Anda di halaman 1dari 106

DAFTAR PUSTAKA

A. BUKU – BUKU

Ali ,Mahrus, 2011, Dasar - Dasar Hukum Pidana, Jakarta : Sinar Grafika.

Asis, H. Abd. 2014. Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar (Edisi Pertama).
Jakarta : Karisma Putra Utama.

Chazawi, Adawi. 2002. Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, Jakarta : Rajawali


Grafindo Persada

_______________2005. Stelsel Pidana, Tindak Pidana , Teori-Teori Pemidanaan


Dan Batas Berlakunya Hukum, Jakarta : Rajawali Grafindo Persada.

Ekaputra, Muhammad. 2013. Dasar-Dasar Hukum Pidana. Medan : USU Press.

Hamzah, Andi. 1983. Pengantar Hukum acara Pidana Indonesia. Jakarta : Ghalia
Indonesia.

Harahap, Yahya. 2001. Pembahasan, Permasalahan, dan Penerapan KUHAP :


Penyidikan dan Penuntutan Edisi Kedua. Jakarta : Sinar Grafika.

______________2013. Permasalahan, dan Penerapan KUHAP : Penyidikan dan


Penuntutan Cetakan Kesebelas. Jakarta : Sinar Grafika.

Huda, Chairul. 2011. Dari „Tiada Pidana Tanpa Kesalahan‟ menuju kepada
„Tiada Pertanggung Jawaban Pidana Tanpa Kesalahan‟. Jakarta :
Kencana

Husein, Harun M. 1994. Surat Dakwaan:Tekhnik Penyusunan, Fungsi dan


Permasalahannya. Jakarta : Sinar Grafika.

Iliyas, Amir. 2012. Asas-Asas Hukum Pidana. Yogyakarta : Rangkang Education.

Kanter, E.Y. dan S.R. Sianturi. 2002. Asas – Asas Hukum Pidana Di Indonesia
Dan Penerapannya. Jakarta : Storia Grafika.

Lamintang, P.A.F. 1997. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia (cetakan


ketiga). Bandung : Citra Aditya Bakti.

______________ 2011. Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia (cetakan


Keempat). Bandung : Citra Aditya Bakti.

Marpaung, Leden. 2008. Unsur-Unsur yang Dapat di Hukum (Delik).


Jakarta : Sinar Grafika.

Universitas Sumatera Utara


Moeljatno. 2002. Azas-Azas Hukum Pidana. Bandung : Rineka Cipta.

Pawennai, Mulyati. 2015. Hukum Pidana. Jakarta : Mitra Wacana Media.

Prasetyo, Teguh dan Abdul Halim Barkatullah. 2005. Politik Hukum Pidana:
Kajian Kebijakan Kriminalisasi dan Dekriminalisasi. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar.

Prodjodikoro, Wirjono. 1989. Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia (Cetakan ke


Tujuh). Bandung : PT Refika Aditama.

____________ 2008. Tindak- Tindak Pidana Tertentu di Indonesia. Bandung :


Eresco.

Prodjomidjojo Martiman. 1995. Memahami Dasar-Dasar Hukum Pidana


Indonesia 1. Jakarta : Pradnya Paramita.

Rahardjo, Satjipto. 1982. Ilmu Hukum. Bandung : Alumni.

Simons, Kitab Pelajaran Hukum Pidana (Titel Asli: Leerboek van


Het Nederlandse Strafrecht) Diterjemahkan oleh PAF Lamintang, Bandung,
Pioner Jaya, 1992, hlm 127.
Soesilo, R. 1995. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta
Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal. Bogor: Politeia.

Sofyan, Andi. 2014. Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar (Edisi Pertama).
Jakarta : Karisma Putra Utama.

Subekti, R dan Tjitrosoedibio. 2005. Kamus Hukum. Jakarta : Pradnya Paramita.

Sudarto. 1990. Hukum Pidana I. Semarang : Yayasan Sudarto Fakultas hukum


Universitas Diponegoro Semarang.

B. PERATURAN PERUNDANG – UNDANGAN

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum


Acara Pidana (KUHAP)

C. INTERNET

Universitas Sumatera Utara


http://pembelajaranhukumindonesia.blogspot.com/2011/09/deelneming.ht
ml?m%3D1&ei=kfoR0_3A&lc=idID&s=1&m=154&host=www.google.co.id&ts
=1471081773&sig=AKOVD64WowTBN1sMjFwRkfR EG6GqPnFntw, Diakses
tanggal 13 Agustus 2016 Pukul 17.11 Wib.

http://www.kamusbesarbahasaindonesia/online/kamus/gratis.php?hasil=su
kses_id_11 #hasil, diakses pada tanggal 25 juli 2016 pukul 22.30 wib.

www.kamushukum.com/KH_entris.php?af_in, diakses pada tanggal 25


juli 2016 pukul 23.00 wib.

http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=nl&u=http://www.elfri.be/
Strafrecht/afpersing.htm&ei=AjlfSunEGI2pkAWXobyoCg&sa=X&oi=, diakses
pada tanggal 25 juli 2016 pukul 23.30 wib.

https://zulfanlaw.wordpress.com/2008/07/10/dasar-pertimbangan-hakim-
dalam-menjatuhkan-putusan-bebas-demi-hukum/,diakses tanggal 13, Agustus
2016, pukul 18.43. Wib.

https://sesukakita.wordpress.com/2012/05/28/surat-dakwaan/#more-
1006,Diakses tanggal 14, Agustus, 2016, Pukul 21.34.Wib.

http://elroomey.blogspot.co.id/2014/12/pleger-doen-pleger-uitlokker-
medepleger_30.html, diakses tanggal 27,September,,2016, pukul 11.26.Wib.

http://panduanhukum.blogspot.co.id/2012/05/fungsidandasarpembuatansur
at.html?m=1,diakses pada Tanggal 21 Januari 2017 Pukul 00.51 Wib.

http://abdulahffandi.wordpress.com/2011/10/07/kapan-dapat-dilakukan-
perubahan-surat -dakwaan/,Diakses pada Tanggal 21 Januari 2017 Pukul 01.36
Wib.

Universitas Sumatera Utara


BAB III

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA


PEMERASAN DENGAN MENGGUNAKAN SENJATA TAJAM YANG
DILAKUKAN SECARA BERSAMA-SAMA
(Analisis Kasus Putusan Pengadilan Negeri Sibolga Nomor
266/Pid.b/2014/Pn.Sbg)

A. Pengaturan Tentang Tindak Pidana Pemerasan dengan Menggunakan


Senjata Tajam yang Dilakukan Secara Bersama-sama dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa dasar hukum yang berlaku

di Indonesia dan paling banyak digunakan untuk memutus suatu perkara

pidana adalah Kitab Undang-Undang HuKum Pidana yang selanjutnya akan

Penulis sebut sebagai KUHP. Dalam sebagian besar kasus yang tejadi dalam

ruang lingkup hukum pidana, hakim mengadili terdakwanya menggunakan

Pasal yang terdapat dalam KUHP.

Peraturan hukum positif utama yang berlaku di Indonesia adalah KUHP,

dimana KUHP sendiri merupakan kodifikasi dari hukum pidana dan berlaku

untuk semua golongan penduduk, yaitu golongan timur asing, bumiputera, dan

Eropa. Dengan demikian dapat dikatakan ada suatu bentuk kesamaan atau

keseragaman dalam peraturan hukum pidana yang berlaku di Indonesia.51

Sejak adanya UU No 73 tahun 1958 yang menentukan berlakunya

UU no 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana untuk seluruh

Indonesia, hukum pidana materiil Indonesia menjadi seragam untuk seluruh

tanah air. Menurut Pasal VI UU no 1 tahun 1946, nama resmi dari KUHP

awalnya adalah “Wetboek Van strafrecht voor Nederlandsch-Indie” yang


51
Sudarto, Op. cit, hlm.16.

Universitas Sumatera Utara


diubah menjadi “Wetboek van Strafrecht” atau dapat pula disebut sebagai

“Kitab UndangUndang Hukum Pidana”52

KUHP mempunyai aturan yang digunakan dalam tindak pidana pemerasan

yang dilakukan secara bersama-sama, dimana yang disoroti oleh hukum pidana

tidak hanya mengenai tindak pidana pemerasannya saja, melainkan juga

mengenai kebersamaan beberapa orang untuk melakukan tindak pidana tersebut.

Terdapat 2 pasal yang bisa dikenakan dalm kasus tersebut, yaitu :

a. Pasal 368 ayat (1) KUHP

b. Pasal 55 ayat (1) KUHP.

Berikut bunyi redaksional dari kedua pasal tersebut:

Pasal 368 ayat (1) KUHP :

“Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau


orang lain secara melawan hukum, memaksa seorang dengan
kekerasan atau ancaman kekerasan, untuk memberikan barang sesuatu,
yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang
lain, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang,
diancam, karena pemerasan dengan pidana penjara paling lama
sembilan tahun”

Pasal 55 ayat (1) KUHP :

“dipidana sebagai pembuat (dader) sesuatu perbuatan pidana: Ke-1.


Mereka yang melakukan, yang menyuruh lakukan dan yang turut serta
melakukan perbuatan;Ke-2. Mereka yang dengan memberi atau
menjanjikan sesuatu, dengan menyalah gunakan kekuasaan atau martabat,
dengan kekerasan, ancaman, atau penyesatan, atau dengan memberi
kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain
supaya melakukanperbuatan”.

Selanjutnya apabila di kaji kata-perkata dalam pasal tersebut sebagai

berikut:

52
Moeljatno, Op. cit, hlm. V

Universitas Sumatera Utara


Pasal 55 : (1) dihukum sebagai orang yang melakukan peristiwa

pidana: Dalam bahasa aslinya yaitu Belanda pelaku kejahatan disebut sebagai

Dader, yang disebut sebagai dader disini adalah pelaku. namun terdapat

kerancuan mengenai siapa yang sebenarnya disebut sebagi pelaku. Menurut

memori penjelasan mengenai pembentukan Pasal 55 KUHP, yang harus

dipandang sebagai dader bukan saja mereka “yang telah menggerakkan orang

lain untuk melakukan tindakan pidana”, melainkan juga “mereka yang telah

menyuruh melakukan” dan “mereka yang telah turut melakukan suatu tindakan

pidana”.

Petikan Pasal 55 KUHP dalam bahasa aslinya berbunyi :

“Als daders van een strafbaar feit worden gestraf” Diartikan bahwa pembentuk

undang-undang tersebut tidak memberikan penjelasan tentang siapa yang

seharusnya disebut sebagai pembuat dalam suatu tindak pidana. Para pembuat

undang-undang tersebut mungkin telah merasa bahwa siapa yang pantas

diisebut sebagai pelaku telah jelas adanya, namun dalam kenyataanya hal ini

sangatlah sulit diterapkan dalam menentukan siapa sebenarnya yang telah

melakukan suatu perbuatan pidana.53

Dalam ketentuan yang dimaksud dalam Pasal 55 KUHP terdapat

beberapa jenis orang yang masuk dalam kualifikasi pelaku yaitu:

1) Orang yang melakukan atau dalam Bahasa Belanda disebut dengan

pleger ialah seseorang yang dengan sendirian telah melakukan

53
PAF. Lamintang (IV), Op. cit, hlm. 583.

Universitas Sumatera Utara


perbuatan yang pada intinya mewujudkan segala elemen yang

terdapat dari suatu peristiwa pidana.

2) Orang yang menyuruh melakukan perbuatan itu, dalam Bahasa

Belanda disebut sebagai doen plegen. Disini sedikitnya terdapat dua

orang yang melakukan, yang satu berlaku sebagai pleger dan yang

satu berlaku sebagai doen plegen. Jadi bukan doen plegen sendiri

yang melakukan tindak pidana yang diinginkannya tetapi ia menyuruh

pleger untuk melakukannya. Kebanyakan orang berlaku sebagai doen

plegen agar apabila perbuatan pidana yang ia maksud pada akhirnya

diketahui oleh orang lain dan harus dijatuhi hukuman pidana, ia tidak

merasakan imbas dari pemidanaan tersebut. Ada pula orang yang

sengaja menjadi doen plegen dan menyuruh seorang pleger yang tidak

dapat dihukum karena dinilai tidak dapat mempertanggung jawabkan

perbuatannya, yang antara lain sering tejadi dalam kasus antara lain :

a) Seorang doen plegen menyuruh pleger untuk melakukan suatu

perbuatan pidana, dimana karena keadaan jiwanya perbuatan yang

dilakukan oleh pleger tidak dapat dipertanggung jawabkan menurut

Pasal 44 KUHP.

b) Seorang doen plegen memaksa dengan ancaman yang disertai

kekerasan kepada pleger untuk melakukan suatu perbuatan pidana.

Disini keadaan pleger terdesak dan ia dalam keadaan overmacht,

sehingga perbuatannya tersebut tidak dapat dipertanggung

Universitas Sumatera Utara


jawabkan karena ia melindungi dirinya dengan adanya Pasal 48

KUHP.

c) Doen plegen yang mempunyai kekuasaan karena jabatannya

menyuruh pleger untuk melakukan suatu perbuatan. Dalam hal ini

seorang bawahan, terlebih bagi seorang militer wajib menjalankan

segala perintah dari atasannya. Disini doen plegen berharap

perbuatan yang dilakukannya tidak dapat dipidana karena yang

melakukan bukan ia sendiri melainkan melalui plegernya, dan si

pleger akan membela diri dengan anggapan ia sedang melakukan

perintah jabatan.

3) Orang yang turut melakukan (medepleger) Turut melakukan dalam arti

kata bersama-sama melakukan. Dalam hal ini sedikitnya harus ada

tiga orang yang melakukan suatu perbuatan pidana. Seorang sebagai

doen pleger yang menyuruh seorang pleger untuk melakukan tindakan

pidana yang diinginkannya, kemudian si pleger mengajak orang lain

yang akan turut serta melakukan atau disebut sebagai medepleger ini.

Medepleger harus turut serta bersama pleger dalam melakukan

perbuatan pidana secara langsung, jadi dalam peristiwa konkretnya

ia turut serta melakukannya. Bukan sekedar membantu pelaksanaan

persiapan perbuatan, karena bila demikian yang terjadi, maka

terdapat pengistilahan tersendiri yang disebut sebagai membantu

melakukan.

Universitas Sumatera Utara


4) Orang yang dengan pemberian, salah memakai kekuasaan, memakai

kekerasan dengan sengaja membujuk orang lain untuk melakukan

perbuatan pidana. Orang itu harus secara sengaja membujuk orang

lain, salah satu upayanya dapat dilakukan dengan memberikan suatu

imbalan tertentu, atau dengan kekuasaannyaia dapat menyuruh orang

lain untuk melakukan perbuataan pidana tersebut. Dalam hal ini terdapat

dua orang yaitu si pembujuk dan si terbujuk. Apabila tindakan yang

dilakukannya terbukti sebagai suatu tindak pidana dan oleh

Pengadilan diproses kasusnya, maka si pembujuk tidak dapat dihukum

atas perbuatannya tersebut, namun si terbujuk dapat dikenai pidana.

Hal ini terjadi karena pembujukan dan persetujuan atas hal yang

dibujukkan harusnya melalui kesepakatan antara kedua belah pihak.

Sehingga pihak terbujuk dinilai telah menyetujui perbuatan yang

disuruhkan oleh sipembujuk kapadanya dan ia harus mempertanggung

jawabakan persetujuan dan perbuatannya tersebut. Sedangkan hal-hal

yang banyak digunakan untuk membujuk adalah :

a) Dengan pemberian atau janji. Yang tidak harus dalam wujud

konkret seperti uang atau barang, namun dapat pula berupa kata-

kata yang menjanjikan suatu perbuatan yang akan dilakukan oleh

si pembujuk apabila si terbujuk telah berhasil melakukan apa

yang diinginkan oleh si pembujuk kepadanya.

b) Menggunakan kekuasaan atau pengaruh. Dimana tidak dibatasi oleh

kekuasaan yang timbul dari jabatan semata, namun dapat pula

Universitas Sumatera Utara


berupa kekuasaan yang timbul dari suatu hubungan misalnya

dalam hubungan keluarga antara seorang suami kepada istrinya

atau seorang ibu kepada anaknya.

c) Tipu daya. Dalam hal ini ada pembatasan dalam hal tipu daya yang

digunakan. Sehingga yang dibujuk tidak dapat mempertanggung

jawabkan perbuatannya. Karena ia telah ditipu oleh si pembujuk

dan ia tidak menyadari bahwa apa yang telah dilakukannya

merupakan suatu perbuatan pidana.

d) Memberi kesempatan, daya upaya, atau keterangan. Model ini dalam

bahasa Belanda disebut sebagai uitlokking. Dalam hal ini terdapat

kemiripan dengan medeplichtig, dimana sama-sama melibatkan orang

lain dalam melakukan suatu perbuatan pidana. Perbedaannya adalah

apabila dalam kasus dengan medeplechtigh yang melakukan adalah

sipelaku sendiri namun dengan menggunakan fasilitas atau bantuan

dari orang lain. Maka pada kasus yang terjadi dengan uitlokking,

yang memberi kesempatan atau fasilitas adalah si pelaku, namun

ia menyarankan atau memberi kesempatan kepada orang lain untuk

melakukannya, sedangkan inisiatif melakukan tetap ada di diri si

pelaku sendiri.54

Mengenai hal ini Profesor Pompe dalam buku P.A.F. Lamintang

berpendapat bahwa “yang harus dipandang sebagai pelaku itu adalah semua

yang disebutkan dalam Pasal 55 KUHP. Hal mana telah dikuatkan oleh

54
R.Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-
Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, Politeia, Bogor, 1995, hlm. 73.

Universitas Sumatera Utara


Memori penjelasan di mana telah dikatakan bahwa semua orang yang telah

disebutkan dalam Pasal 55 KUHP adalah pelaku”.55 Sedangkan Profesor

Langemeijer berpendapat mengenai Pasal 55 KUHP sebagi berikut “apabila

orang mendengar perkataaan pelaku, maka menurut pengertiannya yang

umum di dalam tata bahasa, teringatlah orang mula-mula pada orang-orang

yang secara sendirian telah memenuhi seluruh rumusan delik. Adalah sudah

jelas bahwa Undang-Undang tidak pernah mempunyai maksud untuk

memandang mereka yang telah menyuruh lakukan atau mereka yang

menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu tindak pidana itu sebagi

pelaku dalam pengertian seperti yang dimaksud di atas. Sebab apabila mereka

itu harus pula melaksanakan sendiri tindakan pelaksanaanya”.56 Pendapat

Profesor Pompe dan Langemeijer ini tentulah berbeda, sehingga untuk

menghindarkan pemberian arti yang berbeda-beda terhadap perkataan dader

dalam Pasal 55 KUHP, Profesor Langemeijer menyarankan agar digunakan

digunakan istilah pleger atau orang yang melakukan. Dan hal ini telah

dilakukan, dengan pengistilahan pleger dalam pengertian pelaku dalam Pasal 55

KUHP.

Pasal 368 Ayat (1) KUHP :

“Barang siapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau


orang lain dengan melawan hukum memaksa orang lain dengan
kekerasan maupun ancaman kekerasan, supaya orang itu memberikan
barang yang sama sekali atau sebagiannya termasuk kepunyaan orang
itu sendiri, kepunyaan orang lain, atau supaya orang itu membuat
hutang atau menghapus piutang dihukum penjara paling lama sembilan
tahun”

55
PAF.Lamintang (IV), Op. cit, hlm. 595.
56
Ibid, hlm. 596.

Universitas Sumatera Utara


Kejadian ini disebut sebagai afpersing atau pemerasan dengan

kekerasan. Dimana hal yang dilakukan oleh orang yang dikatakan sebagai

pemeras adalah:

a. Memaksa orang lain. Yaitu melakukan tekanan kepada orang lain,

sehingga orang itu melakukan sesuatu yang berlawanan dengan

kehendaknya sendiri.

b. Memberikan barang yang sama sekali atau sebagiannya termasuk

kepunyaan orang itu sendiri, kepunyaan orang lain, atau supaya orang itu

membuat hutang atau menghapus piutang. Disini yang disebut sebagai

barang adalah segala sesuatau yang berwujud dan tidak selalu mempunyai

nilai ekonomis. Hewan juga merupakan hal yang dapat disebut sebagai

barang dalam pengertian ini, karena hewan dapat digunakan sebagai

objek perbuatan pidana pemerasan oleh seseorang kepada orang lain.

Sedangkan daya listrik daan gas dapat dimasukkan dalam kategori barang

karena walaupun tidak berwujud secara nyata dan dapat dipegang secara

langsung, namun gas dan daya listrik dapat dialirkan melalui suatu

media untuk dipindahkan. Jadi terdapat kemungkinan dimana seseorang

memeras orang lain untuk memberikan gas yang kemudian dimasukkan

dalam suatu tabung, atau untuk memberikan aliran listriknya kepada si

pemeras tersebut. Sedangkan pengertian miliknya sendiri atau sebagian milik

orang lain dapat diartikan sebagai barang yang mempunyai dua pemilik, dan

kemudian salah seorang pemiliknya memaksa pemilik yang satunya

untuk meyerahkan barang itu sepenuhnya kepadanya, sehingga

Universitas Sumatera Utara


kepemilikkan barang itu mutlak miliknya dan tidak perlu ia bagi dengan

orang lain. Hal ini pada kasus konkret sering terjadi pada pembagian warisan,

dimana ahli waris saling berebut untuk dapat menguasai barang objek

warisan secara tunggal dan mutlak dalam kekuasaannya, sehingga ia

memeras pihak lainnya untuk meyerahkan barang tersebut dalam

kekuasaanya sendiri.

c. Memaksa orang lain dengan. Dalam hal memaksa ia telah memaksakan

kehendak kepada orang lain untuk melakukan apa yang diperintahkannya,

hal ini dapat dikatakan sebagai melawan hak dari orang yang dipaksanya

tersebut. Melawan hak sendiri merupakan suatu perbuatan yang melawan

hukum, karena seseorang tidak dapat begitu saja memaksakan suatu hal

kepada orang alian, karena hal ini melanggar hak asasi dari korbannya

tersebut.

d. Menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan. Melakukan kekerasan

artinya mempergunakan tenaga atau kekuatan jasmani yang tidak kecil

secara tidak sah, misalnya dengan memukul tangan, menyepak, menendang

dan berbagai perbuatan fisik yang lain baik secara tangan kosong atau

dengan segala macam senjata. Kekerasan dapat pula dipersamakan

dengan membuat orang lain dalam keadaan tidak berdaya, yang artinya

tidak mempunyai kekuatan atau tenaga sama sekali, sehingga tidak dapat

mengadakan perlawanan sedikitpun. Misalnya dengan mengikat tangan dan

kaki menggunakan tali atau dengan mengurung korbannya di kamar,

atau dengan memberikan suntikan yang dapat melumpuhkan orang

Universitas Sumatera Utara


tersebut. Orang yang tidak berdaya itu masih dapat mengetahui apa yang

terjadi atas dirinya.

