Anda di halaman 1dari 94

REKAPAN PRATIKUM PENYEHATAN TANAH

Oleh Kelompok III


Kelas II.A

Nama Anggota :
Chairani 171110003
Dea Riskita 171110006
Ilham Kurniawan 171110016
Halimah Refrianti 171110012
Kurnia Esa Putri 171110018
Mardatila Herman 171110021
Putrid Sari Yasmin 171110028
Selvia Siska 171110033
Windri Septhia Limmarta 171110038

DOSEN PEMBIMBING :
Muchsin Riviwanto, SKM, M.Kes
Suksmerri, M.Pd, M.Si

INSTRUKTUR :
Kalasta Ayunda Putri, AMKL

PRODI D-III SANITASI LINGKUNGAN


POLTEKKES KEMENKES RI PADANG
TAHUN 2018/2019
LAPORAN PRATIKUM PENYEHATAN TANAH
Pemeriksaan Tanah Parameter Fisik

Oleh Kelompok III


Kelas II.A

Nama Anggota :
Chairani 171110003
Dea Riskita 171110006
Ilham Kurniawan 171110016
Halimah Refrianti 171110012
Kurnia Esa Putri 171110018
Mardatila Herman 171110021
Putrid Sari Yasmin 171110028
Selvia Siska 171110033
Windri Septhia Limmarta 171110038

DOSEN PEMBIMBING :
Muchsin Riviwanto, SKM, M.Kes
Suksmerri, M.Pd, M.Si

INSTRUKTUR :
Kalasta Ayunda Putri, AMKL

PRODI D-III SANITASI LINGKUNGAN


POLTEKKES KEMENKES RI PADANG
TAHUN 2018/2019
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pratikum Peyehatan Tanah “Pemeriksaan Tanah Parameter Fisik” yang telah
dilaksanakan pada tanggal 20 Agustus 2018 di Laboratorium Pengendalian Vektor dan
Binatang Pengganggu Poltekkes Kemenkes RI Padang telah disetujui oleh :

Dosen Pembimbing: Instruktur:

Suksmerri, M.Pd, M.Si Kalasta Ayunda Putri, AMKL


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT Yang telah memberikan nikmat
kesehatan dan kesempatan kepada kita sehingga dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada
waktunya.
Laporan ini dibuat untuk melengkapi tugas kelompok mata kuliah Penyehatan
Tanah.Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu
kami mohon saran dan kritikan dari bapak demi perbaikan laporan ini selanjutnya.
Ucapan kami sampaikan kepada dosen pembimbingdaninstruktur yang telah
memberikan bimbingan dan arahan dalam menyelesaikan laporan ini, serta teman-teman
yang ikut membantu dalam penyesaian laporan.

Padang, 27Agustus 2018

Kelompok III
DAFTAR ISI

LEMBARAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR.......................................................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................................1
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum..............................................................................................................2
1.2.2 Tujuan Khusus.............................................................................................................2
1.3 Manfaat..................................................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Tanah....................................................................................................................3
2.2 Klasifikasi Tanah....................................................................................................................4
2.3 Parameter Fisika Tanah..........................................................................................................4
BAB III ISI
3.1 Waktu dan Tempat................................................................................................................10
3.2 Persiapan Alat dan Bahan.....................................................................................................10
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Pengambilan Sampel Tanah Terganggu.....................................................................11
3.3.2 Cara Pemeriksaan Suhu Tanah...................................................................................11
3.3.3 Cara Pemeriksaan Ph Tanah.......................................................................................11
3.3.4 Cara Pemeriksaan Porositas Tanah.............................................................................11
3.3.5 Cara Menentukan Tekstur Tanah................................................................................12
3.3.6 Cara Menentukan Konsistensi Tanah.........................................................................12
BAB IV HASIL
4.1 Hasil Dan Perhitungan..........................................................................................................14
4.2 Pembahasan..........................................................................................................................14
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan............................................................................................................................15
5.2 Saran......................................................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1 BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanah merupakan hasil transformasi zat-zat mineral dan organik di muka bumi. Tanah
terbentuk dibawah pengaruh factor-faktor lingkungan yang bekerja dalam masa yang sangat
panjang. Tanah mempunyai organisasi dan morfologi. Tanah merupakan media bagi
tumbuhan tingkat tinggi dan pangkalan hidup bagi hewan dan manusia. Tanah merupakan
system ruang-waktu bermatra empat.
Tanah merupakan system tiga fase yaitu padat, cair dan gas yang selalu mengalami
dinamisasi dalam kondisi seimbang. Dipandang dari segi pedology, tanah adalah suatu benda
alam yang dinamis dan tidak secara khusus dihubungkan dengan pertumbuhan tanaman.
Tanah yang dipelajari dalam hubungannya dengan pertumbuhan tanaman disebut
edhapology.
Tanah yang terbentuk dari berbagai proses fisik, kimia dan biology menghasilkan
lapisan-lapisan yang berbeda suatu tempat ke tempat lainnya baik sifat fisik, kimia maupun
sifat biologinya. Dalam istilah tanah, lapisan tersebut dinamakan horizon. Penampakan
vertical dari tanah yang terdiri dari horizon-horizon disebiut profil tanah. Cepat atau
lambatnya pembentukan horizon-horizon tanah dipengaruhi oleh factor-faktor pembentuk
tanah, yaitu : bahan induk, iklim, biota, topografi dan waktu.
Kompenen tanah (mineral, organic, air dau udara) tersusun antara satu dan yang
membentuk tanah. Tubuh tanah dibedakan atas horizon-horizon yang kurang lebih sejajar
dengan permukaan tanah sebagai hasil proses pedogenesis.
Kandungan bahan mineral dan bahan organic tanah yang berukuran sangat halus
(koloid tanah) sangat mempengaruhi sifat kimia tanah. Utamanya pH, kapasitas tukar karbon
(KTK) dan kejenuhan basa. Partikel-partikel koloid yang sangat halus yang dikenal sebagai
mikro sel pada umumnya bermuatan negative, sehingga ion-ion yang bermuatan positif akan
tertarik dan membentuk lapisan ganda ion.
Air mempunyaifungsi yang pentingdalamtanah, antara lain pada proses pelapukan
mineral danbahanorganiktanah, yaitureaksi yang
mempersiapkanharalarutbagipertumbuhantanaman. Selainitu, air jugaberfungsisebagai media
gerakharakeakar-akartanaman.Akan tetapi, jika air terlalubanyaktersedia, hara-
haradapattercucidaridaerah-daerahperakaranataubilaevaporasitinggi, garam-
garamterlarutmungkinterangkatkelapisantanahatas.Air yang
berlebihanjugamembatasipergerakanudaradalamtanah, merintangiakartanamanmemperoleh
O2 sehinggadapatmengakibatkantanamanmati.
Duafungsi yang salingberkaitandalampenyediaan air bagitanamanyaitumemperoleh
air dalamtanahdanpengaliran air yang disimpankeakar-akartanaman.Jumlah air yang
diperolehtanahsebagianbergantungpadakemampuantanah yang menyerap air
cepatdanmeneruskan air yang diterimadipermukaantanahkebawah.
Fungsi utama tanah adalah sebagai media tumbuh makhluk hidup. Proses
pembentukan tanah dimulai dari hasil pelapukan batuan induk (regolit) menjadi bahan induk
tanah, diikuti oleh proses pencampuran bahan organik yaitu sisa-sisa tumbuhan yang dilapuk
oleh mikroorganisme dengan bahan mineral dipermukaan tanah, pembentukan struktur tanah,
pemindahan bahan-bahan tanah dari bagian atas ke bagian bawah dan berbagai proses lain,
sehingga apabila kita menggali lubang pada tanah maka akan terlihat lapisan-lapisan tanah
yang berbeda sifat fisik, kimia, dan biologinya, lapisan-lapisan inilah yang disebut dengan
horizon tanah yang terbentuk dari mineral anorganik akar. Susunan horizon tanah tersebut
biasa disebut Profil Tanah. Maka dari itu praktikum ini dilakukan pengukuran sifat fisik tanah
yang berguna untuk kesuburan tanah.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum


Untuk mengetahui cara pemeriksaan sampel tanah parameter fisik

1.2.2 Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui suhu tanah

2. Untuk mengetahui pH tanah

3. Untuk mengetahui tekstur tanah

4. Untuk mengetahui porositas tanah

5. Untuk mengetahui konsistensi tanah

1.3 Manfaat
Mahasiswa dapat mengetahui cara pemeriksaan sampel tanah parameter fisik
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.4 Pengertian Tanah

Tanah sebagai tubuh alam menduduki sebagian besar permukaan planet bumi.
Tanah merupakan media tumbuh tanaman yang memiliki karakteristik tersendiri sebagai
akibat dari pengaruh iklim dan jasad hidup terhadap bahan induk dalam jangka waktu
tertentu (Darmawijaya, 1990). Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat diartikan
tanah terbentuk akibat interaksi dari faktor iklim, jasad hidup, bahan induk, relief, dan
waktu.
Tanah adalah kumpulan dari bagian-bagian padat yang tidak terikat antara satu
dengan yang lain (diantaranya mungkin material organik) dan rongga-rongga diantara
bagian-bagian tersebut berisi udara dan air. (Verhoef, 1994).
Menurut Craig (1991), tanah adalah akumulasi mineral yang tidak mempunyai
atau lemah ikatan antar partikelnya, yang terbentuk karena pelapukan dari batuan.
Tanah didefinisikan oleh Das (1995) sebagai material yang terdiri dari agregat
mineral-mineral padat yang tidak tersementasi (terikat secara kimia) satu sama lain dan
dari bahan-bahan organik telah melapuk (yang berpartikel padat) disertai dengan zat cair
dan gas yang mengisi ruangruang kosong diantara partikel-partikel padat tersebut.
Sedangkan pengertian tanah menurut Bowles (1984), tanah adalah campuran
partikel-partikel yang terdiri dari salah satu atau seluruh jenis berikut:
a. Berangkal (boulders) adalah potongan batuan yang besar, biasanya lebih besar dari
250 sampai 300 mm dan untuk ukuran 150 mmsampai 250 mm, fragmen batuan ini
disebut kerakal (cobbles/pebbles).
b. Kerikil (gravel) adalah partikel batuan yang berukuran 5 mm sampai 150 mm.
c. Pasir (sand) adalah partikel batuan yang berukuran 0,074 mm sampai 5 mm, yang
berkisar dari kasar dengan ukuran 3 mm sampai 5 mm sampai bahan halus yang
berukuran < 1 mm.
d. Lanau (silt) adalah partikel batuan yang berukuran dari 0,002 mm sampai 0,0074
mm.
e. Lempung (clay) adalah partikel mineral yang berukuran lebih kecil dari 0,002 mm
yang merupakan sumber utama dari kohesi pada tanah yang kohesif.
f. Koloid (colloids) adalah partikel mineral yang diam dan berukuran lebih kecil dari
0,001 mm.
Tanah terjadi sebagai produk pecahan dari batuan yang mengalami pelapukan
mekanis atau kimiawi. Pelapukan mekanis terjadi apabila batuan berubah menjadi
fragmen yang lebih kecil tanpa terjadinya suatu perubahan kimiawi dengan faktor-faktor
yang mempengaruhi, yaitu pengaruh iklim, eksfoliasi, erosi oleh angin dan hujan, abrasi,
serta kegiatan organik. Sedangkan pelapukan kimiawi meliputi perubahan mineral
batuan menjadi senyawa mineral yang baru dengan proses yang terjadi antara lain seperti
oksidasi, larutan (solution), pelarut (leaching).

1.5 Klasifikasi Tanah


Klasifikasi tanah adalah suatu sistem pengaturan beberapa jenis tanah yang
berbedabeda tapi mempunyai sifat yang serupa ke dalam kelompok dan subkelompok
berdasarkan pemakaiannya. Sistem klasifikasi ini menjelaskan secara singkat sifatsifat
umum tanah yang sangat bervariasi namun tidak ada yang benar-benar memberikan
penjelasan yang tegas mengenai kemungkinan pemakainya (Das, 1995).

Sistem klasifikasi tanah dimaksudkan untuk memberikan informasi tentang


karakteristik dan sifat-sifat fisik tanah serta mengelompokkannya sesuai dengan perilaku
umum dari tanah tersebut. Tanah-tanah yang dikelompokkan dalam urutan berdasarkan
suatu kondisi fisik tertentu. Tujuan klasifikasi tanah adalah untuk menentukan
kesesuaian terhadap pemakaian tertentu, serta untuk menginformasikan tentang keadaan
tanah dari suatu daerah kepada daerah lainnya dalam bentuk berupa data dasar.
Klasifikasi tanah juga berguna untuk studi yang lebih terperinci mengenai keadaan tanah
tersebut serta kebutuhan akan pengujian untuk menentukan sifat teknis tanah seperti
karakteristik pemadatan, kekuatan tanah, berat isi, dan sebagainya (Bowles, 1989).

