Anda di halaman 1dari 60

BAB 1

FUNGSI MANAJEMEN

1.1 Definisi dan Prinsip Fungsi

Fungsi atau 'Function' dalam kata sifat,an activity or purpose natural to

or intended for a person or thing. Maksudnya disini, fungsi adalah sebuah

aktivitas yang memiliki tujuan yang ditujukan untuk seseorang atau sesuatu hal.

Semua orang dan semua hal di kehidupan ini mempunyai fungsi nya masing-

masing, bahkan hal kecil yang jarang diketahui sesorang boleh jadi mempunyai

fungsi yang menguntungkan kehidupan di sekitarnya.

Dalam kata benda, work or operate in a proper or particular way. Di

sini maksudnya adalah pekerjaan atau pengoperasian dengan cara yang tepat dan

juga praktis. Every single thing in this world have its own way to operate

something, depend on what its goals and its ability to reach the goals. Jika

semua hal di kehidupan ini mempunyai fungsi atau keguanaannya masing-

masing, maka setiap hal tersebut juga dapat digunakan atau dioperasikan dengan

kaidahnya masing-masing yang telah ditetapkan. Seperti gadget, mempunyai

banyak macam jenis yang fungsi dan cara pengoperasiannya berbeda. Memakan

jenis makanan yang berbeda pun mempunyai cara makan yang berbeda pula,

seperti memakan nasi menggunakan sendok, memakan sushi menggunakan

garpu atau sumpit.

A Function is a group of a similar activities yang artinya fungsi adalah

kumpulan dari aktivitas yang sama. Maksudnya adalah aktivitas yang sama itu

1
dapat menjadi sebuat kesatuan dan dapat mendukung jalannya suatu proses guna

mencapai sebuah tujuan yang telah ditetapkan. Dalam suatu proses jika di

dalamnya tidak ada sesuatu yang berfungsi, maka suatu proses tidak akan

berjalan dengan efektif dan tidak bisa mencapai tujuan yang telah ditetapkan

dengan maksimal.

Fungsi juga dapat diartikan sebagai tugas atau kewajiban yang harus

dikerjakan, maksudnya kita harus mengerjakan fungsi dari suatu objek agar

dapat mendapatkan hasil yang maksimal. Namun, dalam menjalankan suatu

fungsi, tidak ada tahapan khusus yang harus berurutan. Meskipun tidak ada

tahapan yang beraturan, tetapi suatu fungsi itu tetap harus dikerjakan. Without

any function, something will be useless and will be meaningless for the entire life.

1.2 Definisi Fungsi Manajemen

Arti dari fungsi itu sendiri adalah kegunaan, tugas atau kewajiban yang

harus dikerjakan, serta sekelompok aktivitas yang serupa. Sehingga pengertian

dari fungsi manajemen adalah peran dalam mencapai tujuan dari manajemen.

Fungsi manajemen juga membantu jalannya proses manajemen agar dapat

menghasilkan output yang baik. Selain itu, fungsi manajemen juga bisa disebut

elemen-elemen dasar yang akan selalu ada dan melekat dalam proses manajemen

yang dijadikan acuan oleh manajemen dalam melaksanakan kegiatan untuk

mencapai tujuan.

Beberapa ahli manajemen mengklasifikasikan fungsi manajemen menjadi

empat, lima, sampai tujuh fungsi manajemen. Menurut Henry Fayol (1916),

2
fungsi manajemen dibagi menjadi empat; planning, organizing, commanding,

coordinating, dan cotrolling. Sedangkan menurut Lyndall Urwick (1944), fungsi

manajemen dibagi menjadi tujuh; planning, organizing, commanding,

coordinating, communicating, forecasting, dan investigating. Ada pula menurut

E.F.L Brech (1975) yang mengemukakan bahwa fungsi manajemen terdiri dari

lima fungsi yaitu planning, organizing, motivating, coordinating, contolling.

Selanjutnya menurut Koontz dan O’Donnell (1972), fungsi manajemen dibagi

menjadi lima; planning, organizing, staffing, directing (leading), controlling.

Lalu yang terakhir, Luther Gullick (1935) mengemukakan fungsi manajemen

yang biasa disingkat POSDCORBE; planning, organizing, staffing, directing,

coordinating, reporting, budgeting, dan evaluating. Dari semua teori yang sudah

dikemukakan, teori Luther Gullick masih sering digunakan hingga kini.

1.3 Unsur-unsur Fungsi Manajemen

1.3.1 PlanningSebagai Fungsi Manajemen

a. Definisi

Terdapat berbagai definisi planning, yang pertama yaitu menurut

Kroontz and O’Donnel: “Planning is deciding in advance what to do,

how to do, when to do it. It bridges the gap from where we are and to

where we want to go. It is essence the exercise”. Selanjutnya menurut MS

Hardly, “planning is deciding in advance what is to be done. It involes

the selection of objectives, politics, procedures, and programmes from

among alternatives”. Selain itu planning ialah menetapkan tujuan dan

3
sasaran serta mengatur bagaimana tujuan dan sasaran tersebut dapat

dicapai.

Terdapat perbedaan planning dalam proses manajemen dan fungsi

manajemen yaitu tujuan yang ingin dicapai. Planning dalam fungsi

bertujuan untuk merencanakan apa yang akan direncanakan guna

mencapai tahapan proses (POAC).

b. Kegunaan

Terdapat beberapa kegunaan planning dalam fungsi manajemen, antara

lain untuk menetapkan tujuan untuk tahap proses dari sebuah sistem,

mengidentifikasi dan memberdayakan sumber daya, dan menentukan

kegiatan apa yang diperlukan agar tercapainya tahapan proses tersebut.

c. Prinsip

a) Principle of contribution: salah satu kriteria dasar untuk

melakukan planning ialah mencapai tujuan

perusahaan/organisasi. Maka dari itu, jumlah kontribusi yang

memadai merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuan

organisasi/perusahaan.

b) Principle of sound and consistent permising: merupakan prinsip

mengenai lingkungan yang ada sehingga membantu dalam

mencapai tujuan perusahaan/organisasi.

c) Principle of limiting factors: adanya faktor pembatas; sumber

daya manusia, dana, kebijakan, dan lain-lain. Planning yang

4
melihat prinsip ini dapat mengatasi masalah secara efisien untuk

mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

d) Principle of commitment: ketersediaan dalam melakukan

perencanaan yang telah disepakati.

e) Principle of coordinated planning: rencana dibagi menjadi dua

yaitu rencana jangka panjang dan jangka pendek. Kedua rencana

tersebut harus dikoordinasikan agar berjalan selaras untuk

mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

f) Principle of timing: perencanaan dalam jangka waktu panjang

dan pendek harus diatur secara sistematis dan dalam hierarki

waktu.

g) Principle of efficiency: meminimalisir pengeluaran biaya dan

pemanfaatan sumber daya yang harus efisien harus diperhatikan

dalam perencanaan

h) Principle of flexibility: memiliki fleksibilitas dalam menghadapi

perubaha keadaan lingkungan.

i) Principle of navigational change: diharuskan adanya tinjauan

secara berkala sehingga dapat mencapai tujuan dengan efisien

j) Principle of acceptence: rencana harus dipahami oleh manajer

maupun anggota perusahaan/organisasi agar tujuan yang telah

ditetapkan dapat dicapai

d. Prasyarat

1) Menentukan apa yang ingin dicapai melalui perencanaan (defining)

5
2) Menetapkan bagaimana sumber daya manusia dan pekerjaannya

terorganisir (organizing)

3) Memperkirakan pekerjaan apa yang harus diselesaikan, berapa

lama, dan sampai kapan. (forecasting)

4) Menentukan urutan dan waktu skala operasi (prioritizing)

5) Menyusun kegiatan dan acara yang dibutuhkan agar dihasilkan

tepat waktu (programming)

6) Menentukan seberapa banyak dan jenis sumber daya manusia yang

dibutuhkan (workforce planning)

7) Aspek lain juga harus direncanakan, diukur, dan dikendalikan

(establishing detailed perfomance requirements)

8) Bagaimana suatu pekerjaan harus diselesaikan (procedure

planning)

1.5.2 OrginizingSebagai Fungsi Manajemen

a. Definisi

Meurut Louise A. Allen, “organization involves identification and

grouping of activities to be performed and dividing them among the

individuals and creating authority and resposibility relationship among

them for the accomplishment of organizational objectives.”. Dalam

fungsi manajemen, pengorganisasian ialah proses pengelompokan atau

pembagian serta mengkoordinasikan upaya sumber daya manusia dan

sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan tertentu. Karena ini

organizing disini merupakan salah satu unsur dari fungsi manajemen,

6
maka tujuan yang dicapai ialah tahapan dari proses manajemen (POAC)

masing-masing.

Dalam pengorganisasian dikenal dengan organizational culture

dan organizational behaviour. Menurut Hill dan Jones, “organizational

culture as the spesific collection of values and norms that are shared by

people and groups in an organization and that control the way they

interact with each other and with stakeholder outside the organization”.

Budaya organisasi (organizational culture) dianggap sebagai sesuatu

yang tersirat dalam kehidupan sosial dan pola asumsi bersama yang

dianggap sah dan diajarkan kepada anggota baru sebagai cara yang

benar.

Perilaku organisasi (organizational behaviour) adalah sebuah

studi yang terkait dengan dampak perilaku individu, kelompok dan

struktur organisasi terhadap peningkatan efektivitas organisasi

( Stephen P. Robbin, 2013). Organizational Behaviour melibatkan

integrasi studi yang dilakukan berkaitan dengan ilmu perilaku seperti

psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, psikologi sosial dan ilmu

politik. Oleh karena itu, perilaku organisasi adalah bidang studi yang

komprehensif dimana individu, kelompok dan struktur organisasi

dipelajari dalam kaitannya dengan pertumbuhan organisasi dan budaya

organisasi, di lingkungan. Organizational behaviour mempelajari tiga

faktor penentu perilaku di organisasi yaitu individu, kelompok dan

struktur organisasi.

