Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses di alam sudah tertata rapi. Setiap tahap dari suatu proses
seluruhnya berjalan dengan peranan tertentu yang bermanfaat untuk kelangsungan
hidup mahluk di alam. Tetapi manusia sering kali menciptakan suatu proses baru,
dengan alasan untuk kesejahteraannya yang malah menyebabkan terjadinya
ketidakseimbangan proses alam, sampai akhirnya menimbulkan bencana.
Reaksi kimia berada di laut berada dalam kondisi kesetimbangan kimia.
Kesetimbangan ini membawa masukan energi dari dua sumber: matahari dan
energi dari dalam bumi. Energi matahari, dari fotosintesis, memungkinkan
perubahan pada tanaman laut oleh materi organik dan perubahan karang (silika)
yang mengadakan kesetimbangan dalam air laut. Sebagai tambahan, hewan laut
berfotosintesis menghasilkan materi organik dan juga perubahan struktur kimia
sebagai akibat aktivitas di antara tanaman dan hewan. Permukaan air menjadi
dalam, dengan kedalaman dan sisa organik menjadi kaya beberapa elemen dalam
uji coba untuk kesetimbangan kimia. Aktivitas fotosintesis dari konsentrasi
permukaan air (dari permukaan laut sampai 200 m) karena kekurangan penetrasi
dari cahaya matahari untuk kedalaman yang dalam (sintesis dari materi organik
dalam daerah yang gelap oleh organism laut yang tidak berfotosintesis yang
berada di dekat pusat vulkanik dan tengah laut juga terjadi, tetapi dalam laju yang
ekstrim.
Sumber energi utama yang lain dalam kesetimbangan kimia pada laut
adalah panas bumi. Contoh sumber panas bumi adalah energy vulkanik. Mineral
di dalam laut yang bersifat basa akan membentuk magma yang sangat panas.
Apabila itu tidak berinteraksi dengan air laut maka akan terjadi kestabilan. Reaksi
mungkin dapat terjadi pada temperatur yang tinggi ataupun yang rendah,
temperatur dasar laut reaksi antara reaksi basa dengan air akan semakin cepat
dengan kenaikan temperatur.

1
Energi matahari dan panas bumi juga mempunyai efek tidak langsung
pada komposisi laut. Energi matahari membantu penguapan air laut,
pengangkutan uap air ke benua, dan pembentukan air hujan, yang kemudian jatuh
ke benua untuk membentuk air tanah, groundwater, danau dan sungai. Sementara
itu, energi dalam bumi, yang menunjukkan pengangkatan tektonis dan volcanis,
menyebabkan pembentukan batu karang pada kedalaman untuk diangkat ke dalam
zona kerusakan karena iklim pada benua itu. batu karang tidak stabil dan bereaksi
dengan air tanah dan groundwaters lewat mediasi dari (digunakan proses
fotosintesis) tumbuhan hijau, untuk menyempurnakan pembentukan dari pelarutan
unsur-unsur dan mineral baru. Mineral berbentuk kasar pada kesetimbangan
dengan perairan kontinental tetapi tidak penting pada kesetimbangan dengan air
laut,yang mana mempunyai suatu komposisi yang berbeda.
Tetapan kesetimbangan di air laut dan badan air penting untuk
menentukan konsentrasi spesis kimia dalam proses geokimia dan biokimia yang
cukup cepat mencapai kesetimbangan. Untuk reaksi yang lambat tetapan
kesetimbangan dapat ditetapkan ketercapaian kesetimbangan dan untuk
mempelajari faktor yang menyebabkan tercapainya kesetimbangan (Pytkowitcz,
1969)
Berdasarkan pemaparan di atas terlihat bahwa proses kesetimbangan
kimia sangat berpengaruh dalam dinamika di lautan.

B. Tujuan Penulisan Makalah


Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui defenisi
kesetimbangan kimia, faktor-faktor yang memperngaruhi pergeseran
kesetimbangan serta mengkaji aspek-aspek kesetimbangan kimia yang terjadi di
lautan.

2
BAB II
KESETIMBANGAN KIMIA DI LAUTAN

A. Kesetimbangan Kimia
Kesetimbangan kimia ini adalah reaksi bolak balik yang mana memiliki
laju yang sama, oleh sebab itu kesetimbangan kimia ini adalah bagian dari
keseimbangan kimia dinamis karena yang memiliki laju hanyalah sesuatu yang
bergerak bukan statis. Keadaan kesetimbangan ini bersifat dinamis, artinya reaksi
terus berlangsung dalam dua arah dengan kecepatan yang sama.
Dalam Reaksi kimia terdapat 2 reaksi yaitu reaksi irreversible dan reaksi
reversible. Reaksi irreversible (reaksi searah) adalah reaksi yang berlangsung
searah. Reaksi ini juga disebut reaksi berkesudahan, karena jika salah satu zat
pereaksi telah habis bereaksi maka reaksi berhenti. Sedangkan reaksi reversible
(reaksi dapat balik) adalah reaksi yang berlangsung dua arah, artinya zat pereaksi
bereaksi membentuk hasil reaksi dan hasil reaksi tersebut dapat bereaksi kembali
membentuk zat-zat pereaksi.
Keadaan setimbang ditandai dengan tidak terjadi perubahan makroskopis
(perubahan yang dapat diamati atau diukur). Jadi pada keadaan setimbang tidak
ada perubahan yang dapat diamati dan reaksi seolah-olah telah berhenti. Akan
tetapi secara mikroskopis (yaitu tingkat molekul), reaksi tetap berlangsung.
Jenis-jenis kesetimbangan kimia yakni kesetimbangan homogen dan
kesetimbangan heterogen. Kesetimbangan homogen adalah Semua spesi kimia
berada dalam fasa yang sama, sedangkan kesetimbangan heterogen adalah
Kesetimbangan ini melibatkan reaktan dan produk dalam fasa yang berbeda
Ciri-Ciri Kesetimbangan kimia :
a. hanya terjadi dalam wadah tertutup, pada suhu dan tekanan tetap
b. Reaksinya berlangsung terus-menerus (dinamis) dalam dua arah yang
berlawanan
c. Laju reaksi maju (ke kanan) sama dengan laju reaksi balik (ke kiri)
d. Semua komponen yang terlibat dalam reaksi tetap ada
e. Tidak terjadi perubahan yang sifatnya dapat diukur maupun diamati.

