Anda di halaman 1dari 19

Koordinat: 7°48′9,88″LU 110°23′2,11″BT

Soedirman
"Sudirman" beralih ke halaman ini. Untuk tokoh lainnya, lihat Sudirman (disambiguasi).
Jenderal Besar Raden Soedirman (EYD: Sudirman; lahir 24 Januari
1916 – meninggal 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun[a]) adalah Raden
seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Soedirman
Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesia
pertama, ia secara luas terus dihormati di Indonesia. Terlahir dari
pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Hindia Belanda, Soedirman
diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya
pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi
seorang siswa rajin; ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler,
termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh
organisasi Islam Muhammadiyah. Saat di sekolah menengah,
Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan
berorganisasi, dan dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada
Islam. Setelah berhenti kuliah keguruan, pada 1936 ia mulai bekerja
sebagai seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di
sekolah dasar Muhammadiyah; ia juga aktif dalam kegiatan
Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda [[Panglima Besar Tentara Keamanan
Muhammadiyah pada tahun 1937. Setelah Jepang menduduki Hindia Rakyat]] ke-1
Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia
Masa jabatan
bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori
12 November 1945 – 29 Januari 1950
Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama
Presiden Soekarno
menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan
pemberontakan, namun kemudian diasingkan keBogor. Pengganti Soeharto
Informasi pribadi
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17
Lahir 24 Januari 1916[a]
Agustus 1945, Soedirman melarikan diri dari pusat penahanan,
Purbalingga, Hindia
kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu denganPresiden Soekarno. Ia
Belanda
ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di
Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Meninggal dunia 29 Januari 1950
Keamanan Rakyat. Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V (umur 34)
pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Magelang,
Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut. Pada tanggal 12 Indonesia
November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima Makam Taman Makam
besar TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi panglima besar, Pahlawan Semaki
sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, 7°48′9,88″LU
menjadi kepala staff. Sembari menunggu pengangkatan, Soedirman 110°23′2,11″BT
memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Penghargaan sipil Pahlawan Nasional
Ambarawa. Pertempuran ini dan penarikan diri tentara Inggris Indonesia
menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Soedirman,
Tanda tangan
dan ia akhirnya diangkat sebagai panglima besar pada tanggal 18
Desember. Selama tiga tahun berikutnya, Soedirman menjadi saksi
kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin Dinas militer
kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Pihak Kekaisaran Jepang
Linggarjati –yang turut disusun oleh Soedirman – dan kemudian (1944–1945)
Perjanjian Renville –yang menyebabkan Indonesia harus Indonesia (1945–
mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I 1950)
kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia. Ia juga
Dinas/cabang TNI Angkatan Darat
menghadapi pemberontakan dari dalam, termasuk upaya kudeta pada
1948. Ia kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai
Masa dinas 1944–1950
penyebab penyakit tuberkulosis-nya; karena infeksi tersebut, paru-paru
Pangkat Letnan Jenderal (saat
kanannya dikempeskan pada bulan November 1948.
kematian)
Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman Jenderal (anumerta, 1950)
keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk
menduduki Yogyakarta. Di saat pemimpin-pemimpin politik berlindung
Jenderal Besar
di kraton sultan, Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan
dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai
(anumerta, 1997)
perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Awalnya mereka diikuti oleh
Komando Tentara PETA,
pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan
mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari Banyumas
tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, Divisi V TKR, Banyumas
termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin Pertempuran/perang Revolusi Nasional
oleh Letnan Kolonel Soeharto. Ketika Belanda mulai menarik diri, Indonesia
Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949.
Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang
diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui
kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan diTaman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Kematian Soedirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul
untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Soedirman terus dihormati oleh rakyat Indonesia. Perlawanan gerilyanya ditetapkan
sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometer (62 mi) yang
ditempuhnya harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer. Soedirman ditampilkan dalam uang kertas
rupiah keluaran 1968, dan namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan, universitas, museum, dan monumen. Pada tanggal 10
Desember 1964, ia ditetapkan sebagaiPahlawan Nasional Indonesia.

Daftar isi
Kehidupan awal
Mengajar
Masa pendudukan Jepang
Revolusi Nasional
Panglima besar
Negosiasi dengan Belanda
Perang gerilya
Pasca-perang dan kematian
Peninggalan
Catatan
Referensi

Kehidupan awal
Soedirman lahir dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem saat pasangan ini tinggal di rumah saudari Siyem yang bernama Tarsem
di Rembang, Bodas Karangjati, Purbalingga, Hindia Belanda. Tarsem sendiri bersuamikan seorang camat bernama Raden
Cokrosunaryo.[b][c][1][2] Menurut catatan keluarga, Soedirman –dinamai oleh pamannya –lahir pada Minggu pon di bulan Maulud
dalam penanggalan Jawa; pemerintah Indonesia kemudian menetapkan 24 Januari 1916 sebagai hari ulang tahun Soedirman. Karena
kondisi keuangan Cokrosunaryo yang lebih baik, ia mengadopsi Soedirman dan memberinya gelar Raden, gelar kebangsawanan pada
suku Jawa.[1] Soedirman tidak diberitahu bahwa Cokrosunaryo bukanlah ayah kandungnya sampai ia berusia 18 tahun.[3] Setelah
Cokrosunaryo pensiun sebagai camat pada akhir 1916, Soedirman ikut dengan keluarganya ke Manggisan, Cilacap. Di tempat inilah
ia tumbuh besar.[1] Di Cilacap, Karsid dan Siyem memiliki seorang putra lain bernama Muhammad Samingan. Karsid meninggal
dunia saat Soedirman berusia enam tahun, dan Siyem menitipkan kedua putranya pada saudara iparnya dan kembali ke kampung
halamannya di Parakan Onje, Ajibarang.[1][4][5]

Soedirman dibesarkan dengan cerita-cerita kepahlawanan, juga diajarkan etika dan tata krama priyayi,[6] serta etos kerja dan
kesederhanaan wong cilik, atau rakyat jelata.[7] Untuk pendidikan agama, ia dan adiknya mempelajari Islam di bawah bimbingan
Kyai Haji Qahar; Soedirman adalah anak yang taat agama dan selalushalat tepat waktu. Ia dipercaya untuk mengumandangkanadzan
dan iqamat.[8] Saat berusia tujuh tahun, Soedirman terdaftar di sekolah pribumi (hollandsch inlandsche school).[6][9] Meskipun hidup
berkecukupan, keluarga Soedirman bukanlah keluarga kaya. Selama menjabat sebagai camat, Cokrosunaryo tidak mengumpulkan
banyak kekayaan, dan di Cilacap ia bekerja sebagai penyalur mesin jahitSinger.[4]

Pada tahun kelimanya bersekolah, Soedirman diminta untuk berhenti sekolah sehubungan dengan ejekan yang diterimanya di sekolah
milik pemerintah;[d] permintaan ini awalnya ditolak, namun Soedirman dipindahkan ke sekolah menengah milik Taman Siswa pada
tahun ketujuh sekolah.[6][9][10] Pada tahun kedelapan, Soedirman pindah ke Sekolah Menengah Wirotomo[e] setelah sekolah Taman
Siswa ditutup oleh Ordonansi Sekolah Liar karena diketahui tidak terdaftar.[10][11][12] Kebanyakan guru Soedirman di Wirotomo
[11] Soedirman belajar dengan tekun
adalah nasionalis Indonesia, yang turut mempengaruhi pandangannya terhadap penjajah Belanda.
di sekolah; gurunya Suwarjo Tirtosupono menyatakan bahwa Soedirman sudah mempelajari pelajaran tingkat dua di saat kelas masih
mempelajari pelajaran tingkat satu. Meskipun lemah dalam pelajaran kaligrafi Jawa, Soedirman sangat pintar dalam pelajaran
matematika, ilmu alam, dan menulis, baik bahasa Belanda maupun Indonesia.[13] Soedirman juga menjadi semakin taat agama di
bawah bimbingan gurunya, Raden Muhammad Kholil. Teman-teman sekelasnya memanggilnya "haji" karena ketaatannya dalam
beribadah, dan Soedirman juga memberikan ceramah agama kepada siswa lain.[14] Selain belajar dan beribadah, Soedirman juga
berpartisipasi dalam kelompok musik sekolah dan bergabung dengan tim sepak bola sebagai bek.[15] Kematian Cokrosunaryo pada
tahun 1934 menyebabkan keluarganya jatuh miskin, namun ia tetap diizinkan untuk melanjutkan sekolahnya tanpa membayar sampai
ia lulus pada akhir tahun.[14][16] Setelah kepergian ayah tirinya, Soedirman mencurahkan lebih banyak waktunya untuk mempelajari
Sunnah dan doa.[17] Pada usia 19 tahun, Soedirman menjadi guru praktik di W
irotomo.[11]

Saat bersekolah di Wirotomo, Soedirman adalah anggota Perkumpulan Siswa Wirotomo, klub drama, dan kelompok musik.[18] Ia
membantu mendirikan cabang Hizboel Wathan, sebuah organisasi Kepanduan Putra milik Muhammadiyah. Soedirman menjadi
pemimpin Hizboel Wathan cabang Cilacap setelah lulus dari Wirotomo;[19][20] tugasnya adalah menentukan dan merencanakan
kegiatan kelompoknya. Soedirman menekankan perlunya pendidikan agama, bersikeras bahwa kontingen dari Cilacap harus
menghadiri konferensi Muhammadiyah di seluruh Jawa.[21] Ia mengajari para anggota muda Hizboel Wathan[f] tentang sejarah Islam
.[22]
dan pentingnya moralitas, sedangkan pada anggota yang lebih tua ia berlakukan disiplin militer

Mengajar
Setelah lulus dari Wirotomo, Soedirman belajar selama satu tahun di Kweekschool (sekolah guru) yang dikelola oleh Muhammadiyah
di Surakarta, tetapi berhenti karena kekurangan biaya.[23] Pada 1936, ia kembali ke Cilacap untuk mengajar di sebuah sekolah dasar
Muhammadiyah, setelah dilatih oleh guru-gurunya di Wirotomo. Pada tahun yang sama, Soedirman menikahi Alfiah, mantan teman
sekolahnya dan putri seorang pengusaha batik kaya bernama Raden Sastroatmojo.[24][25] Setelah menikah, Soedirman tinggal di
rumah mertuanya di Cilacap agar ia bisa menabung untuk membangun rumah sendiri.[24] Pasangan ini kemudian dikaruniai tiga
orang putra; Ahmad Tidarwono, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, dan Taufik Effendi, serta empat orang putri; Didi Praptiastuti,
Didi Sutjiati, Didi Pudjiati, dan Titi Wahjuti Satyaningrum.[25][26]
Sebagai guru, Soedirman mengajarkan murid-muridnya pelajaran moral dengan menggunakan contoh dari kehidupan para rasul dan
kisah wayang tradisional.[24] Salah seorang muridnya menyatakan bahwa Soedirman adalah guru yang adil dan sabar yang akan
mencampurkan humor dan nasionalisme dalam pelajarannya; hal ini membuatnya populer di kalangan muridnya.[27] Meskipun
bergaji kecil, Soedirman tetap mengajar dengan giat. Akibatnya, dalam beberapa tahun Soedirman diangkat menjadi kepala sekolah
meskipun tidak memiliki ijazah guru.[28] Sebagai hasilnya, gaji bulanannya meningkat empat kali lipat dari tiga gulden menjadi dua
belas setengah gulden. Sebagai kepala sekolah, Soedirman mengerjakan berbagai tugas-tugas administrasi, termasuk mencari jalan
tengah di antara guru yang berseteru. Seorang rekan kerjanya mengisahkan bahwa Soedirman adalah seorang pemimpin yang
moderat dan demokratis.[29] Ia juga aktif dalam kegiatan penggalangan dana, baik untuk kepentingan pembangunan sekolah ataupun
untuk pembangunan lainnya.[30]

