Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KASUS BESAR

PSEUDOFAKIA DENGAN AFTER CATARACT ODS

Pembimbing :
dr. Nanny RL Gatam, Sp.M

Disusun Oleh :
Izzatul Hanifa
11141030000054

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


RUMAH SAKIT UMUM PUSAT FATMAWATI
FAKULTAS KEDOKTERAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
MARET 2018
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Alhamdulilahirabbil’alamin, puji dan syukur kepada Allah SWT, karena
atas segala rahmat, hidayah, dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan
laporan kasus yang berjudul “Pseudofakia dengan After Cataract ODS” ini.
Shalawat serta salam tak lupa untuk selalu penulis haturkan kepada Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa umat Muslim dari zaman kegelapan
hingga zaman yang penuh dengan perkembangan ilmu dan teknologi sehingga
penulis mampu menjadi saksi atas segala kebesaran-Nya.
Laporan kasus ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan
klinik di bagian Ilmu Penyakit Mata RSUP Fatmawati. Pada kesempatan kali ini
penulis mengucapkan terimakasih kepada dr. Nanny RL Gatam, Sp. M sebagai
dokter pembimbing laporan kasus ini dan rekan-rekan sejawat yang turut
membantu dalam menyelesaikan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa dalam laporan ini masih terdapat kekurangan
dan kesalahan. Oleh karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
membangun dari semua pihak. Demikian laporan ini penulis susun semoga dapat
bermanfaat.

Jakarta, 20 Maret 2018

Penulis

I
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………… I


DAFTAR ISI …………………….....……………………………… ….. II
BAB I PENDAHULUAN ………………………………………… ….. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………. 2
BAB III STATUS OFTALMOLOGI ……….………….……………… 11
BAB IV DISKUSI KASUS ……………….…………………………… 21
BAB V KESIMPULAN ………………….……………………………. 23
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………….. …… 24

II
BAB I
PENDAHULUAN

Lensa mata merupakan lempeng cakram bikonveks yang terletak di


belakang iris yang terdiri dari zat tembus cahaya yang dapat menebal dan menipis
pada saat terjadinya akomodasi1. Lensa tidak memiliki pembuluh darah, syaraf
dan tidak berwarna sehingga hampir transparan sempurna2. Namun, tedapat
faktor-faktor yang mampu mempengaruhi kejernihan lensa menjadi keruh seperti
trauma, toksin, penyakit sistemik (misalnya diabetes), penyakit radang pada mata,
riwayat mengkonsumsi obat-obatan (khususnya steroid), terpajan sinar UV
matahari, merokok dan herediter. Setiap kekeruhan yang terjadi pada lensa mata
disebut sebagai katarak2.
Katarak berasal dari kalimat bahasa Latin yaitu cataracta dan bahasa
Yunani katarrhakies yang berarti air terjun. Jadi dapat diartikan bahwa katarak
adalah kondisi dimana pengelihatan seperti tertutupi oleh air terjun akibat keadaan
lensa yang keruh. Kekeruhan ini dapat terjadi akibat hidrasi lensa (penambahan
cairan pada lensa), denaturasi protein lensa, atau bahkan terjadi akibat keduanya1.
Tatalaksana katarak dengan dilakukannya pembedahan serta dapat pula
dilakukan penanaman lensa intraokuler (IOL) atau disebut juga sebagai
pseudofakia. Dalam melakukan pembedahan katarak yang masih menyisakan
epitel subkapsular dapat menginduksi pembentukan serat-serat lensa yang baru
sehingga dapat menimbulkan kekeruhan pada IOL.yang disebut sebagai after
cataract.2 Berikut penulis akan membahas terkait pseudofakia dengan after
cataract.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Lensa
Lensa mata merupakan suatu struktur bikonveks yang hampir
transparan sempurna, tidak berwarna dan tidak memiliki pembuluh
darah2.

