Anda di halaman 1dari 59

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengertian tablet menurut Ansel, 1989 adalah tablet merupakan bahan obat
dalam bentuk sediaan padat yang biasanya dibuat dengan penambahan bahan
tambahan farmasetika yang sesuai. Tablet dapat berbeda dalam ukuran, bentuk,
berat, kekerasan, ketebalan, daya hancur, dan dalam aspek lainnya tergantung pada
cara pemakaian tablet dan metode pembuatannya. Kebanyakan tablet digunakan
pada pemberian obat secara oral atau melalui mulut (Ansel, 1989).
Sedangkan pengertian tablet menurut Ditjen POM, 1995, tablet adalah bentuk
sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa bahan pengisi.
Berdasarkan metode pembuatan, tablet dapat digolongkansebagai tablet cetak dan
tablet kempa. Tablet cetak dibuat dengan cara menekanmassa serbuk lembab
dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. Tabletkempa dibuat dengan
memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granulmenggunakan cetakan baja.
Tablet dapat dibuat dalam berbagai ukuran, bentukdan penandaan permukaan
tergantung pada desain cetakan (Ditjen POM, 1995).
Parasetamol merupakan metabolit fenasetin dengan efek antipiretik
ditimbulkan oleh gugus aminobenzen. Asetaminofen di Indonesia lebih dikenal
dengan nama parasetamol, dan tersedia sebagai obat bebas. Efek analgetik
parasetamol dapat menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang.
Parasetamol menghilangkan nyeri, baik secara sentral maupun secara perifer.
Secara sentral parasetamol bekerja pada hipotalamus sedangkan secara perifer,
menghambat pembentukan prostaglandin di tempat inflamasi, mencegah sensitisasi
reseptor rasa sakit terhadap rangsang mekanik atau kimiawi. Efek antipiretik dapat
menurunkan suhu demam. Efek samping terjadi reaksi hipersensitivitas dan pada
penggunaan kronis dapat terjadi kerusakan hati (Wilmana, 1995).

1
Selain mengandung bahan aktif, tablet biasanya mengandung bahan tambahan
yang mempunyai fungsi tertentu. Bahan tambahan yang umum digunakan adalah
bahan pengisi, bahan pengikat, bahan pengembang, bahan pelicin atau zat lain yang
cocok. Bahan tambahan yang digunakan pada pembuatan tablet harus inert, tidak
toksik dan mampu melepaskan obat dalam keadaan relatif konstan pada jangka
waktu tertentu (Soekemi, dkk, 1987).
Bahan pelicin adalah bahan untuk meningkatkan daya alir granul pada corong
pengisi, mencegah melekatnya massa pada punch dan die, mengurangi gesekan
antara butir-butir granul dan mempermudah pengeluaran tablet dari die (Voigt,
1995).
Bahan pelicin ditambahkan pada pembuatan tablet yang berfungsi untuk
mengurangi gesekan yang terjadi antara dinding ruang kempa dengan tepi tablet
selama pentabletan (lubrikan), memperbaiki sifat alir granul (glidant), atau
mencegah bahan yang dikempa agar tidak melekat pada dinding ruang kempa dan
permukaan punch (anti adherent). Konsentrasi amilum sebagai glidant 1-10% dan
sebagai anti adherent 3-10% (Siregar, 2010; Rowe, dkk., 2006).
Granulasi basah merupakan salah satu cara pembuatan tablet metode cetak
tidak langsung, yang lebih banyak digunakan dibandingkan dengan cara lain.
Granul yang dihasilkan lebih spheris sehingga tablet yang dihasilkan biasanya lebih
kompak (Soekemi, dkk., 1987).
1.2 Maksud Percobaan
Untuk mengetahui cara membuatan tablet dengan metode granulasi basah dan
evaluasi terhadap granul pada sediaan tablet.
1.3 Tujuan Praktikum
- Menentukan pengaruh jenis pengikat terhadap sediaan tablet dengan metode
granulasi basah dan zat aktif parasetamol.
- Menentukan evaluasi terhadap granul dan sediaan tablet yang dibuat.

1.4 Prinsip Percobaan

2
Pembuatan tablet ini menggunakan metode granulasi basah. Prinsip dari
metode granulasi basah adalah membasahi masa tablet dengan larutan pengikat
teretentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian masa basah
tersebut digranulasi. Metode ini membentuk granul dengan cara mengikat serbuk
dengan suatu perekat sebagai pengganti pengompakan, tehnik ini membutuhkan
larutan, suspensi atau bubur yang mengandung pengikat yang biasanya
ditambahkan ke campuran serbuk atau dapat juga bahan tersebut dimasukan kering
ke dalam campuran serbuk dan cairan dimasukan terpisah. Cairan yang
ditambahkan memiliki peranan yang cukup penting dimana jembatan cair yang
terbentuk di antara partikel dan kekuatan ikatannya akan meningkat bila jumlah
cairan yang ditambahkan meningkat, gaya tegangan permukaan dan tekanan
kapiler paling penting pada awal pembentukan granul, bila cairan sudah
ditambahkan pencampuran dilanjutkan sampai tercapai dispersi yang merata dan
semua bahan pengikat sudah bekerja, jika sudah diperoleh massa basah atau lembab
maka massa dilewatkan pada ayakan dan diberi tekanan dengan alat penggiling atau
oscillating granulator tujuannya agar terbentuk granul sehingga luas permukaan
meningkat dan proses pengeringan menjadi lebih cepat, setelah pengeringan granul
diayak kembali ukuran ayakan tergantung pada alat penghancur yang dugunakan
dan ukuran tablet yang akan dibuat.

BAB II

3
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori

Tablet adalah bentuk sediaan padat mengandung bahan obat dengan atau tanpa
bahan pengisi. Berdasarkan metode pembuatan, tablet dapat digolongkansebagai
tablet cetak dan tablet kempa. Tablet cetak dibuat dengan cara menekanmassa
serbuk lembab dengan tekanan rendah ke dalam lubang cetakan. Tabletkempa
dibuat dengan memberikan tekanan tinggi pada serbuk atau granulmenggunakan
cetakan baja. Tablet dapat dibuat dalam berbagai ukuran, bentukdan penandaan
permukaan tergantung pada desain cetakan (Ditjen POM, 1995).

Komposisi utama dari tablet adalah zat berkhasiat yang terkandung


didalamnya, sedangkan bahan pengisi yang sering digunakan dalam
pembuatantablet yaitu bahan penghancur, bahan penyalut, bahan pengikat, bahan
pemberirasa dan bahan tambahan lainnya (Ansel, 1989).

Penggolongan Tablet berdasarkan metode pembuatan dalah sebagai


berikut:Dikenal dua jenis tablet berdasarkan metode pembuatan, yaitu tablet cetak
dan tablet kempa.

a. Bahan tambahan dalam pembuatan tablet


Pada dasarnya bahan pembantu pembuatan tablet atau eksipien berfungsi untuk
membantu proses penabletan dalam memperbaiki hasil akhir tablet. Eksipien harus
netral, tidak berbau, dan tidak berasa, jika mungkin tidak berwarna (Voigt, 1984).

Bahan pembantu tersebut antara lain :


a. Bahan pengisi (filler)
Bahan pengisi digunakan untuk memperbesar masa tablet yang
mengandung zat aktif dalam jumlah yang sedikit, sehingga menjadi tablet

4
yang cukup besar agar sesuai dengan berat yang dikehendaki dan dapat
dikempa dengan baik. Pada pemilihan bahan pengisi, dipilih bahan yang
dapat memperbaiki sifat ikatan antara partikel penyusun dan sifat alir dari
komponen formulasi serta bahan yang digunakan bersifat netral (Sheth et
al, 1980).
b. Bahan pengikat (binder)
Bahan pengikat diperlukan dalam pembuatan tablet dengan maksud
untuk meningkatkan kohesifitas antar partikel serbuk sehingga
memberikan kekompakan dan daya tahan tablet.
Penggunaan bahan pengikat yang terlalu banyak atau berlebihan
akan menghasilkan massa yang terlalu basah dan granul yang terlalu keras
sehingga tablet yang dihasilkan mempunyai waktu hancur yang lama,
sebaliknya kekurangan bahan pengikat akan menghasilkan daya rekat yang
lemah sehingga tablet akan rapuh dan terjadi capping (Voigt, 1984).
c. Bahan penghancur (disintegrant)
Bahan penghancur adalah bahan yang ditambahkan dalam
pembuatan tablet dengan maksud tablet hancur menjadi bagian-bagiannya
apabila berada dalam medium air. Prinsip kerja bahan penghancur adalah
melawan daya tarik bahan pengikat dan kekuatan fisik tablet sebagai akibat
dari tekanan mekanik pada proses kompresi. Makin kuat kerja bahan
pengikat, maka perlu bahan penghancur yang lebih efektif. Pada
pembuatan tablet secara granulasi, terdapat tiga cara dalam penambahan
bahan penghancur yaitu penambahan secara internal, eksternal dan
kombinasi eksternal-internal. Perbedaan antara ketiga cara penambahan
tersebut terletak pada tiga tahapan penambahannya, yaitu:
1) Internal addition, yaitu bahan penghancur ditambahkan pada proses
granulasi, bertujuan untuk menghancurkan granul menjadi partikel
penyusun granul.
2) Eksternal addition, yaitu bahan penghancur ditambahkan bersama
bahan pelican pada granul kering yang sudah diayak sebelum

