Anda di halaman 1dari 11

Nama : Vanesha Williams Monatalie

NIM : 175030101111012

UAS : Teori Administrasi Publik- F

Waktu : Selasa, 18 Desember 2018/ 15.15

-SOAL-

1. Jelaskan perbandingan satu sub-sistem administrasi publik antara Amerika Serikat dan Republik
Indonesia.
2. Jelaskan masalah-masalah aktual dari sub-sistem administrasi publik yang dipilih di no. 1,
dilengkapi dengan rujukan aktual berupa referensi dan berita up to date (berita 2 tahun terakhir)
dengan sistematika :
a) Permasalahan
b) Penjelasan teoritik
c) Solusi kreatif dari permasalahan tersebut
3. Daftar Pustaka

-JAWABAN-
1) BAB 6 KLARIFIKASI KOMPLEKSITAS : SUMBER INFORMASI PUBLIK

Secara umum negara di dunia dibedakan menjadi dua kelompok besar yaitu negara berkembang
dan negara maju. Negara maju pada umumnya memiliki kondisi ekonomi yang stabil terhadap pelayanan
publik, sebaliknya apabila negara berkembang kondisi ekonominya cenderung kurang stabil sehingga
banyak muncul masalah seperti tingginya tingkat pengangguran, masalah pembangunan yang belum
teratasi, terdapat kemiskinan absolute, tingkat pendapatan tidak merata, tingkat pendidikan masih rendah
yang menyebabkan sumber daya manusianya kurang berkualitas dan tingkat pelayanan publik atau
pendistribusian informasi belum merata.

Setiap negara memiliki progam kebijakan dan sistem yang berbeda-beda. Sama seperti dengan
Indonesia dan Amerika Serikat, apabila dilakukan perbandingan antar kedua negara itu banyak yang
menjadikan faktor yang melatar belakangi hal tersebut. Negara yang mendapat julukan Adikuasa
tersebut memiliki sistem yang maju dengan memanfaatkan teknologi digitalisasi sesuai dengan
perkembangan zaman, sehingga pemerintah Amerika mampu memberikan pelayanan publik dengan
baik dan efektif. Penyampaian informasi publik yang dilakukan oleh pemerintah Amerika salah satunya
telah dibuktikan dengan perlindungan data pribadi warga negaranya melalui Cybersecurity dengan
Undang-undang yang telah dikeluarkan. Amerika Serikat dalam penyelenggaraan pelayan publik sudah
mengacu pada paradigma New Public Service sebagai paradigma pelayanan publik yang ideal. Dalam
paradigma tersebut administrasi publik lebih menekan peran serta antara peran serta masyarakat dan
peran administrator menuju manajemen yang lebih baik. Pemerintah Amerika dalam penyampaian
sumber informasi publik dilakukan melalui beberapa langkah seperti kompleksitas unik dari manajemen
pengenal publik, melakukan klarifikasi keputusan publik, mengelola pengetahuan dan teknologi,
mengelola ketidakpahaman di Pemerintah Daerah yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan evaluasi
dalam membuat atau mengambil keputusan publik, implementasi manajemen pengetahuan. Sehingga
Amerika Serikat mampu menciptakan pemerintahan yang bersih, tertata dan ideal. Saat ini Amerika
telah menerapkan pemerintahan digital yang dijadikan sebagai titik terang dalam implementasi
manajemen pengetahuan publik, pemerintahan digital adalah pengenalan situs web dan portal
pemerintah yang menyediakan informasi dan memfasilitasi layanan bagi pengguna. Dua pertiga dari
sebagian lembaga negara bagian dan lokal telah memanfaatkan layanan tersebut yang diwujudkan
melalui aplikasi situs web. E-gov atau pemerintahan digital telah membawa Amerika dalam memberikan
pelayanan publik lebih interaktif yang dilaksanakan secara online. Pada bab ini telah dibahas kebijakan
terhadap setiap pemerintahan seperti :