Selama waktu-waktu ini, Soedirman juga terus bergiat sebagai anggota Kelompok Pemuda Muhammadiyah. Dalam kelompok ini, ia
dikenal sebagai negosiator dan mediator yang lugas, berupaya untuk memecahkan masalah antar para anggota; ia juga berdakwah di
masjid setempat.[31] Soedirman terpilih sebagai Ketua Kelompok Pemuda Muhammadiyah Kecamatan Banyumas pada akhir 1937.
Selama menjabat, ia memfasilitasi seluruh kegiatan dan pendidikan para anggota, baik dalam bidang agama ataupun sekuler. Ia
kemudian mengikuti seluruh kegiatan Kelompok Pemuda di Jawa Tengah[24][32] dan menghabiskan sebagian besar waktu luangnya
dengan melakukan perjalanan dan berdakwah, dengan penekanan pada kesadaran diri.[33] Alfiah juga aktif dalam kegiatan kelompok
putri Muhammadiyah Nasyiatul Aisyiyah.[34]

Masa pendudukan Jepang


Ketika Perang Dunia II pecah di Eropa, diperkirakan bahwa Jepang, yang telah
bergerak mendekati Cina daratan, akan berupaya menginvasi Hindia. Sebagai
tanggapan, pemerintah kolonial Belanda –yang sebelumnya membatasi
pelatihan militer bagi pribumi – mulai mengajari rakyat cara-cara menghadapi
serangan udara. Menindaklanjuti hal ini, Belanda kemudian membentuk tim
Persiapan Serangan Udara. Soedirman, yang disegani oleh masyarakat, diminta
untuk memimpin tim di Cilacap. Selain mengajari warga setempat mengenai
prosedur keselamatan untuk menghadapi serangan udara, Soedirman juga
mendirikan pos pemantau di seluruh daerah. Ia dan Belanda juga menangani
pesawat udara yang menjatuhkan material untuk mensimulasikan pengeboman;
[35] Gubernur Jenderal Tjarda van
hal ini bertujuan untuk mempertinggi tingkat respon.
Starkenborgh Stachouwerdan Jenderal
Jepang mulai menduduki Hindia pada awal 1942 setelah memenangkan Hein ter Poorten dibawa ke sebuah kamp
penahanan, keduanya menyerah setelah
beberapa pertempuran melawan pasukan Belanda dan tentara Koninklijk
tentara Jepang menyerang pada tanggal 9
Nederlands-Indische Leger (KNIL) yang dilatih oleh Belanda. Pada 9 Maret Maret 1942, yang berlanjut ke
1942, Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan Jenderal pendudukan selama tiga setengah tahun.
KNIL Hein ter Poorten menyerah. Peristiwa ini menimbulkan perubahan
drastis dalam pemerintahan nusantara dan dan semakin memperburuk kualitas
hidup warga non-Jepang di Hindia, banyak masyarakat pribumi yang menderita dan mengalami pelanggaran hak asasi manusia di
tangan Jepang.[36] Di Cilacap, sekolah tempat Soedirman mengajar ditutup dan dialih fungsikan menjadi pos militer;[37] ini adalah
bagian dari upaya pemerintah untuk menutup sekolah-sekolah swasta.[g][38] Setelah Soedirman berhasil meyakinkan Jepang untuk
membuka kembali sekolah, ia dan guru lainnya terpaksa menggunakan perlengkapan standar. Selama periode ini, Soedirman juga
terlibat dalam beberapa organisasi sosial dan kemanusiaan, termasuk sebagai ketua Koperasi Bangsa Indonesia.[37] Hal ini
[39]
membuatnya semakin dihormati di kalangan masyarakat Cilacap.

Pada awal 1944, setelah menjabat selama satu tahun sebagai perwakilan di dewan karesidenan yang dijalankan oleh Jepang (Syu
Sangikai),[40] Soedirman diminta untuk bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA). Jepang sendiri mendirikan PETA pada
Oktober 1943 untuk membantu menghalau invasi Sekutu,[40][41] dan berfokus dalam merekrut para pemuda yang belum
"terkontaminasi" oleh pemerintah Belanda.[42] Meskipun sempat ragu-ragu, terutama karena cedera lutut yang dialaminya ketika
masih remaja, Soedirman akhirnya setuju untuk memulai pelatihan di Bogor, Jawa Barat. Sehubungan dengan posisinya di
masyarakat, Soedirman dijadikan sebagai komandan daidanco)
( dan dilatih bersama orang lain dengan pangkat yang sama. Di Bogor,
ia dilatih oleh para perwira dan tentara Jepang, para taruna dipersenjatai dengan peralatan yang disita dari Belanda. Setelah empat
bulan pelatihan, Soedirman ditempatkan di batalion Kroya, Banyumas, Jawaengah,
T tidak jauh dari Cilacap.[h][40][41][43][44]

Jabatan Soedirman sebagai komandan PETA berlalu tanpa banyak peristiwa hingga tanggal 21 April 1945, ketika tentara PETA di
bawah komando Kusaeri mulai melancarkan pemberontakan terhadap Jepang. Diperintahkan untuk menghentikan pemberontakan
tersebut, Soedirman setuju untuk melakukannya dengan syarat agar pemberontak PETA tidak dibunuh, dan lokasi persembunyian
mereka tidak dimusnahkan; syarat ini diterima oleh komandan Jepang, dan Soedirman beserta pasukannya mulai mencari para
pemberontak. Meskipun anak buah Kusaeri berhasil menembak komandan Jepang, Soedirman melalui pengeras suara
mengumumkan bahwa mereka tidak akan dibunuh, dan para pemberontak pun mundur.[45] Kusaeri menyerah pada tanggal 25
April.[i] Peristiwa ini meningkatkan dukungan terhadap Soedirman di kalangan tentara Jepang, meskipun beberapa perwira tinggi
Jepang menyatakan keprihatinannya atas dukungan Soedirman bagi kemerdekaan Indonesia. Soedirman dan anak buahnya kemudian
dikirim ke sebuah kamp di Bogor dengan alasan akan dilatih; namun sebenarnya mereka dipekerjakan sebagai pekerja kasar dalam
A akan dibunuh.[46]
upaya untuk mencegah pemberontakan lebih lanjut, dan desas-desus mengatakan bahwa perwira PET

Revolusi Nasional

Panglima besar
Setelah berita tentang pengeboman Hiroshima dan Nagasaki mencapai Hindia
pada awal Agustus 1945, yang kemudian diikuti oleh proklamasi kemerdekaan
Indonesia pada tanggal 17 Agustus,[46] kontrol Jepang sudah mulai melemah.
Soedirman memimpin pelarian dari pusat penahanan di Bogor. Meskipun
rekannya sesama tahanan ingin menyerang tentara Jepang, Soedirman
menentang hal itu. Setelah memerintahkan yang lainnya untuk kembali ke
kampung halamannya, Soedirman berangkat menuju Jakarta dan bertemu
dengan Presiden Soekarno, yang memintanya untuk memimpin perlawanan
terhadap pasukan Jepang di kota. Karena tidak terbiasa dengan lingkungan
Jakarta, Soedirman menolaknya, ia malah menawarkan diri untuk memimpin
Rumah dinas Soedirman di Yogyakarta;
pasukan di Kroya. Soedirman bergabung dengan pasukannya pada tanggal 19 saat ini menjadi Museum Sasmitaloka.
Agustus 1945.[47][48] Di saat yang bersamaan, pasukan Sekutu sedang dalam
proses merebut kembali kepulauan Indonesia untuk Belanda,[j] tentara Inggris
pertama kali tiba pada tanggal 8 September 1945.[49]

Pada tanggal 22 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam sidangnya memutuskan untuk membentuk
tiga badan sebagai wadah untuk menyalurkan potensi perjuangan rakyat. Badan tersebut adalah Komite Nasional Indonesia (KNI),
Partai Nasional Indonesia (PNI), dan Badan Keamanan Rakyat (BKR).[50] BKR merupakan bagian dari Badan Penolong Keluarga
Korban Perang (BPKKP) yang semula bernama Badan Pembantu Prajurit, dan kemudian menjadi Badan Pembantu Pembelaan
(BPP). BPP sudah ada sejak zaman Jepang dan bertugas memelihara kesejahteraan anggota-anggota tentara PETA dan Heihō.[50]
Pada tanggal 18 Agustus 1945, Jepang membubarkan PETA dan Heihō. Tugas untuk menampung mantan anggota PETA dan Heihō
ditangani oleh BPKKP.[51] Pembentukan BKR merupakan perubahan dari hasil sidang PPKI pada tanggal 19 Agustus 1945 yang
telah memutuskan untuk membentuk Tentara Kebangsaan, yang diumumkan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 23 Agustus
1945.[50] BKR ini berfungsi sebagai organisasi kepolisian,[52] terutama karena pemimpin politik saat itu yang berniat memanfaatkan
diplomasi sebagai sarana penggalangan bantuan internasional terhadap negara baru, dan juga untuk memungkinan tentara Jepang
[53]
melihatnya sebagai sebuah ancaman bersenjata sehingga mencegah kemunculan tentara Jepang yang masih ada di nusantara.

Soedirman dan beberapa rekannya sesama tentara PETA mendirikan cabang BKR di Banyumas pada akhir Agustus, setelah
sebelumnya singgah di Kroya dan mengetahui bahwa batalion di sana telah dibubarkan. Dalam pertemuannya dengan komandan
wilayah Jepang, Saburo Tamura, dan Residen Banyumas, Iwashige, Soedirman dan Iskak Cokroadisuryo memaksa Jepang untuk
menyerahkan diri dan memberikan senjata mereka, sementara kerumunan warga Indonesia bersenjata mengepung kamp Jepang.
Sebagian besar senjata ini kemudian digunakan oleh unit BKR Soedirman, menjadikan unitnya sebagai salah satu unit dengan senjata
[54][55][56][57]
terbaik di Indonesia; sisa senjata juga dibagikan kepada batalion lain.

