Anda di halaman 1dari 50

A.

Latar belakang

Saat ini dunia keperawatan semakin berkembang. Hampir dua dekade profesi ini menyerukan
perubahan paradigma. Perawat yang semula tugasnya hanyalah semata – mata menjalankan
perintah dokter kini berupaya meningkatkan perannya sebagai mitra kerja dokter seperti yang
sudah dilakukan di negara – negara maju. Perawat dianggap sebagai salah satu profesi
kesehatan yang harus dilibatkan dalam pencapaian tujuan pembangunan kesehatan baik di
dunia maupun di Indonesia.

Sebagai sebuah profesi yang masih berusaha menunjukkan jati diri, profesi keperawatan
dihadapkan pada banyak tantangan. Tantangan ini bukan hanya dari eksternal tapi juga dari
internal profesi ini sendiri. Untuk itu perawat dituntut memiliki skill yang memadai untuk
menjadi seorang perawat profesional.
Seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya kebutuhan pelayanan kesehatan
menuntut perawat saat ini memiliki pengetahuan dan keterampilan di berbagai bidang. Saat
ini perawat memiliki peran yang lebih luas dengan penekanan pada peningkatan kesehatan
dan pencegahan penyakit, juga memandang klien secara komprehensif.
B. Tujuan
Tujuan Umum : Adapaun tujuan penulisan makalah ini adalah agar kita dapat mengetahui
dan memahami perawat sebagai peran dan fungsi perawat profesional.
Tujuan khusus penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui dan memahami pengertian dari perawat sebagai profesi.
2. Mengetahui dan memahami pengertian perawat profesional.
3. Mengetahui dan memahami peran perawat profesional.
4. Mengetahui dan memahami fungsi perawat professional.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan keperawatan, baik di dalam maupun di
luar negeri sesuai dengan perundang undangan yang berlaku. ( PERMENKES RI NO.1239
Tahun 2001 tentang Registrasi dan Praktek perawat)
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional sebagai bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang meliputi aspek bio-psilo-sosio-spiritual yang komprehensif,
ditujukan kepada individu, keluarga atau masyarakat yang sehat maupun sakit yang
mencangkup siklus hidup manusia. ( Seminar Nasional Keperawatan 1983 )
Perawat profesional adalah Perawat yang bertanggungjawab dan berwewenang memberikan
pelayanan keparawatan secara mandiri dan atau berkolaborasi dengan tenaga Kesehatan lain
sesuai dengan kewenanganya.(Depkes RI,2002).

B. Peran perawat profesional


Peran adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang
sesuai kedudukannya dalam suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari
dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang
diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu.
1. Pemberi Asuhan Keperawatan
Sebagai pemberi asuhan keperawatan, perawat membantu klien mendapatkan kembali
kesehatannya melalui proses penyembuhan. Perawat memfokuskan asuhan pada kebutuhan
kesehatan klien secara holistic, meliputi upaya untuk mengembalikan kesehatan emosi,
spiritual dan sosial. Pemberi asuhan memberikan bantuan kepada klien dan keluarga klien
dengan menggunakan energy dan waktu yang minimal. Selain itu, dalam perannya sebagai
pemberi asuhan keperawatan, perawat memberikan perawatan dengan memperhatikan
keadaan kebutuhan dasar manusia yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan
keperawatan dengan menggunakan proses keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis
keperawatan agar bisa direncanakan dan dilaksanakan tindakan yang tepat dan sesuai dengan
tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian dapat dievaluasi tingkat perkembangannya.
Pemberian asuhan keperawatannya dilakukan dari yang sederhana sampai yang kompleks.
2. Pembuat Keputusan Klinis
Membuat keputusan klinis adalah inti pada praktik keperawatan. Untuk memberikan
perawatan yang efektif, perawat menggunakan keahliannya berfikir kritis melalui proses
keperawatan. Sebelum mengambil tindakan keperawatan, baik dalam pengkajian kondisi
klien, pemberian perawatan, dan mengevaluasi hasil, perawat menyusun rencana tindakan
dengan menetapkan pendekatan terbaik bagi klien. Perawat membuat keputusan sendiri atau
berkolaborasi dengan klien dan keluarga. Dalam setiap situasi seperti ini, perawat bekerja
sama, dan berkonsultasi dengan pemberi perawatan kesehatan professional lainnya (Keeling
dan Ramos,1995).
3. Pelindung dan Advokat Klien
Sebagai pelindung, perawat membantu mempertahankan lingkungan yang aman bagi klien
dan mengambil tindakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan serta melindungi klien dari
kemungkinan efek yang tidak diinginkan dari suatu tindakan diagnostic atau pengobatan.
Contoh dari peran perawat sebagai pelindung adalah memastikan bahwa klien tidak memiliki
alergi terhadap obat dan memberikan imunisasi melawat penyakit di komunitas. Sedangkan
peran perawat sebagai advokat, perawat melindungi hak klien sebagai manusia dan secara
hukum, serta membantu klien dalam menyatakan hak-haknya bila dibutuhkan. Contohnya,
perawat memberikan informasi tambahan bagi klien yang sedang berusaha untuk
memutuskan tindakan yang terbaik baginya. Selain itu, perawat juga melindungi hak-hak
klien melalui cara-cara yang umum dengan menolak aturan atau tindakan yang mungkin
membahayakan kesehatan klien atau menentang hak-hak klien. Peran ini juga dilakukan
perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam menginterpetasikan berbagai informasi
dari pemberi pelayanan atau informasi lain khususnya dalam pengambilan persetujuan atas
tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien, juga dapat berperan mempertahankan
dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas
informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi, hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan
hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.
4. Manager Kasus
Dalam perannya sebagai manager kasus, perawat mengkoordinasi aktivitas anggota tim
kesehatan lainnya, misalnya ahli gizi dan ahli terapi fisik, ketika mengatur kelompok yang
memberikan perawatan pada klien. Berkembangnya model praktik memberikan perawat
kesempatan untuk membuat pilihan jalur karier yang ingin ditempuhnya.
Dengan berbagai tempat kerja, perawat dapat memilih antara peran sebagai manajer asuhan
keperawatan atau sebagai perawat asosiat yang melaksanakan keputusan manajer (Manthey,
1990). Sebagai manajer, perawat mengkoordinasikan dan mendelegasikan tanggung jawab
asuhan dan mengawasi tenaga kesehatan lainnya.
5. Rehabilitator
Rehabilitasi adalah proses dimana individu kembali ke tingkat fungsi maksimal setelah
sakit, kecelakaan, atau kejadian yang menimbulkan ketidakberdayaan lainnya. Seringkali
klien mengalami gangguan fisik dan emosi yang mengubah kehidupan mereka. Disini,
perawat berperan sebagai rehabilitator dengan membantu klien beradaptasi semaksimal
mungkin dengan keadaan tersebut.
6. Pemberi Kenyamanan
Perawat klien sebagai seorang manusia, karena asuhan keperawatan harus ditujukan pada
manusia secara utuh bukan sekedar fisiknya saja, maka memberikan kenyamanan dan
dukungan emosi seringkali memberikan kekuatan bagi klien sebagai individu yang memiliki
perasaan dan kebutuhan yang unik. Dalam memberi kenyamanan, sebaiknya perawat
membantu klien untuk mencapai tujuan yang terapeutik bukan memenuhi ketergantungan
emosi dan fisiknya.
7. Komunikator
Keperawatan mencakup komunikasi dengan klien dan keluarga, antar sesama perawat dan
profesi kesehatan lainnya, sumber informasi dan komunitas. Dalam memberikan perawatan
yang efektif dan membuat keputusan dengan klien dan keluarga tidak mungkin dilakukan
tanpa komunikasi yang jelas. Kualitas komunikasi merupakan factor yang menentukan dalam
memenuhi kebutuhan individu, keluarga dan komunitas.
8. Penyuluh
Sebagai penyuluh, perawat menjelaskan kepada klien konsep dan data-data tentang
kesehatan, mendemonstrasikan prosedur seperti aktivitas perawatan diri, menilai apakah klien
memahami hal-hal yang dijelaskan dan mengevaluasi kemajuan dalam pembelajaran. Perawat
menggunakan metode pengajaran yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan klien serta
melibatkan sumber-sumber yang lain misalnya keluarga dalam pengajaran yang
direncanakannya.
9. Kolaborator
Peran perawat disini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri
dari dokter, fisioterapi, ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan
keperawatan yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk
pelayanan selanjutnya.
10. Edukator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan
kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehingga terjadi perubahab
perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
11. Konsultan
Peran disini adalah sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan
yang tepat untuk diberikan. Peran ini dilakukan atas permintaan klien tehadap informasi
tentang tujuan pelayanan keperawatan yang diberikan.
12. Pembaharu
Peran sebagai pembaharu dapat dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerjasama,
perubahan yang sistematis dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan
keperawatan.

C. Fungsi perawat
Definisi fungsi itu sendiri adalah suatu pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan perannya.
Fungsi dapat berubah disesuaikan dengan keadaan yang ada. dalam menjalankan perannya,
perawat akan melaksanakan berbagai fungsi diantaranya:

1. Fungsi Independen
Merupakan fungsi mandiri dan tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam
melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan
tindakan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti pemenuhan kebutuhan
fisiologis (pemenuhan kebutuhan oksigenasi, pemenuhan kebutuhan cairan dan elektrolit,
pemenuhan kebutuhan nutrisi, pemenuhan kebutuhan aktivitas dan lain-lain), pemenuhan
kebutuhan dan kenyamanan, pemenuhan kebutuhan cinta mencintai, pemenuhan kebutuhan
harga diri dan aktualisasi diri.
2. Fungsi Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau instruksi dari
perawat lain. Sehingga sebagai tindakan pelimpahan tugas yang diberikan. Hal ini biasanya
silakukan oleh perawat spesialis kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke perawat
pelaksana.
3. Fungsi Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan di antara satu
dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerja
sama tim dalam pemberian pelayanan seperti dalam memberikan asuhan keperawatan pada
penderita yang mempunyai penyakit kompleks. Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim
perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainnya, seperti dokter dalam memberikan
tindakan pengobatan bekerjasama dengan perawat dalam pemantauan reaksi obat yang telah
diberikan.

