Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

“Memahami Bimbingan Agama Bagi


Pasien Sakaratul Maut”

Disusun Oleh :

1. Aura Rayani Ristio P07220118037


2. Dewi Paramita P07220118038
3. Firman Fitrianto P07220118040
4. Hani Sabella P07220118041
5. Laoya Amelia Purba P07220118018
6. Musa P07220118050
7. Nur habibah P07220118024

DIII KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN
KALIMANTAN TIMUR
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat dan karuniaNya kami telah mampu menyelesaikan makalah yang berjudul ”
Memahami Bimbingan Agama Bagi Pasien Sakaratul Maut” ini.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai bagaimana cara mendampingi klien yang
hampir meninggal. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini
terdapat kekurangan dan jauh dari kata kesempurna.

Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya
laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata
yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan di masa depan.

Samarinda, 27 September 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata pengantar.....................................................................................................................

Daftar isi..............................................................................................................................

Bab I. Pendahuluan .............................................................................................................

Latar belakang.....................................................................................................................

Rumusan masalah................................................................................................................

Tujuan masalah....................................................................................................................

Bab II. Pembahasan.............................................................................................................

Sikap Orang Yang Merawat (Perawat)................................................................................

Pendampingan Pasien Sakaratul Maut................................................................................

Moral Dan Etika Dalam Mendampingi Pasien Sakaratul Maut..........................................

Bab III. Penutup...................................................................................................................

Kesimpulan..........................................................................................................................

Saran....................................................................................................................................

Daftar pustaka
....................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN

 LATAR BELAKANG

Sakaratul Maut (Dying) merupakan kondisi pasien yang sedang menghadapi kematian,
yang memiliki berbagai hal dan harapan tertentu untuk meninggal. Sedangkan
Kematian (death) merupakan kondisi terhentinya pernapasan, nadi, dan tekanan darah
serta hilangnya respons terhadap stimulus eksternal, ditandai dengan terhentinya
aktivitas otak atau terhentinya fungsi jantung dan paru secara menetap.

”Bimbinglah orang yang hendak mati mengucapkan (kalimat/perkataan): “Tiada


Tuhan Selain Allah” (HR.Muslim).

Tak dapat dipungkiri kematian itu tak dapat dihindari dari kehidupan sehari-hari kita.
Kematian tidak pandang bulu, anak-anak, remaja maupun orang dewasa sekalipun
dapat mengalami hal ini. Kita tak tahu kapan kematian akan menjemput kita.
Kematian seakan menjadi ketakutan yang sangat besar di hati kita.

Proses terjadinya kematian diawali dengan munculnya tanda-tanda yaitu sakaratul


maut atau dalam istilah disebut dying. Oleh karena itu perlunya pendampingan pada
seseorang yang menghadapi sakaratul maut (Dying).

Sangat penting diketahui oleh kita, sebagai tenaga kesehatan tentang bagaimana cara
menangani pasien yang menghadapi sakaratul maut. Inti dari penanganan pasien yang
menghadapi sakaratul maut adalah dengan memberikan perawatan yang tepat, seperti
memberikan perhatian yang lebih kepada pasien sehingga pasien merasa lebih sabar
dan ikhlas dalam menghadapi kondisi sakaratul maut.

RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian diatas dapat dikemukakakan suatu rumusan masalah adalah


sebagai berikut :

a. Bagaimana cara Menangani dan mendampingi Pasien Yang Sakaratul Maut /


Hampir Meninggal?

TUJUAN MASALAH

a. Dengan adanya makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi yang


bermanfaat bagi tenaga kesehatan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan
kepada masyarakat.
BAB II PEMBAHASAN

 Sikap Orang Yang Merawat (Bidan/Perawat)

Ketika tenaga kesehatan tahu bahwa sudah mulai muncul tanda-tanda maut pada
klien , ada beberapa sikap yang harusnya dilakukan oleh tenaga kesehatan. Sikap
tenaga kesehatan seharusnya:

· Tidak meramalkan (menjelaskan kepada keluarga) tentang lamanya sakaratul


maut.

