Anda di halaman 1dari 21

PENGELOLAAN LAHAN KERING

OLEH

NAMA : FRENKI E. BULU

NIM : 1606050023

PROGRAM STUDI BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2018

1
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya haturkan kehadirat Tuhan Yang Esa, yang telah
melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga makalah Ekologi Lahan Kering
tentang “Pengelolaan Lahan Kering di Kabupaten Manggarai Timur” ini dapat
terselesaikan sebagaimana mestinya.,karena atas bimbinganNya sehingga kita dapat
menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Ucapan terimakasih kepada dosen pengampu
mata kuliah Ekologi Lahan Kering yang telah memberikan kami kesempatan untuk
membuat makalah ini sebagai pedoman, acuan, dan sumber belajar.

Akhir kata, Penyusun menyadari bahwa masih terdapat banyak kesalahan


baik dari segi bahasa, tulisan, maupun kalimat yang kurang tepat dalam makalah ini,
oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca sangat
diharapkan demi kesempurnaan makalah berikutnya. Terimakasih

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................................i


DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………..ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang……………………………………………………………………………....1
1.2 Rumusan Masalah ………………………………………………………………………….1
1.3 Tujuan………………………………………………………………………………………...2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Karakteristik Lahan Kering………………………………………………………………...3

2.2 Konservasi Lahan Kering………………………………………………………………..4-6

2.3 Pengaturan Pola Tanam…………………………………………………………………7-8

2.4. Pemamfaatan potensi lahan kering………………………………….......................9-13

2.5. Potensi Lahan Kering pada Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur.................14-19

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan………………………………………………………………………………..20
3.2 Saran……………………………………………………………………………………….20
DAFTAR PUSTAKA.

BAB I
PENDAHULUAN

3
1.1.Lata Belakang

Lahan kering di Indonesia merupakan lahan yang potensial dilihat dari


luasan yang ada.Berdasarkan data yang dibuat oleh puslitbangtanak (Pusat
Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, 2002), potensi lahan
kering di Indonesia sekitar 75,133,840 ha.Walaupun demikian produktivitas
lahan-lahan kering di Indonesia relatif sangat rendah.Hal ini karena pada
umumnya lahanlahan kering di Indonesia bereaksi masam dan mempunyai
tingkat kesuburan tanah yang rendah (Hartono et al., 2005). Tanah-tanah di
lahan kering Indonesia pada umumnya mempunyai order Ultisol.
Tanah-tanah dengan order Ultisol dicirikan adanya horison Argilik pada
horison B. Variasi yang terjadi pada tanah Ultisol adalah pada tebal tipisnya
lapisan atas atau yang disebut top soil. Umumnya Ultisol di Indonesia
mempunyai top soil yang tipis dan mempunyai kadar C-organik yang rendah
(Hartono et al., 2005) dengan pH tanah sangat masam sampai masam.
Dalam kaitan dengan pertumbuhan dan produksi tanaman, secara kimia
faktor pembatas yang sering ditemui adalah rendahnya status hara-hara yang
penting bagi pertumbuhan tanaman seperti Nitrogen (N), Fosfor (P) dan
kationkation basa Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Kalium (K). Rendahnya
unsurunsur tersebut karena pengelolaan lahan kering masih bersifat subsisten
sehingga penggunaan pupuk untuk meningkatkan produksi tanaman sangat
sedikit dan tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman.Sementara untuk faktor
pembatas fisikpada umumnya lahan-lahan kering di Indonesia mempunyai
lapisan atas yang padat dan keras. Gunung Sindur adalah salah satu wilayah di
Kabupaten Bogor yang didominasi oleh lahan kering dengan order tanah Ultisol.
Kegiatan pertanian di Gunung Sindur adalah pertanian lahan kering.Karena
terbatasnya akses petani terhadap pupuk inorganik maka pupuk organik menjadi
pilihan untuk meningkatkan produksi tanaman di lahan kering.Pupuk organik
yang sering digunakan adalah kotoran sapi.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian bahan organik
berupa kotoran sapi dapat memberikan pengaruh yang baik dalam mengatasi
masalahmasalah sifat fisik dan kimia.Aplikasi kotoran sapi pada tanah dapat