D. Faktor-faktor Penyebab Rendahnya Peran dan Fungsi Perawat


1. Keterlambatan pengakuan body of knowledge profesi keperawatan. Tahun 1985
pendidikan S1 keperawatan pertama kali dibuka di UI, sedangkan di negara barat pada tahun
1869.
2. Keterlambatan pengembangan pendidikan perawat professional.
3. Keterlambatan system pelayanan keperawatan (standart, bentuk praktik keperawatan,
lisensi).
E. Solusi Rendahnya Peran dan Fungsi Perawat
1. Pengembangan pendidikan keperawatan
Sistem pendidikan tinggi keperawatan sangat penting dalam pengembangan perawatan
professional, pengembangan teknologi keperawatan, pembinaan profesi dan pendidikan
keperawatan berkelanjutan. Akademi Keperawatan merupakan pendidikan keperawatan yang
menghasilkan tenaga perawatan professional dibidang keperawatan.

2. Memantapkan system pelayanan perawatan professional


Depertemen Kesehatan RI sampai saat ini sedang menyusun registrasi, lisensi dan sertifikasi
praktik keperawatan. Selain itu semua penerapan model praktik keperawatan professional
dalam memberikan asuhan keperawatan harus segera di lakukan untuk menjamin kepuasan
konsumen/klien.
3. Penyempurnaan organisasi keperawatan
Organisasi profesi keperawatan memerlukan suatu perubahan cepat dan dinamis serta
kemampuan mengakomodasi setiap kepentingan individu menjadi kepentingan organisasi dan
mengintegrasikannya menjadi serangkaian kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya.
Restrukturisasi organisasi keperawatan merupakan pilihan tepat guna menciptakan suatu
organisasi profesi yang mandiri dan mampu menghidupi anggotanya melalui upaya jaminan
kualitas kinerja dan harapan akan masa depan yang lebih baik serta meningkat.
Komitmen perawat guna memberikan pelayanan keperawatan yang bermutu baik secara
mandiri ataupun melalui jalan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain sangat penting dalam
terwujudnya pelayanan keperawatan professional. Nilai professional yang melandasi praktik
keperawatan dapat di kelompokkan dalam :
1. Nilai intelektual
Nilai intelektual dalam prtaktik keperawatan terdiri dari
a. Body of Knowledge
b. Pendidikan spesialisasi (berkelanjutan)
c. Menggunakan pengetahuan dalam berpikir secara kritis dan kreatif.
2. Nilai komitmen moral
Pelayanan keperawatan diberikan dengan konsep altruistic, dan memperhatikan kode etik
keperawatan. Menurut Beauchamp & Walters (1989) pelayanan professional terhadap
masyarakat memerlukan integritas, komitmen moral dan tanggung jawab etik.
Aspek moral yang harus menjadi landasan perilaku perawat adalah :
a. Beneficience
selalu mengupayakan keputusan dibuat berdasarkan keinginan melakukan yang terbaik dan
tidak merugikan klien. (Johnstone, 1994)
b. Fair
Tidak mendeskriminasikan klien berdasarkan agama, ras, social budaya, keadaan ekonomi
dan sebagainya, tetapi memprlakukan klien sebagai individu yang memerlukan bantuan
dengan keunikan yang dimiliki.
c. Fidelity
Berperilaku caring (peduli, kasih sayang, perasaan ingin membantu), selalu berusaha
menepati janji, memberikan harapan yang memadahi, komitmen moral serta memperhatikan
kebutuhan spiritual klien.
3. Otonomi, Kendali dan Tanggung Gugat
Otonomi merupakan kebebasan dan kewenangan untuk melakukan tindakan secara mandiri.
Hak otonomi merujuk kepada pengendalian kehidupan diri sendiri yang berarti bahwa
perawat memiliki kendali terhadap fungsi mereka. Otonomi melibatkan kemandirian,
kesedian mengambil resiko dan tanggung jawab serta tanggung gugat terhadap tindakannya
sendiribegitupula sebagai pengatur dan penentu diri sendiri. Kendali mempunyai implikasi
pengaturan atau pengarahan terhadap sesuatu atau seseorang. Bagi profesi keperawatan, harus
ada kewenangan untuk mengendalikan praktik, menetapkan peran, fungsi dan tanggung
jawab anggota profesi. Tanggung gugat berarti perawat bertanggung jawab terhadap setiap
tindakan yang dilakukannya terhadap klien.
Peningkatan kualitas organisasi profesi keperawatan dapat dilakukan melalui berbagai cara
dan pendekatan antara lain :
1. Mengembangkan system seleksi kepengurusan melalui penetapan kriteria dari berbagai
aspek kemampuan, pendidikan, wawasan, pandangan tentang visi dan misi organisasi,
dedikasi serta keseterdiaan waktu yang dimiliki untuk organisasi.
2. Memiliki serangkaian program yang kongkrit dan diterjemahkan melalui kegiatan
organisasi dari tingkat pusat sampai ke tingkat daerah. Prioritas utama adalah rogram
pendidikan berkelanjutan bagi para anggotanya.
3. Mengaktifkan fungsi collective bargaining, agar setiap anggota memperoleh penghargaan
yang sesuai dengan pendidikan dan kompensasi masing-masing.
4. Mengembangkan program latihan kepemimpinan, sehingga tenaga keperawatan dapat
berbicara banyak dan memiliki potensi untuk menduduki berbagai posisi di pemerintahan
atau sector swasta.
5. Meningkatkan kegiatan bersama dengan organisasi profesi keperawatan di luar negeri,
bukan anya untuk pengurus pusat saja tetapi juga mengikut sertakan pengurus daerah yang
berpotensi untuk dikembangkan.

Kiat keperawatan (nursing arts) lebih difokuskan pada kemampuan perawat untuk
memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif dengan sentuhan seni dalam arti
menggunakan kiat – kiat tertentu dalam upaya memberikan kenyaman dan kepuasan pada
klien. Kiat – kiat itu adalah :
• Caring, menurut Watson (1979) ada sepuluh faktor dalam unsur – unsur karatif yaitu :
nilai – nilai humanistic – altruistik, menanamkan semangat dan harapan, menumbuhkan
kepekaan terhadap diri dan orang lain, mengembangkan ikap saling tolong menolong,
mendorong dan menerima pengalaman ataupun perasaan baik atau buruk, mampu
memecahkan masalah dan mandiri dalam pengambilan keputusan, prinsip belajar – mengajar,
mendorong melindungi dan memperbaiki kondisi baik fisik, mental , sosiokultural dan
spiritual, memenuhi kebutuhan dasr manusia, dan tanggap dalam menghadapi setiap
perubahan yang terjadi.
• Sharing, artinya perawat senantiasa berbagi pengalaman dan ilmu atau berdiskusi dengan
kliennya.
• Laughing, artinya senyum menjadi modal utama bagi seorang perawat untuk
meningkatkan rasa nyaman klien.
• Crying, artinya perawat dapat menerima respon emosional diri dan kliennya.
• Touching, artinya sentuhan yang bersifat fisik maupun psikologis merupakan komunikasi
simpatis yang memiliki makna (Barbara, 1994)
• Helping, artinya perawat siap membantu dengan asuhan keperawatannya
• Believing in Others, artinya perawat meyakini bahwa orang lain memiliki hasrat dan
kemampuan untuk selalu meningkatkan derajat kesehatannya.
• Learning, artinya perawat selalu belajar dan mengembangkan diri dan keterampilannya.
• Respecting, artinya memperlihatkan rasa hormat dan penghargaan terhadap orang lain
dengan menjaga kerahasiaan klien kepada yang tidak berhak mengetahuinya.
• Listening, artinya mau mendengar keluhan kliennya
• Felling, artinya perawat dapat menerima, merasakan, dan memahami perasaan duka ,
senang, frustasi dan rasa puas klien.
• Accepting, artinya perawat harus dapat menerima dirinya sendiri sebelum menerima
orang lain.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional sebagai bagian integral dari
pelayanan kesehatan yang meliputi aspek bio-psilo-sosio-spiritual yang komprehensif,
ditujukan kepada individu, keluarga atau masyarakat yang sehat maupun sakit yang
mencangkup siklus hidup manusia. Keperawatan dapat dipandang sebagai suatu profesi
karena mempunyai body of knowledge, pendidikan berbasis keahlian pada jenjang
pendidikan tinggi, memberikan pelayanan kepada masyarakat melalui praktik dalam bidang
profesi, memiliki perhimpunan atau organisasi profesi, memberlakukan kode etik
keperawatan, otonomi dan motivasi bersifat altruistik.

Peran perawat profesional adalah pemberi asuhan keperawatan, pembuat keputusan klinis,
pelindung dan advokat klien, manager khusus, rehabilitator, pemberi kenyamanan,
komunikator, kolaborator, educator dan konsultan pembaharu.
Adapun fungsi perawat profesional adalah sebagai fungsi independen, dependen dan
interdependen.
Untuk menunjang keperawatan professional maka di perlukan Peningkatan kualitas
organisasi profesi keperawatan dengan berbagai cara, pendekatan serta kiat kiat yang lebih
difokuskan pada kemampuan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan secara
komprehensif dengan sentuhan seni dalam arti menggunakan kiat – kiat tertentu dalam upaya
memberikan kenyaman dan kepuasan pada klien
Saran
Kami sadar bahwa penyusunan makalah ini jauh dari sempurna. Untuk itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Untuk terakhir kalinya kami berharap pembuatan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita
semua khususnya bagi perawat sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja dan mampu
menjadi perawat profesional dibidangnya

konsep peran menurut beberapa ahli


JUNE 8, 2013ADIDEVIKONSEP LEAVE A COMMENT

 Friedman, M

Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi

sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada

preskripsi ( ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu

harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka

sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut. ( Friedman, M, 1998 : 286)

 SOEKANTO (1990:268)

Peran adalah aspek dinamis dari kedudukan (status). Apabila seseorang melaksanakan hak

dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, maka dia menjalankan suatu peran

 R. LINTON

Peran adalah the dynamic aspect of status. Dengan kata lain, seseorang menjalankan

perannya sesuai hak dan kewajibannya


 MERTON

Pelengkap hubungan peran yang dimiliki seseorang karena meduduki status sosial tertentu

 KING

Peran merupakan seperangkat perilaku yang diharapkan dari orang yang memiliki posisi

dalam sistem sosial

 PALAN

Peran adalah merujuk pada hal yang harus dijalankan seseorang di dalam sebuah tim

 ALO LILIWERI

Peran adalah sebuah harapan budaya terhadap suatu posisi atau kedudukan

 PAULA J. CHRISTENSEN & JANET W. KENNEY

Peran adalah pola perilaku yang ditetapkan saat anggota keluarga berinteraksi dengan

anggota lainnya

 DONNA L. WONG
Peran adalah kreasi budaya, oleh karena itu budaya menentukan pola perilaku seseorang

dalam berbagai posisi sosial

 SRI SAPTINA H, DWI NUGROHO, & ARIS SUTARDI

Peran adalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban yang sesuai dengan status yang disandangnya

Pengertian Perawat

Ilustrasi Perawat
Menurut Kepmenkes RI No. 1239 tahun 2001 tentang registrasi dan praktik perawat, perawat
adalah seseorang yang lulus pendidikan perawat, baik didalam maupun di luar negeri sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perawat adalah orang yang
memberikan pelayanan/asuhan keperawatan berdasarkan data hasil pengkajian sampai pada
evaluasi hasil baik medik maupun bio-psikososio-spiritual (Ali H.Z, 2002: 43).

