Anda di halaman 1dari 23

STRUKTUR MODAL DALAM PRAKTEK

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Manajemen Keuangan Lanjutan

Oleh :

Detri Iriyanti 0118124006

Dheanira Clara 0118124021

Harry Tubagus Ilyas 0118124013

Vina Nabila Paramitha 0118124046

Kelas C (Reguler B2)

S1 AKUNTANSI

UNIVERSITAS WIDYATAMA

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tak
lupa juga kami panjatkan shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah
limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Penyusunan makalah dengan judul “Struktur Modal dalam Praktek” ini


ditujukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Manajemen Keuangan
Lanjutan.

Dalam penyusunan makalah ini kami memperoleh banyak bantuan dari


berbagai pihak, karena itu kami menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1. Tetty Lasniroha Sarumpaet, S.E., M.Ak.Ca. selaku dosen pembimbing dari


mata kuliah Manajemen Keuangan Lanjutan.
2. Kedua orang tua yang senantiasa memberikan dukungan baik secara
materiil maupun nonmateriil.
3. Rekan-rekan mahasiswa serta mahasiswi yang selalu memberikan
motivasi.

Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua
pihak. Kami juga menyadari bahwa dalam Makalah ini masih banyak terdapat
kesalahan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu, segala bentuk kritik dan saran
yang bersifat membangun sangat diharapkan.

Bandung, Januari 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................... i
Daftar Isi..............................................................................................................ii
Bab I Pendahuluan.......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang............................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.......................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan............................................................................2
1.4 Sistematika Penulisan.................................................................... 2
Bab II Struktur Modal dalam Praktik............................................................. 3
2.1 Analisis Pendekatan EBIT dengan EPS.......................................3
2.2 Analisis Kemampuan Arus Dana Menservis Pinjaman................ 9
2.3 Analisis Kecukupan Dana............................................................. 10
Bab III Pembahasan...........................................................................................12
Bab IV Simpulan dan Saran.............................................................................. 18
4.1. Simpulan........................................................................................ 18
Daftar Pustaka..................................................................................................... iii
Lampiran............................................................................................................ iv

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Struktur modal berkaitan dengan jumlah hutang dan modal sendiri yang
digunakan untuk membiayai aktiva perusahaan. Struktur modal yang efektif
mampu menciptakan perusahaan dengan keuangan yang kuat dan stabil.
Bersamaan dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat di bidang pasar modal
dan tersedianya dana dari para calon investor yang berminat menginvestasikan
modalnya, struktur modal telah menjadi salah satu faktor pertimbangan yang
cukup penting. Hal ini terkait dengan resiko dan pendapatan yang akan diterima.
Dalam melihat struktur modal perusahaan, investor tidak dapat dipisahkan
dariinformasi perusahaan berupa laporan keuangan yang dikeluarkan setiap
tahunnya. Para investor akan melakukan berbagai analisis terkait dengan
keputusan untuk menanamkan modalnya pada perusahaan melalui informasi yang
salah satunya berasal dari laporan keuangan perusahaan.Pengambilan keputusan
keuangan sering kali perlu dilakukan analisis dalam mempertimbankan alternatif
sumber dana yang meminimalkan biaya modal perusahaan secara keseluruham.
Oleh karena itu, dalam praktek seseorang manajer keuangan akan berusaha
menetukan struktur modal yang sesuai bagi perusahaanya.
Tujuan manajer keuangan adalah memaksimalkan laba perusahaan.
Kekayaan-kekayaan pemillik perusahaan dicerminkan dengan memperkirakan
nilai saham yang digunakan sebagai kriteria untuk memilik struktur modal yang
terbaik. Untuk maksud tersebut ada beberapa metode analisis yang dapat
digunakan untuk menentukan struktur modal yang optimal yaitu analisis
pendekatan EBIT dengan EPS, Analisis Kemampuan menservis Pinjaman dan
Analisis Kecukupan Dana. Beberapa poin tersebut selanjutnya akan penulis
paparkan lebih lanjut dalam makalah ini yang berjudul “Struktur Modal dalam
Praktek”

1
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang kami utamakan dalam makah ini adalah mengenai
metode-metode pengambilan keputusan struktur modal sebagai berikut :
1.2.1 Bagaimana Metode Analisis Interseksi EBIT-EPS ?
1.2.2 Bagaimana Analisis Kemampuan menservis Pinjaman?
1.2.3 Bagaimana Analisis Kecukupan Dana?