 Pemerintahan Federal : kota Washington DC telah mengeluarkan biaya banyak


sekitar $1,5 milliar dalam produksi dan pencetakan setiap tahunnya, setelah e-gov muncul,
Washington DC memanfaatkannya melalui mengarahkan lembaga-lembaga publik untuk
membuat sebanyak mungkin mengenai informasi secara elektronik dan di distribusikan secara
serentak kepada masyarakat, hal ini di anggap pemerintah Amerika dalam pendanaan lebih
efisien dan pada langkah kerja jauh lebih efektif. Semua itu telah di atur dalam The Government
Paperwork Elimination Act to 1998. Lambat laun menuju perkembangan zaman, Washington
DC lebih berinovasi dalam penggunaan e-gov. Semua itu dibuktikan melalui adanya metode
pembayaran secara elektronik. Untuk mendukung progam tersebut Washington DC telah
mengeluarkan e-money yang dapat digunakan dalam pembayaran pajak secara elektronik.
Maka, timbale balik yang dirasakan antara pemerintah dan masyarakat akan berjalan seimbang
sehingga dalam pemberian pelayanan publik selanjutnya akan lebih mudah dan ideal.
 Pemerintahan negara bagian : semua negara bagian telah memanfaatkan e-gov dalam
bentuk sistem transfer atau pembayaran secara elektronik atau menggunakan kartu bank (ATM).
Namun dalam setiap transaksi yang dilakukan oleh masyarakat telah di potong beberapa persen
biaya karena pemerintahan telah berganti sistem dari kerta menuju komputer. Pemerintahan
negara bagian terus mengembangkan inovasi e-gov guna menstabilkan ekonomi, meningkatkan
populasi pendidikan, pengawasan lembaga legislatif.
 Pemerintahan daerah : pemerintah memanfaatkan e-gov dalam bentuk penggunaan
teknologi internet, pemerintah mengadopsi e-gov dengan kecepatan yang luar biasa sehingga
berdampak pada kemajuan lokal dengan memperluas layanan berbasis web, lebih efektif dalam
menangani hambatan keuangan dan lebih mudah mengatasi masalah privasi.

Kemajuan tersebut membawa dampak baik kepada masyarakat sehingga masyarakat lebih
terbuka kepada pemerintah. Kinerja yang dilakukan pemerintah lebih terbuka dalam meningkatkan
produktivitas pelayanan publik, sehingga progam tersebut dapat mengurangi masalah publik yang terjadi
pada Amerika seperti masalah pita merah. E-gov telah membawa Amerika menuju profesionalisme
birokrasi yang dilakukan melalui komunikasi informasi sebagai alat tukar informasi antara pemerintah
dan masyarakatnya. Dalam pelayanan kesehatan, Amerika juga memanfaatkan e-gov. Pemerintah
Amerika menerapkan hal tersebut sebagai perwujudan plafform bagi warga negaranya untuk mengakses
layanan informasi pemerintahan dimana saja, kapan saja, dan pada perangkat apapun. Website
pemerintah Amerika disiapkan secara modular dengan fungsi yang jelas www.usa.gov dengan halaman
yang nampak sederhana, dalam proses pencarian diikuti oleh beberapa kata kunci untuk mendapatkan
informasi yang lebih lengkap dan jelas.

Jika menoleh ke negara Indonesia, pemerintah terus melakukan pembangunan sehingga


menciptakan pembaruan pada kehidupan bidang lainnya. Saat ini permasalahan tersebut cukup serius
bagi negara berkembang seperti Indonesia harus melakukan proses perubahan ke arah modernisasi
dengan cara melaksanakan pembangunan di segala bidang. Untuk memenuhi semua itu pemerintah
harus melihat bagaimana sumber daya manusianya terlebih dahulu, pemberantasan buta huruf dan
penyediaan sarana prasarana dalam pendidikan formal atau informal harus diratakan terlebih dahulu,
sehingga nantinya tingkat pendidikan akan mengalami kemajuan. Sumber daya yang berkualitas
tentunya akan berdampak bagi pemerintahan dalam proses pelayanan publik. Pemerintahan digital di
Indonesia sendiri dapat dijumpai melalui penerapan pembayaran secara elektronik, sistem kerja yang
sudah sebagian besar menggunakan akses internet dan computer. Fasilitas yang diberi pemerintah
Indonesia kepada masyarakat seperti kartu ATM, kartu tanda mahasiswa yang bisa digunakan untuk e-
toll, pemayaran sistem tilang melalui transfer bank. Sehingga hal ini memudahkan masyarakat dalam
efektivitas langkah dan efisiensi dalam pendanaan. Pemerintahan digital merupakan sebuah konsep
pengembangan dari e-government dengan menitik beratkan partisipasi dari masyarakat dalam
pengumpulan dan pemanfaatan data. Pada umumnya pemerintah Indonesia mengisi portalnya terdiri dari
tiga bagian yaitu berita sebagai informasi, layanan publik, dan data aturan perundang-undangan.
Layanan publik yang diberikan pemerintah Indonesia untuk warganya adalah informasi keuangan,
pekerjaan, pajak, bisnis, catatan sipil; kebijakan yang berkaitan dengan perlindungan harkat dan
martabat manusia (HAK), lingkungan, pendidikan; aturan yang berkaitan dengan kewarganegaraan dan
imigrasi. Indonesia telah memiliki halaman portal dengan alamat indonesia.go.id, namun apabila
terdapat perbedaan apabila kita sedang mengkases website pemerintahan Amerika dengan Indonesia.
Konsep digital-id yang diterapkan Indonesia diwujudkan dengan E-KTP, merupakan identitas warga
negara Indonesia yang didalamnya terdapat komponen informasi datadiri, biometrik serta fitur
keamanan yang tersimpan secara elektronik. Jika dilihat dari layanan publik dalam bidang pendidikan,
untuk sekarang ini dalam pelaksanaan ujian telah menggunakan basis teknologi berupa computer.

