Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS

SKIZOFRENIA PARANOID

Oleh :
Lis Amitasari
0120840160

Pembimbing :
dr. Manoe Bernd P., Sp.KJ., M.Kes

SMF PSIKIATRI
RUMAH SAKIT JIWA DAERAH ABEPURA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA-PAPUA
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Telah dipresentasikan, diterima dan disetujui oleh pembimbing laporan kasus dengan judul

“Skizofrenia Paranoid”

Sebagai salah saru syarat untuk mengikuti ujian akhir Kepaniteraan Klinik Madya di SMF
Psikiatri RSJD Abepura, yang disusun dan di presentasikan oleh :

Nama : Lis Amitasari


NIM : 0120840160

Yang dilaksanakan pada :

Hari : Jumat
Tanggal : 10 Agustus 2018
Tempat : Klinik Psikiatri Instalasi Rawat Jalan RSUD DOK II Jayapura

Menyetujui,
Pembimbing

dr. Manoe Bernd P., Sp.KJ., M.Kes

2
LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKIATRI

I. IDENTITAS PASIEN

No. Reg : 0003159

Nama : Ny. N.K.

Umur : 73 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Alamat : Jl. Pertanian RT 006/002 Kel. Wosi Kec. Manokwari Barat

Pendidikan : SMP

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Agama : Islam

Suku/Bangsa : Manokwari/Indonesia

Status Pernikahan : Sudah Menikah

Tanggal ke Poli RSJ : 07 – 08 – 2018

Yang Mengantar : Anak Pasien

Pemberi Informasi : Anak Pasien

3
II. RIWAYAT PSIKIATRIK

Diperoleh dari autoanamnesa dan heteroanamnesa dengan anak pasien yang dilakukan
pada hari Selasa tanggal 07 Agustus 2018 pukul 11.45 WIT. Anamnesis dilakukan di Poli
Rumah Sakit Jiwa Daerah Abepura.

A. KELUHAN UTAMA

Heteroanamnesa : Pasien sulit tidur dan bicara-bicara sendiri sejak ± 1 bulan yang
lalu

B. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Heteroanamnesa

Pasien datang ke Poli RSJ Abepura pada tanggal 07 Agustus 2018 diantar oleh
anaknya dengan keluhan sulit tidur dan bicara-bicara sendiri sejak ± 1 bulan yang
lalu. Pola tidur pasien tidak teratur. Biasanya pasien hanya tidur 1 jam atau 2 jam saja.
Kalau pasien merasa sangat lelah, pasien bisa langsung tertidur tetapi tidurnya hanya
beberapa jam saja. Selain itu, menurut anak pasien, sekitar ± 1 minggu yang lalu
sebelum dibawa ke RSJ Abepura, pasien juga mulai menunjukkan perubahan perilaku
lainnya yaitu pasien mulai mencurigai ibu kos. Pasien mengatakan bahwa ibu kos
telah mencuri beras milik pasien, namun ibu kos tersebut tidak mencuri apapun.
Menurut pasien, ada 3 orang yang bicara-bicara di telinga pasien yang menyuruh
pasien untuk mencuri namun pasien tidak mau mengikutinya. Pasien merasa marah
dan ingin mengamuk saat mendengar suara-suara tersebut. Pasien merasa ada yang
mengancamnya, namanya Farma, orang dari Makassar dan pasien tidak tau kenapa
diancam. Menurut pengakuan pasien, Farma mengenakan baju polisi tetapi tidak
bersekolah. Selain itu, pasien merasa ada yang membuntuti atau mengikutinya. Pasien
merasa seperti dikejar-kejar.

Pasien pernah sakit seperti ini sejak tahun 1994. Saat itu pasien di rawat inap di RSJ
Abepura selama ± 7 bulan, kemudian pada tahun 2004 di rawat inap lagi selama ± 3
bulan. Pasien terakhir minum obat sekitar 2 bulan yang lalu. Terakhir kali anak pasien
mengambil obat secara langsung yaitu pada tahun 2016 dan setelah itu obat
dikirimkan oleh kenalan temannya. Obat yang dikonsumsi saat itu adalah Haloperidol

4
5 mg yang diminum pagi dan malam, CPZ 100 mg yang diminum pagi dan malam,
dan THP 2 mg yang diminum pada malam hari.