3
1. Kesetimbangan Dinamik
Reaksi kimia ada yang berlangsung satu arah (irreversibel), seperti:
HCl(aq) + NaOH(aq) → NaCl(aq) + H2O(l)
Reaksi satu arah berarti hasil reaksi NaCl(aq) dan H2O(l) tidak kembali bereaksi
menghasilkan pereaksi. Sedangkan reaksi setimbang adalah reaksi berlangsung
secara dua arah. Reaksi ini berlangsung bolak-balik (reversibel).
N(g) + 3H2(g) ⇆ 2NH3(g)
Reaksi dua arah ini terjadi karena hasil reaksi (NH3) yang sudah terbentuk
ternyata dapat terurai/dapat bereaksi kembali menghasilkan N2 dan H2. Reaksi
kesetimbangan berlangsung secara bolak-balik (dua arah) dengan proses yang
tidak bersamaan. Jadi pada saat terjadi reaksi ke kanan, maka reaksi ke kiri tidak
ada. Dan pada saat terjadi reaksi ke kiri, maka reaksi ke kanan tidak ada. Jadi
reaski sebetulnya adalah reaksi satu arah yaitu ke kiri atau ke kanan hanya secara
bergantian dengan jangka waktu yang relatif singkat.
Dengan demikian berarti reaksi kesetimbangan berlangsung secara
dinamis yaitu berlangsung secara terus menerus/tanpa henti dengan konsentrasi
zat berubah tergantung arah reaksinya.
Proses perubahan konsentrasi, baik yang berkurang (pereaksi) ataupun
yang bertambah (hasil reaksi) hanya melibatkan perubahan skala molekul dengan
jumlah kecil sekali. Dalam kestimbangan, perubahan kecepatan konsentrasi dari
zat-zat yang bertindak sebagai pereaski baik reaksi ke kanan maupun reaksi ke
kiri, sama-sama hanya melibatkan perubahan dengan skala molekuler.

Pada saat setimbang, ada beberapa kemungkinan yang terjadi dilihat dari
konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi pada saat itu.Contoh:

Pada reaksi A + B→ C + D

ada 3 kemungkinan yang terjadi yaitu sebagai berikut

4
Gambar 1

Kemungkinan I ditunjukkan pada Gambar 1

a. Mula-mula konsentrasi A dan B harganya maksimal, kemudian berkurang


sampai tidak ada perubahan.
b. Konsentrasi C dan D dari nol bertambah terus sampai tidak ada perubahan.
c. Pada saat setimbang, konsentrasi C dan D lebih besar daripada A dan B.

Gambar 2

Kemungkinan II ditunjukkan pada Gambar 2 Perubahan konsentrasi A dan B


menjadi C dan D sama seperti kemungkinan I. Pada saat setimbang, konsentrasi C
dan D lebih kecil daripada A dan B

5
Gambar 3

Kemungkinan III ditunjukkan pada Gambar 3 Perubahan konsentrasi A


dan B menjadi C dan D sama seperti kemungkinan I dan II, tetapi pada saat
setimbang konsentrasi A dan B sama dengan konsentrasi C dan D.
Berarti perubahan kecepatan baik ke kanan maupun ke kiri kecil sekali
dan ini dianggap sama. Kesimpulannya kecepatan kekanan sama dengan
kecepatan ke kiri.

Secara umum, reaksi

dapat dirumuskan laju reaksi ke kanan (v dimana k1 dan k2 ) = k1[A]a[B]b dan


laju reaksi ke kiri (v) = k2 [C]c[D]d , K1 dan K2 adalah konstanta laju rekasi ke
kanan dan kekiri, [x] menyatakan konsentrasi
Dalam kesetimbangan dinamik (kesetimbangan reaksi kimia ), v1= v2 sehingga:
k1[A]a[B]b = k2[C]c[D]d, atau

dengan K adalah konstanta kesetimbangan kimia, yang


mempunyai nilai tetap pada kondisi , suhu dan tekanan tetap.

6
Tetapan kesetimbangan dapat ditentukan dengan mengukur konsentrasi
pereaksi dan hasil reaksi pada keadaan setimbang, atau dengan menghitung ΔG◦
reaksinya. Untuk memperoleh harga K yang tidak dapat ditentukan secara
eksperimen, maka dapat dilakukan secara termodinamika dengan melihat harga
ΔG◦ reaksinya. Bila harga ΔG◦ untuk reaksi kesetimbangan adalah negatif, maka
hasil reaksi yang terbentuk berjumlah relatif besar sedang pereaksi yang tersisa
berjumlah relatif kecil. Dengan demikian harga K relatif besar. Sebaliknya jika
harga ΔG◦ reaksi kesetimbangan adalah positif maka harga K relatif kecil.

Secara termodinamika ditunjukkan bahwa:


Δ G = Δ G◦ +RT ln K

Syarat untuk reaksi kesetimbangan adalah ΔG = 0, jadi:


Δ G◦ = -RT ln K
Δ G ◦=-RT ln Kp (Bagi kesetimbangan gas-gas)
Δ G ◦=-RT ln Kc (Bagi kesetimbangan larutan)

Salah satu kegunaan konstanta kesetimbangan kimia adalah memprediksi


arah reaksi. Untuk mempelajari kecenderungan arah reaksi, digunakan besaran
Qc, yaitu hasil perkalian konsentrasi awal produk dibagi hasil perkalian
konsentrasi awal reaktan yang masing-masing dipangkatkan dengan koefisien
reaksinya. Jika nilai Qc dibandingkan dengan nilai Kc, terdapat tiga kemungkinan
hubungan yang terjadi, antara lain :
1. Qc < Kc Sistem reaksi reversibel kelebihan reaktan dan kekurangan produk.
Untuk mencapai kesetimbangan, sejumlah reaktan diubah menjadi produk.
Akibatnya, reaksi cenderung ke arah produk (ke kanan).
2. Qc = Kc Sistem berada dalam keadaan kesetimbangan. Laju reaksi, baik ke arah
reaktan maupun produk, sama.
3. Qc > Kc Sistem reaksi reversibel kelebihan produk dan kekurangan reaktan.
Untuk mencapai kesetimbangan, sejumlah produk diubah menjadi reaktan.
Akibatnya, reaksi cenderung ke arah reaktan (ke kiri).