4
meningkatkan pH tanah (Akinyemi, 2001).Di samping itu pemberian kotoran sapi
meningkatkan kandungan N, P, K, Ca, dan Mg baik pada tanah dan pada daun
tanaman sayuran (Awodun, 2008).Gana (2009) melaporkan bahwa pemberian
pupuk inorganik yang dikombinasikan dengan kotoran sapi dapat meningkatkan
kandungan C-organik tanah dan kapasitas tukar kation tanah di tanah savana
Nigeria.Sehingga dapat dikatakan bahwa kotoran sapi sangat potensial sebagai
sumber bahan organik yang dapat memperbaiki sifat kimia maupun fisik tanah
dan juga untuk meningkatkanpertumbuhan dan produksi tanaman.
Walaupun demikian ketersediaan kotoran sapi juga tidak
banyak.Peternakan sapi sebagai penyedia kotoran sapi tidak selalu ada. Oleh
karena itu penggunaan kotoran sapi oleh petani sebagai sumber bahan organik
dan hara tidak disebar merata ke lahan yang diolah melainkan ditabur pada
timbunan tanah yang akan ditanami. Sehingga dalam hal ini kotoran sapi bukan
sebagai bahan amelioran tetapi berfungsi sebagai pupuk.Hal ini dilakukan petani
untuk meningkatkan efisiensi pemupukan.Rata-rata pemberian kotoran sapi yang
digunakan petani pada tanah-tanah di lahan kering adalah 20 ton ha-1.
Penelitian mengenai bagaimana dinamika hara-hara yang dilepaskan dari
kotoran sapi dalam satu periode tanam di tanah-tanah Ultisol belum banyak
dilakukan.Sementara informasi kinetika dekomposisi kotoran sapi seperti
konstanta kecepatan dan potensi maksimum hara yang dapat dilepaskan pada
suatu jenis tanah dalam satu hamparan diperlukan.Oleh karena itu penelitian ini
dilakukan untuk mengevaluasi dinamika C-organik dan N-tersedia pada tanah
Ultisol dalam satu periode pertumbuhan tanaman. Menurut pengertian ekologi,
lahan adalah habitat. Penggunaan lahan (land use) adalah setiap bentuk campur
tangan (interfensi) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan
hidupnya, baik material maupun spiritual (Sitorus, 2000). Dalam hal ini dapat
berupa penggunaan lahan utama atau penggunaan pertama dan kedua (apabila
merupakan penggunaan ganda) dari sebidang tanah, seperti tanah pertanian,
tanah hutan, padang rumput dan sebagainya. Jadi lebih merupakan tingkat
pemanfaatan oleh masyarakat.
Pengelolaan sumberdaya lahan adalah segala tindakan atau perlakuan
yang diberikan pada sebidang tanah untuk menjaga dan mempertinggi produksi

5
lahan tersebut. Lanskap adalah gabungan fitur-fitur buatan dan alamiah yang
membentuk karakteristik permukaan tanah, yang meliputi aspek spasial,
tekstural, komposisional dan dinamika tanah (Marsh, 1983). Irwan (1992),
menyatakan lanskap merupakan wajah dan karakter lahan atau panorama
dengan segala kehidupan apa saja yang ada didalamnya, baik yang bersifat
alami, non alami atau gabungan keduanya yang merupakan bagian total
lingkungan hidup manusia beserta makhluk hidup lainnya.
Motloch (1993), menyatakan lanskap dalam definisi kontemporernya
meliputi daerah yang masih liar dan daerah yang terhuni. Daerah yang masih liar
adalah lanskap alami dan daerah yang berpenghuni adalah lanskap buatan.
Lanskap juga berarti suatu keadaan pada suatu masa yang merupakan bagian
ekspresi dan pengaruh dari unsur-unsur ekologi, teknologi dan budaya. Pada
lahan pasca tambang terjadi perubahan kemampuan dari muka bumi, sehingga
secara estetika tanah pasca tambang tidak baik, baik dari segi kualitas maupun
kuantitasnya. Untuk itu perlu dilakukan sesuatu upaya reklamasi lahan agar
dapat meningkatkan kualitas lingkungan secara keseluruhan dan tanah dapat
bermanfaatkan kembali.
Upaya pemanfaatan lahan kering secara optimal merupakan peluang
yang masih cukup besar, karena lahan kering mempunyai luasan relatif
lebih besar dibandingkan dengan lahan basah Namun pengembangan
pertanian lahan kering dihadapkan pada masalah ketersediaan air yang
tergantung pada curah hujan,serta pada rendahnya kesuburan tanah dan
topografi yang relatif miring(Brata, 2004)

1.2.Rumusan Masalah

1) Bagaimana Karakteristik lahan kering?