5
penabletan, bertujuan untuk menghancurkan tablet menjadi granul
setelah kontak dengan medium air.
3) Kombinasi eksternal-internal, yaitu bahan penghancur ditambahkan
pada proses granulasi dan sebagian lagi ditambahkan pada granul
kering sebelum penabletan, bertujuan agar tablet hancur menjadi
granul dan selanjutnya hancur menjadi partikel-partikel
penyusunnya (Aulton, 2002).
Mekanisme aksi bahan penghancur dalam proses penghancuran tablet yaitu:
1) Aksi kapiler. Begitu tablet kontak dengan cairan, maka air segera
masuk dalam tablet melalui saluran pori yang terbentuk selama
penabletan. Sifat hidrofolitas pada bahan penghancur maka
perembesan air lewat pori akan lebih cepat dan efektif sehingga
akan memisahkan partikel-partikel granul dan akan menghancurkan
tablet.
2) Pengembangan. Air merembes dalam tablet melalui celah antar
partikel atau lewat jembatan hidrofil yang dibentuk bahan
penghancur. Dengan adanya air maka bahan penghancur akan
mengembang, dimulai dari bagian lokal lalu meluas keseluruh
bagian tablet. Akibat pengembangan bahan penghancur
menyebabkan tablet pecah dan hancur.
3) Deformasi. Pada saat pengempaan tablet, beberapa partikel ada
yang mengalami deformasi plastik. Masuknya air ke dalam tablet
akan memacu partikel kembali kebentuk semula, akibatnya tablet
akan hancur dan pecah.
4) Repulsion. Air yang masuk ke pori-pori tablet dapat menetralisir
muatan listrik yang terbentuk pada saat pengempaan. Muatan
partikel berubah sehingga akan saling tolak menolak. Gaya
penolakan inilah yang menyebabkan tablet menjadi hancur (Rudnic
dan Kottke, 2002).
d. Bahan Pelicin

6
Bahan pelicin memudahkan pengeluaran tablet keluar ruang cetak
melalui pengurangan gesekan antara dinding dalam lubang ruang cetak
dengan permukaan sisi tablet. Bahan pelicin yang umum digunakan adalah
kalsium dan magnesium stearat, karena mereka akan menyebabkan
turunnya kekerasan tablet akibat mengecilnya gaya ikatan dengan
terbentuknya lapisan tipis bahan pelicin pada partikel bahan padat. Bahan
pelicin dalam pembuatan tablet dapat berfungsi sebagai :
1) Lubricant, yaitu untuk mengurangi gesekan yang terjadi antara dinding
ruang cetak dengan tepi tablet selama penabletan.
2) Glidant, yaitu memperbaiki sifat alir serbuk atau granul, sehingga lebih
mudah mengalir.
3) Anti adherent, untuk mencegah melekatnya tablet pada die dan pada
permukaan punch (Voigt, 1984).
b. Metode pembuatan tablet
a. Metode granulasi basah (wet granulation)
Metode ini merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam
memproduksi tablet kompresi. Langkah-langkah yang diperlukan dalam
pembuatan tablet dengan metode ini adalah menimbang dan mencampur
bahanbahan, pembuatan granlasi basah, pengayakan adonan lembab
menjadi granul, pengeringan, pengayakan kering, pencampuran bahan
pelicin, pembuatan tablet dengan kompresi (Ansel et al., 1995).
b. Metode granulasi kering (dry granulation)
Pada metode ini, granul dibentuk oleh penambahan bahan pengikat
kering kedalam campuran serbuk obat dengan cara memadatkan masa yang
jumlahnya besar dari campuran serbuk, dan setelah itu memecahkannya
dan menjadi pecahan-pecahan kedalam granul yang lebih kecil.
Penambahan bahan pelicin dan penghancur kemudian dicetak menjadi
tablet (Ansel et al, 1995). Metode ini khusus untuk bahan yang tidak dapat
diolah dengan metode granulasi basah, karena kepekaannya terhadap uap

7
air atau karena untuk mengeringkannya diperlukan temperatur yang
dinaikkan.
c. Metode cetak langsung (direct compression)
Metode ini dilakukan pada bahan-bahan obat atau bahan tambahan
yang bersifat mudah mengalir dan memiliki sifat kohesif yang
memungkinkan untuk langsung ditablet tanpa memerlukan proses
granulasi tahap-tahapnya yaitu zat aktif/berkhasiat bersama-sama dengan
bahan pengisi, bahan penghancur, bahan pengikat dicampur hingga
homogen lalu dicetak (Ansel, 1995).
c. Syarat Tablet
Menurut Farmakope Indonesia Edisi IV dan sumber-sumber lainnya, tablet
harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Keseragaman Bobot
Tablet harus memenuhi uji keseragaman bobot untuk menjamin
keseragamanbobot tiap tablet yang dibuat. Tablet yang bobotnya seragam
diharapkanmemiliki kandungan bahan obat yang sama, sehingga
mempunyai efek terapiyang sama.
b. Kekerasan
Tablet harus memiliki kekuatan atau kekerasan agar dapet bertahan
terhadap berbagai guncangan pada saat pengepakan atau pengangkutan.Uji
ini dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut Hardness
Tester.Umumnya kekuatantablet berkisar 4-8 kg.
c. Kerenyahan
Uji ini dilakukan untuk mengetahui kerenyahan tablet, tablet yang
rapuh danrusak kandungan zat berkhasiatnya berkurang sehingga
mempengaruhi efekterapi. Kerenyahan ditandai dengan massa partikel
yang berjatuhan dari tablet.Uji ini menggunakan alat yang disebut Roche
Friabilator. Persyaratantablet tidak boleh kehilangan berat lebih dari 0,8%.
d. Waktu Hancur

8
Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui kesesuaian batas waktu
hancur yangtertera dalam masing-masing monografi. Interval waktu
hancur yaitu 5-30 menit.Sediaan dinyatakan hancur sempurnabila tidak ada
sisa sediaan yang tidak larut tertinggal pada kasa.
e. Penetapan Kadar Zat Berkhasiat
Penetapan kadar ini dilakukan untuk mengetahui apakah tablet
tersebutmemenuhi persyaratan sesuai dengan etiket. Bila kadar obat
tersebut tidakmemenuhi syarat, berarti obat tersebut tidak memiliki efek
terapi yang baik dantidak layak dikonsumsi. Penetapan kadar dilakukan
dengan menggunakan cara-carayang sesuai tertera pada monografi antara
lain di Farmakope Indonesia.

2.2 Kajian Preformulasi


a. Zat Aktif
Paracetamol
- Pemerian : Hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau;
rasa pahit
- Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol
(95%) P, dalam
13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan
dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan
alkali hidroksida.
- Titik Lebur : antara 169º sampai 172º
- pKa/pKb : 0,5 pada 50º C
- Ph larutan : 5,2 sampai 6,5
- Stabilitas : Peningkatan suhu dapat mempercepat degredasi obat
- Kegunaan : Analgetik, antipiretik
b. Zat Tambahan
1. Amprotab

9
- Pemerian : Tidak berbau, tidsk berasa, berwarna putih, berupa
granul-granul putih, berupa granul-granul kecil
terbentuk sperik atau oval dengan ukuran dan bentuk
yang berbeda untuk setiap farietas tanaman.
- Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol dingin 95% dan air
dingin
- pH : 5,5 sampai 6,5
- Titik lebur : 73º C
- Stabilitas : Pati kering dan tanpa pemanasan stabil jika dilindungi
dan kelembaban yang tinggi
- Kegunaan : Glidan; pengisi tablet dan kapsul; penghancur tablet
dan kapsul; pengikat tablet
2. PVP
- Pemerian : Serbuk halus, berwarna putih sampai krem, tidak atau
hampir tidak berbau, higroskopis
- Kelaruta : Larut dalam asam, kloroform, etanol, keton, methanol
dan air. Praktis tidak larut dalam eter, hidrokarbon dan
minyak mineral
- pH : 3,0 sampai 7,0 untuk larutan 5% b/v
- Titik leleh : 150º C
- Stabilitas : Stabil dalam siklus pemanasan yang pendek sekitar
110 sampai 130º C
- Kegunaan : Pensuspensi, pengikat tablet

3. Etanol 96%
- Pemerian : Jernih menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa
pahit, mudah terbakar, menyala biru yang tidak
berasap.