Selama beberapa dekade terakhir, keperawatan telah mengalami perubahan-perubahan yang


mengagumkan, terutama melalui munculnya gerakan reformasi profesional pada tahun 1970-
an yang disebut Keperawatan Baru (Salvage, 1992). Unsur sentral dari ideologi keperawatan
baru adalah hubungan antara perawat dengan pasien. Fokus perawatan beralih dari
pendekatan yang berorientasi pada medis-penyakit ke model yang berfokus pada orang dan
bersifat pribadi. Disini pasien dilihat sebagi partisipan yang aktif dan bukan penerima
perawatan yang pasif. Dalam konteks yang sama, peran pengasuhan dari perawat tidak lagi
berpusat pada fungsi-fungsi biologis pasien tetapi telah meluas ke aspek-aspek psiko-sosial
individu.

Peran Perawat
Menurut Doheny (1982) mengidentifikasikan beberapa elemen peran perawat profesional
sebagai berikut:

a. Sebagai pemberi asuhan keperawatan (Care giver)


Sebagai pelaku/pemberi asuhan keperawatan, perawat dapat memberikan pelayanan
keperawatan secara langsung dan tidak langsung kepada klien, menggunakan pendekatan
proses keperawatan yang meliputi : melakukan pengkajian dalam upaya mengumpulkan data
dan informasi yang benar, menegakkan diagnosa keperawatan berdasarkan hasil analisis data,
merencanakan intervensi keperawatan sebagai upaya mengatasi masalah yang muncul dan
membuat langkah/cara pemecahan masalah, melaksanakan tindakan keperawatan sesuai
dengan rencana yang ada dan melakukan evaluasi berdasarkan respon klien terhadap tindakan
keperawatan yang telah dilakukan.

b. Sebagai pembela untuk melindungi klien (Client advocate)


Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antara klien dengan tim
kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien dank
lien memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan oleh tim kesehatan
dengan pendekatan tradisional maupun profesional. Peran advokasi sekaligus mengharuskan
perawat bertindak sebagai narasumber dan fasilitator dalam tahap pengambilan keputusan
terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien. Dalam menjalankan peran sebagai
advokat (pembela klien) perawat harus dapat melindungi dan memfasilitasi keluarga dan
masyarakat dalam pelayanan keperawatan.

c. Sebagai pemberi bimbingan/konseling klien (Counselor)


Tugas utama perawat adalah mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap
keadaan sehat-sakitnya. Adanya pola interaksi ini merupakan dasar dalam merencanakan
metode untuk meningkatkan kemampuan adaptasinya. Memberikan konseling/bimbingan
kepada klien, keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan sesuai prioritas. Konseling
diberikan kepada individu/keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan
pengalaman yang lalu, pemecahan masalah difokuskan pada masalah keperawatan,
mengubah perilaku hidup kearah perilaku hidup sehat.

d. Sebagai pendidik klien (Educator)


Sebagai pendidik klien, perawat membantu klien meningkatkan kesehatannya melalui
pemberian pengetahuan yang terkait dengan keperawatan dan tindakan medik yang diterima
sehingga klien/keluarga dapat menerima tanggung jawab terhadap hal-hal yang diketahuinya.
Sebagai pendidik, perawat juga dapat memberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok
keluarga yang beresiko tinggi, kader kesehatan, dan lain sebagainya.

e. Sebagai anggota tim kesehatan yang dituntut untuk dapat bekerja sama dengan tenaga
kesehatan lain (Collaborator)
Perawat bekerjasama dengan tim kesehatan lain dan keluarga dalam menentukan rencana
maupun pelaksanaan asuhan keperawatan guna memenuhi kebutuhan kesehatan klien.

f. Sebagai koordinator agar dapat memanfaatkan sumber-sumber potensi klien


(Coordinator)
Perawat memanfaatkan semua sumber-sumber dan potensi yang ada, baik materi maupun
kemampuan klien secara terkoordinasi sehingga tidak ada intervensi yang terlewatkan
maupun tumpang tindih.
Dalam menjalankan peran sebagai koordinator, perawat dapat melakukan hal-hal sebagai
berikut :

 Mengkoordinasi seluruh pelayanan keperawatan


 Mengatur tenaga keperawatan yang akan bertugas
 Mengembangkan sistem pelayanan keperawatan
 Memberikan informasi tentang hal-hal yang terkait dengan pelayanan keperawatan
pada sarana kesehatan.
g. Sebagai pembaharu yang selalu dituntut untuk untuk mengadakan perubahan-
perubahan (Change agent)
Sebagai pembaharu, perawat menggadakan invasi dalam cara berfikir, bersikap, bertingkah
laku dan meningkatkan keterampilan klien/keluarga agar menjadi sehat. Elemen ini
mencakup perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis dalam berhubungan dengan
klien dan cara memberikan perawatan kepada klien.

h. Sebagai sumber informasi yang dapat membantu memecahkan masalah klien


(Consultan)
Elemen ini secara tidak langsung berkaitan dengan permintaan klien terhadap informasi
tentang tujuan keperawatan yang diberikan. Dengan peran ini dapat dikatakan perawat adalah
sumber informasi yang berkaitan dengan kondisi spesifik klien (Ali Z.H, 2002:5-9).

Menurut Lokakarya Nasional (1998), peran perawat adalah :

1. Pelaksana pelayanan keperawatan

2. Pengelola pelayanan keperawatan dan institusi pendidikan

3. Pendidik dalam keparawatan


4. Peneliti dan pengembang keperawatan
Menurut para sosiolog peran perawat adalah :

1. Peran terapeutik yaitu kegiatan yang ditujukan langsung pada pencegahan dan
pengobatan penyakit.

2. Expressive/mother substitute role yaitu kegiatan yang bersifat langsung dalam


menciptakan lingkungan dimana klien merasa aman, diterima, dilindungi, dirawat dan
didukung oleh perawat itu. Menurut Johnson dan Mortin (1989), peran ini bertujuan
untuk menghilangkan kegagalan dalam kelompok pelayanan.
Menurut Schulman (1986), peran perawat adalah hubungan perawat dan klien sama dengan
hubungan ibu dan anak, antara lain :

1. Hubungan interpersonal disertai dengan kelembutan hati dan rasa kasih


sayang.

2. Melindungi dari ancaman dan bahaya

3. Memberi rasa nyaman dan aman

4. Memberi dorongan untuk mandiri (Wijono D, 2002:36).

ADVOKASI DALAM KEPERAWATAN.Stikes

A. Pengertian
Advoksi secara harfiah berarti pembelaan, sokongan atau bantuan terhadap seseorang yang
mempunyai permasalahan. Istilah advokasi mula-mula digunakan di bidang hukum atau
pengadilan.

Menurut Johns Hopkins (1990) advokasi adalah usaha untuk mempengaruhi kebijakan
publik melalui bermacam-macam bentuk komunikasi persuasif.
Istilah advocacy/advokasi di bidang kesehatan mulai digunakan dalam program kesehatan
masyarakat pertama kali oleh WHO pada tahun 1984 sebagai salah satu strategi global
Pendidikan atau Promosi Kesehatan.WHO merumuskan bahwa dalam mewujudkan visi dan
misi Promosi Kesehatan secara efektif menggunakan 3 strategi pokok,yaitu :
1).Advocacy
2).Social
3).Empowerment.

Advokasi diartikan sebagai upaya pendekatan terhadap orang lain yang dianggap
mempunyai pengaruh terhadap keberhasilan suatu program atau kegiatan yang
dilaksanakan.Oleh karena itu yang menjadi sasaran advokasi adalah para pemimpin atau
pengambil kebijakan( policy makers) atau pembuat keputusan(decision makers) baik di
institusi pemerintah maupun swasta.Dalam advokasi peran komunikasi sangat
penting,sehingga komunikasi dalam rangka advokasi kesehatan memerlukan kiat khusus
agar komunikasi efektif.

Kiat-kiatnya antara lain sebagai berikut :

1. Jelas ( clear )
2. Benar ( correct )
3. Konkret ( concrete )
4. Lengkap ( complete )
5. Ringkas ( concise )
6. Meyakinkan ( Convince )
7. Konstekstual ( contexual )
8. Berani ( courage )
9. Hati –hati ( coutious )
10. Sopan ( courteous )
Prinsip dasar Advokasi tidak hanya sekedar melakukan lobby politik,tetapi mencakup
kegiatan persuasif, memberikan semangat dan bahkan sampai memberikan pressure atau
tekanan kepada para pemimpin institusi.

B. Tujuan advokasi

1. Komitmen politik ( Political commitment )

Komitmen para pembuat keputusan atau penentu kebijakan sangat penting untuk
mendukung atau mengeluarkan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan
kesehatan masyarakat,misalnya untuk pembahasan kenaikan anggaran
kesehatan,contoh konkrit pencanangan Indonesia Sehat 2010 oleh presiden. Untuk
meningkatkan komitmen ini sangat dibutuhkan advokasi yang baik.

2. Dukungan kebijakan ( Policy support )

Adanya komitmen politik dari para eksekuti,maka perlu ditindaklanjuti dengan


advokasi lagi agar dikeluarkan kebijakan untuk mendukung program yang telah
memperoleh komitmen politik tersebut.
3. Penerimaan sosial (Social acceptance )

Penerimaan sosial artinya diterimanya suatu program oleh masyarakat. Suatu


program kesehatan yang telah memperoleh komitmen dan dukungan kebijakan,maka
langkah selanjutnya adalah mensosialisasikan program tersebut untuk memperoleh
dukungan masyarakat.

