Anda di halaman 1dari 20

CASE BASED DISCUSSION

Kandidosis Vulvovaginal

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Tugas

Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Kesehatan Kulit

Rumah Sakit Islam Sultan Agung

Disusun oleh:

Riries Dwi Wibawanti

30101307063

Pembimbing:

dr. Hesti Wahyuningsih K, Sp.KK

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG

SEMARANG

2018
HALAMAN PENGESAHAN

Nama : Riries Dwi Wibawanti

NIM : 30101307063

Fakultas : Kedokteran Umum

Universitas : Unissula

Tingkat : Program Pendidikan Profesi Dokter

Periode Kepaniteraan : 15 Oktober 2018 – 10 November 2018

Bagian : Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

Judul Laporan : Kandidosis Vulvovaginal

Pembimbing : dr. Hesti Wahyuningsih K, Sp.KK

Diajukan dan disahkan : .....................................

Semarang, Oktober 2018

Pembimbing Kepaniteraan Klinik

Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin

RSI SULTAN AGUNG SEMARANG

(dr. Hesti Wahyuningsih K, Sp.KK)


BAB I
PENDAHULUAN
Kandidiasis (atau kandidosis, monoliasis, trush) merupakan berbagai macam
penyakit infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans dan anggota genus kandida
lainnya. Organisme ini dapat menginfeksi kulit, kuku, membran mukosa dan traktus
gastrointestinal, dan bahkan dapat menyebabkan penyakit sistemik. Manifestasi klinis antara
lain kandidiasis oral, kandidiasis intertriginosa, kandidiasis vulvovaginalis, paronikia,
onikomikosis, glossitis, dan angular stomatitis. Sekitar 3-4 dari semua wanita akan
mengalami episode kandidiasis vulvovaginal (KVV) seumur hidupnya. Candida albicans
merupakan penyebab 80-90% KVV, dan Candida glabrata merupakan spesies yang paling
sering terlibat selanjutnya. Faktor resiko KVV meliputi diabetes melitus (DM), penggunaan
steroid, alat kontrasepsi, memakai celana ketat dan baju sintetik, peningkatan estrogen,
penggunaan antibiotik dan imunosupresi. Pada umumnya, pasien KVV akan menemukan
cairan vagina yang kental dihubungkan dengan rasa terbakar, rasa gatal dan kadang disuria.
Pemeriksaan penunjang untuk KVV antara lain miroskopik langsung, pewarnaan Gram,
pemeriksaan sediaan basah, pemeriksaan pH, biakan, pemeriksaan histopatologi dan tes
fermentasi.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi
Kandidiasis (atau kandidosis, monoliasis, trush) merupakan berbagai macam
penyakit infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans dan anggota genus kandida
lainnya.

Epidemiologi Kandidiasis Vulvovaginalis


Informasi mengenai insiden KVV tidak lengkap, sejak KVV tidak dilaporkan.
Pengumpulan data pada KVV terhambat oleh ketidaktelitian diagnosis dan menggunakan
studi populasi yang bersifat tidak mewakili. Banyak studi menyatakan 5-15% prevalensi
KVV, tergantung pada studi populasi. Sekitar 3-4 dari semua wanita akan mengalami
episode KVV seumur hidupnya. KVV mempengaruhi banyak wanita paling sedikit satu kali
selama hidupnya, paling sering pada usia mampu melahirkan, diperkirakan 70-75%, 3-5
dari 40-50% akan mengalami kekambuhan. Subpopulasi kecil yang mungkin kurang dari
5% semua wanita dewasa mengalami episode KVV berulang diartikan sebagai ≥4 episode
per tahun. Setiap wanita dengan gejala vulvovaginitis, 29,8% telah diambil isolasi ragi, yang
memperkuat diagnosis KVV. Banyak studi mengindikasikan KVV merupakan diagnosis
paling banyak diantara wanita muda, mempengaruhi sebanyak 15-30% wanita yang bersifat
simptomatik yang mengunjungi dokter. Pada Amerika serikat, KVV merupakan penyebab
infeksi vagina tersering kedua setelah vaginosis bakteri.

Sumber Infeksi
Tiga sumber infeksi yang menyebabkan terjadinya KVV, meliputi reservoir, penularan
seksual dan kekambuhan.
a. Reservoir
Meskipun saluran gastrointestinal menjadi sumber kolonisasi awal kandida
pada vagina, kontroversi terus berlanjut mengenai peran usus sebagai sumber
reinfeksi pada wanita dengan KVV berulang. Beberapa penulis, telah menemukan
kesesuaian yang jauh lebih rendah diantara kultur dubur dan vagina pada pasien
dengan KVV berulang. Tingginya angka kultur anorektal dalam beberapa studi
mungkin menyatakan adanya kontaminasi perineum dan perianal dari keputihan.
Selain itu, KVV sering berulang pada wanita tanpa adanya kultur dubur yang positif.
b. Penularan seksual
Kolonisasi kandida pada genital laki-laki yang bersifat asimptomatik adalah
empat kali lebih sering terjadi pada laki-laki dimana pasangan seksualnya
merupakan wanita yang terinfeksi. Sekitar 20% kandida pada penis berasal dari
wanita dengan KVV berulang. Kandida paling sering ditemukan pada laki-laki yang
disunat, biasanya asimptomatik. Patner yang terinfeksi biasanya membawa
keturunan yang identik, namun kontribusi penularan seksual hingga patogenesis
infeksi masih belum diketahui.
c. Kekambuhan
Sejumlah kecil dari mikroorganisme bertahan dalam lumen vagina,
umumnya dalam jumlah yang terlalu kecil yang dideteksi oleh kultur vagina yang
konvensional. Hal ini juga dibayangkan bahwa jumlah kecil kandida mungkin
tinggal sementara di dalam serviks superfisial atau sel epitel vagina yang hanya
muncul kembali beberapa minggu atau bulan kemudian.