7
b. Kegunaan

Terdapat beberapa fungsi organizing, yang pertama ialah untuk

memfasilitasi pola komunikasi. Dengan memfasilitasi pola komunikasi

maka kelompok yang memiliki karakter yang sama dapat menyelesaikan

masalah lebih efektif. Lalu, pengorganisasian dilakukan agar dapat

mengalokasikan wewenang dan tanggung jawab. Dan dapat menyediakan

kerengka kerja agar lebih teroriganisir.

c. Prinsip

Pengorganisasian dapat dilakukan secara efisien jika manajer

memiliki pedoman tertentu sehingga mereka dapat mengambil

keputusan dan dapat bertindak. Oleh karena itu dibutuhkan prinsip-

prinsip pengorganisasian yaitu:

1. Principle of Specialization

Prinsip spesialisasi ini dilakukan melalui pembagian-

pembagian kerja yang telah disesuaikan. Melalui spesialisasi ini

akan menghasilkkan cara kerja organisasi yang efektif.

2. Principle of Functional Definition

Pada prinsip fungsional ini dapat dilakukan dengan mendefinisikan

tugas, tanggung jawab, wewenang dan hubungan orang terhadap

satu sama lain. Sehingga terdapat koordinasi yang jelas antara satu

dengan yang lainnya.

3. Principles of Span of Control/Supervision

8
Menurut prinsip ini, rentang kendali adalah rentang pengawasan

yang menggambarkan jumlah karyawan yang dapat ditangani dan

dikendalikan secara efektif oleh seorang manajer tunggal. Menurut

prinsip ini, seorang manajer harus dapat menangani jumlah

karyawan yang berada dalam pengawasannya.

4. Principle of Scalar Chain

Rantai skalar adalah rantai komando atau otoritas yang berasal dari

atas ke bawah. Dengan rantai otoritas yang tersedia, sumber daya

yang diminimalisir, komunikasi dipengaruhi, tumpang tindih

pekerjaan dihindari dan organisasi mudah terjadi. Sebuah rantai

skalar komando memfasilitasi alur kerja dalam suatu organisasi

yang membantu dalam pencapaian hasil yang efektif

5. Principle of Unity of Command

Pada prinsip ini menjelaskan tentang hubungan atasan dan

karyawan. Seorang karyawan memiliki tanggung jawab kepada

atasannya. Kesatuan komando membantu dalam kombinasi yang

efektif dari sumber daya, yaitu, fisik, sumber daya keuangan yang

membantu dalam mudah koordinasi dan, karena itu, organisasi

yang efektif.

d. Prasyarat

1) Consideration of objectives

2) Identification and grouping of activities

3) Assignment of duties

9
4) Delegation of authority

1.5.3 StaffingSebagai Fungsi Manajemen

a. Definisi

Staffing ialah penyusunan personalia pada suatu organisasi sejak

dini, serta perekrutan dan pemilihan kandidat yang cocok untuk

pekerjaan yang telah tersedia dan memfasilitasi orientasi dan pelatihan

mereka, untuk tetap baik dalam lingkungan pekerjaannya.

Proses Penyusunan Personalia ialah Kegiatan-kegiatan

penyusunan personalia yang berhubungan dengan tugas-tugas

kepemimpinan, motivasi, dan komunikasi sehingga pembahasannya

sering ditempatkan sebagai bagian dari fungsi pengarahan. Fungsi

penyusunan personalia harus dilaksanakan oleh semua manajer, baik bagi

yang mengolah perusahaan besar ataupun ataupun menjadi pemilik

perusahaan kecil.

b. Kegunaan

Penarikan dan Seleksi karyawan ialah suatu proses pencarian dan

pengikatan para calon karyawan atau pelamar calon karyawan yang

mampu untuk melamar sebagai karyawan proses ini di mulai ketika para

pelamar di cari dan berakhir bila lamaran atau aplikasi mereka di

serahkan dan hasilnya setelah para calon karyawan di seleksi.

Pelatihan dan Perkembangan Karyawan adalah untuk

memperbaiki efektivitas kerja karyawan dan mencapai hasil-hasil kerja

10
yang telah ditetapkan. Sedang pengembangan lebih luas ruang

lingkupnya dalam meningkatkan kemampuan, sikap dan sifat-sifat

kepribadian serta penyesuaian diri dengan kemajuan teknologi.

c. Prinsip

Prinsip Staffingoleh McFarland (1974) seperti berikut:

1. Principle of the purpose of Staffing

Menjadi personil yang mampu dan ingin melanjutkan peran

organisasi adalah tujuan utama dari staf manajerial. Hal ini

membuktikan bahwa kurangnya kualitas menyebabkan adanya

kegagalan.

2. Principle of Staffing

Kualitas manajerial tergantung pada kejelasan mendefinisikan

peran organisasi dan kebutuhan manusia, metode yang baik dari

penilaian manajerial dan pelatihan yang diberikan kepada

karyawan.

3. Principle of job definition

Identifikasi yang tepat dari hasil manajerial yang dibutuhkan

untuk menentukan besarnya posisi mereka. Peran orang dalam

organisasi memiliki berbagai fitur, seperti gaji, status, kekuasaan,

arah dan kemungkinan prestasi yang membuat manajer agar bisa

berfungsi dengan baik

4. Principle of Open Competition

11
Dorongan kompetisi terbuka antara kandidat untuk posisi

manajemen sepenuhnya tergantung dari perusahaannya. Banyak

perusahaan telah memilih manajer dengan kemampuan memadai.

Kandidat yang baik yang dapat dipilih dari luar harus lebih

disukai daripada mempromosikan kandidat dalam perusahaan

karena tekanan sosial. Prinsip ini dapat digunakan agar

perusahaan mengevaluasi karyawannya dengan menyediakan

peluang untuk pertumbuhan.

5. Principle of Management Training and Development

Penting untuk mengintegrasikan pelatihan manajerial agar

tercapai program dan kegiatan pembangunan yang efektif.

Menurut pendekatan sistem, fungsi manajerial, tujuan dari

perusahaan dan persyaratan profesional manajer berkorelasi

dengan upaya pelatihan dan pertumbuhan.

6. Principle of Training Objectives

Tujuan pelatihan harus dinyatakan dengan benar untuk mencapai

hal yang diinginkan. Analisis kebutuhan pelatihan diperlukan

untuk membantu efektivitas sebagai dasar untuk memberikan arah

untuk pembangunan. Prinsip ini berfokus pada pentingnya

pelatihan untuk kebutuhan perusahaan dan pengembangan

individu.

7. Principles of Ongoing Development

12
Manajer harus berlatih dalam hal pengembangan diri sebagai

proses yang berkelanjutan untuk memenuhi komitmen perusahaan

terhadap keunggulan manajemen. Manajer harus terus menerus

belajar di hari lingkungan yang kompetitif. Pengetahuan dan

pendekatan manajerial harus terus diperbarui dan harus

ditingkatkan untuk mendapatkan hasil yang positif dalam suatu

perusahaan.

d. Prasyarat

Metode Dalam Pengembangan Karyawan Metode on the job

yaitu :

1. Coaching dimana atasan memberikan bimbingan dan pengarahan

langsung kepada bawahan dalam pelaksanaan pekerjaan rutin

mereka.

2. Planned progression atau pemindahan karyawan dalam saluran-

saluran yang ditentukan melalui tingkatan-tingkatan organisasi

yang berbeda.

3. Rotasi jabatan pemindahan karyawan melalui jabatan- jabatan

yang bermacam macam dan berbeda-beda.

4. Penugasan sementara, di mana bawahan ditempatkan pada posisi

manajeman tertentu utuk jangka waktu yang ditetapkan.

5. Sistem-sistem penilaian presentasi bersifat formal.

Metode Dalam Pengembangan Karyawan Metode off the job

yaitu:

13
1. Program-program pengembangan eksekutif di universitas-

universitas atau lembaga-lembaga pendidikan lainnya, di mana

para manajer berpartisipasi dalam program-program yang dibuka

untuk umum melalui penggunaan analisa kasus, simulasi dan

metode-metode pengajaran lainnya.

2. Latihan laboratorium, di mana orang belajar menjadi sensitive

(peka) terhadap orang lain, lingkungan dan sebagainya.

3. Pengembangan organisasi, yang menekankan perubahan,

pertumbuhan, dan pengembangan keeluruhan organisasi.

1.5.4 DirectingSebagai Fungsi Manajemen

a. Definisi

Menurut Koonz and O’Donnel, “Direction is a complex function that

includes all those acivities which are designed to encourage subordinates

to work effectively and efficiently in both the short and long term”.

Selain itu, menurut Theo Haimann, “Directing consists of the process and

techniques utilized in issuing instructions and making certain that

operations carried on of originally planned”. Jadi, directing merupakan

aktivitas, proses, atau teknik yang dirancang untuk mendorong sumber

daya manusia (bawahan) agar bekerja secara efektif dan efisien serta

memastikan agar operasi yang dilakukan sesuai dengan perencanaan awal

yaitu mencapai tujuan.

b. Kegunaan

1) Memberikan perintah kepada bawahan

14
2) Memimpin dan memotivasi mereka

c. Prinsip

Prinsip dari directingakan sangat berguna bagi manajer. Prinsip

directing menurut Veerabhadrappa Havinal (2009):

1) Harmony of objectives

Individu dan kelompok memiliki tujuan masing-masing, dan

manajemen harus bisa mengkoordinasikan tujuan indivitu dan

tujuan organisasi.

2) Unity of direction or command

Karyawan harus mendapat perintah hanya dari satu atasan saja, jika

tidak, akan terjadi kebingungan antar karyawan dan akan

menyebabkan kekacauan.

3) Direct supervision

Manajer harus bisa berhubungan langsung dengan bawahan mereka.

Komunikasi secara langsung seperti tatap muka dan melakukan

kontak fisik dengan bawahan dapat mematiskan arahan yang

diberikan berhasil atau dapat diterima dengan baik.