2) Apa itu konservasi lahan kering?
3) Bagaimana pengaturan pola tanam pada lahan kering?
4) Bagaiman pemanfaatan potensi lahan kering?

6
5) Potensi lahan kering pada

1.3.Tujuan Penulisan

1) Untuk mengetahui Karakteristik lahan kering


2) Untuk mengetahui konservasi lahan kering?
3) Untuk mengetahui pengaturan pola tanam pada lahan kering
4) Untuk mengetahui pemanfaatan potensi lahan kering
6) Untuk mengetahui Potensi lahan kering pada

BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Karakteristik lahan kering

lahan kering selalu dikaitkan dengan pengertian bentuk-bentuk usahatani


bukan sawah yang dilakukan oleh masyarakat di bagian hulu suatu daerah aliran

7
sungai (DAS) sebagai lahan atas (upland) atau lahan yang terdapat di wilayah
kering (kekurangan air) yang tergantung pada air hujan sebagai sumber air
(Manuwoto, 1991., Satari et.al, 1977).
Untuk memudahkan pengutaraan dalam penyajian ini, yang dimaksud
lahan kering adalah lahan atasan, karena kebanyakan lahan kering berada di
lahan atasan.Belakangan ini pengertian yang tersirat dalam istilah lahan kering
yang digunakan masyarakat umum banyak mengarah kepada lahan kering
dengan kebutuhan air tanaman tergantung sepenuhnya pada air hujan dan tidak
pernah tergenang air secara tetap (Notohadiprawiro, 1989).
Membayangkan lahan sawah, maka secara mudah dapat dgambarkan
suatu hamparan lahan dengan petak-petak hamparan yang ditanami padi dan
tergenang air.Keluaran hasil pokoknya adalah padi, meskipun beberapa palawija
juga dihasilkan dari sawah.Keadaan sangat berbeda apabila diminta untuk
membayangkan sistem usahatani pada lahan kering. Menurut penggunaannya
BPS (2006) mengelompokkan lahan kering ke dalam sembilan (9) jenis
penggunaan, meliputi usaha tani lahan kering (tegalan/kebun, padang rumput,
tanah tidak diusahakan, tanah hutan rakyat dan perkebunan) dan usaha tani
lainnybangunan, tanah rawa, tambak dan kolam/empang).
Dari sembilan jenis penggunaan, ternya (pekarangan/ ata rawa (yang
tidak ditanami padi), tambak dan kolam juga digolongkan sebagai lahan kering.
Keadaan seperti ini tentu saja akan membuat sulit untuk menggambarkan
keadaan lapangan dari usaha tani lahan kering.ecara umum, lahan kering
daerah tropika basah dan setengah kering didominasi oleh jenis tanah yang
termasuk dalam golongan/ordo Alfisol, Ultisol dan Oksisol. golongan/ordo Oksisol
meliputi 35% luasan, diikuti oleh Ultisol 28% dan sisanya Alfisol 4% (NAP, 1982
cit Syekhfani, 1991). Oksisol dan Ultisol umumnya terdapat di daerah lembab
yang mengalami tingkat pelapukan dan pencucian yang tinggi. Tanah-tanah yang
termasuk dalam ordo ini didominasi oleh mineral liat kaolinit dan oksida-oksida
besi dan aluminium (Juo and Fox, 1981); dicirikan oleh tingkat kemasaman yang
kuat, level unsur-unsur Ca, K dan Mg rendah dan proporsi kompleks pertukaran
dijenuhi oleh aluminium. Defisiensi unsur N, P, K, Ca dan Mg umum dijumpai di
lapang (miskin unsur hara) (Sanchez, 1992; Kang dan Juo, 1983), fiksasi P dan