1.6 Parameter Fisika Tanah


Tanah terdiri dari tiga komponen: padat (butir pasir, debu, liat dan bahan
organik), cair (air di dalam pori tanah), dan udara (di dalam pori atau rongga tanah).
Untuk mendukung pertumbuhan tanaman, ketiga komponen tersebut harus berada
dalam keadaan seimbang. Bila tanah terlalu basah (hampir semua pori diisi air), maka
akan kekurangan udara sehingga akar tanaman sulit bernapas. Sebaliknya, bila tanah
terlalu kering (kekurangan air), walaupun cukup udara, dapat menyebabkan tanaman
layu.

a. Tekstur
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif dari pasir, debu, dan liat. Nama
tekstur melukiskan penyebaran butiran secara plastisida, keteguhan, penyediaan hara
dan produktivitas suatu wilayah geografis. Di dunia dikenal dua sistem penggolongan
ukuran fraksi berdasarkan USDA (United Department Of Agriculture) dan ISSS
(International Sociaty of Soil Scince) (Pairunan, 1997).
Tanah terdiri dari butir-butir tanah berbagai ukuran. Bagian tanah yang berukuran
lebih dari 2 mm sampai lebih kecil dari pedon disebut fragmen batuan (rock fragment)
atau bahan kasar (kerikil sampai batu). Bahan-bahan tanah yang lebih halus (< 2mm)
disebut fraksi tanah halus (fine earth fraction). Tekstur tanah yang berupa partikel
memiliki ukuran diameter yang berbeda-beda, yakni :
Pasir (sand) : 2 mm – 50 mikron
Debu (silt) : 50 - 2 mikron
Liat (clay) : < 2 mikron
Klasifikasi tekstur ini didasarkan pada jumlah partikel yang berukuran < 2
mm. Jika dijumpai partikel yang > 2 mm, maka penambahan/penyisipan kata-kata
berkerikil atau berbatu ditambahkan pada penamaan kelas tekstur tanah. Sebagai
contoh lempung berbatu. Tekstur tanah ini digunakan untuk menunjukkan kasar atau
halusnya sebuah tanah dari fraksi tanah halus (< 2 mm). Berdasarkan atas
perbandingan banyaknya butir-butir pasir, debu dan liat maka tanah dikelompokkan
kedalam beberapa macam kelas tekstur.
Tekstur tanah menunjukkan kasar dan halusnya tanah. Tekstur tanah
merupakan perbandingan antara butir-butir pasir, debu dan liat. Tekstur tanah
dikelompokkkan ke dalam 12 kelas tekstur dibedakan berdasarkan presentase
kandungan pasir, debu dan liat yait u: pasir, pasir berlempung, lempung berpasir,
lempung, lempung liat berpasir, lempung liat berdebu, lempung berliat, lempung
berdebu, debu, liat berpasir, liat berdebu, liat (Hardjowigeno, 2003).
b. Struktur
Struktur tanah merupakan gumpalan kecil dari butiran-butiran tanah.
Gumpalan struktur itu terjadi karena butir-butir pasir, debu, dan liat terikat satu sama
lain oleh perekat seperti bahan organic, oksida-oksida besi, dan lain-lain. Gumpalan-
gumpalan kecil ini mempunyai bentuk, ukuran, dan kemamtapan (ketahanan yang
berbeda-beda). Contohnya adalah di daerah curah hujan tinggi, umumnya ditemukan
struktur remah atau granuler dipermukaan dan dan gumpal di horizon bawah. Di
daerah kering, sering di jumpai tanah dengan struktur tiang atau prisma di lapisan
bawah.
c. Konsistensi
Adalah derajad kohesi dan adhesi antara partikel-partikel tanah dan ketahanan
massa tanah terhadap perubahan bentuk oleh tekanan dan berbagai kekuatan yang
mempengaruhi bentuk tanah
Konsistensi ditentukan oleh tekstur tanah dan struktur tanah. Cara penentuan
konsistensi tanah yaitu :lapangan : memijit tanah dalam kondisi kering, lembab dan
basah.
Penentuan di lapangan :
1. Kondisi kering : kekerasan (lepas, lunak, keras)
2. Kondisi lembab keteguhan (lepas, gembur, teguh)
3. Kondisi basah : kelekatan dan plastisitas

d. Porositas Tanah
Porositas adalah proporsi ruang pori tanah (ruang kosong) yang
terdapat dalam suatu volume tanah yang dapat ditempati oleh air dan udara, sehingga
merupakan indikator kondisi drainase dan aerasi tanah. Tanah yang poreus berarti
tanh yang cukup mempunyai ruang pori untuk pergerakan air dan udara masuk dan
keluar tanah yang secara leluasa , sebaliknya jika tanah tidal poreus (Hakim ,1996)
Tanah tersusun dari butiran tanah atau partikel lainnya dan rongga-rongga atau
pori di antara partikel butiran tanah. Rongga-rongga terisi sebagian atau seluruhnya
dengan air atau zat cair lainnya. Rongga-rongga tanah yang tidak terisi oleh air atau
zat cair akan terisi oleh udara atau bentuk lain dari gas. Sifat-sifat mekanis penting
tanah, seperti kekuatan (strength) dan pemampatan (compressibility), secara langsung
berhubungan dengan atau paling tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor dasar seperti
rapat masa (density), berat volume (unit weight), angka pori (void ratio), dan derajat
kejenuhan(degree of saturation).
Porositas tanah adalah kemampuan tanah dalam menyerap air berkaitannya
dengan tingkat kepadatan tanah. Semakin padat tanah berarti semakin sulit untuk
menyerap air, maka porositas tanah semakin kecil. Sebaliknya semakin mudah tanah
menyerap air maka tanah tersebut memiliki porositas yang besar.
Tanah yang porositasnya baik adalah tanah yang porositasnya besar karena perakaran
tanaman mudah untuk menembus tanah dalam mencari bahan organik. Selain itu
tanah tersebut mampu menahan air hujan sehingga tanaman tidak selalu kekurangan
air. Tetapi jika porositasnya terlalu tinggi, juga tidak baik, karena air yang diterima
tanah langsung turun ke lapisan berikutnya. Tanah seperti ini kalau musim kemarau
cepat membentuk pecahan yang berupa celah besar di tanah.
Pori tanah adalah ruang antara butiran padat tanah yang pada umumnya pori
kasar ditempati udara dan pori kecil ditempati air, kecuali bila tanah
kurang. Porositas tanah adalah persentase volume tanah yang ditempati butiran
padat. (Pairunan, dkk, 1985).
Faktor porositas tanah dikendalikan oleh tekstur tanah, struktur, dan kandung-
an bahan organik. Pada KU dengan porositas tanah tinggi terlihat adanya kandungan
unsur pasir dalam tekstur tanah (KU II, III, V, VI, dan VIII). Pada tanah berpasir,
porositas tanah didominasi oleh pori makro yang berfungsi sebagai lalu lintas air
sehingga infiltrasi meningkat. Sedangkan pada tanah berlempung, pori mikro lebih
berperan dan daya hantar airnya rendah sehingga infiltrasi menurun (Soepardi, 1983
dalam Hidayah et al., 2001).

e. Kadar Lengas
Kadar lengas menunjukkan kadar air yang ada didalam tanah. air memiliki
berbagai fungsi bagi tanaman. Fungsi tersebut antara lain, sebagai pembangun sel
tanaman, sebagai pelarut unsure hara, dan sebagai unsure hara. Air diserap oleh tanah
melalui akar. Dengan kata lain air yang dapat dimanfaatkan oleh tanamna adalah air
yang ada di dalam tanah. Oleh karena itu kandungan air dalam tanah (kadar lengas)
memiliki peranan yang sangat penting.
Tanah yang berkualitas baik yaitu tanah yang memiliki kadar lengas yang
cukup tinggi namun tidak terlalu tinggi. Ketika kadar lengas tanah terlalu rendah
maka air yang dapat diserap tanaman juga akan sedikit. Namun jika kadar lengas
terlalu tinggi, maka pori tanah akan jenuh dengan udara sehingga menyebabkan aerasi
menjadi terganggu.
f. Permeabilitas
Permeabilitas tanah adalah suatu kesatuan yang melipui infiltrasi tanah
dan bermanfaat sebagai permudahan dalam pengolahan tanah. (Dede rohmat,
2009) Menurut PP no 150 tahun 2000 tanahlahankering yang
memilikinilaipermeabilitasataudayapelulusan air < 0,7 cm/jam dan> 8,0 cm/jam
telahterletakpadaambangkritis, artinyatanahtersebuttelahmemilikipermeabilitas yang
buruk.
g. BeratJenis
Bobot jenis partikel (particle density) dari suatu tanah menunjukkan kerapatan
dari partikel dapat secara keseluruhan. Hal ini ditunjukkan sebagai perbandingan
massa total dari partikel padatan dengan total volume tidak termasuk ruang
pori antarpartikel. Berat jenis partikel ini penting dalam penentuan laju sedimentasi,
pergerakan partikel oleh air dan angin.
h. Berat Isi
Menurut Lembaga Penelitian Tanah (1979), definisi berat isi tanah adalah
berat tanah utuh (undisturbed) dalam keadaan kering dibagi dengan volume tanah,
dinyatakan dalam g/cm3 (g/cc). Nilai berat isi tanah sangat bervariasi antara satu
titik dengan titik lainnya karena perbedaan kandungan bahan organik, tekstur tanah,
kedalaman tanah,jenis fauna tanah, dan kadar air tanah (Agus et al . 2006). Bobot isi
tanah dapat digunakan untuk menunjukkan nilai batas tanah dalam
membatasi kemampuan akar untuk menembus (penetrasi) tanah, dan untuk
pertumbuhan akar tersebut (Pearson et al., 1995). Berat isi merupakan suatu sifat
tanah yang menggambarkan taraf kemampatan tanah. Tanah dengan kemampatan
tinggi dapat mempersulit perkembangan perakaran tanaman, pori makro terbatas dan
penetrasi air terhambat (Darmawijaya,1997).
Tanah lahankeringmemilikiberatisi yang baikyaitudengannilai< 1,4 g/cm³. (PP
no 150 tahun 2000)
i. KemantapanAgregat
Kemantapan agregat adalah ketahanan rata-rata agregat tanah melawan
pendispersi oleh benturan tetes air hujan atau penggenangan air. Agregat
dapat menciptakan lingkungan fisik yang baik untuk perkembangan akar tanaman
melalui pengaruhnya terhadap porositas, aerasi dan daya menahan air. Pada tanah
yang agregatnya kurang stabil bila terkena gangguan maka agregat tanah tersebut
akan mudah hancur. (Hardjowigeno,1987)
j. Tekstur
Tekstur tanah adalah kasar dan halusnya tanah dari fraksi tanah halus 2mm,
berdasarkan perbandingan banyaknya butir butir pasir, debu dan liat (Hardjowigeno,
2003). Pada beberapa tanah, kerikil batu dan batuan induk dari lapisan lapisan tanah
ada juga yang mempengaruhi tekstur dan penggunaan tanah.Tekstur suatu tanah
merupakan sifat yang hampir tidak berubah berlainan, dengan struktur dan
konsistensi. Memang kadang kadang didapati perubahan dalam lapisan itu sendiri
karena dipindahkannya lapisan permukaanya atau perkembangannya lapisan
permukaan yang baru. Karena sifatnya yang relative tetap untuk jangka waktu
tertentuh maka tekstur tanah sudah lama menjadi dasar klasifikasi tanah serta struktur
yang turut menentkan tata air dalam tanah yang berupa kecepatan fitrasi, penetrasi
dan kemampuan pengikatan air oleh tanah (Darmawijaya,1990).

Tekstur tanah dapat pula ditetapkan secara kualitatif dilapangn dengan


menggunakan perasaan. Tanah yang bisa diletakkan diantara ibu jari dengan jari
telunjuk dan kemudian saling ditekan dan dirasakan. Terdapatnya tekstur profil tanah
terkadang dapat member keuntungan tetapi, tetapi kadang memberikan kerugian,
tergantung pada tingkatan perkembangan tanah sampai batas batas tertentu. Tekstur
tanah menunjukkan kasar dan halusnya tanah, tekstur tanah merupakan perbandingan
antara butir butir pasir debu dan liat. Teksur tanah dibedakan berdasarkan presentase
kandungan pasir, debu dan liat (Hadjowigeno, 2002).

Tektur juga menentukan porositas tanah. tanah yang didominasi fraksi pasir
cendrung lebih porus datau memiliki porositas yang besar. Tanah dengan tekstur
seperti ini akan sulit menahan air. Karena jumlah pori mikro yang berfungsi menahan
air sangat sedikit.namun jika tanah yang didominasi oleh liat akan memiliki jumlah
pori mikro yang bersar dan jumlah pori makro yang sedikit. Hal ini akan menghambat
aerasi tanah sehingga tidak terjadi pertukaran udara yang akan menghambat respirasi
akar dan mirobia tanah.
2 BAB III
ISI

2.1 Waktu dan Tempat


Hari, Tanggal : Senin, 20Agustus2018
Tempat pratikum : Laboratorium Vektor dan Binatang Pengganggu
Tempat pengambilan sampel : Bengkel di Surau Gadang
Materi : Pemeriksaan Tanah Parameter Fisika
Waktu : 10.30 – 12.00 WIB

2.2 Persiapan Alat dan Bahan


Alat :

No. Nama alat Jumlah


1. Pipet tetes 1

2. Karet hisap 1

3. Termometer 1

4. Auger 1

5. Cangkul 1

6. Pisau cutter 1

7. Ph meter 1

8. Gelas kimia 1

9. Label Secukupnya

10. Palstik Secukupnya

Bahan :

No. Nama alat Jumlah

1. Sampel tanah Secukupnya

2. Air Secukupnya
2.3 Cara Kerja
2.3.1 Pengambilan sampel tanah terganggu
1. Siapkan alat yang akan digunakan.
2. Tentukan titik pengambilan sampel.
3. Lakukan pengambilan dengan auger, dengan jarak 0-20cm, 20-40cm, dst.Cara
menggunakan auger : tekan dan putar bor belgi searah jarum jam.
4. Setelah auger masuk kedalam tanah, keluarkan auger dengan cara angkat dan
putar searah jarum jam.
5. Buang bagian tanah diluar auger dengan menggunakan pisau cutter.
6. Letakkan tanah pada auger dikoran
7. Untuk pengambilan selanjutnya bersihkan terlebih dahulu auger.
8. Sampel dimasukkan kedalam plastik.
9. Ukur suhu dan pH
10. Ikat plastik dan beri label
11. Setelah pengambilan sampel selesai, jangan lupa untuk menutup lubang yang
telah digunakan dalam pengambilan sampel tadi. Dan bawa ke labor untuk
dianalisa

2.3.2 Cara pemeriksaan suhu tanah


1. Bersihkan permukaan tanah dari tumbuhan dan sampah
2. Gali tanah
3. Masukan termometer kedalam tanah yang telah digali
4. Tunggu 2 menit hingga termometer menunjukan suhu yang konstan
5. Keluarkan termometer dari dalam tanah dan catat angka yang tertera pada
termometer

2.3.3 Cara pemeriksaan ph tanah


1. Sediakan alat dan bahan
2. Masukan sampel tanah kedalam gelas kimia
3. Tambahkan air secukupnya kedalam gelas kimia, lalu aduk hingga tanah
tercampur
4. Masukan kertas ph, tunggu beberapa saat hingga kertas ph menunjukan
perubahan warna
5. Lalu tentukan ph tanah
2.3.4 Cara Pemeriksaan Porositas Tanah
1. Masukan tanah kedalam gelas ukur sebanyak 10 ml
2. Masukkan air kedalam gelas kimia
3. Pipet air, dan masukkan air kedalam gelas ukur berisi sampel tanah hingga
permukaan air sama rata dengan permukaan sampel tanah
4. Lalu tunggu hingga tanah turun dan catat volume air

2.3.5 Cara Menentukan Tekstur Tanah


1. Siapkan sampel tanah
2. Bersihkan sampel tanah dari rerumputan dan sampah
3. Ambil segenggam tanah lalu diremas-remas
4. Jika tanah kering beri sedikit air, lalu bentuk tanah menjadi bol-bola
5. Lalu tentukan tekstur tanah tersebut.
Tabel tekstur tanah
No. Bentuk Yang Dapat Dibuat Dari Adonan Tanah Kelas Tekstur

