Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Penyakit saluran pernafasan adalah salah satu penyebab kesakitan dan
kematian yang sering menyerang anak-anak. Salah satu penyakit saluran
pernapasan pada anak adalah pneumonia. Pneumonia ialah suatu proses
inflamasi pada alveoli paru-paru yang disebabkan oleh mikroorganisme
seperti Streptococcus pneumonia (paling sering), kemudian Streptococcus
aureus, Haemophyllus influenza, Escherichia coli, dan Pneumocystis
jiroveci.1
Hasil Riset Dasar (Riskesdas) tahun 2013, menunjukkan peningkatan
prevalensi pneumonia pada semua umur dari 2,1% (2007) mencapai 2,7%
(2013). Untuk wilayah Papua Barat sendiri prevalensi pneumonia balita pada
tahun 2013 sebesar 2%. Berdasarkan UNICEF, mortalitas pneumonia di
Indonesia sebesar 14%. Data mortalitas tersebut memberikan gambaran
bahwa pneumonia merupakan masalah kesehatan penyebab kematian pada
anak.2
Pada penelitian oleh Muluki, 2003 didapatkan untuk melihat faktor yang
mempengaruhi tingginya prevalensi infeksi respiratori, diantaranya adalah
faktor intrinsik (umur, status gizi, status imunisasi, jenis kelamin) dan faktor
ekstrinsik (perumahan,social ekonomi, pendidikan).3 Selain itu masih ada
faktor menurut kepustakaan berperan terjadinya ISPA antara lain pemberian
ASI eksklusif.
Usia balita merupakan usia yang sangat menentukan perkembangan
seorang anak di masa depan. Masa balita adalah masa kritis dalam kesehatan
dan masa emas dalam pertumbuhan otak. Namun, usia ini juga merupakan
usia yang rentan terhadap penyakit yang dapat mengakibatkan kematian.
Sebagian besar penyebab kesakitan dan kematian tersebut dikarenakan
penyakit seperti ISPA, diare, malaria, campak, dan malnutrisi.4

1
Status gizi dapat mempengaruhi kekebalan tubuh balita. Seorang balita
dapat terserang penyakit apabila ia mengalami gizi buruk, meskipun telah
diimunisasi lengkap. Hal tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan
Rosalina Tahun 2008, bahwa anak balita yang menderita infeksi saluran
pernapasan akut kemungkinan 6,5 kali status gizinya kurang dibandingkan
dengan anak balita yang tidak menderita infeksi saluran pernapasan akut.5
Pemberian ASI eksklusif minimal 6 bulan tanpa makanan pendamping
juga mempengaruhi kekebalan tubuh balita. ASI mengandung kolostrum yang
didalamnya terdapat zat kekebalan 10- 17 kali lebih banyak dari pada susu
matang. Anak yang diberi ASI eksklusif ternyata akan lebih sehat dan lebih
jarang sakit dibandingkan dengan anak yang tidak diberi ASI eksklusif.6
Imunisasi merupakan suatu cara untuk meningkatkan kekebalan pada
anak, sehingga jika anak terkena penyakit maka penyakitnya tidak lebih parah
dari anak yang belum pernah diimunisasi. Imunisasi bermanfaat untuk
mencegah beberapa jenis penyakit infeksi seperti polio,TBC, difteri, pertusis,
tetanus, dan hepatitis B, bahkan mencegah kematian dari akibat penyakit-
penyakit tersebut. Sebagian besar kasus ISPA merupakan penyakit yang dapat
dicegah dengan imunisasi, seperti difteri dan pertussis.7
Pneumonia biasa disebabkan oleh virus atau bakteri. Namun sebagian
episode serius disebabkan oleh bakteria. Untuk mengetahui bakteri penyebab
memerlukan pemeriksaan laboratorium yang memadai karena sulit
menentukan penyebab spesifik melalui gambaran klinis atau rotgen
8,9
Klasifikasi pneumonia berdasarkan derajat beratnya terdiri dari pneumonia
berat, dan pneumonia ringan.8
Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk meneliti
hubungan usia balita, status gizi, status imunisasi, serta riwayat pemberian asi
eksklusif dengan derajat pneumonia di Teminabuan Papua Barat.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang ada, rumusan masalah penelitian ini


adalah apakah terdapat hubungan antara usia balita, status gizi, status

2
imunisasi, serta riwayat pemberian asi eksklusif dengan derajat pneumonia di
Teminabuan Papua Barat.