2.1.1. Anatomi Lensa


Lensa berasal dari ektoderm permukaan yang bersifat
bening karena terdiri dari zat tembus cahaya yang letaknya berada
di belakang iris1. Lensa memiliki ketebalan sekitar 4 mm dan
diameternya 9 mm. Lensa terletak dibelakang iris dan didepan
badan kaca (vitreous humor). Letak lensa dipertahankan posisinya
oleh ligamen suspensorium yang bernama zonula zinii yang
menggantung lensa di kapsul anterior dan posterior yang melekat
pada korpus siliaris. Di sebelah anterior lensa terdapat cairan
aqueous humor dan disebelah posteriornya terdapat vitreous
humor2.
Lensa terdiri dari bagian kapsul, korteks dan nukleus.
Kapsul lensa berfungsi sebagai pembungkus lensa, pengubah
bentuk lensa pada proses akomodasi dan melindungi lensa dari
aqueous humor dan badan kaca. Kapsul dibagi menjadi kapsul
anterior dan posterior sesuai dengan letaknya. Kapsul lensa
dibentuk oleh kolagen tipe IV dan glikosaminoglikan. Kapsul
lensa paling tebal di ekuator dan paling tipis di posterior. Korteks
lensa merupakan bagian serat lensa yang lebih muda. Korteks
yang terletak di sebelah depan nukleus lensa disebut korteks
anterior sedangkan yang dibelakangnya disebut korteks posterior.
Nukleus lensa merupakan bagian lensa tertua yang posisinya di
bagian sentral lensa. Konsistensi nukleus lensa lebih keras
daripada korteks3.

2
Gambar 2.1 Bentuk dan Posisi Lensa Mata
Sumber Lang, Gerhard K. 2000. Ophthalmology : a short textbook.
New York, USA. Thieme Publishing. p1664

Gambar 2.2 Anatomi struktur lensa mata


Sumber cataracourse.com

2.1.2. Fisiologi Lensa


Lensa dibentuk oleh epitel lensa yang membentuk serat
lensa dalam kapsul lensa. Epitel ini terletak di bagian anterior
lensa, diantara kapsul dan serat lensa yang tersusun atas sel epitel
kuboid. Epitel lensa akan membentuk serat lensa secara terus-
menerus sehingga membuat struktur lensa semakin padat pada
bagian sentral yang membentuk nukleus lensa. Karena proses ini
terjadi terus-menerus seumur hidup, maka akan terjadi kekakuan
lensa akibat memadatnya lensa1. Hal inilah yang akan
menyebabkan gangguan akomodasi pada orang lanjut usia.

3
Kapsul lensa berperan untuk mengatur homeostasis lensa
karena bertindak sebagai membran yang semipermeabel yang
menjadi jalur masuk ion, nutrisi dan cairan dari akuos dan
vitreous humour5.
Lensa disusun sebagian besar oleh air (65%), sedangkan
sisanya adalah komponen protein (35%). Protein pada lensa yang
membuat sifat transparan pada lensa adalah protein kristalin3.
Selain itu juga terdapat sedikit kandungan mineral. Lensa
memiliki kandungan kalium yang lebih tinggi serta kandungan
natrium yang lebih rendah dibandingkan akuos atau vitreous
humour.5

2.2. Pseudofakia
2.2.1. Definisi Pseudofakia
Pseudofakia merupakan suatu keadaan dimana mata terpasang
lensa tanam setelah operasi katarak. Intra Oculer Lens (IOL) atau
lensa intraokular ditempatkan saat operasi katarak yang tidak
memerlukan perawatan khusus setelah pemasangan.

2.2.2. Tanda Pseudofakia


Tanda-tanda pseudofakia adalah adanya surgical scar yang
biasanya terdapat di dekat limbus atau kornea perifer, bilik mata
depan biasanya terlihat lebih dalam dibandingkan dengan mata
normal, serta pupil yang berwarna kehitam – hitaman tetapi ketika
sinar disenter ke arah pupil maka akan terlihat pantulan refleks
kaca.

2.2.3. Jenis Pembedahan Katarak Ekstrakapsular


1) Extra Capsular Cataract Extraction (ECCE)
ECCE merupakan tindakan pembedahan pada lensa
katarak yang mengeluarkan isi lensa dengan memecah atau
merobek kapsul lensa anterior (kapsulotomi anterior) sehingga

