Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

I. Latar Belakang

Bayi lahir dalam tahap perkembangannya akan mempelajari

beberapa kemampuan penting (misalnya berbicara, bergaul dengan

lingkungannya, serta berjalan) menurut tahap berkelanjutan yang dapat

diperkirakan dengan peranan motivasi, pengajaran dan dukungan

selama pertumbuhannya. Kemampuan-kemampuan tersebut dikenal sebagai

tahapan perkembangan.1

Periode terpenting pertumbuhan dan perkembangan anak adalah

umur di bawah 5 tahun. Beberapa domain perkembangan tersebut antara

lain motorik halus, motorik kasar, bahasa/berbicara, personal

sosial/interaksi sosial, kognitif, dan aktivitas sehari-hari. Global

developmental delay (GDD) atau keterlambatan perkembangan global

(KPG), merupakan suatu keadaan ditemukannya keterlambatan yang

bermakna lebih atau sama dengan 2 domain perkembangan tersebut. 1,2,3

Anak yang mengalami retardasi mental dalam perkembangannya

berbeda dengan anak-anak normal. Bahkan, kemungkinan besar mereka

adalah anak-anak yang akan memiliki ketergantungan sangat tinggi

terhadap lingkungannya terutama orang tua dan saudara-saudaranya, karena

1
anak dengan retardasi mental (Global Developmental Delay) akan

mengalami keterlambatan dalam semua area perkembangan. 4

Keterlambatan bermakna artinya pencapaian kemampuan pasien

kurang dari 2 standar deviasi (SD) dibandingkan dengan rata-rata populasi

pada umur yang sesuai. Istilah GDD/KPG dipakai untuk anak umur kurang

dari 5 tahun. Pada anak berumur lebih dari 5 tahun saat tes IQ sudah dapat

dilakukan dengan hasil yang akurat, istilah yang dipakai adalah retardasi

mental.3,5

Angka kejadian keterlambatan perkembangan secara umum

sekitar 10% anak-anak di seluruh dunia. Sedangkan angka kejadian KPG

diperkirakan 1%-3% anak-anak berumur <5 tahun. Etiologi KPG dapat

dibedakan menjadi kejadian prenatal, perinatal, pasca natal, dan idiopatik.

Di Indonesia, suatu penelitan di seratus sepuluh wilayah puskesmas di

Pulau Jawa tahun 1987 mendapatkan 13% balita berpotensi mengalami

keterlambatan perkembangan. Penelitian di daerah kumuh perkotaan di

Bandung tahun 1998, ditemukan 28,5% balita mengalami keterlambatan

perkembangan. 4

Berdasarkan hasil pelayanan Stimulasi Deteksi dan Intervensi

Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) pada 500 anak dari lima Wilayah DKI

Jakarta, ditemukan 57 anak (11,9%) mengalami kelainan tumbuh kembang.

Kelainan tumbuh kembang yang paling banyak yaitu delayed development

(pertumbuhan yang terlambat) 22 anak, kemudian 14 anak mengalami

2
global development delay, 10 anak gizi kurang, 7 anak microcephali, dan 7

anak yang tidak mengalami kenaikan berat badan dalam beberapa bulan

terakhir. 2

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Definisi

Global development delay didefinisikan sebagai suatu

keterlambatan yang signifikan pada 2 atau lebih aspek perkembangan

motorik kasar/halus, kognitif, bicara/bahasa, personal/sosial, atau aktivitas

dalam kehidupan sehari-hari). Keterlambatan yang signifikan bila 2 atau

lebih standard deviasi di bawah rata-rata kondisi normal pada skrining

perkembangan atau tes pemeriksaan. 9

Istilah Global Developmental Delay dalam beberapa referensi

disebut pula dengan anak berkelainan mental subnormal, retardasi mental,

defisit mental, lemah ingatan, tunagrahita. Semua makna dari istilah

tersebut sama, yakni menunjuk kepada seseorang yang memiliki kecerdasan

mental dibawah normal (intelegensi di bawah rata-rata). 1

Menurut pendapat Branata 1979 seseorang dikategorikan

retardasi mental atau Global Developmental Delay, jika ia memiliki tingkat

kecerdasan yang sedemikian rendahnya (dibawah normal), sehingga untuk

meniti tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara

spesifik, termasuk dalam program pendidikannya. 1

Tumbuh yaitu setiap perubahan dari tubuh yang berhubungan

dengan bertambahnya ukuran tubuh baik fisik (anatomis) maupun struktural

4
dalam arti sebagian atau keseluruhan. Indikator tumbuh meliputi berat

badan, tinggi badan, lingkar kepala, erupsi gigi, pusat osifikasi tulang.

Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill),

struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks, indikator perkembangan

yaitu dengan cara penilaian (skrinning). Deteksi dini perkembangan anak

dilakukan dengan cara pemeriksaan perkembangan secara berkala, apakah

sesuai dengan umur atau telah terjadi penyimpangan dari perkembangan

normal. Tindak lanjut dari skrinning adalah diagnostik perkembangan,

tujuannya untuk menentukan secara tepat tingkat perkembangan anak dan

penyebab terjadinya gangguan tersebut. 1

Perkembangan terlambat adalah umum, mempengaruhi 1-3%

populasi. Perkembangan terlambat didefinisikan sebagai keterhambatan

yang signifikan (lebih dari 2 standar deviasi dibawah rata-rata usia, yang

mengacu pada tes perkembangan) pada 1 atau lebih beberapa pokok

perkembangan berikut yaitu: 1

 Motorik kasar

 Penglihatan dan motorik halus

 Kemampuan komunikasi; pendengaran, bicara, pemahaman dan

bahasa

 Sosial, emosi dan tingkah laku

Perkembangan terhambat merupakan istilah deskriftif untuk

anak-anak dengan kesulitan yang jelas terlihat lebih dini pada masa kanak-

5
kanak. Ini tidak termasuk suatu kelainan organik tertentu atau penyebab

suatu sindrom dan istilah ini tidak terdapat di ICD-10. 1

Perkembangan terhambat dapat dibedakan atas 2 kelompok yaitu

global development delay (terhambat pada 2 atau lebih komponen dan

seringnya pada semua komponen) dan development delay spesifik

(misalnya motorik, bahasa dan bicara, terlambat pada satu komponen). 1

ICD 10 WHO Geneva 1994, membagi retardasi mental atas 4

tingkat, yaitu : 1

1). Retardasi mental ringan

Individu dengan retardasi mental ringan dapat berbahasa namun

sedikit terlambat, sebagian besar menguasai penggunaan bahasa untuk

keperluan sehari-hari, mereka melakukan percakapan dan ikut terlibat

dalam wawancara klinik. Sebagian besar dari mereka dapat berdikari dalam

mengurus diri (makan, mandi, berpakaian, buang air besar dan kecil) dan

dalam kecakapan praktis dan domestik.

Kesulitan utama biasanya terlihat pada kerja akademik sekolah,

dan banyak yang mempunyai masalah khusus dalam membaca dan menulis.

Secara umum perilaku, kesulitan emosional dan sosial dari kelompok

retardasi mental ringan ini hampir serupa dengan orang dengan intelegensi

normal. Bila digunakan tes IQ yang baik maka rentang IQ 50-69 merupakan

petunjuk adanya retardasi mental ringan.

2). Retardasi mental berat

6
Sebagian besar individu dari kelompok ini menunjukkan adanya

gangguan akademik motorik yang jelas atau defisit lainnya, disertai adanya

kerusakan atau gangguan perkembangan susunansaraf pusat. IQ biasanya

berada dalam rentang 20-34.

3). Retardasi mental sangat berat

IQ kelompok ini ditaksir kurang dari 20, yang berarti individu

penyandangnya sangat terbatas dalam kemampuan memahami atau menurut

permintaan atau suruhan. Sebagian besar penyandangnya tidak mampu

bergerak atau mobilitasnya sangat terbatas. Mereka juga inkontinen dan

komunikasinya bersifat nonverbal dan sedikit. Mereka tidak mampu

mengurus kebutuhan dasarnya. Etiologi organik biasanya dapat di

identifikasi pada sebagian besar kasus. Ketidakmampuan neurologik atau

fisik yang berat yang mengganggu mobilitas sering ditemukan, demikian

juga epilepsi, daya penglihatan dan pendengaran.

2.2. Epidemiologi

Prevalensi GDD diperkirakan 5-10 persen dari populasi anak di

dunia dan sebagian besar anak dengan GDD memiliki kelemahan pada

semua tahapan kemampuannya. Sekitar 8 persen dari seluruh anak usia lahir

hingga 6 tahun di dunia memiliki masalah perkembangan dan

keterlambatan pada satu atau lebih area perkembangan.2 Sekitar 1-3 % anak

usia 0-5 tahun di dunia mengalami GDD.1

7
Sementara di Indonesia khususnya di Jakarta, telah dilakukan

Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak (SDIDTK).