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan usia balita,
status gizi, status imunisasi, serta riwayat pemberian asi eksklusif
dengan derajat pneumonia di Teminabuan Papua Barat.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Menganalisis hubungan usia balita dengan derajat pneumonia di
Teminabuan Papua Barat
1.3.2.2 Menganalisis hubungan status gizi dengan derajat pneumonia di
Teminabuan Papua Barat
1.3.2.3 Menganalisis status imunisasi dengan derajat pneumonia di
Teminabuan Papua Barat
1.3.2.4 Menganalisis hubungan pemberian ASI eksklusif dengan derajat
pneumonia di Teminabuan Papua Barat

1.4 Keaslian Penelitian

Peneliti/judul Hasil Persamaan Perbedaan

3
Achmad Hasil penelitian menunjukkan bahwa : Varibel bebas : Variabel terikat :
ozali,2010 status gizi klasikfikasi
- Anak balita gizi baik : 16 orang,
Hubungan antara pneumonia
status gizi tidak pneumonia : 12 orang(40%),
dengan pneumonia : 4 orang (13,33%). Variabel bebas :
klasifikasi - Anak balita gizi kurang : 11 orang,
pneumonia pada usia,status
tidak pneumonia : 2 orang (6,67%)
balita di imunisasi, dan
Pneumonia : 9 orang(30,00%).
puskesmas - anak balita dengan gizi buruk pemberian ASI
gilingan
kecamatan sebanyak 3 orang, yang tidak ekskusif
banjarsari pneumonia sebanyak 1 orang
Surakarta
(3,33%) yang pneumonia 2 orang

Mia Hasil penelitian menunjukkan: Variabel bebas : Variabel bebas :


Nurnajiah,2014 status gizi usia,status imunisasi,
51 balita (91,1%) : status gizi baik
Hubungan status dan pemberian ASI
gizi dengan menderita pneumonia (ringan-sedang) Variabel terikat :
ekskusif
derajat dan 18 balita (8,9%) status gizi derajat pneumonia
pneumonia pada
balita di RS Dr. kurang-buruk menderita pneumonia
M. Djamil berat.
Padang

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah variabel-


variabel yang diteliti meliputi usia balita, status gizi, status imunisasi, ASI
eksklusif dengan derajat pneumonia pada balita. Selain itu penelitian
dilakukan di Rumah Sakit sehingga terdapat perbedaan karakteristik
demografis dan individu dengan penelitian sebelumnya.

1.5 Manfaat Penelitian


1.5.1 Manfaat Teoritis

4
Dengan mengetahui hubungan antara usia, status gizi, status
imunisasi, serta pemberian ASI eksklusif dengan derajat pneumonia
pada balita di Teminabuan Papua Barat dapat diperoleh informasi
ilmiah sebagai sumbangan kepada dunia kedokteran serta untuk
memperkaya pengetahuan di bidang Kedokteran.
1.5.2 Manfaat Praktisi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengetahui dan membuktikan
hubungan usia balita, status gizi, status imunisasi, dan pemberian ASI
eksklusif dengan derajat pneumonia.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pneumonia
2.1.1 Definisi

5
Pneumonia merupakan suatu radang pada paru karena adanya
mikroorganisme ( bakteri, virus, jamur, parasit ) yang ditandai dengan
panas tinggi disertai batuk berdahak, napas cepat dengan frekuensi lebih
dari 50 kali permenit, kesulitan bernapas, dan diikuti dengan sakit pada
kepala, berkurang keinginan untuk makan, dan gelisah.10
Pneumonia adalah radang akut yang menyerang jaringan paru dan
sekitarnya. Pneumonia adalah manifestasi infeksi saluran pernafasan
akut (ISPA) yang paling berat karena dapat menyebabkan kematian.11
2.1.2 Etiologi
Penyebab pneumonia adalah berbagai macam virus, bakteri atau
jamur. Peran bakteri sebagai penyebab pneumonia berat dalam
penelitian yang telah dilakukan secara luas di negara berkembang.Ini
telah menegaskan bahwa Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus
aureus, dan Haemophilus influenzae sebagai penyebab pneumonia
berat. Dalam beberapa penelitian, S. pyogenes dan bakteri gram negatif
juga muncul.Serangkaian lainnya yang berfokus pada penyakit berat,
terutama kasus yang melibatkan efusi pleura, juga menunjukkan bakteri
sebagai penyebab utama pneumonia.

Table 1.1 Klasifikasi pneumonia berdasarkan etiologi : 12

Infeksi Bakteri Infeksi Atipikal Infeksi Jamur

Streptococcus Mycoplasma Aspergillus


pneumoniae pneumonia
Haemophillus Legionella Histoplasmosis
influenza pneumophillia
Klebsiella pneumoniae Coxiella burnetii Candida
Pseudomonas Chlamydia psittaci Nocardia
aeruginosa
Gram-negatif (E. Coli)
Infeksi Virus Infeksi Protozoa Penyebab Lain
Influenza Pneumocytis carinii Aspirasi
Coxsackie Toksoplasmosis Pneumonia lipoid
Adenovirus Amebiasis Bronkiektasis