1. Tindak Pidana yang Dilakukan Secara Bersama-sama/Penyertaan dalam


Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

a. Pengertian Penyertaan

Kata “penyertaan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti proses,

cara, perbuatan menyertakan atau perbuatan ikut serta (mengikuti). Kata

“penyertaan” berarti turut sertanya seseorang atau lebih pada waktu seorang lain

melakukan suatu tindak pidana.

Sementara menurut Moeljatno berpendapat bahwa ada penyertaan apabila

bukan satu orang yang tersangkut dalam terjadinya perbuatan pidana akan tetapi

beberapa orang. Tersangkutnya dua orang atau lebih dalam suatu tindak pidana

dapat terjadi dalam hal :

1) Beberapa orang bersama-sama melakukan suatu delik, atau ;

2) Mungkin hanya seorang saja yang berkehendak (berniat) dan

merencanakan delik, tetapi delik tersebut tidak dilakukannya tetapi ia

mempergunakan orang lain untuk mewujudkan delik tersebut, atau ;

3) Mungkin seorang saja yang melakukan delik sedang orang lain orang itu

dalam mewujudkan delik.

Pengertian lain dari deelneming/penyertaan adalah tindak pidana yang

dilakukan oleh lebih dari satu orang, artinya ada orang lain dalam jumlah tertentu

yang turut serta, turut campur, turut berbuat membantu melakukan agar suatu

tindak pidana itu terjadi, atau dalam kata lain, orang yang lebih dari satu orang

secara bersama-sama melakukan tindak pidana, sehingga harus dicari

Universitas Sumatera Utara


pertanggungjawaban dan peranan masing-masing peserta dalam peristiwa pidana

tersebut.57

Masalah deelneming atau keturutsertaan itu oleh pembentuk undang-

undang telah diatur dalam pasal-pasal 55 dan 56 KUHP. Akan tetapi apa yang

disebut deder itu telah disebutkan oleh pembentuk undang-undang dalam pasal 55

KUHP, sehingga lebih tepatnya kira apabila pembicaraan mengenai ketentuan-

ketentuan pidana dalam pasal-pasal 55 dan 56 KUHP itu disebut sebagai suatu

pembicaraan mengenai masalah pelaku (dader) dan keturutsertaan (deelneming)

daripada disebut semata-mata sebagai pembicaraan mengenai keturutsertaan saja

yakni seperti yang biasanya yang dilakukan oleh penulis Belanda.

Untuk mengetahui kejelasan mengenai apa yang telah dikatakan diatas

baiklah kita melihat rumusan-rumusan ketentuan pidana dalam pasal-pasal 55 dan

56 KUHP menurut rumusannya:

Ketentuan pidana dalam pasal 55 KUHP berbunyi :

1. Dihukum sebagai Pelaku-pelaku dari suatu tindak pidana yaitu :

a. Mereka yang Melakukan, Menyuruh Melakukan atau Turut Melakukan;

b. Mereka yang dengan pemberian-pemberian,janji-janji, dengan

menyalahgunakan kekuasaan atau keterpandangan, dengan kekerasan,

ancaman atau dengan menimbulkan kesalahpahaman atau dengan

memberikan kesempatan, sarana-sarana atau keterangan-keteranga, dengan

57
Http://pembelajaranhukumindonesia.blogspot.com/2011/09/deelneming.html?m%3D1&
ei=kfoR0_3A&lc=id-
ID&s=1&m=154&host=www.google.co.id&ts=1471081773&sig=AKOVD64WowTBN1sMjFwR
kfR EG6GqPnFntw, Diakses tanggal 13,Agustus,2016,Pukul 17.11 Wib.

Universitas Sumatera Utara


sengaja telah menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana yang

bersangkutan.

2. Mengenai mereka yang disebutkan terakhir ini, yang dapat

dipertanggungjawabkan terhadap mereka itu hanyalah tindakan-tindakan yang

dengan sengaja telah mereka gerakkan untuk dilakukan orang lain,berikut

akibat-akibatnya.

Sedangkan ketentuan pidana pada pasal 56 KUHP berbunyi :

1. Dipidana sebagai pembantu kejahatan :

a. Mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan dilakukan;

b. Mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan

untuk melakukan kejahatan.

Berdasarkan Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP, dapatlah diketahui bahwa

menurut KUHP itu dibedakan dalam dua kelompok yaitu:58

1. Pertama, kelompok orang-orang yang perbuatannya disebabkan oleh Pasal

55 ayat (1), yang dalam hal ini disebut dengan para pembuat

(mededader), adalah mereka:

a. Yang melakukan (plegen), orangnya disebut dengan pelaku atau pleger.

b. Yang menyuruh melakukan (doen plegen), orangnya disebut dengan

penyuruh atau doen pleger;

c. Yang turut serta melakukan (medeplegen), orangnya disebut dengan

pelaku turut serta atau medepleger

58
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum…, Op. cit, hlm. 67

Universitas Sumatera Utara


d. Yang sengaja menganjurkan (uitlokken), orangnya disebut dengan penganjur

atau uitlokker

2. Kedua, yakni orang yang disebut dengan pembantu (medeplichtige)

kejahatan, yang dibedakan menjadi dua:

a. Pemberian bantuan pada saat pelaksanaan kejahatan; dan

b. Pemberian bantuan sebelum pelaksanaan kejahatan.

2. Bentuk-bentuk Penyertaan /Deelneming

Bentuk-bentuk deelneming atau keturutsertaan yang ada dalam ketentuan-

ketentuan pidana dalam pasal-pasal 55 dan 56 KUHP itu adalah :

a. Mereka yang melakukan (Pleger)

Plegen adalah orang yang melaakukan sendiri perbuatan yang memenuhi

rumusan delik yaitu orang yang bertanggug jawab(peradilan Indonesia). Orang

yang mempunyai kekuasaan/kemampuan untuk mengakhirikeadaan yang

terlarang, tetapi membiarkan keadaan yang dilarang berlangsung (peradilan

Belanda). Orang yang berkewajiban melarang orang terlarang (Pompe).

Kedudukan pleger dalam Pasal 55 : Janggal karena pelaku bertanggung jawab

atas perbuatannya(pelaku tunggal) Dapat dipahami : (Pasal 55 menyebut siapa-

siapa yang disebut sebagai pembuat, Jadi pleger masuk didalamnya). Mereka

yang bertanggung jawab yang bertanggungjawab sebagai pembuat (Pompe).

Mereka yang termasuk Golongan ini adalah pelaku tinddak pidana yang

melakukan perbuatannya sendiri, baik dengan alat maupun tidak memakai

alat,dengan kata lain, Pleger adalah mereka yang memenuhi seluruh unsure yang

Universitas Sumatera Utara


ada dalam suatu perumusan karakteristik delik pidana dalam setiap pasal. Ada

pembuat materil dan ada pembuat formil yang secara berbeda59.

b. Orang Yang Menyuruh Melakukan (Doen Pleger)

Orang yang menyuruh melakukan berarti orang yang berniat atau

berkehendak untuk melakukan suatu tindak pidana namun tidak melakukannya

sendiri, tetapi melaksanakan niatnya dengan menyuruh orang yang tidak mampu

mempertanggungjawabkan perbuatannya. Orang yang disuruh melakukan disebut

manus manistra.

Orang yang disuruh melakukan perbuatan tersebut atau manus manistra

tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang disuruhkan tersebut

sehingga tidak dapat dihukum. Hal ini sesuai dengan yurisprudensi Mahkamah

Agung Putusan Nomor 137 K/ Kr/ 1956 tanggal 1 Desember 1956.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa seseorang hanya dapat

dikatakan sebagai orang yang menyuruh melakukan apabila orang yang disuruh

adalah orang yang tidak dapat bertanggungjwab atas perbuatan yang disuruhkan.

Menurut Prof. Simons sebagaimana dalam buku P.A.F. Lamintang60,

untuk adanya suatu doen Plegen seperti yang dimaksudkan di dalam pasal 55 ayat

1 angka 1 KUHP itu, orang yang disuruh melakukan itu haruslah memenuhi

beberapa syarat tertentu, antara lain :

1) Apabila orang yang disuruh melakukan suatu tindak pidana itu adalah

seorang yang ontoerekeningsvatbaar seperti yang dimaksud dalam pasal

44 KUHP.
59
http://elroomey.blogspot.co.id/2014/12/pleger-doen-pleger-uitlokker-
medepleger_30.html, diakses tanggal 27,September,,2016, pukul 11.26.Wib.
60
P.A.F.Lamintang (IV), Op. cit, hlm.610.

Universitas Sumatera Utara


2) Apabila orang yang disuruh melakukan suatu tindak pidana yang

mempunyai suatu dwaling atau suatu kesalapahaman mengenai salah satu

unsur dari tindak pidana yang bersangkutan.

3) Apabila orang yang disuruh melakukan suatu tindak pidana itu sama

sekali tidak mempunyai unsur schuld, baik dolus maupun culpa, ataupun

apabila orang tersebut tidak memenuhi unsur opzet seperti yang

disyaratkan oleh undang-undang bagi tindak pidana tersebut.

4) Apabila orang disuruh melakukan suatu tindak pidana itu tidak

memenuhi unsur oogmerk, padahal unsur tersebut telah disyaratkan

didalam rumusan undang-undang mengeai tindak pidana tersebut diatas.

5) Apabil orang disuruh melakukan suatu tindak pidana itu telah

melakukannya dibawah pengaruh suatu overmacht atau dibawa pengaruh

suatu keadaan yang memaksa, dan terhadap mana paksaan orang tersebut

tidak mampu memberikan suatu perlawanan.

6) Apabila orang yang disuruh melakukan suatu tindak pidana dengan itikad

baik telah melaksanakan suatu perintah jawaban tersebut diberikan oleh

seorang atasan yang tidak berwenang memberikan perintah semacam itu.

7) Apabila orang yang disuruh melakukan suatu tindak pidana itu tidak

mempunyai suatu hoedanigheid atau suatu sifat tertentu, seperti yang

disyaratkan oleh undang-undang yakni sebagai suatu sifat yang harus

dimiliki oleh pelakunya sendiri.

Universitas Sumatera Utara


c. Orang Yang Turut Melakukan (Made Pleger)

Menurut MvT WvS Belanda diterangkan bahwa turut serta melakukan ialah

setiap orang yang sengaja turut berbuat dalam melakukan suatu tindak pidana.

Ada 2 pandangan mengenai turut serta melakukan yaitu pandangan yang

sempit yang dianut oleh Van Hamel dan Trapman yang berpendapat bahwa turut

sera melakukan terjadi apabila perbuata masing-masing peserta memuat semua

unsur tindak pidana pandangan ini lebih condong pada ajaran objektif . Sedangkan

pandangan yang kedua adalah pandangan luas mengenai pembuat peserta tidak

mensyaratkan bahwa perbuatan pelaku peserta harus sama dengan perbuatan

seorang pembuat perbuatanya tidak perlu memenuhi semua rumusan tindak

pidana memenuhi semua rumusan tindak pidana. Sudalah cukup memenuhi

sebagian saja dari rumusan tindak pidana asalkan kesengajaannya sama dengan

kesengajaan dari pembuat pelaksananya.

Pandangan ini lebih mengarah pada ajaran subjektif pandangan luas ini

adalah pandangan yang lebih modern dari pada pandangan lama yang lebih

sempit.

Hoge raad dalam arrest-nya ini telah meletakkan dua kriteria tentang

adanya bentuk pembuat peserta, yaitu :

1) Antara para peserta ada kerjasama di insyafi.

2) Para peserta telah sama-sama melaksanakan tindak pidana yang

dimakudkan.

Jadi, perbedaan antara pembuat peserta dengan pembuat pelaksana

hanyalah dari sudut perbuatan (objektif), ialah perbuatan pembuat pelaksana itu

Universitas Sumatera Utara


adalah perbuatan penyelesaian tindak pidana, sedangkan perbuatan pembuat

peserta adalah sebagian dari perbuatan pelaksana tindak pidana terdapat

perbedaan juga antara pembuat pelaksana dengan pembuat pesert, adalah dalam

hal tindak pidana yang mensyaratkan subjek hukum atau pembuatnya harus

berkualitas tertentu.

Orang yang dengan sengaja turut berbuat atau turut mengerjakan sesuatu

yang dilarang menurut undang-undang :

Turut mengerjakan sesuatu :

1) Mereka yang memenuhi rumusan delik

2) Salah satu memenuhi semua rumusan delik.

3) Masing-masing hanya memenuhi sebagian rumuusan delik

Syarat :

1) Adanya kerja sama secara sadar (bewuste semenwerking)

2) Adanya kerjasama secara fisik (gazamenlijke uitvoering /physieke

samenwerking).

d. Orang yang sengaja membujuk (Uitlokker).

Orang yang sengaja membujuk diatur dalam Pasal 55 ayat (1) sub. 2 (dua)

KUHP. Beberapa pakar berpendapat bahwa uitlokker termasuk deelneming yang

berdiri sendiri.

Secara umum orang yang sengaja membujuk dapat diartikan sebagai

perbuatan yang menggerakkan orang lain melakukan suatu perbuatan terlarang

dengan cara dan daya upaya.

Universitas Sumatera Utara


Orang yang sengaja membujuk dengan orang yang menyuruh melakukan

memiliki persamaan yaitu sama-sama menggerakkan orang lain untuk melakukan

kehendaknya. Sedangkan perbedaannya adalah pada medepleger orang yang

disuruh melakukan tidak dapat dipertanggungjwabkan sedangkan dalam uitlokker

orang yang disuruh melakukan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Perbedaan antara medepleger dengan uitlokker adalah pada medepleger cara

membujuk tidak ditentukan sedangkan dalam uitlokker cara membujuk

ditentukan.

Menurut Laden Marpaung unsur-unsur yang ada didalam uitlokker

yaitu:61

1) Kesengajaan pembujuk ditujukan kepada dilakukannya delik atau tindak

pidana tertentu oleh yang dibujuk.

2) Membujuk dengan cara yang ditentukan dalam pasal 55 ayat (1) sub dua

KUHP yaitu dengan pemberian, perjanjian, salah memakai kekuasaan,

menyalah gunakan kekuasaan, kekerasan, ancaman, tipu daya, dan

memberiikan kesempatan, ikhtiar atau keterangan.

3) Orang yang dibujuk sungguh-sungguh telah terbujuk untuk melakukan

tindak pidana tertentu

4) Orang yang terbujuk benar-benar melakukan tindak pidana, atau setidak-

tidaknya percobaan atau poging.

61
Leden Marpaung,Unsur-Unsur yang Dapat di Hukum (Delik), Sinar Grafika, Jakarta,
2008, hlm. 85.

Universitas Sumatera Utara


e. Membantu Melakukan Tindak Pidana (Medeplichtgheid).

Medeplichtgheid merupakan suatu onzelfstandige deelneming atau suatu

penyertaan yang berdiri sendiri yang berarti bahwa apaka seorang

Medeplichtgheid itu dapat dihukum atau tidak, hal mana bergantung pada

kenyataan, yaitu apakah pelakunya sendiri telah melakukan suatu tindak pidana

atau tidak.

Membantu atau Medeplichtgheid diatur dalam Pasal 56 KUHP sebagai

pembantu melakukan kejahatan dihukum :

1) Mereka dengan sengaja membantu waktu kejahatan dilakukan.

2) Mereka dengan sengaja memberikan kesempatan,ikhtiar atau keterangan

untuk melakukan kejahatan.

Dari rumusan Pasal 56 KUHP Dapat diketahui,bahwa pemberian bantuan

seperti yang dimaksudkan diatas haruslah diberikan dengan opzettelijk atau

haruslah diberikan dengan sengaja.

Dalam Pasal 57 KUHP, perlu dikatakan bahwa untuk menentukan

hukuman bagi pembantu hanya diperhatikan perbuatan dengan sengaja

memperlancar atau memudahkan bagi pelaku untuk mengakibatkan dari suatu

tindak pidana.

Membantu bersifat memberiikan bantuan atau memberiikan sokongan

kepada pelaku. Berarti orang yang membantu tidak melakukan tindak pidana

hanya memberiikan kemudahan bagi pelaku.

Unsur membantu dalam hal ini memiliki dua unsur yaitu unsur objektif

yang terpenuhi apabila perbuatannya tersebut memang dimaksudkan untuk

Universitas Sumatera Utara


memudahkan terjadinya suatu tindak pidana. Kemudian unsur subjektif terpenuhi

apabila pelaku mengetahui dengan pasti bahwa perbuatannya tersebut dapat

mempermudah terjadinya tindak pidana.

B. Pertanggungjawaban Pidana dalam Tindak Pidana Pemerasan dengan


Menggunakan Senjata Tajam yang Dilakukan Secara Bersama-sama
(Analisis Putusan Pengadilan Negeri Sibolga Nomor
266/Pid.b/2014/PN.Sbg)

1. POSISI KASUS

a. Kronologis

Pada hari Minggu tanggal 08 Juni 2014 sekitar pukul 03.30 Wib, saat

korban David Perdana Sianturi mengemudikan becak motornya dengan membawa

ke lima teman-temannya yang bernama Rince, Erdon, Alfaris, Putra, Ges dan

Raju ke dalam Terminal Sibolga dengan tujuan mencari kedai tempat menonton

bola, dan pada saat itu setelah berada didalam Terminal Sibolga tidak ada kedai

yang buka, sehingga para bermaksud keluar dan hendak meninggalkan terminal

Sibolga, namun tiba-tiba datang terdakwa I Aryono Manurung alias BEJO

dengan membawa 1 (Satu) buah parang berukuran panjang dengan ukuran

kurang lebih 30 (tiga puluh) cm mengejar becak motor yang dikemudikan

David Perdana Sianturi dan langsung menodongkan sebilah parang tersebut

keleher David Perdana Sianturi sambil menyuruh mematikan becak dan

mengeluarkan semua barang-barang para korban, lalu David Perdana Sianturi

langsung memarikan becak motornya dan menjawab ”ngak ada bang”, kemudian

terdakwa I Aryono Manurung alias Bejo mengancam lagi ”ini parang nanti

kuputus kepala kalian”, kemudian terdakwa-terdakwa langsung mendekati para

Universitas Sumatera Utara


korban lalu terdakwa I mengambil barang milik Erdon berupa kaca mata dan

barang milik Alfaris berua sepatu, setelah itu datang terdakwa II Patar Agus

Kristanto Simanjuntak langsung mengambil Hand Phone samsung dari saku

celana korban David Perdana Sianturi, lalu mengambil 1 (satu) unit HP Nokia

warna hitam milik saksi Putra Ges, serta mengambil kemeja dan sepatu

milik Rince, sedangkan terdakwa III. Rudi Rizky Agustian Sinaga alias

Bajingan mengambil uang Rp. 10.000,-(sepuluh ribu rupiah) dan Topi milik saksi

Alfaris, setelah para terdakwa mengambil semua barang-barang milik para

korban lalu terdakwa I Aryono Manurung alias Bejo mengatakan ”kalian

tunggu disini, jangan macam-macam kalian nanti kubakar becak kalian”, dan

setelah itu terdakwa-terdakwa langsung pergi meninggalkan terminal Sibolga dan

para korban setelah 5 (lima) menit kemudian David Perdana Sianturi pulang ke

Pintu Angin untuk memanggil dan mengadukan kejadian tersebut ke bang

Ramces, selanjutnya para korban dengan didampingi Bang Ramces

mengadukan kejadian tersebut kepada Polres Kota Sibolga. Perbuatan terdakwa

tersebut sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 368 ayat (1)

KUHP.

b. Dakwaan

Dalam putusan ini, jaksa menguraikan tuntutannya sebagai berikut:

Bahwa para terdakwa I Aryono Manurung alias Bejo, terdakwa II.