Hasilnya, dari 476 anak yang diberi pelayanan SDIDTK, ditemukan 57

(11,9%) anak dengan kelainan tumbuh kembang. Adapun lima jenis

kelainan tumbuh kembang yang paling banyak dijumpai adalah, Delayed

Development (tumbuh kembang yang terlambat) sebanyak 22 anak, Global

Development Delay sebanyak 4 anak, gizi kurang sebayak 10 anak,

mikrochepali sebanyak 7 anak dan anak yang tidak mengalami kenaikan

berat badan dalam beberapa bulan terakhir sebanyak 7 anak. 3

2.3. Faktor Risiko

Faktor risiko untuk perkembangan yang terlambat dapat berasal

dari genetik maupun lingkungan. Anak-anak dengan kelainan genetik

seperti sindrom Down dan sindrom Fragil X memiliki perkembangan yang

terlambat yang berhubungan dengan kondisi mereka. Perkembangan juga

dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang antara lain :

 Paparan dari agen berbahaya sebelum atau setelah lahir

 Nutrisi yang rendah selama dikandung ibu (selama kehamilan)

 Paparan dari toksin (misalnya obat ) saat utero

 Infeksi dari ibu ke bayi selama kehamilan (intrauterine) misalnya

measles, HIV

8
 Kelahiran prematur

 Nutrisi yang rendah

 Anak yang terabaikan

Selain itu, beberapa kondisi di bawah ini juga menyebabkan

anak berisiko untuk terjadinya global development delay yaitu:

