Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan istilah yang sangat populer. Bahkan di
dalam dunia industri istilah tersebut lebih dikenal dengan singkatan K3 yang artinya
keselamatan, dan kesehatan kerja. Menurut Milyandra (2009) Istilah ‘keselamatan dan
kesehatan kerja’, dapat dipandang mempunyai dua sisi pengertian. Pengertian yang pertama
mengandung arti sebagai suatu pendekatan pendekatan ilmiah (scientific approach) dan disisi
lain mempunyai pengertian sebagai suatu terapan atau suatu program yang mempunyai tujuan
tertentu. Karena itu keselamatan dan kesehatan kerja dapat digolongkan sebagai suatu ilmu
terapan (applied science). Keselamatan dan kesehatan kerja sebagai suatu program didasari
pendekatan ilmiah dalam upaya mencegah atau memperkecil terjadinya bahaya (hazard) dan
risiko (risk) terjadinya penyakit dan kecelakaan, maupun kerugian-kerugian lainnya yang
mungkin terjadi. Jadi dapat dikatakan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu
pendekatan ilmiah dan praktis dalam mengatasi potensi bahaya dan risiko kesehatan dan
keselamatan yang mungkin terjadi.( Rijanto, 2010 ).
Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan permasalahan pemerintah, pengusaha,
pekerja dan keluarganya diseluruh dunia. Sementara beberapa industri bersifat lebih
berbahaya dari industri yang lain, kelompok pekerja migran dan pekerja berpenghasilan kecil
yang lain lebih banyak dihadapkan pada risiko mengalami kecelakaan-kecelakaan akibat
kerja dan kesehatan yang kurang baik, karena kemiskinan seringkali memaksa mereka untuk
menerima pekerjaan yang tidak aman. Berbagai pendekatan sering dilakukan dalam
menghadapi risiko dalam organisasi atau perusahaan seperti mengabaikan risiko sama sekali,
karena dianggap merupakan hal yang diluar kendali manajemen. Pendapat tersebut,
merupakan cara pendekatan yang tidak tepat, karena tidak semua risiko berada diluar
jangkauan kendali organisasi / perusahaan.
Menerapkan manajemen risiko, dalam pengertian umum, risiko tinggi yang dihadapi
sebenarnnya merupakan suatu tantangan yang perlu diatasi dan melalui suatu pemikiran
positif diharapkan akan memberikan nilai tambah atau imbalan hasil yang tinggi pula.
Dampak finansial akibat peristiwa kecelakaan kerja, gangguan kesehatan atau sakit akibat
kerja, kerusakan atau kerugian aset, biaya premi asuransi, moral kerja dan sebagainya, sangat
mempengaruhi produktivitas. Demikian juga aspek sosial dan kesesuaian penerapan
peraturan perundang undangan yang tercermin pada segi kemanusiaan, kesejahteraan dan

1
kepercayaan masyarakat memerlukan penyelenggaraan manajemen risiko yang dilaksanakan
melalui partisipasi pihak terkait. Manajemen risiko kesehatan di tempat kerja mempunyai
tujuan: meminimalkan kerugian akibat kecelakaan dan sakit, meningkatkan
kesempatan/peluang untuk meningkatkan produksi melalui suasana kerja yang aman, sehat
dan nyaman, memotong mata rantai kejadian kerugian akibat kegagalan produksi yang
disebabkan kecelakaan dan sakit, serta pencegahan kerugian akibat kecelakaan dan penyakit
akibat kerja.
Pelaksanaan K3 akan mewujudkan perlindungan terhadap tenaga kerja dari risiko
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang dapat terjadi pada waktu melakukan
pekerjaan di tempat kerja. Dengan dilaksanakannya perlindungan K3, diharapkan akan
tercipta tempat kerja yang aman, nyaman, sehat dan tenaga kerja yang produktif, sehingga
akan meningkatkan produktivitas kerja dan produktivitas perusahaan. Dengan demikian K3
sangat besar peranannya dalam upaya meningkatkan produktivitas perusahaan, terutama
dapat mencegah korban manusia. Dengan demikian untuk mewujudkan K3 perlu
dilaksanakan dengan perencanaan dan pertimbangan yang tepat, dan salah satu kunci
keberhasilannya terletak pada peran serta pekerja sendiri baik sebagai subyek maupun obyek
perlindungan dimaksud dengan memperhatikan banyaknya risiko yang diperoleh.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apa pengertian risiko, hazard, dan K3?