6
Sinsitial respiratori Fibrosis kistik

2.1.3 Klasifikasi Pneumonia


Beberapa sumber membuat klasifikasi pneumonia berbeda-beda
tergantung sudut pandang. Klasifikasi pneumonia tersebut dibuat
berdasarkan anatomi, etiologi, usia, klinis dan epidemiologi.
Menurut Hockenberry & Wilson (2009) pneumonia dikelompokan
menjadi:13
2.1.3.1 Pneumonia lobaris
Peradangan pada semua atau sebagian besar segmen paru dari
satu atau lebih lobus paru.
2.1.3.2 Bronkopneumonia
Sumbatan yang dimulai dari cabang akhir bronkiolus oleh
eksudat mukopurulen dan berkonsolidasi di lobulus disebut
juga pneumonia lobular.
2.1.3.3 Pneumonia Interstitial
Proses peradangan pada dinding alveolus (interstitial) dan peri
bronkial serta jaringan interlobularis.

Klasifikasi pneumonia berdasarkan kuman penyebab :


2.1.3.1 Pneumonia bakterial/tipikal
Pneumonia yang dapat terjadi pada semua usia. Beberapa
kuman mempunyai tendensi menyerang seseorang yang peka
misalnya Klebsiela pada penderita alkoholik dan
Staphylococcus pada penderita pasca infeksi influenza.
2.1.3.2 Pneumonia atipikal
Pneumonia yang disebabkan oleh Mycoplasma, Legionella dan
Chlamydia.
2.1.3.3 Pneumonia Virus
Pneumonia yang disebabkan oleh virus contohnya Respiratory
Syntical Virus ( Parainfluenzavirus, Influenza, Adenovirus).
2.1.3.4 Pneumonia Jamur

7
Pneumonia yang sering merupakan infeksi sekunder, terutama
pada penderita dengan daya tahan tubuh lemah
(immunocompromised).

Depkes RI (2007) membuat klasifikasi pneumonia pada balita


berdasarkan kelompok usia: 14
Usia anak 2 bulan – 60 bulan :
2.1.3.1 Batuk bukan pneumonia ditandai dengan tidak ada nafas cepat
dan tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah.
2.1.3.2 Pneumonia ditandai dengan adanya nafas cepat dan tidak ada
tarikan dinding dada bagian bawah. Pneumonia berat ditandai
dengan adanya tarikan dinding dada bagian bawah ke depan.
Usia kurang dari 2 bulan :
2.1.3.3 Bukan pneumonia ditandai dengan tidak ada nafas cepat dan
tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam yang
kuat.
2.1.3.4 Pneumonia berat ditandai dengan adanya nafas cepat dan
tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam yang kuat.

2.1.4 Pathogenesis dan Patofisiologi

Umumnya mikroorganisme penyebab terhisap ke paru bagian


perifer melalui saluran resporatori. Ada 3 stadium dalam patofisiologi
penyakit pneumonia (Said, 2008), yaitu :15
2.1.4.1 Stadium hepatisasi merah
Mula-mula terjadi edema akibat reaksi jaringan yang
mempermudah proliferasi dan penyebaran kuman ke
jaringan sekitarnya. Bagian paru yang terkena mengalami
konsolidasi, yaitu terjadi serbukan sel PMN, fibrin,
eritrosit, cairan edema, dan ditemukannya kuman di
alveoli.
2.1.4.2 Stadium hepatisasi kelabu.

8
Selanjutnya, deposisi fibrin semakin bertambah,
terdapatfibrin dan leukosit PMN di alveoli dan terjadi
proses fagositosis yang cepat.
2.1.4.3 Stadium resolusi
Setelah itu, jumlah makrofag meningkat di alveoli, sel akan
mengalami degenerasi, fibrin menipis, kuman dan debris
menghilang. Sistem bronkopulmoner jaringan paru yang
tidak terkena akan tetap normal.

2.1.5 Manifestasi Klinis


Manifestasi pneumonia yang terjadi pada anak adalah antara ringan
hingga sedang, sehingga tidak perlu perawatan di rumah sakit, hanya
rawat jalan saja. Pneumonia yang memerlukan perawatan di rumah
sakit adalah pneumonia yang berat, mengancam kehidupan dan terdapat
komplikasi. Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi gambaran klinis
pneumonia pada anak adalah immunologik, imaturitas anatomik,
mikroorganisme penyebab yang luas, gejala klinis yang tidak khas
terutama pada bayi, terbatasnya penggunaan prosedur diagnostik
invasif, dan faktor patogenesis. Gambaran klinis pneumonia pada anak
tergantung pada berat-ringannya infeksi. Gejala infeksi umumnya
meliputi demam, sakit kepala, malaise, turunnya nafsu makan, mual,
muntah, atau diare. Gejala gangguan respiratori yaitu batuk, sesak
nafas, retrasi dada, takipnea, nafas cuping hidung, merintih, dan
sianosis. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan pekak perkusi, suara
nafas yang melemah, ronkhi, sedangkan pada perkusi dan auskultasi
neonatus umumnya tidak terjadi kelainan karena gejala dan tanda yang
beragam dan tidak jelas.8
2.1.6 Faktor resiko
Meskipun terdapat berbagai mekanisme pertahanan dalam saluran
pernapasan, selalu terdapat faktor risiko. Sehingga hal ini menyebabkan
individu rentan terhadap infeksi.16 Menurut Wilson L.M. (2006) bayi
dan anak kecil rentan terhadap penyakit pneumonia karena respon