Dalam proses keamanan layanan keuangan Amerika telah menawarkan The Internal Revenue
Service yang merupakan agen federal yang memelihara database dari semua pembayar pajak, sehingga
keamanan informasi untuk tujuan pembuatan kebijakan dengan baik. Sedangkan untuk keamanan data
pribadi Amerika dengan Cybersecurity, telah terbagi pada 45 negara bagian bertugas sebagai keamanan
informasi yang memiliki persentase 47% , mengeluarkan undang-undang untuk database USA Patriot
Act of 2001. UU tersebut tentang keamanan dalam negeri pada tahun 2002 dengan menugaskan
departemen dalam negeri untuk melindungi infrastruktur informasi negara, serta UU keamanan federal
tahun 2000 yang menyediakan kerangkan dan komprehensif untuk menjamin keamanan-keamanan
informasi melalui proses sertifikat yang sudah ada sebelumnya yang dikelola Instute of Standards and
Technology. Upaya yang dilakukan federal untuk melindungi data pribadi dilakukan melalui
pengumpulan data tentang anak, pasangan, orangtua dan tanggungan.
Beberapa Undang-Undang yang dilakukan federal dalam upaya melindungi privasi :

 The Electronic Government Act of 2002 yang diarahkan untuk memberikan penilaian
dampak privasi ketika terdapat sarana prasarana teknologi baru dengan memulai
pengumpulan data informasi yang baru juga.

 The Intelligence Reform and Terrorism Prevention Act of 2004.

 The USA Patriot Act of 2001, dengan memperluas wewenang untuk memonitor
komunikasi elektronik warga negara.

 The Real ID Act of 2005 untuk menciptakan basis data yang besar ukurannya dengan
memusatkan informasi melalui beberapa ID seperti kendaraan bermotor.

Kekuatan sumber daya manusia sama pentingnya dengan kekuatan teknologi yang dimiliki itu
sendiri, teknologi terus berkembang sesuai dengan kemajuan zaman. Cybersecurity Indonesia perlu
ditingkatkan dalam implementasinya, karena kejahatan di dunia maya di Indonesia sudah mencapai
tahap memprihatinkan, cybersecurty membutuhkan pemikiran yang komprehensif untuk menanganinya.
Kebijakan Cybersecurity di Indonesia telah diininasi sejak 2007 dengan dikeluarkan Peraturan Menteri
Komunikasi dan Informatika No.26/PER/M.Kominfo/10/2010 yang kemudian diperbarui lagi menjadi
Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No.29/PER/M.Kominfo/10/2010. Namun penangan
legalitas kejahatan di dunia maya masih lemah karena meski telah ada peraturan perundang-undangan
yang melarang bentuk penyerangan atau sistem elektronik dalam UU Informasi dan Transaksi
Elektronik No. 11 Tahun 2008. Di Indonesia penanganan kejahatan dunia maya masih persial dan
tersebar serta tidak adanya koordinasi yang baku dalam penanganan cybersecurity. Rendahnya
awarenees atau kesadaran terhadap ancaman yang berdampak melumpuhkan infrastruktur vital seperti
sistem radar penerbangan di bandara Soeta yang beberapa kali mengalami gangguan. Terkait dengan
kebijakan cybersecurity di Indonesia perlu di atur dan dikaji ulang dengan mengatur tentang sistem
teknologi informasi komunikasi yang digunakan yang meliputi pengaturan perlu adanya dokumen
standart yang digunakan acuan dalam menjalankan proses terkait dengan penanganan informasi.
Standart infrastruktur yang yang wajib dipenuhi sesuai dengan standart internasional dalam menghadapi
cyberwar termasuk di dalamnya adanya perimeter defense yang memadai, adanya networking
monitoring system, system information and event management. Peraturan dan penataan kelembagaan
cybersecurity nasional yang kuat merupakan salah satu perwujudan prasyarat cybersecurity yang handal.
Penanganan harus terintegrasi secara kuat dan melibatkan berbagai lembaga terkait yaitu intelegen,
penegak hukum, pertahanan dan keamanan baik itu kementrian atau TNI. Cybersecurity Indonesia terus
membutuhkan pembangunan infrastruktur penunjang di antaranya diperlukan satelit kusus untuk
pertahanan. Undang-Undang yang dilakukan Indonesia dalam upaya melindungi privasi :

 RUU Perlindungan Data Pribadi, upaya ini dilakukan Indonesia dalam proteksi data
karena hanya Indonesia yang belum memiliki UU Data Perlindungan Pribadi