4) Effective communication

15
Atasan harus memastikan bahwa rencana, kebijakan, tanggung

jawab dan perintah dipahami oleh bawahan dengan arahan yang

benar.

5) Follow through

Manajer harus memberikan arahan secara terus menerus, dan

bahawah harus mengikti perintah dari atasannya. Manajemen harus

memperhatikan apakah bawahan mengikuti perintah dan apakah

mereka menghadapi kesulitan dalam melakukan perintah atau

instruksi.

d. Prasyarat

Agar directing dalam fungsi manajemen dapat berjalan dengan baik,

bawahan harus menerima instruksi hanya dari satu manajer agar tidak

terjadi miskomunikasi terhadap bawahan yang lainnya. Manajer juga

harus berkomunikasi secara langsung dengan bawahannya agar directing

berhasil. Selain itu, manajer juga harus memiliki jiwa kepemimpinan

seperti berinisiatif serta sebagai penengah didalam organisasinya.

Manajer juga harus daoat memotivasi para bawahannya agar

bawahan/karyawan tersebut dapat bekerja dengan lebih baik.

1.5.5 CoordinatingSebagai Fungsi Manajemen

a. Definisi

Menurut Hani Handoko, pengkoordinasian adalah pengintergrasian

tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan pada satuan-satuan yang terpisah

16
(departemen tau bidang-bidang fungsional) suatu organisasi untuk mencapai

tujuan organisasi yang efisien.

b. Kegunaan

Pengkoordinasian dibutuhkan dalam fungsi manajemen agar tidak

terjadi kekembaran atau kekesongan pekerjaan. Prasarana dan sarana pun

akan lebih efektif digunakan untuk mencapai tujuan. Selain itu,

pengkoordinasian juga berfungsi agar semua unsur manajemen serta masing-

masing individu membantu dalam tercapainya tujuan organisasi.

c. Prinsip

Prinsip koordinasi lain menurut Mary Follet (2013) dalam studi

manajemen klasik terdapat empat prinsip, yaitu:

1. Early Stage

Proses koordinasi harus dilakukan pada tahap awal proses

manajerial. Koordinasi harus dimulai sejak proses perencanaan

sehingga dapat menghasilkan perencanaan dan implementasi yang

baik. Jika koordinasi selalu dilakukan di awal maka semua fungsi

manajemen yaitu planning, organizing, actuating, dan controlling

dapat terlaksana dengan baik. Proses koordinasi yang baik dapat

membuat tujuan organisasi dapat dicapai dengan lebih mudah dan

cepat.

2. Continuity

17
Koordinasi merupakan sebuah proses yang berkelanjutan atau

berkesinambungan. Proses koordinasi dimulai sejak membentuk

organisasi sampai organisasi tersebut berjalan.

3. Direct contact

Proses koordinasi dapat berjalan dengan baik karena adanya

komunikasi langsung antara anggota organisasi. Seluruh manajer

harus mampu berkomunikasi langsung dengan baik dengan

bawahannya sehingga tercipta hubungan yang baik. Kontak

langsung ini sangat penting untuk menghindari kesalahpahaman

dan perselisihan antara manajer dan anggota organisasi lainnya,

sehingga manajer dapat mengkoordinasi berbagai aktivitas

anggotanya secara efektif dan efisien.

4. Reciprocal relation

Semua faktor dalam organisasi saling bergantung dan

berhubungan. Setiap keputusan dan tindakan seseorang di dalam

organisasi akan mempengaruhi situasi keseluruhan organisasi.

Oleh karena itu, sebelum mengambil keputusan atau melakukan

tindakan harus mempertimbangkan efek yang muncul pada orang

lain atau departemen lain apabila keputusan atau tindakan tersebut

diterapkan. Harapannya manajer atau anggota lainnya mengambil

keputusan atau tindakan sepihak, sehingga koordinasi dapat

dilakukan dengan lebih mudah.

d. Prasyarat

18
1) Memberikan keterangan langsung dan secara bersahabat

2) Mengusahakan agar pengetahuan dan penerimaan tujuan tidak

menurut masing-masing individu, melainkan tujuan bersama

3) Mendorong para individu agar dapat mengemukakan ide,

menyampaikan saran, dan bertukar pikiran

4) Mendorong individu dalam perumusan penciptaan sasaran

5) Membina hubungan yang baik antar individu

6) Manajer sering melakukan komunikasi informal dengan bawahan.

1.5.6 Reportingsebagai Fungsi Manajemen

a. Definisi

Reporting ialah penyampaian perkembangan atau hasil kegiatan

ataupun pemberian keterangan mengenai segala hal yang berkaitan

dengan tugas dan fungsi-fungsi kepada pejabat atau atasan yang lebih

tinggi, baik secara lisan maupun tulisan. Sehingga, bagi orang yang

menerima laporan dapat memperoleh gambaran tentang pelaksanaan

tugas yang akan dilakukan oleh pemberi laporan.

Selain itu, laporan merupakan catatan yg memberikan informasi

tentang kegiatan tertentu dan hasilnya disampaikan ke pihak yang

berwenang atau berkaitan dengan kegiatan tertentu. Laporan dapat

berupa bentuk penyampaian informasi yang didukung oleh data yang

lengkap sesuai dengan fakta sehingga informasi yang diberikan dapat

dipercaya serta mudah dipahami.

19
Laporan merupakan suatu bentuk pertanggungjawaban atas suatu

tindakan atau kegiatan yang dilakukan. Laporan adalah suatu cara

komunikasi di mana penulis menyampaikan informasi kepada seseorang

atau suatu badan karena tanggung jawab yang dibebankan kepadanya.

Laporan berisi informasi yang didukung oleh data yang lengkap sesuai

dengan fakta yang ditemukan. Data disusun sedemikian rupa sehingga

akurasi informasi yang diberikan dapat dipercaya dan mudah dipahami.

b. Kegunaan

Pelaporan adalah aktivitas yang berlawanan arah dari pengawasan,

Jika pengawasan dilakukan oleh pihak atasan untuk mengetahui semua

hal yang menyangkut pelaksanaan kerja bawahan, maka pelaporan

merupakan jawaban dari kegiatan pengawasan tersebut

Pelaporan tidak dibawa langsung oleh atasan pada waktu

mengadakan pengawasan, tetapi “diantar” oleh bawahan baik dibawa

sendiri maupun dikirim. Laporan dibuat oleh semua personal yang

mendapat tugas dari atasan. Laporan bukan merupakan monopoli para

atasan saja. Karena atasan harus membuat laporan kepada atasannya lagi.

c. Prinsip

1. Arus Tepat Informasi: Informasi tersebut merupakan aliran bebas

dari tempat yang tepat untuk pengguna akhir yang tepat dari

laporan. Oleh karena itu, informasi yang harus disajikan dalam

format yang tepat dan pada waktu yang tepat sehingga membantu

20
dalam perencanaan dan koordinasi. Aliran laporan sebaiknya

tidak ditunda pada biaya apapun. Informasi dapat mengalir ke

atas, ke bawah atau samping dalam sebuah organisasi. Informasi

mengalir sebagai penyamping dari satu manajer yang lain pada

tingkat yang sama melalui pertemuan, diskusi dll.

2. Tepat Waktu: Tujuan dari penyusunan laporan ini mengendalikan

kegiatan yang tidak menguntungkan. Oleh karena itu, laporan

harus disampaikan pada waktu yang diperlukan pada biaya

apapun. Jika tidak begitu, tidak ada penggunaan menyiapkan

laporan tersebut. Selain itu, upaya digunakan untuk menyusun

laporan dan juga waktu limbah. Dalam kasus laporan rutin,

jadwal waktu harus benar-benar dipatuhi. Tidak adanya informasi

pada waktu yang dibutuhkan mengarah ke pengambilan

keputusan yang salah.

3. Informasi Akurat: Laporan berisi informasi hanya akurat. Jika

informasi yang salah termasuk dalam laporan, menyebabkan

mengambil keputusan yang salah. Oleh karena itu, pasokan

informasi yang akurat membantu para eksekutif manajerial untuk

memahami situasi yang sangat jelas. Pada saat yang sama,

penyajian informasi yang akurat dalam laporan tidak harus

melibatkan biaya yang berlebihan persiapan dan tidak harus

menghasilkan keterlambatan dalam penyajian laporan.

21
4. Informasi yang relevan: perhatian yang tepat harus ditujukan

untuk menyertakan informasi yang relevan dalam laporan.

Masuknya informasi yang tidak relevan dapat meningkatkan

waktu dalam penyusunan laporan. Selain itu, informasi yang tidak

relevan membingungkan pengguna akhir laporan.

5. Dasar Perbandingan: Informasi yang diberikan dalam laporan

akan membantu membandingkan dengan angka terakhir, standar

yang ditetapkan atau tujuan. Kecenderungan variasi dapat

diketahui hanya melalui perbandingan. Tindakan korektif dapat

diambil dengan bantuan informasi komparatif.

6. Laporan harus jelas dan sederhana: Tujuan mempersiapkan

laporan adalah membantu manajemen dalam perencanaan,

koordinasi dan pengendalian. Oleh karena itu, laporan tersebut

harus disajikan dalam hal yang sangat sederhana dan dapat

dipahami dengan jelas oleh siapa pun. Jika tidak begitu, tidak ada

arti mempersiapkan laporan. Metode penyajian laporan harus

sedemikian rupa yang menarik mata pembaca dan memungkinkan

mereka untuk dapat menarik kesimpulan. Susunan informasi

dalam laporan ini harus secara singkat, lengkap, jelas dan

sederhana.

7. Biaya: Manajemen memerlukan beberapa biaya yang berkaitan

dengan persiapan laporann. Biaya tersebut harus sepadan dengan

manfaat yang diperoleh dari persiapan laporan. Jika

22
memungkinkan, lebih banyak manfaat tersedia dari biaya yang

dikeluarkan. Dengan cara ini, sistem pelaporan dapat diinstal.

Dengan kata lain, harus ada upaya untuk membuat sistem

seekonomis mungkin.