4
massa lensa dan korteks lensa dapat keluar melalui robekan
tersebut1. Insisi dibuat sekitar 9 – 10 mm pada limbus atau
kornea perifer, bagian superior atau temporal. Prosedur ini
memerlukan insisi yang relatif besar2. Setelah isi lensa
dikleuarkan, berupa korteks dan nukleus, menyisakan bagian
kapsul posterior yang menjadi tempat bertumpu IOL8.
2) Phacoemulsification
Fakoemulsifikasi merupakan teknik ekstraksi
katarak ekstrakapsular dengan menggunakan vibrator
ultrasonic untuk menghancurkan nukelus yang kemudian
dimasukkan lensa intraokular yang dapat dilipat. Keuntungan
dari tindakan ini adalah insisi yang dilakukan kecil sehingga
pemulihan visus lebih cepat, induksi astigmatis akibat operasi
minimal, komplikasi dan inflamasi pasca bedah minimal1.
3) Small Incision Cataract Surgery (SICS)
SICS merupakan teknik operasi katarak dengan
melakukan insisi 6 mm pada sklera (jarak 2 mm dari limbus),
kemudian dibuat sclera tunnel sampai di bilik mata depan.
Teknik ini mengeluarkan nukleus lensa secara manual dan
korteks lensa dikeluarkan dengan aspirasi serta irigasi
kemudian dilakukan pemasangan IOL.

2.2.4. Posisi Intra Oculer Lens


Posisi IOL yang optimal adalah di dalam kantung kapsular
setelah dilakukannya prosedur ekstrakapsular. Hal ini berhubungan
dengan rendahnya insiden komplikasi pasca operasi, seperti
keratopati bulosa pseudofakik, glaucoma, kerusakan iris, hifema,
dan desentrasi lensa. IOL dapat ditempatkan di bilik mata depan
apabila terdapat ruptur kapsul posterior saat pembedahan2. Dahulu
masih sering digunakan iris clip IOL, yaitu lensa tanam yang
penempatannya dengan cara dijepit pada iris, namun jenis ini sudah
jarang dilakukan6.

5
2.2.5 Jenis dan Materi IOL
Umumnya IOL sebagian besar terdiri atas sebuah optik
bikonveks di sentral dan dua buah kaki atau disebut sebagai haptik
yang memiliki fungsi untuk mempertahankan optik di posisinya2.
Jenis materi yang sering digunakan adalah akrilik dan silikon.
Akrilik dibagi menjadi tipe keras (rigid) dan tipe fleksibel. Tipe
rigid menggunakan bahan PMMA (polymethylmethacrylate) yang
karakteristiknya kaku dan bersifat hidrofobik sehingga
memudahkan menempelnya sel-sel. Tipe fleksibel menggunakan
bahan kopolimer dari PMMA yang karakteristiknya lembut,
foldable,dan hidrofilik. Jenis materi silikon merupakan polimer dari
polyorganosiloxane yang sifatnya lentur6.

2.3. After Cataract


2.3.1. Definisi After Cataract
After Cataract adalah kekeruhan kapsul posterior yang
terjadi setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular2. After Cataract
merupakan katarak ikutan yang terjadi karena terbentuknya
jaringan fibrosis pada sisa lensa yang tertinggal pasca operasi
katarak, penanaman lensa di segmen posterior atau trauma pada
lensa1.

2.3.2. Insidensi dan Faktor Risiko After Cataract


Insidensi terbentuknya after cataract adalah 5 – 50% pada
operasi katarak senilis tanpa komplikasi7. Schaumberg et al
melaporkan angka kejadian After cataract dalam 1 tahun pasca
operasi sebesar 11.8%, setelah 3 tahun pasca operasi sebesar
20.7% dan sebesar 28.4% setelah 5 tahun pasca operasi.
Saat ini banyak yang melakukan penelitian terhadap faktor
– faktor yang mempengaruhi insidensi after Cataract. Faktor
yang berkaitan dengan operasi katarak diantaranya yang

6
membersihkan korteks sebaik mungkin dengan hidrodiseksi
karena sisa korteks yang mengandung sel-sel epitel lensa akan
berproliferasi dan menyebabkan after cataract. Penempatan IOL
dalam kantung lensa mampu menghambat proliferasi sel-sel
epitel lensa ketika terjadi kontak antara materi IOL dengan
kapsul posterior. Selain faktor yang berkaitan dengan operasi
katarak, faktor lain yang dapat mempengaruhi yaitu materi IOL.
Foldable IOL dari bahan acrylic dilaporkan paling sedikit
menimbulkan after cataract. Lensa ini bersifat lembut, rigid, dan
memiliki bikompatibilitas yang baik karena permukaan
hidrofiliknya sehingga dapat melekat pada kapsul lensa dan
meminimalkan migrasi epitel lensa dibandingan dari bahan
Polymethylmethacrylate (PMMA) yang rigid, unfoldable, dan
hidrofobik (kadar air <1%)6.