1.3 Tujuan Penulisan


Permasalahan yang kami utamakan dalam makah ini adalah mengenai
metode-metode pengambilan keputusan struktur modal sebagai berikut :
1.3.1 Untuk mengetahui bagaimana Metode Analisis Interseksi EBIT-EPS
1.3.2 Untuk mengetahui bagaimana Analisis Kemampuan menservis Pinjaman
1.3.3 Untuk mengetahui bagaimana Analisis Kecukupan Dana

1.4 Sistematika Penulisan


Sistematika penulisan makalah ini terdiri atas : Halaman judul yang
menerangkan nama-nama penyusun. Kata Pengantar yang berisi ucapan syukur
serta ungkapan rasa terima kasih terhadap semua pihak yang telah membantu
dalam penyususnan makalah ini. Daftar Isi memuat daftar halaman.Bab I
Pendahuluan, terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah (menjelaskan
hal-hal pokok yang kami bahas), tujuan penulis (menjelaskan tujuan yang ingin
dicapai dalam penulisan makalah ini), dan sistematika penulisan. Bab II Landasan
Teori, terdiri atas penjelasan mengenai metode keputusan struktur modal dalam
praktik yaitu analisis pendekatan EBIT-EPS, analisis Kemampuan menservis
Pinjaman dan analisis Kecukupan Dana. Bab II Pembahasan, terdiri dari contoh
kasus soal mengenai metode keputusan struktur modal dalam praktik. Bab IV
Penutup, terdiri dari kesimpulan dan saran. Dan terakhir adalah Daftar Pustaka.

2
BAB II
STRUKTUR MODAL DALAM PRAKTIK :

2.1 Analisis Pendekatan EBIT dengan EPS (Analisa Keuntungan Sebelum


Bunga dan Pajak dan Pendapatan Per Saham)
Pendekatan EBIT-EPS merupakan pendekatan yang digunakan untuk
memilih alternatif struktur modal untuk menghitung utang secara optimal,
walaupun mempunyai beberapa keterbatasan. Pertama, metode tersebut tidak
membicarakan pengaruh struktur modal terhadap nilai perusahaan. Kedua,
pendekatan tersebut tidak memperhitungkan biaya utang yang bersifat implisit.
Analisis ini dapat memaksimumkan EPS ( Earning per share ) pada tingkatan
EBIT ( Earning Before Interest and Tax ) yang diharapkan oleh perusahaan. Yang
dimaksud dengan EPS adalah laba bersih sesudah pajak atau Earning After Tax (
EAT ) dibagi jumlah lembar saham perusahaan yang beredar. Perubahan dalam
struktur modal perusahaan akan mengakibatkan perubahan pula pada EPS, yang
akhirnya mengakibatkan perubahan harga saham.
Pada tingkat EBIT tertentu yang dapat dicapai perusahaan dapat
menghasilkan tingkat EPS yang sama pada berbagai alternatif pendanaan,
sehingga perusahaan dapat memilih alternatif manapun untuk mendanai
investasinya karena memberikan EPS yang sama. Keadaan ini disebut dengan
EBIT pada titik indiferen (Indifference Point). Indifference point memberikan
masukan penting bagi manajemen dalam memilih alternatif pembelanjaan, Jika
expected EBIT lebih besar dari indifference point, perusahaan sebaiknya
menggunakan hutang. Jika sebaliknya, menggunakan saham akan lebih
menguntungkan. Perlu dicatat bahwa keputusan ini bisa salah jika actual EBIT
tidak sebesar yang diharapkan. Oleh karena itu, didalam mengambil keputusan,
manajemen harus memperhatikan juga deviasi standard (tingkat variabilitas) EBIT
perusahaan. Expected dan deviasi standard EBIT dapat dicari dengan
mengembangkan sejumlah skenario tentang EBIT dimasa mendatang beserta
dengan probabilita terjadinya. Jika deviasi standard EBIT relatif besar,
manajemen harus lebih hati-hati karena expected EBIT menjadi kurang dapat
dipercaya. Sebaiknya manajemen memutuskan menggunakan hutang hanya bila

3
ecpected EBIT cukup jauh di atas indifference point. Pada analisis ini, hubungan
antara EBIT dan EPS dapat dicari dengan cara sebagai berikut:

(EBIT−c1)(1−T) (EBIT−c2)(1−T)
=
S1 S2

Keterangan:
EBIT = EBIT pada indifference point
c1,c2 = jumlah bunga obligasi
T = tingkat pajak perseroan
S1 = jumlah lembar saham biasa yang beredar jika hanya menjual saham
biasa
S2 = jumlah lembar saham biasa yang beredar jika menjual saham biasa dan
obligasi secara bersama-sama

Apabila perusahaan sebelumnya sudah mempunyai obligasi dan akan


mengeluarkan obligasi baru, maka rumus perhitungan indifference point diatas
diadakan penyesuaian menjadi :

(EBIT−c1) (EBIT−c2)
=
S1 S2

Keterangan :
x = EBIT pada tingkat indifference point
c1 = biaya tetap alternatif 1
c2 = biaya tetap alternatif 2
S1 = jumlah lembar saham alternative 1
S2 = jumlah lembar saham alternatif 2

4
Kesimpulan:
 Jika expected EBIT > Indifference point, perusahaan sebaiknya menggunakan
Hutang
 Jika expected EBIT < Indifference point, maka perusahaan sebaiknya
menggunakan Saham.