9
imunitas bayi dan anak kecil masih belum berkembang dengan baik.
Adapun faktor risiko yang lain secara umum adalah: 17
2.1.6.1 Infeksi pernapasan oleh virus.
2.1.6.2 Penyakit asma dan kistik fibrosis.
2.1.6.3 Sakit yang parah dan menyebabkan kelemahan
2.1.6.4 Kanker (teutama kanker paru).
2.1.6.5 Tirah baring yang lama.
2.1.6.6 Riwayat merokok.
2.1.6.7 Alkoholisme.
2.1.6.8 Pengobatan dengan imunosupresif.
2.1.6.9 Malnutrisi.

2.1.7 Pemeriksaan Penunjang


Pneumonia didiagnosis berdasarkan tanda klinik dan gejala, hasil
pemeriksaan laboratorium dan mikrobiologis, evaluasi foto x-ray dada
(IDAI, 2009). Berikut untuk pemeriksaan penunjang pada pneumonia :
18

2.1.7.1 Pemeriksaan Radiologi


Foto toraks (PA/lateral) merupakan pemeriksaan penunjang
utama untuk menegakkan diagnosis. Gambaran radiologis
dapat berupa infiltrat sampai konsolidasi dengan air
broncogram, penyebab bronkogenik dan interstisial serta
gambaran kaviti. Gambaran adanya infiltrat dari foto x-ray
merupakan standar yang memastikan diagnosis

2.1.7.2 Pemeriksaan Laboratorium


Pada pemeriksaan labolatorium terdapat peningkatan
jumlah leukosit, biasanya lebih dari 10.000/ul kadang-
kadang mencapai 30.000/ul, dan pada hitungan jenis
leukosit terdapat pergeseran ke kiri serta terjadi
peningkatan LED. Untuk menentukan diagnosis etiologi
diperlukan pemeriksaan dahak, kultur darah dan serologi.
Kultur darah dapat positif pada 20-25% penderita yang
tidak diobati. Analisis gas darah menunjukkan hipoksemia
dan hikarbia, pada stadium lanjut dapat terjadi asidosis
respiratorik

10
2.1.7.3 Pemeriksaan mikrobiologis
Pemeriksaan mikrobiologis pada pneumonia tidak
diperlukan, kecuali pada pneumonia yang berat dan
memerlukan rawat inap di rumah sakit. Spesimen
pemeriksaan ini bias diambil dari usap tenggorok, secret
nasofaring, bilasan bronkus, aspirasi paru, darah, dan
pungsi paru. Diagnosis definitive bila kuman ditemukan
dari aspirasi paru, cairan pleura, dan darah.8
2.1.7.4 C – Reactive Protein (CRP)
CRP adalah suatu protein masa akut yang disintesis oleh
hepatosit, secara klinis CRP digunakan sebagai alat
diagnostic untuk membedakan antara factor infeksi dan
noninfeksi, infeksi virus dan bakteri atau infeksi bakteri
superfisialis dan profunda. Kadar CRP biasanya lebih
rendah pada infeksi virus dan infeksi bakteri superfisialis
daripada infeksi bakteri profunda.8
2.1.8 Diagnosis
Diagnosis etiologi berdasarkan pemeriksaan mikrobiologis
merupakan dasar terapi yang optimal, tetapi untuk menemukan bakteri
penyebab pneumonia harus dengan pemeriksaan laboratorium
penunjang yang memadai. Oleh karena itu, pneumonia pada anak
didiagnosis berdasarkan gambaran klinis yang menunjukkan
keterlibatan system respiratori dan gambaran radiologis. Akibat
tingginya angka morbiditas dan mortalitas neumonia pada balita, maka
WHO mengembangkan pedoman diagnosis dan tatalaksana yang
sederhana. Pedoman ini terutama ditunjukkan untuk pelayanan
kesehatan primer. Tujuannya adalah untuk meyederhanakan krteria
diagnosis berdasarkan gejala klinis yang langsung dapat dideteksi,
menetapkan klasifikasi peyakit, dan menentukan dasar pemberian
antibiotik.