· Menguatkan hati keluarga pasien.

· Menjelaskan kepada keluarga tentang perubahan-perubahan yang terjadi.

 Pendampingan Pasien Sakaratul Maut

Perawatan kepada pasien yang akan meninggal oleh petugas kesehatan dilakukan
dengan cara memberi pelayanan khusus jasmani dan rohani sebelum pasien
meninggal. Tujuannya yaitu, :

a. Memberi rasa tenang dan puas jasmaniah dan rohaniah pada pasien dan
keluarganya

b. Memberi ketenangan dan kesan yang baik pada pasien disekitarnya.

c. Untuk mengetahui tanda-tanda pasien yang akan meninggal secara medis bisa
dilihat dari keadaan umum, vital sighn dan beberapa tahap-tahap kematian.

1. Pendampingan dengan alat-alat medis

Memperpanjang hidup penderita semaksimal mungkin dan bila perlu dengan bantuan
alat-alat kesehatan adalah tugas dari petugas kesehatan. Untuk memberikan pelayanan
yang maksimal pada pasien yang hampir meninggal, maka petugas kesehatan
memerlukan alat-alat pendukung seperti :

a. Disediakan tempat tersendiri

b. Alat – alat pemberian O2

c. Alat resusitasi

d. Alat pemeriksaan vital sighn.

e. Pinset
f. Kassa, air matang, kom/gelas untuk membasahi bibir

g. Alat tulis

Adapun prosedur-prosedur yang harus dilaksanakan oleh petugas dalam mendampingi


pasien yang hampir meninggal, yaitu :

a. Memberitahu pada keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan

b. Mendekatkan alat

c. Memisahkan pasien dengan pasien yang lain

d. Mengijinkan keluarga untuk mendampingi, pasien tidak boleh ditinggalkan sendiri

e. Membersihkan pasien dari keringat

f. Membasahi bibir pasien dengan kassa lembab, bila tampak kering menggunakan
pinset

h. Membantu melayani dalam upacara keagamaan

i. Mengobservasi tanda-tanda kehidupan (vital sign) terus menerus

j. Mencuci tangan

k. Melakukan dokumentasi tindakan

2. Pendampingan dengan bimbingan rohani

Bimbingan rohani pasien merupakan bagian integral dari bentuk pelayanan


kesehatan dalam upaya pemenuhan kebutuhan bio-Psyco-Socio-Spritual ( APA, 1992 )
yang komprehensif, karena pada dasarnya setiap diri manusia terdapat kebutuhan
dasar spiritual ( Basic spiritual needs, Dadang Hawari, 1999 ). Pentingnya bimbingan
spiritual dalam kesehatan telah menjadi ketetapan WHO yang menyatakan bahwa
aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehataan
seutuhnya (WHO, 1984). Oleh karena itu dibutuhkan dokter, terutama perawat untuk
memenuhi kebutuhan spritual pasien.

Perawat memiliki peran untuk memenuhi kebutuhan biologis, sosiologis,


psikologis, dan spiritual pasien. Akan tetapi, kebutuhan spiritual seringkali dianggap
tidak penting oleh perawat. Padahal aspek spiritual sangat penting terutama untuk
pasien yang didiagnosa harapan sembuhnya sangat tipis dan mendekati sakaratul maut.

Biasanya pasien yang sangat membutuhkan bimbingan oleh perawat adalah


pasien terminal karena pasien terminal, pasien yang didiagnosis dengan penyakit berat
dan tidak dapat disembuhkan lagi dimana berakhir dengan kematian, seperti yang
dikatakan Dadang Hawari (1977,53) “orang yang mengalami penyakit terminal dan
menjelang sakaratul maut lebih banyak mengalami penyakit kejiwaan, krisis
spiritual,dan krisis kerohanian sehingga pembinaan kerohanian saat klien menjelang
ajal perlu mendapatkan perhatian khusus”. Sehingga, pasien terminal biasanya
bereaksi menolak, depresi berat, perasaan marah akibat ketidakberdayaan dan
keputusasaan. Oleh sebab itu, peran perawat sangat dibutuhkan untuk mendampingi
pasien yang dapat meningkatkan semangat hidup pasien meskipun harapannya sangat
tipis dan dapat mempersiapkan diri pasien untuk menghadapi kehidupan yang kekal.