10
- Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform dan
eter.
- Stabilitas : Dalam wadah tertutup rapat terlindung cahaya, tempat
sejuk.
- Kegunaan : Zat tambahan
4. Laktosa
- Pemerian : Serbuk hablur, hablur, tidak berbau, putih, rasa agak
manis.
- Kelarutan : Larut dalam 6 bagian air, larut dalam 1 bagian air
mendidih, sukar larut dalam etanol 96%, praktis tidak
larut dalam kloroform.
- pH : pH larutan 10% b/v 4,0 – 6,5
- Stabilitas : Dalam wadah tertutup baik
- Kegunaan : Zat tambahan
5. Mg Stearat
- Pemerian : Hablur sangat halus, putih, berbau khas dan berasa.
- Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol, eter, dan air, sedikit
larut dalam benzene hangat.
- Titik leleh : 88,5° C
- Stabilitas : stabil
- Polimorfisme : Trihidrat, bentuk asikular dan dihidrat
- Kegunaan : Lubrikan

6. Talk
- Pemerian : Sangat halus, putih sampai abu-abu, tidak berbau,
langsung melekat pada kulit, lembut.

11
- Kelarutan : Praktis tidak larut dalam larutan asam dan alkali,
larutan organik.
- pH : 6,5 – 10 untuk larutan dispersi 20% b/v
- Stabilitas : Stabil, dapat di sterilisasi dengan pemanasan pada
160°C < 1 jam
- Kegunaan : anti cracking agent, glidan, pengisi tablet dan
lubrikan.

BAB III

METODE

12
3.1 Analisis Formula

Formula C
(Pengikat PVP dengan cara basah)
Fase Dalam (92%)
Paracetamol 350 mg (Zat aktif)
Amprotab 10% (Penghancur dalam)
PVP K 30 5% (Pengikat)
Etanol 95% q.s (Pelarut)
Laktosa q.s (Pengisi)

Fase Luar
Mg Stearat 1% (Pelicin atau lubrikan)
Talk 2% (Glidan)
Amprotab 5% (Penghancur luar)
3.2 Perhitungan

- Rencana bobot tablet = 500 mg


- Dibuat sebanyak = 400 tablet
- Bobot seluruh tablet = 500 x 400
= 200.000 mg
= 200 gram
- Paracetamol = 350 mg x 400
= 140.000 mg
= 140 gram
10
- Amprotab 10% = 100 x 200

= 20 gram
- Fase dalam = 100% - 8%
= 92%

13
92
- Total fase dalam = 100 x 200

= 184 gram
5
- PVP K 30 5% = 100 x 200

= 10 gram
- Etanol 95% q.s
- Laktosa = 184 – (140 + 20 + 10)
= 184 – 170
= 14 gram

- Fase luar
- Granul fase dalam = 169,32 gram
169,32
- Jumlah tablet yang diperoleh = x 400 tablet
184

= 368,08 tablet
Fase luar yang ditambahkan :
1
- Mg Stearat 1% = x 169,32
92

= 1,84 gram
2
- Talk 2% = x 169,32
92

= 3,68 gram
5
- Amprotab 5% = 92
x 169,32

= 9,20 gram
169,32+1,84+3,68+9,20
Bobot tablet teoritis = 368,08
184,04
= 368,08

= 0,5 g/tablet
= 500 mg/tablet

14
3.3 Penimbangan Bahan
1. Fase Dalam
- Paracetamol = 140 gram
- Amprotab = 20 gram
- PVP K 30 = 10 gram
- Etanol 95% q.s
- Laktosa = 14 gram
2. Fase Luar
- Mg Stearat = 1,84 gram
- Talk = 3,68 gram
- Amprotab = 9,20 gram
3.4 Prosedur
1. Prosedur pembuatan larutan PVP
1. Timbang sejumlah PVP yang diperlukan, larutkan dalam sejumlah pelarut
pengikat berdasarkan hasil orientasi ataupun berdasarkan data kelarutan
PVP dalam pelarut tersebut
2. Aduk larutan hingga homogen, jika digunakan pewarna dapat dilarutkan
dalam larutan pengikat ini
2. Prosedur pembuatan granulasi cara basah
1. Paracetamol, amprotab, dan laktosa di campur sampai homogeny,
kemudian tambahkan larutan PVP sedikit-sedikit sambil di aduk sampai
terbentuk massa basah yang sesuai untuk dibuat granul (massa harus
dapat dikepal namun dapat dipatahkan). Untuk larutan PVP, harus
dimasukan semuanya agar persentase pengikat sesuai dengan yang
diinginkan.
2. Massa basah kemudian di ayak dengan ayakan mesh 10 atau 12 (untuk
tablet besar)
3. Granul basah dikeringkan dalam oven dengan suhu 60oC sampai
kandungan lembab kurang dari 3%

15
4. Granul yang telah kering di ayak kembali dengan ayakan mesh 14 atau
16 (untuk tablet besar)
5. Granul kering kemudian di timbang dan di evaluasi
6. Granul yang telah memenuhi syarat dapat di campur dengan fase luar
(talk dan amprotab) aduk sekitar 10 menit hingga homogen kemudian
tambahkan Mg stearat, aduk selama 2 menit.
7. Massa siap cetak di evaluasi kemudian di tabletasi dengan menggunakan
punch diameter 13 mm dengan bobot yang telah ditentukan (dari hasil
perolehan granul)
8. Tablet di evaluasi menurut persyaratan yang berlaku

3.5 Wadah

3.6 Kemasan

16
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

1. Evaluasi Granul
Pembuatan PVP
(tabel 1.1 pembuatan PVP dibasahi dengan etanol 96%)
10 gr PVP K30 dibasahi dengan
etanol 96% sampai bisa dikepal.

(gambar 1.1 pembuatan PVP


dibasahi dengan etanol 96%)

Pembuatan Granul
(tabel 1.2 penimbangan untuk pembuatan granul)
Penimbangan bahan untuk
pembuatan granul.

17
(gambar 1.2 penimbangan
untuk pembuatan granul)

(tabel 1.3 pencampuran fase dalam)


Pencampuran parasetamol,
amprotab, dan laktosa ditambah
dengan PVP yang telah dibasahi
dengan etanol 96%.

(gambar 1.3 pencampuran


fase dalam)

(tabel 1.4 pengayakan fase dalam)


Proses pengayakan setelah semua
fase dalam dicampurkan.

(gambar 1.4 pengayakan


fase dalam)

18
1) Kecepatan Aliran (Metode Corong)
(tabel 2.1 kecepatan aliran metode corong)
Prosedur Prinsip evaluasi Hasil
a. Masukkan 30 gram Menetapkan jumlah Waktu granul
granul ke dalam granul yang mengalir melewati corong : 4
corong dengan ukuran melalui alat selama waktu detik
tertentu. tertentu. (Aliran granul
b. Corong digetarkan Syarat : aliran granul baik kurang baik karena
sampai seluruh granul jika waktu yang waktu alir granul
mengalir dari lubang diperlukan untuk lebih dari 3 detik).
corong ke luar. mengalirkan 30 gram
c. Baca waktu yang granul ≤ 3 detik.
diperlukan untuk
mengalir seluruh
granul.
d. Kecepatan aliran
dihitung dengan
membagi tablet granul
dengan waktu yang
diperlukan untuk
mengalir melewati
corong.

19
Penimbangan granul 30 gram, untuk
dilakukan evaluasi granul kecepatan
aliran menggunakan metode corong.

(gambar 2.1 kecepatan aliran metode


corong)

2) Kecepatan Aliran (Metode Sudut Istirahat)


(tabel 2.2 kecepatan aliran metode istirahat)
Prosedur Prinsip evaluasi Hasil
a. Timbang sejumlah Jika : α = 25 – 30o : granul Jari-jari : 4,65 cm
granul, masukan sangat mudah mengalir Tinggi : 2,8 cm
kedalam corong α = 30 – 38o : granul Hasil α = 31,05
b. Granul dibiarkan mudah mengalir (Granul mudah
mengalir bebas dari α > 38o : granul kurang mengalir karena
lubang corong / mengalir hasil granul berada
silinder dan pada rentang 30-38
o
ditampung pada suatu ).
bidang datar hingga
timbunan granul
tersebut membentuk
kerucut.

