Anda di halaman 1dari 19

PENERAPAN SENAM ERGONOMIS TERHADAP PENURUNAN

TEKANAN DARAH PADA PASIEN HIPERTENSI


DI RW V KELURAHAN GEDAWANG SEMARANG

Oleh :
Glory Ananta S.
2202011720019

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS ANGKATAN XXX


DEPARTEMEN KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
Latar Belakang

•Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah


sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90
mmHg
•Tekanan darah tinggi dikaitkan dengan peningkatan
risiko stroke, infark miokard, gagal jantung, gagal
ginjal
Latar Belakang

The International Clinical Epidemiology


Network (INCLN) menyatakan bahwa
prevalensi hipertensi di Indonesia mencapai
23% (Sharma, et al., 2011).

Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan


data hasil kuesioner terdiagnosis yaitu sebesar
26,5% (Kemenkes RI, 2014).
Latar Belakang

• Survey kesehatan dasar di Kota Semarang


tahun 2014, distribusi kasus Hipertensi yaitu
sebanyak 37.673 kasus.
• Hipertensi merupakan penyebab kematian
pertama pada penyakit tidak menular yaitu
sebanyak 728 orang (Dinas Kesehatan Kota Semarang, 2015).
Latar Belakang

Hasil pengkajian di RW V Keluharan


Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota
Semarang didapatkan 51 dari ± 1500 warga
menderita Hipertensi, dimana 29 orang
(57%) yang menderita Hipertensi berusia <60
tahun.
Tujuan Penelitian

Tujuan Khusus
Tujuan Umum

1. Mengetahui tekanan darah sistole


dan diastole pasien hipertensi
Mengetahui penerapan sebelum diberikan senam
senam ergonomis ergonomis.
terhadap penurunan 2. Mengetahui tekanan darah sistole
tekanan darah pada dan diastole pasien hipertensi
pasien dengan setelah diberikan senam
hipertensi di wilayah ergonomis.
kerja Puskesmas 3. Mengetahui penurunan tekanan
Pudaypayung darah sistole dan diastole pasien
hipertensi setelah diberikan senam
ergonomis.
Metodologi Penelitian

• Populasi : Pasien dengan Hipertensi di wilayah Gedawang


RW 5 yang ditentukan dari Puskesmas Pudak Payung.
•Teknik pengambilan sampel : purposive sampling
Kriterian Inklusi :Penderita hipertensi yang berdomisili di
wilayah Puskesmas Pudak payung tepatnya di RW 5
Keluarahan Gedawang Kota Semarang
•Kriteria eksklusi sampel : Menolak untuk dijadikan responden
•Analisa data : mendeskripsikan dengan membandingkan hasil
penerapan senam ergonomis saat pre dan post test.
Metodologi Penelitian

Waktu Penelitian 2 Juli – 10 Juli 2018

Tempat Penelitian RW 5 Kelurahan Gedawang Kota


Semarang Jawa Tengah.
Metodologi Penelitian
Definisi
Operasional
Metodologi Penelitian

Prosedur
Alat Penelitian

•Memberikan informed consent


•Memberikan edukasi mengenai senam ergonomis
•Mengukur TTV berupa TD, nadi, dan RR sebelum
•Sphygmomanomet dilakukan intervensi
er •Menjelaskan kepada responden tentang pengertian,
•Poster senam manfaat dan langkah-langkah senam ergonomis
ergonomis •Memberikan contoh kepada responden cara
•Leaflet senam melakukan senam ergonomis
ergonomis •Meminta responden mengikuti gerakan senam
ergonomis
•Melakukan senam ergonomis selama 4 x dalam 2
minggu, dimana setiap minggunya dilakukan 2 x.
•Senam ergonomis dilakukan selama ± 20 menit.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Tekanan Darah Responden 1 Sebelum dan


Sesudah diberikan Senam Lansia

Menunjukkan tekanan darah sebelum tindakan adalah 150/90 dan setelah


dilakukan senam ergonomis selama 4 pertemuan (8 hari) tekanan darah
Ny. S mengalami penurunan menjadi 130/80 mmHg.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Tekanan Darah Responden 2 Sebelum dan


Sesudah diberikan Senam Lansia

Menunjukkan tekanan darah sebelum tindakan adalah 160/100 dan setelah


dilakukan senam ergonomis selama 4 pertemuan (8 hari) tekanan darah
Ny. M mengalami penurunan menjadi 140/90 mmHg.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penurunan Tekanan Darah Sesudah Senam


Ergonomis

Menunjukkan tekanan darah sebelum tindakan adalah 160/100 dan setelah


dilakukan senam ergonomis selama 4 pertemuan (8 hari) tekanan darah
Ny. M mengalami penurunan menjadi 140/90 mmHg.
PEMBAHASAN