8
anion lain kuat, kadar lengas dan kapasitas simpan lengas tanah rendah dan
rentan terhadap erosi (Sudjadi, 1984., Notohadiprawiro, 1989).
Sifat/karakteristik seperti dimiliki oleh tanah-tanah yang didominasi Alfisol,
Ultisol dan Oksisol, menyebabkan produktivitas atau kesuburan tanahnya rendah
(Luthful Hakim, 2002), sehingga menjadi kendala dalam pengembangannya.
Selain mempunyai tingkat kesuburan rendah, umumnya lahan kering memiliki
kelerengan curam, dan kedalaman/solum dangkal yang sebagian besar terdapat
di wilayah bergunung (kelerengan > 30%) dan berbukit (kelerengan 15−30%),
dengan luas masing-masing 51,30 juta ha dan 36,90 juta ha (Hidayat dan
Mulyani 2002).
Lahan kering berlereng curam sangat peka terhadap erosi, terutama
apabila diusahakan untuk tanaman pangan semusim.Keterbatasan air pada
lahan kering juga mengakibatkan usaha tani tidak dapat dilakukan sepanjang
tahun.Ditinjau dari segi luasannya, potensi lahan kering di Indonesia tergolong
tinggi dan masih perlu mendapat perhatian yang lebih bagi pengembangannya,
namun apabila ditinjau dari sifat/ karakteristik lahan kering seperti diuraikan
tersebut di atas, sangat diperlukan beberapa tindakan untuk menanggulangi
faktor pem¬batas yang menjadi kendala dalam pengembangannya.
Apabila dikaji lebih jauh dari data penggunaan lahan kering yang ada,
menunjukkan bahwa ketergantungan pertanian pada usahatani lahan kering jauh
lebih besar daripada lahan basah/ sawah yang hanya 7,8 juta ha, dan separuh
areal luasannya 3,24 juta ha berada di Jawa (Anonim, 2007).
Survai Pertanian-BPS memberikan angka-angka luasan lahan kering
khususnya dalam hal penggunaannya dan secara ringkas dapat disebutkan dari
yang terbesar berturut-turut adalah hutan rakyat (16,5%), perkebunan (15,8%),
tegalan (15,0%), ladang (5,7%), padang rumput (4,0%). Lahan kering yang
kosong dan merupakan tanah yang tidak diusahakan seluas (14,0%) dari total
lahan kering, sudah barang tentu merupakan potensi yang besar untuk dapat
dimanfaatkan.
Ciri utama yang menonjol di lahan kering adalah terbatasnya air, makin
menurunnya produktifitas lahan, tingginya variabilitas kesuburan tanah dan
macam spesies tanaman yang ditanam serta aspek sosial, ekonomi dan budaya.

9
Sedangkan Dudung (1991) dalam Guritno et al. (1997) berpendapat bahwa
keadaan lahan kering umumnya adalah lahan tadah hujan yang lebih peka
terhadap erosi, dimana adopsi teknologi maju masih rendah, ketersediaan modal
sangat terbatas dan infrastruktur tidak sebaik di daerah sawah (Guritno et al.
1997 dalam Hamzah, 2003).
Lahan kering marginal dan yang berstatus kritis biasanya dicirikan oleh
solum tanah yang dangkal, kemiringan lereng curam, tingkat erosi telah lanjut,
kandungan bahan organik sangat rendah, serta banyaknya singkapan batuan
dipermukaan.Sebagian besar lahan marginal tersebut dikelola oleh petani
miskin, yang tidak mampu melaksanakan upaya-upaya konservasi, sehingga
makin lama kondisinya makin memburuk. Lahan tersebut pada umumnya
terdapat di wilayah desa tertinggal, dan hasil pertaniannya tidak cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup penggarap bersama keluarganya (Suwardjo et al.,
1995 dan Karama dan Abdurrachman, 1995 dalam Suyana, 2003).

2.2.Konservasi Lahan Kering

Lahan kering di daerah aliran sungai sebagian besar merupakan


hamparan tanah kritis yang mengalami degradasi karena pengangkutan massa
tanah, pencucian hara dan pengangkutan hara oleh hasil tanaman. Bahan
organik yang merupakan salah satu bahan pembenah tanah (soil conditioner)
dalam perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah biasanya ikut pula tercuci
(Haryati, dkk.,1990) Kelerengan yang cukup curam menyebabkan penipisan
solum tanah, ditambah dengan berbagai proses di atas secara kait mengait ikut
pula menurunkan produktifitas lahan. Model pertanian konservasi yang
diterapkan di atas lahan-lahan kering di daerah aliran sungai ditujukan pada dua
masalah utama yakni upaya intensifikasi dan konservasi lahan. Intensifikasi
berupaya membudidayakan lahan kering yang melibatkan upaya-upaya
peningkatan kualitas tata cara budidaya.
Sedangkan konservasi lahan dalam satu paket teknologi pertanian yang
dapat berlangsung secara produktif, stabil dan berkesinambungan