2.3.3. Patofisiologi After Cataract


Pada saat operasi katarak biasanya lensa tanam intraokuler
ditanamkan pada tempat anatomi yang sama dengan tempat lensa
asli, yaitu di kapsul posterior lensa. Bagian kapsul anterior dibuka
untuk mengeluarkan nukleus dan kapsul posterior ditinggalkan
untuk menahan lensa yang akan ditanam juga untuk mencegah
vitreous humor masuk ke segmen anterior mata4.
Epitel lensa subkapsular yang tersisa mungkin menginduksi
regenerasi serat – serat lensa, memberikan gambaran “telur ikan”
pada kapsul posterior (Mutiara Elschnig). Lapisan epitel yang
berproliferasi tersebut dapat membentuk banyak lapisan dan
menimbulkan kekeruhan yang jelas. Sel – sel ini mungkin juga
mengalami diferensiasi miofibroblastik. Kontraksi serat – serat
tersebut menimbulkan banyak kerutan kecil di kapsul posterior,
yang menimbulkan distorsi penglihatan. Semua faktor ini dapat
menyebabkan penurunan ketajaman penglihatan setelah ekstraksi
katarak ekstrakapsular2.

7
Bentuk yang merupakan proliferasi epitel lensa pada
katarak sekunder berupa mutiara Elschnig dan cincin
Sommering1. Cincin Sommering kemungkinan akan bertambah
besar karena regenerasi epitel. Cincin ini terjadi akibat kapsul
anterior yang pecah dan traksi kearah pinggir dan melekat pada
kapsul posterior meninggalkan daerah yang jernih. Pada cincin ini
tertimbun serabut epitel lensa yang berproliferasi. Sedangkan
mutiara Elschnig adalah epitel subkapsular yang berproliferasi
dan membesar sehingga tampak seperti gelembung-gelembung.
Akibat proliferasi epitel tersebut maka kapsul posterior akan
semakin keruh yang menimbulkan pengelihatan buram.

2.3.4. Gambaran Klinis Aftet Cataract


After cataract dapat menurunkan ketajaman penglihatan
ketika mengenai bagian sentral7. Keluhan yang dirasakan pasien
umumnya pengelihatan kabur seperti berkabut atau berasap,
mungkin dapat terasa lebih buruk daripada sebelum dioperasi.
Karena pengelihatan kabur, tajam penglihatan juga akan
menurun. Selain itu fotofobia juga dirasakan khususnya bila
ditempat yang silau.
Pada pemeriksaan oftalmologi, kapsul posterior terdapat
kekeruhan. Apabila yang terbentuk adalah mutiara Elschnig,
maka akan ditemukan gambaran seperti gelembung busa sabun
atau telur kodok pada kapsul posterior lensa mata. Namun apabila
yang terbentuk adalah cincin Sommering, yang ditemukan adalah
gambaran kekeruhan berbentuk seperti cincin pada tepi kapsul
posterior lensa1.

8
Gambar 2.3 Ilustrasi gambaran After Cataract
Sumber slideshare.net Bhartimaiya College of Oftalmology

2.3.5. Penatalaksanaan After Cataract


Pengobatan after cataract dapat dilakukan dengan
pembedahan maupun dengan Nd:YAG laser posterior
capsulotomy. Pembedahan yang dapat dilakukan adalah dengan
cara disisio after cataract, kapsulotomi, membranektomi atau
mengeluarkan seluruh membran utuh. Namun sekarang yang
lebih sering digunakan adalah laser neodymium-yttrium-
alumunium-garnet atau Nd:YAG laser posterior capsulotomy6.
Nd:YAG laser posterior capsulotomy merupakan metode
non invasif sehingga sekarang sering digunakan. Sebelum
prosedur dilakukan pasien harus dipersiapkan terlebih dahulu
bahwa prosedur ini tidaklah sakit, pasien mungkin akan
mendengar ledakan-ledakan kecil sebagai akibat dari energi laser
di jaringan target agar menimbulkan lubang kecil di kapsul
posterior di sumbu pupil, namun pasien harus tetap
mengusahakan posisi mata tetap terfiksasi. Selain itu pasien
diberikan obat tetes apraclonidine, timolol atau beta-adrenergik
lainnya untuk mengatasi peningkatan tekanan intraocular pasca
laser. Kemudian pasien diberikan obat tetes untuk mendilatasi
pupil serta anestesi topikal. Setelah dilakukan laser maka pasien
harus di follow-up 1-4 jam setelah laser dan kontrol 1 minggu