1. Tidak dapat dibentuk menjadi bola Pasir kasar

2. Dapat dibentuk menjadi bola, tapi mudah pecah Pasir bergelembung

3. Dapat dibentuk menjadi bola agak keras Lempung berpasir

4. Dapat dibentuk bola atau pita Lempung berdebu

5. Dapat dibentuk bola yang teguh, dapat digulung, Lempung


mengkilat, tidak kasar, tidak licin

6. Dapat dibentuk bola yang teguh, dapat digulung, Debu


permukaannya mengkilat, licin

2.3.6 Cara Menentukan Konsistensi Tanah


1. Siapkan sampel tanah
2. Ambil sedikit sampel tanah letakkan diantara jari telunjuk dan jempol
3. Rasakan kelekatan tanah tersebut
4. Tentukan konsistensi tanah tersebut

Tabel penentuan konsistensi tanah


Dalam keadaan lembab
No. Klas Keterangan

1. 0 Lepas-lepas

2. 1 Sangat gembur, bila dipijit mudah hancur

3. 2 Gempur,dengan pijitan agak kuat baru hancur

4. 3 Teguh, dipijit sukar hancur

Dalam keadaan basah


No. Klas Keterangan

1. 0 Tidak lekat, tidak ada adhesi

2. 1 Agak lekat, adhesi dijari mudah lepas

3. 2 Lekat, adhesi dijari dan apabila dipijit lepas

4. 3 Sanagat lekat, adhesi dijari kuat, sukar lepas

5. 4 Sangat teguh, perlu tenaga agak kuat baru hancur

6. 5 Luar biasa teguh, dipijit tidak harus

Dalam keadaan kering

No. Klas Keterangan

1. 0 Lepas-lepas

2. 1 Lunak, ditekan sedikit hancur

3. 2 Agak keras, agak tahan terhadap pijitan jempoldan


telunjuk
4. 3 Keras, dipijitagak keras baru hancur
5. 4 Sangat keras, tidak dapat dipecahkan dengan jari
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

2.4 HasildanPerhitungan Porositas Tanah


a. Perhitungan :

Volume tanah (x) : 10 ml

Volume air yang digunakan (y) : 6 ml

Rumus :

P = Y/X . 100 %

= 6/10 . 100 %
= 60 %
Jadi dari hasil perhitungan diatas, didapatkan hasil porositas tanah tersebut adalah
60%.

b. Hasil Pratikum
Pratikum Hasil

Suhu 33oC

Ph 6

Porositas 60 %

Tekstur Pasir bergelembung

Konsistensi Lepas-lepas

2.5 Pembahasan
Suhutanah33oC, menunjukkanbahwatanahberadapadasuhutinggi.Suhu tanah
ditentukan oleh interaksi sejumlah faktor, dengan dua sumber panas, yaitu radiasi sinar
matahari dan langit (dominan), serta konduksi dari interior tanah (sangat sedikit).
Phtanahtersebutadalah 6 menunjukkanbahwatanahbersifatasam, sisi negatif dari
tanah yang bersifat asam yaitu unsur hara makro tidak tersedia dalam jumlah cukup
tetapi sebaliknya unsur hara makro yang bersifat racun bagi tanaman justru tersedia
dalam jumlah yang banyak. Selain tanah yang terlalu asam dapat menghambat
perkembangan mikroorganisme di dalam tanah.
Porositastanahterebutadalah60 %.Menurutpp no 150 tahun 2000,
porositastanahlahankeringyang memilikitidakkurangdari 30 %dantidaklebihdari 70
%dapatdikatakankualitastanahbaik.
Teksturtanahtersebutadalahpasirbergelembung ,testurtanahiniakansulitmenahan
air sehinggatanahtidakcocokuntukpertanian.
Konsistensitanahtersebutadalahlepas-
lepashalinimenunjukantanahtidakmelekatsatusama lain
atauantarbutirtanahmudahterpisah.
BAB V
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
1. Dari pratikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil suhu dari sampel tanah
tersebut adalah 33oC
2. Dari pratikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil ph tanah tersebut 6,
yang berarti tanah tersebut bersifat asam
3. Dari pratikum yang telah dilakukan didapatkan hasil porositas tanah sebanyak
60%.
4. Dari pratikum yang telah dilaksanakan dapat diketahui konsistensi tanah
tersebut adalah lepas-lepas
5. Dari praktikum yang telah dilaksanakan dapat diketahui tekstur tanah tersebut
pasir bergelembung

4.2 Saran

Sebaiknya dalam praktikum tanah mahasiswa harus lebih memahami


bagaimana pengukuran suhu,ph,porositas,tekstur dan konsistensi tanah.
LAMPIRAN
LAPORAN PRATIKUM PENYEHATAN TANAH
Pemeriksaan Tanah Parameter Kimia

Oleh Kelompok III


Kelas II.A

Nama Anggota :
Chairani 171110003
Dea Riskita 171110006
Ilham Kurniawan 171110016
Halimah Refrianti 171110012
Kurnia Esa Putri 171110018
Mardatila Herman 171110021
Putrid Sari Yasmin 171110028
Selvia Siska 171110033
Windri Septhia Limmarta 171110038

DOSEN PEMBIMBING :
Muchsin Riviwanto, SKM, M.Kes
Suksmerri, M.Pd, M.Si

INSTRUKTUR :
Kalasta Ayunda Putri, AMKL

PRODI D-III SANITASI LINGKUNGAN


POLTEKKES KEMENKES RI PADANG
TAHUN 2018/2019
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pratikum Peyehatan Tanah “Pemeriksaan Tanah Parameter Kimia” yang


telah dilaksanakan pada tanggal 05 September 2018 di Laboratorium Poltekkes Kemenkes RI
Padang telah disetujui oleh :

Dosen Pembimbing: Instruktur:

Suksmerri, M.Pd, M.Si Kalasta Ayunda Putri, AMKL


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT Yang telah memberikan nikmat
kesehatan dan kesempatan kepada kita sehingga dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada
waktunya.
Laporan ini dibuat untuk melengkapi tugas kelompok mata kuliah Penyehatan
Tanah.Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu
kami mohon saran dan kritikan dari bapak demi perbaikan laporan ini selanjutnya.
Ucapan kami sampaikan kepada dosen pembimbingdaninstruktur yang telah
memberikan bimbingan dan arahan dalam menyelesaikan laporan ini, serta teman-teman
yang ikut membantu dalam penyesaian laporan.

Padang, 5 September 2018

Kelompok III
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam usaha pertanian, tanah merupakan media utama untuk melakuakn
budidaya.Meskipun telah banyak ditemukan berbagai media tumbuh tanaman, maun
semua itu hanya berskala kecil dan belum dapat menggantikan tanah untuk prouksi dalam
skala besar.Ooleh Karena itu peranan tanah masih sangat besar dala usaha pertanian.
Tanah sebagai salah satu komponen lahan, bagian dari ruang daratan dan
lingkungan hidup.Tanah memiliki banyak fungsi dalam kehidupan. Di samping sebagai
ruang hidup, tanah memiliki fungsi produksi, yaitu antara lain sebagai penghasil
biomassa, seperti bahan makanan, serat, kayu, dan bahan obat-obatan. Selain itu, tanah
juga berperan dalam menjaga kelestarian sumber daya air dan kelestarian lingkungan
hidup secara umum.
Kesuburan tanah adalah factor penting untuk menjaga kelestarian hidup
tersebut.Untuk itu, agar dapat menjamin kelestarian tersebut selain memperhatikan
kesuburan tanah melainkan harus juga memperhatikan kualitas tanah tersebut.bila usaha
menjaga kesuburan tanah hanya terbatas pada kemampuan tanah mesuplay unsure hara,
maka kulitas tanah juga mencakup faktor fisika, kimia dan biologi dengan lebih
mendalam serta mempertimbangkan faktor bahan pencemar sebagai kajiannya.
Kualitas tanah meliputi kualitas tanah secara fisika, kimia dan biologi. Ketiga hal
tersebut memiliki parameter masing-masing dan tidak dapat terpisahkan satu sama lain
serta saling mempengaruhi. Setiap parameter memiliki peranan tersendiri dalam
menentukan kualitas tanah dan dapat berpengaruh pada ketersediaan unsure hara,
ketersediaan air, keleluasaan akar untuk tumbuh, dan reaksi serta interaksi antara tanaman
dengan faktor biotic dan abiotik dalam ekosistem.Oleh karena itu dalam mengetahui
kualitas tanah serta mengetahui ada tidaknya pencemaran yang terjadi di tanah, maka
parameter perlu diketahui untuk dapat melakukan pemeriksaan atau pengujian pada
tanah.Dengan menguji kualitas dari setiap parameter tersebut, maka kualitas tanah dapat
diketahui secara menyeluruh.
Setiap parameter memiliki peranan tersendiri dalam menentukan kualitas
tanah.Dalam pertanian kualitas tanah tentunya berhubungan dengan pertumbuhan dan
produksi tanaman.Setiap parameter dapat berpengaruh pada ketersediaan unsure hara,
ketersediaan air, keleluasaan akar untuk tumbuh, dan reaksi serta interaksi antara tanaman
dengan faktor biotic dan abiotik dalam ekosistem.
Oleh karena itu dalam mengetahui serta mengkelaskan kualitas tanah, maka
parameter fisik kimia dan biologi tanah harus diuji lebih dahulu. dengan menguji kualitas
dari setiap parameter tersebut, maka kualitas tanah dapat diketahui secara menyeluruh.
Hal ini karena untuk menentukan tingkat kualitas tanah, parameter fisik, kimia dan
biologi tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Mahasiswa dapat mengetahui prosedur dalam Pemeriksaan Parameter Kimia
tanah C-Organik dan Kadar Air.
1.2.2 Tujuan khusus
1. Mahasiswa dapat mengetahui alat yang digunakan dalam Pemeriksaan
Parameter Kimia C-Organik dan Kadar Air pada Tanah.
2. Mahasiswa dapat mengetahui bahan yang digunakan dalam Pemeriksaan
Parameter Kimia C-Organik dan Kadar Air pada Tanah.
3. Mahasiswa dapat mengetahui prosedurPemeriksaan Parameter C-Organik dan
Kadar Air pada Tanah.
4. Mahasiswa dapat mengetahui hasil yang didapat kan dalam pemeriksaan C-
Organik dan Kadar Air pada Tanah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kimia Tanah


Tanah merupakan tubuh alam yang bebas yang tersusun oleh komponen organik
maupun anorganik. Diseluruh permukaan bumi terdapat beraneka macam tanah mulai
dari yang paling gersang sampai yang paling subur. Mulai dari warna yang paling gelap
himgga yang warna cerah. Keanekaragaman tanah itu memiliki sifat dan kandungan yang
berbeda dalam komponennya. Antara lain sifat kimia yang merupakan komponen inti
dalam tanah. tanah satu dengan yang lain memiliki perbedaan sifat kimia yang tentunya
mempengaruhi tingkat kesuburan dalam tanah tersebut. Kesuburan itu sendiri pada
akhirnya erat kaitannya dengan pertumbuhan suatu tanaman. Untuk mempermudah
mengkaji dan menganalisisa keadaan itu maka diperlukan kemampuan untuk mengenal
beragam komponen kimia dalam masing-masing jenis tanah.
Kimia Tanah merupakan sarana untuk mempelajari mengenai beragam ilmu
mengenai kimia tanah. Sehingga pada nantinya mendapatkan bekal pengetahuan dan
wawasan mengenai kimia tanah dalam bidang pertanian, baik itu pengetahuan dan
wawasan mengenai kimia tanah dalam bidang pertanian, baik itu mengenai unsure, fase
reaksi, atau beragam hal yang erat kaitan dengan kimia tanah yang menopang untuk usaha
pertanian kedepannya.

2.2 Pengertian C-Organik


C-Organik tanah adalah pengaturan jumlah karbon di dalam tanah untuk
meningkatkan produktivitas tanaman dan keberlanjutan umur tanaman karena dapat
meningkatkan kesuburan tanah dan penggunaan hara secara efisien.(Anonymousa.2010)
Kandungan bahan organik dalam tanah merupakan salah satu faktor yang berperan
dalam menentukan keberhasilan suatu budidaya pertanian.Hal ini dikarenakan bahan
organik dapat meningkatkan kesuburan kimia, fisika maupun biologi tanah.Penetapan
kandungan bahan organik dilakukan berdasarkan jumlah C-Organik (Anonim 1991).

Perhitungan C-organik tanah penting dilakukan, hal tersebut dikarenakan


kandungan C-organik menentukan kandungan bahan organik.Nilai C-organik dijadikan
acuan dalam menentukan kandungan bahan organik dengan konversi C-organik menjadi
bahan organik adalah persentase C-organik dikalikan dengan faktor 1,724. Kandungan C-
organik beragam mulai dari 45%-60% dengan rata-rata 50% dimana kandungan C
termasuk perakaran dan edafon yang masih hidup dimana hal tersebut tidak rancu dengan
kandungan humus (Sutanto, 2005).

Nilai C-organik dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kedalaman
tanah. Nilai C-organik pada kedalaman tanah yang semakin tinggi akan diperoleh nilai C-
organik yang rendah. Kondisi tersebut disebabkan oleh kebiasaan petani yang
memberikan bahan organik dan serasah pada permukaan tanah sehingga bahan organik
tersebut mengalami pengumpulan pada bagian atas tanah dan sebagian mengalami
pelindihan ke lapisan yang lebih dalam. Nilai C-organik pada bagian tanah top soil
menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan lapisan sub soil dan didalamnya (Sipahutar
dkk., 2014).

Sebaran luasan tanah yang mengandung C-organik berkorelasi negatif.Nilai C-


organik pada analisa sampel lahan yang kecil maka diperoleh nilai C-organik yang
tingi.Nilai C-organik rendah apabila dilakukan analisa sampel lahan yang luas, sehingga
pada semakin tinggi luas wilayah yang diambil maka status C-organik rendah. Kondisi
tersebut disebabkan oleh perlakuan yang diberikan oleh petani dalam agroekosistemnya
berbeda, petani memiliki kebiasaan membersihkan lahan setelah panen sehingga
mempengaruhi kandungan bahan organiknya (Ompusunggu dkk., 2015).

Nilai C-organik memiliki hubungan yang positif dengan nilai bahan


organik.Bahan organik yang tinggi maka nilai C-organiknya juga tinggi, hal tersebut
dikarenakan C-organik merupakan komponen penyusun dalam bahan organik. Bahan
organik diperoleh dari sisa-sisa bahan makhluk hidup dimana terdapat berbagai macam
unsur hara yang dapat berguna bagi tanaman, salah satunya unsur karbon (Ginting dkk.,
2013).