Patar Agus Kristanto Simanjuntak dan terdakwa III Rudi Rizky Agustian

Sinaga alias Bajingan pada hari Minggu tanggal 08 Juni 2014, sekira pukul

03.30 Wib atau setidak-tidaknya pada suatu hari dalam bulan Juni 2014,

Universitas Sumatera Utara


bertempat di Jalan SM Raja Kelurahan Pancuran Gerobak Kecamatan

Sibolga Kota, Kota Sibolga, atau setidak-tidaknya pada suatu tempat yang

termasuk dalam wilayah hukum Pengadilan Negeri Sibolga, ”Barang siapa

dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang secara melawan

hukum, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk

memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan

orang itu atau orang lain, atau supaya membuat utang maupun menghapuskan

piutang, diancam karena pemerasan”, perbuatan terdakwa tersebut sebagaimana

diatur dan diancam pidana dalam pasal 368 ayat (1) KUHP.

c. Tuntutan

Tuntutan pidana yang diajukan oleh Penuntut Umum yang pada

pokoknya sebagai berikut :

1) Menyatakan terdakwa I Aryono Manurung Alias Bejo, terdakwa II

Patar Agus Kristanto Simanjuntak dan terdakwa III Rudi Rizky Agustian

Sinaga Alias Bajingan terbukti secara sah dan meyakinkan menurut

hukum melakukan “Pemerasan” melanggar pasal 368 ayat(1) Jo pasal 55

ayat (1) ke-1 KUHP sebagaimana dalam dakwaan ;

2) Menjatuhkan pidana penjara terhadap terdakwa I Aryono Manurung

Alias Bejo, terdakwa II Patar Agus Kristanto Simanjuntak dan terdakwa

III Rudi Rizky Agustian Sinaga Alias Bajingan dengan pidana

penjara masing-masing selama 3 (tiga) tahun dikurangi selama

terdakwa ditahan ;

Universitas Sumatera Utara


3) Menyatakan barang bukti berupa :

a) 1 (satu) bilah parang bergagang kayu panjang sekira 50cm; Dirampas


untuk dimusnahkan;
b) 1(satu) pasang sepatu warna merah merk Nike;

c) 1(satu) unit hand phone merk Samsung warna Silver;

d) 1(satu) unit hand phone merk Nokia warna hitam;

e) 1(satu) buah kaca mata hitam; Dikembalikan kepada yang pemiliknya

yang berhak melalu saksi korban David Perdana Sianturi ;

4) Menetapkan agar terdakwa I Aryono Manurung Alias Bejo, terdakwa II

Patar Agus Kristanto Simanjuntak dan terdakwa III Rudi Rizky Agustian

Sinaga Alias Bajingan dibebani membayar ongkos perkara masing-

masing sebesar Rp 2.000.- (dua ribu rupiah); Setelah mendengar

pembelaan Para Terdakwa yang pada pokoknya menyatakan

berkeberatan atas tuntutan pidana yang diajukan oleh Penuntut

Umum tersebut, untuk itu Para Terdakwa memohon keringanan dan

Para Terdakwa telah menyatakan penyesalannya serta berjanji tidak

akan mengulanginya lagi, atas pembelaan Para Terdakwa tersebut

Penuntut Umum bertetap pada tuntutan pidananya.

4) Fakta-Fakta Hukum

1) Keterangan Saksi

a) Saksi David Perdana Sianturi dibawah sumpah pada pokoknya

menerangkan sebagai berikut :

Universitas Sumatera Utara


Telah terjadi tindak pidana pencurian didahului dengan

kekerasan atau ancaman kekerasan yang terjadi terhadap saksi pada

hari Minggu tanggal 08 Juni 2014 sekira pukul 03.30 Wib, Jl. SM.

Raja, Kel. Panc. Gerobak, Kec. Sibolga Kota, Kota Sibolga(tepatnya

di dalam Terminal Sibolga), yang melakukan tindak pidana

pencurian didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan

tersebut adalah Aryono Manurung alias Bejo, Patar Agus Kristanto

Simanjuntak, Rudi Rizky Agustian Sinaga alias Bajingan.

Barang milik saksi yang telah dicuri adalah 1 (satu) unit

hand phone Samsung warna hitam dan alat yang digunakan Para

Terdakwa untuk melakukan pencurian didahului dengan kekerasan

atau ancaman kekerasan tersebut adalah 1 (satu) buah parang

berukuran panjang dengan ukuran ± 30 cm.

Para Terdakwa melakukan pencurian didahului dengan

kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut adalah dengan cara

salah seorang teman Hariono Manurung Als. Bejo yang tidak saksi

kenal mengejar becak motor yang saksi kemudikan pada saat di

dalam Terminal Sibolga dengan menggunakan 1 (satu) buah parang

berkuran panjang dengan ukuran ± 30 cm dan langsung menodongkan

parang tersebut tepat ke leher saksi dan laki-laki tersebut

mengatakan“matikan becak mu dan keluarkan semua barang - barang

kalian” dan saya menjawab “gak ada bang” kemudian laki-laki

tersebut mengatakan lagi“ini parang, nanti putus kepala kalian”

Universitas Sumatera Utara


setelah itu 3 (tiga) orang lainnya langsung datang ikut membantu

dan menggeledah seluruh kantong saksi dan kelima orang teman

saksi yang saksi bawa dan mengambil semua barang-barang

berupa hand phone, uang, baju, sandal, kaca mata, topi, dan sepatu

saksi dan kelima teman-teman saksi tersebut.

Kerugian yang saksi alami akibat pencurian didahului dengan

kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut adalah Rp 600.000,-(enam

ratus ribu rupiah), yang ikut menjadi korban pencurian didahului

dengan kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut adalah Rince,

Erdon, Alfaris, Putra Ges, dan Raju; Terhadap keterangan saksi,

Para Terdakwa memberikan pendapat yang menyatakan tidak

berkeberatan;

b) Saksi Alparis Sitanggang dibawah sumpah pada pokoknya

menerangkan sebagai berikut:

Bahwa telah terjadi tindak pidana pencurian didahului

dengan kekerasan atau ancaman kekerasan yang terjadi terhadap

saksi pada hari Minggu tanggal 08 Juni 2014 sekira pukul 03.30 Wib,

Jl. SM. Raja, Kel. Panc. Gerobak, Kec. Sibolga Kota, Kota

Sibolga(tepatnya di dalam Terminal Sibolga), yang melakukan

tindak pidana pencurian didahului dengan kekerasan atau ancaman

kekerasan tersebut adalah Aryono Manurung alias Bejo, Patar Agus

Kristanto Simanjuntak, Rudi Rizky Agustian Sinaga alias Bajingan.

Universitas Sumatera Utara


Barang milik saksi yang telah dicuri adalah topi, sepatu kain

merk Nike warna merah, uang sebesar Rp 10.000,-(sepuluh ribu)

Bahwa alat yang digunakan Para Terdakwa untuk melakukan

pencurian didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan

tersebut adalah 1 (satu) buah parang berukuran panjang dengan

ukuran ± 30 cm dan cara Para Terdakwa melakukan pencurian

didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut

adalah dengan cara salah seorang teman Hariono Manurung Als.

Bejo yang tidak saksi kenal mengejar becak motor yang saksi

kemudikan pada saat di dalam Terminal Sibolga dengan

menggunakan 1 (satu) buah parang berkuran panjang dengan ukuran ±

30 cm dan langsung menodongkan parang tersebut tepat ke leher

saksi David Perdana Sianturi dan laki-laki tersebut

mengatakan“matikan becak mu dan keluarkan semua barang - barang

kalian”dan saya menjawab“gak ada bang” kemudian laki-laki

tersebut mengatakan lagi “ini parang, nanti putus kepala kalian”

setelah itu 3 (tiga) orang lainnya langsung datang ikut membantu

dan menggeledah seluruh kantong saksi dan kelima orang teman

saksi yang saksi bawa dan mengambil semua barang-barang

berupa hand phone, uang, baju,sandal, kaca mata, topi, dan sepatu.

Kerugian yang saksi alami akibat pencurian didahului dengan

kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut adalah Rp 105.000,-

(seratus lima ribu rupiah) yang ikut menjadi korban pencurian

Universitas Sumatera Utara


didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut adalah

Rince, Erdon, Putra Ges, Raju, dan David; Terhadap keterangan

saksi, Para Terdakwa memberikan pendapat yang menyatakan

tidak berkeberatan;

c) Saksi Erdon Pertemuan Hutahaean dibawah sumpah pada

pokoknya menerangkan sebagai berikut :

Telah terjadi tindak pidana pencurian didahului dengan

kekerasan atau ancaman kekerasan yang terjadi terhadap saksi pada

hari Minggu tanggal 08 Juni2014 sekira pukul 03.30 Wib, Jl. SM.

Raja, Kel. Panc. Gerobak, Kec. Sibolga Kota, Kota Sibolga (tepatnya

di dalam Terminal Sibolga), yang melakukan tindak pidana

pencurian didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan

tersebut adalah Aryono Manurung alias Bejo, Patar Agus Kristanto

Simanjuntak, Rudi Rizky Agustian Sinaga alias Bajingan.

Barang milik saksi yang telah dicuri adalah kaca mata hitam

dan alat yang digunakan Para Terdakwa untuk melakukan

pencurian didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan

tersebut adalah 1 (satu) buah parang berukuran panjang dengan

ukuran ± 30 cm dan cara Para Terdakwa melakukan pencurian

didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut

adalah dengan cara salah seorang teman Hariono Manurung Als.

Bejo yang tidak saksi kenal mengejar becak motor yang saksi

Universitas Sumatera Utara


kemudikan pada saat di dalam Terminal Sibolga dengan

menggunakan 1 (satu) buah parang berkuran panjang dengan ukuran ±

30 cm dan menodongkan parang tersebut tepat ke leher saksi

David Perdana Sianturi dan laki-laki tersebut mengatakan“matikan

becak mu dan keluarkan semua barang - barang kalian”dan saya

menjawab“gak ada bang”kemudian laki-laki tersebut mengatakan

lagi “ini parang, nanti putus kepala kalian” setelah itu 3 (tiga)

orang lainnya langsung datang ikut membantu dan menggeledah

seluruh kantong saksi dan kelima orang teman saksi yang saksi

bawa dan mengambil semua barang-barang berupa hand phone,

uang, baju,sandal, kaca mata, topi, dan sepatu.

Kerugian yang saksi alami akibat pencurian didahului dengan

kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut adalah Rp 105.000,-

(seratus lima ribu rupiah) dan yang ikut menjadi korban pencurian

didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut adalah

Rince, Alfaris, Putra Ges, Raju, dan David; Terhadap keterangan

saksi, Para Terdakwa memberikan pendapat yang menyatakan

tidak berkeberatan;

d) Saksi Prince Alex Orlando Parhusip dibawah sumpah pada

pokoknya menerangkan sebagai berikut:

Telah terjadi tindak pidana pencurian didahului dengan

kekerasan atau ancaman kekerasan yang terjadi terhadap saksi pada

hari Minggu tanggal 08 Juni 2014 sekira pukul 03.30 Wib, Jl. SM.

Universitas Sumatera Utara


Raja, Kel. Panc. Gerobak, Kec. Sibolga Kota, Kota Sibolga(tepatnya

di dalam Terminal Sibolga), yang melakukan tindak pidana

pencurian didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan

tersebut adalah Aryono Manurung alias Bejo, Patar Agus Kristanto

Simanjuntak, Rudi Rizky Agustian Sinaga alias Bajingan, barang

milik saksi yang telah dicuri adalah 1(satu) pasang sepatu kain merk

Mogul dan 1(satu) buah baju kemeja.

Alat yang digunakan Para Terdakwa untuk melakukan

pencurian didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan

tersebut adalah 1 (satu) buah parang berukuran panjang dengan

ukuran ± 30 cm dan cara Para Terdakwa melakukan pencurian

didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut

adalah dengan cara salah seorang teman Hariono Manurung Als.

Bejo yang tidak saksi kenal mengejar becak motor yang saksi

kemudikan pada saat di dalam Terminal Sibolga dengan

menggunakan 1 (satu) buah parang berkuran panjang dengan ukuran ±

30 cm dan langsung menodongkan parang tersebut tepat ke leher

saksi David Perdana Sianturi dan laki-laki tersebut

mengatakan“matikan becak mu dan keluarkan semua barang - barang

kalian”dan saya menjawab“gak ada bang” kemudian laki-laki

tersebut mengatakan lagi “ini parang, nanti putus kepala kalian”,

setelah itu 3 (tiga) orang lainnya langsung datang ikut membantu

dan menggeledah seluruh kantong saksi dan kelima orang teman

Universitas Sumatera Utara


saksi yang saksi bawa dan mengambil semua barang-barang

berupa hand phone, uang, baju, sandal, kaca mata, topi, dan sepatu.

Kerugian yang saksi alami akibat pencurian didahului dengan

kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut adalah Rp 105.000,-

(seratus lima ribu rupiah), yang ikut menjadi korban pencurian

didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut adalah

Rince, Alfaris, Putra Ges, Raju, dan David. Saksi Putra Ges Warasi

dibawah sumpah pada pokoknya menerangkan sebagai berikut:

Tindak pidana pencurian didahului dengan kekerasan atau

ancaman kekerasan yang terjadi terhadap saksi pada hari Minggu

tanggal 08 Juni 2014 sekira pukul 03.30 Wib, Jl. SM. Raja, Kel.

Panc. Gerobak, Kec. Sibolga Kota, Kota Sibolga(tepatnya di dalam

Terminal Sibolga), yang melakukan tindak pidana pencurian

didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut

adalah Aryono Manurung alias Bejo, Patar Agus Kristanto

Simanjuntak, Rudi Rizky Agustian Sinaga alias Bajingan.

Barang milik saksi yang telah dicuri adalah 1 (satu) unit

hand phone Nokia warna hitam dan 1(satu) buah baju kemeja, alat

yang digunakan Para Terdakwa untuk melakukan pencurian

didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut

adalah 1 (satu) buah parang berukuran panjang dengan ukuran ± 30

cm, cara Para Terdakwa melakukan pencurian didahului dengan

kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut adalah dengan cara

Universitas Sumatera Utara


salah seorang teman Hariono Manurung Als. Bejo yang tidak saksi

kenal mengejar becak motor yang saksi kemudikan pada saat di

dalam Terminal Sibolga dengan menggunakan 1 (satu) buah

parang berkuran panjang dengan ukuran ± 30 cm dan langsung

menodongkan parang tersebut tepat ke leher saksi David

Perdana Sianturi dan laki-laki tersebut mengatakan“matikan becak

mu dan keluarkan semua barang - barang kalian”dan saya

menjawab“gak ada bang” kemudian laki-laki tersebut mengatakan

lagi “ini parang, nanti putus kepala kalian”, setelah itu 3 (tiga)

orang lainnya langsung datang ikut membantu dan menggeledah

seluruh kantong saksi dan kelima orang teman saksi yang saksi

bawa dan mengambil semua barang-barang berupa hand phone,

uang, baju, sandal, kaca mata, topi, dan sepatu.

Kerugian yang saksi alami akibat pencurian didahului dengan

kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut adalah Rp 105.000,-

(seratus lima ribu rupiah), yang ikut menjadi korban pencurian

didahului dengan kekerasan atau ancaman kekerasan tersebut

adalah Rince, Alfaris, Putra Ges, Raju, dan David; Terhadap

keterangan saksi, Para Terdakwa memberikan pendapat yang

menyatakan tidak berkeberatan;

2). Keterangan Terdakwa62

Terdakwa membenarkan keterangan para saksi.

62
Keterangan terdakwa ialah apa yang terdakwa nyatakan di sidang tentang perbuatan
yang ia lakukan atau yang ia ketahui sendiri atau alami sendiri. (LihaT: Pasal 189 KUHAP).

Universitas Sumatera Utara


3). Barang Bukti63

Penuntut Umum mengajukan barang bukti sebagai berikut:

a) 1(satu) bilah parang bergagang kayu panjang sekira 50cm

b) 1(satu) pasang sepatu warna merah merk Nike

c) 1(satu) unit hand phone merk Samsung warna Silver

d) 1(satu) unit hand phone merk Nokia warna hitam

e) 1(satu) buah kaca mata hitam.

3). Pembuktian

Jaksa Penuntut umum dalam pembuktian unsur-unsur tindak pidana

menyebutkan sebagai berikut bahwa Para Terdakwa telah didakwa

oleh Penuntut Umum dengan dakwaan tunggal sebagaimana diatur

dalam Pasal 368 ayat(1) KUHP jo Pasal 55 ayat(1) ke-1 KUHP yang

unsur-unsurnya adalah sebagai berikut :

a). Barang Siapa;

b). Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang secara

melawan hokum

c). Memaksa seseorang dengan kekerasan untuk memberikan

barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah

kepunyaan orang itu ata orang lain, atau supaya membuat

utang maupun menghapuskan piutang;

63
Barang bukti adalah benda bergerak atau tidak bergerak, berwujud atau tidak berwujud
yang twelah dilakukan penyitaan oleh penyidik untuk keperluan pemeriksaan dalam tingkat
penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan. (Lihat: Pasal 1 angka 5 Peraturan
Kapolri No. 10 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pengelolaan Barang Bukti di Lingkungan
Kepolisian Negara Republik Indonesia).

Universitas Sumatera Utara


d). Orang yang melakukan, yang menyuruh melakukan dan turut

serta melakukan perbuatan ;

Menimbang, bahwa terhadap unsur-unsur tersebut Majelis Hakim

mempertimbangkan sebagai berikut :

a) Barang Siapa;

Menimbang, bahwa mengenai unsur ke-1 tersebut di atas yaitu “barang

siapa” Majelis akan mempertimbangkan sebagai berikut, bahwa yang

dimaksud dengan “barang siapa”disini adalah orang atau pribadi yang

merupakan subyek hukum yang melakukan suatu perbuatan pidana atau

subyek pelaku dari pada suatu perbuatan pidana Menimbang, bahwa di dalam

persidangan Para Terdakwa telah menerangkan bahwa ia adalah orang atau

pribadi yang beridentitas seperti apa yang disebutkan dalam surat dakwaan

Penuntut Umum Menimbang, bahwa untuk menetapkan apakah benar Para

Terdakwa subyek pelaku dari pada suatu perbuatan pidana dalam perkara ini

perlu dibuktikan apakah Para Terdakwa tersebut benar telah melakukan

suatu rangkaian tingkah laku perbuatan sebagaimana yang didakwakan. jika

benar Para Terdakwa melakukan suatu rangkaian tingkah laku perbuatan

yang memenuhi semua unsur-unsur dari pasal Undang-undang hukum

pidana yang didakwakan, maka dengan sendirinya unsur “barang siapa”

tersebut telah terpenuhi bahwa Para Terdakwa adalah pelaku dari

perbuatan pidana dalam perkara ini Menimbang, bahwa untuk itu Majelis

akan melihat unsur-unsur berikutnya apakah telah terpenuhi adanya oleh

perbuatan Para Terdakwa.

Universitas Sumatera Utara


b) Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang secara

melawan hukum

Menimbang, bahwa mengenai unsur yang ke-2 tersebut di atas yaitu

“Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang secara melawan

hukum”Majelis akan mempertimbangkan sebagai berikut Menimbang, bahwa

berdasarkan keterangan saksi-saksi dan keterangan Para Terdakwa, yang

pada pokoknya menerangkan bahwa terdakwa I Aryono Manurung alias

Bejo, terdakwa II Patar Agus Kristanto Simanjuntak dan terdakwa III Rudi

Rizky Agustian Sinaga alias Bajingan telah melakukan pencurian Minggu

tanggal 08 Juni 2014 sekira pukul 03.30 Wib, Jl. SM. Raja, Kel. Panc.

Gerobak, Kec. Sibolga Kota, Kota Sibolga (tepatnya di dalam Terminal

Sibolga), dengan cara awalnya Para Terdakwa melihat 6 (enam) orang laki-

laki mengendarai becak motor masuk ke dalam Terminal kemudian

terdakwa I Aryono Manurung alias Bejo mengejar becak motor tersebut

sambil mengancam dengan parang, setelah becak berhenti terdakwa I

Aryono Manurung alias Bejo, terdakwa II Patar Agus Kristanto Simanjuntak

dan terdakwa III Rudi Rizky Agustian Sinaga alias Bajingan mendekati

becak tersebut lalu menyuruh semua penumpang turun dari becak sambil

terdakwa I Aryono Manurung alias Bejo mengarahkan parang tepat dileher

pengemudi betor, sehingga akibat perbuatan para terdakwa para korban

merasa dirugikan

Menimbang, bahwa oleh karena itu menurut penilaian Majelis

Hakim, unsur ke-2 “Dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang

Universitas Sumatera Utara


secara melawan hukum”telah terpenuhi secara hukum oleh perbuatan Para

Terdakwa.

c) Memaksa seseorang dengan kekerasan untuk memberikan barang

sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu ata

orang lain atau supaya membuat utang maupun menghapuskan

piutang;

Menimbang, bahwa mengenai unsur yang ke-3 tersebut di atas

yaitu “Memaksa seseorang dengan kekerasan untuk memberikan barang

sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu ata orang

lain, atau supaya membuat utang maupun menghapuskan piutang”Majelis akan

mempertimbangkan sebagai berikut Menimbang, bahwa berdasarkan

keterangan saksi-saksi dan keterangan Para Terdakwa, yang pada

pokoknya menerangkan bahwa terdakwa I Aryono Manurung alias Bejo,

terdakwa II Patar Agus Kristanto Simanjuntak dan terdakwa III Rudi Rizky

Agustian Sinaga alias Bajingan telah melakukan pencurian Minggu tanggal

08 Juni 2014 sekira pukul 03.30 Wib, Jl. SM. Raja, Kel. Panc. Gerobak, Kec.

Sibolga Kota, Kota Sibolga (tepatnya di dalam Terminal Sibolga), dengan

cara awalnya Para Terdakwa melihat 6 (enam) orang laki-laki mengendarai

becak motor masuk ke dalam Terminal kemudian terdakwa I Aryono

Manurung alias Bejo mengejar becak motor tersebut sambil mengancam

dengan parang, setelah becak berhenti terdakwa I Aryono Manurung alias

Bejo, terdakwa II Patar Agus Kristanto Simanjuntak dan terdakwa III Rudi

Rizky Agustian Sinaga alias Bajingan mendekati becak tersebut lalu

Universitas Sumatera Utara


menyuruh semua penumpang turun dari becak sambil terdakwa I Aryono

Manurung alias Bejo mengarahkan parang tepat dileher pengemudi betor,

yaitu saksi David Perdana Sianturi, kemudian Para Terdakwa mengambil

barang-barang milik para korban berupa 1(satu) pasang sepatu, 1 (satu) buah

kaca mata hitam, 2(dua) unit hand phone merk Samsung dan merk Nokia dan

1(satu) buah kemeja, uang sebesar Rp 10.000,-(sepuluh ribu rupiah), 1(satu)

buah topi, 1 (satu) buah kemeja dan uang sebesar Rp 50.000,- (lima puluh

ribu rupiah), sehingga memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman

kekerasan utuk memberikan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian

adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat utang mapun

menghapuskan pituang Menimbang, bahwa oleh karena itu menurut

penilaian Majelis Hakim, unsur ke-3 “Memaksa seseorang dengan

kekerasan untuk memberikan barang sesuatu yang seluruhnya atau

sebagian adalah kepunyaan orang itu ata orang lain, atau supaya membuat

utang maupun menghapuskan piutang” telah terpenuhi secara hukum oleh

perbuatan Para Terdakwa.

d) Orang yang melakukan, yang menyuruh melakukan dan turut

serta melakukan perbuatan

Menimbang, bahwa mengenai unsur yang ke-2 tersebut di atas

yaitu “Orang yang melakukan, yang menyuruh melakukan dan turut serta

melakukan perbuatan”Majelis akan mempertimbangkan sebagai berikut

Menimbang, bahwa berdasarkan keterangan saksi-saksi dan keterangan

Para Terdakwa, yang pada pokoknya menerangkan bahwa Pada hari Minggu

Universitas Sumatera Utara


tanggal 08 Juni 2014 sekira pukul 03.30 Wib, Jl. SM. Raja, Kel. Panc.