Sebagai negara yang baru merdeka dan belum memiliki militer yang professional, pada tanggal 5 Oktober 1945 Soekarno
mengeluarkan dekret pembentukanTentara Keamanan Rakyat(TKR, sekarang dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia). Sebagian
besar personelnya adalah mantan tentara KNIL, sedangkan perwira tinggi berasal dari PETA dan Heihō.[58] Dekret mengangkat
Soeprijadi sebagai Panglima Besar TKR, namun ia tidak muncul,[k] dan kepala staff Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo ditetapkan
sebagai pemimpin sementara.[59] Pada bulan Oktober, pasukan Inggris, yang bertugas melucuti senjata tentara Jepang dan
memulangkan tawanan perang Belanda, tiba di Semarang, dan kemudian bergerak menuju Magelang. Ketika Inggris mulai
mempersenjatai kembali tentara Belanda yang menjadi tawanan perang dan sepertinya sedang mempersiapkan sebuah pangkalan
militer di Magelang, Soedirman –yang sekarang menjadi kolonel – mengirim beberapa pasukannya di bawah pimpinan Letnan
Kolonel Isdiman untuk mengusir mereka; misi ini berhasil, dan tentara Eropa menarik diri dari Ambarawa, di tengah-tengah
Magelang dan Semarang.[60] Pada 20 Oktober, Soedirman membawahi Divisi V[l] setelah Oerip membagi Pulau Jawa menjadi divisi
militer yang berbeda.[61]

Pada tanggal 12 November 1945, dalam pertemuan pertama TKR, Soedirman terpilih sebagai pemimpin TKR setelah melalui
pemungutan suara buntu dua tahap. Pada tahap ketiga, Oerip mengumpulkan 21 suara, sedangkan Soedirman unggul dengan 22
suara; para komandan divisi Sumatera semuanya memilih Soedirman.[m][62][63][64] Soedirman, yang saat itu berusia 29 tahun,
terkejut atas hasil pemilihan dan menawarkan diri untuk melepas posisi tersebut kepada Oerip, namun para peserta rapat tidak
mengizinkannya. Oerip, yang telah kehilangan kendali dalam pertemuan bahkan sebelum pemungutan suara dimulai, merasa senang
karena tidak lagi bertanggung jawab atas TKR. Soedirman tetap menunjuk Oerip sebagai kepala staff. Sesuai dengan jabatan
barunya, Soedirman dipromosikan menjadi Jenderal.[65][66][67] Setelah pertemuan, Soedirman kembali ke Banyumas sembari
menunggu persetujuan pemerintah dan mulai mengembangkan strategi mengenai bagaimana mengusir tentara Sekutu.[66][68] Rakyat
Indonesia khawatir bahwa Belanda, yang diboncengi oleh Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA), akan berupaya untuk
merebut kembali nusantara. Tentara gabungan Belanda-Inggris telah mendarat di Jawa pada bulan September, dan pertempuran besar
telah terjadi di Surabaya pada akhir Oktober dan awal November.[69] Ketidakstabilan ini, serta keraguan Soekarno atas kualifikasi
Soedirman,[n] menyebabkan terlambatnya pengangkatan Soedirman sebagai pemimpin TKR.
[70]

Sambil menunggu pengangkatan, pada akhir November Soedirman


memerintahkan Divisi V untuk menyerang pasukan Sekutu di Ambarawa,
sekali lagi dikomandoi oleh Isdiman; kota itu dianggap penting secara strategis
karena memiliki barak militer dan fasilitas pelatihan yang sudah ada sejak
zaman penjajahan. Serangan ini dilumpuhkan oleh serangan udara dan tank-
tank Sekutu, yang memaksa divisi untuk mundur, Isdiman sendiri tewas dalam
pertempuran, terbunuh oleh pemberondong P-51 Mustang.[71][72] Soedirman Markas TKR pertama, terletak di
Gondokusuman, Yogyakarta; saat ini
kemudian memimpin Divisi dalam serangan lain terhadap pasukan Sekutu;
menjadi Museum Dharma Wiratama.
tentara Indonesia dipersenjatai dengan berbagai senjata, mulai dari bambu
runcing dan katana sitaan sebagai senjata, sedangkan tentara Inggris
dipersenjatai dengan peralatan modern. Soedirman memimpin di barisan depan sambil memegang sebuah katana.[73] Sekutu, yang
fasilitas serangan udaranya telah musnah saat tentara gerilya menyerang Lapangan Udara Kalibanteng di Semarang, berhasil dipukul
mundur dan bersembunyi di Benteng Willem. Pada 12 Desember, Soedirman memimpin pengepungan empat hari, yang
[o][68][74]
menyebabkan pasukan Sekutu mundur ke Semarang.

Pertempuran Ambarawa membuat Soedirman lebih diperhatikan di tingkat nasional,[55] dan membungkam bisik-bisik yang
menyatakan bahwa ia tidak layak menjadi pemimpin TKR karena kurangnya pengalaman militer dan pekerjaannya sebelumnya
adalah guru sekolah.[75] Pada akhirnya, Soedirman dipilih karena kesetiaannya yang tidak diragukan, sementara kesetiaan Oerip
kepada Belanda dipandang dengan penuh kecurigaan. Soedirman dikukuhkan sebagai panglima besar TKR pada tanggal 18
Desember 1945.[70] Posisinya sebagai kepala Divisi V digantikan oleh Kolonel Sutiro,[61] dan mulai berfokus pada masalah-masalah
strategis.[76] Hal yang dilakukannya antara lain dengan membentuk dewan penasihat, yang bertugas memberikan saran mengenai
masalah-masalah politik dan militer.[p] Oerip sendiri menangani masalah-masalah militer
.[77]
Bersama-sama, Soedirman dan Oerip mampu mengurangi perbedaan dan rasa
ketidakpercayaan yang tumbuh di antara mantan tentara KNIL dan PETA, meskipun beberapa
tentara tidak bersedia tunduk kepada militer pusat, dan lebih memilih untuk mengikuti
komandan batalion pilihan mereka. Pemerintah mengganti nama Angkatan Perang sebanyak
dua kali pada Januari 1946, yang pertama adalah Tentara Keselamatan Rakjat, kemudian
diganti lagi menjadi Tentara Repoeblik Indonesia (TRI).[78][79][80] Pergantian nama ini
diakhiri dengan membentuk secara resmi angkatan laut dan angkatan udara pada awal
1946.[79] Sementara itu, pemerintah Indonesia memindahkan pusat pemerintahan dari
Jakarta – sekarang di bawah kontrol Belanda – ke Yogyakarta pada bulan Januari; delegasi
yang dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir melakukan negosiasi dengan Belanda pada
bulan April dan Mei terkait dengan pengakuan kedaulatan Indonesia, namun tidak
berhasil.[81] Pada tanggal 25 Mei, Soedirman dikukuhkan kembali sebagai panglima besar
setelah reorganisasi dan perluasan militer.[79][78][82] Dalam upacara pengangkatannya,
Soedirman, awal 1946 Soedirman bersumpah untuk melindungi republik "sampai titik darah penghabisan."[q][83]
Menteri Pertahanan yang berhaluan kiri, Amir Sjarifuddin, memperoleh kekuasaan yang lebih
besar setelah reorganisasi militer. Ia mulai mengumpulkan para tentara sosialis dan komunis di
bawah kontrolnya, termasuk unit paramiliter (laskar) sayap kiri yang setia dan didanai oleh berbagai partai politik.[r] Sjarifuddin
melembagakan program pendidikan politik di tubuh angkatan perang, yang bertujuan untuk menyebarkan ideologi sayap kiri.
Memanfaatkan militer sebagai alat manuvering politik tidak disetujui oleh Soedirman dan Oerip, yang pada saat itu disibukkan
dengan penerapan perlakuan yang sama bagi tentara dari latar belakang militer berbeda.[84][85][86] Namun, rumor yang beredar
mengabarkan bahwa Soedirman sedang mempersiapkan sebuah kudeta;[87] upaya kudeta tersebut terjadi pada awal Juli 1946, dan
peran Soedirman, kalaupun ada, tidak dapat dipastikan.[s][88] Pada bulan Juli, Soedirman mengonfirmasi rumor ini melalui pidato
yang disiarkan di Radio Republik Indonesia(RRI), menyatakan bahwa ia, seperti semua rakyat Indonesia, adalah abdi negara,[87] dan
[89] Di kemudian hari, ia menyatakan bahwa militer tidak memiliki tempat
jika dirinya ditawari jabatan presiden, ia akan menolaknya.
dalam politik, begitu juga sebaliknya.[90]

Negosiasi dengan Belanda


Sementara itu, Sjahrir terus berusaha bernegosiasi dengan pasukan Sekutu.
Pada tanggal 7 Oktober 1946, Sjahrir dan mantan Perdana Menteri Belanda,
Wim Schermerhorn, sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Perundingan
ini dimoderatori oleh diplomat Inggris Lord Killearn, dan juga melibatkan
Soedirman. Ia berangkat ke Jakarta dengan menggunakan kereta khusus pada
tanggal 20 Oktober. Namun, ia diperintahkan untuk kembali ke Yogyakarta
setelah tentara Belanda tidak mengizinkan dirinya dan anak buahnya
memasuki Jakarta dengan bersenjata. Soedirman merasa bahwa perintah
tersebut melanggar harga dirinya; Belanda kemudian meminta maaf, Soedirman tiba di Jakarta pada tanggal 1
menyatakan bahwa peristiwa ini hanyalah kesalahpahaman. Soedirman November 1946
berangkat dengan kereta lainnya pada akhir Oktober, dan tiba di Stasiun
Gambir pada tanggal 1 November. Di Jakarta, ia disambut oleh kerumunan
besar.[91][92] Perundingan di Jakarta berakhir dengan perumusan Perjanjian Linggarjati pada tanggal 15 November; perjanjian ini
disahkan pada 25 Maret 1947, meskipun ditentang oleh para nasionalis Indonesia.[93][94] Soedirman secara lantang juga menentang
perjanjian tersebut karena ia tahu bahwa perjanjian itu akan merugikan kepentingan Indonesia,[95] namun menganggap dirinya juga
wajib mengikuti perintah.[96]