4. Dukungan sistem ( System support )

Agar suatu program kesehatan berjalan baik maka perlunya sistem atau prosedur
kerja yang jelas mendukung

C. Metode atau cara advokasi

1. Lobi politik ( political lobying )

2. Seminar/presentasi

3. Media
4. Perkumpulan

D. Unsur unsur advokasi

1. Penetepan tujuan advokasi

2. Pemanfaatan data dan riset untuk advokasi

3. Identifikasi khalayak sasaran

4. Pengembangan dan penyampaian pesan advokasi

5. Membangun koalisi

6. Membuat presentasi yang persuasif

7. Penggalangan dana untuk advokasi

8. Evaluasi upaya advokasi.


9.

Ada 5 pendekatan utama advokasi,yaitu :

1. Melibatkan para pemimpin


2. Bekerja dengan media massa
3. Membangun kemitraan
4. Memobilisasi massa
5. Membangun kapasitas.

E. Langkah langkah advokasi


1. Tahap Persiapan

Persiapan advokasi yang paling penting adalah menyusun bahan/materi atau


instrumen advokasi.Bahan advokasi adalah: data-à informasi–à bukti yang dikemas dalam
bentuk tabel,grafik atau diagram yang mnjelaskan besarnya masalah kesehatan,akibat
atau dampak masalah, dampak ekonomi, dan program yang diusulkan/proposal program.

2. Tahap pelaksanaan

Pelaksanaan advokasi tergantung dari metode atau cara advokasi.

3. Tahap Penilaian

Dalam mencapai visi dari promosi kesehatan diperlukan adanya suatu upaya yang
harus dilakukan dan lebih dikenal dengan istilah ³ Misi´. Misi promosi kesehatan
merupakanupaya yang harus dilakukan dan mempunyai keterkaitan dalam pencapaian
suatu visi.
Secara umum Misi dari promosi kesehatan adalah sebagai berikut :

1. Advokasi (Advocation)

Advokasi merupakan perangkat kegiatan yang terencana yang ditujukan kepada


para penentu kebijakan dalam rangka mendukung suatu isyu kebijakan yang spesifik.
Dalam hal ini kegiatan advokasi merupakan suatu upaya untuk mempengaruhi para pembuat
keputusan(decission maker) agar dapat mempercayai dan meyakini bahwa program
kesehatan yangditawarkan perlu mendapat dukungan melalui kebijakan atau keputusan-keputusan.

2. Menjembatani (Mediate)

Kegiatan pelaksanaan program-program kesehatan perlu adanya suatu


kerjasamadengan program lain di lingkungan kesehatan, maupun lintas sektor yang
terkait. Untuk itu perlu adanya suatu jembatan dan menjalin suatu kemitraan
(partnership) dengan berbagai program dan sektor-sektor yang memiliki kaitannya dengan
kesehatan. Karenanya masalahkesehatan tidak hanya dapat diatasi oleh sektor kesehatan
sendiri, melainkan semua pihak juga perlu peduli terhadap masalah kesehatan tersebut.
Oleh karena itu promosi kesehatanmemiliki peran yang penting dalam mewujudkan
kerjasama atau kemitraan ini.
3. Kemampuan/Keterampilan (Enable)

Masyarakat diberikan suatu keterampilan agar mereka mampu dan memelihara


sertameningkatkan kesehatannya secara mandiri. Adapun tujuan dari pemberian
keterampilankepada masyarakat adalah dalam rangka meningkatkan pendapatan
keluarga sehinggadiharapkan dengan peningkatan ekonomi keluarga, maka kemapuan
dalam pemeliharaan dan peningkatan kesehatan keluarga akan meningkat.

Peran perawat sebagai advokasi

Sebagai advokat klien, perawat berfungsi sebagai penghubung antara klien dengan tim
kesehatan lain dalam upaya pemenuhan kebutuhan klien, membela kepentingan klien dan
membantu klien memahami semua informasi dan upaya kesehatan yang diberikan oleh
tim kesehatan dengan pendekatan tradisional maupun professional. Peran advokasi
sekaligus mengharuskan perawat bertindak sebagai nara sumber dan fasilitator dalam
tahap pengambilan keputusan terhadap upaya kesehatan yang harus dijalani oleh klien.
Dalam menjalankan peran sebagai advocat (pembela klien) perawat harus dapat
melindungi dan memfasilitasi keluarga dan masyarakat dalam pelayanan keperawatan.

Selain itu, perawat juga harus dapat mempertahankan dan melindungi hak-hak klien,
hak-hak klien tersebut antara lain: hak atas informasi; pasien berhak memperoleh
informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di rumah sakit/sarana
pelayanan kesehatan tempat klien menjalani perawatan. Hak mendapat informasi yang
meliputi hal-hal berikut:

1. penyakit yang dideritanya;


2. tindakan medik apa yang hendak dilakukan;
3. kemungkinan penyulit sebagai akibat tindakan tersebut dan tindakan untuk
mengatasinya;
4. alternatif terapi lain beserta resikonya;
5. prognosis penyakitnya;
6. perkiraan biaya pengobatan/rincian biaya atas penyakit yang dideritanya;
7. hak atas pelayanan yang manusiawi, adil, dan jujur;
8. hak untuk memperoleh pelayanan keperawatan dan asuhan yang bermutu
sesuai dengan standar profesi keperawatan tanpa diskriminasi;
9. hak menyetujui/ memberi izin persetujuan atas tindakan yang akan
dilakukan oleh perawat/ tindakan medik sehubungan dengan penyakit yang
dideritanya (informed consent);
10. hak menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan
mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sesudah memperoleh
informasi yang jelas tentang penyakitnya.

Definisi perawat advokat menurut beberapa ahli:

1. Arti advokasi menurut ANA adalah melindungi klien atau masyarakat


terhadap pelayanan kesehatan dan keselamatan praktik tidak sah yang tidak
kompeten dan melanggar etika yang dilakukan oleh siapa pun.
2. FRY mendefinisikan advokasi sebagai dukungan aktif terhadap setiaap hal
yang memiliki penyebab atau dampak penting.

Tanggung jawab perawat advokat

Nelson (1988) dalam Creasia & Parker (2001) menjelaskan bahwa tanggung jawab

perawat dalam menjalankan peran advokat pasien adalah :

1. Sebagai pendukung pasien dalam proses pembuatan keputusan, dengan cara :

memastikan informasi yang diberikan pada pasien dipahami dan berguna bagi pasien
dalam pengambilan keputusan, memberikan berbagai alternatif pilihan disertai penjelasan

keuntungan dan kerugian dari setiap keputusan, dan menerima semua keputusan pasien.

2. Sebagai mediator (penghubung) antara pasien dan orang-orang disekeliling pasien,

dengan cara : mengatur pelayanan keperawatan yang dibutuhkan pasien dengan tenaga

kesehatan lain, mengklarifikasi komunikasi antara pasien, keluarga, dan tenaga

kesehatan lain agar setiap individu memiliki pemahaman yang sama, dan menjelaskan

kepada pasien peran tenaga kesehatan yang merawatnya.

3. Sebagai orang yang bertindak atas nama pasien dengan cara : memberikan lingkungan

yang sesuai dengan kondisi pasien, melindungi pasien dari tindakan yang dapat

merugikan pasien, dan memenuhi semua kebutuhan pasien selama dalam perawatan.

F. Nilai-nilai Dasar yang Harus Dimiliki oleh Perawat Advokat


Menurut Kozier & Erb (2004) untuk menjalankan perannya sebagai advokasi pasien,

perawat harus memiliki nilai-nilai dasar, yaitu :

1. Pasien adalah makhluk holistik dan otonom yang mempunyai hak untuk menentukan

pilihan dan mengambil keputusan.

2. Pasien berhak untuk mempunyai hubungan perawat-pasien yang didasarkan atas dasar

saling menghargai, percaya, bekerja sama dalam menyelesaikan masalah yang

berhubungan dengan masalah kesehatan dan kebutuhan perawatan kesehatan, dan saling

bebas dalam berpikir dan berperasaan.

3 Perawat bertanggung jawab untuk memastikan bahwa pasien telah mengetahui cara

memelihara kesehatannya.
Selain harus memiliki nilai-nilai dasar di atas, perawat harus memiliki sikap yang baik

agar perannya sebagai advokat pasien lebih efektif. Beberapa sikap yang harus dimiliki

perawat, adalah:

1. Bersikap asertif

Bersikap asertif berarti mampu memandang masalah pasien dari sudut pandang yang

positif. Asertif meliputi komunikasi yang jelas dan langsung berhadapan dengan pasien.

2. Mengakui bahwa hak-hak dan kepentingan pasien dan keluarga lebih utama walaupun

ada konflik dengan tenaga kesehatan yang lain.

3. Sadar bahwa konflik dapat terjadi sehingga membutuhkan konsultasi, konfrontasi atau

negosiasi antara perawat dan bagian administrasi atau antara perawat dan dokter.

4. Dapat bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain


Perawat tidak dapat bekerja sendiri dalam memberikan perawatan yang berkualitas bagi

pasien. Perawat harus mampu berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain yang ikut serta

dalam perawatan pasien.

5. Tahu bahwa peran advokat membutuhkan tindakan yang politis, seperti melaporkan

kebutuhan perawatan kesehatan pasien kepada pemerintah atau pejabat terkait yang

memiliki wewenang/otoritas.

G. Tujuan dan Hasil yang Diharapkan dari Peran Advokat Pasien

Tujuan dari peran advokat berhubungan dengan pemberdayaan kemampuan pasien

dan keluarga dalam mengambil keputusan. Saat berperan sebagai advokat bagi pasien,

perawat perlu meninjau kembali tujuan peran tersebut untuk menentukan hasil yang

diharapkan bagi pasien.

1. Menjamin bahwa pasien, keluarga dan tenaga kesehatan lain adalah partner dalam

perawatan pasien. Pasien bukanlah objek tetapi partner perawat dalam meningkatkan
derajat kesehatannya. Sebagai partner, pasien diharapkan akan bekerja sama dengan

perawat dalam perawatannya.

2. Melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan.

Pasien adalah makhluk yang memiliki otonomi dan berhak untuk menentukan pilihan

dalam pengobatannya. Namun, perawat berkewajiban untuk menjelaskan semua kerugian

dan keuntungan dari pilihan-pilihan pasien.

3. Memiliki saran untuk alternatif pilihan.

Saat pasien tidak memiliki pilihan, perawat perlu untuk memberikan alternatif pilihan

pada pasien dan tetap memberi kesempatan pada pasien untuk memilih sesuai

keinginannya.
4. Menerima keputusan pasien walaupun keputusan tersebut bertentangan dengan

pengobatannya. Perawat berkewajiban menghargai semua nilai-nilai dan kepercayaan

pasien.