10
Mempertimbangkan beberapa permasalahan yang ada, maka
pengelolaan lahan kering di daerah aliran sungai menitikberatkan pada tara cara
pengatasan masalah yang ditimbulkan oleh adanya 1) kemiringan lahan dan
berbagai kemungkinan akibat negatif ikutannya, dan 2) ketidakmampuan
tanahnya berfungsi sebagai lumbung air serta kemiskinan bahan organik dan
keharaan. Mengatasi permasalahan lahan kering berserta kemungkinan
pemanfaatannya akhirnya akan sampai kepada terciptanya pola tanam
konservasi yang cocok untuk lahan tersebut. Dengan demikian sistem usaha tani
konservasi yang diterapkan hendaknya menggunakan pendekatan terpadu
dalam memanfaatkan sumberdaya pertanian sebaik-baiknya di atas lahan kritis
atau marginal agar lebih produktif dan lestari potensinya tanpa melupakan
kaidah keterkaitan yang saling mendukung dan menguntungkan antar komponen
lahan.
Ada dua metoda konservasi lahan kering, yaitu metoda vegetatif dan meto
dasipil teknis.
A. Metoda Vegetatif
Metoda vegetatif yaitu metoda konservasi dengan menanam
berbagai jenis tanaman seperti tanainan penutup tanah, tanaman peng
uat teras,penanaman dalam strip, pergiliran tanaman serta penggunaan pupuk
organikdan mulsa.
1. Penanaman Tanaman Penutup Tanah
Tanaman penutup tanah berfungsi untuk mencegah erosi, menambah
bahanorganik clan memperbesar kemampuan tanah untuk menyerap
clan menahan airhujan yang jatuh. Ada 4 (empat) jenis tanaman
penutup tanah, yaitu :
a) Jenis merambat (rendah) ,contoh :Colopogonium mo conoides,
Centrosoma sp, Ageratum conizoides, Pueraria sp, clan lain - lain.
b) Jenis perdu/semak (sedang) , contoh : Crotalaria sp,
Acasia vilosa, clanlain-lain
c) Jenis pohon (tinggi), contoh - Leucaena leucephala
(lamtoro gung),Leucaena glauca (lamtoro lokal), Ablizia
falcatad. Jenis kacang-kacangan, contoh : Vigna sinensis
Dolichos lablab (komak)

11
2. Penanaman Rumput Makanan Ternak

Penanaman rumput makanan temak memegang peranan penting


dalamusahakni konservasi lahan kering. Beberapa contoh rumput makanan
temakyang dapat dipakai antara lain :

a) Brachiaria decumbens (rumput signal) - Panicum


m_uticum (Kolonjono)
b) Paspalum notatum (rumput bahia)
c) Panicum maximum (rumput benggala)
d)

2.3.Pengaturan pola tanam

Macam Jenis Pola Tanam


Pola tanam terbagi dua yaitu pola tanam monokultur dan pola tanam
polikultur.
a. Pola Tanam Monokultur
Pertanian monokultur adalah pertanian dengan menanam tanaman
sejenis.Misalnya sawah ditanami padi saja, jagung saja, atau kedelai saja.Tujuan
menanam secara monokultur adalah meningkatkan hasil pertanian. Kelebihan
sistem ini yaitu teknis budidayanya relatif mudah karena tanaman yang ditanam
maupun yang dipelihara hanya satu jenis. Sedangkan kelemahan sistem ini
adalah tanaman relative mudah terserang hama maupun penyakit.

b. Pola Tanam Polikultur


`Pola tanam Polikultur ialah pola pertanian dengan banyak jenis tanaman
pada satu bidang lahan yang terusun dan terencana dengan menerapkan aspek
lingkungan yang lebih baik. Keuntungan sistem ini antara lain :
a) Mengurangi serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT),
karena tanaman yang satu dapat mengurangi serangan OPT lainnya, selain itu
siklus hidup hama atau penyakit dapat terputus.
b) Menambah kesuburan tanah. Misalnya dengan
menanam tanaman yang mempunyai perakaran berbeda, misalnya tanaman
berakar dangkal ditanam berdampingan dengan tanaman
berakar dalam, maka tanah disekitarnya akan lebih gembur.

12
c) Memperoleh hasil panen yang beragam. Penanaman lebih dari satu
jenis tanaman akan menghasilkan panen yang beragam. Ini menguntungkan
karena bila harga salah satu komoditas rendah, dapat ditutup oleh harga
komoditas lainnya.

Sistem pola tanam polikultur juga memiliki kekurangan, yaitu:


a) Terjadi persaingan penyerapan unsur hara antar tanaman,
b) OPT banyak sehingga sulit dalam pengendaliannya.