11
2.1.9 Usia Balita
Anak balita adalah anak yang telah menginjak usia di atas satu
tahun atau lebih popular dengan pengertian usia anak di bawah lima
tahun.19
Menurut Sutomo. B. dan Anggraeni. DY, (2010) 20, Balita adalah
istilah umum bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak prasekolah
(3-5 tahun). Saat usia batita, anak masih tergantung penuh kepada
orang tua untuk melakukan kegiatan penting, seperti mandi, buang
air dan makan. Perkembangan berbicara dan berjalan sudah
bertambah baik. Namun kemampuan lain masih terbatas. Masa balita
merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang manusia.
Perkembangan dan pertumbuhan di masa itu menjadi penentu
keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak di periode
selanjutnya. Masa tumbuh kembang di usia ini merupakan masa
yang berlangsung cepat dan tidak akan pernah terulang, karena itu
sering disebut golden age atau masa keemasan.

2.1.10 Status Gizi


2.1.10.1 Pengertian
Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat
konsumsi dan penggunaan zat-zat gizi.21 Status gizi
merupakan gambaran dari keadaan keseimbangan
dalam variable tertentu, atau perwujudan dari nutriture
dalam variable tertentu.22
2.1.10.2 Penilaian status gizi
Penilaian status gizi dibagi dua yaitu penilaian secara
langsung dan tidak langsung, penilaian secara langsung
adalah:
2.1.10.2.1 Antropometri
Antropometri adalah alat ukur tubuh
manusia. Antropometri digunakan untuk
melihat ketidakseimbangan asupan protein
dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat
pada pola pertumbuhan fisik dan proporsi

12
jaringan tubuh, seperti lemak, otot, dan
jumlah air dalam tubuh
2.1.10.2.2 Klinis
Penilaian status gizi meliputi pemeriksaan
fisik secara menyeluruh, termasuk riwayat
kesehatan. Bagian tubuh yang harus
diperhatikan adalah kulit, gigi, gusi, bibir,
lidah, dan mata. Rambut, kulit, mulut sangat
rentan sebab usia epitel dan mukosa
( termasuk mukosa saluran pencernaan yang
termanifestasi sebagai diare ) tidak lama.22
2.1.10.2.3 Biokimia
Adalah pemeriksaan specimen yang diuji
secara laboratoris yang dilakukan pada
berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan
tubuh yang digunakan antara lain : darah,
urin, tinja, dan juga beberapa jaringan tubuh.
Metode ini digunakan untuk keadaan
malnutrisi yang lebih parah lagi.22
2.1.10.2.4 Biofisik
Metode penelitian status gizi secara biofisik
adalah metode penetuan dengan melihat
kemampuan fungsi ( khususnya jaringan )
dan melihat perubahan struktur dan jaringan.
Umumnya digunakan dalam situasi tertentu
seperti kejadian buta senja epidemic. Cara
yang digunakan adalah tes adaptasi gelap.22
2.1.10.3 Indeks antropometri
2.1.10.3.1 Berat badan menurut umur
Berat badan menurut umur adalah
gambaran status gizi secara umum. Berat
badan dan umur merupakan hal wajib yang
harus dicatat pada saat pemeriksaan anak,

13
karena akan berpengaruh pada penentuan
dosis obat yang akan diberikan.22
2.1.10.3.2 Tinggi badan menurut umur
Pengaruh defisiensi gizi terhadap tinggi
badan akan terlihat dalam waktu yang lama,
sehingga tinggi badan menurut umur
menggambarkan status gizi yang kronis.
Pada keadaan normal, tinggi badan tubuh
searah dengan pertambahan umur.22
2.1.10.3.3 Berat badan menurut tinggi badan
Dalam keadaan normal, perkembangan berat
badan akan searah dengan pertumbuhan
tinggi badan dengan kecepatan tertentu
indeks BB/TB merupakan indikator yang
baik untuk status gizi masa sekarang.22
Table 1.2 Penilaian status gizi berdasarkan standar baku
antropometri WHO NCHS

Indeks Batas pengelompokkan Status Gizi

BB/U >-3SD Gizi buruk


-3SD s/d <-2SD Gizi kurang
-2SD s/d +2SD Gizi cukup
>+2SD Gizi lebih

TB/U >-3SD Sangat kurus


-3SD s/d <-2SD Pnedek
-2SD s/d +2SD Normal
>+2SD Sangat pendek

BB/TB >-3SD Sangat kurus


-3SD s/d <-2SD Kurus
-2SD s/d +2SD Normal
>+2SD Gemuk

2.1.11 Status Imunisasi


2.1.11.1 Pengertian Imunisasi
Imunisasi merupakan suatu cara untuk
meningkatkan kekebalan tubuh seseorang, sehingga jika
seorang itu terkea suatu penyakit yang dapdat dcegah
dengan imunisasi, penyakitnya tidak lebih parah daripada