Menurut anak pasien, pasien pertama kali dibawa ke RSJ Abepura (pada tahun 1994)
karena mengamuk dan membunuh ayahnya sendiri dengan menggunakan kampak.
Saat itu pasien sempat dibawa ke kantor polisi namun tidak bisa diproses karena
pasien mengalami gangguan jiwa. Akhirnya pasien dibawa ke RSJ Abepura. Ketika
ditanyakan kepada pasien mengapa pasien membunuh ayahnya sendiri, pasien
mengatakan bahwa saat itu pasien dipukuli dan diikat oleh ayahnya di pohon pisang.
Kemudian pasien melihat ada kampak di dekat pohon pisang lalu pasien mengambil
kampak tersebut dengan maksud ingin melepaskan ikatannya namun setelah
ikatannya lepas, pasien tidak sengaja membunuh ayahnya dengan kampak tersebut.
Pasien mengatakan bahwa pasien mendengar bisikan-bisikan yang menyuruhnya
untuk membunuh ayahnya.

Menurut anak pasien, awal mula perubahan perilaku pasien ini dikarenakan kematian
kakaknya (anak pertama pasien). Saat itu anak pertama pasien meninggal karena
mempunyai penyakit yang serupa dengan pasien. Pasien merasa sangat tertekan saat
mengurus anak pertama dan rasa tertekannya itu semakin besar saat anak pertama
pasien meninggal. Saat itu anak pertamanya masih duduk di bangku SMA. Pasien
mengaku bahwa sampai sekarang pasien masih sering melihat bayang-bayang anak
pertamanya.

C. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Pasien pernah di rawat inap di RSJ Abepura yaitu pada tahun 1994 selama ± 7 bulan,
kemudian pada tahun 2004 di rawat inap lagi selama ± 3 bulan.

Riwayat Medis :
Riwayat penyakit malaria disangkal, riwayat TB disangkal, riwayat Diabetes Mellitus
disangkal, riwayat penyakit jantung disangkal, riwayat trauma kepala disangkal,
riwayat kejang disangkal.

Riwayat NAPZA :
Alkoho (-), Pinang (+), Kopi (-), Ganja (-), Merokok (+).

5
D. RIWAYAT KELUARGA

Pasien merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Ayah dan ibu pasien telah
meninggal. Diketahui bahwa di dalam keluarga ada yang mengalami hal yang sama
seperti pasien, yaitu anak pertama pasien. Namun, anak pertama pasien telah
meninggal. Genogram :

Keterangan :

Laki – Laki Ayah Pasien yang telah meninggal

Perempuan Ibu Pasien yang telah meninggal

Pasien Anak pertama pasien yang serupa dengan pasien

6
III. STATUS PSIKIATRIKUS

Gambaran Penampilan Cukup bersih dan rapi. Pasien datang dengan


Umum Pasien menggunakan menggunakan baju lengan panjang
pakaian yang sesuai warna hitam, celana panjang
dengan usia pasien. warna coklat, jilbab warna merah,
sandal warna merah muda, dan
berkulit hitam.
Sikap Apatis Pasien lebih banyak diam saat
Terhadap diberikan pertanyaan.
Pemeriksa
Bicara Artikulasi : kurang jelas Pasien berbicara dengan nada
pelan dan artikulasi yang kurang
Kecepatan Bicara : lambat
jelas. Pasien berbicara dengan
lambat.

Emosi Mood Disforik Pasien menjawab pertanyaan


dengan suasana perasaan tidak
menyenangkan.

Afek Appropriate (Sesuai) Ekspresi pasien sesuai dengan


mood pasien.

Persepsi Ilusi Tidak ada

Halusinasi Ada Halusinasi Auditorik : bisikan-


bisikan. Pasien mendengar ada 3
orang yang bicara-bicara di telinga
pasien yang menyuruh pasien
untuk mencuri.