7
2. Pergeseran Kesetimbangan
Pergeseran kesetimbangan di atas dapat diterangkan berdasarkan pada
azas Le Chatelier yang menyatakan :
“Jika suatu sistem berada dalam keadaan setimbang kemudian beberapa faktor
dari keadaan setimbang diubah (diganggu) maka kesetimbangan bergeser menurut
arah yang dapat mengurangi/memperkecil gangguan (perubahan) tersebut”.
Dari azas Le Chatelier tersebut, terlihat bahwa keadaan setimbang akan berusaha
agar selalu berada dalam keadaan setimbang sehingga jika ada gangguan
(perubahan) maka akan berusaha mengalami suatu reaksi (suatu pergeseran) agar
kesetimbangan tercapai kembali.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesetimbangan:
a. Perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi
b. Perubahan tekanan/volume gas pereaksi atau hasil reaksi
c. Perubahan temperatur
d. Katalisator

a. Pengaruh konsentrasi
Sesuai dengan azas Le Chatelier (Reaksi = – aksi), jika konsentrasi salah
satu komponen tersebut diperbesar, maka reaksi sistem akan mengurangi
komponen tersebut. Sebaliknya, jika konsentrasi salah satu komponen diperkecil,
maka reaksi sistem adalah menambah komponen itu.

b. Pengaruh tekanan dan volume


Penambahan tekanan dengan cara memperkecil volume akan memperbesar
konsentrasi semua komponen. Sesuai dengan azas Le Chatelier, maka sistem akan
bereaksi dengan mengurangi tekanan. Sebagaimana anda ketahui, tekanan gas
bergantung pada jumlah molekul dan tidak bergantung pada jenis gas.
Oleh karena itu, untuk mengurangi tekanan maka reaksi kesetimbangan
akan bergeser ke arah yang jumlah koefisiennya lebih kecil. Sebaliknya, jika
tekanan dikurangi dengan cara memperbesar volume, maka sistem akan bereaksi

8
dengan menambah tekanan dengan cara menambah jumlah molekul. Reaksi akan
bergeser ke arah yang jumlah koefisiennya lebih besar.

c. Perubahan Temperatur
Pengaruh perubahan temperatur terhadap tetapan kesetimbangan
ditentukan oleh pihak endoterm dan eksotermnya sistem kesetimbangan. Jika
temperatur dinaikkan maka kesetimbangan bergeser ke pihak endoterm dan
sebaliknya jika temperatur diturunkan maka kesetimbangan akan bergeser ke
pihak eksoterm.
Pada reaksi eksoterm, harga tetapan kesetimbangan akan menjadi lebih
kecil apabila temperature dinaikkan. Sebaliknya pada reaksi endoterm, harga
tetapan kesetimbangan akan menjadi lebih besar apabila temperatur dinaikkan.

∆G°= -RT ln K

∆G°=∆H°-T∆S°
−∆𝐻° ∆𝑆°
ln K = +
𝑅𝑇 𝑅

Andaikata harga ∆H° dan ∆S° tidak bergantung pada temperature maka ln
1
K merupakan fungsi linear dari 𝑇

−∆𝐻° ∆𝑆°
ln 𝐾1 = 𝑅 +
𝑇1 𝑅

−∆𝐻° ∆𝑆°
ln 𝐾2 = 𝑅 +
𝑇2 𝑅

𝐾 ∆𝐻° 1 1
jadi ln 𝐾1 = - [ - ]
2 𝑅 𝑇2 𝑇1

∆G°= -RT ln K

∆G°=∆H°-T∆S°
−∆𝐻° ∆𝑆°
ln K = +
𝑅𝑇 𝑅

9
d. Pengaruh Katalis
Katalis adalah suatu zat yang ditambahkan dalam sistem untuk
mempercepat reaksi. Jika reaksinya adalah reaksi reversible, maka penambahan
katalis akan mempercepat laju reaksi maju (ke kanan) maupun laju reaksi balik
(ke kiri). Sehingga penambahan katalis tidak akan menggeser kesetimbangan.
Katalis juga tidak mengubah harga tetapan kesetimbangan, tetapi dapat
mempercepat terjadinya keadaan kesetimbangan. Katalis ikut terlibat dalam reaksi
dan didapatkan kembali pada akhir reaksi.

B. Kesetimbangan Kimia di Lautan


Gas dari atmosfir terlarut dalam air laut dan terdistribusi pada seluruh
kedalaman melalui proses pencampuran dan arus. Gas yang paling melimpah di
atmosfer dan air laut adalah nitrogen, oksigen, karbon dioksida dan argon. Gas-
gas yang terlarut dalam air laut dapat dibagi menjadi dua jenis: jenis pertama
adalah terlarut secara molekul dan tidak bereaksi secara kimia, seperti N2, O2 dan
Ar, sedangkan tipe lainnya bereaksi secara kimia dalam air laut seperti CO2.