9
setelah tindakan laser dilakukan terutama dalam mengukur
tekanan intraokular9.
Komplikasi teknik ini, antara lain naiknya tekanan
intraocular untuk sementara waktu, kerusakan lensa intraocular,
dan rupture sisi hialoid anterior dengan penggeseran vitreus ke
dalam bilik mata depan, yang berpotensi menimbulkan ablatio
retina regmatogenosa atau edema makula kistoid, dan kerusakan
IOL. Kenaikan tekanan intraokular biasanya dapat diketahui
dalam 3 jam setelah terapi dan menghilang dalam beberapa hari
dengan terapi. Jarang, tekanan tidak turun ke normal selama
beberapa minggu. Lubang atau retakan kecil dapat terjadi pada
lensa intraocular, tetapi biasanya tidak mengganggu ketajaman
penglihatan. Tidak ada kerusakan yang nyata pada endotel kornea
pada pemakaian Nd:YAG laser posterior capsulotomy2.
Keberhasilan tindakan ini dalam meningkatkan ketajaman
penglihatan dari 83% hingga 96%9.

Gambar 2.4 Sebelum dan setelah terapi YAG laser


Sumber healio.com Trent McKinney, M.D

10
BAB III
ILUSTRASI KASUS

I. Identifikasi Pasien
a. Nama : Shinta Angka Widjaja
b. Jenis kelamin : Perempuan
c. Umur : 62 tahun
d. Suku/Bangsa : Chinese
e. Alamat : Jl. H. Tohir RT 004/010. Kel. Petukangan Utara,
Kec. Pesanggrahan
f. Agama : Islam
g. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
h. Masuk poli mata : 19/03/2018

II. Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesa pada tanggal 19 Maret
2018 di Poli Mata RSUP Fatawati.

 Keluhan Utama
Mata kiri dan kanan terasa semakin buram sejah 6 bulan yang lalu.

 Riwayat Penyakit Sekarang


Sekitar 3 tahun yang lalu, pasien mengeluh mata buram pada mata
kanan dan kiri. Kemudian, 2 tahun yang lalu pasien menjalani operasi
katarak di Bali pada kedua mata di hari yang sama. Sejak 6 bulan ini
pasien merasa penglihatan semakin buram seperti berkabut. Nyeri pada
mata dan sakit kepala disangkal.

 Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien memiliki riwayat diabetes mellitus yang sedang
mengonsumsi obat Metformin. Hipertensi dan alergi disangkal.

11
 Riwayat Penyakit Keluarga
Ayah pasien memiliki riwayat diabetes mellitus.

III. Pemeriksaan Fisik


 Status Generalis
- Keadaan umum : Sakit ringan
- Kesadaran : Compos mentis
- Tekanan darah : 156/65 mmHg
- Denyut nadi : 96x/menit
- Frekuensi nafaas : 20x/menit
- Suhu :-

 Status Oftalmologi
Pemeriksaan kamar terang
OD OS
Visus 1/60, dengan pinhole 2/60, dengan pinhole
tidak terkoreksi tidak terkoreksi

Kedudukan bola mata


OD OS
Posisi Ortoforia Ortoforia
Eksoftalmus - -
Endoftalmus - -

Pergerakan bola mata


OD OS

12
Palpebra superior
OD OS
Edema - -
Spasme - -
Hiperemis - -
Benjolan - -
Ulkus - -
Fistel - -
Hordeolum - -
Kalazion - -

Palpebra inferior
OD OS
Edema - -
Spasme - -
Hiperemis - -
Benjolan - -
Ulkus - -
Fistel - -
Hordeolum - -
Kalazion - -

Margo palpebral superior et silia


OD OS
Edema - -
Hiperemis - -
Ektropion - -
Entropion - -
Sekret - -
Benjolan - -
Trichiasis - -

13
Districhiasis - -
Madarosis - -

Margo palpebral inferior et silia


OD OS
Edema - -
Hiperemis - -
Ektropion - -
Entropion - -
Sekret - -
Benjolan - -
Trichiasis - -
Districhiasis - -
Madarosis - -