14
seseorang yang belum pernah dapat diimunisasi. Kekebalan
yang diperoleh dari imunisasi dapat berupa kekebalan aktif
maupun pasif.23
Kekebalan pasif dapat diperoleh dengan
memberikan antibody kepada tubuh sesorang yang
membutuhkan, sedangkan kekebalan aktif diperoleh dari
imunisasi aktif dengan memberikan zat bioaktif yang
disebut dengan vaksin, tindakan tersebut dikenal dengan
vaksinasi.23
2.1.11.2 Manfaat dan tujuan Imunisasi
Manfaat imunisasi bagi individu dan lingkungan
adalah untuk melindungi bayi dan anak dari berbagai
penyakit berbahaya, dapat mencegah sakit berat, cacat
atau kematian, dan memberantas penyakit –penyakit
tertentu. Imunisasi akan merangsang kekebalan spesifik
pada anak dan bayi terhadap virus dan kuman sesuai jenis
vaksin yang diberikan. Bayi dan anak yang telah mendapat
imunisasi lebih kecil kemungkinan sakit karena virus
maupun kuman sehingga akan terhindar dari sakit berat.24
Pemberian imunsasi bertujuan untuk mencegah
terjadinya suatu penyakit, menghilangkan penyakit pada
sekelompok masyarakat ( populasi ), atau menghilangkan
penyakit dari dunia seperti keberhasilan imunisasi cacar
variola tetapi keadaan ini hanya terjadi pada jenis penyakit
yang dapat ditularkan melalui manusia misalnya penyakit
difteri dan poliomyelitis.23
2.1.12 Pemberian ASI Eksklusif
2.1.12.1 Pengertian
ASI merupakan cairan yang dihasilkan oleh kelenjar
payudara wanita melalui proses laktasi. ASI diberikan
minimal 6 bulan tanpa makanan pendamping apapun. ASI
eksklusif dapat melindungi anak terhadap infeksi dan
diare.25
2.1.12.2 Komponen ASI

15
ASI terdiri dari air, alfa- laktoalbumin, laktosa,
kasein, asam amino, antibody terhadap kuman, virus dan
jamur sehingga ASI dapat melindungi anak dari diare dan
penyakit infeksi lainnya. Antibodi yang terkandung dalam
air susu adalah IgA, bersama dengan berbagai system
komplemen yang terdiri dari makrofag, limfosit, laktoferin,
laktoperosidase, lisozim, laktoglobulin, interleukin sitokin,
dsb. IgA yang terdapat dalam kolostrum dapat memberikan
kekebalan tubuh pasif terhadap suatu infeksi.25

2.1.12.3 Manfaat ASI


ASI memberikan nutrisi yang lengkap bagi bayi, ASI
memberikan seluruh kebutuhan nutrisi dan energy selama 1
bulan pertama, seapruh atau lebih nutrisi 6 bulan kedua
dalam tahun pertama, dan 1/3 nutrisi atau lebih selama
tahun kedua. ASI juga dapat melindungi anak terhadap
infeksi dan penyembuhan yang lebih cepat dari infeksi.25

16
2.2 Kerangka teori

AGENT PNEUMONIA

Bakteri

FAKTOR EKSTRINSIK Virus FAKTOR INTRINSIK

Polusi udara Parasit Usia balita

Pajanan rokok Jamur Status gizi

Status imunisasi

Pemberian ASI
eksklusif
Reaksi inflamasi

Jaringan paru meradang

Sekresi,edem
a
Ratio ventilasi perfusi
Konsolidasi paru

Luas permukaan membrane respirasi

Difusi dan hipoksemia


Derajat pneumonia

17
Keterangan : Diteliti

Tidak diteliti

2.3 Kerangka kosep

Usia balita

Status gizi Derajat pneumonia


Status imunisasi
Pemberian ASI eksklusif
Variable Bebas Variable Terikat

2.4 Hipotesis
2.4.1 Adanya hubungan antara usia balita dengan derajat pneumonia
2.4.2 Adanya hubungan antara status gizi dengan derajat pneumonia
2.4.3 Adanya hubungan antara status imunisasi dengan derajat pneumonia
2.4.4 Adanya hubungan antara ASI eksklusif dengan derajat pneumonia

BAB III

18
METODE PENELITIAN

3.1 Ruang Lingkup Penelitian


3.1.1 Ruang Lingkup Keilmuan
Ruang lingkup keilmuan dalam penelitian ini adalah Ilmu Kesehatan
Anak
3.1.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian akan dilaksanakan pada bulan Agustus – Oktober
2018
3.1.3 Tempat Penelitian
Teminabuan, Papua Barat

3.2 Jenis Penelitian


Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observational dengan metode
cross-sectional.