Etiologi dan Patogenesis Kandidiasis Vulvovaginalis


Candida albicans merupakan penyebab 80-90% KVV, dan Candida glabrata
merupakan spesies yang paling sering terlibat selanjutnya. Pada biakan jaringan, kandida
tumbuh sebagai sel ragi bertunas dan oval yang berukuran 3-6 µm. Kandida membentuk
pseudohifa ketika tunas-tunas terus tumbuh tetapi gagal melepaskan diri sehingga
menghasilkan rantai sel yang memanjang yang terjepit atau tertarik pada septa di antara sel.
Candida albicans bersifat dismorfik (ada juga yang menyebutnya polimorfik); selain ragi
dan pseudohifa, Candida albicans juga bisa menghasilkan hifa sejati. Dalam media agar
atau dalam 24 jam pada suhu 37ºC atau pada suhu ruangan, spesies kandida menghasilkan
koloni halus, berwarna krem dengan aroma ragi. Pseudohifa jelas terlihat sebagai
pertumbuhan yang terbenam di bawah permukaan agar. Pembentukan pseudohifa terjadi
karena pembelahan sel yang terpolarisasi ketika sel jamur tumbuh dengan tunas yang
memanjang tanpa melepaskan diri dari sel yang berdekatan, sehingga sel-sel tersebut
bergabung menjadi satu. Klamidiospora dibentuk pada pseudomiselium dimana bentuknya
bulat dan terdapat spora refraktil dengan dinding sel yang tebal. Perubahan dari komensal
ke patogen dipengaruhi oleh perubahan kondisi lingkungan dan penyebaran pada tubuh
pejamu. Jika terdapat pertumbuhan yang invasif dari pseudohifa multiseluler menyebabkan
infeksi jamur kandidiasis.

Gambar 1. Berbagai bentuk morfologi Candida albicans

Candida albicans merupakan organisme normal dari saluran cerna tetapi dapat
menimbulkan infeksi oportunistik. Terdapat dua faktor virulensi jamur kandida yaitu
dinding sel dan sifat dismorfik kandida. Dinding sel berperan penting dalam virulensi karena
merupakan bagian yang berinteraksi langsung dengan sel pejamu. Dinding sel kandida
mengandung 80-90% karbohidrat, yang terdiri dari b-glukan, khitin, mannoprotein, 6-25%
protein dan 1-7% lemak. Salah satu komponen dinding sel yaitu mannoprotein mempunyai
sifat imunosupresif sehingga mempertinggi pertahanan jamur terhadap imunitas pejamu.
Kandida tidak hanya menempel, namun juga penetrasi ke dalam mukosa. Enzim proteinase
aspartil membantu kandida pada tahap awal invasi jaringan untuk menembus lapisan
mukokutan yang berkeratin. Faktor virulensi lain berupa sifat dismorfik kandida yaitu
kemampuan kandida berubah bentuk menjadi pseudohifa. Bentuk utama kandida adalah
bentuk ragi (spora) dan bentuk pseudohifa (hifa, miselium, filamen). Dalam keadaan
patogen bentuk hifa mempunyai virulensi lebih tinggi dibandingkan bentuk spora karena
ukurannya lebih besar dan lebih sulit difagositosis oleh sel makrofag. Selain itu, terdapat
titik-titik blastokonidia multipel pada satu filamen sehingga jumlah elemen infeksius yang
ada lebih besar. Perubahan dari komensal menjadi patogen merupakan adaptasi terhadap
perubahan lingkungan sekitarnya. Pertumbuhan dan perubahan bentuk dari ragi menjadi hifa
yang lebih invasif juga dipengaruhi imunitas seluler. IFN-γ memblok transisi bentuk sel ragi
menjadi bentuk pseudohifa.
Kandida adalah sel jamur yang bersifat parasit dan menginvasi sel pejamu dengan
cara imunomodulasi dan adhesi. Imunomodulasi adalah kemampuan potensial sel kandida
dalam memodulasi sistem imunologi pejamu berupa rangsangan untuk meningkatkan atau
menurunkan reaksi imun pejamu. Zat seperti khitin, glukan, dan mannoprotein adalah
kandungan yang terdapat dalam dinding sel yang berperan dalam proses imunomodulasi.
Respon imunomodulasi menyebabkan diproduksinya sejumlah protein yang disebut sebagai
heat shock protein (hsp) yang berperan dalam proses perangsangan respon imun dan proses
pertumbuhan kandida. Adhesi merupakan langkah awal untuk terjadinya kolonisasi. Dengan
adhesi, kandida melekat pada sel pejamu melalui interaksi hidrofobik. Hal ini menurunkan
kadar pembersihan jamur dari tubuh melalui regulasi imun normal. Ketika Candida albicans
penetrasi ke permukaan mukosa pejamu terjadi perubahan bentuk jamur dari spora ke
pseudohifa sehingga membantu jamur menginvasi jaringan perjamu melalui pelepasan
beberapa enzim degradatif seperti berbagai proteinase, proteinase aspartil dan fosfolipase.