8. Evaluasi Tanggung Jawab: Sistem pelaporan telah diinstal

sedemikian rupa untuk mengevaluasi tanggung jawab manajerial,

standar atau target tetap untuk masing-masing departemen

fungsional. Catatan kinerja aktual dipantau dengan standar

sehingga memungkinkan manajemen untuk menilai kinerja

individu yang berbeda.

d. Prasyarat

Pelaporan tidak lepas dari pencatatan, sebab sebelum diadakannya

pelaporan dari bawahan kepada atasannya atau dari suatu intansi daerah

ke instansi pusat haruslah dilakukan pencatatan mengenai hal yang akan

dilaporkan kemudian dilakukan perekapan kemudian dilaporkan

Reporting (laporan) terdiri atas:

a. Laporan lisan

Kelemahannya adalah memungkinkan terjadinya laporan yang hanya

berupa hal-hal baik dan bersifat subjektif. Sedangkan,

keuntungannya adalah hasil dari kegiatan/intervensi yang telah

dilakukan dan data yang telah terkumpul dapat segera ditindaklanjuti

dalam waktu yang lebih cepat.

23
b. Laporan tertulis

Kelemahannya adalah memakan waktu dan biaya yang lebih.

Sedangkan, keuntungannya adalah bisa lebih bersifat objektif dan

lebih terperinci serta pelaporan dapat bersifat positif maupun negatif.

1.5.7 Budgetingsebagai Fungsi Manajemen

a. Definisi

Budgeting atau anggaran adalah rencana kegiatan perusahaan atau

organisasi di masa yang akan dating yang dinyatakan secara kuantitatif,

biasanya dalam satuan uang.

A budget is the quantitative expression of proposed plan of action

by management for specified period, and an aid to coordinate what needs

to be done to implementhat plan. (Horngren et all, 2012:206)

Yang dapat disimpulkan bahwa, Anggaran adalah Kegiatan yang

bersifat kuantitatif dalam manajemen yang bertujuan untuk perencanaan

dalam waktu yang telah ditentukan dan membantu mengkoordinir apa

yang dibutuhkan untuk mewujudkan rencana tersebut.

Pembagian dalam budget bukan saja yang bersifat kuantitatif

tetapi juga kualitatif. Budgeting dapat dijadikan sebagai manifestasi dari

rencana yang akan dicapai perusahaan dan pada saat yang bersamaan

budget akan menjadi alat pengendalian.

b. Kegunaan

24
1) Digunakan sebagai landasan yuridis formal dalam memilih

sumber dan investasi dana.

2) Mengadakan pembatasan jumlah dana yang dicari dan digunakan.

3) Merinci jenis sumber dana yang dicaridan jenis investasi dana,

sehingga dapat mempermudah pengawasan.

4) Merasionalkan sumber dana dan investasi dana agar dapat

mencapai hasil yang maksimal.

5) Menyempurnakan rencana yang telah disusun karena dengan

anggaran menjadi lebih jelas dan nyata terlihat.

6) Menampung dan menganalisis serta memutuskan setiap

usulanyang berkaitan dengan keuangan.

c. Prinsip

1. Transparansi dan akuntabilitas anggaran: Anggaran harus dapat

menyajikan informasi yang jelas mengenai tujuan, sasaran, hasil,

dan manfaat yang diperoleh masyarakat dari suatu kegiatan atau

proyek yang dianggarkan.

2. Disiplin Anggaran: Pendapatan yang direncanakan merupakan

perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat dicapai untuk

setiap sumber pendapatan. Sedangkan belanja yang dianggarkan

pada setiap pos atau pasal merupakan batas tertinggi pengeluaran

belanja.

3. Keadilan Anggaran: Pemerintah wajib mengalokasikan

penggunaan anggarannya secara adil agar dapat dinikmati oleh

25
seluruh kelompok masyarakat tanpa diskriminasi dalam

pemberian pelayanan, karena pendapatan pemerintah pada

hakikatnya diperoleh melalui peran serta masyarakat secara

keseluruhan.

4. Efisiensi dan efektivitas Anggaran: Penyusunan anggaran

hendaknya dilakukan berlandaskan azas efisiensi, tepat guna,

tepat waktu pelaksanaan, dan penggunaannya dapat

dipertanggungjawabkan. Dana yang tersedia harus dimanfaatkan

dengan sebaik mungkin untuk dapat menghasilkan peningkatan

dan kesejahteraan yang maksimal untuk kepentingan masyarakat.

5. Disusun dengan pendekatan kinerja: Anggaran yang disusun

dengan pendekatan kinerja mengutamakan upaya pencapaian

hasil kerja (output atau outcome) dari perencanaan alokasi biaya

atau input yang telah ditetapkan. Hasil kerjanya harus sepadan

atau lebih besar dari biaya atau input yang telah ditetapkan. Selain

itu harus mampu menumbuhkan profesionalisme kerja di setiap

organisasi kerja yang terkait.

d. Prasyarat

1) Penentuan pedoman anggaran

2) Persiapan Anggaran

3) Penentuan Anggaran

4) Pelaksanaan Anggaran

1.5.8 Evaluatingsebagai Fungsi Manajemen

26
a. Definisi

Evaluasi adalah suatu proses yang teratur dan sistematis dalam

membandingkan hasil yang dicapai dengan tolak ukur atau kriteria yang

telah ditetapkan kemudian dibuat suatu kesimpulan dan penyusunan saran

pada setiap tahap dari pelaksanaan program.

b. Kegunaan

1. Meningkatkan mutu program, memberikan justifikasi atau penggunaan

sumber-sumber yang ada dalam kegiatan, memberikan kepuasan dalam

pekerjaan dan menelaah setiap hasil yang telah direncanakan.

2. Sebagai alat untuk memperbaiki dan perencanaan program yang akan

datang.

3. Untuk memperbaiki alokasi sumber dana, daya dan manajemen saat ini

serta dimasa yang akan datang.

4. Memperbaiki pelaksanaan dan dan faktor yang mempengaruhi

pelaksanaan program perencanaan kembali suatu program melalui

kegiatan mengecek kembali relevansi dari program dalam hal

perubahan kecil yang terus-menerus dan mengukur kemajuan target

yang direncanakan.

c. Prinsip

1. Melalui evaluating ditemukan kelemahan-kelemahan sistem yang

dipergunakan dalam fase yang baru saja selesai.

2. Juga ditemukan penyimpangan-penyimpangan dan/atau

penyelewengan-penyelewengan yang telah terjadi

3. Dan ditemukan sebab-sebab dari penyimpangan tersebut.

27
4. Melalui evaluatingakan diketahui kesesuaian antara kegiatan yang

telah dilaksanakan dengan rencana yang sudah dibuat, selanjutnya

tindakan korektif akan dapat dilaksanakan.

d. Prasyarat

Berikut adalah prasyarat Evaluating dalam fungsi manajemen:

1. Perencanaan. Evaluasi yang diterapkan pada tahap perencanaan

dalam menetapkan prioritas dari berbagai alternatif pilihan

dan possibility akan suatu metode dalam pencapaian tujuan.

2. Pelaksanaan. Kegiatan evaluasi pada tahapan ini adalah menganalisa

dan menentukan level perkembangan pada penerapan kegiatan

dibandingkan dengan perencanaan.

3. Setelah Pelaksanaan. Hampir serupa pada tahap pelaksanaan namun

evaluasi pada tahap pasca pelaksanaan memiliki obyek yang berbeda

untuk dianalisa. Tahapan ini membandingkan perencanaan dengan

hasil pelaksanaan. Bagaimana dampak yang dihasilkan pada kegiatan

yang telah dilaksanakan. Apakah sesuai dengan harapan atau tidak.

28
BAB 2

PROSES MANAJEMEN

2.1 Definisi dan Prinsip Proses

Sekumpulan aktivitas yang sama yang dapat menjadi satu kesatuan guna

mendukung jalannya sebuah proses. Proses adalah aset suatu organisasi, sama

seperti orang, fasilitas, dan informasi. Proses, dianggap sebagai kendaraan yang

menyinkronkan aset dan aspek lainnya. Proses merupakan kerangka

pengorganisasian untuk semua komponen lainnya. Proses memiliki tahap-

tahapan yang berurutan dan saling berkaitan satu sama lain serta terus berulang

atau biasa disebut sebagai siklus.

Menurut Michael Armstrong, Proses terdiri dari semua operasi yang

digunakan untuk membuat suatu produk. Proses terdiri dari serangkaian kegiatan

terkait yang digabungkan untuk memberikan hasil spesifik yang diinginkan

pelanggan. Struktur proses menggambarkan hubungan antara operasi yang

berbeda.Prosesnya mencakup semua operasi yang digunakan untuk membuat

produk tertentu.

Proses berada diantara input dan output. Dimana input merupakan segala

sumber yang akan diproses lalu menghasilkan output atau hasil. Semakin banyak

input yang didapatkan, maka semakin baik pula output yang dihasilkan. Tetapi,

tergantung apakah input dapat diserap dan diproses dengan baik. Yang artinya

input, proses, dan output saling ketergantungan dan saling berkaitan.

29
Proses yang dijalankan memiliki prinsip-prinsip dari sebuah proses agar

tidak terjadi kesalahan yang tidak diinginkan yang dapat mengganggu misi dari

suatu organisasi atau perusahaan. Prinsip-prinsip proses adalah sebagai berikut :

1. Perhatian dan motivasi

2. Keaktifan

3. Keterlibatan langsung

4. Pengulangan

5. Tantangan

6. Balikan dan penguatan

7. Perbedaan individual

2.2 Definisi Proses Manajemen

Proses manajemen adalah suatu usaha yang dilakukan oleh suatu

organisasi untuk tercapainya tujuan organisasi melalui peningkatan, pengelolaan

dan pengendalian proses bisnis yang diperlukan. Proses manajemen adalah

bagian terpadu dari manajemen 'normal'. Penting bagi pimpinan untuk

menyadari bahwa tidak ada garis finish untuk perbaikan proses bisnis. Suatu

proses manajemen selalu berputar dan tidak pernah berhenti di dalam suatu

organisasi karena di setiap bagian tubuh organisasi harus selalu berproses demi

menjaga organisasinya tetap berdiri dan tidak terganggu oleh perkembangan

zaman.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menjalankan sebuah proses manajemen

adalah:

30
1.) Lebih dari sekedar memperbaiki atau merekayasa ulang proses anda harus

juga berurusan dengan masalah manajerial

2.) Bukan hanya suatu kelebihan, itu adalah bagian integral dari manajemen

3.) Lebih dari sekedar pemodelan , hal ini juga tentang implementasi dan

pelaksanaan proses ini, yang membutuhkan analisis.