1. Kesetimbangan Karbonat
Samudera mempunyai peranan yang sangat penting dalam mengurangi
pemanasan global atau peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer. Total jumlah
karbon di laut diperkirakan 50 kali lebih besar dibandingkan jumlah karbon yang
ada di atmosfer, dan pertukaran karbon laut dan atmosfer terjadi dalam skala
waktu beberapa ratus tahun. Disolusi air laut memberikan kesempatan yang besar
untuk menenggelamkan CO2 antropogenik, hal ini di sebabkan karena CO2
mempunyai daya larut yang tinggi, disamping itu CO2 juga memisahkan diri ke
dalam ion-ion dan berinteraksi dengan unsur pokok air laut (Afdal, 2007).
Proses timbal balik antara fotosintesis dan respirasi seluler bertanggung
jawab atas perubahan dan pergerakan utama karbon. Naik turunnya konsentrasi
CO2 dan O2 atmosfer secara musiman disebabkan oleh penurunan aktivitas
fotosintesis. Dalam skala global kembalinya CO2 ke atmosfer melalui respirasi
dapat diseimbangkan dengan pelepasan O2 melalui fotosintesis. Akan tetapi,

10
pembakaran kayu dan dan bahan bakar fosil menambahkan lebih banyak lagi CO2
ke atmosfer, sebagai akibatnya jumlah CO2 di atmosfer meningkat. CO2 dan O2
atmosfer juga berpindah masuk ke dalam dan keluar sistem akuatik dimana CO2
dan O2 terlibat dalam suatu kesetimbangan dinamis dengan bentuk bahan
anorganik lainnya (Afdal, 2007).
Karbon dioksida yang terlarut di dalam air laut ditemukan dalam tiga
bentuk utama, yaitu CO2 terlarut (non ionik, ±1% dari jumlah total), ion karbonat
(CO32, ± 8%) dan bikarbonat (HCO3, ± 91%), penjumlahan dari ketiganya disebut
sebagai dissolved inorganic carbon/DIC (karbon anorganik terlarut) (IPCC,
2001). DIC di dalam samudera diangkut oleh proses fisik dan biologi. Produksi
primer kotor (Gross Primary Productivity = GPP) adalah jumlah total karbon
organik yang dihasilkan oleh fotosintesis (BENDER et al., 1994); produksi primer
bersih (Nett Primary Productivity = NPP) adalah sisa setelah respirasi autotropik
yaitu respirasi yang dilakukan oleh organisme fotosintesis (afdal, 2007)
Peningkatan pCO2 atmosfer yang melebihi tingkatan pra-industri
cenderung meningkatkan penyerapan CO2 alami oleh samudera. Sedangkan fluks
CO2 antara udara-laut saat ini adalah meliputi pencampuran spasial dari
komponen fluks CO2 antropogenik dan alami. Pada daerah upwelling, karbon
dilepaskan ke atmosfer. Sebaliknya, pada daerah downwelling karbon (CO2)
berpindah dari atmosfer ke lautan (Omta, dkk, 2011).
Karbon dioksida dalam air laut dibangun melalui reaksi kesetimbangan
berikut ini:

Pada saat CO2 memasuki lautan, asam karbonat akan terbentuk:

Reaksi ini memiliki sifat dua arah, mencapai sebuah kesetimbangan


kimia. Reaksi lainnya yang penting dalam mengontrol nilai pH lautan adalah
reaksi dissosiasi membentuk ion hidrogen dan ion bikarbonat maupun ion
karbonat. Reaksi ini mengontrol perubahan yang besar pada pH:

11
Air sendiri terdissosiasi membentu ion H+ dan OH-

Sistem karbonat dalam air laut dikarakterisasi melalui interaksi dengan kation
mayor (Na+, Mg2+, Ca2+ dan K+) dan anion mayor (Cl-, SO42-, HCO3- dan CO32-)
Interaksi ini dapat dijelaskan melalui teori interaksi spesifik.

Sebagai tambahan, karsium karbonat dan magnesium hidroksida yang tidak larut
dapat pula terbentuk:

Skema yang mempresentasikan sistem karbonat dalam fase gas, cair dan
padat terlihat pada gambar 4.
CO2 larut dalam air untuk membentuk asam karbonat (H2CO3), yang
merupakan asam lemah dan mungkin (tergantung pada kondisi) kemudian
terionisasi sekali atau dua kali, untuk membentuk bikarbonat atau ion karbonat.

Pada kondisi asam, kesetimbangan reaksi ini bergeser ke kiri, dan di


bawah kondisi basa reaksi bergeser ke kanan, seperti yang ditunjukkan pada
gambar di bawah (dari laporan RS). Dalam kondisi air laut yang selalu sedikit
basa (pH ~ 8.2), sehingga sebagian besar dari CO2 terlarut, mengalami ionisasi
sekali, untuk membentuk bikarbonat tambahan dan ion hidrogen, membuat air
sedikit lebih asam.

12
Arah reaksi keseimbangan ini sangat tergantung pada pH air laut
sehingga nilai pH dapat mengendalikan konsentrasi dan proporsi relatif dari
spesies karbonat di laut, namun sebaliknya sistem karbonat adalah buffer alami
untuk pH air laut. Apabila pH air laut turun maka reaksi keseimbangan akan
bergeser kearah kiri yang menyebabkan karbonat dan bikarbonat akan terurai
menjadi CO2. Sebaliknya bila pH air laut naik maka reaksi keseimbangan
bergeser kekanan dan bikarbonat dan karbonat banyak terbentuk

Gambar 4. Representasi Skematik Kesetimbangan Karbonat dalam air laut

Ion karbonat di dalam air laut bentuknya sebagai ion bikarbonat.