Nilai C-organik juga dipengaruhi oleh aktivitas mikroorganisme didalam tanah.C-


organik yang merupakan bagian dari bahan organik, keberadaanya diakibatkan oleh
akitivitas dekomposisi yang dilakukan oleh mikroorganisme.Aktivitas mikroorganisme
yang semakin tinggi maka terdapat potensi untuk meningkatnya kandungan C-organik
dalam tanah.Aktivitas mikroorganisme memacu laju dekomposisi dari bahan organik dan
ketersediaan C-organik salah satunya (Haney et. al., 2012).
Penggunaan lahan dan pengelolaan lahan juga menjadi faktor terpenting dalam
menentukan nilai C-organik tanah. Penggunaan lahan untuk tanaman yang mampu
meningkatkan bahan organik lebih tinggi maka akan diperoleh kadar C-organik yang
lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan lahan untuk tanaman yang hanya
menyumbang bahan organik yang rendah dalam aktivitas pertumbuhannya.Pengelolaan
lahan mempengaruhi sebaran bahan organik pada lahan dengan kedalaman tertentu
sehingga juga mempengaruhi nilai C-organik pada sampel tanah tertentu dan kedalaman
tertentu (Barduleet. al., 2017).

Nilai C-organik menentukan produksi yang dihasilkan oleh tanaman sebagai


akibat dari dukungan tanah sebagai media tanam. Kandungan C-organik yang tinggi maka
dapat meningkatkan hasil produksi dari tanaman, karena tanaman mampu menyerap
unsur hara yang tinggi untuk proses pertumbuhan yang optimal. C-organik dapat
meningkatkan tekstur tanah dan agregasi tanah yang nantinya akan berpengaruh pada
pertumbuhan tanaman (Hugar et. al., 2012).

2.3 Kadar Air

Kadar air tanah dinyatakan dalam persen volume yaitu persentase volume air

terhadap volume tanah.Cara ini mempunyai keuntungan karena dapat memberikan

gambaran tentang ketersediaan air bagi tanaman pada volume tanah tertentu. Cara

penetapan kadar air dapat dilakukan dengan sejumlah tanah basah dikering ovenkan

dalam oven pada suhu 1000 C – 1100 C untuk waktu tertentu. Air yang hilang karena

pengeringan merupakan sejumlah air yang terkandung dalam tanah tersebut. Air

irigasi yang memasuki tanah mula-mula menggantikan udara yang terdapat

dalam pori makro dan kemudian pori mikro. Jumlah air yang bergerak melalui tanah

berkaitan dengan ukuran pori-pori pada tanah. Air tambahan berikutnya akan

bergerak ke bawah melalui proses penggerakan air jenuh. Penggerakan air tidak hanya

terjadi secara vertikal tetapi juga horizontal. Gaya gravitasi tidak berpengaruh

terhadap penggerakan horizontal (Hakim, dkk, 1986).


Menurut Hanafiah (2007) bahwa koefisien air tanah yang merupakan koefisien yang

menunjukkan potensi ketersediaan air tanah untuk mensuplai kebutuhan tanaman,

terdiri dari :

1. Jenuh atau retensi maksimum, yaitu kondisi di mana seluruh ruang pori tanah

terisi oleh air.

2. Kapasitas lapang adalah kondisi dimana tebal lapisan air dalam pori-pori tanah

mulai menipis, sehingga tegangan antarair-udara meningkat hingga lebih besar

dari gaya gravitasi.

3. Koefisien layu (titik layu permanen) adalah kondisi air tanah yang

ketersediaannya sudah lebih rendah ketimbang kebutuhan tanaman untuk

aktivitas, dan mempertahankan turgornya.

4. Koefisien Higroskopis adalah kondisi di mana air tanah terikat sangat kuat

oleh gayamatrik tanah.

Kemampuan tanah menahan air dipengaruhi antara lain oleh tekstur tanah.

Tanah-tanah bertekstur kasar mempunyai daya menahan air lebih kecil daripada tanah

bertekstur halus.Oleh karena itu, tanaman yang ditanam pada tanah pasir umumnya

lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau liat.Kondisi

kelebihan air ataupun kekurangan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman.

Ketersediaan air dalam tanah dipengaruhi: banyaknya curah hujan atau air irigasi,

kemampuan tanah menahan air, besarnya evapotranspirasi (penguapan langsung


melalui tanah dan melalui vegetasi), tingginya muka air tanah, kadar bahan organik

tanah, senyawa kimiawi atau kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah

atau lapisan tanah (Madjid, 2010).

Air tersedia biasanya dinyatakan sebagai air yang terikat antara kapasitas

lapangan dan koefisien layu. Kadar air yang diperlukan untuk tanaman juga
bergantung pada pertumbuhan tanaman dan beberapa bagian profil tanah yang dapat

digunakan oleh akar tanaman. Tetapi untuk kebanyakan mendekati titik layunya,
absorpsi air oleh tanaman kurang begitu cepat, dapat mempertahankan pertumbuhan

tanaman.Penyesuaian untuk menjaga kehilangan air di atas titik layunya telah

ditunjukkan dengan baik (Buckman and Brady, 1982).

Kadar air dalam tanah Alfisol dapat dinyatakan dalam persen volume yaitu

persen volume air terhadap volume tanah.Cara ini mempunyai keuntungan karena

dapat memberikan gambaran tentang ketersediaan air pada pertumbuhan pada volume

tanah tertentu. Cara penetapan kadar air tanah dapat digolongkan dengan beberapa

cara penetapan kadar air tanah dengan gravimetrik, tegangan atau hisapan, hambatan

listrik dan pembauran neutron. Daya pengikat butir-butir tanah Alfisol terhadap air

adalah besar dan dapat menandingi kekuatan tanaman yang tingkat tinggi dengan baik

begitupun pada tanah Inceptisol dan Vertisol, karena itu tidak semua air tanah dapat

diamati dan ditanami oleh tumbuhan (Hardjowigeno, S., 1993).


BAB III
ISI
3.1 Waktu dan Tempat
Hari, tanggal : Kamis - Jumat, 30-31 Agustus 2018
Pukul : 10:00 – 13:00 WIB
Lokasi : Laboratorium Pengendalian Vektor Dan Binatang
Pengganggu
Materi :Pemeriksaan Parameter Kimia C-Organik, Kadar air
pada Tanah.

3.2 Alat, Bahan dan Prosedur dalamPenentuan Kadar Air


3.2.1 Alat dalam Penentuan Kadar Air
No Alat Jumlah Pemakaian
1. Cawan Penguap 1 buah
2. Desikator 1 buah
3. Oven 1 buah
4. Neraca analitik 1 buah

3.2.2 Bahan dalam Penentuan Kadar Air


No Bahan Jumlah Pemakaian
1. Sampel Tanah 5g

3.2.3 Prosedur
a. Pre kondisi Cawan Penguap
1. Siapkan Cawan penguap
2. Oven cawan penguap selama 1 jam dengan suhu 100oC
3. Masukkan cawan penguap kedalam desikator selama 15 menit
4. Timbang Cawan tersebut untuk mendapatkan (Wo)
5. Masukkan kedalam desikator selama 15 menit
6. Lalu timbang Cawan tersebut (W1)

b. Sampling
1. Timbang Sampel Tanah 5 gram
2. Masukkan kedalam cawan penguap yang telah di pre kondisi

c. Post Kondisi
1. Oven cawan penguap yang berisi sampel selama 1 jam
2. Desikator 15 menit
3. Dan timbang kembali cawan penguap tersebut (W2)

3.3 Alat, Bahan dan Prosedur dalamPemeriksaan Parameter Kimia C-Organik Tanah
3.3.1 Alat dalamPemeriksaan Parameter Kimia C-Organik Tanah
No. Nama Alat Jumlah Pemakaian

1. Neraca Analitik 1 Buah

2. Pipet Ukur 10 ml 1 Buah

3. Karet Hisap 1 Buah

4. Botol Pijit 1 Botol

5. Buret 1 Buah

6. Spektrofotometer 1 Buah

7. Labu Ukur 4 Buah

8. Erlemeyer 1 Buah

3.3.2 Bahan dalamPemeriksaan Parameter Kimia C-Organik Tanah


No. Nama Bahan Jumlah Pemakaian

1. Sampel Tanah 0,5 gr

2. Larutan K2Cr2O7 2,5 ml

3. H2SO4pekat 3,75 ml

4. Aquades Secukupnya
3.3.3 Cara Kerja
a. Penbuatan larutan blangko dan standar standar
1) Persiapkan larutan standar dengan larutan glukosa dengan konsentrasi 0
ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200 ppm, dan 250 ppm
Rumus Pengenceran :
V1N1 = V2N2
a) 0
V1 .1000 = 0 . 10
V2 =0

b) 50
V1 . 1000 = 100 . 50
100.50
V1 =
1000
V1 = 5 ml

c) 100
V1 . 1000 = 100 . 100
100.100
V1 =
1000
V1 = 10 ml

d) 150
V1 . 1000 = 100 . 150
100.150
V1 =
1000
V1 = 15 ml

e) 200
V1 . 1000 = 100 . 200
100.200
V1 =
1000
V1 = 20 ml

f) 250
V1 . 1000 = 100 . 250
100.250
V1 =
1000
V1 = 25 ml

2) Encerkan dengan aquadest sampai tanda batas pada labu ukur

b. Sampel
1. Siapkan semua alat dan bahan yang akan digunakan dalam persipaan alat.
2. Timbang 0,5 gram sampel tanah lalu masukkan ke erlemeyer 100 ml.
3. TambahkanK2Cr2O7 sebanyak 2,5 ml dan larutanH2SO4 pekat sebnayak
3,75 ml.
4. Diamkan selama 30 menit.
5. Encerkan larutan tadi dengan aquadest sampai tanda batas labu ukur.
6. Diamkan selama 1 x 24 jam unutk mengendapkan larutan tadi, lalu saring
dengan kertas saring.
7. Ukur dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 561 nm
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2 Kadar Air
Diket : w1 = 57,592
w0 = 53,033
ditanya : kadar air
jawab :
𝑤1−𝑤0
KA = 𝑔𝑟𝑎𝑚𝑠𝑚𝑝𝑒𝑙 x 100%

= 57,592 – 53,033 x 100%


5 gram
= 4,559 x 100%
5
= 0.9118 x 100 %

= 91,18%

4.1 C-Organik
Tabel kalibrasi hasil pemeriksaan spektrofotometer
Konsentrasi (x) Absorban (y) X.Y X2
0 ppm 0,000 0 0
50 ppm 0,367 18,35 2500
100 ppm 0,362 36,2 10000
150 ppm 0,147 22,05 22500
200 ppm 0.146 29,2 40000
250 ppm 0,128 32 62500
Ʃ x = 750 Ʃ y = 1.15 Ʃ x.y = 137,8 Ʃ x2 = 137500
Sampel 0,220

∑𝑥 ∑𝑦
1. Rata-rata x = 2. Rata-rata y =
𝑛𝑥 𝑛𝑦
750 1,15
= =
6 6

= 125 = 0,191

( ∑𝑥 .∑𝑦)
∑𝑥 .𝑦− 𝑛
3. b = ( ∑𝑥 .∑𝑥)
∑𝑥 2 − 𝑛
(750 . 1,15)
137,8− 6
= ( 750.750)
137500− 6

137,8 – 143,75
=
137500−93750
−5,95
=
43750

= -0, 000136

4. a =rata-rata y – b. rata-rata x

= 0,191 - (0,000136 x 125 )

= 0,191 – 0,017

= 0,174
𝑦−𝑎
5. Ppm Kurva C =
𝑏
0,220– 0,174
=
−0,000136

0,046
=
−0,000136

= 338,23

6. % C-Organik = ppm kurva X 10/500 X 1.14


= 338,24 X 0,02 X 1,14
=7.712 %
4.3 Pembahasan

1. Kadar Air
Berdasarkan hasil praktikum yang dilaksanakan gan diperoleh W 1 = 53,033
gram dan W2 = 57,592 gram, maka hasil yang dapat dari pengukuran kadar air tanah
tersebut yaitu 91.18 %. Faktor-faktor yang mempengaruhi banyaknya kadar air
dalam tanah adalah banyaknya curah hujan atau air irigasi, kemampuan tanah
menahan air, besarnya evapotranspirasi (penguapan langsung melalui tanah dan
melalui vegetasi), tingginya muka air tanah, kadar bahan organik tanah, senyawa
kimiawi atau kandungan garam-garam, dan kedalaman solum tanah atau lapisan
tanah.

2. C – Organik
Rata – rata yang didapat dari semua konsentrasi(x) 125, dan rata – rata
dari semua absorban(y) yaitu 0,191. Jumlah kuadrat semua konsentrasi(x) yaitu
137500. Ppm kurva yang didapat yaitu C=338,23. Dan hasil %C-Organik yaitu
7.712 %. Bahan C-Organik merupakan bagian dari tanah yang mempunyai fungsi
meningkatkan kesuburan tanah dan menyediakan micro hara dan factor-factor
pertumbuhan lainya. Kandungan C-Organik tanah yang subur yaitu minimum yaitu
lebih dari 5%. Dari praktikum yang dilakukan berarti C-Organik pada tanah tersebut
sudah bagus.
BAB V

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan Pratikum yang dilalukan, didapatkan Hasil untuk Penentuan Kadar
Air yaitu 91,18% .Pada pemeriksaan C-organik di konsentrasinya (x) 0 ppm dengan
absorban (y) 0.00, untuk konsentrasi 50 ppm diperoleh absorban (y) 0,367, untuk
konsentrasi (x) 100 ppm diperoleh absorban(y) 0,362, untuk konsentrasi(x) 150 ppm
diperoleh absorban(y) 0,147, untuk konsentrasi(x) 200 ppm diperoleh absorban(y) 0,142,
untuk konsentrasi(x) 250 ppm diperoleh absorban (y) 0,128. Dan hasil C-Organik
didapatkan 7.712%

4.2 Saran
Kita harus lebih cermat dalam memahamiPemeriksaan Parameter Kimiakadar air
dan C-Organik pada Tanah.
LAPORAN PRATIKUM PENYEHATAN TANAH
Pemeriksaan Respirasi Tanah

Oleh Kelompok III


Kelas II.A

Nama Anggota :
Chairani 171110003
DeaRiskita 171110006
IlhamKurniawan 171110016
HalimahRefrianti 171110012
KurniaEsaPutri 171110018
Mardatila Herman 171110021
Putrid Sari Yasmin 171110028
SelviaSiska 171110033
WindriSepthiaLimmarta 171110038

DOSEN PEMBIMBING :
Muchsin Riviwanto, SKM, M.Kes
Suksmerri, M.Pd, M.Si

INSTRUKTUR :
Kalasta Ayunda Putri, AMKL

PRODI D-III SANITASI LINGKUNGAN


POLTEKKES KEMENKES RI PADANG
TAHUN 2018/2019
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan pratikum Peyehatan Tanah “Pemeriksaan Respirasi Tanah” yang telah


dilaksanakan pada Senin, 03September 2018 dan Selasa, 18 september 2018 di
“Laboratorium FisikaLingkungan” Poltekkes Kemenkes RI Padang telah disetujui oleh :

Dosen Pembimbing: Instruktur:

Suksmerri, M.Pd, M.Si Kalasta Ayunda Putri, AMKL


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................... i


DAFTAR ISI.................................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. LatarBelakang ...............................................................................................................1
B. Tujuan ...........................................................................................................................2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Mikrorganisme Tanah ...................................................................................................3
B. Jenis-jenis Mikroorganisme Tanah ...............................................................................4
C. Respirasi Tanah ............................................................................................................7
BAB III ISI
A. Praktikum Hari Pertama ................................................................................................8
1. Waktu Dan Tempat ...............................................................................................8
2. Alat Dan Bahan .....................................................................................................8
3. Cara Kerja ..............................................................................................................8
B. Praktikum Hari Kedua ..................................................................................................9
1. Waktu Dan Tempat ................................................................................................9
2. Alat Dan Bahan .....................................................................................................9
3. Cara Kerja...............................................................................................................9
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil ........................................................................................................................ .....10
B. Pembahasan ............................................................................................................. .....10
BAB V PENUTUP
C. Kesimpulan ............................................................................................................. .....11
D. Saran.........................................................................................................................…11
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Laporan praktik yang
Alhamdulillah tepat pada waktunya.

Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurrna. Oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah.Terima kasih kepada Bapak/Ibu Dosen yang membimbing dalam
pelaksanaan praktikum.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Aamiin.

Padang, 20 September 2018

Kelompok 3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mikroorganisme merupakan semua makhluk yang berukuran beberapa mikron atau
lebih kecil lagi.Yang termasuk golongan ini adalah bakteri, cendawan atau jamur tingkat
rendah, ragi yang menurut sistematik masuk golongan jamur, ganggang, hewan bersel
satu atau protozoa, dan virus yang hanya nampak dengan mikroskop elektron
(Dwidjoseputro, 1990).Mikroorganisme umumnya terdapat di mana-mana, seperti di
dalam tanah, di lingkungan akuatik, berkisar dari aliran air sampai lautan, dan atmosfer
(Pelczar dan Chan, 1986).
Mikroorganisme tersebut mempunyai beberapa peranan salah satunya
mikroorganisme yang hidup dalam tanah dapat membantu pembentukan struktur tanah
yang mantap, karena mikroorganisme tanah dapat mengeluarkan (sekresi) zat perekat
yang tidak mudah larut dalam air (Hardjowigeno, 1992).
Tanah mempunyai fungsi sebagai media utama tempat tumbuh tanaman.Ada
bermacam-macam jenis tanah, dari tanah yang berpasir basah hingga tanah liat dengan
tingkat kesuburan yang berbeda, mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tergenang
air.Tanaman yang tumbuh subur didukung oleh tanah yang subur disebabkan karena
adanya dekomposer di dalamnya, seperti cacing tanah, dan jutaan mikrobia.Namun tanpa
kita sadari ternyata jutaan mikrobia tersebut dapat menjadi sumber penghasil antibiotik.
Aktivitas mikroba dapat dipelajari dengan mengamati konsumsi O2 maupun evolusi
CO2.Laju perombakan pada kondisi tergenang jauh lebih rendah sepuluh kali
dibandingkan dengan kondisi tidak tergenang.Pada keadaan tergenang konsumsi O2lebih
tinggi dan hasil produksi atau evolusi CO2 lebih rendah dibandingkan keadaan tidak
tergenang.Oksigen pada keadaan tergenang dan juga terjadinya timbunan produk antara
(intermediate product) seperti asam-asm organic yang mengakibatkan hambatan dalam
kegiatan mikroba perombak. Lahan asam memungkinkan akan mempengaruhi populasi
bakteri dimana dalam penelitiannya yang diberi kapur dan tidak terdapat perbedaan
jumlah populasi antara kedua perlakuan tersebut, populasi bakteri dan aktinomicetes akan
menurun pada perlakuan tanpa kapur (Suriawiria, 2005).
Mikroorganisme tanah juga bermanfaat bagi kehidupan manusia. Salah satunya
adalah bakteri actinomycetes yang menghasilkan antibiotik.
Tanah adalah tempat hidup bakteri-bakteri penting. Mikroorganisme tanah dapat
menguraikan zat beracun yang berasal dari polusi. Hal ini menjadi dasar bioremediasi,
yaitu penggunaan mikroorganisme untuk mendetoksifikasi dan menguraikan zat
berbahaya dalam lingkungan.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pemeriksaan respirasi pada tanah
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui alat dan bahan respirasi pada tanah
b. Untuk mengetahui langkah kerja respirasi pada tanah
c. Untuk mengetahui hasil pengukuran resirasi sampel tanah
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Mikroorganisme Tanah

Tanah merupakan suatu campuran bahan-bahan organik yang padat, misalnya: batu-
batuan , mineral, air ,uadara dan jsad hidup beserta produk dari haisil pembusukan. Tanah
yang subur mengandung sejumlah binatang-binatang molai dari bentuk mikroskopis,
nematoda, serangga, sampai hewan mamalia seperti tikus.tanah banyak mengandung
bahan -bahan yang dibutuhkan oleh organisme, karena didalam tanah juga terkandung
bahan organik, Didalam tanah juga terjadi interaksi antara tumbuhan dan mikroba yang
dapat merugikan ataumenguntungkan tumbuhan. Beberapa mikroorganisme tanah bersifat
patogenik terhadap tumbuhan dan menyebabkan penyakit pada perakaran sehingga
menjadi layu dan busuk.Banyak tumbuhan bersimbiosis dengan jamur bernama
mikoriza.Mikoriza meningkatkan kemampuan tumbuhan untuk menyerap nutrisi dan
air.Interaksi antara mikroorganisme tanah dan akar tumbuhan banyak dikaji dalam ilmu
mikrobiologi tanah.Mikroorganisme tanah juga bermanfaat bagi kehidupan
manusia.Salah satunya adalah bakteriactinomycetes yang menghasilkan antibiotik.

Tanah adalah tempat hidup bakteri-bakteri penting.Mikroorganisme tanah dapat


menguraikan zat beracun yang berasal dari polusi.Hal ini menjadi dasar bioremediasi,
yaitu penggunaan mikroorganisme untuk mendetoksifikasi dan
menguraikan zat berbahaya dalam lingkungan atau setruktur tanah.struktur tanah,
kandungan gizi, ketersediaan hara, dan menahan kapasitas air semuanya dipengaruhi
oleh, atau tergantung pada, mikroorganisme tanah. Semua mikroorganisme tersebut
adalah biota tanah yang berfungsi di ekosistem bawah tanah di akar tumbuhan dan
sampah sebagai sumber makanan.Mikrobiologi tanah modern merupakan gabungan ilmu
tanah, kimia, dan ekologi untuk memahami fungsi mikroorganisme
dalam ekosistem tanah.Telah dijelaskan diatas bahwa mokroorganisma dapat memberi
kesuburan tanah, dengan sejumlah cara yang antara lain adalah :
- dengan pembuuskan bahan-bahan organic atau sisa-sisa jasad hidup yang mati
sehingga terbentuk humus,
- dengan membebaskan mineral-mineral terentu dari partikel-partikel tanah sehingga
Dpat digunakan oleh tumbuhan untuk pertumbuhsnnya.
- dapat embebaskan sejumlah nutrient dalam bentuk mineral yang terikan dalam bentuk
senyawa organic pada tanaman dan hewan yang mati.
- Memegang peranan penting dalam transformasi senyawa nitrogen.

B. Jenis-Jenis Mikroorganisme Tanah

1. Bakteri
Bakteri ( dari kata latin bacterium: bacteria adalah kelompok organisme yang
tidak memiliki membran inti sel. Organisme ini termasuk ke dalam
domain prokariota dan berukuran sangat kecil (mikroskopik), serta memiliki peran
besar dalam kehidupan di bumi. Beberapa kelompok bakteri dikenal sebagai agen
penyebab infeksi dan penyakit, sedangkan kelompok lainnya dapat memberikan
manfaat dibidang pangan, pengobatan, dan industri. Struktur sel bakteri relatif
sederhana: tanpa nukleus/inti sel, kerangka sel, dan organel-organel lain
seperti mitokondria dan kloroplas.

Bakteri dapat ditemukan di hampir semua tempat: di tanah, air, udara,


dalam simbiosis dengan organisme lain maupun sebagai agen parasit (patogen),
bahkan dalam tubuh manusia. Pada umumnya, bakteri berukuran 0,5-5 μm, tetapi ada
bakteri tertentu yang dapat berdiameter hingga 700 μm, yaitu Thiomargarita. Mereka
umumnya memiliki dinding sel, seperti sel tumbuhan danjamur, tetapi dengan bahan
pembentuk sangat berbeda (peptidoglikan).Beberapa jenis bakteri bersifat motil
(mampu bergerak) dan mobilitasnya ini disebabkan olehflagel.

2. Virus
Virus adalah parasit berukuran mikroskopik yang menginfeksisel organism
biologis.Virus bersifat parasit, hal tersebut disebabkan karena virus hanya
dapatbereproduksi di dalam material hidup dengan menginvasi dan memanfaatkan sel
makhluk hidup karena virus tidak memiliki perlengkapan selular untuk bereproduksi
sendiri. Biasanya virus mengandung sejumlah kecil asam nukleat (DNA atau RNA,
tetapi tidak kombinasi keduanya) yang diselubungi semacam bahan pelindung yang
terdiri atas protein, lipid, glikoprotein, ataukombinasi ketiganya. Genom virus akan
diekspresikan menjadi baik protein yang digunakan untuk memuat bahan genetik
maupun protein yang dibutuhkan dalam daur hidupnya.
3. Jamur

Jamur atau cendawan adalah tumbuhan yang tidak mempunyai klorofil sehingga
bersifatheterotrof.Jamur ada yang uniseluler dan multiseluler.Tubuhnya terdiri dari
benang-benang yang disebut hifa.Hifa dapat membentuk anyaman bercabang-cabang
yang disebut miselium. Reproduksi jamur, ada yang dengan cara vegetatif ada juga
dengan cara generatif. Jamur menyerap zat organik dari lingkungan melalui hifa
dan miseliumnya untuk memperoleh makanannya.Setelah itu, menyimpannya dalam
bentuk glikogen.Jamur merupakan konsumen, maka dari itu jamur bergantung
pada substrat yang menyediakan karbohidrat, protein, vitamin, dan senyawa kimia
lainnya Semua zat itu diperoleh dari lingkungannya. Sebagai makhluk heterotrof,
jamur dapat bersifat parasit obligat, parasit fakultatif, atau saprofit.

4. Alga

Alga (jamak Algae) adalah sekelompok organisme autotrof yang tidak memiliki
organ dengan perbedaan fungsi yang nyata.Alga bahkan dapat dianggap tidak memiliki
“organ” seperti yang dimiliki tumbuhan (akar, batang, daun, dan sebagainya).Karena
itu, alga pernah digolongkan pula sebagai tumbuhan bertalus.Dalam taksonomi yang
banyak didukung para pakar biologi, alga tidak lagi dimasukkan dalam satu kelompok
divisi atau kelas tersendiri, namun dipisah-pisahkan sesuai dengan fakta-fakta yang
bermunculan saat ini.Dengan demikian alga bukanlah satu kelompok takson tersendiri.

5. Protozoa

Protozoa secara umum dapat dijelaskan bahwa protozoa adalah berasal dari
bahasa Yunani, yaitu protos artinya pertama dan zoon artinya hewan. Jadi,Protozoa
adalah hewan pertama. Protozoa merupakan kelompok lain protistaeukariotik. Kadang-
kadang antara algae dan protozoa kurang jelas perbedaannya.Kebanyakan Protozoa
hanya dapat dilihat di bawah mikroskop.
C. Rerpirasi mikroorganisme tanah
Respirasi mikroorganisme tanah mencerminkan tingkat aktivitas mikroorganisme
tanah. Pengukuran respirasi (mikroorganisme) tanah merupakan cara yang pertama kali
digunakan untuk menentukan tingkat aktifitas mikroorganisme tanah. Pengukuran
respirasi telah mempunyai korelasi yang baik dengan parameter lain yang berkaitan
dengan aktivitas mikroorganisme tanah seperti bahan organik tanah, transformasi N, hasil
antara, pH dan rata-rata jumlah mikroorganisrne (Anas 1989).
Penetapan respirasi tanah didasarkan pada penetapan :
1. Jumlah CO2 yang dihasilkan, dan
2. Jumlah O2 yang digunakan oleh mikroba tanah
Pengukuran respirasi ini berkorelasi baik dengan peubah kesuburan tanah yang berkaitar
dengan.aktifitas mikroba seperti:
1. Kandungan bahan organik
2. Transformasi N atau P,
3. Hasil antara,
4. pH,
5. Rata-rata jumlah mikroorganisme.
Aktivitas mikroorganisme dapat diketahui dengan mengukur respirasi dan biomassa
karbon mikroorganisme (C-mik) tanah (Annisa, 2008).Respirasi dapat digolongkan
menjadi dua jenis berdasarkan ketersediaan O2 di udara, yaitu respirasi aerob dan
respirasi anaerob. Respirasi aerob merupakan proses respirasi yang membutuhkan O2,
sebaliknya respirasi anaerob merupakan proses repirasi yang berlangsung tanpa
membutuhkan O2.
Pengukuran respirasi ini berkorelasi baik dengan peubah kesuburan tanah yang
berkaitar dengan.aktifitas mikroba seperti: kandungan bahan organic,transformasi N atau
P, hasil antara, pH, dan rata-rata jumlah mikroorganisme (Andre, 2010).
Respirasi tanah merupakan suatu proses yang terjadi karena adanya kehidupan
mikrobia yang melakukan aktifitas hidup dan berkembang biak dalam suatu masa tanah.
Mikrobia dalam setiap aktifitasnya membutuhkan O2 atau mengeluarkan CO2 yang
dijadikan dasar untuk pengukuran respirasi tanah.Laju respirasi maksimum terjadi setelah
beberapa hari atau beberapa minggu populasi maksimum mikrobia dalam tanah, karena
banyaknya populasi mikrobia mempengaruhi keluaran CO2 atau jumlah O2 yang
dibutuhkan mikrobia.Oleh karena itu, pengukuran respirasi tanah lebih mencerminkan
aktifitas metabolik mikrobia daripada jumlah, tipe, atau perkembangan mikrobia tanah.
Adapun cara penetapan tanah di laboratorium lebih disukai. Prosedur di laboratorium
meliputi penetapan pemakaian O2 atau jumlah CO2 yang dihasilkan dari sejumlah contoh
tanah yang diinkubasi dalam keadaan yang diatur di laboratorium.
Dua macam inkubasi di laboratorium adalah :
1) Inkubasi dalam keadaan yang stabil (steady-stato),
2) Keadaan yang berfluktuasi Untuk keadaan yang stabil, kadar air, temperatur,
kecepatan, aerasi, dan pengaturan ruangan harus dilakukan dengan sebaik mungkin.
Peningkatan respirasi terjadi bila ada pembasahan dan pengeringan, fluktuasi aerasi
tanah selama inkubasi.Oleh karena itu, peningkatan respirasi dapat disebabkan oleh
perubahan lingkungan yang luar biasa.Hal ini bisa mencerminkan keadaan aktivitas
mikroba dalam keadaan lapang, cara steady-stato telah digunakan untuk mempelajari
dekomposisi bahan organik, dalam penelitian potensi aktivitas mikroba dalam tanah dan
dalam perekembangan penelitian.(Iswandi, 1989).
Respirasi Tanah merupakan pencerminan populasi dan aktifitas mikroba
tanah.Metode respirasi tanah masih sering digunakan karena cukup peka, konsisten,
sederhana dan tidak memerlukan alat yang canggih dan mahal.Pengukuran respirasi tanah
ditentukan berdasarkan keluaran CO2 atau jumlah O2 yang dibutuhkan oleh
mikrobia.Laju respirasi maksimum biasanya terjadi setelah beberapa hari atau beberapa
hari atau beberapa minggu populasi maksimum mikrobia.Oleh karena itu pengukuran
respirasi tanah lebih mencerminkan aktifitas metabolik mikrobia daripada jumlah, tipe
atau perkembangan mikrobia tanah.Respirasi mikroorganisme tanah mencerminkan
tingkat aktivitas mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi (mikroorganisme) tanah
merupakan cara yang pertama kali digunakan untuk menentukan tingkat aktifitas
mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi telah mempunyai korelasi yang baik dengan
parameter lain yang berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme tanah seperti bahan
organik tanah, transformasi N, hasil antara, pH dan rata-rata jumlah mikroorganisrne
(Iswandi, 1989).
BAB III
ISI
A. Praktikum Hari Pertama
1.Waktu dan Tempat
Hari, Tanggal : Senin , 03 September 2018
Waktu : 01.30- selesai
Lokasi : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : 1. Persiapan Alat dan Bahan
2. Pelaksanaan Praktikum