Halusinasi Visual : pasien masih


sering melihat bayang-bayang
anak pertamanya yang telah
meninggal.

7
Pikiran Bentuk Pikir Autistik Pasien berpikir sesuai dengan
lamunan atau halusinasi atau
wahamnya sendiri

Isi Pikir Waham : Ada Waham curiga : pasien mencurigai


bahwa ibu kos telah mencuri beras
milik pasien.

Waham Kejar : pasien merasa


dirinya dikejar-kejar, ada yang
mengancamnya, dan membuntuti
atau mengikutinya.
Arus Pikir Inkoheren Pasien menjawab beberapa
pertanyaan yang tidak sesuai
dengan apa yang ditanyakan.

Sensorium Kesadaran Komposmentis Pasien sadar penuh dan dapat


dan menjawab setiap pertanyaan yang
Kognisi diberikan.

Keadaan Umum Tenang

Orientasi Orang : Baik Pasien mampu mengenali anak


yang mengantarnya dan
mengetahui nama anak
pertamanya yang telah meninggal.

Tempat : Baik Pasien mengatakan ini adalah


Rumah Sakit Jiwa Abepura.

Waktu : Baik Pasien dapat menyebutkan waktu


(siang hari) dengan tepat.

Daya Ingat / Baik Pasien masih mengingat kejadian


Memori di masa lalu saat pasien
membunuh ayahnya dan pasien
masih mengingat bahwa anak

8
pertamanya telah meninggal
karena mempunyai penyakit yang
sama seperti pasien.

Tilikan Tilikan IV Pasien menyadari dirinya sakit


diakibatkan sesuatu yang tidak
diketahui oleh diri pasien.

IV. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LEBIH LANJUT

Keadaan Umum Tenang

Kesadaran Komposmentis GCS : 15 (E4 M6 V5)

Tanda-Tanda - Tekanan Darah : 110/60 mmHg


Vital - Nadi : 68x/menit
- Respirasi : 20x/menit

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA (FORMULASI DIAGNOSTIK)

Anamnesis :
Dari heteroanamnesa diketahui bahwa Pasien datang ke Poli RSJ Abepura karena pasien
sulit tidur dan bicara-bicara sendiri sejak ± 1 bulan yang lalu. Selain itu, sekitar ± 1
minggu yang lalu sebelum dibawa ke RSJ Abepura, pasien juga mulai menunjukkan
perubahan perilaku lainnya yaitu pasien mulai mencurigai ibu kos. Pasien mengatakan
bahwa ibu kos telah mencuri beras milik pasien, namun ibu kos tersebut tidak mencuri
apapun. Menurut pasien, ada 3 orang yang bicara-bicara di telinga pasien yang menyuruh
pasien untuk mencuri namun pasien tidak mau mengikutinya. Pasien merasa marah dan
ingin mengamuk saat mendengar suara-suara tersebut. Pasien merasa ada yang
mengancamnya. Selain itu, pasien merasa ada yang membuntuti atau mengikutinya.
Pasien merasa seperti dikejar-kejar. Pasien pernah di rawat inap di RSJ Abepura dua kali
yaitu pada tahun 1994 selama ± 7 bulan dan pada tahun 2004 selama ± 3 bulan. Setelah
itu pasien menjalani pengobatan rawat jalan. Menurut anak pasien, pasien pertama kali
dibawa ke RSJ Abepura (pada tahun 1994) karena mengamuk dan membunuh ayahnya
sendiri dengan menggunakan kampak. Pasien mengatakan bahwa pasien mendengar

9
bisikan-bisikan yang menyuruhnya untuk membunuh ayahnya. Menurut anak pasien,
awal mula perubahan perilaku pasien ini dikarenakan kematian kakaknya (anak pertama
pasien). Saat itu anak pertama pasien meninggal karena mempunyai penyakit yang
serupa dengan pasien. Saat itu anak pertamanya masih duduk di bangku SMA. Pasien
mengaku bahwa sampai sekarang pasien masih sering melihat bayang-bayang anak
pertamanya.