20
c. Dari timbunan ini di
ukur sudut istirahat
(sudut antara lereng
granul dengan bidang
datar)

Pengukuran kecepatan aliran metode


corong diantaranya panjang, lebar,
diameter, dan tinggi.

(gambar 2.2 kecepatan aliran metode


istirahat)

Perhitungan metode sudut istirahat :


Diketahui : Jari-jari (r) = 4,65 cm
Tinggi (h) = 2,8 cm
Ditanyakan : α (sudut istirahat) ?
Jawab : α = arc tan h/r
α = arc tan 2,8 /4,65
α = arc tan 0,60
α = 31,05
3) Kelembaban (Alat : Moisture Analyzer)
(tabel 2.3 kelembaban)
Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil
a. Granul ditimbang 50 Syarat : kadar air yang Kadar air 1,40%
gram di masukkan ke baik 1-2% (Kadar air baik
dalam alat, lalu ditara. karena tidak

21
b. Panaskan granul pada melebihi syarat yang
suhu 60-70oC sampai ditentukan)
skala alat tidak
berubah.
c. Baca kadar air yang
tertera pada skala

Pengukuran kelembaban mengguna


kan
mointure balance

(gambar 2.3 kelembaban)

4) Bobot Jenis / Kerapatan


a. BJ nyata
(tabel 2.4 BJ nyata)

Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil


Timbang 30 gram Dengan berdasarkan Granul = 30 gram
granul masukkan ke perbandingan bobot V nyata = 70 mL
dalam gelas ukur. Catat granul terhadap volume BJ nyata = 0,42
volumenya sebelum dan setelah g/mL
dimampatkan (diketuk
10x dan 200x).

22
Pengujian BJ nyata dengan
menimbang 30 gram granul.

(gambar 2.4 BJ nyata)

Perhitungan :
Diketahui :W = 30 gram
V = 70 mL
Ditanyakan :P?
W
Jawab :P=
V
30 gram
=
70 mL
= 0,42 g/mL
b. BJ mampat
(tabel 2.5 BJ mampat)

Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil


a. Timbang 30 gram Dengan berdasarkan Granul = 30 gram
granul masukkan ke perbandingan bobot Ketukan =10 dan
dalam gelas ukur. granul terhadap volume 200
Catat volumenya sebelum dan setelah V10 = 68 mL
b. Gelas ukur diketuk dimampatkan (diketuk V200 = 58 mL
10 dan 200 kali (catat 10x dan 200x). BJ10 = 0,044 g/mL
volumenya) BJ200 = 0,517 g/mL

23
Pengujian BJ mampat 30 gram
granul dan diketuk sebanyak 10 dan
200 kali.

(gambar 2.5 BJ mampat)

Perhitungan :
Diketahui :W = 30 gram
V10 = 68 mL
V200 = 58 mL
Ditanyakan : P10, dan P200 ?
W
Jawab : P10 =
V
30 gram
=
68 mL

= 0,441 g/mL

𝑊
P200 =
𝑉
30 gram
=
58 mL

= 0,517 g/mL
c. BJ sejati
(tabel 2.6 BJ sejati)

Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil


Menggunakan alat Penentuan bobot jenis a = 13,58 gram
piknometer dengan menimbang b = 14,58 gram
piknometer kosong dan c = 23,42 gram
piknometer yang telah d = 23,33 gram

24
diisi sampel, lalu selisih Hasil BJ sejati =
penimbangan dibagi 1,3384 g/mL
dengan volume Keterangan:
piknometer yang a = bobot
ditentukan sebagi bobot piknometer
jenis lalu diabndingkan kosong
dengan bobot jenis air b = bobot
suling untuk piknometer +
mendapatkan rapat 1 g granul
jenisnya. c= bobot
piknometer +
1 g granul +
cairan
pendispersi
d= bobot
piknometer +
cairan
pendispersi

Pengujian BJ sejati.
Penimbangan piknometer kosong, pi
knometer + 1 gram granul ,
piknometer + 1 g granul + cairan
pendispersi (paraffin cair) dan
piknometer + cairan pendispersi.

25
(gambar 2.6 BJ sejati)

Perhitungan :
Diketahui :a = 13,58 gram
b = 14,58 gram
c = 23,42 gram
d = 23,33 gram
Ditanyakan : BJ sejati ?
(b−a) 𝑥 𝐵𝐽 𝑝𝑎𝑟𝑎𝑓𝑖𝑛 𝑐𝑎𝑖𝑟
Jawab : BJ sejati =
(b+d) − (𝑎+𝑐)
(14,58 − 13,58) 𝑥 0,870
= (14,58
+ 23,33) − (13,58 + 23,42)
1 x 0,870
=
37,91 − 37
0,870
=
0,91

= 0,9560 g/mL
d. Kadar pemampatan
(tabel 2.7 kadar pemampatan)
Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil
a. Timbang 30 granul, Granul memenuhi syarat KP = 17,14%
masukkan ke dalam jika kadar pemampatan ≤ (Granul memenuhi
gelas ukur dan catat 20% syarat karena nilai
volumenya. KP ≤ 20%).
b. Gelas ukur diketuk 10
dan 200 kali (catat
volumenya)

26
Pengujian kadar pemampatan
dengan menimbang 30 gram granul.

(gambar 2.7 kadar pemampatan)

Perhitungan :
Vo−V200
KP = 𝑥 100%
𝑉𝑜
70 − 58
= 70
𝑥 100%
12
= 70 𝑥 100%
= 17,14%
e. Perbandingan Haussner
(tabel 2.8 perbandingan haussner)

Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil


a. Timbang 30 granul, Granul memenuhi Angka Haussner =
masukkan ke dalam syarat jika angka 1,230
gelas ukur dan catat Haussner = 1 (Tidak memenuhi
volumenya. syarat)
b. Gelas ukur diketuk 10
dan 200 kali (catat
volumenya)

27
Pengujian perbandingan haussner
dengan menimbang 30 gram granul.

(gambar 2.8 perbandingan haussner)

Perhitungan :
BJ setelah pemampatan
Angka Haussner =
𝐵𝐽 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑝𝑒𝑚𝑎𝑚𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛
0,517
=
0,42

= 1,230
f. Persen Kompresibilitas (% K)
(tabel 2.9 persen komresibilitas)
Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil
a. Timbang 30 granul, Syarat : 5-15% : aliran % K = 18,76%
masukkan ke dalam sangat baik (Aliran baik karena
gelas ukur dan catat 16-25% : aliran baik hasil %
volumenya. ≥ 26% : aliran buruk kompresibilitas
berada pada rentang
16-25%).

28
Pengujian persen komresibilitas
dengan menimbang 30 gram granul.

(gambar 2.9 persen komresibilitas)

Perhitungan :
BJ mampat − Bj nyata
%K = x 100%
𝐵𝐽 𝑚𝑎𝑚𝑝𝑎𝑡
0,517 − 0,42
= x 100%
0,517

0,097
= x 100%
0,517

= 18,76%
5) Granulometri
(tabel 3.0 granulometri)
Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil
a. Timbang 50 granul Ukuran partikel harus - Mesh 10 = 90,52%
diletakkan pada seragam dan total % - Mesh 12 = 0,5%
pengayak paling atas granul harus 100%. - Mesh 14 = 2,86%
b. Getar mesin 5-30 - Mesh 16 = 6,22%
menit Memenuhi syarat
c. Timbang granul yang karena % total
tertahan yang tiap-tiap granul yang
pengayak dihasilkan 100%.
d. Hitung persentasi
granul pada tiap
pengayak

29
Penimbangan granul 50 gram dan
diayak dengan mesh no 10,12,14,
dan 16 untuk pengujian
granulometri.

(gambar 3.0 granulometri)

Perhitungan :
45,26 g
 Mesh 10 = 𝑥 100 % = 90,52%
50 𝑔
0,25 g
 Mesh 12 = 𝑥 100 % = 0,5%
50 𝑔
1,43 g
 Mesh 14 = 𝑥 100 % = 2,86%
50 𝑔
3,11 g
 Mesh 16 = 𝑥 100 % = 6,22%
50 𝑔

2. Evaluasi Tablet
1) Visual / Organoleptik
(tabel 4.0 visual / organoleptic)
Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil
Dengan cara melihat Prinsip uji organoleptik Bentuk : padat
rupa (menggunakan menggunakan indera Bau : khas obat
loop), bau dan rasa manusia sebagai alat Rasa : pahit
utama untuk menilai Warna : putih
mutu produk.

