Anda di halaman 1dari 1

TATA CARA SHOLAT GERHANA

Sebelum shalat ada baiknya seseorang melafalkan niat terlebih dahulu sebagai berikut:

Ushallî sunnatal khusûf rak‘ataini lillâhi ta‘âlâ.


Artinya, “Saya shalat sunah gerhana bulan dua rakaat karena Allah SWT.”

Adapun secara teknis, shalat sunah gerhana bulan sendirian adalah sebagai berikut:

1. Niat di dalam hati ketika takbiratul ihram.


2. Mengucap takbir ketika takbiratul ihram sambil niat di dalam hati.
3. Baca ta‘awudz dan Surat Al-Fatihah. Setelah itu baca salah satu surat pendek
Al-Quran dengan jahar (lantang).
4. Rukuk.
5. Itidal.
6. Sujud pertama.
7. Duduk di antara dua sujud.
10.Sujud kedua.

11.Duduk istirahat atau duduk sejenak sebelum bangkit untuk mengerjakan rakaat
kedua.

12.Bangkit dari duduk, lalu mengerjakan rakaat kedua dengan gerakan yang sama
dengan rakaat pertama. Durasi pengerjaan rakaat kedua lebih pendek daripada
pengerjaan rakaat pertama.

13.Salam.

14.Istighfar dan doa.

Shalat sunah gerhana bulan juga dapat dikerjakan dengan ringkas. Seseorang
membaca Surat Al-Fatihah saja pada setiap rakaat tanpa surat pendek atau dengan
surat pendek. Ini lebih ringkas seperti keterangan Syekh Ibnu Sayyid Muhammad
Syatha Ad-Dimyathi dalam I’anatut Thalibin berikut ini:
“Kalau seseorang membatasi diri pada bacaan Surat Al-Fatihah saja, maka itu sudah
memadai. Tetapi kalau seseorang membatasi diri pada bacaan surat-surat pendek
setelah baca Surat Al-Fatihah, maka itu tidak masalah,” (Lihat Syekh Ibnu Sayyid
Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, Beirut, Darul Fikr, 2005 M/1425-
1426 H, juz I, halaman 303).
Selagi gerhana bulan berlangsung, maka kesunahan shalat sunah gerhana bulan tetap
berlaku. Tidak ada batasan jumlah rakaat shalat gerhana bulan menurut Madzhab
Maliki. Hanya saja shalat sunah gerhana bulan ini dikerjakan per dua rakaat. Demikian
tata cara shalat gerhana bulan berdasarkan Madzhab Hanafi dan Madzhab
Maliki. Wallahu a’lam.