Area kelenjar lakrimalis


OD OS
Edema - -
Hiperemis - -

Benjolan - -
Fistel - -
Nyeri - -
Air mata - -

Punctum lakrimalis
OD OS
Edema - -
Hiperemis - -

Benjolan - -
Fistel - -
Sekret - -

14
Konjungtiva tarsal superior
OD OS
Kemosis - -
Anemis - -

Folikel - -
Papil - -
Lithiasis - -
Simblefaron - -

Konjungiva tarsal inferior


OD OS
Kemosis - -
Anemis - -
Folikel - -
Papil - -
Lithiasis - -
Simblefaron - -

Konjungtiva fornix superior et inferior


OD OS
Kemosis - -
Anemis - -

Folikel - -
Simblefaron - -

Konjungtiva bulbi
OD OS
Kemosis - -
Pterygium - -
Pinguekula - -

15
Flikten - -
Simblefaron - -
Injeksi konjungtiva - -

Kornea
OD OS
Kejernihan Jernih Jernih
Edema - -

Ulkus - -
Pannus - -
Sikatrik + pada kornea + pada kornea
perifer sisi perifer sisi
superotemporal tipe superotemporal tipe
nebula – makula nebula – makula
sepanjang 3 mm sepanjang 3 mm
Leukoma adheren - -
Infiltrat - -
Keratic precipitate - -
Bekas jahitan - -
Tes fluorescein Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Tes sensibilitas Tidak dilakukan Tidak dilakukan

Limbus kornea
OD OS
Arcus senilis - -
Bekas jahitan - -

Sklera
OD OS
Episkleritis - -
Skleritis - -

16
TIO
OD OS
Tonometri Schiotz 7/7.5 = 18.5 mmHg 8/7.5 = 15.6 mmHg
TIO perpalpasi Normal Normal

Pemeriksaan kamar gelap


Kamera okuli anterior
OD OS
Kedalaman Dalam Dalam
Kejernihan Jernih Jernih

Flare - -
Sel - -

Hipopion - -

Hifema - -

Iris
OD OS
Warna Cokelat Tua, Jernih Cokelat Tua, Jernih
Gambaran radier - -
Eksudat - -

Atrofi - -
Sinekia anterior - -

Sinekia posterior - -
Iris bombe - -

Iris tremulans - -

iridodalisis - -

17
Pupil
OD OS
Bentuk Bulat Bulat
Ukuran 3 mm 3 mm

Isokoria + +
Letak Di tengah Di tengah

RCL/RCTL +/+ +/+

Lensa
OD OS
Kejernihan Lensa IOL keruh Lensa IOL keruh
pada tepi kapsul pada tepi kapsul
anterior, dan keruh anterior, dan keruh
bentuk butir-butir bentuk butir-butir
mutiara pada bagian mutiara pada
tengah kapsul bagian tengah
posterior kapsul posterior

Shadow test - -

Refleks kaca + +

Pigmen iris - -
Luksasi - -

Subluksasi - -

Corpus vitreous
OD OS
Kejernihan
Sulit dinilai Sulit dinilai
Perdarahan

18
Funduskopi
OD OS
Refleks fundus + menurun + menurun
Papil :
Warna
Bentuk
Batas
C/D ratio
Sulit dinilai Sulit dinilai
Aa/Vv ratio

Retina

Refleks makula

IV. Resume
Pasien Ny. Shinta berusia 62 tahun datang ke poliklinik RSUP
Fatmawati karena keluhan penglihatan buram pada mata kanan dan kiri
sejak 6 bulan yang lalu. Sebelumnya, 2 tahun lalu pasien menjalani operasi
katarak pada kedua mata di hari yang sama. Pasien memiliki riwayat
Diabetes Mellitus. Pada pemeriksaan oftalmologi pemeriksaan tajam
penglihatan AV OD 1/60 dengan pinhole tidak terkoreksi, AV OS 2/60
dengan pinhole tidak terkoreksi, terdapat sikatriks pada kornea perifer sisi
superotemporal kornea tipe nebula – makula sepanjang 3 mm di kedua
mata, refleks kaca (+) pada kedua mata, lensa IOL keruh pada tepi kapsul
anterior, dan keruh bentuk butir-butir mutiara pada bagian tengah kapsul
posterior pada kedua mata, refleks fundus menurun, papil, retina dan
makula sulit dinilai.