Gerobak, Kec. Sibolga Kota, Kota Sibolga (tepatnya di dalam Terminal

Sibolga) terdakwa I Aryono Manurung alias Bejo, terdakwa II Patar Agus

Kristanto Simanjuntak dan terdakwa III Rudi Rizky Agustian Sinaga alias

Bajingan, bersama-sama telah melakukan pemerasan dan mengambil

barang milik para korban berupa 1(satu) pasang sepatu, 1(satu) buah kaca

mata hitam, 2(dua) unit hand phone merk Samsung dan merk Nokia dan

1(satu) buah kemeja, uang sebesar Rp 10.000,-(sepuluh ribu rupiah), 1(satu)

buah topi, 1(satu) buah kemeja dan uang sebesar Rp 50.000,-(lima puluh ribu

rupiah) ;Menimbang, bahwa oleh karena itu menurut penilaian Majelis

Hakim, unsur ke-4 “Orang yang melakukan, yang menyuruh melakukan

dan turut serta melakukan perbuatan”telah terpenuhi secara hukum oleh

perbuatan Para Terdakw Menimbang, bahwa oleh karena semuaunsur dari

Pasal 368 ayat(1) KUHP jo Pasal 55 ayat(1) ke-1 KUHP telahterpenuhi, maka

Para Terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan

meyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam

dakwaan.

5) Pertimbangan Hakim64

64
Pertimbangan hakim merupakan salah satu aspek terpenting dalam menentukan
terwujudnya nialai dari suatu putusan hakim yang mengandung keadilan (ex eaquo et bono) dan
megandung kepastian hukum, deasmping itu juga mengandung manfaat bagi para pihak yang
bersangkutan sehingga pertimbangan hakim harus disikapi dengan teliti, baik dan cermat. Apabila
pertimbangan hakim tidak teliti, baik dan cermat, maka putusan hakim yang berasal dari
pertimbangan hakim tersebut akan dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung.
Lihat: Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata dan Pengadilan Agama, cet v, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta,2004, hlm.140).

Universitas Sumatera Utara


Pertimbangn hakim menyatakan, bahwa oleh karena semua unsur dari

Pasal 368 ayat(1) KUHP jo Pasal 55 ayat(1) ke-1 KUHP telah terpenuhi, maka

Para Terdakwa haruslah dinyatakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan

melakukan tindak pidana sebagaimana didakwakan dalam dakwaan Tunggal.

Menimbang, bahwa dalam persidangan, Majelis Hakim tidak menemukan hal-hal

yang dapat menghapuskan pertanggungjawaban pidana, baik sebagai alasan

pembenar dan atau alasan pemaaf, maka Para Terdakwa harus

mempertanggungjawabkan perbuatannya. Menimbang, bahwa oleh karena Para

Terdakwa mampu bertanggung jawab, maka harus dinyatakan bersalah dan

dijatuhi pidana, bahwa untuk menjatuhkan pidana terhadap Para Terdakwa, maka

perlu dipertimbangkan terlebih dahulu keadaan yang memberatkan dan yang

meringankan Para Terdakwa.

Keadaan yang memberatkan :

a) Perbuatan Para Terdakwa meresahkan masyarakat;

b) Para Terdakwa merugikan saksi korban;

Keadaan yang meringankan :

a) Para Terdakwa mengakui terus terang perbuatannya sehingga

tidak mempersulit jalannya persidangan.

6) Amar Putusan65

Majelis dalam putusannya memutuskan sebagai berikut:

65
Amar Putusan atau Putusan Hakm menurut Prof. Sudikno Mertokusumo adalah suatu
pernyataan yang oleh hakim sebagai pejabat yang diberi wewenang itu, diucapkan dipersidangan
dan bertujuan mengahiri atau menyelesaikan suatu perkara atau suatu sengketa antara para pihak.
(Lihat: Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 1993, hlm.
158).

Universitas Sumatera Utara


a) Menyatakan terdakwa I Aryono Manurung alias Bejo, terdakwa II

Patar Agus Kristanto Simanjuntak dan terdakwa III Rudi Rizky

Agustian Sinaga alias Bajingan tersebut diatas telah terbukti secara

sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “turut serta

melakukan pemerasan“ sebagaimana tersebut dalam dakwaan

Tunggal.

b) Menjatuhkan pidana kepada Para Terdakwa oleh karena itu

dengan pidana penjara masing-masing selama 2(dua) tahun.

c) Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah

dijalani Para Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang

dijatuhkan.

d) Menetapkan Para Terdakwa tetap ditahan.

e) Menetapkan barang bukti berupa :

(1) 1(satu) bilah parang bergagang kayu panjang sekira 50cm

Dimusnahkan

(2) 1(satu) pasang sepatu warna merah merk Nike

(3) 1(satu) unit handphone merk Samsung warna silver

(4) 1(satu) unit handphone merk Nokia warna hitam

(5) 1(satu) buah kaca mata hitam, Dikembalikan kepada pemiliknya

yang berhak melalui saksi korban David Perdana Sianturi

f) Membebankan kepada Para Terdakwa membayar biaya perkara

masing-masing sebesar Rp 2.000,-(dua ribu rupiah).

Universitas Sumatera Utara


2. ANALISIS KASUS

Dalam kasus ini hakim menjatuhkan hukuman/pidana kepada para

terdakawa, hukum pidana ialah hukum yang mengatur tentang kepentingan-

kepentingan dan hubungan-hubungan yang berwujud perintah dan larangan atau

yang mengatur tentang pelanggaran-pelanggaran dan kejahatan-kejahatan

terhadap kepentingan umum, perbuatan mana diancam dengan hukuman yang

merupakan suatu penderitaan atau siksaan. Sedangkan “pemidanaan” diartikan

sebagai penghukuman. Bapak Amir Ilyas dalam bukunya menjelaskan bahwa

“pemidanaan bisa diartikan sebagai tahapan penetapan sanksi dan juga tahap

pemberian sanksi dalam hukum pidana”.66

Sebagaiamana termuat dalam amar putusan yang merupakan suatu hal

yang sangat penting dalam menciptakan tujuan hukum itu sendiri. Keadilan,

kemanfaatan, dan kepastian hukum haruslah tersirat dalam suatu putusan. Putusan

itu sendiri ditujukan bagi siapa saja yang ikut andil dalam suatu kasus pidana oleh

karena guna menciptakan tujuan hukum itu sendiri. Secara yuridis berapapun

sanksi pidana yang dijatuhakan oleh hakim tidak menjadi permasalahan selama

tidak melebihi batas minimum dan maksimum sanksi pidana yang diancamkan

dalam pasal yang bersangkutan, melainkan yang menjadi persoalan adalah apa

yang mendasari atau apa alasan pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan

berupa sanksi pidana sehingga putusan yang dijatuhkan secara objektif dapat

diterima dan memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat luas pada umumnya dan

bagi saksi korban dan juga terdakwa pada khususnya.

66
Amir Iliyas, Asas-Asas Hukum Pidana, Rangkang Education, Yogyakarta, 2012, hlm
95.

Universitas Sumatera Utara


Dasar dari adanya perbuatan pidana adalah asas legalitas, sedangkan

dasar dari dapat dipidananya seseorang adalah kesalahan, yang berarti

seseorang tidak mungkin dipertanggungjawabkan dan dijatuhi pidana kalau

tidak mempunyai kesalahan. Pertanggungjawaban pidana merupakan

pertanggungjawaban oleh orang terhadap perbuatan pidana yang telah

dilakukannya. “Pada hakikatnya pertanggung jawaban pidana merupakan suatu

mekanisme yang dibangun oleh hukum pidana untuk bereaksi atas kesepakatan

menolak suatu perbuatan tertentu.” Kesepakatan menolak tersebut dapat

berupa aturan tertulis maupun aturan tidak tertulis yang lahir dan berkembang

dalam masyarakat.

pertanggungjawaban pidana ini dimaksudkan untuk menentukan apakah

seseorang tersebut dapat dipertanggungjawabkan atas pidananya atau tidak

terhadap tindakan yang dilakukan itu. Dengan demikian, seseorang

mendapatkan pidana tergantung dua hal, yakni (1) harus ada perbuatan yang

bertentangan dengan hukum, atau dengan kata lain, harus ada unsur melawan

hukum jadi harus ada unsur Objektif, dan (2) terhadap pelakunya ada unsur

kesalahan dalam bentuk kesengajaan dan atau kealpaan, sehingga perbuatan

yang melawan hukum tersebut dapat dipertanggungjawabkan kepadanya jadi

ada unsur subjektif. Terjadinya pertanggungjawaban pidana karena telah ada

tindak pidana/perbuatan yang dilakukan oleh seseorang.67

67
S.R Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana Indonesia dan Penerapannya,
Cet. IV, Alumni haem-Pateheam, Jakarta, 1996, hlm. 245

Universitas Sumatera Utara


Menurut E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi yang dapat dikatakan seseorang

mampu bertanggungjawab (toerekeningsvatbaar), bilamana pada umumnya:68

a. Keadaan jiwanya:

1) Tidak terganggu oleh penyakit terus-menerus atau sementara

(temporair);

2) Tidak cacat dalam pertumbuhan (gagu, idiot,imbecile, dan

sebagainya), dan;

3) Tidak terganggu karena terkejut, hypnotisme,amarah yang meluap,

pengaruh bawah sadar/reflexe bewenging, melindur/slaapwandel,

menganggu karena demam/koorts, nyidam dan lain

sebagainya.Dengan perkataan lain didalam keadaan sadar.

b. Kemampuan jiwanya:

1) Dapat menginsyafi hakekat dari tindakannya;

2) Dapat menentukan kehendaknya atas tindakan tersebut, apakah akan

dilaksanakan atau tidak; dan

3) Dapat mengetahui ketercelaan dari tindakan tersebut.

Kemampuan bertanggungjawab didasarkan pada keadaan dan kemampuan

“jiwa” (geestelijke vermogens), dan bukan kepada keadaan dan kemampuan

“berfikir” (verstanddelijke vermogens), dari seseorang, walaupun dalam istilah

yang resmi digunakan dalam Pasal 44 KUHP adalah verstanddelijke vermogens

untuk terjemahan dari verstanddelijke vermogens sengaja digunakan istilah

“keadaan dan kemampuan jiwa seseorang”.

68
E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia
danPenerapannya, Cet. III, Storia Grafika, Jakarta, 2012, hlm. 249.

Universitas Sumatera Utara


Pertanggungjawaban pidana disebut sebagai “toerekenbaarheid”

dimaksudkan untuk menentukan apakah seseorang tersangka/terdakwa

dipertanggungjawabkan atas suatu tindak pidana (crime) yang terjadi atau tidak.

Sistem pertanggungjawaban pidana dalam hukum pidana Indonesia saat ini

menganut asas kesalahan sebagai salah satu asas disamping asas legalitas dalam

Pasal 1 KUHPidana. Pertanggungjawaban pidana merupakan bentuk perbuatan

dari pelaku tindak pidana terhadap kesalahan yang dilakukannya. Dengan

demikian, terjadinya pertanggungjawaban pidana karena ada kesalahan yang

merupakan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang, dan telah ada aturan

yang mengatur tindak pidana tersebut.

Kemampuan bertanggung jawab dapat diartikan sebagai kondisi batin

yang normal atau sehat dan mampunya akal seseorang dalam membeda - bedakan

hal-hal yang baik dan yang buruk atau dengan kata lain mampu untuk

menginsyafi sifat melawan hukumnya suatu perbuatan dan sesuai dengan

keinsyafan itu mampu untuk menentukan adanya kemampuan bertanggung jawab,

yaitu faktor akal dan faktor kehendak. Akal yaitu dapat membedakan antara

perbuatan yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan, sedangkan kehendak

yaitu dapat menyesuaikan tingkah lakunya dengan keinsyafan atas sesuatu yang

diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan.69

Keadaan batin yang normal atau sehat ditentukan oleh faktor akal pembuat

yang dapat dilihat dari akalnya mampu membeda - bedakan perbuatan yang boleh

dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dilakukan. Kemampuan pembuat untuk

69
Mahrus Ali, 2011, Dasar - Dasar Hukum Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, hal. 171

Universitas Sumatera Utara


membeda - bedakan perbuatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan,

menyebabkan yang bersangkutan dapat dipertanggung jawabkan dalam hukum

pidana, ketika melakukan tindak pidana. dapat dipertanggung jawabkan karena

akalnya yang sehat dapat membimbing kehendaknya untuk menyesuaikan dengan

yang ditentukan oleh hukum, padanya diharapkan untuk selalu berbuat sesuai

dengan yang ditentukan hukum.70

Mengenai kemampuan bertanggung jawab, simons mengartikannya

sebagai suatu keadaan psikis, yang membenarkan adanya penerapan suatu upaya

pemidanaan, baik dilihat dari sudut umum maupun orangnya. 71 Seseorang yang

dikatakan mampu bertanggung jawab jika jiwanya sehat, apabila; 1. ia mampu

untuk mengetahui atau menyadari bahwa perbuatannya bertentangan dengan

hukum 2. ia dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan kesadaran tersebut..

10 Dalam KUHP, ketentuan mengenai kemampuan bertanggung jawab diatur

dalam buku I bab III Pasal 44 ayat (1) yang berbunyi: “barangsiapa melakukan

perbuatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya karena jiwanya

cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana.” Dilihat

dalam Pasal 44 ayat (1) dijelaskan bahwa seseorang yang jiwanya cacat atau

terganggu tidak dapat dipidana, hal ini disebabkan karena orang tersebut tidak

mampu menyadari bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum serta

tindakan yang dilakukan diluar dari kesadarannya, maka orang tersebut tidak

dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

70
Ibid hlm 172
71
Sudarto, 1983, Hukum dan Perkembangan Masyarakat, Sinar Baru, Bandung, hal.95

Universitas Sumatera Utara


Dalam kasus ini, para terdakwa telah memenuhi unsur-unsur untuk

mempertanggungjawabkan perbuatannya atau dengan kata lain mampu

dikenakan hukum pidana terhadap perbuatannya sebagaimana dirumuskan

orang yang mampu bertanggungjawab harus memenuhi setidaknya 3 (tiga)

syarat, yaitu : (1) dapat menginsafi (mengerti) makna perbuatannya dalam alam

kejahatan, (2) dapat menginsafi bahwa perbuatanya di pandang tidak patut

dalam pergaulan masyarakat, (3) mampu untuk menentukan niat atau

kehendaknya terhadap perbuatan tadi. Sehingga putusan hakim yang

menjatuhkan hukuman pidana terhadap para terdakwa tindak pidana pemerasan

dengan ancaman yang dilakukan secara bersama-sama sudah tepat.

Universitas Sumatera Utara


BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Dalam dakwaan yang digunakan oleh jaksa dalam surat dakwaan ini adalah

dakwaan tunggal dengan menggunakan pasal 368 ayat (1) KUHP. Bentuk

dakwaan tungal ini dipakai karena tidak adanya keraguan oleh jaksa untuk

mengidentifikasi tindak pidana apakah yang dilakukan oleh para terdakwa.

Dengan tidak adanya keraguan tersebut, maka jaksa dapat membuat dakwaan

dengan bentuk dakwaan tunggal. Dalam kasus ini dakwaan Jaksa Penuntut

Umum telah sesuai.

2. Dalam kasus putusan Pengadilan Negeri Sibolga Nomor

266/Pid.B/2014/PN.Sbg para terdakwa telah dapat dimintai

pertanggungjawaban pidananya karena telah memenuhi unsur-unsur

pertanggungjawaban pidana yaitu adanya kemampuan bertanggungjawab,

adanya kesalahan yang berbentuk kesengajaan (dolus), serta tidak adanya

alasan yang menghapuskan kesalahan para terdakwa ( alasan pemaaaf).

Adapun bentuk pertanggungjawaban yang dibebankan kepada para terdakwa

yaitu berupa penjatuhan pidana penjara selama 2 (dua) tahun sudalah tepat.

Universitas Sumatera Utara


B. SARAN

1. Hendaknya Jaksa Penuntut Umum menuntut terdakwa dengan hukuman

maksimal sebab perbuatan para terdakwa sangat merugikan para korban baik

secara materil maupun secara moril, sebagaimana para terdakwa melakukan

pengancaman dengan menggunakan senjata tajam yang ditujukan kebagian

tubuh para korban serta kata-kata ancaman yang sangat menakutkan kepada

para korban. Dengan tuntutan yang berat, maka hakim dapat menjatuhkan

hukuman terhadap para terdakwa sesuai dengan surat dakwaan yang dibuat

oleh Jaksa Penuntut Umum demi memberikan rasa keadilan kepada para

korban dan kepada masyarakat.

2. Hendaknya terdakwa dihukum lebih berat lagi untuk memberikan efek jera

kepada terdakwa, dengan adanya pidana yang dijatuhkan kepada pelaku

tindak pidana pemerasan dengan ancaman dapat menimbulkkan efek jera dan

memberi kesadaran kepada para pihak lain agar tidak melakukan tindak

pidana pemerasan dengan ancaman dalam kehidupan masyarakat sehingga

keamanan dan kenyamanan tercipta di dalam masyarakat demi mewujudkan

kehidupan yang harmonis.

Universitas Sumatera Utara


BAB II

Dakwaan Jaksa Penuntut Umum Terhadap Tindak Pidana Pemerasan

Dengan Menggunakan Senjata Tajam Yang Dilakukan Secara Bersama-

Sama Dalam Putusan Pengadilan Negeri Sibolga Nomor

266/Pid.B/2014/Pn.Sbg

A. Tinjauan Umum Mengenai Dakwaan

1. Pengertian Surat Dakwaan

Periode HIR surat dakwaan disebut surat tuduhan atau acte van

beshuldiging, seperti yang ditegaskan pada Pasal 140 ayat (1) KUHAP, diberi

nama surat dakwaan. Atau dimasa yang lalu surat dakwaan lazim disebut acte van

verweijzing, dalam istilah hukum Inggris disebut imputation atau indictment.31

Menurut Mr.I.A.Negerburgh Surat ini adalah sangat penting dalam

pemeriksaan perkara pidana, karena ialah yang merupakan dasarnya,dan

menentukan batas-batas bagi pemeriksaan hakim.Memang pemeriksaan itu tidak

batal jika batas-batas ittu dilampaui,tetapi putusan hakim hanyalah boleh

mengenai peristiwa-peristiwa yang terletak dalam batas-batas itu32.

Surat dakwaan merupakan dasar penuntutan perkara pidana yang dibuat

oleh jaksa penuntut umum dan diajukan ke pengadilan dengan adanya surat

dakwaan tersebut berarti ruang lingkup pemeriksaan telah dibatasi dan jika dalam

pemeriksaan terjadi penyimpangan dari surat dakwaan, maka hakim ketua sidang

31
Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Penyidikan dan
Penuntutan (Edisi Kedua), Sinar Grafika, Jakarta, 2001, hlm. 386.
32
Harun M. Husein, Surat Dakwaan:Tekhnik Penyusunan, Fungsi dan Permasalahannya,
Jakarta : Rineka Cipta, 1994. hlm. 44.

Universitas Sumatera Utara


mempunyai wewenang untuk memberikan teguran kepada jaksa atau penasihat

hukum tesangka. 33

Surat dakwaan adalah pijakan dasar bagi proses persidangan pidana di

ranah hukum pidana di Indonesia. Tetapi ada kalanya surat dakwaan itu

mempunyai kesalahan sehingga diperlukan suatu perubahan surat dakwaan.

Perubahan surat dakwaan terkait erat dengan Pasal 143 dan 144 KUHAP, yang

mana pada Pasal 143 KUHAP mengenai syarat dan ketentuan yang harus

dipenuhi dalam surat dakwaan, sedangkan Pasal 144 KUHAP adalah tentang

perubahan surat dakwaan.

Pasal 143 KUHAP :


(2) Penuntut umum membuat surat dakwaan yang diberi tanggal dan
ditandatangani serta berisi :
a. nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal lahir, jenis kelamin,
kebangsaan, tempat tinggal, agama dan pekerjaan tersangka;
b. uraian secara cermat, jelas dan lengkap mengenai tindak pidana yang
didakwakan dengan menyebutkan waktu dan tempat tindak pidana
itu dilakukan.
(3) Surat dakwaan yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana di maksud
dalam ayat (2) huruf b batal demi hukum.
(4) Turunan surat pelimpahan perkara beserta surat dakwaan disampaikan
kepada tersangka atau kuasanya atau penasihat hukumnya dan penyidik,
pada saat yang bersamaan dengan penyampaian surat pelimpahan
perkara tersebut ke pengadilan negeri.
Pasal 144 KUHAP :
(1) Penuntut umum dapat mengubah surat dakwaan sebelum pengadilan
menetapkan hari sidang, baik dengan tujuan untuk menyempurnakan
maupun untuk tidak melanjutkan penuntutannya.
(2) Pengubahan surat dakwaan tersebut dapat dilakukan hanya satu kali
selambat-lambatnya tujuh hari sebelum sidang dimulai.
(3) Dalam hal penuntut umum mengubah surat dakwaan ia menyampaikan
turunannya kepada tersangka atau penasihat hukum dan penyidik.