2. Apa saja komponen hazard dan K3?
3. Bagaimana cara manajemen risiko dan mengendalikan hazard di tempat kerja?
4. Bagaimana peran perawat K3?
5. Bagaimana faktor risiko dan hazard di tempat kerja?
6. Bagaimana risiko dan hazard dalam pengkajian dan perencanaan asuhan
keperawatan?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah :
1. Mengetahui pengertian risiko, hazard, dan K3
2. Mengetahui komponen hazard dan K3
3. Memahami cara mengendalikan hazard dan manajemen risiko di tempat kerja
4. Mengetahui peran perawat K3
5. Mengetahui faktor risiko dan hazard di tempat kerja
6. Mengetahui risiko dan hazard dalam pengkajian dan perencanaan asuhan keperawatan

2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Risiko
Risiko didefinisikan sebagai “kombinasi dari kemungkinan terjadinya peristiwa yang
berhubungan dengan cidera parah; atau sakit akibat kerja atau terpaparnya seseorang / alat
pada suatu bahaya ” (klausul 3.21). Jadi, bahaya adalah sifat dari proses yang dapat
merugikan individu, dan risiko adalah kemungkinan bahwa itu akan terjadi bersama dengan
seberapa parah akibat yang akan diterima. Risiko (Risk) adalah menyatakan kemungkinan
terjadinya kecelakaan/ kerugian pada periode waktu tertentu atau siklus operasi tertentu
(Tarwaka, 2008). Penilaian risiko adalah proses untuk menentukan pengendalian terhadap
tingkat risiko kecelakaan kerja/ penyakit akibat kerja. Penilaian risko adalah proses evaluasi
risiko-risiko yang diakibatkan adanya bahaya-bahaya, dengan memperhatikan kecukupan
pengendalian yang dimiliki, dan menentukan apakah risikonya dapat diterima atau tidak.
2.2 Prinsip Manajemen Risiko
Manajemen risiko mulai diperkenalkan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja
pada era tahun 1980-an setelah berkembangnya teori accident model dari ILCI dan juga
semakin maraknya isu lingkungan dan kesehatan. Manajemen risiko bertujuan untuk
meminimalisasi kerugian dan meningkatkan kesempatan ataupun peluang. Bila dilihat
terjadinya kerugian dengan teori accident model dari ILCI, maka manajemen risiko dapat
memotong mata rantai kejadian kerugian tersebut, sehingga efek dominonya tidak akan
terjadi. Pada dasarnya manajemen risiko bersifat pencegahan terhadap terjadinya kerugian
maupun ‘accident’.
Ruang lingkup proses manajemen risiko terdiri dari: penentuan konteks kegiatan yang
akan dikelola risikonya, identifikasi risiko, analisis risiko, evaluasi risiko, pengendalian
risiko, pemantauan dan telaah ulang, koordinasi dan komunikasi.
Pelaksanaan manajemen risiko haruslah menjadi bagian integral dari pelaksanaan
sistem manajemen perusahaan/ organisasi. Proses manajemen risiko Ini merupakan salah satu
langkah yang dapat dilakukan untuk terciptanya perbaikan berkelanjutan (continuous
improvement). Proses manajemen risiko juga sering dikaitkan dengan proses pengambilan
keputusan dalam sebuah organisasi.
Manajemen risiko adalah metode yang tersusun secara logis dan sistematis dari suatu
rangkaian kegiatan: penetapan konteks, identifikasi, analisa, evaluasi, pengendalian serta
komunikasi risiko. Proses ini dapat diterapkan di semua tingkatan kegiatan, jabatan, proyek,

3
produk ataupun asset. Manajemen risiko dapat memberikan manfaat optimal jika diterapkan
sejak awal kegiatan. Walaupun demikian manajemen risiko seringkali dilakukan pada tahap
pelaksanaan ataupun operasional kegiatan.