5. Membantu pasien melakukan yang mereka ingin lakukan.

Saat berada di rumah sakit, pasien memiliki banyak keterbatasan dalam melakukan

berbagai hal. Perawat berperan sebagai advokat untuk membantu dan memenuhi

kebutuhan pasien selama dirawat di rumah sakit.

H. Hasil yang diharapkan dari pasien saat melakukan peran advokat adalah pasien akan :

1. Mengerti hak-haknya sebagai pasien.


2. Mendapatkan informasi tentang diagnosa, pengobatan, prognosis, dan pilihan-

pilihannya.

3. Bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya.

4. Memiliki otonomi, kekuatan, dan kemampuan memutuskan sendiri.

5. Perasaan cemas, frustrasi, dan marah akan berkurang.

6. Mendapatkan pengobatan yang optimal.

7. Memiliki kesempatan yang sama dengan pasien lain.

8. Mendapatkan perawatan yang berkesinambungan.

9. Mendapatkan perawatan yang efektif dan efisien.

PERAN PERAWAT SEBAGAI EDUKATOR


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan dalam perawatan kesehatan dewasa ini, baik pendidikan bagi pasien maupun
pendidikan bagi staf dan mahasiswa keperawatan merupakan topik yang paling diminati di
setiap lingkungan tempat perawat berpraktik. Tren terbaru dalam perawatan kesehatan
menyatakan bahwa pasien dan keluarganya harus siap memikul tanggung jawab untuk
pengelolaan perawatan diri dan bahawa perawat di tempat kerjanya harus bertanggung gugat
terhadap pemberian perawatan yang berkualitas tinggi. Fokusnya adalah berupa hasil, baik
berupa keberhasilan pasien dan keluarganya dalam mempelajari pengetahuan dan
ketrampilan dasar untuk perawatan diri, maupun berupa keberhasilan perawat staf dan siswa
keperawatan untuk menguasai ketrampilan dan pengetahuan mutakhir sampai ke tingkat yang
kompeten.

Kebutuhan bahwa perawat harus dapat mengajar pihak lain akan terus meningkat di
era reformasi perawatan kesehatan ini. Perawat dalam perannya sebagai pendidik perlu
memahami cepatnya perubahan sains kesehatan yang terjadi pada saat ini, maka perawat akan
mendapatkan dirinya pada posisi yang menuntut dan selalu berfluktuasi (Jorgensen, 1994).

BAB II

PERAN PERAWAT SEBAGAI EDUKATOR

A. Definisi Edukator atau Pendidik

Pendidik adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Sementara
dalam konsep keperawatan, perawat sebagai pendidik yakni membantu klien dalam
meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang
diberikan, sehingga terjadi perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan
kesehatan

B. Tugas Perawat sebagai Edukator

1. Meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan dan kemampuan klien dalam mengatasi


kesehatannya

2. Memberikan pendidikan kesehatan kepada kelompok keluarga yang beresiko tinggi, kader
kesehatan, dan lain sebagainya

3. Perawat mendidik klien untuk meningkatkan perubahan perilaku yang sehat

C. Fungsi dan Kompetensi Perawat sebagai Edukator

Lokakarya Nasional keperawatan (1983)


1. Fungsi I

Mengkaji kebutuhan pasien, keluarga, kelompok dan masyarakat akan pengetahuan


tentang kesehatan suatu penyakit.

Kompetensi :

1) Mengumpulkan data

2) Menganalisis dan menginterpretasikan data

2. Fungsi II

Merencanakan tindakan dan tujuan penkes sesuai dengan keadaan pasien.

Kompetensi :

1) Mengembangkan rencana keperawatan (penkes)

3. Fungsi III

Melaksanakan rencana keperawatan berupa penkes

Kompetensi :

1) Menggunakan dan menerapkan konsep serta prinsip ilmu perilaku, ilmu sosial budaya,
dan ilmu biomedik.

2) Menerapkan keterampilan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan manusiawi melalui


penkes pada klien.

4. Fungsi IV

Mengevaluasi hasil penkes yang diberikan pada klien

Kompetensi :

1) Menentukan kriteria

2) Menilai tingkat pengetahuan pasien setelah dilakukan penkes

3) Mengidentifikasi perubahan periaku

5. Fungsi V

Mendokumentasikan penkes yang telah diberikan

Kompetensi :

1) Mengevaluasi data

2) Mencatat data
6. Fungsi VI

Mengelola institusi pendidikan kep.

Kompetensi :

1) Mengembangkan & mengevaluasi kurikulum

2) Menyusun rencana fasilitas pendidikan

3) Menyusun kebijaksanaan institusi pend.

4) Menyusun uraian kerja karyawan

5) Menetapkan fasilitas belajar mengajar

6) Menyusun rencana dan jadwal rotasi

7) Memprakarsai prog. Pengembangan staff

8) Kepemimpinan

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Perawat sebagai pendidik yakni membantu klien dalam meningkatkan tingkat


pengetahuan kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehingga terjadi
perubahan perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

Peran dan Fungsi Perawat Ditulis Oleh : Abdul Wachid, SH, M.H
Peran Perawat
Merupakan tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai
kedudukan dalam sistem, dimana dapat dipengartuhi oleh keadaan sosial baik dari profesi
maupun diluar profesi keperawatan yang bersifat konstan. Peran perawat menurut konsirsium
ilmu kesehatan tahun 1989 terdiri dari :
a. Peran Perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan
Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhann dasar manusia
yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan dengan menggunakan proses
keperawatan sehingga dapat ditentukan diagnosis keperawatan agar bisa direncanakan dan
dilaksanakan tindakan yang tepat sesuai dengan tingkat kebutuhan dasar manusia, kemudian
dapat dievaluasi tingkat perkembangannya.

Peran Perawat sebagai advokat klien


Peran ini dilakukan oleh perawat dalam membantu klien dan keluarga dalam
menginterprestasikan berbagai informasi dari pemberi pelayanan atau informasi lain
khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan keperawatan yang diberikan kepada
pasien, juga dapat berperan mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi
hak atas pelayanan sebaik-baiknya, hak atas informasi tentang penyakitnya, hak atas privasi,
hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan hak untuk menerima ganti rugi akibat kelalaian.
c. Peran Perawat sebagai Edukator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan
kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan, sehingga terjadi perubahan
perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
d. Peran Perawat sebagai koordinator
Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan
kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberian pelayanan kesehatan dapat terarah serta
sesuai dengan kebutuhan klien.
e. Peran Perawat sebagai kolaborator
Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter,
fisioterapis, ahli gizi dan lain-lain dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan
yang diperlukan termasuk diskusi atau tukar pendapat dalam penentuan bentuk pelayanan
selanjutnya.
f. Peran Perawat sebagai Konsultan
Peran ini sebagai tempat konsultasi terhadap masalah atau tindakan keperawatan yang tepat
untuk diberikan. Pertan ini dilakukan atas permintaan klien terhadap informasi tentang tujuan
pelayanan keperawatan yang diberikan.
g. Peran Perawat sebagai Pembaharuan
Peran ini dilakukan dengan mengadakan perencanaan, kerja sama, perubahan yang sistematis
dan terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan.
Selain peran perawat berdasarkan konsirsium ilmu kesehatan, terdapat pembagian peran
perawat menurut hasil lokakarya keperawatan tahun 1983, yang membagi empat peran
perawat:
a. Peran Perawat sebagai Pelaksana Pelayanan Keperawatan
Peran ini dikenal dengan peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan secara
langsung atau tidak langsung kepada klien sebagai individu, keluarga, dan masyarakat,
dengan metoda pendekatan pemecahan masalah yang disebut proses keperawatan.
b. Peran Perawat sebagai Pendidik dalam Keperawatan
Sebagai pendidik, perawat berperan dalam mendidik individu, keluarga, kelompok, dan
masyarakat serta tenaga kesehatan yang berada di bawah tanggung jawabnya. Peran ini
berupa penyuluhan kepada klien, maupun bentuk desiminasi ilmu kepada peserta didik
keperawatan.
c. Peran Perawat sebagai Pengelola pelayanan Keperawatan
Dalam hal ini perawat mempunyai peran dan tanggung jawab dalam mengelola pelayanan
maupun pendidikan keperawatan sesuai dengan manajemen keperawatan dalam kerangka
paradigma keperawatan. Sebagai pengelola, perawat melakukan pemantauan dan menjamin
kualitas asuhan atau pelayanan keperawatan serta mengorganisasikan dan mengendalikan
sistem pelayanan keperawatan. Secara umum, pengetahuan perawat tentang fungsi, posisi,
lingkup kewenangan, dan tanggung jawab sebagai pelaksana belum maksimal.
d. Peran Perawat sebagai Peneliti dan Pengembang pelayanan Keperawatan
Sebagai peneliti dan pengembangan di bidang keperawatan, perawat diharapkan mampu
mengidentifikasi masalah penelitian, menerapkan prinsip dan metode penelitian, serta
memanfaatkan hasil penelitian untuk meningkatkan mutu asuhan atau pelayanan dan
pendidikan keperawatan. Penelitian di dalam bidang keperawatan berperan dalam
mengurangi kesenjangan penguasaan teknologi di bidang kesehatan, karena temuan
penelitian lebih memungkinkan terjadinya transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi,
selain itu penting dalam memperkokoh upaya menetapkan dan memajukan profesi
keperawatan.
Fungsi Perawat
Fungsi Perawat Meliputi :
a. Fungsi Independen
Dalam fungsi ini, tindakan perawat tidak memerlukan perintah dokter. Tindakan perawat
bersifat mandiri, berdasarkan pada ilmu keperawatan. Oleh karena itu, perawat bertanggung
jawab terhadap akibat yang timbul dari tindakan yang diambil. Contoh tindakan perawat
dalam menjalankan fungsi independen adalah:
1) Pengkajian seluruh sejarah kesehatan pasien/keluarganya dan menguji secara fisik untuk
menentukan status kesehatan.
2) Mengidentifikasi tindakan keperawatan yang mungkin dilakukan untuk memelihara atau
memperbaiki kesehatan.
3) Membantu pasien dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
4) Mendorong untuk berperilaku secara wajar.
b. Fungsi Dependen
Perawat membantu dokter memberikan pelayanan pengobatan dan tindakan khusus yang
menjadi wewenang dokter dan seharusnya dilakukan dokter, seperti pemasangan infus,
pemberian obat, dan melakukan suntikan. Oleh karena itu, setiap kegagalan tindakan medis
menjadi tanggung jawab dokter. Setiap tindakan perawat yang berdasarkan perintah dokter,
dengan menghormati hak pasien tidak termasuk dalam tanggung jawab perawat.
c. Fungsi Interdependen
Tindakan perawat berdasar pada kerja sama dengan tim perawatan atau tim kesehatan. Fungsi
ini tampak ketika perawat bersama tenaga kesehatan lainnya berkolaborasi mengupayakan
kesembuhan pasien. Mereka biasanya tergabung dalam sebuah tim yang dipimpin oleh
seorang dokter. Sebagai sesama tenaga kesehatan, masing-masing tenaga kesehatan
mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien sesuai dengan
bidang ilmunya. Dalam kolaborasi ini, pasien menjadi fokus upaya pelayanan kesehatan.
Contohnya, untuk menangani ibu hamil yang menderita diabetes, perawat bersama tenaga
gizi berkolaborasi membuat rencana untuk menentukan kebutuhan makanan yang diperlukan
bagi ibu dan perkembangan janin. Ahli gizi memberikan kontribusi dalam perencanaan
makanan dan perawat mengajarkan pasien memilih makan sehari-hari. Dalam fungsi ini,
perawat bertanggung jawab secara bersama-sama dengan tenaga kesehatan lain terhadap
kegagalan pelayanan kesehatan terutama untuk bidang keperawatannya.