Pada awal 1947, kondisi sudah relatif damai setelah Perjanjian Linggarjati. Soedirman mulai berupaya untuk mengonsolidasikan
TKR dengan berbagai laskar. Dalam upayanya ini, Soedirman mulai melaksanakan reorganisasi militer; kesepakatan baru bisa
tercapai pada Mei 1947, dan pada 3 Juni 1947, Tentara Nasional Indonesia (TNI) diresmikan. TNI terdiri dari TKR dan tentara dari
berbagai kelompok laskar,[95] yang berhasil dirangkul Soedirman setelah mengetahui bahwa mereka dimanfaatkan oleh partai-partai
politik.[97] Namun, gencatan senjata yang berlangsung pasca Perjanjian Linggarjati tidak bertahan lama. Pada tanggal 21 Juli 1947,
tentara Belanda –yang telah menduduki wilayah peninggalan Inggris selama penarikan mereka – melancarkan Agresi Militer, dan
dengan cepat berhasil menguasai sebagian besar Jawa dan Sumatera. Meskipun demikian, pemerintahan pusat diogyakarta
Y tetap tak
tersentuh.[98] Soedirman menyerukan kepada para tentara untuk melawan dengan menggunakan semboyan "Ibu Pertiwi
memanggil!,[t][99] dan kemudian menyampaikan beberapa pidato melalui RRI, namun upayanya ini gagal mendorong tentara untuk
berperang melawan Belanda.[100] Terlebih lagi, tentara Indonesia sedang tidak siap dan pertahanan mereka ditaklukkan dengan
cepat.[101]

Setelah ditekan oleh PBB, yang memandang situasi di bekas Hindia dengan
remeh, pada 29 Agustus 1947 Belanda menciptakanGaris Van Mook. Garis ini
membagi wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Belanda dan Indonesia. Di
sepanjang garis ini, gencatan senjata diberlakukan.[103] Soedirman memanggil
para gerilyawan Indonesia yang bersembunyi di wilayah taklukan Belanda,
Garis Van Mook, wilayah yang dikontrol
memerintahkan mereka agar kembali ke wilayah yang dikuasai Indonesia.
oleh Indonesia ditandai dengan warna
Untuk tetap mengobarkan semangat mereka, ia menyebut penarikan ini dengan merah;[102] pada 1947 Soedirman
hijrah, merujuk pada perjalanan nabi Muhammad ke Madinah pada tahun 622 terpaksa menarik kembali lebih dari
M, dan meyakinkan bahwa mereka akan kembali.[104] Lebih dari 35.000 35.000 tentara dari wilayah taklukan
tentara meninggalkan Jawa bagian barat dan berangkat menuju Yogyakarta Belanda.
dengan menggunakan kereta dan kapal laut.[105] Perbatasan ini diresmikan
melalui Perjanjian Renville pada 17 Januari 1948; penandatangan perjanjian
ini di antaranya adalah Amir Sjarifuddin, yang pada saat itu menjabat sebagai perdana menteri.[103] Di saat yang bersamaan,
Sjarifuddin mulai merasionalisasi TNI (Program Re-Ra) dengan memangkas jumlah pasukan.[106] Pada saat itu, tentara reguler
.[107]
terdiri dari 350.000 personel, dan lebih dari 470.00 terdapat di laskar

Dengan adanya program ini, pada tanggal 2 Januari 1948 Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden No.1 Tahun 1948,
yang memecah pucuk pimpinan TNI menjadi Staf Umum Angkatan Perang dan Markas Besar Pertempuran. Staf Umum dimasukkan
ke dalam Kementerian Pertahanan di bawah seorang Kepala Staf Angkatan Perang (KASAP). Sementara itu, Markas Besar
Pertempuran dipimpin oleh seorang Panglima Besar Angkatan Perang Mobil. Pucuk pimpinan TNI dan Staf Gabungan Angkatan
Perang beserta seluruh perwira militer dihapus, dan pangkatnya diturunkan satu tingkat. Presiden kemudian mengangkat Soerjadi
Soerjadarma sebagai Kepala Staf Angkatan Perang dengan Kolonel T.B. Simatupang sebagai wakilnya. Sebagai Panglima Besar
Angkatan Perang Mobil diangkat Soedirman. Staf Umum Angkatan Perang bertugas sebagai perencana taktik dan siasat serta
berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan, sedangkan Staf Markas Besar Angkatan Perang Mobil adalah pelaksana taktis
operasional.[108]

Keputusan Presiden ini menimbulkan reaksi di kalangan angkatan perang.


Pada tanggal 27 Februari 1948, presiden mengeluarkan Ketetapan Presiden
No.9 Tahun 1948 yang membatalkan ketetapan yang lama. Dalam ketetapan
yang baru ini, Staf Angkatan Perang tetap di bawah Soerjadi Soerjadarma,
sedangkan Markas Besar Pertempuran tetap di bawah Soedirman, ditambah
wakil panglima yaitu Djenderal Major[u] A.H. Nasution. Angkatan perang
berada di bawah seorang Kepala Staf Angkatan Perang (KASAP) yang
Pelantikan Soedirman diIstana Negara. membawahi Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), Kepala Staf Angkatan
Laut (KASAL), dan Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU). Dalam
penataannya, organisasi ini dibagi menjadi 2 bagian; penataan kementerian dan
pimpinan tertinggi ditangani oleh KASAP, sementara mengenai pasukan serta daerah-daerah pertahanan ditangani oleh Wakil
Panglima Besar Angkatan Perang.

Tak lama setelah itu, Sjafruddin digulingkan dalam mosi tidak percaya atas keterlibatannya dalam Perjanjian Renville, dan perdana
menteri yang baru, Muhammad Hatta, berupaya untuk menerapkan program rasionalisasi.[109][106][110] Hal ini menimbulkan
perdebatan di antara kelompok yang pro dan anti-rasionalisasi. Soedirman menjadi tempat mengadu dan pendorong semangat bagi
para tentara, termasuk sejumlah komandan senior yang menentang program rasionalisasi. Soedirman secara resmi dikembalikan ke
posisinya pada tanggal 1 Juni 1948. Untuk menyelesaikan penataan organisasi ini, Soedirman membentuk sebuah panitia yang
anggotanya ditunjuk oleh Panglima sendiri. Anggota panitia terdiri dari Djenderal Major Soesalit Djojoadhiningrat (mantan PETA
dan laskar), Djenderal Major Suwardi (mantan KNIL) dan Djenderal Major A.H. Nasution dari perwira muda. Penataan organisasi
TNI selesai pada akhir tahun 1948, setelah Panglima Tentara dan Teritorium Sumatera, Kolonel Hidajat Martaatmadja,
menyelesaikan penataan organisasi tentara di Pulau Sumatera.[111]

Setelah program rasionalisasi mereda, Sjarifuddin mulai mengumpulkan tentara dari Partai Sosialis, Partai Komunis, dan anggota
Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia untuk mengobarkan revolusi proletar di Madiun, Jawa Timur, yang berlangsung pada
tanggal 18 September 1948. Soedirman, yang saat itu sedang sakit, mengirim Nasution untuk memadamkan revolusi;[112] Soedirman
juga mengirim dua perwira lainnya sebagai antena perdamaian sebelum serangan. Meskipun pemimpin revolusi, Muso, telah sepakat
untuk berdamai,[113] Nasution dan pasukannya berhasil menumpas pemberontakan pada 30 September.[v][112] Soedirman
mengunjungi Madiun tidak lama setelah pertempuran; ia mengatakan kepada istrinya bahwa ia tidak bisa tidur di sana karena
pertumpahan darah yang terjadi.[114]

Pemberontakan di Madiun, dan ketidakstabilan politik yang sedang


berlangsung, melemahkan kondisi kesehatan Soedirman. Pada tanggal 5
Oktober 1948, setelah perayaan hari jadi TNI ketiga, Soedirman pingsan.
Setelah diperiksa oleh berbagai dokter, ia didiagnosis mengidap tuberkulosis
(TBC). Pada akhir bulan, ia dibawa ke Rumah Sakit Umum Panti Rapih dan
menjalani pengempesan paru-paru kanan, dengan harapan bahwa tindakan ini
akan menghentikan penyebaran penyakit tersebut. Selama di rumah sakit, ia
melimpahkan sebagian tugas kepada Nasution. Mereka berdua terus
mendiskusikan rencana untuk berperang melawan Belanda, dan Soedirman
Rumah Sakit Umum Panti Rapih(difoto
secara rutin menerima laporan. Mereka sepakat bahwa perang gerilya, yang
sekitar tahun 1956) tempat Soedirman
dirawat karena tuberkulosis. telah diterapkan di wilayah taklukan Belanda sejak bulan Mei, adalah perang
yang paling cocok bagi kepentingan mereka; untuk mewujudkan hal ini,
Soedirman mengeluarkan perintah umum pada 11 November,[115][116] dan
persiapannya ditangani oleh Nasution.[w][117] Soedirman dipulangkan dari rumah sakit pada tanggal 28 November 1948.
[115][116]

Meskipun ia terus mengeluarkan perintah, Soedirman baru kembali aktif bertugas pada tanggal 17 Desember
. Seiring dengan semakin
meningkatnya ketegangan antara tentara Indonesia dan Belanda, ia memerintahkan TNI untuk meningkatkan kewaspadaan;[118] ia
juga memerintahkan latihan militer skala besar dalam upayanya – yang gagal – untuk meyakinkan Belanda bahwa TNI terlalu kuat
untuk diserang.[119] Dua hari kemudian, diumumkan bahwa mereka tak lagi terikat dengan Perjanjian Renville. Pada 19 Desember,
Belanda melancarkanAgresi Militer Kedua untuk merebut ibu kota Yogyakarta. Pukul 07.00 Waktu Indonesia Barat, lapangan udara
di Maguwo berhasil diambil alih oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Kapten Eekhout. Soedirman, yang telah menyadari
serangan itu, memerintahkan stasiun RRI untuk menyiarkan pernyataan bahwa para tentara harus melawan karena mereka telah
dilatih – sebagai gerilyawan.[120]

Soedirman kemudian mengunjungi Istana Presiden di Yogyakarta, tempat


para pemimpin pemerintahan sedang mendiskusikan ultimatum yang
Perintah Kilat
No. 1/PB/D/48
menyatakan bahwa kota itu akan diserbu kecuali para pemimpin
menerima kekuasaan kolonial. Soedirman mendesak presiden dan wakil 1. Kita telah diserang.
presiden agar meninggalkan kota dan berperang sebagai gerilyawan, 2. Pada tanggal 19 Desember 1948 Angkatan
Perang Belanda menyerang kota
namun sarannya ini ditolak. Meskipun dokter melarangnya, Soedirman
Yogyakarta dan lapangan terbang Maguwo.
mendapat izin dari Soekarno untuk bergabung dengan anak buahnya. 3. Pemerintah Belanda telah membatalkan
Pemerintah pusat dievakuasi ke Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat atas persetujuan Gencatan Senjata.
desakan Sultan Hamengkubuwono IX, namun mereka tertangkap dan 4. Semua Angkatan Perang menjalankan
rencana yang telah ditetapkan untuk
diasingkan.[121][122]
menghadapi serangan Belanda.[x]
Pidato radio Soedirman, dari Imran (1980 )