Terdapat empat prasyarat utama manajemen resiko, yaitu
1. Kebijakan Manajemen Risik
Eksekutif organisasi harus dapat mendefinisikan dan membuktikan kebenaran dari
kebijakan manajemen risikonya, termasuk tujuannya untuk apa, dan komitmennya. Kebijakan
manajemen risiko harus relevan dengan konteks strategi dan tujuan organisasi, objektif dan
sesuai dengan sifat dasar bisnis (organisasi) tersebut. Manejemen akan memastikan bahwa
kebijakan tersebut dapat dimengerti, dapat diimplementasikan di setiap tingkatan organisasi
2. Perencanaan dan Pengelolaan Hasil
a. Komitmen Manajemen
Organisasi harus dapat memastikan bahwa: sistem manejemen risiko telah dapat
dilaksanakan, dan telah sesuai dengan standar dan hasil/ performa dari sistem manajemen
risiko dilaporkan ke manajemen organisasi, agar dapat digunakan dalam meninjau (review)
dan sebagai dasar (acuan) dalam pengambilan keputusan.
b. Tanggung jawab dan kewenangan
Tanggung jawab, kekuasaan dan hubungan antar anggota yang dapat menunjukkan
dan membedakan fungsi kerja didalam manajemen risiko harus terdokumentasikan
khususnya untuk hal-hal sebagai berikut: tindakan pencegahan atau pengurangan efek dari
risiko. pengendalian yang akan dilakukan agar faktor risiko tetap pada batas yang masih
dapat diterima, pencatatan faktor-faktor yang berhubungan dengan kegiatan manajemen
risiko, rekomendasi solusi sesuai cara yang telah ditentukan, memeriksa validitas
implementasi solusi yang ada dan komunikasi dan konsultasi secara internal dan eksternal.
c. Sumber Daya Manusia
Organisasi harus dapat mengidentifikasikan persyaratan kompetensi sumber daya
manusia (SDM) yang diperlukan. Oleh karena itu untuk meningkatkan kualifikasi SDM perlu
untuk mengikuti pelatihan-pelatihan yang relevan dengan pekerjaannya seperti pelatihan
manajerial, dan lain sebagainya.
3. Implementasi Program
Sejumlah langkah perlu dilakukan agar implementasi sistem manajemen risiko dapat
berjalan secara efektif pada sebuah organisasi. Langkah-langkah yang akan dilakukan
tergantung pada filosofi, budaya dan struktur dari organisasi tersebut.
4. Tinjauan Manajemen

4
Tinjauan sistem manajemen risiko pada tahap yang spesifik, harus dapat memastikan
kesesuaian kegiatan manajemen risiko yang sedang dilakukan dengan standar yang
digunakan dan dengan tahap-tahap berikutnya.
Manajemen risiko adalah bagian yang tidak terpisahkan dari manajemen proses.
Manajemen risiko adalah bagian dari proses kegiatan didalam organisasi dan pelaksananya
terdiri dari mutlidisiplin keilmuan dan latar belakang, manajemen risiko adalah proses yang
berjalan terus menerus.
Elemen utama dari proses manajemen risiko:
a. Penetapan tujuan
Menetapkan strategi, kebijakan organisasi dan ruang lingkup manajemen risiko yang
akan dilakukan.
b. Identifkasi risiko
Mengidentifikasi apa, mengapa dan bagaimana faktor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya risiko untuk analisis lebih lanjut.
c. Analisis risiko
Dilakukan dengan menentukan tingkatan probabilitas dan konsekuensi yang akan
terjadi. Kemudian ditentukan tingkatan risiko yang ada dengan mengalikan kedua variabel
tersebut (probabilitas X konsekuensi).
d. Evaluasi risiko
Membandingkan tingkat risiko yang ada dengan kriteria standar. Setelah itu tingkatan
risiko yang ada untuk beberapa hazard dibuat tingkatan prioritas manajemennya. Jika tingkat
risiko ditetapkan rendah, maka risiko tersebut masuk ke dalam kategori yang dapat diterima
dan mungkin hanya memerlukan pemantauan saja tanpa harus melakukan pengendalian.
e. Pengendalian risiko
Melakukan penurunan derajat probabilitas dan konsekuensi yang ada dengan
menggunakan berbagai alternatif metode, bisa dengan transfer risiko, dan lain-lain.
f. Monitor dan Review
Monitor dan review terhadap hasil sistem manajemen risiko yang dilakukan serta
mengidentifikasi perubahan-perubahan yang perlu dilakukan.
g. Komunikasi dan konsultasi
Komunikasi dan konsultasi dengan pengambil keputusan internal dan eksternal untuk
tindak lanjut dari hasil manajemen risiko yang dilakukan.