Selanjutnya perbandingan antara manajemen pengetahuan yang mengelola sumber informasi publik
antara Amerika dan Indonesia. Amerika menekan partisipasi dari wargananya dengan berbagai cara
yang dilakukan, pengaruh intelektual sebagai pedoman dalam bertindak. Salah kontribusi yang paling
penting dari manajemen pengetahuan publik adalah mampu menghasilkan keputusan birokrasi yang
lebih baik dengan mengklarifikasi informasi dan menerangi konsekuensi potensial keputusan. Sistem
informasi manajemen disusun secara aktif guna mampu memberikan informasi publik yang jelas dan
lengkap kepada masyarakat. Amerika menggunakan sistem informasi geografis sebagai penunjang yang
bertujuan untuk menggabungkan data dengan peta dan foto di udara dengan menggunakan komputer
untuk memperoleh data lokasi. Di amerika setiap negara bagian memiliki CIO yang memiliki peran
sebagai perwakilan warga negaranya sebagai penyampai masalah. Oleh sebab itu pemerintah Amerika
berusaha mengembangkan manajemen pengetahuan dengan basis teknologi. Dengan melakukan strategi
sebagai berikut :

1) Pemimpin harus memiliki sifat kuat dan terampil. Pemimpin harus memiliki komunikasi
yang baik dan mampu bertanggung jawab atas progam yang dibuat oleh pemerintah. Hal ini
dilakukan agar dalam proses pemberian layanan publik kepada warga mampu berjalan
sesuai dengan prosedur sehingga memunculkan keefektifan dalam bergerak dan efisiensi
dalam pendanaan.

2) Sasaran informasi harus selaras dengan sasaran legislative dan terintegrasi secara
kompehersif di seluruh organisasi. Sehingga terjadi ketepatan yang mampu memberikan
efisiensi dalam proses biaya.

3) Proses organisasi yang mampu mengelola dan memperkenalkan sumber daya informasi
berbasis teknologi. Setelah proses administrasi benar, perangkat lunak akan bekerja dengan
benar.

4) Mengembangkan ketrampilan manajemen informasi, untuk memperkuat ikatan antara


bawahan dan atasan dalam menjalin proses kerja.

5) Minimalisir resiko, adanya perjanjian spesifik proyek dari atasan .

Pengelolaan sumber informasi publik yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dilakukan oleh
pejabat pengelola informasi dan dokumentasi yang memiliki peran dan tanggung jawab dalam bidang
penyimpanan, dokumentasi, penyediaan dan pelayanan informasi di badan publik. Badan pelayanan
informasi publik di atur dalam KEPMENKOMINFO NO. 117/KEP/M.KOMINFO/03/2010. Layan
informasi publik merupakan kegiatan yang bersifat exofficial yang artinya pejabat layanan hanya
meletakkan info pada bidang yang terkait atau sesuai dengan bidangnya. Layanan dan informasi
melibatkan seluruh sumber daya manusia, sebab itulah sumber daya manusia dituntut paham teknologi
digitalisasi yang berkembang sesuai dengan zaman. Pejabat pengelola sumber informasi publik
mengklasifikasi informasi publik dibagi menjadi 2 yaitu informasi yang wajib disediakan dan
diumumkan secara berkala dan informasi yang dikecualikan. Tahap selanjutnya yang dilakukan pejabat
informasi layanan publik melakukan pengujian konsekuensi yang timbul akibat apabila suatu informasi
yang dibagikan kepada masyarakat dengan mempertimbangkan berbagai elemen dan sebab akibat secara
seksama. Apabila informasi yang dibagikan atas sifat pengecualian, maka harus di berikan beberapa
alasan atau sifat dikecualikan yang tidak dapat diberikan. Konsep tersebut harus disertai dengan sanksi-
sanksi yang kuat agar tidak menimbulkan pertanyaan yang banyak di kalangan masyarakat. Sanksi
tersebut diberikan kepada pelanggar yang mungkin mengakses informasi yang bersifat pengecualian.
Informasi disimpan secara rahasia dengan bentuk beranda yang bersifat database. Sedangkan untuk
penyampaian informasi yang bersifat universal dilakukan dalam beberapa tahap yaitu 10 item yang
dilakukan secara berkala, 2 serta merta dan 15 setiap saat dan di implementasikan berdasarkan Peraturan
Komisi Informasi No. 1 Tahun 2010 melalui Website PDIP Kominfo. Layanan kerja informasi publik
PPID merupakan wujud implementasi dari UU No. 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan Informasi Publik
yang menyediakan publik. Ketrebukaan yang dilakukan adalah akuisisi informasi publik, klasifikasi
informasi publik dan penyimpanan informasi publik
2) a. Permasalahan

