Anda di halaman 1dari 3

BAB II

PEMBAHASAN

Lemak di dalam bahan makanan tidak akan dicerna di dalam


rongga mulut, karena tidak ada enzim yang dapat memecah
lemak. Lemak akan diserap tubuh melalui proses pencernaan yang
berlangsung di usus halus (duodenum).

Setelah melewati mulut dan lambung, bahan makanan akan masuk


ke dalam usus halus (duodenum). Di sinilah lemak akan dicerna dan
diserap oleh tubuh. Di dalam duodenum, lemak, khususnya
Trigliserida dan Fosfolipid akan dipecah oleh enzim lipase yang
disekresikan oleh penkreas menjadi asam lemak dan monogliserida.
Hati akan menyekresikan cairan empedu menuju kantung empedu
(Gallbladder), dan kantung empedu akan menyekresikan cairan
empedunya menuju duodenum. Cairan empedu tidak
mengandung enzim untuk memecah lemak, namun cairan empedu
mengandung garam empedu yang dapat mengemulsikan lemak
dan asam lemak di dalam duodenum.

Garam empedu, asam lemak dan monogliserida bersatu


membentuk “Micelle” guna membawa asam lemak dan
monogliserida ke dinding usus. Setelah Micelle tiba di dinding usus,
garam empedu akan melepaskan diri dan kembali menuju usus
halus dan akan diserap oleh bagian akhir usus halus (ileum) dan
akan kembali menuju hati melalui Vena Porta dan akan disekresikan
kembali menuju Gallbladder. Sedangkan asam lemak dan
monogliserida yang telah masuk ke dalam sel intestinal, akan
membentuk rantai panjang dan terdifusi. Siklus empedu tersebut
dinamakan Enterohepatic Circulation. Asam lemak dan
monogliserida yang telah terdifusi akan membentuk trigliserida
kembali. Sebagian besar trigliserida, kolesterol dan fosfolipid di
dalam sel intestinal akan berikatan dengan protein membentuk
Kompleks Lipoprotein. Setelah 1 jam hingga puncaknya 5 jam,
lemak dalam makanan akan terserap ke daam darah dalam
bentuk Chylomicron, yang merupakan ikatan trigliserida, kolesterol
dan fosfolipid dengan protein. Efisiensi penyerapan trigliserida pada
orang dewasa sebesar 95%, sedangkan pada anak-anak sebesar 85%
- 90%.

Kolesterol bebas dan asam lemak bebas yang dihasilkan dari


hidrolisis cholesteryl ester dimasukkan ke dalam misel usus. Efisiensi
penyerapan diatur oleh keseimbangan antara penggabungan
kolesterol ke dalam partikel chylomicron yang baru disintesis dan
pengedaran kolesterol yang keluar dari enterosit kembali menuju
duodenum. Efisiensi penyerapan kolesterol dan kolesteril ester
mempunyai besaran yang sama, yaitu skitar 40% - 60%.

BAB III

KESIMPULAN

Penyerapan lemak di dalam tubuh melibatkan proses yang


kompleks dari duodenum hingga diserap ke dalam darah dan sel-
sel tubuh. Lemak akan diekskresikan sebagai bahan sisa CO2 dan
H2O. Lemak di dalam makanan tidak akan dicerna dan diserap
seluruhnya oleh tubuh, melainkan ada sebagian yang terbuang
melalui tinja. Penyerapan lemak mudah terganggu pada berbagai
penyakit gastrointestinal, di antaranya pada penyakit yang disertai
diare, seperti Spruetropik.