Manajemen risiko dapat diterapkan di setiap level di organisasi. Manajemen risiko
dapat diterapkan di level strategis dan level operasional. Manajemen risiko juga dapat

5
diterapkan pada proyek yang spesifik, untuk membantu proses pengambilan keputusan
ataupun untuk pengelolaan daerah dengan risiko yang spesifik.
2.3 Pengertian, Jenis-Jenis dan Komponen Hazard
a. Pengertian Hazard (Bahaya)
Bahaya atau hazard merupakan segala hal atau sesuatu yang menpunyai kemungkinan
mengakibatkan kerugian baik pada harta benda, lingkungan, maupun manusia (Budiono,
2003). Menurut Suardi (2005), bahaya adalah sesuatu yang berpotensi menjadi penyebab
kerusakan. Ini dapat mencakup substansi, proses kerja dan atau aspek lainnya dari lingkungan
kerja.
Bahaya (hazard) adalah suatu keadaan yang dapat mengakibatkan cidera (injury) atau
kerusakan (damage) baik manusia, properti dan setiap kegiatan yang dilakukan tidak ada
satupun yang bebas dari risiko yang ditimbulkan dari bahaya, demikian pula kegiatan yang
dilakukan di industri yang dalam proses produksinya menggunakan proses kimia. Proses
kimia pada industri memberikan potensi bahaya yang besar, potensi bahaya yang ditimbulkan
disebabkan antara lain: penggunaan bahan baku, tingkat reaktivitas dan toksitas tinggi, reaksi
kimia, temperatur tinggi, tekanan tinggi, dan jumlah dari bahan yang digunakan. Potensi
bahaya yang ditimbulkan diperlukan upaya untuk meminimalkan terhadap risiko yang
diterima apabila terjadi kecelakaan (Baktiyar, 2009).
b. Jenis-jenis Hazard
Berdasarkan karakteristik dampak yang diakibatkan oleh suatu jenis bahaya maka
jenis bahaya dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu bahaya kesehatan kerja dan bahaya
keselamatan kerja. Bahaya kesehatan kerja dapat berupa bahaya fisisk, kimia, biologi dan
bahaya berkaitan dengan ergonomi, berdampak kepada kesehatan dan kenyamanan kerja,
misalnya penyakit akibat kerja, pemajanan terjadi pada waktu lama dan pada konsentrasi
rendah, Bahaya keselamatan (safety hazard) fokus pada keselamatan manusia yang terlibat
dalam proses, peralatan, dan teknologi. Dampak safety hazard bersifat akut, konsekuensi
tinggi, dan probabilitas untuk terjadi rendah. Bahaya keselamatan (Safety hazard) dapat
menimbulkan dampak cidera, kebakaran, dan segala kondisi yang dapat menyebabkan
kecelakaan di tempat kerja.
Jenis-jenis safety hazard, antara lain :
1. Mechanical Hazard, bahaya yang terdapat pada benda atau proses yang bergerak yang
dapat menimbulkan dampak, seperti tertusuk, terpotong, terjepit, tergores, terbentur,
dan lain-lain.
2. Electrical Hazard, merupakan bahaya yang berasal dari arus listrik.

6
3. Chemical Hazard, bahaya bahan kimia baik dalam bentuk gas, cair, dan padat yang
mempunyai sifat mudah terbakar, mudah meledak, dan korosif.
Bahaya kesehatan (health hazard) fokus pada kesehatan manusia. Bahaya keselamatan
kerja dapat berupa bahaya fisik, kimia, bahaya berkaitan dengan ergonomi, psikososial,
elektrik, berdampak pada keselamatan kerja, misalnya cedera, kebakaran, ledekan, pemajanan
terjadi pada waktu singkat.
1. Hazard fisik, misalnya yang berkaitan dengan peralatan seperti bahaya listrik,
temperatur ekstrim, kelembaban, kebisingan, kebisingan, radiasi, pencahayaan,
getaran, dan lain-lain.