Independen, Jakarta-- Komisi Informasi Pusat (KIP) memiliki niat menerbitkan aturan yang
dianggap kontraproduktif bagi semangat keterbukaan informasi publik. Aturan tersebut bernama
Keputusan Ketua KIP tentang Pelaksanaan Ketentuan Pasal 4 Peraturan Komisi Informasi Nomor 1
Tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi. Arif Adi Kuswardono, Komisioner KIP
menyatakan aturan baru ini untuk menyelesaikan timbunan kasus sengketa dan mencegah pemohon-
pemohon nakal di lembaga negara tersebut. Lembaga negara ini menyebut dari 2010 sampai 2017 ada
1.900 kasus sengketa yang belum berhasil diselesaikan. “Ada oknum-oknom pemohon informasi yang
nakal. Mereka sengaja mengajukan kasus sengketa informasi untuk keuntungan-keuntungan pribadi,”
ujar Arif Adi Kuswardono, saat uji publik aturan baru KIP di Hotel Milenium Tanah Abang Jakarta
Pusat, Senin (19/2).

KIP menduga oknum-oknum tersebut merupakan mafia kasus sengketa informasi yang sengaja
menggunakan mekanisme UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik untuk
memeras lembaga publik. Mereka biasa melakukan gugatan informasi atas berbagai lembaga negara
secara sporadis dan dilakukan terus menerus sepanjang tahun. Dia mencontohkan ada satu orang bisa
mengajukan ratusan sengketa informasi dalam waktu yang sama dan kepada lembaga yang berbeda.
Sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang hadir mengkritik landasan berpikir terbitnya
aturan baru KIP itu. Mereka menilai alasan-alasan KIP tersebut justru mengorbankan hak masyarakat
secara umum untuk mendapatkan keterbukaan informasi.Linda Rosalina, Aktivis Forest Watch
Indonesia (FWI), memandang alasan KIP di atas tidak masuk akal. Menurut dia ribuan kasus sengketa
informasi yang mangkrak hanya bisa diselesaikan dengan jalan meningkatkan kinerja komisioner KIP
itu sendiri. Dia keberatan jika keberadaan oknum-oknum nakal yang diduga mafia kasus sengketa
informasi dijadikan dalih KIP untuk menjauhkan masyarakat dari informasi yang transparan.“Ini seram.
Aturan baru ini akan membatasi publik dari keterbukaan informasi sekaligus menjauhkan masyarakat
dari KIP,” ujar Linda. Peneliti Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Kholil Pasaribu
meminta KIP untuk tidak buru-buru menerbitkan aturan baru itu. Dia berharap KIP mau mendengar
lebih banyak masukan dari masyarakat yang selama ini berharap banyak kepada keterbukaan informasi
penyelenggara negara.Menurut Kholil, KIP tidak boleh beralasan ingin meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat tapi di satu sisi justru membatasi publik untuk mendapatkan pelayanan terbaik. Dia
mengingatkan KIP dilahirkan agar informasi publik tidak susah diperoleh dan tidak lagi tertutup seperti
di periode masa lampau. Dia juga tidak setuju jika KIP main pukul rata dengan menganggap semua
pemohon kasus sengketa di lembaga itu adalah mafia kasus sengketa informasi.“Bagi LSM aturan ini
sangat berbahaya. Aturan ini akan menyulitkan kerja-kerja kami di lapangan untuk mendapatkan
informasi yang valid dari penyelenggara negara,” ujar Kholil.

Sebenarnya tidak hanya LSM yang mengkritik rencana KIP menerbitkan aturan baru itu.
Mayoritas komisioner KIP Provinsi yang hadir di acara kemarin juga mendesak KIP tidak buru-buru
menerbitkan Keputusan Ketua KIP tentang Pelaksanaan Ketentuan Pasal 4 Peraturan Komisi Informasi
Nomor 1 Tahun 2013 tentang Prosedur Penyelesaian Sengketa Informasi.Azwar Hasan Komisioner KIP
Provinsi Sulawesi Selatan mengusulkan KIP lebih baik menerbitkan payung hukum tentang sanksi
kepada pelaku-pelaku mafia kasus sengketa informasi. Azwar sendiri mengakui dugaan maraknya mafia
kasus sengketa informasi juga marak terjadi di Makassar. Hanya saja, kata dia, dugaan tersebut sulit
dibuktikan. Menurut Azwar setiap kasus sengketa informasi membuka kesempatan oknum-oknum
nakal, baik itu penggugat maupun yang tergugat, bermain “curang” tanpa sepengetahuan komisioner
KIP. Ketika kasus tersebut masuk tahap mediasi biasanya di situ ada permainan suap menyuap demi
keuntungan kedua belah pihak yang bersengketa di KIP. “Menurut saya lebih baik Komisioner KIP
Pusat memikirkan fenomena ini lebih dulu,” ujar Azwar.