Perang gerilya
Sebelum memulai gerilya, Soedirman pertama-tama pergi ke rumah dinasnya dan mengumpulkan dokumen-dokumen penting, lalu
membakarnya untuk mencegahnya jatuh ke tangan Belanda.[123] Soedirman, bersama sekelompok kecil tentara dan dokter
pribadinya, mulai bergerak ke arah selatan menuju Kretek, Parangtritis, Bantul. Setibanya di sana, mereka disambut oleh bupati pada
pukul 18.00. Selama di Kretek, Soedirman mengutus tentaranya yang menyamar ke kota yang telah diduduki oleh Belanda untuk
melakukan pengintaian, dan meminta istrinya menjual perhiasannya untuk membantu mendanai gerakan gerilya. Setelah beberapa
hari di Kretek, ia dan kelompoknya melakukan perjalanan ke timur di sepanjang pantai selatan menuju Wonogiri.[124] Sebelum
Belanda menyerang, sudah diputuskan bahwa Soedirman akan mengontrol para gerilyawan dari Jawa Timur, yang masih memiliki
beberapa pangkalan militer.[125] Sementara itu, Alfiah dan anak-anaknya diperintahkan untuk tinggal di Kraton.[109] Sadar bahwa
Belanda sedang memburu mereka, pada tanggal 23 Desember Soedirman memerintahkan pasukannya untuk melanjutkan perjalanan
ke Ponorogo. Di sana, mereka berhenti di rumah seorang ulama bernama Mahfuz; Mahfuz memberi sang jenderal sebuah tongkat
untuk membantunya berjalan, meskipun Soedirman terus dibopong dengan menggunakan tandu di sepanjang perjalanan. Mereka
kemudian melanjutkan perjalanan ke timur.[126]

Di dekat Trenggalek, Soedirman dan kelompoknya dihentikan oleh prajurit TNI dari Batalion
102.[127] Para tentara ini diberitahu bahwa Soedirman –yang saat itu berpakaian sipil dan dan
tidak dikenali oleh tentara yang menghentikan mereka – adalah tahanan dan menolak untuk
melepaskan Soedirman dan kelompoknya;[128] mereka mencurigai konvoi Soedirman yang
membawa peta dan catatan militer Indonesia, benda yang mungkin dimiliki oleh mata-
mata.[129] Ketika sang komandan, Mayor Zainal Fanani, datang untuk memeriksa keadaan, ia
menyadari bahwa orang itu adalah Soedirman dan segera meminta maaf. Fanani beralasan
bahwa tindakan anak buahnya sudah tepat karena menjaga wilayah dengan saksama. Ia juga
menyebutkan tentang sebuah pos di Kediri dan menyediakan mobil untuk mengangkut
Soedirman dan pasukannya. Setelah beberapa saat di Kediri, mereka melanjutkan perjalanan
lebih jauh ke timur; setelah mereka meninggalkan kota pada tanggal 24 Desember, Belanda
berencana untuk menyerang Kediri.[128]

Soedirman, dikelilingi oleh Serangan Belanda yang berkelanjutan menyebabkan Soedirman harus mengganti pakaiannya
para gerilyawan selama dan memberikan pakaian lamanya pada salah seorang prajuritnya, Letnan Heru Kesser –yang
perang gerilya. memiliki kemiripan dengan Soedirman.[128][130][131] Kesser diperintahkan untuk menuju
selatan bersama sekompi besar tentara, mengganti pakaiannya, dan diam-diam kembali ke
utara, sedangkan Soedirman menunggu di Karangnongko. Pengalihan ini berhasil, dan pada
27 Desember, Soedirman dan anak buahnya bergerak menuju Desa Jambu dan tiba pada 9 Januari 1949. Di sana, Soedirman bertemu
dengan beberapa menteri yang tidak berada di Yogyakarta saat penyerangan: Supeno, Susanto Tirtoprojo, dan Susilowati. Bersama
para politisi ini, Soedirman berjalan ke Banyutuwo sambil memerintahkan beberapa tentaranya untuk menahan pasukan Belanda. Di
Banyutuwo, mereka menetap selama seminggu lebih. Namun, pada 21 Januari, tentara Belanda mendekati desa. Soedirman dan
[128]
rombongannya terpaksa meninggalkan Banyutuwo, berjuang menembus jalan dalam hujan lebat.

Soedirman dan pasukannya terus melakukan perjalanan melewati hutan dan rimba, akhirnya tiba di Sobo, di dekat Gunung Lawu,
pada tanggal 18 Februari. Selama perjalanannya ini, Soedirman menggunakan sebuah radio untuk memberi perintah pada pasukan
TNI setempat jika ia yakin bahwa daerah itu aman. Merasa lemah karena kesulitan fisik yang ia hadapi, termasuk perjuangannya
melewati hutan dan kekurangan makanan, Soedirman yakin bahwa Sobo aman dan memutuskan untuk menggunakannya sebagai
markas gerilya.[132][133] Komandan tentara setempat, Letnan Kolonel Wiliater Hutagalung, berperan sebagai perantara antara dirinya
dengan pemimpin TNI lain. Mengetahui bahwa opini internasional yang mulai mengutuk tindakan Belanda di Indonesia bisa
membuat Indonesia menerima pengakuan yang lebih besar, Soedirman dan Hutagalung mulai membahas kemungkinan untuk
melakukan serangan besar-besaran.[134] Sementara itu, Belanda mulai menyebarkan propaganda yang mengklaim bahwa mereka
[55][135]
telah menangkap Soedirman; propaganda tersebut bertujuan untuk mematahkan semangat para gerilyawan.

Soedirman memerintahkan Hutagalung untuk mulai merencanakan serangan besar-besaran, dengan prajurit TNI berseragam akan
menyerang Belanda dan mununjukkan kekuatan mereka di depan wartawan asing dan tim investigasi PBB. Hutagalung, bersama para
prajurit dan komandannya, Kolonel Bambang Sugeng, serta pejabat pemerintahan di bawah pimpinan Gubernur Wongsonegoro,
menghabiskan waktu beberapa hari dengan membahas cara-cara untuk memastikan agar serangan itu berhasil.[134] Pertemuan ini
menghasilkan rencana Serangan Umum 1 Maret 1949; pasukan TNI akan menyerang pos-pos Belanda di seluruh Jawa Tengah.
Pasukan TNI di bawah komando Letnan Kolonel Soeharto berhasil merebut kembali Yogyakarta dalam waktu enam belas jam,
menjadi unjuk kekuatan yang sukses dan menyebabkan Belanda kehilangan muka di mata internasional; Belanda sebelumnya
menyatakan bahwa TNI sudah diberantas.[134][136] Namun, siapa tepatnya yang memerintahkan serangan ini masih belum jelas:
Soeharto dan Hamengkubuwono IX sama-sama mengaku bertanggung jawab atas serangan ini, sedangkan saudara Bambang Sugeng
[137]
juga menyatakan bahwa dia lah yang telah memerintahkan serangan tersebut.

Karena semakin meningkatnya tekanan dari PBB, pada 7 Mei 1949 Indonesia dan
Belanda menggelar perundingan, yang menghasilkan Perjanjian Roem-Royen.
Perjanjian ini menyatakan bahwa Belanda harus menarik pasukannya dari
Yogyakarta, beserta poin-poin lainnya;[y][138] Belanda mulai menarik pasukannya
pada akhir Juni, dan para pemimpin Indonesia di pengasingan kembali ke
Yogyakarta pada awal Juli. Soekarno lalu memerintahkan Soedirman untuk kembali
ke Yogyakarta, tetapi Soedirman menolak untuk membiarkan Belanda menarik diri
tanpa perlawanan; ia menganggap pasukan TNI pada saat itu sudah cukup kuat
untuk mengalahkan pasukan Belanda. Meskipun ia dijanjikan akan diberi obat- Soedirman (kiri), berkonsultasi
obatan dan dukungan di Yogyakarta, Soedirman menolak untuk kembali ke kalangan dengan Letnan KolonelSoeharto di
politisi, yang menurutnya telah sepaham dengan Belanda. Soedirman baru setuju Sobo
untuk kembali ke Yogyakarta setelah menerima sebuah surat, yang pengirimnya
masih diperdebatkan.[z] Pada tanggal 10 Juli, Soedirman dan kelompoknya kembali
ke Yogyakarta, mereka disambut oleh ribuan warga sipil dan diterima dengan hangat oleh para elit politik di sana.[139][140] Wartawan
Rosihan Anwar, yang hadir pada saat itu, menulis pada 1973 bahwa "Soedirman harus kembali ke Yogyakarta untuk menghindari
[141]
anggapan adanya keretakan antar pemimpin tertinggi republik".

Pasca-perang dan kematian


Pada awal Agustus, Soedirman mendekati Soekarno dan memintanya untuk melanjutkan perang gerilya; Soedirman tidak percaya
bahwa Belanda akan mematuhi Perjanjian Roem-Royen, belajar dari kegagalan perjanjian sebelumnya. Soekarno tidak setuju, yang
menjadi pukulan bagi Soedirman. Soedirman menyalahkan ketidak-konsistenan pemerintah sebagai penyebab penyakit
tuberkulosisnya dan kematian Oerip pada 1948, ia mengancam akan mengundurkan diri dari jabatannya, namun Soekarno juga
mengancam akan melakukan hal yang sama.[109][142][143] Setelah ia berpikir bahwa pengunduran dirinya akan menyebabkan
ketidakstabilan, Soedirman tetap menjabat,[144] dan gencatan senjata di seluruh Jawa mulai diberlakukan pada tanggal 11 Agustus
1949.[145]

Soedirman terus berjuang melawan TBC dengan melakukan pemeriksaan di


Panti Rapih.[144] Ia menginap di Panti Rapih menjelang akhir tahun, dan
keluar pada bulan Oktober; ia lalu dipindahkan ke sebuah sanatorium di dekat
Pakem.[146] Akibat penyakitnya ini, Soedirman jarang tampil di depan
publik.[147][148][149] Ia dipindahkan ke sebuah rumah di Magelang pada
bulan Desember.[150] Di saat yang bersamaan, pemerintah Indonesia dan
Belanda mengadakan konferensi panjang selama beberapa bulan yang
berakhir dengan pengakuan Belanda atas kedaulatan Indonesia pada 27
Desember 1949.[151] Meskipun sedang sakit, Soedirman saat itu juga Jenazah Soedirman disemayamkan di
diangkat sebagai panglima besar TNI di negara baru bernama Republik rumahnya di Yogyakarta

Indonesia Serikat. Pada 28 Desember, Jakarta kembali dijadikan sebagai ibu


kota negara.[146]