3.3 Populasi dan Sampel


3.3.1 Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah semua balita yang didiagnosis
pneumonia di Teminabuan,Papua Barat
3.3.2 Sampel
3.3.2.1 Kriteria Inklusi
Anak berusia dibawah lima tahun ( 12 – 60 bulan )
3.3.2.2 Kriteria Eksklusi
3.3.2.2.1 Orangtua kurang kooperatif
3.3.2.2.2 Catatan medik tidak lengkap
3.3.2.2.3 Menderita penyakit paru lainnya
3.3.3 Teknik Sampling
Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling

3.3.4 Besar Sampel


Besar sampel dalam penelitian ini dihitung berdasarkan rumus sebagai
berikut :
Z2 α ̸ 2 * p ( 1 – p ) N
n = ──────────────────
d2 (N-1) + Z2 α ̸ 2 * p ( 1 – p )

(1,96.1,96) . 0,5 . (1 – 0,5). 240


n = ─────────────────────
(0,1.0,1).240 + (1,962) . 0,5 . (1 – 0,5)

230.496

19
n = ────────
3,3604

n = 68,59 = 69

keterangan :
n : besar sampel
Z α ̸ 2 : nilai Z pada derajat kepercayaan 1- α ̸ 2
p : proporsi hal yang diteliti
d : presisi
N : jumlah populasi

3.4 Variable Penelitian dan Definisi Operasional


3.4.1 Variabel bebas
Variable bebas dari penelitian ini adalah usia balita, status gizi,
status imunisasi, dan ASI eksklusif
3.4.2 Variabel terikat
Variable terikat dari penelitian ini adalah derajat pneumonia
3.4.3 Definisi Operasional

Table 1.3

Variabel Definisi operasional Cara pengukuran Hasil pengukuran Skala

Usia balita Umur balita dihitung Mengisi lebar observasi Usia dalam tahun, untuk Ordinal
dalam tahun, dari tahun oleh responden analisis univariat, data akan
kelahiran sampai saat dikelompokkan :
penelitian dilakukan -12– 35 bulan
- 36 – 60 bulan

Status gizi Keadaan status gizi Data diperoleh dari catatan -Gizi baik (-2SD s/d +2SD) Ordinal
balita yang dihitung medik di RS Schoolo -Gizi kurang (-3SD s/d -2SD)
dengan z- score = BB/U Keyen,Teminabuan -Gizi buruk (> -3SD)

20
Status Kelengkapan lima jenis Mengisi lembar observasi - Imunisasi lengkap = balita Nominal
Imunisasi imunisasi yang oleh responden yang mendapat 5
diwajibkan pada balita imunisasi dasar lengkap
yaitu : BCG, DPT,
Polio, Hepatitis B, dan - Imunisasi tidak lengkap =
Campak balita yang jika ada satu
jenis tidak di imunisasi

Pemberian Riwayat pemberian ASI Mengisi lembar observasi - ASI eksklusif = balita Nominal
ASI pada balita selama 6 oleh responden dengan riwayat ASI saja
eksklusif bulan pertama tanpa selama 6 bulan
makanan pendamping - Tidak ASI eksklusif =
balita dengan riwayat
tidak mengonsumsi ASI
selama 6 bulan

Derajat Derajat pneumonia Data diperoleh dari catatan - Pneumonia berat Ordinal
pneumonia berdasarkan beratnya medis balita yang - Pneumonia ringan
pneumonia dengan didiagnosis dokter
kriteria = menderita pneumonia

Pneumonia berat =
nafas cepat,tarikan
dinding dada bagian
bawah kuat

Pneumonia ringan =
nafas cepat, tanpa
tarikan dinding dada
bagian bawah

3.5 Bahan dan alat


3.5.1 Catatan medic
3.5.2 Table z- score menurut WHO
3.5.3 Lembar observasi

21
3.6 Alur Penelitian

Subjek penelitian
Kriteria inklusi

Krteria ekslusi

Pneumonia berat Pneumonia ringan

Analisis usia, Status imunisasi, Analisis usia, Status imunisasi,


status gizi balita pemberian ASI status gizi balita pemberian ASI
dengan data eksklusif dengan dengan data eksklusif dengan
rekam medis observasi rekam medis observasi

Pengumpulan data
dan analisis data

22
3.7 Pengolahan data dan Analisis Data
3.7.1 Pengolahan data
3.7.1.1 Editing
Editing merupakan kegiatan untuk mengetahui kelengkapan
data pada isian formulir yang akan diolah.
3.7.1.2 Coding
Coding merupakan kegiatan untuk mengklasifikasikan data
berdasarkan kategorinya masing-masing. Pemberian kode
dilakukan setelah data diedit untuk mempermudah pengolahan
data.
3.7.1.1 Usia balita
1= 36- 60 bulan
0= 35-12 bulan
3.7.1.2 Status gizi

2 = baik
1 = kurang
0 = buruk
3.7.1.3 Status Imunisasi
1 = lengkap
0 = tidak lengkap
3.7.1.4 ASI eksklusif
1 = ASI eksklusif
0 = ASI tidak eksklusif

3.7.1.5 Derajat pneumonia

1 = ringan

0 = berat

3.7.1.3 Processing
Processing merupakan kegiatan memproses data yang
dilakukan dengan cara mengentry ( memasukkan data )
kedalam program computer

3.7.1.4 Clening

23
Cleaning merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang
sudah dientry apakah terdapat kesahlahan atau tidak.