Keberadaan Undang-Undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik


memberikan pencerahan dalam pelaksanaan penyelenggaraan Negara atau pemerintahan. Pelaksanaan
keterbukaan informasi publik dalam penyelenggaraan negara atau pemerintahan merupakan perwujudan
tata pemerintahan yang baik (Good Governance), dan jaminan kepastian hukum terhadap hak
masyarakat untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan serta untuk turut serta dalam mengontrol
penyelenggaraan negara atau pemerintahan. Pemerintah harus menyiapkan sarana prasarana, sumber
daya manusia yang punya kemampuan (skill) dan kemauan serta komitmen dari seluruh penyelenggara
pemerintahan atau badan publik dan aparat atau komponennya, untuk melaksanakannya. Agar apa yang
diharapkan dapat diwujudkan dengan baik. Untuk mendukung pelaksanaan undang-undang tersebut
diperlukan adanya penegakan hukum yang berkeadilan serta dukungan penegak hukum yang
professional untuk menunjang tingginya keadilan. Untuk menjamin kepastian hukum, serta jaminan
pelaksanakan hak rakyat untuk mendapatkan informasi publik khususnya terhadap kinerja pemerintah
dalam hal penyelenggaraan negara atau pemerintahannya, maka dibentuklah peraturan perundang-
undangan yang mengatur tentang Keterbukaan Informasi Publik, yakni Undang-Undang Republik
Indonesia No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (yang selanjutnya disebut UU KIP),
(LNRI No. 61 Tahun 2008, TLNRI No. 4846) yang diundangkan pada tanggal 30 April 2008 dan berlaku
2 tahun sejak tanggal diundangkan, berarti tanggal mulai berlakunya adalah 30 April 2010. Perjalanan
waktu berlakunya UU KIP kini telah memasuki tahun ke-3. Pemerintah menuju globalisasi dunia
memiliki akses yang sangat terbuka terhadap pemanfaatan informasi dan teknologi. Dalam
penyelenggaraan sumber informasi publik yang terbuka tentunya membutuhkan beberapa peran
lembaga yang mampu mendukung dan sebagai bentuk pasrtisipasi agar informasi publik dapat diterima
dengan baik. Indonesia sebagai negara hukum yang berdemokrasi dimana kedaulatan berada di tangan
rakyat, dalam pelaksanaanya pemerintah bertanggung jawab kepada rakyat. Segala informasi yang
diterima dan diselenggarakan oleh pemerintah Indonesia itu merupakan milik rakyat. Sebagai bentuk
pelayanan publik yang baik, pemerintah harus menyajikan informasi yang terbuka, transparan, lengkap
dan benar keberadannya. Dalam pengaturan pada Pasal 2 UU KIP diatur tentang penyelenggaraan
informasi publik yakni: Pada dasarnya informasi publik bersifat terbuka dan dapat diakses oleh setiap
pengguna informasi, kecuali untuk informasi yang dirahasiakan sebagaimana diatur oleh undang-
undang, kepatutan dan kepentingan umum yang didasarkan pada pengujian tentang konsekuensi yang
timbul apabila suatu informasi diberikan kepada masyarakat serta setelah dipertimbangkan dengan
pertimbangan untuk melindungi kepentingan yang lebih besar. Setiap informasi publik harus dapat
diperoleh oleh setiap pemohon informasi publik dengan cepat, tepat waktu, biaya ringan dan cara
sederhana. Informasi yang disajikan merupakan bentuk gagasan, pernyataan, tanda yang mengandung
nilai baik, fakta, benar. Sehingga masyarakat mampu mengerti apa yang sedang terjadi dan akan yang
terjadi pada pemerintahannya. Namun informasi yang disediakan oleh pemerintah juga terdapat
pengecualian seperti yang diatur dalam ketentuan pada Pasal 17 UU KIP diatur beberapa pengecualian
informasi, informasi yang dikecualikan antara lain: 1. Setiap Badan Publik wajib membuka akses bagi
setiap pemohon informasi publik untuk mendapatkan Informasi Publik; 2. Yang dapat mengganggu
kepentingan perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan perlindungan dari persaingan usaha tidak
sehat; 3. Yang dapat membahayakan pertahanan dan keamanan negara; 4. Yang dapat mengungkapkan
kekayaan alam Indonesia; 5. Yang dapat merugikan ketahanan ekonomi nasional; 6. Yang dapat
merugikan kepentingan hubungan luar negeri; 7. Yang dapat mengungkapkan isi akta otentik yang
bersifat pribadi dan kemauan terakhir ataupun wasiat seseorang; 8. Yang dapat mengungkap rahasia
pribadi; 9. Memorandum atau surat-surat antar badan publik atau intra badan publik, yang menurut
sifatnya dirahasiakan kecuali atas putusan Komisi Informasi atau pengadilan; 10. Informasi yang tidak
boleh diungkapkan berdasarkan undang-undang. Dalam UU KIP juga diatur tentang sanksi-sanksi yang
melanggar atau penyalahgunaan seperti berita permasalahan di atas. Badan KIP telah menemukan
oknum-oknum yang menyalahgunakan UU KIP sebagai kasus sengketa informasi, artinya terdapat
penyalahgunaan layanan yang diberikan kepada masyarakat. Mereka sengaja menggunakan gugatan
informasi atas berbagai lembaga negara secara sporadis dan dilakukan terus menerus sepanjang tahun.
Pemberlakuan KIP memunculkan oknum nakal untuk mewujudkan kepentingannya sendiri. Baru
setengah bulan berjalana UU KIP, terdapat permohonan sengketa dengan mengatasnamakan UU KIP.
Sengketa informasi publik merupakan sengketa antara badan publik dengan pengguna informasi yang
berkaitan dengan hak memperoleh dan menggunakan informasi. Oleh sebab itulah, pemerintah
sebaiknya segera mengatur strategi dan menerapkan sanksi bagi oknum yang memanfaatkan keberadaan
UU KIP.

