Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Penyakit penyakit gagal ginjal (Chronic Kidney Disease) merupakan

gangguan fungsi ginjal yang progresif dan reversibel, dimana tubuh tidak mampu

dalam mempertahankan keseimbangan dan metabolisme cairan dan elektrolit

(Smeltzer, 2012). Pada saat ini penyakit gagal ginjal kronis menduduki peringkat ke-

12 tertinggi angka kematian atau angka ke-17 angka kecacatan diseluruh dunia, serta

sebanyak 36 juta orang di dunia meninggal akibat gagal ginjal kronis (World Heatlh

Organization (WHO), 2015 dlm Unayah, 2016).


Berdasarkan data pasien di RSU Hasanah Graha Afiah Depok pada tahun 2017 terjadi

388 bayi baru lahir yang menderita hiperbilirubinemia dari total kelahiran 1648 bayi

atau sebesar 23,54%. Angka kejadian Hiperbilirubinemia sebesar 23,54% terbagi atas

: hiperbilirubinemia selama perawatan di Ruang Rawat Gabung sebelum bayi

dipulangkan ke rumah atau hari ketiga perawatan di Ruang Rawat Gabung dan saat

bayi kontrol yaitu 3 – 7 hari paska rawat inap. Melihat angka kejadian

hiperbilirubinemia di RSU Hasanah Graha Afiah hampir mendekati ¼ total bayi yang

lahir. Komplikasi yang dapat terjadi kern ikterus suatu kondisi perlengketan bilirubin

indirek pada otak yang ditandai dengan bayi tidak mau menghisap, letargi, gerakan

tidak menentu, kejang, tonus otot kaku, leher kaku dan bisa mengakibatkan kematian

pada bayi atau kecacatan dikemudian hari (Wijayaningsih,2013).

Melihat komplikasi yang akan terjadi penting bagi seorang perawat

memberikan pendidikan kesehatan pada ibu postpartum untuk mencegah kejadian

hiperbilirubinemia. Pendidikan Kesehatan dalam arti pendidikan secara umum adalah

segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain, baik individu,

kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkanoleh

pelaku pendidikn kesehatan. Hasil yang diharapkan dari suatu pendidikan kesehatan /

promosi kesehatan adalah perilaku kesehatan atau perilaku untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatan yang kondusif oleh sasaran dari promosi kesehatan.

(Notoadmojo,2012).

Pendidikan kesehatan pada ibu postpartum di ruang rawat gabung RSU

Hasanah Graha Afiah sudah dilakukan sebelum ibu post partum pulang dengan cara

pendidikan kesehatan secara berkelompok. Pendidikan kesehatan yang diberikan


meliputi cara pemberian ASI, cara memandikan bayi, cara perawatan tali pusat, cara

menjemur bayi dan tanda – tanda bahaya pada bayi. Tetapi untuk pencegahahan

hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir belum maksimal seperti kebutuhan cairan

pada bayi baru lahir sehingga banyak ibu postpartum yang tidak mengetahui

kebutuhan cairan pada bayi baru lahir, dan akibat ketidaktahuan ibu menyebakan bayi

hiperbilirubinemia.

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 10 Oktober 2018

di RSU Hasanah Graha Afiah tentang pengaruh pendidikan kesehatan tentang

Hiperbilirubinemia, dengan teknik wawancara kepada 10 ibu postpartum diketahui 7

dari 10 (70%) ibu post partum tidak mengetahui tentang Hiperbilirubinemia, ibu

hanya mengetahui penyebab Hiperbilirubinemia karena kurang jemur bayi dipagi hari,

sehingga ibu tidak mengetahui cara pencegahan, perawatan dan pengobatan

Hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir. Oleh karena itu perlu dilakukan pendidikan

kesehatan mengenai Hiperbilirubinemia terhadap ibu post partum sebagai usaha

mencegah terjadinya Hiperbilirubinemia.

Berdasarkan penjelasan diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

tentang “Pengaruh Pendidikan Kesehatan Pada Ibu Post Partum dengan Kejadian

Hiperbilirubinemia Pada Bayi Baru Lahir”.