1. Sebagai pemberi asuhan keperawatan

Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia
yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan
ini dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
2. Sebagai advokat klien

Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien & kelg dalam menginterpretasikan
berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas
tindakan keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan & melindungi hak-hak
pasien meliputi :

– Hak atas pelayanan sebaik-baiknya

– Hak atas informasi tentang penyakitnya

– Hak atas privacy

– Hak untuk menentukan nasibnya sendiri

– Hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.

3. Sebagai educator

Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan
kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan
perilaku dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.

4. Sebagai koordinator

Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan


kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta
sesuai dengan kebutuhan klien.

5. Sebagai kolaborator

Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter,
fisioterapi, ahli gizi dll dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang
diperlukan.

6. Sebagai konsultan

Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan, kerjasama,


perubahan yang sistematis & terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan
keperawatan
7. Sebagai pembaharu

Perawat mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis & terarah sesuai
dengan metode pemberian pelayanan keperawatan

B. Fungsi Perawat

1. Fungsi Independen

Merupakan fungsi mandiri & tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam
melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan
tindakan untuk memenuhi KDM.

2. Fungsi Dependen

Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau instruksi dari
perawat lain sebagai tindakan pelimpahan tugas yang diberikan. Biasanya dilakukan oleh
perawat spesialis kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke perawat pelaksana.

3. Fungsi Interdependen

Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan diantara tim
satu dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan
kerjasama tim dalam pemebrian pelayanan. Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim
perawat saja melainkan juga dari dokter ataupun lainnya.

Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-
psiko – sosial dan spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, kelompok dan
masyarakat baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh daur kehidupan manusia.

Keperawatan merupakan ilmu terapan yang menggunakan keterampilan intelektual,


keterampilan teknikal dan keterampilan interpersonal serta menggunakan proses keperawatan
dalam membantu klien untuk mencapai tingkat kesehatan optimal.

Kiat keperawatan (nursing arts) lebih difokuskan pada kemampuan perawat untuk
memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif dengan sentuhan seni dalam arti
menggunakan kiat – kiat tertentu dalam upaya memberikan kenyaman dan kepuasan pada
klien. Kiat – kiat itu adalah :
1. Caring , menurut Watson (1979) ada sepuluh faktor dalam unsur – unsur karatif yaitu :
nilai – nilai humanistic – altruistik, menanamkan semangat dan harapan, menumbuhkan
kepekaan terhadap diri dan orang lain, mengembangkan ikap saling tolong menolong,
mendorong dan menerima pengalaman ataupun perasaan baik atau buruk, mampu
memecahkan masalah dan mandiri dalam pengambilan keputusan, prinsip belajar – mengajar,
mendorong melindungi dan memperbaiki kondisi baik fisik, mental , sosiokultural dan
spiritual, memenuhi kebutuhan dasr manusia, dan tanggap dalam menghadapi setiap
perubahan yang terjadi.

2. Sharing artinya perawat senantiasa berbagi pengalaman dan ilmu atau berdiskusi dengan
kliennya.

3. Laughing, artinya senyum menjadi modal utama bagi seorang perawat untuk meningkatkan
rasa nyaman klien.

4. Crying artinya perawat dapat menerima respon emosional diri dan kliennya.

5. Touching artinya sentuhan yang bersifat fisik maupun psikologis merupakan komunikasi
simpatis yang memiliki makna (Barbara, 1994)

6. Helping artinya perawat siap membantu dengan asuhan keperawatannya

7. Believing in others artinya perawat meyakini bahwa orang lain memiliki hasrat dan
kemampuan untuk selalu meningkatkan derajat kesehatannya.

8. Learning artinya perawat selalu belajar dan mengembangkan diri dan keterampilannya.

9. Respecting artinya memperlihatkan rasa hormat dan penghargaan terhadap orang lain
dengan menjaga kerahasiaan klien kepada yang tidak berhak mengetahuinya.

10. Listening artinya mau mendengar keluhan kliennya

11. Feeling artinya perawat dapat menerima, merasakan, dan memahami perasaan duka ,
senang, frustasi dan rasa puas klien.

13. Accepting artinya perawat harus dapat menerima dirinya sendiri sebelum menerima orang
lain

Sebagai suatu profesi , keperawatan memiliki unsur – unsur penting yang bertujuan
mengarahkan kegiatan keperawatan yang dilakukan yaitu respon manusia sebagai fokus
telaahan, kebutuhan dasar manusia sebagai lingkup garapan keperawatan dan kurang
perawatan diri merupakan basis intervensi keperawatan baik akibat tuntutan akan
kemandirian atau kurangnya kemampuan.

Keperawatan juga merupakan serangkaian kegiatan yang bersifat terapeutik atau kegiatan
praktik keperawatan yang memiliki efek penyembuhan terhadap kesehatan (Susan, 1994 :
80).

KOMPETENSI PERAWAT

Kewajiban moral pertama seorang perawat adalah menjadi praktisi yang kompeten. Kompetensi
adalah prasyarat minimal untuk menjadi seorang perawat. Kewajiban utama mahasiswa keperawatan
dan praktisi pemula adalah mencapai tingkat kompetensi. Dalam hal ini kompetensi berkaitan dengan
peran dan fungsi yang kemudian membentuk kompetensi dan tanggung jawab perawat.

a. Peran Perawat

Sesuai dengan hasil Lokakarya Nasional Keperawatan yang diadakan pada bulan Januari tahun 1983,
peran perawat yang ditetapkan adalah sebagai berikut: :

1. Pelaksana pelayanan keperawatan. Perawat bertanggung jawab dalam memberikan pelayanan


keperawatan dari yang bersifat sederhana sampai yang paling kompleks kepada individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat.

2. Pengelola dalam bidang keperawatan dan institusi pendidikan keperawatan


Perawat bertanggung jawab dalam hal administrasi keperawatan baik di masyarakat maupun didalam
institusi dalam mengelola pelayanan keperawatan untuk individ, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Perawat juga bekerja sebagai pengelola suatu sekolah atau program pendidikan keperawatan.

3. Pendidik dalam ilmu keperawatan. Perawat bertanggung jawab dalam hal pendidikan dan
pengajaran ilmu keperawatan bagi tenaga keperawatan dan tenaga kesehatan lain.

4. Peneliti dan Pengembang ilmu keperawatan. Perawat melakukan penelitian keperawatan untuk
mengembangkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan praktek profesi keperawatan, khususnya
pelayanan keperawatan, pendidikan keperawatan dan administrasi keperawatan.
Perawat juga menunjang pengembangan di bidang kesehatan dengan cara berperan serta dalam
kegiatan penelitian kesehatan.

Sesuai dengan tingkat pendidikan Perawat Kesehatan dan kemampuan yang diharapkan, maka
diantara keempat peran tersebut diatas, perawat kesehatan melaksanakan dua peran yaitu :

1). Pelaksana Pelayanan Keperawatan. Perawat Kesehatan memberikan pelayanan keperawatan


kepada individu, keluarga, kelompok dan masayarakatdengan masalah kesehatan yang sering terjadi
diberbagai tatanan pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit, puskesmas, posyandu, panti, dan
sebagainya.
2). Sebagai perawat pengelola. Perawat kesehatan secara fungsional mengelola pelayanan
keperawatan di rumah sakit dan puskesmas termasuk perlengkapan, peralatan, dan lingkungan tempat
pelayanan kesehatan/keperawatan, disamping itu ia membimbing tenaga keperawatan dan petugas
kesehatan lain yang berada dibawah tanggung jawabnya.

b. Fungsi Perawat

1. Mengkaji kebutuhan dan masalah kesehatan

2. Menyusun rencana asuhan keperawatan

3. Melaksanakan asuhan keperawatan

4. Melaksanakan dokumentasi keperawatan

5. Mengelola perawatan klien sesuai dengan lingkup tanggung jawabnya

c. Kompetensi Perawat

Dengan adanya peran dan fungsi perawat yang jelas, maka perawat dapat menjalankan tugasnya
sesuai kompetensi dan tanggung jawabnya, berikut penjelasannya.