Tanaman Polikultur Terbagi Menjadi:


 Tumpang sari (Intercropping), adalah penanaman lebih dari satu tanaman
pada waktu yang bersamaan atau selama periode tanam pada satu tempat
yang sama.
 Tumpang gilir ( Multiple Cropping ), dilakukan secara beruntun sepanjang
tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat
keuntungan maksimum.
 Tanaman Bersisipan ( Relay Cropping ), merupakan pola tanam dengan
menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok
(dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda).
 Tanaman Campuran ( Mixed Cropping), merupakan penanaman terdiri
beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun
larikannya, semua tercampur jadi satu. Lahan efisien, tetapi riskan
terhadap ancaman hama dan penyakit.
 Tanaman bergiliran ( Sequential Planting), merupakan penanaman dua
jenis tanaman atau lebih yang dilakukan secara bergiliran. Setelah
tanaman yang satu panen kemudian baru ditanam tanaman berikutnya
pada sebidang lahan yang sama

2.4.Pemanfaatan Potensi Lahan Kering

Pertumbuhan tanaman di lahan kering secara langsung dipengaruhi


oleh faktor iklim terutama curah hujan. Berbeda dengan padi sawah, yang
lingkungan tumbuhnya selalu tergenang air. Di lahan kering seringkali
mendapat berbagai tekanan (stress) karena kekeringan, keracunan dan
kekahatan berbagai unsur-unsur hara, selain gangguan berbagai penyakit
13
dan gulma. Curah hujan dapat dimanfaatkan secara seksama di lahan-lahan
kering, lebih baik lagi jika dimanfaatkan secara efisien sehingga dapat
mendukung proses produksi tanaman pangan semusim selama 2 musim
tanam, dengan asumsi bahwa kebutuhan air tanaman pangan sebesar 120
mm/bulan. Mengingat sebagian besar lahan kering di Indonesia bercurah
hujan antara 1.500 sampai 2.000 mm/tahun, maka potensi ini cukup
berpeluang untuk memenuhi kebutuhan tanaman pangan.

 Pengendalian erosi tanah

Pengendalian erosi tanah pada lahan kering dapat dilakukan dengan


usahatani konservasi. Penerapan teknik konservasi tanah berperan penting
dalam meningkatkan produktivitas lahan, memperbaiki sifat lahan yang rusak,
dan upayaupaya pencegahan kerusakan tanah akibat erosi. Pemakaian
istilah konservasi tanah seringkali diikuti dengan istilah konservasi air.
Meskipun keduanya berbeda tetapi saling terkait. Sasaran konservasi tanah
adalah meliputi keseluruhan sumberdaya lahan yang merangkum kelestarian
tanah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk dan mendukung
keseimbangan ekosistem. Pada dasarnya teknik konservasi tanah dibedakan
menjadi tiga cara (Arsyad, 1989; Notohadiprawiro, 1978; Subagyono et al.,
2003) yaitu a) Teknik konservasi tanah secara mekanik, b) Teknik konservasi
tanah secara vegetatif, dan c) Teknik konservasi tanah secara kimiawi. Teknik
konservasi tanah secara mekanik adalah upaya menciptakan fisik lahan atau
bidang lahan pertanian sehingga sesuai dengan kaidah konservasi tanah dan
air. Teknik ini meliputi pembuatan teras (bangku, individu, kredit), guludan dan
pematang searah kontur dan sebagainya (Agus et al., 1999). Untuk

meningkatkan pemanenan air (water harvesting) dibuatkan bangunan


resapan air, embung dan rorak. Teras bangku telah lama dikenal dan
dipraktekkan petani di Indonesia. Meskipun biaya pembuatan teras bangku
lebih mahal dibandingkan teras gulud, namun dari kemampuannya (menekan
air aliran permukaan, menahan genangan air, dan memfasilitasi perkolasi)

14
lebih baik dibandingkan dengan teras gulud. Teknik konservasi tanah secara
vegetatif adalah penggunaan tanaman maupun sisa-sisa tanaman sebagai
media pelindung tanah dari erosi, penghambat laju aliran limpas permukaan
(run off), peningkatan kadar lengas tanah, serta perbaikan sifat-sifat fisik,
kimia dan biologi tanah. Teknik konservasi tanah secara kimiawi adalah
penggunaan bahan kimia, baik organik maupun anorganik, yang bertujuan
untuk memperbaiki sifat-sifat tanah dalam menekan laju erosi. Teknik ini
jarang digunakan karena tergolong mahal dan hasilnya hampir sama dengan
penggunaan bahan-bahan alami. Bahan kimiawi yang termasuk dalam
kategori ini adalah bahan pembenah tanah (soil conditioner).