2.4 Unsur-unsur Proses Manajemen

2.4.1Planning sebagai Proses Manajanemen

a. Definisi

Planning atau perencanaan adalah suatu usulan atau pendapat

seseorang atau kelompok untuk merancang proses yang akan

dijalankan atau mengubah susunan proses pada seseorang maupun

kelompok. Di dalam manajemen planning merupakan hal yang paling

awal dan paling penting dalam sistem manajemen. Setiap organisasi

pasti memiliki yang namanya manajemen dan di dalam manajemen

pasti ada yang namanya planning dan dari setiap planning selalu

memiliki proses.

Di dalam planning haruslah dimulai dari forecasting atau ramalan

agar mengetahui masalah yang akan datang sehingga mendorong suatu

organisasi untuk membuat perecanaan manajemen. Forecasting adalah

proses ilmiah untuk melihat ke depan yang didasarkan pada kinerja

masa lalu, analisis terkini dan tren masa depan Seluruh planning harus

berdasarkan dari forecasting. Setiap perusahaan harus melakukan

31
proses peramalan, baik sendiri atau memperhatikan perkiraan ekonomi

umum yang dibuat oleh berbagai pejabat yang berwenang agar

mendapat pengetahuan mengenai masalah atau kejadian yang terkait

dengan manajemen di waktu yang akan datang. Setiap perkiraan harus

didahului oleh penelitian otentik, menganalisis tren, dengan

mempertimbangkan faktor risiko dan bahkan probabilitas kesalahan.

Peramalan yang paling umum dilakukan oleh suatu organisasi adalah :

i. Prakiraan permintaan (Demand forecasts)

ii. Prakiraan penjualan (Sales forecasts)

iii. Prakiraan tren produksi (Production trends forecasts)

iv. Prakiraan industri tertentu (Specific industry forecasts)

c. Kegunaan

Perencanaan atau planning sangatlah berguna dalam suatu proses

manajemen karena suatu proses tidak bisa berjalan dengan lancar

tanpa adanya planning. Bahkan lebih buruk lagi planning yang buruk

dan tidak terorganisir dapat membuat masalah di dalam tubuh

organisasi menjadi lebih besar dan mengakibatkan hancurnya suatu

organisasi karena proses yang diterapkan tidak sesuai dengan target

yang diinginkan oleh organisasi tersebut dan munculnya

miskomunikasi antar tubuh organisasi. Planning tidak hanya sekedar

model atau proposal tetapi planning juga memerlukan implementasi

dari standar manajemen yang sesuai dan melaksanakannya

memerlukan analisis yang cermat agar menjaga organisasi tersebut

32
tetap berdiri dan penting untuk melakukan perubahan dalam tubuh

organisasi menuju yang lebih baik.

c. Prinsip

Dalam melakukan planning seorang manajer harus mengetahui suatu

prinsip di dalam planning agar seorang manajer dapat menerapkan

suatu proses manajemen dengan mudah. Hal-hal yang harus

diperhatikan adalah :

1. Proses yang didapatkan :

Asal dari suatu planning mempengaruhi cara penerapan proses

yang ingin dilaksanakan. Jika suatu proses berasal dari cara yang

tidak benar maka akan menyebabkan kekacauan di dalam tubuh

organisasi tersebut dan sebaliknya jika didapatkan dari cara yang

baik maka akan mencapai hasil yang memuaskan.

2. Keputusan perencanaan :

Proses perencanaan dan perencanaan sumber daya yang memadai

harus menangani semua masalah publik, masalah, peluang, dan

ancaman yang diidentifikasi pada tahap awal proses perencanaan.

Isu, kekhawatiran, peluang dan ancaman yang tidak dianggap

penting, tidak perlu diatasi dalam rencananya.

3. Input suatu planning :

Planning memerlukan pertimbangan banyak masukan seperti

inventarisasi rencana dan kebijakan yang ada, jenis dan

33
penggunaan cara-cara saat ini, preferensi, dampak dari proses yang

diterapkan, keamanan suatu proses, dan informasi yang tersedia.

4. Kolaborasi :

Keterlibatan dan pertukaran yang berarti sangat penting selama

proses perencanaan. Kolaborasi menghasilkan definisi nilai yang

lebih jelas, alternatif yang lebih kreatif, keputusan yang lebih

beralasan dan masuk akal, dan konstituensi yang menjadi

informasi lebih baik dan berkomitmen terhadap rencana dan

implementasinya.

5. Analisis yang kritis :

Tahap analisis dalam proses perencanaan adalah evaluasi alternatif

dimana alternatif harus sangat berbeda, dan pro dan kontra

dievaluasi dengan ketat sehingga alasan dan setiap alternatif

menjadi jelas.

d. Prasyarat

Seorang manajer harus mengetahui prasyarat dan pemikiran planning

yang tepat agar pelaksanaan proses manajemen dapat berjalan dengan

baik. Prasyarat yang tepat dalam planning juga membuat masalah

internal di suatu organisasi dapat terselesaikan dengan mudah.

Seorang manajer harus mensosialisasikan prasyarat ini kepada anak

buahnya karena prasyarat ini juga mempengaruhi motivasi para anak

buahnya untuk berproses.Prasyarat yang harus diketahui adalah :

34
1. Berdasarkan pada alternatif

Jika planning yang akan dilaksanakan tidak sesuai atau berubah

sehingga menjadi tidak sesuai lagi, maka seorang manajer juga harus

mencari alternatif lain untuk mencari jalan keluar dari masalah

perencanaan yang akan dijalankan.

2. Harus realistis, ekonomis, dan fleksibel

Bila perencanaan atau planning dari suatu proses tidak realistis maka

tidak akan terlaksanakannya proses manajemen tersebut karena

keterbatasan pemikiran organisasi dalam memecahkan suatu masalah.

Di samping itu, ekonomi suatu organisasi juga mempengaruhi proses

manajemen karena setiap proses memerlukan pendanaan dan

pengeluaran untuk melaksanakannya. Perencanaan yang fleksibel akan

memudahkan suatu organisasi untuk mengevaluasi hasil dari proses

tersebut dan terkondisikan sesuai waktu dan tempatnya.

3. Didasari partisipasi

Dalam pembuatan perencanaan hendaknya dapat diikutkan berbagai

pihak untuk memperoleh masukan (input) agar lebih sempurna.

Dengan adanya partisipasi, perusahaan akan memperoleh manfaat

ganda, karena disamping rencana menjadi lebih baik, juga dapat

menambah semangat kerja para karyawan.

2.4.2 Organizing sebagai Proses Manajemen

a. Definisi

35
Menurut Rue dan Byars (2006:6) berpendapat “ Organizing is

grouping activities, assigning activities an providing the authority

necessary to carry out the activities”. Dalam suatu organisasi

membutuhkan kerja sama antara dua orang atau lebih untuk mencapai

suatu tujuan secara efektif dan efisien.pengorganisasian ( Organizing)

merupakan suatu proses untuk merancang struktur formal,

pengelompokan dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau

pekerjaan diantara anggota organisasi agar tujuan dari sebuah

organisasi dapat tercapai. Proses pengorganisasian mengacu pada

identifikasi dan pengelompokan kegiatan yang akan dilakukan,

pendefinisian dan pendelegasian wewenang, pemilihan tanggung jawab

dan membangun hubungan yang memungkinkanorang untuk bekerja

sama secara efektif dalam mencapai tujuan.

Dalam pengorganisasian dikenal dengan organizational culture

dan organizational behaviour. Menurut Hill dan Jones, “organizational

culture as the spesific collection of values and norms that are shared by

people and groups in an organization and that control the way they

interact with each other and with stakeholder outside the organization”.

Budaya organisasi (organizational culture) dianggap sebagai sesuatu

yang tersirat dalam kehidupan sosial dan pola asumsi bersama yang

dianggap sah dan diajarkan kepada anggota baru sebagai cara yang

benar.

36
Perilaku organisasi (organizational behaviour) adalah sebuah

studi yang terkait dengan dampak perilaku individu, kelompok dan

struktur organisasi terhadap peningkatan efektivitas organisasi

( Stephen P. Robbin, 2013). Organizational Behaviour melibatkan

integrasi studi yang dilakukan berkaitan dengan ilmu perilaku seperti

psikologi, sosiologi, antropologi, ekonomi, psikologi sosial dan ilmu

politik. Oleh karena itu, perilaku organisasi adalah bidang studi yang

komprehensif dimana individu, kelompok dan struktur organisasi

dipelajari dalam kaitannya dengan pertumbuhan organisasi dan budaya

organisasi, di lingkungan. Organizational behaviour mempelajari tiga

faktor penentu perilaku di organisasi yaitu individu, kelompok dan

struktur organisasi.

b. Kegunaan

Manfaat atau kegunaan yang dapat diambil dari

Pengorganisasian(Organizing) adalah sebagai berikut :

1. Untuk mempermudah pola komunikasi

Pengorganisasian (Organizing)memberikan pola komunikasi

dengan mengelompokkan kegiatan dan seseorang, serta

memfasilitasi komunikasi antara orang-orang yang berpusat pada

pekerjaan.

2. Untuk dapat mengalokasikan wewenang dan tanggung jawab

37
Pengorganisasian (Organizing) membantu anggota organisasi untuk

mengetahui apa perannya dan bagaimana kaitannya dengan peran

orang lain.