Soedirman wafat di Magelang pada pukul 18.30 tanggal 29 Januari 1950; kabar duka ini dilaporkan dalam sebuah siaran khusus di
RRI.[147] Setelah berita kematiannya disiarkan, rumah keluarga Soedirman dipadati oleh para pelayat, termasuk semua anggota
Brigade IX yang bertugas di lingkungan tersebut. Keesokan harinya, jenazah Soedirman dibawa ke Yogyakarta, diiringi oleh konvoi
pemakaman yang dipimpin oleh empat tank dan delapan puluh kendaraan
bermotor,[149] dan ribuan warga yang berdiri di sisi jalan. Konvoi tersebut
diselenggarakan oleh anggota Brigade IX.[150]

Jenazah Soedirman disemayamkan di Masjid Gedhe Kauman pada sore hari, yang
dihadiri oleh sejumlah elit militer dan politik Indonesia maupun asing, termasuk
Perdana Menteri Abdul Halim, Menteri Pertahanan Hamengkubuwono IX, Menteri
Kesehatan Johannes Leimena, Menteri Keadilan Abdoel Gaffar Pringgodigdo,
Peti mati Soedirman dibopong oleh Menteri Informasi Arnold Mononutu, Kepala Staff TNI AU Soerjadi Soerjadarma,
para tentara.
Kolonel Paku Alam VIII, dan Soeharto. Upacara ini ditutup dengan prosesi hormat
24 senjata.[149] Jenazah Soedirman kemudian dibawa ke Taman Makam Pahlawan
Semaki dengan berjalan kaki, sementara kerumunan pelayat sepanjang 2 kilometer (1,2 mi) mengiringi di belakang.[149] Ia
[152] lalu diikuti oleh
dikebumikan di sebelah Oerip setelah prosesi hormat senjata. Istrinya menuangkan tanah pertama ke makamnya,
para menteri.[149] Pemerintah pusat memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung di seluruh
negeri,[148] dan Soedirman dipromosikan menjadi jenderal penuh.[55] Djenderal Major Tahi Bonar Simatupang terpilih sebagai
pemimpin angkatan perang yang baru.[149] Memoar Soedirman diterbitkan pada tahun itu, dan rangkaian pidato-pidatonya juga
diterbitkan pada tahun 1970.[153]

Peninggalan
Surat kabar harian Yogyakarta, Kedaulatan Rakjat, menulis bahwa Indonesia telah
kehilangan seorang "pahlawan yang jujur dan pemberani."[aa][148] Kolonel Paku
Alam VIII, yang bertanggung jawab atas wilayah Yogyakarta, mengatakan kepada
kantor berita nasional Antara bahwa seluruh rakyat Indonesia, khususnya angkatan
perang, telah "kehilangan seorang bapak yang tidak ternilai jasa-jasanya kepada
tanah air".[ab][55] Tokoh Muslim Indonesia, Haji Abdul Malik Karim Amrullah,
menggambarkan sosok Soedirman sebagai "lambang dari kebangunan jiwa
pahlawan Indonesia",[ac][90] sedangkan politisi Muslim Muhammad Isa Anshary
menyatakan bahwa Soedirman adalah "putra revolusi, karena dia lahir dalam
revolusi, dan dibesarkan oleh revolusi".[ad][154] Dalam sebuah pidato radio, Hatta
mengungkapkan bahwa Soedirman adalah sosok yang tidak mungkin bisa dikontrol
dan keras kepala, tetapi tetap bertekad untuk melakukan yang benar bagi negara;
Hatta berkata meskipun Soedirman tidak menyukai jabatan pemerintahan, ia secara Makam Soedirman di Taman Makam
umum tetap mematuhi perintahnya.[55] Namun, Hamengkubuwono IX Pahlawan Semaki Yogyakarta;
makam ini telah menjadi tujuan para
mengungkapkan bahwa tentara terlatih seperti Abdul Haris Nasution dan Tahi Bonar
peziarah.
Simatupang kecewa terhadap Soedirman karena latar belakang dan pengetahuan
teknik militernya yang buruk.[155]

Opini modern yang berkembang di Indonesia mengenai Soedirman cenderung berupa pujian. Sardiman, seorang profesor sejarah di
Universitas Negeri Yogyakarta, menulis bahwa Soedirman hidup sebagai pembicara seperti Soekarno, yang dikenal karena pidatonya
yang berapi-api,[156] dan pemimpin yang berbakti dan tidak bisa disuap.[157] Sejarawan Indonesia dan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nugroho Notosusanto menggambarkan Soedirman sebagai "satu-satunya idolanya", menyatakan bahwa masa-masa
gerilya sang jenderal adalah asal esprit de corps TNI.[158] Kampanye gerilya Soedirman lebih ditekankan dalam biografinya karena
pada masa ini, angkatan perang memiliki peran yang lebih besar jika dibandingkan dengan pemimpin politik di pengasingan.[158]
Sejak 1970-an, semua taruna militer harus menelusuri kembali rute gerilya Soedirman sepanjang 100-kilometer (62 mi) sebelum
lulus dari Akademi Militer, bentuk "ziarah" yang bertujuan untuk menanamkan rasa perjuangan.[159] Makam Soedirman juga
menjadi tujuan ziarah, baik dari kalangan militer ataupun masyarakat umum.[160] Menurut Katharine McGregor dari Universitas
[161]
Melbourne, militer Indonesia telah memuliakan status Soedirman menjadi semacam orang suci.
Soedirman telah menerima berbagai tanda kehormatan dari pemerintah pusat secara anumerta, termasuk Bintang Sakti, Bintang
Gerilya,[162] Bintang Mahaputra Adipurna,[163] Bintang Mahaputra Pratama,[164] Bintang Republik Indonesia Adipurna,[165] dan
Bintang Republik Indonesia Adipradana.[166][ae] Pada 10 Desember 1964, Soedirman ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional
Indonesia melalui Keputusan Presiden No. 314 Tahun 1964. Oerip juga dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional oleh keputusan yang
sama.[167] Soedirman dipromosikan menjadiJenderal Besar pada tahun 1997.[168]

Menurut McGregor, militer memanfaatkan sosok Soedirman sebagai simbol


kepemimpinan setelah mereka meraih kekuasaan politik.[153] Gambar Soedirman
ditampilkan dalam seri uang kertas rupiah terbitan 1968.[af] Soedirman juga
ditampilkan sebagai karakter utama dalam beberapa film perang, termasuk Janur
Kuning (1979) dan Serangan Fajar (1982).[153]

Soedirman pada uang kertas 5 Terdapat banyak museum yang didedikasikan untuk Soedirman. Rumah masa
rupiah keluaran 1968. kecilnya di Purbalingga saat ini menjadi Museum Soedirman,[169] sedangkan rumah
dinasnya di Yogyakarta dijadikan Museum Sasmitaloka Jenderal Soedirman.[153]
Rumah kelahirannya di Magelang juga dijadikan Museum Soedirman, yang
didirikan pada tanggal 18 Mei 1967 dan menyimpan barang-barang milik sang jenderal.[170] Museum lainnya, termasuk Monumen
Yogya Kembali di Yogyakarta dan Museum Satria Mandala di Jakarta, memiliki ruangan khusus yang didedikasikan untuk
dirinya.[153] Sejumlah jalan juga dinamai sesuai namanya, termasuk sebuah jalan utama di Jakarta;[109] McGregor menyatakan
bahwa hampir setiap kota di Indonesia memiliki jalan bernama Soedirman. Patung dan monumen yang didedikasikan untuk dirinya
juga tersebar di seluruh negeri, sebagian besarnya dibangun setelah tahun 1970.[153] Universitas Jenderal Soedirman di Purwokerto,
[171]
Banyumas, didirikan pada 1963 dan dinamai sesuai namanya.