3.7.2 Analisis Data


3.7.2.1 Analisis Univariat
Dilakukan untuk menjelaskan karakteristik masing – masing
variable
3.7.2.2 Analisis Bivariat
Untuk melihat hubungan antara variable bebas dan variable
terikat. Teknik analisis yang digunakan adalah uji static Chi
Square.

3.8 Etika Penelitian


Sebelum dilakukan penelitian terhadap individu/manusia, maka
terlebih dahulu telah diminta perihal Etchical Clerence dari Komisi Etik
Penelitian Kesehatan ( KEPK) Fakultas Kedokteran Universitas
Muhammadiyah Semarang.

3.9 Jadwal Penelitian

2
0
Tahun 2018
1
9
Bulan
No
Desember

Januari
September

November
Oktober
Agustus

Kegiatan
Juni

Juli

1 Penyusunan Proposal Penelitian


dan Penelitian Pendahuluan
2 Seminar Proposal Penelitian
3 Pengajuan Ijin Penelitian
4 Pelaksanaan Penelitian
5 Pengolahan dan analisis data
6 Penyelesaian Skripsi
24
7 Presentasi Hasil Penelitian
DAFTAR PUSTAKA

1. UNICEF.2012. Ringkasan Kajian Gizi. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI


2. Widagdo. 2012. Masalah Dan Tatalaksana Penyakit Anak Dengan

Demam,Jakarta : Sagung Seto


3. Muluki M.2003. Analisis faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya

penyakit ISPA di Puskesmas Palanro Kecamatan Mallusetasi Kabupaten

Barru Tahun 2002-2003. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Departemen
4. Cicih, L. H.M. 2011. Pengaruh Perilaku Ibu terhadap Status Kesehatan

Anak Baduta di Provinsi Jawa Tengah. Jurnal Sari Pediatri. Vol. 13, No. 1
5. Rosalina, S. 2008. Strategi Penanggulangan Infeksi Saluran Pernapasan

Akut pada Anak Balita Melalui Analisis Faktor Determinan di Tiga

25
Kecamatan Kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan Tahun 2006. Tesis FKM

USU. Medan
6. Roesli, U. 2000. Mengenal ASI Eksklusif. Jakarta : Trubus Agriwidya
7. Kemenkes. 2011. Imunisasi efektif menekan angka kesakitan dan kematian

bayi. Jakarta
8. Rahajoe, N. Nastiti dkk.2008. Respirologi Anak, Jakarta : IDAI
9. Depkes RI.2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta : Departemen

Kesehatan Republik Indonesia


10. Depkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan

pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI


11. Ikatan Dokter Anak Indonesia.2011. Buku Ajar Nutrisi Pediatrik dan

Penyakit Metabolik. Jakarta : Badan Penerbit IDAI


12. Jeremy P.T., 2007, At Glance Sistem Respirasi, Jakarta : Edisi Kedua,

Erlangga Medical Series


13. Hockenberry, M.J & Wilson, D. 2009. Essential of Pediatric Nursing. St.

Louis Missoury: Mosby


14. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Kesehatan RI.2007. Riset

Kesehatan Dasar 2007. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI


15. Said M 2008. Pneumonia. In : Rahajoe N.N., Supriyatno B., Setyanto D.B.

(eds).Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi I. Jakarta : Badan Penerbit IDAI,

pp 350-364.
16. Maitra A. Dan Kumar V. 2007.Paru dan Saluran Napas Atas. In : Kumar

V.,Cotran R.S., Robbins S.L. (eds). Buku Ajar Patologi Robbins, Volume 2

Edisi 7. Jakarta : EGC


17. Wilson L.M. 2006. Penyakit Pernapasan Restriktif. In : Price S.A. dan

Wilson L.M. (eds). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses – Proses Penyakit.

Jakarta:EGC
18. Pudjiadi, Antonius H.dkk,editor 2009. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan

Dokter Anak Indonesia. IDAI

26
19. Muaris, H. 2006. Lauk Bergizi Untuk Anak Balita. Jakarta: Gramedia

Pustaka Utama
20. Sutomo, B & Anggraini, D. Y., Makanan Sehat Pendamping ASI. Demedia.

Jakarta
21. Notoatmodjo, Soekidjo.2007. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Rineka

Cipta.
22. Supriasa, I Dewa Nyoman.2001. Penelitian Status Gizi. EGC, Jakarta.
23. Ranuh IGN, H. Suyitno, S.S. Hadinegoro, C. B. Kartasasmita,Ismoedijanto,

Soedjatmiko. 2011.Buku Imunisasi di Indonesia edisi 4.Jakarta : Satgas

Imunisasi – Ikatan Dokter Anak Indonesia


24. Satgas PP IDAI.2011. Panduan Imunisasi Anak mencegah lebih baik

daripada mengobati. Jakarta. Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.


25. Proverawati, A, Rahmawati, E.2010. kapita Selekta ASI dan Menyusui.

Yogyakarta.Nuba Medika

27