Status Psikiatrikus :
 Penampilan pasien cukup bersih dan rapi. Pasien menggunakan pakaian yang sesuai
dengan usia pasien. Pasien datang dengan menggunakan baju lengan panjang warna
hitam, celana panjang warna coklat, jilbab warna merah, sandal warna merah muda,
dan berkulit hitam.
 Pasien apatis; Artikulasi kurang jelas; Pasien berbicara dengan nada pelan dan lambat.
 Mood disforik; Afek appropriate (sesuai).
 Ilusi tidak ada; Halusinasi auditorik (+) dan Halusinasi visual (+).
 Bentuk pikir autistik; Isi pikir : Waham curiga (+) dan Waham Kejar (+)
 Kesadaran komposmentis; Keadaan umum tenang; Orientasi orang, tempat dan waktu
baik; Daya ingat atau memori baik.
 Tilikan IV

Aksis I
Dari heteroanamenesa didapatkan adanya gejala klinis yang bermakna yaitu pasien suli
tidur dan bicara-bicara sendiri sejak ± 1 bulan yang lalu. Keadaan ini menimbulkan
penderitaan (distress) dan disabilitas bagi pasien dan keluarganya sehingga pasien dapat
didiagnosa mengalami Gangguan jiwa.

Pada pemeriksaan status internus dan status neurologis tidak ditemukan adanya kelainan
yang mengindikasikan ganguan medis umum yang menimbulkan ganguan otak, sehingga
penyebab organik dapat di singkirkan, sehingga pasien didiagnosa sebagai Gangguan
Jiwa Psikotik Non-Organik.

Pada pemeriksaan Status psikiatri, kesan umum pasien tampak berpakaian cukup rapi,
roman muka tampak sesuai umur, tampak tenang, konsentrasi dan perhatian menurun.
Gangguan suasana perasaan atau mood disforik, afek appropriate, halusinasi auditorik
(+) dan halusinasi visual (+). Ganguan bentuk pikir adalah autistik, isi pikir waham
10
curiga (+) dan waham kejar (+) sehingga berdasarkan PPDGJ-III didiagnosa sebagai
Skizofrenia Paranoid (F.20.0).

Aksis II
-

Aksis III
Dari anamnesa dan pemeriksaan umum tidak ditemukan kelainan sehingga aksis III tidak
ada diagnosis.

Aksis IV
Pasien memiliki masalah berkaitan dengan pendidikan dimana pasien tidak melanjutkan
pendidikanya ke tahap selanjutnya. Pasien hanya bersekolah sampai tingkat SMP.

Aksis V
Pada skala penilaian fungsi secara global ditemukan pasien memiliki gejala sedang
(moderate), disabilitas sedang, sehingga penilaian Global Assesment of Functioning
(GAF) Scale pada aksis V adalah 60-51.

VI. DIAGNOSTIK MULTIAKSIAL

Menurut PPDGJ – III


Aksis I : Skizofrenia Paranoid (F20.0)
Aksis II : -
Aksis III : Tidak Ada Diagnosis
Aksis IV : Masalah yang berkaitan dengan pendidikan
Aksis V : GAF Scale 60 – 51

VII. DIAGNOSIS BANDING

 F25.1 Gangguan Skizoafektif Tipe Depresif

 F32.3 Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik

11
VIII. RENCANA TERAPI

Medikamentosa
 Persidal 2 mg ( 1 – 0 – 1 )
 CPZ 100 mg ( 1 – 0 – 1 )
 THP 2 mg ( 1 – 0 – 1 )

IX. DISKUSI

Menurut gejalanya skizofrenia memiliki dua kategori gejala yaitu :


a. Gejala positif (gejala nyata) meliputi waham, halusinasi, dan gangguan perilaku aneh,
gangguan pikiran bicara kacau, ekopraksia (peniruan gerakan orang lain yang diamati
klien) asosiasi longgar (pikiran atau gagasan yang terpecah-pecah dan ambivalensi
(mempertahankan keyakinan yang tampak kontradiktif tentang individu).
b. Gejala negatif (gejala samar) seperti afek datar, avolisi (malas melakukan sesuatu,
defisit perhatian, apatis, anhedonia (ketidakmampuan merasakan kesenangan yang
normal), asosial, katatonia (imobilisasi karena faktor psikologis).

Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia edisi


ketiga (PPDGJ III), penegakan diagnosis pada kasus ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

F.20 Skizofrenia
Suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan
perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronik atau “deteriorating”) yang luas, serta
sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik, dan sosial
budaya. Pada umumnya ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan karakteristik
dari pikran dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar (inappropriate) or tumpul
(blunted). Kesadaran yang jernih (clear consciousness) dan kemampuan intelektual
biasanya tetap terpelihara, walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang
kemudian.

Pedoman diagnostik :
Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua gejala atau
lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) :

12
a. “thought echo” : isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam
kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda.
“thought insertion or withdrawal” : isi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam
pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya
(withdrawal).
“ thought broadcasting” : isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau
umum mengetahuinya;
b. “delusion of control” : waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu kekuatan
tertentu dari luar; atau
“delusion of influence” : waham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan
tertentu dari luar; atau
“delusion of passivity” : waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap
suatu kekuatan dari luar; (tentang “dirinya” secara jelas merujuk ke pergerakan
tubuh/anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau penginderaan khusus);
“ delusion perception” : pengalaman inderawi yang tak wajar, yang bermakna sangat
khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;
c. Halusinasi auditorik :
 Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap perilaku pasien,
atau
 Mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri (diantara berbagai suara
yang berbicara), atau
 Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat dianggap
tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama atau politik
tertentu, atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia biasa (misalnya mampu
mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan makhluk asing dari dunia lain).

Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara jelas :
e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja, apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan afektif
yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas) yang menetap,
atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan terus
menerus.

13
f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan (interpolation)
yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.
g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh tertentu
(posturing) atay fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor.
h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional yang
menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan
sosial dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak
disebabkan oleh depresi atau medikasi neureptika.

Adapun gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun waktu satu
bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase non-psikotik prodromal). Harus ada suatu
perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu keseluruhan (overall quality) dari
beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya
minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self
absorbed attitute), dan penarikan diri secara sosial.

Pedoman Diagnostik Skizofrenia Paranoid :


 Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia
 Sebagai tambahan :
- Halusinasi dan/atau waham harus menonjol;
a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah, atau
halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi pluit (whistling),
mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing).
b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual atau lain-lain
perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol.
c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion
of control), dipengaruhi (delusion of influence), atau “passivity” (delusion of
passivity), dan keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam, adalah yang
paling khas
- Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik
secara relatif tidak nyata atau tidak menonjol.

Kurang lebih dari 50% dari semua pasien skizofrenik mencoba bunuh diri, dan 10 sampai
15 persen pasien skizofrenia meninggal akibat bunuh diri. Mungkin faktor yang paling
tidak diperhitungkan yang terlibat dalam kasus bunuh diri pasien ini adalah deperesi yang

14
salah didiagnosis sebagai afek mendatar atau efek samping obat. Faktor pemicu lain untuk
bunuh diri mencakup perasaan kehampaan absolut, kebutuhan melarikan diri dari
penyiksaan mental, atau halusinasi auditorik yang memerintahkan pasien membunuh diri
sendiri. Faktor risiko bunuh diri adalah kesadaran pasien akan penyakitnya, jenis kelamin
pria, pendidikan universitas usia muda, perubahan perjalanan penyakit, perbaikan setelah
relaps, ketergantungan pada rumah sakit, ambisi yang terlalu tinggj, percobaan bunuh diri
sebelumnya pada awal perjalanan penyakit, serta tinggal seorang diri. Di rumah sakit
pasien sebaiknya dipantau secara ketat bila mereka berpotensi bunuh diri.