Dari rumus di atas dapat digambarkan suatu grafik hubungan EBIT-EPS.


Penggambaran EBIT-EPS adalah untuk memeberikan informasi kepada pihak
manajemen, sebearapa jauh penggunaan suaatu alternatif pembelanjaan masing-
masing lebih menguntungkan daripada alternatif yang lain. Pada penggambaran
grafik, perusahaan perlu menghitung besarnya kemungkinan beban tetap yang
telah dikenakan pajak jika menggunakan sumber dana yang berasal dari saham
preferen, karena pembayaran dividen dilakukan pada saat perusahaan telah
dikurangi pajak, sehingga perusahaan perlu memperhitungkan kembali laba kena
pajak untuk saham preferen dengan menggunakan rumus berikut :

Dividen Saham Preferen


Laba Kena Pajak Saham Preferen =
1−T

Contoh Soal
PT ABCD saat ini mempunyai kapitalisasi sebesar Rp. 50,00 miliar yang
seluruhnya dalam bentuk saham biasa. Perusahaan ini berusaha untuk
mendapatkan dana sebesar Rp. 20,00 miliar untuk mendanai akuisisi peralatan
khusus. Untuk mendapatkan dana tersebut, ada tiga alternatif sumber
pembelanjaan yang dapat digunakan, yaitu: (1) menjual 4.000.000 lembar saham
biasa seharga Rp. 5.000,00 setiap lembarnya; (2) menjual obligasi dengan tingkat
kupon 10%; dan (3) menerbitkan saham preferen dengan tingkat dividen 8%.
Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT) perusahaan tersebut sekarang adalah Rp.
8,00 miliar. Tingkat pajak penghasilan yang diberlakukan terhadap perusahaan
sebesar 50%. Saham biasa yang beredar saat ini sebanyak 10.000.000 lembar.
Berdasarkan data pada kasus ini, diminta:

5
1. Hitunglah EPS untuk masing-masing sumber pembelanjaan alternatif,
dengan asumsi EBIT perusahaan yang diproyeksikan meningkat menjadi
Rp. 10,00 miliar
2. Buatlah grafik breakeven atau indifferent untuk pilihan-pilihan sumber
pembelanjaan ini. Berapa besarnya titik-titik indifferen, jika dihitung secara
matematis antara saham biasa dengan utang, saham biasa dengan saham
preferen, dan utang dengan saham preferen?
3. Berilah kesimpulan dari hasil perhitungan dan grafik pada pertanyaan
nomor 1 dan 2.

Langkah-Langkah Penyelesaian Soal


1. Menentukan pengaruh penambahan sumber pem-belanjaan alternatif
terhadap EPS
Keterangan Saham Biasa Utang Saham Preferen
EBIT Rp. 10,00 miliar Rp. 10,00 miliar Rp. 10,00 miliar
Bunga - 2,00 miliar -
EBT 10,00 miliar 8,00 miliar 10,00 miliar
Pajak 5,00 miliar 4,00 miliar 5,00 miliar
EAT 5,00 miliar 4,00 miliar 5,00 miliar
Dividen saham - - 1,60 miliar
preferen
EACS 5,00 miliar 4,00 miliar 3,40 miliar
Jumlah Saham 14 juta 10 juta 10 juta
EPS Rp. 357,10 Rp. 400,00 Rp. 340,00

2. Menggambar grafik.
Grafik dan titik indifferent atau breakeven point digambar dengan cara
sebagai berikut:
 Tempatkan EBIT pada sumbu mendatar (sumbu X)
 Tempatkan EPS pada sumbu tegak (sumbu Y)
 Cari titik-titik potong grafik dari masing-masing sumber pembelanjaan
alternatif dengan sumbu mendatar (EBIT).
Dari kasus ini, dapat ditentukan titik potong grafik sumber pembelanjaan
alternatif dengan sumbu mendatar sebagai berikut:

6
EPS (Rp.)
D PS
CS
400

300

200

100

EBIT (miliar Rp.)