30
Organoleptik tablet

(gambar 4.0 organoleptik tablet)

2) Sifat-Sifat Kimia
a. Keseragaman Ukuran (Tebal dan Diameter)
(tabel 4.1 keseragaman ukuran)
Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil
Di ambil secara acak 20  Diameter : tidak Tebal
tablet, lalu ukur lebih dari 3 kali 1. 5 mm
diameter dan tebalnya  Tebal : tidak kurang 2. 5 mm
menggunakan jangka dari 1⅓ 3. 6 mm
sorong. 4. 5 mm
5. 5 mm
6. 5 mm
7. 5 mm
8. 6 mm
9. 6 mm
10. 6 mm
11. 5 mm
12. 5 mm
13. 5 mm
14. 6 mm
15. 6 mm
16. 6 mm
17. 6 mm
18. 5 mm

31
19. 5 mm
20. 5 mm

Diameter
1. 10 mm
2. 10 mm
3. 10 mm
4. 10 mm
5. 10 mm
6. 10 mm
7. 10 mm
8. 10 mm
9. 10 mm
10. 10 mm
11. 10 mm
12. 10 mm
13. 10 mm
14. 10 mm
15. 10 mm
16. 10 mm
17. 10 mm
18. 10 mm
19. 10 mm
20. 10 mm
Diameter tablet tidak
melebihi dari ukuran 3
kali tebal tablet.
Karena pada masing-
masing tablet hanya
memiliki diameter 10

32
mm. Dengan
demikian ukuran
tablet memenuhi
syarat yang ditetapkan
dalam literature.

Pengukuran keseragaman ukuran


diameter dan tebalnya menggunakan
jangka sorong.

(gambar 4.1 keseragaman ukuran)

b. Kekerasan (Menggunakan alat : Hardness Tester)


(tabel 4.2 kekerasan)
Prosuder Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil
Ambil 20 tablet secara  Tablet besar : 7-10 1. 8 kg/cm2
acak. Ukur kekerasan kg/cm2 2. 8 kg/cm2
berdasarkan luas  Tablet kecil : 4 3. 8 kg/cm2
permukaan tablet kg/cm2 4. 9 kg/cm2
dengan menggunakan 5. 8 kg/cm2
beban yang dinyatakan 6. 8 kg/cm2
dalam kg/cm2. Tentukan 7. 8 kg/cm2
kekerasan rata-rata dan 8. 9 kg/cm2
standar deviasinya. 9. 9 kg/cm2
10. 9 kg/cm2
11. 9 kg/cm2
12. 9 kg/cm2
13. 8 kg/cm2

33
14. 8 kg/cm2
15. 8 kg/cm2
16. 9 kg/cm2
17. 9 kg/cm2
18. 8 kg/cm2
19. 8 kg/cm2
20. 8 kg/cm2
Kekerasan rata-rata =
175
= 8,75 𝐾g/cm2
20

Standar deviasi
sebesar 1,762.
Dengan demikian
kekerasan tablet
dalam percobaan
memenuhi syarat
tablet besar.

Pengukuran kekerasan dengan


menggunakan hardnes tester.

(gambar 4.2 kekerasan)

Perhitungan :
Standar Deviasi
i Xi x (xi – x) (xi – x)2
1. 8 8,75 -0,75 0,56
2. 8 8,75 -0,75 0,56

34
3. 8 8,75 -0,75 0,56
4. 9 8,75 0,25 0,06
5. 8 8,75 -0,75 0,56
6. 8 8,75 -0,75 0,56
7. 8 8,75 -0,75 0,56
8. 9 8,75 0,25 0,06
9. 9 8,75 0,25 0,06
10. 9 8,75 0,25 0,06
11. 9 8,75 0,25 0,06
12. 9 8,75 0,25 0,06
13. 8 8,75 -0,75 0,56
14. 8 8,75 -0,75 0,56
15. 8 8,75 -0,75 0,56
16. 8 8,75 -0,75 0,56
17. 9 8,75 0,25 0,06
18. 9 8,75 0,25 0,06
19. 8 8,75 -0,75 0,56
20. 8 8,75 -0,75 0,56
6,64

∑20 2
𝑖=1(𝑋𝑖 − 𝑋) = 6,64

varian :
hasil 𝑠𝑖𝑔𝑚𝑎 44
S2 = = 19 = 2,3
20−1

Standar deviasi
44
S = √20−1 = √2,3 = 1,51

c. Friabilitas (Menggunakan alat : Friabilator)


(tabel 4.3 friabilitas)
Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil

35
 Jika bobot tablet > 250 Tablet baik memiliki a = 8,71 gram
mg ambil 20 tablet friabilitas < 1% b = 8,63 gram
secara acak Hasil f (friabilitas) =
 Jika bobot tablet < 250 0,91 %
mg ambil 40 tablet (Tablet baik, karena
secara acak memiliki friabilitas <
 Bersihkan satu persatu 1%
dengan sifat halus lalu
timbang (a)
 Masukan semua tablet
kedalam alat, putar
sebanyak 100 putaran
 Lalu tablet
dibersihkan lagi dan
timbang (b)

Pengujian friabilitas dengan alat


friabilator (100 kali putaran)

(gambar 4.3 friabilitas)

36
Perhitungan:
a−b
f = 𝑥 100%
𝑎
8,71−8,63
= 𝑥 100%
8,71
0,08
= 8,71 x 100 %

= 0,91%
d. Keseragaman Bobot
(tabel 4.4 keseragaman bobot)
Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil
 Ambil 20 tablet secara Tidak boleh ada 2 tablet 1. 530 mg
acak, lalu timbang yang menyimpang dari 2. 540 mg
masing-masing tablet kolom A. Dan tidak 3. 530 mg
 Hitung bobot rata-rata boleh satupun tablet 4. 570 mg
dan penyimpangan yang menyimpang di 5. 530 mg
terhadap bobot rata- kolom B 6. 530 mg
rata 7. 530 mg
8. 540 mg
9. 540 mg
10. 530 mg
11. 530 mg
12. 520 mg
13. 540 mg
14. 520 mg
15. 520 mg
16. 530 mg
17. 540 mg
18. 520 mg
19. 530 mg
20. 530 mg

37
Dalam percobaan,
melebihi 5% dari rata-
rata dan tidak
melebihi 10%-nya.
Dengan demikian
dapat dikatakan
bahwa keseragaman
bobot tablet pada
percobaan memenuhi
persyaratan.

Hasil keseragaman bobot

(gambar 4.4 keseragaman


bobot)

% penyimpangan :
Tablet 20 : 10,62 g = 10620 mg
10620 mg
T : = 531 𝑚𝑔
20
531mg − 530mg
Tablet 1 : 𝑥 100 % = 0,18 %
510mg
531mg − 540mg
Tablet 2 : 𝑥 100 % = 1,69 %
531 mg

38
531mg − 530mg
Tablet 3 : 𝑥 100 % = 0,18 %
531mg
531mg −570mg
Tablet 4 : 𝑥 100 % = 7,34 %
531mg
531mg −530 mg
Tablet 5 : 𝑥 100 % = 0,18%
531mg
531mg−530mg
Tablet 6 : 𝑥 100 % = 0,18 %
531mg
531mg−530mg
Tablet 7 : 𝑥 100 % = 0,18 %
531mg
531mg − 540mg
Tablet 8 : 𝑥 100 % = 1,69 %
531mg
531mg −540mg
Tablet 9 : 𝑥 100 % = 1,69 %
531mg
531mg −530mg
Tablet10 : 𝑥 100 % = 0,18 %
531mg
531mg −530mg
Tablet 11 : 𝑥 100 % = 0,18 %
531mg
531mg −520mg
Tablet 12 : 𝑥 100 % = 2,07 %
531 mg
531mg −540mg
Tablet 13 : 𝑥 100 % = 1,69 %
531mg
531mg −520mg
Tablet 14 : 𝑥 100 % = 2,07 %
531mg
531mg −520mg
Tablet15 : 𝑥 100 % = 2,07 %
531mg
531mg −530mg
Tablet16 : 𝑥 100 % = 0,18 %
531mg
531mg−540mg
Tablet17 : 531mg
𝑥 100 % = 1,69 %
531mg −520mg
Tablet18 : 𝑥 100 % = 2,07%
531mg
531mg −530mg
Tablet19 : 𝑥 100 % = 0,18%
531mg
531mg−530mg
Tablet20 : 𝑥 100 % = 0,18 %
531mg

e. Keseragaman Kandungan
(tabel 4.5 keseragaman kandungan)
Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil

39
 Ambil 30 tablet secara Memenuhi syarat jika 1 Tidak dilakukan
acak tablet dari 30 tablet percobaan karena
 Tentukan kadar dari memberikan hasil diluar terbatasnya alat yang
10 tablet satu persatu 85-115% tersedia di
dengan metode yang laboratorium.
sesuai
 Jika ada 1 tablet yang
diluar 85-115%,
tentukan 20 tablet
sisanya

3) Uji Waktu Hancur (Alat : Disintegration Tester)


(tabel 4.6 uji waktu hancur)
Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil
 Isi bak kaca pada alat Berdasarkan Farmakope Tablet hancur pada
disintegrator sampai Indonesia : kecuali waktu 6 menit 24
batas yang ada dan dinyatakan lain, semua detik.
masukkan gelas kimia tablet harus hancur ≤ 15 Dengan demikian
1000 ml menit (tanpa salut) dan dapat diketahui bahwa
 Tambahkan aquadest ≤ 60 menit (dengan tablet memiliki waktu
sebanyak 800 ml salut). hancur yang cepat dan
 Nyalakan alat memenuhi
disintegrator dan atur persyaratan.
suhu 37º C
 Atur waktu selama 15
menit dan masukkan

40
ring basket. Kemudian
tutup.
 Tunggu hingga tablet
hancur dan catat
berapa lama waktu
hancurnya
 Tablet hancur jika
tidak ada bagian tablet
yang tertinggal di atas
kassa, kecuali
fragmen-fragmen
pembantu.
 Matikan alat
disintegrator.

Hasil waktu hancur tablet 6 menit 24


detik.

(gambar 4.6 uji waktu hancur)

4) Uji Disolusi
(tabel 4.7 uji disolusi)
Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil
 Medium dipanaskan Dalam penentuan Belum dilakukan
dalam thermostat kecepatan disolusi dari percobaan uji disolusi
hingga suhu larutan berbagai bentuk sediaan karena terbatasnya alat
37º C padat terlibat berbagai yang tersedia di

41
 Tablet diletakkan di proses disolusi yang laboratorium,
dalam keranjang lalu melibatkan zat murni. banyaknya yang
dimasukkan ke dalam memakai alat disolusi
medium disolusi. tersebut dan alat
Ketika alat disolusinya rusak.
dihidupkan keranjang
akan berputar.
 Pada waktu 5, 10, 15,
30, 45, 90 menit,
ambil 5 ml larutan
masukkan kedalam
labu ukur 25 ml lalu
cukupkan dengan
medium disolusi
sampai batas.
 Ukur masing-masing
larutan pada panjang
gelombang 243

5) Kadar Zat Aktif Dalam Tablet


(tabel 4.8 kadar zat aktif dalam tablet)
Prosedur Evaluasi Prinsip Evaluasi Hasil
Mengambil 20 tablet, Interaksi yang terjadi Hasil absorbansinya
kemudian digerus antara energy yang 0.696. Nilai kadarnya
ditimbang sebanyak 50 berupa sinar yaitu sebesar 0,1653
mg atau 0,05 gram, monokromatis dan g/ml.
larutkan dengan pelarut sumber sinar dengan
buffer fosfat add 100 materi yang berupa
ml. Dipipet sebanyak molekul.

42
500 µl dilarutkan
dengsn pelarut buffer
fosfat add 10 ml.
Kemudian lihat hasil
absorbansi pada
spektrofotometer.

Hasil absorbansi dengan


menggunakan spektrofotometer.
Hasil absorbansi 0,696

(gambar 4.8 kadar zat aktif dalam


tablet)

Perhitungan:

Diketahui : Absorbansi = 0,696

b = 0,0628

a = 0,1768

Y = bx + a

0,696 = 0,0628x + 0,1768

0,0628x = 0,1768 - 0,696

0,0628x = -0,5192

−0,5192
X = −0,0628

43
X = 8,2675

X = 8,2675 x 20 (pengenceran)

X = 165,35

X = 165,35 g/1000 ml

X = 0,1653 g/ml.

4.2 Pembahasan

Pada praktikum kali ini akan dibuat sediaan tablet dengan menggunakan bahan
aktif yaitu parasetamol atau asetominofen. Khasiat dari parasetamol yaitu sebagai
analgetik dan antipiretik. Dalam pembuatan tablet metode yang digunakan yaitu
granulasi basah, tiap bahan tambahan dibagi kedalam 2 fase yaitu fase dalam dan
fase luar. Fase dalam adalah campuran yang kemudian akan dibuat menjadi massa
granul, sedangkan fase luar adalah bahan yang membantu aliran granul fase dalam
yang telah dibuat. Fase dalam yaitu Parasetamol (zat aktif ), Amprotab 10%
sebagai penghancur dalam, PVP K 30 5% sebagai pengikat (binder), dan Etanol
95% sebagai pelarut. Fase luar yaitu Mg stearat 1 % sebagai pelicin (lubrikan),
Amprotab 5% dan Talk sebanyak 2% sebagai glidan.
Pada percobaan ini metode yang digunakan yaitu dengan metode granulasi
basah. Granulasi merupakan proses peningkatan ukuran partikel dengan cara
melekatkan partikel-partikel sehingga bergabung dan membentuk ukuran yang
lebih besar. Granulasi basah adalah cara pembuatan tablet dengan mencampurkan
zat aktif dan eksipien menjadi partikel yang lebih besar dengan menambahkan
cairan pengikat dengan jumlah yang tepat sehingga diperoleh masa lembab yang
dapat digranulasi. Pada pembuatan granulasi basah tahap pertama yaitu membuat
fase dalam dengan melakukan pencampuran yang dapat didefinisikan sebagai
suatu kegiatan untuk menggabungkan dua atau lebih komponen, yang awalnya
dalam keadaan tidak dicampur atau sebagian campuran, sehingga masing-masing
unit (partikel, molekul dll) dari komponen terletak sedekat mungkin atau

44
bercampur dengan unit atau partikel masing-masing komponen lainnya. Tujuan
dari proses pencampuran adalah untuk mendapatkan/menjamin homogenitas
campuran serbuk sehingga tablet yang dihasilkan merupakan campuran homogen.
Pertama mecampurkan zat aktif parasetamol, amprotab, dan laktosa sampai
homogen, kedua yaitu membuat larutan pengikat PVP dengan etanol 95% sampai
larut atau kental.
Selanjutnya proses granulasi merupakan proses peningkatan ukuran partikel
dengan cara melekatkan partikel-partikel sehingga bergabung dan membentuk
ukuran yang lebih besar . Pada tahap ini dilakukan pencampuran larutan pengikat
dengan serbuk yang sudah di campurkan (mixing). Granul yang telah terbentuk
pada saat proses granulasi kemudian diayak dengan menggunakan ayakan mesh
10, 12, 14, dan 16. Pengayakan ini bertujuan untuk menyeragamkan ukuran granul.
Sesudah dilakukan proses granulasi dilakukan pengeringan dengan oven karena
hasil granulasi berada dalam bentuk massa basah harus dihilangkan karena
keberadaan air akan menimbulkan masalah pada sifat aliran dan ketidakstabilan
secara kimiawi. Pengeringan dilakukan pada oven bersuhu 600C selama 30 menit
sampai kandungan lembab kurang dari 3%.
Setelah granul kering kemudian dilakukan evaluasi granul. Yang pertama
dilakukan yaitu kecepatan aliran metode corong. Pengujian kecepatan aliran
granul bertujuan untuk memastikan homogenitas komposisi tablet selama proses
pencetakan. Berdasarkan hasil percobaan, waktu alir untuk 30 gram granul adalah
4 detik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa laju alir granul buruk. Waktu alir
berpengaruh terhadap keseragaman bobot. Waktu alir yang buruk dapat
menyebabkan terjadinya segregasi partikel granul (pemisahan partikel di mana
partikel dengan ukuran paling kecil berada pada posisi paling bawah) sehingga
partikel dengan ukuran paling kecil yang biasanya merupakan zat aktif, akan turun
terlebih dahulu selama pencetakan. Hal ini menyebabkan tablet yang dicetak lebih
awal akan memiliki dosis yang lebih tinggi dibandingkan dengan tablet yang
dicetak di akhir. Oleh karena itu, kecepatan alir yang buruk dapat menyebabkan
ketidakseragaman bobot dan kandungan zat aktif atau dosis dalam sediaan tablet