 Pengendalian gulma, hama, dan penyakit


Di lahan kering, pertumbuhan gulma merupakan masalah yang
cukup berat, karena bersaing dengan tanaman pangan, dalam hal
cahaya, hara, air, dan ruangan. Keberhasilan tanaman pangan tergantung
dari keberhasilan pengendalian gulma. Pola tanam sepanjang tahun yang
sesuai, dapat secara efektif mengendalikan gulma selain perberantasan
caracara mekanis dan kimiawi. Tekanan lingkungan berupa serangan
hama dan penyakit tanaman adalah kendala peningkatan produktivitas
tanaman pangan. Tikus merupakan hama padi penting yang masih belum
tertanggulangi. Di samping itu penggerek batang, lundi, lalat bibit dan
walang sangit adalah hama serangga yang umum menyerang tanaman
pangan. Di antara penyakit, "blast" adalah penyakit padi yang berbahaya
dan dapat menggagalkan panen. Hingga saat ini untuk memperoleh
varietas tanaman pangan yang tahan terhadap hama dan penyakit
tersebut diatas cukup sulit. Walaupun demikian, dalam keadaan tertentu
langkah-langkah agronomis dapat memperkecil risiko kegagalan panen
tanaman pangan.

 Introduksi teknologi
Ekstensifikasi dan intensifikasi pertanaman tanaman semusim di
lahan kering perlu dilakukan. Dalam pemanfaatan lahan-lahan kering

15
harus dikembangkan teknologi yang ramah lingkungan, dengan
memperhatikan aspek konservasi tanah dan air untuk menjaga kelestarian
sistem produksi. Di lahan kering beriklim basah secara umum memiliki
karakteristik kesuburan tanah relatif rendah, pH rendah, dan keracunan Al,
sedangkan di lahan kering beriklim kering lahannya relatif subur namun
kahat hara S, hara mikro dan kurang air. Selain itu masalah hama (lalat
bibit, belalang, walang-sangit, dan orongorong) harus diwaspadai.
Kendala hama tersebut menyebabkan hasil tanaman padi gogo hanya 1,5
t GKG/ha. Memperluas penggunaan varietas berpotensi hasil tinggi
dengan pengendalian hama wereng coklat dan penggerak batang serta
pemantauan dan pengendalian hama/penyakit lainnya melalui pendekatan
PHT, peluang peningkatan produktivitas tanaman pangan cukup besar.

 Pengembangan kolam penampung air


Pengembangan kolam penampung air hujan berupa embung (small
farm reservoir) lebih A. Abas Idjudin dan S. Marwanto : Reformasi
Pengelolaan Lahan Kering untuk Mendukung Swasembada Pangan,
menjamin ketersediaan air bagi padi gogo pada musim hujan dan
tanaman palawija (kedelai, jagung, sayuran dan sebagainya) pada musim
kemarau. Dengan demikian intensitas tanam meningkat dengan pola
tanam padi gogopalawija-palawija.
 Penataan distribusi air
Penataan distribusi air dari kolam penampung air adalah sangat
penting agar pola tanam padi-palawija-palawija dapat lebih berkembang.
Penerapan teknologi hemat air dapat dikembangkan di lahan kering.
Dampak konservasi air dapat bermanfaat antara lain terhadap tanaman
tahunan, tambahan pendapatan, kontribusi lengas tanah dan dampak
pengembangannya.

2.5.Potensi Lahan Kering di Kabupaten Sumba Timur Nusa Tenggara Timur

Wilayah Kabupaten Sumba Timur dikenal memiliki areal lahan kering relatif luas.
Menurut laporan BPS (2003), total lahan kering di Sumba Timur mencapai 670,5
ribu hektar. Dari lahan kering tersebut yang potensial untuk pengembangan