2. Alat dan Bahan yang digunakan


a. Alat yang digunakan
No Nama Alat Jumlah

1 Neraca Analitik 1

2 Tabung Filem 2

3 Botol Kedap Udara 1

4 Pipet Tetes 1

b. Bahan yang digunakan


No Nama Bahan Jumlah

1 Sampel Tanah 300 gram

2 Aquades 10 ml

3 Koh 10 ml

3. Cara Kerja
a. Respirasi Tanah
1. Timbang tanah sebanyak 300 gram
2.Siapkan 2 buah tabung filem, tabung pertama diisi 10 ml aquades dan tabung kedua di isi
dengan 10 KOH.
3. Lalu masukkan sampel tanah tadi dan kedua tabung filem kedalam tabung
kedapudara, tabung dimasukkan pada posisi miring agar sirkulasi tanah tidak
terhambat
4. Lalu inkubasi selama 7 hari pada tempat yang minim cahaya.
B. Praktikum Hari Kedua
1. Waktu dan Tempat
Hari, Tanggal : Selasa , 18september 2018
Waktu : 10.30-01.00 WIB
Lokasi : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Melakukan Titrasi
2. Alat dan Bahan yang digunakan
a. Alat yang digunakan
No Alat Jumlah

1. Erlemeyer 2

2. Buret 1

b. Bahan yang digunakan


No Bahan Jumlah

1 BaCl2 5 ml

2 Indikator PP 4 Tetes

3 HCL 0,1 N Secukupnya

3. Cara KerjaRespirasi Tanah


1. Siapkan 2 buah Erlenmeyer , berlabel kontrol dan sampel.
2. Masukkan 5 ml BaCl2 pada masing-masing Erlenmeyer
3. Lalu keluarkan larutan KOH dari tabung kedap udara dan masukkan kedalam
Erlenmeyer sesuai label
4. Lalu teteskan maksimal 4 tetes Indikator PP hingga berwarna pink
5. Lalu titrasi dengan HCL 0,1 N sampai larutan berubah jadi warna semula
6. Lalu hitung pemakaian HCL yang terpakai
7. Kemudian masukkan ke rumus
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
1. Respirasi Tanah
pemakaian HCL (0,1 N) pada titrasi adalah 27,8 ml
Rumus : (B-V) x N x E = (56,8-27,8) x 0,1 N x 22
= 29x 0,1 x 22
= 63,8
Keterangan : B = Kontrol
V = Jumlah Hcl terpakai
N = Normalitas HCL (0,1 N)
E = 22 (Ketetapan)
Setelah dihitung didapatkan MgCO2 per minggu yaitu 63,8 MgCO2 perminggu

B. Pembahasan
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan pada Pengukuran Respirasi Tanah yaitu
pengamatan mikroorganisme dengan mengukur jumlah aktivitas mikroorganisme didalam
tanah dengan metode penangkapan CO2 diudara menggunakan bantuan KOH. Pada
pengkuran Respirasi tanah didapatkan hasil yaitu 63,8 MgCo2 perminggu.
dikatakan subur apabila tanah tersebut mampu menyediakan unsur hara dalam jumlah
yang cukup yang dapat dimanfaatkan secara berimbang dan sesuai. Faktor kesuburan
tanah tersebut yaitu ekosistem tanah seimbang, konsisi lingkungan alami, cirri-ciri
ekosistem seimbang, aktivitas mikroorganisme tanah seimbang,mikroorganusme patogen
rendah, dan proses daur ulang unsure hara.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Alat yang digunakan pada identifiksi mikroorganisme tanah yaitu Neraca Analitik,
Tabung Filem, Tabung Kedap Udara, Erlenmeyer, Buret. Bahan yang digunakan yaitu
Sampel Tanah , Aquades , KOH , BaCl2, Indikator PP , HCL 0,1 N.
2. Cara Kerja hari pertama Respirasi Tanah yaitu timbang tanah siapkan tabung filem,
tabung pertama diisi aquades dan tabung kedua di isi KOH, masukkan sampel tanah
dan kedua tabung filem kedalam tabung kedap udara, inkubasi selama 7 hari.
3. Cara kerja hari kedua Respirasi Tanah yaitu Siapkan Erlenmeyer masukkanBaCl2ke
Erlenmeyer, keluarkan larutan KOH dan masukkan kedalam Erlenmeyer sesuai label,
teteskan Indikator PP, lalu titrasi dengan HCL 0,1 N, hitung pemakaian HCL yang
terpakai lalu masukkan ke rumus.
B. Saran
Untuk Mahasiswa :
a. Agar mahasiswa dapar melakukan cara kerja respirasi tanah dan metode corong
berlese tulgren
b. Dalam penggunaan alat pada saat melakukan praktikum di laboratorium haruslah
berhati-hati karena akan berakibat fatal jika kita menggunakan sembarang alat tanpa
mengetahui nama alat, prinsip kerja alat dan fungsi alat.
DAFTAR PUSTAKA

https://rizkyrahman.wordpress.com/2013/03/28/makalah-tentang-mikrobiologi-tanah/. DIAKSES
PADA TANGGAL 03 Marat 20013

http://samudraituluas.blogspot.co.id/2017/04/mikroorganisme-tanah.html. Diakses pada tanggal


09 April 2007

http://eprints.ums.ac.id/10995/2/Bab_1.pdf . Diakses pada tanggal 8 februari 2012


LAPORAN PENYEHATAN TANAH
PEMANFAATAN TANAMAN LIDAH MERTUA (Sansevieria) DALAM MENYERAP
LOGAL Cu TANAH

isusun ol

Kelas 2A
Kelompok 3
Chairani 171110003
Dea Riskita Fitri 171110006
Ilham Kurniawan 171110016
Halimah Refrianti 171110012
Kurnia Esa Putri 171110018
Mardatila Herman 171110021
Putrid Sari Yasmin 171110028
Selvia Siska 171110033
Windri Septhia Limmarta 171110038

Dosen pembimbing:
Muchsin Riviwanto,SKM,M.Si
Suksmerri, S.Pd, MPd, M.Si
Instruktur
Kalasta Ayunda Putri, Amd.KL

PRODI DIII JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN


POLTEKKES KEMENKES PADANG
TAHUN AJARAN 2018/2019
LEMBAR PENGESAHAN
Berdasarkan pratikum mata kuliah praktik Penyehatan Tanah tentang
PEMANFAATAN TANAMAN LIDAH MERTUA (Sansevieria) DALAM MENYERAP
LOGAL Cu TANAH, yang dilaksanakan pada hari Rabu, 10 Oktober 2018 sampai
selesai,yang telah diperiksa dan disetujui oleh :

DOSEN PEMBIMBING

(Muchsin Riviwanto,SKM,M.Si)

DOSEN PEMBIMBING

(Suksmerri, S.Pd, MPd, M.Si)

INSTRUKTUR

(Kalasta Ayunda Putri, Amd.KL)

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Laporan praktik yang
Alhamdulillah tepat pada waktunya.

Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurrna. Oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan laporan.

Terima kasih kepada Bapak/Ibu Dosen yang membimbing dalam pelaksanaan


praktikum penyehatan tanah.

Akhir kata, kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan laporan ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
meridhai segala usaha kita. Aamiin.

Padang, 13 November 2017

Kelompok 3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan dan kemajuan teknologi yang berhubungan dengan pembangunan di
bidang industri banyak memberikan keuntungan bagi manusia, akan tetapi pembangunan
di bidang industri ini juga memberikan dampak yang buruk pada manusia. Pembangunan
di bidang industri tidak jarang menimbulkan dampak negatif berupa limbah yang
dihasilkan baik dalam bentuk padat, cair dan gas (Khasanah, 2009). Logam berat secara
alamiah akan terus-menerus berada di alam karena tidak mengalami transformasi
sehingga menyimpan potensi peracunan. Logam berat juga tidak dapat didegradasi oleh
tubuh dan memiliki sifat racun pada mahluk hidup walaupun dalam konsentrasi yang
rendah serta dapat terakumulasi dalam jangka waktu tertentu (Buhani, 2007). Beberapa
logam berat yang umum mencemari habitat adalah: Kadmium (Cd), Kromium (Cr),
Tembaga (Cu), Merkuri (Hg), Timbal (Pb), Nikel (Ni) dan Seng (Zn) (USEPA, 1997).
Pencemaran tanah dapat disebabkan diantaranya oleh limbah industri, limbah rumah
potong ayam, limbah penambangan, residu pupuk, dan pestisida (Kholif dan Ratnawati,
2017). Limbah yang dihasilkan dari kegiatan industri mempunyai konsentrasi logam berat
yang tinggi. Logam berat dalam tanah berimplikasi pada terangkutnya logam berat
tersebut dalam jaringan tanaman, terutama bila logam berat terdapat dalam bentuk
terlarut. Bila tanaman yang mengikatnya adalah tanaman pangan seperti padi maka
pencemaran logam berat akan lebih berbahaya bagi manusia. Hasil tanaman padi sawah
juga mengandung logam berat seperti Cu, Zn, Pb, Cd, Co, Cr, dan Ni yang tertranslokasi
dalam jerami dan beras. Logam berat yang masuk ke dalam tubuh manusia dapat
membahayakan tubuh dan menyebabkan toksisitas kronis sehingga dapat merusak fungsi
organ hati, ginjal, dan kerapuhan tulang. Konsentrasi logam berat dalam tanah dapat
dikurangi melalui penanaman tanaman pengikat logam berat dengan proses fitoremediasi
dengan tanaman hiperakumulator. Fitoremediasi adalah teknologi untuk memperbaiki
lahan dengan menggunakan tanaman (Mangkoedihardjo dkk., 2008). Salah satu
mekanisme pengikatan logam berat dalam tanah oleh tanaman pengikat logam dilakukan
melalui penyerapan. Mangkoedihardjo dan Samudro (2010) juga menyimpulkan
fitoremediasi merupakan alternatif teknologi pengolahan tanah tercemar yang ramah
lingkungan, efektif, dan mempunyai biaya yang lebih rendah dibandingkan pengolahan
lainnya.
Tanaman yang digunakan untuk proses fitoremediasi mempunyai bentuk yang
beraneka ragam, baik yang berwujud seperti alang-alang maupun membentuk jalinan
berupa rumput. Tanaman hiperakumulator merupakan tanaman yang dapat hidup pada
keadaan dimana konsentrasi logam berat yang tinggi, tanaman ini juga dapat menyerap
logam dalam tanah. Sehingga dengan tanaman hiperakumulator, konsentrasi logam berat
dalam tanah akan berkurang. Tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata) merupakan
tanaman hiperakumulator yang dapat meremediasi tanah yang tercemar logam berat .
Yusuf dkk. (2014) menyimpulkan bahwa tanaman lidah mertua (Sansevieria trifasciata)
memiliki kemampuan menyerap konsentrasi Pb dalam tanam sebesar 56,63%.,
konsentrasi pencemar yang diberikan terhadap tanaman terlalu sedikit dan waktu
penanaman yang singkat, sehingga perlu ditambahkan variasi konsentrasi yang lebih
tinggi dan waktu yang lebih lama. Hal ini untuk mengetahui lebih jelas pengaruh
pencemar pada pertumbuhan tanaman. Selain itu juga untuk mengetahui konsentrasi
pencemar maksimal yang dapat diterima oleh tanaman.
1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui Fitoremediasi Tanah dengan Logam Pb terhadap Tumbuhan Lidah


Mertua

1.2.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengetahui alat, bahan, dan cara kerja dalam praktek fitoremediasi tanah
dengan

logam Pb terhadap tumbuhan lidah mertua.

2. Untuk mengetahui Efektifitas tanaman Lidah Mertua dalam penyerapan logam Pb


tanah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 TANAH

Tanah adalah produk transformasi mineral dan bahan organik yang terletak
dipermukaan sampai kedalaman tertentu yang dipengaruhi oleh faktor-faktor genetis dan
lingkungan, yakni bahan induk, iklim, organisme hidup (mikro dan makro), topografi,
dan waktu yang berjalan selama kurun waktu yang sangat panjang, yang dapat dibedakan
dari cirri-ciri bahan induk asalnya baik secara fisik kimia, biologi, maupun morfologinya
(Winarso, 2005).

Tanah juga merupakan alat produksi untuk menghasilkan produksi pertanian.