2. Hazard Kimia ialah kecederaan akibat sentuhan dan terhidu bahan kimia. Contohnya
bahan-bahan kimia seperti asid, alkali, gas, pelarut, simen, getah sintetik, gentian
kaca, pelekat antiseptik, aerosol, insektisida, dan lain-lain.. Bahan-bahan kimia
tersebut merbahaya dan perlu diambil langkah - langkah keselamatan apabila
mengendalinya.
3. Hazard biologi, misalnya yang berkaitan dengan mahluk hidup yang berada
di lingkungan kerja seperti virus, bakteri, tanaman, burung, binatang yang dapat
menginfeksi atau memberikan reaksi negative kepada manusia.
4. Hazard psikososial, misalnya yang berkaitan aspek sosial psikologis
maupun organisasi pada pekerjaan dan lingkungan kerja yang dapat memberi dampak
pada aspek fisik dan mental pekrja. Seperti misalnya pola kerja yang tak beraturan,
waktu kerja yang diluar waktu normal, beban kerja yang melebihi kapasitas mental,
tugas yang tidak berfariasi, suasana lingkungan kerja yang terpisah atau terlalu ramai
dll sebagainya
5. Hazard ergonomi yang termasuk didalam kategori ini antara lain desain
tempat kerja yang tidak sesuai, postur tubuh yang salah saat melakukan
aktifitas, desain pekerjaan yang dilakukan, pergerakan yang berulang-ulang
6. Hazard Mekanis, semua jenis bahaya yang berasal dari benda-benda bergerak atau
bersifat mekanis. Contoh : mesin-mesin pemotong, bahaya getaran.
c. Komponen Bahaya
- Karakteristik material
- Bentuk material
- Hubungan pemajanan dan efek
- Jalannnya pemajanan dari proses individu
- Kondisi dan frekuensi penggunaan

7
- Tingkah laku pekerja
2.4 Cara Mengendalikan Hazard
Hazard atau bahaya dapat dikendalikan dengan cara sebagai berikut :
1. Eliminasi/penghilangan
2. Substansi/mengganti material yang lebih aman
3. Minimalisasi/pengurangan jumlah material yang digunakan
4. Enginering/disain/baik pada sumber, pemajanan, pemisahan jarak waktu, pemisahan
lokasi pekerja dengan pekerjaan
5. Administrasi : perubahan proses, rotasi kerja
6. Pelatihan
7. Pemberian alat pelindung diri/ APD
2.5 Faktor Risiko dan Hazard di Tempat Kerja
Dalam melakukan pekerjaan perlu dipertimbangkan berbagai potensi bahaya serta
resiko yang bisa terjadi akibat sistem kerja atau cara kerja, penggunaan mesin, alat dan bahan
serta lingkungan disamping faktor manusianya.
Istilah hazard atau potensi bahaya menunjukan adanya sesuatu yang potensial untuk
mengakibatkan cedera atau penyakit, kerusakan atau kerugian yang dapat dialami oleh tenaga
kerja atau instansi. Sedang kemungkinan potensi bahaya menjadi manifest, sering disebut
resiko. Baik “hazard” maupun “resiko” tidak selamanya menjadi bahaya, asalkan upaya
pengendaliannya dilaksanakan dengan baik. Ditempat kerja, kesehatan dan kinerja seseorang
pekerja sangat dipengaruhi oleh (effendi, Ferry. 2009: 233):
1. Beban kerja berupa beban fisik, mental dan sosial sehingga upaya penempatan pekerja
yang sesuai dengan kemampuannya perlu diperhatikan.Beban kerja yang terlalu berat
atau kemampuan fisik yang terlalu lemah dapat mengakibatkan seorang pekerja
menderita gangguan atau penyakit akibat kerja.
2. Kapasitas kerja yang banyak tergantung pada pendidikan, keterampilan, kesegaran
jasmani, ukuran tubuh, keadaan gizi dan sebagainya. Kapasitas kerja yang baik seperti
status kesehatan kerja dan gizi kerja yang baik serta kemampuan fisik yang prima
diperlukan agar seorang pekerja dapat melakukan pekerjaannya dengan baik.Kondisi
atau tingkat kesehatan pekerja sebagai modal awal seseorang untuk melakukan
pekerjaan harus pula mendapat perhatian. Kondisi awal seseorang untuk bekerja dapat
dipengaruhi oleh kondisi tempat kerja, gizi kerja, dll.
