )
= 4163.8 kg
S2 = 50 x d x b x ( 1 – 0.6 . sin α )
= 50 x 4,8 x 3 x ( 1 – 0.6 . sin 45° )
= 4147.2 kg
707
n = 41,638 = 0,170 = 2 buah

8. Batang 8
Diketahui :
d = 4,8 mm
𝛼 = 45o
P = 707 kg
b = 3 mm

S1 = 240 x d2 x ( 1 – 0.35 . sin α )


= 240 x 4,82 x ( 1 – 0.35 . sin 45o )
= 4163.8 kg
S2 = 50 x d x b x ( 1 – 0.6 . sin α )
= 50 x 4,8 x 3 x ( 1 – 0.6 . sin 45° )
= 4147.2 kg
707
n = 41,638 = 0,170 = 2 buah

24
9. Batang 9
Diketahui :
d = 4,8 mm
𝛼 = 45o
P = 0 kg
b = 3 mm

S1 = 240 x d2 x ( 1 – 0.35 . sin α )


= 240 x 4,82 x ( 1 – 0.35 . sin 45o )
= 4163.8 kg
S2 = 50 x d x b x ( 1 – 0.6 . sin α )
= 50 x 4,8 x 3 x ( 1 – 0.6 . sin 45° )
= 4147.2 kg
707
n = 41,638 = 0 = 2 buah

Tabel 2.2. Kebutuhan Baut Pada Sambungan


No Panjang Batang Diameter Baut Jumlah Baut
Batang (meter) (mm) (buah)
1 0.424 4,8 2
2 0,600 4,8 2
3 0.424 4,8 2
4 0.424 4,8 2
5 0,600 4,8 2
6 0.424 4,8 2
7 0.424 4,8 2
8 0.424 4,8 2
9 0,600 4,8 2

25
2.4.2. Perhitungan Dimensi

1. Batang Tarik

Komponen struktur yang memikul gaya tarik aksial terfaktor Nu harus


memenuhi Nu ≤ φ Nn Dengan φ Nu adalah kuat tarik rencana yang besarnya
diambil sebagai nilai terendah diantara dua perhitungan menggunakan harga–
harga φ dan Nn di bawah ini :

Φ = 0,9 Φ = 0,75
Nn = Ag x Fy Nu = Ae x Fu
Nn = 116 x 280 = 32480 Nu = 16 x 410 = 6560

Di mana :

Ag = 116 mm2

Ae = 16 mm2

Fy = 280 MPa

Fu = 410 MPa

2. Batang Tekan

Direncanakan menggunakan profil 30 x 30 x 2 mm

diameter baut ( d ) = 4,8 mm

tebal pelat buhul ( t ) = 3 mm

Ao = 0,58 cm2 = 58 mm2

Ag = 2 x 58 = 116 mm2

Suatu komponen struktur yang mengalami gaya tekan konsentris akibat beban
terfaktor, Nu harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

a) Nu ≤ φ Nn
Keterangan : φ = faktor reduksi kekuatan (0,85)

26
𝑓𝑦
Nn = Ag x fcr = Ag x ω

= 116 x 280 :1 = 32480 N

b) Perbandingan Kelangsingan

* Kelangsingan elemen penampang < λr

250
Dimana λr = √𝑓𝑦 , untuk elemen profil siku.

250
λr = √280 = 14,940

Profil elemen : 30 x 30 x 2 mm

b = 30 mm

d = 2 mm

Maka kelangsingan elemen penampang adalah :

𝑏
= 15 < λr = 15 < 14,940
𝑑

27
2.5. Gambar CAD kuda-kuda lengkap dengan detail sambungan di gambar pada
kertas A3

Gambar 2.20. Steel Truss Without Vertical Members 3D

Gambar 2.21. Rencana Desain Kuda-kuda

28
2.6. Rancangan Anggaran Biaya

Lampiran BA No: Form - RAB1


STEEL TRUSS WITHOUT VERTICAL MEMBERS

HASIL KESEPAKATAN
HARGA SATUAN BAHAN
BULAN : MARET 2017
Jurusan : Sipil Jenis Kegiatan : Pembuatan Model Kuda-kuda Baja
Fakultas : Teknik Tanggal Dilaksanakan Survey : 25 Februari 2017
Universitas : Sultan Ageng Tirtayasa Tanggal Laporan dibuat : 15 Maret 2017
Tim : CERIC UNTIRTA No. Lembar : 1 dari 1