0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Langkah-langkah pembuatan Grafik


1) Rencana saham biasa tidak mempunyai biaya tetap, jadi titik potong pada
sumbu mendatar adalah nol  Titik potong (0 miliar; 0)
2) Rencana utang memerlukan EBIT Rp.2,00 miliar untuk menutup beban
bunga, jadi titik potong pada sumbu mendatar adalah Rp.2,00 miliar 
Titik potong (2 miliar; 0)
3) Rencana saham preferen memerlukan EBIT sebesar Rp3,20 miliar, yang
berasal dari Rp. 1,60 miliar/(1 - 0,5), untuk menutup dividen saham
preferen Rp. 1,60 miliar pada tingkat pajak penghasilan 50%  Titik
potong (3,2 miliar; 0).
4) Carilah pasangan EBIT-EPS untuk masing-masing sumber
pembelanjaan, alternatif jika EBIT diproyeksikan sebesar Rp.10,00
miliar. Dari kasus ini:
a. Rencana saham biasa  (10 miliar; 357,10)
b. Rencana utang  (10 miliar; 400)
c. Rencana saham preferen  (10 miliar; 340)
5) Hubungkan titik potong grafik pada sumbu mendatar dengan titik-titik
pasangan EBIT-EPS hasil perhitungan sebelumnya, untuk masing-
masing alternatif pembelanjaan.

7
Titik indiferent atau breakeven point apabila dihitung dengan formula
matematis:
a. Untuk menentukan titik indifferent antara alternatif pembelanjaan saham
biasa dengan utang:
(EBIT − c1)(1 − T) (EBIT − c2)(1 − T)
=
S1 S2
(EBIT − 0)(1 − 0,5) (EBIT − 2 miliar)(1 − 0,5)
=
14 juta 10 juta
0,50 (EBIT) (10 juta) = 0,50 (EBIT - 2,00 miliar)(14 juta)
5 juta (EBIT) = 7 juta (EBIT - 2,00 miliar)
5 juta (EBIT) = 7 juta (EBIT) - 14,00 miliar
5 juta (EBIT) - 7 juta (EBIT) = - 14,00 miliar
-2 juta (EBIT) = - 14,00 miliar
EBIT = 7 miliar

b. Untuk menentukan titik indifferent antara alternatif pembelanjaan saham


biasa dengan saham preferen:
(EBIT − c1)(1 − T) (EBIT − c2)(1 − T)
=
S1 S2
(EBIT − 0)(1 − 0,5) (EBIT − 3,2 miliar)(1 − 0,5)
=
14 juta 10 juta
0,50 (EBIT) (10 juta) = 0,50 (EBIT – 3,20 miliar)(14 juta)
5 juta (EBIT) = 7 juta (EBIT - 3,20 miliar)
5 juta (EBIT) = 7 juta (EBIT) – 22,4 miliar
5 juta (EBIT) - 7 juta (EBIT) = - 22,4 miliar
-2 juta (EBIT) = - 22,4 miliar
EBIT = -11,2 miliar
3. Kesimpulan
 Utang lebih baik daripada saham preferen, pada tingkat EBIT manapun,
karena memberikan EPS lebih tinggi.
 Pada tingkat EBIT di atas Rp. 7,00 miliar, utang lebih baik daripada
saham biasa. Kebalikannya adalah benar, bila EBIT berada di bawah Rp.
7,00 miliar.
 Pada tingkat EBIT di atas Rp. 11,20 miliar, saham preferen lebih baik
daripada saham biasa. Pada titik di bawah itu, kebalikannya adalah benar.

8
2.2. Analisis Kemampuan Arus Dana Menservis Pinjaman
Dalam mempertimbangkan struktur modal yang layak, sangatlah penting
untuk menganalisis kemampuan aliran perusahaan untuk memenuhi kewajiban
(beban) tetap perusahaan. Beban tetap ini termasuk pokok pinjaman, bunga,
pembayaran sewa dan dividen untuk saham preferen. Untuk memutuskan
mendanai investasi perusahaan melalui penambahan pinjaman yang dapat
menimbulkan beban tetap, perusahaan haruslah menanalisis aliran kas di masa
yang akan datang, karena beban tetap haruslah dipenuhu dengan kas.
Ketidakmampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban ini (kecuali dividen
saham preferen) bisa mengakibatkan financial insolvency (ketidakmampuan
memenuhi kewajiban-kewajiban keuangan jangka panjang). Jadi resiko keuangan
yang berhubungan dengan pinjaman seharusnya dianalisis berdasarkan atas
kemampuan perusahaan untuk memenuhi beban tetapnya
Analisis kemampuan arus dana dalam memenuhi kewajibannya dapat
dihitung dengan menggunakan rumus, sebagai berikut :
1. Kelipatan Pembayaran Bunga (Times Interest Earned)

𝐸𝐵𝐼𝑇
𝑇𝑖𝑚𝑒 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑒𝑠𝑡 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑒𝑑 = × 1 𝑘𝑎𝑙𝑖
𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑃𝑖𝑛𝑗𝑎𝑚𝑎𝑛