Penuntut umum hanya dapat melakukan pengubahan surat dakwaan dalam

dua waktu, yakni pertama sebelum pengadilan menetapkan hari sidang, yang
33
Kuswindiarti. 2009. “Pola Pembelaan Dalam Memberikan Bantuan Hukum Terhadap
terdakwa dalam Proses Pemeriksaan di Pengadilan” JURNAL MANAJERIAL. Vol. 5, No.2

Universitas Sumatera Utara


pengubahan surat dakwaan dapat dilakukan beberapa kali (vide Pasal 144 ayat (1)

KUHAP), dan kedua hanya satu kali selambat-lambatnya tujuh hari sebelum

sidang dimulai (vide Pasal 144 ayat (2) KUHAP). Sedangkan hak

terdakwa/tersangka adalah memperoleh turunan surat dakwaan yang telah diubah.

Dalam teknis perkara, jika perubahan ini dilakukan tidak sesuai waktu

yang telah disebutkan di atas, terdakwa memperoleh hak untuk menolak

disidangkan dengan dasar dakwaan yang telah dirubah tidak sesuai Pasal 144

KUHAP. Jika seandainya turunan surat dakwaan dengan surat dakwaan di tangan

majelis hakim tidak mempunyai kesamaan, maka terdakwa mempunyai hak untuk

menolak disidangkan dengan alasan adanya kerancuan surat dakwaan yang

selanjutnya dapat meminta kepada majelis hakim untuk menjatuhkan putusan

berupa surat dakwaan tidak dapat diterima.34

2. Fungsi Surat Dakwaan

Surat Dakwaan menempati posisi sentral dan strategis dalam

pemeriksaan perkara pidana di Pengadilan, karena itu surat dakwaan sangat

dominan bagi keberhasilan pelaksana tugas penuntutan. Fungsi Surat Dakwaan

dapat dikategorikan sebagai berikut :35

a. Bagi Pengadilan / Hakim

Surat Dakwaan merupakan dasar dan sekaligus membatasi ruang lingkup

pemeriksaan,dasar pertimbangan dalam penjatuhan keputusan serta Surat

dakwaan juga akan memperjelas aturan-aturan hukum mana yang dilanggar oleh

34
http://abdulahffandi.wordpress.com/2011/10/07/kapan-dapat-dilakukan-perubahan-surat
-dakwaan/,Diakses pada Tanggal 21 Januari 2017 Pukul 01.36 Wib.
35
http://panduanhukum.blogspot.co.id/2012/05/fungsidandasarpembuatansurat.html?m=1,
diakses pada Tanggal 21 Januari 2017 Pukul 00.51 Wib.

Universitas Sumatera Utara


terdakwa. Dengan demikian, hakim tidak boleh memutuskan atau mengadili

perbuatan pidana yang tidak didakwakan.36

b. Bagi Penuntut Umum

Bagi seorang penuntut umum surat dakwaan merupakan dasar pelimpahan

perkara, karena dengan pelimpahan perkara tersebut penuntut umum meminta

agar perkara tersebut diperiksa dan diputus dalam sidang pengadilan, atas

dakwaan yang dilampirkan dalam pelimpahan perkara tersebut.

Dalam tahap selanjutnya, surat dakwaan itu menjadi dasar

pembuktian/pembahasan yuridis, dasar tuntutan pidana dan akhirnya merupakan

dasar upaya hukum.

c. Bagi Terdakwa/Penasehat Hukum

Bagi terdakwa/penasihat hukum surat dakwaan merupakan dasar untuk

mempersiapkan pembelaan dan oleh karena itulah surat dakwaan harus disusun

secara cermat, jelas dan lengkap.

3. Prinsip Surat Dakwaan

Membicarakan prinsip surat dakwaan harus disesuaikan dengan ketentuan

KUHAP, sebab prinsip yang diatur dalam HIR dengan KUHAP terdapat beberapa

perbedaan.Terutama yang menyangkut pasal 83 HIR, yang menegaskan surat

tolakan jaksa bukan merupakan surat tuduhan dalam arti kata yang sebenarnya.

Yang membuat surat tuduhan menurut HIR adalah Ketua Pengadilan Negeri, yang

mempunyai wewenang untuk mengubah isi tolakan jaksa. Ketua Pengadilan

36
Ramelan (mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus), dalam bukunya Hukum

Acara Pidana (Teori dan Implementasi), pada halaman 162.

Universitas Sumatera Utara


Negeri tidak terikat pada isi tolakan jaksa. Itu sebabnya, sistem pembuatan surat

dakwaan menurut HIR, jaksa sebagai penuntut umum belum sempurna berdiri

sendiri, masih berada dibawah pengawasan Ketua Pengadilan Negeri. Barangkali

disebabkan anggapan pada masa pembuatan HIR, sebagian besar penuntut umum

belum begitu mahir menyusun perumusan yuridis, jika dibandingkan dengan para

hakim/Ketua Pengadilan Negeri, pada umumnya terdiri dari sarjana hukum.37

Menurut KUHAP kedudukan jaksa sebagai penuntut umum semakin

dipertegas dalam posisi sebagi instansi yang berwenang melakukan penuntutan

(Pasal 1 butir 7 dan Pasal 137). Dalam posisi sebagai aparat penuntut umum, pasal

140 ayat (1) menegaskan wewenang penuntut umum untuk membuat surat

dakwaan tanpa campur tangan instansi lain. Penuntut umum “berdiri sendiri” dan

sempurna (volwaardig) dalam pembuatan surat dakwaan. Bertitik tolak dari

ketentuan pasal 1 butir 7 dan pasal 137 serta pasal 140 ayat (1), kedudukan

penuntut umum dalam pembuatan surat dakwaan dapat dijelaskan :

a. Pembuatan surat dakwaan dilakukan secara sempurna dan berdiri sendiri atas

wewenang yang diberikan Undang-undang kepada penuntut umum.

b. Surat Dakwaan Adalah Dasar Pemikiran Hakim

Hakim dalam menjalankan tugasnya dalam menyelesaikan suatu perkara,

khususnya perkara pidana memerlukan waktu yang cukup panjang.38Oleh karena

itu pendekatan pemeriksaan persidangan, harus bertitik tolak dan diarahkan

kepada usaha membuktikan tindak pidana yang dirumuskan dalam surat dakwaan.

37
Yahya Harahap, Op. cit, hlm. 389.
38
https://zulfanlaw.wordpress.com/2008/07/10/dasar-pertimbangan-hakim-dalammenjat
uhkan-putusan-bebas-demi-hukum/,diakses tanggal 13, Agustus 2016, pukul 18.43. Wib.

Universitas Sumatera Utara


c. Hanya Jaksa Penuntut Umum yang Berhak dan Berwenang Menghadapkan

dan Mendakwa Seseorang yang Dianggap Melakukan Tindak Pidana di

Muka Sidang Pengadilan.

Bahwa selain dari melakukan penuntutan, melaksanakan penetapan hakim

dan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (executive

ambtenaar). Kejaksaan juga memiliki tugas dan wewenang dalam bidang pidana

lainnya yakni melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan putusan pidana

bersyarat, putusan pidana pengawasan, dan keputusan lepas bersyarat; melakukan

penyelidikan terhadap tindak pidana tertentu berdasarkan undang-undang;

melengkapi berkas perkara tertentu dan untuk itu dapat melakukan pemeriksaan

tambahan sebelum dilimpahkan ke pengadilan yang dalam pelaksanaannya

dikoordinasikan dengan penyidik 39

4. Syarat-syarat Surat Dakwaan

Dakwaan harus memiliki dua syarat sesuai dengan Pasal 143 ayat (2)

KUHAP disebutkan bahwa surat dakwaan yang diberi tanggal dan ditandatangani

serta berisi :

a. Syarat Formal

Syarat formal memuat hal-hal yang berhubungan dengan :

1) Surat dakwaan harus memuat secara lengkap identitas terdakwa yang

meliputi : Nama lengkap, tempat lahir, umur dan tanggal lahir, jenis

kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan tersangka.

2) Surat Dakwaan harus dibuat tanggal,

39
http://minsatu.blogspot.co.id/2011/07/peran-jaksa-penuntut-umum-dalam.html ,diakses
tanggal 13, Agustus, 2016, Pukul 19.15.Wib.

Universitas Sumatera Utara


3) Ditandatangani oleh Penuntut Umum/ Jaksa40.

b. Syarat Materiil

Syarat Materiil memut dua unsur yang tak boleh dilalaikan :

1) Dalam surat dakwaan harus berisi uraian cermat, jelas dan lengkap

mengenai tindak pidana yang didakwakan.

2) Menyebut waktu dan tempat tindak pidana dilakukan ( tempus delicti

dan locus delicti)

5. Bentuk Surat Dakwaan

Surat dakwaan merupakan landasan titik tolak pemeriksaan perkara di

sidang pengadilan.Surat dakwaan harus memenuhi syarat formil dan meteriil yang

ditentukan Pasal 143 ayat (2) KUHAP. Kadang dalam peristiwa pidana tertentu,

penyusunan rumusan surat dakwaan harus dibuat dalam bentuk rumusan spesifik

sesuai dengan ruang lingkup peristiwa pidana yang terjadi dihubungkan dengan

kenyataan perbarengan atau consursus yang terkandung di dalam perbuatan

peristiwa tindak pidana yang bersangkutan. Terutama dalam kasus yang rumit

seperti dalam peristiwa pidana yang mengandung concurus idealis maupun

concurus realis, benar diperlukan kecermatan dan keluasan pengetahuan hukum

acara dan hukum pidana materiil dari penuntut umum yang membuat perumusan

surat dakwaan. Sebab dalam kasus-kasus peristiwa pidana yang mengandung

samenloop atau perbarengan seperti:

a. Dalam aturan concursus idealis yang diatur dalam Pasal 63 KUHAP.

b. Perbarengan dalam perbuatan atau concursus realis:

40
https://sesukakita.wordpress.com/2012/05/28/surat-dakwaan/#more-1006,Diakses
tanggal 14, Agustus, 2016, Pukul 21.34.Wib.

Universitas Sumatera Utara


1) Sejenis ancaman hukum pokoknya seperti yang diatur dalam Pasal 65

KUHP.

2) Tidak sejenis ancaman hukuman pokok seperti yang di atur dalam Pasal

66 KUHP.

3) Perbarengan perbuatan Antara pelanggaran dengan kejahatan atau

anatara pelanggaran dengan pelanggaran yang diatur dalam Pasal 70

KUHP.

c. Tindak pidana yang dilakukan berlanjut atau voorgezette handeling yang

diatur dalam Pasal 64 KUHP.

Dalam peristiwa pidana ini diperluan keccermatan dalam menyusun

rumusan dan bentuk surat dakwaan. Kekeliruan penyusunan rumusan dan bentuk

surat dakwaan dalam tindak pidana semenloop atau concursus, bisa

mengakibatkan penerapan hukum yang fatal bagi pengadilan dalam menjatuhkan

hukuan yang hendak dikenakan kepada terdakwa41.

Untuk lebih jelaslah masalah bentuk-bentuk surat dakwaan diuraikan

sebagai berikut :

a. Surat Dakwaan Tunggal

Dakwaan secara tunggal yaitu seseorang atau lebih terdakwa melakukan

satu macam perbuatan saja, misalnya : Pencurian biasa ex Pasal 362 KUHP 42.

Menurut M. Yahya Harahap bentuk surat dakwaan tunggal adalah surat

dakwaan yang disusun dalam rumusan „tunggal‟.Surat dakwaan hanya berisi satu

dakwaan saja.Umunya perumusan dakwaan tunggal dijumpai dalam tindak pidana


41
Yahya Harahap, Op. cit, hlm. 397.
42
H.Abd.Asis, Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar Edisi Pertama.Kharisma Putra
Utama, Jakarta, 2014, hlm. 176.

Universitas Sumatera Utara


nyang jelas serta mengandung faktor „penyertaan‟‟(mededaderschap) atau faktor

concursus maupun faktor „alternatif‟‟ atau faktor „subsidair‟‟.Baik pelakunya

maupun tindak pidana yang dilanggar sedemikian rupa jelas dan sederhana,

sehingga surat dakwaan dapat dirumuskan dalam bentuk tunggal 43.

b. Surat dakwaan Alternatf

Dakwaan secara alternatif, yaitu dakwaan yang saling mengecualikan

antara satu dengan yang lainnya, ditandai denga kata “ ATAU ” Misalnya

pencurian biasa (362 KUHP) ATAU penadahan (480 KUHP). Jadi dakwaan

secara alternatif bukan kejahatan perbarengan.

Dalam hal dalam dakwaan dibuat secara alternatif, dalam dua hal menurut

Van Bemmelen,44 yaitu :

1) Jika penuntut umum tidak mengetahui perbuatan mana, apaka yang satu

ataukah yang lain akan terbukti nanti dipersidangan.

2) Jika penuntut umum ragu, peraturan hukum pidana yang mana yang akan

diterapkan oleh hakim atas perbuatan yang menurut pertimbangannya

telah nyata tersebut.

Lanjut Van Bemmelen45 menyatakan bawha dalam hal dakwaan alternatif

yang sesungguhnya maka masing-masing dakwaan tersebut saling mengecualikan

satu sama lain. Hakim dapat mengadakan pilihan dakwaan mana yang telah

terbukti dan bebas untuk menyatakan bahwa dakwaan kedua yang telah terbukti

tanpa memutuskan terlebih dahulu dakwaan pertama.

43
Yahya Harahap, Op. cit, hlm. 399
44
Andi Hamzah, Pengantar Hukum acara Pidana Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta,
1983, hlm.185.
45
Ibid, hlm.186

Universitas Sumatera Utara


c. Surat Dakwaan Subsidair (Subsidiar)

Dakwaan secara subsidair yaitu diurutkan mulai dari yang paling berat

sampai dengan yang paling ringan digunakan dalam tindak pidana yang berakibat

peristiwa yang diatur dalam pasal lain dalam KUHP, Contoh : Lazimnya untuk

kasus pembunuhan secara berencana dengan menggunakan paket dakwaan primer

: pasal 340 KUHP, Dakwaan subsidair : pasal 338 KUHP, dan lebih Subsidair:

Pasal 355 KUHP.

Dalam praktek untuk dakwaan secara subsidair sering disebut juga

dakwaan secara alternatif, karena pada umumnya dakwaan disusun oleh penuntut

umum menurut bentuk subsidair, artinya tersusun primair dan subsidair.46

d. Surat Dakwaan Kumulatif

Dalam dakwaan secara kumulatif, Yaitu sebagaimana diatur dalam pasal

141 KUHAP, bahwa” penuntut umum dapat melakukan penggabungan perkara

dan membuatnya dalam satu surat dakwaan, apabila pada waktu yang sama atau

hampir bersamaan ia menerima beberapa berkas perkara dalam hal :

1) Beberapa tindak pidana yang dilakukan seseorang yang sama dan

kepentingan pemeriksaan tidak menjadikan halangan terhadap

penggabungannya ;

2) Beberapa tindak pidana yang bersangkut paut dengan yang lain ;

3) Beberapa tindak pidana yang tidak bersangkut paut satu dengan yang

lain, akan tetapi yang satu dengan yang lain itu ada hubungannya, yang

46
Andi Sofyan, Op. cit, hlm. 177.

Universitas Sumatera Utara


dalam hal ini penggabungan tersebut perlu bagi kepentingan

pemeriksaan.

Jadi dakwaan Kumulatif Yaitu :

(a). Beberapa tindak pidana yang dilakukan satu orang sama.

(b). Beberapa tindak pidana yang bersangkut paut.

(c). Beberapa tindak pidana yang tidak bersangkut paut.

Adapun bentuk dakwaan secara kumulatif adalah sebagai berikut :

1) Berhubungan dengan concursus idealis/endaadse semenloop perbuatan

denga diancam dengan satu ancama pidana.

2) Berhubungan dengan perbuatan berlanjut (vorgezette handeling)

perbuatan pidana yang dilakukan lebih satu kali.

3) Berhubungan dengan concursus realis/meerdadse semenloop (Pasal 65

KUHP) yaitu melakukan beberapa tindak pidana, dengan pidana

pokoknya sejenis atau pidana pokoknya tidak sejenis.

Jadi dalam dakwaan secara kumulatif, maka tiap-tiap perbuatan (delik) itu

harus dibuktikan sendiri, walaupun pidananya disesuaikan dengan peraturan

tentang delik gabungan (Semenloop) dalam pasal 63 dengan pasal 71 KUHP .

Universitas Sumatera Utara


B. Analisis Dakwan Jaksa Penuntut Umum dalam Putusan Pengadilan
Negeri Sibolga Nomor 266/Pid.b/2014/Pn.Sbg.

1. Syarat Formil

Surat dakwaan yang disusun oleh Penuntut Umum harus memenuhi

persyaratan, salah satunya adalah syarat Formil. Syarat Formil dalam surat

dakwaan berkaitan dengan format dalam penyusunan surat dakwaan.Syarat

Formil dalam surat dakwaan diatur dalam Pasal 143 ayat(2) huruf a KUHAP yang

mengatakan bahwa Penuntut Umum membuat surat dakwaan yang diberi tanggal

dan ditandatangani serta berisi : nama lengkap, tempat lahir, umur atau tanggal

lahir, jenis kelamin, kebangsaan, tempat tinggal, agama, dan pekerjaan

tersangka.47

Adapun unsur syarat formil dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umu didalam

putusan No.Reg.266/Pid.b/2014/PN.Sbg adalah sebagai berikut:

Bahwa terdakwa I

Nama : ARYONO MANURUNG Alias BEJO

Tempat lahir : Balige

Umur/Tgl. Lahir : 19 tahun / 16 Mei 1995

Jenis kelamin : Laki-laki.

Kebangsaan : Indonesia.

Tempat Tinggal : Jl. Patuan Anggi Kampung Kelapa, Kel.Gerobak,

Kec. Sibolga Kota, Kota Sibolga

Agama : Kristen Protestan

Pekerjaan : Tidak Ada


47
Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Penyidikan dan
Penuntutan (cetakan kesebelas), Sinar Grafika, Jakarta, 2013, hlm. 399

Universitas Sumatera Utara


Bahwa terdakwa II

Nama : PATAR AGUS KRISTANTO SIMANJUNTAK

Tempat lahir : Sibolga

Umur/Tgl. Lahir : 21 tahun / 06 Juni 1993

Jenis kelamin : Laki-laki.

Kebangsaan : Indonesia.

Tempat Tinggal : Jl. Patuan Anggi Kampung Kelapa, Kel. Pancuran

Gerobak, Kec. Sibolga Kota, Kota Sibolga

Agama : Islam

Pekerjaan : Wiraswasta

Bahwa terdakwa III

Nama : RUDI RIZKY AGUSTIAN SINAGA Alias

BAJINGAN

Tempat lahir : Sibolga

Umur/Tgl. Lahir : 18 tahun / 07 Nopember 1995

Jenis kelamin : Laki-laki.

Kebangsaan : Indonesia.

Tempat Tinggal : Jl. Patuan Anggi Kampung Kelapa, Kel.

Pancuran Gerobak, Kec. Sibolga Kota, Kota

Sibolga

Agama : Kristen Khatolik

Universitas Sumatera Utara


Berdasarkan uraian jaksa penuntut umum tersebut maka unsur syarat

formil surat dakwaan sebagaimana diatur dalam pasal 143 ayat (2) huruf a

KUHAP telah terpenuhi.

2. Syarat Materil

Surat dakwaan juga harus memenuhi syarat-syarat materil agar dapat

dijadikan landasan bagi hakim dalam persidangan. Pasal 143 ayat (2) huruf b

KUHAP menyatakan bahwa syarat-syarat materil surat dakwaan yang harus

dipenuhi mencakup “uraian secara cermat, jelas, dan lengkap mengenai tindak

pidana yang didakwakan dengan menyebut waktu dan tempat tindak pidana itu

dilakukan”. Dari pasal tersebut,dapat diketahui bahwa terdapat dua unsur yang

harus ada dalam surat dakwaan agar surat tersebut dinyatakan memenuhi syarat

materil yaitu :

a. Uraian cermat, jelas, dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan.

Salah satu syarat materil yang dapat dipenuhi adalah harus cermat, jelas,

lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan.Adapun yang dimaksud

dengan pengertian Cermat, jelas, dan lengkap adalah sebagai berikut :

1). Uraian Harus Cermat

Dalam penyusunan surat dakwaan, penuntut umum harus bersikap

cermat/teliti terutama yang berkaitan dengan peraturan perundang-undangan

yang berlaku agar tidak terjadi kekurangan dan atau kekeliruan yang atau

mengakibatkan batalnya surat dakwaan atau unsur-unsur dalam dakwaan

tidak berhasil dibuktikan. Hal-hal yang perlu dicermati dalam pembuatan

surat dakwaan antara lain terdiri dari :

Universitas Sumatera Utara


(a). Apakah ada pengaduan dalam delik aduan?

(b). Apakah penerapan hukum/ketentuan pidananya sudah tepat?

(c).Apakah terdakwa dapat dipertanggungjawabkan dalam

melakukan tindak pidana tersebut?

(d). Apakah tindak pidana tersebut belum/sudah daluwarsa?

(e). Apakah tindak pidana dilakukan itu tidak “nebis in idem”

2). Uraian Harus Jelas

Dalam penyusunan surat dakwaan,penuntut umum harus dapat :

(a). Merumuskan unsur-unsur delik yang didakwakan

(b). Menguraikan perbuatan materil yang dilakukan oleh terdakwa,

dimana dalam uraian tidak boleh memadukan antara delik yang

satu dengan delik yang lain, dimana unsur-unsurnya berbeda

satu sama lain.

3). Uraian Harus Lengkap

Uraian dakwaan harus mencakupi semua unsur-unsur yang ditentukan oleh

undang-undang secara lengkap, dimana tidak boleh ada unsur delik yang tidak

dirumuskan secara lengkap atau tidak diuraikan perbuatan materillnya secara

jelas, sehingga perbuatan itu bukan merupakan suatu tindak pidana menurut

undang-undang.