Perubahan bikarbonat, menjadi karbonat disebabkan adanya stripping CO2, hal
tersebut meningkatkan konsentrasi ion karbonat (CO32-) (Omta, dkk, 2011).
a. Kelarutan CO2 dalam air laut
Karena tekanan parsial CO2 dan konsentrasi CO2 terlarut dalam air laut
cukup kecil, kelarutannya dapat dijelaskan menggunakan hukum Henry:

13
dimana CCO2 adalah konsentrasi CO2 terlarut, pCO2 adalah tekanan parsial CO2 dan
HCO2 SW adalah koefisien Henry CO2 dalam air laut.
Hukum Henry hanya menjelaskan kesetimbangan fisika antara fase dan
mungkin hanya dapat diaplikasikan pada fraksi gas yang terlarut secara molekular
dan tidak berikatan secara kimia. Koefisien Henry tergantung pada jenis gas dan
pelarut, suhu dan tekanan total dan dalam hal larutan garam koefisien henry juga
bergantung pada kekuatan ionik dari larutan. Kekuatan ionik dalam larutan
didefenisikan sebagai:

dimana Zi adalah muatan ion i dan mi adalah molalitas ion. Kekuatan ionik dapat
dihubungkan dengan salinitas S, sebagai berikut:

b. Tetapan Kesetimbangan dalam Air Laut


Tetapan Kesetimbangan stoikiometrik air dalam air laut KwSW dapat
diekspresikan sebagai;

dimana Kw adalah tetapan kesetimbangan termodinamik dan [i]SW dan iSW adalah
konsentrasi dan koefisien aktifitas.
Dengan mengaplikasikan hukum aksi massa, dissosiasi pertama dari
asam karbonat, menghasilkan:

dimana K1 adalah tetapan kesetimbangan termodinamik dan [i]SW dan iSW


berturut-turut adalah konsentrasi dan koefisien aktifitas dari komponen i yang
bebas dan terlibat dalam pemasangan ion. [CO2]SW adalah penjumlahan dari
konsentrasi CO2 dan H2CO3.

14
Tetapan disosiasi kedua dari reaksi disosiasi asam karbonat dapat dituliskan
sebagai:

dimana K2 adalah tetapan kesetimbangan termodinamik dan [i]SW dan iSW


berturut-turut adalah konsentrasi dan koefisien aktifitas dari komponen i.

Konsentrasi ion Kalsium dalam air laut relatif konstan dan cukup tinggi.
Jika hasil kali dari konsentrasi ion kalsium dan karbonat melebihi Nilai Ksp, maka
kalsium karbonat padat dapat mengendap, jika tidak kalsium karbonat cenderung
terlarut.
Jika ion karbonat dihilangkan dari larutan melalui pembentukan padatan
kalsium karbonat, ion yang hilang tersebut akan cenderung digantikan (Prinsip Le
Chatelier), sehingga seluruh reaksi pada rangkaian reaksi di atas akan dipicu
secara berurutan, CO2 tambahan akan di absorpsi dari atmosfer dan masuk dalam
rantai reaksi.
Banyak organisme biologi benar-benar memanfaatkan ion bikarbonat
secara tidak langsung, daripada ion karbonat langsung, untuk membentuk kalsium
karbonat baru. Bahkan tanaman bersel tunggal memiliki proses biokimia internal
yang kompleks untuk memungkinkan mereka untuk melakukan hal ini, mungkin
karena bikarbonat jauh lebih berlimpah (setidaknya sepuluh kali lipat)
dibandingkan ion karbonat. Proses ini melepaskan CO2 di dalam sel (yang dapat
digunakan tanaman untuk fotosintesis) menurut reaksi:

Kalsium karbonat terlarut melalui persamaan:

15
Hasil kali kelarutan kalsium karbonat diberikan oleh persamaan:

dimana KSP adalah hasil kali kelarutan termodinamik dan [i]SW dan iSW berturut-
turut adalah konsentrasi dan koefisien aktifitas dari komponen i.

c. Metode Analisis
Sistem Kesetimbangan Karbonat dalam air laut dapat ditentukan melalui
pengukuran enam kuantitas, yaitu:
a. Konsentrasi CO2 terlarut [CO2]
b. Konsentrasi ion bikarbonat [HCO3-]
c. Konsentrasi ion karbonat [CO32-]
d. Nilai pH atau konsentrasi H+ atau konsentrasi ion OH-
e. Kandungan karbon dioksida total (TC)
TC = [HCO3-] + [CO32-] + [CO2] + [H2CO3]
f. Total Alkalinitas (TA)
TA = [HCO3-] + 2 [CO32-] + [OH-] – [H+]

TA dan TC tidak bergantung pada temperatur, tekanan dan kekuatan ion jika
diekspresikan dalam satuan konsentrasi mol/kg. Total alkalinitas konstan dengan
absorpsi dan desorpsi CO2.
Dalam kesetimbangan kimia sistem karbonat secara lengkap
dikarakterisasi oleh dua dari enam kuantitas yang disebutkan di atas. 4 parameter
lainnya dapat ditentukan dengan menerapkan hukum aksi massa dan tetapan
dissosiasi asam karbonat dan air dalam air laut. Dengan mengetahui total
alkalinitas dan pH, empat parameter lainnya dapat ditentukan melalui rumus:

16
dan jumlah CO2 total dihitung melalui rumus
TC = [HCO3-] + [CO32-] + [CO2] + [H2CO3]

Prosedur Penentuan Alkalinitas adalah sebagai berikut:


Sebanyak 50 mL sampel air dimasukkan dalam erlenmeyer dan diukur pH
awalnya dengan pH meter, kemudian dititrasi dengan H2SO4 0,1 N hingga pH
larutan mencapai 4,5. Volume H2SO4 yang digunakan dicatat.

Distribusi spesis karbon dalam air laut bergantung pada nilai pH,
temperatur dan kekuatan ion (Gambar 5)

17
Gambar 5. Fraksi mol CO2, HCO3- dan CO32- sebagai fungsi pH pada suhu yang
berbeda

Penentuan tetapan kesetimbangan karbonat dapat pula ditentukan melalui titrasi


menggunakan suatu sel titrasi, yang sistem selnya digambarkan sebagai berikut
(Rusdi dan Chen-Tung, 1995)