16
komoditas tanaman pangan sekitar 52,5 ribu hektar atau sekitar 8% dari total luas
lahan kering, berupa lahan tegal/kebun dan ladang. Komoditas tanaman pangan
yang dapat dikembangkan meliputi padiribu hektar. Dari lahan kering tersebut
yang potensial untuk pengembangan komoditas tanaman pangan sekitar 52,5
ribu hektar atau sekitar 8% dari total luas lahan kering, berupa lahan tegal/kebun
dan ladang. Komoditas tanaman pangan yang dapat dikembangkan meliputi padi
ladang, jagung, ubikayu, ubijalar, kacang tanah, kedelai, kacang hijau dan
sorghum. Mayoritas penduduk bermata pencaharian tanaman pangan dan
merupakan salah satu andalan utama bagi peningkatan ketahanan pangan dan
kesejahteraan petani. Bagi sebagian besar keluarga petani hasil pertanian selain
dipergunakan untuk pemenuhan kebutuhan pangan keluarga, juga menjadi
sumber pendapatan untuk pemenuhan hidup ekonomi rumah tangga. Kacang
tanah memberikan kontribusi kepada pendapatan keluarga di Kabupaten Sumba
Timur secara signifikan, akan tetapi penanaman kacang tanah belum dilakukan
secara optimal. a) Identifikasi Faktor Potensi, Masalah dan Peluang Potensi dan
hambatan pengembangan usahatani kacang tanah di lahan kering NTT diketahui
dengan menganalisis pengaruh faktor lingkungan baik internal maupun eksternal
(Tabel 1). Analisis faktor internal menggambarkan faktor-faktor apa saja yang
menjadi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh usahatani kacang tanah.
Analisis faktor eksternal menggambarkan faktor-faktor apa saja yang menjadi
peluang dan ancaman yang dimiliki oleh usahatani kacang tanah. Faktor-faktor
tersebut teridentifikasi di Tabel 1. Teridentifikasi potensi dan masalah yang
terjaring disebabkan pengaruh aspek internal dan aspek eksternal (lingkungan).
Pengaruh aspek internal yang berupa faktor kekuatan (S) ada 3 variabel dan
faktor kelemahan (W) ada 4 variabel. Sedangkan aspek eksternal yang berwujud
faktor peluang (O) ada 2 variabel dan faktor ancaman (T) ada 3 variabel (Tabel 1).
Untuk mengetahui faktor yang sangat berpengaruh dari potensi maupun masalah
yang ada dilakukan analisis Matrik Ifas, Efas dan Matrik Keterkaitan. Apabila
disimpulkan ke dalam potensi dan masalah kacang tanah di Sumba Timur, maka
potensinya berada di faktor kekuatan dan faktor peluang. Secara terinci potensi
kacang tanah adalah ladang, jagung, ubikayu, ubijalar, kacang tanah, kedelai,

17
kacang hijau dan sorghum. Mayoritas penduduk bermata pencaharian tanaman
pangan dan merupakan salah satu andalan utama bagi peningkatan ketahanan
pangan dan kesejahteraan petani. Bagi sebagian besar keluarga petani hasil
pertanian selain dipergunakan untuk pemenuhan kebutuhan pangan keluarga,
juga menjadi sumber pendapatan untuk pemenuhan hidup ekonomi rumah
tangga. Kacang tanah memberikan kontribusi kepada pendapatan keluarga di
Kabupaten Sumba Timur secara signifikan, akan tetapi penanaman kacang tanah
belum dilakukan secara optimal.

BAB III

18
PENUTUP

3.1.Kesimpulan

Usahatani kacang tanah yang dilakukan petani kabupaten Sumba Timur, Provinsi
Nusa Tenggara Timur merupakan usaha “cash crop” yang diharapkan petani untuk
memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kontribusi pendapatan dari usahatani kacang
tanah berkisar 30% dari total pengeluaran rumah tangga dalam setahun.

Di samping itu terdapat potensi dan peluang dalam pengembangan kacang


tanah adalah kesesuaian agroekologi untuk kacang tanah, teknologinya tersedia,
biomassa termanfaatkan untuk pakan, permintaan kacang tanah tinggi dan pasarnya
sudah terbentuk.

3.2. Saran

Penulis menyadari bahwa masih banyak kesalahan dalam penyusunan makalah


oleh sebab itu diperlukan kritik dari pembaca..

DAFTAR PUSTAKA

19
Badan Litbang Pertanian. 2012. Deskripsi Varietas Unggul Baru Kacang-
kacangan dan Umbi-umbian. Kementan.
Heriyanto, Krisdiana R. 2011. Dinamika preferensi petani dan penyebaran
varietas unggul kedelai di Provinsi Jawa Timur. Jurnal Cakrawala 5(2):
115-124.

Kurniawan AY. 2011. Analisis daya saing usahatani jagung pada lahan kering
di Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan. Jurnal Agribisnis
Perdesaan1(2):83-97.

20
21