V. Diagnosis Kerja
OD : Pseudofakia dengan after cataract
OS : Pseudofakia dengan after Cataract

VI. Diagnosis Banding


-

19
VII. Rencana Pemeriksaan
 Retinometri

VIII. Penatalaksanaan
- Nd:YAG laser posterior capsulotomy pada mata kanan lalu
seminggu kemudian pada mata kiri
- Edukasi mengenai after cataract

IX. Prognosis

OD Prognosis OS
Bonam Quo ad vitam Bonam
Bonam Quo ad sanationam Bonam
Dubia ad Bonam Quo ad functionam Dubia ad Bonam

20
BAB IV
DISKUSI KASUS

Pseudofakia merupakan suatu keadaan dimana mata terpasang lensa tanam


setelah operasi katarak. Intra Oculer Lens (IOL) atau lensa intraokular
ditempatkan saat operasi katarak yang tidak memerlukan perawatan khusus
setelah pemasangan. Karena proses pemasangan IOL melalui tindakan operasi
katarak ekstrakapsular maka memiliki komplikasi salah satunya berupa After
Cataract. After cataract adalah kekeruhan kapsul posterior yang terjadi setelah
ekstraksi katarak ekstrakapsular. After cataract merupakan katarak ikutan yang
terjadi karena terbentuknya jaringan fibrosis pada sisa lensa yang tertinggal pasca
operasi katarak, penanaman lensa di segmen posterior atau trauma pada lensa.
Pada pasien, keluhan utama yang dirasakan adalah mata kiri dan kanan
semakin terasa buram sejah 6 bulan yang lalu. Sekitar 3 tahun yang lalu, pasien
mengeluh mata buram pada mata kanan dan kiri. Kemudian, 2 tahun yang lalu
pasien menjalani operasi katarak di Bali pada kedua mata di hari yang sama. Sejak
6 bulan ini pasien merasa penglihatan semakin buram seperti berkabut. Nyeri pada
mata dan sakit kepala disangkal.Pasien memiliki riwayat diabetes mellitus.
Pada pemeriksaan visus mata kanan didapatkan 1/60 dan visus mata kiri
2/60. Visus pasien di kedua mata tidak dapat dikoreksi dengan menggunakan
pinhole karena pasien merasa tetap saja buram. Hasil pemeriksaan fisik terdapat
sikatriks pada kornea perifer sisi superotemporal kornea tipe nebula – makula
sepanjang 3 mm di kedua mata, refleks kaca (+) pada kedua mata, keruh dengan
bentuk cincin pada tepi kapsul posterior lensa serta gelembung pada bagian
tengah kapsul posterior lensa pada kedua mata, refleks fundus menurun, papil,
retina dan makula sulit dinilai.
Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik dapat ditegakan
diagnosis bahwa pasien mengalami pseudofakia dengan after cataract. Hal ini
karena pasien memiliki riwayat operasi katarak 2 tahun yang lalu pada kedua
mata, pada pemeriksaan segmen anterior didapatkan sikatriks pada kornea perifer
sisi superotemporal kornea tipe nebula – makula sepanjang 3 mm di kedua mata,
reflex kaca positif pada kedua mata. Penemuan tersebut menandakan adanya

21
tindakan pembedahan katarak yang telah dilakukan pada kedua mata pasien, serta
telah dipasang IOL di bagian posterior.
Pada pemeriksaan fisik lensa IOL keruh pada tepi kapsul anterior pada
kedua mata menandakan terbentuknya cincin Sommering. Cincin ini terbentuk
akibat kapsul anterior yang pecah dan traksi kearah pinggir dan melekat pada
kapsul posterior meninggalkan daerah yang jernih. Pada cincin ini tertimbun
serabut epitel lensa yang berproliferasi. Selain itu lensa IOL keruh dengan bentuk
butir-butir mutiara pada bagian tengah kapsul posterior merupakan mutiara
Elschnig. Mutiara Elschnig merupakan epitel subkapsular yang berproliferasi dan
membesar sehingga tampak seperti gelembung-gelembung. Akibat proliferasi
epitel tersebut maka kapsul posterior akan semakin keruh yang menimbulkan
pengelihatan buram sehingga tajam penglihatan pasien didapatkan 1/60 dan visus
mata kiri 2/60 yang tidak dapat dikoreksi dengan menggunakan pinhole.
Untuk penatalaksanaan pada pasien ini dapat dilakukan Nd:YAG laser
posterior capsulotomy untuk membersihkan kekeruhan pada kapsul posterior
lensa setelah operasi katarak. Tindakan Nd:YAG laser posterior capsulotomy ini
dilakukan pada satu mata terlebih dahulu kemudian disusul dengan mata lainnya.
Tindakan ini dapat menimbulkan komplikasi salah satunya peningkatan tekanan
intraokuler. Sehingga perlu dievaluasi terlebih dahulu tekanan intraokuler pasien
yaitu pada 1-4 jam dan 1 minggu setelah dilakukan laser. Sehingga disarankan
pasien dapat kontrol kembali 1 minggu kemudian.