Faktor Resiko Kandidiasis Vulvovaginalis


Faktor resiko KVV meliputi DM, penggunaan steroid, alat kontrasepsi, memakai
celana ketat dan baju sintetik, peningkatan estrogen, penggunaan antibiotik dan
imunosupresi, serta higiene yang kurang.
Setiap faktor host yang mempengaruhi lingkungan vagina atau cairan vagina
memiliki peran dalam KVV. Kehamilan adalah salah satu faktor predisposisi yang paling
umum. Penelitian telah menunjukkan bahwa hingga sepertiga dari wanita hamil di seluruh
dunia pada hari apapun dapat terpengaruh. Tingginya hormon reproduksi dan peningkatan
kandungan glikogen dalam lingkungan vagina menghasilkan lingkungan yang
menguntungkan bagi spesies kandida. Pada kombinasi, 2 perubahan ini menyediakan
sumber karbon yang berlimpah untuk pertumbuhan, germinasi, dan adheren kandida. Selain
itu, keasaman flora vagina ibu hamil dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme lain yang
secara alami menghambat kandida. Meskipun awalnya organisme lebih mudah terjadi pada
pH tinggi (6-7), pembentukan tuba kuman dan perkembangan miselia menyukai pH vagina
yang rendah (<5).
Kolonisasi kandida pada vagina lebih sering pada wanita yang mengalami diabetes.
Wanita dengan DM tipe 2 lebih cenderung akibat kolonisasi C. glabrata. Pada pasien DM,
terjadi peningkatan kerentanan terhadap infeksi termasuk infeksi jamur kandida. Hal ini
kemungkinan berhubungan dengan adanya gangguan imunitas. Selain itu, terjadi penurunan
kemampuan leukosit dalam memfagositosit kuman. Hiperglikemia menyebabkan terjadi
hiperosmolaritas plasma sehingga kemampuan migrasi berkurang dan respon leukosit
menurun. Defek fagositosis juga diakibatkan oleh berkurangnya difusi nutrien ke sel-sel
inflamasi ekstravaskular, dan defek pada interleukin dependen insulin akibat berkurangnya
insulin. Selain itu, kondisi metabolik berupa kadar gula darah yang meningkat dapat
mempermudah pertumbuhan jamur patogen. Semua faktor tersebut menyebabkan pasien
DM lebih rentan terhadap kandidiasis.
Beberapa studi menunjukkan bahwa meningkatnya kolonisasi spesies kandida akibat
penggunaan kontrasepsi oral yang mengandung estrogen yang tinggi. Studi pada wanita
yang menggunakan kontrasepsi oral yang mengandung estrogen yang rendah tidak
ditemukan meningkat pada KVV. Namun, banyak investigasi lebih lanjut melibatkan
kontrasepsi oral sebagai predisposisi KVV berulang. Antibiotik bertindak dengan cara
mengeliminasi flora bakteri pada vagina yang bersifat protektif sehingga membiarkan
pertumbuhan kandida berlebihan di traktus gastrointestinal, vagina atau keduanya. Vagina
terutama Lactobacillus spp, flora yang menyebabkan resistensi kolonisasi dan mencegah
germinasi, mempertahankan jumlah ragi yang sedikit, dan mencegah invasi mukosa
superficial. Auger dan Joly menemukan jumlah Lactobacillus spp pada kultur vagina
diperoleh dari wanita dengan KVV simptomatik.
Insiden KVV meningkat secara dramatis pada dekade kedua, sesuai dengan onset
aktivitas seksual. Puncaknya pada dekade ketiga dan keempat, menurun pada wanita yang
lebih tua dari 40 tahun, sampai efek permisif dari terapi penggantian hormon menjadi jelas.
Beberapa studi telah menunjukkan bahwa penularan kandida terjadi selama bersetubuh,
meskipun peran praktik non-seksual dalam memperkenalkan kandida ke saluran genital
belum dinilai. Ada bukti yang bertentangan seperti peran perilaku seksual dalam
menyebabkan KVV bersifat simptomatik. Beberapa penulis menyatakan bahwa frekuensi
hubungan seksual baru-baru ini dihubungkan dengan vaginitis akut, dan lain-lain telah
teridentifikasi seksual orogenital yang bersifat reseptif. Meskipun bukti yang bersifat
anekdot, Foxman menemukan tidak adanya bukti epidemiologi yang memberatkan
kebiasaan kebersihan wanita sebagai faktor risiko KVV. Penggunaan pakaian berventilasi
dan pakaian katun mungkin bernilai dalam mencegah infeksi. Di sisi lain, Foxman
menemukan tidak adanya peningkatan risiko KVV diantara pemakai pakaian ketat atau
pakaian bukan katun. Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa kekurangan zat besi
merupakan predisposisi infeksi. Kontak bahan kimia, alergi lokal, atau reaksi
hipersensitivitas dapat mengubah lingkungan vagina dan memungkinkan transformasi
dari kolonisasi yang bersifat asimptomatik menjadi vaginitis yang bersifat simptomatik.
Gambaran Klinis Kandidiasis Vulvovaginalis
Candida albicans merupakan penghuni yang lazim pada traktus vagina.
Pertumbuhan yang berlebihan dapat menyebabkan rasa gatal yang berat, rasa terbakar, dan
keputihan. Pruritus akut dan keputihan adalah keluhan yang biasanya ada, tetapi bukan
gejala khusus untuk KVV. Keputihan tidak selalu ada dan sering sedikit. Meskipun
digambarkan seperti keju lembut, keputihan dapat bervariasi dari berair sampai tebal secara
homogen. Nyeri pada vaginal, iritasi, rasa terbakar, dispareunia, dan disuria eksternal
biasanya ada. Bau, jika ada, sedikit dan tidak mengganggu. Pada pemeriksaan menunjukkan
plak keputih-putihan pada dinding vagina dengan dasar eritema dan dikelilingi edema yang
dapat menyebar ke labia dan perineum. Labia menjadi eritematosa, basah dan maserasi, dan
hiperemis, bengkak dan erosi pada serviks, vesikel kecil pada permukaannya. Secara
karakteristik, gejala diperburuk pada minggu sebelum onset menstruasi. Beberapa survei
menunjukkan diagnosis pasien yang tidak dapat dipercaya. Meskipun ada kalanya kandida
menyebabkan balanopostitis yang bersifat ekstensif pada laki-laki yang memiliki pasangan
wanita yang mengalami kandidiasis vagina, kejadian yang lebih sering terjadi adalah ruam
sementara, eritema, dan pruritus atau sensasi terbakar pada penis yang timbul beberapa
menit atau jam setelah hubungan seksual tanpa pelindung. Gejala tersebut sembuh sendiri
dan sering menghilang setelah mandi.