3. Lingkungan kerja sebagai beban tambahan, baik berupa faktor fisik, kimia, biologik,
ergonomik, maupun aspek psikososial.Kondisi lingkungan kerja (misalnya, panas,

8
bising, berdebu, zat-zat kimia, dll) dapat menjadi beban tambahan terhadap pekerja.
Beban-beban tambahan tersebut secara sendiri atau bersama-sama dapat menimbulkan
gangguan atau penyakit akibat kerja.
Kapasitas, beban, dan lingkungan kerja merupakan tiga komponen utama dalam
kesehatan kerja, dimana hubungan interaktif dan serasi antara ketiga komponen tersebut akan
menghasilkan kerja yang baik dan optimal (effendi, Ferry. 2009: 233).
Gangguan kesehatan pada pekerja dapat disebabkan oleh faktor yang berhubungan
dengan pekerjaan maupun yang tidak berhubungan dengan pekerjaan. Dengan demikian,
dapat dikatakan bahwa status kesehatan masyarakat pekerja dipengaruhi tidak hanya oleh
bahaya kesehatan di tempat kerja dan lingkungan kerja tetapi juga oleh faktor-faktor
pelayanan kesehata kerja, perilaku kerja, serta faktor lainnya (effendi, Ferry. 2009: 233)
2.6 Pengertian, Tujuan, dan Komponen K3
a. Pengertian K3
Kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah ilmu terapan yang bersifat multi
disiplin, bidang yang terkait dengan kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan manusia yang
bekerja di sebuah institusi maupun lokasi proyek. Menurut America Society of safety and
Engineering (ASSE) K3 diartikan sebagai bidang kegiatan yang ditujukan untuk mencegah
semua jenis kecelakaan yang ada kaitannya dengan lingkungan dan situasi kerja.
Pengertian K3 menurut undang-undang No.1 tahun 1970 (1) adalah upaya dan
pemikiran dalam menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani dan rohani manusia pada
umumnya dan pekerja pada khususnya serta hasil karya budaya 12 dalam rangka menuju
masyarakat adil dan makmur berdasarkan pancasila.
Menurut Ridley (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000), mengartikan
kesehatan dan keselamatan kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan aman
baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar
pabrik atau tempat kerja tersebut.
Secara umum keselamatan kerja dapat dikatakan sebagai ilmu dan penerapannya yang
berkaitan dengan mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan
tempat kerja dan lingkungan kerja serta cara melakukan pekerjaan guna menjamin
keselamatan tenaga kerja dan aset perusahaan agar terhindar dari kecelakaan dan kerugian
lainnya. Keselamatan kerja juga meliputi penyediaan APD, perawatan mesin dan pengaturan
jam kerja yang manusiawi.
b. Tujuan dan Komponen K3

9
Tujuan K3 adalah untuk mengamankan sistem kerja dan menjaga well being pekerja
agar kegiatan pekerjaan dapat berlangsung dengan baik, memelihara kesehatan dan
keselamatan lingkungan kerja. K3 juga melindungi rekan kerja, keluarga pekerja, konsumen,
dan orang lain yang juga mungkin terpengaruh kondisi lingkungan kerja, meningkatkan
kesejahteraan dan kenerja, menjamin kesehatan dan keselamatan orang lain dalam
lingkungan kerja, mengamankan sumber polutan, menyehatkan lingkungan kerja dan
mengefisienkan kegiatan.
Kesehatan dan keselamatan kerja cukup penting bagi moral, legalitas, dan finansial.
Semua organisasi memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa pekerja dan orang lain yang
terlibat tetap berada dalam kondisi aman sepanjang waktu.
Komponen K3 yang perlu diperhatikan, yaitu: Karakteristik pekerjaan/kegiatan (jenis,
ruang lingkup, lamanya kegiatan, tingkat kegiatan), pengorganisasian dan manajemen
pekerjaan, bahan dan alat yang digunakan melaksanakan kegiatan, karakteristik manusia yang
melaksanakan kegiatan.
Dalam K3 ada tiga norma yang selalu harus dipahami, yaitu :
1. Aturan berkaitan dengan keselamatan dan kesehtan kerja
2. Di terapkan untuk melindungi tenaga kerja
3. Resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja.
Sasaran dari K3 adalah :
1. Menjamin keselamatan operator dan orang lain
2. Menjamin penggunaan peralatan aman dioperasikan
3. menjamin proses produksi aman dan lancar.