Gambar 6. Sel titrasi penentuan tetapan kesetimbangan karbonat

18
2. Kesetimbangan Fosfat
Fosfat merupakan salah satu unsur esensial bagi metabolisme dan
pembentukan protein, fosfat yang diserap oleh jasad hidup nabati perairan (makro
maupun makrofita) adalah fosfat dalam bentuk orto-fosfat yang larut dalam air.
Orto-fosfat dalam jumlah yang kecil, yang merupakan faktor pembatas bagi
produktivitas perairan (Paytan dan Mc Laughlin, 2007).
Fosfat yang terkandung dalam air laut baik bentuk terlarut maupun
tersupsensi keduanya berada dalam bentuk anorganik dan organik. Bentuk
senyawa anorganik terutama terdiri atas gula fosfat dan hasilnya-hasil oksidasi,
nucleoprotein dan fosforprotein. Senyawa fosfat organik yang terkandung dalam
air laut umumnya berbentuk ion (orto) asam fosfat, H3PO4. Kira-kira 10% dari
fosfat anorganik, terdapat sebagai ion PO43- dan sebagai besar kira-kira 90%
dalam bentuk HPO42- (Paytan dan Mc Laughlin, 2007).
H2PO4-  H+ + HPO42-  2H+ + PO43-
Sumber utama fosfat terlarut dalam perairan adalah hasil pelapukan,
mineral yang mengandung fosfor serta bahan organik seperti hancuran tumbuh-
tumbuhan. Fosfat yang terdapat dalam air laut berasal dari hasil dekomposisi
organisme, run-off dari daratan (erosi tanah), hancuran dari bahan-bahan organik
dan mineral fosfat serta masukan limbah domestik yang mengandung fosfat.
Kematian biota, lamun dan mikroorganisme lainnya memberikan masukan
kuantitas nutrient dimana fosfor organik dalam jaringannya secara cepat berubah
menjadi fosfat melalui enzim fosfatase (Paytan dan Mc Laughlin, 2007).
Salah satu unsur penting sebagai makro nutrien adalah fosfor. Studi
mengenai transformasi, pertukaran dan dinamika dari unsur fosfor diketahui
sangat penting dalam membicarakan persediaan untuk keperluan organisme yang
hidup di laut. Sumber utama unsur fosfor di laut berasal dari endapan terestrial
yang mengalami erosi dan pupuk pertanian yang dibawah oleh aliran sungai.
Disamping hal tersebut fosfor dalam lingkungan laut juga mengalami siklus yang
meliputi interaksi antara suatu organisme dengan organisme yang lain dan antara
organisme dengan lingkungannya. Siklus fosfor mempertahankan fosfor bagi

19
organisme. Hal ini penting pada lingkungan laut yang jauh dari daerah pantai,
karena tidak adanya sumber utama fosfor yang di bawa oleh aliran sungai (Paytan
dan Mc Laughlin, 2007).
Siklus fosfor juga dapat terjadi dalam sedimen laut. Hal ini menyebabkan
banyak mikro organisme dapat hidup dalam sedimen, seperti mikrobentos (bakteri
dan fungi, protozoa flagellate, amoeba, Alga flamenthous), meiobentos
(foraminifera, jenis-jenis crustaceae dan organisme-organisme kecil lainnya), dan
makrobentos (binatang dengan ukuran lebih besar dari 500 mikron). Siklus ini
menjadi lebih penting terutama pada lapisan sedimen yang jauh dari permukaan
laut karena lapisan sedimen tersebut tidak mendapat masukan unsur fosfor dari
fosfor partikulat yang terdapat dalam kolom air. Dengan adanya siklus fosfor
maka keberadaan unsur fosfor dapat dipertahankan sehingga dapat diambil oleh
mikroorganisme sebagai mikronutrien untuk kelangsungan hidupnya. Fosfat
dengan mudah di hidrolisis dari senyawa organik yaitu pada pH alkalis dari air
laut atau oleh enzim fosfalase yang merupakan enzim hidrolitik yang terdapat
pada bakteri dan pada permukaan beberapa jenis fitoplankton terutama pada
lingkungan yang rendah fosfat anorganiknya. Fraksi lain dari fosfat terlarut yang
sebagian berbentuk koloid terdiri dari ester fosfat organik yang berasal dari
organisme hidup. Fraksi ini disamping merupakan hasil ekskresi organisme, juga
terbentuk dari hasil autolisis organisme yang mati (Paytan dan Mc Laughlin,
2007).

3. Kesetimbangan Silikat
Silikon (Si) merupakan salah satu unsur yang terdapat ada kerak bumi
secara berlimpah. Di alam silikon tidak ditemukan dalam bentuk elemen bebas,
melainkan berikatan dengan oksigen dan elemen lain. Silikon banyak ditemukan
dalam bentuk silika (SiO2).Silika bersifat tidak larut dalam air maupun asam dan
biasanya berada dalam bentuk koloid. Unsur silikon termasuk kelompok metaloid.
Silikat dalam perairan laut berasal dari pelapukan batuan kerak bumi (land
derived material), Silika terdapat pada hampir semua batuan dan mudah
mengalami pelapukan. Sumber alami silika adalah mineral kuarsa dan feldspar,

20
selain bersumber dari aktivitas hidrotermal. Elemen silikat yang diendapkan
dalam sedimen dalam jumlah yang cukup besar.
Batuan kerak bumi (earth crust basalt, granite, shale) mengandung
silikat sebesar 23,0 -28,2 x 104 mg/kg, dan hasil pelapukannya ditranspor terutama
melalui sistem sungai. kadar dalam sungai 0,5-0,6 mg/l (dengan rata-rata 13 mg/l)
dan di perairan estuari sekitar 2,0 mg/l. Nutrien silikat (silikat biogenik)
dibutuhkan untuk pembentukan cangkang fitoplankton, radiolarian, dan sponge.
Selain itu, SiO2 merupakan komponen utama penyusun mineral batuan dalam
sedimen. Oleh karena itu, SiO2 merupakan pengendali kesetimbangan komposisi
kimia dalam laut. Diperkirakan transpor SiO2 melalui sungai sebesar
4,3x1014 g/tahun, dan sebesar 83% digunakan untuk kebutuhan biologi.
Silikat dalam perairan laut bisa dalam bentuk terlarut dan partikel. Reaksi
dari kelarutan dari SiO2 adalah
SiO2(s) + 2H2O  Si(OH)4(aq)
Karena Si(OH)4 adalah asam lemah sehingga dapat terionisasi dalam
pelarut aqueous.
Si(OH)4 H+ + Si(OH)3O-
Si(OH)3O-  H+ + Si(OH)2O22-
Dengan pK1* = 9,47 dan pK2* =12,60 untuk ionisasi dari Si(OH)4 dalam
0,6 M NaCl pada 250C. Sementara pH di laut adalah 8,1 ,nilai dari pK ini
memberikan hasil
[Si(OH)4]/[Si ]T = {1+ KHA/[H+]}-1 = 95,9%
[Si(OH)3O- ]/[Si ]T = {1+ [H+]/ KHA}-1 = 4,1%