Selain itu, surat dakwaan harus mencantumkan waktu serta tempat tindak

pidana tersebut dilakukan, baik secara terang maupun secara alternatif. Adapun

alasan kedua unsur ini perlu dicantumkan dalam surat dakwaan adalah sebagai

berikut :

Universitas Sumatera Utara


b. Menyebut waktu dan tempat tindak pidana dilakukan (tempus delicti dan locus

delicti)

Pada ayat berikutnya, dinyatakan bahwa surat dakwaan yang tidak

memenuhi syarat-syarat tersebut batal demi hukum, sehingga suatu surat dakwaan

harus memenuhi syarat-syarat tersebut agar perkara dapat dilimpahkan

kepengadilan.

(1). Tempat tindak pidana dilakukan (locus delicti)48 perlu dicantumkan

karena berhubungan dengan :

(a). Kompetensi relatif dipengadilan.

(b). Ruang lingkup berlakunya undang-undang pidana.

(c). Berkaitan dengan unsur-unsur yang disyaratkan oleh delik yang

bersangkutan seperti “ dimuka umum”

(2). Waktu tindak pidana dilakukan (tempus delicti),49 perlu dicantumkan

untuk menentukan :

(a). Berlakunya pasal 1 ayat (1) dan (2) KUHP mengenai asas

legalitas.

(b). Penentuan tentang residivis.

(c). Penetuan tentang kadaluwarsa.

(d). Menentukan kapasitas umur terdakwa.

(e). Menentukan keadaan yang bersifat memberatkan.

48
Locus Delicti adalah tempat terjadinya suatu tindak pidana atau lokasi tempat kejadian
perkara, http://www.referensimakalah.com/2013/01/delicti-dalam-hukum-pidana.html?m=1,
Diakses pada Tanggal 21 Januari 2017 Pukul 01.12 Wib. Lihat juga Pasal 84 KUHAP.
49
Tempus Delicti yaitu berdasarkan waktu untuk menentukan apakah suatu undang-
undang dapat diterapkan terhadap suatu tindak pidana, http://www.npslawoffice.com/193/,
Diakses pada tanggal 21 Januari 2017 Pukul 01.15 Wib, Lihat Pasal 1 ayat (1) dan (2) KUHP.

Universitas Sumatera Utara


Dalam surat dakwaan dengan No.Reg 266/Pid.B/2014/PN.Sbg jaksa

penuntut umum menguraikan dakwaan sebagai berikut :

Para terdakwa Aryono Manurung alias Bejo, Patar Agus Kristanto

Simanjuntak dan Rudi Rizky Agustian Sinaga alias Bajingan pada hari Minggu

tanggal 08 Juni 2014, sekira pukul 03.30 Wib atau setidak-tidaknya pada suatu

hari dalam bulan Juni 2014, bertempat di Jalan SM Raja Kelurahan Pancuran

Gerobak Kecamatan Sibolga Kota, atau setidak-tidaknya pada suatu tempat

yang termasuk dalam wilayah hukum Pengadilan Negeri Sibolga, ”Barang

siapa dengan maksud menguntungkan diri sendiriatau orang secara melawan

hukum, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk

memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan

orang itu atau orang lain, atau supaya membuat utang maupun menghapuskan

piutang, diancam karena pemerasan”,

perbuatan tersebut dilakukan terdakwa dengan cara :

Pada hari Minggu tanggal 08 Juni 2014 sekira pukul 03.30 Wib, saat

saksi korban David Perdana Sianturi mengemudikan becak motornya dengan

membawa ke lima teman-temannya yang bernama saksi Rince, saksi Erdon,

saksi Alfaris, saksi Putra, saksi Ges dan saksi Raju ke dalam Terminal Sibolga

dengan tujuan mencari kedai tempat menonton bola dan pada saat itu setelah

berada didalam Terminal Sibolga tidak ada kedai yang buka, sehingga saksi

korban David David Perdana Sianturi dan saksi Rince, saksi Erdon, saksi

Alfaris, saksi Putra, saksi Ges dan saksi Raju bermaksud keluar dan hendak

meninggalkan terminal Sibolga, namun tiba-tiba datang terdakwa I Aryono

Universitas Sumatera Utara


Manurung alias Bejo dengan membawa 1 (Satu) buah parang berukuran

panjang dengan ukuran kurang lebih 30 (tiga puluh) cm mengejar becak motor

yang dikemudikan saksi David Perdana Sianturi dan langsung menodongkan

sebilah parang tersebut keleher saksi David Perdana Sianturi sambil

mengatakan ”matikan becak mu dan keluarkan semua barang-barang kalian”,

lalu saksi David Perdana Sianturi langsung memarikan becak motornya dan

menjawab ”ngak ada bang”, kemudian terdakwa I. Aryono Manurung alias

Bejo mengatakan lagi ” ini parang nanti kuputus kepala kalian”, kemudian

terdakwa-terdakwa langsung mendekati para korban lalu terdakwa I

mengambil barang milik saksi Erdon berupa kaca mata dan barang milik saksi

Alfaris berua sepatu, setelah itu datang terdakwa II Patar Agus Kristanto

Simanjuntak langsung mengambil Hand Phone samsung dari saku celana saksi

korban David Perdana Sianturi, lalu mengambil 1 (satu) unit HP Nokia warna

hitam milik saksi Putra Ges, serta mengambil kemeja dan sepatu milik saksi

Rince, sedangkan terdakwa III. Rudi Rizky Agustian Sinaga alias Bajingan

mengambil uang Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) dan Topi milik saksi

Alfaris, setelah terdakwa Aryono Manurung alias Bejo, terdakwa II Patar Agus

Kristanto Simanjuntak dan terdakwa III Rudi Rizky Agustian Sinaga alias

Bajingan mengambil semua barang-barang milik para korban lalu terdakwa I

Aryono Manurung alias Bejo mengatakan ”kalian tunggu disini, jangan

macam-macam kalian nanti kubakar becak kalian”, dan setelah itu terdakwa-

terdakwa langsung pergi meninggalkan terminal Sibolga. Perbuatan terdakwa

Universitas Sumatera Utara


tersebut sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 368 ayat (1)

KUHP.

Perumusan Dakwaan pada surat dakwaan a quo juga sudah jelas dan

lengkap, sebab penuntut umum sudah sudah dapat merumuskan unsur-unsur delik

yang dilakukan dan menguraikan perbuatan materil yang dilakukan para terdakwa

secara kronologis, dimana penuntut umum telah menggambarkan peran masing-

masing terdakwa sehingga ia dapat menyampai pada kesimpulan bahwa ketiga

terdakwa telah” turut serta melakukan pemerasan dengan memaksa seseorang

dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan sesuatu barang

yang seluruhnya atau sebagian yang dilakukan secara bersama-sama atau

bersekutu” sebagaimana diatur dalam Pasal 368 ayat (1) KUHP. Penuntut umum

menjelaskan kapan, dimana dan bagaimana para terdakwa melakukan pemerasan

terhadap saksi korban David Perdana Sianturi, saksi Rince, saksi Erdon, saksi

Alfaris, saksi Putra, saksi Ges, dan saksi Raju.Disini ketiga terdakwa tersebut

melakukan pemerasan dimana terdakwa I Aryono Manurung alias Bejo

mengambil barang milik saksi Erdon berupa kacamata dan barang miik saksi

Alfaris berupa sepatu, setelah itu datang terdakwa II Patar Agus Kristanto

Simanjutak langsung mengambil Hand Phone samsung dari saku celana saksi

korban David Perdana Sianturi, lalu mengambil 1(satu) unit Hp nokia warna

hitam milik saksi Putra Ges, serta mengambil kemeja dan sepatu milik Rince,

sedangkan terdakwa III Rudi alias Bajingan Mengambil uang Rp. 10.000,-

(sepuluh ribu rupiah) dan topi milik saksi Alfaris.

Universitas Sumatera Utara


Surat dakwaan dalam perkara a quo selain memenuhi syarat uraian yang

cermat, jelas, dan lengkap juga memenuhi syarat materil yang mengharuskan

adanya keterangan mengenai tempat dan waktu tindak pidana yang dilakukan,

baik secara terang maupun alternatif. Hal ini dapat dilihat dari pada bagian isi

dakwaan yang menyatakan perbuatan dilakukan “ pada hari minggu tanggal 08

Juni 2014, sekira pukul 03.30 Wib atau setidak-tidaknya pada suatu hari dalam

bulan juni 2014. Bertempat di Jalan SM Raja Kelurahan Pancuran Gerobak

Kecamatan Sibolga Kota,Kota Sibolga, atau setidak-tidaknya pada suatu tempat

yang termasuk dalam wilayah Hukum Pengadilan Sibolga.Disini penuntut umum

telah menguraikan tempat dan waktu tindak pidana secara alternatif. Hal ini

dikarenakan agar para pelaku tindak pidan tidak lepas dari pertanggungjawaban

pidana,dalam hal ini penyidik dapat memastikan secara persis dimana atau kapan

tindak pidana dilakukan.

Dalam surat dakwaan ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menggunakan

surat dakwaan Tunggal. Hal tersebut kerena dalam bentuk dakwaannya

dipergunakan hanya satu tindak pidana saja yang didakwakan yaitu pasal 368 ayat

(1) 1 KUHP tentang pemerasan yang dilakukan dengan menggunakan senjata

tajam yang dilakukan secara bersama-sama.Dengan penamaan dakwaan tunggal

berarti tergambar bahwa dakwaaan itu hanya tunggal/satu dan tindak pidana yang

didakwakan juga hanya tunggal/satu.Dalam penyusunan dakwaan tersebut juga

tidak terdapat kemungkinan-kemungkinan alternatif, atau kemungkinan

merumuskan tindak pidana lain sebagai penggantiannya, maupun kemungkinan-

Universitas Sumatera Utara


kemungkinan untuk mengkumulasikan atau mengkombinasikan tindak pidana

dalam surat dakwaannya. Alasan Surat Dakwaan Tersebut di Pilih oleh Jaksa.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bentuk dakwaan yang

digunakan oleh jaksa dalam surat dakwaan ini adalah dakwaan tunggal dengan

menggunakan pasal 368 ayat (1) 1 KUHP. Bentuk dakwaan tunggal ini dipakai

karena tidak adanya keraguan oleh jaksa untuk mengidentifikasi tindak pidana

apakah yang dilakukan oleh para terdakwa. Dengan tidak adanya keraguan

tersebut, maka jaksa dapat membuat dakwaan dengan bentuk dakwaan tunggal.

Hal ini juga dilakukan untuk mempersingkat dan mempermudah proses

pembuktian, tuntutan, namun tidak menimbulkan resiko akan lepas atau bebasnya

terdakwa dari segal tuntutan hakim. Oleh sebab itu dakwaan jaksa dalam surat

dakwaan tunggal sudah tepat dalam surat dakwaan tunggal, sebab jaksa telah

dengan teliti menentukan surat dakwaan nya terhadap para terdakwa melalui

unsur-unsur dalam pembentukan surat dakwaan, serta jaksa yakin para terdakwa

telah melakukan tindak pidana pemerasan dengan ancaman yang dilakukan secara

bersama-sama oleh para terdakwa.

Dengan memperhatikan uraian dakwaan Jaksa penuntut Umum diatas,

maka unsur syarat materil surat dakwaan yang terdiri atas uraian harus cermat,

waktu tindak pidana dilakukan (tempus delicti), tempat tindak pidana dilakukan

(locus delicti) dan uraian harus lengkap sudah terpenuhi. Dengan demikian

dakwaan Jaksa Penuntut Umum Umum dalam perkara No.Reg

266/Pid.B/2014/PN.Sbg telah memenuhi syarat formil, syarat materil dan dituntut

dalam surat dakwaan Tunggal dimana jaksa penuntut umum sangat yakin bahwa

Universitas Sumatera Utara


perbuatan para terdakwa merupakan tindak pidana sebagaimana diatur dalam

pasal 368 ayat (1) KUHP, maka dakwaan Jaksa Penuntut umum sudah sesuai

dengan Pasal 143 ayat (2) huruf b KUHAP.50

“uraian secara cermat, jelas, dan lengkap mengenai tindak pidana yang didakwakan
50

dengan menyebut waktu dan tempat tindak pidana itu dilakukan” Lihat Pasal 143 ayat (2) huruf b
KUHAP.

Universitas Sumatera Utara


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Negara Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hukum

(rechtstaat), tidak berdasarkan atas kekuasaan belaka (machtsstaat). Indonesia

menerima hukum sebagai ideologi untuk menciptakan ketertiban, keamanan,

keadilan, serta kesejahteraan bagi warga negaranya. Konsekuensinya adalah

hukum mengikat setiap tindakan yang dilakukan oleh warga negara Indonesia.1

Hukum bisa dilihat sebagai perlengkapan masyarakat untuk menciptakan

ketertiban dan keteraturan dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu hukum

bekerja dengan cara memberikan petunjuk tentang tingkah laku (act, behaviour)

dan karena itu pula hukum berupa norma.2 Hukum yang berupa norma dikenal

dengan sebutan norma hukum, dimana hukum mengikatkan diri pada masyarakat

sebagai tempat bekerjanya hukum tersebut (ibi ius ibi societas).

Kemajuan di bidang hukum ditandai dengan usaha untuk memperbaharui

hukum itu sendiri, kerena hukum sebagai salah satu tiang utama untuk menjamin

ketertiban dalam masyarakat, diharapkan mampu mengantisipasi dan mengatasi

segala tantangan, kebutuhan serta kendala yang menyangkut perubahan-

perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Meskipun seringkali secara faktual,

hukum berjalan lebih lamban daripada perkembangan dan perubahan berbagai hal

di masyarakat.

1
Penjelasan atas pasal 1 ayat 3 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
2
Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Alumni, Bandung , 1982, hlm. 14.

Universitas Sumatera Utara


Moeljatno menggunakan istilah perbuatan pidana, yang didefinisikan

sebagai “perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan mana disertai

ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa yang melanggar

larangan tersebut‟‟.3 Istilah perbuatan pidana lebih tepat dengan alasan sebagai

berikut :

1. Perbuatan yang dilarang adalah perbuatan (perbuatan manusia, yaitu suatu

kejadian atau keadaan yang ditimbulkan oleh kelakuan orang), artinya,

larangan itu ditujukan pada perbuatannya. Sementara itu, ancaman pidananya

itu ditujukan pada orangnya.

2. Antara larangan ( yang ditujukan pada perbuatan ) dengan ancaman pidana

(yang ditujukan pada orangnya ) ada hubungan yang erat. Oleh karena itu

perbuatan ( yang berupa keadaan atau kejadian yang ditimbulkan orang tadi,

melanggar larangan ) dengan orang yang melakukanperbuatan tadi erat pula.

Seperti yang telah dikemukakan diatas, didalam Kitab Undang-Undang

Hukum Pidana, tindak pidana pemerasan diatur dalam pasal 368 KUHP, yang

rumusannya sebagai berikut :

(1) Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan dirinya sendiri


atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seorang dengan
kekerasan atau dengan ancaman untukmenyerahkan sesuatu benda
yang seluruhnya atau sebagian merupakan kepunyaan orang tersebut
atau kepunyaan orang ketiga, atau untuk membuat orang melakukan
pemerasan , dipidana dengan pidana penjara selama –lamanya
Sembilan tahun.
(2) Ketentuan-ketentuan yang diatur dalam pasal 365 ayat (2), ayat (3),
dam ayat (4), juga berlaku bagi kejahatan ini.

3
Moeljatno, Azas-Azas Hukum Pidana, Rineka Cipta, Bandung, 2002, hlm. 38.

Universitas Sumatera Utara


Tindak pidana pemerasan sebagaimana diatur dalam KUHP sebenarnya

terdiri dari dua macam tindak pidana, yaitu tindak pidana pemerasan (afpersing)

dan tindak pidana pengancaman (afdreiging). Kedua macam tindak pidana

tersebut mempunyai sifat yang sama, yaitu suatu perbuatan bertujuan memeras

orang lain. Justru karena sifatnya yang sama itulah kedua tindak pidana ini

biasanya disebut dengan nama sama, yaitu ”Pemerasan‟‟ serta diatur dalam bab

yang sama yaitu Bab XXIII KUHP.

Sekalipun demikian, tidak salah kiranya apabila orang menyebut , bahwa

kedua tindak pidana tersebut mempunyai sebutan sendiri , yaitu pemerasan untuk

tindak pidana yang diatur dalam pasal 368 KUHP dan pengancaman untuk tindak

pidana yang diatur dalam pasal 369 KUHP. Oleh karena memang , dalam KUHP

sendiri pun juga menggunakan kedua nama tersebut untuk menunjuk pada tindak

pidana yang diatur dalam pasal 368 dan 369 KUHP.4

Tindak pidana pencurian dengan tindak pidana pemerasan contohnya .

Perbedaan antara tindak pidana pencurian dan pemerasan atau afpersing itu

terutama terletak pada kenyataan bahwa unsur mengambil tidak terdapat dalam

tindak pidana pemerasan . Benda yang menjadi obyek tindak pidana pemerasan

itu dapat berada di tangan pelakunya, bukan karena diambil melainkan karena

adanya penyerahan yang dipaksakan oleh orang yang menguasai benda tersebut

kepada pelaku. Akan tetapi , antara kedua tindak pidana itu juga terdapat suatu

kesamaan , yaitu bahwa kedua-duanya merupakan kejahatan-kejahatan yang

ditujukan pada harta kekayaan orang lain.

4
Adami Chazawi, Stelsel Pidana, Tindak Pidana , Teori-Teori Pemidanaan Dan Batas
Berlakunya Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2005, hlm. 54.

Universitas Sumatera Utara


B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah penulis paparkan sebelumnya,

penulis memilih beberapa hal yang menjadi permasalahan dalam penulisan skripsi

ini. Adapun permasalahan yang akan dibahas, antara lain:

1. Apakah dakwaan jaksa penuntut umum terhadap tindak pidana pemerasan

dengan menggunakan senjata tajam yang dilakukan secara bersama-sama

dalam putusan Pengadilan Negeri Sibolga nomor 266/Pid.B/2014/PN.Sbg

sudah tepat?

2. Bagaimanakah pertanggungjawaban pidana terhadap tindak pidana

pemerasan dengan menggunakan senjata tajam yang dilakukan secara

bersama-sama (Analisis kasus putusan Pengadilan Negeri Sibolga nomor

266/Pid.B/2014/PN.Sbg)?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan penelitian

Adapun tujuan utama dalam penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi

syarat guna mendapatkan gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas

Sumatera Utara. Selain itu, yang menjadi tujuan dari pembahasan skripsi ini dapat

diuraikan sebagai berikut :

a. Untuk mengetahui kesesuaian dakwaan jaksa penuntut umum terhadap

tindak pidana pemerasaan yang dilakukan dengan menggunakan senjata

tajam yang dilakukan secara bersama-sama dalam putusan Pengadilan

Negeri Sibolga nomor 266/Pid.B/2014/PN.Sbg.

Universitas Sumatera Utara


b. Untuk mengetahui bentuk pertanggungjawaban pidana terhadap tindak

pidana pemerasan dengan menggunakan senjata tajam yang dilakukan

secara bersama-sama (Analisis kasus putusan Pengadilan Negeri Sibolga

nomor 266/Pid.B/2014/PN.Sbg)?

2. Manfaat penelitian

a. Secara teoritis, penulisan skripsi ini dapat digunakan untuk memberikan

gambaran dan uraian yang komprehensif mengenai tindak pidana

pemerasan dengan menggunakan senjata tajam yang dilakukan secara

bersama-sama, serta menambah wawasan ilmiah baik dalam bidang ini

maupun dalam bidang terkait lainnya.

b. Secara praktis, penulisan skripsi ini diharapkan dapat menjadi masukan

dan tambahan materi bagi para pembacanya baik umum maupun para

akademisi ataupun sebagai bahan referensi bagi para mahasiswa yang

ingin membahas tentang tindak pidana pemerasan dengan menggunakan

senjata tajam yang dilakukan secara bersama-sama.

D. Keaslian Penulisan

Berdasarkan hasil penelitian dan pemeriksaan di Perpustakaan Pusat

Universitas Sumatera Utara dan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

maka diketahui bahwa belum pernah dilakukan penulisan yang serupa mengenai

“Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak Pidana Pemerasan Dengan

Menggunakan Senjata Tajam Yang Dilakukan Secara Bersama-sama (Studi

Kasus Nomor 266/Pid.B/2014/PN.SBG)”.

Universitas Sumatera Utara


Penulisan skripsi ini dimulai dari mengumpulkan bahan-bahan yang

berkaitan dengan Pemerasan, peraturan perundang-undangan yang berkaitan, baik

melalui literatur yang diperoleh dari perpustakaan atau media cetak maupun

media elektronik. Dengan demikian keaslian penulisan skripsi ini adalah ide

penulis dan dapat dipertanggungjawabkan secara alamiah dan akademik.

E. Tinjauan Kepustakaan

1. Pengertian Tindak Pidana

Tindak Pidana dapat dikatakan berupa istilah resmi dalam perundang-

undangan negara kita. Dalam hampir seluruh perundangundangan kita

menggunakan istilah tindak pidana untuk merumuskan suatu tindakan yang

dapat diancam dengan suatu pidana tertentu.5

Istilah tindak pidana adalah berasal dari istilah yang di kenal dalam hukum

pidana Belanda yaitu “strafbaar feit”6

Vos merumuskan bahwa suatu strafbaar feit itu adalah kelakuan

manusia yang diancam pidana oleh peraturan perundang-undangan.7 Martiman

Prodjomidjojo memberi pendapat bahwa delik itu mengandung perbuatan

yang mengandung perlawanan hak yang dilakukan dengan salah dosa oleh

seorang yang sempurna akal budinya dan kepada siapa perbuatan patut

5
Adami chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian I, Rajawali Grafindo Persada,
Jakarta, 2002. hlm. 67.
6
Mohammad Ekaputra, Dasar-Dasar Hukum Pidana (Edisi 2), USU Press, 2013,
hlm. 73.
7
Martiman Prodjomidjojo, Memahami Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia 1,
Pradnya Paramita, Jakarta, 1995, hlm. 16.