Gambar 2. Kandidiasis vulvovaginalis

Pemeriksaan Penunjang Kandidiasis Vulvovaginalis


Diagnosis laboratorium pada penderita mudah ditegakkan karena pemeriksaan
miroskopik langsung mempunyai sensitivitas yang tinggi. Dengan menggunakan KOH 10-
20%, tampak adanya sel ragi yang polimorfik, berbentuk lonjong, atau bulat berukuran 2-6
x 4-9 µm, blastospora (sel ragi yang sedang bertunas), sel budding yang khas, hifa bersekat
atau pseudohifa, kadang-kadang ditemukan klamidiospora. Pemeriksaan sediaan basah juga
dapat melihat bentuk hifa dan budding yeast dari kandida, dengan cara sediaan cairan vagina
diletakkan pada objek glas kemudian ditetesi 1-2 tetes larutan 0,9% isotonik sodium klorida
dan diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 400 x. pH kandidiasis vaginal kurang
dari 4,5 dapat dibuktikan dengan menggunakan kertas lakmus. Biakan memiliki nilai
sensitivitas yang tinggi sampai 90%. Medium biakan yang dipakai adalah agar dekstrose
Sabouraud dan modifikasi agar Sabouraud. Pada modifikasi agar Sabouraud, komposisinya
ditambahkan antibiotik kloramfenikol yang digunakan untuk menekan pertumbuhan bakteri.
Media ini merupakan media selektif untuk mengisolasi kandida. Kandida umumnya mudah
tumbuh pada suhu kamar 25-30°C, dan pertumbuhan dapat terjadi 2-5 hari setelah biakan.
Koloni tampak berwarna krem atau putih kekuningan, permukaan koloni halus, licin, lama
kelamaan berkeriput dan berbau ragi. Biakan dinyatakan negatif bila dalam waktu 4 minggu
tidak tumbuh. Untuk melakukan identifikasi spesies perlu dilakukan subkultur untuk
mendapatkan koloni yang murni, kemudian koloni baru dapat diidentifikasi. Gambaran
histopatologik dapat menyerupai reaksi radang akut, terdapat mikroabses yang berisi sel
mononuklear dengan infiltrasi limfosit pada dermis bagian atas. Tes fermentasi dilakukan
untuk menentukan spesies kandida, menggunakan tes gula-gula yang mengandung indikator
warna glukosa, maltosa, sukrosa, dan laktosa , dikatakan positif bila dapat disertai atau tanpa
pembentukan gas.