3. Untuk menemukan keputusan

Pengorganisasian (Organizing) membantu dalam proses

pengambilan keputusan dalam menangani kejadian diluar dugaan.

4. Untuk menciptakan keseimbangan

Aktivitas seseorang sebanding dengan peran yang didapatkan.

5. Untuk menstimulasi kreativitas

Pengorganisasian (Organizing) membantu dalam merangsang diri

untuk lebih mandiri dan kreatif, serta menemukan cara-cara yang

baru.

6. Untuk mendorong pertumbuhan

Pengorganisasian (Organizing) membantu dalam menghadapi

tantangan dan menciptakan peluang pertumbuhan.

c. Prinsip

Menurut Veerabhadrappa Havinal dalam bukunya yang berjudul

Management and Entrepreneurship (2009:72) memaparkan bahwa

prinsip pengorganisasian (Organizing) adalah pedoman dalam

pelaksanaan organisasi dalam mencapai tujuan. Beberapa Prinisp

pengorganisasian (Organizing)sebagai berikut :

1. Prinsip Tujuan (Principle of Objective)

38
Tujuan perusahaan mempengaruhi struktur organisasi.Setiap bagian

organisasi dan organisasi secara keseluruhan harus disesuaikan

dengan tujuan dasar yang ditentukan oleh perusahaan.

2. Prinsip Spesialisasi (Principle of Specialization )

Organisasi yang efektif harus mempromosikan spesialisasi.

Aktivitasdari perusahaan harus dibagi sesuai dengan fungsi dan

ditugaskanorang sesuai dengan spesialisasi mereka.

3. Principleof Span control

Seorang manajer bisa langsung mengawasi hanya beberapa skup.

Oleh karena itu, perlu memiliki bawahan yang tepatbertanggung

jawab kepada manajer

4. Prinsip Pengecualian (ExceptionPrinciple)

Prinsip ini mensyaratkan struktur organisasi seharusnya dirancang

sedemikian agar para manajer dapat melakukan hal-hal yang luar

biasa (di luar dugaan).

5. Prinsip skalar (ScalarPrinciple)

Prinsip skalar juga dikenal sebagai rantai komando. Dalam prinsip

ini dikenal garis otoritas yang jelas mengalir dari atas ke bawah.

Otoritas adalahhak untuk memutuskan, mengarahkan dan

mengkoordinasikan. Setiap bawahan harus tahu siapa dirinyadan

kepada siapa masalah kebijakan melebihi kewenangannya

sendiridirujuk untuk mengambil keputusan.

6. Prinsip kesatuan perintah (Unity of Command Principle )

39
Masing-masing bawahan hanya memiliki satu atasan yang

memerintah dan harus ditaati. Subordinasi ganda harus dihindari,

karena menyebabkan ketidaknyamanan, gangguan, dan

ketidakdisiplinan dan melemahkan otoritas.

7. Prinsip Delegasi (Principle of Delegation)

Kewenangan yang tepat harus didelegasikan pada tingkat yang

lebih rendah. Kewenangan yang didelegasikan harus sama dengan

tanggung jawab,manajer harus memiliki cukup wewenang untuk

menyelesaikan tugas yang ditugaskan

8. Prinsip Tanggung Jawab (Principle of Responsibility)

Seorang atasan harus bertanggung jawab atas tindakannyakepada

bawahan. Tidak ada atasan yang diizinkan untuk menghindari

tanggung jawab dalam mendelegasikan wewenang kepada

bawahannya.

9. Prinsip Otoritas (Principle of Authority)

Otoritas adalah alat yang dapat dicapai oleh seorang manajer tujuan

yang diinginkan Maka dari itu, otoritas masing-masing manajer

harus jelas. Kewenangan dan tanggung jawab harus saling

melengkapi dalam pengorganisasian.

10. Prinsip Efisiensi (Principle of Efficiency)

Organisasi harus dapat mencapai misi dan tujuan dengan biaya

minimum.

11. Prinsip Kesederhanaan (Principle of simplicity)

40
Struktur organisasi harus sesederhana mungkin. Jumlah besar

tingkat organisasi berartikeefektifan komunikasi dan koordinasi

semakin sulit.

12. Prinsip Fleksibilitas (Principle of Flexibility)

Organisasi harus fleksibel, harus disesuaikandengan keadaan yang

berubah-ubah.

13. Prinsip Keseimbangan (Principle of Balance)

Harus ada keseimbangan yang wajar dalam ukuran berbagai

departemen, antara sentralisasi dan desentralisasi. Harus ada

keseimbangan struktur formal.

14. Prinsip Kesatuan Arah (Principle of unity of Direction)

Harus ada satu tujuan dan satu rencana untuk kelompok kegiatan

yang memiliki tujuan yang sama. Kesatuan arah memfasilitasi

penyatuan dan koordinasi kegiatan di berbagai tingkatan.

15. Prinsip Kemampuan Pribadi ( Principle of Personal abilities)

Dalam pengorganisasian dibutuhkan kelompok formal untuk

pemilihan, penempatan dan pelatihan yang tepat. Struktur

organisasi harus dipastikan optimal mengunakan sumber daya

manusia.

d. Prasyarat

Prasyarat merupakan sesuatu yang harus dipenuhi sebelum melakukan

sebuah prinsip. Berikut merupakan prasyarat dari Pengorganisasian(

Organizing) :

41
1. Adanya tujuan-tujuan yang akan dicapai bersama.

2. Adanya pekerjaan yang harus dikerjakan.

3. Adanya wewenang dan tanggung jawab.

4. Adanya hubungan antara satu sama lain.

5. Adanya pembagian kerja.

6. Adanya sekelompok orang yang bekerja sama.

2.4.3 Actuating sebagai Proses Manajemen

a. Definisi

Menurut George R. Terry (1986), “the actuating an attempt to

move the group members in such a way that they desire and strive to

achieve corporate goals and objectives of the members of the

company because its members had also wanted to achieve those

goals”. Selain itu menuru Griffin (2012), “actuating is the set of

processes use to get members of the organization to work together to

further the interest of the organization”. Dari definisi tersebut,

actuating adalah usaha untuk membuat rencana menjadi kenyataan

dengan menggunakan arahan dan motivasi manajer agar anggota atau

karyawan dapat bekerja secara optimal dengan peran, tugas, dan

tanggung jawab yang sudah diberikan. selain itu, actuating juga

menekankan kesadaran anggota atau karyawan masing-masing dan

kesadaran bersama agar tujuan tersebut dapat tercapai.

42
Pada dasarnya, actuating adalah sebuah pelaksanaan untuk

bekerja. Terdapat beberapa tindakan yang mengarah pada actuating,

yaitu leadership, perintah, komunikasi, dan konseling. Hal tersebut

dapat memengaruhi anggota atau karyawan untuk bekerja lebih

efektif dalam mencapai tujuan.

e. Kegunan

Actuating berkaitan erat dengan kegiatan yang berhubungan

langsung dengan orang-orang didalam organisasi. Hal ini karena

actuating merupakan penggerakan seluruh sumber daya manusia

dalam menjalankan tugasnya. Dengan bergeraknya seluruh sumber

daya manusia, maka pelaksanakan planning dan organizingakan

efektif.

c. Prinsip

1. Prinsip Mengarah pada Tujuan: Tujuan pokok dari pengarahan

nampak pada prinsip yang menyatakan bahwa makin efektifnya

proses pengarahan, akan semakin besar sumbangan bawahan

terhadap usaha mencapai tujuan.

2. Prinsip Keharmonisan dengan Tujuan: Motivasi yang baik akan

mendorong anggota dalam organisasi untuk memenuhi

kebutuhannya dengan cara yang wajar dan sesuai dengan arahan

yang ada.

43
3. Prinsip Kesatuan Komando: Penting untuk menyatukan arah

tujuan dan tanggung jawab para bawahan. Bawahan hanya

memiliki satu jalur dalam melaporkan segala kegiatannya dan

hanya ditujukan kepada satu pemimpin saja.

e. Prasyarat

Untuk mencapai tujuan dengan efektif maka ada beberapa cara ang

dapat dilakukan:

a) Orientasi: bertujuan agar para anggota atau karyawan baru agar

mereka memahami akan perannya dalam perusahaan atau

organisasi tersebut

b) Perintah: merupakan permintaan yang dikemukakan oleh manajer

untuk melakukan saru hal. Perintah berasal dari atas ke bawah.

c) Delegasi wewenang: manajer melimpah sebagian wewenangnya

kepada bawahannya

2.4.4 Controlling sebagai Proses Manajemen

a. Definisi

Controlling berarti memantau aktivitas karyawan, menentukan

apakah organisasi sesuai dengan sasarannya, dan melakukan koreksi

seperlunya. Controlling adalah proses manajemen untuk mencapai

tujuan yang telah ditetapkan dalam jadwal yang ditetapkan, dan

terdiri dari tiga komponen: (1) menetapkan standar, (2) mengukur

kinerja aktual, dan (3) mengambil tindakan korektif. Dalam tahap

44
controlling ada fase monitoring dan correcting kinerja organisasi

selama dalam tahap proses, apabila ada kesalahan pada tahap

controlling maka akan dilakukan evaluasi untuk melakukan

perencanaan lagi dengan lebih baik untuk mengurangi kesalahan yang

terjadi selama dalam tahapan proses. Berkurangnya kesalahan pada

tahap proses menyebabkan keluaran atau hasil kinerja organisasi

menjadi lebih baik dari sebelumnya.

b. Kegunaan

1. Panduan Manajemen dalam Mencapai Tujuan yang Telah

ditentukan sebelumnya:

Aliran informasi yang terus berlanjut tentang proyek membuat

perencanaan jangka panjang di jalur yang benar. Ini membantu dalam

mengambil tindakan perbaikan di masa depan jika kinerjanya tidak

sesuai dengan sasaran.