Universitas Sumatera Utara


dipertanggung jawabkan.8 Sedangkan arti delict itu sendiri dalam Kamus

Hukum diartikan sebagai delik, tindak pidana, perbuatan yang diancam denagn

hukuman.9

Simons, mengemukakan bahwa strafbaar feit adalah suatu tindakan

melawan hukum yang dengan sengaja telah dilakukan oleh seorang yang

dapat dipertanggung jawabkan atas tindakannya, yang dinyatakan sebagai

dapat dihukum.10

Menurut P.A.F Lamintang, pembentuk undang-undang kita telah

menggunakan istilah starfbaar feit untuk menyebutkan apa yang kita kenal

sebagai tindak pidana di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Perkataan

feit itu sendiri dalam Bahasa Belanda berarti sebagian dari kenyataan,

sedangkan starfbaar berarti dapat dihukum, hingga secara harafiah perkataan

starfbaar feit dapat diterjemahkan sebagai sebagian dari suatu kenyataan yang

dapat dihukum yang sudah barang tentu tidak tepat karena kita ketahui bahwa

yang dapat dihukum adalah manusia sebagai pribadi dan bukan kenyataan,

perbuatan, maupun tindakan.11

Adami Chazawi telah menginvertarisir sejumlah istilah yang pernah

digunakan baik dalam perundang-undangan yang ada maupun dalam berbagai

literatur hukum sebagai terjemahan dari istilah strafbaarfeit, yaitu sebagai berikut.

8
Sudarto, Hukum Pidana I, Yayasan Sudarto Fakultas Hukum Universitas
Diponegoro, Semarang, 1990, hlm. 60.
9
R.Subekti dan Tjitrosoedibio, Kamus Hukum, Pradnya Paramita, Jakarta, 2005, hlm.
35.
10
Simons, Kitab Pelajaran Hukum Pidana (Titel Asli: Leerboek van Het
Nederlandse Strafrecht) Diterjemahkan oleh PAF Lamintang, Bandung, Pioner Jaya, 1992,
hlm 127.
11
P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia (cetakan ketiga),
Bandung, Citra Aditya Bakti,1997, hlm. 181.

Universitas Sumatera Utara


a. Tindak Pidana ,dapat dikatakan berupa istilah resmi dalam perundang-
undangan pidana kita.Dalam hampir seluruh peraturan perundang-undangan
menggunakan istilah tindak pidana,seperti dalam UU No.6 Tahun 1982
tentang Hak Cipta, UU No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi jo.UU No.20 Tahun 2001, dan perundang-undangan lainnya.
Ahli hukum yang menggunakan istilah , ini,misalnya seperti Prof.Dr.Wirjono
Prodjodikoro,S.H.;
b. Peristiwa pidana, digunakan oleh beberapa ahli hukum , misalnya : Mr.R.
Tresna dalam bukunya “Azas-azas Hukum Pidana Mr.Drs.H.J van
Schravendijk dalam buku pelajaran tentang Hukum Pidana Indonesia,
Prof.A.Zainal Abidin, S.H dalam bukunya “Hukum Pidana”. Pembentuk UU
juga pernah menggunakan istilah peristiwa pidana, yaitu dalam UUD‟S 1950;
c. Delik, yang sebenarnya berasal dari bahasa latin “delictum” juga digunakan
untuk menggambarkan tentang apa yang dimaksud dengan strafbaar feit.
Istilah ini dapat dijumpai dalam literatur ,misalnya prof.Drs.E.Utrecht,S.H,
walaupu juga beliau menggunakan istilah lain yakni peristiwa pidana (dalam
buku Hukum Pidana).Prof.A.Zainal Abidin dalam buku beliau “Hukum
Pidana I” Prof.Moeljatno pernah juga menggunakan istilah ini seperti pada
judul buku “Delik-delik Percobaan Delik-delik Penyertaan”, walaupun
menurutnya lebih tepat dipergunakan istilah perbuatan pidana.
d. Pelanggaran pidana, dapat di jumpai dalam buku Mr .M.H.Tirtaamidjaja
yang berjudul pokok-pokok Hukum Pidana;
e. Perbuatan yang boleh dihukum, istilah ini digunakan oleh M.Karni dalam
buku beliau “ Ringkasan tentang Hukum Pidana Begitu juga Schravendijk
dalam bukunya “Buku Pelajaran Tentang Hukum Pidana Indonesia”.
f. Perbuatan yang dapat dihukum, digunakan oleh pembentuk Undan-Undang di
dalam UU No.12/Drt/1951 tentang Senjata Api dan Bahan Peledak (pasal 3)
Dari berbagai pengertian di atas dapat kita simpulkan bawasannya tindak

pidana adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang yang dapat

bertanggung jawab atas tindakannya tersebut. Dimana tindakan yang

dilakukannya tersebut adalah tindakan yang melawan atau melanggar

ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Sehingga tindakan tersebut dapat

diancam dengan suatu pidana yang bermaksud memberi efek jera, baik bagi

individu yang melakukannya maupun bagi orang lain yang mengetahuinya.

Universitas Sumatera Utara


2. Pengertian Pertimbangan Jaksa

Dalam Pasal 13 KUHAP dinyatakan bahwa penuntut umum adalah jaksa

yang diberi wewenang untuk melakukan penuntutan dan me-laksanakan

penetapan hakim. Selain itu dalam Pasal 1 Undang-Undang Pokok Kejaksaan

(UU No. 15 tahun 1961) menyatakan, Kejaksaan R.I. selanjutnya disebut

Kejaksaan, ialah alat negara penegak hukum yang terutama bertugas sebagai

penuntut umum. Menurut Pasal 14 KUHAP, penuntut umum mempunyai

wewenang:

a. menerima dan memeriksa berkas perkara penyidikan dari penyidik atau

pembantu penyidik;

b. mengadakan pra penuntutan apabila ada kekurangan pada penyiclikan dengan

memperhatikan ketentuan Pasal 110 Ayat (3) dan Ayat (4), dengan memberi

petunjuk dalam rangka menyempurnakan penyidikan dari penyidik;

c. memberikan perpanjangan penahanan, melakukan penahanan atau penahanan

lanjutan dan atau mengubah status tahanan setelah perkaranya dilimpahkan

oleh penyidik;

d. membuat surat dakwaan;

e. melimpahkan perkara ke pengadilan;

f. menyampaikan pemberitahuan kepada terdakwa tentang ketentuan dan waktu

perkara disidangkan yang disertai surat panggilan, baik kepada terdakwa

maupun kepada saksi, untuk datang pada sidang yang telah ditentukan;

g. melakukan penuntutan;

h. menutup perkara demi kepentingan hukum;

Universitas Sumatera Utara


i. mengadakan tindakan lain dalam lingkup tugas dan tanggung jawab sebagai

penuntut umum menurut undang-undang;

j. melaksanakan penetapan hakim.

Di dalam penjelasan pasal tersebut dikatakan bahwa, yang dimak-sud

dengan "tindakan lain" ialah antara lain meneliti identitas tersangka, barang bukti

dengan memperhatikan secara tegas batas wewenang dan fungsi antara penyidik,

penuntut umum, dan pengadilan. Setelah penuntut umum menerima, hasil

penyidikan dari penyidik, ia segera mempelajari dan menelitinya dan dalam waktu

tujuh hari wajib memberitahukan kepada, penyidik apakah hasil penyidikan itu

sudah lengkap atau belum. Dalam hal hasil penyidikan ternyata belum lengkap,

penuntut umum mengembalikan berkas perkara kepada penyidik disertai petunjuk

tentang hal yang harus dilakukan untuk dilengkapi dan dalam waktu empat belas

hari sejak tanggal penerimaan berkas, penyidik harus sudah menyampaikan

kembali berkas perkara itu kepada penuntut umum (Pasal 138 KUHAP).

Adapun yang dimaksud dengan "meneliti" di sini adalah tindakan penuntut

umum dalam mempersiapkan penuntutan (pra penuntutan) apakah orang dan atau

benda yang tersebut dalam hasil penyidikan telah sesuai, telah memenuhi syarat

pembuktian yang dilakukan dalam rangka, pemberian petunjuk kepada penyidik.

Setelah penuntut umum menerima kembali hasil penyidikan yang lengkap dari

penyidik, maka segera ditentukan apakah berkas perkara itu sudah memenuhi

persyaratan untuk dapat atau tidak diadakan penuntutan.

Apabila penuntut umum berpendapat bahwa hasil penyidikan dari

penyidik dapat dilakukan penuntutan, maka penuntut umum secepatnya membuat

Universitas Sumatera Utara


surat dakwaan. Dan apabila penuntut umum berpendapat bahwa hasil penyidikan

penyidik tidak cukup bukti-buktinya, peristiwa tersebut bukan merupakan tindak

pidana dan perkaranya ditutup demi hukum.

3. Pengertian Tindak Pidana yang Dilakukan Secara Bersama- Sama

Kejahatan tidak melulu dilakukan oleh oleh seorang pelaku saja, namun

dapat juga dilakukan oleh dua orang atau lebih orang yang dilakukan secara

bersama-sama atau bersekutu dan masing-masing pelaku diikat oleh suatu ikatan

kerjasama. Berbagai macam istilah atau penyebutan yang ditentukan oleh ahli

mengenai tindak pidana yang dilakukan secara bersama-sama yaitu:12

a. Turut campur dalam peristiwa pidana(Tresna)

b. Turut berbuat delik (Karni)

c. Turut serta (Utrecht)

d. Deelneming (Belanda),

e. Compicity (Inggris),

f. Teilnahme/Tatermehrhaei (Jerman),

g. Participation (Prancis)

Adapun kata penyertaan yang bersinonim dengan deelneming aan

strafbare feiten tercantum dalam titel V buku KUHP. Sedangkan arti kata

penyertaan menurut wirjono Prodjodikoro adalah turut sertanya seseorang atau

lebih pada waktu seorang lain melakukan tindak pidana. 13

Penyertaan (deelneming) adalah pengertian yang meliputi semua bentuk

turut serta/terlibatnya orang ataou orang-orang baik secara psikis maupun secara

12
Mulyati Pawennei, Hukum Pidana, Mitra Wacana Media, Jakarta, 2015, hlm. 127-128.
13
Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia (Cetakan ke Tujuh),
Refika, Bandung , 1989, hlm. 108.

Universitas Sumatera Utara


fisik dengan melakukan masing-masing perbuatan sehingga melahirkan suatu

tindak pidana. Orang-orang yang terlibat dalam kerjasama yang mewujudkan

tindak pidana, perbuatan mereka berbeda satu dengan yang lain, demikian juga

tidak biasa apa yang ada dalam batin mereka terhadap tindak pidana maupun

terhadap peserta yang lain. Tetapi dari perbedaan-perbedaan yang ada pada

masing-masing itu terjalinlah suatu hubungan yang sedemikian rupa eratnya,

dimana perbuatan yang asatu menunjang perbuatan yang lainnya, yang semuanya

mengarah pada satu yakni terwujudnya tindak pidana.14

Pengertian lain dari deelneming/penyertaan adalah tindak pidana yang

dilakukan oleh lebih dari satu orang, artinya ada orang lain dalam jumlah tertentu

yang turut serta, turut campur, turut berbuat membantu melakukan agar suatu

tindak pidana itu terjadi, atau dalam kata lain, orang yang lebih dari satu orang

secara bersama-sama melakukan tindak pidana, sehingga harus dicari

pertanggungjawaban dan peranan masing-masing peserta dalam peristiwa pidana

tersebut.15

Penyertaan atau deelneming oleh pembentuk undang-undang telah

diatur dalam Pasal 55 KUHP dan Pasal 56 KUHP. Bahwa bila berbicara tentang

Pasal 55 dan Pasal 56 tidak hanya berbicara tentang penyertaan atau deelneming

semata melainkan juga berbicara tentang dader atau pelaku16. Adapun dalam Pasal

55 dan Pasal 56 KUHP dirumuskan sebagai berikut:

14
P.A.F Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Di Indonesia (Cetakan Keempat), Citra
Aditya Bakti, Bandung, 2011, hlm. 583.
15
Http://pembelajaranhukumindonesia.blogspot.com/2011/09/deelneming.html?m%3D1&
ei=kfoR0_3A&lc=id-ID&s=1&m=154&host=www.google.co.id&ts=1471081773&sig=AKOVD
64WowTBN1sMjFwRkfR EG6GqPnFntw, Diakses tanggal 13 Agustus 2016 Pukul 17.11 Wib.
16
P.A.F Lamintang (IV), Op. cit, hlm. 583.

Universitas Sumatera Utara


Pasal 55 KUHP :
a. Dipidana sebagai pelaku tindak pidana:
1) Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang
turut serta melakukan perbuatan;
2) Mereka yang memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan
menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan,
ancaman atau penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana
atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan
perbuatan.
b. Terhadap penganjur, hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan sajalah yang
diperhitungkan, beserta akibat-akibatnya.

Pasal 56 KUHP :
a. Dipidana sebagai pembantu kejahatan :
1) Mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan
dilakukan;
2) Mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan
untuk melakukan kejahatan.

Berdasarkan Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP, dapatlah diketahui bahwa

menurut KUHP itu dibedakan dalam dua kelompok yaitu:17

a. Pertama, kelompok orang-orang yang perbuatannya disebabkan oleh Pasal

55 ayat (1), yang dalam hal ini disebut dengan para pembuat

(mededader), adalah mereka:

1) Yang melakukan (plegen), orangnya disebut dengan pelaku atau pleger

2) Yang menyuruh melakukan (doen plegen), orangnya disebut dengan

penyuruh atau doen pleger

3) Yang turut serta melakukan (medeplegen), orangnya disebut dengan

pelaku turut serta atau medepleger

4) Yang sengaja menganjurkan (uitlokken), orangnya disebut dengan

penganjur atau uitlokker

17
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum…, Op. cit, hlm. 67

Universitas Sumatera Utara


b. Kedua, yakni orang yang disebut dengan pembantu (medeplichtige)

kejahatan, yang dibedakan menjadi dua:

1) Pemberian bantuan pada saat pelaksanaan kejahatan; dan

2) Pemberian bantuan sebelum pelaksanaan kejahatan.

4. Pengertian Tindak Pidana Pemerasan Menurut KUHP

Bahasa Belanda, mengartikan pemerasan dengan afpersing. Yaitu:

1) Tindak pidana pemerasan.18

2) Pemerasan. Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri

sendiri atau orang lain secara tidak sah, memaksa ornag lain denagan

kekerasan dan ancaman kekerasan supaya orang itu menyerahkan

sesuatu barang yang seluruhnya atau sebagian saja adalah kepunyaan

orang itu atau orang ketiga, atau supaya orang itu membuat utang atau

menghapuskan suatu piutang, ia pun bersalah melakukan tindak pidana

seperti yang adapada pasal 368 KUHP yang dikualifikasikan

sebagai “afpersing” atau “pemerasan”.19

3) Dimuat dalam pasal 368 KUHP. Tindak pidana ini sangat mirip dengan

pencurian dengan kekerasan dalam pasal 365 KUHP. Bedanya

adalah bahwa dalam hal pencurian si pelaku sendiri mengambil

18
www.kamushukum.com/KH_entris.php?af_in, diakses pada tanggal 25 juli 2016 pukul
23.00 wib.
19
R.Subekti dan Tjitrosoedibio, Op. cit, hlm. 7.

Universitas Sumatera Utara


barang yang dicuri, sedangkan dalam hal pemerasan si korban setelah

dipaksa dengan kekerasan menyerahkan barangnya kepada si pemeras. 20

4) Pemerasan adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh orang atau

lembaga dengan melakukan perbuatan yang menakut- nakuti dengan

suatu harapan agar yang diperas menjadi takut dan menyerahkan

sejumlah sesuatu yang diminta oleh yang melakukan pemerasan, jadi ada

unsur takut dan terpaksa dari yang diperas.21

5. Pengertian Pertanggungjawaban pidana

Pertanggungjawaban pidana merupakan pertanggungjawaban oleh orang

terhadap perbuatan pidana yang telah dilakukannya. “Pada hakikatnya

pertanggung jawaban pidana merupakan suatu mekanisme yang dibangun

oleh hukum pidana untuk bereaksi atas kesepakatan menolak suatu perbuatan

tertentu.” Kesepakatan menolak tersebut dapat berupa aturan tertulis maupun

aturan tidak tertulis yang lahir dan berkembang dalam masyarakat.22

Pertanggungjawaban atau yang di kenal dengan konsep “liability” dalam

segi falsafah hukum, seorang filosof besar abad ke 20, Roscoe Pound menyatakan

bahwa : I Use simple word “liability” for the situation where by one may exact

20
Wirjono Projodikoro, Tindak- Tindak Pidana Tertentu di Indonesia, Eresco, Bandung,
2008, hlm. 27.
21
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&sl=nl&u=http://www.elfri.be/Strafrecht/afp
ersing.htm&ei=AjlfSunEGI2pkAWXobyoCg&sa=X&oi=, diakses pada tanggal 25 juli 2016 pukul
23.30 wib.
Chairul Huda, Dari „Tiada Pidana Tanpa Kesalahan‟ menuju kepada „Tiada
22

Pertanggung Jawaban Pidana Tanpa Kesalahan‟, Kencana, Jakarta, 2011, hlm. 71.

Universitas Sumatera Utara


legally and other is legally subjeced to the exaction.”23 Menurutnya juga bahwa

pertanggungjawaban yang dilakukan tersebut tidak hanya menyangkut masalah

hukum semata akan tetapi menyangkut pula masalah nilai-nilai moral ataupun

kesusilaan yang ada dalam suatu masyarakat.

Pertangungjawaban pidana di artikan Pound adalah sebagai suatu

kewajiban untuk membayar pembalasan yang akan di terima pelaku dari

seseorang yang telah di rugikan, Pertanggungjawaban pidana dalam bahasa asing

disebut sebagai “toereken-baarheid,” “criminal reponsibilty,” “criminal

liability,” pertanggungjawaban pidana disini di maksudkan untuk menentukan

apakah seseorang tersebut dapat di pertanggungjawabkan atasnya pidana atau

tidak terhadap tindakan yang di lakukanya itu.24

Masalah pertanggung jawaban pidana berkaitan erat dengan dengan

unsur kesalahan. Dalam Undang-undang No. 4 Tahun 2004 jo Undang-

undang No. 49 Tahun Tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman Pasal 6 ayat

(2) disebutkan: “tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana kecuali pengadilan

karena alat pembuktian yang sah menurut undang-undang mendapat

keyakinan, bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung jawab telah

bersalah atas perbuatan yang didakwakan atas dirinya.25

Ketentuan Pasal 6 ayat 2 tersebut menjelaskan bahwa unsur kesalahan

sangat menentukan akibat dari perbuatan seseorang, yaitu, berupa penjatuhan

Roscoe Pound, “introduction to the phlisophy of law” dalam Romli Atmasasmita,


23

Perbandingan Hukum Pidana.Cet.II, Bandung, Mandar Maju, 2000, hlm 65.


24
S.R Sianturi, Asas-asas Hukum Pidana Indonesia dan Penerapanya (Cetakan
Keempat), Alumni Ahaem-Peteheam, Jakarta, 1996 , hlm 245.
25
Lihat Pasal 6 UU No. 4 Tahun 2004 jo. UU No. 49 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan
Kehakiman.

Universitas Sumatera Utara


pidana. Walaupun unsur kesalahan telah diterima sebagai unsur yang

menentukan sebuah pertanggungjawaban dari pembuat tindak pidana, tetapi

dalam hal mendefinisikan kesalahan oleh para ahli masih terdapat perbedaan

pendapat, “Pengertian tentang kesalahan dengan sendirinya menentukan ruang

lingkup pertanggungjawaban pembuat tindak pidana”.26

Untuk menentukan adanya kesalahan seseorang harus memenuhi beberapa

unsur, yaitu:27

1) Adanya kemampuan bertanggung jawab pada si pembuat

2) Hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya yang berupa

kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa) yang disebut sebagai

bentuk kesalahan

3) Tidak ada alasan penghapusan kesalahan atau tidak ada alasan

pemaaf.

Dalam bukunya Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia Dan

Penerapanya, E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi menjelaskan bahwa unsur

mampu bertanggung jawab mencakup:28

1) Keadaan jiwanya:

a) Tidak terganggu oleh penyakit terus-menerus atau sementara

(temporair);

b) Tidak cacat dalam pertumbuhan (gagu, idiot, imbecile, dan

sebagainya), dan

26
Chairul Huda, Op. cit, hlm. 74.
27
Sudarto, Hukum dan Perkembangan Masyarakat, Sinar Baru, Bandung, 1983, hal. 73.
28
E.Y Kanter & S.R. Sianturi, Asas-Asas Hukum Pidana Di Indonesia Dan Penerapanya,
Storia Grafika, Jakarta, 2002, hlm. 249.

Universitas Sumatera Utara


c) Tidak terganggu karena terkejut, hypnotisme, amarah yang

meluap, pengaruh bawah sadar/reflexe bewenging,

melindur/slaapwandel, menganggu karena demam/koorts, nyidam

dan lain sebagainya. Dengan perkataan lain dia dalam keadaan sadar.

2) Kemampuan jiwanya:

a) Dapat menginsyafi hakekat dari tindakannya

b) Dapat menentukan kehendaknya atas tindakan tersebut, apakah

akan dilaksanakan atau tidak; dan

c) Dapat mengetahui ketercelaan dari tindakan tersebut.