Diagnosis dan Diagnosis Banding Kandidiasis vulvovaginalis


Diagnosis ditegakkan berdasarkan pada anamnesis, gambaran klinis, dan
pemeriksaan penunjang (pemeriksaan KOH, pemeriksaan pH, biakan)
Diagnosis banding kandidiasis vulvovaginal adalah termasuk trikomoniasis dan
vaginosis bakterial, yang dapat dibedakan dengan mudah melalui gejala klinis, pemeriksaan
pH dan secara mikroskopis.
Tabel 1. Diagnosis banding
Vaginosis
Normal Kandidiasis Trikomoniasis
Bakteri
pH <4,5 Variase ; normal >4,5 4,5
Keputihan Putih, jelas, Seperti keju Homogen, Berbusa, banyak,
jumlah sedikit banyak, putih kuning kehijauan
keabu-abuan
Mikroskopis Sel epitel Budding pada Clue cell, Gram Sel darah putih
dengan batas pewarnaan Gram negatif pada banyak, adanya
jelas, atau kerokan KOH, pewarnaan motile
lactobasilus sel darah putih Gram, jumlah trikomonad
Gram (+) banyak, sel epitel bakteri banyak
dengan batas jelas
KOH “Whiff” - - + Variasi
Gejala Tidak ada Rasa gatal pada Keputihan, bau Keputihan,
vagina, iritasi, seperti pruritus pada
keputihan ikan,dispanuria, vulva
nyeri abdomen
bagian bawah

Penatalaksanaan Kandidiasis vulvovaginalis


Saat ini banyak antimikotik yang efektif terhadap kandida, baik untuk pemakaian
secara topikal dan sistemik. Kecenderungan saat ini adalah pemakaian rejimen antimikotik
oral maupun topikal jangka pendek dengan dosis tinggi.
Antimikotik untuk pemakaian lokal/topikal tersedia dalam berbagai bentuk sediaan
misalnya krim, lotion, tablet vagina dan supositoria. Tidak ada inidikasi khusus dalam
pemilihan bentuk obat topikal.
Hal-hal yang perlu dilakukan dalam pengobatan KVV/KVVR adalah eliminasi
faktor predisposisi sebagai penyebab KVV/KVVR, pemilihan regimen antijamur yang tepat
hingga keluhan menghilang dan pemeriksaan mikroskopik dan kultur negatif, serta untuk
KVVR sebaiknya selalu dilakukan kultur dan uji sensitivitas antijamur.
Penatalaksanaan KVV dilakukan berdasarkan klasifikasiya yaitu KVV tanpa
komplikasi dan KVV dengan komplikasi . Untuk KVV tanpa komplikasi dipilih pengobatan
topikal. Derivat azole dinyatakan lebih efektif daripada nistatin, namun hargannya jauh lebih
mahal. Pengobatan dengan golongan azole dapat menghilangkan gejala dan kultur negatif
pada 80-90% kasus.
Tabel 2. Macam obat antijamur yang digunakan untuk terapi KVV tanpa komplikasi11,12
Nama Obat Formulasi Dosis
Ketokonazole 200 mg oral tablet 2x1 tab, 5 hari
Itrakonazole 100 mg oral kapsul 2x1 cap, 2 hari
2x2 cap, 1 hari selang 8 jam
Flukonazole 150 mg oral tablet Dosis tunggal
50 mg oral tablet 1x1 tab, 7 hari
Klotrimazole 1% krim intravagina 5 g, 7-14 hari
2% krim intravagina 5 g, 3 hari
100 mg tab vag 2x1 tab vag, 3 hari
500 mg tab vag 1 tab vag, 1 hari
Mikonazole 2% krim 5 g, 1-7 hari
200 mg tab vag 1 tab vag, 1-7 hari
Nistatin 100000 U tab vag 1x1 tab, 12-14 hari
Amphoterisin B+ 50 mg tab vag 1x1 tab, 7-12 hari
Tetrasiklin 100 mg cap 1x1 tab, 7-12 hari