1. Intervensi yang diberikan kepada Ny. S berupa pendidikan


kesehatan mengenai penatalaksanaan hipertensi (farmakologi,
aktivitas fisik, diit rendah garam, diit rendah lemak). Selain itu
fokus intervensi yang diberikan adalah senam ergonomis.
Tekanan darah sebelum dilakukan intervensi adalah 150/90
mmHgdan evaluasi akhir setelah dilakukan tindakan senam
ergonomis 4 kali pertemuan adalah 130/80 mmHg.
2. Intervensi yang diberikan kepada Ny. M berupa pendidikan
kesehatan mengenai penatalaksanaan hipertensi (farmakologi,
aktivitas fisik, diit rendah garam). Selain itu fokus intervensi
yang diberikan adalah senam ergonomis. Tekanan darah
sebelum dilakukan intervensi adalah 160/100 mmHg dan
evaluasi akhir setelah dilakukan tindakan senam lansia 4 kali
pertemuan adalah 140/90 mmHg.
PEMBAHASAN

1. Tekanan darah sistole kedua responden mengalami


penurunan 20 mmHg. Pada responden 1 tekanan darah
sistole dari 150 mmHg menjadi 130 mmHg, sedangkan
responden 2 dari 160 mmHg turun menjadi 140 mmHg.

2. Tekanan darah diastole kedua responden turun 10 mmHg,


pada responden 1 tekanan darah diastole dari 90 mmHg
menjadi 80 mmHg, pada responden ke 2 tekanan darah
turun dari 100 mmHg menjadi 90 mmHg.

3. Penurunan tekanan darah tersebut menunjukkan terdapat


pengaruh senam ergonomis terhadap penurunan tekanan
darah pada penderita hipertensi.
KESIMPULAN
• Tekanan darah pada kedua responden menunjukkan
penurunan tekanan darah setelah diberikan senam
ergonomis sebanyak 4 kali pertemuan dalam 8 hari. Pada
responden 1 dan responden 2 tekanan darah sistole
mengalami penurunan sebesar 20 mmHg. Responden 1
tekanan darah sitole awalnya 150 mmHg menjadi 130
mmHg, sedangkan responden 2 tekanan darah sitole dari
160 mmHg menjadi 140 mmHg. Sedangkan tekanan darah
diastole responden 1 dan responden 2 turun 10 mmHg. Pada
responden 1 tekanan darah diastole awalnya 90 mmHg
menjadi 80 mmHg, sementara pada responden 2 dari 100
mmHg menjadi 90 mmHg.
SARAN

• Diharapkan para penderita hipertensi dapat menggunakan


senam ergonomis sebagai aktivitas fisik yang digunakan
untuk menurunkan tekanan darah.

• Diharapkan puskesmas dapat mengajak warga penderita


hipertensi untuk datang ke prolanis setiap bulan, serta
petugas puskesmas dapat meningkatkan layanan melalui
pendidikan kesehatan mengenai pentingnya manajemen
hipertensi seperti diit, aktivitas fisik, dan pemantauan
kondisi kesehatan agar tidak terjadi komplikasi, seperti
stroke maupun penyakit kardiovaskular lainnya.
Daftar Pustaka
• Baradero, D. (2008). Klien Gangguan Kardiovaskular: Seri Asuhan Keperawatan.
Jakarta: EGC.
• Beevers, 2008. Tekanan Darah. Jakarta : Dian Rakyat.
• Black, J.M. & Hawks, J. H. (2013). Keperawatan Medikal Bedah : Manajemen Kinis untuk
Hasil yang diharapkan. Jakarta : Elseiver.
• Canadian Hypertension Education Program. (2012). The 2012 Canadian Hypertension
Education Program Recomendations. Canada : Hypertension Canada.
• Cheng & Bina, J. (2015). Genetics of Hypertension USA. Morgan & Claypool Life
sciences.
• Crea, M. 2008. Hypertension. Jakarta : Medya.
• Dalimartha, S., Purnama, B.T., Sutarina, N., Mahendra, & Darmawan, R. 2008. Care Your
Self Hipertensi. Depok: Penerbit Plus+
• Dinas Kesehatan Kota Semarang. (2015). Profil Kesehatan Kota Semarang 2014.
Semarang: Dinas Kesehatan Kota Semarang.
• Harber PM & Scoot T. 2009. Aerobic Exercise Training Improves Whole Muscle And Single
Myofiber Size And Function In Older Woman. Journal Physical Regular Integral Company
Physical 2009; 10: 11-42.
• JNC 8. 2014. JNC 8 Guidelines for the Management of Hypertension in Adults. Am Fam
Physician. 90(7): 503-506
• Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Infodatin (Pusat Data dan Informasi
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia): Hipertensi. Jakarta: Kementrian Kesehatan
RI.
TERIMA KASIH