Sesuai fungsi No 1 yaitu Mengkaji kebutuhan dan masalah kesehatan


Kompetensinya :

- mengumpulkan data-data

- mengidentifikasi masalah klien pada kasus tertentu


Fungsi No 2 yaitu Menyusun rencana asuhan keperawatan
Kompetensinya :

- menyusun rencana perawatan klien yang menjadi tenggung jawabnya


Fungsi No. 3 yaitu Melaksanakan asuhan keperawatan
Kompetensinya :

- menggunakan ilmu penetahuan yang diperolehnya dalam melaksanakan asuhan keperawatan

- melakukan tindakan/keterampilan keperawatn untuk memenuhi untuk memenuhi kebutuhan klien

- memberikan perawatan terhadap klien yang mengalami gangguan fungsi sistim tubuh

- memberikan perawatan terhadap klien yang mengalami gangguan mental

- memberikan perawatan kebidanan terhadap klien yang memerlukannya

- memberikan perawatan terhadap anak yang mengalami masalah kesehatan tertentu

- memberikan perawatan terhadap klien usia lanjut

- memberikan perawatann terhadap klien dalam keadaan terminal dan sakaratul maut

- memberikan pelayanan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang
mengalami masalah kesehatan tertentu
- memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenang, tanggung jawab dan etika profesi
Fungsi No. 4 yaitu Melaksanakan dokumentasi keperawatan
Kompetensinya :

- Mengevaluasi hasil tindakan keperawatan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan

- Mengidentifikasi perubahan yang perlu diadakan dalam rencana perawatan

- Mendokumentasikan tindakan perawatan

Fungsi No. 5 yaitu Mengelola perawatan klien sesuai dengan lingkup tanggung jawabnya

Kompetensinya :

- Menciptakan komunikasi yang efektif dengan teman sejawat dan petugas lain

- Menerapkan keterampilan manajemen

d. Tanggung jawab profesi perawat

Selain kompetensi seorang perawat juga harus memiliki rasa tanggung jawab karena salah satu ciri
perawat profesional adalah melaksanakan tanggung jawab dan tanggung gugat, sesuai dengan kode
etik serta berdasarkan standar praktek keperawatan yang telah disepakati.

Tanggung jawab itu dapat dijabarkan sebagai berikut :

1. Tanggung jawab terhadap klien

a. Memenuhi kebutuhan pelayan keperawatan kepada klien dengan penuh rasa tanggung jawab
sesuai kebutuhannya

b. Menindungi klien terhadap hal-hal yang dapat membahayakan dan merugikan dirinya dengan
mengutamakan keselamatan klien

c. Membantu klien untuk dapat meolong dirinya sendiri dalam memenugi kebutuhan hidup sehari-
hari serta memelihara kesehatannya

d. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya sehubungan tugas yang dipercayakan kepadanya

2. Tanggung jawab terhadap dirinya sendiri

a. Melindungi dirinya dari kemungkinan penularan penyakit

b. Melindungi dirinya dari gangguan yang datang dari lingkungan pekerjaannya

c. Menghindari konflik dengan orang laindalam melaksanakan tugasnya melalui metoda pemecahan
masalah

3. Tanggung jawab terhadap profesi

a. Mengadakan kerjasama antara anggota tim kesehatan dalam melaksanakan tugasnya

b. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan keperawatan


c. Meningkatkan pengetahuan tentang ilmu keperawatan sesuai dengan perkembangan ilmu dan
tekhnologi

d. Melaksanakan kewajibannya secara tulus ikhlas sesuai martabat dan tradisi leluhur perawatan

e. Tidak akan mempraktekkan pengetahuan dan keterampilan untuk tujuan yang bertentangan
dengan norma kemanusiaan

f. Matang dalam mempertimbangkan kemampuan sejawat jika menerima atau mengalihtugaskan


tanggung jawab yang ada hubungannya dengan keperawatan

g. Menjunjung tinggi nama baik profesi dengan menunjukkan perilaku dan kepribadian yang tinggi

h. Membina dan memelihara mutu organisasi profesi keperawatan sebagai sarana pengabdiannya

4. Tanggung jawab terhadap masyarakat


Menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan masyarakat dalam mengambil prakarsa dan
mengadakan upaya kesehatan khususnya, serta upaya-upaya kesejahtraan umum, sebagai bagian tugas
kewajibannya bagi masyarakat

5. Tanggung jawab terhadap bangsa dan tanah air

a. Perawat senantiasa mematuhi peraturan yang berlaku serta berperan aktif menyumbangkan pikiran
kepada pemerintah dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan dan khususnya perawatan

b. Memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai budaya, adat istiadat dan
kelangsungan hidup hidup beragama dari klien, individu, keluarga, kelompok dan masyarakat

Selain itu kompetensi juga dapat berarti standar praktek keperawatan perawat professional atau
perawat teregister, hal ini disebutkan oleh Tien Gartinah, Ratna Sitorus, Dewi Irawaty, 1999 dalam
bukunya Aziz Alimul H, 2002: 107-109.

a. Pengertian

Standar praktek keperawatan adalah ekspektasi minimal dalam membrikan asuhan keperawatan yang
aman, efektif dan etis. Standar praktek keperawatan merupakan komitmen profesi keperawatan dalam
melindungi masyarakat terhadap praktek yang dilakukan oleh anggota profesi. Standar praktek harus
dinamik sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Standar praktek keperawatan
dibedakan sesuai dengan jenis dan jenjang tenaga keperawatan. Standar praktek keperawatan ini
khusus untuk perawat profesional.

b. Lingkup

1. Standar I : Ilmu Pengetahuan

Perawat professional (perawat teregister) melaksankan prakteknya didasarkan pada ilmu pengetahuan
keperawatan dan materi yang relevan dengan keperawatan yang berasal dari ilmu-ilmu yang lain dan
humaniora, serta secara terus menerus mengembangkan diri sepanjang kehidupan keprofesionalannya.
Perawat professional (terigester) menunjukkan pemahaman dan menganalisis:

1. Empat konsep dan hubungannya antar keempat konsep tersebut:

a. Keperawatan
b. manusia

c. kesehatan (sehat-sakit)

d. lingkungan

2. Peran perawat professional

3. Hubungan antara perawat dengan individu dan kelompok (termasuk anggota keluarga dan
keluarga terdekat) sebagai klien.

4. Hubungan antar sesame perawat

5. Hubungan antar perawat dengan disiplin/profesi kesehatan lain

6. Tahapan proses keperawatan

7. Prinsip-prinsip dalam intervensi keperawatan

8. Keadaan kesehatan yang lazim terjadi

9. Katagori keadaan Klien:

a. kritis

b. akut

c. resiko tinggi

d. keadaan normal.

10. Meningkatkan dan memepertahankan kesehatan

11. Isyu-isyu tentang keperawatan dan kesehatan

12. Kerangka konsep tentang etik dan legislasi yang mempengaruhi situasi dimana perawat bekerja

13. Metodologi penelitian dalam keperawatan *)

14. Konsep Kepemimpinan *)

15. Manajemen sumber pelayanan kesehatan *)

16. Sistem pelayanan kesehatan *)

2. Standar II : Akontabilitas Profesional

Perawat professional menjalankan fungsi independent dan interdependen serta harus dapat memenuhi
persyaratan etis dan legal dalam menjalankan praktek keprofesionalannya.

1. Berfungsi sejalan dengan legislasi dan standar praktek keperawatan yang sesuai dengan tingkat
pendidikannya

2. Menunjukkan minat, empati, percaya, jujur dan hangat pada saat berinteraksi dengan klien
3. Bertindak sebagi perwakilan klien dengan membantu klien memahami informasi yang relevan.

4. Bertindak sebgai perwakilan klien dengan melindungi dan meningkatkan hak-hak klien untuk:

a. memeperoleh informasi yang abash

b. menyepakati secara sadar akan asuhan keperawatan pengobatan dan peran sertanya dalam
kegiatan penelitian

c. privacy dan kerahasiaan

d. pengobatan yang sesuai dengan manusia sebagai individu

e. berpartisipasi dalam membuat keputusan yang mempengaruhi asuhan kepeawatan yang


ditujukan kepada.

5. Bertanggung gugat terhadap tindakan yang dilakukan

6. Menunjukkan kemampuannya dalam hal pengetahuan yang metakhir pada saat menjalankan
praktek.

7. Mencari tuntunan dan bimbingan bila tidak dapat melaksanakan tugas-tugasnya secara
kompeten

8. Menghindari mempraktekkan hal-hal di luar batas kemampuannya

9. Bekerja sama dengan anggota profesi keperawatan

10. Bekerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya

11. Membuat pertimbangan dalam menjalankan rencana keperawatan yang bersifat multidisiplin
yang telah di susun

12. Berbagi pengetahuan dan keahlian dengan oranglain

13. melakukan tindakan pada kondisi dimana keamanan ataupun kesejahteraan klien tidak
diperhatikan/ terancam

14. melaporkan kejadian tentang praktek yang tidak benaratau kekeliruan dalam menjalankan
pelayanan keperawatan yang dilakukan olh tenagaa lain (bukan perawat) kepada yang berwewenang

15. membantu pengembangan kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan asuhan klien

16. membantu pengembangan keperawatan atau sisitem pemberian pelayanan keperawatan *)

3. Standar III : Pengkajian

Perawat professional melaui konsultasi klien, mengumpulkan data tentang kesehatan klien secara
sistematik untuk pemeriksaan awal, pengkajian yang lebih rinci untuk hal-hal tertentu dalam rangka
menentukan satu atau lebih diagnosa keperawatan.

1. Membuat pertimbangan dalam memodifikasi tahap pengkajian sesuai dengan kondisi klien
2. Mengumpulkan data tentang klien meliputi:

a. Persepsi dan kepuasan tentang kesehatannya

b. Sasaran dan pengharapan tentang kesehatannya

c. Pertumbuhan dan perkembangan

d. Status fisiologis

e. Status emosional

f. Penampilan

g. Latar belakang, budaya, agama, dan sosio ekonomi

h. Pola kegiatan sehari-hari

i. Metode dan cara berkomunikasi

j. Metode koping

k. Lingkungan fisik, social dan emosional

3. Mengumpulkan data tentang sumber-sumber yang tersedia untuk asuham keperawatan

4. Menggunakan berbagai sumber dalam mengumpulkan data:

a. klien

b. keluarga klien

c. orang lain yang relevan

d. anggota tim kesehatan

e. catatan

f. bahan bacaan

g. pengalaman klien sebelumnya

5. Menggunakan tekhnik komunikasi verbal dan non verbal

a. bertanya

b. mendengat dengan baik

c. menerima keluhan

d. memberi penghargaan

e. mendorong mengutarakan perasaannya

f. melakukan klarifikasi
g. sentuhan

6. Menggunakan berbagai tekhnik pengumpulan data:

a. wawancara

b. konsultasi

c. auskultasi

d. perkusi

e. palpasi

f. observasi

g. monitoring

h. pengukuran

7. Mendokumentasikan data:

a. mengidentifikasi fungsi tubuh secara umum dan rinci

b. mengidentifikasi berbagai fungsi tubuh yang normal

c. mengidentifikasi pola fungsi kehidupan klien, kekuatan dan kelemahannya

d. mengidentifikasi resiko dan factor yang menyebabkan sakit *)

8. Mendokumentasikan tingkat dan pola perubahan fungsi tubuh klien

9. Mengkonfirmasikan data terhadap pemahaman klien ataupun orang lain yag relevan tentang data
klien dengan menggunakan tekhnik komunikasi dan pengumpulan data