2. Liputan Servis Pinjaman (Debt Service Converage)

𝐸𝐵𝐼𝑇
𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑆𝑒𝑟𝑣𝑖𝑐𝑒 𝐶𝑜𝑣𝑒𝑟𝑒𝑔𝑒 = 𝑃𝑒𝑚𝑏𝑎𝑦𝑎𝑟𝑎𝑛 𝐶𝑖𝑐𝑖𝑙𝑎𝑛
× 1 𝑘𝑎𝑙𝑖
𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑃𝑖𝑛𝑗𝑎𝑚𝑎𝑛 +
1−𝑇

Dari kedua rasio di atas tidak ada aturan pasti yang menyatakan suatu ratio
yang baik dan buruk. Kedua ratio liputan tersebut bervariasi menurut risiko bisnis
dari perusahaan. Untuk menentukan analisis kondisi perusahaan dari sudut
kemampuan perusahaan memayar kewajibannya dapat dilakukan dengan
melakukan analisis sebagai berikut:
a) Ratio liputan harus dibandingkan dengan rasio periode sebelumnya dan
ekspektasi rasio yang alan datang dari perusahaan yang sama (dan ini

9
dinamakan trend analisis), maksudnya adalah untuk menentukan apakah
terjadi perbaikan atau penurunan dalam rasio selama kurun waktu tertentu.
b) Membandingkan rasio liputan dari dua perusahaan atas industri sejenis.
Maksudnya untuk mengisolasikan resiko bisnis secermat mungkin dengan
membandingkan perusahaan yang sama.
Dengan sarana kebijakan diatas pimpinan perusahaan dapat membuat
generalisasi mengenai jumlah pinjaman yang sesuai bagi perusahaan dalam
struktur modalnya. Dalam jangka panjang kemampuan menservise pinjaman bagi
perusahaan yang sehat sangat bergantung pada faktor pendapatan, karen itu ratio
liputan merupakan sarana analisis yang penting, disamping ituu merupakan alat
analisis pimpinan untuk menyimpulkan struktur modal yang tepat. Ratio liputan
mengandung keterbatasan oleh karena itu tak dapat digunakan sebagai satu-
satunya sarana analisis dalam menentukan struktur modal.

2.3 Analisis Kecukupan Dana


Masalah penting bagi perusahaan bukan saja turunnya coverage ratio/ratio
liputan tetapi kemungkinan terjadinya cash insolvency. Cash insolvency
tergantung pada apakah semua sumber pembayaran seperti dana tunai, sumber
pinjaman baru atau apakah semua sumber pembayaran seerti dana tunai, sumber
pinjaman baru atau penjualan assets secara keseluruhan mencukupi atau tidak
untuk memperkirakan terjadinya cash insolvency. Oleh karena itu, perusahaan
perlu menganalisi kemungkinan ketidakmampuan memenuhi kewajiban
pembayaran kas, sehingga perusahaan bisa mngetahui seberapa besar deviasi
(penyimpanan) aliran kas yang sebenarnya dari aliran kas yang diharapkan.
Dengan memperhitunkan kemungkinan ketidakmampuan perusahaan
memenuhi kewajiban akan menentukan seberapa besar beban tetap dan utang
yang bisa ditanggung, sehingga manajemen dapat mempertahankan keamanan
keuangan yang masih bisa diterima oleh perusahaan. Untuk itu perusahaan harus
mempunyai informasi mengenai seberapa jauh penyimpanan cash flow sebnarnya
dari yan diharapkan.
Dalam perhitungan EBIT diperkirakan akan dapat dicapai peruahaan. Ini
berarti analisis perusahaan didasarkan atas asumsi adanya kepastian bahwa EBIT

10
tidak akan jauh menyimpan dari yang diharapkan (Expected EBIT= E
(EBIT)=EBIT) walaupun dalam kenyataannya EBIT sebenarnya mungkin
menyimpang jauh dari yang diperkirakan. Untuk menghitung besarnya ekspektasi
EBIT digunakan rumus sebagai berikut :

𝑛
̅̅̅̅̅̅̅ = ∑ 𝑃𝑖 . 𝐸𝐵𝐼𝑇𝑖
𝐸𝐵𝐼𝑇
𝑖=1

Atau

̅̅̅̅̅̅̅ = 𝑃1 . 𝐸𝐵𝐼𝑇1 + 𝑃2 . 𝐸𝐵𝐼𝑇2 … … … . . +𝑃𝑛 . 𝐸𝐵𝐼𝑇𝑛


𝐸𝐵𝐼𝑇

Rumus simpangan baku dari 𝐸𝐵𝐼𝑇 adalah :

𝑛
̅̅̅̅̅̅̅)2 . 𝑃𝑖
𝜎 𝐸𝐵𝐼𝑇 = ∑ √(𝐸𝐵𝐼𝑇𝑖 − 𝐸𝐵𝐼𝑇
𝑖=1

Dengan menetahui 𝐸𝐵𝐼𝑇 dan σ(EBIT) kita dapat menentukan berpa


kemungkinan perusahaan tidak mampu membayar kewajibannya berupa
pembayaran bunga dan cicilan okok pinjaman dengan menunakan rumus Z score
sebagai berikut :