KVV dengan komplikasi seperti infeksi rekuren, KVV berat, KVV dengan penyebab
Candida non-albicans, KVV pada penderita imunokompromis, KVV pada wanita hamil,
dan KVV pada penderita HIV. Untuk infeksi rekuren perlu dilakukan biakan jamur untuk
mencari spesies penyebab. Dapat diberikan flukonazole 150 mg selama 3 hari atau topikal
golongan azole selama 7-14 hari. Untuk pengobatan dosis pemeliharaan diberikan tablet
ketokonazole 100 mg/hari, kapsul flukonazole 100-150 mg/minggu atau itrakonazole 400
mg/bulan atau 100 mg/hari atau topikal tablet vagina klotrimazole 500 mg. Pengobatan dosis
pemeliharaan ini diberikan selama 6 bulan. KVV berat ditanda dengan vulva eritem,
edema,ekskoriasi dan fisura. Terapi dapat diberikan flukonazole 150 mg dengan 2 dosis
selang waktu pemberian 72 jam atau obat topikal golongan azole selama 7-14 hari. Pada
KVV dengan penyebab Candida non-albicans, dengan pemberian obat golongan azole tetap
dianjurkan selama 7-14 hari, kecuali flukonazole karena banyak Candida non-albicans yang
resisten. Jika terjadi kekambuhan dapat diberikan asam borak 600 mg dalam kapsul gelatin
sekali sehari selama 2 minggu. Jika masih terjadi kekambuhan dianjurkan pemberian nistatin
tablet vagina 100000 U per hari sebagai pengobatan dosis pemeliharaan. KVV pada
penderita imunokompromis diberikan obat antijamur konvensional selama 7-14 hari. KVV
pada wanita hamil, dianjurkan pengobatan dengan preparat azole topikal, yakni mikonazole
krim 2%, 5 g intravagina selama 7 hari atau 100 mg tabet vagina tiap malam selama 7 hari
atau mikonazol 200 mg tablet vagina selama 3 hari. Dan juga klotrimazole krim 1 %
sebanyak 5 g tiap malam selama 7-14 hari atau 200 mg tablet vagina tiap malam selama 3
hari atau 500 mg tablet vagina selama 1 hari. Pengobatan KVV simtomatis pada wanita
dengan HIV positif sama dengan pada wanita dengan HIV negatif. KVV tanpa komplikasi
dapat diterapi dengan flukonazole 150 mg dosis tunggal jangka pendek, atau topikal azole
jangka pendek. Terapi pada KVV komplikata, sebaiknya diberikan obat sistemik oral atau
topikal salam jangka lama dan dilanjutkan terapi dosis pemeliharaan dengan flukonazole
dosis mingguan untuk kasus KVVR atau ketokonazole dosis 100 mg/hari selama 6 bulan.
Pengobatan untuk penderita kandidiasis asimtomatik masih kontroversi. Pada wanita dengan
HIV negatif tidak dianjurkan pemberian terapi antijamur.
Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia, pengobatan KVV yang
dianjurkan adalah klotrimazole 200 mg intravagina setiap hari selama 3 hari atau
klotrimazole 500 mg intravagina dalam dosis tunggal atau flukoazole 150 mg/oral dalam
dosis tunggal atau itrakonazole 200 mg/oral 2 kali sehari dosis tunggal atau nistatin 100000
IU intravagina setiap hari selama 14 hari.

Prognosis Kandidiasis vulvovaginalis


Prognosis baik bila faktor predisposisi dapat diminimalkan.

KESIMPULAN
Kandidiasis merupakan penyakit yang 70-80% disebabkan oleh Candida albicans.
Candida albicans merupakan jamur komensal yang dapat ditemukan pada traktus
gastrointestinal dan kulit. Pada penderita wanita, dengan diabetes melitus, penggunaan
steroid, alat kontrasepsi, memakai celana ketat dan baju sintetik, peningkatan estrogen,
penggunaan antibiotik dan imunosupresi, terjadi kerentanan sehingga mikroba komensal
yang bervirulensi rendah dapat berubah menjadi patogen. Gambaran klinis, pemeriksaan
penunjang, dan pengobatan pada kandidiasis vulvovaginalis tidak berbeda dengan
kandidiasis pada umumnya.
BAB III

LAPORAN KASUS

a. IDENTITAS PASIEN
Nama : ny. N
Umur : 31 Tahun
Alamat : Pedurungan
Agama : Islam
No.RM : 01337xxx
Tanggal Pemeriksaan : 17 Oktober 2018

b. ANAMNESIS
Auto anamnesa dilakukan di Poli Kulit RSISA pada tanggal 17 Oktober 2018.
Keluhan Utama
 Keluhan Subjektif : Gatal
 Keluhan Objektif : Keluar cairan putih dari vagina

Riwayat Penyakit Sekarang

 Lokasi : gatal belokasi di labia mayor dan lipat paha kanan dan kiri, sedangkan
cairan putih keluar dari vagina
 Onset : gatal sejak 1 tahun yang lalu, keluar cairan dari vagina sejak 2 bulan yang
lalu
 Kronologi : awalnya pasien hanya mengeluh gatal di sekitar labia dan
selangkangan, gatal semakin memberat sehingga pasien sering menggaruk hingga
lama kelamaan pasien merasakan kulit sekitar labia dan lipat paha menjadi kasar
dan lama lama keluar keputihan terus menerus sekitar 2 bulan ini dan keputihan
disertai dengan gumpalan berwarna putih susu yang tidak berbau
 Kualitas : gatal dan keputihan tidak berbau dirasakan mengganggu aktivitas dan
kenyamanan.
 Kuantitas : gatal dan keputihan dirasakan terus menerus dan semakin memberat dan
kulit terasa kasar akibat garukan
 Faktor memperberat : -
 Faktor memperingan : sudah 2x diperiksakan ke puskesmas namun keluhan tidak
berkurang dengan pengobatan yang diberikan gatal berkurang jika diberi air hangat
Riwayat Penyakit Dahulu
 Sebelumnya belum pernah sakit serupa.
 Riwayat DM (+)

Riwayat Penyakit Keluarga

 Suami pasien juga mengeluhkan gatal-gatal pada sekitar penis dan lipat paha.