Lebih lanjut E.Y. Kanter dan S.R. Sianturi menjelaskan bahwa:

Kemampuan bertanggungjawab didasarkan pada keadaan dan kemampuan

“jiwa” (geestelijke vermogens), dan bukan kepada keadaan dan kemampuan

“berfikir” (verstanddelijke vermogens), dari seseorang, walaupun dalam istilah

yang resmi digunakan dalam Pasal 44 KUHP adalah verstanddelijke

vermogens untuk terjemahan dari verstanddelijke vermogens sengaja digunakan

istilah “keadaan dan kemampuan jiwa seseorang”. 29


Pertanggungjawaban pidana

disebut sebagai “toerekenbaarheid” dimaksudkan untuk menentukan apakah

seseorang tersangka/terdakwa dipertanggungjawabkan atas suatu tindak

pidana (crime) yang terjadi atau tidak.30

29
Ibid, hlm 250.
30
Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana dan Pertanggungjawaban Pidana; Dua
Pengertian Dasar dalam Hukum Pidana, hlm 45.

Universitas Sumatera Utara


F. Metode Penelitian

Metode penulisan yang digunakan untuk melengkapi penulisan skripsi ini

agar dapat terarah dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah antara lain :

1. Jenis penelitian.

Jenis penelitian yang digunakan dalam menjawab permasalahan dalam

pembahasan skripsi ini adalah penelitian hukum normatif. Penelitian hukum

normatif adalah penelitian yang dilakukan dengan cara menganalisa hukum yang

tertulis dari bahan pustaka atau data sekunder belaka yang lebih dikenal dengan

nama dan bahan acuan dalam bidang hukum atau bahan rujukan bidang hukum.

2. Sumber data

Sumber data yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah data

sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier.

a. Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang terdiri dari peraturan

perundang-undangan di bidang hukum yang mengikat dan diterapkan oleh

pihak-pihak yang berwenang, yaitu berupa peraturan perundang-undangan

seperti Kitab Undang-Undang Hukum Pidana

b. Bahan hukum sekunder yaitu semua dokumen yang merupakan informasi

atau hasil kajian tentang tindak pidana pemerasan dengan menggunakan

senjata tajam yang dilakukan secara bersama-sama dari Pengadilan Negeri

Sibolga (studi kasus No.266/Pid.B/2014/PN.SBG), buku-buku karya

ilmiah dan beberapa sumber ilmiah serta sumber internet yang berkaitan

dengan permasalahan dalam skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara


c. Bahan hukum tersier yaitu petunjuk atau penjelasan mengenai bahan

hukum primer dan/atau bahan hukum sekunder yang berasal dari kamus

hukum, ensiklopedia, majalah, surat kabar, dan sebagainya.

3. Teknik pengumpulan data

Pengumpulan data-data yang diperlukan oleh penulis yang berkaitan

dengan penyelesaian skipsi yang telah ditempuh melalui penelitian terhadap

literatur-literatur untuk memperoleh bahan teoritis ilmiah yang daapat

digunakan sebagai dasar analisis terhadap substansi pembahasan dalam

skripsi ini dan melakukan penelitian terhadap putusan yang dibuat oleh

hakiim Pengadilan Negeri Sibolga. Tujuan penelitian kepustakaan (library

research) ini adalah untuk memperoleh data-data sekunder yang meliputi

peraturan perundang-undangan,buku-buku, majalah, surat kabar maupun

bahan bacaan lainnya yang berhubungan dengan penulisan skripsi ini.

4. Analisa data

Analisis data yang dilakukan dalam penulisan ini adalah dengan cara

kualitatif, yaitu dengan menganalisis melalui data lalu diorganisasikan dalam

pendapat atau tanggapan dan data-data sekunder yang diperoleh dari pustaka

kemudian dianalisis sehingga diperoleh data yang dapat dijawab

permasalahan dalam skripsi ini.

Universitas Sumatera Utara


G. Sistematika Penulisan

Dalam menghasilkan karya ilmiah yang baik, maka pembahasannya harus

diuraikan secara sistematis. Untuk memudahkan penulisan skripsi ini maka

diperlukan adanya sistematika penulisan yang teratur yang terbagi dalam bab per

bab yang saling berkaitan satu sama lain.

Adapun sistematika penulisan yang terdapat dalam skripsi ini adalah

sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini mengemukakan apa yang menjadi latar belakang

penulisan skripsi, rumusan permasalahan sebagai topik yang akan

dibahas secara mendalam, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian

penulisan, tinjauan pustaka, metode penelitian yang digunakan

serta sistematika penulisan skripsi.

BAB II DAKWAAN JAKSA PENUNTUT UMUM TERHADAP


TINDAK PIDANA PEMERASAN DENGAN
MENGGUNAKAN SENJATA TAJAM YANG
DILAKUKAN SECARA BERSAMA-SAMA DALAM
PUTUSAN PENGADILAN NEGERI SIBOLGA NOMOR
266/PID.B/2014/PN.SBG

Dalam bab ini diuraikan mengenai kesesuaian Dakwaan Penuntut

Umum terhadap tindak pidana pemerasan yang dilakukan secara

bersama-sama. Bagian-bagian yang diuraikan yaitu ulasan secara

mendalam tentang syarat surat dakwaan, bentuk-bentuk surat

dakwaan terhadap tindak pidana pemerasan dengan menggunakan

senjata tajam yang dilakukan secara bersama-sama.

Universitas Sumatera Utara


BAB III PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP
TINDAK PIDANA KEKERASAN DENGAN
MENGGUNAKAN SENJATA TAJAM YANG DILAKUKAN
SECARA BERSAMA-SAMA

Dalam bab ini diuraikan secara mendetail tentang Penerapan

sanksi terhadap tindak pidana pemerasan dengan mnggunakan

senjata tajam yang dilakukan secara bersama-sama serta analisis

kasus putusan Pengadilan Negeri Sibolga No.266 /Pid.B/ 2014/

PN.SBG.

BAB IV PENUTUP

Bab terakhir ini berisi kesimpulan dari bab-bab yang telah

dibahas sebelumnya dan saran-saran yang memungkinkan

berguna bagi orang-orang yang membacanya.

Universitas Sumatera Utara


ABSTRAK
Tri Bosco Ignatius M *
Prof. Dr. Madiasa Ablisar, SH., M.S **
Alwan, SH., M.Hum ***

Tindak pidana pemerasan dapat dikatakan sebagai perbuatan yang


sudah banyak terjadi, dari jaman dahulu sampai sekarang. Namun, setiap
perbuatan yang terjadi disetiap wilayah pasti terdapat unsur dan motif yang
berbeda-beda serta unsur dan sebab akibatnya. Tindak pidana pemerasan
sebagaimana diatur dalam Bab XXIII KUHP sebenarnya terdiri dari dua
macam tindak pidana, yaitu tindak pidana pemerasan (afpersing) dan tindak
pidana pengancaman (afdreiging). Kedua macam tindak pidana tersebut
mempunyai sifat yang sama, yaitu suatu perbuatan bertujuan memeras orang
lain. Justru karena sifatnya yang sama itulah kedua tindak pidana ini biasanya
disebut dengan nama sama, yaitu ”Pemerasan‟‟ serta diatur dalam bab yang
sama. Permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimanakah pengaturan hukum
pidana terhadap tindak pidana pemerasan dengan menggunakan senjata tajam
yang dilakukan secara bersam-sama dan bagaimanakah analisis kasus terhadap
tindak pidana pemerasan dengan menggunakan senjata tajam yang dilakukan
secara bersama-sama (studi kasus nomor 266/pid.b/2014/pn.sbg).
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian hukum
normatif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara menganalisa hukum
yang tertulis dari bahan pustaka atau data sekunder belaka yang lebih dikenal
dengan nama dan bahan acuan dalam bidang hukum atau bahan rujukan bidang
hukum.
Bentuk dakwaan yang digunakan oleh jaksa dalam surat dakwaan
ini adalah dakwaan tunggal dengan menggunakan pasal 368 ayat (1) 1 KUHP.
Bentuk dakwaan tunggal ini dipakai karena tidak adanya keraguan oleh jaksa
untuk mengidentifikasi tindak pidana apakah yang dilakukan oleh para
terdakwa.Dengan tidak adanya keraguan tersebut, maka jaksa dapat membuat
dakwaan dengan bentuk dakwaan tunggal. Dalam kasus putusan Pengadilan
Negeri Sibolga Nomor 266/Pid.B/2014/PN.SBG, para Terdakwa telah dapat
dimintai pertanggungjawaban pidananya karena telah memenuhi unsur-unsur
pertanggungjawaban pidana yaitu adanya kemampuan bertanggungjawab,
adanya kesalahan yang berbentuk kesengajaan (dolus), serta tidak adanya
alasan yang menghapuskan kesalahan para terdakwa (alasan pemaaf).

* Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara


** Dosen Pembimbing I
*** Dosen Pembimbing I

Universitas Sumatera Utara


PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP TINDAK
PIDANA PEMERASAN DENGAN MENGGUNAKAN SENJATA
TAJAM YANG DILAKUKAN SECARA BERSAMA-SAMA ( Studi
Kasus No. 266/ Pid.B/ 2014/ PN.SBG)

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Akhir dan Memenuhi


Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
OLEH:

TRI BOSCO IGNATIUS M


NIM: 120200188

DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2017

Universitas Sumatera Utara


PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP TINDAK
PIDANA PEMERASAN DENGAN MENGGUNAKAN SENJATA
TAJAM YANG DILAKUKAN SECARA BERSAMA-SAMA ( Studi
Kasus No. 266/ Pid.B/ 2014/ PN.SBG)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Akhir Dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk

Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

Oleh:

TRI BOSCO IGNATIUS M


NIM : 120200188

Disetujui oleh:

Ketua Departemen Hukum Pidana


Fakultas Hukum USU

Dr. Muhammad Hamdan , S.H, M.H


NIP. 195703261986011001

Dosen Pembimbing I : Dosen Pembimbing II :

Prof. Dr. Madiasa Ablisar, S.H. MS Alwan, S.H.M.Hum


NIP. 196104081986011002 NIP. 196005201998021001

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2017

Universitas Sumatera Utara


KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa

atas segala kemurahan dan karunia-Nya yang senantiasa diberikan kepada Penulis.

Segala puji dan ucap syukur juga tak lupa Penulis panjatkan kepada Yesus

Kristus, yang selalu mencurahkan Kasih setianya kepada Penulis sehingga Penulis

akhirnya dapat menyelesaikan skripsi dengan judul: “TINJAUAN YURIDIS

TERHADAP TINDAK PIDANA PEMERASAN DENGAN

MENGGUNAKAN SENJATA TAJAM YANG DILAKUKAN SECARA

BERSAMA-SAMA (STUDI KASUS NOMOR 266/PID.B/2014/PN.SBG)”.

Skripsi ini disusun untuk melengkapi dan memenuhi tugas dan syarat untuk

meraih gelar Sarjana Hukum di Universitas Sumatera Utara. Penulis telah

mencurahkan segenap hati, pikiran dan kerja keras dalam penyusunan skripsi ini.

Meskipun begitu, Penulis menyadari bahwa didalam penulisan skripsi ini masih

terdapat kekurangan-kekurangan dari segi substansi maupun penggunaan kata-

kata, sehingga masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, Penulis

mengarapkan kritik dan saran yang membangun agar kemudian skripsi ini

menjadi baik adanya.

Penulis mengucapkan terimakasih tak terhingga untuk kedua orang

Penulis yang terkasih, yang selalu memberikan dukungan baik dari segi materil

maupun moril selama 22 tahun kehidupan Penulis hingga hari ini. Terima kasih

untuk setiap kesabaran dan ketabahan yang telah diberikan untuk mendidik

Penulis selama ini. Semoga Tuhan memampukan Penulis untuk membalas

segala kebaikan kedua orang tua.

Universitas Sumatera Utara


Melalui kesempatan ini juga, Penulis menyampaikan terimakasih

kepada semua pihak yang membantu Penulis untuk menyelesaikan skripsi ini,

yaitu:

1. Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M. Hum., selaku Dekan Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara;

2. Bapak Dr. OK Saidin S.H., M.Hum., selaku Pembantu Dekan I Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara;

3. Ibu Puspa Melati Hasibuan, S.H., M.Hum., selaku Pembantu Dekan II

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

4. Bapak Dr. Jelly Leviza, S.H., M.Hum., selaku Pembantu Dekan III Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara;

5. Bapak Dr. M. Hamdan,S.H., M.H, selaku Ketua Departemen Pidana Fakultas

Hukum Universitas Sumatera Utara;

6. Ibu Liza Erwina, S.H, M.Hum., selaku Sekretaris Departemen Hukum Pidana

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

7. Bapak Prof. Dr.Madiasa Ablisar.,S.H., M.S., selaku Dosen Pembimbing I

yang telah membimbing, mengarahkan dan mengajarkan mengenai hakekat

suatu perjuangan dalam hidup, juga segala ilmu yang telah dicurahkan kepada

Penulis selama proses penulisan skripsi ini;

8. Bapak Alwan S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak

meluangkan waktunya dalam memberikan bantuan, bimbingan dan arahan-

arahan kepada Penulis pada saat penulisan skripsi ini;

Universitas Sumatera Utara


9. Bapak Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing

akademik yang telah membimbing Penulis selama masa perkuliahan;

10. Seluruh Dosen dan Staff pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sumatera

Utara yang telah mendidik dan membimbing Penulis selama menempuh

pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;

11. Tulang Jonris Simanjuntak, Tulang Barita Simajuntak, Tulang Adi

Simanjuntak, Tulang Endang Simanjuntak, Inang Tuaku dan Tanteku, serta

seluruh keluarga besar pomparan Op. J. Simanjuntak/T br. Sihotang yang

senantiasa mendukung dan mendoakan perjuangan penulis selama menempuh

proses pendidikan;

12. Appara Arya Mulatua Manurung, Appara Daniel Manurung, Appara Sahata

Manurung, Appara Monang Manurung, Appara Febrian Manurung, Appara

Jamot Manurung, Ito Laratisa Manurung, Ito Jones Manurung, Ito Deysi

Dumais Manurung, Keluarga punguan Manurung serta teman seperjuangan

Penulis selama perkuliahan, yang selalu bersedia meluangkan waktunya

membantu Penulis menyelesaikan tugas-tugas kuliah, semoga kita kelak

mampu memenuhi impian kita masing-masing;

13. Raply Sihotang, Paulus Sibarani, Rizal Banjarnahor, Dora Virgolin

Tambunan, Damaskus Situmeang, Alex Manalu, dan seluruh teman

seperjuangan yang berasal dari kota Sibolga Nauli yang selalu bersedia

memberikan bantuan kepada penulis selama proses perkuliahan.

14. Saudara – saudaraku di Fidelis Laurensiah Miranda Tobing (orang spesial),

Jannes sitanggang, Wuri yanti, Alfa Napitupulu, Ceperianus Gea, Sahat

Universitas Sumatera Utara


Debataraja, Prima Sidabutar, Elisabeth Silalahi,dan kawan-kawan lainnya

yang telah menghibur dan memberi dukungan penulis selama proses penulisan

skripsi ini.

15. Sahabat-sahabatku dalam tim hore-hore Efraim Sihombing, Andri Tarigan,

Iwan Jani Simbolon,Wakibosri Sihombing, Bahari Sitinjak, Lamhot Limbong,

Arga Pasaribu, Suryadi Ujung, Lian Sagala, Rawady Berutu, Rizal

Banjarnahor, Samuel Juliandy, Wilfrid Tobing, , dan kawan-kawan lainnya,

yang telah menemani dan menghibur penulis selama proses penulisan skripsi

ini. Semoga Kelak kita bisa sukses bersama-sama.

16. Teman-teman stambuk 2012 yang tidak dapat disebutkan Penulis satu-persatu,

yang membantu Penulis menyelesaikan skripsi ini.

Akhir kata, semoga skripsi ini membawa manfaat yang sangat

besar bagi pembaca dan perkembangan hukum di Indonesia. Terima kasih.

Medan, 25 Januari 2017

Penulis,

Tri Bosco Ignatius M

Universitas Sumatera Utara


ABSTRAK
Tri Bosco Ignatius M *
Prof. Dr. Madiasa Ablisar, SH., M.S **
Alwan, SH., M.Hum ***

Tindak pidana pemerasan dapat dikatakan sebagai perbuatan yang


sudah banyak terjadi, dari jaman dahulu sampai sekarang. Namun, setiap
perbuatan yang terjadi disetiap wilayah pasti terdapat unsur dan motif yang
berbeda-beda serta unsur dan sebab akibatnya. Tindak pidana pemerasan
sebagaimana diatur dalam Bab XXIII KUHP sebenarnya terdiri dari dua
macam tindak pidana, yaitu tindak pidana pemerasan (afpersing) dan tindak
pidana pengancaman (afdreiging). Kedua macam tindak pidana tersebut
mempunyai sifat yang sama, yaitu suatu perbuatan bertujuan memeras orang
lain. Justru karena sifatnya yang sama itulah kedua tindak pidana ini biasanya
disebut dengan nama sama, yaitu ”Pemerasan‟‟ serta diatur dalam bab yang
sama. Permasalahan dalam skripsi ini adalah bagaimanakah pengaturan hukum
pidana terhadap tindak pidana pemerasan dengan menggunakan senjata tajam
yang dilakukan secara bersam-sama dan bagaimanakah analisis kasus terhadap
tindak pidana pemerasan dengan menggunakan senjata tajam yang dilakukan
secara bersama-sama (studi kasus nomor 266/pid.b/2014/pn.sbg).
Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian hukum
normatif, yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara menganalisa hukum
yang tertulis dari bahan pustaka atau data sekunder belaka yang lebih dikenal
dengan nama dan bahan acuan dalam bidang hukum atau bahan rujukan bidang
hukum.
Bentuk dakwaan yang digunakan oleh jaksa dalam surat dakwaan
ini adalah dakwaan tunggal dengan menggunakan pasal 368 ayat (1) 1 KUHP.
Bentuk dakwaan tunggal ini dipakai karena tidak adanya keraguan oleh jaksa
untuk mengidentifikasi tindak pidana apakah yang dilakukan oleh para
terdakwa.Dengan tidak adanya keraguan tersebut, maka jaksa dapat membuat
dakwaan dengan bentuk dakwaan tunggal. Dalam kasus putusan Pengadilan
Negeri Sibolga Nomor 266/Pid.B/2014/PN.SBG, para Terdakwa telah dapat
dimintai pertanggungjawaban pidananya karena telah memenuhi unsur-unsur
pertanggungjawaban pidana yaitu adanya kemampuan bertanggungjawab,
adanya kesalahan yang berbentuk kesengajaan (dolus), serta tidak adanya
alasan yang menghapuskan kesalahan para terdakwa (alasan pemaaf).

* Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara


** Dosen Pembimbing I
*** Dosen Pembimbing I

Universitas Sumatera Utara


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................. ........ i

ABSTRAKSI ............................................................................ ......... v

DAFTAR ISI ............................................................................. ........ vi

BAB I

PENDAHULUAN................................................................ 1

A. Latar Belakang ......................................................................... 1

B. Rumusan Masalah .................................................................... 4

C.Tujuan dan Manfaat penulisan .................................................. 4

D.Keaslian Penulisan .................................................................... 5

E.Tinjauan Pustaka........................................................................ 6

1. Pengertiaan Tindak Pidana................................................... 6

2. Pengertian Pertimbangan Jaksa ............................................ 9

3. Pengertian Tindak Pidana yang Dilakukan Secara

Bersama- Sama ................................................................... 11

4. Pengertian Tindak Pidana Pemerasan Menurut KUHP ....... 14

5. Pengertian Pertanggungjawaban Pidana .............................. 15

F.Metode Penelitian ...................................................................... 19

G.Sistematika Penulisan................................................................ 21

BAB II PERTIMBANGAN JAKSA DALAM MENENTUKAN


DAKWAAN TERHADAP TINDAK PIDANA
PEMERASAN DENGAN MENGGUNAKAN SENJATA
TAJAM YANG DILAKUKAN SECARA BERSAMA-
SAMA ........................................................................................... 23

Universitas Sumatera Utara


A. Tinjauan Umum Mengenai Dakwaan................................. 23

B. Analisis Tentang Pertimbangan Jaksa dalam Menentukan

Dakwaan Terhadap Perkara Tindak Pidana Pemerasan

dengan Menggunakan Senjata Tajam yang Dilakukan

Secara Bersama-sama.............................................................. 34

BAB III PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP


TINDAK PIDANA PEMERASAN DENGAN
MENGGUNAKAN SENJATA TAJAM YANG
DILAKUKAN SECARA BERSAMA-SAMA (ANALISIS
KASUS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI SIBOLGA
NOMOR 266/PID.B/2014/PN.SBG) .......................................... 45

A. Pengaturan Tentang Tindak Pidana Pemerasan dengan

Menggunakan Senjata Tajam yang Dilakukan Secara

Bersama-sama dalam Kitab Undang-Undang Hukum

Pidana (KUHP) ....................................................................... 45

1. Tindak Pidana yang Dilakukan Secara Bersama-

sama/Penyertaan dalam Kitab Undang-Undang

Hukum Pidana (KUHP) .................................................. 55

a. Mereka Yang Melakukan (pleger) .............................. 58

b. Menyuruh Melakukan (doenpleger)............................ 59

c. Turut Melakukan (madepleger) ................................... 61

d. Orang yang sengaja membujuk (Uitlokker) ................ 62

e.Membantu Melakukan Tindak Pidana


(Medeplichtgheid)....................................................... 64

B. Analisis Pertanggungjawaban Pidana dalam Tindak

Pidana Pemerasan dengan Menggunakan Senjata Tajam

Universitas Sumatera Utara


yang Dilakukan Secara Bersama-sama Dalam Putusan

Pengadilan Negeri Sibolga Nomor

266/Pid.b/2014/PN.Sbg .......................................................... 65

1. Posisi Kasus ............................................................ 65

a. Kronologis ..................................................................... 65

b. Dakwaan Penuntut Umum ............................................ 66

c. Tuntutan Penuntut Umum .............................................. 67

d. Fakta-Fakta Hukum ....................................................... 68

e. Pertimbangan Hakim ..................................................... 82

f. Amar Putusan ................................................................. 83

2. Analisis Kasus ........................................................ 85

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN ................................... 91

A. Kesimpulan ............................................................................. 91

B. Saran........................................................................................ 92

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................... 93

Universitas Sumatera Utara