Bentuk polimer dari Si(OH)4 dan Si(OH)3O- bukan pelarut yang penting
dalam perairan laut. Hal ini disebabkan konsentrasi SiO2 di perairan lebih rendah.
Tetapi jika ion Mg+ atau Ca+ membentuk ikatan kompleks dengan Si(OH)4 dan
Si(OH)3O- , maka akan membentuk konsentrasi yang lebih tinggi.
Pada permukaan perairan umumnya ditemukan diatom dan radiolarian,
yang mempunyai skeleton dari opal (yaitu bentuk noncristal dari senyawa hydrat
SiO2). Nilai dari SiO2 bervariasi dari 0 sampai 200µM di perairan laut.

21
SiO2 merupakan bagian penting dari struktur padat diatom, radiolarian, dan
sponges. Hingga 60% dari material anorganik dalam tubuh diatom adalah SiO2 .
Ketika organisme ini mati, mereka tenggelam lalu membentuk
diatom oozes. Diatom oozes ini umum ditemukan di lautan Antartika. Konsentrasi
dari material terlarut ini bervariasi, pada rata-rata 50% bahan anorganik Si bisa
jadi 15%-60% dalam bahan anorganik(sisanya kebanyakan CaCO3). Pada saat
terjadinya blooming diatom konsentrasi biogenik SiO2 berkisar 100µg/l di
permukaan Antartika (Yool dan Tyrrel, 2003).
Aktivitas dari diatom juga mempengaruhi dalam penambahan SiO2 ke
kolom perairan. Tidak banyak yang mengetahui mekanisme pengambilan
SiO2 dan penambahannya sebagai hydrat silica. Protein terlibat dalam proses
absorpsi silica yang terjadi pada membran cyctoplanic. Proses ini berlangsung
cepat dan menyebar dari pusat. Sebanyak 50% berat kering dari diatom berupa
SiO2 . Ketika diatom tumbuh dalam jumlah yang berlebih maka sel tubuhnya akan
kekurangan Si . Dengan demikian sel dapat hidup dalam beberapa minggu.
Mereka akan mengambil Si ketika malam. Jika sel yang kekurangan tersebut
mendapatkan sinar maka mereka akan melakukan fotosintesis untuk beberapa
periode lalu segera mati. Silica pada diatom bersifat tidak larut ketika masih
hidup tetapi menjadi cepat larut ketika diatom mati. Bahan organik atau anorganik
yang mungkin melindungi kulit mereka ketika masih hidup. Perlakuan dari sel
yang mati dengan EDTA menunjukkan terjadinya percepatan kelarutan. Produksi
dari diatom penting tetapi interaksi dari mineral lainnya juga memiliki peranan
yang penting (Yool dan Tyrrel, 2003).
Ketika laut tidak jenuh terhadap SiO2 maka partikel silika tenggelam
dan terlarut di laut dalam. Proses ini merupakan proses yang lambat sehingga
SiO2 terlarut tidak terlihat pada kedalaman 1000km. Nilai dari SiO2 lebih tinggi
dibandingkan dengan Atlantik karena perairannya lebih lama dan akumulasi dari
SiO2 lebih lama.
Silikat terlarut di daerah perairan pantai umumnya cukup tinggi karena
efek “run-off” dari daratan, SiO2 yang berasal dari daratan memasuki lautan
melalui sungai yang dalam perjalanannya berkurang di estuari sebelum mencapai

22
lautan. Konsentrasi dari SiO2 bervariasi menurut musim, pada musim semi,
ledakan populasi fitoplankton dengan cepat menyebabkan menurunnya
konsentrasi silikon. Regenerasi silikon akan dimulai kembali pada musim panas
saat pertumbuhan fitoplankton menjadi lambat dan terus berlanjut hingga
mencapai puncaknya pada awal musim dingin. Pada beberapa daerah, ledakan
populasi fitoplankton pada musim gugur dapat menyebabkan terhambatnya
regenerasi silikon untuk sementara waktu. Konsentrasi silikon terlarut di
permukaan laut umumnya rendah, kecuali di daerah yang mengalami up-welling.
Pada lapisan yang lebih dalam, ditemukan peningkatan yang tajam dari
konsentrasi silikon. Pola distribusi silikon berbeda dari satu samudera ke
samudera lainnya dan ditentukan oleh pola sirkulasi air dan oleh suplai silikon
terlarut dari Antartik dan dari diatom terlarut yang jatuh dari permukaan. Proses
absorbsi oleh organisme juga berpengaruh terhadap pola distribusi silikon.
Selain itu, partikel SiO2 lainnya hasil pelapukan yang dibawa oleh aliran
sungai menumpuk di muara sebagai mineral liat. Konsentrasi dari mineral liat
yang tersuspensi tersebut dapat mempengaruhi jenis organik dan anorganik
dikarenakan pengaruh absorpsi dan pertukaran ion.
Dalam perairan laut laut SiO2 terdapat dalam berbagai bentuk
diantaranya:
a. Terlarut H4SiO4 atau orto-silikat ± 20% dari total silikat;
b. Kolodial (amorphous)- SiO2nH2O;
c. Kompleks sebagai “ Clay mineral ” atau mineral liat (± 70%) antara lain
- Montmorillonite : NaAl8Si12O20(OH)6
- Illite : KAl5Si7O20(OH)4
- Kaolinite : Al2Si2O5(OH)4
- Chlorie : Mg5Al2Si3O10(OH)8
- Sepiolite : Mg2Si3O6(OH)4
- Sodium feldspar : NaAlSi3O8
- Potasium feldspar : KAlSi3O8
Pembentukkan mineral liat dinyatakan dalam bentuk reaksi
Silikat yang terdegradasi + H4SiO4 + HCO3- + Kation → mineral liat + CO2 + H2O