45
yang dibuat. Sedangkan menurut literature kecepatan aliran yang baik bagi 100
gram granul adalah 10 detik (≤10 g/detik). Namun apabila 30 gram granul
menghasilkan waktu 3 detik ≤ 3 detik.
Sudut istirahat diperoleh dengan pengukuran sudut yang terbentuk dari lereng
timbunan granul yang mengalir bebas dari corong terhadap suatu bidang datar.
Sudut istirahat yang diperoleh pada percobaan yaitu 31,05o. Data tersebut
menunjukkan bahwa sifat alir granul yaitu sangat mudah mengalir sesuai syarat
dari yang telah ditentukan.
Mengontrol kandungan lembab granul sehingga dapat mengantisipasi masalah
yang terjadi selama proses pengempaan tablet, terutama kandungan lembab
menjadi faktor penyebabnya. Dari hasil yang diperoleh pada percobaan bahwa
kelembaban granul adalah 1,40%. Data tersebut menunjukan bahwa kadar air yang
terdapat dalam granul baik karena syarat kadar air yag baik adalah dalam rentang
1-2%.
Pada proses evaluasi bobot jenis dilakukan beberapa pengujian, yang pertama
yaitu uji bobot nyata dilakukan dengan menimbang 30 gram granul, masukkan
dalam gelas ukur 100 mL, dan diamati volumenya, dari praktikum yang telah
dilakukan diperoleh hasil untuk bobot jenis nyata adalah 0,42 g/ml.
Yang kedua yaitu uji bobot jenis mampat dilakukan dengan menimbang 30
gram granul, masukan ke dalam gelas ukur 100 mL dan diukur volumenya.
Kemudian diletakkan pada alat tap density tester dengan pengetukan sebanyak 10
kali dan 200 kali dan diperoleh hasil bobot jenis pada 10 kali ketukan adalah 0,44
g/ml dan hasil bobot jenis pada ketukan 200 kali ketukan diperoleh hasil 0,517
g/ml.
Yang ketiga yaitu uji bobot jenis sejati dapat dilakukan dengan menggunakan
alat piknometer, yaitu dengan cara ditimbang bobot piknometer kosong,
masukkan1 gram granul pada piknometer yang telah ditimbang tadi, kemudian
masukkan 1 gram granul dan cairan pendispersi pada piknometer yang kedua, dan
berikutnya masukkan cairan pendispersi pada piknometer ketiga, hasil yang
diperoleh adalah 0,9560 g/ml.

46
Keempat uji kadar pemampatan dapat dilakukan dengan alat gelas ukur, dengan
cara ditimbang bobot ganul yang akan dilakukan evaluasi, kemudian dimasukkan
kedalam gelas ukur, dan lihat volume granul setelah dilakukan 10 dan 200 kali
ketukan pada gelas ukur dan diperoleh hasil 17,14 % , granul tersebut memenuhi
syarat karena kurang dari 20%.
Pada uji perbandingan haussner dapat diperoleh hasil 1,230 dapat disimpulkan
bahwa granul memenuhi syarat.
Pada uji %K dapat diperoleh hasil 18,76% dapat disimpulkan bahwa daya alir
granul baik karena masih dalam rentang alir yang baik yaitu 16-25%.
Pada uji granulometri di peroleh hasil pada ayakan no 10 hasilnya 45,26 g
dengan presentasi 90,52%, pada ayakan no 12 hasilnya 0,25 g dengan presentasi
0,5 %, pada ayakan no 14 hasilnya 1,43 g dengan presentasi 2,86 %, pada ayakan
no 16 hasilnya 3,11 g dengan presentasi 6,22%. Hal tersebut menunjukan bahwa
ukuran granul berdekatan, sehingga aliran akan lebih baik.

Setelah dilakukan evaluasi granul maka dilanjutkan dengan proses pembuatan


tablet, dimana sebelumnya dilakukan pembuatan fase luar. Fungsi dari
penambahan fase luar utamanya adalah untuk memperbaiki sifat alir granul dan
mencegah friksi antara serbuk dengan die dari mesin pencetak tablet. Dengan
menimbang masing- masing bahannya yaitu Mg stearat, amprotab dan talcum.
Setelah itu dilakukan pencampuran dengan fase dalam dengan cara di homogenkan
atau dikocok sampai tercampur. Pencampuran pada fase luar tidak lebih dari 5
menit yaitu sekitar 2 – 3 menit. Hal itu disebabkan karena salah satu zat yang
merupakan fase luar yaitu magnesium stearate sangat berpengaruh terhadap
disolusi dari tablet di saluran cerna. Jika proses mixing dilakukan terlalu lama,
maka kehomogenitasan magnesium stearate dengan bahan lain menjadi tinggi dan
menyebabkan granul dilapisi oleh magnesium stearate yang memiliki sifat
hidrofob (suka minyak). Sifat hidrofob yang dihasilkan oleh magnesium stearate
ini akan menyulitkan tablet melarut di saluran cerna yang banyak mengandung air,

47
sehingga dapat menyebabkan disolusi tablet berkurang dan menyebabkan waktu
mula kerja obat lambat.
Selanjutnya dilakukan kompresi. Tahap–tahap pembuatan tablet yaitu
pengisian, pengempaan dan pelemparan. Pembuatan tablet pada praktikum ini
dilakukan dengan menggunakan alat pencetak tablet single punch. Pada saat
kompresi tablet perlu diperhatikan mengenai kekerasan tablet dan bobot tablet.
Sehingga pada proses kompresi ini dilakukan optimasi sampai menghasilkan tablet
yang memiliki kekerasan yang sesuai persyaratan dan bobot yang sesuai dengan
perhitungan.
Langkah selanjutnya setelah diperoleh tablet parasetamol, kemudian dilakukan
evaluasi tablet. Uji organoleptik dilakukan dengan tujuan untuk penerimaan oleh
konsumen. Karena, secara visual tablet yang baik harus memiliki warna yang
homogen dan tidak mengandung pengotor. Evaluasi ini dilakukan dengan cara
pemeriksaan secara organoleptis meliputi bentuk, warna, bau dan rasa. Sehingga
didapatkan hasil pengamaannya yaitu padat, berwarna putih, tidak berbau, dan
rasa pahit.
Uji keseragaman ukuran merupakan uji yang dilakukan untuk mengetahui
keseragaman ukuran dari sediaan tablet. Tujuan dilakukannya pengujian
keseragaman ukuran karena ketebalan berhubungan dengan kekerasan sediaan
padat (tablet), selain percetakan, perubahan ketebalan merupakan indikasi adanya
masalah pada aliran massa cetak atau pada pengisi granul ke dalam die oleh karena
itu perlu dilakukan pengujian. Mengukur keseragaman ukuran dilakukan dengan
menghitung tebal serta diameter tablet menggunakan jangka sorong. Uji
keseragaman ukuran memenuhi syarat bila diameter tablet tidak lebih dari 3 kali
dan tidak kurang dari 1⅓ kali tebal tablet. Dari hasil percobaan diperoleh bahwa
rata-tata diameter tablet parasetamol yaitu 10 mm dan untuk tebalnya yaitu antara
5 – 6 mm. Dari data tersebut dapat dinyatakan bahwa tablet parasetamol memiliki
diameter tablet tidak melebihi dari ukuran 3 kali tebal tablet. Karena pada masing-
masing tablet hanya memiliki diameter 10 mm. Dengan demikian ukuran tablet
memenuhi syarat yang ditetapkan dalam literature.

48
Uji keseragaman bobot dilakukan untuk melihat homogenitas granul karena
apabila bobot tidak seragam kemungkinan disebabkan oleh homogenitas yang
kurang baik. Keseragaman bobot dilihat dari persen deviasi maksimum. Untuk
tablet dalam percobaan, syaratnya tidak boleh ada 2 tablet yang masing-masing
menyimpang dari bobot rata-rata lebih besar dari 5% dan tidak boleh satu pun
tablet yang menyimpang dari bobot rata-rata lebih dari 10%. Bobot tablet rata-rata
yang diperoleh yaitu antara rentang 530 – 560 mg. Dalam percobaan, melebihi 5%
dari rata-rata dan tidak melebihi 10%-nya. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa keseragaman bobot tablet pada percobaan memenuhi persyaratan.
Keseragaman bobot dipengaruhi oleh laju alir. Apabila laju alir bagus, berarti
keseragaman bobot juga bagus. Pada percobaan dapat dikatakan bobot tablet
seragam. Hal ini sesuai, karena pada percobaan laju alir pun menunjukkan laju alir
yang baik. Setelah dihitung % penyimpangan sebanyak 20 tablet di dapatkan
hasilnya berturut-turut yaitu dari tablet 1 sampai tablet 20 sebesar 0,18%,
1,69%, 0,18%, 7,34%, 0,18%, 0,18%, 0,18%, 1,69%, 1,69%, 0,18 %, 0,18%,
2,07%, 1,69%, 2,07%, 2,07%, 0,18%, 1,69%, 2,07%, 0,18%, dan 0,18%.