̅̅̅̅̅̅̅
𝐸𝐵𝐼𝑇 − 𝐸𝐵𝐼𝑇
𝑍=
σ(EBIT)

11
BAB III
PEMBAHASAN

ILUSTRASI SOAL

Struktur modal PT A seluruhnya terdiri dari modal saham sebanyak 200.000


lembar saham biasa dengan nilai nominal perlembar saham Rp. 5000. Perusahaan
tersebut akan mengadakan perluasan dan membutuhkan dana sebesar Rp.
600.000.000 yang dapat diperoleh melalui 3 alternatif pembelanjaan sebagai
berikut:
a. Seluruhnya dengan modal saham jasa, dengan nilai nominal saham Rp.5000,-
/lbr
b. Seluruhnya dengan pinjaman obligasi yang bunganya 15% per tahun
c. 50% dengan modal saham biasa dan 50% saham preferen/priortas yang
memberikan dividen sebesar 1% tiap tahun
Perkiraan EBIT setelah didadakannya perlunasan sebagai berikut :
Situasi (i) Peluang Perkiraan EBIT
Resesi 0,2 Rp. 100.000.000
Normal 0,5 Rp. 320.000.000
Boom 0,3 Rp. 400.000.000

Perusahaan dikenakan tarif pajak penghasilan sebesar 30%. Dari data tersebut
tentukan :
1. EPS menurut ketiga alternatif tersebut
2. EBIT pada titik indiferensi berikut gambar hubungan EBIT dengan EPS
3. Rasio liputan pinjaman jika cicilan pokok pinjaman sebesar Rp. 120.000.000 .
Berikan arti dari hasil perhitungan tersebut
4. Peluang EBIT lebih besar dari besarnya bunga yang harus dibayar jika
menggunakan alternatif pendanaan seluruhnya menggunakan pinjaman dengan
tingkat confidence level pimpinan 90%
5. Berikan rekomendasi pemilihan pendanaan untuk perluasan usaha perusahaan
tersebut.

12
PENYELESAIAN SOAL

Diketahui
 𝑃1 = 0,2 & 𝐸𝐵𝐼𝑇1 = 𝑅𝑝 100.000.000
 𝑃2 = 0,5 & 𝐸𝐵𝐼𝑇2 = 𝑅𝑝 320.000.000
 𝑃3 = 0,3 & 𝐸𝐵𝐼𝑇3 = 𝑅𝑝 400.000.000
 Pinjaman Obligasi = Rp 600.000.000 dengan bunga pinjaman 15% / thn
 Terdiri dari 100% saham biasa dengan jumlah saham 320.000 lbr, 100%
obligasi dengan julah saham 200.000 lbr,serta 50% saham biasa 50% saham
preferen dengan jumlah saham 260.000 lbr.
 50% saham biasa 50% saham preferen memberikan dividen 12% / thn

Ditanyakan:
1. EPS menurut ketiga alternatif tersebut
2. EBIT pada titik indiferensi berikut gambar hubungan EBIT dengan EPS
3. Rasio liputan pinjaman jika cicilan pokok pinjaman sebesar Rp. 120.000.000 .
serta arti dari hasil perhitungan tersebut
4. Peluang EBIT lebih besar dari besarnya bunga yang harus dibayar jika
menggunakan alternatif pendanaan seluruhnya menggunakan pinjaman dengan
tingkat confidence level pimpinan 90%
5. Rekomendasi pemilihan pendanaan untuk perluasan usaha perusahaan tersebut.

Jawab:
1. EPS
𝑬𝑩𝑰𝑻 = 𝑃1 𝐸𝐵𝐼𝑇1+ 𝑃2 𝐸𝐵𝐼𝑇2 + ................. 𝑃𝑛 𝐸𝐵𝐼𝑇𝑛
= (0,2 x 100.000) + (0,5 x 320.000.000) + (0,3 x 400.000.000)
= Rp. 300.000.000

13
50% saham biasa
100% dengan 100% dengan
Keterangan 50% saham
saham biasa obligasi
preferen
EBIT Rp. 300.000.000 Rp. 300.000.000 Rp. 300.000.000
Buna Pinjaman Rp. 90.000.000
EBT Rp. 300.000.000 Rp. 210.000.000 Rp. 300.000.000
Pajak 30% Rp. 90.000.000 Rp. 63.000.000 Rp. 90.000.000
EAT Rp. 210.000.000 Rp. 147.000.000 Rp. 210.000.000
Dividen saham preferen - - Rp. 36.000.000
Laba pemegang saham
Rp. 210.000.000 Rp . 147.000.000 Rp. 174.000.000
biasa
Jumlah Saham 320.000 lbr 200.000 lbr 260.000 lbr
EPS Rp. 656,25 Rp. 735 Rp. 669,23