 Prematuritas

 Malformasi serebral

 Kelainan kromosom

 Infeksi

 Gangguan metabolik

 Hipotiroidisme

 Hidrocefalus

 Sindrom Rhett

Faktor risiko untuk perkembangan yang terlambat memiliki

dampak kumulatif. Semakin banyak faktor risiko yang ada, semakin besar

risiko anak mengalami perkembangan yang terlambat.1

Pendidikan orang tua berpengaruh terhadap perkembangan anak

terutama pendidikan ibu. Pendidikan ibu yang rendah mempunyai risiko

untuk terjadinya keterlambatan perkembangan anak, disebabkan ibu belum

tahu cara memberikan stimulasi perkembangan anaknya. Ibu dengan

pendidikan lebih tinggi lebih terbuka untuk mendapat informasi dari luar

9
tentang cara pengasuhan anak yang baik, menjaga kesehatan, dan

pendidikan anak. Pendidikan ibu 63% lebih dari SMU, cukup baik untuk

mendidik anak walaupun tidak ada hubungan antara pendidikan ibu dengan

gangguan perkembangan anak. 1,8

2.4. Etiologi

Herediter dan faktor lingkungan mungkin mempunyai peranan

dalam etiologi dari retardasi mental. Orang tua seharusnya mengetahui

secara cepat apa yang menyebabkan anak mereka mengalami gangguan

bertumbuh. Di dalam beberapa kasus dari retardasi mental, khususnya pada

kasus tertentu, etiologi tidak dapat disimpulkan sebelum melakukan

pemeriksaan secara lengkap. Diagnosis etiologi sangat penting untuk

ditegakkan karena pada beberapa pasien kejadian didapatkan karena adanya

kelainan faktor genetik yang didapatkan dari orang tua. Penyebab retardasi

mental bisa di dapatkan saat prenatal, perinatal atau faktor postnatal. 1,7

GDD dapat bermanifestasi dengan sejumlah besar gangguan

neurodevelopment (dari keterbatasan kemampuan belajar hingga gangguan

neuromuskular). Evaluasi yang penuh ketelitian mengenai investigasi dapat

mengungkapkan penyebab pada 50-70% kasus. Ini meninggalkan minoritas

besar dimana penyebab tidak dapat ditentukan. Ini masih dapat dilakukan

investigasi GDD berapapun umur anak (khususnya anak dengan disabilitas

10
yang signifikan dapat tidak terinvestigasi secara adekuat). Berikut di bawah

ini dapat dilihat etiologi dari GDD tersebut. 15,

Penyebab utama dari GDD ini umumnya kelainan kromosom

dan abnormalitas dari struktur otak.19 Dari suatu studi yang dilakukan oleh

Sachadeva terhadap pasien GDD dalam pengkajian etiologi GDD tersebut

dapat dilihat bahwa penyebab GDD yang yang paling banyak masih tidak

diketahui (28%) dan yang diketahui paling banyak yaitu nutrisi yang rendah

dan prematuritas serta asfiksia saat lahir. Untuk lebih jelasnya komponen

pembagian etiologi perkembangan yang terlambat dapat dilihat pada

diagram pie berikut. 1

Pertumbuhan meliputi peningkatan ukuran tubuh yaitu tinggi

badan, berat badan, lingkar kepala. Perkembangan meliputi peningkatan

fungsi-fungsi individu yaitu sensorik, motorik, kognitif, komunikasi, emosi

sosial dan kemandirian. Dan faktor penentu tumbuh kembang anak adalah

genetik dan proses sejak kehamilan (internal) serta gizi, penyakit, aktivitas

fisik, kualitas pengasuh/keluarga, teman, dan sekolah (eksternal)

Anak GDD atau retardasi mental bukanlah berarti mereka tidak

akan berkembang lagi. Namun, perlu pula dijelaskan bahwa walaupun akan

ada perkembangan dan kemajuan, anak retardasi mental tidak akan

mencapai tingkat anak yang normal yang sebaya. Hanya pada retardasi

mental yang sangat ringan sesekali akan terjadi pengejaran perkembangan

sampai normal. 2,1

11
Anak yang mengalami retardasi mental (Global developmental

delay) pada umumnya tidak mempunyai keterampilan untuk melakukan

kemampuan merawat diri sendiri dengan baik. Mereka biasanya mengalami

kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu sehingga sulit dimengerti, dan

umumnya mereka tidak mampu untuk mengingat instruksi atau perintah

verbal secara berurutan. Ketepatan (keakuratan) respon anak retardasi

mental kurang daripada respon anak normal. Anak dengan retardasi mental

mengalami kesulitan untuk cepat menangkap stimulus yang diberikan. Hal

ini disebabkan oleh adanya kerusakan atau penyimpangan perkembangan

yang bermakna secara klinis dari susunan syaraf pusat. 2,1

2.6. Penegakan Diagnosis

Adapun cara penegakkan diagnosis penyimpangan tumbuh

kembang pada anak adalah sebagai berikut : 2,3

1) Anamnesis : Keluhan orang tua dan riwayat tumbuh kembang (lisan

dan tertulis/kuesioner skrinning perkembangan anak)

Riwayat klinik mesti dikaji secara komprehensif, dan mesti

termasuk pengkajian mengenai prenatal, perinatal dan postnatal. Ibu

mesti mesti ditanyakan mengenai riwayat mengkonsumsi obat-

obatan selama kehamilan dan adanya ancaman keguguran sejak

dini. Juga penting untuk di evaluasi apakah terdapat bukti adanya

riwayat ensefalopati neonatus dan gangguan motorik yang signifikan

dengan permasalahan sebelumnya terkait pada periode perinatal.

12
Dan ini harus dipastikan apakah anak-anak dengan perkembangan

yang terhambat atau mengalami regresi, dan riwayat rinci mengenai

keluarga juga perlu dikaji.2,4

2) Pemeriksaan :

- Observasi dan pemeriksaan (bentuk muka, tubuh, tindak tanduk anak,

hubungan anak dengan orang tuanya/pengasuhnya, sikap anak

terhadap pemeriksa)

Pemeriksaan fisik yang lengkap mesti dilakukan termasuk :24

Ukuran lingkar kepala occipitofrontalis untuk anak-anak dan orang

tua, di ukur dan dilakukan plot. Gambaran dismorfik, stigmata

neurokutaneus, pemeriksaan abdomen untuk adanya organomegali,

tulang belakang (gaya berjalan dan refleks fisiologis maupun

patologis), mata (mungkin memerlukan oftalmologis)

3) Penilaian Pertumbuhan

Plot pada kurva pertumbuhan yang sesuai dengan standard yang

dipakai :

1. PB/U, PB/BB, BB/U. NCHS/CDC 2000

2. BB/U. KMS – WHO

3. Lingkar kepala Nellhaus

4. Lingkar lengan

5. Lingkar dada

4). Penilaian Maturitas

13
Pertumbuhan pubertas (Tanner) : anak perempuan (payudara, haid,

rambut pubis). Anak laki-laki (testis, penis, rambut pubis). Umur tulang

(bone age).

5). Penilaian perkembangan :

Skrinning dengan instrumen KPSP, KMME, CHAT, GPPH, Denver

II, Munchen, bayley, atau lainnya.