2.7 Peran Perawat dalam K3
Secara umum, tujuan keperawatan kesehatan kerja adalah menciptakan tenaga kerja
yang sehat dan produktif. Tujuan hyperkes dapat diperinci sebagai berikut (Rachman. 1990):
1. Agar tenaga kerja dan setiap orang yang berada di tempat kerja selalu dalam keadaan
sehat dan selamat
2. Agar sumber-sumber produksi dapat berjalan secara lancar tanpa adanya hambatan.
Fungsi dan tugas perawat dalam usaha keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah
sebagai berikut (Effendy, Nasrul. 1998):
1. Fungsi perawat
a. Mengkaji masalah kesehatan
b. Menyusun rencana asuhan keperawatan pekerja
c. Melaksanakan pelayanan kesehatan dan keperawatan terhadap pekerja

10
d. Melakukan penilaian terhadap asuhan keperawatan yang dilakukan
2. Tugas perawat
a. Mengawasi lingkungan pekerja
b. Memelihara fasilitas kesehatan perusahaan
c. Membantu dokter dalam pemeriksaan kesehatan pekerja
d. Membantu melakukan penilaian terhadap keadaan kesehatan pekerja
e. Merencanakan dan melaksanakan kunjungan rumah dan perawatan di rumah kepada
pekerja dan keluarga yang mempunyai masalah kesehatan
f. Ikut berperan dalam penyelenggaraan pendidikan K3 terhadap pekerja
g. Ikut berperan dalam usaha keselamatan kerja
h. Memberikan pendidikan kesehatan mengenai KB terhadap pekerja dan keluarganya
i. Membantu usaha penyelidikan kesehatan pekerja
j. Mengkoordinasi dan mengawasi pelaksanaan K3.
2.8 Risiko dan Hazard K3 dalam Pengkajian Asuhan Keperawatan
Seluruh kegiatan yang dilakukan baik yang dilakukan baik perseorangan ataupun
organisasi atau bahkan perusahaan juga mengandung resiko. Semakin besar resiko yang
dihadapi pada umumnya dapat diperhitungkan bahwa pengembalian yang diterima juga akan
lebih besar. Pola pengambilan resiko menunjukkan sikap yang berbeda terhadap
pengambilan resiko. Resiko melekat dari tindakan pelayanan kesehatan dalam hal ini pada
saat melakukan pengkajian asuhan keperawatan adalah bahwa dalam kegiatan ini yang diukur
adalah upaya yang dilakukan. Pada proses pengkajian data, hal-hal yang dapat terjadi seperti:
a. Kurangnya informasi atau data yang diberikan keluarga pasien/ pasien tersebut
(menyembunyikan sesuatu hal) sehingga dalam proses pengkajian kurang lengkap.
Akibatnya perawat/dokter akan salah dalam memberikan perawatan sehingga
berbahaya terhadap pasien.
b. Tertularnya penyakit saat melakukan pengkajian dalam hal ini seperti kontak fisik
maupun udara. Pada saat perawat melakukan perawatan/pengkajian pasien maka
perawat mempunyai resiko tertular penyakit dari pasien.
c. Mendapatkan cacian atau pelecehan verbal saat melakukan pengkajian ataupun
pada proses wawancara. Dalam hal ini seperti halnya ketika perawat menanyakan
data/informasi pasien namun, keluarga/pasien menyembunyikannya namun demi
keselamatan pasieen, perawat tetap menanyakannya sehingga pasien/keluarga
pasien kurang menyukainya sehingga perawat mendapatkan cacian/perlakuan tidak
baik.

11
d. Mendapatkan kekerasan fisik dari pasien ataupun dari keluarga pasien pada saat
melakukan pengkajian/pemeriksaan. Misalnya, Pasien/keluarga yang tidak
menyukai proses perawatan/pengkajian dapat melakukan kekerasan fisik terhadap
perawatnya.