Catatan
a. ^ a b 24 Januari 1916 adalah tanggal yang diakui pemerintah Indonesia.anggal
T yang sebenarnya mungkin berbeda
(Adi 2011, hlm. 1–2). Sejarawan Solichin Salam misalnya, menjadikan 7 Februari 1912 sebagai tanggal lahir
Soedirman, sejarawan lain Yusuf Puar menjadikan 7 September 1912 sebagai tanggal lahirnya (dikutip dariSaid
1991, hlm. 80).
b. ^ Karsid dan istrinya pindah ke Rembang pada tahun 1915, setelah Karsid berhenti dari pekerjaannya di perkebunan
gula Belanda di Purbalingga (Sardiman 2008, hlm. 8); sumber lainnya menyatakan bahwa ia dipecatAdi ( 2011,
hlm. 1–2). Jaraknya 145 kilometer (90 mi) melalui darat, dan saat itu Siyem sedang mengandungSardiman
( 2008,
hlm. 8).
c. ^ Cokrosunaryo tidak memiliki anak I(mran 1980, hlm. 2).
d. ^ Adi (2011) Soedirman mungkin diejek karena latar belakangnya, sebagian besar teman-teman sekelasnya pasti
berasal dari keluarga bangsawan tua atau orang-orang yang memiliki hubungan yang kuat dengan Belanda.
e. ^ Wirotomo secara harfiah berarti "gerbang utama" Sardiman
( 2008, hlm. 19).
f. ^ Hizboel Wathan terbuka bagi anak-anak yangberusia tujuh tahun. (Sardiman 2008, hlm. 37).
g. ^ Ada perdebatan mengenai siapa yang menutup sekolah, apakah BelandaSardiman ( 2008, hlm. 108) atau Jepang
(Imran 1980, hlm. 17).
h. ^ Pangkat seorang perwira didasarkan pada kedudukannya dalam masyarakat. Perwira tingkat terendah, pemimpin
peleton yang disebut shodanco, adalah para lulusan baru. Komandan, yang disebutcudanco, diambil dari warga
masyarakat. Komandan batalion diambil dari tokoh-tokoh yang dihormati dalam masyarakatSardiman( 2008,
hlm. 109). Said (1991) menulis bahwa daidanco berfungsi sebagai figur pemimpin dan motivator , dan pelatihan
militer yang diterimanya lebih sedikit. Soedirman terus menjabat sebagai daidanco pada masa revolusi.
i. ^ atas perannya dalam pemberontakan, Kusaeri dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer Jepang. Namun,
karena Jepang mulai terdesak oleh pasukan Sekutu, ia tidak jadi dieksekusiAdi ( 2011, hlm. 32).
j. ^ Australia dan Amerika Serikat misalnya, melakukan kampanye ekstensif diGuinea Baru dan Borneo pada tahun
1945, (Coates 2006, hlm. 278–280, 282) dan Inggris merebut kembali Singapura pada September 1945Bayly ( &
Harper 2007, hlm. 194).
k. ^ Soeprijadi, seorang tentara PETA yang memimpin pemberontakan terhadap tentara Jepang diBlitar pada Februari
1945, dianggap sudah tewas. Sejarawan Amrin Imran berpendapat bahwa pengangkatan Soeprijadi mungkin adalah
cara untuk mengetahui apakah ia masih hidup atau tidak; diperkirakan bahwa ia mungkin akan menghubungi
pemerintah di Jakarta untuk mengambil alih jabatan ini jika ia masih hidupImran
( 1983, hlm. 71–72). Sedangkan
Said (1991) berpendapat bahwa pengangkatan Soeprijadi menunjukkan keraguan Soekarno dalam membangun
angkatan perang.
l. ^ Divisi V mencakup Kedu dan Banyumas. Divisi ini adalah salah satu divisi yang dibentuk oleh OeripSardiman
(
2008, hlm. 126–127).
m. ^ Said (1991) menulis bahwa kurangnya bimbingan politik saat Oerip menjabat sebagai panglima sementara
menyebabkan militer lebih memilih untuk menentukan pemimpinnya sendiri, bukannya melalui penunjukan.
Pertemuan ini juga memilih Hamengkubuwono IX sebagai menteri pertahanan; pemilihan ini tidak diakui oleh
pemerintah, yang memilih Amir Sjarifuddin Said
( 1991, hlm. 41).
n. ^ Soedirman pada saat itu hanya memiliki dua tahun pengalaman militerAdi ( 2011, hlm. 50) Calon terkemuka
lainnya, Oerip, telah menjadi perwira militer sejak Soedirman belum lahirImran
( 1983, hlm. 27).
o. ^ Sejarawan Richard McMillan menulis pada tahun 2005, berpendapat bahwa mundurnya tentara Sekutu tidak
disebabkan oleh serangan, tetapi mandat Inggris untuk memulangkan semua tawanan perang telah selesai (dikutip
dalam Setiadi & Yuliawati 2012, hlm. 22).
p. ^ Said (1991) mencatat bahwa setelah perang, banyak pemimpin militer dan politik Indonesia yang menyatakan
bahwa mereka pernah bertugas di dewan ini
q. ^ Asli: "... sampai titi' darah jang penghabisan."
r. ^ misalnya: Partai Sosialis Indonesiamemiliki Pesindo, sedangkanPartai Masyumi memiliki Hisbullah (Said 1991,
hlm. 24).
s. ^ Perdana Menteri Sjahrir dan beberapa menteri lainnya diculik pada 27 Juni 1946 namun dilepaskan tidak lama
kemudian. Pada tanggal 3 Juli, Djenderal Major Sudarsono Reksoprodjo tiba di istana presiden diogyakarta
Y
dengan membawa sebuah nota, konon dari Soedirman, menyatakan bahwa Soedirman sekarang menjadi presiden
dan telah membubarkan kabinet. Sudarsono dan para pengikutnya, kebanyakan dari mereka adalah pendukung Tan
Malaka, ditangkap. Soedirman membantah keterlibatannya, mengatakan pada Soekarno bahwa perintahnya selalu
ditulis tangan (Said 1991, hlm. 63–65).
t. ^ Asli: "Iboe Pertiwi memanggil! Iboe Pertiwi memanggil! " Ibu Pertiwi adalah personifikasi Indonesia.
u. ^ Sebelum keluar keputusanKASAD tanggal 21 Mei 1957, pangkat Djenderal Major adalah pangkat perwira tinggi
bintang satu.
v. ^ Terjadi 'pembersihan' terhadap kelompok sayap kiri selama beberapa bulan. Sjarifuddin adalah salah satu di antara
mereka yang dieksekusi karena terlibat dalam pemberontakanAdi ( 2011, hlm. 82–84).
w. ^ dalam peristiwa pemerintahan pusat dikuasai, rencana ini memungkinkan pembentukan pemerintahan yang
didominasi oleh militer di Jawa dan dipimpin oleh kantor pusat. Rencana ini akhirnya dimulai setelah Agresi Militer
Belanda II (Said 1991, hlm. 102–105).
x. ^ Asli:
Perintah Kilat
No. 1/PB/D/48

1. Kita telah diserang.


2. Pada tanggal 19 Desember 1948 Angkatan Perang Belanda menjerang kota Jogjakarta dan lapangan terbang
Magoewo.
3. Pemerintah Belanda telah membatalkan persetoedjoean Gentjatan Sendjata.
4. Semoea Angkatan Perang mendjalankan rentjana jang telah ditetapkan oentoek menghadapi serangan Belanda.
y. ^ Perjanjian ini pada awalnya ditentang baik oleh militer Indonesia maupun Belanda, namun akhirnya tetap disahkan
(Said 1991, hlm. 116–118).
z. ^ Said (1991) menyatakan bahwa surat itu ditulis oleh Hamengkubuwono IX dan diantarkan oleh Suharto,
sedangkan Imran (1980) berpendapat bahwa surat itu dari bawahan sekaligus teman dekat Soedirman, Kolonel
Gatot Soebroto.
aa. ^ Asli: "... seorang pahlawan jang djudjur dan berani"
ab. ^ Asli: "... seluruh rakjat Indonesia umumnja dan angkatan perang chususnja, kehilangan seorang bapak jg tidak
ternilai djasa2nja kepada tanah air ..."
ac. ^ Asli: " ... lambang dari kebangunan djiwa pahlawan Indonesia. "
ad. ^ Asli: "Putera revolusi, karena dia lahir dalam revolusi, dan dibesarkan oleh revolusi.
ae. ^ bintang Sakti adalah tanda kehormatan militer tingkat tinggi bagi yang menunjukkan keberanian melampaui
panggilan tugas (UU No. 20/2009, hlm. 4, 10, 23). Bintang Mahaputra adalah tanda kehormatan tingkat tinggi bagi
orang-orang yang telah membantu pembangunan Indonesia, menjadi ahli dalam bidang tertentu, atau secara luas
diakui atas pengorbanan mereka bagi negara UU ( No. 20/2009, hlm. 4, 9, 23). Bintang Republik Indonesia adalah
tanda kehormatan tertinggi yang diberikan bagi warga sipilSaragih
( 2012, SBY bestows honors).
af. ^ Ini termasuk pecahan 1, 2½, 5, 10, 25, 50, 100, 500, dan 1000 rupiahCuhaj
( 2012, hlm. 501–502).

Referensi
Catatan kaki

^abcd
1. ^ a b c d Adi 2011, hlm. 1–2.
2. ^ Imran 1980, hlm. 1.
3. ^ Imran 1980, hlm. 3.
4. ^ a b Imran 1980, hlm. 4.
5. ^ Sardiman 2008, hlm. 7.
6. ^ a b c Adi 2011, hlm. 3.
7. ^ Sardiman 2008, hlm. 12.
8. ^ Sardiman 2008, hlm. 14–15.
9. ^ a b Sardiman 2008, hlm. 16–17.
10. ^ a b Imran 1980, hlm. 10.
11. ^ a b c Adi 2011, hlm. 4.
12. ^ Sardiman 2008, hlm. 18.
13. ^ Sardiman 2008, hlm. 20–21.
14. ^ a b Adi 2011, hlm. 6.
15. ^ Adi 2011, hlm. 5.
16. ^ Sardiman 2008, hlm. 73.
17. ^ Sardiman 2008, hlm. 28.
18. ^ Sardiman 2008, hlm. 22.
19. ^ Adi 2011, hlm. 7–9.
20. ^ Sardiman 2008, hlm. 39.
21. ^ Sardiman 2008, hlm. 46.
22. ^ Sardiman 2008, hlm. 48–49.
23. ^ Sardiman 2008, hlm. 74.
24. ^ a b c d Adi 2011, hlm. 10–13.
25. ^ a b Imran 1980, hlm. 15.
26. ^ Tjokropranolo 1992, hlm. 326.
27. ^ Sardiman 2008, hlm. 76.
28. ^ Adi 2011, hlm. 14.
29. ^ Sardiman 2008, hlm. 80–83.
30. ^ Sardiman 2008, hlm. 84.
31. ^ Sardiman 2008, hlm. 53–54.
32. ^ Sardiman 2008, hlm. 56.
33. ^ Sardiman 2008, hlm. 87–88.
34. ^ Sardiman 2008, hlm. 66.
35. ^ Sardiman 2008, hlm. 98.
36. ^ Adi 2011, hlm. 18–24.
37. ^ a b Adi 2011, hlm. 26–27.
38. ^ Imran 1980, hlm. 17.
39. ^ Imran 1980, hlm. 20.
40. ^ a b c Imran 1980, hlm. 21–22.
41. ^ a b Adi 2011, hlm. 28–30.
42. ^ Said 1991, hlm. 6.
43. ^ Sardiman 2008, hlm. 109–112.
44. ^ Setiadi & Yuliawati 2012, hlm. 36.
45. ^ Adi 2011, hlm. 31.
46. ^ a b Adi 2011, hlm. 32.
47. ^ Adi 2011, hlm. 33–34.
48. ^ Sardiman 2008, hlm. 121–122.
49. ^ Adi 2011, hlm. 36.
50. ^ a b c TNI 2000, hlm. 1.
51. ^ Nasution 1963, hlm. 106.
52. ^ Anderson 2005, hlm. 103–106.
53. ^ Said 1991, hlm. 11.
54. ^ Adi 2011, hlm. 42–43.
55. ^ a b c d e f KR 1950, Djenderal Sudirman Wafat.
56. ^ Sardiman 2008, hlm. 123.
57. ^ Said 1991, hlm. 13.
58. ^ Anderson 2005, hlm. 232–234.
59. ^ Imran 1983, hlm. 71–72.
60. ^ Imran 1980, hlm. 28.
61. ^ a b Sardiman 2008, hlm. 126–127.
62. ^ Nasution 2011, hlm. 196.
63. ^ Imran 1980, hlm. 30.
64. ^ Sardiman 2008, hlm. 132.
65. ^ Imran 1983, hlm. 74–79.
66. ^ a b Adi 2011, hlm. 46.
67. ^ Setiadi & Yuliawati 2012, hlm. 20.
68. ^ a b Imran 1980, hlm. 32.
69. ^ Ricklefs 1993, hlm. 217.
70. ^ a b Adi 2011, hlm. 50.
71. ^ Sardiman 2008, hlm. 136.
72. ^ Setiadi & Yuliawati 2012, hlm. 22.
73. ^ Sardiman 2008, hlm. 214–215.
74. ^ Sardiman 2008, hlm. 137.
75. ^ Sardiman 2008, hlm. 216.
76. ^ Sardiman 2008, hlm. 142.
77. ^ Said 1991, hlm. 59–61.
78. ^ a b Anderson 2005, hlm. 372–373.
79. ^ a b c Adi 2011, hlm. 51.
80. ^ Said 1991, hlm. 44.
81. ^ Adi 2011, hlm. 53.
82. ^ Imran 1983, hlm. 80–81.
83. ^ Imran 1980, hlm. 35.
84. ^ Imran 1983, hlm. 82–84.
85. ^ Adi 2011, hlm. 56–57.
86. ^ Sardiman 2008, hlm. 145.
87. ^ a b Adi 2011, hlm. 58.
88. ^ Said 1991, hlm. 63–65.
89. ^ Sardiman 2008, hlm. 146.
90. ^ a b Sardiman 2008, hlm. 218.
91. ^ Adi 2011, hlm. 60–61.
92. ^ Sardiman 2008, hlm. 151.
93. ^ Britannica, Linggadjati Agreement.
94. ^ Adi 2011, hlm. 66.
95. ^ a b Imran 1980, hlm. 38–40.
96. ^ Sardiman 2008, hlm. 155.
97. ^ Said 1991, hlm. 67.
98. ^ Adi 2011, hlm. 71.
99. ^ Sardiman 2008, hlm. 157.
100. ^ Adi 2011, hlm. 73.
101. ^ Said 1991, hlm. 68.
102. ^ Kahin 1952, hlm. 223.
103. ^ a b Kahin 1952, hlm. 218–221.
104. ^ Adi 2011, hlm. 77–78.
105. ^ Adi 2011, hlm. 79–80.
106. ^ a b Imran 1980, hlm. 42–45.
107. ^ Setiadi & Yuliawati 2012, hlm. 24.
108. ^ Nasution 1963, hlm. 130-132.
109. ^ a b c d Pemerintah Kota Jakarta, Sudirman.
110. ^ Sardiman 2008, hlm. 160.
111. ^ Amrin Imran 1971, hlm. 17.
112. ^ a b Adi 2011, hlm. 82–84.
113. ^ Said 1991, hlm. 77.
114. ^ Setiadi & Yuliawati 2012, hlm. 25.
115. ^ a b Adi 2011, hlm. 85–87.
116. ^ a b Sardiman 2008, hlm. 164.
117. ^ Said 1991, hlm. 101.
118. ^ Adi 2011, hlm. 88.
119. ^ Sardiman 2008, hlm. 179.
120. ^ Adi 2011, hlm. 90–91.
121. ^ Adi 2011, hlm. 92–95.
122. ^ Said 1991, hlm. 99.
123. ^ Imran 1980, hlm. 57.
124. ^ Adi 2011, hlm. 97–99.
125. ^ Imran 1980, hlm. 58.
126. ^ Adi 2011, hlm. 100–101.
127. ^ Imran 1980, hlm. 61.
128. ^ a b c d Adi 2011, hlm. 102–105.
129. ^ Imran 1980, hlm. 62.
130. ^ Imran 1980, hlm. 64.
131. ^ Setiadi & Yuliawati 2012, hlm. 28.
132. ^ Adi 2011, hlm. 106–107.
133. ^ Imran 1980, hlm. 65.
134. ^ a b c Adi 2011, hlm. 108–110.
135. ^ McGregor 2007, hlm. 138.
136. ^ Imran 1980, hlm. 74.
137. ^ Said 1991, hlm. 126–127.
138. ^ Said 1991, hlm. 116–118.
139. ^ Imran 1980, hlm. 75–80.
140. ^ Sardiman 2008, hlm. 199.
141. ^ Setiadi & Yuliawati 2012, hlm. 47.
142. ^ McGregor 2007, hlm. 129.
143. ^ Pemerintah Kota Jakarta, Oerip Soemohardjo
.
144. ^ a b Imran 1980, hlm. 82–83.
145. ^ Said 1991, hlm. 122.
146. ^ a b Sardiman 2008, hlm. 203.
147. ^ a b Imran 1980, hlm. 84.
148. ^ a b c KR 1950, Pak Dirman Istirahat.
149. ^ a b c d e f KR 1950, Perdjalanan Terachir.
150. ^ a b KR 1950, Magelang Berkabung.
151. ^ Imran 1980, hlm. 83.
152. ^ Imran 1980, hlm. 86.
153. ^ a b c d e f McGregor 2007, hlm. 127.
154. ^ Sardiman 2008, hlm. 219.
155. ^ Said 1991, hlm. 55.
156. ^ Sardiman 2008, hlm. 93.
157. ^ Sardiman 2008, hlm. 174.
158. ^ a b McGregor 2007, hlm. 128.
159. ^ McGregor 2007, hlm. 130.
160. ^ McGregor 2007, hlm. 133.
161. ^ McGregor 2007, hlm. 220.
162. ^ Tjokropranolo 1992, hlm. 327.
163. ^ Sekretariat Negara Republik Indonesia, Bintang Mahaputra Adipurna.
164. ^ Sekretariat Negara Republik Indonesia, Bintang Mahaputra Pratama.
165. ^ Sekretariat Negara Republik Indonesia, Bintang Republik Indonesia Adipurna
.
166. ^ Sekretariat Negara Republik Indonesia, Bintang Republik Indonesia Adipradana
.
167. ^ Sekretariat Negara Republik Indonesia, Daftar Nama Pahlawan .
168. ^ McGregor 2007, hlm. 139.
169. ^ Sardiman 2008, hlm. 8.
170. ^ Pemerintah Kota Magelang, Museum Sudirman .
171. ^ Universitas Jenderal Soedirman, Tentang UNSOED.