23
Beberapa kation pembentuk mineral yang penting adalah : Na, K, Mg, Ca,
Al, Si, Fe, Mn, sr, Ba, Pb, Ti, Cl, F, P, dan C. Melalui proses geologi dalam
sedimen laut mineral-mineral tersebut akan kembali membentuk batuan induk
d. Mineral Si2+ terlarut dengan reaksi kesetimbangan seperti yang dipaparkan
sebelumnya
Si2+ + H2O ↔ SiO2 + 4H+ + 4e

Peran utama SiO2 dalam laut adalah:


1. Sebagai faktor pembatas untuk diatom dan radiolarian (cangkang sel diatom
atau frustule mengandung 20-60% silikat)
2. Menentukan produktivitas perairan, pada temperatur air normal (±250C)
memiliki produktivitas yang tinggi;
3. Berperan dalam kestimbangan kation
4. Mempengaruhi pH perairan

4. Kesetimbangan Borat
Boron terlarut di lautan berkontribusi terhadap kesetimbangan alkalinitas
dan sifat buffer dari air laut. meskipun borat (B(OH)4-) hanya berkontribusi 5%
terhadap total alkalinitas pada air laut dengan pH 8,2, senyawa boron telah
diperhitungkan dalam perhitungan kuantitatif dari parameter sistem karbonat.
Kesetimbangan Asam borat-borat juga memberi efek kepada sifat fisika air laut
(Zeebe, dkk, 2001).
Boron terlarut ditemukan dalam bentuk utama B(OH)3 dan B(OH)4-
dalam air laut. Karena spesis polinuklear boron seperti B3O3(OH)4-, B4O5(OH)42-,
dan B5O6(OH)4- diabaikan pada konsentrasi ebih kecil dari 25 mmol.kg-1, dapat
diabaikan pada total konsentrasi boron air laut ~0,42 mml.kg-1. Dissosiasi asam
borat dalam air laut dapat dijelaskan dalam model kesetimbangan:

24
dimana KB adalah tetapan dissosiasi dari asam borat. Nilai pK (=-log Kb) telah
ditetapkan menjadi pKB = 8,60 dalam air laut buatan T = 25o C, S = 35, skala
total pH (Dickson dalam Zeebe, 2001).

25
BAB III
KESIMPULAN

1. Kesetimbangan kimia ini adalah reaksi bolak balik yang mana memiliki laju
yang sama, oleh sebab itu kesetimbangan kimia ini adalah bagian dari
keseimbangan kimia dinamis karena yang memiliki laju hanyalah sesuatu
yang bergerak bukan statis.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesetimbangan adalah
a. Perubahan konsentrasi pereaksi atau hasil reaksi
b. Perubahan tekanan/volume gas pereaksi atau hasil reaksi
c. Perubahan temperatur
d. Katalisator
3. Pada lautan terjadi reaksi kesetimbangan, contohnya reaksi kesetimbangan
karbonat, fosfat, silikat dan borat.

26
DAFTAR PUSTAKA

McLaughlin,K., Sohm, J.A., Cutter, G.A., Lomas, M.W., dan Paytan,A.,


Phosphorus Cycling in the Sargasso Sea: Investigation using Isotopic
Composition of Phosphate, enzyme labeled fluorescence, and turnover
times, Sargasso Sea phosphorus cycling, 323-334.

Omta, A.W., Dutkiewicz, S., Follows, M.J., 2011, Dependance of the Ocean-
Atmosphere Partitioning of Carbon on Temperature and Alkalinity,
Global Biogeochemical Cycles, 25, 1-13.

Paytan, A. dan McLaughlin, K., 2007, The Oceanic Phosphorus Cycle,


Chem.Rev., 107, 563-576.

Petrucci, H. dan Mc Creary, 2005, General Chemistry, Fourth Edition, Pearson


hall, New jersey.

Primeau, F dan Deleersnijder, E., 2009, On the Time to Tracer Equilibrium in the
Global Ocean, Ocean Sci, 5, 13-28.

Rushdi, A.I dan Chen Tung, A., 1995, Variation of the Apparent Dissociation
Constants of Carbonic Acid with Magnesium and Calcium
Concentration in Seawater, TAO, 6 (2), 347-361.

Suzumura, M., Ueda, S., dan Sumi, E., 2000, Control of Phosphate Concentration
through Adsorption and Desorption Process in Groundwater and
Seawater Mixing at Sandy Beaches in Tokyo Bay, Japan., 2000,
Journal of Oceanography, 56, 667-673.

Trewedy Hall . Analytical Chemistry Edisi 1 (E-book)

Tanaka, K. dan Shigeru, O., 2010, Fluoride in Coral Aragonite Related to


Seawater Carbonate, 44, 371-378.

Watt, W.D dan Ilayes, F.R., Tracer Study of the Phosphorus Cycle in Seawater,
Institute of Oceanografi, Delhoustic University.

Wolff-Boenischl, D., 2011, On the Buffer Capacity of CO2-Charged Seawater


used for Carbonation and Subsequent Mineral Sequestration, Energy
Procedia, 4, 3738-3745.

Yool, A. dan Tyrrell, T., 2003, Role of Diatoms in Regulating the Ocean’s Silicon
Cycle, Global Biogeochemical Cycles, 17 (4), 1-21.

27
Zeebe, R.E., Sanyal, A., Ortiz, J.D., Wolf-Gladrow, D.A., 2001, A Theoretical
Study of the Kinetics of the Boric Acid-Borate Equilibrium in
Seawater, Marine Chemistry, 73, 113-124.

28