Sebagai alat produksi tanah memiliki peranan-peranan yang mendorong berbagai
kebutuhan diantaranya adalah sebagai alat produksi, maka peranannnya yaitu sebagai
tempat pertumbuhan tanaman, menyediakan unsur-unsur makanan, sumber air bagi
tanaman, dantempat peredaran udara. Tanah mempunyai ciri khas dan sifat-sifat yang
berbeda-beda antaratanah di suatu tempat dengan tempat yang lain. Sifat-sifat tanah itu
meliputi fisika dan sifatkimia. Beberapa sifat fisika tanah antara lain tekstur, struktur dan
kadar lengas tanah. Untuk sifat kimia menunjukkan sifat yang dipengaruhi oleh adanya
unsur maupun senyawa yangterdapat di dalam tanah tersebut. Beberapa contoh sifat
kimia yaitu reaksi tanah(pH), kadarbahan organik dan Kapasitas Pertukaran Kation
(KPK)

 Sumber Pencemaran Tanah

Sumber pencemar tanah, karena pencemaran tanah tidak jauh beda atau bisa
dikatakan mempunyai hubungan erat dengan pencemaran udara dan pencemaran air,
maka sumber pencemar udara dan sumber pencemar air pada umumnya juga
merupakan sumber pencemar tanah.

Dari pembahasan tersebut di atas, maka sumber bahan pencemar tanah dapat
dikelompokkan juga menjadi sumber pencemar yang berasal dari:

a. Sampah rumah tangga, sampah pasar dan sampah rumah sakit.


b. Gunung merapi yang meletus dan asap kendaraan bermotor
c. Bahan polimer dan bahan yang sukar terurai
d. Limbah pertanian
e. Limbah reactor atom/PLTN
f. Limbah industry

2.2 FITOREMEDIASI

Istilah fitoremediasi berasal dari kata Inggris phytoremediation; kata ini sendiri
tersusun atas dua bagian kata, yaitu phyto yang berasal dari kata Yunani phyton
("tumbuhan") dan remediation yang berasal dari kata Latin remedium
(“menyembuhkan"), dalam hal ini berarti juga ("menyelesaikan masalah dengan cara
memperbaiki kesalahan atau kekurangan") (Anonimous, 1999).
Berawal pada pertengahan tahun 1990-an, seorang Professor Agronomi dari
Universitas Purdue menanam rumput sejenis St. Augustine dan rye (gandum hitam) di
lahan pertanian terkontaminasi minyak bumi. Perusahaan minyak telah melakukan
pembersihan tetapi banyak kontaminan bersifat karsinogen yang disebut polynuclear
aromatic hidrokarbon (PAHs) yang tertinggal di dalam tanah. Inilah pertama kalinya
teknik fitoremediasi digunakan dalam membersihkan sisa-sisa minyak pada lahan
pertanian. Teknik ini berhasil dengan baik. Dua tahun kemudian 75% kontaminan
berhasil dibersihkan.

Fitoremediasi merupakan suatu sistem remediasi yang menarik namun masih


merupakan teknologi yang sedang berada dalam tahap awal perkembangannya.
Kemajuan dalam pemahaman berbagai disiplin ilmu, terutama dalam fisiologi
tumbuhan dan genetika akan mendorong perkembangan teknologi ini secara lebih
cepat. Sebagai suatu teknologi yang sedang berkembang, fitoremediasi telah menarik
banyak pihak termasuk peneliti dan pengusaha. Di Indonesia masalah pencemaran terus
dihadapi sesuai dengan kemajuan industri sehingga usaha remediasi serta pencegahan
pencemaran perlu diperhatikan. Fitoremediasi diharapkan dapat memberikan
sumbangan yang nyata dan praktis bagi usaha mempertahankan dan memperbaiki
kualitas lingkungan di Indonesia.

1. Proses Dalam Fitoremediasi


Terdapat beberapa proses yang berkaitan dengan fitoremediasi. Proses -
proses tersebut antara lain yakni :
1. Fitoekstrasksi yaitu proses tumbuhan menarik zat kontaminan dari media
sehingga berakumulasi di sekitar akar tumbuhan, proses ini juga disebut
hiperaccumulation.
2. Rhizofiltrasi (Rhizo = akar) adalah proses adsorbs atau pengendapan zat-zat
kontaminan pada akar (menempel pada akar).
3. Fitostabilisasi yaitu penempelan zat-zat kontaminan tertentu pada akar yang
tidak mungkin terserap ke dalam batang tumbuhan. Zat-zat tersebut menempel
erat (stabil) pada akar sehingga tidak akan dibawa oleh aliran air dalam media.
4. Rhizodegradasi/fitostimulasi (enhanced rhizosphere biodegradation) yaitu
penguraian zat-zat kontaminan dengan aktivitas mikroba yang berada di sekitar
akar tumbuhan. Misalnya ragi, fungi dan bakteri.
5. Fitodegradasi (phytotransformation) yaitu proses yang dilakukan tumbuhan
untuk menguraikan zat kontaminan yang mempunyai rantai molekul yang
kompleks menjadi bahan yang tidak berbahaya dengan susunan molekul yang
lebih sederhana yang dapat berguna bagi pertumbuhan tanaman itu sendiri.
Proses ini dapat berlangsung pada daun, batang, akar atau di luar di sekitar
perakaran dengan bantuan enzim berupa bahan kimia yang mempercepat proses
degradasi.
6. Fitovolatilisasi yaitu proses menarik dan transpirasi zat-zat kontaminan oleh
tumbuhan dalam bentuk yang telah menjadi larutan terurai sebagai bahan yang
tidak berbahaya lagi utnuk selanjutnya diuapkan ke atmosfer.
2. Tumbuhan Hiperkumulator

Tumbuhan hiperkumulator adalah tumbuhan yang mempunyai kemampuan


untuk mengkonsentrasikan logam didalam biomassanya dalam kadar yang luar
biasa tinggi. Tanaman hiperkumulator harus mampu mentranslokasikan unsur-
unsur tertentu dengan konsentrasi sangat tinggi ke pucuk dan tanpa membuat
tanaman tumbuh dengan tidak normal dalam arti kata tidak kerdil dan tidak
mengalami fitotoksisitas. Tanaman yang memiliki kemampuan sangat tinggi untuk
mengangkut berbagai pencemaran yang ada (multiple uptake hyperaccumulator
plant) ataupun tanaman yang memiliki kemampuan mengangkut pencemaran yang
bersifat tunggal (specific uptake hyperaccumulator plant).

3. Keuntungan Dan Kerugian Fitoremediasi


Fitoremediasi memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan
metode konvensional lain untuk menanggulangi masalah pencemaran, seperti :

1. Biaya operasional relatif murah


2. Tanaman bisa dengan mudah dikontrol pertumbuhannya.
3. Kemungkinan penggunaan kembali polutan yang bernilai seperti emas
(Phytomining).
4. Merupakan cara remediasi yang paling aman bagi lingkungan karena
memanfaatkan tumbuhan.
5. Memelihara keadaan alami lingkungan

Walaupun memiliki beberapa kelebihan, ternyata fitoremediasi juga memiliki


beberapa kelemahan. Salah satu kelemahannya adalah kemungkinan akibat yang
timbul bila tanaman yang telah menyerap polutan tersebut dikonsumsi oleh hewan
dan serangga. Dampak negatif yang dikhawatirkan adalah terjadinya keracunan
bahkan kematian pada hewan dan serangga tau terjadinya akumulasi logam pada
predator-predator jika mengosumsi tanaman yang telah digunakan dalam proses
fitoremediasi.

2.3 Lidah Mertua

Sansevieria atau lidah mertua adalah marga tanaman hias yang cukup
populer sebagai penghias bagian dalam rumah karena tanaman ini dapat tumbuh
dalam kondisi yang sedikit air dan cahaya matahari. Tanaman ini merupakan sejenis
herba tidak berbatang dan mempunyai rimpang yang kuat dan tegak. Daun tanaman
lidah mertua berwarna hijau atau berbarik-barik kuning. Panjang daun dari tanaman
ini dapat mencapai 1,75 m. lidah mertua berasal dari Afrika tropis
dibagian Nigeria timur dan menyebar hingga ke Indonesia, terutama di pulau Jawa.
Tanaman ini dapat ditemui dari dataran rendah hingga ketinggian 1-1.000 meter di
atas permukaan laut. Daun dari tanaman ini mengandung serat yang mempunyai sifat
kenyal dan kuat. Serat tersebut disebut sebagai bowstring hemp dan banyak
digunakan sebagai bahan membuat kain (Heyne, 1987).

Klasifikasi Tanaman Lidah Mertua


Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Bangsa : Liliaies
Suku : Agavaceae
Marga : Sarsevieria
Jenis : Sansevieria trifasciata Prain

Ditinjau berdasarkan jenisnya sansevieria ada dua jenis yakni yang pertama
yaitu sansevieria keturunan asli/spesies sedangkan yang kedua adalah jenis hasil
persilangan/hibridasi yang bisa disebut dengan jenis sansevieria hibrid. Dari bentuk
hibrid inilah sansevieria akan tercipta dengan karakter dan fisik yang berbeda dari
induknya atau yang sering disebut dengan spesies hibrid atau sansevieria hibrid.
Mutasi sansevieria juga dapat terjadi dari perbanyakan melalui stek daun.
BAB III

Alat, Bahan, dan Cara Kerja

3.1 Praktikum Hari Pertama

3.1.1 Waktu dan Tempat

Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal : Rabu, 03 Oktober 2018

Waktu : 10.30 – 13.30 WIB

Tempat : Laboratorium Fisika

Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah Tercemar Logam Berat Cu


dengan menggunakan tumbuhan.

Materi : -Pembuatan Larutan Pencemar (Cu)

- Pelaksanaan metode Fitoremediasi Tanah


- Pemeriksaan Kadar Cu dalam Tanah sebelum ditanam
3.1.2 Alat dan bahan yang digunakan
No Nama Alat Jumlah

1 Polibag 3 buah

2 Labu Ukur 2 buah

3 Gelas Ukur 1 buah

4 Neraca Analitik 1 buah

5 Botol Pijit 1 buah

6 Erlenmeyer 1 buah

7 Corong 1 buah

8 Pipet Ukur 2 buah

9 Kaca Arloji 1 buah

10 timbangan 1 buah

3.1.3 Cara Kerja Pencampuran Bahan Pencemar (Cu) dengan Tanah


1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Siapkan tanah, lalu timbang sebanyak 5 kg masing-masing untuk sampel dan
control.
3. Lalu tambahkan bahan pencemar (Cu) sebanyak 100 ml
4. Setelah itu aduk tanah hingga rata
5. Diamkan tanah 1 malam
6. Ukur kan dungan Cu dalam tanah yang sudah di diamkan dan hitung kadar
air tanah tersebut

3.1.4 Cara kerja pemeriksaan Kadar Cu sebelum ditanam


1. Siapkan sampel tanah kering (kontrol)
2. Timbang dengan neraca analitik sebanyak 0,5 gram
3. Tambahkan 0,5 gram HNO3
4. Lakukan destruksi dengan memanaskan larutan yang ada dalam
Erlenmeyer dan tutup dengan kaca arloji
5. Setelah agak panas, tambahkan 0,5 HCL
6. Kemudian setelah mendidih, diamkan sampai dingin
7. Siapkan kertas saring wattman
8. Saring kedalam labu ukur, paskan dengan aquades
9. Diamkan dan bawa segera ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih
lanjut.
Perhitungan kadar Cu :
Kadar Cu sebelum ditanam (Kontrol)
𝐶𝑋𝑃𝑋𝑉 0,1466 𝑋 1 𝑋 0,05
= = 7,33
𝑊 0,001 𝑘𝑔

Kadar Cu sebelum ditanam (Sampel)


𝐶𝑋𝑃𝑋𝑉 0,1837 𝑋 1 𝑋 0,5
= = 4,265
𝑊 0,001 𝑘𝑔

Keterangan :

C = hasil Cu yang terbaca

P = Pengenceran

V = Volume

W= Berat sampel (kg)

3.2 Praktikum Hari kedua

3.2.1 Waktu dan Tempat


Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal : Selasa, 09 Oktober 2018

Waktu : 13.30-15.30 WIB

Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan

Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)


dengan menggunakan tmumbuhan.

Materi : 1. Pengukuran Kadar Air (Prekondisi, Sampling, dan


Postkondisi)

2. penanaman Tumbuhan Lidah Mertua

3.2.2 Alat dan Bahan yang digunakan

No Nama Alat Jumlah

1 Timbangan 1 buah

2 Polybag 3 buah

3 Mistar 1 buah

4 Alat Tulis 1 buah

5 Kalender Pengamatan 1 buah

No Nama Bahan jumlah

1 Sampel Tanah 5 gram

3.2.3 Pengukuran Kadar Air

a) PreKondisi
1. Siapkan cawan penguap yang akan digunakan
2. Masukkan cawan penguapdalam oven selama 1 jam
3. Dinginkan kedalam desikator selama 15 menit
4. Timbang dengan neraca analitik untuk mendapatkan W0
5. Dinginkan kedalam desikator selama 15 menit
6. Timbang dengan neraca analitik untuk mendapatkan w1
b) Sampling
1. Ambil dan timbang sampel tanah yang telah didiamkan sebanyak 5
gram
2. Masukkan sampel tanah tersebut kedalam cawan penguap
3. Lakukan postkondisi
c) Postkondisi
1. Siapkan cawan penguap yang akan digunakan
2. Masukkan cawan penguap kedalam oven selama 1 jam
3. Dinginkan kedalam desikator selama 15 menit
4. Timbang dengan neraca analitik untuk mendapatkan W1
5. Lakukan perhitungan kadar air
6. Perhitungan kadar air :
𝐵(𝐶−𝐴) 5000(84,339−80,536)
Kadar air = X 100% = X 100% = 24%
𝐵 5000
Diketahui : (A)=Kadar air postkondisi,(C)=kadar air
prekondisi,(B)=berat sampel
7. Setelah didapatkan hasil kadar air, sisa tanah tadi ditambah sesuai
dengan hasil yang telah dihitung tadi
8. Lalu masukkan penambahan tanah kedalam masing-masing
polybag
9. Lalu siapkan tanaman yang akan ditanam
10. Lalu ukur morfologi tanaman mulai dari akar, daun dan yang lain-
lain menggunakan penggaris dan buat kalender pengukuran selama
penelitian.