22
BAB V
KESIMPULAN

Pada perempuan usia 62 tahun yang datang ke RSUP Fatmawati dengan


keluhan utama mata kiri dan kanan semakin terasa buram sejah 6 bulan yang lalu.
Terdapat riwayat operasi katarak 2 tahun yang lalu. Terdapat riwayat diabetes
mellitus pada pasien dan ayah pasien. Hipertensi dan alergi baik pada pasien dan
pada keluarga disangkal. Pada pemeriksaan oftalmologi pemeriksaan tajam
penglihatan AV OD 1/60 dengan pinhole tidak terkoreksi, AV OS 2/60 dengan
pinhole tidak terkoreksi, terdapat sikatriks pada kornea perifer sisi superotemporal
kornea tipe nebula – makula sepanjang 3 mm di kedua mata, refleks kaca (+) pada
kedua mata, lensa IOL keruh pada tepi kapsul anterior, dan keruh bentuk butir-
butir mutiara pada bagian tengah kapsul posterior pada kedua mata, refleks fundus
menurun, papil, retina dan makula sulit dinilai.
Dari hasil anamnesis yaitu riwayat operasi katarak 2 tahun yang lalu pada
kedua mata serta pada pemeriksaan oftalmologis terdapat sikatriks pada kornea
perifer sisi superotemporal kornea tipe nebula – makula sepanjang 3 mm di kedua
mata, refleks kaca (+) pada kedua mata dapat didiagnosis psuedofakia ODS. Pada
pemeriksaan tajam penglihatan AV OD 1/60 dan AV OS 2/60 dengan pinhole
tidak terkoreksi, lensa IOL keruh pada tepi kapsul anterior dan keruh bentuk butir-
butir mutiara pada bagian tengah kapsul posterior pada kedua mata, refleks fundus
menurun menandakan telah terbentuknya cincin Sommering dan mutiara Elshnig
sehingga pasien dapat didiagnosis pseudofakia dengan after cataract ODS.
Penatalaksanaan untuk pasien ini dapat dilakukan Nd:YAG laser posterior
capsulotomy pada kedua mata.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, Sidarta. Yulianti, SR. Ilmu penyakit mata Edisi kelima. Badan
Penerbit FKUI. Jakarta. 2015; hal. 9, 220-222
2. Vaughan, DG. Oftalmologi umum. Edisi 17. EGC. Jakarta.2009; hal.
169-177
3. Virginia L et all. Morphology of the Normal Human Lens:
Investigative Ophtalmologgy & Visual Science. 1996; Vol. 37, No. 7;
p57-59
4. Lang, Gerhard K. Ophthalmology: a short textbook. Thieme
Publishing. New York. 2000; p165-192
5. Crick, Ronald Pitts, Khaw, Peng Tee. A Textbook of clinical
ophthalmology 3rd edition. World scientific publishing. Singapore.
2003; p35
6. Soekardi, Istiantoro. Hutauruk, Johan A. Transisi menuju
fakoemulsifikasi. Granit. Jakarta. 2004; hal. 205- 210, 248-249
7. Raj, S. M., Vasavada, A. R., Johar, S. R. K., Vasavada, V. A., &
Vasavada, V. A. Post-Operative Capsular Opacification: A Review.
International Journal of Biomedical Science : IJBS. 2007; 3(4), p237–
250
8. Jimenez EM dan Boyd K. Cataract Surgery. [online] 2017. Diakses
dari https://www.aao.org/eye-health/diseases/what-is-cataract-surgery
pada 20 Maret 2018
9. Steinert, Roger F. Nd:YAG Laser Posterior Capsulotomy. [online]
2013. Diakses dari https://www.aao.org/munnerlyn-laser-surgery-
center/ndyag-laser-posterior-capsulotomy-3 pada 20 Maret 2018

24