2. Memastikan penggunaan yang efektif dari sumber daya yang

langka dan berharga:

Sistem kontrol membantu dalam meningkatkan efisiensi

organisasi. Berbagai perangkat kontrol bertindak sebagai motivator

bagi para manajer. Kinerja setiap orang dipantau secara teratur dan

setiap kekurangan jika ada yang diperbaiki paling cepat.

45
Kontrol memberi tekanan psikologis pada orang-orang dalam

organisasi. Di sisi lain kontrol juga memungkinkan manajemen untuk

memutuskan apakah karyawan melakukan hal yang benar.

3. Memfasilitasi Koordinasi:

Kontrol membantu dalam koordinasi kegiatan melalui kesatuan

aksi. Setiap manajer akan mencoba mengkoordinasikan kegiatan

bawahannya untuk mencapai tujuan departemen.

Demikian pula kepala eksekutif juga mengkoordinasikan fungsi

berbagai departemen. Kontrol berfungsi sebagai pengecekan kinerja

dan hasil yang tepat hanya tercapai bila kegiatan dikoordinasikan.

4. Memimpin Delegasi dan Desentralisasi Kewenangan:

Keputusan tentang tindak lanjut juga difasilitasi. Kontrol membuat

delegasi lebih mudah / lebih baik. Desentralisasi wewenang sangat

diperlukan di perusahaan besar. Manajemen tidak dapat

mendelegasikan wewenang tanpa memastikan kontrol yang benar.

Sasaran atau sasaran berbagai departemen digunakan sebagai teknik

kontrol. Berbagai teknik pengendalian seperti penganggaran,

pengendalian biaya; persetujuan pra-tindakan dll memungkinkan

desentralisasi tanpa kehilangan kendali atas aktivitas.

5. Spares Manajemen Atas yang Berkonsentrasi pada Pembuatan

Kebijakan:

46
Untuk manajemen kontrol, perhatian manajemen tidak diperlukan

sesekali. Manajemen dengan pengecualian memungkinkan

manajemen puncak berkonsentrasi pada perumusan kebijakan

c. Prinsip

1. Kontrol adalah Proses Manajerial:

Proses manajemen terdiri dari lima fungsi, yaitu perencanaan,

pengorganisasian, penempatan, pengarahan dan

pengendalian. Dengan demikian, kontrol merupakan bagian dari

proses manajemen.

2. Kontrol adalah berorientasi ke depan:

Apapun yang telah terjadi telah terjadi, dan manajer hanya dapat

mengambil tindakan korektif dari operasi masa depan. Masa lalu

relevan untuk menyarankan apa yang salah dan bagaimana

memperbaiki masa depan.

3. Kontrol ada di setiap tingkat Organisasi:

Siapa pun yang menjadi manajer, harus terlibat dalam kontrol - dapat

menjadi Chairman, Managing Director, CEO, Departmental head,

atau first line manager.Namun, pada setiap tingkat kontrol akan

berbeda - manajemen puncak akan dilibatkan dalam pengendalian

strategis, manajemen menengah menjadi kontrol taktis dan tingkat

yang lebih rendah menjadi kontrol operasional.

4. Kontrol adalah Proses Kontinyu:

47
Pengendalian bukanlah fungsi terakhir manajemen namun merupakan

proses yang berkesinambungan. Kontrol bukan aktivitas satu kali,

tapi proses terus menerus. Proses penetapan standar memerlukan

analisis dan revisi konstan tergantung pada kekuatan eksternal,

rencana, dan kinerja internal.

5. Kontrol terkait erat dengan Perencanaan:

Perencanaan dan pengendalian terkait erat. Keduanya disebut sebagai

'kembar siam' manajemen. "Setiap tujuan, setiap tujuan, setiap

kebijakan, setiap prosedur dan setiap anggaran menjadi standar yang

mana kinerja aktual dibandingkan. Setelah proses kontrol selesai,

temuannya diintegrasikan ke dalam perencanaan untuk menentukan

standar baru untuk kontrol.

6. Tujuan Pengendalian Berorientasi Tujuan dan karenanya Positif:

Kontrol ada karena tanpa itu bisnis bisa keluar dari

jalur. Pengendalian memiliki tujuan positif baik bagi organisasi

(untuk mewujudkan sesuatu) dan individu (untuk melepaskan

sebagian dari kebebasan mereka untuk pencapaian tujuan organisasi).

d. Prasyarat

Sistem kontrol bukanlah fenomena otomatis namun sengaja

dibuat. Meskipun organisasi yang berbeda dapat merancang sistem

kontrol mereka sesuai dengan karakteristik dan kondisi unik dan

48
khusus mereka, namun dalam merancang sistem kontrol yang baik

dan efektif, persyaratan dasar berikut harus selalu diperhatikan:

1. Fokus pada Tujuan dan Kebutuhan:

Sistem pengendalian yang efektif harus menekankan pada pencapaian

tujuan organisasi. Ini harus berfungsi selaras dengan kebutuhan

perusahaan. Misalnya, departemen personalia dapat menggunakan

kontrol umpan maju untuk merekrut karyawan baru, dan kontrol

bersamaan untuk pelatihan. Dengan demikian, kontrol harus

disesuaikan dengan rencana dan posisi.

2. Peringatan Segera dan Tindakan Tepat Waktu:

Pelaporan variasi yang cepat merupakan inti kendali. Sistem kontrol

yang ideal dapat mendeteksi, tidak menciptakan kemacetan dan

melaporkan penyimpangan yang signifikan sesegera mungkin

sehingga tindakan perbaikan yang diperlukan dapat dilakukan dengan

baik pada waktunya. Ini memerlukan sistem penilaian yang efisien

dan arus informasi yang tepat waktu.

3. Indikatif, sugestif dan juga korektif:

Kontrol seharusnya tidak hanya mampu menunjukkan penyimpangan,

tapi juga menyarankan tindakan korektif yang seharusnya memeriksa

kekambuhan variasi atau masalah di masa depan.

Pengendalian hanya bisa dibenarkan jika penyimpangan yang

ditunjukkan atau dialami dari rencana dikoreksi melalui perencanaan,

49
pengorganisasian, penempatan dan pengarahan yang tepat. Kontrol

juga harus mengarah pada perkiraan berharga bagi para manajer

sehingga mereka menyadari masalah yang mungkin dihadapi mereka

di masa depan.

4. Maklum, Tujuan, dan Ekonomis:

Kontrol harus sederhana dan mudah dipahami, standar kinerja diukur

untuk tampil tidak biasa, dan alat dan teknik khusus harus

komprehensif, mudah dimengerti, dan ekonomis bagi para manajer.

Mereka harus mengetahui semua rincian dan poin penting dalam

perangkat kontrol serta kegunaannya. Jika teknik matematika dan

matematika yang dikembangkan dan kompleks diadopsi, maka

pelatihan yang tepat harus diberikan kepada para manajer.

Standar harus ditentukan berdasarkan fakta dan partisipasi. Sistem

kontrol yang efektif harus menjawab pertanyaan seperti, "Berapa

biayanya?" "Apa yang akan disimpannya?" Atau "Berapa

pengembalian investasi?"

Manfaat kontrol harus lebih besar daripada biaya. Sistem kontrol

yang mahal dan rumit tidak sesuai, misalnya untuk usaha kecil.

5. Fokus pada Fungsi dan Faktor:

Pengendalian harus menekankan fungsinya, seperti produksi,

pemasaran, keuangan, sumber daya manusia, dan lain-lain dan fokus

50
pada empat faktor - kualitas, kuantitas, penggunaan dan biaya yang

tepat waktu. Bukan satu, tapi beberapa kontrol harus diadopsi.

6. Kontrol Poin Strategis:

Pengendalian harus selektif dan berkonsentrasi pada area hasil utama

perusahaan. Setiap detail atau hal tidak dapat dan tidak dikontrol

untuk menghemat waktu, biaya dan usaha.

Poin strategis, penting atau penting tertentu harus diidentifikasi

bersamaan dengan harapan pada titik-titik di mana kegagalan tidak

dapat ditoleransi dan perangkat kontrol yang tepat harus dirancang

dan dipaksakan pada tahap-tahap tersebut.Kontrol diterapkan dimana

kegagalan tidak dapat ditolerir atau dimana biaya tidak dapat

melebihi jumlah tertentu. Poin penting mencakup semua area operasi

organisasi yang secara langsung mempengaruhi keberhasilan operasi

utamanya.

7. Fleksibilitas:

Pengendalian tidak harus berakhir pada dirinya sendiri. Harus ramah

lingkungan dan bisa melakukan modifikasi atau revisi yang

diharuskan oleh lingkungan bisnis yang berubah dengan cepat dan

kompleks. Fleksibilitas dalam sistem kontrol umumnya dicapai

dengan menggunakan rencana alternatif atau anggaran fleksibel.

8. Perhatian terhadap Faktor Manusia:

51
Kelebihan kontrol menyebabkan korupsi. Seharusnya tidak

menimbulkan reaksi negatif tapi perasaan positif di antara orang-

orang melalui fokus pada pekerjaan, bukan pada orang lain. Tujuan

pengendalian harus menciptakan pengendalian diri dan kreativitas

antar anggota melalui menjeratnya dalam budaya

organisasi. Keterlibatan karyawan dalam desain kontrol dapat

meningkatkan penerimaan.

9. Kesesuaian:

Kontrol harus konsisten dengan struktur organisasi, di mana tanggung

jawab untuk tindakan terletak, posisi, kompetensi, dan kebutuhan

individu yang harus menafsirkan tindakan pengendalian dan

pengendalian latihan. Semakin tinggi kualitas manajer dan

bawahannya, semakin kecil kebutuhan akan kontrol tidak langsung.

52
BAB 3

HUBUNGAN FUNGSI DAN PROSES MANAJEMEN

3.1 Keterkaitan Antara Fungsi dan Proses Manajemen

Setiap manajemen pasti ada proses dalam menjalankannya dan fungsi

yang dihasilkan. Proses manajemen merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh

suatu organisasi untuk tercapainya tujuan organisasi melalui peningkatan,

pengelolaan dan pengendalian proses bisnis yang diperlukan. Sedangkan fungsi

manajemen adalah suatu hasil yang dilakukan oleh suatu organisasi melalui

sebuah proses – proses untuk mencpai tujuan organisasi.