6). Pemeriksaan lain yang diperlukan atas indikasi :

- radiologi : foto tengkorak, CT scan/MRI

- Labolatorium : Darah (umum atau hormonal), urine tergantung

penyakit atau kelainan organik yang mendasari.

Pemeriksaan serial perlu dilakukan karena mungkin terdapat

perubahan fenotip seiring dengan berjalannnya waktu. Bila

diagnosis masih belum jelas dari riwayat klinik penyakit dan

pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang lini pertama mesti

dilakukan.

- Fungsi pendengaran (TDD), Fungsi penglihatan (TDL) dll.

7). Klasifikasi / Diagnosis kerja

Setelah dilakukan skrinning kemudian perlu ditetapkan apakah

anak termasuk kategori normal atau menyimpang (terlambat atau terlalu

cepat dibandingkan dengan standar).

Sebagian besar investigasi tampaknya telah dilakukan pada fase

awal kehidupan anak; pemeriksaan medik yang lebih jauh khususnya

14
investigasi genetik dan teknik neuroimaging dapat memungkinkan

kemungkinan diagnosis yang lebih tepat.1,5,

Bila diagnosis GDD tidak dapat ditegakkan dari riwayat klinik

penyakit lengkap dan pemeriksaan fisik, maka mesti dilakukan pemeriksaan

penunjang lini pertama seperti pada diagram di atas. Dilakukan

pemeriksaan fungsi hormon tiroid untuk 2 alasan yaitu, pertama, hipotiorid

merupakan gangguan yang dengan mudah ditangani, dengan maksud bila

diagnosis luput. Yang kedua, banyak kelainan kromosomal yang

dihubungkan dengan peningkatan risiko hipotiroid, untuk contohnya trisomi

21, 45X dan deplesi 22q11. Urat juga termasuk lebih stabil dibandingkan

ammonia dan laktat dan ini mudah untuk mendiagnosis kelainan/gangguan

metabolisme purin, yang dapat muncul berupa kelainan global delay

terisolasi. Disini juga diajukan pemeriksaan defisiensi besi, karena hal ini

berhubungan dengan perkembangan yang terlambat dan ini mudah diukur

serta ditangani. 2,5

Pemeriksaan neuroimaging direkomendasikan apabila GDD

dengan adanya gambaran temuan klinik dan pemeriksaan fisik berupa

abnormalitas ukuran kepala, adanya kejang, atau adanya temuan patologis

pada pemeriksaan neurologi. Dengan teknik baru untuk neuroimaging

resolusi tinggi CT Scan dan MRI, temuan yang positif ditemukan pada 30-

60% pasien GDD.2,4

15
EEG mesti dilakukan bila ditemukan adanya adanya riwayat

kejang atau regresi dalam berbicara. Rekaman EEG 24 jam mesti

dipertimbangkan.24

Pemeriksaan genetika umumnya berguna untuk mengevaluasi

kelainan dismorfik dan diagnosis suatu sindrom: dengan poin-poin utama

yaitu abnormalitas pertumbuhan (termasuk ukuran kepala), kerusakan

sensorik tertentu (penglihatan atau pendengaran), pola tingkah laku yang

tidak biasa (misalnya hiperfagia) atau riwayat keluarga dengan kondisi

tertentu.2,4

Diagnosis banding untuk GDD adalah Cerebral palsi. Serebral

palsi merupakan suatu kondisi neurologi kronik untuk gangguan motorik.

Yang dapat dikatakan pada serebral palsi terdiri atas 4 komponen yaitu: 1)

suatu kelainan/gangguan pergerakan dan posture tubuh, 2) Dihasilkan

sebagai akibat dari adanya kelainan otak, 3) terjadi pada awal kehidupan

dan 4)kondisi ini bersifat statik pada waktu dikenali. Pada GDD terdapat

keterlambatan atau gangguan berbagai komponen meliputi motorik

kasar/halus, pembicaraan/bahasa, fungsi kognitif dan sosial. Sedangkan

pada serebral palsi hanya terjadi gangguan motorik dan fungsi yang lain

dapat saja normal. Selain itu, pada serebral palsi murni disebabkan oleh

adanya kelainan anatomi pada otak sedangkan pada GDD selain kelainan

anatomi, penyebab lain terjadinya GDD bisa akibat kelainan metabolik dan

juga kromosomal. Pada kasus ini pasien mengalami kelainan yang bersifat

16
global (keseluruhan) tidak hanya motorik saja seperti yang telah dijelaskan

di atas sebelumnya. 5

2.7. Penatalaksanaan

Keluhan utama terbanyak orang tua membawa anaknya berobat

adalah “belum bisa berjalan dan berbicara”. Hal ini sesuai dengan rata-rata

umur pertama kali didiagnosis KPG yaitu lebih kurang dari 21,8 bulan,

berarti kebanyakan orang tua terlambat mengetahui keterlambatan

perkembangan pada anaknya sehingga penanganannya juga terlambat.