No Lembar 1 dari 1

REKOMENDASI HARGA TERENDAH


HARGA SATUAN HASIL SURVEY*)
YANG DIPILIH UNTUK BULAN INI

Toko Toko Toko


No. Uraian Bahan Material Satuan jumlah
mitra
Kencana Iqbal Jaya
bangunan
HARGA
Almt : KETERANGAN
Almt : kebon SATUAN*)
kampung Almt : Semang
dalem
gudang
Telp : Telp : Telp :
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)

I. BAHAN/MATERIAL :
1 Baja Siku btg 2 18,000 19,000 18,000 36,000 30x30x2
2 Baut Menakik Sendiri buah 18 500 500 500 9,000 diametr 4,8
3 Plat Baja Multigrip lembar 9 12,500 11,500 14,100 103,500 2 mm
Total 148,500

Cilegon, 15 Maret 2017

Diperiksa/Diverifikasi Oleh Dosen Dibuat Oleh


Pembimbing :
Nama : Reki Karunia
Nama : Soelarso ST.,M.Eng
Jabatan : Ketua TIM
Jabatan : Dosen FTUntirta

Tandatangan : Tandatangan :

29
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

1. Baja sebagai salah satu dari material bangunan memiliki kelebihan dan kekurangan
dibandingkan dengan material lain. Oleh karena itu, seringkali dalam
penggunaannya, material baja digabungkan dengan material lain untuk menutup
kelemahan masing-masing material. Melihat kekurangan dari ketiga material
tersebut, untuk rangka atap akhir akhir ini digunakan struktur rangka atap baja
ringan. Baja ringan merupakan material yang dibentuk dalam kondisi dingin (cold-
formed steel) dengan profil yang digunakan yaitu 30 x 30 x 2 mm. Berbeda dengan
baja konvensional, baja ringan merupakan baja mutu tinggi yang memiliki sifat
ringan dan tipis, namun memiliki fungsi setara baja konvensional. Baja ringan ini
termasuk jenis baja yang dibentuk setelah dingin (cold form steel). Rangka Atap
Baja ringan diciptakan untuk memudahkan perakitan dan konstruksi. Meskipun
tipis, berdasarka hasil perhitungan baja ringan memiliki derajat kekuatan tarik yang
tinggi yaitu sekitar 770 MPa, sementara baja biasa sekitar 300 MPa (berdasarkan
sumber). Kekuatan tarik dan tegangan ini untuk mengkompensasi bentuknya yang
tipis.

2. Apabila ditinjau dari segi efisienfinya kuda-kuda tanpa batang vertikal ini memiliki
nilai ekonomis karena dengan ditiadakannya batang vertikal maka komponen baja
yang dibutuhkan semakin sedikit sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan
tentunya dengan kekuatan yang aman karena mampu menahan beban kurang lebih
sebesar 500 kg.

3.2. Saran

Dalam perencanaan harus lebih memperhatikan spesifikasi aturan lomba yang


berlaku sehingga tidak terjadi beberapa kali perhitungan yang berulang. Terlebih dalam
hal spesifikasi material yang digunakan.

30
DAFTAR PUSTAKA

Dishongh, B. E. (2003). Pokok-pokok teknologi struktur untuk konstruksi dan arsitektur. Jakarta:
Erlangga.

Hibbeller, R. C. (2002). Analisis Struktur. Jakarta: Prenhallindo.

Ismawan, D. (2001). Analisis Struktur Jilid 1. Jakarta: Gramedia.

Mutawalli, M. (2007). Stabilitas Sambungan Struktur Baja Ringan SMART FRAME Type-T
Terhadap Beban Siklik Pada Rumah Sederhana Tahan Gempa. Yogyakarta: Universitas
Gadjah Mada.

Oentoeng, I. (1999). Konstruksi Baja. Yogyakarta: ANDI OFFSET.

Rahmat, S. B. (2010). Stabilitas Kuda-Kuda Baja Ringan Star Truss Type C (studi kasus :
Pengujian kuda-kuda Baja Ringan Bentang 6 m). Yogyakarta: Jurasan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada.

Setiawan, A. (2008). Perencanaan Struktur Baja dengan Metode LRFD. Jakarta: Erlangga.