Tatalaksana Pasien

 Risperidon
Risperidone anti psikosis atipikal golongan benzixosazole. Risperidon diindikasikan
untuk pengobatan skizofrenia, bipolar mania, dan iritabilitas yang berhubungan dengan
gangguan autis. Di antara antipsikotik generasi kedua, risperidon sesuai sedikit untuk
kriteria atypicality. Resperidon merupakan antipsikosis golongan II yaitu golongan
atipikal. Antipsikosis golongan II merupakan golongan obat yang memiliki efek untuk
mengurangi gejala negatif maupun positif. Jika dibandingkan dengan antipsikosis
golongan I, risperidon mempunyai efektivitas yang lebih baik dalam mengontrol gejala
negatif dan positif. Sindrom psikosis berkaitan dengan aktivitas neurotransmitter
Dopamine yang mengikat (hiperreaktivitas system dopaminergik sentral). Risperidon
mempunyai afinitas tinggi terhadap reseptor serotonin (5HT2) dan aktivitas menengah
terhadap reseptor dopamin (D2), α1 dan α2 adrenergik, sertahistamin. Risperidon dapat
memblokade reseptor pasca sinaptik neuron di otak sehingga dopamin terblokade,
khususnya di sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal (Dopamine D2 Receptor
Antagonist). Risperidon merupakan obat yang efektif baik untuk gejala positif (halusinasi,
gangguan proses pikir) maupun gejala negatif (upaya pasien yang menarik diridari
lingkungan). Metabolisme risperidon terletak di hati dan diekskresikan lewat urin.
Berdasarkan hal tersebut maka setiap pemberian risperidon perlu diadakan pengawasan
terhadap fungsi hati. Dosis anjuran risperidon adalah 2-6 mg/hari.

 Trihexyphenidyl
Pemakaian obat psikotik seperti CPZ dan HLP tanpa penggunaan THP cenderung
menimbulkan sindrom parkinson. Pemberian obat Trihexyphenidyl selalu disertakan pada
sebagian besar terapi antipsikotik untuk pasien skizofrenia. Pemberian obat Haloperidol

15
pada pasien skizofrenia memiliki efek samping berupa efek ekstrapiramidal paling kuat.
Sindrom ekstrapiramdal merupakan suatu gejala yang ditimbulkan karena terjadinya
inhibisi transmisi dopaminergik di ganglia basalis. Adanya gangguan transmisi di korpus
stratum yang mengandung banyak reseptor D1 dan D2 menyebabkan depresi fungsi
motorik sehingga menimbulkan reaksi berupa distonia akut atau kekakuan otot-otot alat
gerak, hipersalivasi atau gerakan tak terkontrol pada otot rahang. Trihexilphenidyl
merupakan senyawa piperidin, termasuk obat golongan antikolinergik yang digunakan
sebagai obat tambahan antipsikotik. Daya anti kolinergik dan efek sentralnya mirip atropin
namun lebih lemah, bekerja dengan cara mengurangi aktifitas kolinergik di kaudatus dan
puntamen yaitu dengan memblok reseptor asetilkolin. Berdasarkan alasan inilah
diberikannya obat THP sebagai antidotum antipsikotik yang memiliki efek ekstrapiramidal
kuat seperti haloperidol, dengan tujuan mengurangi efek samping yang tidak diinginkan,
sebab efek samping yang ditimbulkan cukup serius.

 Chlorpromazine
Pasien ini diberikan chlorpromazine digunakan sebagai antipsikotik dan mengambil
efek sedatifnya. Pada kasus ini pasien mengalami sulit tidur sehingga dibutuhkan sedatif
untuk membantunya beristirahat.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, H.I., Sadock, B.J. Sinopsis Psikiatri Klinis Edisi 7 Jilid Satu. 2010. Jakarta :
EGC.

2. Maslim, R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ III.
2003. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya.

3. Tendry S, dkk. Diagnosis dan tatalaksana skizofrenia hebefrenik putus obat. Journal
Unila volume 7. 2017

4. Maslim, R. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik Edisi Ke empat.2014.


Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya

17