3.2.4 Cara Kerja Pengukuran Tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa pertumbuhannya
selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.3 Praktikum Hari Ketiga


3.3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Kamis, 11 Oktober 2018
Waktu : 13.30-15.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.3.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah
2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.3.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.4 Praktikum Hari Keempat


3.4.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Jumat, 12 Oktober 2018
Waktu : 13.30-15.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.4.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.4.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.5 Praktikum Hari Kelima


3.5.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Sabtu, 13 Oktober 2018
Waktu : 13.30-15.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua
3.5.2 Alat dan Bahan yang digunakan
No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.5.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.6 Praktikum Hari Keenam


3.6.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : minggu, 14 Oktober 2018
Waktu : 09..30-10.00 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.6.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.6.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.7 Praktikum Hari Ketujuh


3.7.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : senen, 15 Oktober 2018
Waktu : 15.30-16.00 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.7.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.7.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.8 Praktikum Hari Kedelapan


3.8.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : selasa, 16 Oktober 2018
Waktu : 16.00-16.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.8.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.8.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.9 Praktikum Hari Kesembilan


3.9.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Rabu, 17 Oktober 2018
Waktu : 10.30-11.00 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.9.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.9.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.10 Praktikum Hari Kesepuluh


3.10.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Kamis, 18 Oktober 2018
Waktu : 16.30-17.00 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.10.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.10.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran
tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.11 Praktikum Hari Kesebelas


3.11.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Jumat, 19 Oktober 2018
Waktu : 13.30-14.00 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.11.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.11.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.12 Praktikum Hari Keduabelas


3.12.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Sabtu, 20 Oktober 2018
Waktu : 13.30-15.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.12.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.12.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran
tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.13 Praktikum Hari Ketigabelas


3.13.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : minggu, 21 Oktober 2018
Waktu : 14.30-15.00 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.13.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah


3.13.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman
1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.14 Praktikum Hari Keempatbelas


3.14.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Senen, 22 Oktober 2018
Waktu : 13.00-13.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.14.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.14.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran
tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.15 Praktikum Hari Kelimabelas


3.15.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Selasa, 23 Oktober 2018
Waktu : 13.00-13.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua
3.15.2 Alat dan Bahan yang digunakan
No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.15.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran
tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.16 Praktikum Hari Keenambelas


3.16.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Rabu, 24 Oktober 2018
Waktu : 13.00-13.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.16.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.16.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran
tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.
3.17 Praktikum Hari Ketujuhbelas
3.17.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Kamis, 25 Oktober 2018
Waktu : 13.00-13.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.17.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.17.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran
tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.18 Praktikum Hari Kedelapanbelas


3.18.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Jumat, 26 Oktober 2018
Waktu : 13.00-13.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.18.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah


3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.18.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran
tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.19 Praktikum Hari Kesembilanbelas


3.19.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Sabtu, 27 Oktober 2018
Waktu : 13.00-13.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.19.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.19.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran
tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.20 Praktikum Hari Keduapuluh


3.20.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Minggu, 28 Oktober 2018
Waktu : 13.00-13.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua

3.20.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah

3.20.3 Cara Kerja dalam pengukuran tanaman


1. Siapkan semua alat dan bahan yang digunakan dalam pengukuran
tanaman.
2. Lalu ukur panjang daun dan panjang akar dan hitung berapa
pertumbuhannya selama penelitian berlangsung.
3. Pindahkan kedalam kalender penelitian fitoremediasi.

3.21 Praktikum Hari Keduapuluhsatu


3.21.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan praktikum yang dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal : Senin, 29 Oktober 2018
Waktu : 13.30-15.30 WIB
Tempat : Laboratorium Fisika Lingkungan
Kegiatan : Pemeriksaan Fitoremediasi Tanah tercemar Logam Berat (Cu)
dengan menggunakan tmumbuhan Lidah Mertua.
Materi : 1. Pengamatan dan Pengukuran Tumbuhan Lidah Mertua
2. pemeriksaan kadar Cu dalam tanah setelah ditanam

3.21.2 Alat dan Bahan yang digunakan


No Nama Alat Jumlah

1 Mistar 1 buah

2 Alat Tulis 1 buah

3 Kalender Pengamatan 1 buah


4 Neraca Analitik 1 buah

5 Labu ukur 2 buah

6 Erlenmeyer 2 buah

7 Corong 2 buah

8 Pipet Ukur 2 buah

9 Kaca Arloji 2 buah

No Nama Bahan Jumlah

1 Sampel Tanah 2 gram

2 Kertas Saring Wattman 2 buah

3 Aquades secukupnya

4 Larutan HNO3 5 ml

5 Larutan HClO4 0,5 ml

3.21.3 Cara Kerja Pemeriksaan Kadar Cu setelah ditanam


1. Siapkan dua sampel tanah kering
2. Timbang dengan neraca analitiksebanyak gram masing-masing
3. Tambahkan 5 ml HNO3
4. Lakukan Destruksi dengan memanaskan larutan yang ada dalam Erlenmeyer
dan tutup dengan kaca arloji
5. Setelah agak panas, tambahkan 0,5 ml HClO4
6. kemudian setelah mendidih, diamkan sampai dingin
7. siapkan kertas saring wattman
8. saring kedalam labuukur,paskan dengan aquades
9. Diamkan dan bawa segera ke laboratorium untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Perhitungan Kadar Cu
a. Kadar Cu sesudah ditanam (Kontrol)
𝐶𝑋𝑃𝑋𝑉 0,0853 𝑋 1 𝑋 0,005
= = 4,265 mg/kg
𝑊 0,001

b. Kadar Cu sesudah ditanam (Sampel)


𝐶𝑋𝑃𝑋𝑉 0,0881 𝑋 1 𝑋 0,05
= = 4,405 mg/kg
𝑊 0,001

Diketahui : C = Hasil Cu terbaca


V = Volume
P = Pengenceran
W= Berat Sampel (kg)
BAB IV
Hasil dan Pembahasan

4.1 Hasil Praktek


4.1.1 Gambaran Pelaksaan
Dalam melakukan praktikum Fitoremediasi Tumbuhan Lidah Mertua dilakukan
pengamatan dari fisik tumbuhan seperti : jumlah daun , warna daun, ataupun daun yang mati.
Dari pengamatan fisik tanah dilihat bentuk dan tekstur tanah. Dari hasil pengukuran
tumbuhan lidah mertua seperti pengukuran panjang daun, penghitungan jumlah akar dan
panjang akar. Dari hasil pemeriksaan dapat dilakukan pemeriksaan kadar air yang terkandung
dalam tanah dan pemeriksaan hasil konsentrasi atau kandungan logam Cu dalam tanah telah
dicemari tadi.
Tumbuhan Lidah Mertua memiliki jenis warna daun hijau dan memiliki campuran
warna kuning, daunnya berbentuk panjang sekitar 20-30 cm. Pada ujung daunnya berbentuk
runcing.

4.1.2 Hasil PengamatanFisik Tanaman Lidah Mertua

Pengamatan Tumbuhan Lidah Mertua

3 Batang 2 Batang 1 Batang

1 Daunnya kokoh, masih Daunnya kokoh, Daunnya kokoh dan


segar(tidak layu) dan akarnya masih segar (tidak masih segar
serabut layu) dan akarnya
serabut
2 Daunnya kokoh, masih Daun masih kokoh Daunnya kokoh dan
segar(tidak layu) dan segar masih segar

3 Daunnya kokoh, masih Daun masih kokoh Daunnya kokoh dan


segar(tidak layu) dan segar masih segar

4 Daunnya kokoh, masih Daun masih kokoh Daunnya kokoh dan


segar(tidak layu) dan segar masih segar

5 Daunnya mulai lebam sedikit Daun masih kokoh Daunnya kokoh dan
dibagian bawah dan segar masih segar

6 Daunnya mulai lebam sedikit Daun masih kokoh Daunnya kokoh dan
dibagian bawah dan daunnya dan segar masih segar
mulai terlihat sedikit layu
7 Lebam pada daun mulai Daun masih kokoh Daunnya kokoh dan
bertambah banyak dan layu dan segar masih segar
pada tanaman mulai
bertambah
8 Lebam pada tanaman Daun masih kokoh Daunnya kokoh dan
semakin banyak dan dan segar masih segar
berlendir dan warnanya
berubah jadi coklat
9 Daun yang berlendir menjadi Daun masih kokoh Daunnya kokoh dan
kering dan segar masih segar

10 Tanaman mati Daun masih kokoh Daunnya kokoh dan


dan segar masih segar

11 Tanaman mati Daun masih kokoh Daunnya kokoh dan


dan segar masih segar

12 Tanaman mati Daun masih kokoh Daunnya kokoh dan


dan segar masih segar

13 Tanaman mati Daun masih kokoh Daunnya kokoh dan


dan segar masih segar

14 Tanaman mati Daun masih kokoh Daunnya kokoh dan


dan segar masih segar

4.1.3 Hasil Pengukuran


a) Rata-rata Panjang Daun

Tabel 3 Rata-rata pengukuran panjang daun pada tumbuhan lidah mertua

Rata-rata panjang daun


Penggukuran
2 Batang 3 Batang

1 19.13 cm 13.4 cm

2 19.175 cm 13.4 cm

3 19,375 cm 20,55 cm

4 19.53 cm 13.5 cm

5 19.65 cm 13.5 cm

6 19.76 cm 13,7 cm

7 19.95 cm 13.8 cm
8 20.1 cm 13.8 cm

9 20.23 cm 13.8 cm

10 20.3 cm 13.8 cm

11 20.44 cm 14.02 cm

12 20.55 cm 14.04 cm

13 20.59 cm 14,06 cm

14 20.64 cm 14,08 cm

15 20.7 cm 14.3 cm

16 20.79 cm 14.3 cm

17 20.86 cm 14.3 cm

18 21.025 cmm 14.5 cm

19 21.125 cm 14,7 cm

20 21.18 cm 14.7 cm

21 21.25 cm 14.8 cm

Grafik 2 Rata-rata Panjang daun


25

20

15
Series 1
Series 2
10

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21

Jadi, berdasarkan pengukuran panjang daun tumbuhan lidah mertua selama 21 hari
pengukuran dapat dilihat pada grafik bahwa panjang daun mengalami kenaikan,
walaupun tidak meningkat pesat.

b.Rata-rata panjang akar

Rata-rata panjang akar


Penggukuran
2 Batang 3 Batang

Sebelum 5.8525 cm 3.12 cm

Sesudah 7.1025 cm 4,68 cm

4.1.4 Hasil pemeriksaan Konsentrasi Logam Berat

Kadar Logam Berat (kontrol)

Kadar Logam Berat (mg/kg)


Penggukuran
Zn Pb Cu Cd

Sebelum 6.0875 1.145 0.1466 0.1064

Sesudah 2.367 0.575 0.0835 0.0011


3) Kadar Logam Berat (Sampel)

Kadar Logam Berat (mg/kg)


Penggukuran
Zn Pb Cu Cd

Sebelum 10,715 0.86 0.1837 0.1062

Sesudah 3.762 0.76 0.0881 0.0839

Grafik 3 Kadar Logam Berat (kontrol)

5
Zn
4
Pb
3 Cu
Cd
2

0
Sebelum Sedudah

Grafik 3 Kadar Logam Berat ( Sampel)


12

10

8
Zn

6 Pb
Cu

4 Cd

0
Sebelum Sesudah

Jadi, berdasarkan pengukuran kadar logam berat baik kontrol maupun sampel tumbuhan
lidah mertua selama 21 hari pengukuran dapat dilihat pada grafik bahwa Kadar logam
berat dalam tanah mengalami penurunan. Grafik diatas menandakan efektifitas
penyerapan logam berat oleh tanaman lidah mertua.
Grafik 1 Rata-rata Pertumbuhan Akar

8
7
6
5
4 2 batang

3 3 batang

2
1
0
Sebelum sesudah

Jadi, berdasarkan pengukuran tumbuhan lidah mertua pada bagian akar selama 21 hari
pengukuran dapat dilihat pada grafik bahwa panjang akar mengalami kenaikan.

4.2 Pembahasan

Berdasarkan praktikum fitoremediasi tanah yang telah dilaksanakan pada tanggal 10


oktober 2018 – 30 Oktober 2018 dengan pengamatan selama 21 hari. Berdasarkan
pengamatan dan pengukuran yang telah di lakukan tanaman lidah mertua mampu menyerap
logam berat seperti Zn, Pb, Cu, dan Cd. namun pada Logam berat Cd dan Cu salah satu daun
pada tanaman lidah mertua mengalami kelayuan pada pengamatan 9. Pada saat melakukan
pengamatan tanaman disiram sedikit saja, kalo disiram dengan air yang cukup banyak, maka
logam berat akan larut bersama air.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

3 Dari praktikum yang dilakukan, Tanaman fitoremediasi yang digunakan


adalah tanaman lidah metua dengan Nama Ilmiah Sansevieria, Kingdom : Plantae, Famili
: Ruscaceae, , Genus : Sansevieria; Thunb.Pemilihan tanaman Lidah Mertua sebagai
tanaman fitoremediasi mengingat tanaman ini mudah di temukan, harganya yang murah ,
dan memiliki akar serabut yang merupakan salah satu syarat dalam pemilihan tanaman
fitoremediasi.
Pada penentuan kadar air tanah, sebelum penanaman lidah mertua di dapatkan
kadar air tanah 24% dan sesudah penanaman 30%. Kadar air tanah perlu ditetapkan
untuk mengoreksi berat tanah sebenarnya yang digunakan untuk analisis. Besar kecilnya
kadar air tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu sifat tanah, faktor tumbuh dan
iklim.
Pengamatan pertumbuhan tanamanl lidah mertua pada tanah mengalami
pertumbuhan yang cukup baik, dapat dilihat dari bertambahnya tinggi daun dan akar,
namun pada satu daun di tumbuhan 1 mengalami kematian.
Berdasaraka praktikum yang telah dilakukan selama 19 hari yang menggunakan
tanaman lidah mertua pada tanah yang tercemar bahan kimia Cu, diketahui bahwa tanah
mengalami penurunan kadar Cu yaitu pada sampel dari 0,1837 menjadi 0,0881. Dari
pengamatan ini dapat disimpilkan bahwa tanaman lidah mertua dapat menurunkan zat
pencemar Cu sebanyak 52%.

3.1 5.2 Saran


Agar praktek Fitoremediasi dapat terlaksana dengan baik, ada beberapa saran
yang perlu diperhatikan oleh mahasiswa sebelum melakukan praktek. Saran tersebut
antara lain:

1. Sebaiknya alat-alat yang dipergunakan haruslah dalam keadaan yang baik dan
utuh
serta sesuai fungsinya.
2. Seluruh kegiatan supaya dilaksanakan tanpa membuang waktu dan selalu tepat
waktu.

3. Jagalah keutuhan alat yang kita gunakan dan kembalikan alat yang telah kita
gunakan apabila alat tersebut merupakan alat pinjaman

4. Utamakan keselamatan kerja.