Pada uji kekerasan dilakukan untuk mengetahui seberapa keras tablet yang
dihasilkan dari proses formulasi. Tablet yang keras diperlukan untuk mencegah
kerusakan fisik selama proses produksi, penyimpanan, dan transportasi. Untuk
mengetahui ketahanan sediaan tablet dalam menghadapi tekanan yang didapatkan
baik ketika proses pengemasan, distribusi, ataupun ketika disimpan. Berdasarkan
percobaan, diperoleh rata-rata kekerasan tablet yaitu 7,5 kg/cm2. Syarat kekerasan
tablet yang baik berada pada rentang 7-10 kg/cm2 untuk tablet besar dan untuk
tablet kecil antara 4 kg/cm2. Dengan demikian kekerasan tablet dalam percobaan
memenuhi syarat tablet besar. Setelah di hitung didapatkan nilai standar deviasinya
yaitu sebesar 1,762.

Pada uji friabilitas yang dipengaruhi adalah daya ikat eksternal tablet. Pengikat
yang efektivitasnya tinggi akan memberikan % friabilitas yang rendah karena
pengikat tersebut akan mengikat kuat massa tabet sehingga massa yang lepas dari

49
tablet akan lebih sedikit. % friabilitas yang baik yaitu < 1%. Berdasarkan hasil
percobaan, diperoleh bobot awal tablet sebanyak 20 tablet sebelum uji yaitu 8.71
gram dan setelah uji yaitu 8,63 gram. Pengurangan bobot tersebut terjadi karena
adanya gesekan antar tablet yang menyebabkan fasa luar tablet terkikis. Setelah
dilakukan perhitungan, diperoleh % friabilitas tablet yaitu 0,91%. Data tersebut
menunjukkan bahwa bobot tablet yang hilang setelah bergesekan dengan tablet
lain jumlahnya tidak melebihi standar yang telah ditentukan. Dengan demikian,
pembuatan tablet pada percobaan memenuhi persyaratan friabilitas karena kurang
dari < 1%.

Untuk uji keseragaman kandungan tidak dilakukan percobaan karena


terbatasnya alat yang tersedia di laboratorium.

Uji waktu hancur dilakukan untuk melihat seberapa lama obat (tablet) bisa
hancur di dalam tubuh / saluran cerna yang ditandai dengan sediaan menjadi larut,
terdispersi, atau menjadi lunak karena tidak lagi memiliki inti yang jelas, kecuali
bagian penyalut yang tidak larut. Uji ini bertujuan untuk menetapkan kesesuaian
batas waktu hancur sesuai monografi zat aktif. Berdasarkan hasil percobaan, waktu
hancur tablet yaitu 6.24 menit. Berdasarkan Farmakope Indonesia : kecuali
dinyatakan lain, semua tablet harus hancur ≤ 15 menit (tanpa salut) dan ≤ 60 menit
(dengan salut). Dengan demikian dapat diketahui bahwa tablet memiliki waktu
hancur yang cepat dan memenuhi persyaratan. Dilihat dari waktu hancurnya yang
relatif cepat, obat ini akan bekerja efektif di lambung. Waktu hancur yang cepat
ini disebabkan oleh pengunaan pengikat yang dicampurkan secara kering.

Uji disolusi dapat digunakan untuk menentukan persentasi ketersediaan obat


dalam sirkulasi sistemik pada waktu tertentu, hal ini berhubungan dengan bio-
availabilitas yang dapat menjadi parameter efikasi (kemanjuran) dan mutu suatu
produk obat. Pengujian laju disolusi tablet juga menggambarkan waktu yang
dibutuhkan tablet untuk melarut dan melepaskan komponen zat aktif yang

50
selanjutnya diabsorpsi oleh tubuh untuk selanjutnya didistribusikan untuk
mencapai efektor.

Pada pengujian disolusi ini kelompok kami belum melakukan karena


terbatasnya alat yang tersedia di laboratorium, banyaknya yang memakai alat
disolusi tersebut dan alat disolusinya rusak.

Uji dilakukan untuk menentukan kadar dari tablet parasetamol dengan


mengambil 20 tablet, kemudian digerus ditimbang sebanyak 50 mg atau 0,05
gram, larutkan dengan pelarut buffer fosfat add 100 ml. Dipipet sebanyak 500 µl
dilarutkan dengsn pelarut buffer fosfat add 10 ml. Kemudian lihat hasil dengan
menggunakan metode spektrofotometer dan didapatkan hasil absorbansinya 0.696.
Dan di dapat nilai kadarnya yaitu sebesar 0,1653 g/ml.

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dalam praktikum pembuatan tablet paracetamol dengan metode granulasi basah


dapat simpulkan bahwa dari hasil evaluasi tablet didapat tablet paracetamol dengan
menggunakan bahan pengikat PVP K30 5% dapat dikatakan kurang baik karena pada
evaluasi tablet maupun granul terdapat beberapa uji evaluasi yang tidak memenuhi
syarat yang telah ditetapkan.

5.2 Saran

Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan laporan ini.

51
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, Goeswin. 2012. Sediaan Farmasi Padat, Bandung : ITB

Ansel,Howard C. 2005. Pengantar bentuk sediaan farmasi edisi IV, Jakarta:


Universitas Indonesia

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.

Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta

Sulaiman, T. N. S. 2007. Teknologi dan Formulasi Sediaan Tablet. Pustaka


Laboratorium Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi UGM. Yogyakarta.

Voigt, R. 1984. Buku Ajar Teknologi Farmasi, Edisi V. diterjemahkan oleh


Soewandhi, S. N., Edisi 5. UGM Press. Yogyakarta

52
LAMPIRAN

No Keterangan Gambar
1. 10 gr PVP K30 dibasahi dengan etanol
96% sampai bisa dikepal.

2. Penimbangan bahan untuk pembuatan


granul.

3. Pencampuran parasetamol, amprotab, dan


laktosa ditambah dengan PVP yang telah
dibasahi dengan etanol 96%.

53
4. Proses pengayakan setelah semua fase
dalam dicampurkan.

5. Penimbangan granul 30 gram, untuk


dilakukan evaluasi granul kecepatan aliran
menggunakan metode corong.

6. Pengukuran kecepatan aliran metode


corong diantaranya panjang, lebar,
diameter, dan tinggi.

7. Pengukuran kelembaban menggunakan


mointure balance

54
8. Pengujian BJ nyata dengan menimbang 30
gram granul.

9. Pengujian BJ nyata 30 gram granul dan


diketuk sebanyak 10 dan 200 kali.

10. Pengujian BJ sejati.


Penimbangan piknometer kosong, piknom
eter + 1 gram granul , piknometer + 1 g
granul + cairan pendispersi (paraffin cair)
dan piknometer + cairan pendispersi.

11. Penimbangan granul 50 gram dan diayak


dengan mesh no 10,12,14, dan 16 untuk
pengujian granulometri.

55
12. Penimbangan hasil dari pengayakan
mesh no 10,12,14, dan 16.

13. Pencetakan tablet dengan alat pencetak


tablet single punch.

14. Pengukuran keseragaman ukuran


diameter dan tebalnya menggunakan
jangka sorong.

15. Pengukuran kekerasan dengan


menggunakan hardnes tester.

56
16. Pengujian friabilitas dengan alat
friabilator (100 kali putaran)

17. Penggerusan tablet untuk pengujian kadar


zat aktif dalam tablet.

18. Penimbangan serbuk tablet untuk uji kadar


zat aktif dan pengenceran dengan pelarut
buffer fosfat ad 100 ml.

57
19. Pengenceran buffer posfat ad 10 ml.
Lihat hasil kadar dengan menggunakan
spektrofotometer. Hasil absorbansi 0,696

20. Bejana diisi dengan air, suhu diatur 370C.


Dan dimasukan 5 tablet untuk uji waktu
hancur.

21. Hasil waktu hancur tablet 6 menit 24 detik.

58
22. Hasil keseragaman bobot

59