2.9 Risiko dan Hazard K3 dalam Perencanaan Asuhan Keperawatan
Kesalahan saat merencanakan pengkajian. Misalnya jika perawat salah dalam
mengkaji, maka perawat akan salah dalam memberikan proses perawatan/pengobatan yang
pada akhirnya akan mengakibatnya kesehatan pasien malah semakin terganggu. Hal lainnya
yang dapat terjadi yaitu jika perawat salah dalam merencanakan tindakan keperawatan maka
perawatnya juga akan mendapatkan bahaya seperti misalnya tertularnya penyakit dari pasien
karena kurangnya perlindungan diri terhadap perawatnya.
Dalam proses pengkajian sendriri, terdapat beberapa hal hang harus diperhatikan oleh
perawat mulai dari pemahaman akan pengertian pengkajian, tahap-tahap dalam melakukan
pengkajian, hingga metode yang digunakan dalam melakukan pengkajian. Dalam melakukan
pengkajian terhadap pasien, perawat harus tau akan adanya hazard/resiko yang mungkin
mereka akan dapatkan.
Upaya yang dapat dilakukan oleh perawat untuk meminimalisirkan resiko/hazard
yang akan terjadI, seperti
a. Batasi akses ke tempat isolasi
b. Menggunakan Alat Pelindung Diri ( APD) dengan benar
c. SOP memasang APD, jangan ada sedikitpun bagian tubuh yang tidak tertutup dengan
APD
d. Petugas diharapkan untuk tidak menyentuh bagian tubuh yang tidak tertutup APD
e. Membatasi sentuhan langsung ke pasien
f. Cuci tangan sebelum melakukan dan setelak melakukan tindakan
g. Bersihkan kaki/tangan setelah melakukan tindakan
h. Melakukan pemeriksaan secara berkala kepada perawat/pekerja
i. Hindari memegang benda yang mungkin terkontaminasi.

12
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan suatu program didasari pendekatan
ilmiah dalam upaya mencegah atau memperkecil terjadinya bahaya (hazard) dan risiko (risk)
terjadinya penyakit dan kecelakaan, maupun kerugian-kerugian lainya yang mungkin
terjadi. Hazard adalah sesuatu yang menimbulkan kerugian, kerugian ini meliputi pada
gangguan kesehatan dan cidera, hilangnya waktu kerja, kerusakan pada property, area atau
tempat kerja, produk atau lingkungan, kerugian pada proses produksi ataupun kerusakan –
kerusakan lainnya. Berdasarkan karakteristik dampak yang diakibatkan oleh suatu jenis
bahaya maka jenis bahaya dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu bahaya kesehatan kerja dan
bahaya keselamatan kerja. Sedangkan Resiko adalah ukuran kemungkinan kerugian yang
timbul dari sumber bahaya (hazard) tertentu yang terjadi. Menurut Kolluru (1996) ada 5
macam tipe risiko, yaitu : risiko keselamatan, risiko kesehatan, risiko lingkungan dan ekologi,
risiko finansial, dan risiko terhadap masyarakat.
Dengan melaksanakan K3 akan terwujud perlindungan terhadap tenaga kerja dari
risiko kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang dapat terjadi pada waktu melakukan
pekerjaan di tempat kerja. Dengan dilaksanakannya perlindungan K3, diharapkan akan
tercipta tempat kerja yang aman, nyaman, sehat dan tenaga kerja yang produktif, sehingga
akan meningkatkan produktivitas kerja dan produktivitas perusahaan. K3 sangat besar
peranannya dalam upaya meningkatkan produktivitas perusahaan, terutama dapat mencegah
korban manusia. Dengan demikian untuk mewujudkan K3 perlu dilaksanakan dengan
perencanaan dan pertimbangan yang tepat, dan salah satu kunci keberhasilannya terletak pada
peran serta pekerja sendiri baik sebagai subyek maupun obyek perlindungan dimaksud
dengan memperhatikan banyaknya risiko yang diperoleh.
3.2 Saran
Perawat K3 saat melakukan proses keperawatan harus benar-benar memperhatikan
hazard dan resiko yang kemungkinan terjadi di tempat kerja tersebut terhadap para pekerja.
Hal ini bertujuan untuk mencegah dan menghindari terjadinya kecelakaan kerja, seperti
terinfeksi penyakit, mendapatkan kekerasan fisik/verbal saat mengkaji pasien, dan
mendapatkan informasi yang tidak sesuai dari pasien. Salah satu cara untuk menghindari dan
mencegah terjadinya kecelakaan kerja, maka disarankan untuk menggunakan APD yang
sesuai.

13