Riwayat Kebiasaan
 Setelah buang air kecil tidak dikeringkan dengan tissue
 Pasien jarang mengganti Celana dalam bahkan terkadang dalam sehari pasien tidak
mengganti celana dalamnya

Riwayat Alergi obat / makanan

 Alergi obat dan makanan disangkal


Riwayat Sosial Ekonomi
 Tempat Tinggal di Pedurungan , lingkungan cukup bersih
 Pekerjaan sebagai penjahit, kesan ekonomi cukup
 Biaya kesehatan mengunakan biaya mandiri.

c. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran : Komposmentis
Tekanan darah : 110/70 mm/hg
Nadi : 90
Suhu : 36,9 o C
RR : 20 x
BB : 53 kg
TB : 163 cm
IMT : 19,9 Kg/m2
Status Generalis
Kepala : Tidak dilakukan pemeriksaan
Mata : Tidak dilakukan pemeriksaan
Telinga : Tidak dilakukan pemeriksaan
Hidung : Tidak dilakukan pemeriksaan
Leher : Tidak dilakukan pemeriksaan
Thorax : Tidak dilakukan pemeriksaan
Abdomen : Tidak dilakukan pemeriksaan
Extremitas : Tidak dilakukan pemeriksaan

Status Dermatologi
Lokasi I : Labium Majus dextra et sinistra, dan inguinal dextra et sinistra
UKK : Terdapat pseudomembran, skuama, hiperpigmentasi, papul multiple, berbatas
tegas berukuran sekitar <0,5 cm distribusi menyebar

Lokasi 2 : Comissura anterior dan posterior vulva vagina


UKK : Terdapat fissura pseudomembran, duh tubuh (+) warna putih susu, mukoid dari
OUE

d. RESUME
Nama : Ny.N
Umur : 31 tahun
Jenis kelamin : perempuan
Keluhan Subjektif : Gatal
Keluhan Objektif : Keluar Cairan putih dari vagina
Pasien Ny.N usia 31 tahun dengan keluhan gatal di sekitar genitalia hingga lipat paha,
disertai keluar cairan putih dari vagina, keluhan gatal sudah dirasakan sejak satu tahun
yang lalu, yang semakin memberat dan mengganggu aktivita. Keluhan keluar cairan
dari vagina disertai gumpalan arna putih susu yang tidak berbau dirasakan sejak 2 bulan
yang lalu. Dari pemeriksaan yang berlokasi di labia mayor kanan dan kiri Terdapat
pseudomembran, skuama, hiperpigmentasi, papul multiple, berbatas tegas berukuran
sekitar <0,5 cm distribusi menyebar sedangkan pada pemeriksaan yang berlokasi di
comissura anterior dan posterio vulva vagina, terdapat Terdapat fissura
pseudomembran, duh tubuh (+) warna putih susu, mukoid dari OUE. Diagnosis
Candidiasis vulvovaginalis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang berupa kerokan kulit dan hapusan duh tubuh vagina pengecatan
KOH, pengecatan giemsa yang berasal dari duh tubuh vagina yang ditemukan
pseudohifa, serta kultur (biakan) ditemukan Candida spp. 2 minggu sebelum periksa ke
rumah sakit pasien telah memeriksakan ke puskesmas namun keluhan tidak berkurang.
Pasien belum pernah sakit serupa sebelumnya namun memiliki riwayat DM (+).
Kebiasaan pasien setelah buang air kecil tidak dikeringkan dengan tissue dan jarang
mengganti celana dalam. Suami pasien juga mengeluhkan gatal pada sekitar penis dan
lipat paha namun belum memeriksakan keluhannya ke dokter. Pekerjaan pasien adalah
seorang penjahit. Tempat tinggal di Pedurungan, kebersihan kurang. Keadaan ekonomi
cukup.
e. DIAGNOSIS BANDING
 Candidiasis Vulvovaginalis
 Bacterial Vaginosis
 Tinea Cruris
f. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan KOH, Giemsa, dan Kultur
g. DIAGNOSIS KERJA
Candidiasis Vulvovaginalis
h. TATALAKSANA
R/ Flukonazole tab 50 mg no.VII
S.1.dd tab 1
R/ Mikonazole 2% Cr Tube No I
S.ue
R/ Loratadin tab 10 mg No X
S.1.d.d tab 1
PROGNOSIS
Ad vitam : Ad bonam
Ad sanam : Ad bonam
Ad kosmetika : Ad bonam

i. EDUKASI
Aspek klinis
 Kontrol kembali setelah 7 hari terapi terakhir diberikan
 Tidak menggaruk lesi untuk mencegah infeksi sekunder
 Menjaga Hygiene dengan mengganti celana dalam 3x sehari atau jika sudah measa
lembab, mengusap dengan tissue di sekitar genitalia setelah BAK