2. Besarnya EBIT pada titik Indiference


(EBIT − c1)(1 − T) (EBIT − c2)(1 − T)
=
S1 S2
(EBIT − 0)(1 − 0,3) (EBIT − 90.000.000)(1 − 0,3)
=
320.000 200.000
200.000 (0,7 EBIT) = 320.000 (0,7 EBIT – 63.000.000)
140.000 EBIT = 224.000 EBIT – 20.160.000.000.000
- 84.000 EBIT = – 20.160.000.000.000
EBIT = 240.000.000
Bukti:
(EBIT − c1)(1 − T) (240.000.000)(1 − 0,3)
𝐸𝑃𝑆1 = = = Rp 525
S1 320.000
(EBIT − c2)(1 − T) (240.000.000 − 90.000.000)(1 − 0,3)
𝐸𝑃𝑆2 = = = Rp 525
S2 200.000

Saham Preferen
Dividen Saham Preferen
Laba Kena Pajak Saham Preferen =
1−T
36.000.000
LKP =
1 − 0,3
LKP = Rp 51.428.571

14
Gambar Hubungan EBIT-EPS
Alternatif EPS = 0 EBIT = Rp240.000.000
Pembelanjaan EPS EBIT EPS EBIT
100 % Saham biasa 0 0 Rp 525 240.000.000
100 % Obligasi 0 90.000.000 Rp 525 240.000.000
50% saham biasa 50% 0 51.428.571 Rp 525 240.000.000
saham preferen

Gambar Grafik

3. Rasio Liputan Pinjaman


𝐸𝐵𝐼𝑇
𝑇𝑖𝑚𝑒 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑒𝑠𝑡 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑒𝑑 =
𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑃𝑖𝑛𝑗𝑎𝑚𝑎𝑛
300.000.000
𝑇𝑖𝑚𝑒 𝐼𝑛𝑡𝑒𝑟𝑒𝑠𝑡 𝐸𝑎𝑟𝑛𝑒𝑑 =
90.000.000
= 3,33
Angka tersebut menunjukkan bahwa setiap Rp 1 bunga pinjaman dijamin oleh
EBIT sebanyak 3,33 kalinya, sehingga jika terjadi penurunan EBIT, maka
EBIT dapat turun maksimum 70% dan perusahaan masih sanggup membayar
bunga pinjman.

15
Perhitungan penurunan EBIT
90.000.000
[1 − ] × 100% = 70%
300.000.000

𝐸𝐵𝐼𝑇
𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑆𝑒𝑟𝑣𝑖𝑐𝑒 𝐶𝑜𝑣𝑒𝑟𝑒𝑔𝑒 = 𝑃𝑒𝑚𝑏𝑎𝑦𝑎𝑟𝑎𝑛 𝐶𝑖𝑐𝑖𝑙𝑎𝑛
× 1 𝑘𝑎𝑙𝑖
𝐵𝑢𝑛𝑔𝑎 𝑃𝑖𝑛𝑗𝑎𝑚𝑎𝑛 +
1−𝑇
300.000.000
𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑆𝑒𝑟𝑣𝑖𝑐𝑒 𝐶𝑜𝑣𝑒𝑟𝑒𝑔𝑒 = 120.000.000 × 1 𝑘𝑎𝑙𝑖
90.000.000 +
1−0,3

300.000.000
𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑆𝑒𝑟𝑣𝑖𝑐𝑒 𝐶𝑜𝑣𝑒𝑟𝑒𝑔𝑒 = × 1 𝑘𝑎𝑙𝑖
261.428.571
𝐷𝑒𝑏𝑡 𝑆𝑒𝑟𝑣𝑖𝑐𝑒 𝐶𝑜𝑣𝑒𝑟𝑒𝑔𝑒 = 1,15 𝑘𝑎𝑙𝑖

Angka tersebut menunjukkan bahwa setiap Rp 1 bunga dan cicilan pokok


pinjaman dijamin oleh EBIT sebanyak 1,15 kalinya, sehingga jika terjadi
penurunan EBIT, maka EBIT dapat turun maksimum 12,86% dan sisa EBIT
hanya cukup untuk membayar bunga beserta cicilan pokok pinjamannya.
Perhitungan penurunan EBIT
120.000.000
90.000.000 + 1−0,3
[1 − ] × 100% = 12,86%
300.000.000