Keterlambatan perkembangan harus dideteksi secara dini dan stimulasi

sedini mungkin untuk mendapatkan hasil yang optimal.24,27,28

Etiologi GDD yang dapat diidentifikasi paling banyak adalah disgenesis

serebral. Oleh karena itu, dianjurkan pada pasien GDD yang tidak dapat

diidentifikasi etiologinya dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, sebaiknya


24
dilakukan pemeriksaan CT Scan atau MRI secara rutin. Sebanyak 25,8%

pasien GDD tidak diketahui etiologinya, sebagian di antaranya dicurigai

suatu sindrom genetik, tetapi pemeriksaan sitogenetik tidak dapat dilakukan

oleh karena suatu kendala biaya atau sebab lain. Pemeriksaan sitogenetika

juga dianjurkan secara rutin pada pasien yang etiologinya tidak dapat

diidentifikasi dari anamnesis dan pemeriksaan fisik. Kelompok etiologi

seperti palsi sereberal, infeksi TORCH, hipoksik iskemik ensefalopati dan

malnutrisi sebenarnya adalah etiologi yang dapat dicegah. 3

17
2.9. Prognosis

Seorang anak yang mengalami retardasi mental yang berat,

prognosis kedepannya ditentukan oleh keadaan anak tersebut pada masa

awal kanak-kanaknya. Kelainan yang ringan bisa jadi terjadi hanya

sementara. Anak-anak mungkin akan didiagnosis sebagai retardasi mental

pada awalnya, namun pada tahun-tahun usia berikutnya, mungkin

kelainannya akan dapat lebih dispesifikan, contohnya gangguan komunikasi

dan autism. 3

BAB III

18
PENUTUP

Perkembangan yang terlambat (developmental delay) adalah

ketertinggalan seara signifikan pada fisik, kemampuan kognitif, perilaku,

emosi, atau perkembangan sosial seorang anak dengan Global

Developmental Delay (GDD) adalah anak yang tertunda dalam mencapai

sebagian besar sehingga semua tahapan perkembangan pada usianya.

Untuk mencegah agar tidak terjadi hal tersebut maka pencegahan

sejak dini diperlukan untuk menghindari terjadinya kelinan-kelainan

tersebut. Melakukan konseling sebelum menikah sejak merencanakan untuk

punya anak sangat penting. Kontrol secara teratur ke dokter kandungan

untuk mendeteksi adanya kelainan kehamilan sejak dini khususnya infeksi

TORCH, memperbaiki nutrisi baik bagi ibu maupun bayinya, serta selalu

rutin mengkontrolkan anaknya untuk diukur mulai dari berat badan,tinggi

badan serta lingkar kepala ke dalam KMS.

Saat ini diperlukan upaya menyeluruh untuk menjaga tumbuh

kembang anak sedini mungkin sejak dalam kandungan sampai usia lima

tahun. Pemberian stimulasi diperlukan sesuai usia anak. Meningkatkan

peran-serta ibu untuk selalu mendapat informasi mengenai perkembangan

anak, sehingga apabila terjadi kecurigaan adanya gangguan atau

keterlambatan sedini mungkin untuk dideteksi perkembangannya.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Krugman SD, Dubowitz H. Failure to Thrive. American Family


Physician 2003;68:879-83.

2. Gahagan S. Failure to Thrive : A Consequence of Undernutrition.


Pediatrics in Review 2006;27:e1-e11.

3. Zenel JA. Failure to Thrive : A General Pediatrician's Perspective.


Pediatrics in Review 1997;18:371-8.

4. Schwartz ID. Failure To Thrive: An Old Nemesis in the New


Millennium. Pediatrics in Review 2000;21:257.

5. pencer NJ. Failure to Think about Failure to Thrive. Arch Dis Child
2007;92:95-6.

REFERAT Desember 2015

20
“GLOBAL DELAY”

Nama : Indah yuliarni

No. Stambuk : N 111 14 073

Pembimbing : dr. Effendy Salim, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA

PALU

2015

21