Berdasarkan teori difusi inovasi, sebuah informasi mampu membawa perubahan sosial dan
teknologi pada masyarakat yang telah menerapkan metode baru. Metode baru didapat dari peroleh
informasi yang tersedia dan dibawa oleh arus globalisasi. Dalam hal pemberian informasi publik, sudah
selayaknya badan atau lembaga yang memegang peran dan fungsi juga mengikuti perkembangan
tersebut. Pengelolaan yang informasi yang berbasis internet dengan kecepatan, kemudahan dan
keakuratan menjadi poin penting bagi pemerintah. Sudah dijelaskan bahwa untuk sumber informasi
publik terdapat lembaga yang menanginya yaitu KIP, namun bagaimana jika UU KIP disalahgunakan
dalam pelayanannya. Pada poin ” KIP mau mendengar lebih banyak masukan dari masyarakat yang
selama ini berharap banyak kepada keterbukaan informasi penyelenggara negara ” terpampangan pada
tahap keputusan dalam teori difusi komunikasi yakni suatu unit telah mengambil suatu keputusan yang
terlibat dalam aktivitas yang mengarah pada pemilihan adopsi atau pengembangan inovasi. KIP terus
melakukan strategi dalam proses layanan publik dan berusaha menyelesaikan sengketa yang terjadi
dalam kasus tersebut. Untuk kasus sengketa itu sendiri juga dijelaskan dalam teori ini pada tahap
konfirmasi, dimana tahap ini menjelaskan ketika seorang individu atau unit pengambil keputusan
lainnya mencari penguatan terhadap keputusan penerimaan atau penolakan inovasi yang sudah di buat.
Bisa saja oknum sependapat dengan UU KIP, namun di lain sisi oknum tersebut bisa saja menolak. Hal
tersebut dilakukan dengan memanfaatkan UU KIP sebagai manipulasi informasi yang akan diberikan
kepada masyarakat.