Dalam konsep Islam, fase sakaratul maut sangat menentukan baik atau tidaknya
seseorang terhadap kematiannya untuk menemui Allah dan bagi perawat pun akan
dimintai pertanggungjawabannya nanti untuk tugasnya dalam merawat pasien di
rumah sakit. Dan fase sakaratul maut adalah fase yang sangat berat dan menyakitkan
seperti yang disebutkan Rasulullah tetapi akan sangat berbeda bagi orang yang
mengerjakan amal sholeh yang bisa menghadapinya dengan tenang dan senang hati.
Ini adalah petikan Al-Quran tentang sakaratul maut,” Datanglah sakaratul maut dengan
sebenar-benarnya.”(QS.50:19).“ Alangkah dahsyatnya ketika orang-orang yang zalim
(berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut.” (QS. 6:93).

Dalam Al-hadits tentang sakaratul maut. Al-Hasan berkata bahwa Rasulullah SAW
pernah mengingatkan mengenai rasa sakit dan duka akibat kematian. Beliau bertutur,
“Rasanya sebanding dengan tiga ratus kali tebasan pedang.” (HR.Ibn Abi ad-Dunya)

Begitu sakitnya menghadapi sakaratul maut sehingga perawat harus membimbing


pasien dengan cara-cara,seperti ini:

1. Menalqin (menuntun) dengan syahadat. Sesuai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi


wa sallam,

2. Hendaklah mendo’akannya dan janganlah mengucapkan dihadapannya kecuali kata-


kata yang baik. Berdasarkan hadits yang diberitakan oleh Ummu Salamah bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda. Artinya :“Apabila kalian
mendatangi orang yang sedang sakit atau orang yang hampir mati, maka hendaklah
kalian mengucapkan perkataan yang baik-baik karena para malaikat mengamini apa
yang kalian ucapkan.”Maka perawat harus berupaya memberikan suport mental agar
pasien merasa yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan selalu memberikan yang terbaik
buat hambanya, mendoakan dan menutupkan kedua matanya yang terbuka saat roh
terlepas dari jasadnya.

3. Berbaik Sangka kepada Allah

Perawat membimbing pasien agar berbaik sangka kepada Allah SWT, seperti di
dalam hadits Bukhari“ Tidak akan mati masing-masing kecuali dalam keadaan berbaik
sangka kepada Allah SWT.” Hal ini menunjukkan apa yang kita pikirkan seringkali
seperti apa yang terjadi pada kita karena Allah mengikuti perasangka umatNya

4. Membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut

Disunnahkan bagi orang-orang yang hadir untuk membasahi kerongkongan


orang yang sedang sakaratul maut tersebut dengan air atau minuman. Kemudian
disunnahkan juga untuk membasahi bibirnya dengan kapas yg telah diberi air. Karena
bisa saja kerongkongannya kering karena rasa sakit yang menderanya, sehingga sulit
untuk berbicara dan berkata-kata. Dengan air dan kapas tersebut setidaknya dapat
meredam rasa sakit yang dialami orang yang mengalami sakaratul maut, sehingga hal
itu dapat mempermudah dirinya dalam mengucapkan dua kalimat syahadat. (Al-
Mughni : 2/450 milik Ibnu Qudamah)