4. P (EBIT > Rp 90.000.000)


̅̅̅̅̅̅̅ adalah:
Simpangan baku dari 𝐸𝐵𝐼𝑇

̅̅̅̅̅̅̅
𝐸𝐵𝐼𝑇 = √(𝐸𝐵𝐼𝑇1 − ̅̅̅̅̅̅̅
𝐸𝐵𝐼𝑇)2 . 𝑃1 + (𝐸𝐵𝐼𝑇2 − ̅̅̅̅̅̅̅
𝐸𝐵𝐼𝑇)2 . 𝑃2 + (𝐸𝐵𝐼𝑇3 − ̅̅̅̅̅̅̅
𝐸𝐵𝐼𝑇)2 . 𝑃3

̅̅̅̅̅̅̅
𝐸𝐵𝐼𝑇 = √(100.000.000 − 300.000.000)2 . 0,2 + (320.000.000 − 300.000.000)2 . 0,5 + (400.000.000 − 300.000.000)2. 0,3

̅̅̅̅̅̅̅
𝐸𝐵𝐼𝑇 = 334.664.011

̅̅̅̅̅̅̅dan 𝜎 (𝐸𝐵𝐼𝑇) dapat ditentukan kemungkinan


Dengan mengetahui 𝐸𝐵𝐼𝑇
perusahaan tidak mampu membayar kewajibannya, sebagai berikut:
̅̅̅̅̅̅̅
𝐸𝐵𝐼𝑇 − 𝐸𝐵𝐼𝑇
𝑍=
𝜎(𝐸𝐵𝐼𝑇)
90.000.000 − 300.000.000
𝑍=
334.664.011
𝑍 = −0,63

16
Nilai Z dalam tabel adalah 0,2357 jadi
P (EBIT > 90.000.000) = 0,5000 + 0,2357 = 0,7357 x 100% = 73,57%
Peluang perusahaan untuk memperoleh EBIT lebih besar dari pembayaran
bunga adalah sebesar 73,57%. Jika tingkat keyakinan pimpinan perusahaan
(Confindency Level) sebesar 90%, maka kewajiban membayar bunga sebesar
Rp 90.000.000 agak mengkhawatirkan, karena peluang perusahaan lebih kecil
dibandingkan dengan confidency level pimpinan

5. Kesimpulan:
Untuk medanai ekspansi perusahaan dapat digunakan alternatif pendanaan
dengan obligasi, tetapi karena kemungkinan perusahaan memperoleh EBIT
lebih besar dari tingkat bunga lebih kecil dari tingkat keyakinan pimpinan
(73,53% < 90%), maka sebaiknya perusahaan tidak menggunakan alternatif
obligasi karena kemungkinan terjadinya cash insolvency bisa terjadi. Jadi
sebaiknya perusahaan menggunakan alternatif ke III yaitu mendanai ekspansi
dengan sebagian menggunakan saham biasa dan sebagian menggunakan saham
preferent.

17
BAB IV
KESIMPULAN

4.1 Simpulan

Pengambilan keputusan keuangan sering kali perlu dilakukan analisis dalam


mempertimbangkan alternatif sumber dana yang meminimalkan biaya modal
perusahaan secara keseluruham. Oleh karena itu, dalam praktek seseorang
manajer keuangan akan berusaha menetukan struktur modal yang sesuai bagi
perusahaanya.Tujuan manajer keuangan adalah memaksimalkan laba perusahaan.
Kekayaan-kekayaan pemillik perusahaan dicerminkan dengan memperkirakan
nilai saham yang digunakan sebagai kriteria untuk memilik struktur modal yang
terbaik. Untuk maksud tersebut ada beberapa metode analisis yang dapat
digunakan untuk menentukan struktur modal yang optimal sebagai berikut:
1. Analisis Pendekatan EBIT dengan EPS (Analisa Keuntungan Sebelum
Bunga dan Pajak dan Pendapatan Per Saham)
2. Analisis Kemampuan Arus Dana Menservis Pinjaman
3. Analisis Kecukupan Dana

18
DAFTAR PUSTAKA

Frisda, Resty. 2014. Analisis Financial Leverage [Online]. Tersedia:


https://restyresty.wordpress.com/2014/01/19/analisis-financial-leverage/

Diakses: 02 Januari 2019


Kurnia, Winda dan Ahmad Jaenal Ilham. 2017. Analisis Financial Leverage
[Online]. Tersedia: https://www.scribd.com/document/358500160/MAKALAH-
STRUKTUR-MODAL. Diakses: 02 Januari 2019
Manajemen Keuangan II. UniversitasWidyatama Bandung
Saifudin, Ahmad. Implementasi Model Ebit – Eps Dalam Pengambilan Keputusan
Struktur Modal Pada Pt Lippo Karawaci, Tbk. Department of Management
FEB UMM.
Sarumpaet, Tetty Lasniroha. 2016. Manajemen Keuangan Lanjut Edisi Februari
2016. Bandung.

iii
LAMPIRAN

iv