Daftar pustaka

Imran, Amrin (1971). Sedjarah Perkembangan Angkatan Darat. Seri Text-Book Sedjarah ABRI, Departemen
Pertahanan Keamanan, Pusat Sedjarah ABRI.
TNI, Markas Besar (2000).Sejarah TNI Jilid I (1945-1949). Jakarta: Pusat Sejarah Dan Tradisi TNI. ISBN 979-9421-
01-2.
Nasution, A.H (1963). Tentara Nasional Indonesia, Jilid I, Cetakan I.I Bandung: Ganeco N.V.
"Tentang UNSOED". Universitas Jenderal Soedirman. Diarsipkan dariversi asli tanggal 17 Juni 2012. Diakses
tanggal 17 Juni 2012.
Adi, A. Kresna (2011).Soedirman: Bapak Tentara Indonesia. Yogyakarta: Mata Padi Pressindo.ISBN 978-602-
95337-1-2.
Anderson, Benedict Richard O'Gorman(2005). Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944–
1946. Jakarta: Equinox. ISBN 978-979-3780-14-6.
Bayly, Christopher Alan; Harper, Timothy Norman (2007). Forgotten Wars: Freedom and Revolution inSoutheast
Asia. Cambridge: Belknap Press.ISBN 978-0-674-02153-2.
"Bintang Mahaputra Adipurna". Bintang Republik Indonesia. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Diakses tanggal
17 Mei 2012.
"Bintang Mahaputra Pratama". Bintang Republik Indonesia. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Diakses tanggal
17 Mei 2012.
"Bintang Republik Indonesia Adipradana". Bintang Republik Indonesia. Sekretariat Negara Republik Indonesia.
Diakses tanggal 17 Mei 2012.
"Bintang Republik Indonesia Adipurna". Bintang Republik Indonesia. Sekretariat Negara Republik Indonesia. Diakses
tanggal 17 Mei 2012.
Coates, John (2006). An Atlas of Australia's Wars. Melbourne: Oxford University Press.ISBN 978-0-19-555914-9.
Cuhaj, George S (2012).2013 Standard Catalog of World Paper Money – Modern Issues: 1961–Present . Iola:
Krause Publications. ISBN 978-1-4402-2956-5.
"Daftar Nama Pahlawan Nasional Republik Indonesia" . Bintang Republik Indonesia. Sekretariat Negara Republik
Indonesia. Diarsipkan dariversi asli tanggal 9 Mei 2012. Diakses tanggal 9 Mei 2012.
"Djenderal Sudirman Wafat". Kedaulatan Rakjat. 30 Januari 1950. hlm. 1.
Imran, Amrin (1980). Panglima Besar Jenderal Soedirman. Jakarta: Mutiara. OCLC 220643587.
Imran, Amrin (1983). Urip Sumohardjo. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.OCLC 10945069.
Kahin, George McTurnan (1952). Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press.
ISBN 978-0-8014-9108-5.
"Linggadjati Agreement". Encyclopedia Britannica. Diarsipkan dari versi asli tanggal 12 Juni 2012. Diakses tanggal
12 Juni 2012.
"Magelang Berkabung".Kedaulatan Rakjat. 31 Januari 1950. hlm. 1.
McGregor, Katharine E (2007). History in Uniform: Military Ideology and the Construction of Indonesia's Past .
Honolulu: University of Honolulu Press.ISBN 978-9971-69-360-2.
"Museum Sudirman". Pemerintah Kota Magelang. Diarsipkan dariversi asli tanggal 16 Juni 2012. Diakses tanggal 16
Juni 2012.
Nasution, A. H. (2011) [1982]. Roem, Mohamad; Lubis, Mochtar; Mochtar, Kustiniyati; S., Maimoen, ed.Takhta untuk
Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX(edisi ke-Revised). Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama. ISBN 978-979-22-6767-9.
"Oerip Soemohardjo". Encyclopedia of Jakarta. Pemerintah Kota Jakarta. Diarsipkan dariversi asli tanggal 9 Mei
2012. Diakses tanggal 9 Mei 2012.
"Pa' Dirman Istirahat".Kedaulatan Rakjat. 30 Januari 1950. hlm. 1.
"Perdjalanan Terachir Dj. Sudirman".Kedaulatan Rakjat. 31 Januari 1950. hlm. 1.
Ricklefs, M.C. (1993). A History of Modern Indonesia Since c.1200(edisi ke-2nd). London: MacMillan.ISBN 978-0-
333-57689-2.
Said, Salim (1991). Genesis of Power: General Sudirman and the Indonesian Military in Politics, 1945–49 .
Singapura: Institute of Southeast Asian Studies.ISBN 978-981-3035-90-4.
Saragih, Bagus BT (13 August 2012)."SBY bestows honors to late Cabinet members" . The Jakarta Post. Diarsipkan
dari versi asli tanggal 26 August 2012. Diakses tanggal 26 August 2012.
Sardiman (2008). Guru Bangsa: Sebuah Biografi Jenderal Sudirman . Yogyakarta: Ombak. ISBN 978-979-3472-92-8.
Setiadi, Purwanto; Yuliawati (2012). "Sudirman: A Soldier's Story". Tempo English. Jakarta: Arsa Raya Perdana
(1312): 14–51. ISSN 1411-6065.
"Sudirman". Encyclopedia of Jakarta. Pemerintah Kota Jakarta. Diarsipkan dariversi asli tanggal 16 Juni 2012.
Diakses tanggal 16 Juni 2012.
Tjokropranolo (1992). Arifin, Marzuki, ed. Panglima Besar TNI Jenderal Soedirman: Pemimpin Pendobrak erakhirT
Penjajahan di Indonesia: Kisah Seorang Pengawal . Jakarta: Surya Persindo.ISBN 978-979-8329-00-5.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 a Thun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.
Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia. 18 Juni 2009.

Diperoleh dari "https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Soedirman&oldid=14310724


"

Halaman ini terakhir diubah pada 24 Oktober 2018, pukul 09.27.

Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons


; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat
Ketentuan Penggunaanuntuk lebih jelasnya.