Proses manajemen merupakan input dari sebuah organisasi. Jika ingin

mencapai sebuah keberhasilan dari suatu organisasi maka diperlukan input yang

benar agar tidak adanya rintangan dalam mencapai keberhasilan. Suatu

organisasi harus memperhatikan asal input yang didapat organisasi tersebut. Jika

mendapatkan input melalui dengan cara yang salah maka hasil yang didapat

tidak akan maksimal.

Sedangkan fungsi manajemen adalah output atau hasil dari usaha sebuah

organisasi. Output dari suatu usaha sangatlah dilihat dan diamati karena hasil

atau output usaha tersebut dapat menentukan nasib dari suatu manajemen dalam

mengahadapi perubahan waktu dan faktor-faktor dari internal maupun eksternal.

Jadi, proses manajemen dan fungsi manajemen merupakan hal yang

saling berhubungan karena input adalah suatu proses dari manajemen dan output

adalah hasilnya. Semakin banyak suatu manajemen mendapatkan input maka

53
semakin banyak pula output yang dihasilkan oleh suatu organisasi. Namun juga

diketahui bahwainput yang dihasilkan tidak selalu tepat sasaran. Hal ini

disebabkan oleh sumber dari input yang didapat dan cara menerapkannya. Untuk

mengatasi hal ini, seorang manajer harus mendapatkan input yang tepat dan

benar dan mengarahkan anak buahnya untuk menjalankan suatu input dengan

optimal agar output atau fungsi yang diinginkan dan bermanfaat bagi organisasi.

3.2 Persamaan Fungsi dan Proses Manajemen

Meskipun pada hakikatnya fungsi dan proses manajemen memiliki

perbedaan dalam hal penggunaannya, namun sebenarnya dua hal tersebut tidak

dapat dipisahkan satu sama lain karena saling berkaitan. Apabila dalam salah

satu fungsi terdapat kesalahan, maka akan berimbas pada proses atau

pelaksanaannya. Karena fungsi manajemen merupakan elemen-elemen dasar

penyusun proses manajemen.

Tidak akan ada proses manajemen apabila tidak ada fungsi manajemen

yang mendasarinya. Proses manajemen diadakan untuk menjalankan fungsi

manajemen sebagaimana mestinya. Jadi, dapat disimpulkan bahwa persamaan

antara fungsi dan proses manajemen terletak pada peran keduanya sebagai kunci

utama dan dalam usaha mewujudkan tujuan organisasi.

3.3 Perbedaan Fungsi dan Proses Manajemen

Di dalam proses terdapat fungsi manajemen untuk membantu proses manajemen

agar dapat terlaksana dengan baik dan mendapat hasil yang baik.

54
Fungsi Manajemen Proses Manajemen

Berperan dalam mencapai tujuan yang Aktivitas yang harus dilakukan agar

telah ditentukan. tujuan manajemen dapat tercapai.

Jadi disini, fungsi sendiri dapat mendukung proses manajemen. Fungsi yang baik

dapat membuat prosses dapat berjalan dengan baik dan menghasilnya output

yang baik pula.

3.4 Integrasi Fungsi dan Proses Manajemen

Fungsi dan proses manajemen merupakan sub sistem yang penting dalam

penyusunan suatu manajemen. Jika tidak ada kesinambungan dan keseimbangan

pelaksanaan di antara keduanya, suatu sistem manajemen tidak akan berjalan

dengan maksimal dalam mencapai suatu tujuan. Fungsi dan proses manajemen

tidak hanya berjalan beriringan sebagai sebuah integrasi, namun juga harus dapat

menciptakan keefektifan kerja yang tinggi guna mencapai tujuan yang telah

ditargetkan.

Matriks Integrasi Fungsi dan Proses Manajemen

Proses P O A C
Planning Organizing Actuating Controlling
Fungsi
P Perencanaan Pengelompok Membangun Memprediksi
Planning untuk an rencana tujuan yang penyimpangan
menentukan yang akan efektif, yang mungkin
tujuan dan dilaksanakan. membangun terjadi.
strategi. organization
resources,
membuat dan
mengembangka
n visi.
Organizing Merencanakan Pembagian Mengelompokk Pengawasan

55
pengelompoka tugas kerja.
an tugas sesuai terhadap
n tugas dan dengan tenaga kerja di
penyusunan kemampuan setiap bidang.
sumber daya. dan karakter.
Staffing Merencanakan Menempatkan Menggerakkan Melakukan
dan staff sesuai staff untuk pengawasan
melakukan dengan melaksanakan terhadap
perekrutan susunan tugas dengan kinerja setiap
pegawai kepegawaian. baik, memberi anggota.
pengarahan,
motivasi dan
pemberdayaan.
Directing Merencakan Memberi Memilih gaya Mendisiplinka
pola pengarahan kepemimpinan, n kinerja demi
pengarahan pada membangun tercapainya
efektif bagi karyawan koordinasi perencanaan
pekerja. berdasarkan dengan yang efisien.
job komunikasi,
description menjelaskan
masing- tentang
masing kebijakan yang
karyawan. telah
ditetapkan.
Coordinati Merencanakan Mengkoordin Menjaga Pengawasan
ng pola asi antar komunikasi, terhadap
koordinasi divisi. mengembangka jalannya
antar divisi. n sikap saling koordinasi
percaya. antar divisi.
Reporting Mambuat dan Mambuat Menyediakan Membuat
merekam laporan feedback yang laporan
laporan pengelompok baik terhadap mengenai
perencanaan an. laporan yang semua
organisasi. diterima. pengawsan
yang telah
dilakukan.
Budgeting Membuat Pengalokasian Penyusunan Mengontrol
perencanaan dana tiap sub anggaran anggaran agar
anggaran unit. secara efisien. tidak terjadi
organisasi. penyimpangan
Evaluating Membuat Menjaga Melakukan Mengukur
standar kembali evaluasi pelaksanaan/ha
minimal efektivitas job terhadap sil yang telah
penyelenggara description pencapaian dicapai,
an organisasi. yang telah tujuan. melakukan
ditentukan. tindakan
perbaikan

56
terhadap
penyimpangan.

57
BAB 4

KESIMPULAN

Theory of management function consist of POSDCorBE that is Planning,

Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting, Budgeting, and

Evaluating.The management process consists of POAC. POAC means Planning,

Organizing, Actuating, Contorlling. Planning and organizing are the key to the

implementation of management functions and processes.

Management functions and process are related and they complement each other.

Management functions are the basic elements of the management process. Management

functions can support the management process. If one function goes wrong, it will bring

impact to the process. The similarity between the management functions and the

management process lies in the role of both as the key and in the effort to realize the

goals of the organization. The integration of management functions and management

processes helps organizations create effectiveness to achieve common goals. The

incorporation of any elements of the management function will form a continuous cycle

of management.

58
DAFTAR PUSTAKA
Allweyer, T. 2005.Business Process Management - Strategy, Design, Implementation,
Controlling.Herdecke: W3L-Verlag
Anonim. Principles of Process Management. Tersedia di
[http://www.enjourney.com.br/cie/images/stories/site/Extra/chapter3.pdf] diakses pada
09 Maret 2018.

Anonim. What Is Business Process Management?. Tersedia di


[http://cdn.ttgtmedia.com/searchDataManagement/downloads/BusinessProcess
Management2.pdf] diakses pada 09 Maret 2018.

Armstrong, Michael. 2006. A Handbook of MANAGEMENT TECHNIQUES. London:


Saxon Graphics Ltd.
Armstrong, Michael. 2009. Armstrong’s Handbook Of Management And Leadership
2nd Edition. United States: Kogan Page Limited
Bandara, W., dkk. 2007.Major Issues in Business Process Management: An Expert
Perspektive. St.Gallen: Proceedings ECIS

Chand, Smriti. Managerial Control Process : It’s Characteristics, Importance,


Techniques and other Details (Online). Tersedia
di[http://www.yourarticlelibrary.com/management/managerial-control-process-
its-characteristics-importance-techniques-and-other-details/5383.] Diakses
tanggal 15 Maret 2018.

Daft, Richard L. 2010. Management. United State America: South Western


Cengage Learning.
Fayol,H.(1916/1949). General and industrial management (with a foreword by Lyndall
Urwick). London: Pitman.
Follet, Mary Parker. 2013.Freedom and Co-ordination (RLE: Organizations): Lectures
in Business Organization. USA dan Canada: Routledge.
Gulick, Luther dll. 1937. Papers On The Science of Administratition. New York:

ColumbiaUniversity. Tersedia di [https://archive.org/stream/papersonscienceo00guli/pa

personscienceo00guli_djvu.txt] diakses pada 08 Maret 2018

Havinal, Veerabhadrappa. 2009. Management and Entrepreneurship. New Delhi: NEW


AGE INTERNATIONAL (P) LIMITED, PUBLISHER.
Kessler, Eric H (ed). 2013. Encyclopedia of Management Theory. United States of
America: SAGA Publication's.

59
Marella, Andrea. What Automated Planning Can Do For Business Process Management.
Tersedia [http://www.dis.uniroma1.it/~marrella/papers/BPAI2017.pdf ].Diakses
pada 11 Maret 2018.

Mccarthy, Dan. 2015. Budgeting Management Essentials for New Managers.

USA: University of New Hampshire.

Robbins, Stephen P. Dan Mary Coulter. 2012. Management 11th. Edition . United State
America: Pearson.
Rue, Leslie dan Lloyd Byars.2018. Management: Skills and Application. United

States of America : Mokangw.

Ugwulashi, C. 2012.Effective Integration of Administrative Processes in School

Administration. Academic Research International.

Vasishistha, Rajeev dan Vinay Kumar. 2013. POSDCORB: A Managerial

Overview. Paripex-Indian Journal of Research.

60