Aspek agama

 Sabar, ikhlas dan tawakal serta selalu ikhtiar dalam menghadapi penyakit yang
diderita
BAB IV
PEMBAHASAN
Berdasarkan teori, Kandidiasis (atau kandidosis, monoliasis, trush)
merupakan berbagai macam penyakit infeksi yang disebabkan oleh Candida albicans dan
anggota genus kandida lainnya. Pada umumnya kandidosis vulvovaginal memiliki
manifestasi klinis berupa keluar cairan vagina yang kental dihubungkan dengan rasa
terbakar, rasa gatal dan kadang disuria. Pada pemeriksaan menunjukkan plak keputih-
putihan pada dinding vagina dengan dasar eritema dan dikelilingi edema yang dapat
menyebar ke labia dan perineum. Labia menjadi eritematosa, basah dan maserasi, dan
hiperemis, bengkak dan erosi pada serviks, vesikel kecil pada permukaannya. Hal ini juga
ditemukan pada pasien, dimana pasien datang dengan keluhan utama yaitu gatal di sekitar
labia hingga ke lipat paha kanan kiri disertai dengan keluarnya cairan putih disertai
gumpalan-gumpalan putih susu yang tidak berbau dari vagina, sedangkan pada pemeriksaan
fisik di lokasi didapatkan hasil Dari pemeriksaan yang berlokasi di labia mayor kanan dan
kiri Terdapat pseudomembran, skuama, hiperpigmentasi, papul multiple, berbatas tegas
berukuran sekitar <0,5 cm distribusi menyebar sedangkan pada pemeriksaan yang berlokasi
di comissura anterior dan posterio vulva vagina, terdapat Terdapat fissura pseudomembran,
duh tubuh (+) warna putih susu, mukoid dari OUE.

Diagnosis Candidiasis vulvovaginalis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan


fisik dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dikerjakan pada pasien ini
berupa kerokan kulit dan hapusan duh tubuh vagina pengecatan KOH, pengecatan giemsa
yang berasal dari duh tubuh vagina yang ditemukan pseudohifa, serta kultur (biakan)
ditemukan Candida spp. Hal ini juga sesuai teori bahwa diagnosis laboratorium pada
Kandidosis vulvovaginalis mudah ditegakkan, karena pemeriksaan miroskopik langsung
mempunyai sensitivitas yang tinggi. Dengan menggunakan KOH 10-20%, tampak adanya
sel ragi yang polimorfik, berbentuk lonjong, atau bulat berukuran 2-6 x 4-9 µm, blastospora
(sel ragi yang sedang bertunas), sel budding yang khas, hifa bersekat atau pseudohifa.
Penatalaksanaan KVV dilakukan berdasarkan klasifikasiya yaitu KVV tanpa
komplikasi dan KVV dengan komplikasi . Untuk KVV tanpa komplikasi dipilih pengobatan
topikal. Derivat azole dinyatakan lebih efektif daripada nistatin, namun hargannya jauh lebih
mahal. Pengobatan dengan golongan azole dapat menghilangkan gejala dan kultur negatif
pada 80-90% kasus. Pada pasien ini Flukonazole dipilih karena afinitasnya terhadap jamur
lebih tinggi dari ketokonazole, serta tidak bersifat hepatotoksik.
DAFTAR PUSTAKA

1. Janik MP, Heffernan MP. Yeast infection: candidiasis and tinea (pityriasis) versicolor.
In: Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, editors.
Fitzpatrick’s dermatology in general medicine. 7th ed. New York: The McGraw-Hill
Companies, 2008; p.1822-8.
2. Hay RJ, Moore MK. Mycology. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths, editors.
Rook’s textbook of dermatology. 7th ed. Massachusets: Blackwell Publishing; 2004; p.
31.60-75.
3. Sobel JD. Vulvovaginal candidiasis . In : Holmes KK, Sparling PF, Stamm WE, Piot P,
Wasserheit JN, Corey L, Cohen MS, Watts DH, editors. Sexually Transmitted Disease.
4th ed. United State of America:Mc Graw Hill;2008;p 823-35
4. Brooks GF, Butel JS, Morse SA. Mikrobiologi kedokteran. Edisi 1. Jakarta: Salemba
Medika, 2005.
5. Calderone, R.A., and Fonzi, W.A. (2001). Virulence factors of Candida albicans.
Trends in Microbiology, 9(7): 327-35.
6. Stawiski MA, Prince SA. Infeksi kulit. Dalam: Prince SA, Wilson LM, editor.
Patofisiologi konsen klinis proses-proses penyakit. Edisi 6. Jakarta: EGC, 2005; p.
1443-54.
7. Nyirjesy, P., C. Peyton, et al. (2006). Causes of chronic vaginitis: analysis of a
prospective database of affected women. Obstet Gynecol 108(5):p 1185-91.
8. Schwebke, JR. Vaginitis . In :Zenilman JM, Shahmanesh M, editors. Sexually
Transmitted Disease: Diagnosis, Management and Treatment. United State of
America:LLC;2012;p 65
9. James, Wiliam D, Dirk M Elston, Timothy G. Berger. Andrew’s Disease of The Skin
Clinical Dermatology. 11th ed. British:Saunder elsevier; 2006; p 297-9
10. Richardson MD, Warnock DW. Fungal infection. Edisi ke 3, Oxford :Blackwell
Publication; 2003.
11. Daill SF, Makes WIB, Zubier F. Infeksi Menular Seksual. Edisi keempat. Jakarta:
Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2011.
12. Workowshi KA, Berman SM. Sexually Transmitted Diseases Treatment guidelines
2006. US Department of Health and Human Services. Centers For Disease Control and
Prevention (CDC). Morbidity and Mortality Weekly Report; 2006. 55 : p. 54-6.