5. Menghadapkan orang yang sakaratul maut ke arah kiblat

Kemudian disunnahkan untuk menghadapkan orang yang tengah sakaratul


maut kearah kiblat. Sebenarnya ketentuan ini tidak mendapatkan penegasan dari hadits
Rasulullah Saw., hanya saja dalam beberapa atsar yang shahih disebutkan bahwa para
salafus shalih melakukan hal tersebut. Para Ulama sendiri telah menyebutkan dua cara
bagaimana menghadap kiblat :

a) Berbaring terlentang diatas punggungnya, sedangkan kedua telapak kakinya


dihadapkan kearah kiblat. Setelah itu, kepala orang tersebut diangkat sedikit agar ia
menghadap kearah kiblat.

b) Mengarahkan bagian kanan tubuh orang yang tengah sakaratul maut menghadap ke
kiblat. Dan Imam Syaukai menganggap bentuk seperti ini sebagai tata cara yang
paling benar. Seandainya posisi ini menimbulkan sakit atau sesak, maka biarkanlah
orang tersebut berbaring kearah manapun yang membuatnya selesai.
 Moral Dan Etika Dalam Mendampingi Pasien Sakaratul Maut

pendampingan pasien sakaratul maut, Moral dan etika inilah yang dapat membantu
pasien, sehingga pasien akan lebih sabar dalam mengahadapi sakit yang di deritanya.

Dalam banyak studi, dukungan sosial sering dihubungkan dengan kesehatan dan usia
lanjut. Dan telah dibuktikan pula bahwa dukungan sosial dapat meningkatkan
kesehatan. Pemebrian dukuangan sosial adalah prinsip pemberian asuhan. Perilaku
petugas kesehatan dalam mengeksperikan dukungan meliputi :

1. Menghimbau pasien agar Ridho kepada qadha dan qadarnya-Nya serta berbaik
sangka terhadap Allah Swt.

2. Menghimbau pasien agar tidak boleh putus asa dari rahmat Allah Swt.

3. Kembangkan empati kepada pasien.

4. Bila diperlukan konsultasi dengan spesialis lain.

5. Komunikasikan dengan keluarga pasien.

6. Tumbuhkan harapan, tetapi jangan memberikan harapan palsu.

7. Bantu bila ia butuh pertolongan.

8. Mengusahakan lingkungan tenang, berbicara dengan suara lembut dan penuh


perhatian, serta tidak tertawa-tawa atau bergurau disekitar pasien

9. Jika memiliki tanggungan hak yang harus pasien penuhi, baik hak Allah Swt
(zakat, puasa, haji, dll) atau hak manusia (hutang, ghibah, dll). Hendaklah
dipenuhi atau wasiat kepada kepada orang yang dapat memenuhi bagi dirinya.
Wasiat wajib atas orang yang mempunyai tanggungan atau hak kepada orang
lain

BAB III PENUTUP


Kesimpulan

Perawatan kepada pasien yang menghadapi sakaratul maut (dying) oleh


petugas kesehatan dilakukan dengan cara memberi pelayanan khusus jasmani dan
rohani sebelum pasien meninggal. Perawat atau Bidan memiliki peran untuk
memenuhi kebutuhan biologis, sosiologis, psikologis, dan spiritual pasien sakaratul
maut dengan memperhatikan moral, etika serta menumbuhkan sikap empati dan caring
kepada pasien. Penanganan pasien perlu dukungan semua pihak yang terkait, terutama
keluarga pasien dan perlu tindakan yang tepat dari perawat atau bidan.

Saran

Demikianlah makalah ini kami buat dengan sebaik-baiknya, namun sebagai


manusia penulis selalu tidak lepas dari kesalaha. Oleh karena itu, saran dan kritik yang
membangun kami sangat harapkan untuk menyempurnakan makalah ini, agar kami
dapat memperbaiki pembuatan makalah kami diwaktu yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA
Samba, Suharyati, 2005. Buku Ajar Praktik Keperawatan. Jakarta. EGC

Uliyah musrifatul.Buku Ajar Keterampilan Dasar Praktik Klinik (KDPK) untuk


pendidikan keperawatan .Surabaya,Health books,2011.