10. Mendokumentasikan diagnosa keperawatan

11. Mendokumentasikan dan memperbaharui semua informasi secepat mungkin tanpa mengabaikan
klien

12. Menjamin kerahasiaan dokumentasi dan dapat diambil kembali dari system penyimpanan
cadangan kesehatan.

4. Standar IV : Perencanaan

Perawat professional melalui konsultasi dengan klien mengidentifikasi prioritas, waktu pencapaian
dan strategi/intervensi dari standar rencana keperawatan dalam rangka menentukan rencana
keperawatan yang bersifat individual sehingga dapat mencapai hasil akhir yang paling mungkin
dicapai untuk setiap klien

1. Membuat pertimbangan dalam memodifikasi perencanaan yang sesuai denngan situasi klien
2. Menjamin bahwa hasil akhir rencana keperawatan dapat dipahami klien

3. Menentukan sumber-sumber yang tepat dalam melaksanakan rencana keperawatan

4. Memilih intervensi yang efektif, efisien yang mungkin dilakukan dan sesuai *)

5. Berpartisipasi pada rencana keperawatan yang bersifat individual dengan mendokumentasikan:

a. hasil akhir yang paling mungkin dicapai sesuai dengan masalah klien

b. waktu pencapaian

c. intervensi keperawatan

6. Mengkoordinasikan pengembanga rencana keperawatan yang bersifat individu *)

7. Mengkonfirmasikan pengembangan bahwa rencana keperawatan individu:

a. sesuai dengan rencana disiplin lain

b. mencerminkan prioritas

c. ditulis dalam istilah yang realistic dan dapat diukur

8. Mengembangkan atau berpartisipasi dalam pengembangan rencana standar keperawatan *)

9. Memfasilitasi proses kelompok dalam mengembangkan rencana asuhan *)

10. Menggunakan tekhnik komunikasi selama masa perencanaan

11. Mendokumentasikan dan memperbaharui semua informasi sesegera mungkin tanpa


mengorbankan klien

12. Menjamin dokumentasi bersifat rahasia dan dapat ditinjau dari system penyimpanan catatan
kesehatan

5. Standar V : Pelaksanaan

1. Membuat pertimbangan dalam memodifikasi tahap implementasi untuk disesuaikan dengan


situasi klien

2. Membantu klien memperoleh atau mempertahankan fungsi ventilas dan pernapasan secara
optimal:

a. mendemonstrasikan RJP (Resusistasi Jantung Paru)

b. mendemonstrasikan pengisapan lender melalui trachea

c. memberikan oksigen

d. membantu klien melakukan pernafasan dalam dan batuk

e. melaksanakan postural drainage


f. menggunakan oropharygeal air way dan pompa resusistasi

3. Meningkatkan sirkulasi dengan cara:

a. mengawasi kemungkinan perdarahan

b. membantu mengatur posisi baring klien

c. membantu klien menggunakan alat-alat Bantu rehabilitasi

d. merawat klien yang menggunakan alat-alat rehabilitasi

e. mempertahankan CVP (central Venus Presure)

4. Meningkatkan integritas jaringan dengan cara:

a. memberikan perawatan kulit

b. menggunakan alat-alat pelindung

c. memberikan perawatan luka

d. membuang jaringan yang mati *)

e. merawat drainage *)

f. irigasi luka *)

5. Meningkatkan nutrisi dan pencernaan dengan:

a. cara-cara memberikan makan melalui mulut

b. memberikan instruksi tentang diit atau gizi

c. menggunakan dan memelihara pipa sonde (NGT) yang terpasang

d. memasang atau mencabut pipa sonde lambung (NGT)

6. Meningkatkan kemandirian klien

a. menggunakan tekhnik belajar mengajar dan mendorong (reinforcement)

b. mengajar perawatn mandiri

c. mengajar pemeriksaan fisik dan emosional secara mandiri

d. membantu klien memperoleh sumber-sumber yang diperlukan untuk kelanjutan perawatannya *)

e. menggunakan tekhnik motivasi *)

f. mengajarkan tekhnik pengambilan keputusan *)

7. Meningkatkan rasa nyaman dan kebersihan dengan:


a. membantu memandikan klien

b. membantu klien menjaga kebersihan

c. menggunakan sentuhan, massage dan tekhnik mengurangi strees

d. memberikan kompres dingin maupun hangat

8. Meningkatkan eliminasi dengan:

a. melaksanakan dan mengajarkan pengawasan diit secara rutin

b. memelihara pipa drainage dan alat-alat pengumpul cairan tubuh

c. melaksankan perawatan ostomi

d. memberikan huknah dan supositoria

e. mengeluarkan feces secara manual

f. melakukan irigasi kandung kemih

g. melakukan kateterisasi kandung kemih *)

9. Meningkatkan keseimbangan aktivitas dan istirahat atau tidur dengan cara:

a. menjalankan dan mengajarkan hal-hal yang rutin dan memberi waktu istirahat

b. membantu terselenggaranya aktifitas yang bervariasi

c. mendorong latihan gerak (exercise) dan ambulasi

d. menggunakan dan mengajarkan tekhnik relaksasi

10. Meningkatkan rasa aman dengan:

a. menggunakan alat0alat Bantu

b. menggunakan tekhnik belajar/mengajar

c. menggunakan tekhnik pencegahan dan isolasi

d. memodifikasi lingkungan langsung mengurangi bahaya

e. menggunakan tekhnik mengatasi resiko/masalah *)

f. menggunakan berbagai sumber di masyarakat untuk mengurangi bahaya lingkungan *)

11. Menigkatkan pemahaman terhadap hal-hal yang berkenaan dengan seksualitas dan system
reproduksi

a. mengajarkan hubungan seksual yang aman


b. mendemostrasikan perilaku tidak memvonis

c. membantu klien mengekspresikan hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas

d. mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan keluarga berencana *)

12. Meningkatkan konsep diri yang bersifat positif dan penaggulangan yang efektif

a. menggunakan humor

b. menggunakan model peran

c. menggunakan tekhnik penguatan (reinforcement)

d. menggunakan dan mengajarkan sifat asertif

e. melakukan intervensi pada keadaan kegawatan

f. merujuk klien kepada kelompok pendukung

g. menghargai system nilai dan keyakinan individu

h. memberikan dorongan pada klien yang sedang berduka

i. memberikan dukungan terhadap perbedaan cirri kebudayaan

j. membantu klien untuk memahami nilai-nilai, sikap dan kepercayaan *)

13. Meningkatkan interaksi social dengan

a. mendorong partisipasi social

b. menciptakan kesempatan untuk berinteraksi social

c. menginterupsikan sikap/perilaku yang bersifat anti social *)

d. menengahi konflik *)

14. Meningkatkan lingkungan yang sehat dengan:

a. mengubah stimulus lingkungan

b. menyediakan obyek yang dikenal

c. menyediakan stabilitas lingkungan

d. melakukan lobbying untuk lingkungan yang sehat *)

15. Memberikan obat-obatan luar, pada rongga-rongga tubuh (oroficium), melalui slang.pipa dengan
penyuntikan intra vena dan drip

16. Menkoordinir pengimplementasikan rencana keperawatan *)


17. Mendokumentasikan strategi dan intervensi

18. Menggunakan tekhnik komunikasi sepanjang fase implementasi

19. Mendokumentasikan dan memperbaharui semua informasi sesegera mungkin tanpa mengabaikan
keamanan klien

20. memastikan bahwa penyimpanan dokumen dapat dirahasuakan dan dapat diambil / dikeluarkan
dari system penyimpanan dokumen.

6. Standar VI : Evaluasi

Perawat professional berkonsultasi dengan klien, secara sistematika mengevaluasi sejauhmana hasil
yang diharapkan telah dicapai, perawat professional secara sistematik mengevaluasi asuhan
keperawatan terhadap klien secara individu yang diberikannya, maupun keseluruhan praktek
keperawatan yang telah dilaksankannya. Perawat professional berpartisipasi dalam mengevaluasi
system pemberian pelayanan keperawatan

1. Melatih pengambilan keputusan dalam memodifikasi tahap-tahap evaluasi yang sesuai dengan
kondisi klien

2. Mengidentifikasi hasil yang diharapkan dan yang tidak diharpkan dari asuhan keperawatan yang
dilakukan

3. Membandingkan berbagai hasil dengan hasil yang terbaik diharapkan dan menetapkan
sejauhmana yang mereka telah capai.

4. Mengkonfirmasikan validitas dari hasil observasinya dengan hasil temuan bersama klien atau
orang lain yang relevan

5. Mendokumentasikan dan perbaharui seluruh informasi segera/secepat mungkin apa adanya


tanda mengorbankan klien

6. Menyakinkan bahwa dokumentasi dirahasiakan dan dapat ditinjau kembali dari system
penyimpanan catatan kesehatan keperawatan

7. Menetapkan efektifitas rencana keperawatan individu

8. Menentukan dan mendokumentasikan modifikasi rencana keperawatan individu yang sesuai


dengan kebutuhan klien yang berubah

9. Mendesain atau memodifikasi rencana keperawatan terstandar sesuai dengan kebutuhan *)

10. Berpartisipasi dalam mengembangkan metode untuk mengevaluasi mutu asuhan keperawatan *)

11. Menjalankan peningkatan pengetahuan / penilaian diri untuk menetapkan efektifitas, efesiensi
dan adekuatnya asuhan keperawatan yang diberikan kepada individu klien, begitu juga terhadap
praktek keperawatan yang dilakukannya.

12. Menggunakan tekhnik komunikasi sepanjang tahap evaluasi.

*) Kopetensi/ kewenangan tersebut diutamakan S1 Keperawatan (Ners) atau setara


Selain itu, menurut Ketua PPNI DKI Jakarta, Prayetni, SKp,M.Kep dalam sebuah seminar di Jakarta
22 November 2008, menyampaikan Dimensi kompetensi keperawatan ada lima yaitu:

1. Task Skill: Melaksanakan tugas pekerjaannya sesuai dengan standar yang diisyaratkan oleh industri
atau tempat bekerja.

2. Task Management Skill: Membuat perencanaan serta mengorganisasi tugas tersebut.

3. Contingency Management Skill: Melakukan tindakan yang tepat atas suatu masalah.

4. Job/role Environment Skills: Berperan serta dalam mengelola lingkungan pekerjaan.

5. Transfer/Adaptation skills: menerapkan keterampilan dan pengetahuan pada situasi yang baru.

Anda mungkin juga menyukai