b. Penjelasan teoritik
Teori difus inovasi merupakan yang berisi tentang ide dan pengetahuan mampu menciptakan
sebuah teknologi baru yang mampu disebarkan dalam satu budaya. Teori ini dikembangkan oleh Everret
Rogers pada tahun 1964 melalui buku yang dibuatnya sendiri yang berjudul Diffusin of Inovation .
Proses difusi berperan sebagai proses yang di dalamnya terdapat sebuah inovasi yang akan
dikomunikasikan melalui berbagai jenis saluran dengan jangka waktu tertentu dalam sebuah sistem
sosial. Difusi merupakan suatu bentuk komunikasi dengan sifat khusus yang berkaitan penyebaran pesan
dalam bentuk gagasan baru. Sesuai dengan peikiran Rogers terdapat 4 elemen pokok dalam proses difusi
inovasi :
1) Inovasi : tindakan atau gagasan yang baru dalam sebuah lingkungan. Kebaruan inovasi
diukur secara subjektif menurut pandangan individu yang menerimanya. Jika suatu ide
dianggap baru maka ia adalah inovasi untuk orang tersebut. Konsep baru dalam inovasi
tidak harus baru sama sekali.
2) Saluran komunikasi yang dijadikan alat informasi untuk menyampaikan pesan-pesan
inovasi dari sumber kepada penerima. Jika komunikasi yang dirujuk untuk
mengenalkan inovasi maka akan berjalan dengan cepat, tepat dan efisien. Namun
apabila inovasi disampikan untuk mengubah sikap individu maka saluran komunikasi
yang tepat adalah saluran komunikasi interpersonal.
3) Jangka waktu sebagai proses keputusan inovasi, dimulai dari seseorang mengetahui
sampai memutuskan untuk menerima atau menolaknya dan pengukuhan terhadap
keputusan itu sangat berkaitan dengan dimensi waktu.
4) Sistem sosial sebagai kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam
kerja sama untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama.
Teori ini memiliki relevansi dan argument yang cukup signifikan dalam proses pengambilan
keputusan inovasi. Teori ini menggambarkan beberapa variable yang berpengaruh terhadap tingkat
adopsi suatu inovasi. Variable tersebut adalah atribut inovasi, jenis keputusan inovasi, saluran
komunikasi, sistem sosial dan peran agen perubah. Tahapa dari proses pengambilan keputusan inovasi
1) Tahap munculnya pengetahuan ketika individu mengambil keputusan diarahkan untuk
memahami eksistensi dan keuntungan serta bagaiamana inovasi tersebut berfungsi.
2) Tahap persuasi, ketika mengambil keputusan akan membentuk sikap baik atau tidaknya
individu.
3) Tahap keputusan muncul ketika unit pengambil keputusan lainnya dalam keputusan
terlibat aktivitas yang mengarah pada pemilihan adopsi atau penolakan sebuah inovasi.
4) Tahap implementasi, ketika seorang individu atau unit pengambil keputusan lainnya
menetapkan penggunaan sebuah inovasi.
5) Tahapan konirmasi, ketika individu atau unit pengambil keputusan lainnya mencari
pengetahuan terhadap keputusan penerimaan atau penolakan.
Teori difusi inovasi dilakukan untuk pembangunan masyarakat, pembangunan tersebut
dilakukan melalui pelayanan publik berupa informasi digital. Informasi yang disampaikan akan bersifat
berkualitas apabila pengambilan inovasi berjalan dengan tepat.
c. Solusi kreatif dari permasalahan tersebut

Penyelesaian informasi mungkin mustahil apabila diselesaikan melalui pada tingkat Komisi
Informasi, maka penyelesaian sengketa dilanjutkan dengan tahap pengajuan gugatan melalui Pengadilan
Tata Usaha Negara, apabila yang digugat adalah badan publik negara dan pengajuan gugatan melalui
Pengadilan Negeri apabila yang digugat adalah badan publik non pemerintah. Pihak yang tidak
menerima putusan Pengadilan Tata Usaha Negera atau Pengadilan Negeri, dapat mengajukan kasasi
kepada Mahkamah Agung selambat-lambatnya dalam waktu 14 (empat belas) hari sejak diterimanya
putusan dari Pengadilan Tata Usaha Negara atau dari Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Mencermati
ketentuan sanksi pidana yang diatur dalam UU KIP tersebut, dapat dikatakan adanya suatu kepastian
jaminan perlindungan terhadap hak masyarakat untuk mendapatkan informasi publik. Namun demikian
yang kemudian perlu dicermati pula adalah bagaimana penegakannya khususnya apabila ada pihak-
pihak atau badan publik yang tidak melaksanakan ketentuan yang menjadi kewajibannya. Sehingga
dalam hal ini pentingnya peran penegak hukum: para penyidik, penuntut umum atau jaksa dan hakim
yang profesional dan menjunjung tinggi rasa keadilan, mengingat bahwa dalam kasus ini yang
berhadapan adalah antara badan publik atau pemerintah.

Berdasarkan teori difusi inovasi, terdapat beberapa inovasi yang mampu memberika soulsi
kreatif dalam kasus sengketa UU KIP. Peran pemimpin yang sangat berpengaruh dalam hal ini, sebuah
inovasi yang perlu dikembang dalam pengambilan dan penyusunan sebuah keputusan perlu
ditingkatkan. Salah satu inovasi yang dapat dijadikan solusi dengan penerapan struktur hukum yang
bersifat memaksa, sebab Indonesia merupakan negara hukum. Hukum yang diterapkan harus bersifat
adil terhadap tersangka sengketa kasus UU KIP. Melakukan mediasi atau pers juga diperlukan dalam
kasus ini. Dan lebih meningkatkan kualitas pelayanan informasi pada layanan publik.

3) Daftar Pustaka

http://independen.id/read/politik/575/mafia-kasus-sengketa-informasi-diduga-manfaatkan-uu-kip/
https://m.detik.com/inet/cyberlife/d-3416696/indonesia-dan-konsep-pemerintahan-digital
Retnowati, Endang. (2012). Keterbukaan Informasi Publik dan Good Governance (Antara Das Sein
dan Das Sollen). Vol 17. Halaman 54-61.
Ardiyanti, Handrini. (2014). Cybersecurity dan Tantangan Pengembangannya di Indonesia. Vol. 5
No. 1. Halaman 95-110.
Takariani, Suprapti. (2014). Pengelolaan Informasi di Era Keterbukaan Informasi. Vol 12 No. 1.
Halaman 31-33.